Anda di halaman 1dari 15

Konsep KB Suntik 1 Bulan (Cyclofem)

2.2.1 Pengertian
Jenis suntikan kombinasi adalah 25 mg depo medrogsi progestaron asetat dan 5 mg
estradiol sipinoat yang diberikan injeksi IM sebulan sekali (cyclofem) dan 50 mg noretrindon
enoat dan 5 mg estradiol valerat yang diberikan injeksi IM sebulan sekali (Saifuddin,
2003;84).
2.2.2 Cara Kerja
1.

Mencegah ovulasi

2.

Mengentalkan lendir servik sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma

3.

Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi

4.

Menghambat gamet ke tuba

2.2.3 Efektifitas
Sangat tinggi (0,1 0,4 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun pertama penggunaan.
2.2.4 Keuntungan Kontrasepsi
1.

Resiko terhadap kesehatan kecil

2.

Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri

3.

Tidak diperlukan pemeriksaan dalam

4.

Jangka panjang

5.

Efek samping sangat kecil

6.

Klien tidak perlu menyimpan obat suntik

2.2.5 Keuntungan Non Kontrasepsi


1.

Mengurangin jumlah perdarahan

2.

Mengurangu nyeri saat haid

3.

Mencegah anemia

4.

Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium dan kanker endometrium

5.

Mengurangi penyakit payudara jinak dan kista ovarium

6.

Mencegah kehamilan ektopik

7.

Melindungi klien dari jenis-jenis tertentu penyakit radang panggul

8.

Pada keadaan tertentu dapat

diberikan

pada perempuan

usia perimenopouse

2.2.6 Kerugian
1.

Terjadi perubahan pada pola haid seperti tidak teratur, perdarahan bercak atau
perdarahan selama sampai 10 hari

2.

Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan dan keluhan seperti ini akan hilang setelah
suntikan kedua dan ketiga

3.

Ketergantungan klien

terhadap pelayanan kesehatan. Klien harus kembali setiap 30

hari untuk mendapatkan suntikan


4.

Efektifitasnya berkurang bila digunaan bersamaan dengan obat-obat epilepsy atau obat
tubercolusis

5.

Dapat menimbulkan efek samping yang serius seperti jantung, stroke, bekuan darah
pada paru atau otak yang kemungkinan timbulnya tumor hati

6.

Panambahan berat badan

7.

Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan terhadap infeksi menular seksual,


hepatitis B atau intervensi virus HIV

8.

Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian

2.2.7 Yang Tidak Boleh Menggunakan Suntikan Kombinasi


1.

Hamil atau diduga hamil

2.

Menyusui dibawah 6 minggu pasca persalinan

3.

Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya

4.

Penyakit hati akut

5.

Usia > 35 tahun yang merokok

6.

Riwayat penyakit jantung, stroke atau dengan tekanan darah tinggi (>180 / 110 mmHg)

7.

Riwayat kelainan tromboemboli atau dengan kencing manis

8.

Kelainan pembuluh darah yang menyebabkan sakit kepala atau migrain

9.

Keganasan payudara

> 20 tahun

2.2.8 Yang Boleh Menggunakan Suntikan Kombinasi


1.

Usia reproduksi

2.

Telah memiliki anak ataupun yang belum memiliki anak

3.

Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektifitasnya tinggi

4.

Menyusui ASI pasca persalinan > 6 bulan

5.

Anemia

6.

Nyeri haid hebat

7.

Riwayat kehamilan ektopik

8.

Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi

2.2.9 Waktu Mulai Menggunakan Suntikan Kombinasi


1.

Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu 7 hari siklus haid. Tidak diperlukan
kontrasepsi tambahan

2.

Bila suntikan pertama diberikan setelah hari ke 7 siklus haid, klien tidak hamil. Klien tidak
boleh melakukan hubungan seksual untuk 7 hari lamanya atau penggunaan metode
kontrasepsi yang lain selama masa waktu 7 hari

3.

Bila klien pasca persalinan > 6 bulan, menyusui, serta belum haid, suntikan pertama
diberikan, asal saja dapat dpastikan ibu tidak hamil

4.

Bila pasca persalinan 3 minggu dan tidak menyusui, suntikan kombinasi dapat diberikan

5.

Pasca keguguran, suntikan kombinasi dapat diberikna atau dalam waktu 7 hari

6.

