Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

LAPARATOMI APENDIKTOMI PADA APENDISITIS AKUT


DENGAN GENERAL ANESTESI INHALASI
Disusun untuk memenuhi sebagian tugas kepaniteraan klinik bagian Anastesi di
Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang

Disusun oleh :
1. HILMA FITRIA NUR FAIZ
2. LADY SEPTIANI

012106183
012106203

Pembimbing :
dr. Wignyo Santosa,Sp.An

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2015

HALAMAN PENGESAHAN
Nama

Hilma Fitria Nur Faiz


Lady Septiani

Fakultas

Kedokteran Umum

Universitas

Universitas Islam Sultan Agung ( UNISSULA )

Tingkat

Program Pendidikan Profesi Dokter

Bagian

Ilmu Anastesi

Judul

Laparatomi Apendiktomi pada Apendicitis Akut dengan

General Anestesi Inhalasi

Semarang, Juni 2015


Mengetahui dan Menyetujui
Pembimbing Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Anastesi Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang

Pembimbing

dr. Wignyo Santoso, Sp. An, KIC

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Apendisitis merupakan kasus nyeri perut yang sering terjadi dan
membutuhkan pengobatan operasi pada anak-anak dan dewasa di bawah umur 50
tahun, dengan puncak kejadian pada usia dekade kedua dan ketiga yaitu usia 10-20
tahun. Apendisitis merupakan kasus emergensi obstetrik yang paling sering pada
wanita hamil, terjadi sering pada trisemester kedua 1.
Insiden apendisitis akut di negara maju lebih tinggi daripada di negara
berkembang. Kejadian ini mungkin disebabkan akibat perubahan pola makan di
Negara berkembang yang banyak mengonsumsi makanan berserat. Di Amerika
Serikat, jumlah kasus apendisitis dilaporkan oleh lebih dari 40.000 rumah sakit tiap
tahunnya. Laki-laki memiliki rasio tinggi terjadi apendisitis, dengan rasio lakilaki:perempuan yaitu 1,4:1, dengan resiko seumur hidup apendisitis yaitu pada lakilaki 8.6% dan 6.7% pada perempuan1.
Di Indonesia, insiden apendisitis akut jarang dilaporkan. Insidens apendisitis
akut pada pria berjumlah 242 sedangkan pada wanita jumlahnya 218 dari keseluruhan
460 kasus. Pada tahun 2008, insiden apendisitis mengalami peningkatan. Hal ini
disebabkan karena peningkatan konsumsi junk food daripada makanan berserat.
Apendisitis akut yang merupakan keadaan akut abdomen maka diperlukan
tindakan yang segera maka kecepatan diagnosis sangat diperlukan. Diagnosis dapat
ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium,
USG, laparoskopi, dan CT scan. Tingkat akurasi diagnosis apendisitis akut berkisar
76-92%. Pengobatan untuk apendisitis akut adalah pembedahan, apendiktomi.
Sebelum pembedahan, pasien diberikan antibiotik perioperatif yang spectrum luas
untuk menekan insiden infeksi luka postoperasi dan pembentukan abses
intraabdominal2.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Manajemen Anestesi Pre-operatif


2.1.1 Penilaian Preoperatif
Sebelum dilakukan tindakan operasi sangat penting untuk dilakukan persiapan
preoperasi salah satunya adalah kunjungan terhadap pasien sebelum pasien dibedah
sehingga dapat diketahui adanya kelainan di luar kelainan yang akan dioperasi.
Tujuannya adalah:
1. Memperkirakan keadaan fisik dan psikis pasien
2. Melihat kelainan yang berhubungan dengan anestesi seperti adanya riwayat
hipertensi, asma, atau alergi (serta manifestasinya baik berupa dyspneu maupun
urtikaria).
3. Riwayat penyakit pasien, obat-obatan yang diminum pasien
4. Tahapan risiko anestesi (status ASA) dan kemungkinan perbaikan status praoperasi
(pemeriksaan tambahan dan atau/terapi diperlukan)
5. Pemilihan jenis anestesi dan penjelasan persetujuan operasi (informed consent)
kepada pasien.
6. Pemberian obat-obatan premedikasi sehingga dapat mengurangi dosis obat
induksi3.
Kunjungan preoperatif dapat melihat kelainan yang berhubungan dengan anestesi
seperti adanya riwayat hipertensi, asma, alergi, atau decompensatio cordis. Selain itu
dapat mengetahui keadaan pasien secara keseluruhan, dokter anestesi bisa menentukan
cara anestesi dan plihan obat yang tepat pada pasien. Kunjungan preoperasi pada pasien
juga bisa menghindarkan kejadian salah identitas dan salah operasi. Evaluasi preoperasi
meliputi history taking (AMPLE), pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti
laboratorium, EKG, USG, foto thorax, dll. Selanjutnya dokter anestesi harus menjelaskan
dan mendiskusikan kepada pasien tentang manajemen anestesi yang akan dilakukan, hal
ini tercermin dalam inform consent3.
2.1.1.1 History Taking
History taking bisa dimulai dengan menanyakan adakah riwayat alergi terhadap
makanan, obat-obatan dan suhu, alergi (manifestasi dispneu atau skin rash) harus
dibedakan dengan intoleransi (biasanya manifestasi gastrointestinal). Riwayat penyakit
sekarang dan dahulu juga harus digali begitu juga riwayat pengobatan (termasuk obat
herbal), karena adanya potensi terjadi interaksi obat dengan agen anestesi. Riwayat

