Anda di halaman 1dari 31

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

TATA TERTIB PRAKTIKUM


1. PRAKTIKAN HARUS DATANG 15 MENIT SEBELUM PRAKTIKUM DIMULAI.
2. PRAKTIKAN WAJIB MEMAKAI PAKAIAN RAPI, MEMAKAI WEARPACK,
SEPATU, DAN KAOS KAKI.
3. PRAKTIKAN DILARANG MEMAKAI AKSESORIS, RAMBUT PRAKTIKAN
LAKI-LAKI PENDEK RAPI DAN PEREMPUAN DIKUNCIR.
4. PRAKTIKAN

DILARANG

MEROKOK

DAN

MEMAKAI

HANDPHONE

SELAMA KEGIATAN PRAKTIKUM BERLANGSUNG.


5. PRAKTIKAN DIWAJIBKAN MEMBERSIHKAN SERTA MERAPIKAN ALAT
DAN MESIN SETELAH PRAKTIKUM SELESAI.
6. PRAKTIKAN DIWAJIBKAN MENJAGA KEBERSIHAN DAN KERAPIHAN
RUANG LABORATORIUM.
7. APABILA TERJADI KERUSAKAN / KEHILANGAN MESIN ATAU ALAT,
PRAKTIKAN DIWAJIBKAN MENGGANTI BARU / MEMPERBAIKI DENGAN
BIAYA DITANGGUNG PRAKTIKAN TERSEBUT.
8. PRAKTIKAN WAJIB MENGIKUTI PRAKTIKUM DENGAN SERIUS DAN
TIDAK

DIPERBOLEHKAN

BERSENDA

GURAU

SELAMA

PROSES

PRAKTIKUM BERLANSUNG.
9. PRAKTIKAN WAJIB MENGIKUTI INSTRUKSI DARI ASISTEN DAN AKTIF
SELAMA PRAKTIKUM.
10. SETIAP

PRAKTIKAN

WAJIB

MEMBUAT

TUGAS

DAN

LAPORAN

PRAKTIKUM SESUAI BATAS WAKTU YANG TELAH DITENTUKAN.


11. APABILA PESERTA MELANGGAR PERATURAN DAN PETUNJUK YANG
TELAH DITETAPKAN AKAN DIKENAKAN SANKSI.
12. SELURUH

PRAKTIKAN

WAJIB

MENGIKUTI

SEMUA

KEGIATAN

PRAKTIKUM, APABILA TIDAK HADIR TANPA IZIN AKAN DIBERIKAN


SANKSI NILAI E.

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

PETUNJUK PEMBUATAN LAPORAN


Tujuan pembuatan laporan adalah untuk mendokumentasikan semua kegiatan
praktikum yang sudah dikerjakan, memberi informasi data pengujian yang
diperoleh dan menyimpulkan hasil pengujian dalam praktikum.
1. Bentuk
Ukuran kertas A-4 (210 x 297) mm, 80 gram
Ditulis tangan dengan tinta biru pada satu muka dengan ketentuan :
Batas tepi atas

= 4 cm

Batas tepi bawah

= 3 cm

Batas tepi kiri

= 4 cm

Batas tepi kanan

= 2 cm

Halaman sampul kertas buffalo (disediakan oleh asisten)


2. Sistematika
Bagian Pendahuluan
Halaman judul
Halaman pengesahan
Halaman kata pengantar
Halaman daftar isi
Halaman tabel/gambar
Batang Tubuh
Teori yang digunakan
Peralatan yang digunakan
Data hasil praktikum
Pengolahan data
Kesimpulan
Laboratorium Metalurgi Fisik
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

