Anda di halaman 1dari 6

1.

Apa yang dimaksud surat rujukan, kapan diperlukan surat rujukan, apa saja
macam-macam surat rujukan?
Surat rujukan adalah surat pengantar tenaga medis dalam hal ini ditujukan kepada dokter
maupun dokter gigi secara tertulis yang bertujuan sebagai advice (petunjuk pengobatan)
maupun pengobatan secara lebih lanjut kepada tenaga medis yang lebih berkompeten dalam
bidangnya. Dalam dunia kedokteran gigi, surat rujukan biasanya diberikan oleh dokter gigi
umum kepada dokter yang lebih berkompeten atau dokter spesialis, contohnya diagnosa
sementara dokter gigi umum adalah tumor maka sebaiknya pasien segera dirujuk kepada
dokter gigi yang lebih berkompeten, yaitu dokter gigi spesialis penyakit mulut. Ataupun
dokter gigi yang ingin mengetahui kadar gula darah dan tekanan darah pasien dapat
memberikan surat rujukan kepada dokter umum ataupun dokter spesialis penyakit dalam.
Keadaan dimana dokter merasa tidak sanggup melakukan tindakan peyembuhan untuk
pasien, maupun ketidak ketersediaan nya alat-alat untuk menangani pasien
Rujukan medic yaitu pelimpahan tanggung jawab secara timbal balik atas satu kasus yang
timbul baik secara vertical maupun horizontal kepada yang lebih berwenangdan mampu
menangani secara rasional. Jenis rujukan medic antara lain:
1) Transfer of patient. Konsultasi penderita untuk keperluaan diagnostic, pengobatan,
tindakan opertif dan lain lain.
2) Transfer of specimen. Pengiriman bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang
lenih lengkap.
3) Transfer of knowledge / personal. Pengiriman tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk
meningkatkan mutu layanan setempat.
1. Rujukan kesehatan yaitu hubungan dalam pengiriman, pemeriksaan bahan atau
specimen ke fasilitas yang lebih mampu dan lengkap. Ini adalah rujukan uang menyangkut
masalah kesehatan yang sifatnyapencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan kesehatan
(promotif). Rujukan ini mencakup rujukan teknologi, sarana dan opersional
4. Jalur Rujukan
Dalam kaitan ini jalur rujukan untuk kasus gawat darurat dapat dilaksanakan sebagai berikut :
1. Dari Kader
Dapat langsung merujuk ke :
1) Puskesmas pembantu
2) Pondok bersalin / bidan desa
3) Puskesmas / puskesmas rawat inap
4) Rumah sakit pemerintah / swasta
1. Dari Posyandu
Dapat langsung merujuk ke :
1) Puskesmas pembantu
2) Pondok bersalin / bidan desa
3) Puskesmas / puskesmas rawat inap
4) Rumah sakit pemerintah / swasta
1. Dari Puskesmas Pembantu
Dapat langsung merujuk ke rumah sakit tipe D/C atau rumah sakit swasta
1. Dari Pondok bersalin / Bidan Desa
Dapat langsung merujuk ke rumah sakit tipe D/C atau rumah sakit swasta

(1) Agar rujukan dapat diselenggarakan tepat dan memadai, maka suatu rujukan hendaknya
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Adanya unit yang mempunyai tanggungjawab dalam rujukan, baik yang merujuk
atau yang menerima rujukan.
b. Adanya

Tenaga

kesehatan

yang

kompeten

dan

mempunyai

kewenangan

melaksanakan pelayanan medis dan rujukan medis yang dibutuhkan.


c. Adanya pencatatan/kartu/dokumen tertentu berupa :

Formulir rujukan dan rujukan balik sesuai contoh.

Kartu Jamkesmas, Jamkesda dan kartu Assuransi lain.

Pencatatan dan dokumen hasil pemeriksaan penunjang

d. Adanya pengertian timbal balik antara pengirim dan penerima rujukan.


e. Adanya pengertian petugas tentang sistem rujukan.
Rujukan dapat bersifat horizontal dan vertikal, dengan prinsip mengirim ke arah
fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu dan lengkap

2. Apa yang di maksud inform consent, fungsi inform concent, kapan diperlukan
inform concent, syarat-syarat inform concent?
Informed Consent adalah sebuah istilah yang sering dipakai untuk terjemahan dari
persetujuan tindakan medik. Informed Consentterdiri dari dua kata
yaitu Informed dan. Informed diartikan telah di beritahukan, telah disampaikan atau telah di
informasikan dan Consentyang berarti persetujuan yang diberikan oleh seseorang untuk
berbuat sesuatu. Dengan demikian pengertian bebas dari informed Consentadalah persetujuan
yang diberikan oleh pasien kepada dokter untuk berbuat sesuatu setelah mendapatkan
penjelasan atau informasi.
Pengertian Informed Consent oleh Komalawati ( 1989 :86) disebutkan sebagai berikut :
Yang dimaksud dengan informed Consent adalah suatu kesepakatan / persetujuan pasien
atas upaya medis yang akan dilakukan oleh dokter terhadap dirinya, setelah pasien
mendapatkan informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukanuntuk
menolong dirinya, disertai informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi.
Sedangkan tatacara pelaksanaan tindakan medis yang akan dilaksanakan oleh dokter pada
pasien , lebih lanjut diatur dalam Pasal 45 UU No. 29 Tahun 2009 Tentang Praktek
Kedokteran yang menegaskan sebagai berikut :
(1) Setiap Tindakan Kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau
dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.

