Anda di halaman 1dari 28

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS PERTANAHAN MELALUI

PENYEDIAAN ACCESS REFORM BAGI MASYARAKAT DALAM BINGKAI


REFORMA AGRARIA
COMMUNITY EMPOWERMENT-BASED LAND REFORM THROUGH
PROVIDING ACCESS FOR PEOPLE IN THE FRAME OF AGRARIAN
REFORM
SAEFUL ZAFAR
saefulbpn@gmail.com
Direktorat Pemberdayaan Masyarakat dan Kelembagaan BPN R.I.
Jl. Sisingamangaraja No.2 Kebayoran Baru Jakarta Selatan
ABSTRAK

Penyediaan akses pada sumber-sumber ekonomi memiliki peran yang strategis


dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pemilik aset yang berupa tanah. Dengan
ketersediaan berbagai akses yang dapat digunakan untuk mendayagunakan asetnya
secara tidak langsung dapat mencegah terjadi peralihan kepemilikan yang dikarenakan
untuk memenuhi kebutuhan konsumtif semata. Penyediaan akses sarana dan prasarana,
tehnologi, modal dan pasar sangat dibutuhkan sehingga penguatan aset yang bertujuan
agar aset yang dimiliki tersebut menjadi lebih dapat diterima oleh pasar menjadi modal
dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pemilik tanah. Penelitian ini bertujuan untuk (a)
menganalisa kondisi pelaksanaan program reforma agraria kegiatan penyediaan access
reform; (b) menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kegiatan
penyediaan access reform dalam program reforma agraria; (c) menganalisis nilai faktorfaktor yang ada dalam mempengaruhi pelaksanaan kegiatan penyediaan access reform.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, yaitu
pengumpulan data yang dilakukan untuk menjawab permasalahan yang ada dan
dilakukan dalam bentuk observasi dan wawancara. Teknik pengambilan sampel dengan
menggunakan teknik purposive sampling. Tahapan yang dilakukan dalam analisis data
adalah analisis IFE (Internal Factor Evaluation) dan EFE (External Factor Evaluation),
yang digunakan untuk mengidentifkasi faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh.
Kata Kunci : Reforma Agraria, Akses Reform, Land Reform Plus, Analisis IFE, EFE.

ABSTRACK
Provision of access to economic resources have a strategic role in improving the
welfare of the owner of the assets in the form of land. With the availability of a variety
of access that can be used to indirectly leverage their assets to prevent the transfer of
ownership occurs due to meet consumer needs alone. Providing access to infrastructure,
technology, capital and markets are needed so that the strengthening of the assets
intended for such assets to be more acceptable to the capital markets can be used
optimally by the landowner. This study aimed to (a) analyze the conditions of the
implementation of the agrarian reform program of activities providing access reform,
(b) analyze the factors that affect the implementation of the provision of access reform
the agrarian reform program, (c) analyze the value of existing factors in influencing the
provision of access reform. The method used in this research is descriptive analysis,
namely data collection to address existing problems and takes the form of observations
and interviews. Sampling technique using purposive sampling technique. Steps being
taken in the data analysis is the analysis of IFE (Internal Factor Evaluation) and EFE
(External Factor Evaluation), which is used to identify environmental factors that effect.
Keywords: Agrarian Reform, Access Reform, Land Reform Plus, analysis IFE EFE

I. PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Pertambahan jumlah penduduk tiap tahun semakin meningkat
dimana penduduk Indonesia saat ini mencapai sekitar 225 juta jiwa, dimana
penduduk Indonesia tersebut hidup di atas daratan atau tanah seluas lebih
kurang 1.922.570 km2 yang jumlahnya relatif tetap dalam arti luas tanah
yang tersedia hampir tidak mengalami pertambahan. Keterbatasan
jumlahnya tersebut menjadikan tanah perlu dikelola secara baik dan
bijaksana, sehingga diharapkan semua tanah yang ada dapat memberikan
manfaat yang maksimal kepada sebanyak-banyak manusia, namun kondisi
yang terjadi tidaklah demikian sehingga muncul ketimpangan penguasaan
tanah1.
Adanya ketimpangan penguasaan tanah inilah maka muncul
pemikiran untuk melakukan penataan kembali penguasaan tanah yang ada
guna sebesar-besar kemakmuran rakyat atau yang sering dikenal sebagai
reforma agraria atau land reform. Pelaksanaan Reforma Agraria di
Indonesia merupakan implementasi dari mandat TAP MPR No.
IX/MPR/2001 tentang perlunya penataan struktur penguasaan, pemilikan,
pemanfaatan, dan penggunaan tanah.
Prinsip dasar dari land reform didasarkan kepada arti pentingnya
kepemilikan (property right) terhadap aset yang dimiliki oleh masyarakat
agar dapat dimanfaatkan sebagai modal (capital) dalam pengembangan
usaha atau memulai suatu usaha perekonomian. Dengan terpenuhinya
property right diharapkan pemilik aset memperoleh keuntungan berupa :
(1) mengoptimalkan potensi ekonomi aset; (2) mengintegrasikan informasi
aset kedalam satu sistem; (3) membuat pemilik aset lebih bertanggung
jawab; (4) aset menjadi lebih diterima oleh pasar; (5) menempatkan pemilik
aset ke dalam suatu jaringan; dan (6) melindungi transaksi terhadap aset
yang dimiliki (de Soto, 2006)2.
Berkenaan dengan arah kebijakan pertanahan tersebut di atas,
pelaksanaan kegiatan reforma agraria yaitu asset reform dan access reform

yang selanjutnya secara operasional didalam BPN R.I. dikenal sebagai


kegiatan pemberdayaan masyarakat bidang pertanahan haruslah seimbang,
namun pada kenyataan yang ada pelaksanaan kegiatan pemberdayaan
masyarakat bidang pertanahan lebih didominasi kegiatan asset reform,
adapun untuk pemberian akses kepada sumber-sumber ekonomi dan
produksi bagi masyarakat penerima manfaat belum optimal dilaksanakan.
Upaya membuka berbagai akses tersebut tidak mungkin dapat dilakukan
oleh BPN RI sendiri, hal ini terkait dengan era otonomi daerah sekarang ini
dimana peran aktif pemerintah daerah setempat dalam mendukung program
dari pemerintah pusat sangat dibutuhkan termasuk salah satunya adalah
kegiatan pemberdayaan masyarakat bidang pertanahan.
Sebagai lokasi penelitian kegiatan ini adalah di Kabupaten
Pemalang dimana khususnya pada pelaksanaan kegiatan access reform
mulai dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2009, dimana Kantor
Pertanahan Kabupaten Pemalang terlibat dalam kegiatan pendampingan
dengan bekerjasama dengan pemangku kepentingan setempat dalam bentuk
pendampingan usaha pertanian yang berbasis pada pengembangan padi
organik sebagai bagian untuk mewujudkan program pemerintah daerah
setempat untuk mewujudkan Kabupaten Pemalang sebagai Kawasan
Agropolitan3.
B.

