Anda di halaman 1dari 15

Anatomi fisiologi

Sistem muskuloskeletal (OTOT)

Dosen Pembimbing:
Ns. Giat Wantoro.Skep

Oleh:
M.Arafah (201421055)
Mella Sandy (201421057)
Elisa Yuni. A (201421059)
Siti Nurbayanti (201421061)
Widia Urma (201421063)
M.Deni Kurniawan (201421065)
Rosmala Dewi (201421067)
Doni Agus Yanto (201421069)
Wilda Silviani (201421071)
Muhammad Azhari Putra (2014210073)
Dwi Putri .N (201421075)
Nadi Oktaviyana (201421077)
Ahmad Agus H (201421079)

Program Studi S1 Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baiturahim
Jambi
Tahun Ajaran 2015/2016

Kata pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT atas berkat rahmatnya kami bisa
menyelesaikan makalah sistem muskuloselektal tentang otot ini semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan,petunjuk maupun pedoman bagi kita semua.
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca , sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.

Jambi, 16 Oktober 2015

Kelompok 3

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .. ii
DAFTAR ISI..... iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.

Latar Belakang...
Rumusan Masalah......
Tujuan Penulisan........
Manfaat Penulisan..

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Otot ...................................................................................
2.2. Karakteristiki Otot.......................................................................................
2.4. Fungsi Otot.................................................................................................
2.4. Bagian-bagian otot......................................................................................
2.5. Jenis Otot ...................................................................................................
2.6.Sifat Kerja Otot Sifat kerja otot ............................................................
2.7. Mekanisme Gerak Otot........................................................................
2.8. Sumber Energi Gerak Otot...................................................................
2.9. Kontraksi dan Relaksasi Otot................................................................
2.10. Kelainan Pada Otot............................................................................
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan......................................................................................................
3.2 Saran...............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan, ada beberapa bagian yang dapat membantu antara organ satu dengan
organ lainnya, contohnya saja otot. Otot dapat melekat di tulang yang berfungsi untuk
bergerak aktif. Selain itu otot merupakan jaringan pada tubuh hewan yang bercirikan mampu
berkontraksi, aktivitas biasanya dipengaruhi oleh stimulus dari sistem saraf. Unit dasar dari
seluruh jenis otot adalah miofibril yaitu struktur filamen yang berukuran sangat kecil tersusun
dari protein kompleks, yaitu filamen aktin dan miosin (Awik, 2004).
Pada saat otot berkontraksi, filamen-filamen tersebut saling bertautan yang
mendapatkan energi dari mitokondria di sekitar miofibril. Oleh karena itu, banyak jenis otot
yang saling berhubungan walaupun jenis otot terdiri dari otot lurik, otot jantung, dan otot
rangka. Ketiganya mempunyai fungsi dan tujuan yang berbeda pula.
Otot merupakan suatu organ yang sangat penting bagi tubuh kita, karena dengan otot
tubuh kita dapat berdiri tegap. Otot merupakan suatu organ atau alat yang memungkinkan
tubuh kita agar dapat bergerak. Otot merupakan alat gerak aktif, ini adalah suatu sifat yang
penting bagi organisme. Sebagaian besar otot tubuh ini melekat pada kerangka yang
menyebabkan dapat bergerak secara aktif sehingga dapat menggerakkan bagian-bagian
kerangka dalam suatu letak yang tertentu.
Sistem ini yang mempengaruhi secara langsung sedikit atau banyaknya terhadap
karakteristik organoleptik (sensorik) daging dan merupakan penanggung jawab yang besar
pada heterogenitas yang teramati pada tingkat sifat-sifat daging. Dengan demikian
pengetahuan tentang karakteristik otot melalui struktur dan sifat-sifat jaringan muskuler
diperlukan dalam pemilihan otot dan perlakuan optimal yang diterapkan pada otot.