Daftar Pustaka
Lampiran
PENDAHULUAN
Dalam merancang suatu produk baru, kita harus mengetahui karakteristik
dari bahan yang akan digunakan dan sesuai dengan model serta kekuatan dari
produk yang akan dibuat. Karena kehandalan suatu produk salah satunya
ditentukan oleh sifat dari bahan yang digunakan. Bahan penentu utama kekuatan
suatu produk adalah kekuatan dari bahannya disamping bentuk dan cara
memproduksinya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pemilihan bahan dan karakteristik
optimum, harga, pengadaan dan mengubahnya dalam desain yang aman. Untuk
dapat menentukan teknologi pengolahannya, kita harus dapat memilih bahan yang
memenuhi persyaratan khusus seperti kekuatan, kekerasan, struktur material dan
sebagainya.
Untuk mengetahui sifat-sifat suatu bahan adalah dengan melakukan suatu
pengujian terhadap bahan-bahan tersebut. Pengujian yang dilakukan ditujukan
untuk mengetahui berbagai sifat fisis dan sifat mekanis suatu material. Pengujian
pada bahan yang akan dilakukan antara lain:
1. Uji Tarik
2. Uji Heat Treatment
3. Uji Kekerasan
4. Uji Jominy
5. Uji Mikrografi

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

A. TOPIK
Uji tarik (Tensile Test)
B. TUJUAN
1. Melakukan percobaan tarik pada Universal Testing Machine
2. Mengetahui besarnya kekuatan maksimum (u) dan regangan maksimum
(%EL)
3. Membuat grafik tegangan regangan.
4. Mengetahui besarnya kontraksi (%AR)
C. TEORI
1. BEBAN (F)
Beban adalah gaya yang diberikan atau yang harus ditahan oleh
benda uji (spesimen). Dengan menggunakan tekanan hidrolis beban dapat
diberikan sedikit demi sedikit. Besar beban dapat dilihat pada dial indicator
pada mesin uji tarik.
2. REGANGAN (e)
Benda yang diberi beban tarik akan mengalami pertambahan
panjang baik sesaat maupun permanen. Dalam pemasangan spesimen ada
bagian yang dijepit sehingga diperlukan pengukuran panjang batang uji.
Pertambahan panjang (L) dibagi dengan panjang batang mula-mula (Lo)
ini yang disebut dengan regangan. Rumus dari regangan yaitu :
e

Li Lo
X 100%
Lo

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

3. TEGANGAN ()
Tegangan adalah reaksi yang timbul diseluruh bagian spesimen
dalam rangka menahan beban yang diberikan. Nilai tegangan ini
merupakan perbandingan antara beban (F) yang diberikan terhadap luas
penampang (A), atau dapat dirumuskan sebagai berikut:

F
A

4. DIAGRAM TEGANGAN REGANGAN


Apabila tegangan diplot di sumbu vertikal dan regangan diplot di
sumbu horizontal maka didapatlah diagram tegangan-regangan.

Keterangan : A. Yield strength


B. Ultimate tensile strength.
C. True ultimate tensile strength.
D. True rupture strength.
E. Rupture strength.
F. Percent Elongation ( %EL )
Laboratorium Metalurgi Fisik
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

5. MODULUS ELASTISITAS
Modulus elastisitas adalah perbandingan antara tegangan () dan
regangan elastis (e). Rumus dari modulus elastisitas :

6. BATAS ELASTIS
Batas elastis adalah tegangan terbesar yang masih dapat ditahan oleh
material tanpa terjadinya regangan permanen yang terukur pada saat beban
ditiadakan.
7. YIELD STRENGTH ( Kekuatan Luluh )
Yield Strength ( Kekuatan Luluh ) adalah kekuatan suatu material
untuk mengalami deformasi plastis. Pada keadaan ini ditandai dengan garis
diagram tegangan-regangan yang tidak linier lagi. Nilai besaran ini adalah
besar gaya pada saat luluh dibagi luas penampang.
y

