Anda di halaman 1dari 20

LINGUISTIK FUNGSIONAL

1.
Hakikat Linguistik
Menurut Harimurti Kridalaksana, linguistik adalah ilmu tentang tata bahasa, penyelidikan
bahasa secara ilmiah. Lebih jauh lagi, linguistik adalah ilmu yang khusus mempelajari
bahasa. Maksudnya, sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para
anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan
mengidentifikasi (2005: 3).
Kata linguistik berasal dari kata latin
lingua
yang berarti bahasa. Dalam bahasa- bahasa Roman berarti bahasa-bahasa yang berasal dari
bahasa latin. Dalam bahasa latin
langue
dan
langange
dalam bahasa Perancis, dan
lingua
dalam bahasa Itali, Verhaar (2004: 3)
Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa lingustik adalah ilmu yang khusus
mempelajari bahasa, tata bahasa, dan penyelidikan bahasa secara ilmiah. Sehingga dapat
dipergunakan dalam hal bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi.
2.
Latar Belakang Linguistik Fungsional
Linguistik fungsional dipelopori oleh Roman Jakobson dan Andre Martinet, kehadirannya
sangat berarti dalam upaya menjembatani kesenjangan (gap) antara linguistik struktural
Amerika dan Eropa. Linguistik struktural (Eropa) banyak dipengaruhi oleh gagasan fungsifungsi linguistik yang menjadi ciri khas aliran Praha. Trubeckoj terkenal mengembangkan
metode-metode deskripsi fonologi, maka R. Jakobson terkenal karena telah menyatakan
dengan pasti pentingnya fonologi diakronis yang mengkaji kembali dikotomi-dikotomi F. De
Saussure antara lain dikotomi yang memisahkan dengan tegas sinkronis dan diakronis.
Andre Martinet banyak mengembangkan teori-teori aliran Praha. Dengan tulisannya tentang
netralisasi dan segmentasi. Pikiran-pikirannya telah memperkaya dan mengembangkan studi
linguistik, terutama fonologi deskriptif, fonologi diakronis, sintaksis, dan linguistik umum,
disamping ia menerapkan metode dan linguistik modern dengan menaruh perhatian yang luar
biasa pada kenyataan bahasa aktual.

Selain Andre Martin, dalam aliran Praha juga terdapat tokoh lain sebagai pemrakarsa
berdirinya linguistik fungsional, Vilem Mathesius. Yang mengemukakan bahwa telaah
bahasa dilakukan secara sinkronis dan diakronis. Selain itu juga dikemukakan fungsi utama
bahasa dan fungsi khusus. Selain itu, aliran ini membedakan fonetik dan fonologi, morfologi,
dan sintaksis, (Kushartanti,dkk, 2005: 204-205).
Gagasan Jakobson merupakan pengembangan dari pemikiran-pemikiran aliran Praha. Selain
fungsi linguistik sebagai ciri khas sekolah Praha, ia juga menyoroti fungsi-fungsi unsur
tertentu dan fungsi-fungsi aktivitas linguistik itu sendiri. Jakobson memandang suatu tindak
linguistik dari enam sudut, yaitu (1) dalam hubungan dengan pembicara, (2) pendengar, (3)
konteks, (4) kontak, (5) kode, dan (6) pesan. Sehingga ia menemukan enam fungsi, yaitu:
1.
Ekspresif, berpusat pada pembicara, yang ditujukan oleh interjeksi-interjeksi;
2.
Konatif, berpusat pada pendengar, yang ditujukan oleh vokatif dan imperative;
3.
Denotative, berpusat pada konteks, yang ditujukan oleh pernyataan-pernyataan
faktual, dalam pelaku ketiga, dan dalam suasana hati indikatif;
4.
Phatic, berpusat pada kontak, yang ditujukan oleh adanya jalur yang tidak
terputus antara pembicara dan pendengar. Misalnya, dalam pembicaraan melalui
telefon, katakata hello, ya..ya, heeh yang dipergunakan untuk membuat
jelas bahwa seseorang masih mendengarkan dan menunjukan jalur percakapan tidak
terputus;
5.
Metalinguistik, berpusat pada kode; yang berupa bahasa pengantar ilmu pengetahuan,
biasanya berisi rumus-rumus atau lambang-lambang tertentu;
6.
Puitis, berpusat pada pesan.
Selanjutnya gagasan dan pandangan Jakobson lain adalah telaah tentang
aphasia
dan bahasa kanak-kanak.