Rumusan Masalah
Pelaksanaan Reforma Agraria di Kabupaten Pemalang pada tahun
2008-2009 untuk program penguatan asset yang dilaksanakan mencapai
36.388 bidang tanah dengan luas tanah lebih dari 2.000 hektar yang terdiri
dari berbagai kegiatan antara lain Ajudikasi (LMPD), PRONA, PRODA,
Redistribusi Tanah dan Sertipikat Massal Swadaya (SMS) dengan sumber
dana dari Pusat, Propinsi, Kabupaten dan swadaya masyarakat. Disisi lain
program access reform pada periode yang sama yaitu 2008-2009 di
Kabupaten Pemalang hanya mencakup 15 lokasi dengan luas hanya
mencapai 32,2 hektar yang diberikan kepada 20 orang masyarakat

penerima manfaat, adapun sumber dana hanya dari Kantor Pertanahan dan
Pemerintah

Kabupaten

Pemalang

(Kantor

Pertanahan

Kabupaten

Pemalang, 2010) .
Terlepas masih belum maksimalnya kondisi pelaksanaan program
reforma agraria di Kabupaten Pemalang pada tahun 2008-2009, namun
kegiatan penyediaan access reform ini diharapkan dapat memberikan
sedikit gambaran tentang kegiatan pemberdayaan yang dapat dilaksanakan
melalui inisiatif dari unsur BPN R.I. di daerah sehingga kedepan akan
dapat semakin ditingkatkan lagi kualitas maupun kuantitasnya.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka beberapa permasalah yang
diangkat dalam penelitian ini adalah:
a.

Bagaimana kondisi pelaksanaan program reforma agraria untuk


kegiatan penyediaan access reform ?

b.

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pelaksanakan dalam kegiatan


penyediaan access reform ?

c.

Seberapa besar nilai faktor-faktor dalam mempengaruhi pelaksanaan


kegiatan penyediaan access reform ?

C.

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
a.

Menganalisis kondisi pelaksanaan program reforma agraria untuk


kegiatan penyediaan access reform.

b.

Mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi pelaksanakan dalam


kegiatan penyediaan access reform.

c.

Menganalisis nilai faktor-faktor yang ada dalam mempengaruhi


pelaksanaan kegiatan penyediaan access reform.

II. TINJAUAN TEORI


A. Pemberdayaan Masyarakat Bidang Pertanahan
Pemberdayaan masyarakat bidang pertanahan adalah upaya untuk
membangun kemampuan masyarakat dengan mendorong, memotivasi dan
membangkitkan kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam pengelolaan
sumber daya tanah sebagai sumber kehidupan. Adapun maksud dari
diselenggarakannya
meningkatkan

pemberdayaan

peran

serta,

masyarakat

kemampuan,

dimaksudkan

kesadaran,

untuk

kemandirian

masyarakat secara lebih nyata dalam melaksanakan program-program


pertanahan. Dan tujuannya adalah untuk meningkatkan akses masyarakat
terhadap

program-program

pertanahan

yang

meliputi

penguasaan,

pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah (P4T) dalam rangka


peningkatan kesejahteraan masyarakat5
Kegiatan

pemberdayaan

masyarakat

dilaksanakan

dengan

membawa visi untuk mewujudkan tanah dan pertanahan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat, yang berkeadilan dan berkelanjutan, dimana
untuk

mencapai

visi

tersebut

dijabarkan

dalam

beberapa

misi

pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan yaitu 1 :


1.

Penciptaan sumber-sumber baru kemakmuran rakyat, pengurangan


kesenjangan pendapatan, dan pemantapan ketahanan pangan;

2.

Penataan yang berkeadilan dan bermartabat dalam kaitannya dengan


penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T);

3.

Penataan sistem pengelolaan pertanahan sehingga tidak melahirkan


sengketa, konflik dan perkara di kemudian hari;

4.

Menjamin keberlanjutan sistem kemasyarakatan dengan memberikan


akses pada generasi yang akan datang terhadap tanah sebagai sumber
kesejahteraan masyarakat;

5.

Penguatan lembaga pertanahan untuk mencapai tujuan Mengelola


tanah

seoptimal

mungkin

kemakmuran rakyat .

untuk

mewujudkan

sebesar-besar

B. Definisi Reforma Agraria


Menurut Wiradi (2001)6, reforma agraria adalah penataan ulang
struktur pemilikan dan penguasaan tanah beserta seluruh paket penunjang
secara lengkap. Paket penunjang tersebut adalah adanya jaminan hukum
atas hak yang diberikan, tersedianya kredit yang terjangkau, adanya akses
terhadap jasa-jasa advokasi, akses terhadap informasi baru dan teknologi,
pendidikan dan latihan, dan adanya akses terhadap bermacam sarana
produksi dan bantuan pemasaran.
Senada dengan pengertian tersebut di atas, Winoto (2007)7
mengemukakan bahwa reforma agraria adalah Land Reform Plus, yang
berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Artinya, land reform yang
mekanismenya untuk menata kembali proses-proses yang dirasa tidak adil
dengan penambahan access reform sehingga pemberian tanah bagi petani
dapat dijadikan sebagai alat produksi.
C. Landasan Hukum Pelaksanaan Reforma Agraria
a.

Landasan idiil : Pancasila.

b.

Landasan Konstitusional: UUD 1945 dan Perubahannya

c.

Landasan politis:
1. Tap MPR RI Nomor IX/MPR/2001, tentang pembaharuan Agraria
dan Pengelolaan Sumber daya Alam;
2. Pidato politik awal tahun Presiden RI tanggal 31 Januari 2007.

d.

Landasan hukum terdiri dari 18 Undang-Undang yang terkait SDA,


Keuangan. Otda, RPJP, Tata Ruang, dll.

Sumber : BPN R.I. (2007)8


D. Strategi Dasar Pelaksanaan Reforma Agraria di Indonesia
Dalam Tap MPR RI Nomor IX/MPR/2001 pasal 5 ditetapkan arah
kebijakan pembaruan agraria (reforma agraria) secara garis besar adalah:
1.

Pengkajian ulang dan sinkronisasi berbagai peraturan perundangan di


bidang agraria.

2.

Penataan kembali land reform yang berkeadilan.

3.

Pendataan pertanahan secara komprehensif dan sistematis untuk


mendukung land reform.

4.

Menyelesaikan

konflik-konflik

agraria

yang

timbul

serta

mengantisipasi potensi konflik di masa mendatang.


5.

Memperkuat kelembagaan dan kewenangan dalam mengemban


pelaksanaan reforma agraria dan menyelesaikan konflik agraria yang
terjadi.