Fy
Ao

8. ULTIMATE TENSILE STRENGTH ( Kekuatan Tarik Maksimum )


Ultimate Tensile Strength adalah tegangan maksimum yang dapat
ditahan oleh batang uji sebelum patah. UTS merupakan suatu perbandingan
antara beban maksimum (Fm ) yang dicapai selama percobaaan tarik dan
penampang batang mula-mula (Ao)]. Tegangan tarik dirumuskan :
u

Fm
Ao

9. KONTRAKSI ( %AR )

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

Kontraksi adalah pengerutan atau pengecilan luas penampang pada


batas penampang.
% AR

Ao Au
x100%
Au

10. SIFAT MEKANIK MATERIAL


Material yang dipakai adalah baja ST 40 dan ST 60 (standar DIN
17006), memiliki kekuatan tarik maksium 400 N/mm2 dan 600 N/mm2
tanpa perlakuan. Baja ST 40 dan ST 60 tergolong dalam baja karbon
medium.
D. PERALATAN PERCOBAAN
1. Universal Testing Machine (GD 1100-100)
2. Test piece (batang uji), vernier caliper, mistar baja, spidol
E. LANGKAH PERCOBAAN
1. Ukur diameter batang uji (do , lo).
2. Hidupkan mesin uji Tarik dengan menekan push button on.
3. Pasang spesimen pada upper damping head mesin uji tarik.
4. Atur posisi spesimen menggunakan komputer pengoperasi mesin uji
Tarik sampai mendekati lower damping head.
5. Batang uji harus tercekam dengan baik pada upper dan lower damping
head.
6. Setting nol pada komputer pengoperasi mesin uji Tarik.
7. Klik Start untuk memulai pengujian.
8. Amati dan baca besarnya gaya tarik pada layar monitor (saat maks dan
patah) dan perpanjangan (L ) yang dialami benda uji akibat gaya tarik
(maksimum dan patah).
9. Lepaskan spesimen dari alat uji Tarik.
Laboratorium Metalurgi Fisik
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

10. Ukur diameter dan panjang benda uji setelah patah (du dan lu).

A. TOPIK
Heat Treatment
B. TUJUAN
1. Mengetahui macam-macam proses heat treatment
2. Membandingkan material hasil heat treatment untuk mendapatkan sifat
mekanik material yang diinginkan dengan melakukan proses heat
treatment dilihat dari aspek nilai kekerasan material nya.
3. Membandingkan kekerasan suatu material yang mendapat perlakuan
panas dengan yang tidak mendapat perlakuan panas.
4. Menentukan pengaruh pendinginan dengan berbagai perlakuan dengan
media udara dan air.
C. TEORI
Heat Treatment adalah proses pemanasan dan pendinginan yang terkontrol
terhadap logam, sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Tujuan dari Heat
Treatment, yaitu :
Laboratorium Metalurgi Fisik
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

Untuk memepersiapkan material untuk proses berikutnya.

Mempermudah proses machining.

Untuk mengurangi kebutuhan daya pembentukan dan kebutuhan


energi.

Mengubah sifat mekanik material seperti kekerasan, keuletan, dll.

Proses Heat Treatment terdiri dari :


Heat Treatment

Hardening
Surface hardening
Zat :

Quenching

Softening
Annealing

Normalizing

Tempering

Media air

Full annealing

Suhu rendah

Air garam

Partial annealing

Suhu sedang

Nitriding

Oli

Strees relief annealing

Suhu tinggi

Nitrocarburizing

Udara

Sphereodizing

Carburizing

Boronizing
Tanpa Zat :
Flame hardening
Laboratorium Metalurgi Fisik
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

Induction hardening
Dalam percobaan ini hanya menentukan kekerasan dari suatu material yang
sesuai dengan kebutuhan. Kekerasan (hardness) adalah sifat mekanis yang
berkaitan dengan kekuatan dan merupakan fungsi dari kandungan karbon
dalam logam.

