Anda di halaman 1dari 10

Child Abuse And Neglect

Peraturan perundang-undangan di indonesia belum memberikan definisi ataupun


pengertian atas istilah child abuse and neglect dalam bahasa indonesia. Beberapa istilah
sempat diajukan namun belum pernah disepakati secara nasional istilah nama yang disepakati
sebagai istilah pengganti child abuse and neglect. Beberapa istilah tersebut adalah
penganiayaan anak dan penelantaran anak, kekerasan dan penelantaran anak, perlakuan
salah terhadap anak atau penyalahgunaan anak.
Dalam pedoman pelatihan ini digunakan istilah kekerasan dan penelantaran anak
sebagai pengganti istilah child abuse and neglect. Istilah kekerasan terhadap anak memang
dianggap telah mewakili segala kekerasan, baik fisik, seksual, emosional, ataupun
penelantaran, namun kurang mencerminkan sifat perlakuan salah atau penyalahgunaan
anak, dimana terdapat hubungan khas antara pelaku dan korbannya. Namun demikian harus
diakui pula bahwa kekerasan terhadap anak dengan sifat khusus tersebut sudah termasuk
kedalam pengertian kekerasan terhadap anak yang lebih umum sifatnya.
Didalam Pedoman Pelatihan ini pengertian KPA adalah mengacu definisi World
Report on Violence and Health, WHO, 1999:

Child abuse and neglect adalah semua bentuk perlakuan menyakitkan secara fisik
ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, penelantaran, eksploitasi komersal
ataupun eksploitasi lain, yang mengakibatkan cedera/kerugian nyata ataupun potensial
terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh-kembang anak, atau
martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung-jawab,
kepercayaan atau kekuasaan.
Terdapat lima subtipe CAN (1999 WHO Consultation on Child abuse Prevention)

yaitu:

Physical abuse terhadap anak adalah kekerasan yang mengakibatkan cedera fisik
nyata ataupun potensial terhadap anak, sebagai akibat dari interaksi atau tidak adanya
interaksi, yang layaknya berada dalam kendali orang tua atau orang dalam posisi
hubungan tanggung- jawab, kepercayaan atau kekuasaan.
Orang tua ataupun pengasuh dapat memiliki atau tidak memiliki niat untuk menyakiti
anaknya, atau cedera dapat pula merupakan hasil dari hukumn disiplin yang
berlebihan.

Sexual abuse terhadap anak adalah pelibatan anak dalam kegiatan seksual, dimana
ia sendiri tidak sepenuhnya memahami, atau tidak mampu memberi persetujuan, atau
oleh karena perkembangannya belum siap atau tidak dapat memberi persetujuan, atau
yang melanggar hukum atau pantangan masyarakat.
Kekerasan seksual ditandai dengan adanya aktivitas seksual antara anak dengan orang
dewasa atau anak lain yang baik dari usia ataupun perkembangannya memiliki
hubungan tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaaan; aktivitas tersebut ditujukan
untuk memberikan kepuasan bagi orang tersebut.
Kekerasan seksual meliputi eksploitasi seksual dalam prostitusi atau pornografi,
pemaksaan anak untuk melihat kegiatan seksual, memperlihatkan kemaluan pada anak
untuk tujuan kepuasan seksual, stimulasi seksual, perabaan (molestation, fondling),
memaksa anak untuk memegang kemaluan orang lain, hubungan seksual, insect,

perkosaan, dan sodomi.


Emotional abuse terhadap anak adalah meliputi kegagalan penyediaan lingkungan
yang mendukung dan memadai bagi perkembangannya, termasuk ketersediaan
seorang yang dapat dijadikan figur primer, sehingga anak dapat berkembang secara
stabil dan dengan pencapaian kemampuan sosial dan emosional yang diharapkan
sesuai dengan potensi pribadinya dan dalam konteks lingkungannya. Kekerasan
emosional dapat juga merupakan suatu perbuatan terhadap anak yang mengakibatkan
atau sangat mungkin akan mengakibatkan gangguan kesehatan atau perkembangan
fisik, mental, spiritual, moral dan sosial. Perbuatan-perbuatan tersebut harus
dilakukan dalam kendali orang tua atau orang lain dalam posisi hubungan tanggungjawab, kepercayaan atau kekuasaan terhadap si anak.
Beberapa contoh kekerasan emosional adalah pembatasan gerak, sikap tindakan yang
meremehkan anak, memburukkan atau mencemarkan, mengkambing-hitamkan,
mengancam, menakut-nakuti, mendiskriminasi, mengejek atau mentertawakan, atau
perlakuan lain yang kasar atau penolakan.