operasi dan anestesi sebelumnya bisa menunjukkan komplikasi anestesi bila ada.
Pertanyaan tentang review sistem organ juga penting untuk mengidentifikasi penyakit
atau masalah medis lain yang belum terdiagnosis.
2.1.1.2 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dan history taking melengkapi satu sama lain. Pemeriksaan
yang dilakukan pada pasien yang sehat dan asimtomatik setidaknya meliputi tanda-tanda
vital (tekanan darah, nadi, respiratory rate, suhu) dan pemeriksaan airway, jantung, paruparu, dan system musculoskeletal. Pemeriksaan neurologis juga penting terutama pada
anestesi regional sehingga bisa diketahui bila ada defisit neurologis sebelum diakukan
anestesi regional.
Pentingnya pemeriksaan airway tidak boleh diremehkan. Pemeriksaan gigi geligi,
tindakan buka mulut, lidah relatif besar, leher pendek dan kaku sangat penting untuk
diketahui apakah akan menyulitkan dalam melakukan intubasi. Kesesuaian masker untuk
anestesi yang jelek harus sudah diperkirakan pada pasien dengan abnormalitas wajah
yang signifikan. Mikrognatia (jarak pendek antara dagu dengan tulang hyoid), incisivus
bawah yang besar, makroglosia, Range of Motion yang terbatas dari Temporomandibular
Joint atau vertebrae servikal, leher yang pendek mengindikasikan bisa terjadi kesulitan
untuk dilakukan intubasi trakeal.
Klasifikasi status fisik ASA bukan alat perkiraan risiko anestesi, karena efek
samping anestesi tidak dapat dipisahkan dari efek samping pembedahan. Penilaian ASA
diklasifikasikan menjadi 5 kategori. Kategori ke-6 selanjutnya ditambahkan untuk
ditujukan terhadap brain-dead organ donor. Status fisik ASA secara umum juga
berhubungan dengan tingkat mortalitas perioperatif. Karena underlying disease hanyalah
satu dari banyak faktor yang berkontribusi terhadap komplikasi perioperatif, maka tidak
mengherankan apabila hubungan ini tidak sempurna. Meskipun begitu, klasifikasi satus
fisik ASA tetap berguna dalam perencanaan manajemen anestesi, terutama teknik
monitoring4.
Tabel 2.1 Klasifikasi ASA
Kelas I

Pasien sehat tanpa kelainan organik, biokimia, atau psikiatri.

Kelas II

Pasien dengan penyakit sistemik ringan sampai sedang, tanpa limitasi aktivitas
sehari-hari.
Pasien dengan penyakit sistemik berat, yang membatasi aktivitas normal.

Kelas III

Kelas IV
Kelas V
Kelas VI
E

Pasien dengan penyakit berat yang mengancam nyawa dengan maupun tanpa
operasi.
Pasien sekarat yang memiliki harapan hidup kecil tapi tetap dilakukan operasi
sebagai upaya resusitasi.
Pasien dengan kematian batang otak yang organ tubuhnya akan diambil untuk
tujuan donor
Operasi emergensi, statusnya mengikuti kelas I VI diatas.

2.1.1.3 Pemeriksaan Penunjang


Dasar dan luas cakupan pemeriksaan preanestesi tergantung pada umur pasien, ada
tidaknya kondisi co-morbid saat ini, sama seperti dasar dan luas dari prosedur bedah yang
direncanakan.
Tabel 2.2 Pemeriksaan Tambahan yang Dibutuhkan
Pemeriksaan rutin
Urinalisis
FBC
Ureum, Creatinin, Elektrolit
ECG
Foto Torak
Tes fungsi hati (Liver Function Test)

Indikasi
Pada semua pasien (periksa konsentrasi glukosa
darah jika glukosa urine positif)
Pada semua wanita: pria > 40 tahun; semua bedah
mayor
Bedah mayor
Umur > 50 tahun
Umur > 60 tahun
Bedah mayor pada pasien umur > 50 tahun.

Tabel 2.3 Beberapa pemeriksaan preanestesi berserta indikasinya:


No
1

Test
Darah Lengkap

Ureum, creatinin dan


konsentrasi elektrolit

Konsentrasi glukosa darah

Elektrokardiografi

Indikasi
Anemia dan penyakit hematologik lainnya
Penyakit ginjal
Pasien yang menjalani kemoterapi
Penyakit ginjal
Penyakit metabolik misalnya; diabetes mellitus
Nutrisi abnormal
Riwayat diare, muntah
Obat-obatan yang merubah keseimbangan elektrolit
atau menunjukkan efek toksik dari adanya
abnormalitas elektrolit seperti digitalik, diuretic,
antihipertensi, kortikosteroid, hipoglikemik agent.
Diabetes Mellitus
Penyakit hati yang berat
Penyakit jantung, hipertensi atau penyakit paru
kronik
Diabetes Mellitus

Chest X-ray

Arterial blood gases

Test fungsi paru

Skreen koagulasi

Test fungsi hati

10

Tes fungsi thyroid

Penyakit respirasi
Penyakit kardiovaskuler
Pasien sepsis
Penyakit paru
Pasien dengan kesulitan respirasi
Pasien obesitas
Pasien yang akan thorakotomi
Pasien yang akan operasi thorakotomi
Penyakit paru sedang sampai berat seperti COPD,
bronchiectasis
Penyakit hematologic
Penyakit hati yang berat
Koagulopati
Terapi antikoagulan, misal: antikoagulan oral
(warfarin) atau heparin
Penyakit hepatobilier
Riwayat penyahgunaan alcohol
Tumor dengan metastase ke hepar
Bedah thyroid
Riwayat penyakit thyroid
Curiga abnormalitas endokrin seperti tumor pituitari

