Anda di halaman 1dari 37

Ketuban Pecah Dini

MH SADDAM HAQI
101001131
PEMBIMBING
DR. TAUFIK MAHDI, SP. OG

Pengertian

Robeknya selaput korioamnion sebelum terjadi proses


persalinan.

Dibedakan menjadi 2 :
PPROM (preterm premature rupture of membranes)
ketuban pecah pada saat usia kehamilan <37 minggu

PROM ( premature ruptute of membranes) ketuban pecah


pada saat usia > 37 minggu

Epidemiologi
KPD lebih banyak terjadi pada cukup bulan dari

pada kurang bulan


95% terjadi pada cukup bulan
34% terjadi pada kurang bulan

Anatomi

Etiologi
1.

Inkompetensi Servik
menyebabkan dinding ketuban yang paling
bawah mendapatkan tekanan yang semakin tinggi

Continue....
2. Peningkatan tekanan intra uterin

3. Infeksi

Continue....

infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput


ketuban maupun ascenden dari vagina atau infeksi
pada cairan ketuban bisa menyebabkan KPD
4. Trauma
misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam
maupun amniosintesis menyebabkan terjadinya
KPD karena biasanya disertai infeksi

Continue....
5. Kelainan letak
misalnya letak lintang tidak ada bagian terendah
yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat
menghalangi tekanan terhdap membran bagian
bawah
6. Keadaan sosial ekonomi
berhubungan dengan rendahnya kualitas perawatan
antenatal penyakit menular seksual misalnya
disebabkan oleh chlamydia trachomatis

Continue....
7. Faktor lain
Faktor multi gravida, merokok dan perdarahan
anterpartum
Defisiensi gizi dari tembaga dan vitamin c

Fungsi Cairan Amnion


1.
2.
3.
4.
5.

Proteksi : melindungi janin terhadap trauma dari


luar
Mobilisasi : memungkinkan ruang gerak bagi bayi
Hemostatis : menjaga keseimbangan suhu dan
lingkungan asam basa (ph)
Mekanik : menjaga keseimbangan tekanan dalam
seluruh ruang intrauteri
Pada persalinan membersihkan atau melicinkan
jalan lahir dengan cairan steril sehingga melindungi
bayi dari kemungkinan infeksi jalan lahir

Diagnosis
Anamnesis
keluar air sejak kapan ?, berapa kali ganti celana /
pembalut?, warna?, bau?, etiologi?
2. Pemeriksaan fisik
Inspekulo tampak air menggenang di fornix
posterior vagina
1.

3. Pemeriksaan penunjang
Tes lakmus ( nitrazine test )
Tes pakis ( ferning test )
USG, untuk melihat Amniotic Fluid Index (AFI),

presentasi, berat, dan usia.

Penatalaksanaan
Konservatif (rawat dan diberikan antibiotik jika

terdapat tanda infeksi), jika umur kehamilan :


1. < 32-34 minggu, belum inpartu, berikan
dexamethason, awasi tanda infeksi, dan
kesejahteraan janin. Terminasi pada usia 37 minggu
2. 32-37 minggu, sudah inpartu, berikan tokolitik,
dexamethason, dan induksi setelah 24 jam.

( Soetomo Soewarto Ilmu Kebidanan Edisi ke 4, 2010; hal 680)

Continue...
Aktif

Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitoksin.


Bila gagal seksio sesarea. Awasi tanda infeksi

( Soetomo Soewarto Ilmu Kebidanan Edisi ke 4, 2010; hal 680)

Komplikasi
Persalinan premature
2. Infeksi
tanda dan gejala :
- Ibu demam
- Takikardi ibu yang signifikan (>120 x/i)
- Takikardi janin (>160-180x/i)
- Nyeri tekan pada uterus
- Leukositosis ibu ( > 15000-18000 sel/ul)
1.