Gambar Struktur Mikro Besi Karbon dan Besi dari Diagram Fasa
Dari gambar diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Anil : terjadi transformasi + karbida normal
Proses pendinginannya berlangsung lambat, sehingga terjadi tegangan sisa
dan retakan akibat panas dapat dihindari. Disamping itu juga agar terbentuk
perlit kasar dan produk yang cukup lunak.
b. Celup langsung dari austenit ke martensit
Austenit lebih padat daripada mertensit (dan juga lebih padat dari ferit +
karbida), Sehingga bagian tengahnya pendinginan berlangsung dengan
Laboratorium Metalurgi Fisik
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

10

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

lambat dan muai setelah permukaan yang lebih cepat pendinginannya


berubah menjadi martensit rapuh. Jika pada waktu transformasi ke
martensit cukup, baja paduan dapat didinginkan lebih lambat sehingga
permukaan dan bagian tengahnya bertransformasi serempak. Jika dapat
dihindari perbedaan perubahan volume dan terjadinya tegangan-tegangan
yang dapat menimbulkan retakan.
c. Celup putus
Pada proses ini, baja dicelup dengan cepat tanpa memotong hidung kurva
transformasi dan tercegahnya pembentukan ( + C), akan tetapi
pendinginan terputus diatas Ms. Pendinginan dilanjutkan namun lebih
lambat (dalam daerah martensit sampai suhu ruang), sehingga retak celup
dapat terhindar. Dari segi produksi, proses ini jauh lebih sulit, karena laju
pendinginan harus dirubah dari cepat ke tetap baru dilanjutkan ke
pendinginan lambat. Hasil akhir berupa martensit, harus distemper agar
memiliki ketangguhan.
d. Temper
Martensite biasanya keras sekali dan sangat rapuh karena mengandung
karbon. Hal ini kekerasan dan keuletan saling bertolak belakang. Kekerasan
dan tegangan tarik meningkat dengan naiknya kadar karbon, tetapi
ketangguhan dan keuletan menurun. Untuk mengatasi hal tersebut perlu
adanya perlakuan temper.

D. PERALATAN PERCOBAAN
1. Furnace Chamber HOFFMANN TYPE KL
2. Rockwell Hardness Tester Model HR-150A
3. Media pendingin (air dan udara)
Laboratorium Metalurgi Fisik
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

11

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

4. Material uji
E. LANGKAH PERCOBAAN
1. Masing-masing material diukur kekerasannya dengan standar Rockwell.
2. Masukkan material ke dalam Furnace Chamber sampai temperatur 850 oC
dan ditahan selama 10 menit.
3. Masing-masing material didinginkan dengan media pendingin.
4. Melakukan pengujian kekerasan pada material yang tidak mendapat
perlakuan panas dan yang mendapat perlakuan panas.
5. Membandingkan hasil pengujian kekerasan untuk material yang tidak
mendapat perlakuan panas dan yang mendapat perlakuan panas pada
material yang sama untuk media pendingin yang berbeda.
6. Melakukan pengujian mikrografi pada material yang tidak mendapat
perlakuan panas dan yang mendapat perlakuan panas.
7. Membandingkan hasil pengujian mikrografi untuk material yang tidak
mendapat perlakuan panas dan yang mendapat perlakuan panas pada
material yang sama untuk media pendingin yang berbeda.

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

12

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

A. TOPIK
Uji Kekerasan (Hardness Test)
B. TUJUAN
1. Melakukan pengujian kekerasan material.
2. Menentukan, membedakan kekerasan material : alumunium, kuningan,

baja, besi cor, tembaga.