Aphasia
yang dimaksud adalah gejala kehilangan kemampuan menggunakan bahasa lisan baik
sebagian maupun seluruhnya, sebagai akibat perkembangan yang salah. Gangguan afasik
dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni:
1.
Similarity disorders
, yang mempengaruhi seleksi dan subtitusi item, dengan
stabilitas kombinasi dan konstektur yang bersifat relative.
2.
Contiguity disorders
, yang seleksi dan subtitusinya secara relative normal

sedangkan kombinasi rusak dan tidak gramatikal, urutan kata kacau, hilangnya infleksi dan
preposisi, konjungsi, dan sebagainya
Jakobson juga menekankan pentingnya korelasi-korelasi fonologis sebagai seuntai
perbedaan-perbedaan arti yang terpisah. Menurut buku Jakobson dan Halle
Fundamentals of Language,
1956, menyatakan ciri-ciri
expressive, configurative
, dan
distinctive:
1.
Expressive
, meletakan tekanan pada bagian ujaran yang berbeda atau pada
ujaran yang berbeda; menyarankan sikap emosi pembicara;
2.
Configurative
, menandai bagian ujaran ke dalam satuan-satuan gramatikal,
dengan memisahkan ciri kulminatif satu persatu, atau dengan memisahkan membatasinya
(ciri-ciri demarkatif);
3.
Distinctive
, bertindak untuk memperinci satuan-satuan linguistik, dimana ciriciri itu terjadi secara serempak dalam untaian, yang berujud fonem. Fonem-fonem
dirangkaikan ke dalam urutan; pola dasar urutan serupa itu berujud suku kata. Dalam setiap
suku kata terdapat bagian yang lebih nyaring yang berupa puncak. Bila puncak itu berisi dua
fonem atau lebih, maka salah satu daripadanya adalah puncak fonem atau puncak suku kata.
Tokoh lain dalam linguistik fungsional adalah Andre Maertinet, ia juga mengembangkan
teori-teori Sekolah Praha. Pikiran-pikiran Martinet mengenai fonologi deskriptif, fonologi
diakronis, sintaksis, dan linguistik umum merupakan sumbangan pemikiran bagi linguistik
modern. Fonologi sebagai fonetik fungsional harus berdasarkan fakta-fakta dasar atau
mengetahui fungsi-fungsi perbedaan bunyi bahasa sebagaimana mestinya.
Martinet mencurahkan perhatian pada fonologi diakronis, dengan mencoba membuat
deskripsi murni, dimana fonologisasi dan defonologisasi direkam, disertai keterangan tentang
perubahan-perubahan menurut prinsip-prinsip umum. Kriterium interpretasi dasar diberikan
oleh dua unsur yang berlawanan: (1) efisiensi dalam komunikasi, dan (2) tendensi pada upaya
yang minimum. Ia juga menyatakan analisis fonem ke dalam ciri-ciri distingtif
mengungkapkan adanya korelasi-korelasi, dimana sebuah fonem yang terintegrasi dalam

untaian korelatif akan menjadi stabil. Ia telah mengembangkan gagasan artikulasi rangkap
yang menarik. Ucapan bahasa pertama-tama melalui suatu artikulasi dalam
monem-monem
yang berupa unit-unit dasar gramatis yang oleh para linguis Amerika

RENGKI AFRIA
Kamis, 26 Desember 2013
HALLIDAY: ESSAY

RENGKI AFRIA
1220713009

Aliran-aliran yang berkembang pada ranah linguistik sangatlah dipengaruhi oleh bidang ilmu
lain dan paham-paham yang ada disekitarnya, terutama yang serumpun dalam ilmu-ilmu sosial dan
humaniora. Fungsionalisme dalam kajian linguistik merupakan pengaruh dari beberapa paham dalam
ilmu seperti antropologi, sosiologi dan psikologi. Paham yang ada disekitar kemunculan fungsionalisme
sebagai akarnya adalah strukturalis meskipun ada yang berpendapat berbeda tentang hal ini.
Dalam ilmu antropologi, fase perkembangannya lebih dahulu kemunculan fungsionalisme dari
pada strukturalisme itu sendiri. Akan tetapi untuk bidang linguistik, strukturalisme merupakan akar dari
kemunculan fungsionalisme atau struktural fungsional, yang kemudian Halliday menyebutnya dengan
Linguistik Struktural Fungsional (SFL) atau Linguistik Fungsional Sistemik. Makalah ini akan
menjelaskan tentang kemunculan fungsionalisme dalam kajian linguistik dan pemikiran Halliday
tentang Linguistik Struktural Fungsional tersebut.

