Anda di halaman 1dari 25

http://www.slideshare.

net/Riskasasaka/sistemik-holliday
24-10-2015
Senin, 25 Januari 2010
Perkembangan Kajian Bahasa
PERKEMBANGAN KAJIAN BAHASA
*Hasan Busri*
http://hasanbusri.blogspot.co.id/2010/01/perkembangan-kajian-bahasa.html
1. PENDAHULUAN
Dalam sejarah peradaban manusia, menunjukkan bahwa bahasa merupa-kan salah satu unsur
penting. Bahasa hadir di mana-mana, baik dalam pikiran, pe-rasaan, kemauan, sampai dengan
tidur sekali pun, mustahil tanpa kehadiran baha-sa. Penggunaan bahasa dalam kehidupan
sehari-hari merupakan kegiatan biasa ba-gi setiap manusia. Demikian terbiasanya, sehingga
sebagian besar kita kurang memperhatikan bahkan kurang memahami hakikat bahasa yang
sebenarnya. Na-mun demikian dalam perkembangan berikutnya, para linguis secara
berangsur-angsur tertarik, menghayati, mempelajari, mengkaji pentingnya bahasa dalam kehidupan manusia.
Berbagai pendekatan telah digunakan oleh para ahli ilmu bahasa (linguis) dalam mempelajari,
mengkaji, menghayati tentang bahasa. Para linguis telah lama mencari tahu tentang bahasa,
mulai dari sejarah, asal-usul suatu bahasa, dan mem-bandingkannya antara yang satu dan
lainnya. Di Indonesia kajian kebahasaan (linguistik) juga menjamur, mulai dari kajian yang
masih klasik (tradisonal) sam-pai yang paling mutakhir. Tulisan ini akan mencoba membahas
secara sepintas perkembangan kajian lingusitik Indonesia, mulai dari yang klasik (tradisional)
sampai perkembangan yang paling modern.
2. PARADIGMA KEILMUAN DALAM KAJIAN BAHASA
Sebelum membahas tentang berbagai perkembangan kajian linguistik, ada baiknya kita
ketengahkan terlebih dahulu paradigma keilmuan yang digunakan dalam kajian linguistik.
Perkembangan kajian linguistik, tidak seperti pekembang-an ilmu-ilmu pada umumnya.
Perkembangan linguistik sangat bergantung pada keadaan pemikir-pemikir asli bahasa yang
bersangkutan, sehingga cenderung mengalami loncatan-loncatan yang tidak sistematis dan
kurang lancar. Hal ini ter-jadi karena situasi yang menunjukkan bahwa cabang ilmu yang
menonjol dijadi-kan sebagai model cabang ilmu lain, sehingga para ilmuawan menjadikan
ilmu yang menonjol tersebut sebagai acuan analisis ilmunya (Wahab, 1993). Thomas Khun
(dalam Sampson, 1980; Wahab, 1993) mengatakan bahwa sejarah perkem-bangan studi
bahasa juga tidak terlepas dari acuan teori semacam itu. Pada awal abad ke-19 paradigma
yang sangat berpengaruh dalam kajian bahasa adalah pa-radigma fisika mekanis dan
paradigma biologi.
Dalam paradigma fisika mekanis, semua fenomena dapat dijelaskan ber-dasarkan hukum
daya dan gerak (force and motion), sehingga arah perkembangan segala sesuatu yang akan

terjadi pada masa yang akan datang dapat dikenali lewat keadaan sekarang (Laplace dalam
Sampson, 1980). Hal ini bisa terjadi pada hu-kum, seperti (1) Perubahan bunyi pada bahasa
Proto-Indo Eropa pada bahasa Germanik (p, t, k menjadi f, o, x, b, d, g menjadi p, t, k dan bh,
dh, gh menjadi b, d, g) dan (2) berlakunya hukum gravitasi yang juga berlaku pada bunyi
bahasa, seperti dalam perubahan bunyi pada kata bahasa Inggris: sing sang sung.
Paradigma biologi ini menunjukkan bahwa linguistik harus dianggap se-bagai salah satu
bagian ilmu pengetahuan alam. Oleh karena itu, dalam kajian li-nguistik menurut paradigma
biologi dapat menerapkan pemikiran Charles Darwin sebagaimana yang terdapat dalam
bukunya yang terkenal Origin of Species. De-ngan demikian, dapat dikatakan bahwa
perkembangan bahasa seperti perkem-bangan organisme melalui seleksi alam (the survival of
the fittest) (Sampson, 1980). Dalam hal ini para ahli linguistik memandang bahwa bahasa
sebagai orga-nisme yang hidup, bahasa itu lahir, berkembang, dan kemudian mati. Pendapat
Thomas Kuhn yang menyatakan bahwa paradigma ilmu yang sedang menonjol merupakan
acuan pengembangan keilmuan, maka dalam kajian selanjutnya para-digma ini akan
dijadikan dasar kajian.
3. BEBERAPA PENDEKATAN KLASIK
Samsuri (1987: 71) menyebutkan, bahwa kajian kebahasaan pertama-ta-ma dilakukan pada
abad ke-4 oleh orang-orang Hindu India yang mempelajari bahasa Sangsekerta secara
observatif. Mereka mempelajari dari aspek fonologi, morfologi, dan sintaksis, dengan tujuan
utama memelihara hikmah dari ucap-an-ucapan yang terdapat dalam buku Veda agar
bahasanya tidak ternodai oleh ka-idah-kaidah yang salah. Salah satu linguis terkenal pada
saat itu bernama Panini yang hidup sekitar 300 tahun sebelum masehi. Linguis India inilah
yang memba-wa perubahan besar dalam perkembangan linguistik di Eropa pada abad XVIII
sebelum masehi. Panini telah menyusun lebih kurang 400 pemerian tentang struk-tur bahasa
Sangsekerta dengan prinsip-prinsip dan gagasan-gagasan yang masih dipakai dalam linguistik
modern ini (Samsuri, 1987: 72; Alwasilah, 1992:24).
Alwasilah (1992:21) dan Wahab (1990) menyebutkan bahwa kajian linguistik dimulai dari
Rhetoric, Grammar, Comparative Philology, dan baru lahir Linguistics pada abad XIX. Ilmu
linguistik bermula dari orang-orang Grik yang mengembangkan ilmu retorik. Ahli retorik
yang terkenal pada saat itu adalah Georgias yang mengembangkan bahasa Grik. Istilah-istilah
gaya bahasa yang di-susunnya masih populer sampai saat ini, seperti antitesis, asonansi, dan
sebagai-nya. Pada saat itu orientasi dan pandangan mereka hanya terbatas pada bahasa Grik
saja, sehingga muncul sifat chauvinistic, merasa bahwa bahasa lain lebih rendah dari bahasa
Grik.
Perkembangan selanjutnya, pendekatan orang Grik terhadap bahasa, dite-rapkan pada bahasa
Latin dengan beberapa modifikasi. Dua contoh tatabahasa yang telah dimodifikasi tersebut
adalah (1) Tatabahasa Priscia yang berjudul Gramatical Categories, dan (2) Art Minor yang
menganalisis tulisan-tulisan kla-sik. Kedua buku tersebut ditulis oleh Aetilus Donatus.
Filsuf Plato (429 347 SM) dan Aristoteles (322 384 SM) yang disebut sebagai
tatabahasawan pertama menggolongkan kata-kata menjadi nomina (kata benda) dan verba
(kata kerja), sedangkan yang lainnya kata-kata perangkai. Di samping itu, Plato dan
Aristoteles memperkenalkan beberapa istilah seperti sub-ject, predicate, gender, number,
case, person, tense, mood. Dia juga menekuni re-torika dan fonologi ( Samsuri, 1987:72;
Alwasilah, 1992:22; Wahab, 1990).

