Anda di halaman 1dari 10

Aplikasi Surveilans Epidemiologi Penyakit Potensial Wabah

Pada Anak Sekolah Menggunakan Epi Info


1)

Arief Hargono
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Surabaya 60115
arief.hargono@gmail.com
Abstrak

Latar Belakang: Anak usia sekolah lebih rentan terhadap penularan penyakit
dibandingkan usia dewasa. Laporan rutin Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur
menunjukkan bahwa 54% kasus campak dan 67% kasus diphteri terjadi pada
usia sekolah. Program surveilans epidemiologi anak sekolah dikembangkan
untuk memantau status kesehatan anak sekolah sehingga penyakit menular
pada anak sekolah diidentifikasi lebih dini. Penggunaan aplikasi Epi Info
dibutuhkan untuk meningkatkan kecepatan pencatatan data dan validitas
informasi. Tujuan penelitian ini adalah pengembangan aplikasi surveilans
epidemiologi penyakit potensial wabah pada anak sekolah menggunakan Epi
Info. Kajian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan data
kualitatif dan berlokasi di kota Surabaya.
Metode: Metode pengembangan aplikasi menggunakan pendekatan System
Development Life Cycle. Data yang dibutuhkan dalam kegiatan surveilans
epidemiologi anak sekolah adalah keluhan penyakit yang memiliki potensi untuk
menjadi wabah, yaitu panas, batuk, pilek, tenggorokan sakit, diare, pusing,
muntah, rash, bintik berair, sariawan, mual, kekuningan, sakit mata dan lumpuh
layuh.
Hasil: Informasi yang dihasilkan adalah distribusi siswa yang mengalami keluhan
sakit, kejadian keluhan sakit berdasarkan frekuensi dan durasi sakit, tren keluhan
penyakit potensial wabah serta data absensi. Prototype surveilans epidemiologi
anak sekolah menggunakan aplikasi Epi Info memiliki fasilitas pencatatan,
analisis dan manajemen basis data keluhan penyakit potensial wabah pada
siswa sekolah.
Kata kunci: Surveilans, Epidemiologi, Anak Sekolah, Epi Info

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kesehatan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang perlu terus
mendapat perhatian. Masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat termasuk
penyakit menular masih menjadi hal yang terus diupayakan untuk diselesaikan.
Indonesia saat ini menghadapi beban ganda dengan penyebaran penyakit
menular dan meningkatnya angka kejadian penyakit tidak menular.
Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan sumber daya manusia
yang berkualitas. Kualitas hidup manusia dipengaruhi oleh tingkat kesehatan
manusia sejak usia dini. Salah satu masa yang penting dan perlu mendapat
perhatian adalah masa usia sekolah (6-15 tahun).
Usia sekolah merupakan masa yang penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan tubuh manusia. Anak usia sekolah juga lebih rentan terhadap
penularan penyakit dibandingkan usia dewasa (Yatim, 2005). Penyakit menular
yang banyak diderita anak usia sekolah antara lain adalah diare, tifus, ISPA,
malaria dan infeksi parasit usus. Penyakit Malaria, ISPA dan diare menjadi risiko
penyakit penyebab kematian pada anak usia sekolah. Status kesehatan dan gizi
anak sekolah merupakan faktor penting dalam pencapaian pendidikan untuk
semua (Education for All) dan tujuan MDG 1 .
Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur mencatat beberapa masalah penyakit
menular yang terjadi pada masa usia sekolah. Laporan rutin kasus campak
tahun 2010 menunjukkan bahwa dari 149 kejadian campak, terdapat 57 kasus
(38%) terjadi pada usia 5-9 tahun dan sebanyak 24 kasus (16%) terjadi pada
usia 10-14 tahun.
Penyakit diphteri menjadi kejadian luar biasa (KLB) di Jawa Timur pada tahun
2010. Kasus diphteri memiliki kecenderungan terus meningkat dari 5 kasus pada
tahun 2003 menjadi 300 kasus pada 2010. Kasus diphteri di Jawa Timur pada
tahun 2010 merupakan angka kejadian terbanyak di dunia. Sekitar 67% kasus
diphteri di Jawa Timur banyak terjadi pada balita, anak TK dan sekolah dasar.
Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit menular.
Salah satu program yang dilakukan oleh jajaran dinas kesehatan untuk
memantau masalah kesehatan masyarakat adalah surveilans epidemiologi.
Surveilans epidemiologi merupakan kegiatan analisis secara sistematis dan terus