1.2. RUMUSAN MASALAH


1. Apa pengertian dari otot ?
2. Apa fungsi dari otot ?
3. Apa saja bagian-bagian dari otot ?
4. Apa saja jenis-jenis otot ?
5. Bagaimana sifat kerja gerak otot ?
6. Bagaimana mekanisme gerak otot ?
7. Bagaimana kontraksi dan relaksasi otot

1.3. TUJUAN PENULISAN


1. Untuk mengetahui pengertian otot
2. Untuk mengetahui fungsi otot
3. Untuk mengetahui bagian-bagian dari otot
4. Untuk mengetahui jenis-jenis otot
5. Untuk mengetahui sifat kerja gerak otot
6. Untuk mengetahui mekanisme gerak otot
7. Untuk mengetahui kontraksi dan relaksasi otot

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Otot
Otot adalah sebuah jaringan konektif dalam tubuh yang tugas utamanya kontraksi. Kontraksi
otot digunakan untuk memindahkan bagian-bagian tubuh & substansi dalamtubuh. Jaringan
otot tersusun atas sel-sel otot yang fungsinya menggerakkan organ-organ tubuh. Kemampuan
tersebut disebabkan karena jaringan otot mampu berkontraksi. Kontraksi otot dapat
berlangsung karena molekul-molekul protein yang membangun sel otot dapat memanjang dan
memendek.

2.2. Karakteristiki Otot


Tiap serabut otot, banyak dari padanya di kelompokkan merupakan otot, memiliki empat
sifat:
1. Iritabilitas. Otot memiliki kemampuan menerima dan menanggapi bermacam rangsang.
2. Kontraktilitas. Bila menerima rangsang. Otot memiliki kemampuan untuk memendek.
3. Ekstensibilitas. Otot memiliki sifat dapat memanjang, baik dalam keadaan aktif maupun
pasif.
4. Elastisita. Bila otot dalam keadaan memendek atau memanjang, otot memiliki kemampuan
untuk kembali kepada panjangnya waktu istirahat atau bentuk normal.

2.3.

Fungsi Otot

Otot dapat berkontraksi karena adanya rangsangan. Umumnya otot berkontraksi bukan karena satu
rangsangan, melainkan karena suatu rangkaian rangsangan berurutan. Rangsangan kedua memperkuat
rangsangan pertama dan rangsangan ketiga memeprkuat rangsangan kedua . Dengan demikian
terjadilah ketegangan atau tonus yang maksimum . Tonus yang maksimum terus menerus disebut
tetanus.

Selanjutnya, ada 2 tipe otot, yaitu otot merah dan otot putih. Otot merah kaya akan suplai

darah, mengandung mitokondria dan mioglobin. Mioglobin merupakan senyawa seperti hemoglobin
yang mampu mengikat O2 dean menyimpannya di dalam otot. Otot merah juga mengoksidasi asam
lemak untuk memeperoleh energi. Sebaliknya, otot putih memiliki sedikit darah, mitokondria, dan
mioglobin. Akan tetapi, otot putih terspesialisasi untuk melakukan pernapasan anaerobik untuk
menghasilkan energi tanpa O2 sehingga cepat berkontraksi meskipun cepatlelah.

2.4. Bagian-bagian Otot

1. Sarkolema :membram sel dari selaput otot.terdiri dari membram sel yang disebut
membram plasma dan sbuah lapisan luar yang terdiri dari 1 lapisan tipis mengandung
kolongen
2. Miofibril :merupakan bulatan bulatan kecil pada potongan melintang yang mengandung
1500 fm,3000 FA yang merupakan melekul.protein polimer besar untuk kontraksi
otot.miofibril memiliki 2 fiamen yaitu:
-filamen tebal yang dibentuk oleh miosin
- Filamen tipis yang dibentuk oleh aktin tropomiosin dan trponin
3. Sarkoplasma:miofibril miofibril terpendam dalam serat otot di dalam suatu matriks
4. Retikulum sarkoplasmik:sarkoplasma yang terdapat pada retikulum endoplasma yang
terdapat dalam serat otot.

