Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam yang
melimpah. Mulai dari sumber daya yang tidak dapat diperbarui seperti
batubara dan minyak bumi, hingga sumber daya yang dapat diperbari seperti
sumber daya hayati dan hewani. Pertumbuhan penduduk indonesia hingga
tahun 2013 mencapai 250 juta jiwa dengan luas keseluruhan indonesia
mencapai 1,9 juta km2.
Untuk menunjang kehidupan, manusia memerlukan energi untuk
menunjang aktivitas hidupnya sehari-hari.Sumber energi dapat berasal dari
energi fosil, energi matahari, air, angin atau energi dari sumber daya hayati
(bioenergi). Salah satu energi yang paling sering masyarakat gunakan adalah
minyak bumi.
Lonjakan harga minyak dunia memberi dampak yang besar bagi
pembangunan Indonesia. konsumsi BBM yang tidak sesuai dengan produksi
harus membuat pemerintah mengimpor bahan bakar dari negara lain. Apabila
terus dikonsumsi, cadangan minyak akan habis hingga dua dekade yang akan
datang.
Beberapa tahun terakhir ini, kelangkaan bahan bakar minyaktelah menjadi
salah satu masalah paling kompleks di dunia. Pertumbuhan populasi
penduduk yang menyebabkan peningkatan permintaan energi dan menipisnya
cadangan minyak dunia. Untuk itulah, diperlukan energi terbaharukan
pengganti minyak bumi. Salah satunya bioenergi.
Bioenergi adalah bahan bakar yang dihasilkan oleh sumber daya
hayati(biologis), seperti tumbuh-tumbuhan, kotoran hewan, dan limbah
peternakan dan pertanian. Jenis energi yang dihasilkan berupa gas, cair, dan
padat. Energi selanjutnya dapat menghasilkan panas, gerak, maupun listrik
1

sesuai dengan kebutuhan penggunannya. Pemanfaatan bioenergi ini sangat


tepat bagi masyarakat indonesia yang memerlukan energi terbarukan yang
murah dan ramah lingkungan.
Salah satu sumber energi yang berasal dari sumber biologis adalah biogas.
Biogas adalah gas yang berasal dari berbaghai macam limbah organik seperti
sampah biomassa, kotoran hewan ternak, sapi, kuda, kambing, dan unggas
yang diproses pada kondisi yang kurang oksigen. Sampai saat ini,
pemanfaatan limbah kotoran ternak masih jarang digunakan oleh masyarakat
karena merupakan hal yang baru. Padahal, biogas inilah yang menjadi bahan
bakar alternatif yang murah dan ramah lingkungan disaat harga minyak bumi
melonjak naik. Energi biogas ini dapat dimanfaatkan sebagai pengganti gas
elpiji (LPG).
Energi alternatif ini sangat berguna bagi masyarakat pedesaan yang
sebagian besar hidup dari pertanian dan peternakan. Limbah kotoran ternak
biasanya membuat banyak masyrakat resah karena menimbulkan pencemaran
udara dan air, serta dapat menyebabkan efek rumah kaca dan lain-lain. Hal
itulah yang menyebabkan masyarakat memanfaatkan kotoran hewan menjadi
pupuk. Namun pupuk itu sudah sering digunakan oleh masyarakat. Untuk itu,
dikembangkan cara baru untuk memanfaatkan limbah tersebut salah satunya
pembuatan biogas.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik memanfaatkan kotoran
kambing menjadi biogas sebagai energi alternative pengganti minyak bumi
ataupun gas elpiji(LPG) yang murah dan ramah lingkungan.

1.2 Masalah
Permasalahan dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut.
1. Apakah kotoran kambing dapat dijadikan biogas ?
2. Bagaimana hasil biogas dari kotoran kambing?
1.3 Tujuan
Tujuan penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui apakah kotoran kambing dapat dimanfaatkan sebagai biogas.


