Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

S I N YAL
Kompetensi :
Setelah menyelesaikan pertemuan ini, mahasiswa diharapkan :
- mampu menjelaskan pengertian tentang sinyal.
- mampu mengklasifikasikan macam-macam sinyal.
- mampu menganalisa sinyal waktu kontinyu dan diskrit, sinyal genap dan ganjil, sinyal real dan
kompleks, sinyal deterministik dan acak, sinyal periodik dan non-periodik, sinyal energi dan
daya.
- mampu mengenali berbagai macam sinyal dasar.
- mampu melakukan operasi dasar sinyal
.

1.1

Pengertian Sinyal
Sinyal mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan keseharian kita, karena

saat ini masyarakat tidak lepas dari kejadian alam seperti adanya perubahan temperatur,
kelembapan, arah angin, intensitas cahaya ataupun untuk melakukan komunikasi antar sesama
manusia melalui handphone diperlukan sinyal. Tanpa disadari bila kita memeriksakan diri ke
dokter biasanya akan diukur tekanan darah dan bila masuk ke ruang ICU kemungkinan akan
diperlihatkan denyut jantung seseorang yang ditampilkan dalam layar peralatan medis.
Sinyal merupakan gambaran dari suatu tanda atau pemberitahuan yang dapat ditangkap
oleh panca indera kita terutama untuk kepentingan penyampaian peringatan, petunjuk atau
informasi. Definisi yang lebih sederhana dari sinyal adalah sebagai perubahan kuantitas fisik
yang membawa pesan atau informasi. Satu hal yang membedakan antara sinyal dan gelombang
adalah masalah informasi; sinyal membawa informasi sedangkan gelombang tidak membawa
informasi.
Secara umum sinyal dapat dinyatakan secara matematis dalam bentuk fungsi satu atau
lebih variabel bebas. Sinyal yang mempunyai satu variabel bebas disebut sebagai sinyal satu
dimensi (1-D), sebagai contoh sinyal suara adalah sinyal 1-D yang memiliki amplitudo
tergantung pada satu variabel bebas yaitu waktu.
i(t)

g(x,y)

1 variabel

2 variabel

v(x,y,t)
3 variabel

Gambar 1.1 Pernyataan Sinyal Matematik

Sinyal dengan dua atau lebih dari variabel bebas disebut sebagai sinyal dua dimensi (2-D) atau
multi dimensi (M-D). Contoh sinyal dua dimensi adalah sinyal gambar dan untuk sinyal tiga
dimensi adalah berupa sinyal video. Notasi i(t), g(x,y) dan v(x,y,t) menyatakan nilai sinyal dari
fungsi variabel bebas.
Sinyal satu dimensi dapat dinyatakan ke dalam beberapa bentuk yaitu dalam bentuk grafik,
fungsional, tabular atau deret. Berikut ini diberikan contoh penulisan sinyal dalam beberapa
bentuk :
Grafik
:

Fungsional

15
10
5
0

1, untuk n=1,3
x [ n ]= 4, untuk n=2
:
0, n yang lain

Tabular :

n
x[n]

. . . -2

-1

5 ...

...

0 -1

0 ...

D3eret : x [ n ]={. .. 0 2 101 4 1 0 ... }

1.2

Klasifikasi Sinyal
Berdasarkan variabel bebas waktu, maka sinyal satu dimensi dapat dikelompokkan menjadi

sinyal waktu kontinyu dan sinyal waktu diskrit. Sinyal waktu kontinyu x(t) dinotasikan dengan
variabel bebas t dengan nilai sinyal yang terdefinisi pada setiap waktu, sedangkan sinyal waktu
diskrit x[n] dinotasikan dengan variabel bebas ndengan nilai sinyal terdefinisi pada waktuwaktu tertentu yang merupakan suatu deretan angka.. Dari sinyal waktu kontinyu x(t) dan diskrit
x[n] dapat dijabarkan menjadi sinyal analog dan digital, sinyal genap dan ganjil, sinyal real dan
kompleks, sinyal deterministik dan acak, sinyal periodik dan non-periodik, sinyal energi dan
daya.
1.2.1 Sinyal Analog dan Digital