Hasil pemeriksaan normal adalah valid selama periode waktu, jarak dari yang 1
minggu (FBC, ureum, creatinin, konsentrasi elektrolit, glukosa darah), 1 bulan (ECG),
sampai 6 bulan (chest X-ray). Pemeriksaan sebaiknya diulang dalam keadaan berikut;
Timbul gejala seperti nyeri dada, diare, muntah
Penilaian untuk efektivitas terapi seperti suplemen potassium untuk hipokalemia,
terapi insulin untuk hiperglikemia, dialysis untuk pasien dengan gagal ginjal, produk
darah untuk koreksi koagulopati.
2.1.1.4 Informed Consent
Hal penting lainnya pada kunjungan preoperasi adalah inform consent. Inform
consent yang tertulis mempunyai aspek medikolegal dan dapat melindungi dokter bila ada
tuntutan. Dalam proses consent perlu dipastikan bahwa pasien mendapatkan informasi
yang cukup tentang prosedur yang akan dilakukan dan resikonya.
2.1.2 Masukan Oral
Reflek laring mengalami penurunan selama anestesi. Regurgitasi isi lambung dan
kotoran yang terdapat dalam jalan nafas merupakan resiko utama pada pasien yang

menjalani anestesi. Untuk meminimalkan risiko tersebut, semua pasien yang dijadwalkan
untuk operasi elektif dengan anestesi harus dipantangkan dari masukan oral (puasa)
selama periode tertentu sebelum induksi anestesi.
Tabel 2.4 Fasting Guideline Pre-operatif (American Society of Anesthesiologist, 2011)5
Usia pasien
< 6 bln

6 bln 5 thn

>5 thn
Adult,
op. pagi
Adult,
op.
siang

Intake oral
Clear fluid
Breast milk
Formula milk
Clear fluid
Formula milk
Solid
Clear fluid
Solid
Clear fuid
Solid
Clear fluid
Solid

Lama puasa (jam)

puasa yg diberikan

2
20 cc/kg
3
4
2
10 cc/kg
4
6
2
10 cc/kg
6
2
Puasa mulai jam 12
mlm
2
Puasa mulai jam 8
pagi

2.1.3 Terapi Cairan


Terapi cairan preoperatif termasuk penggantian defisit cairan sebelumnya,
kebutuhan maintenance dan luka operasi seperti pendarahan. Dengan tidak adanya intake
oral, defisit cairan dan elektrolit bisa terjadi cepat karena terjadinya pembentukan urin,
sekresi gastrointestinal, keringat dan insensible losses yang terus menerus dari kulit dan
paru. Kebutuhan maintenance normal dapat diperkirakan dari tabel dibawah:

Tabel 2.5 Kebutuhan Maintenance Normal (Morgan, 2006)6


Berat Badan
10kg pertama
10kg berikutnya
Tiap kg di atas 20kg

Jumlah
4 mL/kg/jam
+ 2 mL/kg/jam
+ 1 mL/kg/jam

Pasien yang puasa tanpa intake cairan sebelum operasi akan mengalami deficit
cairan karena durasi puasa. Defisit bisa dihitung dengan mengalikan kebutuhan cairan
maintenance dengan waktu puasa.
2.1.4 Premedikasi
Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anestesi dengan
tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anesthesia diantaranya:

Meredakan kecemasan dan ketakutan


Memperlancar induksi anesthesia
Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
Meminimalkan jumlah obat anestetik
Mengurangi mual muntah pasca bedah
Menciptakan amnesia
Mengurangi isi cairan lambung
Mengurangi reflek yang membahayakan

Tabel 2.6 Obat-Obat Yang Dapat Digunakan Untuk Premedikasi


No.
Jenis Obat
1
Sedatif:
Diazepam
Difenhidramin
Promethazin
Midazolam
2
Analgetik Opiat
Petidin
Morfin
Fentanil
Analgetik non opiat
3
Antikholinergik:
Sulfas atropine
4
Antiemetik:
Ondansetron
Metoklopramid
5
Profilaksis aspirasi
Cimetidin
Ranitidine
Antasid

Dosis (Dewasa)
5-10 mg
1 mg/kgBB
1 mg/kgBB
0,1-0,2 mg/kgBB
1-2 mg/kgBB
0,1-0,2 mg/kgBB
1-2 g/kgBB
Disesuaikan
0,1 mg/kgBB
4-8 mg (iv) dewasa
10 mg (iv) dewasa
Dosis disesuaikan

Pemberian premedikasi dapat diberikan secara (a) suntikan intramuskuler,


diberikan 30-45 menit sebelum induksi anestesia. (b) suntikan intravena diberikan 5-10

menit sebelum induksi anestesia. Komposisi dan dosis obat premedikasi yang akan
diberikan kepada pasien serta cara pemberiannya disesuaikan dengan masalah yang
dijumpai pada pasien4.
2.1.5 Persiapan Di Kamar Operasi
Hal-hal yang perlu dipersiapkan di kamar operasi antara lain adalah:
a.
b.
c.
d.
e.

Meja operasi dengan asesoris yang diperlukan


Mesin anestesi dengan sistem aliran gasnya
Alat-alat resusitasi (STATICS)
Obat-obat anestesia yang diperlukan.
Obat-obat resusitasi, misalnya; adrenalin, atropine, aminofilin, natrium

bikarbonat dan lain-lainnya.


f. Tiang infus, plaster dan lain-lainnya.
g. Alat pantau tekanan darah, suhu tubuh, dan EKG dipasang.
h. Alat-alat pantau yang lain dipasang sesuai dengan indikasi, misalnya; Pulse
i.
j.

Oxymeter dan Capnograf.


Kartu catatan medic anestesia
Selimut penghangat khusus untuk bayi dan orang tua.
Tabel 2.7 Komponen STATICS
S

Scope

Tubes

Airways

Tapes

Introducer

C
S

Connector
Suction

Stetoscope untuk mendengarkan suara paru dan jantung.