Ibu dengan menggunakan metode kontrasepsi hormonal yang lain dan dan ingin
mengganti dengan kontrasepsi hormonal kombinasi, selama ibu tersebut menggunakan
kontrasepsi sebelimnya secara benar, suntikan kombinasi dapat segera diberikan tanpa
menunggu haid. Bila ragu-ragu perlu dilakukan uji kehamilan terlebih dahulu.

7.

Bila kontrasepsi sebelumnya juga kontrasepsi hormonal, dan ibu tersebut ingin
mengganti dengan suntikan kombinasi, maka suntikan kombinasi tersebut dapat diberikan
sesuai jadwal kontrasepsi sebelumnya. Tidak diperlukan metode kontrasepsi lain.

8.

Ibu yang menggunakan metode kontrasepsi non hormonal dan ingin menggantinya
dengan suntikan kombinasi, maka suntikan pertama dapat diberikan asal saja diyakini ibu
tersebut tidak hamil dan pemberiannya tanpa menunggu datangnya haid. Bila diberikan pada
hari 1 7 siklus haid metode kontrasepsi lain tidak diperlukan. Bila sebelumnya IUD dan
ingin menggantinya dengan suntikan kombinasi, maka sutikan pertama diberikan hari 1 7
siklus haid. Cabut segera IUD.

2.2.10 Cara Penggunaan


Suntikan kombinasi diberikan setiap bulan dengan suntikan intra muscular dalam.
Klien diminta setiap minggu. Suntikan ulang dapat diberikan 7 hari lebih awal, dengan
kemungkinan terjadi gangguan perdarahan. Dapat juga diberikan setelah 7 hari dari jadwal
yang sudah diberikan, asal saja diyakini ibu tersebut tidak hamil. Tidak dibenarkan
melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan metode kontrasepsi yang lain
untuk 7 hari saja.
2.2.11 Instruksi Untuk Klien
1.

Klien harus kembali ke dokter untuk mendapat suntikan kembali setiap 4 minggu

2.

Bila

tidak haid lebih dari 2 bulan, klien harus kembali ke dokter/petugas kesehatan

untuk memastikan hamil atau tidak


3.

Jelaskan efek samping tersering yang juga didapat pada penyuntikan dan apa yang harus
dilakukan bila hal tersebut terjadi. Bila klien mengeluh mual, sakit kepala atau nyeri

payudara serta perdarahan, informasikan kalau keluhan tersebut sering ditemukan dan
biasanya akan hilang pada suntikan ke 2 atau ke 3
4.

Apabila klien sedang menggunakan obat-obat tuberkolusis atau epilepsi obat - obat
tersebut dapat mengganggu efektifitas kontrasepsi yang sedang digunakan

2.2.12 Tanda-tanda Yang Harus Diwaspadai Pada Penggunaan Suntikan Kombinasi


1.

Nyeri dada hebat atau nafas pendek. Kemungkinan adanya bekuan darah di paru atau
serangan jantung

2.

Sakit kepala hebat atau gangguan penglihatan. Kemungkinan terjadi srtoke, hipertensi
atau migraine

3.

Nyeri tungkai hebat, kemungkinan telah terjadi sumbatan pembuluh darah pada tungkai.

4.

Tidak terjadi perdarahan atau spoting selama 7 hari sebelum suntikan berikutnya,
kemungkinan terjadi kehamilan.

KB adalah suatu usaha guna merencanakan dan mengatur jarak kehamilan sehingga
kehamilan dapat dikehendaki pada wakyu yang diinginkan.
( Saifuddin , 2008:32 )

KB adalah tindakan yang membantu individu atau pemasangan suami istri untuk
mendapatkan obyek tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur interval
diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan suami istri dan
menentukan jumlah anak dalam keluarga.
( WHO, 2007 )

2.1.2. Tujuan
Keluarga berencana menurut Undang-Undang no 10 tahun 1992 (tentang perkembangan
kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya peningkatan kepedulian
dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan peningkatan kesejahteraan
keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (Arum, 2008).
Secara umum keluarga berencana dapat diartikan sebagai suatu usaha yang mengatur
banyaknya kehamilan sedemikian rupa sehingga berdampak positif bagi ibu, bayi, ayah serta
keluarganya yang bersangkutan tidak akan menimbulkanb kerugian sebagai akibat langsung
dari kehamilan tersebut. Diharapkan dengan adanya perencanaan keluarga yang matang
kehamilan merupakan suatu hal yang memang sangat diharapkan sehingga akan terhindar
dari perbuatan untuk mengakhiri kehamilan dengan aborsi (Suratun, 2008).
Cara kerja
1.