Aliran Fungsionalisme
Studi
bahasa

secara

umum

('Bahasa')

dibagi

menjadi

orang-orang dari bahasa ('Langues') dan berbicara ('parole '). Yang pertama adalah' Linguistik dalam
arti sempit'. Kedua, linguistik 'bahasa' adalah pada gilirannya dibagi menjadi linguistik diakronis dan
sinkronis linguistik. Ini sama-sama sah, tetapi menyimpang 'benar-benar'. Poin ketiga kami kemudian
berhubungan dengan gagasan tentang bahasa sebagai sistem 'nilai'. Dalam ilmu ekonomi, untuk
Misalnya, ada sistem nilai-nilai yang berhubungan kerja dengan upah yang dibayar untuk
melakukannya. Demikian juga (untuk Saussure) nilai-nilai kata-kata mereka-makna. Dalam setiap
kasus kita prihatin dengan' sistem ekuivalensi antara hal-hal yang berbeda dari perintah. Dalam satu itu
antara kerja dan upah. Di lain itu adalah antara 'signifiant', atau sesuatu yang 'berarti', dan 'signifie',
atau sesuatu yang 'dimaksudkan'.1[1]
Pada akhir abad kesembilan

belas

untuk

alasan

yang

semuanya

tampak baik pada waktu itu, dan beberapa di antaranya tetap meyakinkan hari ini - persamaan bahasa
dengan spscies biologis memiliki sebagian besar telah ditinggalkan. Hal ini menciptakan kesulitan bagi
gagasan linguistik sebagai disiplin akademis: jika bahasa tidak spesies hidup, dalam arti apa yang
mereka 'hal-hal' yang dapat dipelajari.2[2]
Fungsionalisme adalah gerakan dalam linguistik yang berusaha menjelaskan fenomena
bahasa dengan segala manifestasinya dan beranggapan bahwa mekanisme bahasa dijelaskan dengan
konseuensi-konsekuensi yang ada kemudian dari mekanisme itu sendiri. Wujud bahasa sebagai sistem
komunikasi manusia tidak dapat dipisahkan dari tujuan berbahasa, sadar atau tidak sadar.
Konsep utama dalam fungsionalisme ialah fungsi bahasa dan fungsi dalam bahasa.
1.
2.
3.
4.
5.

Menyangkut yang pertama sikap fungsionalistis sebagai berikut.


Analisis bahasa mulai dari fungsi ke bentuk.
Sudut pandang pembicara menjadi perspektif analisis.
Deskripsi yang sistematis dan menyeluruh tentang hubungan antara fungsi dan bentuk.
Pemahaman atas kemampuan komunikatif sebagai tujuan analisis bahasa.
Perhatian yang cukup pada bidang interdisipliner, misalnya sosiolinguistik dan penerapan linguistik
pada masalah praktis, misalnya pembinaan bahasa.
Berikut ini akan dijelaskan tentang kemunculan fungsionalisme dalam bidang ilmu sosial yang
mana mempengaruhi kemunculan fungsionalisme atau struktural fungsional dalam ranah ilmu

1[1] Peter Matthews, 2003. A Short History of Structural Linguistics.


Australia: Cambridge University Press. P. 16
2[2] Geoffrey Sampson, 1980, Schools of Linguistics : Hutchinson London
Melbourne Sydney Auckland Johannesburg. P. 103

