Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
Kandidiasis adalah infeksi jamur tersering pada manusia. Di Amerika Serikat,
80 juta penduduk menderita gangguan kesehatan yang disebabkan Candida.
Kandidiasis terjadi di seluruh dunia dan menyerang segala usia, baik laki-laki maupun
wanita, tetapi data menunjukkan 70% penderitanya adalah wanita. Di Indonesia,
dialaporkan 84% penderita AIDS yang dirawat di RSCM juga menderita kandidiasis
oral yang disebabkan oleh jamur oportunistik candida albicans.
Candida merupakan jamur komensal yang antara lain hidup dalam rongga
mulut, saluran pencernaan, dan vagina. Akan tetapi, jika keseimbangan flora normal
seseorang terganggu atatupun pertahanan imunnya menurun, maka sifat komensal
candida ini dapat berubah menjadi pathogen. Beberpa spesies antara lain C. albicans,
C. stellatoidea, dan C. tropicalis yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Dari
beberapa spesies tersebut, C. albicans dianggap sebagai spesies paling pathogen dan
menjadi penyebab utama terjadinya kandidiasis.
Meningkatnya prevalensi kendidiasis juga disebabkan oleh berbagai faktor
predisposisi, seperti rendahnya daya tahan tubuh hospes; pasien menjalani pengobatan
dengan antibiotik spectrum luas dalam jangka lama; iritasi kronik akibat pemakaian
protesa yang tidak sesuai.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1.

DEFINISI
Kandidosis kutis adalah suatu penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur

dari genus Candida. Kandidosis terbagi menjadi 2 macam yakni kandidosis profunda
dan kandidosis superfisial. Nama lain kandidosis kutis adalah superficial kandidosis
atau infeksi kulit-jamur; infeksi kulit-ragi;kandidosisintertriginosa. Berdasarkan letak
gambaran

klinisnya

terbagi

menjadi

kandidosis

terlokalisasi

dan

generalisata.Predileksi Candida albicans pada daerah lembab, misalnya pada daerah


lipatan kulit. Karena organisme ini menyukai daerah yang hangat dan lembab.
1.2.

ETIOLOGI
Yang tersering sebagai penyebab adalah Candida albicans. Spesies patogenik

yang lainnya adalah C. tropicalis C. parapsilosis, C. guilliermondii C. krusei, C.


pseudotropicalis, C. lusitaneae.

1.3.

EPIDEMIOLOGI
Candida albicans adalah saprofit yang berkoloni pada mukosa seperti mulut,

traktus gastrointestinal, dan vagina. Merupakan jamur yang berbentuk oval dengan
diameter 2-6 um. Dan dapat hidup dalam 2 bentuk yakni bentuk hifa dan bentuk yeast.
Jumlah koloni sangat menentukan derajat penyakit, akan tetapi dilaporkan bahwa
frekuensi terjadinya di mulut 18 %, vagina 15 %, dan mungkin dalam feses 19 %.
Tapi kejadian tersebut dipengaruhi beberapa faktor seperti rumah sakit dan
kemoterapi.
Jamur ragi termasuk spesies kandida yang merupakan flora komensal normal
pada manusia dapat ditemukan pula pada saluran gastrointestinal (mulut sampai
anus). Pada vagina sekitar 13 % kebanyakan Candida albicans dan Candida glabrata.
Isolasi spesies kandida komensal oral berkisar pada 30 60 % ditemukan pada orang
dewasa sehat.

1.4.

PATOGENESIS
Candida albicans bentuk yeast-like fungi dan beberapa spesies kandida yang