3. Mengetahui kekerasan material dengan menggunakan metode kekerasan

Rockwell.
C. TEORI
Kekerasan adalah ketahanan suatu material terhadap deformasi plastis. Ada
3 metode yang dipakai untuk mendapatkan kekerasan suatu material yaitu
Metode Goresan (contohnya : metode skala Mohs, metode jarum penggores
dari intan), Metode Pantulan (contohnya : metode Scleroscope), dan Metode
Lekukan (contohnya: metode Brinell, metode Rockwell, metode Vickers,
metode Meyer). Metode yang sering dipakai yaitu :
1. Metode Brinell

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

13

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

Metode ini berupa pengidentasian sejumlah beban terhadap permukaan


material dengan

penetrator yang digunakan berupa bola baja yang

dikeraskan dengan diameter 10 mm 0,0045 mm dan standar bebannya


antara 500 s.d 3000 kgf. Lama penekanan antara 10 s/d 30 detik. Bola harus
berupa baja yang dikeraskan, ditemper, dan dengan kekerasan minimum
850 VPN.

HB =

D / 2( D D d
2

P
Dt

Dimana :
HB

= nilai kekerasan brinell

= beban yang diterapkan (kg)

= diameter bola (mm)

= diameter lekukan (mm)

= kedalaman jejak

Diameter lekukan diukur menggunakan mikroskop khusus. Diameter


lekukan yang telah diukur tersebut kemudian dikonversi menjadi nilai HB
dengan menggunakan tabel. Dalam penulisan simbol HB, dilengkapi
dengan indeks: diameter bola, beban, dan waktu pembebanan.
Contoh: 315/50//250/20, artinya:
315 adalah kekerasan menurut brinell
50 adalah diameter bola
250 adalah beban
20 adalah waktu
Laboratorium Metalurgi Fisik
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

14

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

2. Metode Rockwell
Dalam metode ini penetrator ditekan dalam benda uji. Harga kekerasan
didapat dari perbedaan kedalaman dari beban mayor dan minor. Jadi nilai
kekerasan didasarkan pada kedalaman bekas penekanan. Pengujian
kekerasan rockwell didasarkan pada kedalaman masuknya penekan benda
uji. Makin keras benda yang akan diuji, makin dangkal masuknya penekan
tersebut. Metode ini sangat cepat dan cocok untuk pengujian massal.
Karena hasilnya dapat secara langsung dibaca pada jarum penunjuk, maka
metode ini sangat efektif untuk pengetesan massal.

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

15

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

3. Metode Vickers
Metode ini mirip dengan metode Brinell, tetapi penetrator yang digunakan
berupa intan berbentuk piramida dengan dasar bujur sangkar dan sudut
puncak 1360. Beban yang digunakan biasanya antara 1 s/d 120 kg.
HV = 1,854
Dimana :
HV = Nilai kekerasan Vickers
P = Beban yang diterapkan
D = Diagonal rata-rata

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

16

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

Gambar Cara Pengukuran Diameter Pada Identor Vickers


D. PERALATAN PERCOBAAN
1. Rockwell Hardness Tester Model HR-150A
2. Amplas / grinder
3. Bahan uji : Alumunium, Kuningan, Baja, Besi cor, Tembaga
E. LANGKAH PERCOBAAN
1. Bersihkan permukaan benda uji dan amplas sehingga kedua permukaan
tersebut benar-benar rata dan sejajar.
2. Pasang penetrator diamond/steel ball sesuai dengan jenis material yang
akan diuji.
3. Pasang benda uji pada kedudukannya (anvil) lalu kencangkan dengan putar
handwheel hingga spesimen menyentuh penetrator dan jarum kecil pada
dial indikator menuju garis merah. ( error yang diijinkan 5 graduasi, jika
melebihi 5 graduasi maka harus dilakukan pengesetan ulang )
4. Atur dial indicator sehingga jarum besar tepat pada garis indikator C atau
B.
5. Tekan handle (15) ke depan untuk pengetesan pembebanan utama. Pada
saat itu jarum panjang akan berputar anticlockwise dan handle (16)
bergerak ke depan secara perlahan .