linguistik. Berbicara tentang faham dan pemikiran tentunya tidak bisa dilepaskan dari tokoh dan
fenomena yang ada disekitarnya.
Acuan dalam menjelaskan kemunculan fungsionalisme itu akan dimulai dari Saussure sebagai
pelopor Linguistik moderen disamping klaim bahwa fungsionalisme ini berakar dari struktruralisme.
Saussure lahir pada tahun 1857, merupakan anak dari seorang naturalis yang dilingkupi oleh keluarga
yang kuat dalam bidang ilmu alam. Ia mengenal linguistik dari seorang filolog yang bernama Adolf
Pictet. Pemikir yang kuat pada zamannya antara lain adalah Sigmund Freud (bidang psikologi) dan
Durkheim (bidang fisika sosial). Penjelasan-penjelasan Saussure tentang strukturalism kemudian
diadopsi oleh bidang lain seperti antropologi dan semiotik.
Strukturalisme dalam bidang antropologi banyak dipengaruhi oleh pemikiran Brownislaw
Kasper Malinowski (1884-1942). Prinsip-prinsip yang dikembangkan olehnya juga merupakan
pengaruh dari ilmu linguistik modern de Saussure. Malinowski ini merupakan pelopor ethnografi dan
pelopor kemunculan struktural fungsional dan kemudian juga mempengaruhi ahli-ahli sosiologi dan
linguistik. J.R. Firth seorang ahli linguistik Inggris juga mendapat pengaruh besar dari Malinowski.
Strukturalisme dalam bidang antropologi semakin mencuat berkat pengaruh Claude-Levistrauss,
bahkan memberi pengaruh besar terhadap sosiologi, sastra dan bahasa serta filsafat.
Pengaruh strukturalis dalam bidang Sosiologi dilakukan oleh Emile Durkheim (1858-1917).
Terma yang terkenal dari Durkheim ini adalah kesadaran kolektif. Pemikiran-pemikirannya tenta ng
strata sosial dan institusi sosial juga sebagai pemicu lahirnya fungsionalisme dalam ilmu sosiologi.
Teori itu kemudian dikemukakan oleh Kingsley dan Wilbert Moore pada tahun 1945. Talcott Parsons
juga merupakan seorang ahli sosiologi yang juga mengembangkan teori fungsional struktural
(Adaptation, Goal attainment, Integration, Latency). Roland Barthes juga memberi pengaruh struktural
kuat terhadap sosiologi terutama tentang teori-teori sosial dan marxisme.
Ada beberapa penganut struktural yang berasal dari Amerika seperti Fanz Boas (1858-1942),
Edward Sapir (1884-1939), Benjamin Lee Whorf (1897-1941) dan Leonard Bloomfield. Kontribusi Boas
adalah pada pengumpulan informasi tentang bahasa-bahasa dan budaya orang asli Amerika. Metodemetode inilah yang kemudian menjadi basis strukturalisme di Amerika. Sapir merupakan murid dari
Boas. Mereka mencoba menggabungkan psikologi dan antropologi dalam melihat bahasa yang mana
sangat berhubungan dengan cara hidup dan pemikiran dari penutur. Pemikiran inilah yang kemudian
dikembangkan oleh Whorf sehingga melahirkan Hipotesis Sapir-Whorf yang mana mengatakan bahwa
struktur bahasa seseorang ketika berbicara menentukan atau menjelaskan bagaimana dia melihat dan
mempersepsikan dunia. Sementara itu kontribusi Bloomfield adalah mengokohkan berdirinya linguistik