(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien diberikan
penjelasan lengkap
(3) Penjelasan lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya
mencakup :
a. Diagnosis dan tatacara tindakan medis
b. Tujuan tindakan medis dilakukan
c. Alternatif tindakan lain dan resikonya
d. Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi dan
e. Prognosis terhadap tindakan yang akan dilakukan.
Dengan lahirnya UU No. 29 Tahun 2004 ini, maka semakin terbuka luas peluang bagi
pasien untuk mendapatkan informasi medis yang sejelas-jelasnya tentang penyakitnya dan
sekaligus mempertegas kewajiban dokter untuk memberikan informasi medis yang benar,
akurat dan berimbang tentang rencana sebuah tindakan medik yang akan dilakukan,
pengobatan mapun perawatan yang akan di terima oleh pasien. Karena pasien yang paling
berkepentingan terhadap apa yang akan dilakukan terhadap dirinya dengan segala resikonya,
makaInformed Consent merupakan syarat subjektif terjadinya transaksiterapeutik dan
merupakan hak pasien yang harus dipenuhi sebelum dirinya menjalani suatu upaya medis
yang akan dilakukan oleh dokter terhadap dirinya .
Peraturan Menteri Kesehatan No. 290 Tahun 2008.
Persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat, setelah mendapat penjelasan
secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan
terhadap pasien.

Fungsi informed concent


Adami Chazawi (Ibid,39) mengemukakan informed consent berfungsi ganda.
Bagi dokter, informed consent dapat membuat rasa aman dalam menjalankan tindakan medis
pada pasien, sekaligus dapat digunakan sebagai pembelaan diri terhadap kemungkinan
adanya tuntutan atau gugatan dari pasien atau keluarganya apabila timbul akibat yang tidak
dikehendaki.
Bagi pasien,informed consent merupakan penghargaan terhadap hak haknya oleh doktrer dan
dapat digunakan sebagai alasan gugatan terhadap dokter apabila terjadi penyimpangan
praktik dokter dari maksud diberikannya persetujuan pelayanan kesehatan (informed
consent). Lebih lanjut Adami Chazawi mengemukakan bahwa informed consent pasien atau
keluarganya hanya sekedar membebaskan risiko hukum bagi timbulnya akibat yang tidak
dikehendaki dalam hal perlakuan medis yang benar dan tidak menyimpang. Walaupun ada
persetujuan semacam itu,apabila perlakuan medis dilakukan secara salah sehingga
menimbulkan akibat yang tidak dikehendaki,dokter juga tetap terbebani tanggung jawab
terhadap akibatnya.
Informed consent dari asas hukum perjanjian berfungsi sebaga pemenuhan asas
konsensualisme,yang mengandung makna bahwa sejak tercapainya kesepakatan (consensus)
diantara para pihak mengenai pokok pokok isi perjanjian,maka perjanjian sudah terjadi.
Kedua belah pihak sudah terikat sejak tercapainya kesepakatan, untuk memenuhi kewajiban
yang timbul dari perjanjian tersebut dan memperoleh hak haknya sesuai dengan perjanjian
atau menurut ketentuan hukum yang berlaku.

