Anda di halaman 1dari 89

OPTIMASI SECONDARY CEMENTING

DENGAN SEMEN KARBONAT UNTUK MENURUNKAN


WATER CUT PADA SUMUR SX-02 LAPANGAN SX
DI PT BUKITAPIT BUMI PERSADA

LAPORAN TUGAS AKHIR

Oleh
Pribadi Wicaksono
NIM 111201169

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN


AKADEMI MINYAK DAN GAS BALONGAN
INDRAMAYU
2015

OPTIMASI SECONDARY CEMENTING


DENGAN SEMEN KARBONAT UNTUK MENURUNKAN
WATER CUT PADA SUMUR SX-02 LAPANGAN SX
DI PT BUKITAPIT BUMI PERSADA

LAPORAN TUGAS AKHIR

Oleh
Pribadi Wicaksono
NIM 111201169

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN


AKADEMI MINYAK DAN GAS BALONGAN
INDRAMAYU
2015

ABSTRAK

Penyemenan atau cementing didenifisikan sebagai suatu proses pekerjaan


yang meliputi perancangan, pengujian, pencampuran aditif, pengadukan dan
pemompaan slurry cement (bubur semen) ketempat yang telah ditentukan dalam
sumur. Secondary cementing secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses
pekerjaan penyemenan kedua setelah pekerjaan penyemenan telah dilakukan
sebelumnya, dengan maksud-maksud sebagai perbaikan, secondary cementing
dapat dilakukan pada saat pengeboran, penyelesaian sumur, dan kerja ulang.
Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam proses secondary cementing ini
meliputi pengumpulan data, kemudian membuat desain bubur semen dengan
melakukan tes uji dilaboratorium, kemudian pelaksanaan pekerjaan secondary
cementing langsung dilapangan. Semen karbonat dipilih sebagai bahan dasar
pembuatan slurry karena secara kimiawi dapat mudah larut oleh asam, ini
berhubungan dengan apa yang dilakukan setelah pekerjaan cementing nantinya.
Setelah hasil penyemenan didapatkan untuk menutup zona air, maka selanjutnya
adalah membuka kembali sependek-pendeknya komunikasi antara formasi dengan
lubang sumur, yang kemudian dilakukan pekerjaan jetting acid untuk mendapatkan
tujuan tersebut, hingga akhirnya plug cement yang dihasilkan akan sedikit terbuka
dan dapat dilalui nantinya oleh gas untuk masuk kedalam lubang sumur, dan zona
air tetap dapat dibatasi oleh adanya plug cement.
Bahwa mula-mula sejak tanggal 01 januari 2014 produksi gas sekitar 13
MMSCFD dan tetap stabil hingga akhirnya pada tanggal 14 agustus 2014 kadar
water cut yang ada mencapai 97% atau sekitar 590 BPD, sehingga gas yang
seharusnya dapat berproduksi mengalami penurunan secara drastis hingga 5
MMSCFD. Kemudian dilakukan pekerjaan secondary cementing untuk mengatasi
masalah water cut ini, hingga akhirnya dapat dilihat pada tanggal 28 oktober 2014,
bahwa gas dapat kembali berproduksi hingga mencapai angka 11 MMSCF dan
stabil angka produksi yang dihasilkan hingga tanggal 24 agustus 2015, sedangkan
kadar water cut yang ada menurun hingga 0 bpd, dengan rata-rata nilai sampai
tanggal 24 agustus 2015 hanya 40 bpd.