2.5.Jenis-jenis Otot
2.5.1. Otot Polos (otot volunter)
Otot polos adalah salah satu otot yang mempunyai bentuk yang polos dan bergelondong. Cara
kerjanya tidak disadari (tidak sesuai kehendak) / invontary, memiliki satu nukleus yang
terletak di tengah sel. Otot ini biasanya terdapat pada saluran pencernaan seperti:lambung dan
usus.
Otot polos terdapat pada alat-alat dalam tubuh, misalnya pada:
1. Dinding saluran pencernaan
2. Saluran-saluran pernapasan
3. Pembuluh darah
4. Saluran kencing dan kelamin

Ciri-ciri Otot Polos

Waktu kontraksi antara 3 sampai 180 detik

Bentuk dari otot polos seperti perahu

Terletak pada organ dalam

Memiliki satu inti sel yang berada ditengah

Pergerakannya dari otot polos lambat, dan mudah lelah

Dipengaruhi oleh saraf otonom

Otot polos biasanya berada pada bagian usus, saluran peredaran darah, otot di saluran kemih,

Tidak diperintah oleh otak atau tidak dipengaruhi oleh otak

2.5.2. Otot lurik


(Otot Rangka) Otot lurik disebut juga otot rangka atau otot serat lintang. Otot ini bekerja di bawah
kesadaran. Pada otot lurik, fibril-fibrilnya mempunyai jalur-jalur melintang gelap (anisotrop) dan
terang (isotrop) yang tersusun berselang-selang. Sel-selnya berbentuk silindris dan mempunvai
banvak inti. Otot rangka dapat berkontraksi dengan cepat dan mempunyai periode istirahat berkali kali. Otot rangka ini memiliki kumpulan serabut yang dibungkus oleh fasia super fasialis. Gabungan
otot berbentuk kumparan dan terdiri dari bagian:
1. Ventrikel (empal), merupakan bagian tengah yang menggembung
2. Urat otot (tendon), merupakan kedua ujung yang mengecil. Urat otot (tendon) tersusun dari
jaringan ikat dan bersifat keras serta liat.
Berdasarkan cara melekatnya pada tulang, tendon dibedakan sebagai berikut ini:
1. Origo merupakan tendon yang melekat pada tulang yang tidak berubah kedudukannya ketika otot
berkontraksi.
2. Insersio merupakan tendon yang melekat pada tulang yang bergerak ketika otot berkontraksi. Otot
yang dilatih terus menerus akan membesar atau mengalami hipertrofi, Sebaliknya jika otot tidak
digunakan (tidak ada aktivitas) akan menjadi kisut atau mengalami atrofi. Otot polos tersusun dari sel
sel yang berbentuk kumparan halus. Masing masing sel memiliki satu inti yang letaknya di tengah.
Kontraksi otot polos tidak menurut kehendak, tetapi dipersarafi oleh saraf otonom. Otot polos terdapat
pada alat-alat dalam tubuh, misalnya pada: 1. Dinding saluran pencernaan 2. Saluran-saluran
pernapasan 3. Pembuluh darah 4. Saluran kencing dan kelamin c. Otot Jantung

Otot jantung

mempunyai struktur yang sama dengan otot lurik hanya saja serabut-serabutnya bercabang - cabang
dan saling beranyaman serta dipersarafi oleh saraf otonom. Otot jantung hanya terdapat di jantung.
Otot jantung terlihat berjalur seperti otot rangka. Otot jantung dikawal oleh sistem saraf autonomi.
Setiap sel bersambung-sambung dengan sel lain melalui cakera interkalari yang berupaya mengalirkan
arus elektrik dari sel ke sel. Manfaat: supaya pengecutan jantung terselaras untuk mengepam darah.
Otot jantung mengecut secara spontan walaupun tiada rangsangan diterima dari sistem saraf pusat.

Letak inti sel di tengah. Dengan demikian, otot jantung disebut juga otot lurik yang bekerja tidak
menurutkehendak.

Ciri-Ciri Otot Lurik :

Bentuk selindris dengan garis gelap terang

Melekat pada rangka

Bekerja secara sadar dengan perintah otak

Cepat dan mudah lelah

Bentuk yang panjang dan m

emiliki banyak inti sel (multi sel)

Mempunya pigmen mioglobin

Inti sel yang berada di tepi

2.5.3. Otot Jantung


Otot jantung atau myocardium adalah otot yang bekerja secara terus menerus tampa istirahat atau berhenti.
Otot jantung merupakan perpaduan antara otot lurik dan otot polos karna adanya persamaan yang ada pada
otot jantung misalnya, memiliki sisi gelap terang dan inti sel yang berada ditengah. Otot jantung berfungsi
dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Otot Jantung bekerja dibawah kesadaran manusia saraf yang
memengaruhi otot jantung adalah saraf simpatik dan parasimpatik