Perlunya dimintakan informed consent dari pasien karena informed consent mempunyai
beberapa fungsi sebagai berikut :
1.
Penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku manusia.
2.
promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri.
3.
untuk mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati pasien.
4.
menghindari penipuan dan misleading oleh dokter.
5.
mendorong diambil keputusan yang lebih rasional.
6.
mendorong keterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan.
7.
sebagai suatu proses edukasi masyarakat dalam bidang kedokteran dan kesehatan.
3. Apa saja bentuk persetujuan tindakan medik, apa saja komponen yang terdapat
di inform concent?
Bentuk imformed concent
Implied constructive Consent (Keadaan Biasa)
Tindakan yang biasa dilakukan, telah diketahui, telah dimengerti oleh masyarakat umum,
sehingga tidak perlu lagi di buat tertulis misalnya pengambilan darah untuk laboratorium,
suntikan, atau hecting luka terbuka.
2.
Implied Emergency Consent (keadaan Gawat Darurat)
Secara umum bentuk persetujuan yang diberikan pengguna jasa tindakan medis (pasien)
kepada pihak pelaksana jasa tindakan medis untuk melakukan tindakan medis dapat
dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu :
a.
Persetujuan Tertulis
Biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang mengandung resiko besar, sebagaimana
ditegaskan dalam PerMenKes No. 585/Men.Kes/Per/IX/1989 Pasal 3 ayat (1) dan SK PB-IDI
No. 319/PB/A.4/88 butir 3, yaitu intinya setiap tindakan medis yang mengandung resiko
cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan tertulis, setelah sebelumnya pihak pasien
memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medis serta resiko yang
berkaitan dengannya (telah terjadi informed consent).
b.
Persetujuan Lisan
Biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang bersifat non-invasif dan tidak mengandung
resiko tinggi, yang diberikan oleh pihak pasien.
c.
Persetujuan dengan isyarat
Dilakukan pasien melalui isyarat, misalnya pasien yang akan disuntik atau diperiksa tekanan
darahnya, langsung menyodorkan lengannya sebagai tanda menyetujui tindakan yang akan
dilakukan terhadap dirinya.
Komponen informed concent
Ada beberapa komponen-komponen informed consent antara lain :
1.
Threshold elements
Elemen ini sebenarnya tidak tepat dianggap sebagai elemen, oleh karena sifatnya lebih ke
arah syarat, yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang kompeten (cakap). Secara hukum
seseorang dianggap cakap (kompeten) apabila telah dewasa, sadar dan berada dalam keadaan
mental yang tidak di bawah pengampuan.
2.
Information elements

Terdiri dari dua bagian yaitu, disclosure (pengungkapan) dan understanding(pemahaman).


Elemen ini berdasarkan pemahaman yang akurat membawa konsekuensi kepada tenaga medis
untuk memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa sehingga pasien dapat mencapai
pemahaman yang adekuat. Dalam hal ini, seberapa baik informasi harus diberikan kepada
pasien, dapat dilihat dari 3 standar, yaitu :
a.
Standar Praktik Profesi
Bahwa kewajiban memberikan informasi dan kriteria keadekuatan informasi ditentukan
bagaimana biasanya dilakukan dalam komunitas tenga medis.
b.
Standar Subyektif
Bahwa keputusan harus didasarkan atas nilai-nilai yang dianut oleh pasien secara pribadi,
sehingga informasi yang diberikan harus memadai untuk pasien tersebut dalam membuat
keputusan.
c.
Standar pada reasonable person
Standar ini merupakan hasil kompromi dari kedua standar sebelumnya, yaitu dianggap cukup
apabila informasi yang diberikan telah memenuhi kebutuhan umumnya orang awam.
3.
Consent elements
Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, voluntariness (kesukarelaan, kebebasan) dan
authorization (persetujuan). Kesukarelaan mengharuskan tidak ada tipuan, misrepresentasi
ataupun paksaan.
4. Apa saja undang-undang yang mengatur tentang inform concent?
Sedangkan tatacara pelaksanaan tindakan medis yang akan dilaksanakan oleh dokter pada
pasien , lebih lanjut diatur dalam Pasal 45 UU No. 29 Tahun 2009 Tentang Praktek
Kedokteran yang menegaskan sebagai berikut :
(1) Setiap Tindakan Kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau
dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien diberikan
penjelasan lengkap
(3) Penjelasan lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya
mencakup :
a. Diagnosis dan tatacara tindakan medis
b. Tujuan tindakan medis dilakukan
c. Alternatif tindakan lain dan resikonya
d. Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi dan
e. Prognosis terhadap tindakan yang akan dilakukan.
Dengan lahirnya UU No. 29 Tahun 2004 ini, maka semakin terbuka luas peluang bagi
pasien untuk mendapatkan informasi medis yang sejelas-jelasnya tentang penyakitnya dan
sekaligus mempertegas kewajiban dokter untuk memberikan informasi medis yang benar,
akurat dan berimbang tentang rencana sebuah tindakan medik yang akan dilakukan,
pengobatan mapun perawatan yang akan di terima oleh pasien. Karena pasien yang paling
berkepentingan terhadap apa yang akan dilakukan terhadap dirinya dengan segala resikonya,
makaInformed Consent merupakan syarat subjektif terjadinya transaksiterapeutik dan
merupakan hak pasien yang harus dipenuhi sebelum dirinya menjalani suatu upaya medis
yang akan dilakukan oleh dokter terhadap dirinya .

Peraturan Menteri Kesehatan No. 290 Tahun 2008.


Persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat, setelah mendapat penjelasan
secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan
terhadap pasien.
5. Hal apa saja yang perlu di informasikan kepada pasien maupun keluarga
sebelelum menandatangani inform concent?
Materi/isi informasi yang harus disampaikan :
a.
Diagnosis dan tata cara tindakan medis/kedokteran tersebut
b.
Tujuan tindakan medis/kedokteran yang akan dilakukan
c.
Alternatif tindakan lain, dan risikonya
d.
Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan
e.
Prognosis terhadap tindakan yang akan dilakukan
f.
(perkiraan biaya)