Amplitudo
n
Amplitudo

Sinyal analog adalah sinyal yang mempunyai nilai untuk setiap waktu. Contoh dari sinyal
analog adalah sinyal suara, sinyal ECG, sinyal tegangan. Sinyal digital adalah sinyal yang tidak
setiap waktu terdefinisi, sinyal ini bersifat diskrit terhadap waktu. Sinyal digital berasal dari
sinyal analog yang disampling, yang artinya mengambil nilai suatu sinyal analog mulai t=0, t=t,
t=2t, t=3t dan seterusnya. Untuk mendapatkan sinyal diskrit hasil sampling, maka proses
sampling harus memenuhi syarat Nyquist:
fs 2 fMaks
dimana :

(1.1)

fs = frekuensi sampling
fMaks = frekuensi maksimum sinyal informasi yang disampel

(a) Sinyal Analog

(b) Sinyal diskrit

Gambar 1.2 Sinyal Kontinyu dan Diskrit.


1.2.2 Sinyal Genap dan Ganjil
Sinyal waktu kontinyu x(t) disebut sinyal genap bila :
x (-t) = x(t) untuk semua nilai t

(1.2)

dan disebut sinyal ganjil bila


x (-t) = - x(t) yang juga untuk semua nilai t.

(1.3)

Secara geometrik sinyal genap simetris terhadap sumbu vertikal dan sinyal ganjil tidak
simetris terhadap titik pusat sumbu koordinat O(0,0). Contoh yang paling sederhana untuk sinyal
genap adalah sinyal cosinus dan untuk sinyal ganjil adalah sinyal sinus.
Setiap sinyal waktu kontinyu x(t) dan waktu diskrit x[n] dapat diuraikan menjadi
komponen sinyal genap dan ganjil sehingga,
x(t) = xe(t) + xo(t)
dimana :

xe(t) adalah komponen sinyal genap


xo(t) adalah komponen sinyal ganjil

(1.4)

Dengan mensubstitusikan t = -t pada persamaan (1.3) akan menjadi


x(-t) = xe(-t) + xo(-t),
serta dengan menggunakan kaidah persamaan (1.2) dan (1.3) maka
x(-t) = xe(t) - xo(t)

(1.5)

Bila dilakukan eliminasi antara persamaan (1.4) dan (1.5) akan diperoleh
xe(t) =

1
[ x ( t ) + x (t ) ]
2

(1.6)

xo(t) =

1
[ x ( t )x (t ) ]
2

(1.7)

Contoh :
Tentukan sinyal genap dan ganjil dari sinyal x[n] = { 2 0 1 -2 1 0 -5 }
1.2.3 Sinyal Real dan Kompleks
signal x(t) adalah signal real bila nilai signal adalah bilangan real dan signal
x(t) adalah signal kompleks bila nilai signal adalah bilangan kompleks. Suatu bentuk umum
signal kompleks diberikan oleh
x(t) =x1(t) + i.x2(t)

(1.8)

dengan i =1 dan x1(t), x2(t) adalah sinyal real. Persamaan (1.8) bisa menyatakan bentuk dari
variabel bebas waktu kontinyu maupun diskrit.
1.2.4 Sinyal Deterministik dan Acak
Sinyal deterministik adalah sebuah sinyal dengan kemunculan nilai sinyal dapat
diperkirakan bila diberikan nilai variabel bebas tertentu. Jadi suatu sinyal deterministik dapat
dimodelkan oleh suatu fungsi dari variabel bebas. Sebagai contoh diberikan sinyal sebagai
berikut, x(t) = 2.cos (.t), bila variabel bebas dari t = 0 maka nila sinyal x(t) akan diperkirakan
menghasilkan nilai sebesar 2. Demikian pula bila t = 180 o akan diperkirakan nilai sinyal
sebesar -2.
Sinyal acak (random) adalah sebuah sinyal yang tidak dapat dimodelkan ke dalam bentuk
fungsi dari variabel bebas. Dengan kata lain bahwa jika sinyal acak bersifat probabilistik, yang
mempunyai pengertian bahwa bila diberikan nilai variabel bebas waktu t tertentu nilai sinyal

tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Contoh sinyal acak adalah sinyal noise, sinyal ECG
maupun sinyal EEG
1.2.5 Sinyal Periodik dan Non-Periodik
Sinyal kontinyu x(t) disebut sebagai sinyal periodik dengan periode T bila,
x(t) = x( t + T ), untuk setiap nilai t

(1.9)

atau
x(t) = x(t + mT), untuk beberapa bilangan positip m.
Sinyal diskrit x[n] disebut sinyal periodik dengan periode N bila,
x[n] = x[ n + N ], untuk setiap nilai n

(1.10)

atau
x[n] = x[n + mN], untuk beberapa bilangan positip m.
Bila sinyal waktu kontinyu maupun diskrit yang tidak memenuhi dari persamaan (1.9) dan (1.10)
disebut sebagai sinyal non-periodik. Berikut ini diperlihatkan gambar contoh dari sinyal waktu
kontinyu dan diskrit periodik.
x(t)
t
-2T

-T

2T

3T

(a)
x[n]

n
-3N -N

2N 3N

(b)
Gambar 1.3 Sinyal Periodik

(a) Kontinyu

(b) Diskrit

Gambar 1.3 (a) adalah sinyal kontinyu periodik dengan periode dasar T 0 sedangkan
gambar 1.3 (b) adalah sinyal diskrit periodik dengan periode dasar N0. Bilangan T0 dan N0 adalah
bilangan positip terkecil dari nilai T dan N yang memenuhi persamaan (1.9) dan (1.10).
Sebagai contoh :

1. Diberikan sinyal kompleks kontinyu x(t) = e


e
Bila

i 0 ( t+ T )

i 0 t

=e

.e

i 0 T

, maka

0 T =2 m

e i T = 1, maka

i 0 t

atau

T=

2
.m
0

i t
dengan m adalah bilangan bulat positip. Dengan demikian x(t) = e
0

Periode fundamental T0 adalah nilai terkecil dari T, yaitu


2. Diberikan sinyal kompleks diskrit x[n] = e

adalah bilangan rasional. Karena, bila


untuk

e i N

atau

0
2

i 0 n

2
0

, akan periodik bila hanya

e i (n+ N )=e i n .
0

T0=

adalah periodik.

e i N
0

0
2

e i n . Dipenuhi
o

= 1 atau 0.N = 2m, m bilangan bulat positip


m
N

= bilangan rasional

3. Diberikan sinyal kontinyu : x(t) = cos(15.t), maka periode fundamental x(t) adalah T0 =
2
0

2
15

. Interval sampling TS supaya x[n] = x[nTS] periodik memenuhi

TS m
m
=
=
T0 2 N0
15
Jadi nilai TS adalah

T s=

dengan m dan N0 adalah bilangan bulat positip.


m
m 2
.T = .
N 0 0 N 0 15

1.2.6 Sinyal Energi dan Daya


Misalkan v(t) adalah tegangan yang melintasi pada sebuah resistor R yang menghasilkan
suatu arus i(t), maka daya sesaat yang diserap oleh sebuah resistor didefinisikan sebagai

v (t)
p(t) = R

(1.11)

atau
2
p(t) = i ( t ) . R

(1.12)

Dalam banyak sistem nilai R biasanya dinormalisasi sebesar 1 ohm, sehingga secara umum daya
berbanding lurus dengan kuadrat tegangan atau arus. Oleh karena itu untuk sinyal x(t) tanpa
memandang apakah sinyal tersebut merupakan tegangan atau arus, maka daya sesaatnya
diberikan oleh
x 2(t)

p(t) =

(1.13)