LEMBAR PENGESAHAN

OPTIMASI SECONDARY CEMENTING


DENGAN SEMEN KARBONAT UNTUK MENURUNKAN
WATER CUT PADA SUMUR SX-02 LAPANGAN SX

DI PT BUKITAPIT BUMI PERSADA

Oleh
Pribadi Wicaksono
NIM 111201169

Disahkan,

Indramayu,

September 2015

Pembimbing 1,

Pembimbing 2,

NURKHOZIN ADHI NUGROHO, S.T

AGUSTINA PRIHANTINI, S.T

LEMBAR PENGESAHAN

OPTIMASI SECONDARY CEMENTING


DENGAN SEMEN KARBONAT UNTUK MENURUNKAN
WATER CUT PADA SUMUR SX-02 LAPANGAN SX

DI PT BUKITAPIT BUMI PERSADA

Oleh
Pribadi Wicaksono
NIM 111201169

Indramayu,

September 2015

Laporan Tugas Akhir Ini Telah Diperiksa dan Disetujui


Oleh
Pembimbing Lapangan

Base Manager

Technical Engineer

HASBULLAH

ADHAM PRIBADI, S.T

LEMBAR PERSEMBAHAN

Puji Syukur Kepada Allah SWT,


Yang Telah Memberikan Kesempatan Dan Kemudahan Sehingga Laporan Ini
Dapat Diselesaikan Dengan Sebaik-baiknya.
Terima Kasih Yang Sebesar-Besarnya Kepada Orang Tua Saya,
Ayahanda Budiman Dan Ibunda Suwarni.
Harry, Herilda, Alan, Adam, Fajar, Fiko, Putra, Dan Lainnya Yang Juga
Mendukung Dalam Pembuatan Laporan Ini.
~~~~~

CURRICULUM VITAE

A. Personal Detail
Name

: Pribadi Wicaksono

Address

: Jl. Nikel no. 07 Blok A, Kp. Tegallega Permai


RT. 002 RW. 007, Kec. Nanggung, Kab. Bogor.

Place & Date of Birth : Kijang, 24 April 1995


Nationality

: Indonesia

Religion

: Islam

Gender

: Male

Marital Status

: Single

Phone Number

: 085715200720

E-mail

: pribadiwi@gmail.com

B. Education Details
1. 2012-present : D3 Teknik Perminyakan, AKAMIGAS Balongan
2. 2009-2012

: SMAN 1 Leuwiliang Bogor

3. 2006-2009

: SMPN 2 Bintan Timur

4. 2000-2006

: SDN 5 Bintan Timur

C. Organization and Others Experience


1. Member of Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Perminyakan AKAMIGAS
Balongan, 2013.
2. Practical Work, Pengenalan Proses Pekerjaan Squeeze Cementing Pada
SumurBjr-04 Lapangan Bojong Raong, PT. Bukitapit Bumi Persada, 2014.

3. Final Project, Optimasi Secondary Cementing Dengan Semen Karbonat


Untuk Menurunkan Water Cut Pada Sumur SX-02 Lapangan SX, PT.
Bukitapit Bumi Persada, 2015.
4. Lab Assistant, Analisa Fluida Reservoir, AKAMIGAS Balongan, 2015.
5. Participant in Seminar State Condition of hydrocarbons exploration in
eastern indonesia, UNPAD Jatinangor,
6. Participant in Seminar Directional Drilling, AKAMIGAS Balongan.
7. Participant in Seminar Energy Sustainability For National Glory, UPN
Veteran Yogyakarta.
8. Participant in Seminar Coal Bed Methane And Geothermal Energy,
AKAMIGAS Balongan.
9. Participant in Character and Personality Building, AKAMIGAS Balongan,
2012.
10. Participant in Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa, AKAMIGAS
Balongan, 2012.

D. Skills & Interests


1. English Ability (Passive)
2. Computer Skills : Microsoft Excel, Microsoft Word, Microsoft Power Point,
Adobe Photoshop, CorelDraw
3. Interests : Graphic Design, Music, Game

E. Personality
Good attitude, humble, friendly, diligent, Discipline.

This is to state that above information is true and provided here by me,
all in good faith.

Sincerely Yours,

Pribadi Wicaksono

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Taala yang


telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan Tugas Akhir dengan judul Optimasi Secondary Cementing Dengan
Semen Karbonat Untuk Menurunkan Water Cut Pada Sumur SX-02
Lapangan SX.
Laporan Tugas Akhir ini merupakan salah satu syarat kelulusan di Akamigas
Balongan. Perwujudan Laporan ini adalah berkat bantuan dari berbagai pihak
sehingga laporan ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini
perkenankanlah penulis untuk mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Hj. Hanifah Handayani, M.T, selaku ketua Yayasan Bina Islami.
2. Bapak H. Nahdudin Islamy, M.Si, selaku direktur Akademi Minyak dan
Gas Balongan.
3.

Orang tua yang selalu memberikan motivasi dan semangat belajar.

4. Bapak Dwi Arifiyanto, S.T selaku ketua Prodi Teknik Perminyakan.


5. Bapak Nurkhozin Adhi Nugroho, S.T selaku Dosen Pembimbing 1.
6. Ibu Agustina Prihantini, S.T selaku Dosen Pembimbing 2.
7. Bapak Hasbullah selaku Base Manager

PT. Bukitapit

Bumi

Persada,

Yard Tambi Indramayu


8. Mas Adham Pribadi, S.T selaku pembimbing lapangan.
9. Bapak Yohendri, Mas Dadang, Mas Robert, Bapak Nana, Bang Misliyan dan
Mas Irfan selaku Service Engineer, Operator dan Crew Cementing Unit
PT. Bukitapit Bumi Persada, Yard Tambi Indramayu.

10. Anak - anak markas besar 25A Fajar, Putra, Fiko, Alan, Adam dan Eno.
11. Rekan - rekan yang telah memberikan motivasi kepada penyusun.
12. Semua pihak yang telah membantu penyusunan laporan ini yang tidak bisa
disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih banyak terdapat
kekurangan baik dilihat dari segi menyajikan data maupun penulisannya.
Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan
agar penulisan selanjutnya yang lebih baik.

Indramayu,

September 2015

Pribadi Wicaksono

DAFTAR ISI

Halaman
JUDUL ...................................................................................................................... i
ABSTRAK ............................................................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... iii
LEMBAR PERSEMBAHAN ................................................................................ v
CURICULUM VITAE ........................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ......................................................................................... viii
DAFTAR ISI ........................................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xiii
DAFTAR TABEL .................................................................................................. xv
DAFTAR GRAFIK .............................................................................................. xvi
DAFTAR SINGKATAN ..................................................................................... xvii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ...................................................................... 1
1.2 Tema Tugas Akhir ............................................................................... 2
1.3 Tujuan Tugas Akhir ............................................................................. 2
1.3.1 Tujuan Umum ........................................................................... 2
1.3.2 Tujuan Khusus........................................................................... 2
1.4 Manfaat ................................................................................................ 3
1.4.1 Bagi Perusahaan ........................................................................ 3
1.4.2 Bagi Akamigas Balongan .......................................................... 4
1.4.3 Bagi Mahasiswa ........................................................................ 4
1.5 Ruang Lingkup .................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN TEORI ................................................................................ 6
2.1 Secondary Cementing .......................................................................... 6
2.2 Tujuan Secondary Cementing.............................................................. 7
2.2.1 Memperbaiki Pekerjaan Cementing .......................................... 7
2.2.2 Menutup Zona Air ..................................................................... 8

Lanjutan
DAFTAR ISI

Halaman

2.3

2.4

2.5

2.6

2.7

2.2.3 Menurunkan Nilai GOR......................................................... 8


2.2.4 Memperbaiki Casing Yang Rusak Dan Bocor ....................... 8
2.2.5 Menutup Zona Yang Tidak Produktif .................................... 9
Meode Secondary Cementing ........................................................... 9
2.3.1 Squeeze Cementing ................................................................ 10
2.3.2 Plug Cementing ..................................................................... 14
Desain Semen Slurry ....................................................................... 15
2.4.1 Fluid-loss Control.................................................................. 16
2.4.2 Volume Semen ...................................................................... 16
2.4.3 Thickening Time .................................................................... 17
2.4.4 Viskositas Semen................................................................... 17
2.4.5 Compressive Strength Dan Shear Strength ........................... 18
Klasifikasi Semen Dan Additive ...................................................... 18
2.5.1 Klasifikasi Semen .................................................................. 19
2.5.2 Additive .................................................................................. 20
Perhitungan Pekerjaan Cementing ................................................... 23
2.6.1 Kapasitas Dan Volume Semen Slurry ................................... 23
2.6.2 Yield Dan Jumlah Semen ....................................................... 24
2.6.3 Mixing Water ......................................................................... 25
2.6.4 Volume Displacement............................................................ 25
Peralatan Penyemenan ..................................................................... 25
2.7.1 Peralatan Utama ..................................................................... 26
2.7.2 Peralatan Aksesoris ................................................................ 27

BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN ..................................................... 29


3.1
3.2
3.3
3.4
3.5

Orientasi Lapangan .......................................................................... 29


Studi Pustaka ................................................................................... 29
Metode Wawancara ......................................................................... 29
Diskusi ............................................................................................. 30
Melihat Data Perusahaan ................................................................. 30

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN .............................................. 31


4.1 Sejarah Singkat PT. Bukitapit Bumi Persada .................................. 31
4.2 Visi dan Misi PT. Bukitapit Bumi Persada ...................................... 33
4.3 Unit Kerja PT. Bukitapit Bumi Persada........................................... 33
4.3.1 Unit Pumping Cementing....................................................... 33
4.3.2 Unit Fracturing ...................................................................... 35
4.3.3 Unit Stimulasi ........................................................................ 37

Lanjutan
DAFTAR ISI

Halaman
