Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS KUALITAS SPERMA IKAN

Oleh:
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Wiwin Hadianti
: B1J014029
: VI
:1
: Indri Muhati

LAPORAN PRAKTIKUM PERKEMBANGAN HEWAN

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Ikan Nilem termasuk ikan bertulang keras (Osteichthyes). Ikan Nilem


hidup di air tawar dan dapat hidup dengan baik pada daerah dengan ketinggian
sekitar 500800 meter di atas permukaan laut dan lebih suka di perairan jernih.
Ukuran tubuh ikan dewasa antara 15-20 cm dengan berat berkisar antara 100-200
gram. Ikan Nilem merupakan salah satu sumber protein bagi manusia (Jasin,
1989). Ikan Nilem merupakan ikan peliharaan yang berasal dari sungai. Ikan
Nilem dalam perairan bebas biasanya memijah pada akhir musim penghujan di
daerah-daerah yang berpasir dan berair jernih, di kolam. Pemijahan Ikan Nilem
dapat dilakukan sepanjang tahun dengan cara mengatur kondisi lingkungan
(Asmawi, 1989).
Ikan Nilem mempunyai organ reproduksi yaitu testis yang berwarna putih.
Testis terdapat sepasang yang digantungkan oleh jaringan ikat yang disebut
meserchium, terletak pada rongga perut di depan gelembung renang. Testis
mempunyai struktur yang terdiri dari saluran berongga (tubulus longitudinalis)
yang banyak sekali terdapat pada ciste seminiferus. Ciste tersebut memiliki
dinding yang berisi sel-sel spermatogonium yang disebut primordial germinal
cell, Tidak jauh dari arah ciste di sekeliling sel spermatozoa (spermatogonium,
spermatosit I, spermatosit II, spermatosit III) ditemukan sel-sel sertoli. Sel sertoli
berfungsi sebagai pemberi makan sel bakal spermatozoa, pemakan sel
spermatozoa yang mati, memberi cairan tubulus dan berfungsi sebagai kelenjar
endokrin (penghasil hormon estrogen), di luar tubulus terdapat sel interstitial
sebagai penghasil hormon androgen. Hormon androgen yang paling kuat
pengaruhnya adalah hormon testosteron yang berfungsi menentukan tanda-tanda
kelamin jantan, menentukan tingkah laku kelamin jantan dan merangsang
spermatogenesis (Jamieson, 2009).
Ikan Nilem jantan masak kelamin setelah berumur 8 bulan. Berat testis
lebih ringan dibanding berat ovarium pada ikan yang sama umurnya. Sepasang
testis dapat menghasilkan sekitar 1-1,5 ml milt dalam keadaan ejakulasi alami,
tetapi pada striping hanya 1 ml. Setiap 1 ml milt mengandung 200-300 juta
spermatozoa. Milt Ikan Nilem setelah diejakulasikan dan bersentuhan dengan air

lalu menggumpal. Milt harus diencerkan dengan larutan Ringer sampai 100 kali.
Pengenceran ini dapat memperpanjang daya hidup spermatozoa Ikan Nilem
(Rugh, 2010).
Sel spermatozoa secara umum terdiri atas dua bagian besar, yaitu kepala
dan ekor. Ukuran spermatozoa ikan memiliki panjang kepala 2-3 mikrometer dan
panjang total 40-60 mikrometer. Kepala spermatozoa mengandung DNA yang
berperan dalam penyimpanan dan menerjemahkan informasi genetik yang dibawa
oleh spermatozoa (Nuah, 2011).
Menurut Asmawi (1989) Ikan Nilem adalah ikan yang memenuhi
persyaratan sebagai hewan uji analisis sperma dikarenakan berbagai alasan
berikut:
1.

Proses pembuahan terjadi di luar tubuh Ikan Nilem betina.

3.

Hewan yang mudah disadap telur maupun sperma masaknya.

4.

Mudah dibedakan antara ikan jantan dan betina.

6.

Mudah dioviposisikan.

7.

Ikan Nilem mudah didapatkan.