Energi total dari sinyal kontinyu x(t) merupakan integral dari daya sesaat, yaitu

E=

x 2(t )

(1.14)

dan daya rata-rata didefinisikan sebagai energi total dibagi total waktu sehingga dapat ditulis
secara matematik sebagai berikut
lim 1
P= t
T

T
2

x 2 ( t ) . dt
T
2

(1.15)

Bila sinyal x(t) periodik dengan periode dasar T maka daya rata-rata menjadi
P=

1
T

T
2

x 2 ( t ) . dt
T
2

(1.16)

Untuk sinyal diskrit, persamaa (1.13) sampai dengan (1.15) diubah menjadi persamaan (1.16)
sampai dengan (1.18).

E=

x 2 [n]
lim 1

P=

(1.17)

2N

n=N

x 2 [n ]

(1.18)

N1

1
p=
N

x 2 [n]

(1.19)

n=0

Sinyal kontinyu x(t) atau sinyal diskrit x[n] disebut sebagai sinyal energi bila dan hanya
bila 0 E

, sehingga sinyal energi mempunyai daya nol. Sedangkan sinyal kontinyu x(t)

dan diskrit x[n] dinamakan sinyal daya bila dan hanya bila 0 P

, sehingga sinyal daya

mempunyai energi yang terbatas.

Sebagai contoh :
1. Diberikan sinyal kontinyu x(t) :
2 t
x ( t )= e , t 0
0, untuk t<0

maka energi sinyal x(t) adalah

E=

x ( t ) . dt= e4 t dt
2

. Dimisalkan u = -4t, maka

1
1
1
e u du= eu du= eu| 0
E= 4
4
4
0
E=

1 o 1
[ e e ]= [ 10 ] = 1
4
4
4

Karena sinyal energi mempunyai batasan 0

E<

, maka sinyal x(t) adalah sinyal

energi.
| t|
2. Diberikan sinyal x(t) = e
, maka

|x (t)| =

2
2|t |
x ( t )=e
dan juga bisa ditulis sebagai

e 2 t untuk t<0
e2 t untuk t >0

maka energi dari sinyal x(t) adalah

E=

|x (t )| . dt= e

2t

dt+ e2 t dt
0

|x (t )|

fungsi genap

e2 t dt
E = 2.
0

; dimisalkan u = -2t, maka

0
e du=e | =( 1e)=(10)=1

0
u

e du=

E=

E< , maka sinyal x(t) adalah sinyal energi. Untuk

Karena E memenuhi 0

memperoleh daya rata-rata, dihitung dulu


P=

1
T

T
2

|x (t)| . dt
T
2

kemudian hitung untuk T . Dengan menggunakan hasil sebelumnya didapat


1
P=
T

T
2

2|t|

T
2

dt

T
2

2
e2 t dt

T 0

Dengan memisalkan u = -2t diperoleh


0
T
1
1 u| 0
1 0
u
P= e du= e T = [e e 2 ]
T T
T
T
2
2
Jadi

P= lim

1
[1eT ]
=
T

lim

1
[ 10 ] =0
T

Terlihat hasilnya sesuai dengan kriteria x(t) adalah sinyal energi.


1.3

Sinyal Dasar
Beberapa sinyal dasar yang sering dijumpai dalam topik pengolahan sinyal dan sistem

diantaranya adalah sinyal unit impuls, sinyal unit step, sinyal signum, sinyal sinusoidal, sinyal
eksponensial, sinyal ramp dan fungsi sampling.
1.3.1 Sinyal Unit Impuls

Sinyal unit impuls sering disebut sebagai fungsi dirac atau fungsi delta. Sinyal ini banyak
digunakan untuk pemodelan berbagai fenomena fisik, diantaranya adalah tegangan / arus yang
terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Fungsi dirac didefinisikan sebagai
t2

x (t ) ( t ) dt=x (0)

t 1 <0< t 2

t1

dengan syarat x(t) kontinyu pada x = 0. Beberapa sifat fungsi delta tersebut adalah :
1. (0) = 1
2. (t) = 0 untuk nilai t 0

3.
4.