BAB V PEMBAHASAN...................................................................................... 40
5.1 Pekerjaan Secondary Cementing...................................................... 40
5.2 Secondary Cementing ...................................................................... 42
5.2.1 Perolehan Data ....................................................................... 42
5.2.2 Design Pekerjaan Secondary Cementing ................................ 43
5.2.3 Semen Dan Additive Yang Digunakan ................................... 46
5.2.4 Peralatan Yang Digunakan ..................................................... 50
5.2.5 Proses Pekerjaan Secondary Cementing ................................ 56
5.3 Menciptakan Kembali Komunikasi Dengan Formasi ...................... 58
5.3.1 Perolehan Data ....................................................................... 59
5.3.2 Design Jetting Acid ................................................................ 60
5.3.3 Proses Pekerjaan Jetting Acid................................................. 63
5.4 Evaluasi Pekerjaan Secondary Cementing ...................................... 65
5.5 Hasil Pekerjaan ............................................................................... 66
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 68
6.1 Kesimpulan ...................................................................................... 68
6.2 Saran ................................................................................................ 69
6.2.1 Untuk Akamigas Balongan .................................................... 69
6.2.2 Untuk Mahasiswa .................................................................. 70
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Squeeze Cementing ............................................................................. 6
Gambar 2.2 Channel Pada Primary Cementing ..................................................... 7
Gambar 2.3 High-pressure Squeeze ...................................................................... 11
Gambar 2.4 Proses Metode Bradenhead Squeeze ................................................. 12
Gambar 2.5 Bridge Plug Dan Squeeze Packer...................................................... 13
Gambar 2.6 Plug Sementing.................................................................................. 14
Gambar 2.7 Dump Bailer Method ......................................................................... 15
Gambar 2.8 Cementing Unit ................................................................................. 26
Gambar 4.1 Logo PT. Bukitapit Bumi Persada .................................................... 31
Gambar 5.1 Semen Kelas G .................................................................................. 47
Gambar 5.2 Retarder ............................................................................................. 48
Gambar 5.3 Fluid Loss Agent................................................................................ 48
Gambar 5.4 Gas Block .......................................................................................... 49
Gambar 5.5 Anti Foam .......................................................................................... 49
Gambar 5.6 Cementing Unit ................................................................................. 51
Gambar 5.7 Engine................................................................................................ 51
Gambar 5.8 Pompa ................................................................................................ 52
Gambar 5.9 Displacement Tank.. .......................................................................... 53
Gambar 5.10 Slurry Tank ...................................................................................... 53

Lanjutan
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 5.11 Suction Dan Discharge Line ........................................................... 54
Gambar 5.12 Control Cabin.................................................................................. 54
Gambar 5.13 Batch Tank....................................................................................... 55
Gambar 5.14 Treating Line ................................................................................... 55
Gambar 5.15 Water Tank ...................................................................................... 56

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1 Penggunaan Additive Berdasarkan Ukuran Casing ............................. 23
Tabel 5.1 Komposisi Acid Yang Digunakan ........................................................ 62

DAFTAR GRAFIK

Halaman
Grafik 5.1 Production Performance Sebelum Pekerjaan Cementing .................. 40
Grafik 5.2 Production Performance Sebelum dan Setelah Cementing Job ......... 66

DAFTAR SINGKATAN

BBL

= Barrel

BPD

= Barrels Per Day

BPM

= Barrel Per Minute

BWOC

= By Weight Of Cement

CC

= Cubic Centimeter

CUFT

= Cubic Feet

GALL

= Gallon

GOR

= Gas Oil Ratio

GPS

= Gallon Per Sacks

GPT

= Gallon Per Thousand

ID

= Inside Diameter

LBS

= Pounds

MMSCFD = Million Standard Cubic Feet Per Day


OD

= Outside Diameter

OE

= Open End

PPG

= Pounds Per Gallon

PSI

= Pounds Per Square Inch

PTG

= Pound Thousand Gallon

SCF

= Standard Cubic Feet

SPF

= Shoot Per Feet

TOC

= Top Of Cement

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Secondary cementing adalah pekerjaan penyemenan yang dilakukan
setelah ada pekerjaan penyemenan primary, dimana biasanya pekerjaan
secondary cementing ini dilakukan ketika melakukan kegiatan workover pada
sebuah sumur, dimana sebagai salah satu upaya tambahan untuk memperbaiki
atau meningkatkan produksi minyak ataupun gas dari sumur tersebut.
Berdasarkan jenisnya pekerjaan secondary cementing dapat dibedakan atas 2
jenis, yaitu pekerjaan squeeze cementing, dan juga pekerjaan plug cementing.
Selain itu dapat juga ditambahkan fungsi-fungsi dari pekerjaan
secondary cementing ini, seperti: memeperbaiki pekerjaan primary
cementing, menutup zona air, mengisi saluran perforasi atau saluran

di

belakang casing dengan semen untuk memperoleh kerapatan antara casing


dengan formasi, mengurangi water-oil ratio, gas-oil ratio dan water-gas
ratio, memperbaiki kerusakan casing, menutup zona lost circulation, untuk
melindungi zona produksi dari migrasi fluida, menutup kembali zona
produksi yang diperforasi apabila pemboran mengalami kegagalan dalam
mendapatkan minyak, mencegah migrasi fluida dari zona atau sumur yang
telah ditinggalkan.

1.2

Tema Tugas Akhir


Judul yang diambil dalam pelaksanaan tugas akhir ini adalah
mengenai Optimasi Secondary Cementing Dengan Semen Karbonat
Untuk Menurunkan Water Cut Pada Sumur SX-02 Lapangan SX.
Karena pekerjaan secondary cementing merupakan salah satu pekerjaan
penting dalam melakukan workover pada suatu sumur.

1.3

Tujuan Tugas Akhir


1.3.1

Tujuan Umum
1. Memahami permasalahan yang ada di lapangan.
2. Menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh
dibangku kuliah dengan mengaplikasikannya di lapangan.
3. Mengenal dunia kerja yang sesungguhnya, sehingga dapat
beradaptasi dengan baik saat terjun ke dunia industri ketika lulus.
4. Melatih kepekaan mahasiswa untuk mencari solusi masalah yang
dihadapi di dalam dunia industri atau dunia kerja.
5. Meningkatkan daya kreatifitas dan keahlian mahasiswa.

1.3.2

Tujuan Khusus
1.

Menentukan jenis dan metode yang digunakan dengan data yang


telah didapat.

2.

Mengetahui cara untuk mendesain slurry semen untuk pekerjaan


secondary cementing.

3.

Mengetahui proses pekerjaan secondary cementing.

4.

Mengetahui hasil nilai water cut pada sumur SX-02 setelah


dilakukan pekerjaan secondary cementing.

1.4

Manfaat
1.4.1 Bagi Perusahaan
1.

Perusahaan dapat memanfaatkan tenaga mahasiswa yang tugas


akhir dalam membantu menyelesaikan tugas-tugas dan pekerjaan.

2.

Menciptakan kerja sama yang saling menguntungkan dan


bermanfaat antara perusahaan tempat tugas akhir dengan jurusan
teknik perminyakan Akamigas Balongan.

3.

Perusahaan mendapatkan alternatif calon karyawan pada


spesialisasi yang ada pada perusahaan tersebut.

4.

Mendapatkan informasi mengenai calon karyawan dan dapat


dipergunakan untuk pengambilan langkah selanjutnya.

5.

Perusahaan ikut serta dalam pengamalan UUD 1945, yaitu :


Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, yang sesuai dengan tujuan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1.4.2

Bagi Akamigas Balongan


1. Terbinanya suatu jaringan kerjasama dengan industri tempat
tugas akhir dalam upaya meningkatkan keterkaitan dan
kesepadanan antara substansi akademik dengan pengetahuan dan

keterampilan sumberdaya manusia yang dibutuhkan dalam dunia


industri.
2. Meningkatkan kapasitas dan kualitas pendidikan dengan
melibatkan tenaga terampil dari lapangan dalam kegiatan.
1.4.3 Bagi Mahasiswa
1. Mengenal secara dekat dan nyata kondisi di lingkungan kerja.
2. Dapat mengaplikasikan keilmuan mengenai teknik perminyakan
yang diperoleh dibangku kuliah dalam praktek dan kondisi kerja
yang sebenarnya.
3. Mendapatkan pengalaman kerja di lapangan dan dapat
menambah pengetahuan selain dibangku perkuliahan.

1.5 Ruang Lingkup


Dalam melakukan tugas akhir di PT Bukitapit Bumi Persada, Tambi,
Indramayu meliputi pemahaman mengenai judul optimasi pekerjaan
secondary cementing menggunakan semen karbonat dalam menurunkan
water cut yang diterapkan diperusahaan tersebut. Penulis hanya melakukan
penelitian pada:
1. Warehouse PT Bukitapit Bumi Persada, Yard Tambi mengenai peralatan
secondary cementing.
2. Sumur SX-02 lapangan SX pada saat pekerjaan secondary cementing.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1

Secondary Cementing
Penyemenan atau cementing didefinisikan sebagai suatu proses
pekerjaan yang meliputi perancangan, pengujian, pencampuran aditif,
pengadukan dan pemompaan slurry cement (bubur semen) ketempat yang
telah ditentukan dalam sumur.
Secondary cementing secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses
pekerjaan penyemenan kedua setelah pekerjaan penyemenan pertama telah
dilakukan

sebelumnya,

dengan

maksud-maksud

sebagai

perbaikan,

secondary cementing dapat dilakukan pada saat pengeboran, penyelesaian


sumur, dan kerja ulang.

Gambar 2.1 Squeeze Cementing


( 1990, Nelson, Erik B, Well Cementing )

Secondary cementing juga dapat digunakan untuk menurunkan ratio


fluida produksi. Bagian perforasi tertentu mungkin harus ditutup dengan

pemompaan suspensi semen, sehingga volume gas dan air dapat dikurangi
dengan penyemenan di bagian atas dan bawah perforasi secara berurutan.
Pertimbangan yang paling penting dalam operasi secondary cementing
adalah teknik penempatan dan pembuatan suspensi semen yang akan
digunakan.

2.2

Tujuan Secondary Cementing


2.2.1 Memperbaiki Pekerjaan Primary Cementing