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

17

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

6. Ketika jarum panjang berhenti, dorong handle (16) untuk menghilangkan


pengetesan pembebanan utama. ( tekan handle (15) dan (16) secara
perlahan dan hati hati )
7. Lakukan pembacaan pada indikator. Untuk pengujian dengan diamond
penetrator, baca pada garis bagian luar indikator (garis berwarna hitam).
Untuk pengujian dengan steel ball penetrator baca pada bagian dalam
indikator (garis berwarna merah).
8. Putar handwheel berlawanan jarum jam untuk menurunkan spesimen.
Lakukan pengujian sampel selanjutnya sesuai prosedur 2 sampai 6
sebanyak 3 kali untuk masing-masing spesimen.
9. Bersihkan dan rapihkan alat uji bila tidak digunakan lagi.
Scale

Penetrator

Total Test Force

Symbols Measuring

1,588mm Steel

N(kgf)
980,7 (100)

Range
HRB 20-100

C
A

ball
120 diamond
120 diamond

1471 (150)
588,4 (60)

HRC 20-70
HRA 20-88

Gambar alat uji kekerasan

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

18

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

Keterangan :
1. Main Shaft

16. handle

2. Round Knife

17. can

3. Long rhombic knife

18. support plate

4. large lever

19. can gear

5. Push Rod

20. small knife

6. Top Lid

21. small lever

7. Buffer

22. adjusting plate

8. rack Shaft

23. connecting rod

9. Push Rod

24. indikator

10. Two weights

25. anvil

11. Hoisting ring

26. screw

12. Weight exchanging frame

27. handwheel

13. exchanging handle

28. fasten screw

14. oil pin

29. Protective jacket

15. handle
A. TOPIK
Laboratorium Metalurgi Fisik
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

19

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

Uji Jominy (Jominy Test)


B. TUJUAN
1. Melakukan percobaan Jominy test
2. Menentukan kemampukerasan material baja ST 40 dan ST 60
3. Membuat dan mengetahui kurva kemampukerasan material tersebut.
4. Untuk mengetahui pengaruh laju pendinginan terhadap nilai kekerasan
5. Memahami dan mempelajari fungsi diagram TTT dan diagram CCT
C. TEORI
Kemampukerasan adalah kemampuan suatu material untuk dikeraskan.
Kekerasan baja setelah dicelup dingin terutama tergantung pada kadar
karbonnya.

Gambar Proses Jominy Test


Untuk mendapatkan kekuatan dan keuletan yang baik pada baja,
pertama baja harus dikeraskan dengan mencelup dingin (quenching). Lebih
baik mempunyai

100 % martensit setelah dicelup dingin, tetapi untuk

mendapatkan 100 % martensit harus didinginkan


Laboratorium Metalurgi Fisik
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

pada pendinginan tertentu


20

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

yang lebih besar dari pendinginan kritis dari fasa austenit. Tetapi umumnya
bagi butiran austenit yang berukuran besar susah untuk mendapat laju
pendinginan yang lebih besar dari laju pendinginan kritis ditengah tengahnya.
Mampukeras baja dapat diperoleh dengan melihat diagram temperatur
transformasi dan waktu (diagram TTT) dan diagram pendinginan kontinu
(CCC) dari pendinginan kritisnya, atau dengan pengujian Jominy yang
dinamakan pengujian celup dingin ujung (The Jominy End-Quench Test),
untuk mendapatkan panjang daerah celup dingin.

Gambar Contoh Diagram TTT baja Fe3C

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

21

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

Gambar Contoh Diagram CCT baja Fe3C


Pada percobaan ini, batang bulat dengan ukuran tertentu dipanaskan di
daerah austenit dan dicelup pada ujungnya dalam air dengan kecepatan aliran
dan tekanan tertentu. Ujung yang terkena air mengalami pendinginan yang
cepat, oleh karena itu mempunyai kekerasan maksimum untuk kadar karbon
baja yang sedang diuji. Makin besar laju pendinginan kritis makin panjang
daerah celup dingin pada pengujian Jominy, makin baik kemampukerasannya.