8. Telur maupun sperma yang dihasilkan setiap siklus reproduksi jumlahnya


cukup banyak.
Praktikum analisis sperma memerlukan suatu alat yang dapat digunakan
untuk menghitung jumlah sperma normal dan abnormal. Alat yang dimaksud
adalah haemocytometer. Haemocytometer berbentuk persegi panjang dimana
terdapat dua liang sebagai tempat cairan sperma. Haemocytometer sangat
diperlukan dalam praktikum analisis sperma karena dapat digunakan dalam
menghitung jumlah sperma yang normal dan abnormal dan juga sperma yang
motil dan non motil (Jamieson, 2011).
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum analisis sperma ini adalah untuk melakukan analisis
sperma dan menentukan kualitas spermatozoa Ikan Nilem jantan.

II.

MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah object glass, cover
glass, mikroskop cahaya, bilik hitung (haemocytometer), cavity slide, pipet tetes,
tissue, pengukur waktu, micrometer, spuit injeksi tanpa jarum, beaker glass, well
plate, hand counter dan tusuk gigi.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Milt Ikan Nilem,
larutan NaCl 0,9% fisiologis, pewarna eosin, akuades.
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum ini adalah
1. Cara Stripping :
a) Ikan dipegang dengan bagian ventral ada di bawah dan bagian dorsal
menghadap ke atas,
b) Tangan kanan menutupi kepala, sedangkan tangan kiri menyangga ekor.
c) Bagian lubang urogenital dilap dengan tisu
d) Abdomen ikan diurut dari anterior kearah posterior menuju lubang
urogenital hingga pada lubang tersebut keluar cairan berwarna putih susu
(milt)
e) Milt yang keluar langsung disedot dengan menggunakan spuit injeksi tanpa
jarum.
2. Volume
Milt ikan nilem yang tertampung pada spuit injeksi diukur volumenya
dengan langsung membaca skalanya.
3. Warna

:Diamati secara visual dengan latar belakang warna putih

4. Bau

:Dibaui dengan cara dikipas-kipaskan dengan tangan, jangan

dihirup langsung.
5. pH

:Derajat keasaman (pH) diukur dengan menggunakan kertas pH,

dengan cara mencelupkan kertas pH kedalam sampel sperma, diamkan


beberapa saat, kemudian cocokkan perubahan warna yang terjadi dengan tube.
6. Cara pengenceran milt :
a) Sampel milt diambil 0,05 ml dimasukkan di dalam cawan

b) Larutan NaCl fisiologis sebanyak 9 ml dicampurkan ke dalam cawan


(perbandingan antara sampel dengan larutan pengenceran harus selalu 1:9).
c) Dihomogenkan dengan menggunakan batang pengaduk sampai benar-benar
homogen.
d) Sperma yang sudah diencerkan ini merupakan sperma dengan pengenceran
10 X
e) Sperma pengenceran 10x diambil dengan menggunakan spuit yang lain
sebanyak 1 ml dimasukkan ke dalam cawan yang berbeda
f) Larutan ringer 9 ml dicampurkan ke dalam sperma tersebut.
g) Sperma dengan pengenceran dua kali ini, merupakan sperma dengan
pengenceran 100x.
h) Pengenceran

dilakukan

lagi

untuk

mendapatkan

sperma

dengan

pengenceran 1000x dan 10.000x.


7. Motilitas Spermatozoa
a) Milt yang sudah diencerkan 1000x diambil dengan menggunakan pipet tetes
b) Milt diteteskan di atas objek glass
c) Ditetesi dengan aquades, kemudian di homogenkan
d) Ditutup dengan cover glass dan diamati dengan menggunakan mikroskop
e) Bergerak atau tidak bergerak, ditentukan presentase motilitasnya.
8. Menghitung jumlah total spermatozoa
a) Milt yang sudah diencerkan 1000x diambil dengan menggunakan pipet tetes
b) Diteteskan di bilik hitung Haemocytometer yang sudah ditutup dengan
cover glass melalui sela-sela paritnya.
c) Hitung jumlah sperma menggunakan lima kotak sedang di dalam kotak
besar yang di bagian tengah.
d) Jumlah total spermatozoa dihitung dengan Rumus :
total spermatozoa = (Rata-rata 5 kotak sedang x pengenceran x 2,5.10 5)
sel/ml.
9. Viskositas sperma
a) Sperma ikan nilem diletakkan pada mangkuk kecil, Sperma diambil
kemudian ditaruh lagi menggunakan tusuk gigi tetapi dengan kecepatan