Laringo-Scope: pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai
dengan usia pasien. Lampu harus cukup terang.
Pipa trakea, pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon
(cuffed) dan >5 tahun dengan balloon (cuffed).
Pipa mulut-faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa
hidung-faring (nasi-tracheal airway). Pipa ini menahan
lidah saat pasien tidak sadar untuk mengelakkan sumbatan
jalan napas.
Plaster untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau
tercabut.
Mandarin atau stilet dari kawat dibungkus plastic (kabel)
yang mudah dibengkokkan untuk pemandu supaya pipa
trakea mudah dimasukkan.
Penyambung antara pipa dan peralatan anastesia.
Penyedot lendir, ludah dan lain-lainnya.

2.2 Pemilihan Teknik Anestesi


Secara umum, pemilihan teknik anestesi harus selalu memprioritaskan keamanan
dan kenyamanan pasien. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah:
1. Usia pasien

Pada bayi dan anak paling baik dilakukan teknik general anestesi. Pada pasien
dewasa untuk tindakan singkat dan hanya dipemukaan dapat dilakukan teknik
anestesi lokal atau umum.
2. Status fisik pasien
a. Riwayat penyakit dan anestesi terdahulu. Penting untuk mengetahui apakah
pasien pernah menjalani suatu pembedahan dan anestesi. Apakah ada komplikasi
anestesi dan paska pembedahan yang dialami saat itu. Pertanyaa mengenai
riwayat penyakit terutama diarahkan pada ada tidaknya gejala penyakit
kardiorespirasi, kebiasaan merokok, meminum alkohol, dan obat-obatan. Harus
menajadi

suatu

perhatian

saat

pasien

memakai

obat

pelumpuh

otot

nondepolarisasi bila didapati atau dicurigai adanya penyakit neuromuskular,


antaralain poliomielitis dan miastenia gravis. Sebaiknya tindakan anestesi
regional dicegah untuk pasien dengan neuropati diabetes karena mungkin dapat
memperburuk gejala yang telah ada.
b. Gangguan fungsi kardiorespirasi berat. Sedapat mungkin hindari penggunaan
anestesi umum dan sebaiknya dilakukan dengan anestesi lokal atau regional.
c. Pasien gelisah, tidak kooperatif, disorientasi, dan/atau dengan gangguan jiwa
sebaiknya dilakukan dengan anestesi umum.
d. Pasien obesitas. Bila disertai leher pendek atau besar atau sering timbul gangguan
sumbatan jalan nafas, sebaiknya dipilih teknik anestesi regional, spinal, atau
anestesi umum ndotrakeal.
3. Posisi pembedahan
Posisi seperti miring, tengkurap, duduk, atau litotomi memerlukan anestesi umum
endotrakea untuk menjamin ventilasi selama pembedahan. Demikian juga dengan
pembedahan yang berlangsung lama.
4. Keterampilan dan kebutuhan dokter bedah
Memilih obat dan teknik anestesi juga disesuaikan dengan keterampilan dan
kebutuhan dokter bedah, antara lain teknik hipotensif untuk mengurangi perdarahan,
relaksasi otot pada laparotomi, pemakaian adrenalin untuk bedah plastik, dna lainlain.
5. Keterampilan dan pengalaman dokter anestesi
Preferensi pengalaman dan keterampilan dokter anestesiologi sangat menentukan
pilihan-pilihan teknik anestesi. Sebaiknya tidak melakukan teknik anestesi tertentu
bila belum ada pengalaman dan keterampilan.
6. Keinginan pasien
Keinginan pasien untuk pilihan teknik
dipertimbangkan

bila

keadaan

pasien

membahayakan keberhasilan operasi.

anestesi

memang

dapat

diperhatikan

memungkinkan

dan

dan
tidak

7. Bahaya kebakaran dan ledakan


Pemakaian obat anestesi yang tidak terbakar dan tidak eksploratif adalah pilihan
utama pada pembedahan dengan memakai alat elektrokauter.
8. Pendidikan
Di kamar bedah rumah sakit pendidikan, operasi mungkin dapat berjalan lama karena
sering terjadi percakapan instruktor dengan residen, mahasiswa, atau perawat. Oleh
sebab itu, sebaiknya pilihan adalah anestesi umum atau bila dengan anestesi spinal
atau regioal perlu diberikan sedasi yang cukup3.

2.3

Penatalaksanaan
1. Apendiktomi adalah terapi utama
2. Antibiotic pada apendisitis digunakan sebagai:
a. Preoperative, antibiotik broad spectrum intravena diindikasikan
untuk mengurangi kejadian infeksi pasca pembedahan.
b. Post operatif, antibiotic diteruskan selama 24 jam pada pasien
tanpa komplikasi apendisitis
c. Antibiotic diteruskan sampai 5-7 hari post operatif untuk kasus
apendisitis ruptur atau dengan abses.
d. Antibiotic diteruskan sampai hari 7-10 hari pada kasus
apendisitis rupture dengan peritonitis diffuse.
Tata Laksana Anestesi dan Terapi Intensif pada Tindakan Apendiktomi
1. Batasan
Tindakan anestesi yang dilakukan pada operasi pengangkatan
appendix.
2. Masalah anestesi dan terapi intensif
Ancaman depresi nafas akibat manipulasi abdomen
Perdarahan luka operasi
3. Penatalaksanaan Anestesi dan terapi intensif
Penilaian status pasien
Evaluasi status generalis dengan pemeriksaan fisik dan
penunjang yang lain sesuai dengan indikasi
4. Persiapan Pra Operatif
Persiapan rutin
Persiapan donor
5. Premedikasi