E. Pelaksanaan Program Reforma Agraria


Program reforma agraria nasional yang merupakan salah satu
agenda besar bangsa indonesia, oleh BPN RI ditetapkan pelaksanaannya
secara garis besar mencakup empat lingkup kegiatan utama yaitu :
1. Penetapan Obyek 5
Tanah hasil redistribusi
Tanah hasil legalisasi aset
Tanah Cadangan Untuk Negara (TCUN)
Tanah hasil penyelesaian sengketa dan konflik
2. Penetapan Subyek8

Gambar 1. Kriteria Umum Subyek Reforma Agraria Berdasarkan Prioritas


(Sumber : BPN RI, 2007)

3. Penentuan Mekanisme yang Digunakan 8


Mekanisme dasar reforma agraria atau sering juga disebut
dengan delivery system reforma agraria, sesuai dengan kondisi atau
kedudukan subyek (petani miskin, buruh tani atau pengelola tanah) dan
obyek (tanah), sebagai berikut:
a. Subyek dan obyek berdekatan atau berhimpit, fokus pada ketiga
obyek tanah dalam reforma agraria ini, yaitu: (1) tanah kelebihan
maksimum, (2) tanah absentee, dan (3) tanah negara lainnya, dapat
ditempuh melalui memperbaiki akses petani kepada teknologi baru,
mendekatkan perilaku usaha dengan sumber pembiayaan, serta
menyediakan akses pasar dan bagi produk yang akan dikembangkan
oleh subyek reforma agraria.
b. Subyek mendekati obyek, diterapkan apabila subyek dan obyek
berada pada lokasi yang berjauhan, dapat ditempuh melalui kegiatan
trasmigrasi umum dan trasmigrasi lokal, serta memberikan atau
mendistribusi tanah seluas dua hektar atau lebih di daerah tujuan
kepada subyek reforma agraria.
c. Obyek mendekati subyek, diterapkan apabila subjek dan obyek
berada pada lokasi yang berjauhan. Skema yang sesuai untuk
mendekatkan obyek kepada subyek dikenal dengan swap atau
pertukaran tanah yang didasarkan pada strategi konsolidasi lahan
atau bahkan bank tanah. Skema ini memang agak rumit karena
melibatkan hubungan kepemilikan tanah bertingkat yang tidak
sederhana, sehingga perlu dirumuskan secara hati-hati, dengan
kelembagaan yang jelas dan bewibawa.
4. Pemberian Access Reform
Kepastian keberhasilan tujuan dari reforma agraria adalah
dengan pemberian access reform yang tepat. Access reform merupakan
serangkaian aktivitas yang saling terkait dan kesinambungan, meliputi
antara lain 8:

a.

Penyediaan infrastruktur dan sarana produksi.

b.

Pembinaan dan bimbingan tehnis kepada penerima manfaat.

c.

Dukungan permodalan.

d.

Dukungan distribusi pemasaran.

e.

Dukungan lainnya.

F. Lingkungan Eksternal dan Internal Organisasi


Menurut Umar (2002)9, lingkungan eksternal merupakan suatu
kekuatan yang berada diluar perusahaan dimana perusahaan/instansi tidak
mempunyai pengaruh terhadapnya (uncontrollable), dimana perubahan
yang terjadi pada lingkungan ini akan mempengaruhi kinerja semua
perusahaan/instansi. Identifikasi lingkungan mencakup analisis dan
diagnosis lingkungan sehingga penyusun strategi mampu mengetahui
kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan perusahaan perusahaan /
instansi.
Lingkungan internal adalah lingkungan organisasi yang berada
dalam kontrol organisasi/instansi dan secara normal memiliki implikasi
langsung dan khusus pada organisasi

(Hubeis dan Najib, 2008)10.

Komponen lingkungan internal organisasi adalah sumberdaya (resources),


kapabilitas

(capability)

dan

kompetensi

inti

(core

competence).

Sumberdaya diartikan sebagai input yang dibutuhkan organisasi untuk


suatu proses produksi atau operasi, yang dikelompokkan menjadi tangible,
intangible dan human resources.
III. METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu :
Penelitian

dilaksanakan

di

lingkungan

Kantor

Pertanahan

Kabupaten Pemalang dan instansi terkait lainnya di wilayah administratif


Kabupaten Pemalang. Adapun waktu penelitian selama 3 (tiga) bulan, pada
bulan Agustus sampai dengan Oktober 2010.

10

B. Pendekatan Penelitian
Metode

penelitian

yang

digunakan

adalah

studi

kasus

menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan observasi dan


wawancara. Penggunaan metode ini untuk memperoleh gambaran yang
jelas mengenai masalah yang benar-benar terjadi dalam kegiatan reforma
agraria khususnya dalam, proses pemberian access reform, sehingga
diharapkan dapat ditemukan sebuah strategi yang paling tepat dalam
pengembangan kegiatan reforma agraria dalam proses pemberian access
reform dan alternatif strategi yang mungkin dikembangkan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah lain melalui kegiatan
reforma agraria.
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan menggunakan kuisioner
tertutup dan wawancara yang mendalam (in depth interview) karena data
yang diperlukan merupakan persepsi responden, sehingga diperlukan
penjelasan mengenai beberapa hal yang terkait maksud, tujuan dan materi
wawancara. Selain itu juga penggunaan daftar pertanyaan terbuka
dipergunakan dalam menggali berbagai faktor yang mempengaruhi
pelaksanaan kegiatan reforma agraria.
C. Data yang diperlukan dan sumbernya
Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder.
Data primer adalah data yang diperoleh melalui pengamatan langsung,
wawancara, dan penyebaran kuesioner. Dalam penelitian ini data primer
akan diperoleh dari penyebaran kuesioner dan wawancara kepada para
pakar sebagai responden.
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai sumber
studi literatur diantaranya bersumber dari laporan yang terkait dari dalam
instansi terkait maupun dari pihak penerima manfaat program reforma
agraria, terdiri dari (1) gambaran umum wilayah; (2) jumlah masyarakat
penerima manfaat reforma agraria; (3) model kegiatan pemberian access
reform oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Pemalang. Selain itu, data

11

sekunder berupa informasi lainnya yang diperoleh dari buku, majalah,


jurnal, hasil penelitian terdahulu, dan situs internet.
D. Tehnik pengumpulan data dan informasi
Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah :
1.

Observasi
Melakukan pengamatan langsung di lapangan tentang pelaksanaan
kegiatan pemberian access reform yang telah dilaksanakan selama ini
dan menentukan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kegiatan
pemberian access reform tersebut.

2.

Kuesioner
Daftar pertanyaan yang telah dibuat disusun untuk diajukan kepada
responden untuk mendapatkan data primer maupun data sekunder guna
keperluan analisa dan pembahasan.

3.

Wawancara
Melakukan wawancara kepada pakar dari pihak struktural Kantor
Pertanahan Kabupaten Pemalang dan pakar dari pihak eksternal diluar
Kantor Pertanahan Kabupaten Pemalang untuk mengukur, menentukan
faktor-faktor

yang

telah

disepakati,

dan

memudahkan

untuk

merealisasikan upaya menerapkan strategi pemberian access reform


yang tepat dan efektif bagi meningkatkan kesejahteraan rakyat
penerima manfaat.
4.

Studi pustaka
Studi pustaka dilakukan dengan didukung oleh teori-teori dan
menelaah berbagai buku dan referensi yang relevan dengan
pembahasan penelitian.