Sejak abad ke-4 Sebelum Masehi, Plato mengembangkan suatu pertanyaan tentang hubungan
logis antara kata-kata yang kita pakai dengan acuannya. Menu-rut Plato antara kata-kata dan
acuannya terdapat hubungan logis. Namun pernya-taan Plato ini dibantah oleh muridnya
Aristoteles yang mengatakan bahwa hubu-ngan antara bentuk (words) dengan arti (meaning)
kata-kata adalah persoalan konversi dan persetujuan di antara pemakai bahasa dalam
masyarakat ujaran. Mi-salnya, tidak ada alasan logis mengapa binatang tertentu disebut
anjing di Indone-sia, dog di Inggris, kalbun di Arab, chen di Prancis, dan sebagainya.
Pada tahun 336 323 SM Alexander murid Aristoteles yang memerintah di Mecodania pada
saat itu memperluas golongan kata menjadi delapan macam, yaitu noun, verb, participle,
article, pronoun, preposition, adverb, dan conjuntion. Batasan kalimat yang sering dijadikan
acuan sampai saat ini yang berbunyi: A sentence is a combination of words making
complete sense. Demikian juga diperkenalkan perian fonologi seperti vokal dan konsonan.
4. BAHASA SEBAGAI REALITAS SOSIAL
Awal kajian ilmiah atau lebih dikenal dengan pendekatan modern terhadap bahasa sejak
terbitnya buku Course de Linguistique Generale (1916) karya sarja-na Swiss, Ferdinan de
Saussure yang dianggap sebagai pelopor linguistik modern. Dia merupakan linguis pertama
yang mampu menjawab pertanyaan otologis yang berhubungan dengan linguistik, sehingga
linguistik tidak perlu mengambil para-digma dari cabang ilmu lain sebagaimana yang telah
dilakukan pada kajian-kajian linguistik sebalumnya. Pemikiran de Saussure inilah yang
menjadi landasan pijak pengembangan linguistik selanjutnya, baik tradisional maupun
struktural.
Asumsi Saussure yang terkenal dan merupakan dasar kajiannya adalah bahwa bahasa
merupakan realitas sosial.. Sebagai realisasi asumsi tersebut, kajian pertama yang dilakukan
Saussure adalah kajian terhadap struktur bahasa. Hal ini dilakukan karena Saussure
menganggap bahwa bahasa sebagai satu struktur, sehingga pendekatannya sering disebut
Structural Linguistics. Kedua, Saussure mengembangkan pikirannya ke dalam enam dikotomi
tentang bahasa, yaitu (a) di-kotomi sinkronik dan diakronik, (b) dikotomi bentuk (form) dan
substansi, (c) dikotomi Signifian dan signifie, (d) di-kotomi langue dan Parole, (e) dikotomi
individu dan sosial, dan (f) hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik.
Gagasan Saussure dapat dipakai acuan baru dalam studi bahasa, bahwa kajian linguistik
hendaknya dilakukan secara diakronik dan sinkronik, karena untuk dapat memotret pada
suatu waktu tertentu diperlukan pemahaman tentang bahasa itu untuk satu rentangan waktu.
Sebagai pemakai, bahasa dapat ditelaah dari keberadaan bahasa itu sendiri tanpa terikat
oleh rentangan waktu yang ber-beda. Kajian diakronik dianggap terlalu sederhana karena
hanya mendeskripsi-kan peristiwa-peristiwa yang terpisah-pisah, sedangkan kajian sinkronik
dipan-dang lebih rumit karena harus mendeskripsikan bahasa itu sendiri.
Dikotomi antara bentuk dengan substansi, Saussure menekankan bahwa kajian linguistik
harus ditinjau dari segi bentuk dan subsatansi. Bagi Saussure, substansi penting, namun
bentuk lebih penting. Oleh karena itu, dalam kajian ba-hasa nilai suatu unsur (langsung atau
tidak langsung) sangat bergantung pada nilai unsur lain.
Dikotomi antara signifiant dengan signifie, Saussure berpendapat bahwa bahasa meliputi
suatu himpunan tanda satu lambang yang berupa menyatunya sig-nifiant (signifier, bagian

bunyi ujaran) dengan signifie (signified, bagian makna). Kedua bagian itu tidak dapat
dipisahkan, karena ujaran dan makna ditentukan oleh adanya kontras terhadap lambanglambang lain dari sistem itu, bahasa tanpa suatu sistem tidak akan ada dasar yang dapat
dipergunakan untuk membedakan bunyi-bunyi yang ada ataupun konsep-konsep yang ada.
Dikotomi antara individu dan sosial, Saussure mengatakan bahwa prilaku berbahasa anggota
masyarakat sangat ditentukan oleh kelompoknya, meskipun ciri perilaku berbahasa masingmasing anggota berbeda antara satu dan lainnya. Perbedaan perilaku individu tidak akan
menyimpang dari perilaku kolektif yang ada pada kelompok.
Dikotomi antara langue dan parole dan dikotomi antara sintakmatik dan paradigmatik sebagai
bukti bahwa bahasa merupakan realitas sosial. Sebagai realitas sosial bahasa sangat terikat
oleh collective mind bukan individual mind. Sebagai collective mind bahasa merupakan
perpaduan antara parole dan langue. Parole mengacu pada tindak ujar dalam situasi yang
sesungguhnya oleh masing masing individu. Langue ialah sistem bahasa yang dipakai secara
bersama-sama oleh masyarakat penuturnya. Selanjutnya, hubungan paradigmatik merupakan
hubungan yang menyatakan adanya kemampuan mengganti unsur dalam suatu lingkungan
yang sama, sedangkan hubungan sintakmatik adalah hubungan yang menyatakan adanya
kemampuan mengkombinasikan ke dalam konstruksi yang lebih besar.
Pendekatan ini juga diikuti oleh sarjana-sarjana pada dekade berikutnya, seperti Franz Boas
(18581942) sarjana Antropologi Amerika kelahiran Jerman; Edward Sapir (1884 1939)
sarjana Antropologi dan Linguistik; dan Leornard Bloomfield (1887 1949) sarjana
Linguistik yang akhirnya tergabung dalam alir-an linguistik struktural. Para sarjana tersebut
mengembangkan kajian bahasa pada bahasa lain yang belum pernah diselidiki sebelumnya.
Bahkan mengembangkan-nya dengan membentuk aliran-aliran baru dalam kajian linguistik.
5. LINGUISTIK ALIRAN PRAHA
Aliran Praha didirikan pada bulan Oktober 1926 oleh sekelompok ahli ba-hasa dari
Czechoslovakia dan negara-negara lain yang tergabung dalam The Li-nguistics Circle of
Prague (Kelompok Linguistik Praha. Tokoh-tokoh penting yang tergabung dalam Aliran
Praha ini antara lain Villem Mathisius (1882-1945), Prince Nicolai Sergeyevich Trubeckoj
(1890-1939), Andre Martinet (1908), dan Roman Jakobson (1896). Aliran Praha ini
mencanangkan gagasannya mengenai kajian bahasa yang tidak didasarkan pada pendekatan
historis-diakronik, melain-kan sinkronik. Aliran ini terkenal dengan sebutan Aliran Praha atau
Fonemik, juga sebagai Aliran Strukturalisme atau Fungsionalisme.
Aliran Praha ini menitikberatkan pada fungsi-fungsi bahasa, baik fungsi dalam masyarakat,
fungsi dalam kesusasteraan, dan problem-problem pada aspek tingkatan bahasa ditinjau dari
sudut pandang fungsinya. Secara garis besar Aliran Praha menitikberatkan kajian pada (1)
fonologi, yaitu studi tentang pola bunyi yang mempunyai arti fungsional; (2) konsep
perspektif kalimat secara fungsional, yaitu pendekatan dengan orientasi fungsional terhadap
interpretasi linguistik; (3) kajian fungsi estetik bahasa dan peranannya dalam kesusastraan;
dan (4) kajian fungsi bahasa baku dalam masyarakat modern (Samsuri, 1988; Alwasilah,
1993).
Kajian fungsional bahasa disampaikan oleh ahli linguistik dari Australia Karl Buhler pada
tahun 1930-an sebagai kelompok Praha, yang menyebutkan bah-wa bahasa sebagai satu
sistem tanda (systems of signs), bahasa sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu kepada

orang lain (function as a tool by means of wich the one tells the other about things). Kajian
ini menekankan pada pentingnya situasi dalam memandang suatu objek kajian. Ini berarti
bahwa pemahaman tentang fungsi bahasa sebagai alat, maka bahasa dapat dilihat dalam tiga
aspek, yaitu penutur, penanggap tutur, dan sesuatu atau objek.
Selanjutnya Nikolai Sergeyevich Trubeckoj (1890-1939) dalam bukunya yang berjudul The
principles of Phonology, menerima pembedaan tiga fungsi ba-hasa, yaitu fungsi ekspresi
(expresive function) dari si pembicara, fungsi appeal (Appeal Function) pada si pendengar,
dan fungsi referensi pada keadaan atau representasi keadaan (represntative function).
Trubeckoj juga menerima pembe-daan langue dan parole de Saussure dan pembedaan
signifiant dan signifie . Fonetik mempelajari signifiants dari parole. Bagi Trubeckoj
kajian fonologi adalah kajian signifiants dari langue pada tataran representasi atau
referensi. Sedangkan kajian signifiants pada tataran ekspresi dan tataran apelatif atau
konatif adalah bidang fonostilistik yang dapat dibagi menjadi stilistik fonetik dengan kajian
parole dan stilistik fonologik dengan kajian langue. Dengan demikian kajian fonologi
tidak perlu dibagi atas tiga cabang kajian fungsi: ekspresi, appeal, dan representasi atau
referensi.
Pada tataran referensi, ciri-ciri bunyi dapat dikelompokkan menjadi tiga fungsi: kulminatif
untuk menunjukkan ada berapa unit bunyi dalam kalimat; deliminatif untuk menandai batas
antara unit-unit bunyi, distingtif untuk membe-dakan unit-unit yang mengandung makna atau
lebih baik. Untuk memiliki fungsi distingtif, bunyi-bunyi tuturan harus saling
dipertentangkan atau dikontraskan. Pembedaan memperkirakan adanya oposisi. Oposisi dapat
bersifat distingtif mau-pun non-distingtif. Hanya bunyi-bunyi yang terjadi dalam konteks
yang sama da-pat beroposisi. Unit fonologi yang dapat membedakan adalah fonem yang
direali-sasikan dalam varian-varian fonem. Varian-varian tersebut dapat bersifat fakultatif
(individual atau umum) atau gabungan (combinatory). Pembedaan varian fakul-tatif dan
gabungan ditentukan oleh konteks.
Konsep Trubeckoj tentang fonem dan oposisi fonologi bisa dicontohkan dengan pasangan
minimal; para dan bara, kata pertama diawali bunyi /p/ dan kata kedua diawali bunyi /b/ dan
kedua bunyi ini dianggap dua fonem yang berbeda karena dapat membedakan dua unit ujaran
yang padat arti. Kemudian pada akhir-nya keduanya dibedakan satu sama lainnya dengan
oposisi fonologi bunyi , yaitu /b/ sebagai bunyi bersuara (voiced) dan /p/ sebagai bunyi tak
bersuara (voiceless). Dari gambaran ini terlihat bahwa konsep Saussure langue - parole
diterapkan oleh kelompok Praha pada konsep bunyi.
Konsep lain tentang fonologi pada Aliran Praha ini disampaikan oleh Roman Osipovich
Jakobson, seorang sarjana keturunan Rusia. Ia menulis fonem dengan memberikan penentuan
fitur-fitur komponennya, bukan sekedar pemba-gian fonem modern deskriptif. Inti
pendekatan modern Jakobson terhadap fono-logi adalah pandangannya akan suatu sistem
fonologi yang relatif sederhana, tera-tur, dan sejagat.
Jakobson berpendapat bahwa bunyi ujaran ditandai dengan memberikan sejumlah parameter
pembeda dan mandiri atau semi mandiri sebagai berikut: (1) parameter artikulasi tinggi
rendahnya kedudukan, tidak untuk kedudukan vokal terbuka dan vokal tertutup, (2)
parameter artikulasi lidah pada skala de-pan belakang, dan (3) parameter artikulasi
kedudukan langit-langit belakang, yaitu bunyi vokal dan konsonal yang berupa nasal dan
oral. Dari parameter arti-kulasi tersebut, Jakobson mengemukakan gagasan tentang
pemakaian fitur, yaitu nilai parameter artikulasi yang saling bertentangan, seperti tinggi