menerus terhadap penyakit dan masalah kesehatan serta faktor risiko masalah
kesehatan tersebut. Fungsi kegiatan surveilans epidemiologi adalah untuk
melakukan pemantauan masalah kesehatan dan deteksi dini kejadian wabah.10
Melalui kegiatan surveilans epidemiologi diharapkan mampu memantau status
kesehatan pada masyarakat termasuk anak sekolah sehingga masalah
kesehatan yang terjadi dapat diidentifikasi dan segera dilakukan tindakan
pencegahan serta penanggulangan.
Penelitian yang dilakukan Hargono, 2012 menghasilkan model sistem
surveilans epidemiologi anak sekolah yang memantau masalah kesehatan pada
siswa sekolah terutama penyakit potensial wabah. Sistem ini menangani
kebutuhan data dan informasi keluhan penyakit potensial wabah yang dialami
oleh siswa sekolah. Institusi sekolah dipilih menjadi tempat pelaksanaan
surveilans epidemiologi anak sekolah. Institusi sekolah merupakan hal yang
strategis karena keberadaannya akan mempermudah penjangkauan program
kesehatan kepada anak usia sekolah. Pemilihan implementasi program pada
institusi sekolah dasar diharapkan akan menjangkau lebih banyak anak usia 6-15
tahun untuk dilakukan pemantauan status kesehatannya.
Penggunaan teknologi informasi berupa perangkat lunak dibutuhkan untuk
meningkatkan kecepatan pencatatan dan pemasukan data serta validitas
informasi yang dihasilkan oleh surveilans epidemiologi. Epi Info merupakan serial
perangkat lunak yang dapat digunakan untuk pengembangan aplikasi di bidang
epidemiologi dan kesehatan masyarakat. Epi Info dikembangkan oleh Centers for
Disease Control and Prevention (CDC) dan didistribusikan secara gratis. Tujuan
penelitian ini adalah pengembangan aplikasi surveilans epidemiologi penyakit
potensial wabah pada anak sekolah menggunakan Epi Info. Secara rincian
tujuan penelitian ini antara lain

Identifikasi kebutuhan data surveilans

epidemiologi penyakit potensial wabah pada anak sekolah, Identifikasi informasi


yang dihasilkan surveilans epidemiologi penyakit potensial wabah pada anak
sekolah serta Pembuatan prototype aplikasi surveilans epidemiologi penyakit
potensial wabah pada anak sekolah menggunakan Epi Info

METODE PENELITIAN
Kajian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan data kualitatif
dan berlokasi di kota Surabaya. Pengumpulan data dilakukan dengan
wawancara mendalam, focus group discussion (FGD) dan studi dokumen.
Wawancara mendalam dan FGD bertujuan untuk melakukan identifikasi
kebutuham data, informasi dan alur pencatatan serta pelaporan surveilans
epidemiologi penyakit potensial wabah pada anak sekolah. Instrumen pengumpul
data yang dipakai adalah panduan wawancara mendalam dan lembar observasi.
Informan