lain memiliki kemampuan menginfeksi kulit, membran mukosa, dan organ dalam

tubuh. Organisme tersebut hidup sebagai flora normal di mulut, traktus vagina, dan
usus. Mereka berkembang biak melalui ragi yang berbetuk oval.
Kehamilan, kontrasepsi oral, antibiotik, diabetes, kulit yang lembab,
pengobatan steroid topikal, endokrinopati yang menetap, dan faktor yang berkaitan
dengan penurunan imunitas seluler menyediakan kesempatan ragi menjadi patogenik
dan memproduksi spora yang banyak pseudohifa atau hifa yang utuh dengan dinding
septa.
Ragi hanya menginfeksi lapisan terluar dari epitel membran mukosa dan kulit
(stratum korneum). Lesi pertama berupa pustul yang isinya memotong secara
horizontal di bawah stratum korneum dan yang lebih dalam lagi.Secara klinis
ditemukan lesi merah, halus, permukaan mengkilap, cigarette paper-like, bersisik, dan
bercak yang berbatas tegas. Membran mukosa mulut dan traktus vagina yang
terinfeksi terkumpul sebagai sisik dan sel inflamasi yang dapat berkembang menjadi
curdy material.
Kebanyakan spesies kandida memiliki faktor virulensi termasuk faktor
protease.kelemahan faktor virulensi tersebut adalah kurang patogenik. Kemampuan
bentuk yeast untuk melekat pada dasar epitel merupakan tahapan paling penting untuk
memproduksi hifa dan jaringan penetrasi. Penghilangan bakteri dari kulit, mulut, dan
traktus gastrointestinal dengan flora endogen akan menyebabkan penghambatan
mikroflora endogen, kebutuhan lingkungan yang berkurang dan kompetisi zat
makanan menjadi tanda dari pertumbuhan kandida.
Jumlah infeksi kandida meningkat secara dramatis pada beberapa tahun
terakhir, mencerminkan peningkatan jumlah pasien yang immunocompromised.
Secara spesifik, tampak makin bertambahnya umur semakin pula terjadi peningkatan
angka kesakitan dan kematian. Meskpin infeksi kandidiasis superfisial dipercaya
termasuk ringan, akan tetapi menyebabkan kematian pada populasi lanjut usia.
Candida albicans juga dapat menyerang kulit dengan folikel rambut yang aktif atau
istirahat.
Infeksi kandida diperburuk oleh pemakaian antibiotik, perawatan diri yang
jelek, dan penurunan aliran saliva, dan segala hal yang berkaitan dengan umur. Dan
pengobatan dengan agen sitotoksik (methotrexate, cyclophosphamide) untuk kondisi
rematik dan dermatologik atau kemoterapi agresif untuk keganasan pada pasien usia
lanjut memberikan resiko yang tinggi.
1.5.FAKTOR PREDISPOSISI
1. Bayi, wanita hamil, dan usia lanjut
2. Hambatan pada permukaan epitel; karena gigi palsu, pakaian

3. Gangguan fungsi imun


a. Primer; penyakit kronik granulomatosa
b. Sekunder; leukemia, terapi kortikosteroid
4. Kemoterapi
a. Imunosupresif
b. Antibiotik
5. Penyakit endokrin; diabetes mellitus
6. Karsinoma
7. Miscellaneous; kerusakan pada lipatan kuku.

1.6.

GEJALA KLINIS
Manifestasi klinis yang muncul dapat berupa gatal yang mungkin sangat

hebat. Terdapat lesi kulit yang kemerahan atau terjadi peradangan, semakin meluas,
makula atau papul, mungkin terdapat lesi satelit (lesi yang lebih kecil yang kemudian
menjadi lebih besar). Lesi terlokalisasi di daerah lipatan kulit, genital, bokong, di
bawah payudara, atau di daerah kulit yang lain. Infeksi folikel rambut (folikulitis)
mungkin seperti pimple like appearance.
1.6.1. Kandidosis Kutis Lokalisata
a. Kandidiasis Intertriginosa
Lesi yang terjadi pada daerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal,
lipat payudara, antara jari tangan atau kaki, glands penis, dan umbilikus.Berupa
bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah, dan eritematosa. Lesi tersebut
dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula
yang bila pecah meninggalkan daerah yang erosif, dengan pinggir yang kasar dan
berkembang seperti lesi primer.
Pada orang yang banyak mencuci, jamur ini menyerang daerah interdigital
tangan maupun kaki.Terjadi daerah erosi dan maserasi berwarna keputihan di
tengahnya. Disini juga terjadi lesi-lesi satelit di sekelilingnya. Kondisi ini
menimbulkan rasa tidak nyaman dan kadang bisa menimbulkan nyeri. Kandidosis
intertriginosa yang terjadi pada sela jari tangan maupun kaki dapat diikuti dengan
paronikia dan onikomikosis pada tangan atau kaki yang sama.