Pekerjaan primary cementing yang tidak sempurna, seperti
penempatan dan volume lumpur displacement yang tidak baik akan
mengakibatkan terdapatnya ruang atau saluran kosong yang ada

di

belakang casing, sehingga dari masalah seperti itu maka pekerjaan


secondary cementing dapat dilakukan untuk menyempurnakan
pekerjaan primary cementing.

Gambar 2.2 Channel Pada Primary Cementing


( 1990, Nelson, Erik B, Well Cementing )

2.2.2 Menutup Zona Air


Gangguan dari fluida air disuatu sumur (biasanya disebabkan
oleh adanya coning) dapat terjadi selama hidup dari sumur tersebut.
Water coning merupakan masalah yang serius dalam produksi minyak
di lapangan baik pada sumur horisontal dan sumur vertikal. Produksi
minyak yang mengalami water dan coning dapat mengurangi produksi
minyak yang cukup berarti, sehingga perlu untuk meminimalkan atau
paling tidak menunda atau mencagah terjadinya coning terlalu dini.
Sebagai jalan keluarnya adalah dengan melakukan secondary
cementing agar air yang tidak diharapkan dapat berkurang atau hilang.

2.2.3 Menurunkan Nilai GOR


Dalam setiap sumur nilai GOR dapat meningkat melebihi batas
ekonomi, sehingga memerlukan tindakan perbaikan, yaitu salah
satunya dengan melakukan pekerjaan secondary cementing terhadap
lubang perforasi yang ada, dan melakukan perforasi kembali pada zona
interval lainnya.

2.2.4 Memperbaiki Casing Yang Rusak Dan Bocor


Secondary cementing juga diterapkan untuk memperbaiki cacat
pada casing. Namun, ketika berhadapan dengan casing yang tua dan
berkarat, kita harus menyadari bahwa itu mungkin akan dapat
mengakibatkan kerusakan lebih karena adanya pekerjaan squeeze dan

dari tekanan yang akan yang dihasilkan. Sehingga dapat dikatakan


untuk perawatan sumur-sumur tua yang bermasalah dengan casing
yang sudah terkorosi Ini mungkin disarankan untuk mencabut casing
lama (jika mungkin) dan menurunkan casing yang baru.

2.2.5 Menutup Zona Yang Tidak Produktif


Zona-zona produksi pada suatu sumur memiliki batas umur
produksi, dan jika umur produksinya telah habis maka untuk melakukan
penutupan zona tersebut dapat dilakukan pekerjaan secondary
cementing, dengan melakukan plug-off terhadap perforasi yang ada.

2.3

Metode Secondary Cementing


Untuk menyelesaikan tujuan dilakukannya secondary cementing hanya
dibutuhkan volume semen yang relatif kecil, tetapi harus ditempatkan pada
titik yang tepat didalam sumur. Kadang-kadang kesulitan utama adalah
membatasi semen terhadap lubang bor. Untuk itu diperlukan perencanaan
yang baik terutama perencanaan bubur semen dan pemilihan tekanan dan
penggunaan metode yang digunakan untuk berhasilnya pekerjaan.
Secara umum pengerjaan secondary cementing dapat dibagi atas 2
klasifikasi, yaitu; squeeze cementing dan plug cementing.

2.3.1 Squeeze Cementing


Adalah

pekerjaan

memasukkan

slurry

semen

dengan

memberikan tekanan tertentu ke dalam lubang sumur, dengan maksudmaksud perbaikan, dan terdapat pembagian jenis-jenis metode
pekerjaan didalamnya seperti;
A. Low-pressure Squeeze
Teknik tekanan rendah atau dikenal juga dengan semen fluid
loss rendah adalah teknik squeeze cementing dengan memberikan
tekanan yang lebih kecil dari gradien rekah formasi. Tujuan dari
operasi ini adalah untuk mengisi rongga perforasi dan void saling
berhubungan dengan semen dehidrasi. Biasanya volume slurry yang
digunakan pada operasi ini sedikit, dan kontrol tepat untuk tekanan
hidrostatik kolom semen adalah penting, karena tekanan yang
berlebihan dapat mengakibatkan pembentukan hasil penyemenan
tidak sesuai dengan yang diharapkan.
B. High-pressure Squeeze
Teknik tekanan tinggi, tekanan ini mencakup perekahan
formasi dan pemompaan bubur semen kedalam rekahan hingga
tekanan tertentu tercapai dan terlaksana tanpa kebocoran. Biasanya
digunakan semen bersih yaitu dengan fluid loss yang sangat tinggi.

Gambar 2.3 High-pressure Squeeze


( 1990, Nelson, Erik B, Well Cementing )

C. Bradenhead Squeeze
Pada metode ini biasanya digunakan ketika pekerjaan lowpressure squeeze digunakan, dan juga ketika tidak ada sedikit
masalah dengan kapasitas casing untuk menahan dari pressure yang
dihasilkan.
Metode ini di gunakan dengan cara menempatkan cement
slurry di depan perforasi dan di sebut balancing plug setelah slurry
dicampur, slurry kemudian di pompa ke dalam tubing dan di ikuti
oleh sejumlah fluida work over yang sudah di hitung sehingga
membentuk suatu keseimbangan (kesamaan tinggi) kolom slurry di
dalam tubing dan annulus. Tubing di angkat di atas cement slurry
dan tubing di lakukan sirkulasi balik untuk membersihkan kelebihan
semen. Tekanan squeeze di berikan untuk menekan slurry ke dalam
perforasi, setelah final squeeze pressure didapat, tubing kemudian

diturunkan untuk sirkulasi balik kelebihan semen, sampai cement


plug masih tinggal beberapa meter di atas perforasi.

Gambar 2.4 Proses Metode Bradenhead Squeeze


( 1990, Nelson, Erik B, Well Cementing )

D. Squeeze Tool Technique


Pada metode ini pekerjaan squeeze dibantu oleh beberapa
peralatan tambahan. Teknik ini dapat dibagi lagi menjadi dua bagian,
yaitu retrievable squeeze packer method dan drillable cement
retainer method. Tujuan utama menggunakan peralatan tambahan
ini adalah untuk mengisolasi casing dan kepala sumur ketika tekanan
squeeze yang tinggi diberikan kepada sumur.

Gambar 2.5 Bridge Plug Dan Squeeze Packer


( 1990, Nelson, Erik B, Well Cementing )

E. Hesitation Squeeze
Hesitation squeeze adalah satu-satunya prosedur pemompaan
yang menghasilkan nilai fluid loss yang kecil dari semen yang masuk
ke dalam lubang perforasi. Pekerjaan pemompaan ini secara
langsung memiliki proses tahapan pemompaan (dari sampai
bbl/min), dan dipisahkan oleh selang waktu 10 sampai 20 menit
untuk tekanan leak off agar hilangnya filtrat ke dalam formasi.

2.3.2 Plug Cementing

Gambar 2.6 Plug Cementing


( 1990, Nelson, Erik B, Well Cementing )

Adalah salah satu bagian dari pekerjaan secondary cementing


yang bertujuan untuk mem-plug suatu zona tertentu dalam sebuah sumur.
Dimana biasanya pekerjaan plug ini dilakukan pada trayek open hole,
atau formasi yang lemah yang tidak dimungkinkan untuk dipasang
casing. Dan berdasarkan metode pengerjaannya maka plug cementing
dapat dibedakan menjadi:
A. Balanced Plug
Adalah

metode

penempatan

bubur

semen

dengan

memanfaatkan keseimbangan fluida spasher atau displacement

di

dalamnya. Dimana ketika telah terjadi keseimbangan didalamnya


maka secara perlahan tubing yang digunakan sebagai media
penghantar semen tersebut dapat dicabut secara perlahan.

B. Dump Bailer Method

Gambar 2.7 Dump Bailer Method


( 1990, Nelson, Erik B, Well Cementing )

Dump bailer method, adalah salah satu metode penempatan


plug cementing menggunakan alat tambahan bernama dump bailer,
dimana ketika pengerjaannya digunakan wireline untuk menurunkan
alat ini, dan biasanya dibantu oleh bridge plug untuk membatasi zona
di bawahnya.

2.4

Desain Semen Slurry


Untuk mendesain semen slurry yang baik haruslah komposisi atau
kandungan yang ada dalam semen itu sendiri berdasarkan karakteristik dari
formasi yang akan dilakukan pekerjaan secondary cementing, dan juga sesuai
dengan metode yang digunakan.

2.4.1 Fluid-loss Control


Filtration loss adalah peristiwa hilangnya cairan dari suspensi
semen ke dalam formasi permeabel yang dilaluinya. Cairan ini sering
disebut dengan filtrat. Apabila filtrat yang hilang terlalu banyak maka
akan menyebabkan suspensi semen kekurangan air. Dimana dapat
menyebabkan jumlah air bubur semen lebih kecil dari kadar
minimumnya. Akibatnya gesekan di annulus naik. Bila hal ini terjadi
maka formasi akan pecah dan tidak tertahan. Oleh karena itu formasi
yang dilalui bubur semen merupakan formasi yang porous dan
permeable dan perlu penambahan bahan aditif yang sesuai sebelum
bubur semen dipompakan. Berdasarkan API, nilai fluid-loss yang
dianjurkan untuk setiap pekerjaan penyemenan adalah:
Primary Cementing : 50-100 cc / 30 min / 1000 psi
Secondary

: 55-65 cc / 30 min / 1000 psi

2.4.2 Volume Semen


Ketepatan jumlah volume slurry semen bergantung pada
panjang dari interval yang akan dilakukan penyemenan, dan juga pada
teknik penyemenan yang digunakan. Pada teknik low-pressure
squeeze biasanya menggunakan semen slurry yang jumlahnya hanya
untuk membentuk filter cake dari semen pada lubang perforasi.
Sedangkan pada pekerjaan high-pressure squeeze, dimana biasanya
dilakukan untuk formasi yang memiliki nilai permeabilitas tinggi,

dibutuhkan volume yang besar, dimana ini termasuk juga untuk luas
dan panjang permeabilitas yang ada.

2.4.3 Thickening Time


Seperti pada pekerjaan primary cementing, temperatur dan
tekanan merupakan faktor yang sangat penting dimana menjadi dasar
untuk menentukan waktu penempatan bagi semen slurry. Bahkan
temperatur yang ada pada pekerjaan secondary cementing biasanya
lebih tinggi dari pada saat pekerjaan primary cementing, karena total
fluida sirkulasi sebelum dilakukan pekerjaan secondary cementing
jumlahnya sedikit.
Sifat bubur semen ini sangat perlu, karena waktu pemompaan
bubur semen harus lebih kecil dari thickening time. Bila tidak bubur
semen tidak akan sampai ke tempat yang diinginkan dan hal ini
merupakan kejadian fatal yang tidak boleh terjadi. Untuk sumur yang
dalam dengan waktu pemompaan bubur semen yang lama, maka
dibutuhkan thickening time yang lebih panjang. Sebaliknya untuk
sumur-sumur yang dangkal perlu mempersingkat thickening time.

2.4.4 Viskositas semen


Viskositas yang dimaksud disini adalah kemampuan dari semen
slurry itu sendiri untuk mengalir ke dalam saluran atau lubang yang
secara ukuran sebanding dengan fluida lainnya untuk mengalir. Oleh

karena itu, semen slurry yang memiliki viskositas rendah biasanya


mengandung aditif dispersant di dalamnya.

2.4.5 Compressive Strength Dan Shear Strength


Compresive Strength didefinisikan sebagai kekuatan semen
dalam menahan tekanan-tekanan yang berasal dari formasi maupun
dari casing, sedangkan Shear Strength didefinisikan sebagai kekuatan
semen dalam menahan berat casing. Tetapi, walaupun nilai
compressive strength yang tinggi dibutuhkan untuk menahan adanya
tekanan atau gangguan dari formasi maupun peralatan bawah
permukaan, ternyata itu tidak menjadi perhatian utama dalam desain
slurry. Dan pembentukan semen filter cake secara bertahap akan dapat
menghasilkan nilai compressive strength yang cukup.

2.5

Klasifikasi Semen Dan Additive


Dalam proses pembuatan slurry semen diperlukan ketepatan antara
menentukan jenis semen dan additive yang dipakai, dengan kondisi interval
yang akan dilakukan pekerjaan penyemenan, hal-hal

yang dapat

dipertimbangkan seperti: kedalaman interval, temperature, dan juga jenis


formasi.

2.5.1 Klasifikasi Semen


A. Semen kelas A
Semen ini dapat digunakan pada penyemenan dengan
kedalaman permukaan (0 ft) sampai 6000 ft. Semen jenis ini tidak
tahan terhadap sulfat.
B. Semen Kelas B
