Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Menurut Yustika (2005: 23) upaya mengatasi persoalan pembangunan
khususnya masalah kemiskinan dan kesenjangan distribusi pendapatan,sebenarnya
bukan merupakan hal yang baru. Negara-negara berkembang yang memperoleh
tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sejak tahun 1960-an ternyata
belum memberikan pengaruh yang berarti bagi kesejahteraan masyarakat, bahkan
terjadi penurunan tingkat kehidupan riil.
Dalam praktiknya penanggulangan kemiskinan juga terbukti tidak selalu
efektif, karena cenderung melihat latar belakang terjadinya masalah kemiskinan
yang bersumber dari proyek-proyek yang selalu mengatasnamakan pembangunan
dengan menggusur dan menindas hak-hak rakyat.
Selama ini kebijakan pemerintah banyak yang tidak berpihak terhadap
masyarakat miskin. Misalnya program revolusi hijau yang padat teknologi dan
padat modal telah menggusur banyak petani. Program IDT (Inpres Desa
Tertinggal) dan PKS(Program Keluarga Sejahtera) implementasinya banyak yang
salah sasaran. Kegagalan program ini di lapangan karena pemerintah hanya
melihat bagaimana proyek itu bisa berjalan dan bagaimana proyek ini
menghabiskan alokasi dana yang ada. Di samping itu, juga tidak menjadi suatu
ukuran bahwa masyarakat benar-benar berdaya atau tidak dengan intervensi
program tersebut. Program-program pengentasan kemiskinan yang seharusnya
diperuntukkan kepada orang miskin,justru jatuh kepada orang-orang yang
mempunyai status sosial sangat baik.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalahnya adalah sebagai
berikut:
1. Apa itu kemiskinan?
2. Apa penyebab kemiskinan di Indonesia?
3. Apa peran pemerintah dalam menangani masalah kemiskinan Indonesia?
4. Bagaimana cara mengentaskan kemiskinan?
Teknis penulisan makalah ini berpedoman pada Buku Pedoman Penulisan
Karya Ilmiah Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Negeri Malang
(UM, 2010).

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kemiskinan
Menurut Suparmono (2004: 175) Kemiskinan Poverty merupakan masalah
yang dihadapi oleh seluruh negara, terutama di negara berkembang. Masalah
kemiskinan merupakan suatu yang kompleks, baik dilihat dari penyebabnya
maupun dilihat dari ukurannya. Hal ini dikarenakan kemiskinan bersifat
multidimensional, artinya kemiskinan menyangkut seluruh dimensi kebutuhan
manusia yang sifatnya sangat beragam. Selain itu, dimensi kebutuhan manusia
yang beraneka ragam itupun sangat terkait satu dengan lainnya.
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk
memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung,
pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat
pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan
pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami
istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya
dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut
ilmiah yang telah mapan,dll.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara yaitu :
1. Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan
sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan
dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan
pelayanan dasar.
2. Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial,
ketergantungan,

dan

ketidakmampuan

untuk

berpartisipasi

dalam

masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan


sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup
masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang
ekonomi. Gambaran kemiskinan jenis ini lebih mudah diatasi daripada dua
gambaran yang lainnya.

3. Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai.


Makna "memadai" disini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian
politik dan ekonomi di seluruh dunia.
4. Gambaran tentang ini dapat diatasi dengan mencari objek penghasilan
diluar profesi secara halal. Perkecualian apabila institusi tempatnya
bekerja melarang.