( t ) dt=1

(t ) adalah fungsi genap karena (t) = (-t)

Dalam bentuk diskrit fungsi delta dengan mudah dapat dinyatakan sebagai

[ n ]= 1, n=0
0, n 0
Fungsi impuls merupakan turunan pertama dari fungsi unit step, dan sebaliknya juga unit step
merupakan integral dari fungsi impuls.

( t )=

d
u(t)
dt

(1.20)

u ( t ) = ( ) d

(1.21)

(t)

[n]

(a)

....
.

....

-3 -2 -1 0

.
2 3

(b)

Gambar 1.4 Sinyal Unit Impuls (a) Kontinyu


1.3.2 Sinyal Unit Step

(b) Diskrit

Sinyal unit step kontinyu dan diskrit dedifinisikan oleh

u ( t ) = 1, t> 0
0, t< 0

(1.22)

u [ n ] = 1,n 0
0, n<0
Sinyal unit step kontinyu tidak terdefinisi pada saat t = 0, karena pada waktu tersebut terjadi
lonjakkan tiba-tiba dari 0 ke 1. Unit step kontinyu dan diskrit ditunjukkan pada gambar 1.5.
u(t)

u[n]

1
..

..

(a)

(b)

Gambar 1.5 Sinyal Unit Step (a) Kontinyu

(b) Diskrit

Sinyal rectangular dapat dibentuk dari penjumlahan dua sinyal unit step. Secara umum
sinyal rectangular dengan amplitudo A didefinisikan sebagai
A rect ( t /2 a )=A [u ( t+ a )u ( ta )]

(1.23)

Untuk sinyal rectangular seperti pada gambar 1.6 terbentuk dari persamaan-persamaan sebagai
berikut
x(t)

A
t
-1

-0.5

0.5

Gambar 1.6 Sinyal Rectangular


x 1 ( t )= A .u (t+ 0,5)
x 2 ( t )=A .u( t0,5)
sehingga menjadi

x ( t )=x 1 ( t ) + x 2 ( t )= A . u (t +0,5 ) A .u (t0,5)


x ( t )= A rect (t)

1.3.3 Sinyal Signum


Sinyal fungsi signum didefinisikan sebagai
sgn ( t )=

1, t > 0
{1,t
<0

(1.24)

Fungsi signum dapat juga dinyatakan dalam unit step sebagai


sgn ( t )=1+2. u(t)

(1.25)

sgn (t)

1
t
-1
Gambar 1.7 Sinyal Signum
1.3.4 Sinyal Sinusoidal
Secara umum sinyal sinus dan kosinus disebut sinyal sinusoidal. Sinyal kosinus pada
dasarnya adalah sinyal sinus yang digeser

/2 radian ke kiri. Sehingga sinyal kosinus dapat

dinyatakan dalam sinus dan begitu juga sebaliknya. Dalam pembahasan selanjutnya sinyal
sinusoidal yang digunakan adalah sinyal kosinus yang dinyatakan sebagai
x ( t )= A . cos ( t + )

dengan : A adalah amplitudo dalam (volt)


adalah frekuensi sudut dalam (radian / detik)
adalah sudut fasa dalam (radian)
Sinyal sinusoidal adalah sinyal sinyal periodik dengan periode

(1.26)

T=

(1.27)

Dalam bentuk diskrit sinyal sinusoidal diberikan oleh


x [ n ]= A . cos [ n+ ]

(1.28)

dengan : adalah frekuensi sudut diskrit dalam (radian / siklus) diberikan oleh
=

2 m
N

m, N = bilangan bulat

(1.29)

Tidak semua sinyal sinusoidal diskrit periodik. Untuk periodik frekuensi sudut harus merupakan
kelipatan 2 seperti ditunjukkan pada persamaan (1.29).