Prognosis
Tergantung pada :
Usia kehamilan
Adanya infeksi / sepsis
Factor resiko / penyebab
Ketepatan Diagnosis awal dan penatalaksanaan

Status Orang Sakit


Identitas pasien
Nama
Umur
Agama
Suku
Pekerjaan
Pendidikan
Nama suami
Umur
Agama
Suku
Pekerjaan
Pendidikan
Alamat
No RM
Tanggal masuk
Pukul

: Ny. DMS
: 22 tahun
: Islam
: Jawa
: IRT
: SMA
: Tn. RS
: 26 tahun
: Islam
: Jawa
: karyawan swasta
: SMA
: Jl. Dusun XVII Tambak Bayan
: 23/06/13
: 06-04-2015
: 04.15 WIB

Ny DMS, 22 tahun, G1p0A0, istri dari Tn RS, 26

tahun datang ke RS haji Medan pada tanggal 06


April 2015 pukuk 04.15 WIB dengan :
KU : Keluar air dari kemaluan

Telaah :Hal ini dialami pasien sejak tanggal


06-04-2015 pukul 04.15 WIB. Air berbau
amis, warna putih jernih, dan tidak dapat
ditahan. Os mengatakan ganti celana > 2x
dalam waktu tersebut.

Os mengatakan keluar cairan tersebut pada saat Os

sedang beristirahat. Riwayat keluar lendir darah


dari kemaluan (-), riwayat mules-mules (-). BAK
(+) normal, BAB (+) normal. Riwayat keputihan
selama kehamilan (-), riwayat demam kahamilan
(-), riwayat terjatuh terbentur di daerah perut (-),
riwayat berhubungan dengan suami pada saat
kehamilan (+), riwayat merokok (-).

RPT/RPO

: -/+
HPHT
:20 - 06 - 2014
TTP
: 27 - 03 - 2015
Perkiraan usia kehamilan : 40 minggu 6 hari
ANC
: Ke Bidan 4 kali
Riwayat Persalinan : 1, hamil ini
Riwayat KB : Tidak Pernah
Riwayat Operasi : Tidak Pernah

Status present
Keadaan Umum

: Baik, gizi kesan cukup


Sens: CM
Anemis
TD : 120/80 mmHg
Ikterik
HR : 70 x/i
Dyspnoe
RR : 20 x/i
Sianosis
T
: 36,50 C
Oedem
TB : 160 cm
BB : 70 kg

: (-/-)
: (-/-)
: (-)
: (-)
: (-)

Status Generalisata
Mata

: Anemis -/-, ikterus -/Leher


: KGB tidak teraba
Thorax
: Cor : Bunyi jantung normal,
reguler, bunyi tambahan (-)
Pulmo : Suara pernapasan
vesikuler, suara tambahan (-)
Abdomen : Distensi (-), BU (+) Normal, hepar tidak
teraba, lien tidak teraba
Ekstremitas : Akral hangat (+), edema (-/-)

Status Obstetri
Abdomen : Membesar, asimetris
Leopold I : 2 jari dibawah proc. Xypoideus (32 cm)
Leopold II : Kanan teraba punggung, kiri teraba

bagian kecil
Leopold III : Teraba bulat keras, melenting, bagian
bawah kepala
Leopold IV : Divergen, 4/5
Gerak janin
: (+)
HIS
: 2x20/10
DJJ
: 148 x/i, reguler
EBW
: 3100 gr

Inspeculo :

Inspeksi : Tampak air menggenang di fornix posterior vagina


Dilakukan pemeriksaan nitrazin tes, dimana kertas lakmus merah
berubah menjadi biru. Kesan : nitrazin tes (+) Air Ketuban (+)

VT

: - cervix 2cm
- promontorium tidak teraba
- linia inominata teraba 2/3
-Arcus Pubis Tumpul
- Sacrum Cekung
- Os Coccygeus mobile

ST

: Lendir darah (-), Air Ketuban (+)