adalah

petugas

pelaksana

program

pada

institusi

yang

melaksanakan kegiatan kesehatan pada anak sekolah yaitu Dinas Kesehatan


Kota Surabaya (DKK) dan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya.
Wawancara petugas DKK Surabaya dilakukan pada 5 staf yang terdiri dari 2
orang seksi surveilans dan 1 orang dari kesehatan lingkungan, layanan khusus
dan penanggulangan penyakit. Wawancara petugas Dispendik Surabaya
dilakukan pada 2 orang staf Bidang Kesenian, Olah Raga dan Pendidikan Luar
Sekolah (PLS).
Data yang dikumpulkan dari kegiatan wawancara mendalam, studi dokumen
dan FGD dianalisis menggunakan cara analisis isi (content analysis). Data yang
terkumpul dikelompokkan dalam tema atau aspek yang terkait kemudian
disajikan dalam bentuk narasi, bagan dan tabel. Metode pengembangan aplikasi
menggunakan pendekatan System Development Life Cycle. Perangkat lunak
yang digunakan untuk pembuatan prototype aplikasi surveilans adalah program
Epi Info.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Surveilans merupakan upaya pemantauan masalah kesehatan sebagai
respon kebutuhan terhadap kesehatan masyarakat pada suatu populasi. Upaya
pengembangan surveilans dilakukan untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui
upaya perencanaan yang efektif. Berbagai macam pendekatan dan metode
dapat digunakan untuk melakukan pengembangan surveilans 9.
Pengembangan surveilans epidemiologi anak sekolah bertujuan untuk
pemantauan dini keluhan penyakit potensial wabah pada siswa sekolah.
Identifikasi kebutuhan data surveilans epidemiologi anak sekolah diharapkan

dapat memenuhi tujuan surveilans tersebut. Hasil wawancara mendalam dan


FGD diperoleh bahwa data yang dibutuhkan dalam kegiatan surveilans
epidemiologi anak sekolah adalah gejala klinis atau keluhan penyakit yang
banyak terjadi pada anak sekolah dan memiliki potensi untuk menjadi KLB. Data
keluhan yang dibutuhkan untuk surveilans epidemiologi anak sekolah meliputi
keluhan panas, batuk, pilek, tenggorokan sakit, diare, pusing, muntah, rash
(bintik merah), bintik berair, sariawan, mual, kekuningan, sakit mata dan lumpuh
layuh.
Data tentang timbulnya bintik merah atau rash diharapkan dapat digunakan
untuk menunjang surveilans campak. Bintik merah pada kulit merupakan tanda
khas penyakit campak yang timbul pada hari ketiga sampai ketujuh. Bercak
kemerahan ini dimulai pada daerah muka kemudian menyebar keseluruh tubuh
dan berlangsung selama sekitar 7 hari.2
Tanda kekuningan pada bagian tubuh merupakan salah satu gejala penyakit
hepatitis. Kejadian hepatitis terutama Hepatitis A banyak terjadi di negara
berkembang. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis dan reservoir pada
manusia. Penularan penyakit ini melalui fekal-oral dan dikaitkan dengan
makanan dan minuman yang tercemar. Penyakit ini dapat dicegah dengan
pemberian imunisasi hepatitis dan sanitasi lingkungan yang baik.2
Kejadian lumpuh layuh merupakan salah satu gejala dari poliomyelitis.
Penyakit ini ditandai dengan kejadian lumpuh layuh atau flaccid paralysis yang
asimetris. Penyakit ini disebabkan oleh virus polio dan reservoir pada manusia.
Polio merupakan penyakit yang banyak terjadi pada bayi dan anak-anak.
Penyakit ini termasuk pada penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.2
Data keluhan dikumpulkan berdasarkan laporan keluhan siswa yang dicatat
oleh guru atau dokter kecil sebagai penanggung jawab kesehatan di sekolah.
Hasil pengumpulan data dilaporkan secara berkala kepada petugas surveilans di
puskesmas. Petugas surveilans puskesmas mengolah data laporan surveilans
dari sekolah yang berada pada wilayah kerjanya. Informasi yang dihasilkan
surveilans adalah informasi epidemiologi yang meliputi distribusi penyakit
berdasarkan karakteristik orang, tempat dan waktu kejadian.7 Informasi yang
dihasilkan surveilans epidemiologi anak sekolah adalah distribusi siswa yang
mengalami keluhan sakit, kejadian keluhan sakit berdasarkan frekuensi dan
durasi sakit serta data absensi siswa. Kegiatan surveilans epidemiologi anak