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

22

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

D. PERALATAN PERCOBAAN
1. Bak pengujian
2. Rockwell Hardness Tester Type HR-150A
3. Furnace Chamber HOFMANN TYPE KL
4. Mesin Polish
5. Amplas
6. Baja ST 40 dan ST 60

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

23

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

E. LANGKAH PERCOBAAN
1. Masukkan material ke dalam tungku pemanas sampai temperatur 800 0 C
dan ditahan selama 1 jam
2. Ambil spesimen menggunakan penjepit dan letakkan spesimen pada
mounting fixture bak pengujian,
3. Nyalakan pompa penyemprot air, dan tunggu sampai spesimen dingin.
4. Bersihkan kerak yang menempel pada permukaan spesimen
5. Lakukan pengujian kekerasan pada 10 titik dari daerah awal pendinginan
dengan jarak 2 mm dengan metode Rockwell.
6. Catat hasil pengujian dan buat kurva kemampukerasannya

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

24

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

A. TOPIK
Mikrografi
B. TUJUAN
1. Mengetahui struktur mikro logam dan paduan dengan bantuan mikroskop.
2. Membandingkan struktur mikro logam hasil proses heat treatment dengan
struktur mikro logam dalam keadaan non heat treatment.
C. TEORI
Mikrografi adalah gambar yang menunjukkan struktur mikro pada hal ini
struktur logam dan paduannya. Ada dua macam pengujian struktur kristal yang
biasa dilakukan yaitu pengujian makro dan pengujian mikro.
2. Pengujian Struktur Makro
Salah satu dari pengujian struktur makro dari kristal adalah pengujian
penampang dimana bahan dinilai dari besar butir kristal, warna dan
mengkilatnya penampang dari batang uji atau produk yang dipatahkan.
Pengujian yang lain adalah dengan jalan mengetza dan pembesaran struktur
kristal, segregasi dan pemisahan cacat kecil setelah memoles patahan.
3. Pengujian Struktur Mikro
Pada umumnya kita bekerja dengan reflek pemendaran (sinar), pada
pemolisan atau etsa, tergantung pada permukaan logam uji dipolis, dan
diperiksa langsung di bawah mikroskop atau dietsa lebih dulu, baru
diperiksa dibawah mikroskop. Adapun beberapa tahap yang perlu dilakukan
sebelum melakukan pengujian struktur mikro, yaitu :
a. Sectioning/Pemotongan
b. Mounting/Pemegangan
c. Grinding/ Pengamplasan kasar
d. Polishing
e. Attack ( etching )
f. Foto (pemotretan)
Laboratorium Metalurgi Fisik
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

25

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

Gambar Diagram Fasa Fe-Fe3C


Tabel reaktan untuk proses pengetsaan
Material
Reaktan
Besi,
baja,
besi Nital HNO3 1-5 ml, 100 ml
paduan

Proses
Dicelup

ethanol (95%) atau methanol

dalam reaktan selama 1-5 detik,

(95%)

kemudian

dibilas

air

lalu

dikeringkan.
Teknik

Aluminium

Kellers HNO3 2,5 ml, HF 1

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Swabing
26

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

ml, HCl 1,5 ml, 95 ml aquades


Dicelup

dalam reaktan selama 1-15


detik, kemudian dibilas dengan
Tembaga, kuningan

Larutan I :

air

atau Cu alloy

25 ml NH4OH, 25 ml aquades,

didiamkan selama 24 jam

lalu

dikeringkan

dan

50 ml H2O2 (3%)
Larutan II :

Stainless steel

Dicelup

5 gr FeCl3, 50 ml HCl, 100 ml

1-10 detik, kemudian dibilas air

aquades

lalu dikeringkan

Larutan I :
10 ml HNO3, 10 ml Acetic
Acid, 5 ml HCl, 2-5 ml crops
gliserin
Larutan II :