rendah; terbuka tertutup; depan belakang; bersuara takbersuara dan sebagai-nya.


Konsep fitur dalam fonologi ini sampai sekarang diterapkan dalam ranah sintaksis dan
semantik.
Masalah lain yang menjadi bidang kajian Aliran Praha adalah Perspektif kalimat fungsional
(Functional Sentence-Perspective). Dalam hal ini banyak di-bahas tentang perbedaan antara
grammar dan style. Di antara linguis pada kelom-pok Praha yang banyak membicarakan
masalah ini adalah Vilem Mathesius. Ia mengatakan bahwa setiap tindakan ujaran tersusun
atas dua susunan yang ber-beda, yaitu (1) pola gramatik kalimat dan (2) struktur pembawa
informasi dari ujaran. Dengan dua cara ini bahasa mampu menyatakan fungsi-fungsinya.
Dalam perkembangan terakhir istilah foundation diganti dengan theme (tema) sedangkan core
diganti dengan rheme (rema). Istilah yang umum dipakai untuk istilah functional sentenceperspective adalah word ordr (tertib kata). Da-lam ujaran biasa (tidak menekankan sesuatu),
tema disebut pertama lalu diikuti rema. Tertib kata untuk functional sentence-perspective ini
dicapai dengan ber-bagai cara gramatik dalam menyatakan gagasan seperti bentuk aktif dan
pasif. Cara mudah untuk mengenal tema dan rema ialah dengan mengajukan pertanyaan yang
jawabannya bisa denga tema dan rhema itu. Tema adalah unsur nominal da-lam pertanyaan,
sedangkan rema yang dinyatakan oleh kata ganti tanya. Perhati-kan contoh berikut ini!
(1) Soalnya, mudah.
(2) Soal ujian itu, mudah.
Konstituen struktur dalam kalimat (1)-(2) dapat diidentifikasi, bahwa kali-mat tersebut terdiri
thema- rhema. Kalimat (1) soalnya (tema); mudah (rema) dan kalimat (2) soal ujian itu
(tema); mudah (rema).
Bidang lain yang menjadi kajian Aliran Praha menyangkut konsep fungsi estetik bahasa.
Kajian ini lahir pada tahun 1930-an dan awal 1940-an dan linguis yang membicarakan hal ini
adalah Jan Mukarovsky. Dia mengatakan bahwa setiap objek tindakan, termasuk bahasa, bisa
memiliki fungsi praktisnya. Fungsi praktis bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Dalam
pengertian ini maka fungsi estetik tidak terbatas hanya pada karya sastra saja, tetapi hadir
dalam hubungannya de-ngan objek atau tindakan apapun.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa Aliran Praha merupakan pengikut Ferdinand de Sausure,
yang merupakan konsep langue - parole. Langue merupa-kan sistem tanda dan satu perangkat
norma-norma sosial. Sebagai sistem tanda, langue adalah pola fleksibel yang memungkinkan
adanya variasi dalam unit dan pemilihan serta penyusunan unit-unit sejauh tidak melanggar
batas saling penger-tian. Sebagai seperangkat norma sosial, pola ini lebih kaku, dibatasi
nilai-nilai kultural, dan juga seringnya pemakaian.
Contoh yang paling jelas adalah bahasa sanjak atau puisi pada umumnya. Sanjak terikat
dengan sajak, baris, tekanan dan intonasi di samping pemilihan kata dan tertib susunannya.
Kesemuanya itu membentuk satu sanjak tertentu begitu adanya sebagai satu kesatuan hasil
karya.
Selanjutnya, Aliran Praha mengkaji peranan bahasa dalam diferensiasi so-sial. Fungsi bahasa
dalam kaitan ini dipelajari bukan dalam situasi ujaran, tetapi pada alur sosial dari pola sosial
sebagai satu keseluruhan. Dengan demikian per-soalannya adalah fungsi sosiologis bahasa

adalah mengimbangi kelompok masya-rakat yang berbeda-beda. Aliran Praha berkonsentrasi


pada kajian bahasa baku dan fungsinya dalam masyarakat perkotaan.Yang dimaksud bahasa
baku dalam hal ini adalah bahasa yang telah dikodifikasikan, disepakati oleh dan berfungsi
sebagai model bagi masyarakat ujaran yang lebih luas. Dalam hal ini Aliran Praha
menurunkan dua ciri pokok dari bahasa (bahasa baku), yaitu (1) kestabilan yang kenyal
(flexible stability) dan (2) intelektualisasi (intellectualization).
Kestabilan yang kenyal adalah tujuan yang akan dicapai, suatu ciri yang ideal yaitu supaya
berfungsi secara efisien, bahasa baku mesti distabilkan dengan kondisi yang fleksibel seperti
halnya perubahan kebudayaan. Sedangkan intelek-tualisasi dicirikan dengan kecenderungan
yang terus menerus menuju ketetapan dan kepastian dalam ekspresi atau ujaran. Atau secara
lebih khusus dikatakan se-bagai kecenderungan menuju sistematisasi hubungan yang semakin
luas. Kecen-derungan pertama melibatkan grammar, sedangkan kecenderungan kedua terutama dalam bidang leksis.
6. LINGUISTIK STRUKTURALISME
Sejak tahun 1930-an sampai tahun 1950-an, kajian linguistik didominasi aliran
strukturalisme, terutama yang dikembangkan oleh linguis Amerika, seperti Leonard
Bloomfield (1887-1950). Tokoh lain yang juga pengembang aliran struk-turalisme adalah
Edward Sapir (1884-1939) dan Franz Boas (1858-1942). Oleh karena itu, aliran
strukturalisme ini disebut juga Aliran Strukturalisme Amerika.
Bloomfield adalah seorang linguis Amerika kelahiran Jerman yang paling besar
sumbangannya dalam menyebarluaskan prinsip-prinsip dan metode-metode yang biasa
disebut Strukturalisme Amerika. Pada tahun 1914 ia menerbitkan Introduction to the Study of
Language. Buku inilah yang menempatkan dirinya menjadi penting dan istimewa dan
memberikan pengaruh besar terhadap kajian-kajian dunia linguistik, terutama di Amerika
sampai sekarang.
Pada tahun 1933, Bloomfield menerbitkan buku yang berjudul Language. Buku ini terdiri
atas 600 halaman, merupakan buku paling besar, isinya padat, lengkap, sehingga sampai
sekarang buku itu tetap taktersaingi. Dalam bukunya tersebut Bloomfield banyak dipengaruhi
oleh Psikologi Behaviorisme. Saking kuatnya pengaruh pandangan Behaviorisme, sehingga
di dalam esei-esei yang ditulisnya untuk International encyclopedia of Unified Science, ia
menyatakan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh metode ilmiah dengan merujuk pada
acuan behaviorisme.
Pandangannya tentang penggunaan bahasa (the use of language) dirumus-kan dengan
Rangsangan (stimulus) dan Tanggapan (response). Menurut Bloomfield kita hanya dapat
menentukan arti dari suatu bentuk tuturan secara cer-mat, apabila suatu arti itu berhubungan
dengan sesuatu yang dapat memberikan manfaat pengetahuan yang bersifat ilmiah. Misalnya,
kita dapat menentukan na-ma-nama tumbuhan atau binatang dengan menggunakan teknik
botani atau kehe-wanan dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut, teori Bloofield
yang le-bih utama tertuju pada usaha menguraikan secara eksplisit metode-metode yang tepat
untuk mendeskripsikan bentuk bahasa (linguistic form). Dalam hal ini ia membedakan bentuk
terikat (bound form) dan bentuk bebas (free form) serta bentuk kompleks.
Ada empat cara menurut Bloomfield menyusun bentuk (form) bahasa, yaitu: (1) order
(urutan), misalnya Ali memukul Badu X Badu memukul Ali; (2) modulation (penggunaan

