Anda di halaman 1dari 3

PEMBAHASAN FRAKSINASI

Fraksinasi adalah pemisahan suatu golongan senyawa dalam suatu simplisia


menjadi senyawa yang lebih sederhana. Fraksinasi dilakukan dengan ekstraksi cair-cair, sebelum
dilakukan fraksinasi dilakukan pemekatan ekstrak terlebih dahulu, hal ini bertujuan untuk
memisahkan antara pelarut dan senyawa aktif. Ekstrak dipekatkan diatas penangas air sampai
diperoleh ekstrak kental, kemudian ekstrak ditimbang dan diperoleh sampel sebanyak 11,96
gram, kemudian didapat % randemennya sebesar 7,95 %, setelah itu ekstrak sampel diambil
sedikit lalu dilarutkan ke dalam air panas untuk mengetahui larut atau tidaknya ekstrak tersebut,
diperoleh ekstrak kurang larut, hal ini disebabkan karena ekstrak kurang larut dalam air dan lebih
larut dalam pelarut organic, kemudian ektrak dilarutkan dengan etanol 4,5 ml lalu ditambahkan
air panas sampai 55 ml kemudian disaring, residu yang didapat kemudian dilarutkan kembali
dengan ditambah air panas sedikit demi sedikit hingga larut, lalu disaring kembali hingga
diperoleh filtrate sebanyak 100 ml. filtrate tersebut dimasukan ke dalam corong pisah, alat yang
digunakan untuk ekstraksi cair-cair pada praktikum ini corong pisah. Prinsip kerja corong pisah
adalah memisahkan zat/senyawa tertentu dalam sampel berdasarkan kelarutan dalam pelarut
tertentu yang memiliki perbedaan fase. Setelah filtrate dimasukan ke corong pisah ditambahkan
100 ml n-heksana,

digunaan n-heksana karena jumlah sampel yang didapat lebih sedikit,

kemudian dilakukan ECC selama 15 menit, setiap 5 menit dibuka keran corong pisah untuk
mengeluarkan udara dalam corong pisah, setelah 15 menit, corong pisah disimpan pada lem,
dibiarkan memisah hingga terlihat adanya dua lapisan, dimana lapisan atas adalah lapisan nHeksan, sedangkan lapisan bawah adalah lapisan air. Hal ini disebabkan karena air memiliki
massa jenis yang lebih besar daripada n-Heksana. Fase air + ekstrak ditampung pada gelas kimia,
fase n-heksana juga ditampung pada gelas kimia lain. Fase air+ ekstrak dimasukan embali ke
dalam corong pisah , hal ini karena masih ada senyawa yang belum terekstrasi dalam sampel,
kemudian dilakukan ECC dengan n-heksana 50 ml selama 15 menit, setelah 15 menit corong
pisan disimpan pada klem biarkan memisah fase air+ ekstra dan fase n-heksana ditampung,
kemudian fase fase air + ekstrak kembali di ECC dengan n-heksana, kemudian fase n-heksana
disimpan dilemari asam, fase air +ekstrak dilakukan ECC kemabali dengan etil asetat 100 ml, 50
ml,50 ml jadi jumlahnya 200 ml, dengan melakukan proses yang sama dengan penggunaan
pelarut n-heksan. etil asetat pada ekstraksi cair-cair yaitu sebagai pelarut polar, pemilihan pelarut
ini didasarkan bahawa etil asetat dapat dijenuhkan dengan air tetapi tidak bercampur dengan air. .

Digunakan pelarut yang non polar terlebih dahulu dikarenakan, senyawa non polar akan menarik
senyawa non polar yang ada pada ekstrak, dan jika digunakan pelarut polar terlebih dahulu, maka
pelarut polar dapat menarik senyawa yang bersifat polar maupun non polar. Sehingga, digunakan
pelarut yang non polar terlebih dahulu agar senyawa yang bersifat non polar dapat terpisah dari
ekstrak.