sebagai sains. Dia juga menolak kesimpulan yang bersifat mentalistik dari Boas dan Sapir yang banyak
dipengaruhi oleh psikologi behavioris. Namun pada akhirnya Bloomfield juga mendapat tantangan dari
Noam Chomsky terutama dalam kajian Sintaksis dengan karyanya yang berjudul Struktur Sintaksis
(formalis). Pendekatan mentalistik yang diapliksikan Chomsky dan Chomskian melahirkan teori
generatif semantik, gramar leksikal fungsional, dll.
Kemunculan aliran fungsionalisme dalam bidang linguistik merupakan kontribusi dari berbagai
bidang ilmu diantranya adalah antropologi, sosiologi, dan psikologi yang menganut strukturalisme. Hal
ini dapat dilihat dari pengaruh besar Saussure hingga Chomskian. Fungsionalisme dalam kajian ini
kemudian lebih dikenal dengan sebutan Struktural Fungsional. Hal yang menonjol dalam kemunculan
struktural fungsional dalam ranah linguistik yang dikembangkan oleh Halliday diasumsikan sebagai
pengaruh dari tiga bidang ilmu yaitu antropologi, sosiologi dan psikologi. Dalam bidang antropologi
yang menonjol adalah tentang sistem tanda (semiotik). Untuk bidak sosiologi adalah pengaruh Barthes
tentang peran dan status sosial. Dan selanjutnya dalam bidang psikologi adalah pengaruh behaviorist
dan teori kesadaran.
BIBLIOGRAFI HALLIDAY
Halliday lahir dan dibesarkan di Inggris . Ketertarikannya untuk bahasa dipelihara oleh orang
tuanya: ibunya , Winifred , telah mempelajari Prancis, dan ayahnya , Wilfred , adalah dialectologist ,
seorang penyair dialek , dan guru bahasa Inggris dengan cinta untuk tata bahasa dan drama
Elizabethan. Tahun 1942, Halliday sukarela untuk kursus pelatihan bahasa asing layanan nasional . Dia
terpilih untuk belajar Cina pada kekuatan keberhasilannya untuk dapat membedakan nada . Setelah
pelatihan 18 bulan , ia menghabiskan satu tahun di India bekerja sama dengan Unit Intelijen Cina
melakukan pekerjaan kontra-intelijen . Pada tahun 1945 ia dibawa kembali ke London untuk mengajar
Cina. Dia mengambil gelar BA Honours dalam Bahasa Cina modern dan Sastra ( Mandarin ) melalui
University of London. Ini adalah gelar eksternal , dengan studi yang dilakukan di Cina. Dia kemudian
tinggal selama tiga tahun di Cina , di mana ia belajar di bawah Luo Changpei di Peking University dan
di bawah Wang Li di Lingnan University, sebelum kembali untuk mengambil gelar PhD dalam Linguistik
China di Cambridge di bawah pengawasan Gustav Hallam dan kemudian JR Firth. Setelah bahasa
selama 13 tahun mengajar , ia mengubah bidang spesialisasinya untuk linguistik , dan dikembangkan
linguistik fungsional sistemik , termasuk tata bahasa fungsional sistemik , menguraikan di atas fondasi
yang diletakkan oleh guru Inggris-nya JR Firth dan sekelompok Eropa ahli bahasa dari abad ke-20
awal , sekolah Praha . Kertas mani pada model ini diterbitkan pada tahun 1961 .

Posisi pertama akademik Halliday adalah Asisten Dosen di Cina, di Cambridge University,
1954-1958 . Pada tahun 1958 ia pindah ke Edinburgh , di mana ia Dosen in General Linguistics sampai
tahun 1960 , dan kemudian Pembaca 1960-1963 . Dari tahun 1963 sampai 1965, ia adalah direktur
Pusat Penelitian Komunikasi di College University, London. Selama tahun 1964, ia juga Masyarakat
Linguistik Amerika Profesor, di Indiana University. Dari tahun 1965 sampai 1971, ia adalah Profesor
Linguistik di UCL . Pada 1972-73 ia Fellow , Center for Advanced Studi di Ilmu Perilaku, di Stanford ,
dan pada 1973-74 Profesor Linguistik di University of Illinois . Pada tahun 1974 ia sempat pindah
kembali ke Inggris sebagai Guru Besar Bahasa dan Linguistik di Universitas Essex. Pada tahun 1976 ia
pindah ke Australia sebagai Yayasan Profesor Linguistik di University of Sydney, di mana ia tetap
sampai ia pensiun pada tahun 1987.
Halliday telah bekerja di berbagai daerah studi bahasa , baik teori maupun terapan , dan telah
sangat prihatin dengan menerapkan pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar bahasa teori dan praktik
pendidikan. Ia menerima status Profesor Emeritus dari university of Sydney dan Macquarie university,
Sydney, pada tahun 1987. Dia memiliki gelar doktor kehormatan dari University of Birmingham ( 1987),
York University ( 1988) , Universitas Athena ( 1995), Macquarie University ( 1996), dan Lingnan
University ( 1999).3[3]
Linguistik Fungsional Struktural Haliday
Linguistik fungsional sistemik ( SFL ) adalah sebuah pendekatan untuk linguistik yang
menganggap bahasa sebagai sistem semiotik sosial. Ini dikembangkan oleh Michael Halliday , yang
mengambil gagasan dari sistem dari gurunya , JR Firth . Sedangkan Firth dianggap sistem untuk
merujuk pada kemungkinan subordinasi struktur , Halliday dalam arti tertentu " dibebaskan " dimensi
pilihan dari struktur dan membuat dimensi pengorganisasian sentral dari teori ini . Dengan kata lain,
sedangkan banyak pendekatan untuk linguistik struktur deskripsi tempat dan sumbu sintagmatik di latar
depan , Hallidean teori fungsional sistemik mengadopsi sumbu paradigmatis sebagai titik tolak . Istilah
sistemik sesuai foregrounds Saussure " poros paradigmatik " dalam memahami cara kerja bahasa.
Untuk Halliday , prinsip teoritis sentral kemudian bahwa setiap tindakan komunikasi melibatkan pilihan .
Bahasa adalah suatu sistem , dan pilihan yang tersedia dalam berbagai bahasa dipetakan
menggunakan alat representasi dari " sistem jaringan " .Michael Halliday , yang mendirikan linguistik
fungsional sistemik.
Linguistik fungsional sistemik juga " fungsional " karena menganggap bahasa telah berevolusi
di bawah tekanan dari fungsi tertentu yang sistem bahasa harus melayani . Oleh karena itu, fungsi
3[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Halliday, diunggah pada tanggal
25 Desember 2013, 10:40