SINYAL KONTINYU SINUSOIDAL

2
1.5

A M P LIT U D O

1
0.5
0
-0.5
-1
-1.5
-2

0.5

1.5
2
WAKTU KONTINYU "t"

2.5

3.5

(a)
SINYAL DISKRIT SINUSOIDAL

2
1.5

A M P L IT U D O

1
0.5
0
-0.5
-1
-1.5
-2

0.5

1.5
2
WAKTU DISKRIT "n"

2.5

3.5

(b)
Gambar 1.8 Sinyal Sinusoidal (a) Kontinyu

(b) Diskrit

Sinyal sinusoidal kompleks dapat dinyatakan sebagai


x ( t )= A . e j (t + )= A . e jt . e j

< t<

A .cos ( t+ ) + jA . sin ( t+ )
dengan

(1.30)

e jt adalah sinusoidal kompleks dengan amplitudo 1 dan fase 0 serta

A e j

adalah

amplitudo r. Jika sinyal sinusoidal dikalikan dengan sinyal eksponensial menurun akan
didapatkan sinyal yang disebut sebagai sinyal sinusoidal teredam eksponensial. Sinyal sinusoidal
teredam eksponensial diberikan oleh persamaan (1.31) dan sinyal sinusoidal meningkat
eksponensial diberikan pada persamaan (1.32)
at

x ( t )= A . e

sin ( t + )

(1.31)

x ( t )= A . e at sin ( t+ )

(1.32)

SINYAL SINUSOIDAL TEREDAM EKSPONENSIAL

50

N IL A I S IN Y A L x (t )

40
30
20
10
0
-10
-20
-30
-40

6
8
10
WAKTU KONTINYU "t"

12

14

16

Gambar 1.9 Sinyal Sinusoidal Teredam Eksponensial

x 10

SINYAL SINUSOIDAL MENINGKAT EKSPONENSIAL

N IL A I S IN Y A L x (t)

-1

-2

-3
0

6
8
10
WAKTU KONTINYU "t"

12

14

16

Gambar 1.10 Sinyal Sinusoidal Meningkat Eksponensial

1.3.5 Sinyal Eksponensial


Secara umum sinyal eksponensial ini mempunyai bentuk
x ( t )= A . e ct

(1.33)
c >0

dengan A dan c adalah konstanta. Parameter A disebut amplitudo. Jika


c <0

eksponensial tersebut akan meningkat, sebaliknya bila

maka sinyal

maka sinyal eksponensial akan

menurun.
Untuk sinyal eksponensial waktu diskrit diberikan oleh
x [ n ]=B . r
a

r=e

dengan

meningkat. Bila

(1.34)

0<r <1

. Untuk
r <0

sinyal akan menurun, sedangkan untuk

r >1

sinyal akan mempunyai nilai positif dan negatif berselang-seling, nilai

positif ketika n genap dan negatif ketika n ganjil.

SINYAL DISKRIT EKSPONENSIAL MENURUN

35

35

30

30

25
20
15

25
20
15

10

10

0
-10

-8

-6

-4

-2
0
2
WAKTU DISKRIT "n"

SINYAL DISKRIT EKSPONENSIAL MENINGKAT

40

NILAI SINYAL X[n]

NILAI SINYAL X[n]

40

akan

10

0
-10

-8

-6

-4

-2
0
2
WAKTU DISKRIT "n"

(a)

10

(b)

Gambar 1.11 Sinyal Eksponensial Diskrit (a) 0 r 1

(b) r 1

1.3.6 Sinyal Ramp


Sinyal ramp didefinisikan oleh

r ( t ) = t ,t 0
0,t <0

(1.35)

Fungsi ramp juga dapat diperoleh dengan mengintegralkan fungsi unit step.
t

u ( ) d= d =r (t)

(1.36)

Dalam bentuk diskrit sinyal ramp diberikan oleh

r [ n ] = n , n 0
0, n< 0

(1.37)