B. Penyebab Kemiskinan
Menurut Basri (2002: 98) kemiskinan diartikan sebagai akibat dari
ketiadaan

demokrasi,

yang

mencerminkan

hubungan

kekuasaan

yang

menghilangkan kemampuan warga suatu negara untuk memutuskan masalah yang


menjadi perhatian mereka sendiri, sehingga mayoritas penduduk kurang
memperoleh alat-alat produksi (lahan dan teknologi) dan sumber daya
(pendidikan,kredit,dan akses pasar). Selain itu, kurangnya mekanisme pasar yang
memadai untuk akumulasi dan distribusi. Dengan kata lain, kemiskinan di
Indonesia disebabkan sangat terbatasnya peluang atau kesempatan yang dimiliki
kelompok tersebut dalam mengakses sumber daya pembangunan.
Keterbatsan peluang ini, selain disebabkan hambatan internal kelompok
miskin, terutama diakibatkan juga oleh konstelasi stuktur ekonomi dan politik
yang otoritarian dan tidak berpihak pada golongan lemah. Dan terbentuknya
struktur ekonomi dan politik tersebut diakibatkan oleh pola insentif institusional
yang bersifat mencari keuntungan pribadi/golongan rent seeking behaviour,
otoriter, dan sentralistik.
Permasalahan mendasar selama pelaksanaan RPJMN 2009-2014 adalah
perlambatan penurunan tingkat kemiskinan. Jika dilihat dari tingkat kemiskinan
pada bulan Maret 2014 yang mencapai 11,25 persen, jumlah penduduk kurang
mampu yang mengalami peningkatan kesejahteraannya sejak tahun 2010 kurang
dari satu juta per tahun. Peningkatan ketimpangan dan perlambatan penurunan
kemiskinan selama empat tahun terakhir disebabkan oleh berbagai faktor, antara
lain :

1. Kondisi makro ekonomi dalam lima tahun terakhir yang tidak stabil akibat
adanya krisis ekonomi global yang membuat pertumbuhan industri secara
nasional relatif melambat. Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi
nasional cenderung melambat.
2. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya terjadi pada sektor tertentu,
yakni sektor industri dan jasa. Kebutuhan tenaga kerja dengan
keterampilan rendah berkurang secara nyata, sehingga pertumbuhan
industri tersebut lebih banyak dinikmati oleh kelompok ekonomi
menengah ke atas.
3. Kondisiboomingkenaikan harga internasional dari komoditas ekspor utama
Indonesia seperti komoditas perkebunan (crude palm oil) dan sumber daya
alam (misalnya batu bara) yang terjadi pada 10 tahun terakhir. Keuntungan
ini umumnya lebih dinikmati golongan pemilik modal karena sifatnya
yang padat modal atau yang memiliki keterampilan tinggi.
4. Kurangnyaperlindunganterhadap usaha mikro dan kecil melalui kebijakan
impor komoditas yang sama dengan yang dapat dihasilkan oleh usaha
mikro dan kecil akan mempengaruhi secara signifikan terhadap
keberlangsungan usaha mikro dan kecil tersebut.
5. Berkurangnya kebutuhan tenaga kerja kurang terampil dimana terjadi
transformasi struktur pasar tenaga kerja yang lebih mengarah pada sektor
jasa yang lebih dinikmati oleh penduduk di desil terkaya (Susenas 2012,
diolah oleh Bank Dunia).
6. Kurangnya

akses

terhadap

sarana-prasarana

pendukung

ekonomi

mempengaruhi daya saing kelompok menengah ke bawah. Hal ini


berdampak pada terbatasnya produktivitas masyarakat miskin dalam
mengembangkan kegiatan ekonomi.
7. Tingkat pertumbuhan penduduk miskin relatif lebih tinggi dibandingkan
penduduk kelompok ekonomi menengah ke atas. Hal ini ditunjukkan
dengan data SDKI (2012), dimana angka fertilitas pada kuantil terendah
(TFR = 3,2) jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kuantil tertinggi

(TFR = 2,2). Dengan kondisi tingkat pendapatan yang lebih rendah


danjumlah anggota keluarga yang banyak maka pertumbuhan konsumsi
per kapita menjadi lebih rendah.
8. Keterbatasan kepemilikan lahan dan aset produktif yang membatasi
peningkatan produksi dan skala usaha yang mengakibatkan rendahnya
pendapatan mereka.