pelan dan dilakukan berulang-ulang sampai mendapatkan kekentalan


sperma
b)Dihitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sperma benar-benar
mengental.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
a. Parameter Makroskopis:
1. Volume
: 1 ml
2. Viskositas
: 9 menit/ 540 detik
Tabel 1 Akumulasi Data Pengamatan Viskositas Rombongan VI
K1
K2
K3
K4
K5
K6
Rata-rata
Viskositas 9 menit 7 menit 2 menit 3 menit 2 menit 3 menit 278 detik
19

22

24

45

detik
detik
detik
3. Bau
: Bau amis
4. Warna
: Putih Susu
5. pH
:8
b. Parameter Mikroskopis:
1. Motilitas
: Sperma motil 80% , non motil 20%

detik

Tabel 2. Akumulasi Data Pengamatan Motilitas Spermatozoa Rombongan VI


K1
Presentase sperma motil 80%

K2
40%

K3
50%

K4
90%

K5
30%

K6
90%

Rata-rata
63,3%

(%)
Presentase sperma non 20%

60%

50%

10%

70%

10%

36,6%

motil (%)
2. Jumlah total spermatozoa
Tabel 3. Akumulasi Data Pengamatan total Spermatozoa Rombongan VI
Total

K1
4,15.

spermatozoa
(sel/mL)
Perhitungan
Pengenceran

K2
8,65.

1010

K3
6,95.

1010

1010

K4
4,45.
1010

K5
4,2.
1010

K6
1,7.
1010

Rata-rata
5,01.
1010

: (kelompok masing-masing)
: 10.000 kali

Total Spermatozoa = rata-rata 5 kotak x pengenceran x 2,5 x 105 sel/ml


= 16,6 x 2,5. 105 x 10.000
= 4,15. 1010

Gambar 1. Bilik Hitung Haemocytometer


9. Morfologi spermatozoa
1
2
3
4

Gambar 2

Gambar 3

Keterangan :
Gambar 2

: Morfologi Spermatozoa

Gambar 3

: Mikroskopis Morfologi Spermatozoa

Keterangan Gambar :
1.
2.
3.
4.

Nukleus
Kepala
Leher
Ekor

10. Kesimpulan/ diagnosa:


Berdasarkan hasil pengamatan analisis sperma ikan, diperoleh hasil meliputi
parameter makroskopis yaitu sperma dengan volume 1 ml, viskositas selama 9

menit/ 540 detik dengan rata-rata dalam rombongan selama 4,6 menit/278 detik.
Sperma berbau amis, berwarna putih susu dengan pH 8. Kemudian, selain
parameter makroskopis ada juga parameter mikroskopis meliputi motilitas sperma
dengan nilai 80% sperma motil dan 20% sperma non motil dengan rata-rata dalam
rombongan 63,3% dan 36,6%. Jumlah total spermatozoa yang didapat dengan
rumus perhitungan yaitu 4,15. 1010

dengan rata-rata dalam rombongan yaitu

5,01. 1010 . Hasil pengamatan yang diperoleh menunjukkan bahwa sperma Ikan
Nilem tersebut berkualitas baik.