Ciri-Ciri Otot Jantung :


- Otot jantung yang berbentuk silindris
- Memiliki percabangan disebut sinsitium
- Otot Jantung terletak pada jantung
- Memiliki satu Inti sel yang berada ditengah
- Bekerja tampa kesadaran manusia
- Bekerja terus menerus dan tak membutuhkan istirahat

2.6.Sifat Kerja Otot Sifat kerja otot


2.6.1

Antagonis

Otot antagonis adalah dua otot atau lebih yang tujuan kerjanya berlawanan. Jika otot pertama
berkontraksi dan yang kedua berelaksasi, akan menyebabkan tulang tertarik atau terangkat.
Sebaliknya, jika otot pertama berelaksasi dan yang kedua berkontraksi akan menyebabkan tulang
kembali ke posisi semula. Contoh otot antagonis adalah otot bisep dan trisep. Otot bisep adalah otot
yang memiliki dua ujung (dua tendon) yang melekat pada tulang dan terletak di lengan atas bagian
depan. Otot trisep adalah otot yang memiliki tiga jung (tiga tendon) yang melekat pada tulang, terletak
di lengan atas bagian belakang. Untuk mengangkat lengan bawah, otot bisep berkontraksi dan otot
trisep berelaksasi. Untuk menurunkan lengan bawah, otot trisep berkontraksi dan otot bisep
berelaksasi.

Antagonis juga adalah kerja otot yang kontraksinya menimbulkan efek gerak

berlawanan, contohnya adalah:


1. Ekstensor( meluruskan) dan fleksor (membengkokkan), misalnya otot trisep dan otot bisep.
2. Abduktor (menjauhi badan) dan adductor (mendekati badan) misalnya gerak tangan sejajar bahu
dan sikap sempurna.
3. Depresor (ke bawah) dan adduktor ( ke atas), misalnya gerak kepala merunduk dan menengadah.
4. Supinator (menengadah) dan pronator (menelungkup), misalnya gerak telapak tangan menengadah
dan gerak telapak tangan menelungkup.

2.6.2

Sinergis
Sinergis juga adalah otot-otot yang kontraksinya menimbulkan gerak searah. Contohnya
pronator teres dan pronator kuadratus (Otot yang menyebabkan telapak tngan
menengadah atau menelungkup).

Otot sinergis adalah dua otot atau lebih yang bekerja

bersama sama dengan tujuan yang sama. Jadi, otot otot itu berkontraksi bersama dan
berelaksasi bersama. Misalnya, otot otot antar tulang rusuk yang bekerja bersama ketika
kita menarik napas, atau otot pronator, yaitu otot yang menyebabkan telapak tangan
menengadah atau menelungkup. Gerakan pada bagian tubuh, umumnya melibatkan kerja
otot, tulang, dan sendi. Apabila otot berkontraksi, maka otot akan menarik tulang yang
dilekatinya sehingga tulang tersebut bergerak pada sendi yang dimilikinya.

Otot yang

sedang bekerja akan berkontraksi sehingga otot akan memendek, mengeras, dan bagian
tengahnya menggembung. Karena memendek, tulang yang dilekati otot tersebut tertarik
atau terangkat. Kontraksi satu macam otot hanya mampu untuk menggerakan tulang ke
satu arah tertentu. Agar tulang dapat kembali ke posisi semula, otot tersebut harus
mengadakan relaksasi. Namun relaksasi otot ini saja tidak cukup. Tulang harus ditarik ke
posisi semula. Oleh karena itu, harus ada otot lain yang berkon traksi yang merupakan
kebalikan dari kerja otot pertama. Jadi, untuk menggerakan tulang dari satu posisi ke

posisi yang lain, kemudian kembali ke posisi semula, diperlukan paling sedikit dua
macam otot dengan kerja berbeda. Berdasarkan tujuan kerjanya tadi, otot dibedakan
menjadi otot antagonis dan otot sinergis.

2.7.

Mekanisme Gerak Otot


Dari hasil penelitian dan pengamatan dengan mikroskop elektron dan difraksi sinar X,
Hansen dan Huxly (l955) mengemukkan teori kontraksi otot yang disebut model sliding
filaments.