Menekan ovulasi

2.

Membuat lendir servik menjadi kental sehingga penetrasi sperma terganggu

3.

Perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga implantasi terganggu

4.

Menghambat transportasi gamet oleh tuba


Efektivitas
Sangat efektif (0,1-0,4 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun pertama penggunaan.
Keuntungan Kontrasepsi

Resiko terhadap kesehatan kecil

Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri

Tidak diperlukan pemeriksaan dalam

Jangka panjang

Efek samping sangat kecil

Klien tidak perlu menyimpan obat suntik


Keuntungan non Kontrasepsi

Mengurangi jumlah perdarahan

Mengurangi nyeri saat haid

Mencegah anemia

Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium dan kanker endometium

Mengurangi penyakit payudara jinak dan kista ovarium

Mencegah kehamilan ektopik

Melindungi klien dari jenis-jenis tertentu penyakit radang panggul

Pada keadaan tertentu dapat diberikan pada perempuan usia perimenopause


Kerugian

Terjadi perubahan pada pola haid, seperti tidak teratur, perdarahan bercak atau spotting
atau perdarahan sela sampai 10 hari

Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan, dan keluhan seperti ini akan hilang setelah
suntikan ke-2 atau ke-3

Ketergantungan klien terhadap pelayan kesehatan. Klien harus kembali setiap 30 hari
untuk mendapatkan suntikan

Efektifitasnya berkurang bila digunakan bersamaan dengan obat-obat epilepsi (fenitoin dan
barbiturat) atau obat tuber kolosis (rifampisin)

Dapat terjadi efek samping yang serius, seperti serangan jantung, stroke, bekuan darah
pada paru atau otak, dan kemungkinan timbulnya tumor hati

Penambahan berat badan

Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, hepatitis B


virus, atau infeksi virus HIV

Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian


Efek Samping dari Kontrasepsi Kombinasi
Amenorca
Penanggulangannya
Singkirkan kehamilan, bila tidak terjadi kehamilan, dan tidak perlu diberi pengobatan khusus.
Jelaskan bahwa darah haid tidak berkumpul dalam rahim. Anjurkan klien untuk kembali ke
klinik bila tidak datangnya haid masih menjadi masalah. Bila klien hamil, rujuk klien.
Hentikan penyuntikan, dan jelaskan bahwa hormon progestin dan setrogen sedikit sekali
pengaruhnya pada janin.
Mual/ Pusing/Muntah
Penanggulangannya
Pastikan tidak ada kehamilan. Bila hamil rujuk. Bila tidak hamil, informasikan bahwa hal ini
adalah hal biasa dan akan hilang dalam waktu dekat.
Perdarahan/Perdarahan Bercak/ Spotting
Penanggulangannya
Bila hamil, rujuk. Bila tidak hamil cari penyebab perdarahan yang lain. Jelaskan bahwa
perdarahan yang terjadi merupakan hal biasa. Bila perdarahan berlanjut dan mngkhawatirkan
klien, metode kontrasepsi lain perlu dicari
My World My Experience
SELASA, 14 MEI 2013
KB SUNTIK 1 BULAN
1 Pengertian KB suntik kombinasi (suntik 1 bulan)
Suntikan kombinasi mengandung hormon esterogen dan progesteron, yang diberikan satu