Gambar 2.5. Kandidiasis Intertriginosa

b. Kandidosis Perianal
Kandidosis perianal adalah infeksi Candida pada kulit di sekitar anus yang
banyak ditemukan pada bayi, sering disebut juga sebagai kandidosis popok atau
diaper rash. Hal ini terjadi karena popok yang basah oleh air kencing tidak segera
diganti, sehingga menyebabkan iritasi kulit genital dan sekitar anus. Penyakit ini
juga sering diderita oleh neonatus sebagai gejala sisa dermatitis oral dan perianal.
Popok yang basah akan tampak seperti area intertriginosa buatan,
merupakan tempat predisposisi untuk infeksi ragi. Lesi yang tampak berupa dasar
merah dan pustule satelit. Kadang sering dijumpai pula gejala pruritus ani.
Dermatitis popok sering diobati dengan kombinasi steroid krim dan lotion
yang mengandung antibiotic. Walaupun obat ini mungkin berisi klotrimazol yang
merupakan obat anti jamur, mungkin konsentrasinya tidak cukup untuk
mengendalikan infeksi jamur yang terjadi. Komponen kortison dapat mengubah
gambaran klinis dan memperpanjang penyakit. Bentuk nodular granulomatosis
kandidosis di daerah popok, muncul sebagai kusam, eritem, dan nodul dengan
bentuk yang tidak teratur, kadang-kadang dasar yang eritem merupakan reaksi
biasa untuk organisme Candida atau infeksi Candida yang disebabkan oleh
steroid. Meskipun infeksi dermatofit jarang terjadi di daerah popok, tetapi kasus
ini sering ditemukan. Setiap upaya harus dilakukan untuk mengidentifikasi
organism dan mengobati infeksi dengan tepat.

Gambar 2.6. Kandidiasis Perianal


1.6.2. Kandidosis Kutis Generalisata
Lesi terdapat pada glabrous skin, biasanya juga di lipat payudara, intergluteal,
dan umbilikus. Sering disertai glositis, stomatitis, dan paronikia. Lesi berupa
ekzematoid, dengan vesikel-vesikel dan pustul-pustul. Penyakit ini sering terdapat
pada bayi, mungkin karena ibunya menderita kandidiasis vagina atau mungkin karena
gangguan imunologik sehingga daya tahan tubuh bayi tersebut rendah.
Pada bayi baru lahir yang menderita kandidosis kutis generalisata, dengan
vesikulopustul di atas eritem muncul pada saat bayi baru lahir atau beberapa jam
setelah lahir. Lesi pertama kali muncul di muka, leher dan menyebar ke seluruh tubuh
dalam waktu 24 jam.

1.6.3. Paronikia dan Onikomikosis


Paronikia dan onikomikosis adalah peradangan kuku dan bantalan kuku.
Paronikia dapat bersifat akut dan kronis. Paronikia akut disebabkan oleh bakteri,
sedangkan paronikia kronis disebabkan oleh Candida sebagai pathogen tunggal atau

ditemukan bersamaan bersama dengan bakteri lain seperti Proteus atau Pseudomonas
sp.
Ini merupakan proses peradangan kronis pada lipatan kuku proksimal dan
matriks kuku. Hal ini terutama terjadi pada orang- orang yang tangannya sering
terendam dalam air seperti pada ibu rumah tangga, pegawai bar atau rumah makan,
penggemar tanaman, dan pegawai ikan. Pemakaian alat pencuci piring mekanis yang
semakin meluas mungkin berhubungan dengan penurunan insidensi kelainan ini.
Gambaran klinis berupa eritema pada lipatan kuku proksimal (boilstering),
pembengkakan tidak bernanah, kuku menjadi tebal, mengeras dan berlekuk-lekuk,
kadang-kadang berwarna kecoklatan, tidak rapuh, tetap berkilat, tidak terdapat sisa
jaringan di bawah kuku seperti pada tinea unguium, dan hilangnya kutikula. Hal ini
sering berhubungan dengan terjadinya distrofi kuku. Candida albicans mempunyai
peran patogenik, tetapi bakteri mungkin juga ikut menyertainya. Tidak adanya
kutikula memungkinkan masuknya bahan-bahan iritan seperti detergen ke daerah di
bawah kukuku proksimal, dan hal ini turut menyebabkan proses peradangan.
Kondisi ini cukup berbeda dengan paronikia bacterial akut, yang timbul cepat,
rasa sakit yang hebat, dan banyak nanah hijau. Penekanan pada lipatan kuku yang
bengakak pada paronikia kronis bias mengeluarkan butiran-butiran kecil nanah yang
berbentuk seperti krim susu dari bawah lipatan kuku, tetapi hanya itu saja yang
terjadi.