Model ini menyatakan bahwa kontraksi didasarkan adanya dua set filamen di

dalam sel otot kontraktil yang berupa filament aktin dan filamen miosin.. Rangsangan yang
diterima oleh asetilkolin menyebabkan aktomiosin mengerut (kontraksi). Kontraksi ini
memerlukan energi. Pada waktu kontraksi, filamen aktin meluncur di antara miosin ke dalam
zona H (zona H adalah bagian terang di antara 2 pita gelap). Dengan demikian serabut otot
menjadi memendek yang tetap panjangnya ialah ban A (pita gelap), sedangkan ban I (pita
terang) dan zona H bertambah pendek waktu kontraksi. Ujung miosin dapat mengikat ATP
dan menghidrolisisnya menjadi ADP. Beberapa energi dilepaskan dengan cara memotong
pemindahan ATP ke miosin yang berubah bentuk ke konfigurasi energi tinggi. Miosin yang
berenergi tinggi ini kemudian mengikatkan diri dengan kedudukan khusus pada aktin
membentuk jembatan silang. Kemudian simpanan energi miosin dilepaskan, dan ujung
miosin lalu beristirahat dengan energi rendah, pada saat inilah terjadi relaksasi. Relaksasi ini
mengubah sudut perlekatan ujung myosin menjadi miosin ekor. Ikatan antara miosin energi
rendah dan aktin terpecah ketika molekul baru ATP bergabung dengan ujung miosin.
Kemudian siklus tadi berulang Iagi.

2.8.

Sumber Energi Gerak Otot


Sumber energi utama untuk gerakan (kontraksi) otot yaitu adenosin tri fosfat (ATP). Akan
tetapi, jumlah yang tersedia hanya dapat digunakan untuk kontraksi dalam waktu beberapa
detik saja. Otot vertebrata mengandung lebih banyak cadangan energi fosfat yang tinggi
berupa kreatin fosfat sehingga akan dibebaskan sejumlah energi yang segera dipakai untuk
membentuk ATP dari ADP. ATP dihasilkan dari proses oksidasi (pembakaran) karbohidrat dan
lemak. Terjadinya kontraksi otot sebagai akibat adanya interaksi antara protein otot aktin dan
miosin yang membutuhkan ATP melalui bantuan enzim yang dikenal sebagai enzim ATP-ase.
ATP-ase

Aktin + Miosin

Aktomiosin

Sumber energi lainnya pada otot, yaitu fosfokreatin. Fosfokreatin ini adalah suatu bentuk
persenyawaan fosfat berenergi tinggi yang terdapat pada otot dalam konsentrasi yang tinggi.

Kreatin

Fosfokreatin + ADP

Kreatin + ATP
Fosfokinase

Fosfokreatin tidak dapat digunakan secara langsung sebagai sumber energi, tetapi dapat
memberikan energinya kepada ADP.
Banyaknya fosfokreatin yang terdapat pada otot lurik, lebih dari lima kali jumlah ATP. Proses
terpecahkan ATP dan fosfokreatin untuk menghasilkan energi tidak membutuhkan oksigen
bebas (respirasi anaerob). Oleh karena itu, disebut proses anaerob. Apabila otot melakukan
kontraksi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama maka otot akan mengalami
kelelahan. Hal tersebut terjadi sebagai akibat turunnya kandungan konsentrasi ATP dan
fosfokreatin. Sebaliknya, pada saat ini justru akan terjadi kenaikan konsentrasi ADP, AMP,
dan asam laktat.
2.9. Kontraksi dan relaksasi Otot
Tahap-tahap kontraksi dan relaksasi otot
1.

Sinyal listrik masuk ke dalam sel saraf yang menyebabkan sel saraf mengeluarkan sinyal
kimia (neurotransmiter) di celah (sinapsis) antara sel saraf dan sel otot.

2.

Sinyal kimia memasuki sel otot dan berikatan langsung dengan protein reseptor yang ada
di membrane plasma sel otot (sarkolema) dan menimbulkan potensial aksi di sel otot.

3.

Potensial aksi yang terjadi ini menyebar ke seluruh bagian sel otot dan masuk ke sel
melalui T-tubule.

4.

Potensial aksi membuka gerbang bagi tempat penyimpanan kalsium (sarcoplasmic


reticulum).

5.

Ion Ca2+ bergerak ke sitoplasma sel otot (sarkoplasma) tempat di mana aktin dan miosin
berada.