yang diambil telah meninggalkan jejak mereka pada struktur dan organisasi bahasa di semua tingkatan
, yang dikatakan dicapai melalui metafunctions . The metafunction istilah khusus untuk linguistik
fungsional sistemik . Organisasi kerangka fungsional di sekitar sistem , yaitu , pilihan , perbedaan yang
signifikan dari yang lain pendekatan " fungsional " , seperti , misalnya , tata bahasa fungsional Dik itu
(FG , atau sekarang sering disebut , wacana tata bahasa fungsional) dan tata bahasa fungsional
leksikal . Dengan demikian , penting untuk menggunakan sebutan - sistemik penuh fungsional linguistik
- bukan hanya tata bahasa fungsional atau linguistik fungsional .
Bagi Halliday, semua bahasa melibatkan tiga fungsi umum , atau metafunctions : satu
construes pengalaman (makna tentang dunia luar dan dalam), salah mengesahkan hubungan sosial
(makna berkaitan dengan hubungan interpersonal), dan salah satu merajut bersama dari kedua fungsi
untuk membuat teks (kata-kata) . . Karena fungsi-fungsi ini dianggap terwujud secara bersamaan yaitu, seseorang tidak dapat berarti tentang dunia tanpa harus baik penonton - bahasa nyata atau
virtual juga harus mampu membawa makna ini bersama-sama : ini adalah peran dari organisasi
struktural, bahwa gramatikal, semantik atau kontekstual . Ketiga fungsi umum yang disebut "
metafunctions (makna ganda) ".4[4]
Pengaruh terbesar dari Struktural Fungsional Halliday berasal dari pemikiran J.R. Firth dan
pengaruh mazhab Prague. Firth sendiri mendapatkan pengaruh besar dari Malinowski. Penekanan
teori Halliday ini ada pada sisi makna simbol dalam konsep Saussure dan konsep ide yang
menyatakan bahwa bahasa itu terbentuk dari bagaimana bahasa itu digunakan. Hal lain yang bisa
dilihat bahwa Halliday menganggap bahasa sebagai fondasi bagi pengalaman manusia. Makna
menjadi tekanan pada prinsip ini selain dari fungsi atau dapat dikatakan bahwa fungsi dan makna
sebagai basis bahasa manusia dan aktifitas komunikasi.
Dengan basis struktural yang bertumpu kepada sintaksis, maka pengertian bahasa selajutnya
adalah sebagai sebuah rangkaian konstruksi yang terdiri dari morfem hingga struktur wacana.
Pendapat lain juga mengatakan bahwa teori ini melihat bahasa sebagai sebuah bentuk semiotik sosial
dimana seseorang menggunakan bahasa untuk mencapai tujuan dengan mengekspresikan makna
sesuai konteks.
Pendekatan yang dipakai oleh Halliday adalah konsep konteks situasi yang tercipta dari
hubungan sistematis antara lingkungan sosial dan fungsi organisasional bahasa.
Setiap ujaran berarti sebuah tindakan (speech act), tindakan tersebut terjadi sebagai sebuah
bentuk interaksi dalam sebuah kontek social. Kontek social ini dapat berupa struktur struktur lain
4[4] http://en.wikipedia.org/wiki/Systemic_functional_linguistics. diunggah
pada tanggal 25 desember 2013, 10:50.