Gambar 2.7.Paronikia Dan Onikomikosis

1.6.4. Diaper-rash
Sering terdapat pada bayi yang popoknya selalu basah dan jarang diganti
sehingga dapat menimbulkan dermatitis iritan (perdadangan kulit karena kontak
dengan bahan yang menyebabkan iritasi), juga sering diderita bayi sebagai gejala sisa
peradangan kulit di mulut atau sekitar anus.

Gambar 2.8. Diaper-rash

1.6.5. Kandidosis Granulomatosa


Kelainan ini jarang dijumpai.HOUSER dan ROTHMAN melaporkan bahwa
penyakit ini sering menyerang anak-anak, lesi berupa papul kemerahan tertutup krusta
tebal berwarna kuning kecoklatan dan melekat erat pada dasarnya. Krusta ini dapat
menimbul seperti tanduk sepanjang 2 cm, lokalisasinya sering terdapat di muka,
kepala, kuku, badan, tungkai, dan faring.

1.7.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pada penampakan kulit, terutama jika ada

faktor resiko yang menyertai. Kerokan kulit dapat menunjukkan bentuk jamur yang
mendukung candida. Bahan-bahan klinis yang dapat digunakan untuk pemeriksaan
adalah kerokan kulit, urin, bersihan sputum dan bronkus, cairan serebrospinal, cairan

pleura dan darah, dan biopsi jaringan dari organ-organ visceral. Pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan antara lain :
1.Pemeriksaan langsung
Merupakan cara paling mudah dan metode yang paling efektif untuk
mendiagnosis, tapi tidak cukup untuk menyingkirkan bukti klinis yang lain.
Pemeriksaan dengan kerokan kulit dengan penambahan KOH 10% , akan
memperlihatkan elemen candida berupa sel ragi, balastospora , peudohifa atau hifa
bersepta. Pemeriksaan langsung tidak dapat menetukan identifikasi etiologi secara
spesifik dan kurang sensitive dibandingkan dengan biakan. Hasil negative tidak
selalu bukan disebabkan oleh Candida. Pemeriksaan langsung mempunyai nilai
sensitifitas dan spesifisitas sebesar 89,4% dan 83,90%. Pewarnaan gram juga
dapat digunakan dan akan memberikan hasil yang sama dengan yang
diperlihatkan pada pemeriksaan KOH 10%.
2.Pemeriksaan Biakan
Biakan merupakan pemeriksaan paling sensitive untuk mendiagnosis infeksi
Candida. Sabouraud Dextrose Agar (SDA) merupakan media standar yang
banyak digunakan untuk pemeriksaan jamur. Media ini mengandung 10 gr pepton,
40 gr glukosa, dan 10 gr agar, serta ditambahkan 1000 ml air. Penambahan
antibiotika pada SDA digunakan untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Biakan
diinkubasi pada suhu kamar yaitu 25-27 0 C dan diamati secara berkala untuk
melihat pertumbuhan koloni. Koloni berwarna putih sampai kecoklatan, basah,
atau mukoid dengan permukaan halus dan dapat berkerut. Hasil biakan dianggap
negative bila tidak ditemukan pertumbuhan koloni dalam waktu empat pecan.
3.Identifikasi Spesies
Meskipun gambaran klinis sulit dibedakan penentuan etiologi spesisik Candida
sampai ke tingkat spesies berguna untuk menentukan terapi dan prognosis.Adapun
cara mengidentifikasi Candida sp. dapat dilakukan dengan cara tradisional dan
komersil.
a. Germ Tube Test

Germ tube test merupakan cara yang digunakan untuk menentukan


indentifikasi spesies C. albicans. Pemeriksaan ini menggunakan media yang
mengandung serum dan diinkubasi pada suhu 370 C selama 2 jam. Bila
terdapat pertumbuhan germ tube atau sprout mycelium, berarti spesies tersebut
adalah C. albicans. Pertumbuhan Germ tube dikenal sebagai Fenomena
Reynols-Braude.