bulan sekali.
2 .Cara kerja
Pemberian hormon progestin akan menyebabkan pengentalan mukus serviks sehingga
menurunkan kemampuan penetrasi sperma. Hormon tersebut juga mencegah pematangan dan
pelepasan sel telur. Endometrium menjadi tipis dan atrofi dengan berkurangnya aktifitas
kelenjar. Selain itu akan merangsang timbulnya haid setiap bulan
3.Efektifitas
Kontrasepsi suntik adalah kontrasepsi sementara, macam-macam suntikan tersebut telah
dibuktikan sangat baik, dengan angka kegagalan kurang dari 0,1 % per 100 wanita selama
tahun pertama penggunaan.
4.Keuntungan
Sangat efektif (99,6%)
Risiko kesehatan kecil
Tidak berpengaruh terhadap hubungan suami isteri
Periksa dalam tidak dibutuhkan pada saat pemeriksaan awal
Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
Tidak mempengaruhi pemberian ASI, kecuali suntikan Cyclofem
Reaksi suntik sangat cepat (<24 jam) Dapat digunakan oleh wanita tua (>35 tahun), kecuali
Cyclofem
Mencegah kehamilan ektopik
Jangka panjang
Sangat efektif walaupun klien terlambat suntik 1 minggu dari jadwal yang telah ditentukan
Sangat berguna untuk klien yang tidak ingin hamil lagi, tetapi belum bersedia untuk
mengikuti sterilisasi (tubektomi).
5.Kerugian
Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian.
Harus kembali ke sarana pelayanan.
Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya.
Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering
Dapat menyebabkan ketidakteraturan masalah haid

Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan penyakit menular seksual, hepatitis B,


atau infeksi HIV.
Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan, dan keluhan seperti ini akan hilang setelah
suntikan kedua atau ketiga.
Efektivitas berkurang bila digunakan bersamaaan dengan obat-obat epilepsi dan obat
tuberklosis.
Dapat terjadi efek samping yang serius, seperti serangan jantung, stroke, bekuan darah pada
paru atau otak, dan kemungkinan timbulnya tumor hati.
Kemungkinan terlambat pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian.
6.Manfaat Kesehatan
Menurunnya jumlah darah haid setiap bulan, menurunkan nyeri perut.
Mengurangi kemungkinan penyakit kurang darah akibat kekurangan zat besi.
Mengurangi tanda atau gejala sindroma haid
Dapat melindungi kemungkinan penyakit radang panggul dan kanker indung telur karena
progestin menyebabkan mukus serviks menebal, sehingga memepersulit penularan infeksi
dari liang senggama atau serviks untuk mencapai saluran telur (penekanan ovulasi akan
menyebabkan berkurangnya stimulasi dari sel epitel ovarium).
Mencegah terjadinya kanker endomertrium
Dapat digunakan pada wanita yang mempunyai penyakit darah sickle cell anemia
Dapat meningkatkan jumlah ASI pada ibu yang menyusui.
7. Indikasi Kontrasepsi Suntik
Klien menghendaki pemakaian kontrasepsi jangka panjang atau telah mempunyai cukup
anak sesuai keinginan tetapi belum ingin, belum siap atau belum bisa ikut tubektomi saat ini.
Rasional : Suntikan KB adalah metoda kontrasepsi jangka panjang, efektif, dapat digunakan
untuk jangka panjang (tak terbatas), pada pemakaian tidak menyebabkan permasalahan medis
yang serius.
Klien menghendaki pemakaian kontrasepsi yang tidak perlu dipakai setiap hari atau setiap
bersenggama. Rasional : Suntikan Kb tidak perlu diberikan setiap hari atau ketika akan
bersenggama. Para wanita yang menghadapi permasalahan dengan pemakaian cara-cara
sederhana atau pelupa dalam minum pil setiap hari dapat dianjurkan untuk memakai
kontrasepsi suntik. Setelah mendapatkan suntikan, maka yang dibutuhkan peserta suntik
adalah mengingat waktu suntik ulang apakah 1, 2, atau 3 bulan tergantung pada jenis

kontrasepsi uang dipakai.


Klien tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung esterogen, atau kalau
meminumnya maka akan timbul gejala-gejala komplikasi pemakaian esterogen. Rasionalnya :
Biasanya komplikasi atau efek samping disebabkan oleh komponen esterogen yang ada.
Untuk itu, dapat dipakai suntikan KB yang hanya mengandung hormon progestin, sehingga
cara ini dapat dipakai sebagai alternatif pilihan bagi peserta yang tidak tahan hormon
esterogen.
Klien sedang menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai. Rasionalnya : Menyusui
tidak akan terpengaruh dengan pemakaian kontrasepsi suntik progestin, bahkan pada
beberapa penelitian didapatkan bahwa pemakaian kontrasepsi suntik akan meningkatkan
kuantitas ASI walaupun pemakaian kontrasepsi hormonal bukanlah pilihan utama bagi ibu
yang menyusui, pemakaiannya tidak akan menyebabkan perubahan secara klinik baik pada
perumbuhan dan perkembangan BBL maupun pemakaian setelah 6 minggu persalinan
8.Yang Boleh Menggunakan Suntikan Kombinasi
Usia reproduksi
Telah memiliki anak, ataupun yang belum memiliki anak
Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektivitas yang tinggi
Menyusui ASI pascapersalinan lebih dari 6 bulan
Pascapersalinan dan tidak menyusui
Anemia
Nyeri haid hebat
Haid teratur
Riwayat kehamilan ektopik
Sering menggunakan pil kontrasepsi