fonem skunder), misalnya John X John?; (3) phone-tic modification (modifikasi fonetik),
misalnya do not X dont; (4) selektion (memberikan satu faktor makna oleh karena bentuk
yang berbeda memberikan makna yang berbeda pula). Dengan demikian, dalam bentuk
bahasa tercakup kelas-kelas dan bagian-bagian kelas, seperti kata kerja (verbs), kata benda
(substantives), kata sifat (adjectives), dan sebagainya.
Bentuk bahasa dalam tatabahasa dikelompokkan menjadi tiga kelas, yaitu (1) sentence type
(tipe kelimat), kalimat berita, kalimat tanya, dan sebagainya; (2) construction (konstruksi).
Konstruksi ini dinamakan sintaksis kalau tidak terdapat bentuk terikat di antara
konstituennya, contoh John kehujanan, Hasan tidur. Dinamakan morfologi kalau
konstituennya terdiri dari bentuk terikat, seper-ti an pada makanan, ter pada tertidur, juang
pada medan juang, dan seba-gainya; (3) substition (substitusi), apabila bentuk tatabahasa itu
merupakan suatu bentuk penggantian konvensional terhadap salah satu kelas dari bentuk lain,
con-toh kata ganti, seperti nya mengantikan dia atau Hasan.
Edward Sapir adalah seorang Yahudi Jerman yang tinggal di Amerika Se-rikat sejak berumur
lima tahun. Ia belajar di Universitas Colombia, mengambil Jurusan Filologi Bahasa Jerman.
Selama mengembangkan profesinya, ia banyak menulis artikel tentang aspek linguistik
bahasa Indo-Eropa, bahasa klasik Cina, dan juga bahasa-bahasa Afrika, dan masih banyak
karya penelitian yang ia terbit-kan. Di samping itu, ia dikenal sebagi seorang sastrawan,
musisi, kritikus yang tajam, dan banyak menulis kritik-kritik di bidang seni dan bidangbidang lainnya. Segala karyanya ditulis dalam bukunya yang berjudul Language (1921).
Konsepsinya tentang bahasa dapat ditelusuri pada batasan bahasa yang di-buatnya. Ia
membuat batasan tentang bahasa sebagai berikut: Language is a purely human and noninstinctive method of communcating ideas, emotions, and desires by means of a system of
voluntarily produced symbols (Bahasa adalah sua-tu metode yang semata-mata digunakan
oleh manusia dan tidak bersifat instingtif yang digunakan untuk menyampaikan ide, perasaan,
dan keinginan dengan meng-gunakan sistem lambang secara sukarela.
Berdasarkan batasan yang dikemukakan, Sapir banyak menekankan pada (1) unsur-unsur
tuturan, (2) bunyi bahasa, (3) bentuk bahasa, dan (4) lain-lain. Se-hubungan dengan unsur
tuturan Sapir menganggap bahwa bagian yang paling mendasar dari suatu bahasa adalah
radical (radikal), unsur-unsur gramatikal, kata, dan kalimat. Yang dimaksudkan dengan
radikal adalah unsur-unsur gramatikal yang mempunyai kesejajaran makna dengan morfem.
Pandangannya terhadap bentuk-bentuk linguistik terdiri atas tiga, yaitu (1) hubungan antara
bentuk-bentuk linguistik (sama dengan morfem, kata, dan kalimat); (2) proses gramatikal
(seperti afiksasi dan modifikasi); dan (3) konsep gramatikal.
Dalam bidang bunyi bahasa sapir menekuni sistem bunyi dari berbagai ba-hasa dan
membandingkannya antara bahasa tersebut. Dalam hal ini lebih ditekan-kan pada hubungan
struktur bunyi bahasa tersebut. Sehubungan dengan bentuk bahasa sapir mengemukakan dua
pengertian bentuk bahasa, yaitu konsep dasar yang diberikan oleh suatu bahasa dan metode
formal yang menyangkut penghu-bungan metode dasar dan modifikasi.
Tokoh lain yang cukup berpengaruh terhadap aliran struktural adalah Franz Boas. Dia
seorang linguis yang otodidak (self-taught linguist) dan banyak memberikan andil terhadap
penelitian-penelitian bahasa, khususnya bahasa India Amerika. Di antara hasil penelitiannya,
dia menghilangkan anggapan bahwa sifat dasar bahasa itu asalnya dari bahasa Eropa. Dia
mengatakan bahwa bahasa manu-sia itu berubah-ubah dan antara satu dan lainnya berbeda-

beda.
Dalam membicarakan masalah fonetik, Boaz mengikuti pendekatan yang digunakan oleh de
Saussure, yaitu pendekatan yang berhubungan dengan sifat-sifat dasar sistematik bunyi
bahasa. Bagi Boaz bahasa hanyalah merupakan tutur-an artikulasi, yakni komunikasi dengan
menggunakan kelompok-kelompok bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Pikirannya tentang struktur bahasa menyangkut (1) kategori gramatikal: unit dasar bahasa
(termasuk makna) adalah kalimat bukan kata; (2) pronomina atau kata ganti: klasifikasi kata
ganti itu menurut Boaz tidak tetap. Artinya ketiga macam kata ganti orang, pertama, kedua,
dan ketiga, didasarkan pada konsep diri sendiri dan non-diri sendiri. Kanta ganti non-diri
sendiri dibagi lagi menurut kebu-tuhan tuturan, yaitu orang yang diajak bicara dan orang
yang dibicarakan; (3) Verba (kata kerja): kategori verba khususnya dalam bahasa Eropa,
seperti per-son (orang), number (jumlah), tense (kala), mood, dan voice, bersifat semenamena dan berkembang tidak merata pada berbagai bahasa.
Pada awal abad XX , kajian bahasa mengalami perkembangan dalam se-gala aspeknya, mulai
dari kajian historis komparatif sampai masalah analisis dan sintesis struktur kebahasaan, dan
terjadi tidak hanya pada kontingen Eropa, tetapi juga seluruh kawasan di Amerika .
Perkembangan ini disebut Aliran Struktural Amerika Pasca Bloomfield. Kajian-kajian yang
dilakukan pada umumnya bersi-fat deskriptif, namun masalah yang dikaji menyangkut
struktur bahasa. Oleh ka-rena itu kelompok pasca Bloomfield ini disebut kelompok strukturalis/kaum strukturalis.
Menurut kaum strukturalis, struktur bahasa adalah hubungan antar dan pola-pola yang
membentuk bangunan bahasa. Bahasa dalam hal ini diartikan ujaran dan tulisan bentuk
skunder, kebudayaan sama pentingnya dengan ujaran. Kaum strukturalis memandang bahasa
itu mempunyai tingkatan dan setiap ting-katan terdapat sistem yang berpola-pola. Tingkatan
bahasa paling rendah disebut dengan fonetik selanjutnya fonemik dan keduanya membangun
tingkatan yang disebut dengan fonologi.
Pemahaman tentang fonologi, khususnya pemakaian transkripsi fonemis, menjadi penting
dalam kajian bahasa pada tingkatan yang lebih tinggi yang dise-but morfologi dan sintaksis
bahasa. Oleh karena kajian bahasa kaum strukturalis itu dilakukan untuk menemukan sistem
fonem, sistem morfem, sistem kata, dan sistem kalimat bahasa, maka oleh kaum transformasi,
ilmu bahasa struktur disebut ilmu bahasa penemuan. Disebut ilmu bahasa penemuan karena
pekerjaaannya me-motong-motong dan menggolong-golongkan dan memberinya nama pada
potong-an-potongan dan golongan-golongan komponen sistem bahasa tersebut.
Perkembangan selanjutnya dari aliran strukturalisme adalah aliran struk-turalisme pasca
Bloomfield. Di antara tokoh yang berjasa dalam pengembangan aliran struktural pasca
Bloomfield ini, antara lain: Charles F. Hockett, Bernard Block, dan Zelling S. Harris dalam
bidang fonologi modern; Eugene A. Nida, Rullon Wells mengembangkan morfologi
strukturalisme di samping Hockett dan Block. Karya-karya mereka yang masih disebut-sebut
sampai sekarang, antara lain Methods in Structrural Linguistics (1951) oleh Harris; An
Introduction to Descrition Linguistics (1955) oleh Gleason; Reading in Linguistics (1957)
oleh Martin Joos.
Tatanahasa Tagmemik juga merupakan lanjutan dari aliran strukturalisme Amerika. Aliran ini
mewarisi pandangan-pandangan Franz Boas, Leonard Bloomfield, dan Edward Sapir. Sebagai