b. Penilaian Klamidospora
Penilaian Klamidospora menggunakan media commeal agar dengan Tween
890. Morfologi koloni Candida sp. dibedakan berdasarkan susunan
blastospora dan gambaran morfologi pseudohifa. Umumnya hanya C. albicans
yang menghasilkan klamidiospora.
c. Uji Asimilasi dan Fermentasi
Identifikasi Candida sp. dapat juga dilakukan berdasarkan kemampuan ragi
untuk mengasimilasi dan fermentasi karbohidrat yang berbeda utuk setiap
spesies. Candida albicans dapat mengasimilasi dan memfermentasi glukosa,
galaktosa, maltose, dan sukrosa.
d. CHROM agar candida
CHROM agar kandida merupakan cara komersil media biakan selektif untuk
mengidentifikasi Candida sp. Koloni C. albicans, C. tropicalis, C. glabrata,
dan C. krusei dapat dibedakan berdasarkan morfologi koloni dan warna yang
ditimbulkan oleh masing-masing koloni. Media ini mengandung 10 gr pepton,
20 gr glukosa, 0,5 gr kloramfenikol, 15 gr agar dan 2 gr chromogenic mix.
Chromogenic mix merupakan bahan yang menyebabkan perubahan warna
koloni pada Candida sp.
4.Serologi

Macam-macam prosedur pemeriksaan serologi direncanakan untuk mendeteksi


adanya antibodi Candida yang berkisar pada tes immunodifusi yang lebih
sensitive

seperti

counterimmunoelectrophoresis(CIE),

enzyme-linked

immunosorbent assay(ELISA), and radioimmunoassay (RIA). Produksi empat atau


lebih garis precipitin dengan tes CIE telah menunjukkan diagnosis kandidiasis
pada pasien yang terpredisposisi.

5.Pemeriksaan histologi
Didapatkan bahwa spesimen biopsi kulit dengan pewarna periodic acid-schiff
(PAS) menampakkan hifa tak bersepta. Hifa tak bersepta yang menunjukkan
kandidiasis kutaneus berbeda dengan tinea.

6.Uji sensitifitas secara cepat dan tepat berdasarkan PCR dari DNA dapat juga
digunakan untuk mengidentifikasi patogenitas candida dalam jaringan.

H.DIAGNOSIS BANDING
1. Kandidosis lokalisata dengan:
a.Dermatitis kontak
Pasien mempunyai riwayat konstipasi kronik dan biasa menggunakan obat
rangsang defekasi. Selama 7 bulan disertai dengan pruritus ani tapi baru-baru ini
berkembang menjadi erupsi yang menyeluruh, tidak berespon terhadap
glukokortikoid

dan

terapi

cahaya.

Daerah

ekskoriasi

yang

banyak

mengindikasikan gatal yang hebat. Lesi terutama mengenai daerah sekitar anus,
tanpa diketahui penyebabnya, bagian tubuh bawah, bokong, dan dareah genital.
Dermatitisnya berhenti saat obat rangsang dihentikan dan dia melakukan diet

bebas balsem. Pemeriksaan kolonoskopi menunjukkan iritasi minimal pada


kolon sigmoid dan rektum yang sesuai dengan spastic colitis.4
b.Erythrasma
Infeksi bakteri kronik pada stratum korneum yang disebabkan oleh
Corynebacterium minutissisum.Lesi kulit dapat berukuran sebesar miliar sampai
plakat.Lesi eritroskuamosa, berskuama halus kadang-kadang dapat terlihat
merah kecoklat-coklatan.Tidak terlihat adanya lesi satelit.Tempat predileksi di
daerah ketiak dan lipatan paha. Kadang-kadang berlokasi di daerah
intertriginosa lain terutama pada penderita yang gemuk. Pada pemeriksaan
lampu Wood lesi terlihat berfluoresensi merah membara (coral red).1
c.Dermatitis Intertriginosa
Lesi kulit berupa eritema, edema, vesikel atau bula, erosi dan eksudasi, sehingga
tampak basah.Tidak ditemukan lesi satelit. Penderita juga mengeluh gatal.1
d.Dermatofitosis (tinea)
2. Kandidosis kuku dengan tinea unguium
Pada tinea unguium kuku sudah tampak rapuh pada bagian distal pada bentuk
subungual distal dan tampak rapuh pada bagian proksimal pada bentuk subungual
proksimal. Biasanya penderita tinea unguium mempunyai dermatofitosis ditempat lain
yang sudah sembuh atau yang belum. Kuku kaki lebih sering diserang daripada kuku
tangan.