Semen ini dapat digunakan pada penyemenan dengan
kedalaman permukaan (0 ft) sampai 6000 ft. Semen jenis ini tahan
terhadap sulfat.
C. Semen Kelas C
Semen ini dapat digunakan pada penyemenan dengan
kedalaman permukaan (0 ft) sampai 6000 ft, tahan terhadap sulfat
dan mempunyai strength awal yang tinggi.
D. Semen Kelas D
Semen ini dapat digunakan pada penyemenan dengan
kedalaman 6000-10000 ft, untuk temperatur dan tekanan formasi
medium sampai tinggi, tersedia untuk semen yang tidak tahan
terhadap sulfat.
E. Semen Kelas E
Semen ini dapat digunakan pada penyemenan dengan
kedalaman 10000-14000 ft, untuk temperatur dan tekanan tinggi,
tersedia untuk jenis yang tidak tahan sulfat dan yang tahan terhadap
untuk tekanan tinggi.

F. Semen Kelas F
Semen ini dapat digunakan pada penyemenan dengan
kedalaman 10000-16000 ft, untuk temperatur dan tekanan tinggi
G. Semen Kelas G
Semen ini dapat digunakan pada penyemenan dengan
kedalaman permukaan (0 ft) samapi 8000 ft dan merupakan semen
dasar, bila diinginkan untuk kondisi lain dapat ditambahkan zat
aditif yang sesuai.
H. Semen Kelas H
Semen kelas H jiga merupakan semen dasar, tersedia jenis
tahan terhadap sulfat untuk tingkat moderat. Semen ini dapat
digunakan pada kedalaman permukaan (0 ft) sampai 8000 ft.

2.5.2 Additive
A. Accelerator
Aditif yang digunakan untuk mempercepat proses pengerasan
suspensi semen. Selain itu dapat juga mempercepat naiknya strength
semen dan mengimbangi aditif lain, agar tidak tertunda poses
pengerasan suspensi semennya. Konsentrasi yang digunakan dalam
penggunaan accelerator antara 1 4 % BWOC, tetapi konsentrasi
yang umumnya digunakan adalah 2%.

B. Retarder
Adalah aditif yang dapat memperlambat proses pengerasan
suspensi semen, sehingga suspensi semen mempunyai zat waktu
yang cukup untuk mencapai kedalaman target yang diinginkan.
Contohnya : lignosulfonat, senyawa-senyawa asam organik dan
CMHEC (Carboxymethyl Hydroxymethyl Cellulose)
C. Extender
Aditif yang berfungsi untuk menaikkan volume suspensi
semen, yang berhubungan dengan mengurangi densitas suspensi
semen tersebut. Contohnya : bentonite, attapulgite, sodium silikat,
pozzolan, perlite dan gilsonite.
D. Weighting agents
Adalah aditif yang berfungsi menaikkan densitas semen,
biasanya digunakan pada sumur-sumur yang mempunyai tekanan
formasi yang tinggi. Contohnya : hematite,ilmenite, barite dan
pasir.
E. Dispersant
Dispersant bekerja pada slurry semen dengan cara
memisahkan dan memperlambat kinerja partikel-partikel semen
secara menyeluruh pada mix water. Pemisahan partikel-partikel
semen ini menghasilkan mobilitas yang baik sehingga viscositas
dari slurry semen tersebut menurun (mengencerkan slurry semen).

Aditif-aditif yang termasuk dalam dispersant antara lain :


polymelamine sulfonate, polynapthatalena sulfonate.
F. Fluid-Loss Control Agents
Merupakan aditif yang berfungsi mencegah hilangnya fasa
liquid semen ke dalam formasi, sehingga terjaga kandungan cairan
pada suspensi semen. Aditif yang termasuk kedalam fluid-loss
control agents diantaranya polymer, CMHEC dan latex.
G. Lost Circulation Control Agents
Lost Circulation Control Agents merupakan aditif yang
mengontrol hilangnya suspensi semen ke dalam formasi yang
lemah atau bergua (rekahan). Aditif yang termasuk ke dalam lost
circulation control agents diantaranya gilsonite, cellophane flakes,
gypsum, bentonite, dan nut shells
H. Anti Foam
Untuk menghilangkan busa yang ada akibat dari semen dan
mix water pada saat mix slurry semen dilakukan. Sedikit konsentrasi
dari anti foam akan mencegah permasalahan ketika dilakukan
mixing. Range konsentrasi yang digunakan dalam penggunaan Anti
Foam adalah 0.01 0.05 gps.

Tabel 2.1 Penggunaan Additive Berdasarkan Ukuran Casing


( 2015, Dokumentasi Pribadi)

2.6

Perhitungan Pekerjaan Cementing


Untuk mendapatkan hasil penyemenan yang baik hanya tergantung dari
teknik atau peralatan yang dapat bekerja dengan baik, akan tetapi harus
dilakukan perhitungan perencanaan penyemenan. Adapun perhitungan yang
dilakukan adalah sebagai berikut:
2.6.1 Kapasitas Dan Volume Semen Slurry
Kapasitas atau luas suatu ruang yang akan di semen dan volume
annulus harus diketahui, jumlah volume annulus yang akan disemen
sama dengan jumlah volume cement slurry yang dibutuhkan. Volume
bubur semen dapat di hitung dengan persamaan :
1. Volume casing
Vca sin g

ID 2

Depth
1029 .4
.... (2.1)

2. Volume annulus
Vannulus

( ID 2 OD2 )
Depth
1029 .4
.. (2.2)

Dimana :
ID

= inside diameter casing, inch

OD

= outside diameter casing, inch

1029.4 = konversi dalam satuan volume, bbl


V

= volume cement slurry, bbl

Depth = kedalaman / ft

2.6.2 Yield Dan Jumlah Semen


Jumlah sak semen dapat didefinisikan sebagai jumlah sak semen
yang dibutuhkan dalam suatu proses penyemenan. Jumlah sak semen
berbeda-beda pada tiap-tiap suspensi, tergantung dari yield semen yang
diinginkan. Berat semen dalam satu sak umumnya adalah 94 lb.
Sehingga jumlah sak semen dan yield semen dapat dihitung dengan
rumus sebagai berikut :
Sak cement

yield

vol .cementslurry
yield

Vcem ent Vwater Vadditive


7.481

.. (2.3)

... (2.4)

Dimana

7.481

= konversi satuan dari gallon volume menjadi cuft volume

2.6.3 Mixing Water


Mixing water adalah jumlah air yang dibutuhkan campuran
semen dan additive untuk menjadi cement slurry. Perhitungan mixing
water ditentukan dengan persamaan
Mixing water = total sak semen x mix water .. (2.5)

2.6.4 Volume Displacement


Volume displacement merupakan volume fluida pendorong
yang dibutuhkan untuk mendorong suspensi semen dari dalam casing
agar keluar ke annulus. Besarnya displacement volume merupakan
volume casing dari permukaan sampai collar. Volume displacement
ditentukan dengan persamaan
Displacement volume = Ccasing x Hcollar .. (2.6)
Dimana :

2.7

= kapasitas casing, bbl

= kedalaman, ft

Peralatan Penyemenan
Dalam pekerjaan secondary cementing, peralatan yang digunakan
dalam proses pengerjaannya juga sangat diperlukan selain pembuatan desain
bubur slurry, maupun penentuan teknik yang digunakan. Karena peralatanperalatan inilah yang secara langsung berhubungan untuk membuat dan juga
mentransfer slurry baik dari tank menuju cementing unit maupun dari

cementing unit menuju sumur. Dan secara umum peralatan ini dapat dibagi
menjadi 2, yaitu peralatan utama dan peralatan aksesoris.

2.7.1 Peralatan Utama


A. Cementing Unit
Cementing Unit merupakan satu unit pompa yang berguna untuk
memompakan suspensi semen atau fluida pendorong dalam proses
penyemenan. Cementing unit dapat berupa truck (Long Vehicle) atau
skid yang didalamnya terdapat perlengkapan penyemenan, antara
lain : Slurry Tub, Displacement Tank, Tornado, Pompa, Engine, dsb.

Gambar 2.8 Cementing Unit


( 1990, Nelson, Erik B, Well Cementing )

B. Tornado Atau PSM (Pressicion Slurry Mixer)


Tornado atau yang biasa PSM adalah alat pengaduk yang juga
berada didalam bagian cementing unit.

C. Batch Mixer
Batch Mixer adalah tempat untuk menampung/menyimpan air, atau
cement slurry, atau juga fluida displacement dalam jumlah volume
yang besar.
D. Water Tank
Water Tank adalah tanki untuk menyimpan zat cair (Fresh water)
yang dibutuhkan sebagai pencampur semen kering, atau sebagai
tempat fluida hasil pencampuran.
E. Air Compressor
Air Compressor adalah engine yang menghasilkan tekanan, biasanya
digunakan untuk mengirimkan semen kering dari cutting bottle ke
gravity silo, Pneumatic/ pressurized silo, dan Surge tank melalui
hose.

2.7.2 Peralatan Aksesoris


A.

Line
Adalah pipa besi yang berfungsi sebagai penghubung dan juga
penyalur fluida maupun slurry semen, baik dari tangki ke pompa,
maupun dari pompa menuju sumur.

B.

Swivel
Swivel terdiri atas long joint dan short joint yang merupakan
treating line untuk mengalirkan bubur semen atau fluida lain.

C.

Hose
Hose merupakan selang flexible yang berfungsi untuk mengalirkan
air, fluida hasil mixing ataupun dry cement dengan ukuran diameter
bervariasi (3, 4, 6). Kondisi kerja hose terdiri atas high pressure
dan low pressure.

BAB III
METODOLOGI PELAKSANAAN

Dalam melakukan tugas akhir, penulis melakukan pengamatan terhadap


semua peralatan dan pelaksanaan pekerjaan secondary cementing. Selama tugas
akhir, penulis melakukan beberapa metode penelitian, antara lain :

3.1

Orientasi Lapangan
Dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap semua
peralatan secondary cementing. Pelaksanaan tugas akhir merupakan tahapan
pengambilan data-data semua peralatan dan pekerjaan secondary cementing
melalui pencatatan dari hasil objek semua peralatan secondary cementing
yang telah diteliti.

3.2

Studi Pustaka
Merupakan data yang diperoleh dari buku-buku atau media cetak
seperti majalah tentang peralatan dan pekerjaan secondary cementing, media
elektronik dan internet sebagai bahan tambahan dalam penyusunan laporan
yang berkaitan dengan topik yang ditulis.

3.3

Metode Wawancara
Data-data yang didapat dari konsultasi langsung dengan dosen
pembimbing, pembimbing lapangan, operator yang bersangkutan dan teman-

teman di Akamigas Balongan yang telah memberikan informasi yang akurat


mengenai peralatan dan juga pekerjaan secondary cementing.

3.4

Diskusi
Yaitu dengan cara berdiskusi langsung dengan pembimbing lapangan
dan para pekerja.

3.5

Melihat Data Perusahaan


Yaitu dengan cara membaca dan mencatat gambaran umum
perusahaan dan mengenai spesifikasi peralatan dan pekerjaan secondary
cementing yang digunakan.

BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

4.1 Sejarah Singkat PT. Bukitapit Bumi Persada


PT. Bukitapit Bumi persada (BBP) didirikan tahun 2000 di Jakarta dan
merupakan perusahaan lokal yang menangani pekerjaan cementing,
fracturing, dan stimulation sumur. BBP saat ini tidak saja melayani
perusahaan minyak lokal (pertamina dan lain-lain), tetapi BBP juga telah
menyelesaikan beberapa proyek dengan perusahaan minyak internasional.

Gambar 4.1 Logo PT. Bukitapit Bumi Persada


( 2015, Dokumen PT. Bukitapit Bumi Persada )

PT. Bukitapit Bumi persada bekerja sama dengan perusahaan minyak


milik negara (Pertamina) untuk mengoperasikan lapangan produksi minyak
di sumatera, yang dikenal sebagai TAC Pertamina IPK (Technical
Assistance Contract). BBP mengelola blok sumur minyak secara individu dan
membantu Pertamina dalam meningkatkan produksi minyak.

PT. Bukitapit Bumi Persada mengutamakan kesehatan dan


keselamatan kerja seluruh karyawan dan lingkungan sekitar. BBP telah
menerima dan mengumpulkan berbagai penghargaan dari perusahaan minyak
milik negara yaitu Pertamina dalam bidang HSE (Health Safety and
Environment) dan penggunaan 100% sumber daya lokal. Perusahaan ini
bergerak di bidang jasa pertambangan migas yang menyediakan :
Pumping Services
Rig Services (workover)
Rencana Operasi Lapangan Minyak Marginal
Service yang dilakukan oleh PT. Bukitapit Bumi Persada diantaranya
adalah :
Cementing
Stimulation ( acidizing & water control treatment )