E. Teknik pengambilan contoh


Responden yang dilibatkan pada penelitian ini sebanyak 12 (dua
belas) orang dengan metode non propability sampling menggunakan teknik
purposive sampling or judgement sampling (secara disengaja) dengan

12

pertimbangan bahwa responden yang dimaksud memiliki kapasitas,


kemampuan dalam merumuskan kebijakan, dan penerapan strategi
pelaksanaan kegiatan penyediaan access reform dalam program reforma
agraria, sebagaimana pada Tabel 1.
Tabel 1. Daftar Responden
Responden

Internal

Jabatan / Instansi
Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Pemalang
Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberdayaan
Pertanahan Kabupaten Pemalang
Pejabat Struktural di Direktorat Landreform BPN RI

Masyarakat

Kantor

Pejabat Struktural di Bidang Pemberdayaan Masyarakat Kanwil BPN Propinsi


Jawa Tengah

Eksternal

Pejabat struktural di Bagian Pemerintahan Kabupaten Pemalang


Pejabat struktural di Dinas Perindagkop dan UKM Kabupaten Pemalang
Pejabat struktural di Dinas Pertanian Kabupaten Pemalang
Unsur Kelompok Tani
Unsur Perbankan
Unsur Legislatif Kabupaten Pemalang
Unsur Akademisi dari Universitas Pekalongan
Unsur Pengusaha setempat

F. Pengolahan Data dan Analisis Data


Data yang diperoleh dihimpun menggunakan kuesioner kemudian
dituangkan dalam bentuk tabel untuk memudahkan proses pengolahan,
kemudian

dianalisa

secara

deskriptif

untuk

menentukan

strategi

pengembangan yang tepat dan efektif kegiatan reforma agraria dalam


proses pemberian access reform oleh Kantor Pertanahan Kabupaten
Pemalang. Langkah selanjutnya adalah dengan melakukan analisis faktor
eksternal dan internal yang mempengaruhi kegiatan pemberiaan access
reform .
Analisis deskriptif merupakan analisa yang bertujuan untuk
memberikan gambaran tentang pelaksanaan kemitraan yang telah
dilaksanakan pada objek penelitian, kendala-kendala yang ada, tingkat
keberhasilan, dan rencana strategi pengembangannya. Selain memberikan

13

gambaran tentang pelaksanaan kemitraan ini, melalui analisis deskriptif


juga diharapkan dapat digambarkan pola masyarakat penerima manfaat
reforma agraria,.
David (2009)11, menyatakan analisis yang diteliti dari masingmasing

elemen

eksternal

dan

internal

dapat

dilakukan

dengan

menggunakan matriks External Factor Evaluation (EFE) dan Internal


Factor Evaluation (IFE). Kegunaan penilaian eksternal adalah untuk
mengembangkan sebuah daftar mengenai peluang yang dapat memberikan
keuntungan organisasi/instansi bagi dengan memanfaatkannya untuk
meminimalisir ancaman yang ada. Adapun penilaian internal adalah untuk
mengembangkan

sebuah

daftar

mengenai

kekuatan

yang

dapat

dioptimalkan suatu organisasi/instansi untuk dapat digunakan dalam


mengatasi berbagai kelemahan yang dimiliki organisasi/instansi tersebut.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Program Reforma Agraria Kegiatan Penyediaan Access
Reform
Penyediaan akses bagi masyarakat penerima manfaat sebagai
kelanjutan

dari

legalisasi

aset

yang

diberikan

melalui

program

pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Pemalang meliputi beberapa


kegiatan yaitu3:
1.

Penyediaan Infrastruktur dan Sarana Produksi : kegiatan pertanian


organik seluas 32,23 hektar dan pembuatan pupuk organik BIOSOL

2.

Pembinaan dan Bimbingan Tehnis kepada Penerima Manfaat :


pelatihan optimalisasi sumber daya manusia dan sumber daya alam
Kabupaten Pemalang tahun 2009 (materi meliputi : pertanahan,
pertanian dan ketenaga kerjaan)

3.

Memberikan Akses Dukungan terhadap Permodalan : melakukan


perjanjian kerjasama dengan Bank Jateng Cabang Pemalang untuk
menyediakan fasilitas pembiayaan bagi petani

4.

Memberikan Akses Dukungan terhadap Pasar : diikutsertakan dalam


berbagai kegiatan ekspo dan pameran.

14

5.

Meningkatkan Keterlibatan Masyarakat : Membentuk GEMARA di


42 desa/kel (2009-2010)

Secara umum kondisi pelaksanaan kegiatan penyediaan access reform di


Kabupaten dapat dilihat pada Tabel. 2 sebagai berikut.
Tabel 2. Kondisi Pelaksanaan Kegiatan Penyediaan Access Reform dalam
Program Reforma Agraria di Kabupaten Pemalang
Kegiatan
1. Penyediaan
Infrastruktur
dan Sarana
Produksi

Sub Kegiatan
Penyediaan
saprotan untuk
kegiatan awal
usaha pertanian

Hasil yang diharapkan


Mengembangkan
usaha
pertanian
masyarakat
berdasarkan potensi yang
ada di tiap desa/kel

Hasil yang dicapai


Pengembangan
usaha
pertanian
organik di 10 desa

Merintis pembuatan
rumah produksi
pupuk organik

Mengurangi
ketergantungan petani dari
pupuk yang ada dipasaran

Pembuatan
rumah
produksi
pupuk
organik Biosol di 2
desa
dengan
kapasitas
produksi
15 ton per bulan

Menyediakan
fasilitas gedung
untuk pusat aktivitas
GEMARA

Memberikan
kemudahan
dalam berkoordinasi dalam
pelaksanaan
kegiatan
GEMARA

2. Pembinaan
dan
Bimbingan
Teknis
kepada
Penerima
Manfaat
3. Memberikan
akses
dukungan
terhadap
permodalan

Melakukan pelatihan
optimalisasi SDM
dan SDA kepada
anggota GEMARA

Memberikan bekal bagi


semua anggota GEMARA
guna
melaksanakan
perannya sebagai tenaga
pendamping
kegiatan
access reform di tiap
desa/kel
Memberikan jalan bagi
petani
untuk
memberdayakan aset tanah
yang
dimilikinya
untuk
dapat
mendukung
permodalan
kegiatan
usahanya

Pemberian pinjaman
gedung untuk kantor
GEMARA
yang
berlokasi di
Jl. Sindoro No.95
Pemalang
Melakukan pelatihan
kepada 20 kelompok
GEMARA dari 42
kelompok yang ada

4. Memberikan
Akses
Dukungan
terhadap
Pasar

Mempromosikan
hasil kegiatan
access reform pada
berbagai pameranpameran

Memperkenalkan
hasil
kegiatan access reform
kepada masyarakat dan
dunia usaha

5. Meningkatka
n
Keterlibatan
Masyarakat

Pembentukan
kelompok Gerakan
Masyarakat
Reforma Agraria
(GEMARA)

Membentuk
GEMARA
sebagai motor penggerak
reforma
agraria
di
Kabupaten Pemalang

Melibatkan
GEMARA dalam
membantu tugas
pelayanan dibidang
pertanahan

Memberdayakan GEMARA
sebagai tenaga pengumpul
data yuridis untuk kegiatan
sertipikasi massal di
desa/kel masing-masing

Melakukan
perjanjian
kerjasama dengan
pihak perbankan
guna memberikan
fasilitas kredit untuk
petani

15

Telah
dicapai
kerjasama
dengan
Bank Jateng Cabang
Pemalang
dalam
penyediaan fasilitas
kredit bagi peserta
kegiatan
access
reform
Merintis
kerjasama
dengan CV.Sukses
Makmur
Jaya
sebagai mitra dalam
pemasaran
beras
organik
Terbentuk GEMARA
di 42 desa/kel dari
222 desa/kel yang
ada di Kab Pemalang

Telah terlaksana
dalam kegiatan
sertipikat masal
swadaya (SMS)
tahun 2009 sebanyak
945 bidang di 8 desa

