Anda di halaman 1dari 20

PENATALAKSANAAN

PENYAKIT TETANUS DAN


KOMPLIKASINYA

KASUS
IDENTITAS :
Nama
: Bp.M.N
Umur
: 52 tahun
Alamat
: Tengaran
Pekerjaan
: Swasta

KELUHAN UTAMA
Badan dan mulut terasa kaku

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Badan dan mulut terasa kaku sejak 6
HSMRS. Sejak 3 HSMRS mulai timbul
kekakuan seluruh tubuh yang bila kumat
diikuti nyeri punggung yang sangat, namun
pasien sadar tetapi tidak bisa bicara.
Kekakuan berlangsung selama 10-15 menit
tiap kali kumat.
Pasien memiliki luka pada jari kedua kaki
kanan. Luka sobek karena pacul, kuku jari
yang sobek dilepas sendiri oleh pasien

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Tidak

memiliki riwayat hipertensi


Tidak memiliki riwayat penyakit jantung
Belum pernah mondok sebelumnya

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Tidak

ada keluarga yang memiliki gejala


penyakit serupa

PEMERIKSAAN FISIK
KU sedang, CM
TD
: 165/107 mmHg (IGD), saat
follow up 120/80 mmHg
Suhu
: 36,5 0C
Nadi
: 72x/menit, reguler
RR
: 20x/menit
Kepala
: CA -/-, SI -/- , mulut dapat
membuka 3 cm, rahang bawah terasa
kaku, trismus (+), risus sardonicus (-)
Leher
: JVP tak meningkat, pembesaran lnn. (-)
Thorak
: cor S1S2 murni reguler
pulmo vesikuler, ST (-)
Abdomen
: tegang, keras seperti papan,
BU(+), H/L ttb
Ekstremitas : hangat, VE pada digiti II ekstr. Dx,
epistotonus (-)

PEMERIKSAAN LAB.
PEMERIKSAAN

AL
AE
Hb
HMT
AT
LED I
LED II

:
:
:
:
:
:
:

7,0
4,8
14,6
42,8
259
29
55

DARAH :

GDS
:
Ureum :
Creatinin:
SGOT
:
SGPT
:

156
30
0,8
28
16

TREATMENT YANG DIBERIKAN


Inf.

RL + diazepam 1 amp. Drip


O2 2L/menit
TAT 40.000 unit (20.000 IV dan 20.000
IM)
Ceftriaxon Inj. 1 x 1gr
Diphenylhydantoin 2 x 200mg atau kutoin
2 x 200 mg

PEMBAHASAN

TETANUS adalah gangguan neurologis yang


ditandai dengan meningkatnya tonus otot
dan spasme, yang disebabkan oleh
tetanospasmin, suatu toksin protein yang
kuat yang dihasilkan oleh Clostridium
tetani.

CLOSTRIDIUM TETANI
Tetanolisin

merusak jaringan yang


mengelilingi sumber infeksi dan
mengoptimalkan kondisi untuk multiplikasi
bakteri

Tetanospasmin

dapat terikat pada


membran saraf dan memungkinkan
masuknya toksin ke dalam sel, serta
mencegah pelepasan neurotransmiter dari
neuron yang dipengaruhi

MANIFESTASI
KLINIK

Adanya port dentry


Trias klinis berupa RIGIDITAS,

SPASME
OTOT, dan apabila berat DISFUNGSI
OTONOMIK
Gejala awal : kaku kuduk, nyeri tenggorokan,
dan kesulitan membuka mulut
trismus/lockjaw, risus sardonicus, disfagi,
retraksi kepala, opistotonus
Spasme otot yang periodik kontraksi tonik
tampak seperti konvulsi (kejang tetanic)

PENATALAKSANAAN
Prinsip penatalaksanaan :
1. Organisme

yang terdapat dalam tubuh


hendaknya dihancurkan untuk mencegah
pelepasan toksin lebih lanjut (eliminasi kuman)
2. Toksin yang terdapat dalam tubuh, diluar sistem
saraf pusat hendaknya dinetralisir
3. Efek dari toksin yang telah terikat pada sistem
saraf pusat diminimasi