B. Pembahasan
Analisis kualitas sperma pada ikan adalah pemeriksaan tentang sifat-sifat,
kualitas dan kuantitas sperma ikan. Analisis sperma yang dimaksud meliputi
pemeriksaan jumlah milt yang dapat distriping dari seekor ikan jantan masak
kelamin, kekentalan sperma, warna, bau, jumlah spermatozoa mati, motilitas (bila
mungkin kemampuan gerak per menit) dan morfologi (ukuran dan bentuk kepala,
ukuran ekor, berbagai penyimpangan, ada tidaknya akrosoma). Analisis sperma
juga dilakukan untuk mengetahui bagaimana tahapan proses pembuahan,
pewaktuan setiap tahapan pembuahan, dan dapat menentukan rasio spermatozoa
dan ovum dalam pembuahan (Yatim, 1982). Pada dasarnya persentase sperma,
motilitas sperma dan jumlah sperma menentukan kualitas dari sperma (check,
2011).
Analisis sperma dapat dilakaukan pada semua hewan. Seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya analisis ini bertujuan untuk mengetahui jumlah milt yang
dapat distriping dari seekor ikan jantan masak kelamin, kekentalan sperma, warna,
bau, jumlah spermatozoa mati, motilitas (bila mungkin kemampuan gerak per
menit) dan morfologi. Pada pengamatan tersebut semua hewan memiliki sperma
yang berbeda seperti pada organisme akuatik yang memilki perbedaan viskositas
sperma terhadap organisme darat. Adapun teknik khusus dalam pengamatan
sperma ikan, yakni dengan cara pembekuan sperma atau teknik cryopreservation.
Teknik ini merupakan teknik penting dalam budidaya ikan, karena memfasilitasi
prosedur reproduksi buatan, dengan sperma yang disimpan dalam nitrogen cair,
perlu untuk menginduksi pemijahan dan mengumpulkan gamet (Viverios, 2011).
Motilitas

spermatozoa

adalah

parameter

yang

berguna

untuk

memperkirakan kelangsungan hidup spermatozoa. Sperma yang hidup adalah


sperma yang bergerak cepat, lambat atau pergerakannya pada kepala atau ekor,
sedangkan sperma yang mati adalah sperma yang tidak memperlihatkan
pergerakan sama sekali baik kepala maupun ekor. Lama motilitas dan daya
fertilisasi sperma tiap jenis ikan berbeda-beda, tetapi pada umumnya motilitas dan
kemampuan sperma untuk membuahi telur adalah sejalan (Faqih, 2011). Motilitas

spermatozoa sangat tergantung pada faktor lingkungan seperti pH, osmolaritas,


jenis pengencer dan zat kimia yang terkandung didalamnya. Motilitas juga
dipengaruhi oleh jenis spesies, media aktivasi, dan waktu setelah aktivasi (C.
Fauvel et al., 2011). Parameter motilitas sperma tergantung pada endogen ATP
terutama yang terakumulasi selama spermatogenesis ikan. Pengaruh salinitas pada
motilitas sperma dan efek dari durasi penyimpanan adenilat sangat penting dalam
memperoleh suatu pemahaman tentang mekanisme yang mendasari potensi
keberhasilan reproduksi pada ikan (Groison et al, 2011).
Dari hasil praktikum volume sperma yang dihasilkan sebanyak 1 ml. Hal
ini tidak sesuai dengan pernyataan Hora dan Pillay (2012) bahwa rata-rata volume
milt yang dapat dihasilkan satu ekor Ikan Nilem 30-50 ml dengan jumlah
spermatozoa permililiter adalah 3,33x1011. Perbedaan volume sperma tersebut
juga bergantung pada umur, ukuran dan frekuensi pengeluaran sperma (Jasin,
1989). Berdasarkan pernyataan Yatim (1982) bahwa volume normal semen sekali
diejakulasi sekitar 2,0 sampai 3,0 ml, ada juga yang sampai 4,5 ml. Jika volume
kurang dari 1 ml, ada kemungkinan tak baiknya prostate dan vesicular seminalis
yang merupakan penghasil utama plasma semen. Konsentrasi atau jumlah
spermatozoa/ml semen, dihitung dengan haemocytometer Neubauer (Omer,
2012). Hasil yang didapat pada praktikum menunjukan jumlah sel sperma
sebanyak 4,15. 1010 sel/ml dengan motil 80%. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Yatim (1982) yang menyatakan bahwa konsentrasi 70-65 juta/ml, dengan range
0,1-600 juta/ml. Jumlah yang bergerak maju ialah jumlah semua spermatozoa
hidup dikurangi jumlah spermatozoa mati, dianggap normal jika motil maju >40%
lebih lanjut. Viskositas yang didapatkan pada praktikum yaitu pada waktu 9 menit
atau 540 detik.
Berdasarkan hasil percobaan didapatkan bahwa warna sperma Ikan Nilem
berwarna putih susu. Hal itu sesuai dengan pernyataan Lagler (2011) bahwa Ikan
Nilem jantan dapat mengeluarkan cairan semen yang berwarna putih susu.
Berdasarkan hasil percobaan juga diketahui bahwa bau sperma ikan nilem berbau
amis. Menurut Asmawi (1989), bau sperma ikan adalah langu. Bau amis yang
tercium pada waktu praktikum adalah berasal dari bau ikan pada umumnya.
Berdasarkan pengamatan pH, didapatkan bahwa pH dari sperma ikan adalah 8