Penelantaran anak (child neglect) adalah kegagalan dalam menyediakan segala


sesuatu yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya, seperti: kesehatan, pendidikan,
perkembangan emosional, nutrisi, rumah atau tempat bernanung, dan keadaan hidup
yang aman, didalam konteks sumber daya yang layaknya dimiliki oleh keluarga atau
pengasuh, yang mengakibatkan atau sangat mungkin mengakibatkan gangguan
kesehatan atau gangguan perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial,
2

termasuk didalamnya adalah kegagalan dalam mengawasi dan melindungi secara


layak dari bahaya atau gangguan.
Kelalaian di bidang kesehatan terjadi apabila terjadi kegagalan untuk memperoleh
perawatan medis, mental dan gigi pada keadaan-keadaan, yang bila tidak dilakukan
akan dapat mengakibatkan penyakit atau gangguan tumbuh-kembang.
Kelalaian di bidang pendidikan meliputi pembolehan mangkir sekolah yang kronis,
tidak menyekolahkan pada pendidikan yang wajib diikuti setiap anak, atau kegagalan
memenuhi kebutuhan pendidikan yang khusus.
Kelalaian di bidang fisik meliputi penolakan atau penundaan memperoleh layanan
kesehatan,

penelantaran/pembiaran,

pengusiran

dari

rumah

atau

penolakan

kembalinya anak sepulang dari kabur, dan pengawasan yang tak menandai.
Kelainan di bidang emosional meliputi kurangnya perhatian atas kebutuhan anak akan
kasih sayang, penolakan atau kegagalan memberikan perawatan psikologis, kekerasan
terhadap pasangan dihadapan anak, dan pembolehan penggunaan alkohol dan narkoba
oleh si anak.

Eksploitasi anak (child exploitation) adalah penggunaan anak dalam pekerjaan atau
aktivitas lain untuk keuntungan orang lain. Hal ini termasuk, tetapi tidak terbatas
pada, pekerjaan anak dan prostitusi. Kegiatan ini merusak atau merugikan kesehatan
fisik dan kesehatan mental anak, merugikan perkembangan pendidikan, spiritual,
moral dan sosial emosional anak.
Eksploitasi anak biasanya tidak termasuk ke dalam CAN yang dipahami oleh tenaga
profesional kesehatan, sehingga selanjutnya eksploitasi anak tidak akan dibahas lagi.

Pengertian lain dalam UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan Anak

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-isteri, suamiisteri dengan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya, atau keluarga

sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai dengan derajat ketiga;
Orang tua adalah ayah dan/atau ibu kandung, atau ayah dan/atau ibu tiri, atau ayah

dan/atau ibu angkat;


Wali adalah orang atau badan yang dalam kenyataannya menjalankan kekuasaan asuh

sebagai orang tua terhadap anak;


Anak terlantar adalah anak yang tidak terpenuhi kebutuhannya secara wajar, baik
fisik, mental, spiritual, maupun sosial;
3

Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga
orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggungjawab atas perawatan,
pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua

angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan;


Anak asuh adalah anak yang diasuh oleh seseorang atau lembaga, untuk diberikan
bimbingan, pemiliharaan, perawatan, pendidikan, dan kesehatan, karena orang tuanya

atau salah orang tuanya tidak mampu menjamin tumbuh kembang anak secara wajar.
Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan

dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara


Pendamping adalah pekerja sosial yang mempunyai kompetensi profesional dalam
bidangnya.

SISTEM PERLINDUNGAN ANAK


Sebagaimana diuraikan sebelumnya, perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk
menjamin dan melindungi anak beserta hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang,
dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta
mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Dengan demikian sistem
perlindungan anak adalah suatu sistem yang kompleks, dimulai dari adanya kemauan politik
yang kuat, dijabarkan di dalam peraturan perundang-undangan, diimplementasikan dalam
bentuk program-program yang mendukung perlindungan anak dan program yang mencegah
atau menghindari kekerasan, diskriminasi dan penelantaran anak.
4