lanjutan aliran strukturalisme, teori Tag-memik menganut pandangan "bahwa suatu unusr
atau bagian tidak dapat diana-lisis secara terpisah sama sekali dari unsur-unsur atau satuansatuan yang lain.
Salah satu tokoh yang mencetuskan tatabahasa Tagmemik Kenneth Lee Pike salah seorang
murid Edward Sapir. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Language in Relation to a
Unified Theory of the Structure of Human Behaviour. Buku tersebut berisi buah pikiran Pike
tentang teori Tagmemik dan metode pene-rapannya.
Teori Tagmemik dikembangkan berdasarkan tiga konsep dasar. Pertama, bahasa dipandang
sebagai bagian dari tingkah laku manusia dan antara tingkah laku verbal dan non-verbal tidak
dapat dipisahkan secara total. Kedua, analisis dan pemerian didasrkan pada tagmen, yaitu
satuan dasar gramatikal. Tagmen di-definisikan sebagai The correlation of a grammatical
function or slot with a class of mutually subsitutable items occurring in that slot. Tagmen
adalah suatu tempat dalam struktur, sintaktik, atau morfologik, bersama-sama kelas formal
unsur-unsur yang menempati tempat tersebut (sering disebut slot gatra dan filler butir
pengisi). Tagmen menggabungkan konsep tradisional, seperti subjek, predikat, objek, dan
adverbia dengan konsep kelas seperti nomina, verba, adjektiva, adverbia, dan sebagainya.
Sebagai contoh, kalimat Adik tidur. Kali-mat tersebut terdiri dari dua tagmen kata, yaitu
tagmen subjek yang diisi oleh no-mina dan tagmen predikat yang diisi verba intransitif, yang
biasanya disingkat de-ngan simbol-simbol: + S:n + P: vint.
Ketiga, teori tatabahasa tagmemik menganalisis suatu unit sintaksis men-jadi tagmen-tagmen
secara berurutan dan serempak. Perhatikan contoh kalimat berikut ini.
Rahmad membeli buku kemarin
Akan dianalisis sebagai berikut.
Rahmad membeli buku kemarin
Rahmad membeli buku kemarin
Membeli buku kemarin
Membeli buku
Tagmemik dalam analisis tingkah laku (termasuk tingkah laku linguistik) menggunakan dua
alat deskripsi utama, yaitu (1) pembedaan gagasan etik dan emik dan (2) tataurut tagmemik.
Istilah etik dan emik diambil Pike dari fonologi (bagian akhir fonetik dan fonemik) dan
diterapkan secara universal. Emik adalah satuan formal dalam sistem tertutup, sedangkan etik
adalah manifestasi material yang dapat diidentifikasi melalui ciri-ciri pemeriannya yang
nampak. Tataurut tagmemik dengan menguraikan ujaran yang berupa satuan-satuan yang
dapat di-kenali pada tataran yang berbeda-beda. Berikut ini diturunkan satu tataurut tagmemik dalam menganalisi kalimat bahasa Indonesia Saya meminjam buku dan membacanya.
Untuk menganalisis kalimat tersebut, singkatan dan tanda yang dipakai adalah sebagai
berikut.
HF : Hirarki fonologis

HR : Hirarki Referensi atau Leksikal


HG : Hirarki Gramatikal
tm : tataran minimal (diisi oleh satuan minimal)
tp : tataran primer (diisi oleh satuan primer)
ts : tataran sekunder (diisi oleh satuan sekunder)
S : Fungsi subjek
P : Fungsi predikat
O : fungsi objek
N : Nomina
Vt : verba transitif
Pron. : pronomina
F : Frasa (digunakan dalam analisis empat kisi atau empat sel)
Huruf : fonem
- : morfem
[ ] : tagmen
: Silable (suku kata)
rumpang : kata
/ / : klausa
/ : suku dalam puisi
( ) : frasa
/ / o : kalimat
+ : sel empat kisi
ag : peran agentif (pelaku)
obj : peran objektif
ak : peran aktif (tindakan)

Hub : hubungan
Konj : konjungsi (kata penghubung)
Phub : penanda hubungan
Contoh analisis:
HF tm fonem : sayameminjambukudanmembacanya
tp silabe : sa.ya.me.min.jam.se.bu.ah.bu.ku.dan.mem.ba.ca.nya.
ts suku : sa.ya./me.min.jam.se.bu.ah.bu.ku./dan.mem.ba.ca.nya.
HR tm morfem: saya-meN-pinjam-se-buah-buku-dan-meN-baca-nya.
tp kata : saya meminjam sebuah buku dan membacanya
ts frasa : saya meminjam (sebuah buku) dan membacanya
HG tm tagmen : [saya] [meminjam] [sebuah buku] [dan] [membaca] [nya]
tp klausa : ll[saya] [meminjam] [sebuah buku]ll ll[dan]
[membac] [-anya]ll
ts kalimat : ll[saya] [meminjam] [sebuah buku] ll [dan] [membaca]
[-nya]
S Pro P Vt O Fn Hub Kon P Vt O Pron

Ag ak obj phub ak obj


(Lihat Djawanai dalam Samsuri, 1987)
7. Aliran London
Berbicara tentang Aliran London, tidak dapat melupakan nama besar J. R. Firth, guru besar
General Linguistik pada Universitas London dari tahun 1944 sampai dengan 1956. Objek
yang dikaji dalam linguistik, menurut Firth adalah pemakaian bahasa secara aktual, sebab
pemakaian bahasa adalah salah satu bentuk kehidupan manusia dan tuturan dilarutkan dalam
hubungan antara anggota masya-rakat. Tujuan kajian itu ialah mencerminkan aspek makna
dengan suatu cara, se-hingga unsur linguistik dan non-linguistik dapat dihubungkan selama
cara makna mensyaratkan model pengalaman.
Firth menyadarai bahwa istilah itu bersifat ideosinkritik, ia akan bertahan pada istilah-istlah
itu. Ia tidak tertarik pada pensisteman atau penggantian pengka-kuan dogmatik baru dalam
pemerian bahasa sebagai pengganti untuk sistem lain. Ia ingin menunjukkan, berapa satuan
bahasa yang dikaji secara berlebihan ataupun yang masih kurang dikaji oleh linguist. Firth
adalah seorang strukturalis dalam arti Aliran de saussure. Oleh karena itu istilah struktur dan
semua derivasinya, semata-mata diterapkan pada hubungan sintagmatik, dan sistem dengan
derivasinya dite-rapkan pada paradigmatik. Firth mengatakan bahwa struktur itu berkenaan
de-ngan hubungan sintagmatik antar unsur, dan sistem berkenaan dengan hubungan
paradigmatik antar unit.
Sistem dan struktur dikaji dalam berbagai tataran analisis dalam konteks situasi untuk
menyatakan makna. Konteks situasi adalah konstruk sistematik yang diterapkan khususnya
untuk peristiwa sosial yang berulang yang terdiri atas ber-bagai tataran analisis. Tataran
analisis dapat menyangkut fonetik, fonologi, tata-bahasa, kosakata, dan situasi yang
merupakan konstruksi teoritis.
Ada empat hal yang menjadi titik berat teori Firth, yaitu (1) komponen sosiologi dalam kajian
linguistik, (2) teori makna, (3) analisis makna dalam baha-sa level, struktur, sistem, dan (4)
teori fonologi. Sehubungan dengan komponen sosiologi dalam kajian linguistik, Firth
mengembangkan gagasan Baronislaw Malinowski tentang bahasa. Dia menyatakan
pentingnya menempatkan kata-kata dalam konteks keseluruhan ujaran pada situasinya. Inilah
yang disebutkan dengan the context of situation. Bagi Malinowski konteks ini lingkungan
fisik sebenarnya dari satu ujaran. Firth pun memakai istilah context of situation dengan
makna yang lebih umum dan abstrak. Bagi dia konteks tersebut adalah arena hubunganhubungan (field of relation), yaitu hubungan antara orang-orang yang memainkan peran
dalam masyarakat, kata-kata yang mereka ujarkan, dan objek-objek lain, kejadian-kejadian
dan seterusnya yang ada hubungannya dengan orang-orang dan ujarannya itu (Alwasilah,
1992:65; Samsuri, 1988:60).
Dalam kajian hubungan bahasa dan konteks sosial, Firth juga menolak formalisme struktural
yang statis yang ditekankan pada perbedaan langue dan parole dari saussure. Dengan kata
lain, bahasa seharusnya dikaji sebagai bagian dari proses sosial, sebagai suatu bentuk
kehidupan manusia, tidak hanya sekedar seperangkat tanda-tanda arbitrer.