sekolah diharapkan dilakukan secara rutin dan berkala sehingga dari upaya
pencatatan dan analisis data yang dilakukan secara terus menerus maka akan
diperoleh informasi tentang tren atau kecenderungan kejadian keluhan penyakit
potensial wabah yang dialami siswa sekolah. Informasi hasil kegiatan surveilans
diharapkan bermanfaat dalam pengambilan keputusan dan perencanaan
program yang digunakan untuk promosi kesehatan, pencegahan penyakit serta
meningkatkan status kesehatan masyarakat.1
Hasil identifikasi kebutuhan data dan informasi surveilans epidemiologi anak
sekolah disusun dalam pemodelan sistem yang diimplementasikan pada
prototype aplikasi komputer menggunakan Epi Info. Perangkat lunak Epi Info
dikembangkan oleh Centers for Disease Control (CDC) dan bersifat public
domain, sehingga dapat digunakan secara bebas. Epi Info merupakan stand
alone

program

yang

memiliki

fasilitas

untuk

membuat

form

digital,

pengembangan basisdata, perhitungan statistik, pemetaan dan pembuatan


laporan. Tampilan antar muka prototype surveilans epidemiologi anak sekolah
menggunakan Epi Info disajikan pada gambar 1.

Gambar 1. Tampilan antar muka aplikasi surveilans epidemiologi anak sekolah


pada Epi Info

Program Epi Info dapat digunakan untuk pengembangan format pencatatan


dan pelaporan untuk kegiatan survei dan investigasi wabah.8 Penggunaan Epi
Info yang relatif mudah dan stand alone menjadi pertimbangan dalam pembuatan

aplikasi surveilans epidemiologi anak sekolah. Pemakai atau user aplikasi ini
adalah guru di sekolah dan petugas surveilans di puskesmas yang memiliki
kemampuan penggunaan komputer yang beragam dan belum semua institusi
memiliki fasilitas internet.
Prototype ini memuat format digital untuk pemasukan data keluhan penyakit
potensial wabah yang dibutuhkan oleh surveilans anak sekolah. Tampilan format
digital pengisian data keluhan potensial wabah pada siswa sekolah disajikan
pada gambar 2.

Gambar 2. Tampilan antar muka format pengisian data keluhan siswa

Data keluhan penyakit potensial wabah diisi oleh guru Usaha Kesehatan
Sekolah (UKS) berdasarkan laporan keluhan yang dirasakan oleh siswa dan
penemuan dari siswa yang ditunjuk sebagai tim dokter kecil sekolah. Setiap
record data yang dimasukkan mewakili hari kejadian keluhan sehingga dapat
diperoleh durasi dan frekuensi keluhan yang dirasakan siswa.
Kegiatan surveilans menangani jenis data yang relatif banyak dan
berlangsung berkesinambungan. Penggunaan aplikasi komputer seperti Epi Info
dalam suatu sistem surveilans diharapkan dapat membantu kinerja petugas
surveilans terutama dalam pencatatan, analisis dan pelaporan. Penerapan
teknologi informasi di bidang kesehatan masyarakat diartikan sebagai aplikasi
sistematis tentang penggunaan teknologi informasi dan komputer dalam kegiatan

kesehatan

masyarakat.6

Beberapa

pertimbangan

penggunaan

teknologi

informasi di bidang kesehatan adalah untuk efisiensi dalam analisis data dalam
jumlah banyak secara cepat dan mampu menghasilkan keluaran yang dapat
disesuaikan berdasarkan tingkatan sistem kesehatan. Kegunaan penggunaan
komputer lainnya adalah meningkatkan kualitas validitas data dan kemudahan
dalam manajemen data kesehatan.11
Manajemen data surveilans epidemiologi anak sekolah menggunakan sistem
basis data bertujuan untuk mengurangi duplikasi. Penggunaan basis data juga
memungkinkan untuk melakukan relasi antar data. Penggunaan basis data dapat
mempermudah