9.Yang Tidak Boleh Menggunakan Suntikan Kontrasepsi


Hamil atau diduga hamil
Menyusui di bawah 6 minggu pascapersalinan
Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
Penyakit hati akut
Usia lebih dari 35 tahun yang merokok
Riwayat penyakit jantung, stroke, atau dengan tekanan darah tinggi (lebih dari 180/110

mmHg)
Kelainan pembuluh darah yang menyebabkan sakit kepala atau migraine
Keganasan payudara
10.Waktu Mulai menggunakan Suntikan Kombinasi
Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu 7 hari siklus haid. Tidak diperlukan
kontrasepsi tambahan
Bila suntikan pertama diberikan setelah hari ke-7 siklus haid, klien tidak boleh melakukan
hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan kontrasepsi lain untuk 7 hari.
Bila klien tidak haid, suntikan pertama dapat diberikan setiap saat, asal saja dapat dipastikan
ibu tersebut tidak hamil.
Bila klien pascapersalinan 6 bulan, menyusui, serta belum haid, suntikan pertama dapat
diberikan, asal saja dapat dipastikan tidak hamil
Bila pascapersalinan lebih dari 6 bulan, menyusui, serta telah mendapat haid, maka suntikan
pertama diberikan, asal saja dipastikan tidak hamil.
Bila pascapersalinan kurang dari 6 bulan dan menyusui, jangan beri suntikan kombinasi.
Bila pascapersalinan 3 minggu, dan tidak menyusui, suntikan kombinasi dapat diberi.
Ibu yang sedang menggunakan kontrasepsi hormonal yang lain dan ingin menggantinya
dengan kontrasepsi hormonal kombinasi. Selama ibu tersebut menggunakan kontrasepsi
sebelumnya secara benar, suntikan kombinasi dapat diberikan tanpa perlu menunggu haid
Bila kontrasepsi sebelumnya juga kontrasepsi hormonal, dan ibu tersebut ingin
menggantinya dengan suntikan kombinasi, maka suntikan kombinasi tersebut dapat diberikan
sesuai jadwal kontrasepsi sebelumnya
11 Mekanisme
1. Menekan ovulasi
2. Membuat lendir menjadi kental sehingga penetrasi sperma terganggu.
3. Perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga implementasi terganggu.
4. Penghambatan transportasi gamet oleh tuba (Saifuddin, 2003)
12 konsep dasar pengkajian asuhan kebidanan pada akseptor kb suntik kombinasi
1. Identitas
Yang dikaji meliputi biodata dan suami mulai dari nama, umur, suku, agama, pendidikan,
pekerjaan, penghasilan, alamat, no. telp.

2. Keluhan Utama
Dikaji keluhan klien yang berhubungan dengan penggunaan KB suntik kombinasi tersebut
antara lain amenorea/ perdarahan tidak terjadi, perdarahan bercak, meningkatnya/
menurunnya BB.
3. Riwayat KB
Dikaji apakah klien pernah menjadi akseptor KB lain sebelum menggunakan KB kombinasi
dan sudah berapa lama menjadi akseptor KB tersebut.
4. Riwayat Obstetri Lalu
Dikaji riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu.
5. Riwayat Menstruasi Lalu
Dikaji menarche pada umur berapa, siklus haid, lamanya haid, sifat darah haid, dysmenorhea
atau tidak, flour albus atau tidak.
6. Riwayat Kesehatan dan Riwayat Klien
Dikaji apakah klien menderita penyakit jantung, hipertensi, kanker payudara, DM, dan TBC.
7. Riwayat Kesehatan dan Penyakit Keluarga
Dikaji apakah keluarga klien ada yang menderita penyakit jantung, DM, TBC, hipertensi dan
kanker payudara.
8. Pola Kehidupan
Dikaji meliputi pola nutrisi, pola eliminasi, pola istirahat, pola aktivitas, pola aktivitas
seksual, pola personal hygiene, dan kebiasaan sehari-hari.
Diposkan oleh Ria Andriya di 21.36
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Posting LamaBeranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
ARSIP BLOG

2013 (4)
Mei (1)

KB SUNTIK 1 BULAN

April (3)

MENGENAI SAYA
Ria Andriya
Lihat profil lengkapku

Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.