C. Peran Pemerintah
Menurut Yustika (2002: 27) pelaksanaan pembangunan tidak semata-mata
diarahkan hanya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga
ditekankan pada peningkatan pemerataan pendapatan, yang pada gilirannya
diharapkan dapat mengurangi kesenjangan pendapatan antar golongan penduduk
dan mengentaskan kemiskinan.Secara teoretis, semakin banyaknya program
penanggulangan kemiskinan menjadikan jumlah kemiskinan dapat ditekan
serendah mungkin. Sistem pemerintahan desentralisasi juga memungkinkan
pelayanan kepada masyarakat miskin semakin cepat dan sesuai kebutuhan
masyarakat. Sayangnya, dari sejumlah hasil penelitian tentang program-program
pengentasan kemiskinan, ternyata hasilnya masih sama dengan sebelum
digulirkan program pengentasan kemiskinan tersebut.
Sebelum ini, pemerintah juga sudah meluncurkan banyak program untuk
mengurangi kemiskinan, misalnya :
1. Inpres Desa Tertinggal (IDT) dengan tujuan menciptakan kesetaraan desa
dan menciptakan lapangan pekerjaan.
2. Inpres kesehatan dengan tujuan memberikan pelayanan kesehatan yang
mudah dan yang murah untuk penduduk pedesaan.
3. Inpres pendidikan bertujuan memberikan layanan pendidikan gratis untuk
pendidikan sekolah dasar sampai menengah
4. Inpres obat-obatan yang bertujuan untuk memberikan kesehatan kepada
masyarakat miskin.

Disamping inpres, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan


yang tujuannya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan penduduk pedesaan,
di antaranya melalui :
1. Kredit Usaha Tani (KUT) untuk memudahkan petani mendapatkan modal.
2. Kredit Perbankan untuk memudahkan masyarakat mendapatkan modal
diluar sektor pertanian.
3. Pembebasan pajak untuk hasil pertanian.
4. Subsidi untuk pupuk dan obat-obatan pertanian.
5. Operasi beras murah dan beberapa program lainnya.

D. Pengentasan Kemiskinan
Menurut Faisal (2002: 99) untuk menghapus masalah kemiskinan di
Indonesia, perlu dilakukan langkah-langkah merombak struktur yang otoritarian
dan monopolistik, dengan strategi penguatan posisi politik dan ekonomi kelompok
masyarakat miskin. Penguatan posisi politik dapat dilakukan dengan mendorong
pengorganisasian diri masyarakat miskin. Penguatan posisi politik dapat
dilakukan dengan mendorong pengorganisasian diri masyarakat miskin demi
tindakan yang partisipatif, dengan cara merubah peraturan yang membatasi
(seperti masalah perizinan atau formalisasi) menjadi peraturan yang memfasilitasi.
Sementara, penguatan ekonomi dilakukan dengan strategi merombak struktur
ekonomi yang monopolistik dan antipersaingan menjadi struktur yang lebih adil
dan kondusif, serta strategi untuk meningkatkan akses kelompok masyarakat
miskin terhadap sumber daya. Untuk mewujudkan perlu upaya yang simultan dan
komprehensif sebagai berikut :
1. Memfokuskan investasi di bidang pengembangan sumber daya manusia,
khususnya pendidikan dasar.
2. Menyusun kebijakan yang mengarah pada stabilitas ekonomi dengan
menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat tercapai dan hasilnya
bisa terdistribusikan pada seluruh lapisan masyarakat secara adil.
3. Menciptakan lingkungan kompetisi yang adil bagi usaha kecil, dengan
jalan merombak stuktur ekonomi yang monopolistik dan antipersaingan.

4. Meningkatkan akses kelompok ekonomi kecil terhadap berbagai sumber


daya ekonomi.
5. Melakukan deregulasi terhadap komoditi yang pemasarannya diatur atau
dipegang pemerintah.
6. Mengubah bentuk insentif institusional bagi birokrat di tingkat lokal,
dengan jalan memberikan pelayanan perizinan usaha secara gratis.
7. Menghapuskan berbagai pungutan bagi usaha kecil.
8. Menghapuskan

kredit

bersubsidi

pada

bunga

dan

membiarkan

penyediaaan kredit berjalan dengan mekanisme pasar.