I.PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa :
1. Menghindari atau menghilangkan faktor predisposisi :
a. Pemakaian antibiotik secara hati-hati
b. Menghindari obesitas
c. Menghindari bekerja pada tempat-tempat yang lembap/banyak air
(Siregar, 2004).
2. Higiene sanitasi yang baik :
3. Menghentikan pemakaian obat-obatan yang tidak perlu
4. Mengobati penyakit sistemik yang mendasari
Medikamentosa
1.Topikal
Obat topikal untuk kandidiasis meliputi:

a.Larutan ungu gentian -1% untuk selaput lendir, 1-2% untuk kulit,
dioleskan sehari 2 kali selama 3 hari,
b. Nistatin: berupa krim, salap, emulsi,
c. Amfoterisin B,
d. Grup azol antara lain:
1)

Mikonazol 2% berupa krim atau bedak

2)

Klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dan krim

3)

Tiokonazol, bufonazol, isokonazol

4)

Siklopiroksolamin 1% larutan, krim

5)

Antimikotik yang lain yang berspektrum luas (Kuswadji, 2006).

2.Sistemik
a. Tablet nistatin untuk menghilangkan infeksi fokal dalam saluran cerna, obat
ini tidak diserap oleh usus.
b. Amfoterisin B diberikan intravena untuk kandidosis sistemik
c. Untuk kandidosis vaginalis dapat diberikan kotrimazol 500 mg per vaginam
dosis tunggal, sistemik dapat diberikan ketokonazol 2 x 200 mg selama 5
hari atau dengan itrakonazol 2 x 200 mg dosis tunggal atau dengan
flukonazol 150 mg dosis tunggal.
d. Itrakonazol bila dipakai untuk kandidosis vulvovaginalis dosis untuk orang
dewasa 2 x 100 mg sehari selama 3 hari.
3. Khusus:
a. Kandidiasis intertriginosa : pengobatan ditujukan untuk menjaga kulit tetap
kering dengan penambahan bedak nistatin topikal, klotrimazol atau
mikonazol 2 kali sehari. Pasien dengan infeksi yang luas ditambahkan
dengan flukonazol oral 100 mg selama 1-2 minggu atau itrokonazol oral
100 mg 1-2 minggu.
b. Diaper disease : Mengurangi waktu area diaper terpapar kondisi panas dan
lembab. Pengeringan udara, sering mengganti diaper dan selalu
menggunakan bedak bayi atau pasta zinc oxide merupakan tindakan

pencegahan yang adekuat. Terapi topikal yang efektif yaitu dengan nistatin,
amfoterisin B, mikonazol atau klotrimazol.
b. Paronikia : pengobatan dengan obat topikal biasanya tidak efektif tetapi
dapat dicoba untuk paronikia kandida yang kronis. Solusio kering atau
solusio antifungi dapat digunakan.Terapi oral yang dianjurkan dengan
itrakonazol atau terbinafin (Lies, 2005).
Penggolongan obat antimikotik
1. Polyenes
Antimikotik golongan polyenes ditemukan pada awal tahun 1950-an.
Golonganpolyenes efektif untuk melawan semua spesies ragi karena berikatan
dengan membransel jamur. Efek pengrusakan membran sel tergantung kuatnya
ikatan antara polyenes dengan sterol khususnya ergosterol yang banyak
dikandung oleh dinding sel jamur, sedangkan dinding sel manusia banyak
mengandung kolesterol (Wolfk et al, 2007).
Golongan polyenes yang paling banyak dipakai adalah nystatin. Obat ini
juga amandiberikan pada wanita hamil. Pemberian peroral tidak dapat diserap
oleh usus danhanya diberikan peroral untuk mengobati kandidiasis
gastrointestinal saja. Golongan polyenes yang lain adalah amphoterisin B.
Golongan polyenes bekerja dengan cara merusak membran sel eukariota
danmenimbulkan efek toksik pada membran jamur. Efek kerusakan membran
tersebutkarena polyenes mempunyai daya ikat yang tinggi dengan ergosterol
yang membentukmembran sel jamur(Wolfk et al, 2007).
2. Azol
Golongan azol dikembangkan sekitar akhir tahun 1960-an dan tersedia
dalam bentuk sediaan topikal dan sistemik.
3. Imidazol
a. Imidazol merupakan generasi pertama kelompok azol. Mikonazol
adalahimidazol yang pertama di pasaran, yang lainnya adalah: klotrimazol,
ekonazol,ketokonazol, isokonazol, omokonazol, oksikonazol, fentikonazol
dan tiokonazol. Darisemua imidazol hanya ketokonazol yang mempunyai
bentuk oral dan sistemik (Unair, 2007).
b. Cara kerja azol termasuk di sini derivat imidazol maupun triazol
adalahmelakukan penghambatan 14a-demethylase, suatu enzim dependent
cytochrom p 450yang sangat diperlukan untuk sintesa ergosterol. Golongan