A. Latar Belakang
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang masih memiliki
kualitas penduduk yang sangat rendah dengan ditandai terhambatnya
pelaksanaan pembangunan nasional (Prawirohardjo, 2007). Berdasarkan
data BPS tahun 2014 jumlah penduduk Indonesia sebanyak 252.164,8 ribu
orang yang terdiri dari 125.715,2 laki-laki dan 125.449,6 perempuan.
Rata-rata laju pertumbuhan penduduk tahun 2010-2014 sekitar 1,40%
persen per tahun. Diperkirakan penduduk Indonesia akan berjumlah 337
juta jiwa di tahun 2050. Oleh karena itu, sangat penting bagi Indonesia
untuk membenahi fasilitas publiknya. Tingkat pertumbuhan penduduk
tersebut dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu fertillitas, mortilitas dan
migrasi. Minimnya pengetahuan mengenai pertumbuhan penduduk akan
berdampak pada peningkatan angka kematian ibu hamil dan bersalin,
angka kehamilan yang tidak diinginkan, serta angka kejadian penyakit
menular seksual (BKKBN, 2007).
Berdasarkan data BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional) (2007), dalam upaya membangun penduduk yang
berkualitas maka pemerintah memberikan perhatian besar terhadap
pembangunan sumber daya manusia. Salah satu upaya untuk
meningkatkan kualitas penduduk yaitu mengatasi pertumbuhan
penduduk, dengan 2 menetapkan program Keluarga Berencana (KB) pada
Pasangan Usia Subur (PUS) yang bertujuan untuk mencegah kehamilan.
Terutama kehamilan yang tidak diinginkan dan kehamilan risiko tinggi,
karena hal tersebut dapat menyebabkan atau menambah angka kesakitan
dan angka kematian ibu (BKKBN Jateng, 2012).
Kontrasepsi merupakan upaya untuk mencegah terjadinya
kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat
permanent. Menurut Riskesdas (2013), usia reproduksi perempuan pada

umumnya adalah 15-49 tahun. Oleh karena itu untuk mengatur jumlah
kelahiran atau menjarangkan kelahiran, wanita atau pasangan ini lebih
diprioritaskan untuk menggunakan alat atau cara KB. Tingkat pencapaian
pelayanan KB dapat dilihat dari cakupan peserta KB yang sedang atau
pernah menggunakan alat kontrasepsi, tempat pelayanan KB, dan jenis
kontrasepsi yang digunakan akseptor. Penggunaan KB menurut jenis
alat/cara KB di Indonesia didominasi oleh penggunaan KB jenis suntikan
KB (34,3%). Kelompok KB hormonal terdiri dari KB modern jenis susuk,
suntikan dan pil sedangkan kelompok nonhormonal adalah sterilisasi pria,
sterilisasi wanita, spiral/IUD, diafragma dan kondom. Berdasarkan data
dari BKKBN (2010) diketahui, bahwa di Indonesia yang menggunakan
metode kontrasepsi dengan suntik sebanyak 58,25%, pil sebanyak
24,37%, Intra Uterine Devices (IUD) sebanyak 7,23%, implant sebanyak
4,16%, Metode Operatif Wanita (MOW) sebanyak 3,13 %, Metode 3
Operatif Pria (MOP) sebanyak 1,03%, kondom sebanyak 0,68%,
intravaginal tissue sebanyak 0,11% dan metode tradisional sebanyak
1,04%. Berdasarkan data BKKBN Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012
jumlah PUS yang menjadi peserta KB aktif tercatat sebanyak 4.784.150
peserta dengan rincian, KB dengan metode Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
(AKDR) atau disebut juga IUD sebanyak 406.097 orang (8,49%), MOW
sebanyak 262.761 orang (5,49%), MOP sebanyak 52.679 orang (1,10%),
kondom sebanyak 92.072 orang (1,92%), implant sebanyak 463.786 orang
(9,69%), suntik sebanyak 2.753.967 orang (57,56%), dan pil sebanyak
752.788 orang (15,74%).
Penggunaan alat kontrasepsi juga sangat diperlukan oleh penduduk
Kabupaten Sragen, karena telah terjadi peningkatan jumlah penduduk
sebesar 4.855 jiwa dari tahun 2012 sampai 2013 dengan jumlah 894.211
jiwa. Kabupaten Sragen terbagi menjadi 20 kecamatan, yang terdiri dari
208 kelurahan/desa. Kabupaten Sragen mempunyai luas wilayah sebesar
941,55 km2 . Di Kabupaten Sragen pada tahun 2013 jumlah PUS aktif
sebanyak 141.654 jiwa dengan rincian IUD 12.036orang (8,49%), MOW
18.070 orang (12,75%), MOP 527 orang (0,37%), implant 20.281 orang
(14,41), kondom 2.666 orang (1,88%), suntik 72.927 orang (51,48%) dan
pil 15.147 orang (10,69%) (Laporan Rekapitulasi Tahuan BKBPMD, 2013).
Berdasarkan data laporan rekapitulasi tahunan BKBPMD (Badan Keluarga
Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat Desa) Kabupaten Sragen
(2013), cakupan peserta KB aktif tertinggi di Kecamatan Sidoharjo