9. Mengalihkan subsidi dalam bentuk bantuan biaya operasional untuk
institusi yang mempunyai kinerja baik.
10. Mendorong kemungkinan pembentukan lembaga akreditasi nirlaba bagi
institusi keuangan yang independen.
11. Meningkatkan transparansi dan accountability.
12. Mendorong pengunaan model skim pembiayaan oleh lembaga perbankan
terhadap usaha kecil.
13. Mendorong kemungkinan pembentukan lembaga penjamin bagi usaha
kecil untuk pinjaman yang lebih besar,misalnya ke bank.
14. Melonggarkan perizinan pendirian organisasi seperti serikat kerja.
15. Menyediakan lembaga konsultasi untuk membantu masyarakat paling
miskin.
16. Memacu penyediaan lapangan kerja penuh dan produktif serta
memperkuat integrasi sosial.
17. Mancabut distorsi kebijakan terhadap produsen pertanian.
18. Melonggarkan peraturan yang membatasi permintaan tenaga kerja.
19. Mendorong investasi pada infrastuktur fisik, penyuluhan pertanian.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk
memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat
berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
2. Kemiskinan di Indonesia disebabkan sangat terbatasnya peluang atau
kesempatan yang dimiliki kelompok tersebut dalam mengakses sumber
daya pembangunan.
3. Peran pemerintah untuk pengentasan kemiskinan contohnya dengan
menciptakan lapangan pekerjaan, memberi pelayanan kesehatan yang
mudah dan murah, memberikan pelayanan pendidikan gratis,
memberikan kesehatan kepada masyarakat miskin. Selain itu juga
pemerintah mengeluarkan kebijakan seperti Kredit Usaha Tani (KUT),
Kredit perbankan untuk modal, pembebasan pajak untuk hasil
pertanian, subsidi untuk perlengkapan pertanian, operasi beras murah
dan beberapa program lainnya.
4. Untuk menghapus masalah kemiskinan di Indonesia, perlu dilakukan
langkah-langkah

merombak

struktur

yang

otoritarian

dan

monopolistik, dengan strategi penguatan posisi politik dan ekonomi


kelompok masyarakat miskin. Penguatan posisi politik dapat dilakukan
dengan

mendorong

pengorganisasian

diri

masyarakat

miskin.

Penguatan posisi politik dapat dilakukan dengan mendorong


pengorganisasian diri masyarakat miskin demi tindakan yang
partisipatif, dengan cara merubah peraturan yang membatasi (seperti
masalah

perizinan

atau

formalisasi)

menjadi

peraturan

yang

memfasilitasi. Sementara, penguatan ekonomi dilakukan dengan


strategi

merombak

struktur

ekonomi

yang

monopolistik

dan

antipersaingan menjadi struktur yang lebih adil dan kondusif, serta


strategi untuk meningkatkan akses kelompok masyarakat miskin
terhadap sumber daya.

B. Saran
1. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, mari kita dukung
semua program pemerintah dengan sungguh-sungguh demi masa
depan bangsa dan negara Indonesia terbebas dari kemiskinan.
2. Marilah kita tingkatkan kepedulian dan kepekaan sosial untuk
membantu saudara kita yang masih mengalami kemiskinan.
3. Pemerintah sebaiknya menjalankan program terpadu secara serius
dan bertanggungjawab agar dapat segera mengatasi masalah
kemiskinan di Indonesia.

10

DAFTAR RUJUKAN

Basri, F. 2002. Perekonomian Indonesia: Tantangan Dan Harapan Bagi


Kebangkitan Ekonomi Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Perpres No 2 Tahun 2015 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional 2015-2019. www.bappenas.go.id. Diakses tanggal 7 April 2015.
Suparmono. 2004. Pengantar Ekonomika
Yogyakarta:UPP AMP YKPN.

Makro

(A.Sudarman,

Ed.).

Universitas Negeri Malang. 2010. Pedoman Penilisan Karya Ilmiah: Skripsi,


Tesis,
Disertasi, Artikel, Makalah, Laporan Penelitian. Edisi Kelima.
Malang: Universitas Negeri Malang.
Yustika, A.E (Ed). 2005. Perekonomian Indonesia: Deskripsi, Preskripsi, &
Kebijakan. Malang: Bayumedia Publishing.

11