Anda di halaman 1dari 3

Masalah Perbankan di Indonesia Saat Ini

Masalah Perbankan di Indonesia Saat Ini -Masalah perbankan kini semakin hangat saja
diberitakan oleh berbagai media. Meskipun dunia perbankan telah lama hadir di Indonesia
dan hampir semua masyarakat Indonesia sering berhubungan dengan bank, tetap saja masalah
perbankan tak habis-habisnya menghantui semua pihak. Apa sebenarnya yang menyebabkan
masalah perbankan ini selalu muncul? Apa saja jenis-jenis masalah tersebut? Siapa yang
salah dalam hal ini? Pihak bank, pemerintah, atau para nasabah? Ingin tahu jawabannya?
Nah, artikel ini akan mengulasnya secara lengkap.
Berikut ini ulasannya. Masalah Perbankan Terus Menghantui Kasus kejahatan dan
penyimpangan perbankan dari hari ke hari semakin menghantui perekonomian Indonesia.
Bila pihak terkait, dalam hal ini pemerintah dan BI, tidak mampu menyelesaikan masalah ini
dengan cara pengawasan yang ketat, tentu akan berdampak pada kinerja sektor riil. Oleh
sebab itu, para penegak hukum harus menghukum berat pihak-pihak yang melanggar UU
Perbankan.
Tapi sayang, penanganan kasus perbankan dianggap kurang transparan sehingga kasus-kasus
yang sama sering terulang di berbagai bank. Selama ini, pengaduan nasabah perbankan ke
BPSK (Badan Pengaduan Penyelesaian Sengketa) terkesan tertutup. Jika pun kasusnya
ditangani pengadilan, sangat jarang dipublikasikan dan tidak diketahui bagaimana proses dan
apa hasilnya. Masalah-masalah Perbankan yang Sering Diadukan Nasabah Sejauh ini,
terdapat lima masalah yang sering diadukan konsumen perbankan. Apa saja lima masalah
tersebut? Masalah pertama adalah seputar tingkat bunga yang dianggap berlebihan,
ketidakadilan penetapan biaya atau charge, dan penalti. Pengaduan kedua dan ketiga adalah
iklan perbankan yang dianggap menyesatkan serta sikap tidak sopan sekaligus tidak etis
penagih utang. Sementara itu, pengaduan berikutnya, yaitu keempat dan kelima adalah surat
klausula baku yang tak adil serta permasalahan ganti rugi.
Selain mengadu langsung ke pihak bank bersangkutan, para konsumen ini mengadukan
masalahnya ke berbagai lembaga lainnya. Lembaga-lembaga yang dijadikan tempat aduan
konsumen yaitu lembaga konsumen seperti YLKI, pengadilan, biro mediasi perbankan, media
massa dengan mengisi surat pembaca, Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), dan
lain sebagainya. Pengaduan-pengaduan yang disampaikan oleh para konsumen ini dapat
dijadikan sebagai pembelajaran bagi konsumen lainnya yang memakai layanan serupa.
Selain itu, pengaduan ini pun dapat dijadikan masukan bagi para pelaku usaha untuk segera
meningkatkan kualitas produk serta layanannya. Jika pelaku-pelaku usaha banyak
memperoleh keluhan, hal ini memperlihatkan usahanya memiliki masa depan cerah sebab
masih ada banyak orang yang peduli. Sementara itu, bagi pemerintah, pengaduan konsumen
ini dapat dijadikan masukan untuk memperbaiki penetapan kebijakan-kebijakan terkait.
Pengaduan Masalah Perbankan Meningkat Sampai semester pertama 2012, BI (Bank
Indonesia) sudah menerima pengaduan perbankan sebanyak 216.708 kasus. Jumlah ini
meningkat sebanyak 1417 kasus jika dibanding dengan tahun lalu di periode yang sama. Ini
artinya permasalahan perbankan menagalami peningkatan. Direktur Eksekutif Kepala
Departemen Investigasi dan Mediasi Perbankan Bank Indonesia mengatakan bahwa kasus
yang paling mendominasi adalah kasus seputar produk kartu kredit dan ATM.