Sinyal ramp ditunjukkan pada gambar 1.12


r(t)

tan =
1

Gambar 1.12 Sinyal Ramp


1.3.7 Sinyal Sampling
Fungsi yang paling sering muncul pada spektrum frekuensi adalah fungsi sampling
Sa (x) , yang didefinisikan sebagai
Sa ( x )=

sin ( x)
x

(1.38)

Fungsi Sa (x) merupakan fungsi sinus yang teredam karena nilai pembilangnya terbatas, yaitu

|sin x| 1 , namun penyebutnya akan terus naik. Fungsi tersebut adalah fungsi genap dan
memiliki puncak pada saat x = 0 dan akar-akar pada x = n. Fungsi yang berkaitan dengan
fungsi sampling adalah fungsi sinc ( x) , yaitu
sinc ( x )=

sin ( x)
=Sa (x )
x

(1.39)

Fungsi

sinc (x)

ditunjukkan pada gambar 1.13 yang menunjukkan fungsi

sinc ( x)

adalah

fungsi Sa (x) yang dikompresi dengan faktor kompresi .

FUNGSI SINC(X)

KONTINYU
DISKRIT

0.8

AMPLITUDO

0.6
0.4
0.2
0
-0.2
-0.4
-8

-6

-4

-2

0
WAKTU

Gambar 1.13 Sinyal Fungsi sinc ( x)


1.4

Operasi Dasar Sinyal


Ada dua macam operasi dasar yang biasanya dilakukan terhadap sinyal, yaitu operasi

terhadap variabel terikat dan operasi terhadap variabel bebasnya. Operasi pada variabel terikat
meliputi :
1. Penskalaan.
Bila x(t) adalah sinyal waktu kontinyu, maka penskalaan amplitudo diberikan oleh
y (t )=c . x (t)
(1.40)
dengan c adalah konstanta penskalaan. Bila nilai

c >1

dinamakan penguatan (amplifier)

dan bila 0<c <1 disebut sebagai pelemahan atau atenuasi.


untuk sinyal waktu diskrit diberikan oleh
y [ n ] =c . x [n]
2.

Begitu juga

(1.41)

Penjumlahan
Penjumlahan dari dua buah sinyal baik sinyal waktu kontinyu maupun diskrit diberikan oleh
y (t )=x 1 ( t ) + x 2 (t)

(1.42)

y [ n ] =x 1 [ n ] + x 2 [n ]

(1.43)

Contoh perangkat yang menggunakan prinsip penjumlahan adalah mixer audio atau sinyal
yang diterima dari antena.
3. Perkalian
Operasi perkalian sinyal salah satunya digunakan pada sistem modulasi sinyal DSB. Operasi
perkalian waktu kontinyu maupun diskrit diberikan oleh
y (t )=x 1 ( t ) . x 2 (t)

(1.44)

y [ n ] =x 1 [ n ] . x 2 [n]

(1.45)

4. Diferensiasi
Bila x(t) adalah sinyal waktu kontinyu maka diferensial terhadap waktu diberikan oleh
d
y (t )= x (t)
(1.46)
dt
Operasi diferensiasi terdapat pada komponen induktor, yaitu beda tegangan antara ujungujung induktor merupakan turunan pertama arus yang lewat pada induktor tersebut terhadap
waktu yang dikalikan dengan nilai induktansinya.
5. Integrasi
Bila x(t) adalah sinyal waktu kontinyu maka integral terhadap waktu diberikan oleh
t

y (t )= x ( ) d

(1.47)

Salah satu contoh operasi integrasi terdapat pada komponen kapasitor yaitu beda tegangan
antara ujung-ujung kapasitor yang sebanding dengan integral arus yang lewat pada kapasitor
tersebut terhadap waktu.
Operasi pada variabel bebas meliputi :
1.