Fase etil asetat dimasukan kedalam cawan yang sudah ditimbang lalu diuapkan
dipenganas air, dan fase n-heksana dimasukan ke cawan lain yang sudah ditimbang lalu diuapkan
dipenangas air.fraksi yang sudah didapatkan lalu dilakukan pemantauan dengan KLT dan
didapatkan eluen yang cocok yaitu toluene : etilasetat (7:3) dalam 10 ml, fraksi etil asetat
digunakan untuk KCV sedangkan kromatografi kolom digunakan fraksi n-heksana.
Setelah

dilakukan

kromatografi kolom.

pemantauan

ekstrak

lalu

dilakukan

fraksinasi

dengan

tujuannya agar dapat melakukan mengetahui dan mengamati secara

langsung proses pemisahan senyawa yang ada dalam ekstrak kental menjadi senyawa yang lebih
spesifik. Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan ini adalah menyiapkan alat dan
bahan yang digunakan kemudian ekstrak kental yang diperoleh dicampurkan kedalam 0,0756
gram silica gel, lalu disiapkan bubur silica dimasukan kedalam bubur eluen n-heksana sampai
diperoleh lumpuran adsorben bubur silica, sebelum bubur silica dimasukan kedalam kolom ,
terlebih dahulu dibagian alas kolom disumbat bagian ujung menggunkan kapas bebas lemak,
yang berfungsi sebagai penahan adsorben agar tidak keluar bersama eluen. Pengisian kolom
harus dikerjakan secara seragam dan sepadat mungkin untuk menghindari terjadinya gelembunggelembung udara dalam kolom maka akan berpotensi peahnya kolom. Kolom yang padat
diindikasikan dengan warna slurry yang semakin memutih dan keepatan alir eluen yang semakin
lambat, jika kolom sudah memadat, larutan sampel kemudian diisikan kedalam kolom, lalu
ditmbahkan sedikit demi sedikit pelarut yaitu n-hesana, etil asetat dan methanol, secara berurutan
dari non-polar semipolar dan polar , hal ini karena jika digunakan pelarut polar terlebih dahulu
maka tidak akan selektif lebih mudah memutuskan ikatan senyawa, maka digunakan non polar
agar senyawa tertarik. Mekanisme yang terjadi ialah sampel akan terlusi olehh eluen melalui fase
diam silica gel, senywa organic terelusi oleh eluen proses elusi terjdi karena keseimbangan
distribusi zat analit pada fase gerak dan fase diam.

Hasil kromatografi kolom ditampung dalam vial 10 ml diperoleh sebanyak 15


vial, vial 1-8 tidak berwarna sedangkan vial 9-15 berwarna kuning, lalu diuapkan diatas
penangas air

tujuannya agar pelarutnya menguap dan didapat senyawa dalam sampel.

Kemudian dilakukan uji KLT, Dalam uji KLT ini digunakan lempeng alumina sebagai
adsorben (fase diam) dan eluennya (fase gerak), yaitu pelarut toluen dan etil asetat dengan
perbandingan 7:3 dalam 10 mL.
Langkah pertama yang dilakukan melarutkan ekstrak kental dengan metanol. Untuk
pelarutan tersebut, ekstrak kental tidak boleh terlalu kental dan tidak boleh terlalu cair. Jika
terlalu kental ekstrak akan tersubat pada pipa kapiler dan akan sulit keluar dari pipa tersebut,
dan jika terlalu cair maka totolan tersebut sebagian besar hanya berupa pelarut. Sedangkan
sampel yang akan di uji hanya dalam jumlah sedikit.
Selanjutnya eluen tersebut dimasukkan kedalam chamber, dan kedalam chamber
tersebut dimasukkan kertas saring, tujuannya sebagai parameter tingkat kejenuhan chamber
terhadap uap eluen/fase gerak, chamber harus berada dalam kondisi jenuh oleh uap eluen
sebelum digunakan untuk elusi agar elusi bejalan stabil . Kemudian disiapkan plat KLT yang
telah di aktifasi dengan tujuan menghilangkan pengotor dan kadar air yang kemungkinan ada
di dalam plat klt, jika terdapat air maka akan mempegaruhi elusi.
Jika eluen telah jenuh kertas saring dikeluarkan dan dimasukkan plat klt yang
sebelumnya telah di totolkan ekstrak. Chamber yang ditempati plat dan eluen harus tertutup
rapat agar tidak terjadi penguapan dari eluen. Plat tersebut dibiarkan dalam eluen selama
beberapa menit hingga eluen bergerak ke atas mencapai batas akhir yang telah di tentukan.
Selanjutnya plat diamati secara visual. Terjadi pemisahan timbul bercak dilihat
dibawah sinar uv 254 nm, yaitu pada vial 9,10,11,12. Fraksi yang digunakan atau yang
diambil adalah fraksi nomer 11 dengan nilai rf= 0,46 karena pemisahannya yang paling baik,
selanjutnya di identifikasi menggunakan KLT preparatif.