berupa realitas dan fakta social. Jika kita hubungkan dengan pendapat Barthes tentang institusi social,
peran dan status social, maka setiap ujaran tersebut akan diucapkan oleh seseorang yang memiliki
status social dan melakukan sebuah peran dalam perwujudan sistem ide. Siapa yang bicara, dimana,
untuk keperluan apa, dalam konteks situasi disebut sebagai register. Sementara makna tuturan juga
ada dalam lingkup konteks budaya dan hal yang begitu disebut dengan genre.
Bahasa sebagai unsur kebudayaan membentuk sebuah sistem dalam kajian antropologi.
Sementara fungsional menurut pandangan antropologi adalah: sebuah kebudayaan akan tetap ada
dan dipakai (fungsional) apabila kebudayaan tersebut memenuhi kebutuhan individu atau kolektif.
Contohnya, budaya gotong royong masih dipertahankan apabila mampu memenuhi kebutuhan individu
dan kolektif, tapi apabila tidak maka bentuk gotong royong akan hilang. Kelemahannya dalam kajian
antropologi adalah perubuhan kebudayaan itu sendiri bukanlah menjadi persoalan, atau hal yang bias
dijelaskan.
Hal lain yang bias kita lihat adalah adanya sistem yang membuatnya fungsional. Istilah sistem
dalam Linguistik Fungsional Sistemik ini dapat diacukan dari pendekatan antropologi ini, dan juga
dalam pendekata sosiologi. Sebuah institusi sosial seperti kampus, akan ada pembagian peran yang
melekat dengan status secara structural mulai dari rector sampai kepada staf. Apabila satu sub sistem
tidak berfungsi dengan baik, maka akan mengganggu kerja sistem yang lain. Penekanan yang diadopsi
oleh Halliday tentang sistem dalam Linguistik Fungsional merupakan gabungan antara Sistem symbol
dan sistem sosiologi (kontek situasi).
Kelahiran SFL ini merupakan proses dari perkembangan faham struktural Ferdinand de
Saussure yang basisnya merupakan linguistik mikro dan kemudian merambah kepada bidang ilmu
antropologi, sosiologi, psikologi dan lain-lain. Walau terjadi pertentangan dan perbedaan beberapa
orang pemikir, akan tetapi SFL mencoba menggabungkan semuanya dalam kerangka strukturalis.
Konsep konsep yang berusaha disatukan Halliday dalam SFL adalah kesadaran sosial, semiotik,
morfosintaksis, sistem sosial, register dan konteks budaya.
Hal ini tentunya juga terlihat dari apa yang digiati oleh Halliday sendiri, yang fokus pada
perkembangan dan pemilikan bahasa. Teori dan pendekatan Halliday ini sangat berpengaruh saat ini
dalam kajian Applied linguistik terutama pengajaran bahasa. Hal inilah sebenarnya yang mendasari
Communicative Language Teaching sebagai metode dan beserta teknik-teknik yang dapat
dikembangkan dari pendekatan Linguistik Fungsional Sistemik.
Halliday adalah berperan penting dalam teorinya tata bahasa dan deskripsi, dijelaskan dalam
bukunya An Introduction to Fungsional Grammar , pertama kali diterbitkan pada tahun 1985 . Sebuah