Pergeseran
Operasi sinyal

t 0> 0

0
tt
x

merupakan operasi sinyal x(t) yang digeser sejauh

maka sinyal x(t) digeser ke kanan dan sebaliknya bila

Sebagai contoh :
Jika diberikan sinyal x(t) oleh

t 0< 0

t0

. Bila

maka digeser ke kiri.

t+1,1 t 0
x ( t )= 1, 0< t 2
t +3,2<t 3
0, yang lain
maka sinyal

x (t2) dan

x (t+3) dapat dicari sebagai berikut :

Pertama adalah dengan menggeser sinyal ke kanan sebanyak 2 satuan, dapat diperoleh
dengan mengganti t = t 2 sehingga didapatkan
t1,1 t 2
x ( t2 ) = 1, 2<t 4
t+5, 4<t 5
0, yang lain

Kedua adalah dengan menggeser sinyal ke kiri sebanyak 3 satuan. Dengan cara yang sama
diperoleh

t + 4,4 t 3
x ( t +3 )= 1,3<t 1
t ,1<t 0
0, yang lain

2.

Gambarkan ketiga sinyal tersebut !


Pencerminan
Operasi sinyal x (t ) diperoleh dari sinyal
pencerminan

terhadap

0.

Aplikasi

x (t)
dari

dengan melakukan
operasi

ini

adalah

merepresentasikan pemutaran balik dari kaset video recorder, dengan


asumsi kecepatan putar dan balik adalah sama.
Sebagai contoh :
Bila sinyal diskrit diberikan oleh
1, n=1
x [ n ]=
1, n=1
0, n=0 dan|n|>1

maka sinyal x[-n] dapat diberikan sebagai


1, n=1
x [ n ] =
1, n=1
0, n=0 dan|n|>1

Sehingga bila dijumlahkan kedua sinyal tersebut diperoleh hasil 0 untuk


3.

semua nilai n.
Penskalaan Waktu

Bila sinyal x(t) ingin dibentuk menjadi x(2t) atau

1
x( t)
2

maka pada

sinyal tersebut dilakukan operasi penskalaan waktu. Secara umum


operasi penskalaan waktu dapat ditulis sebagai
y (t )=x (at)
y [ n ] =x [kn]

(1.48)
(1.49)

Untuk sinyal waktu kontinyu bila a 1 maka sinyal tersebut akan


terkompresi, sedangkan bila 0 a 1 sinyal akan terekspansi. Untuk
sinyal waktu diskrit bila k 1 maka sebagian nilai akan hilang. Jika
operasi pergeseran dan penskalaan waktu dikombinasikan, yaitu untuk
mendapatkan y(t) = x(at-b) maka langkah pertama yang dilakukan
adalah pergeseran v(t) = x(t - b) dan langkah kedua baru penskalaan
waktu y(t) = v(at) = x(at - b).

LATIHAN SOAL
1. Tentukan bagian genap dan ganjil dari sinyal berikut :
a. x [ n ]={21 25 0 0,1 6 3 }
b.

h [ n ] =n 2

c.

t+1,1 t 0
x ( t )= 1, 0< t 2
t +3,2<t 3
0, yang lain

2. Tunjukkan apakah sinyal-sinyal berikut periodik atau tidak. Jika periodik


tentukan periodenya.
2
16
a. x ( t )=sin 3 t +2 sin 5 t
j

2
t
6

+2 e jt

b.

x ( t )=3 e

c.

x [ n ]=5 sin [ 0,1 n ] + 4 sin [

d.

x [ n ]=e

3
n]
4

2
n
3

3. Sinyal sinusoida x[n] mempunyai periode N = 5 sampel. Tentukan


frekuensi sudut terkecil supaya x[n] periodik
4. Tentukan apakah sinyal berikut termasuk sinyal energi atau daya
3 t
a. x ( t )=e u(t)
b.

x ( t )=5 cos ( 2 t )

5. Gambarkanlah x[2n] dan x[3n 1] untuk sinyal


1, n= 1
x [ n ]= 2, n= 2
3, n= 3
0, yang lain

6. Gambarkan sinyal x(3t), x(3t + 2), x(-2t 1) dari sinyal berikut


1

x(t
)

t
-1