terdapat 4 di Desa Jetak yaitu sebanyak 1123 orang (80,44%) dan peserta
KB tidak aktif sebanyak 273 orang (19,56%) dengan jumlah PUS di Desa
Jetak tahun 2013 adalah sebanyak 1396 orang.
Penggunaan alat kontrasepsi pada peserta KB aktif dengan rincian
IUD sebanyak 71 orang (6,32%), MO 194 orang (17,27), implant sebanyak
45 orang (4%), suntik sebanyak 720 orang (64,11), pil 73 orang (6,5%)
dan kondom sebanyak 20 orang (1,78%) (UPTB Sidoharjo, 2013). Dari data
di atas menunjukkan bahwa penggunaan alat kontrasepsi hormonal (pil,
suntik dan implant) sebesar 74,62% lebih tinggi dari pada alat kontrasepsi
nonhormonal (IUD dan MO) sebesar 23,59%. Sedangkan BKBPMD
mengharapkan Pasangan Usia Subur lebih memilih kontrasepsi
nonhormonal dibandingkan kontrasepsi hormonal. Banyak faktor yang
mempengaruhi seseorang dalam pemilihan metode kontrasepsi yang
digunakan yaitu efektivitas, keamanan, frekuensi pemakaian, efek
samping serta kemauan dan kemampuan untuk melakukan kontrasepsi
secara teratur dan benar (Sulistyawati, 2011). Selain itu Purba (2009)
menemukan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan
metode kontrasepsi yang digunakan yaitu faktor predisposisi (umur,
pendidikan, jumlah anak, pengetahuan, sikap), faktor pendukung
(ketersediaan alat kontrasepsi, jarak rumah ke puskesmas, waktu tempuh
dan biaya), serta faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan).
Berdasarkan hasil penelitian Suprida (2013), menyimpulkan bahwa
terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan (p value 0,05) dan
umur ibu (p value 0,025) dengan pemilihan kontrasepsi implant di Bidan
Praktik 5 Mandiri Rachmi Palembang Tahun 2013. Sari,dkk (2010),
menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara
konseling KB dengan pengambilan keputusan PUS dalam penggunaan alat
kontrasepsi di Desa Karang Klesem Kecamatan Purwokerto Selatan
Kabupaten Banyumas dengan p value sebesar 0,00. Menurut hasil
penelitian Ali (2013), diketahui bahwa ada hubungan antara pengetahuan
(p value 0,000), pendidikan (p value 0,000), ketersediaan alat kontrasepsi
(p value 0,000) dengan penggunaan alat kontrasepsi pada usia subur di
wilayah kerja Puskesmas Buhu Kabupaten Gorontalo serta tidak ada
hubungan jumlah anak (p value 0,222) dengan penggunaan alat
kontrasepsi pada usia subur di wilayah kerja Puskesmas Buhu Kabupaten
Gorontalo. Berdasarkan permasalahan yang diuraikan di atas peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan antara tingkat

pendidikan, pengetahuan, dan usia ibu PUS dengan pemilihan jenis


kontrasepsi di Desa Jetak Kecamatan Sidoharjo Kabupaten Sragen