edisi revisi diterbitkan pada tahun 1994 , dan kemudian yang ketiga, di mana ia bekerja sama dengan
Christian Matthiessen , pada tahun 2004 . Tapi konsepsi Halliday tata bahasa - atau ' lexicogrammar '
( istilah yang dia diciptakan untuk menyatakan bahwa lexis dan tata bahasa merupakan bagian dari
fenomena yang sama) - didasarkan pada teori yang lebih umum bahasa sebagai sumber semiotik
sosial , atau 'yang berarti potensi 'Halliday berikut Hjelmslev dan Firth dalam membedakan teori dari
kategori deskriptif dalam linguistik. Dia berpendapat bahwa ' kategori teoritis , dan antar hubungan
mereka , menafsirkan model abstrak dari bahasa ... mereka saling mengerti dan menentukan .
arsitektur teoritis berasal dari bekerja pada wacana deskripsi alam , dan dengan demikian ' tidak ada
garis yang sangat jelas ditarik antara ' ( teoritis ) linguistik ' dan ' linguistik terapan ' dengan demikian ,
teori ' terus berkembang seperti yang dibawa untuk menanggung pada pemecahan masalah dari
penelitian atau bersifat praktis '. Halliday kontras kategori teoritis dengan kategori deskriptif , yang
didefinisikan sebagai ' kategori diatur dalam deskripsi bahasa tertentu '. Pekerjaan deskriptif -Nya telah
difokuskan pada bahasa Inggris dan Cina.
Halliday menolak tegas klaim tentang bahasa yang terkait dengan tradisi generatif . Bahasa ,
menurutnya, " tidak bisa disamakan dengan ' himpunan semua kalimat gramatikal ' , apakah set yang
dipahami sebagai terbatas atau tak terbatas ". Ia menolak penggunaan logika formal dalam teori
linguistik sebagai " tidak relevan dengan pemahaman bahasa " dan penggunaan pendekatan seperti "
bencana bagi linguistik " .pada Chomsky khusus , ia menulis bahwa " masalah imajiner diciptakan oleh
seluruh rangkaian dikotomi yang diperkenalkan Chomsky , atau mengambil alih: tidak hanya sintaks/
semantik tetapi juga tata bahasa / lexis , bahasa / pikiran , kompetensi / kinerja . Begitu dikotomi ini
telah dibentuk , masalah muncul menemukan dan mempertahankan batas-batas di antara mereka. 5[5]
Setiap kajian bahasa berdasarkan pada suatu pendekatan, tidak ada kajian bahasa yang beba
terhadap anggapan dasar. Pada konsep LFS dikemukakan bahwa bahasa merupakan sistem arti dan
sistem bentuk dan ekspresi untuk merealisasikan arti tersebut. Berdasarkan persfektif LF S, bahasa
berfungsi untuk membuat makna atau arti dan bahasa mempunyai tiga fungsi yaitu:
1.
2.
3.

Fungsi memaparkan pengalaman (fungsi Ideasonal)


Fungsi mempertukar pengalaman (fungsi antar persona)
Fungsi merangkai pengalaman (fungsi tekstual).
Aliran Fungsional sistemik ini sangat bagus untuk digunakan sebagai landasan dalam
menanalisis bahasa berdasarkan konteknya, baik dari segi gramatikal, clausa, fonologi serta ilmu
linguistic lainnya.
5[5] http://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Halliday, diunggah pada tanggal
25 Desember 2013, 10:40

DAFTAR KEPUSTAKAAN DAN SUMBER BACAAN


Abdul Chaer, 2007. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta
Geoffrey Sampson, 1980, Schools of Linguistics : Hutchinson London Melbourne Sydney Auckland
Johannesburg. P. 103
Halliday, M.A. K. Hasan R. 1985. Language Context, and text:Aspect of language in a social semiotic
Perspective. London : Oxford University Press.
Halliday, M.A. K., 2004. An Introduction to Functional Grammar. New York: Oxford University Press.
http://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Halliday, diunggah pada tanggal 25 Desember 2013, 10:40
http://en.wikipedia.org/wiki/Systemic_functional_linguistics. diunggah pada tanggal 25 desember
2013, 10:50.
Peter Matthews, 2003. A Short History of Structural Linguistics. Australia: Cambridge University Press.

Diposkan oleh Rengki Afria di 12/26/2013 08.21.00 PM


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Reaksi:
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Link ke posting ini
Buat sebuah Link
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

MY PROFIL

Rengki Afria
Kerinci, Jambi, Indonesia
I'm a Simple Person
Lihat profil lengkapku

Pengikut
Amazon MP3 Clips

PENGUNJUNG

Total Tayangan Laman


56628
Ada kesalahan di dalam gadget ini

TULISAN SAYA

Oktober (3)
Desember (5)

November (6)

Februari (4)

Juni (2)

April (5)

Februari (3)

Desember (5)

November (5)

Oktober (2)

Mei (2)

Maret (2)

Februari (2)

Januari (4)

LIHAT INFO
LKP HADERA COURSE
TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG
Rengky Afria, S.Pd. Template Travel. Gambar template oleh fpm. Diberdayakan oleh
Blogger.