berarti bersifat basa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sutisna dan Sutarmanto
(2012) bahwa pH berkisar antara 7,0-8,0. Tingkat pH yang lebih dari 8
menunjukkan adanya radang akut kelenjar kelamin atau epididimis. Tingkat pH
kurang dari 7 menunjukkan adanya penyakit kronis pada kelenjar atau epididymis.
Tingkat pH yang sangat rendah menunjukkan adanya gangguan atau aplasia pada
vesicular seminalis atau ductus ejaculatorius.
Pewarnaan sperma untuk keperluan pengamatan morfologi tidak terikat
hidup matinya sperma. Sel spermatozoa yang normal secara sitologi terbagi atas
kepala dan ekor. Ekor terbagi menjadi bagian tengah atau leher, bagian utama dan
bagian ujung. Ciri-ciri sel spermatozoa yang normal adalah :
a.

Kepala

Bentuk

: bulat lonjong, gepeng.

Dimensi

: tebal : 1-2 mikron; panjang : 9 mikron.

b.

Leher

Bentuk

: bulat, pendek.

Dimensi

: garis tengah 1 mikron; panjang 13 mikron.

c.

Ekor

Bentuk

: bulat, panjang.

Dimensi

: garis tengah 0.25-0.5 mikron. Bagian ujung mungkin bergaris

tengah kurang dari 0.25 mikron, panjang 44-50 mikron (Partodiharjo,1990).


Semen atau milt yang cukup jumlahnya dan baik kualitasnya adalah salah
satu faktor yang harus tersedia agar proses fertilisasi terjadi secara baik bagi
spesies ikan. Beberapa sudah dapat mendeskripsikan karakteristik dari semen atau
milt yang berkualitas, contohnya adalah daya tahan, motilitas dan komposisi
cairan sperma. Cairan sperma memiliki komposisi yang unik, yaitu terdiri dari
komponen

organik

dan

anorganik.

Kedua

komponen

tersebut

sangat

mempengaruhi kualitas dari sperma. Contoh dari komponen-komponen tersebut


adalah mineral (potasium, sodium, magnesium, kalsium dan klorida), pH, protein,
glukosa dan trigliserida. Komposisi cairan semen, motilitas dan daya tahan
spermatozoa sangat mempengaruhi kemampuan spermatozoa itu sendiri dalam
melakukan proses fertilisasi nantinya (Hajirezaee et al, 2009).

Larutan yang digunakan antara lain larutan Ringer, digunakan untuk


mengencerkan sperma agar sperma homogen (tidak menggumpal), dapat pula
memperpanjang umur sperma dan digunakan untuk mengawetkan serta
menempelkan sperma yang sudah mati maupun masih hidup yang berada pada
object glass agar tidak rusak sedangkan larutan Giemsa digunakan sebagai
pewarna sperma sederhana agar sperma dapat dilihat dengan mikroskop cahaya
dengan mudah (jelas) baik yang normal maupun abnormal dan air (akuades)
digunakan untuk aktivasi spermatozoa (Soeminto, 2002).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas spermatozoa yaitu:
1. Temperatur
Aktivitas metabolisme dan gerakan spermatozoa akan normal pada
temperatur tubuh dan akan meningkat kecepatannya di luar tubuh apabila
temperaturnya di atas normal, temperatur lebih rendah memberikan motilitas
spermatozoa yang lebih panjang.
2.