Diberikan secara intravena 30 45 menit pra induksi dengan obatobat sebagai berikut:
Ondancentron 4 mg
Fentanyl : 1-2 g/kgBB
6. Pilihan Anestesi
Anestesi umum inhalasi (imbang) dengan pemasangan LMA atau
pipa endotrakea.
7. Terapi Cairan dan Tranfusi
Diberikan cairan pengganti perdarahan apabila perdarahan yang
terjadi < 20 % dari perkiraan volume darah dan apabila > 20%, berikan
tranfusi darah.
8. Pemulihan Anestesi
Segera setelah operasi, hentikan aliran obat anesthesia, berikan
oksigen 100%
Berikan obat penawar pelumpuh otot
Bersihkan jalan nafas
Ekstubasi dilakukan setelah pasien nafas spontan dan adekuat serta
jalan nafas sudah bersih
9. Pasca bedah/anestesi
Dirawat diruang pulih, sesuai dengan tata laksana pasca anestesi
Perhatian khusus pada periode ini adalah ancaman depresi nafas
akibat nyeri dan kompresi luka operasi
Pasien dikirim kembali keruangan setelah memenuhi kriteria
penegeluaran
A. General Anestesi
Tindakananestesi dilakukan dengan menghilangkan nyeri secara sentral
disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversible.
Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor terjadinya
kecelakaan dalam anestesia. Sebelum pasien dibedah sebaiknya dilakukan
kunjungan pasien terlebih dahulu sehingga pada waktu pasien dibedah pasien
dalam keadaan bugar. Tujuan kunjungan praanestesi adalah untuk mengurangi
angka kesakitan operasi, mengurangi biaya operasi dan meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan.
Sebelum pasien diberi obat anestesi, langkah selanjutnya adalah
dilakukan premedikasi yaitu pemberian obat sebelum induksianestesi diberi

dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun darianestesi


diantaranya :

Meredakan kecemasan dan ketakutan


Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
Mengurang mual dan muntah pasca bedah
Mengurangi isi cairan lambung
Membuat amnesia
Memperlancar induksi anestesi
Meminimalkan junmlah obat anestesi
Mengurangi reflek yang membahayakan.

1. Obat Premedikasi
a. Ondansetron
Merupakan suatu antagonis 5-HT3 yang sangat efektif yang dapat
menekan mual dan muntah karena sitostatika misalnya cisplatin dan
radiasi. Ondansetron mempercepat pengosongan lambung, bila kecepatan
pengosongan basal rendah. Tetapi waktu transit saluran cerna memanjang
sehingga dapat terjadi konstipasi. Ondansetron dieliminasi dengan cepat
dari tubuh. Metabolisme obat ini terutama secara hidroksilasi dan
konjugasi dengan glukonida atau sulfat dalam hati. Dosis ondansentron
yang biasanya diberikan untuk premedikasi antara 4-8 mg. Dalam suatu
penelitian kombinasi antara Granisetron dosis kecil yang diberikan sesaat
sebelum ekstubasi trakhea ditambah Dexamethasone yang diberikan saat
induksi anestesi merupakan suatu alternatif dalam mencegah muntah
selama 0-2 jam setelah ekstubasi trakhea daripada ondansetron dan
dexamethasone.
b. Fentanil
Fentanil merupakan salah satu preparat golongan analgesik opioid
dan termasuk dalam opioid potensi tinggi dengan dosis 100-150
mcg/kgBB, termasuk sufentanil (0,25-0,5 mcg/kgBB). Bahkan sekarang
ini telah ditemukan remifentanil, suatu opioid yang poten dan sangat cepat
onsetnya, telah digunakan untuk meminimalkan depresi pernapasan
residual. Opioid dosis tinggi yang deberikan selama operasi dapat

menyebabkan kekakuan dinding dada dan larynx, dengan demikian dapat


mengganggu ventilasi secara akut, sebagaimana meningkatnya kebutuhan
opioid potoperasi berhubungan dengan perkembangan toleransi akut.
Maka dari itu, dosis fentanyl dan sufentanil yang lebih rendah telah
digunakan sebagai premedikasi dan sebagai suatu tambahan baik dalam
anestesi inhalasi maupun intravena untuk memberikan efek analgesi
perioperatif.
Sebagai analgesik, potensinya diperkirakan 80 kali morfin.
Lamanya efek depresi nafas fentanil lebih pendek dibanding meperidin.
Efek euphoria dan analgetik fentanil diantagonis oleh antagonis opioid,
tetapi secara tidak bermakna diperpanjang masanya atau diperkuat oleh
droperidol, yaitu suatu neuroleptik yang biasanya digunakan bersama
sebagai anestesi IV. Dosis tinggi fentanil menimbulkan kekakuan yang
jelas pada otot lurik, yang mungkin disebabkan oleh efek opioid pada
tranmisi dopaminergik di striatum. Efek ini di antagonis oleh nalokson.
Fentanyl biasanya digunakan hanya untuk anestesi, meski juga dapat
digunakan sebagai anelgesi pasca operasi. Dosis fentanil untuk
premedikasi yaitu 50 mcg 100 mcg. Obat ini tersedia dalam bentuk
larutan untuk suntik dan tersedia pula dalam bentuk kombinasi tetap
dengan droperidol. Fentanyl dan droperidol (suatu butypherone yang
berkaitan

dengan

haloperidol)

diberikan

bersama-sama

untuk

menimbulkan analgesia dan amnesia dan dikombinasikan dengan nitrogen


oksida memberikan suatu efek yang disebut sebagai neurolepanestesia.
c. Dexamethasone
Deksametason adalah glukokortikoid sintetik dengan aktivitas
imunosupresan dan anti-inflamasi. Sebagai imunosupresan Deksametason
bekerja dengan menurunkan respons imun tubuh terhadap stimulasi
rangsang. Aktivitas anti-inflamasi Deksametason dengan jalan menekan
atau mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi dan menghambat
akumulasi sel yang mengalami inflamasi, termasuk makrofag dan leukosit
pada tempat inflamasi. Dosis dexamethason injeksi antara 0.5 0.9
mg/kgBB.