Jumlahnya mencapai 96,31 persen dari jumlah total pengaduan. Meningkatnya jumlah
dispute atau pengaduan kartu kredit ini disebabkan oleh sejumlah faktor seperti kartu yang
tertelan lalu terdebet dan kartu nasabah hilang tetapi terjadi transaksi. Untuk menurunkan
jumlah kasus, pihak terkait, dalam hal ini Direktur Eksekutif Kepala Departemen Investigasi
dan Mediasi Perbankan Bank Indonesia, akan memanggil pengawas bank bersangkutan untuk
mengonfiormasi hal tersebut. Sementara itu, dalam rangka meningkatkan pelayanan, Bank
Indonesia akan menelaah besaran nilai yang disengketakan. Sebelumnya, Bank Indoenesia
hanya bersedia menangani nilai sengketa di bawah 500 juta rupiah.
Posisi Nasabah Dianggap Lemah dalam Masalah Perbankan Masih ingat kasus Bank
Century? Kasus Bank Century yang merugikan nasabahnya sekitar 6,7 triliun rupiah sampai
saat ini belum juga tuntas. Kasus yang sama pun terjadi di Provinsi Jawa Tengah, yaitu di
Bank Jateng Syariah Cabang Surakarta. Seorang nasabah Bank Jateng Syariah Cabang
Surakarta mengalami kerugian sekitar 6 miliar rupiah. Nasabah ini mengatakan bahwa
rekening tabungannya raib dibobol pegawai bank sebab surat kuasa miliknya dipalsukan.
Terkait dengan kasus ini, Bank Jateng pusat tak mengakui secara hukum Bank Jateng Syariah
Cabang Surakarta ada di bawah naungannya. Sebenarnya, nasabah yang merasa dirinya
dirugikan oleh pihak bank bisa membuat surat pengaduan lewat media. Jika pihak bank tidak
dengan segera menindaklanjuti pengaduan tersebut, akan berpengaruh terhadap reputasi bank
yang bersangkutan.
Jika jumlah tabungan nasabah nilainya di bawah 500 juta rupiah, Bank Indonesia bersedia
melakukan mediasi. Tapi, untuk permasalahan nasabah yang jumlah tabungannya lebih dari
itu, Bank Indonesia tak bisa memediasi dan harus ditangani oleh lembaga lain seperti
pengadilan. Pihak nasabah dan pihak bank sebaiknya menyelesaikan sengketanya terlebih
dahulu. Tapi, bila nasabah merasa kurang puas, pihak pengadilan akan menentukan
kebenaran surat kuasa palsu tersebut. Dalam dunia perbankan di Indonesia, pihak nasabah
masih ditempatkan dalam posisi yang lemah. Hal ini wajar karena klausul-klausul dalam
industri perbankan Indonesia belum memihak kepada nasabah sebagai penabung. Masalah
Perbankan Muncul karena Minimnya Edukasi Masyarakat Benarkah minimnya edukasi
masyarakat tentang dunia perbakan menjadi penyebab munculnya masalah dunia perbankan?
Ya, minimnya tingkat pengetahuan masyarakat terhadap lembaga jasa keuangan atau
perbankan menjadi penyebab menjamurnya permasalahan yang terjadi di dunia perbankan.
Oleh sebab itu, pemberian edukasi seputar perbankan kepada masyarakat diharapkan akan
menekan tejadinya krisis di sektor keuangan. Jika edukasi didorong dan dilakukan secara
intens, dispute atau pengaduan di perbankan akan berkurang. Bahkan, pemahaman persoalan
seputar keuangan akan membuat kegiatan layanan keuangan menjadi lebih terbuka.
Permasalahan di perbankan yang dialami oleh masyarakat terjadi karena kurangnya edukasi.
Bila distatistikkan, kelemahan ini menjadi yang utama dan pertama. Tapi, dengan semakin
meningkatnya pengetahuan masyarakat seputar lembaga jasa keuangan, maka semakin
membaik pula dunia perbankan. Hal ini karena ruang pengaduan masyarakat atau dispute
akan semakin berkurang. Untuk meningkatkan edukasi masyarakat tentang dunia perbankan,
OJK (Otoritas Jasa Keuangan) akan membuat sejumlah program.
Bahkan, akan dibentuk pula dewan komisioner yang bertugas memimpin komite edukasi dan
perlindungan konsumen. Komiter perlindungan konsumen ini melibatkan banyak pihak. Pada
intinya, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) akan membangun postur edukasi serta perlindungan
konsumen sebaik-baiknya. Masalah Perbankan - Perbankan Harus Miliki Divisi Khusus

Pengaduan Nasabah Masalah dunia perbankan kini semakin menjadi perhatian khusus
pemerintah. Walaupun di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999
tidak disebutkan spesifikasi jasa atau produk tertentu, selama ini masalah dunia perbankan
terus diproses BPKN (Badan Perlindungan Konsumen Nasional).
Meskipun tak ada spesifikasi tertentu, permasalahan perbankan yang diadukan oleh
konsumen selalu direspons dengan memberi rekomendasi kepada pemerintah sebagai
pemegang kewenangan. Berdasarkan penjelasan para konsumen, mereka sangat mengeluhkan
pelayanan perbankan yang berkaitan dengan pengaduan nasabah. Para konsumen perbankan
atau nasabah merasa kesulitan mendapat solusi yang sesuai dengan harapan. Para nasabah
sering sekali mengeluhkan kurangnya perhatian dari lembaga penyedia jasa perbankan
tentang pengaduan masalah yang tengah dialami. Tak tersedianya loket khusus pelayanan
pengaduan nasabah telah membuat para konsumen merasa kecewa. Itulah masalah-masalah
perbankan yang sering muncul di Indonesia.
Tentunya permasalahan ini bisa diatasi jika pihak bank mau lebih menyeleksi dan
memberikan layanan terbaiknya kepada para nasabah. Konsumen atau nasabah adalah aspek
utama dalam keberhasilan sebuah bank. Oleh karena itu, berikan fasilitas pada konsumen,
serta selesaikan segala masalah nasabah dengan cepat agar mereka tidak komplain
(permasalahan perbankan paling banyak). Tak jarang para nasabah sulit menyampaikan
masalah dan sulit mendapat solusi dari masalah yang dialami. Untuk itu, perbankan juga
seharusnya memiliki divisi khusus pengaduan nasabah sehingga masalah ini dapat teratasi.