Permasalahan
Belum adanya peta
potensi lokal berbasis
pertanian sehingga
pengembangan
usaha
pertanian
lainnya baru dalam
tahapan konsep
Keterbatasan lokasi
pembuatan,
menjadikan kapasitas
produksi
yang
dihasilkan
belum
dapat
memenuhi
kebutuhan petani
--

Ketersediaan
anggaran
pelatihan
terbatas

untuk
masih

Sosialisasi perjanjian
kerjasama ini kepada
petani
belum
maksimal sehingga
belum ada petani
yang memanfaatkan
fasilitas ini
Kualitas beras
organik yang
dihasilkan masih
beragam sehingga
perlu ditingkatkan
Belum
tersosialisasinya
manfaat GEMARA
sehingga
mempersulit
rekruitmen calon
anggota
Masih perlu
peningkatan kualitas
pengetahuan
mengenai
pertanahan

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Kegiatan Penyediaan


Access Reform di Kabupaten Pemalang
1. Faktor Lingkungan Internal
a. Kekuatan (Strenghts)
Kekuatan (strengths) pada dasarnya merupakan faktor-faktor
strategis (internal) yang bersifat mendukung pencapaian tujuan
organisasi dan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk
mencapai tujuan organisasi tersebut11. Berdasarkan pengolahan data
kuesioner, terdapat lima faktor strategis internal yang termasuk dalam
kategori kekuatan bagi pelaksanaan kegiatan penyediaan access reform
dalam program reforma agraria di Kabupaten Pemalang yaitu :
1)

Dukungan dari Instansi BPN dan di Pusat dan Propinsi


Sebagai lembaga BPN RI di tingkat kabupaten, Kantor Pertanahan
merupakan ujung tombak pelaksanaan reforma agraria sehingga
berhasil atau tidaknya tentunya harus memperoleh dukungan dari
instansi induk yang berada di atas Kantor Pertanahan Kabupaten
Pemalang baik dari Kanwil BPN Propinsi Jawa Tengah maupun
dari BPN RI. Dukungan yang diberikan dari kedua instansi
tersebut telah diwujudkan dalam beberapa hal antara lain dengan
diikutkannya Kabupaten Pemalang sebagai salah satu daerah yang
menjadi lokasi kegiatan access reform dalam program reforma
agraria Kanwil BPN Propinsi Jawa Tengah yang bekerjasama
dengan PT. Djarum Kudus yaitu dengan pemberian bibit tanaman
pelindung guna mengatasi lahan kritis yang ada di Kabupaten
Pemalang.

2)

Keterlibatan Sumber Daya Manusia dalam Pelaksanaan Kegiatan


Pemberian access reform sebagai bagian dari reforma agraria
merupakan suatu kegiatan yang memerlukan perhatian dan
penanganan

khusus

karenanya

diperlukan

dukungan

yang

maksimal dari seluruh komponen di Kantor Pertanahan Kabupaten


Pemalang untuk menyukseskan kegiatan ini.
Dalam mengawal pelaksanaan kegiatan access reform ini, hampir
semua karyawan/karyawati yang ada di Kantor Pertanahan

16

Kabupaten Pemalang dilibatkan, yaitu mulai dari kegiatan


kesekretariatan di intern kantor, tenaga pengajar maupun tenaga
pendamping di lapang12.
3)

Kedudukan BPN dalam Reforma Agraria


Tugas pemerintahan di bidang pertanahan termasuk didalamnya
adalah menjalankan amanat Tap MPR RI No. IX tahun 2001
tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam,
hal ini selanjut dimunculkan juga pada Pidato Politik Awal Tahun
2007 Presiden Republik Indonesia secara khusus mencanangkan
pelaksanaan reforma agraria secara bertahan dan akan dimulai
tahun 2007 dengan berprinsip Tanah untuk Keadilan dan
Kesejahteraan Rakyat hal ini yang menegaskan kedudukan BPN
R.I. dalam reforma agraria (BPN RI, 2007)8.

4)

Hubungan Baik dengan Para Stakeholder


Berbagai pendekatan dan koordinasi telah dilakukan oleh pimpinan
Kantor Pertanahan Kabupaten Pemalang dan mendapat respon
yang positif dari berbagai pihak diantaranya : a) dengan ditanda
tanganinya perjanjian kerjasama dengan Bupati Pemalang untuk
mendukung pelaksanaan program reforma agraria; b) adanya
kesepakatan dengan Bank Jateng Cabang Pemalang untuk
memberikan akses permodalan untuk para peserta kegiatan access
reform dan c) selalu melakukan koordinasi dengan berbagai pihak
dalam merencanakan semua kegiatan yang akan dilaksanakan.

5)

Telah terbentuk GEMARA


Untuk membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan access reform
serta sebagai perwujudan pelaksanaan partisipasi aktif masyarakat
maka Kantor Pertanahan Kabupaten Pemalang telah membentuk
kelompok Gerakan Masyakat Reforma Agraria (GEMARA) di
tingkat Kabupaten dan Desa/Kelurahan.

b. Kelemahan (Weaknesses)
Kelemahan (weaknesses) dapat didefinisikan sebagai faktor-faktor yang
bersifat menghambat atau tidak sinergis dengan / tidak mendukung

17

upaya pencapaian tujuan organisasi dan harus diminimalkan agar tidak


mengganggu pencapaian tujuan organisasi tersebut11. Berdasarkan data
kuesioner responden yang telah diolah, terdapat enam faktor strategis
internal yang dikategorikan sebagai kelemahan pada pelaksanaan
kegiatan penyediaan access reform dalam program reforma agraria di
Kabupaten Pemalang.
1)

Posisi sebagai Instansi Vertikal


Badan Pertanahan Nasional sebagai Lembaga Pemerintah Non
Departemen (LPND) adalah instansi vertikal yang bertanggung
jawab langsung kepada Presiden yang memiliki organisasi berada
di pusat, propinsi dan kabupaten/kota. Sebagai instansi vertikal
yang berada di tingkat kabupaten, maka Kantor Pertanahan
Kabupaten Pemalang merupakan wakil pemerintah pusat di daerah,
sehingga

program-program

yang

dijalankan

seharusnya

mendapatkan dukungan dari Pemerintah Daerah setempat.


Namun seringkali hal demikian tidak terjadi, khususnya jika sudah
menyangkut masalah anggaran seringkali sebuah program yang
ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat
namun karena digagas oleh sebuah instansi vertikal dari pihak
daerah setempat juga menganggap masalah anggaran adalah
tanggung jawab pemerintah pusat juga, sehingga pengajuan
anggaran maupun dukungan sarana dan prasarana kepada
pemerintah daerah seringkali diabaikan yang berakibat kurang
optimalnya pelaksanaan suatu program.
2)

Pengetahuan Sumber Daya Manusia tentang Reforma Agraria


Dari hasil wawancara dengan pihak pengambil kebijakan di Kantor
Pertanahan Kabupaten Pemalang menyatakan jika masih banyak
pendapat khususnya di kalangan staf yang berpendapat bahwa
tugas Kantor Pertanahan hanya sebatas pensertipikatan tanah atau
penyediaan

asset

reform,

sedangkan

untuk

pemberdayaan

masyarakat atau access reform itu adalah tugas pemerintah daerah


setempat.