2. Obat Induksi
Profofol
Propofol adalah obat anestesi intravena yang bekerja cepat dengan
karakter recoveryanestesi yang cepat tanpa rasa pusing dan mual-mual.
Profofol merupakan cairan emulsi minyak-air yang berwarna putih yang
bersifat isotonik dengan kepekatan 1% (1ml=10 mg) dan mudah larut dalam
lemak. Profopol menghambat transmisi neuron yang dihantarkan oleh
GABA. Propofol adalah obatanestesi umum yang bekerja cepat yang efek
kerjanya dicapai dalam waktu 30 detik.
Dosis induksi 1-2 mg/kgBB. Dosis rumatan 500ug/kgBB/menit
infuse. Dosis sedasi 25-100ug/kgBB/menit infuse. Pada pasien yang
berumur diatas 55 tahun dosis untuk induksi maupun maintanance anestesi
itu lebih kecil dari dosis yang diberikan untuk pasien dewasa menyebabkan
depolarisasi, hanya menghalangi asetilkolin menempatinya, sehingga
asetilkolin tidak dapat bekerja.
Dosis awal 0,5-0,6 mg/kgBB, dosis rumatan 0,1 mg/kgBB, durasinya
selama 20-45 menit dan dapat meningkat menjadi 2 kali lipat pada suhu 250
C, kecepatan efek kerjanya 1-2 menit.
Penawar pelumpuh otot atau

antikolinesterase

bekerja

pada

sambungan saraf-otot mencegah asetilkolin-esterase bekerja, sehingga


asetilkolin dapat bekerja. Antikolinesterase yang paling sring digunakan
ialah neostigmin dengan dosis (0,04-0,08 mg/kgBB) atau obat antikolinergik
lainnya. Penawar pelumpuh otot bersifat muskarinik menyebabkan
hipersalivasi, keringatan, bradikardia, kejang bronkus, hipermotilitas usus
dan pandangan kabur, sehingga pemberiannya harus disertai obat vagolitik
seperti atropin dosis 0,01-0,02 mg/kgBB atau glikopirolat 0,005-0,01
mg/kgBB sampai 0,2-0,3 mg/kgBB pada dewasa.
3. Maintanance
a.N2O
N2O (gas gelak, laughling gas, nitrous oxide, dinitrogen monoksida)
diperoleh dengan memanaskan ammonium nitrat sampai 240C (NH4 NO3
2H2O + N2O) N2O dalam ruangan berbentuk gas tak berwarna, bau manis,

tak iritasi, tak terbakar, dan beratnya 1,5 kali berat udara. Pemberian anestesi
dengan N2O harus disertai O2 minimal 25%. Gas ini bersifat anestesik lemah,
tetapi analgesinya kuat, sehingga sering digunakan untuk mengurangi nyeri
menjelang persalinan. Padaanestesi inhalasi jarang digunakan sendirian, tetapi
dikombinasi dengan salah satu anestesi lain seperti halotan dan sebaagainya.
Pada akhir anestesi setelah N2O dihentikan, maka N2O akan cepat keluar
mengisi alveoli, sehingga terjadi pengenceran O2 dan terjadilah hipoksia
difusi. Untuk menghindari terjadinya hipoksia difusi, berikan O2 100%
selama 5-10 menit.Penggunaan dalam anestesi umumnya dipakai dalam
kombinasi N2O : O2 yaitu 60% : 40%, 70% : 30%. Dosis untuk mendapatkan
efek analgesik digunakan dengan perbandingan 20% : 80%, untuk induksi
80% : 20%, dan pemeliharaan 70% : 30%. N2O sangat berbahaya bila
digunakan pada pasien pneumothorak, pneumomediastinum, obstruksi,
emboli udara dan timpanoplasti.
b. Sevoflurane
Sevofluran (ultane) merupakan halogenasi eter. Induksi dan pulih dari
anestesilebih cepat dibandingkan dengan isofluran. Baunya tidak menyengat
dan tidak merangsang jalan napas, sehingga digemari untuk induksi anestesi
inhalasi disampinghalotan.Efek terhadap kardiovaskuler cukup stabil, jarang
menyebabkan aritmia. Efek terhadap sistem saraf pusat seperti isofluran dan
belum ada laporan toksik terhadaphepar. Setelah pemberian dihentikan
sevofluran cepat dikeluarkan oleh badan.Walaupun dirusak oleh kapur soda
(soda lime, baralime), tetapi belum ada laporanmembahayakan terhadap
tubuh manusia

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas

Nama
Usia
Jenis Kelamin
Alamat

: Ny. NS
: 58 tahun
: Perempuan
: Karangkimpul, Kaligawe Semarang

Agama
Suku
Kewarganegaraan
Pekerjaan
Status Pernikahan
Tanggal MRS
No. RM
Berat Badan
Tinggi Badan

: Islam
: Jawa
: Indonesia
: Ibu Rumah Tangga
: Menikah
: 7 Juni 2015
: 01130xxx
: 60 kg
: 154 cm

3.2 Pre-Operasi
3.2.1 Anamnesa Kunjungan Pre-Operasi (8 Juni 2015)

A (Alergy): tidak ada riwayat alergi terhadap obat-obatan, alergi makanan,

maupun asma.
M (Medication): tidak sedang menjalani pengobatan apapun.
P (Past Medical History): tidak didapatkan riwayat hipertensi, diabetes mellitus,
mengorok saat tidur, kejang, nyeri dada, keterbatasan aktifitas akibat sesak dan
tidak ada gangguan pada aktifitas sehari-hari. Pasien memiliki riwayat BAB tidak
lancar, frekuensi 1x dalam 3-7 hari. Riwayat anastesi dan anastesi sebelumnya
belum ada. Operasi ini merupakan pengalaman pertama pasien mengalami
pembedahan anastesi. Merokok (-), konsumsi minuman beralkohol (-). Keadaan

psikis: kesan tenang.