Kandungan zat makanan (karbohidrat)


Kandungan zat makanan (karbohidrat) misalnya fruktosa merupakan
substrat energi utama di dalam plasma semen yang diproduksi oleh kelenjar
vesikularis. Fruktosa dapat dijadikan sumber energi untuk mendukung pergerakan
dan ketahanan spermatozoa karena fruktosa meningkatkan aktivitas protein yang
terdapat pada ekor spermatozoa, sebab ekor spermatozoa disusun oleh mikro
tubulus yang mengandung substansi fiber yang disusun oleh protein dinein.
Protein dinein penting karena mempunyai aktivitas ATP-ase. ATP-ase akan
lancar dan menyebabkan peningkatan motilitas spermatozoa (Perry, 2011).
3. Penggunaan larutan fisiologis
Menurut Viverios (2010), fertilisasi dapat didukung oleh kualitas
spermatozoa yang baik. Larutan fisiologis dapat menambah daya viabilitas dan
motilitas spermatozoa. Penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl dan
urea dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20-25 menit.
Djanuar (2013) menyatakan bahwa pada umumnya semua penyimpangan
morfologi dari kerangka normal spermatozoa dianggap sebagai bentuk-bentuk
abnormal. Abnormal ini diklasifikasikan dalam abnormalitas primer dan sekunder.
Abnormal

primer

disebabkan

oleh

gangguan

dalam

testis

(kelainan

spermatogenesis

di

dalam

tubuli

seminiferus).

Bentuk

yang

termasuk

abnormalitas primer yaitu : kepala berukuran kecil, kepala rangkap dan


membunyai dua ekor. Abnormalitas sekunder disebabkan karena perlakuan terlalu
kasar, terlalu panas atau terlalu cepat didinginkan. Bentuknya yaitu : kepala lepas,
ekornya patah dan ekornya bergelung, bengkok atau melipat.
Semen atau milt yang cukup jumlahnya dan baik kualitasnya adalah salah
satu faktor yang harus tersedia agar proses fertilisasi terjadi secara baik bagi
spesies ikan. Beberapa studi sudah dapat mendeskripsikan karakteristik dari
semen atau milt yang berkualitas. Contohnya adalah daya tahan, motilitas dan
komposisi cairan sperma. Cairan sperma memiliki komposisi yang unik, yaitu
terdiri dari komponen organik dan anorganik. Kedua komponen tersebut sangat
mempengaruhi kualitas dari sperma. Contoh dari komponen-komponen tersebut
adalah mineral (potasium, sodium, magnesium, kalsium dan klorida), pH, protein,
glukosa dan trigliserida. Bagaimanapun, komposisi cairan semen, motilitas dan
daya tahan spermatozoasangat mempengaruhi kemampuan spermatozoa itu
sendiri dalam melakukan proses fertilisasi nantinya (Hajirezaee et al., 2009).
Spermatozoa Ikan Nilem termasuk spermatozoa flagellata, karena
mempunyai ekor flagellata yang panjang. Spermatozoa yang sudah matang terdiri
dari kepala, leher dan ekor. Kepala sebagai penerobos jalan menuju dan masuk ke
dalam ovum, dan membawa bahan genetis yang akan diwariskan kepada anakcucu. Leher sebagai penghubung antara kepala dan ekor. Ekor untuk pergerakan
menuju tempat pembuahan dan untuk mendorong kepala menerobos selaput ovum
(Yatim, 1982).

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat diambil


kesimpulan bahwa :
1. Analisis spermatozoa dapat dilakukan dengan pengamatan mikroskopis
(volume milt, jumlah spermatozoa/ml milt, viabilitas spermatozoa) dan
pengamatan makroskopis (volume milt, warna, pH dan viskositas).
2. Hasil pengamatan menunjukan volume milt yang diperoleh dari Ikan Nilem
sebanyak 1 ml, viskositas terjadi selama 9 menit, milt berwarna putih susu,
jumlah sperma yang motil 80%, jumlah sperma non-motil 20%, jumlah total
spermatozoa yang diperoleh adalah 4,15 x 1010 sel/ml.
3. Hasil pengamatan yang diperoleh menunjukkan bahwa sperma Ikan Nilem
tersebut berkualitas baik.
B. Saran
Praktikum analisis sperma kali ini sebaiknya dilakukan secara teliti dan
cermat pada setiap paramater yang diamati karena pada pengamatan di mikroskop
sering

terjadi

ketidakjelasan

perhitungan

sperma

pada

bilik

hitung

haemocytometer. Sebaiknya disediakan lebih banyak hewan uji, sehingga masingmasing kelompok memiliki jumlah semen untuk analisis yang lebih banyak.