UUD 45, Konvensi Hak Anak dan UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak
sudah menunjukkan kemauan politik Bangsa Indonesia dalam menuju ke suatu sistem
perlindungan anak. Doktrin parens patriae mewajibkan negara untuk membela dan
memperhatikan penduduknya yang paling rentan, yaitu anak-anak. Untuk itu kerjasama
diantara aparat penegak hukum, pekerja sosial, profesional kesehatan dan anggota masyarakat
lain diperlukan guna mencegah KPA dan eksploitasi terhadap anak.
Kemudian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang pembentukannya
dimandatkan oleh UU Perlindungan Anak, beserta institusi yang terkait, baik pemerintah
maupun non pemerintah, harus mengembangkan dan menerapkan program-program yang
memastikan kesehatan dan tumbuh kembang anak berjalan dengan baik di Indonesia, serta
melindungi anak dari segala bentuk diskriminasi, abuse dan eksploitasi. Institusi pemerintah
yang terkait dalam sistem perlindungan anak antara lain Kementrian Pemberdayaan
Perempuan,

Departemen

Kesehatan,

Departemen

Sosial,

Departemen

kehakiman,

Departemen Tenaga Kerja, Kepolisian RI, Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung, dan
mungkin juga Dwan Perwakilan Rakyat(Daerah). Sementara itu institusi non pemerintah
dapat merupakan institusi pendidikan, organisasi profesi, dunia usaha, institusi kegaamaan,
organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang terkait,
rumah sakit dan institusi layanan lainnya.
Dalam kaitannya dnegan child abuse and neglect KPA. KPAI harus mampu membuat
jaringan kerja yang mapan dan tajam agar mampu menemukan kasus KPA yang terjadi di
dalam masyarakat, baik melalui sistem pelaporan kasus yang yang teratur dan baku. KPAI
juga harus membangun sistem penanganan kasus KPA yang cepat dan akurat, yang dilakukan
dengan pendekatan yang multi-disiplin dan multi-instansi. Penatalaksanaan medis, meskipun
penting dan kadang harus dilakukan pada langkah pertama, hanyalah merupakan salah satu
bidang dari suatu rangkaian penyelesaian kasus yang kompleks.
Penanganan kasus KPA
Secara umum, penanganan kasus KPA akan melibatkan serangkaian proses yang
berawal dari suatu tindakan identifikasi kasus yang dicurigai sebagai kasus KPA dan diakhiri
dengan penutupan kasus.
Secara skematik, kegiatan penanganan kasus KPA dapat digambarkan seperti pada
gambar di bawah ini:
Proses penanganan kasus dalam Sistem Perlindungan Anak
IDENTIFIKASI

- Indikator
- Tingkat resiko
- Dampak

- nakes, keswa
- pendidik
- pengasuh anak
- Penegak hukum
- agamawan
- masyarakat hukum
Laporan

UU No 23/2002 PA
PS 108 KUHP
Perlindungan bagi saksi
Masukan

Initial Assessment

Masukan

Family assessment
Perencanaan kasus
Penanganan dan
penatalaksanaan
Evaluasi kemajuan
keluarga

Identifikasi

Kasus ditutup

Langkah awal sistem respons perlindungan anak adalah adanya proses identifikasi
adanya kemungkinan terjadinya kasus KPA. Proses ini dapat dilakukan oleh kalangan
profesional medis, pengajar dan pendidik, pengasuh anak, profesional di bidang kesehatan
mental, profesional penegak hukum, agamawan, dan profesional lainnya yang dalam posisi
dapat melakukan pengamatan terhadap anak atau keluarga tertentu, bahkan orang awampun,
seperti anggota keluarga yang lain, teman atau tetangga, dapat melakukan tindakan identikasi
ini.
Pelaporan

Tahap berikutnya adalah pelaporan (reporting). Pada tahap ini, unsur hukuam dalam
arti keberadaan peraturan perundang-undangan beserta petunjuk pelaksanaannya, sangat
bermakna peranannya. Kajian hukum dibidang KPA, baik skala lokal, regional, nasional
maupun internasional mutlak dikuasai dan dikaji lebih dalam. Di negara maju, tindakan
pelaporan yang berdasarkan hukum sudah begitu memasyarakat, baik dalam hal prosedur
pelaporan, substansi itikad baik, maupun adanya sanksi hukum bagi orang yang tidak
melaporkannya.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, UU No 23 tahun 2002 telah mengancam
dengan hukuman bagi mereka yang membuarkan anak dalam situasi darurat dapat
dianggap juga mengancam mereka yang membiarkan dengan tidak melaporkannya kepada
pihak yang seharusnya atau seyogyanya dilapori. Sayangnya memang petunjuk pelaksanaan
wajib lapor ini masih belum diuraikan secara panjang lebar, seperti pada kasus apa
seseorang harus melapor, kenapa harus melapor, kepada siapa melapornya, apa yang harus
dilaporkannya, bagaimana bila profesinya mempunyai wajib simpan rahasia, bagaimana
perlindungan hukumnya dan bagaimana respons institusi yang dilaporinya,
Setelah melalui tahao pelaporan, idealnya kasus KPA akan berlanjut kearah tahapan
yang relatif sama.
Masukan / Intake
Masukan / intake merupakan tahapan dimana sebuah laporan kecurigaan kasus KPA
diterima oleh suatu lembaga penyedia CPS (Child