L (Last Meal): pasien terakhir makan pukul 07.00
E (Elicit History): pasien mengeluh nyeri perut di tengah sejak 3 hari. Nyeri perut
kemudian terasa juga di perut bagian kanan dan kiri. Pasien mengeluhkan perut
sakit jika digunakan berjalan. Pasien juga mengeluhkan tidak BAB sejak 5 hari
yang lalu dan demam yang dirasakan 1 minggu yang lalu. BAK dalam batas
normal.

3.2.2 Pemeriksaan Fisik Pre-Operasi

B1-Breathing
o Airway paten, nafas spontan, RR 20 kali/menit
o Wajah dan rongga mulut: bentuk wajah dalam batas normal, buka mulut lebih
o
o

dari 3 jari, mallampati 1, gigi utuh dan baik, kebersihan rongga mulut baik.
Hidung: perdarahan (-), deviasi septum (-), polip (-), PCH (-)
Leher: leher gemuk (-), leher ekstensi bebas, trakea di tengah, massa regio
colli (-)

o Paru: suara paru vesikuler, rhonki |, wheezing |


B2-Blood
o Akral hangat, merah, dan kering. Nadi 88 kali/menit, regular, dan kuat. TD
130/80 mmHg, JVP tidak meningkat, ictus kordis tidak terlihat, ictus kordis
teraba pada ICS V MCL sinistra, batas jantung kanan atas ICS II PSL dextra,
batas jantung kanan bawah ICS IV PSL dextra, batas jantung kiri atas ICS II
PSL sinistra, batas jantung kiri bawah ICS IV MCL sinistra, S 1S2 tunggal,

murmur negatif, gallop negatif.


B3-Brain
Compos mentis, GCS 15, pupil bulat isokor 3mm | 3mm, refleks cahaya +|+.
B4-Bladder
BAK menggunakan kateter, produksi urin ditampung +40cc/jam, kuning jernih.

B5-Bowel
Flat, soefl, bising usus (+) menurun, nyeri tekan (+) McBurney
B6-Bone/Body
Mobilitas (+), edema =|=, sianosis =|=, anemis =|=, ikterik =|=, CRT <2 detik,
skoliosis (-), lordosis (-), hemiparesis (-), distrofi otot (-), motorik dan sensorik
normal.

3.2.3 Pemeriksaan Penunjang Pre-Operasi


3.2.3.1 USG Color Doppler
Pemeriksaan pada tanggal 08 Juni 2015:
Uterus: ukuran normal, posisi anteversi. Tampak endometrial line menebal.
Mc.Burney: Tidak tampak struktur tubuler blunt end yang mengesankan appendix
edematous, tidak tampak fat stranding/dilatasi caecum, nyeri tekan probe (+) di
R.Mc.Burney dan suprapubic.
Tampak lesi heterogen batas tidak tegas disertai struktur menyerupai GS di dextrocraniolateral uterus diameter +1,2 cm. Dengan color Doppler tidak jelas gambaran ring of
fire. Tampak echo cairan bebas di fossa hepatorenal, splenorenal, perivesical dan cavum
douglass.
3.2.3.2 Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan tanggal 8 Juni 2015
Nilai

Satuan

Nilai Rujukan

Kesan

13.50

g/dL

11.4-15.1

Normal

Darah Lengkap
Hemoglobin

Eritrosit

4.82

106/mm3

4.0 5.0

Normal

Leukosit

18.00

103/mm3

4,7-11,3

Normal

Hematokrit

41.10

38 - 42

Normal

Trombosit

337

103/mm3

142 424

Normal

MCV

78.40

fL

80 93

Normal

MCH

26.80

Pg

27 31

Normal

MCHC

34.10

gr%

32 36

Normal

RDW

14.00

11,5 - 14,5

Normal

PPT

11.4

Detik

11.8

Normal

INR

0.98

APTT

26.4

Detik

28.2

Normal

Natrium (Na)

138

136 145

Normal

Kalium (K)

3.51

Mmol/L
Mmol/L

3.5 5.0

Normal

108

Mmol/L

98 - 106

Normal

Faal Hemostasis

Elektrolit Serum

Klorida (Cl)
Urinalisis
Kekeruhan

Jernih

Warna

Kuning

pH

8.0

4.5 - 8.0

Normal

Glukosa

Negatif

Negatif

Normal

Protein

Negatif

Negatif

Normal

Lekosit

Trace

Negatif

Normal

Darah

+1

Bakteri

63.9

Negatif
3

10 /mL

Normal
3

93x10 /mL

Normal

Pregnancy Test
Test Kehamilan

Negatif

3.2.4 Planning

Tanggal dilakukan anestesi


Jenis anastesi
Jenis pembedahan

: 9 Juni 2015
: General Anestesi Inhalasi
: Laparatomi - Appendiktomi

3.2.5 Persiapan Operasi


-

Lengkapi Informed Consent Anestesi

Puasa 8 jam sebelum operasi

Tidak menggunakan perhiasan/kosmetik

Tidak menggunakan gigi palsu

Memakai baju khusus kamar bedah

1. Premedikasi

: Ondancetron 4 mg; Fentanyl 50 g; Sulfas

Atropin 0,25 mg
2. Diagnosis Pra Bedah

: Apendisitis Akut

3. Diagnosis pasca Bedah :Post Laparotomi-Apendiktomi a/i Apendisitis


4. Jenis Anestesi

: General Anestesi

5.