18

3)

Jumlah Sumber Daya Manusia yang Ada Terbatas


Sebagai instansi vertikal maka alokasi sumber daya manusia yang
ada di Kantor Pertanahan Kabupaten Pemalang di tentukan oleh
instansi Pusat yaitu BPN RI, dimana sejak tahun 2000 sampai
sekarang fokus penambahan pegawai baru hanya untuk daerahdaerah di luar Jawa.

4)

Sarana dan Prasarana penunjang yang dimiliki Terbatas


Adapun gedung kantor yang dimiliki oleh Kantor Pertanahan
Pemalang seperti Gedung Kantor yang berada di Jalan Pemuda
No.2 Pemalang , merupakan gedung yang dibangun pada akhir
tahun 1980-an yang jika digunakan untuk melaksanakan pelayanan
kepada masyarakat sebenarnya sudah kurang nyaman, baik dari
sisi luas maupun kondisi bangunan secara keseluruhan.

5)

Ketersediaan Anggaran
Pelaksanaan kegiatan access reform yang multisektoral untuk
mencapai keberhasilan tentunya memerlukan alokasi yang cukup
besar karena berbagai kegiatan

yang dilaksanakan selain

melibatkan banyak pihak baik masyarakat sebagai penerima


manfaat maupun para stakeholder yang mendukung pelaksanaan
kegiatan

ini.

Namun

pada

kenyataannya

anggaran

yang

dialokasikan oleh pemerintah pusat untuk kegiatan access reform


tersebut masih relatif kecil, sehingga masih jauh dari mencukupi
kebutuhan operasional Seksi Pengendalian dan Pemberdayaan
Masyarakat di Kantor Pertanahan Kabupaten Pemalang.
6)

Lemahnya Implementasi Peraturan tentang Reforma Agraria


Kelembagaan reforma agraria secara rinci sebenarnya sudah diatur
dalam beberapa keputusan Kepala Badan Pertanahan Republik
Indonesia Nomor : 4, 5, 6 dan 8 Tahun 2007 yang secara rinci telah
mengatur tentang pembentukan Badan Pengelola dan Pembiayaan
Reforma Agraria dari tingkat nasional (pusat), regional (propinsi),
cabang (kabupaten/kota) dan ranting (kecamatan) yang didalamnya
telah memuat kewenangan dan sumber pembiayaan pelaksanaan
kegiatan reforma agraria.

19

Namun pada kenyataan sampai dengan tahun 2010 sekarang


kelembagaan yang telah ditetapkan tersebut belum terbentuk sama
sekali baik itu di tingkat pusat maupun untuk level dibawahnya,
jadi pelaksanaan reforma agraria selama ini dapat dikatakan lemah
dari segi kelembagaannya, karena belum ada lembaga yang khusus
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan reforma agraria.
2. Evaluasi Faktor Internal
Evaluasi faktor internal pelaksanaan program reforma agraria kegiatan
penyediaan access reform di Kabupaten Pemalang dari hasil penelitian
diperoleh hasil seperti yang dinyatakan dalam IFE Matrix sebagaimana
pada Tabel 3.
Tabel 3. Matriks Evaluasi Faktor Internal
No.

FAKTOR STRATEGIS INTERNAL

I.
1
2
3
4
5

Kekuatan :
Dukungan dari instansi BPN di Pusat dan Propinsi
Keterlibatan SDM dalam Pelaksanaan Kegiatan
Kedudukan BPN dalam Reforma Agraria
Hubungan yang harmonis dengan para Stakeholder
Telah terbentuk GEMARA
Jumlah Kekuatan
Kelemahan :
Posisi BPN sebagai instansi vertikal
Pengetahuan SDM tentang Reforma Agraria
Jumlah SDM yang terbatas
Sarana dan prasarana penunjang yang dimiliki
Ketersediaan anggaran
Lemahnya
Implementasi
Peraturan
tentang
Reforma Agraria
Jumlah Kelemahan
Jumlah Faktor Strategis Internal

II.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Bobot

Skor

Skor
Terbobot

0,108
0,096
0,110
0,104
0,083
0,501

4
3
4
3
3

0,432
0,289
0,439
0,312
0,249
1,721

0,073
0,077
0,085
0,085
0,089
0,091

2
2
1
2
1
2

0,146
0,154
0,085
0,170
0,089
0,181

0,499
1,000

0,825
2,545

3. Faktor Eksternal
a. Peluang (Opportunities)
Peluang (opportunities) pada dasarnya merupakan faktor-faktor
strategis (eksternal) yang berada relatif di luar kendali atau penguasaan
organisasi, bersifat mempengaruhi secara positif pencapaian tujuan
organisasi dan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk
mencapai tujuan organisasi tersebut11. Berdasarkan pengolahan data
kuesioner, terdapat delapan faktor strategis eksternal yang termasuk

20

dalam kategori peluang bagi pelaksanaan kegiatan penyediaan access


reform pada program reforma agraria di Kabupaten Pemalang yaitu :
1) Dukungan Pemerintah Kabupaten Pemalang.
Dalam pelaksanaan kegiatan penyediaan access reform dalam
program reforma agraria dukungan dari pemerintah Kabupaten
Pemalang memiliki peran yang besar dalam suksesnya kegiatan ini.
Bentuk dukungan yang diberikan antara lain berupa : a) sarana dan
prasarana : gedung sekretariat GEMARA, tempat pelatihan, bantuan
mobil operasional, dll; b) sumber daya manusia : penyediaan tenaga
pengajar dan c) alokasi dana untuk menunjang pelaksanaan kegiatan
access reform di Kabupaten Pemalang.
2) Dukungan Pihak Perbankan
Salah satu dukungan yang diberikan oleh pihak perbankan adalah
datang dari pihak manajemen Bank Jateng cabang Pemalang, yang
telah melakukan penanda tanganan perjanjian kerjasama dengan
Kantor Pertanahan Kabupaten Pemalang yang secara garis besarnya
mereka memberikan fasilitas kredit bagi para peserta access reform
sepanjang ada rekomendasi dari Kantor Pertanahan tentang status
aset yang dimiliki. Dimana jika memang tanah itu belum
disertipikatkan maka petani hanya diwajibkan membawa surat
keterangan dari Kantor Pertanahan bahwa tanah milik sudah dalam
proses sertipikat di Kantor Pertanahan.
3) Partisipasi Aktif Warga Negara
Tanggapan warga lokasi kegiatan access reform secara umum baik
dimana untuk wilayah tersebut telah terbentuk kepengurusan
GEMARA yang juga aktif mengikuti kegiatan pelatihan yang
dilaksanakan untuk persiapan kegiatan access reform ini.
Adapun dari pihak masyarakat juga cukup antusias sehingga di
sepuluh lokasi bisa dilakukan rintisan usaha penanaman padi
organik berbagai varietas dengan luas lahan yang dimiliki
masyarakat seluas + 13 hektar. Hal ini menjadikan pelaksanaan
kegiatan access reform di desa tersebut dapat terlaksana sesuai yang
diharapkan.

21

4) Keterlibatan Unsur Perguruan Tinggi.