Fracturing
Coil tubing
Nitrogen Services
Well Testing
Rig services ( workover )
Dalam hal ini PT Bukitapit Bumi Persada juga menyelenggarakan
training untuk :
Basic Safety
Engineering Hand Book
Basic Cementing

Dalam upaya meningkatkan kualitas pekerjaan PT Bukitapit Bumi


Persada menyediakan form post job evaluation yang akan diisi oleh costumer
REP atau company man untuk setiap pekerjaan yang telah dilakukan.

4.2

Visi dan Misi PT. Bukitapit Bumi Persada


4.2.1 Visi
1. Menjadi yang utama dan pemimpin dalam industri minyak dan gas
di indonesia.
4.2.2 Misi
1. Menggunakan hingga 100% dari sumber lokal untuk dapat
berkontribusi terhadap negara dan rakyat.
2. Mengingkatkan keselamatan karyawan dan lingkungan sekitar.
3. Menjadi contoh yang baik diantara perusahaan sejenis yang ada di
indonesia.

4.3

Unit Kerja PT. Bukitapit Bumi Persada


4.3.1 Unit Pumping Cementing
Cementing sumur adalah prosedur pengembangan dan
memompa semen ke tempatnya dalam lubang sumur. Digunakan untuk
sejumlah alasan yang berbeda, penyemenan melindungi lubang sumur.
Paling umum, penyemenan digunakan untuk menutup secara permanen
dari penetrasi air ke dalam sumur. Bagian dari proses penyelesaian
calon sumur produksi, penyemenan dapat digunakan untuk menutup

annulus setelah serangkaian casing telah dijalankan dalam lubang


sumur. Selain itu, penyemenan digunakan untuk menutup zona loss
circulation, atau daerah dimana ada pengurangan atau tidak adanya
aliran dalam sumur. Dalam directional drilling, penyemenan digunakan
untuk plug sumur yang ada, dalam rangka untuk menjalankan
pemboran terarah dengan baik dari titik itu. Penyemenan juga
digunakan untuk plug sumur untuk meninggalkannya.
Penyemenan dilakukan ketika bubur semen ditempatkan ke
dalam sumur melalui pompa, fluida pemboran masih terletak di dalam
sumur, dan menggantinya dengan semen. Slurry semen mengalir ke
bagian bawah sumur bor melalui casing, yang pada akhirnya akan
menjadi pipa yang dilalui aliran hidrokarbon ke permukaan. Disitulah
slurry semen mengisi ruang antara casing dan lubang sumur yang
sebenarnya, dan mengeras. Hal ini menciptakan penutup sehingga
material luar dari formasi tidak bisa masuk ke dalam lubang sumur,
serta secara permanen posisi casing tetap berada di tempat. Peralatan
yang diperlukan untuk proses cementing :
1. Cementing : Cementing Casing, Squeeze, Plug
2. Cementing Pump Unit (Twin Pump)
3. Cementing Accessories
4. Batch Mixer (Twin) : 100 bbl
5. Automatic Cement Mixer
6. Water Tank

7. Twin Pod Filter Unit : 1 unit dengan engine


8. Centrifugal Pump
9. Air Compressor
10. Prezzurize Tank
11. Cutting Pod
12. Surge Tank
13. 2 1502 Tereating Line
14. Cementing Head Cement Data Aquisition (Recording)
15. Squeeze Packer
16. Lab Accessories

UCA (Ultasonic Cement Analyzer)

Atmospheric Consistometer (Conditioning Slurry)

Curing Champer Compressive Strength

Wearing Blenders, Density Balance, Rheometer.

4.3.2 Unit Fracturing


Fracturing dilakukan setelah sumur selesai, atau setelah
dipasang casing, tubing dan perforasi telah diterapkan, baik patahan
telah berkembang dari waktu ke waktu. Dimulai pada 1860-an dan
digunakan melalui 1940-an, Perekahan gunakan menjadi metode yang
paling umum. Perekahan, yaitu meledakkan bahan peledak di dalam
sumur untuk memecahkan batuan reservoir.

Berhasil atau tidaknya stimulasi produksi sangat berpengaruh


namun berbahaya, awal mula perekahan diperkenalkan menggunakan
nitrogen cair ke dalam sumur melalui silinder timah disebut sebagai
sebuah torpedo. Torpedo diturunkan ke dalam sumur bor dan
diledakkan. Ledakan itu menciptakan lubang besar yang kemudian
dibersihkan dan diselesaikan sebagai open hole, meninggalkan dasar
sumur terbuka ke dalam reservoir.
Dikembangkan pada 1940-an, perekahan hidrolik atau
hydraulic fracturing, juga dikenal sebagai pekerjaan frac, adalah
praktek suntik sumur dengan jumlah yang besar dan tekanan tinggi
untuk memecahkan batuan. Dapat dilakukan pada

openhole dan

perforasi cased, hydraulic fracturing cepat menggantikan rekah


peledak.
Digunakan dalam keadaan seperti gel, cairan frac terdiri dari air
dan polimer, atau molekul organik panjang yang membentuk cairan
kental. Keduanya berbasis minyak dan berbasis busa. Cairan frac
menggunakan

gelembung

nitrogen

untuk

mencapai

fraktur.

Karbondioksida dapat digunakan juga, untuk meminimalkan kerusakan


formasi.
Sebuah pekerjaan frac dilakukan dalam tiga langkah. Pertama,
sejumlah besar cairan frac dipompa ke dalam sumur. Tekanan tinggi
dari cairan frac secara terus-menerus meningkatkan tekanan saat
pemompaan di dalam sumur. Dalam pelaksanaan, cairan frac

dipompakan ke dalam sumur sampai batuan retak sesuai dengan


panjang yang diinginkan.
Peralatan yang diperlukan untuk proses fracturing :
1. Sand Frac, Acid Frac, Prepack
2. Automatic Frac Blender
3. Frac Pump
4. Sand Silo
5. Frac Mixing Tank
6. Frac Accesories
3 Treating Iron
Squeeze Packer
Frac Manifold
7. Control Cabin
Frac Data Aquisition (Recording)

Radio Comunication

Lab accessories

4.3.3 Unit Stimulasi


Stimulasi dilakukan pada sumur minyak atau gas untuk
meningkatkan produksi dengan meningkatkan aliran hidrokarbon dari
daerah drainase ke dalam sumur bor. Bermacam-macam bahan kimia
dipompa ke bawah sumur selama pengeboran dan penyelesaian sering
dapat menyebabkan kerusakan pada formasi sekitarnya dengan

memasukkan batuan reservoir dan memblokir pori lubang (saluran di


sepanjang reservoir yang dialiri aliran cairan). Demikian pula, tindakan
perforasi dapat memiliki efek yang sama dengan puing-puing yang
masuk ke saluran perforasi. Kedua situasi ini mengurangi permeabilitas
di dekat daerah sumur dan mengurangi aliran cairan ke dalam sumur.
Teknik stimulasi digunakan untuk mendorong produksi
mengalir dari batuan reservoir. Hidrokarbon berada di sela-sela poripori batuan reservoir. Produksi dicapai saat ini ruang pori yang
terhubung dan permeabilitas, atau kemampuan untuk mengirimkan
cairan, adalah sedemikian rupa sehingga hidrokarbon mengalir keluar
dari batu dan ke dalam sumur. Dalam beberapa waduk, batuan memiliki
permeabilitas rendah, dan hidrokarbon tidak dapat diekstraksi untuk
produksi. Lain kali, produksi terhambat oleh kerusakan formasi, saat
pengeboran ke batu mengurangi permeabilitas.
Produksi dapat dicapai dalam sumur ini melalui metode
stimulasi produksi disebut juga fracturing. Kinerja di atas reservoir
pembentukan tekanan fraktur, baik patahan yang menyebabkan laju alir
sangat konduktif antara reservoir dan sumur bor. Well fracturing
membagi batuan reservoir terbuka untuk mendorong hidrokarbon
mengalir dari batu-batu ke dalam sumur. Alat yang diperlukan untuk
proses stimulasi/pumping :
1. Acidizing, Pumping Chemical
2. Cementing Pump Unit (Twin Pump/Single)

3. Stimulation Accessories

Acid Tank (Stainless steel)

Water Tank

Welden Pump

Twin Pod Filter Unit

BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Pekerjaan Secondary Cementing


Dalam melakukan pekerjaan secondary cementing ini dimulai dari
Client yang meminta jasa kepada PT. Bukitapit Bumi Persada untuk
melakukan pekerjaan secondary cementing, lalu data-data sumur yang akan
dilakukan pekerjaan ini diberikan oleh Client kepada PT. Bukitapit Bumi
Persada untuk kemudian diolah agar mendapatkan perhitungan sesuai dengan
kondisi yang diharapkan.

Grafik 5.1 Production Performance Sebelum Pekerjaan Cementing


( 2014, Dokumen Client )

SX-02 adalah sumur milik Client yang berada pada lapangan SX, dan
berproduksi pada lapisan Parigi, dan mulai menjadi sumur penghasil gas sejak
19 Maret 1996. Hingga pada akhirnya timbul permasalahan naiknya kadar air
yang ikut terproduksi, yang dapat dilihat berdasarkan grafik production

performance dari sumur tersebut, bahwa mula-mula sejak tanggal 01 januari


2014 produksi gas sekitar 13 MMSCFD dan tetap stabil hingga pada tanggal
17 maret 2014 mengalami penurunan secara drastis, yaitu sekitar

MMSCFD, hal ini terjadi disebabkan karena kadar air yang mulai masuk
kedalam lubang sumur yaitu sebesar 290 BPD, dan terus mengalami kenaikan
secara konstan, tetapi nilai produksi gas akhirnya dapat kembali naik. Hingga
akhirnya pada tanggal 14 agustus 2014 kadar water cut yang ada mencapai
97% atau sekitar 590 BPD, sehingga gas yang seharusnya dapat berproduksi
mengalami penurunan secara drastis hingga 5 MMSCFD, dan akhirnya sumur
mati tidak dapat berproduksi karena adanya gangguan dari kadar air yang
secara langsung mempengaruhi nilai tekanan hidrostatis dalam lubang yang
menjadi naik.
Berdasarkan permasalahan tersebut maka dipilihlah pekerjaan
penyemenan menggunakan semen karbonat, karena dengan menggunakan
semen karbonat, nantinya setelah pekerjaan penyemenan yang dapat menutup
komunikasi antara lubang bor dengan formasi (termasuk didalamnya zona
air). Dapat dilakukan pekerjaan jetting acid, yaitu pekerjaan yang berfungsi
untuk membuka kembali komunikasi antara formasi dengan lubang sumur.

5.2

Secondary Cementing
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa pada bagian
pekerjaan secondary cementing ini yang secara langsung berperan besar untuk
menutup zona air yang mengganggu produktifitas gas dalam sumur tersebut,
dan dapat dijabarkan proses pekerjaannya meliputi pengumpulan data
lapangan, pengujian laboratorium, desain slurry, hingga proses pekerjaanya
dilapangan.
5.2.1 Perolehan Data
A. Data Sumur
Data sumur ini diproleh dari kondisi sumur sebenar-benarnya
dimana diberikan oleh client kepada PT. Bukitapit Bumi Persada dan
digunakan untuk melakukan desain slurry, dan juga uji laboratorium.
Total Kedalaman

: 1450 m

Open Hole

: 6 inch, 1450-1346 m

Casing

: 7 inch, Grade HCN-80

Tubing

: 2 7/8 inch, Grade N-80

Open End

: 1450 m

B.H.S.T

: 215 of

B.H.C.T

: 179 of

B. Hasil Uji Laboratorium


Thickening Time

: 4 hours 32 minutes

Fluid Loss

: 30 cc/30 minutes

Slurry Density

: 13.8 ppg

SG Slurry

: 1.66

Slurry Yield

: 3.29 cuft/sack

Water

: 13.51 gps

Total Mixing Fluid : 15.65 gps


Calcium Carbonate : 120% bwoc
Retarder

: 0.11 gps

Fluid Loss Additive : 1.2 gps


Gas Block Additive : 0.8 gps
Anti Foam

: 0.03 gps

5.2.2 Design Pekerjaan Secondary Cementing


A. Capacity
Capacity =

ID2
1029.4

Open Hole 6
Open Hole 6 =

62
1029.4

= 0.034971 bbl/ft = 0.1963 cuft/ft

Casing 7
Casing 7 =

6.3662
1029.4

= 0.03936 bbl/ft = 0.22 cuft/ft


Tubing 2 7/8
Tubing 2 7/8 =

2.4412
1029.4

= 0.005788 bbl/ft = 0.0325 cuft/ft


Open Hole 6 Tubing 2 7/8
OH 6 Tubing2 7/8 = 0.1963 0.0325
= 0.1638 cuft/ft = 0.02917
Casing 7 Tubing 2 7/8
Casing 7 Tubing 2 7/8 = 0.22 0.0325
= 0.1875 cuft/ft = 0.0334 bbl/ft
Tubing + (Casing Tubing )
Tubing + (Casing Tubing ) = 0.0325 + 0.1875
= 0.22 bbl/ft

B. Volume Slurry
Volume slurry = Open Hole Capacity 6 x h
= 0.1963 x 178.75 x 3.281= 115.12 cuft = 20.5 bbl
Ketinggian tersebut didapatkan dengan menjumlahkan total
ketinggian dari open end ke casing shoe dengan 74 m