manajemen,

pencatatan,

analisis

dan

penggunaan

data

surveilans.4 Basis data surveilans anak sekolah menggunakan variabel kunci


atau key field berupa ID siswa dan ID sekolah. Penerapan variabel kunci atau
key field dalam basis data dapat membuat data menjadi unik dan berbeda antar
satu individu dengan individu yang lain. Variabel kunci juga bermanfaat untuk
menghubungkan antara satu jenis data dengan data yang lain. Penggunaan ID
siswa selain sebagai pembeda antar siswa dan antar sekolah juga digunakan
untuk mengurangi duplikasi data.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Data yang dibutuhkan untuk pengembangan aplikasi sistem surveilans
epidemiologi pada anak sekolah adalah data keluhan penyakit potensial
wabah yang meliputi keluhan panas, batuk, pilek, tenggorokan sakit, diare,
pusing, muntah, rash (bintik merah), bintik berair, sariawan, mual,
kekuningan, sakit mata dan lumpuh layuh.
2. Informasi yang dihasilkan adalah distribusi siswa yang mengalami keluhan
sakit, kejadian keluhan sakit berdasarkan frekuensi dan durasi sakit, tren
atau kecenderungan kejadian keluhan penyakit potensial wabah serta data
absensi siswa.
3. Prototype surveilans epidemiologi anak sekolah menggunakan aplikasi Epi
Info memiliki fasilitas pencatatan, analisis dan manajemen basis data
keluhan penyakit potensial wabah pada siswa sekolah

[1]
Saran
1. Pemantauan keluhan penyakit potensial wabah pada siswa sekolah perlu
dilakukan sebagai upaya deteksi dini permasalahan kesehatan yang
terjadi di masyarakat terutama pada anak sekolah
2. Pencatatan dan pelaporan status kesehatan anak sekolah secara teratur
dan berkala diharapkan dapat menghasilkan informasi kecenderungan
penyakit potensial wabah pada anak sekolah
3. Penggunaan teknologi informasi dapat mempercepat dan meningkatkan
kualitas data dan informasi sistem surveilans yang berjalan
DAFTAR PUSTAKA
[1]

Rosso, Joy Miller, Rina Arlianti, Investasi untuk Kesehatan dan Gizi Sekolah di
Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional, Kingdom of Netherland, World
Bank, 2009

[2]

Chin, J., Control of Communicable Disease, edisi terjemahan, Manual


Pemberantasan Penyakit, I Nyoman Kandun (editor), Jakarta, 2000

[3]

Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur,
2011

[4]

Fathansyah, Basis Data, Penerbit Informatika Bandung, 2001

[5]

Hargono, Arief, Lucia Y Hendrati, Model Sistem Informasi Surveilans


Epidemiologi Pada Anak Sekolah, Penelitian, Universitas Airangga, 2012

[6]

Lombardo, Joseph and David L. Buckeridge, Disease Surveillance, A Public


Health Informatics Approach, A John Wiley & Sons, Inc., Publication, USA,
2007

[7]

Mikhanata, Nkutchia, Ruth Lynfield, Chris A Van Beneden, Henriette de Valk,


Infectious Disease Surveillance, Blackwell Publishing, USA, 2007

[8]

Centers for Disease Control and Prevention, Epi Info Community Health
Assessment Tutorial, CDC Atlanta, 2000

[9]

Teutsch, S.M., Consideration in Planning a Surveillance System, dalam:


Teutch, S.M., R.E., Churchil (eds): Principle and Practice of Public Health
Surveillance, Second Edition, Oxford University Press Inc, New York, 2000

[10] Thacker, S.B., History of Public Health surveillance, dalam: Teutch, S.M., R.E.,

Churchil (eds): Principle and Practice of Public Health Surveillance, Second


Edition, Oxford University Press Inc, New York, 2000
[11] Wilson, R., Using Computers in Health Information System, dalam Design and
Implementation of Health Information System, WHO, Geneva, 2000
[12] Yatim, Faisal, 30 Gangguan Kesehatan Pada Anak Usia Sekolah, Pustaka
Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2005