2. Mendeskripsikan bagaimana hasil biogas dari kotoran kambing.
1.4 Manfaat
Manfaat dari penelitian ini sebagai berikut.
1. Bagi siswa
Dapat menambah pengetahuan siswa tentang pemanfaatan kotoran
kambing
2. Bagai peneliti lain
Sebagai kajian awal untuk melakukan penelitian lebih lanjut.
3. Bagi masyarakat dan lingkungan
Sebagai cara untuk mengurangi permasalahan sampah sekaligus
meningkatkan pengetahuan peternak agar dapat memanfaatkan kotoran
kambing yang tidak hanya berguna sebagai pupuk, tatapi dapat
dimanfaatkan sebagai biogas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biogas
2.1.1 Pengertian Biogas
Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh aktivitas
anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk di

antaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah


tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang
biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam
biogas

adalah

metana

dan

karbon

dioksida.

(wikipedia/biogas, 2013)
Ada tiga kelompok yang berperan dalam proses pembentukan
biogas, yaitu:
1. Golongan

bakteri

pengguna

selulosa

Bakteri ini mengubah selulosa menjadi gula. Selulosa merupakan


komponen terbesar penyusun bahan-bahan organik. Pada kondisi
anaerob akan menghasilkan karbondioksida dan etanol panas.
2. Golongan

bakteri

pembentuk

asam

Bakteri ini menguraikan protein, karbohidrat, dan lemak menjadi


asam-asam organi sederhanapropinat, laktat, asetat, dan alkohol.
3. Golongan

bakteri

pembentuk

gas

metana

Bakteri ini yang aktif dan memproduksi gas metana (Sarifudin,


2009)

2.1.2

Komposisi Biogas

2.1.3

Perbandingan biogas dengan bahan bakar lain

2.1.4

Faktor faktor yang mempengaruhi produksi biogas


1. Kondisi kedap udara
Biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik oleh
mikroorganisme anaerob. Sehingga penampungan harus kedap
udara.
2. Bahan baku isian
Bahan baku isian harus dihindarkan dari bahan-bahan
anorganik karena mengganggu prose fermentasi.
3. Imbangan C/N
Imbangan C/N sangat menentukan kehidupan mikroorganisme.
Imbangan yang otimum bagi organisme adalah 25-30.
4. Derajat keasaman
Derajat keasaman sangat berpengaruh terhadap kehidupan
mikroorganisme. Derajat keasaman yang optimum bagi
mikroorganisme adalah 6,8-7,8.
5. Temperatur
Produksi biogas akan menurun secara cepat akibat perubahan
temperatur yang mendadak di dalam penampungan. (Saputro,
2008).

2.2.3 Biogas dan aktivitas anaerobic


Biogas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik sangat populer
digunakan untuk mengolah limbah biodegradable karena bahan
bakar dapat dihasilkan sambil Mengurai dan sekaligus mengurangi
volume limbah buangan. Metana dalam biogas, bila terbakar akan
relatif lebih bersih daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang
lebih besar dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit.
Pemanfaatan biogas memegang peranan penting dalam manajemen
limbah karena metana merupakan gas rumah kaca yang lebih
berbahaya dalam pemanasan global bila dibandingkan dengan
karbon dioksida. Karbon dalam biogas merupakan karbon yang
diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila
dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon di
atmosfer bila dibandingkan dengan pembakaran bahan bakar fosil.
(Harahap, 2008)
2.2.4 Kandungan Energi
Nilai kalori dari 1 meter kubik Biogas sekitar 6.000 watt jam
yang setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu
Biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang
ramah lingkungan pengganti minyak tanah, LPG, butana, batu bara,
maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil. (wikipedia/biogas,
2013)