6.

Ion kalsium berikatan pada molekul troponin-tropomiosin yang terletak di daerah lekukan
filamen aktin. Biasanya molekul tropomiosin melilit aktin di mana miosin dapat membentuk
crossbrigdes.

7.

Saat berikatan dengan ion kalsium, troponin mengubah bentuk dan menggeser
tropomiosin keluar dari lekukan aktin, memperlihatkan ikatan aktin-miosin.

8.

Miosin berinteraksi dengan aktin melalui putaran crossbrigdes. Dan kemudian otot
berkontraksi, menghasilkan tenaga dan memendek.

9.

Setelah potensial aksi lewat gerbang Ca2+ menutup kembali, Ca2+ yang ada di retikulum
sarkoplasma akhirnya dilepaskan dari sarkoplasma.

10.

Saat itu juga troponin kehilangan konsentrasi Ca2+.

11.

Troponin kembali ke posisi semula dan tropomiosin kembali melilit ikatan aktin-miosin
di filamen aktin.

12.

Karena tidak terbentuknya site di mana terjadi ikatan aktin-miosin, maka tidak ada
crossbridges yang terbentuk dan otot kembali rileks.
Semua aktivitas di atas memerlukan energi. Otot menggunakan energi dalam bentuk
ATP. Energi dari ATP dipakai untuk mengulang kembali dari awal kepala crossbridges miosin
dan melepaskan filamen aktin. Dan untuk menghasilkan ATP, otot melakukan hal berikut:

1. Memecah fosfokreatin (bentuk penyimpanan fosfat berenergi tinggi) dan menambahkan


fosfat pada ADP untuk membentuk ATP.
2.

Melakukan respirasi anaerob, menghasilkan asam laktat dan membentuk ATP.

3.

Melakukan respirasi aerob, memecah glukosa, lemak, dan protein dalam suasana O 2
menghasilkan ATP.

2.10. Kelainan Pada Otot


1. Atrofi otot, merupakan penurunan fungsi otot karena otot mengecil atau karena kehilangan
kemampuan berkontraksi, misalnya lumpuh.

2. Distorsi otot, penyakit ini diperkirakan merupakan penyakit genetis dan bersifat kronis pada
otot anak-anak.
3. Hipertrofi otot, merupakan kelainan otot yang menyebabkan otot menjadi lebih besar dan
lebih kuat karena sering digunakan, misalnya pada binaragawan.
4. Hernia abdominal, kelainan ini terjadi apabila dinding otot abdominal sobek dan
menyebabkan usus melorot masuk ke rongga perut.
5. Kelelahan otot, karena kontraksi secara terus-menerus menyebabkan kram atau kejang.
6. Tetanus, merupakan penyakit yang menyebabkan otot menjadi kejang karena bakteri tetanus.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Struktutr otot terdiri atas berkas-berkas serabut otot, berkas serabut otot ini terdiri atas
sel-sel otot. Di dalam setiap sel otot terdiri atas sarkolemna, sarkoplasma, dan miofibril.
Miofibril memliliki struktur gelap dan strukur terang. Dalam pola gelap dan terang
tersebut terdapat miofilamen yang terdiri atas filamen tipis dan filamen tebal. Filamen
tipis merupakan aktin sedangkan filamen tebal merupakan mioisin. Aktin dan miosin
merupakan protein sel otot yang bertanggung jawab atas kontraksi otot, selain aktin dan
miosin, terdapat pula beberapa protein otot yang mempunyai peran penting dalam
kontraksi otot, yaitu titin, tropomiosin, dan troponin.

3.2 Saran
a. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya.
b. Semoga dengan adanya materi pada makalah ini bisa menunjang pambelajaran dan diskusi
didalam kelas.
c. Penyusun makalah mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi kelancaran dan
kesempurnaan penyusunan makalah berikutnya

Daftar Pustaka
Bakhtiar S. Biologi. 2011. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Pembukuan Kementrian Pendidikan
Nasional.
Ferdinand F, Ariebowo. 2009. Praktis Belajar Biologi 2. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Firmansyah R, Mawardi A, Riandi U. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi 2. Jakarta:
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Ns.Tarwoto,S.Kep.buku kesehatan. Bagian otot