Hal-hal yang dapat dilakukan


untuk memenuhi prinsip
penatalaksanaan
Penatalaksanaan

Umum

Eksplorasi luka, dibersihkan dan debridement


secara menyeluruh
Ruangan yang tenang/meminimalkan stimulasi
Observasi dan pemantauan kardiopulmoner
Perlindungan terhadap jalan nafas

Netralisasi

dari Toksin yang Bebas

TIG dengan
dosis 3.000-6.000 U (IM)
TAT dosis 40.000 U
(20.000 U secara IM dan 20.000 U
secara IV dalam 200 mL Na fisiologis
selama 30-45 menit)

Menyingkirkan

Perawatan luka
Antibiotik :

Sumber Infeksi

Penisilin 10-12 juta unit IV/hari selama 10 hari


Metronidazole 500 mg tiap 6 jam (PO) atau 1 gr tiap
12 jam (IV)
Eritromisin, tetrasiklin, kloramfenikol, dan klindamisin
dapat sebagai alternative

Pengendalian

Rigiditas dan Spasme

Diazepam, dosis :
Spasme ringan : 5-10 mg oral tiap 4-6jam apabila
perlu
Spasme sedang: 5-10mg IV
Spasme berat : 50-100mg dalam 500mL D5%,
diinfuskan 40mg perjam

Fenobarbital, 50-100mg/4jam (IM)


Klorpromazin, 25-75 mg/4jam (IM)
Dantrolen, 1mg/kgBB IV dalam 3 jam
Baklofen intrathecal, 500-2000 mcg perhari,
diberikan sebagai bolus atau infus

Penatalaksanaan Respirasi
Intubasi atau tracheostomi dengan atau tanpa
ventilasi mekanik sedasi berlebihan atau
laringospasme
Pengendalian

Disfungsi Otonomik

Penatalaksanaan Intensif Suportif


Penurunan BB pada tetanusnutrisi yang adekuat
Pencegahan komplikasi respirasi (pasien dengan
ventilator mencakup perawatan mulut secara
cermat, fisioterapi dada, penghisapan trakheal
secara teratur, t.u karena salivasi dan ekskresi
bronkhial yang meningkat

Penatalaksanaan

lain

Hidrasi, mengontrol cairan


Fisioterapi untuk mencegah kontraktur
Pemberian heparin dan antikoagulan untuk
mencegah emboli paru
Fungsi ginjal, kandung kemih, dan saluran cerna
harus dimonitor.
Perdarahan gastrointestinal dan ulkus dekubitus
harus dicegah dan infeksi sekunder harus diatasi
Vaksinisasi

Pasien yang sembuh dari tetanus hendaknya secara


aktif diimunisasi karena imunitas tidak diinduksi
oleh toksin dalam jumlah kecil yang menyebabkan
tetanus

PENCEGAHAN
Imunisasi

aktif dengan tetanus toksoid


Petunjuk pencegahan terhadap tetanus
pada keadaan luka.
RIWAYAT
IMUNISASI
(DOSIS)

Luka bersih, kecil


TT
Anti toksin

Luka lainnya
TT
Anti toksin

Tidak
diketahui
0-1

Ya

Tidak

Ya

Ya

Ya

Tidak

Ya

Ya

Ya

Tidak

Ya

Tidak*

3 atau lebih

Tidak **

Tidak

Tidak **

Tidak

* : Kecuali luka > 24 jam


** : Kecuali bila imunisasi terakhir > 5 tahun

KOMPLIKASI
SISTEM

KOMPLIKASI

Jalan nafas

Aspirasi, laringospasme/obstruksi, obstruksi


berkaitan dengan sedatif

Respirasi

Apnea, hipoksia, gagal nafas tipe 1 (atelektasis,


aspirasi, pneumonia), gagal nafas tipe 2 (spasme
laringeal, spasme trunkal berkepanjangan, sedasi
berlebihan)

Kardiovaskuler

Takikardia, hipertensi, bradikardi, iskemia,


hipotensi, takiaritmia, bradiaritmia, asistol, gagal
jantung

Ginjal

Gagal ginjal curah tinggi, gagal ginjal oliguri,


stasis urin dan infeksi

Gastrointestinal

Stasis gaster, ileus, diare, perdarahan

Lain-lain

Penurunan berat badan, tromboembolus, sepsis


dengan gagal organ multipel, fraktur vertebra
selama spasme, ruptur tendon akibat spasme

THANK YOU FOR YOUR


ATTENTION