imidazol mempunyai efekpenyembuhan klinis dan mikologis sebesar 8595%. Pemakaian yang hanya satu kaliperhari dan lama pemakaian hanya 1
sampai 7 hari yang dirasakan lebih nyaman untukpenderita maka banyak
dipakai sehingga menggeser pemakaian nystatin (Conny, 2006).
c. Berbagai macam derivat imidazol digunakan secara topikal, berbagai
penelitian yang telah dilakukan tidak membuktikan bahwa obat yang satu
lebih superior dari yang lainnya. Semuanya menunjukkan efektifitas yang
sama bila diberikan secara topikal, serta bebas dari efek samping sistemik
(Conny, 2006).
d. Sejak imidazol topikal pertama diperkenalkan, klotrimazol 100 mg selama
6 hari,merupakan terapi jangka panjang. Selanjutnya kecenderungan terapi
diarahkanmenjadi jangka pendek, klotrimazol 200 mg diberikan selama 3
hari. Akhir-akhir inidosis tinggi lokal yang diberikan hanya 1 kali menjadi
lebih disukai (klotrimazol 500 mg)dibandingkan dengan dosis tunggal
peroral dari azol generasi yang berikutnya.Ketokonazol adalah satu-satunya
imidazol yang dapat diberikan peroral dan sekarangmulai digeser
pemakaiannya dengan azol yang lainnya (Conny, 2006).
4. Triazol
a. Azol

generasi

ketiga

adalah

goongan

triazol

yang

dikembangkan pada tahun 1980. Derivat triazol yang pertama


adalah itrakonazol, dan yang lainnya adalah flukonazol dan terkonazol
(Scott, 2009).
b. Efek

terapi

itrakonazol

dosis

tunggal

yang

diteliti

pada

tikus

percobaanmenunjukkan dalam waktu 24 jam obat telah mempengaruhi


perubahan ultrastrukturdinding sel dan dalam waktu 3 hari jamur
tereradikasi sempurna dari epitel vagina.Penelitian lanjutan terhadap
jaringan vagina manusia menunjukkan 200 mg dosistunggal itrakonazol
peroral memberikan efek penghambatan dalam waktu 3 hari.Pemanjangan
efek itrakonazol diakibatkan karena adanya

kemampuan lipofilik

obattersebut. Akhirnya angka penyembuhan klinis dan mikologis tidak


berbeda untuk terapijangka pendek peroral dari itrakonazol dengan
pemakaian topikal golongan imidazol (Scott, 2009).
c. Efek samping pemberian obat antimikotik golongan azol umumnya adalah
rasatidak nyaman pada daerah gastrointestinal, dapat terjadi gejala

hepatotoksis padapemberian ketokonazol (jarang), sedangkan reaksi


anafilaksis sangat jarang terjadi. Flukonazol secara umum dapat ditoleransi
dengan baik walaupun mempunyai efek gastro intestinal (mual, muntah)
(Scott, 2009).
d. Triazol yang ketiga adalah terkonazol. Terkonazol adalah satu-satunya
triazolyang tersedia dalam bentuk topikal, dengan efektifitas yang sama
dengan triazol bentukoral. Di Amerika, terkonazol tersedia dalam bentuk
krim 0,4 untuk regimen 7 hari dan0,8% untuk regimen 3 hari, selain itu
tersedia juga bentuk supossitoria vagina 80 mguntuk regimen 3 hari.
Derivat triazol ini mempunyai spektrum aktivitas yang luas, awalkerja yang
lebih cepat, lebih efektif dan lebih kecil efek sampingnya. Pada saat
initerkonazol belum tersedia di Indonesia (Scott, 2009).