Peran perguruan tinggi dalam kegiatan access reform di Kabupaten
Pemalang berkaitan dengan pemberian akses tehnologi yang
mendukung pelaksanaan kegiatan usaha tani organik dari mulai
penyiapan sumber daya manusia, penerapan tehnologi pertanian
organik dan pembuatan pupuk organik.
Kegiatan penyediaan akses tehnologi tersebut dapat terlaksana
dengan bekerja sama dengan Universitas Diponegoro melalui
Yayasan Progressio Indo Agro sebuah yayasan yang bergerak di
bidang pemberdayaan pertanian organik dibawah koordinator Prof.
Dr. Ir. Djoko Murwono, MS.
5) Penyerapan Hasil Produksi
Salah satu pertimbangan untuk menjadikan usaha pertanian organik
sebagai kegiatan dalam penyediaan access reform adalah makin
meningkatnya kebutuhan beras sebagai bahan makanan pokok di
Indonesia, dimana menurut data dari Badan Pusat Statistik pada
tahun 2007 total konsumsi beras nasional mencapai 38 juta ton,
namun dilain pihak jumlah produk beras nasional hanya berkisar 35
juta ton ( Lesmana, et al, 2008)13. Hal ini berarti seluruh produksi
beras nasional dapat diserap oleh pasar domestik bahkan masih
defisit sekitar 3 juta ton pertahun.
6) Adanya Program Sejenis.
Adanya dukungan yang positif dari pihak pemerintah Kabupaten
Pemalang dikarenakan program reforma agraria memiliki tujuan
yang

identik

dikembangkan

dengan
oleh

program

pemerintah

multisektoral
Kabupaten

yang

Pemalang

sedang
yaitu

Program Agropolitan yang merupakan gerakan pemberdayaan


masyarakat tani yang menuju kota pertanian yang tumbuh dan
berkembang dengan kegiatan agrobisnis sehingga dapat melayani,
mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian
dalam arti yang luas pada wilayah sekitarnya.

22

b. Ancaman (Threats)
Ancaman

(threats) secara sederhana dapat didefinisikan

sebagai

faktor-faktor strategis (eksternal) yang relatif berada di luar kendali


atau penguasaan organisasi, bersifat

mempengaruhi secara negatif

upaya pencapaian tujuan organisasi dan harus diminimalkan agar tidak


mengganggu pencapaian tujuan organisasi tersebut11. Berdasarkan data
kuesioner responden yang telah diolah, terdapat enam faktor strategis
internal yang dikategorikan sebagai ancaman dalam pengembangan
pelaksanaan kegiatan penyediaan access reform pada program reforma
agraria di Kabupaten Pemalang
1) Pola Penjualan Hasil Produksi
Berdasarkan informasi dari Ketua Kelompok Tani setempat bahwa
dalam melakukan penjualan padi hasil produksinya mereka
langsung melakukan transaksi dengan pihak pengumpul atau
tengkulak secara langsung. Adapun harga yang disepakati
merupakan hasil tawar menawar kedua belah pihak. Hal ini sudah
terlihat ketika pada masa panen kedua harga beli yang ditawarkan
oleh tengkulak lebih rendah dari harga pada masa panen yang
pertama dengan alasan waktu itu bersamaan dengan masa panen
raya padi di Kabupaten Pemalang.
2) Ketersediaan SAPROTAN
Kegiatan usaha pertanian sangat tergantung dari ketersediaan
berbagai sarana produksi pertanian (SAPROTAN) baik yang berupa
benih, pupuk maupun obat-obatan. Keadaan ini sudah merupakan
masalah klasik bagi kondisi usaha pertanian di Indonesia yang
dihadapi para petani sejak gencarnya program intensifikasi
pertanian dicanangkan yang berakibat ketersediaan SAPROTAN
harus selalu bergantung dari pasokan para suplier.
Permasalah mulai muncul ketika kebutuhan SAPROTAN yang
semakin tinggi tidak dapat dipenuhi oleh produsen SAPROTAN
yang berakibat kelangkaan di pasaran sehingga berimbas pada
kenaikan harga, kondisi ini yang berakibat proses produksi dari
usaha pertanian menjadi tidak optimal.

23

3) Minat Masyarakat terhadap Kredit Perbankan


Usaha pertanian yang memiliki tingkat resiko cukup besar secara
tidak langsung mengakibatkan rendah akses kredit pertanian yang
diberikan oleh perbankan bahkan menurut Kepala Dinas Koperasi
dan UMKM Jateng, Abdul Sulhadi mengatakan, hingga kini
prosentase kredit pertanian di Jawa Tengah masih terbilang rendah,
yakni di bawah 3% dari total kredit perbankan yang disalurkan
(Anhar, 2010)14.
Hal ini dialami di Kabupaten Pemalang, meskipun telah ada
kerjasama antara Kantor Pertanahan Kabupaten Pemalang dengan
pihak Bank Jateng Cabang Pemalang untuk menfasilitasi pemberian
kredit bagi para petani peserta kegiatan access reform namun
sampai dengan penelitian ini dilaksanakan belum ada petani yang
mengajukan permohonan kredit untuk usaha pertanian tersebut.
4. Evaluasi Faktor Ekternal
Evaluasi faktor eksternal pelaksanaan program reforma agraria kegiatan
penyediaan access reform di Kabupaten Pemalang yang dinyatakan dalam
EFE Matrix adalah sebagaimana pada Tabel 4.
Tabel 4. Matriks Evaluasi Faktor Internal
FAKTOR STRATEGIS EKSTERNAL
I.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
II.
1.
2.
3.

Peluang :
Dukungan Pemerintah Kabupaten
Pemalang
Dukungan Pihak Perbankan
Partisipasi Warga Masyarakat
Keterlibatan Unsur Perguruan Tinggi
Penyerapan hasil produksi
Adanya program sejenis
Jumlah Peluang
Ancaman :
Pola penjualan hasil produksi
Ketersediaan SAPROTAN
Minat masyarakat terhadap kredit
perbankan
Jumlah Ancaman
Jumlah Faktor Strategis Eksternal

24

Bobot

Peringkat

Skor
Terbobot

0,133

0,532

0,116
0,131
0,101
0,116
0,096
0,692

3
4
3
3
3

0,347
0,522
0,303
0,347
0,288
2,340

0,099
0,106

2
3

0,197
0,318

0,103

0,207

0,308
1,000

0,722
3,062

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan :
Berdasarkan kajian dan analisis dalam penelitian ini, dapat disimpulkan
hal-hal sebagai berikut.
1.

