Anda di halaman 1dari 14

Laporan Praktikum Dasar Ilmu Tanah "Pengukuran pH Tanah"

I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kolorimeter adalah penentuan pH tanah dengan menggunakan indikator warna seperti kertas
lakmus, kertas pH, dan pH Stick. Fungsi dari menggunakan alat dengan metode kolorimeter
yaitu untuk mengetahui pH Tanah dengan berdasarkan warna yang diperoleh (Aminiarin, 2013).
pH meter adalah alat elektronik yang digunakan untuk mengukur pH (keasaman atau alkalinitas)
dari cairan (meskipun probe khusus terkadang digunakan untuk mengukur pH zat semi-padat).
Sebuah pH meter khas terdiri dari probe pengukuran khusus atau elektroda yang terhubung ke
meteran elektronik yang mengukur dan menampilkan pembacaan pH (Aslilah, 2013).
Terdapat beberapa jenis alat ukur pH tanah salah satunya yaitu alat ukur pH tanah ETP110 atau
yang biasa disebut dengan soil pH meter merupakan salah satu dari soil test kit yang sangat
penting dalam kegiatan pengukuran dan penelitian kandungan zat dalam tanah. Alat pH tanah
ini digunakan untuk mengukur keasaman dan kebasaan pada tanah, selain itu juga terdapat kertas
lakmus yang menentukan pH tanah pada saat dilapangan (Ryan, 2012).
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum dengan materi pengukuran ph tanah yaitu :
1. mahasiswa dapat mengenal dan menggunakan alat-alat yang digunakan untuk mengukur pH
tanah.
2. Mahasiswa dapat membandingkan pengukuran pH dengan kedua jenis metode.

II. BAHAN DAN METODE


2.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum dilaksanakan pada hari jumat, 15 November 2013. Pukul 09.00 10.40
WIB. Praktikum bertempat di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Palangka Raya.
2.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan yaitu, air destilasi (melarutkan tanah) dan contoh tanah. Sedangkan alat
yang digunakan yaitu gelas ukur (mengukur banyaknya air destilasi yang diperlukan), kertas
lakmus (mengukur pH tanah), botol film (mengocok sampel tanah), pH meter (mengukur pH
tanah), dan indikator (mengukur pH tanah).

1.
2.
3.
1.
2.

2.3 Cara Kerja


Penetapan pH tanah dengan menggunakan indikator
Memasukkan 1 gram contoh tanah dalam tabung film, menambahkan 2,5 ml air destilasi,
kemudian kocok selama 10 menit lalu diamkan selama 5 menit.
Mencelupkan dengan hati-hati kertas indikator ke larutan tanah yang jernih, mengusahakan agar
kertas indikator tidak menyentuh tanah yang mengendap.
Membandingkan perubahan warna pada kertas indikator dengan warna standar yang ada pada
wadah kertas indikator, kemudiat mencatat pHnya.
Penetapan pH tanah dengan pH meter
Menimbang 10 gram contoh tanah, memasukkan ke dalam botol film dan menambahkan 25 ml
air destilasi. Kemudian kocok selama 30 menit.
Menentukan pH tanahnya dengan menggunakan pH meter yang telah dikalibrasi dengan larutan
buffer pH standar. Catat pH yang terukur.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil Pengamatan
Tabel pengamatan nilai pH tanah
Kode Contoh Tanah

Nilai pH tanah

Kelompok 1

Indikator
4,4

pH meter
4,53

Kelompok 2

4,7

4,37

Kelompok 3

4,4

4,57

Kelompok 4

4,4

4,57

Kelompok 5

4,4

3,96

Kelompok 6

4,0

4,16

3.2 Pembahasan
Berdasarkan tabel pengamatan dapat diketahui,
Kode tanah kelompok 1 dengan menentukan nilai pH tanah menggunakan indikator yaitu 4,4 dan
menggunakan pH meter yaitu 4,53.
Kode tanah kelompok 2 dengan menentukan nilai pH tanah menggunkan indikator yaitu 4,7 dan
menggunakan pH meter 4,37.
Kode tanah kelompok 3 dengan menentukan nilai pH tanah menggunakan indikator yaitu 4,4 dan
menggunakan pH meter 4,57.
Kode tanah kelompok 4 dengan menentukan nilai pH tanah menggunakan indikator yaitu 4,4 dan
menggunakan pH meter 4,57.
Kode tanah kelompok 5 dengan menentukan nilai pH tanah menggunakan indikator yaitu 4,4 dan
menggunakan pH meter yaitu 3,96.
Kode tanah kelompok 6 dengan menentukan nilai pH tanah menggunakan indikator yaitu 4,0 dan
menggunakan pH meter 4,16.