2.2 Kotoran Kambing


2.1.1 Komposisi kotoran kambing

Berdasarkan tabel, unsur-unsur kimia yang terdapat pada


kotoran sapi dan kotoran kambing mempunyai unsur yang sama hanya
saja jumlah persentasenya saja yang berbeda.
Selain itu, kotoran kambing juga mempunyai imbangan C/N
yang sangat menentukan kehidupan mikroorganisme, yaitu sebesar 30
dari imbangan optimum 25-30. Oleh karena itu, kotoran kambing juga
dapat digunakan sebagai sumber bahan baku biogas. (Sarifudin, 2009)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimen.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Pembuatan pupuk dilakukan di rumah Dini Nurfaizah Jalan Kehutanan
RT 18 RW 06 Bandar Jaya, Kec. Lahat, Kab. Lahat pada tanggal 8 Februari
2014 sampai dengan 15 Maret 2014.
7

3.3 Alat dan Bahan


3.3.1 Alat
1 Botol aqua 1 liter
2 Botol aqua 5 liter
3 Gunting
4 Kaleng
5 Pipa logam diameter 1 cm
6 Pipa plastik
3.3.2

Bahan
1. Kotoran kambing
2. Air (air sumur)
3. Perekat

2 buah
1 buah
1 buah
1 buah
20 cm
2m
1,5 kg
3 liter

3.4 Cara Kerja


3.4.1 Biogas
1. Kotoran kambing dihancurkan hingga halus.
2. Setelah itu, kotoran kambing ini dicampurkan dengan air.
3. Adonan biogas dimasukkan ke dalam botol aqua 5 liter.
3.4.2 Penampung biogas
1. Pipa plastik dipotong menjadi tiga bagian.
2. Dua botol air mineral 1 liter di potong menggunakan gunting pada
bagian bawahnya lalu disambungkan menggunakan perekat.
3. Air dan kotoran kambing dicampur dengan perbandingan 1,5:1
4. Campuran diaduk hingga merata sampai tidak ada lagi gumpalan
kotoran kambing di adonan.
5. Kemudian, adonan dimasukkan ke botol air mineral 5 liter.
6. Botol ditutup hingga kedap udara, dan disambungkan ke ujung pipa
1.
7. Ujung pipa 1 yang lain disambungkan ke botol air mineral 1 liter.
8. Selanjutnya, ujung botol air mineral yang lain disambungkan pada
pipa plastic 2.
9. Ujung pipa plastik 2 disambungkan pada kaleng bekas yang tidak
bocor.
10.Ujung kaleng bekas disambungkan pada pipa 3.
11.Ujung pipa plastik 3 yang lain disambungkan ke pipa besi.
12.Ujung pipa besi disambungkan pada plastik asoy untuk mengetahui
keberadaan gas.
13.Diusahakan sistem kedap udara dan pada tiap-tiap sambungan
diberi pelekat untuk menghindarai adanya kebocoran gas.

3.5 Analisis Data


Analisis data pada eksperimen ini adalah secara deskriptif dengan
mengamati hasil fermentasi biogas pada hari terakhir.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Pada penelitian ini dibuat biogas dari kotoran kambing melalui proses
fermentasi oleh bakteri anaerob dalam kondisi kedap udara dalam
penampungan. Proses fermentasi ditandai dengan adanya gelembunggelembung gas yang muncul dari dalam adonan biogas sehingga
menimbulkan gelembung-gelembung di permukaan adonan biogas. Adapun
bukti proses adanya fermentasi sebagai berikut :

Gambar 1. Gelembung-gelembung gas


yang naik (Nurfaizah, 2014)

Gambar 2. Gelembung-gelembung gas di


permukaan (Nurfaizah, 2014)

Tahap akhir dari penelitian ini adalah pembuktian adanya gas yang
terdapat pada penampungan dengan meletakkan korek di ujung pipa, api
yang dihasilkan membesar sedikit, lalu kembali seperti biasa.