Kajian pelaksanaan kegiatan access reform dalam program reforma agraria


telah

terlaksana dalam beberapa kegiatan, yaitu : 1) Penyediaan

infrastruktur dan sarana produksi yang menunjang pelaksanaan kegiatan


usaha pertanian organik; 2) Bekerjasama dengan para stakeholder dalam
memberikan bimbingan tehnis / pendampingan kepada para penerima
manfaat; 3) Merintis kerjasama dengan pihak perbankan dalam
penyediaan; 4) Membentuk koperasi untuk mengelola hasil kegiatan
access reform serta mempromosikan hasil produksinya melalui berbagai
kegiatan mini expo; dan 5) Merintis pembentuk GEMARA guna
membantu pelaksanaan kegiatan access reform.
2. Faktor-faktor internal yang berpengaruh terhadap pelaksanaan kegiatan
access reform dalam program reforma agraria terdiri dari lima faktor
kekuatan yaitu : 1) Dukungan dari instansi BPN di Pusat dan Propinsi; 2)
Keterlibatan Sumber Daya Manusia dalam Pelaksanaan Kegiatan; 3)
Kedudukan BPN dalam reforma agraria; 4) Hubungan baik dengan para
stakeholder; dan 5) Telah terbentuknya GEMARA.
Sedangkan faktor kelemahan mencapai enam faktor, yakni : 1) Posisi BPN
sebagai instansi vertikal; 2) Pengetahuan sumber daya manusia tentang
reforma agraria; 3) Jumlah sumber daya manusia yang ada terbatas; 4)
Sarana dan prasarana penunjang yang dimiliki; 5) Ketersediaan Anggaran;
dan 6) Lemahnya implementasi peraturan tentang reforma agraria.
3. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan kegiatan access
reform dalam program reforma agraria meliputi peluang dan ancaman.
Peluang terdiri dari : 1) Dukungan Pemerintah Kabupaten Pemalang; 2)
Dukungan pihak perbankan; 3) Partisipasi warga masyarakat; 4)
Keterlibatan unsur perguruan tinggi; 5) Penyerapan hasil produksi; dan 6)
Adanya program sejenis.

25

Faktor-faktor ancaman mencakup : 1) Pola penjualan hasil produksi; 2)


Ketersediaan sarana produksi pertanian; dan 3) Minat masyarakat terhadap
kredit perbankan).
4.

Berdasarkan hasil evaluasi terhadap faktor internal dan eksternal tersebut


di atas, ternyata bahwa dalam pelaksanaan kegiatan access reform dalam
program reforma agraria di Kabupaten Pemalang,

Kantor Pertanahan

setempat sudah mampu merespons kondisi lingkungan eksternalnya yang


ditunjukkan oleh nilai rata-rata tertimbang (skor terbobot) sebesar 3,062
atau di atas rata-rata, yang mengindikasikan bahwa peluang eksternal yang
ada saat ini telah secara efektif dimanfaatkan dan/atau menghindari
(meminimalkan) ancaman eksternal yang ada. Di pihak lain,

faktor

strategis internal juga telah dapat dioptimalkan kekuatannya dan/atau


sehingga mampu mengatasi kelemahannya, yang ditunjukkan oleh nilai
total rata-rata tertimbang faktor strategis internal sebesar 2,546 atau diatas
rata-rata (posisi internal kuat).
B. Saran
1. Pelaksanaan kegiatan access reform perlu meningkatkan komunikasi
melalui berbagai saluran baik formal maupun informal agar dapat
mendayagunakan segenap potensi pertanian daerah yang dimiliki wilayah
setempat,

termasuk

dengan memanfaatkan karakter sosial budaya dan

kearifan-kearifan lokal yang ada dan berkembang di masyarakat.


2. Dalam kegiatan penyediaan acces reform, selain pemberian berbagai akses
ke sumber produksi dan ekonomi bagi masyarakat penerima manfaat,
hendaknya juga sudah direncanakan pula skenario exit point atau tahapan
dimana masyarakat sudah dianggap mampu untuk mandiri dalam
mengembangkan usahanya sendiri, sehingga pemberian akses dapat
dialihkan untuk kelompok masyarakat penerima manfaat lainnya. Hal ini
penting dilakukan karena untuk menghindari ketergantungan masyarakat
penerima manfaat terhadap berbagai fasilitas akses yang diterimanya,
dikhawatirkan jika akses tersebut tidak diperoleh lagi maka mereka tidak
dapat bersaing secara sehat dalam melakukan kegiatan usahanya.

26

DAFTAR PUSTAKA

1.

Badan Pertanahan Nasional R.I., 2007. Buku I Rencana Strategis Badan Pertanahan
Nasional Republik Indonesia 2007 2009. Jakarta : BPN R.I.

2.

De Soto, H, 2006. The Mistery of Capital, Edisi bahasa Indonesia. Penerbit Qalam.
Yogyakarta

3.

Kantor Pertanahan Kabupaten Pemalang. 2009. Reforma Agraria di Kabupaten


Pemalang Propinsi Jawa Tengah, Pemalang.

4.

Kantor Pertanahan Kabupaten Pemalang. 2010. Pelaksanaan Progra Kerja 100 Hari
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia di Kabupaten Pemalang
Provinsi Jawa Tengah, Pemalang.

5.

Yudistiro, R.K, 2011. Bahan Sosialiasi Program Pengendalian Program Pertanahan dan
Pemberdayaan Masyarakat di Cisarua Bogor, Direktorat Pemberdayaan
Masyakat dan Kelembagaan BPN RI. Jakarta.

6.

Wiradi,G. 2001. Prinsip-Prinsip Reforma Agraria Jalan Penghidupan dan Kemakmuran


Rakyat, Lapera Pustaka Utama, Yogyakarta

7.

Winoto, J. 2007. Reforma Agraria dan Keadilan Sosial, Orasi Ilmiah Kepala Badan
Pertanahan Nasional Republik Indonesia, Kerjasama BPN RI, Departemen
Ilmu Ekonomi. FEM-IPB dan Brighten Institut. Bogor.

8.

Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia. 2007. Reforma Agraria, Mandat


Politik, Konstitusi dan Hukum Dalam Rangka Mewujudkan Tanah Untuk
Keadilan dan Kesejahteraan Rakyat, Pusat Hukum dan Hubungan Masyarakat
BPN-RI. Jakarta.

9.

Umar, H. 2002. Strategic Management in Action. (Cetakan ke-2) PT Gramedia Pustaka


Utama. Jakarta

10.

Hubeis, M. dan M. Najib. 2008. Manajemen Strategik dalam Pengembangan Daya


Saing Organisasi. PT Elex Media Komputindo, Jakarta.

11.

David, F.R. 2009. Manajemen Strategis, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

12.

Kantor Pertanahan Kabupaten Pemalang. 2009. Bahan Pelatihan Optimalisasi Sumber


Daya Manusia dan Sumber Daya Alam Kabupaten Pemalang Tahun 2009.
Pemalang.

13.

Lesmana, T dan A. Hidayat. 2008, National Study on Indonesia Organic Agriculture,


LIPI, Jakarta.

14.

Anhar, M. 2010. Kredit Sektor Pertanian Rendah, Suara Merdeka 12 Agustus 2010,
Semarang.

27

BIODATA PENULIS
Nama

SAEFUL ZAFAR, SH, MM

Nip

19750910 199803 1 002

Alamat

Direktorat Pemberdayaan Masyarakat BPN R.I.


Jl. Sisingamangaraja No.2 Kebayoran Baru Jakarta Selatan

Kontak
Person

email = saefulbpn@gmail.com
HP = 081-21590744

Riwayat
Pekerjaan

1998-2006 = Staf Seksi Hak Atas Tanah pada Kantor Pertanahan Kota
Pekalongan
2006-2011 = Staf Sub Bagian Tata Usaha pada Kantor Pertanahan
Kota Pekalongan
2011- srkg = Staf Partisipasi Dunia Usaha pada Direktorat
Pemberdayaan Masyarakat dan Kelembagaan BPN R.I.

Riwayat
Pendidikan

S-1 Fakultas Hukum Universitas Pekalongan (2004)


S-2 Magister Manajemen Sektor Publik Agraria, MB-IPB (2010).

28

Anda mungkin juga menyukai