DAFTAR REFERENSI
Asmawi. 1989. Pemeliharaan Ikan dalam Keramba. Gramedia, Jakarta.
Check JH, Bollendorf A, Pres M, Blue T. 2011. Standard sperm morphology as a
predictor of male fertility potential. Arch Androl 192(28): 39-41.
Djanuar, R. 2013. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi. Gajah Mada University
Press, Yogyakarta.
Faqih, A. Rahem. 2011. Penurunan Motilitas dan Daya Fertilitas Sperma Ikan
Lele Dumbo (Clarias spp) Pasca Perlakuan Stress Kejutan Listrik. J.Exp
.Life Sci 1(2): 56-110.
Fauvel, C., Suquet, M., Cosson, J. 2011. Evaluation of fish sperm quality.
Journal of Applied Ichthyology 26(5): 636643.
Groison, A.L, Fauvel, C, Suquet, M, Kjesbu, Le Cozs, Mayer, J. Consson. 2011.
Some characteristics of sperm motility in European hake. Merluccius,
Berlin.
Hajirezaee, S., Amiri, B.M., Mirvaghefi, A.R. 2009. Effects of Stripping
Frequency on Semen Quality of Endongered Caspian Brown Trout,
Salmotruttacaspius. American Journal of Veterinary Sciences 4 (3): 65-71.
Hora dan Pillay. 2012. Biology of Farmed Fish. Sheffield Academic Press,
England.
Jamieson, B.G. M. 2009. Fish Evolution and Systematics: Evidence from
Spermatozoa (With a survey of echinoderm and protochordate sperm and an
account of gamete cryopreservation). Cambridge University Press, New
York.
Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan (Invertebrata dan Vertebrata). Sinar Wijaya,
Surabaya.
Lagler, K. F. 2011. Ichthyology, Second Edition. John Willey & Sons Inc, USA.
Nuah, Japet. 2011. Karakteristik Semen Ikan Ekonomis Budidaya : Mas (Cyperus
carpio) dan Patin (Pangasius hypophthalmus), Universitas Lambung
Mangkurat, Kalimantan Selatan.
Omer, L.T., Sadiman, K.A., Faruk, A., Umit, G. 2012. Semen Analysis From
A Point Of View Of Gynecologist And Recent Developments.
Journal of
Turkish Society of Obstetrics and Gynecology 9(1): 25-31.
Partodiharjo, Soebadi. 1990. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara Sumber Widya,
Surabaya.
Perry, J. M. 2011. Semi-Automated Scoring of Triple-probe FISH in Human
Sperm: Methods and Further Validation. The George Washington
University, Washington DC.
Rugh, R. 2010. Experimental Emrbryology. Burger Publishing Company,
Minnesota.

Soeminto. 2002. Pembentukan Ikan Jantan Homogamet (XX) lewat Ginosenis dan
Pemberian Andriol pada Ikan Nilem (Osteocillus hasselti CV). Fakultas
Biologi Unsoed, Purwokerto.
Sutisna, D. H. dan Sutarmanto. 2012. Pembenihan Ikan Air Tawar. Kanisius :
Yogyakarta.
Viveiros, A.F. Nascimento, L.H. Orfoa, Z.A. Isa. 2011. Motility and fertility of
the subtropical fresh water fish streak edprochilod (Prochilodus lineatus)
sperm cryopreservedin powdered coconut water. Elsevier. University of
Lavras, ULFA.
Yatim, W. 1982. Embryologi untuk Mahasiswa Biologi dan Kedokteran. Tarsito ,
Bandung.