4.2 Pembahasan
Pembuatan biogas dilakukan dengan memfermentasikan kotoran kambing
dengan mikroorganisme anaerob. Bahan baku pembuatan biogas ini adalah
kotoran kambing dan air. Kotoran kambing dalam penelitian ini diambil dari
kotoran kambing yang sudah didiamkan selama 1 hari.
Kotoran kambing dapat menghasilkan gas layaknya kotoran sapi dan gas
elpiji. Hal ini dikarenakan adanya gas metana dan karbon dioksida yang terdapat
pada kotoran kambing yang merupakan salah satu komposisi penyusun gas
elpiji.
4.2.1 Proses pembuatan biogas
Pembuatan biogas ini memerlukan waktu sekitar 36 hari sejak hari
pencampuran kotoran kambing dengan air menggunakan mikroorganisme
anaerob.
Langkah kerja yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan
menyiapkan alat dan bahan seperti botol aqua, gunting, kaleng, pipa
logam, pipa plastik, kotoran kambing, dan air.
Kotoran kambing yang telah dihancurkan dicampur dengan air dengan
perbandingan 1:1,5. Pencampuran ini dimaksud untuk mempercepat reaksi
anaerob untuk melakukan fermentasi. Jangan terlalu sediki ataupun terlalu
banyak mencampurkan air, karena jika terlalu banyak air, kerapatan
mikroorganisme menjadi renggang sehingga kurang memaksimalkan
proses fermentasi. Jika terlalu sedikit, kerapatan mikroorganisme menjadi
sangat rapat, sehingga mikroorganisme tidak leluasa melakukan reaksi
fermentasi. Lalu, kotoran kambing ini dimasukkan ke dalam botol aqua 5
liter.
Siapkan alat penampung gas dengan memotong pipa plastik menjadi 3
bagian, bagian pertama ujungnya disambungkan pada tutup botol aqua 5
liter, ujung yang lain disambungkan pada botol aqua 1 liter yang telah
disambungkan pada bagian ujungnya. Pipa bagian 2 disambungkan pada
sisi botol aqua 1 liter dan ujung lainnya disambungkan pada kaleng. Pipa
bagian ketiga disambungkan pada sisi lain kaleng dan ujung lainnya
10

disambungkan pada pipa logam 20 cm. Ujung pipa logam ini diber plastik
atau asoy untuk mengetahui apakah ada gas atau tidak dengan melihat
mengembang atau mengempesnya plastik. Botol aqua digunakan
digunakan untuk menyaring gas dari penampung utama. Sedangkan kaleng
berfungsi untuk memacu uap air menjadi gas.
Setelah pipa penampung gas selesai dibuat, sambungkan pipa ini
dengan botol aqua 5 liter. Usahakan penampung ini dalam kadaan kedap
udara agar mikroorganisme anaerob bekerja optimal, digunakan perekat
untuk menutupi bagian-bagian yang akan membuat gas itu keluar.
Reaksi mikroorganisme ditandai dengan adanya gelembunggelembung yang muncul setelah 1 minggu pemulaian proses fermentasi
dan mengembangnya plastik yang ada di ujung pipa.
Setelah proses fermentasi selesai, yaitu 36 hari, plastik dibuka. Untuk
memastikan adanya gas, didekatkan pada ujung pipa api korek. Api yang
timbul dari korek akan membesar, lalu mengecil seperti biasa. Hal ini
membuktikan bahwa terdapat gas di biogas tersebut.
4.2.2

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Fermentasi pada biogas


1.

Kondisi kedap udara


Biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik oleh
mikroorganisme anaerob. Jika kondisi tempat penampugan bocor,
maka mikroorganisme penghasil gas tidak dapat bekerja. Sehingga
penampungan harus kedap udara.

2.

Bahan baku isian


Bahan baku isian harus dihindarkan dari bahan-bahan anorganik.
Bakteri anaerob hanya memfermentasikan bahan-bahan organik.
Sehingga, jika ada bahan-bahan organik yang terdapat dalam biogas,
tentu akan mengahmbat kerja mikroorganisme anaerob.

3.

Derajat keasaman
Derajat keasaman sangat berpengaruh terhadap kehidupan
mikroorganisme. Derajat keasaman yang optimum bagi
mikroorganisme adalah 6,8-7,8.