Dicelup

5 ml HCl, 1 gr picric acid, 100

atau diswab beberapa saat (1-

ml

10 detik)

ethanol

(95%)

dan

methanol (95%)

Dicelup
dalam larutan selama 1-5 detik,

Amuntit (Tool steel)

Larutan I :

kemudian dicelup dalam cairan

Nital HNO3 1-5 ml, 100 ml

H2O2 (3%) selama 1-2 detik.

ethanol (95%) atau methanol

Lalu bilas air dan keringkan

(95%)
Larutan II :
1 gr picric acid, 100 ml
Dicelup
ethanol (95%) atau methanol
dalam reaktan selama 1-5 detik,
(95%)
Laboratorium Metalurgi Fisik
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

27

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

kemudian

dibilas

air

lalu

dikeringkan
Teknik

Swabing

Dicelup

/diswab 1-10 detik

Dicelup

ke larutan selama 1-5 detik,


lalu dicelup dalam H2O2 (3%)
selama 1-2 detik, lalu dibilas
air dan dikeringkan
D. PERALATAN PERCOBAAN
2. Polisher Grinder (amplas), Polisher (catton)
3. Kamera dan film serta mikroskop
4. Pipet, kain penggosok dan reaktan untuk etza
5. Mikroskop
6. Material uji, air
E. LANGKAH PERCOBAAN
1. Siapkan material yang akan dilihat struktur mikronya, dan peralatan yang
akan digunakan.
2. Pasang amplas pada mesin pemolis, dimulai dari polis yang paling kasar.
Pengamplasan dilakukan dalam keadaan basah untuk menghilangkan panas
dan pengotor dari benda uji.
3. Setelah cukup rata, maka ganti amplas dengan amplas yang agak halus
yaitu amplas nomor 800, kemudian amplas nomor 1200, dan yang terakhir
menggunakan amplas yang paling halus yaitu nomor 2000. Kemudian polis
dengan menggunakan autosol.
Laboratorium Metalurgi Fisik
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

28

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

4. Sebelum melakukan pengetzaan, permukaan benda uji harus sudah halus


dan datar. Pengetzaan dilakukan dengan mencelupkan material ke dalam
reaktan beberapa saat.
5. Cuci benda uji yang telah dietsa dengan aquades kemudian keringkan
sebelum diamati pada mikroskop.
6. Potret gambar apabila gambar yang diperoleh tampak jelas sesuai dengan
pembesaran pada mikroskop.
LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM STRUKTUR DAN SIFAT MATERIAL
I. UJI TARIK
A. BAJA ST 40
No

Do

Lo

Du

Lu

(mm)

(mm)

(mm)

(mm)

Fmaks (KN)

Fpatah (KN)

L =

L =

Fmaks (KN)

Fpatah (KN)

L =

L =

1
2
3

B. BAJA ST 60
No

Do

Lo

Du

Lu

(mm)

(mm)

(mm)

(mm)

1
2
3

Gambar patahan
Laboratorium Metalurgi Fisik
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

29

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

BAJA ST 40

BAJA ST 60

II. UJI KEKERASAN


A.
No

NON PERLAKUAN
BAJA ST

BAJA ST

BESI

40

60

COR

KUNINGAN TEMBAGA ALUMINIUM

1
2
3
B.

PERLAKUAN PANAS DENGAN PENDINGINAN UDARA


No BAJA ST 40
1
2
3

C.

BAJA ST 60

BESI COR

PERLAKUAN PANAS DENGAN PENDINGINAN AIR


No BAJA ST 40
1
2
3

BAJA ST 60

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

BESI COR

30

Jobsheet Praktikum Struktur dan Sifat Material

III. UJI JOMINY


A. BAJA ST 40

B. BAJA ST 60
No

JARAK

KEKERASAN

(mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Laboratorium Metalurgi Fisik


Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

31