C. Jumlah Sack Semen


Sack semen =

Volume Semen Slurry


Slurry Yield
115.12 Cuft
3.29 Cuft/Sack

= 34.9 sacks = 35 sacks


Untuk nilai slurry yield didapatkan dari hasil tes laboratorium yang
telah dilakukan sebelumnya.
D. Volume Fluida Yang Dipompakan
Volume = gps x sacks
Volume Water
Water = 13.51 gps
= 13.51 gps x 35 sacks
= 472.85 gall = 11.25 bbl
Volume Total Mixing Fluid
Total Mixing Fluid = 15.65 gps
= 15.65 gps x 35 sacks
= 547.75 gall = 13.0 bbl
Volume CaCO3 120% BWOC
Volume CaCO3 120% =

120
100

x 35 sacks x 94 lbs

= 3948 lbs = 71 sacks

Volume Additive
Retarder

= 0.11 gps
= 0.11 gps x 35 sacks
= 3.85 gall

Fluid Loss Additive = 1.2 gps


= 1.2 gps x 35 sacks
= 42 gall
Gas Block

= 0.8 gps
= 0.8 gps x 35 sacks
= 28 gall

Anti Foam

= 0.03 gps
= 0.03 gps x 35 sacks
= 1.05 gall

5.2.3 Semen Dan Additive Yang Digunakan


Pada tahap ini adalah menentukan bahan-bahan yang digunakan
dalam pekerjaan secondary cementing, dimana pemilihan bahan-bahan
ini harus sesuai berdasarkan kondisi lapangan yang akan dihadapi
nantinya.
A. Semen Karbonat
Berdasarkan kondisi serta alasan pekerjaan ini dilakukan
maka sebagai bahan utama pembuat slurry semen, dipilih jenis
semen karbonat, dimana merupakan komposisi dari semen jenis
kelas G yang cocok untuk penyemenan dikedalaman 3000 ft dan

dengan tambahan karbonat (CaCO3), karbonat dipilih sebagai bahan


tambahan karena dengan menambahkan karbonat, nantinya setelah
proses penyemenan, semen tersebut dapat mudah untuk ditembus
oleh acid, agar dapat kembali tercipta komunikasi antara lubang
sumur dengan formasi.

Gambar 5.1 Semen Kelas G


( 2015, Dokumen Pribadi )

B. Additives
Aditif-aditif

berikut

ini

digunakan

agar

nantinya

mendapatkan sifat-sifat semen slurry yang diinginkan, seperti


tingkat voskositas, fluid loss, maupun thickening time nya.
Retarder (BAR 18 AL)
Aditif ini berfungsi memperlambat proses pengerasan suspensi
semen sampai semen tersebut mempunyai waktu yang cukup
untuk mencapai kedalam target yang di inginkan.

Gambar 5.2 Retarder


( 2015, Dokumen Pribadi )

Fluid loss Agent (BAL 22 AL)

Gambar 5.3 Fluid Loss Agent


( 2015, Dokumen Pribadi )

Aditif ini berfungsi mencegah hilangnya fasa liquid semen


kedalam formasi sehingga terjaga kandungan cairan pada
suspensi semen.

Gas Block (BAG 17L)

Gambar 5.4 Gas Block


( 2015, Dokumen Pribadi )

Aditif ini berfungsi mencegah terjadinya intrusi fluida dari sumur


(fluida reservoir) ketika proses hidrasi pada bubur semen sedang
berjalan.
Anti Foam (BAF 26L)

Gambar 5.5 Anti Foam


( 2015, Dokumen Pribadi )

Aditif ini mengendalikan dan menghilangkan gelembung udara


yang terjebak dalam bubur semen, yang biasanya timbul saat
pekerjaan mixing bubur semen.

5.2.4 Peralatan Yang Digunakan


Dalam pekerjaan secondary cementing, peralatan yang
digunakan dalam proses pengerjaannya juga sangat diperlukan selain
pembuatan desain bubur slurry, maupun penentuan teknik yang
digunakan. Karena peralatan-peralatan inilah yang secara langsung
berhubungan untuk membuat dan juga mentransfer slurry baik dari tank
menuju cementing unit maupun dari cementing unit menuju sumur.
Berikut ini adalah peralatan yang digunakan dalam pekerjaan
secondary cementing.

A. Cementing Unit
Pada pekerjaan penyemenan cementing unit ini berperan
utama sebagai alat untuk memompakan slurry maupun fluida
penyemenan kedalam lubang sumur. Sedangkan jenisnya sendiri
memiliki 2 unit pompa dalam sebuah cementing unit tersebut,
sehingga dapat dinamakan sebagai twin pump unit.

Gambar 5.6 Cementing Unit


( 2015, Dokumen Pribadi )

Sistem transfer tenaganya sendiri dimulai dari engine sebagai


penyuplai tenaga utama, kemudian menggerakkan power end,
kemudian menggerakkan pompa melalui flow end. Cementing unit
ini juga memiliki bagian-bagian kecil lainnya, seperti:
Engine

Engine pada twin pump unit ini berfungsi sebagai penyuplai


tenaga untuk menggerakkan pompa yang ada. Dengan jumlah 2
unit untuk tiap pompa masing-masing memiliki satu engine.

Gambar 5.7 Engine


( 2015, Dokumen Pribadi )

Pompa
Adalah unit utama dalam sebuah pumping unit yang secara
langsung berfungsi untuk memompakan semen slurry dari unit
pumping atau batch mixer menuju kedalam sumur. Dan dalam
unit twin pump terdapat 2 jenis pompa, yaitu pompa dengan
plunger 5 inch dan pompa dengan plunger 3 inch. Kedua
pompa ini digunakan sesuai kebutuhan yang ada, yaitu seperti
besarnya rate dan pressure yang dibutuhkan ketika proses
memompakan slurry.

Gambar 5.8 Pompa


( 2015, Dokumen Pribadi )

Displacement tank
Adalah tank berkapasitas 20 bbl yang berfungsi sebagai tempat
penampungan fluida displace, additive, ataupun fresh water.

Gambar 5.9 Displacement Tank


( 2015, Dokumen Pribadi )

Slurry tank
Adalah tank yang berfungsi sebagai tempat membuat semen
slurry dalam kapasitas maksimal 10 bbl,

Gambar 5.10 Slurry Tank


( 2015, Dokumen Pribadi )

Suction dan Discharge Line


Suction line adalah line yang berfungsi untuk mengalirkan fluida
yang akan dihisap pompa, sedangkan discharge line adalah line
yang berfungsi untuk meneruskan fluida yang telah dihisap oleh
pompa.

Discharge line

Suction line

Gambar 5.11 Suction dan Discharge Line


( 2015, Dokumen Pribadi )

Control Cabin
Adalah sebuah kabin yang berfungsi untuk mengontrol kegiatan
yang ada pada unit twin pump, seperti dapat mengontrol valve,
membaca tekanan dan rate yang dihasilkan dari pompa.

Gambar 5.12 Control Cabin


( 2015, Dokumen Pribadi )

B. Batch Tank

Gambar 5.13 Batch Tank


( 2015, Dokumen Pribadi )

Adalah unit tanki berkapasitas 100 bbl yang berfungsi


sebagai tempat untuk mengaduk semen slurry dan juga terdapat

engine yang berfungsi sebagai penyuplai tenaga untuk mengaduk


dan mengalirkan semen slurry.

C. Treating Line

Gambar 5.14 Treating Line


( 2015, Dokumen Pribadi )

Adalah line dengan ukuran 2 inch yang berfungsi untuk


mengalirkan semen slurry dari pumping unit menuju sumur, selain
itu juga berfungsi untuk mengalirkan fluida penyemenan baik dari
batch mixer menuju unit cementing, maupun dari unit cementing
menuju lubang sumur.
D. Water Tank

Gambar 5.15 Water Tank


( 2015, Dokumen Pribadi )

Tangki ini merupakan tempat untuk menampung fresh water


yang berkapasitas 100 bbl yang biasanya digunakan untuk
menyuplai persediaan air selama pekerjaan penyemenan.

5.2.5 Proses Pekerjaan Secondary Cementing


Dalam pelaksanaannya pekerjaan secondary cementing ini
dimulai dengan melakukan persiapan terhadap peralatan yang akan
digunakan, lalu melakukan rig-up line baik dari unit menuju lubang
sumur, maupun dari tangki menuju cementing unit. Untuk memastikan
bahwa semua sambungan antara line sudah terpasang baik maka
dilakukan pressure test line dengan memberikan pressure sebesar 2000
psi, jika tidak ada masalah maka pekerjaan akan dilanjutkan ke tahap
berikutnya, tetapi jika terdapat permasalahan ketika proses test line
tersebut maka permasalahan harus diselesaikan sebelum lanjut ketahap
selanjutnya. Setelah test line telah selesai maka yang dilakukan adalah
injection rate, yaitu melakukan test pumping terhadap lubang sumur
menggunakan fresh water hingga besarnya pressure yang dihasilkan
oleh pompa stabil, lalu mencatat besar pressure pompa yang dihasilkan
yaitu sebesar 800 psi dengan rate pump sebesar 1 bpm, yang nantinya
dapat digunakan sebagai perhitungan untuk melakukan pemompaan
terhadap semen slurry.
Selanjutnya adalah mulai memompakan water ahead sebesar 10
bbl menggunakan fresh water yang berfungsi sebagai spacer sehingga

nantinya semen slurry tidak terkontaminasi dengan fluida-fluida yang


ada pada lubang sumur sebelumnya. Lalu mulai membuat semen slurry
dengan mixing semen, fresh water, dan juga additive yang telah
ditentukan sehingga nantinya terbentuk volume slurry sebesar 20 bbl.
Jika proses mixing telah selesai, maka selanjutnya adalah mulai
memompakan semen slurry tersebut dengan rate 2 bpm, sehingga
waktu yang dibutuhkan untuk memompakannya adalah selama 10,25
menit.
Kemudian memompakan kembali fresh water sebanyak 1.85 bbl
sebagai water behind, selanjutnya adalah memompakan completion
fluid berupa KCL sebanyak 22 bbl sebagai displacement fluid. Jika telah
selesai maka pompa dihentikan dan kemudian mulai mencabut
rangkaian tubing 2 7/8 inch sebanyak 11 stand

(2

tubing/stand) dan membutuhkan waktu sekitar 50 menit untuk


mencabutnya. Jika proses cabut rangkaian selesai maka melakukan
reverse circulation, yaitu sirkulasi balik sebanyak 2 kali sirkulasi, jika
telah selesai dan dianggap tubing telah bersih dari sisa-sisa semen
slurry maka selanjutnya adalah menunggu semen hingga kering selama
1x24 jam, dan melakukan rig-down terhadap unit yang telah digunakan.

5.3 Menciptakan Kembali Komunikasi Dengan Formasi


Setelah dilakukannya pekerjaan secondary cementing maka dapat
dipastikan kadar air dalam sumur tidak ada, karena zona air yang ada

sebelumnya telah ditutup oleh pekerjaan secondary cementing, tetapi pada


kenyataannya zona produksi (dalam kasus ini adalah gas) juga ikut tertutup
oleh pekerjaan penyemenan yang telah dilakukan.
Oleh karena itu untuk mengoptimalkan pekerjaan secondary
cementing yang bertujuan untuk mengurangi kadar water cut dalam sumur
ini, maka dilakukanlah pekerjaan tambahan yaitu jetting acid, dimana semen
karbonat yang telah dipompakan sebelumnya akan dapat hancur oleh acid dan
komunikasi antara formasi dengan lubang bor kembali terbuka.
Jetting acid, sesuai dengan nama pekerjaannya, dimana dilakukan
pemompaan acid secara langsung kedalam lubang sumur hingga top of
cement menggunakan coil tubing unit. Diharapkan nantinya dengan pekerjaan
ini yang hanya memiliki penetrasi pemompaan yang tidak besar akan tercipta
komunikasi sependek-pendek mungkin dengan formasi. Didasarkan atas sifat
air sendiri yang lebih berat dari pada gas, ketika komunikas tercipta sekecil
mungkin sehingga yang diharapkan dapat masuk nantinya kedalam lubang
sumur nantinya hanyalah fluida gas saja dan air tetap terperangkap oleh
semen pada bagian bawah.
5.3.1 Perolehan Data
A. Data Sumur

Total Depth

: 1450 m

Open Hole

: 6 inch, 1450 m

Casing

: 7 inch, 1351 m, Grade HCN-80

Tubing

: 3 inch, 1345 m, Grade L-80

Coil Tubing

: 1 inch, 2700 m

Packer

: 7 inch, 1335 m

B. Hasil Uji Laboratorium

HCl 32% : 290 gpt

Water

: 555 gpt

BCI-06

: 20 gpt

BIC-30

: 50 ptg

BCI-01

: 50 gpt

BCI-3

: 25 gpt

BSU-12N : 10 gpt

BMS-50

: 50 gpt

KCl 2%

: 167 ptg

5.3.2 Design Jetting Acid


Berdasarkan hasil uji laboratorium, maka didapatkan untuk
menghancurkan semen karbonat 120% bwoc, maka diperlukan asam
berupa HCl 10%, dan diharapkan dapat menghancurkan semen
karbonat sepanjang 2 m pada casing 7 inch, dan 8 m pada open hole 6
inch.
A. Volume Casing 7
Casing 7 capacity = 0.2210 cuft/ft
Volume casing 7 for 2 m = 0.2210 cuft/ft x 2 m x 3.281
= 1.45 cuft = 0.26 bbl

B. Volume Open Hole 6


Open hole 6 capacity = 0.1963 cuft/ft