J.KOMPLIKASI
Adapun komplikasi kutaneus kandidiasis yang bisa terjadi, antara lain :
1.Rekurens atau infeksi berulang kandida pada kulit
2.Infeksi pada kuku yang mungkin berubah menjadi bentuk yang aneh dan mungkin
menginfeksi daerah di sekitar kuku
3. Disseminated

candidiasis

yang

mungkin

terjadi

pada

tubuh

yang

immunocompromised.10

Kandidiasis Diseminata
Papul eritematosa dengan tengah yang pucat terdapat pada lengan laki-laki 13
tahun dengan neutropenia dan ewings sarcoma. Kultur darah tumbuh candida
parapsilos

dan

candida

Lusitania.Lesi

tersebut

tersebar

dan

terhitung

ratusan.Pasien menunjukkan gejala lesi kulit yang disertai dengan nyeri otot dan
nyeri mata.Pustul adalah tanda kutaneus dari kandidiasis diseminata pada pasien
dengan leukositosis.Adanya neutrofil dalam sirkulasi, pustule tidak tampak pada

kulit, karena jumlah sel darah putih menutupinya, lesi mungkin menjadi pustular
yang menetap.

X.PENCEGAHAN
Keadaan umum dan higienitas yang baik dapat membantu pencegahan infeksi
kandida, yakni dengan menjaga kulit selalu bersih dan kering. Bedak yang kering
mungkin membantu pencegahan infeksi jamur pada orang yang mudah terkena.
Penurunan berat badan dan kontrol gula yang baik pada penderita diabetes mungkin
membantu pencegahan infeksi tersebut.10

K.PROGNOSIS
Prognosis kutaneus kandidiasis umumnya baik, bergantung pada berat
ringanya faktor predisposisi. Biasanya dapat diobati tetapi sekali-kali sulit
dihilangkan. Infeksi berulang merupakan hal yang umum terjadi.1,10

DAFTAR PUSTAKA
1. Kuswadji. Kandidosis. Dalam : Djuanda A., Hamzah M., Aishah S., Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi IV, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta, 2006. Pp:103-6
2. SMF Ilmu Kulit Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Atlas
Penyakit Kulit dan Kelamin. Airlangga University Press, 2007. Pp:86-92

3. James William,Berger Timothy, Elston Dirk. Candidiasis. Dalam : Andrews


Disease of The Skin Clinical Dermatology. Ed 10th. British. WB Saunders
Company. 2000. Pp:308-9
4. Wolff, Klauss. Candidiasis. Dalam : Fitzpatrick. Dermatology in General
Medicine. Ed 7th. New york. McGraw Hill Company. 2007. p: 1822
5. Wolf K, Richard AJ, Dick S. Candidiasis. Dalam : Fitzpatrick. Color Atlas and
Synopsis of Clinical Dermatology. Ed 5 th. New york. McGraw Hill Company.
2007.
6. Siregar, R.S. Atlas Berwana Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. EGC. Jakarta. 2004.
Pp: 279-280.
7. Sandy S Suharno. Tantien Nugrohowati, Evita H. F. Kusmarinah.

Mekanisme

Pertahanan Pejamu pada Infeksi Kandida. Dalam : Media Dermato-venereologica


Indonesiana, Jakarta, 2000 ; 187-92
8. Conny Riana Tjampakasari. Karakteristik Candida albicans. Dalam : Cermin
Dunia Kedokteran, Vol.151, 2006 ; 33-5
9. Anaissie, Elias J. Clinical Mycology. United State of America. Churchill
Livingstone. 2003. p.461-2
10. www.emedicine.com : Scheinfeld, Noah S. Candidiasis Cutaneous. [online]. 2008
[cited 2008 Juni 18] : [screens]. Available from :URL:http://www.emedicine.com