Konsep tentang makna dari Firth adalah sosial dan behavioral. Kata-kata menjadi bagian dari
kebiasaan, dan makna yang timbul pada kata-kata itu adalah pola-pola tingkah laku, dan
dalam pola ini kata-kata tersebut mempunyai fungsi koordinasi. Kata-kata mengacu pada
sesuatu dan situasi yang disebut directive reference. Dalam bahasa lisan, makna melibatkan
tiga hal yaitu: sikap terhadap acuan, sikap terhadap lawan tutur, sikap terhadap tujuan dari
suatu ujaran.
Ada gagasan dasar yang lain tentang hakikat bahasa dan pemeriannya yang secara langsung
dihubungkan dengan pandangan Malinowski tentang makna bahasa antara lain (1) kalimat
adalah data bahasa yang paling dasar; (2) kata me-rupakan abstraksi skunder. Ia membatasi
kalimat sebagai sebuah tuturan yang di-ikat oleh kesenyapan atau oleh jeda yang dapat
didengar. Bagi Malinowski, ka-limat adalah piranti sosial yang sangat penting. Makna tuturan
dalam lingkung-an tertentu dapat dilihat akibatnya dalam lingkungannya, kemudian baru
dipilih tu-turan manakah yang patut terus dipertahankan dan mana yang tidak.
Dalam bidang sintaksis Firth mengembangkan Teori Sanding Kata atau istilah lainnya
collocation. Pengertian collocation adalah dua kata atau lebih yang dianggap sebagai butirbutir kosakata sendiri, dipakai sandingan antara satu dan lainnya yang lazim dalam bahasa
tertentu, misalnya dalam bahasa Indonesia kata renta bersanding kata dengan tua, kata belia
bersanding kata dengan muda dan sebangsanya. Hal ini menunjukkan bahwa butir-butir
leksikal itu satu sama lain-nya berkaitan.
Firth mengemukakan bahwa kaitan antara butir-butir leksikal, terungkap dalam tiga bentuk,
yaitu probalistic, implication, dan conceptual. Hubungan probalistik leksikal dikenal dengan
teori sanding kata dari makna kosakata (collacation theory of lexical meaning). Misalnya,
sebagian kata malam untuk bisa atau mungkin bersanding kata dengan kata gelap. Kita dapat
mengambil contoh lain misalnya: ayah, ibu, anak, dan sebangsanya; siang, panas, matahari,
dan seterusnya; sapi, susu, dan seterusnya (lihat Alwasilah, 1992:69).
Hubungan yang mungkin dimasuki butir-butir bahasa tersebut dapat dibagi dua, yaitu (1)
hubungan formal dan (2) hubungan situasional. Hubungan formal artinya hubungan antara
satu butir formal dan yang lainnya, misalnya hubungan antara kosakata dengan sanding
katanya atau hubungan sintaksis dengan kategori-ketegori gramatik. Sedangkan hubungan
situasional adalah hubungan antara butir-butir bahasa dengan unsur-unsur non-verbal dari
situasi ujaran. Oleh karena itu, kita mengenal makna formal (formal meaning) dan makna
situasional (situational meaning).
Makna formal adalah makna yang diperoleh satu butir kategori gramatik dalam hubungannya
dengan butir gramatik lainnya pada level sintaksis. Sedang-kan makna situasional adalah
hubungan antara butir-butir atau kategori dengan segala unsur yang ada di luar bahasa,
misalnya situasi sosial.
Pada pokoknya dapat dikatakan bahwa bahasa itu sistematik-tersusun atas sistem-sistem
terdiri dari komponen-komponen bahasa yang satu dan lainnya sa-ling berhubungan. Inilah
yang merupakan dasar kajian linguistik struktural Eropa yang pada pokoknya merupakan
dasar karya de Saussure. Dengan demi-kian ba-hasa itu terdiri atas struktur dan sistem.
Struktur dan semua derivasinya semata-mata mengacu pada hubungan sintagmatik,
sedangkan sistem dengan derivasinya diterapkan pada hubungan paradigmatik. Struktur yang
dimaksud-kan adalah tertib unsur-unsur secara horisontal. Sedangkan sistem seperangkat

unit-unit seca-ra vertikal yang dapat dipakai dalam suatu struktur tertentu. Dengan analogi seperti ini, dalam bidang sintaksis ditemukan struktur seperti subjek, predikat, objek (SPO).
Teori fonologi yang dikembangkan Firth terkenal dengan sebutan Anali-sis prosodik
(prosodic analysis) atau fonologi prosodik (prosodic phonology). Dalam teori fonologi ini,
Firth menolak teori fonem. Menurut Firth, kelemahan analisis fonemik yang didasarkan
sepenuhnya pada pemisahan kesatuan ujaran ke dalam segmen-segmen dapat diatasi dengan
pengenalan fonem-fonem supraseg-mental (suprasegmental phonems).
Analisis prosodi terdiri atas dua tipe yang merupakan satu kesatuan, yaitu (1) unit fonematik
(phonematic unit) dan (2) prosodi (prosody). Keduanya mengacu pada ciri fonetik atau
sekelompok ciri fonemik dari suatu ujaran. Yang dimaksud unit fonematik adalah segmensegmen yang disusun secara seri seperti konsonan dan vokal. Sedangkan prosodi mengacu
pada ciri-ciri fonetik yang meluas pada keseluruhan atau bagian terbesar dari struktur,
misalnya pola-pola intonasi. Dengan demikian, penitikberatan pada relevansi struktur, seperti
suku kata, kata, dan kalimat, analisis prosodik berusaha menghubungkan fonologi dan
tatabahasa.
Dalam analisis prosodik, sistem fonologi yang berbeda dapat disusun un-tuk struktur-struktur
yang berbeda, misalnya ciri-ciri yang terjadi pada awal satu suku kata dapat tidak sama
dengan ciri yang dapat terjadi pada akhir satu suku ka-ta dalam bahasa tertentu.
Akhirnya, Aliran London ini dikembangkan oleh Halliday murid Firth, yang dikenal dengan
sebutan Neo-Firthian. Ajaran Halliday ini terkenal dengan tatabahasanya systemic grammar
(tatabahasa sistemik). Dalam bukunya yang ber-judul The Linguistic Sciences and Language
Teaching, Halliday memaparkan se-cara garis besar tentang Tatabahasa Sistemik, antara lain
(1) Form (bentuk), organisasi dari substansi peristiwa yang pada arti, yaitu tatabahasa dan
leksis; (2) Substance (substansi), materi fonik dan grafik; dan (3) context (konteks), hubungan antara bentuk dan situasi, yaitu semantik.
Selanjutnya, Halliday mengembangkan empat gagasan penting sebagai ka-tegori umum
dalam bahasa, yaitu unit, struktur, kelas, dan sistem. Unit merupa-kan suatu segmen
pembawa pola pada segala level, misalnya kalimat terdiri pola-pola struktur klausa: subjekpredikator-komplementer-ajung. Kelas meru-pakan seperangkat butir-butir yang beroperasi
dengan fungsi tertentu dalam akar kata. Sedangkan sistem merupakan penyusunan
paradigmatik dari kelas-kelas dalam hubungan pilihan.
Di sisi lain, Halliday menguraikan tentang linguistik sebagai studi atau kajian bagaimana
kita mempergunakan bahasa untuk hidup. Halliday menolak mentalis maupun mekanis
yang ekstrim, dan menolak konsep tentang bahasa yang terdiri atas bentuk dan makna.
Dalam hal ini yang menjadi penekanan aliran ini adalah bahwa makna adalah milik dari
segala jenis pola yang ada dalam bahasa; kita tidak dapat memerikan bahasa tanpa
memerikan makna. Akan tetapi untuk memerikan secara mendalam kita harus mengenal
berbagai level bahasa tatabahasa, fonologi, dan seterusnya.
Kategori-kategori untuk memerikan sutu bahasa mesti didasarkan pada kriteria-kriteria
formal dan pada akhirnya mesti dapat dihubungkan pada ekspo-nen-eksponen dalam
substansi fonik dan grafik, namun tidak ada pemerian yang lengkap, tidak mengabaikan
makna, apalagi makna kontekstual.

Dalam bukunya yang berjudul The Linguistic Sciences and Language Teaching, Halliday
memaparkan secara garis besar tentang tatabahasa sistemik, antara lain (1) Form (bentuk),
organisasi dari substansi peristiwa yang pada arti, yaitu tatabahasa dan leksis; (2) Substance
(substansi), materi fonik dan grafik; dan (3) context (konteks), hubungan antara bentuk dan
situasi, yaitu semantik.
8. TATABAHASA GENERATIF TRANSFORMASI
Perkembangan terakhir, dalam kajian linguistik, terbitnya buku Chomsky Syntactic Structures
pada tahun 1957, dan diperbaikinya dengan karyanya Aspects of the Theory of Syntax pada
tahun 1965. Dalam buku-bukunya tersebut, Noam Chomsky dan pemikutnya mengatakan
bahwa pendekatan lama, yang pada saat itu didominasi oleh Aliran Struktural dan Taxonomic
Grammar yang di-motori Bloomfield dan kawan-kawan memiliki berbagai kelemahan dan
tidak sanggup menyelesaikan masalah-masalah morfosintaksis tanpa mengadakan kai-dahkaidah secara ad hoc atau dengan mengadakan klasifikasi yang rumit sekali. Maka dari itu
menurut Chomsky diperlukan tambahan tingkatan ilmu bahasa yang disebut transformasi,
untuk bisa menyelesaikan berbagai masalah morfosin-taksis. Kajian yang dikembangkan
Chomsky ini yang dikenal dengan nama Tatabahasa Generatif Transformasi (Generative
Transformational Grammar).
Pengembangan Tatabahasa Generatif Transformasi yang dilakukan Chomsky, selain dilandasi
oleh rasionalisme dan diapengaruhi oleh Zelling Harris, juga banyak dipengaruhi hasil
pemikiran Roman Jakobson yang berang-gapan bahwa berbagai bentuk struktur fonologis
yang terdapat di dunia ini hanya merupakan variasi bentuk superfisial. Variasi bentuk itu
hanya merupakan perlu-asan baru dari satu sistem umum yang mendasari semua bentuk
varian fonologis yang beraneka ragam. Anggapan demikian, mendorong Jakobson untuk
melahir-kan gagasan tentang kesemestaan fonologi yang pada dasarnya juga dapat diterapkan pada tataran linguistik lain di luar fonologi.
Jika ditarik hubungan jauh ke belakang wawasan demikian , seperti di-ungkapkan sendiri
oleh Chomsky dalam Current Issues in Linguistic Theory su-dah dapat ditemukan dalam
karya Humboldt, yang beranggapan bahwa wujud ba-hasa dalam pemakaian hanya
merupakan Parasitic Systems, sebagai perluasan da-ri inti yang bersifat terbatas. Inti yang
bersifat terbatas itu ada dalam seperangkat kalimat apik yang sifatnya juga terbatas. Dan
tugas seorang linguis ialah me-nentukan kalimat-kalimat yang gramatikal dan menyisihkan
kalimat-kalimat yang tidak gramatikal.
Bahkan, Chomsky menyebutkan dalam kata pengantar bukunya Aspects of the Theory of
Syntax (1965), bahwa pengembangan Tatabahasa Generatif terkait erat dengan wawasan
Tatabahasa Panini atau Paninis Grammar di India. Dalam perkembangannya, Tatabahasa
Generatif Transformasi terus menerus mengalami pengembangan dan penyempurnaan. Ada
empat fase perkembangan Tatabahasa Generatif Transformasi, meliputi (1) fase syntactic
structure, antara 1951 1964, (2) fase teori standar, 1965 1966, (3) fase teori standar yang
diperluas, antara 1967 1972, dan (4) fase sesudah teori standar yang diperluas, antara 1973
sam-pai sekarang. Namun dalam pembahasan ini hanya ditekankan pada Tatabahasa
Generataif Transformasi yang dikembangkan oleh Chomsky.
Pada fase pertama Chomsky mengartikan bahasa sebagai seperangkat ka-limat yang apabila
ditinjau dari pola struktur dasarnya bersifat terbatas, dan seka-ligus bersifat takterbatas
apabila ditinjau dari perwujudannya dalam bahasa kese-harian. Dari setiap pola struktur yang