Volume open hole 6 for 8 m = 0.1963 cuft/ft x 8 m x 3.281
= 5.15 cuft = 0.92 bbl
C. Volume Coil Tubing
Coil tubing capacity =

1.2122
1029.4

= 0.00143 bbl/ft
Volume coil tubing for 2700 m = 0.00143bbl/ft x 2700m x 3.281
= 12.6 bbl
D. Volume Carbonate Solve
Casing 7 + open hole 6 = 1.45 cuft + 5.15 cuft
= 6.6 cuft = 6.7 cuft
E. Volume Chemical
Volume HCl 10% = 1957 gall
Volume displace KCl 2% = 25 bbl
Water = 555 gpt x

1957
1000

HCl 32% = 290 gpt x

BCI-06 = 20 gpt x

= 1086 gall

1957
1000

1957
1000

= 568 gall

= 39 gall

BIC-30 = 50 ptg x

BCI-01 = 50 gpt x

BCI-3 = 25 gpt x

1957
1000
1957
1000

1957
1000

BSU-12N = 10 gpt x

BMS-50 = 50 gpt x

= 98 lbs

= 98 gall

= 49 gall

1957
1000

1957
1000

= 20 gall

= 98 gall

Tabel 5.1 Komposisi Acid Yang Digunakan


( 2015, Dokumen Pribadi )

Jadi untuk membuat acid yang dibutuhkan dalam pekerjaan


jetting acid ini adalah 46.6 bbl, yang merupakan komposisi dari HCl
32% sebanyak 568 gall, BCI-06 sebanyak 39 gall, BIC-30 sebanyak 98
gall, BCI-01 sebanyak 98 gall, BCI-3 sebanyak 49 gall, BSU-12N
sebanyak 20 gall, dan BMS-50 sebanyak 98 gall.
Tetapi dalam pelaksanannya nanti kemungkinan tidak semua
volume sebanyak 46.6 bbl dipompa kedalam sumur untuk

menghancurkan semen karbonat, karena ketika dalam proses


pemompaan nanti telah terjadi loss circulation, maka pompa tidak akan
diteruskan dan dianggap telah ada sedikit komunikasi antara lubang
sumur dengan formasi (zona gas), dan jika dipaksakan

untuk

menghabiskan semua volume acid yang diperkirakan dalam


perhitungan maka kemungkinan zona air yang ada pada bagian bawah
ikut kembali terbuka dan akan kembali mengganggu aktifitas produksi
nantinya.

5.3.3 Proses Pekerjaan Jetting Acid


Dalam melakukan pekerjaan jetting acid ini hal pertama yang
dilakukan adalah mempersiapkan peralatan yang akan digunakan
seperti coil tubing unit, mixing tank, maupun nitrogen unit. Kemudian
melakukan rig-up terhadap line-line yang nantinya berfungsi untuk
mengalirkan fluida selam pekerjaan jetting acid ini, dan melakukan
pressure test line sebesar 2000 psi selama 5 menit. Jika tidak terdapat
permasalahan dalam koneksi line yang ada maka dapat dilanjutkan
ketahap berikutnya adalah melakukan tubing pickle, yaitu proses
membersihkan tubing dari sisa-sisa korosif yang ada menggunakan HCl
7.5% sehingga nantinya pada tahap pelaksanaan jetting acid kedalam
formasi tidak ada pengotor dari dalam tubing yang ikut bercampur.
Selanjutnya adalah mulai mixing HCl 10% bersama dengan
chemical lain yang juga digunakan, dengan total volume sebesar 46 bbl,

setelah itu melakukan release tubing kedalam sumur hingga mencapai


kedalaman 1349 m, dan mulai memompakan HCL 10% dengan
pumping rate sebesar 07-1.2 bpm, tetapi ketika volume yang
dipompakan itu baru 10 bbl, ternyata telah terjadi loss, sehingga
pekerjaan pemompaan dihentikan, dan dapat dipastikan pekerjaan
jetting acid telah berhasil membuka komunikasi kembali antara lubang
sumur dengan formasi, dengan total kedalaman yang telah ditembus
adalah 3.16 m dari top open hole.
Kemudian untuk memastikan bahwa telah terjadi komunikasi
anatar lubang bor dengan formasi, dilakukan pumping fluid displace
KCl 2% sebanyak 30 bbl, dan tidak ada sedikitpun dari fluida displace
yang kembali kepermukaan. Sehingga ditetapkan bahwa pekerjaan
jetting acid telah berhasil untuk membuka kembali komunikasi antara
lubang bor dengan formasi yang sebelumnya telah dilakukan plug
cementing oleh pekerjaan secondary cementing.
Selanjutnya adalah melakukan unloading yaitu salah satu
pekerjaan dengan menginjeksikan nitrogen kedalam lubang sumur
menggunakan coil tubing dengan harapan nitrogen tersebut dapat
menurunkan niai tekanan hidrostatis dalam lubang sumur dan fluida
dalam didalam formasi dapat lifting hingga ke permukaan sumur.
Pekerjaan ini dimulai dengan menurunkan tubing hingga ketinggian
1334 m, lalu memompakan nitrogen dengan pressure 1800 psi, dan
dengan rate pompa sebesar 500 scf/m, dan dalam prosesnya ketika

pekerjaan telah dilakukan selama 2 jam, ternyata telah terjadi respon


dari dalam sumur dengan memberikan pressure sebesar 340 psi,
sehingga pekerjaan unloading dihentikan, dan diperkirakan bahwa
fluida produksi (gas) telah dapat lifting kepermukaan.

5.4 Evaluasi Pekerjaan Secondary Cementing


Setelah

melakukan

tahapan-tahapan

pekerjaan

dalam

mengoptimalkan pekerjaan secondary cementing menggunakan semen


karbonat untuk menurunkan water cut, maka tahapan terakhir adalah
mengevaluasi hasil pekerjaan yang telah dilakukan.
Dimulai dengan melakukan identifikasi permasalahan yaitu dengan
adanya peningkatnya kadar air dalam sumur SX-02 pada lapangan SX milik
client PT. Bukitapit Bumi Persada, sehingga mengganggu kegiatan produksi
gas bahkan menyebabkan matinya sumur itu sendiri. Maka kemudian
ditetapkan bahwa pekerjaan secondary cementing mengunakan semen
karbonat merupakan solusi yang tepat karena setelah dilakukan plug
terhadap lubang sumur tetapi nantinya dapat kembali dibuka dengan
melakukan jetting acid, sehingga nantinya dapat dilakukan kegiatan
produksi gas seperti yang telah dilakukan sebelumnya dengan catatan zona
air tetap dapat dibatasi oleh semen karbonat.
Dalam proses pengerjaannya sendiri, tahap secondary cementing
berfungsi untuk menutup zona produksi (open hole, termasuk didalamnya
zona air yang mengganggu kegiatan produksi) memerlukan slurry semen

sebanyak 20 bbl dengan komposisi; semen, karbonat, serta additive-additive


lainnya. Dan dapat melakukan penyemenan dari trayek

1271-1450 m.

Selanjutnya adalah proses pekerjaan jetting acid menggunakan 46 bbl HCl


10%, dan dapat membuka kembali trayek yang telah dilakukan penyemenan
sepanjang 3.16 m. Untuk memastikan bahwa pekerjaan jetting acid telah
berhasil membuka komunikasi antara lubang sumur dengan formasi, maka
dilakukan pompa displace fluide berupa KCl 2% sebanyak 30 bbl, tetapi
tetap membuktikan bahwa telah terjadi loss dan artinya open hole telah
kembali terbuka. Kemudian melakukan unloading menggunakan nitrogen
dengan pumping rate 500 scf/m, dan setelah melakukan unloading selama
waktu 2 jam, ternyata telah terdapat respon dari dalam formasi dengan
memberikan tekanan sebesar 350 psi, sehingga dapat dinyatakan bahwa
fluida produksi telah dapat lifting kepermukaan.

5.5 Hasil Pekerjaan

Before Cementing Job (Result)

After Cementing Job (Result)

Grafik 5.2 Production Performance Sebelum dan Setelah Cementing Job


( 2014, Dokumen Client )

Untuk membuktikan bahwa pekerjaan secondary cementing dengan


semen karbonat untuk mengurangi water cut ini telah berhasil, dapat dilihat
pada grafik production performance, dimana pada tanggal 14 agustus 2014
dinyatakan bahwa sumur gas telah mengalami penurunan produksi bahkan
dapat dikatakan mati, karena adanya water cut yang tinggi sebesar 97% atau
sekitar 590 bpd. Kemudian dilakukan pekerjaan secondary cementing untuk
mengatasi masalah water cut ini, hingga akhirnya dapat dilihat pada tanggal
28 oktober 2014, bahwa gas dapat kembali berproduksi hingga mencapai
angka 11 MMSCF dan stabil angka produksi yang dihasilkan hingga tanggal
24 agustus 2015, sedangkan kadar water cut yang ada menurun hingga 0
bpd, dengan rata-rata nilai sampai tanggal 24 agustus 2015 hanya 40 bpd.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1

Kesimpulan
Dari tugas akhir yang telah dilakukan tentang Optimasi Secondary
Cementing Dengan Semen Karbonat Untuk Menurunkan Water Cut
praktikan dapat menarik kesimpulan, diantaranya :
1. Untuk metodenya yang digunakan dalam pekerjaan secondary cementing
ini adalah melakukan plug cementing, yaitu secara langsung bubur semen
dipompakan melalui tubing ke atas trayek tujuan, dengan harapan trayek
tersebut dapat ter-plug nantinya, sehingga tujuan dari pekerjaan
secondary cementing untuk menurunkan water cut dapat tercapai.
2. Cara untuk melakukan desain slurry semen adalah yang pertama
mengumpulkan data-data sesuai kondisi lapangan yang akan dilakukan
pekerjaan cementing, kemudian melakukan tes uji laboratorium terhadap
sifat-sifat fisik slurry semen, dan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan
untuk melakukan desain bubur semen yang sesuai dengan kapasitas dan
volume yang sebenarnya dalam lapangan.
3. Proses pekerjaan cementing yaitu pertama mempersiapkan peralatan yang
akan digunakan dalam pekerjaan penyemenan ini, selanjutnya adalah
proses rig-up terhadap peralatan tersebut, lalu dilanjutkan dengan
melakukan pressure test line, kemudian melakukan injection rate,
kemudian memompakan water ahead, lalu mulai melakukan mixing
slurry semen sebanyak 20 bbl dan memompakan bubur semen kedalam

lubang sumur dengan rate 2 bpm. Setelah itu memompakan water behind.
Dan melakukan pemompan fluid displace sebanyak 22 bbl, jika telah
selesai maka pompa dihentikan dan melakukan cabut rangkaian dan
melakukan reverse circulation, kemudian menunggu semen kering, dan
yang terakhir melakukan evaluasi terhadap hasil pekerjaan.
4. Setelah dilakukan pekerjaan secondary cementing maka didapatkan hasil
untuk sumur SX-02 pada lapangan SX, yaitu berdasarkan grafik
production performance, akhirnya dapat dilihat pada tanggal 28 oktober
2014, bahwa gas dapat kembali berproduksi hingga mencapai angka 11
MMSCF dan stabil angka produksi yang dihasilkan hingga tanggal 24
agustus 2015, sedangkan kadar water cut yang ada menurun hingga 0 bpd,
dengan rata-rata nilai sampai tanggal 24 agustus 2015 hanya 40 bpd.

6.2

Saran
6.2.1 Untuk Akamigas Balongan
1. Mempermudah mahasiswa untuk melaksanakan tugas akhir.
2. Sebaiknya dibolehkan mengirim proposal lebih dari satu
perusahaan pada waktu yang bersamaan.
3. Membantu mahasiswa dalam menyalurkan tempat tugas akhir.
4. Segera memberitahu apabila ada balasan diterima dari perusahaan
tempat melamar tugas akhir.

6.2.2

Untuk Mahasiswa
1. Selalu berhati-hati dalam bekerja utamakan keselamatan serta
berdoa sebelum memulai pekerjaan.
2. Gunakan selalu alat pelindung diri dengan lengkap agar dapat
terhindar dari kecelakaan kerja.
3. Periksa semua peralatan sebelum dijalankan, karena apabila ada
kendala di tengah jalan maka akan menghambat kegiatan operasi.
4. Jaga kesehatan selama melakukan tugas akhir.
5. Disiplin dan mematuhi semua peraturan yang telah ditetapkan
oleh perusahaan.
6. Selalu jaga kebersihan disekitar area tempat tugas akhir.
7. Selalu bersemangat selama melakukan tugas akhir.
8. Selalu jaga nama baik kampus pada perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Nelson, Erik B. 1990 Well Cementing. Saint-Etienne, France


Rubiandini, Rudi. 2005 Teknik Pemboran Dan Praktikum. ITB: Indonesia
Suman, George O. 1977 World Oils Cementing Hand Book. World Oil: Huston,
Texas
. 1995 Drilling Engineering Workbook. Baker Huges: Huston, Texas
. 1997 Tools Operation Manual. Halliburton: United States Of America
. 2000 IADC Drilling Manual. IADC: Huston, Texas

LAMPIRAN