Teknik :

Inhalasi,

pernafasan

diambil,

pemasangan Endotracheal Tube


6. Induksi

: Propofol 100 mg

7. Pemeliharaan

: 02, N2O, Sevoflurane

8. Obat-obat

: Ondansentron 4 mg, Ketorolac 30 mg

9. Jenis Cairan

: Ringer laktat

10. Instruksi Pasca Bedah


Posisi

: Supine

Infus

: Ringer laktat 20 tpm

Antibiotik

: Sesuai dr. Operator

Analgetik

: Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV mulai jam 23.00

Anti muntah

: Inj. Ondansentron 4 mg/8 jam/IV K/P

Lain-lain

- Awasi Vital sign dan KU


-

Jika sadar penuh, Peristaltik (+) , mual (-), muntah (-), coba minum makan
perlahan.

Bed rest 24 jam post op.

11. Lama Operasi : 45 menit


12. Maintanence anastesi
B1 (Breathing) : Suara nafas vesikuler, nafas terkontrol,
B2 (Bleeding)

:Perdarahan 80 cc

B3 (Brain)

: Pupil Isokor

B4 (Bladder)

:tidak terpasang kateter

B5 (Bowel)

: BU (-)

B6 (Bone)

: Intak

13. Monitoring pasca Operasi


Skor Lockharte/Aldrete Pasien
Aktivitas
Respirasi
Sirkulasi
Kesadaran
Warna kulit
Skor total

Jam I (per 15)


2
2
2
1
2
10

Jam II

Jam III

Jam IV

BAB IV
PEMBAHASAN
Diagnosis apendisitis akut pada pasien ini ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan fisik melalui palpasi ditemukan adanya nyeri pada perut bagian
kanan bawah, nyeri semakin hebat jika pasien beraktivitas serta di tunjang oleh
pemeriksaan apendikogram.
Status fisik pada pasien ini dimasukkan ke dalam ASA I dalam hal ini
pasien tidak memiliki riwayat alergi. Teknik general anestesi inhalasi pada pasien
ini dilakukan atas pertimbangan lama waktu operasi yang relatif lama, yaitu
sekitar 1 jam.
Pada pasien ini diberikan premedikasi berupa ondancentron 4 mg
intravena, Sulfas Atropin 0,25 mg dan fentanil 50 mcg. Induksi anestesia
dilakukan dengan pemberian propofol 100 mg (2 2,5 mg/kgBB) (intravena),
setelah refleks bulu mata menghilang segera dilakukan pemasangan ET no. 7.
Untuk maintenance selama operasi berlangsung diberikan N2O 50%, O2 50%, dan
Sevoflurane 2 vol % dengan cara inhalasi dengan mesin anestesia. Selama operasi
berlangsung, dilakukan monitoring perioperasi untuk membantu ahli anestesi
mendapatkan informasi fungsi organ vital selama perioperasi, supaya dapat
bekerja dengan aman. Monitoring secara elektronik membantu ahli anestesi
mengadakan observasi pasien lebih efisien secara terus menerus. Selama operasi

berlangsung juga tetap diberikan cairan intravena RL. Pada saat dilakukannya
operasi diberika injeksi ketorolac 30mg intravena sebagai analgesik untuk
mengurangi nyeri setelah operasi dan anestesi selesai. Setelah operasi selesai,
dilakukan tindakan suction dan reoksigenasi menggunakan face mask dengan
Oksigen 2-3 liter/menit.
Pasien dipindah ke ruang pemulihan dan dilakukan observasi sesuai skor
Aldrete. Bila pasien tenang dan Aldrete Score 8 dan tanpa nilai 0, pasien dapat
dipindahkan ke bangsal. Pada kasus ini Aldrete Score-nya sebesar 10 dengan
rincian yaitu aktivitas 2 ( dapat menggerakan 4 extrimitas setelah diperintah),
respirasi 2 (dapat bernafas dalam dan batuk), sirkulasi 2 (perubahan tekanan darah
< 20 mmHg dari tekanan darah preoperasi), kesadaran 1 (dapat dibangunkan dan
membuka mata ketika diperintah), saturasi oksigen 2 (saturasi oksigen 99-100%
diudara kamar). Setelah dinilai Aldrete skornya dan nilainya > 8, pasien
dipindahkan ke bangsal.

DAFTAR PUSTAKA
Barash, P. G., Cullen, B. F., Stoelting, R. K., Cahalan, M. K., Stock, M. C.
2009. Handbook of Clinical Anesthesia. 6th edition. USA: Lippincott Williams &
Wilkins..
Latief, S. A., Suryadi, K. A., Dachlan M. R. 2009. Petunjuk Praktis
Anestesiologi. Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Bagian Anestesiologi dan Terapi
Intensif FKUI.
Keat Sally, Simon T, Alexander B, Sarah L. 2013. Anaesthesia on the
move 1th editional. U.K. Hodder Arnold
Aldrete JA, Kronlik D: A postanesthetic recovery score. Anesth Analg
1970;49:924 and Aldrete JA: The post-anesthesia recovery score revisited. J Clin
Anesth 1995;7:89.
Dunn, Peter F., Theodore A. Alston, Keith H. Baker, J. Kenneth Davison,
Jean Kwo, dan Carl Rosow. 2007. Clinical Anesthesia Procedures of The
Massachusets General Hospital 7th edition. USA: Lippincott Williams & Wilkins.