sifatnya terbatas, dapat dikembangkan suatu kalimat yang panjangnya relatif tak terbatas.
Perhatikan kalimat berikut.
(3) Pria itu mahasiswa.
(4) Pria ini mahasiswa.
itu
Pria mahasiswa
(a) mahasiswa
ini
Kalimat tersebut dapat dikembangkan menjadi:
(5) Pria jangkung itu mahasiswa.
(6) Pria jangkung ini mahasiswa.
jangkung itu
(b) Pria mahasiswa
mahasiswa
ini
Menggunakan pola seperti contoh di atas, pada bahasa alami akan menda-patkan kesulitan,
karena kalimat-kalimat dalam bahasa sehari-hari tidak semata-mata muncul dalam bentuk
yang sederhana. Hal ini bisa kita contohkan dalam ka-limat, Eh, ternyata pria jangkung yang
berdiri di sudut halaman itu ternyata seo-rang mahasiswa. dan seterusnya. Oleh karena itu
komponen yang paling menda-lam dalam Tatabahasa Generatif Transformasi adalah masalah
sintaksis studi penyusunan kalimat. Bahkan, dalam sintaksis para linguis dapat menyusun
suatu kaidah yang disebut kaidah kaidah rekursif. Untuk itu dalam komponen sintaksis ini
Tatabahasa Generatif Transformasi juga mengembangkan kaidah pokok, yaitu (1) Phrase
Structure rule (kaidah struktur frasa) dan (2) tran-formational rules (kaidah transformasional).
Kaidah struktur frasa bisa juga diartikan sebagai teori unsur bawahan langsung atau unsur
langsung saja. Hal ini memperlihatkan bagaimana suatu kalimat disusun berdasarkan
tataurutnya. Tujuan analisis menghasilkan kalimat, maka kaidah dalam bentuk rumus dimulai
dengan kailmat. Kaidah itu sendiri dinyatakan dengan simbol atau seperangkat simbol
sebelah kanan menggunakan tanda panah. Tanda panah tersebut berarti tertulis kembali atau
terdiri atas, seba-gaimana contoh berikut ini.
1. K (kalimat) FN (Frasa Nomina) + FV (Frasa Verba)
2. FN N (Nomina) + Det. (Determinan)

3. FN N
4. FV V (Verba) + FN
5. FV V
6. FV V + Adj. (Adjektiva)
7. N Jono, manusia, laki-laki, dan sebaginya.
8. V membaca, datang, menyukai, dan sebaginya
9. Adj. Baik, cantik, merah, dan sebagainaya
10. Det. Itu, ini
Dimulai dengan aksioma K dan terus mengikuti simbol akhir, kita akan menghasilkan kalimat
semau kita. Sebagai contoh kita ambil kalimat Orang itu membaca buku. Maka perangkat
kaidahnya adalah sebagai berikut.
K
FN + FV (kaidah 1)
FN + V + FN (kaidah 4)
N + Det + V + N (kaidah 2)
N + Det + membaca + N (kaidah 8)
N + itu + membaca + N (Kaidah 10)
Orang + itu + membaca + buku (kaidah 7)
Seperangkat aturan di atas berasal dari kalimat Orang itu membaca buku. Dalam pembahasan
itu sering ditemukan istilah string, yaitu deretan simbol dan terminal string, yaitu deretan
simbol terakhir yang tidak bisa diurai lebih jauh. Pada contoh tersebut terminal stringnya
adalah; Orang + itu + membaca + buku.
Kalimat Orang itu membaca buku apabila didiagramkan akan nampak seperti berikut ini.
K
FN FV
N Det. V N
Orang itu membaca buku
Salah satu ciri Tatabahasa Generatif Transformasi adalah adanya des-kripsi struktur untuk

setiap kalimat (struktur dalam), dan kaidah-kaidah transfor-masi yang mengubah struktur
dalam (deep structure) menjadi struktur permukaan (surface structure). Struktur dalam telah
memiliki semua unsur yang diperlukan untuk interpretasi semantik dan fonologis, maka
kalimat yang berbeda artinya, akan mempunyai struktur dalam yang berbeda pula. Perbedaan
arti ini biasanya tercermin dalam perbedaan morfem urutannya dan jumlahnya. Pentingnya
struk-tur dalam, jika kita menjumpai kalimat yang mempunyai jumlah morfem yang sa-ma,
bunyi dan urutan yang sama, tetapi mempunyai arti yang berbeda. Kalau kita mengandalkan
struktur permukaan saja, maka kita akan mengalami kesulitan me-nunjukkan perbedaan
struktur yang mengakibatkan perbedaan arti. dengan kata lain, kalimat yang berarti dua itu
sebenarnya berasal dari struktur dalam yang ber-beda.
Dalam tatabahasa transformasi versi 1957, terdapat dua macam transfor-masi, yaitu (1)
transformasi wajib (obligatory transformation), mengacu pada ciri-ciri sintaksis dalam
kalimat dan (2) transformasi pilihan (optional transfor-mation), mengacu pada transformasi
yang boleh dilakukan dan boleh juga tidak, seperti transformasi aktif menjadi aktif,
transformasi kalimat deklaratif menjadi negatif dan interogatif.
Transformasi pilihan tidak diperlukan untuk pembentukan kalimat, tetapi tergantung pada
pilihan si penutur. Transformasi ini terbagi dua, yaitu (1) singular transformation, yaitu
transformasi dari suatu rangkaian, seperti transformasi pasif, kalimat negatif dan interogatif
dan (2) generalized transformation, yaitu yang dipakai untuk mengubungkan rangkaianrangkaian yang mendasari dua atau lebih dari dua kalimat untuk membentuk kalimat
majemuk setara atau bertingkat.
Untuk memberikan gambaran tentang struktur dalam dan kaidah transfor-masi, perhatikan
kalimat berikut.
(7) Guru itu menyukai buku itu
Struktur dalam kalimat tersebut dapat digambarkan sebagai berikut
K
FN FV
N Det. V FN
Guru itu menyukai
N Det
Buku itu
(K=kalimat; FN=frasa nomina; FV=frasa verba; N=nomina; V=verba; Det.= determinan).
Penggambaran diagram di atas memberikan keterangan tentang fungsi kata yang terdapat
dalam kalimat tersebut dengan apa yang disebut dominasi. Dalam hal ini kita dapat
mengatakan pokok kalimat ialah FN yang langsung dido-minasi K dan objek FN yang
didominasi FV. Kaidah kalimat Guru itu menyukai buku itu ditulis dengan memakai kaidah
pemisah kembali, seperti:

K FN + FV
Kaidah ini dibaca tulis kalimat itu kembali sebagai frasa nomina dan frasa ver-ba yang
berarti kalimat tersebut terdiri dari frasa nomina dan frasa verba. Kita juga memerlukan
kaidah kalimat yang dapat diperluas sepanjang yang kita ingin-kan, seperti
(8) Orang itu tinggal di Malang dan tinggal di sana selama setahun dan
saya pergi ke Jakarta.
(9) Dia harus membayar utangnya atau dia msuk penjara.
Kalimat di atas dapat ditulis dengan kaidah:
dan
KK.n
atau
Kalimat yang lain yang juga dapat tidak terbatas panjangnya ialah kalimat yang mempunyai
kata yang.
(10) Ibu mencuci pakaian yang baru dibelinya
Kaidah kategori akan menghasilkan diagram pohon seperti berikut ini.
K1
FN FV
N V FN
Ibu N K2
mencuci
pakaian FN FV
N Asp. V FN
Ibu baru membeli N
Pakaian
Beradasarkan diagram pohon di atas, dihasilkan kaidah rekursif sebagai berikut.
(1) K FN + FV

(2) FV Asp. + V + (N)