11

4.

Temperatur
Produksi biogas akan menurun secara cepat akibat perubahan
temperatur yang mendadak di dalam penampungan. Jadi, tempat
penampungan sebaiknya berada di tempat tertutup.

4.2.3

faktor-faktor yang menyebabkan besar kecilnya api hasil biogas


1. Lamanya proses fermentasi
semakin lama kotoran kambing difermentasikan, semakin banyak
pula biogas yang dihasilkan, karena mikroorganisme dapat bekerja
secara optimal.
2. Banyak kotoran kambing yang digunakan
semakin banyak kotoran kambing yang digunakan, maka biogas
akan semakin banyak.
3. Perbandingan campuran air dan kotoran kambing
Pencampuran ini dimaksud untuk mempercepat reaksi anaerob
untuk melakukan fermentasi. Jangan terlalu sediki ataupun terlalu
banyak mencampurkan air, karena jika terlalu banyak air, kerapatan
mikroorganisme menjadi renggang sehingga kurang memaksimalkan
proses fermentasi. Jika terlalu sedikit, kerapatan mikroorganisme
menjadi sangat rapat, sehingga mikroorganisme tidak leluasa
melakukan reaksi fermentasi.
4. Lamanya kotoran kambing diambil dari awal pengeluaran
Jika kotoran kambing diambil saat awal pengeluaran, maka
kandungan gas yang terdapat di kotoran kambing masih banyak.
Sedangkan, jika kotoran kambing diambil setelah beberapa hari
pengeluaran, kandungan gas akan berkurang karena penguapan.

12

4.2.4

Kandungan yang terdapat dalam kotoran kambing.


Kandungan kotoran kambing hampir sama dengan kandungan dalam
kandungan kotoran sapi ataupun gas elpiji, yaitu terdiri atas gas methana,
karbondioksida, hidrogen, dan hidrogen sulfida.
Karbon dioksida dibuat oleh bakteri pengguna selulosa yang
menguraikan selulosa menjadi karbondioksida dan metana dihasilkan
oleh proses metabolisme yang terjadi di dalam tubuh hewan.

4.2.5

Hasil biogas dari kotoran kambing.


Pembuktian adanya gas sebagai hasil dari penelitian ini, dibuktikan
dengan meletakkan korek api gas sebagai pemacu api pada biogas. Hal
ini dikarenakan biogas yang dihasilkan pada penelitian ini tidak
mencukupi untuk menghasilkan api.
Hasil pembuktian menyatakan bahwa api dari korek api gas yang
didekatkan pada biogas akan membesar dibandingkan api dari korek api
gas yang tidak didekatkan pada biogas. Hal ini membuktikan bahwa
biogas yang diteliti telah menghasilkan gas sebagai salah satu sumber
pembuat api.

13

BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan atas penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan
sebagai berikut :
1. Kotoran kambing dapat dimanfaatkan sebagai biogas dengan bantuan bakteri
anaerob yang berasal dari kotoran itu sendiri yang difermentasikan dalam
kondisi kedap udara.
2. Kotoran kambing dapat dijadikan biogas karena mengandung gas metana dan
karbondioksida.
3. Faktor yang menyebabkan besar atau kecilnya api yang dihasilkan adalah
lamanya proses fermentasi, banyaknya kotoran kambing yang digunakan,
perbandingan campuran antara air dan kotoran kambing, dan Kandungan
yang terdapat dalam kotoran kambing.
5.2 Saran
Saran bagi masyarakat luas:
1. Sebaiknya digunakan tabung dan kotoran kambing yang lebih besar dan
banyak agar menghasilkan biogas yang banyak pula.
2. Produksi ini sebaiknya dilakukan dalam satu daerah atau RT untuk

mengefisiensikan dana dan tempat.

14

Saran peneliti adalah perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai:


1. Cara menghilangkan bau biogas kotoran kambing agar bisa digunakan untuk
rumah tangga.

15