Protection Service = Layanan

Perlindungan Anak) yang telah ditunjuk resmi oleh pemerintah setempat berdasarkan undangundang. Di indonesia, lembaga tersebut LPA, baik di tingkat pusat ataupun daerah.
Pada tahap masukan ini harusn dibuat dua keputusan primer, yaitu:
1. Apakah laporan atau informasi tersebut memenuhi kriteria sebagaimana dalam
pedoman?
Keputusan ini harus diambil setelah melalui 3 langkah penting, yaitu pengumpulan
informasi dari pelapor, evaluasi informasi untuk menentukan apakah memenuhi
peraturan perundang-undangan dan pedoman lembaga penyedia CPS, dan penilaian
atas kredibilitas pelapor;
2. Seberapa darurat (urgent) untuk memperoleh rujukan? Hal ini ditentukan oleh
keparahan cedera dan/atau tingkat resiko mengakibatkan cedera bagi anak. Apabila
kasus dinyatakan beresiko tinggi maka lembaga CPS harus melaksanakan respons
segera.
7

Di beberapa negara maju, time respons tindakan intake ini untuk kasus yang tergolong
risiko tinggi umumnya tidak lebih dari 24 jam setelah adanya pelaporan.
Penilaian awal dan Penyelidikan (initial Assessment / Investigation)
Initial assessment dari sebuah kasus KPA juga secara umum dapat dikatakan sebagai
proses investigasi. Profesional penegak hukum dan petugas lembaga CPS akan mengawali
tindakan ini, yang secara simultan akan didukung oleh profesional lain yang bekerja sesuai
disiplin bidangnya masing-masing. Setiap kasus akan bersifat sangat individual meskipun
berasal dari suatu komunitas yang sama dengan kasus lainnya, apabila semua profesional dari
segala disiplin bekerja dibawah satu atap, maka tahapan ini akan berlangsung cepat, efektif
dan lebih terfokus.
Isu penting yang harus dinilai pada tahap ini adalah antara lain:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)

Apakah anak mengalami KPA yang memenuhi UU 23 tahun 2002?


Apakah telah terjadi tindak pidana?
Apakah orang tua atau wali bertanggung jawab?
Siapakah tersangka pelakunya?
Apakah saksi-saksi yang mendukung ditemukan?
Apakah barang bukti yang mendukung diperoleh dan disimpan?
Apakah terdapat korban lain?
Apakah abuse atau penelantaran masih akan terjadi dikemudia hari?
Apakah terdapat bukti yang cukup untuk menahan tersangka?
Apakah anak dalam keadaan aman sekarang? Bila tidak, perlukah dilakukan tindakan

perlindungan (protective costody)?


k) Apakah kebutuhan daruat keluarga?
l) Apakah diperlukan layanan khusus terhadap anak dan keluarga untuk memastikan
tidak terjadinya kejadian serupa atau lanjutan?
Penilaian keluarga (Family Assessment)
Apabila adanya unsur KPA sudah dapat dipastikan, maka proses selanjutnya adalah
memasuki tahapan tindakan pengamanan korban dan tindakan suportif untuk keluarga
maupun komunitas disekelilingnya. Tujuan dari tahapan ini adalah mengetahui sebisa
mungkin secara lengkap dan jelas proses kejadian KPA, dampak dan faktor-faktor yang
memberikan kontribusi terhadap terjadinya KPA, dengan demikian tindakan treatment atau
intervensi nantinya menjadi lebih tepat.
Keputusan dan pertimbangan yang diharapkan pada tahap ini adalah:
a) Apabila sifat, besaran dan penyebab faktor kontribusi dari risiko terjadinya KPA?
b) Apakah dampak KPA dan apakah penanganan diperlukan bagi semua anggota
keluarga?
8