Hasil laboratorium tanggal 06-04-2015 pukul 06.12


WIB
Hematologi
Darah rutin
Nilai
Nilai Rujukan satuan
Hemoglobin
11,9
12 16 g/dl
Hitung eritrosit
4,2
3,9 - 5,6 10*5/l
Hitung leukosit
13.9004,000- 11,000/l
Hematokrit
36,1
36-47 %
Hitung trombosit
243.000
150,000450,000/l
Index eritrosit
MCV
MCH
MCHC

86,3
28,4
32,9

80 96
27 31
30 34

fL
pg
%

Hitung jenis leukosit

Eosinofil
1

Basofil
0

N.Stab
0

N. Seg
86

Limfosit
10

Monosit
3

LED
25
Kimia Klinik
Glukosa Darah Sewaktu : 80 mg/dL

13%
01%
2 6 %
5375 %
2045 %
48 %
0-20 %
Nilai Rujukan
< 140

Diagnosa Sementara
Ketuban Pecah Dini + PG + KDR (40-42 minggu) +

PK + JT +AH+ Inpartu
Lapor dr. Muslich P. Sp, OG
Terapi :- IVFD RL 20 gtt/i
- Injeksi dexametason 3 amp singel dose
- Injeksi ceftriaxone 1 gr/ 12 jam
Rencana Operasi : SC a/i Ketuban Pecah Dini
(Tanggal 06 April 2015 pukul 09.00 Wib)

Laporan SC a/i Ketuban Pecah Dini tgl 06-04-2015


Pukul 09.00 Wib
Ibu dibaringkan di meja operasi dengan infus dan kateter
terpasang dengan baik.
Dilakukan tindakan aseptik dengan larutan betadin dan
alkohol 70% pada dinding abdomen lalu ditutup dengan
duck steril kecuali lapangan operasi.
Dibawah spinal anastesi dilakukan insisi pfannenstiel
mulai dari kutis, subkutis, hingga tampak fascia.
Dengan menyisipkan pinset anatomis dibawahnya, fascia
digunting kekanan dan kekiri, otot dikuakkan secara
tumpul.

Peritonium dijepit dengan klem, diangkat lalu digunting

keatas dan kebawah kemudian dipasang hack blast.


Tampak uterus gravidarum, identifikasi SBR dan lig.
Rotundum.
Lalu plica vesicouterina digunting kekiri dan kekanan dan
disisihkan kebawah arah blast secukupnya.
Selanjutnya dinding uterus diinsisi secara konkaf sampai
menembus subendometrium. Kemudian endometrium
ditembus secara tumpul dan diperlebar sesuai arah sayatan.
Selaput ketuban dipecahkan, air ketuban jernih, apgar
score 9-10.
Dengan meluksir kepala, lahir bayi perempuan, BB 3.400
gr, PB 50 cm, anus (+)

Tali

pusat diklem pada 2 tempat dan digunting


diantaranya.
Plasenta dilahirkan dengan traksi pada tali pusat dan
penekanan pada fundus, kesan lengkap.
Kedua sudut kiri dan kanan tepi luka insisi dijepit dengan
oval klem
Kavum uteri dibersihkan dari sisa sisa selaput ketuban
dengan kassa steril terbuka sampai tidak ada sisa selaput
atau plasenta yang tertinggal. Kesan : bersih.
Dilakukan penjahitan hemostasis figure of eight pada
kedua ujung robekan uterus dengan chromic catgut
no.2.0,dinding uterus dijahit lapis demi lapis jelujur
terkunci overhecting. Evaluasi tidak ada perdarahan.
Reperitonealisasi dengan plain catgut no.1.0

Klem peritonium dipasang, lalu kavum abdomen dibersihkan

dari bekuan darah dan cairan ketuban. Kesan : bersih


Evaluasi tuba dan ovarium kanan kiri. kesan : normal.
Lalu peritoneum dijahit dengan plain catgut no.00. kemudian
dilakukan jahitan aproksimal otot dinding abdomen dengan
plain cat gut no.00 secara simple / continous
Kedua ujung fascia dijepit dengan kocher, lalu dijahit secara
jelujur dengan vycril no.2/0.
Subkutis dijahit secara simple sutura dengan plain cat gut no.00
Kutis dijahit secara subkutikuler dengan vycril 2/0.
Luka operasi ditutup dengan kasa steril + betadin solusio.
Liang vagina dibersihkan dari sisa sisa darah dengan kapas
sublimat hingga bersih.
Keadaan umum ibu post operasi : stabil

