Anda di halaman 1dari 5

BEA MATERAI

MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Perpajakan

Disusun Oleh

: Kelompok 13

Nama Kelompok

1. Dian Damayanti (103341013)


2. Fuji Kurniawan (103341018)

Semester IV Akuntansi Reguler Pagi

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI


LA TANSA MASHIRO
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1. A
1.1. Latar Belakang Masalah
Salah satu cara mewujudkan peran serta masyarakat dalam
pembangunan nasional adalah memenuhi kewajiban pembayaran atas
pengenaan

bea

materai

terhadap

dokumen-dokumen

tertentu.

Sebagaimana diatur dalam undang-undang nomor 36 tahun 2008.


Dokumen adalah kertas yang berisikan tulisan yang mengandung
arti dan maksud tentang perbuatan keadaan atau kenyataan bagi seseorang
dan/atau pihak-pihak yang berkepentingan. Sedangkan bea materai
terutang oleh pihak yang menerima atau pihak yang mendapat manfaat
dari dokumen, kecuali pihak atau pihak-pihak yang bresangkutan
menentukan lain.
Apabila dokumen dibuat sepihak, maka bea materai terutang oleh
penerima dokumen. Contoh kwitansi. Demikian pula halnya apabila
dokumen dibuat oleh dua pihak atau lebih, maka masing-masing pihak
terutang bea materai atas dokumen yang diterimanya. Contoh: surat
perjanjian dibawah tangan. Jika surat perjanjian dibuat dengan akta
notaries, maka bea materai yang terutang baik atas asli sahih yang
disimpan notaries maupun salinannya yang diperuntukkan pihak-pihak
yang mendapatkan manfaat dari dokumen tersebut.
1.2. Tujuan Penulisan
1.2.1. Memahami jenis-jenis Bea Materai
1.2.2. Memahami penggunaan dan objek bea Materai

BAB II
PEMBAHASAN
2. A

2.1. Pengertian Bea Materai


Bea meterai adalah pajak yang dikenakan atas dokumen yang
bersifat perdata dan dokumen untuk digunakan di pengadilan. Nilai bea
meterai yang berlaku saat ini Rp. 3.000,00 dan Rp. 6.000,00 yang
disesuaikan dengan nilai dokumen dan penggunaan dokumen.
2.2. Objek Bea Materai
Bea meterai dikenakan terhadap dokumen yang berbentuk:
2.2.1.
Surat perjanjian dan surat-surat lain yang dibuat dengan
tujuan sebagai pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau

2.2.4.1.
2.2.4.2.
2.2.4.3.
2.2.4.4.

keadaan yang bersifat perdata.


2.2.2. Akta-akta notaris beserta salinan-salinannya
2.2.3. Akta-akta pejabat pembuat akta tanah beserta rangkap-rangkapnya
2.2.4. Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp. 250.000,- yaitu:
Yang menyebutkan penerimaan uang
Yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening bank
Yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank
Yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya/sebagian telah dilunasi.
2.2.5. Surat berharga yang nominalnya lebih dair Rp250.000,2.2.6. Dokumen yang digunakan untuk pembuktian di pengadilan.
2.2.7. Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun.
2.3. Tarif Bea Materai
2.3.1. Tarif Rp. 3.000,00
2.3.2. Tarif Rp. 6.000,00
2.4. Yang tidak Dikenakan Bea Materai
2.4.1.
Dokumen berupa surat penyimpanan barang, konsumen,
surat angkutan barang dan penumpang, keterangan pemindahan
yang dituliskan pada ketiga surat tersebut, bukti untuk pengiriman
barang untuk di jual atas tanggungan pengiriman, dan surat-surat
sejenis lainnya.
2.4.2.
Segala bentuk ijazah termasuk surat tanda tamat belajar,
tanda lulus, surat keterangan telah mengikuti pendidikan, latihan,
kursus dan penataran.
2.4.3.
Tanda terima gaji, uang tunggu, uang pensiun, uang
tunjangan dan pembayaran lainnya yang ada kaitannya dengan
hubungan kerja serta semua surat-surat yang diserahkan untuk
mendapatkan pembayaran ini.

2.4.4.

Tanda bukti penerimaan uang negara dari kas negara, kas

pemerintah daerah dan bank


2.4.5.
Kuitansi untuk semua jenis pajak dan penerimaan lain yang
dapat disamakan dengan itu dari kas negara, kas perda dan bank
2.4.6.
Tanda bukti penerimaan uang untuk intern organisasi
2.4.7.
Dokumen yang menyebutkan pembayaran uang tabungan
kebpada penabung oleh bank, koperasi dan badan keuangan
lainnya.
2.4.8.
Surat gadai
2.4.9.
Tanda pembagian keuntungan
2.5. Saat Terutangnya Bea Materai
Saat terutang bea materai ditentukan dalam hal:
2.5.1.
Dokumen yang dibuat oleh satu pihak, adalah pada saat
dokumen itu diserahkan.
2.5.2.
Dokumen yang dibuat oleh lebih dari satu pihak, adalah
pada saat selesainya dokumen itu dibuat;
2.5.3.
Dokumen yang di luar negeri adalah saat digunakan di
Indonesia.
2.6. Penggunaan dan Cara Pelunasannya
2.6.1. pada umumnya materai dilunasi dengan cara:
2.6.1.1. Menggunakan benda materai
2.6.1.2. Menggunakan cara lain yang ditetapkan oleh menteri
keuangan
2.6.2. Penggunaan benda materai perlu memperhatikan:
2.6.2.1. Materai temple direkatkan seluruhnya dengan utuh dan
tidak rusak di atas dokumen yang dikenakan bea materai.
2.6.2.2. Meterai temple direkatkan dimana tanda tangan akan
dibubuhkan
2.6.2.3. Disertai dengan pencantuman tanggal, bulan dan tahun
dilakukan dengan tinta atau yang sejenis dengan itu, sehingga
sebagian tanda tangan ada diatas kertas dan sebagian lagi ada
diatas materai.
2.6.2.4. Jika digunakan lebih dari satu materai temple, tanda tangan
harus dibubuhkan sebagian diatas semua materai tempel dan
sebagian di atas kertas.
2.6.2.5. Kertas materai hanya dipakai sekali

2.6.2.6. Jika isi dokumen tidak cukup pada kertas materai, maka
dapat menggunakan kertas tidak bermaterai untuk sisanya.
2.6.2.7. Apabila ketentuan mengenai bentuk, ukuran dan lain
sebagainya yang ditetapkan menteri keuangan tidak dipenuhi,
maka dokumen dianggap tidak bermaterai

BAB III
PENUTUP
3. A
3.1. Kesimpulan
Bea materai digunakan untuk dokumen-dokumen yang berhubungan
dengan penerimaan uang, ataupun untuk surat-surat berharga yang
penggunaannya telah diatur oleh menteri keuangan, adapun jenisnya
berupa materai tempel dengan nominal Rp. 3.000,00 dan Rp. 6.000,00
maupun materai kertas yang biasanya digunakan untuk surat berharga
seperti surat tanda tamat belajar maupun akta tanah
Penggunaan bea materai dalam dokumen-dokumen tersebut adalah
sebagai alat pengesahan dokumen tersebut.