c) Apakah kekuatan individu dan keluarga yang dapat dimanfaatkan dalam proses
intervensi keluarga?
d) Kondisi atau perilaku apakah yang harus diubah untuk menurunkan risiko KPA?
e) Bagaimanakah prognosis bagi perubahan tersebut?
Informasi diperoleh melalui wawancara dan pengamatan atau sekuruh anggota
keluarga, menggunakan alat evaluasi lain, dan melihat catatan lembaga lain (CPS atau
sekolah). Hasil akhir yang diharapkan dalam tahap ini adalah kesepahaman yang
menguntungkan antara petugas lembaga CPS , penyelenggara pelayanan masyarakat dan
keluarga, berkaitan dengan kebutuhan utama yang harus diperhatikan dan kekuatan keluarga
yang harus dibangun.
Case planning (Perencanaan kasus)
Ini adalah tahapan perencanaan tindakan apa yang harus dilakukan secara bersama da
simultan setelah mengetahui faktor-faktor yang meringankan dan memperberat terhadap
intervensi atau treatment yang akan dilakukan. Profesional dibidang kesehatan mental dan
atau hukum seringkali menjadi ujung timbak tahapan ini.
Isu yang harus dipertimbangkan adalah:
a) Apakah tujuan yang harus dicapai untuk mengurangi risiko KPA dan yang sesuai
dengan kebutuhan penanganan?
b) Apakah prioritas diantara sekian tujuan yang ingin dicapai?
c) Intervensi atau pelayanan apa yang akan digunakan untul mencapai tujuan?
d) Langkah-langkah apa yang harus dilalui? Apa tanggung jawab lembaga CPS? Apa
tanggung jawab anggota keluarga? Apa tanggung jawab pemberi layanan lainnya?
e) Bagaimana penjadwalnya?
f) Bagaimana dan kapan kasus ini di evaluasi?
Hal yang patut dicatat adalah profesional dari semua disiplin harus mempunyai tujuan
akhir yang sama dalam merencanakan tindakan interverensinya, yakni mengembalikan
korban dalam lingkungan keluarga dan komunitasnya sendiri secara aman, setelah
memberikan tindakan inteverensi suportif kepada keluarga atau komunitas tersebut.
Penanganan (treatment)
Tahapan ini merupakan tahapan yang paling kompleks dimana semua disiplin dapat
mengambil peran. Sejak dahulu penanganan medis terhadap para korban kekerasan fisik dan
atau seksual telah dilakukan oleh para profesional kesehatan, namun jarang dilakukan
penanganan terhadap dampak psikologisnya. Korban KPA umumnya merasa marah,

bercuriga, terisolasi, dan ketakutan. Campuran emosi tersebut akan mengubah perilaku
korban.
Kekuatan kerja multidisiplin sangat tergantung adanya komunikasi terbuka antara
korban, keluarga, komunitas dan CPS itu sendiri yang terdiri dari berbagai profesional
disiplin ilmu. Komunikasi harus berkembang secara terus mener

us,

berkesinambungan

melalui serangkaian proses evaluasi dan monitoring bersama. Tindakan bekerja dibawah satu
atap secara multidisiplin akan menyebabkan tahapan ini dapat berjalan dengan lebih efektif.
Evaluasi kemajuan keluarga (Evalution of Family Progress)
Tahapan ini berlangsung kontinyu selama tahapan treatment berlangsung. Tindakan
evaluasi ini bertujuan untuk melakukan pengukuran parameter mengenai keamanan dan
keselamatan anak, pencapaian tujuan dan tugas, penurunan risiko pengulangan kasus dalam
keluarga atau komunitas sekelilingnya, dan mengembalikan korban dalam kehidupan yang
wajar/normal dalam lingkungannya sendiri.
Penutupan kasus (Case Closure)
Suatu kasus KPA dianggap dapat ditutup apabila dapat dipastikan bahwa resiko KPA
telah menurun secara bermakna atau dapat dihilangkan, sehingga keluarga dapat memenuhi
kebutuhan anak dalam proses TUMBUH KEMBANG dan melindungi anak dari KPA tanpa
intervensi masyarakat. Seringkali penutupan kasus KPA bersifat parsial apabila keluarga asal
tidak lagi dipandang bisa melindungi dan memenuhi kebutuhan dasar tumbuh kembang anak.
Dengan demikian, proses hukum untuk perwalian menjadi team KPA demi terjaminnya
tumbuh kembang korban.

10