Instruksi : Awasi vital sign, kontraksi dan tanda

tanda perdarahan

Terapi

:
IVFD RL + Oksitosin 10 IU
Inj. Ceftriaxon
Inj. Ketorolac
Inj. Ditranex
Inj. Ranitidin

20gtt/menit
1gr/8jam
30 mg/8jam
500 mg/8jam
25mg/12jam

Follow Up tanggal 07 April 2015 pukul 06.00 WIB


S : nyeri luka operasi

O : Sensorium : Compos Mentis


Anemis
: -/TD : 120/80 mmHg
Ikterik
: -/HR : 80x/menit
Dyspnoe : RR : 24x/menit
Sianosis : T : 36,5C
Oedem
: SL : Abd
: Soepel, peristaltik : +
P/V
: TFU
: 2 jari di bawah pusat, kontraksi baik
L/O
: Tertutup perban, kesan kering
BAK
: Via kateter 500cc dari jam 19.30 06.00 WIB
BAB
: (-)
Flatus
: (-)
ASI
: +/+
Diagnosa
: Post SC a/i Ketuban Pecah Dini+ NH1
Terapi
: IVFD RL
20gtt/menit
Inj. Ceftriaxon
1gr/8jam
Inj. Ketorolac
30 mg/8jam
Inj. Ditranex
500 mg/8jam
Inj. Ranitidin
25 mg/12jam

Follow Up tanggal 08 April 2015 pukul 06.00 WIB


S : nyeri luka operasi

O : Sensorium : Compos Mentis


Anemis : -/TD : 120/80 mmHg Ikterik : -/HR: 88x/menit
Dyspnoe : RR : 24x/menit
Sianosis : T : 36,5C Oedem : SL : Abd
: Soepel, peristaltik (+)
P/V
: TFU
: 2 jari di bawah pusat
L/O
: Tertutup perban, kesan kering
BAK
: (+) N
BAB
: (-)
Flatus
: (+)
ASI
: +/+
Diagnosa
: Post SC a/i Ketuban Pecah Dini + NH2
Terapi
: IVFD RL
20gtt/menit
Inj. Ceftriaxon 1gr/8jam
Inj. Ketorolac 30 mg/8jam
Inj. Ditranex
500 mg/8jam
Inj. Ranitidin 25 mg/12jam

Follow Up tanggal 09 April 2015 pukul 06.00 WIB


S : (-)

O : Sensorium : Compos Mentis


TD : 120/70 mmHg Ikterik
HR: 80x/menit
Dyspnoe
RR : 22x/menit
Sianosis
T : 36,7C Oedem : SL : Abd

P/V
TFU
L/O
BAK
BAB
Flatus
ASI
Diagnosa

Anemis : -/: -/::-

: Soepel, peristaltik (+) N


:: 2 jari di bawah pusat
: Tertutup perban, kesan kering
: (+) N
: (+) N
:+
: +/+
: Post SC a/i Ketuban Pecah Dini + NH3

Follow Up tanggal 10 April 2015 pukul 06.00 WIB


S : (-)

O : Sensorium : Compos Mentis


Anemis : -/TD
: 110/70 mmHg Ikterik : -/HR
: 82x/menit
Dyspnoe : RR
: 20x/menit
Sianosis : T : 36,7C
Oedem : SL : Abd
: Soepel, peristaltik (+) N
P/V
:TFU
: 2 jari di bawah pusat
L/O
: Tertutup perban, kesan kering
BAK
: (+) N
BAB
: (+) N
Flatus
:+
ASI
: +/+
Diagnosa
: Post SC a/i Ketuban Pecah Dini + NH4
Rencana PBJ tggl 11 April 2015

TERIMA KASIH