(3) FV N + (V) + (Ket.)
Kaidah rekursif (1) diartikan sebagai: Ibu mencuci pakaian dan ibu baru membeli pakaian
yang dicucinya itu. Pengertian inilah yang terkandung dalam ka-limat (10). Barangkali arti
kalimat (10) sudah digambarkan dalam diagram pohon di atas, tetapi kesulitan kita adalah
bagaimana kita mengubahnya, sehingga dapat diucapkan seperti kalimat (10). Untuk maksud
inilah kita memerlukan transforma-si.
Kaidah transformasi yang lain dalam bahasa Indonesia adalah transfor-masi pasif atau
transformasi yang berupa kalimat pasif. Kalimat pasif adalah kali-mat transformasi atau
kalimat jadian dari kalimat aktif. Keduanya mempunyai struktur batin sebagai berikut.
(11) Ibu baru membeli pakaian.
K
FN FV
N Asp. FV
Ibu baru V FN
Membeli N
pakaian
Diagram transformasi di atas struktur pasifnya adalah sebagai berikut.
(12) Pakaian baru dibeli ibu
K
FN FV
N Asp. V FN
Pakaian baru dibeli N
Ibu
Kemudian kita memakai kaidah transformasi kedua yang berbunyi kalau terdapat dua
nomina yang sama di dalam struktur seperti terlihat pada diagram pohon kalimat (10), maka
nomina yang kedua harus diganti dengan yang, sehing-ga menghasilkan kalimat (13) berikut
ini.
(13) Ibu mencuci pakaian yang baru dibeli ibu.
Selanjutnya, kita masih memerlukan satu lagi kaidah transformasi yang mengubah ibu pada

K2 menjadi nya, karena ibu pada K2 sama dengan ibu yang langsung didominasi K1. Kita
sebut saja namanya kaidah pronominalisasi, se-hingga memperoleh kalimat (10). Struktur
seperti pada kalimat (10) disebut struk-tur dalam dan struktur yang diperoleh setelah
pemakaian kaidah transformasi yang terakhir disebut struktur permukaan.
Dalam kaidah tatabahasa transformasi, komponen sintaksis sebagaimana telah diuraikan di
atas merupakan komponen terpenting. Namun demikian masa-lah semantik dan fonologi
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kaidah tatabahasa generatif transformasi.
Bahkan pada pengembangan selanjutnya kaji-annya berkembang pada masalah fonologi
generatif, morfologi generatif, dan se-mantik generatif.
Komponen semantik memberikan interpretasi semantik pada deretan un-sur yang dihasilkan
oleh kaidah-kaidah kategori. Arti dari kalimat yang dihasilkan ditentukan komponen
semantik ini. Persoalan semantik merupakan persoalan yang rumit. Sedangkan komponen
fonologi memberikan interpretasi fonologis pada deretan unsur yang dihasilkan oleh kaidah
transformasi. Dengan mema-kai kaidah fonologi, suatu deretan unsur dapat diucapkan dan
penggambaran bu-nyi itu dila-kukan dengan menggunakan ciri-ciri pembeda. Kaidah
tatabahasa transformasi tersebut secara dapat digambarkan sebagai berikut.

Adalah tidak mungkin, untuk membicarakan transformasi secara mendetail di sini.


Berdasarkan uraian tentang struktur frasa, kaidah transformasi, struktur dalam dan struktur
permukaan dalam diagram sebagai berikut.

Komponen
Sintaksis

Struktur struktur
Dalam permukaan

Interpretasi Semantik Interpretasi Fonetik


Diagram di atas dapat dibaca sebagai berikut: sintaksis merupakan kompo-nen terpenting
dalam tatabahasa generatif transformasi. Sintaksis membawahi dua komponen lainnya yaitu
semantik dan fonologi. Antara sintaksis dan semantik ter-dapat struktur batin dan antara
sintaksis dan fonologi terdapat struktur permukaan. Kemudian dari komponen semantik
timbul interpretasi semantik dan dari kompo-nen fonologi timbul interpretasi fonetik
(pelambangan fonetik) (Alwasilah, 1992).
9. TATABAHASA RELASIONAL
Tatabahasa Relasional (relational grammar) merupakan pecahan dari Tatabahasa
Transformasional (Transformational Grammar). Kedua aliran ini se-banarnya mengupayakan
menggali kaidah yang dapat dipakai pada semua bahasa di dunia, yang disebut kaidah
universal language atau kaidah bahasa semesta. Ta-tabahasa transformasional menjadikan
bahasa Inggris sebagai bahasa garapannya, tetapi setelah dicoba oleh kelompok Aliran
Tatabahasa Relasional terhadap baha-sa-bahasa selain bahasa Inggris, kaidah-kaidah tersebut
tidak dapat diterima seba-gai semesta bahasa.
Tatabahasa Relasional dikembangkan oleh David M. Perlmulter dan Paul M. Postal pada
tahun tujuh puluhan. Tatabahasa Relasional lahir sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap
Tatabahasa Transformasional (Transformational Grammar) mengenai struktur klausa yang
dijabarkan melalui urutan linear (linear order) dan relasi dominansi (dominance relation) di
antara unsur-unsur suatu klausa. Hal ini akan menghalangi Tatabahasa Transformasi menjadi
teori sejagat (semesta bahasa). Menurut Tatabahasa Relasional, teori sintaksis semesta harus
dianalisis berdasarkan relasi-relasi gramatikal.
Masalah Subjek dan Objek langsung berdasarkan relasi dominasi, Tataba-hasa
Transformasional menjelaskan sebagai berikut: subjek adalah FN (Frasa Nomina) yang
secara langsung didominasi oleh K (Kalimat), dan objek langsung adalah FN yang secara
langsung didominasi oleh FV (Frasa Verba). Hal ini dapat digambarkan dalam diagram pohon
sebagai berikut.
K
FN FV
V FN
Subjek objek (langsung)
Menurut Aliran Tatabahasa Relasional, Tatabahasa Transformasi dengan struktur klausa yang
dijabarkan dengan urutan linear dan relasi dominasi, telah mengalami kegagalan dalam
penerapannya terhadap bahasa-bahasa tertentu, mi-salnya bahasa Indonesia, bahasa Turki,
bahasa Nitinah, dan sebagainya (Samsuri, 1988:111). Oleh karena bahasa yang berbeda-beda,
pastilah menggunakan ciri susunan kata (different characteristics word orders) yang berbeda
pula.
Prinsip dasar Tatabahasa Relasional adalah bahwa relasi-relasi gramatikal, seperti subjek

dari dan objek dari memegang peranan penting dalam sintaksis bahasa alami. Relasi-relasi
gramatikal diperlukan untuk mencapai tiga sasaran teori bahasa, yaitu (1) merumuskan
kesejagatan bahasa (kesemestaan bahasa), (2) menetapkan karakteristik setiap konstruksi
gramatikal yang ada pada bahasa-bahasa alami, dan (3) membangun suatu tatabahasa yang
memadai untuk setiap bahasa.
Ketiga sasaran teori bahasa tersebut, dicapai oleh Tatabahasa Relasional melalui tiga unsur
linguistik, (1) seperangkat simpai (nodes) yang menggambar-kan semua unsur linguistik
(klausa, frasa, kata, dan morfem), (2) seperangkat tan-da relasi (relational signs), yang
menggambarkan relasi-relasi gramatikal, (seperti subjek, predikat, objek) di antara unsurunsur, dan (3) seperangkat koordinat (coordinates) (K1, K2, K3, dst) yang menggambarkan
tataran-tataran yang berbe-da dari relasi-relasi yang dihasilkan (Samsuri, 1988:12; Djunaidi
dalam Purwo,2000:458).
Daftar Rujukan
Alwasilah, A. Chaedar. 1992. Beberapa Madhab dan Dikotomi Teori Linguistik.
Bandung: Angkasa.
Bloofield, Leonard. 1980. Language. New York: Harcourt Brace Javanovich, Inc.
Busri, Hasan. 2007. Kajian Linguistik: Pengantar Memahami Hakikat Bahasa. Malang:
Universitas Islam Malang.
Comsky, Noam. 1965. Aspets of the Theory of Syntax. Cambridge: Marsachusetts M.I.T
Press.
Comsky, Noam. 1965. Language and Mind. New York: Harcourt Brace Javanovich.
Lyons, John. 1982. Language and Linguistics. Cambridge: Cambridge University
Press.
Purwo, Bambang Kaswanti (Ed.). 2000. Kajian Serba Linguistik untuk Anton
Moliono Pereksa Bahasa. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia
Atmajaya.
Rusyana, Yus dan Samsuri (eds.). 1983. Pedoman Penulisan Tatabahasa
Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sampson, Geoffrey. 1980. Schools of Linguistics Competition and Evaluation.
London: Hutchinson.

Samsuri. 1988. Berbagai Aliran Linguistik Abad XX. Jakarta: Departemen


Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
P2LPTK.
Samsuri. 1987. Analisis Bahasa: Memahami Bahasa Secara Ilmiah. Jakarta:
Erlangga.
Sapir, Edward. 1975. Language. New York: Harcourt Brace Javanovich
Wahab, Abdul. 1990. Butir-butir Linguistik. Surabaya: Airlangga University
Press.
Wahab, Abdul. 1991. Isu Linguistik Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya:
Airlangga University Press.
Diposkan oleh Jangan terlalu dipikir! di 00.37