Hasil pengukuran pH tanah menggunakan indikator dengan kode sampel kelompok 6, yang
menunjukkan nilai pH 4,0 dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar pengukuran pH indikator
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Terdapat perbedaan pada nilai pH tanah antar kelompok, dengan menggunakan indikator maupun
pH meter hal tersebut disebabkan oleh alat yang digunakan berbeda. Perbandingan berdasarkan
pengukuran nilai pH dengan menggunakan pH meter lebih akurat dibandingkan dengan
indikator, hal tersebut dikarenakan pH meter menggunakan digital, maka pengukurannya
ditampilkan langsung berupa angka pada monitor dan dapat menunjukkan nilai pH dari larutan
yang tidak diketahui pH-nya, sedangkan pada indikator sifat penentuan nilai pH-nya terbatas
pada nilai (Partana Fajar Crys, 2006).
Manfaat dengan mengetahui pH tanah pada bidang pertanian adalah dengan mengetahui pH
tanah akan menjadikan kegiatan pertanian lebih mudah karena telah mengetahui jenis maupun
kandungan asam dan basa tanah, sehingga dapat menentukan komoditas apa yang cocok
dibudidayakan pada tanah tersebut (Rappang, 2011).
Berdasarkan pengamatan contoh tanah kelompok kami dengan nilai pH tanah pada Indikator
yaitu 4,0 dan menggunakan pH meter yaitu 4,16 dapat dimanfaatkan dibidang pertanian pada
tanaman kelapa sawit dan cengkeh (Muchtardi dan Justiana Sandri, 2006).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan
Dari tujuan praktikum dapat disimpulkan bahwa terdapat berbagai jenis alat ukur ph tanah
diantaranya yaitu pH meter, indikator, kertas lakmus, dan lain-lain. dalam penggunaan alat ukur
ph tanah harus sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan, seperti contoh penggunaan kertas
indikator dengan mencelupkan kedalam sampel tanah yang akan diamati pH-nya dengan
mencelupkan dibagian airnya saja.
Perbandingan antara metode kolorimeter dan metode pH meter yaitu pada alatnya, terdapat
perbedaan dengan menggunakan indikator maupun pH meter hal tersebut disebabkan oleh alat
yang digunakan berbeda. Berdasarkan pengukuran nilai pH dengan menggunakan pH meter lebih
akurat dibandingkan dengan indikator, hal tersebut dikarenakan pH meter menggunakan digital,
maka pengukurannya ditampilkan langsung berupa angka pada monitor dan dapat menunjukkan
nilai pH dari larutan yang tidak diketahui pH-nya, sedangkan pada indikator sifat penentuan nilai
pH-nya terbatas pada nilai
4.2 Saran
Saran yang saya berikan adalah pada pengamatan menggunakan pH meter seharusnya praktikan,
agar menambah pengetahuan. Terima kasih

DAFTAR PUSTAKA
Aminiarin, 2013. Kolorimeter. (http://aminiarin.blogspot.com/2013/07/acara-viii-reaksi-tanah-phtanah.html). Diakses pada tanggal 19 Nopember 2013
Aslilah, 2013. pH meter dan fungsi. (http://www.alatlabor.com/article/detail/58/ fungsi-danpengenalan-ph-meter). Diakses pada tanggal 19 November 2013
Muchtardi dan Justiana Sandri, 2006. KIMIA 2 Kelas IX. Quadra : Jakarta
Partana Fajar Crys, 2006. Seri IPA KIMIA 1 Kelas VII. Quadara : Jakarta
Ryan, 2012. Alat Ukur pH meter ETP110. (http://www.multimeter-digital.com/alat-ukur-ph-tanahetp110.html). Diakses pada tanggal 19 November 2013
Rappang, 2011. Tanah Untuk Pertanian. (http://bpp-rappang.blogspot.com) diakses pada tanggal 20
oktober 2013

JUDUL PRATIKUM: Penetapan pH tanah


TUJUAN PRATIKUM
1.

Mengetahui cara penetapan pH tanah menggunakan pH meter

2.

Mengetahui tingkat pH yang terkandung pada tanah Oxisol

LANDASAN TEORI
pH adalah tingkat keasaman atau suatu benda yang diukur dengan menggunakan
skala pH antara 0 hingga 14. Sifat asam mempunyai pH antara 0 hingga 7 dan sifat
basa mempunyai nilai pH 7 hingga 14. Sebagai contoh, jus jeruk dan air aki
mempunyai pH antara 0 hingga 7, sedangkan air laut dan cairan pemutih
mempunyai sifat basa (yang juga di sebut sebagai alkaline) dengan nilai pH 7 14.
Air murni adalah netral atau mempunyai nilai pH 7.
Dalam sistem alami pH tanah dipengaruhi oleh mineralogi, iklim dan pelapukan.
Pengolahan tanah sering kali mengubah pH alami dari tanah akibat dari pupuk
nitrogen penghasil asam atau akibat pengambilan basa-basa kalium (K), kalsium
(Ca), dan magnesium (Mg). Tanah yang mengandung mineral penghasil sulfur dapat

menyebabkan kondisi tanah menjadi sangat asam apabila mineral tersebut terkena
udara bebas.
Larutan mempunyai pH 7 disebut netral, lebih kecil dari 7 disebut masam, dan lebih
besar dari 7 disebut alkalis. Reaksi tanah ini sangat menunjukkan tentang keadaan
atau status kimia tanah. Status kimia tanah mempengaruhi proses-proses biologik
(Hakim, dkk, 1986).
pH tanah sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh langsung berupa ion
hidrogen sedangkan pengaruh tidak langsung yaitu tersedianya unsur-unsur hara
tertentu dan adanya unsur beracun. Kisaran pH tanah mineral biasanya antara 3,5
10 atau lebih. Sebaliknya untuk tanah gembur, pH tanah dapat kurang dari 3,0.
Alkalis dapat menunjukkan pH lebih dari 3,6. Kebanyakan pH tanah toleran pada
yang ekstrim rendah atau tinggi, asalkan tanah mempunyai persediaan hara yang
cukup bagi pertumbuhan suatu tanaman (Sarwono, 2010).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pH tanah


Faktor-faktor yang mempengaruhi pH tanah adalah unsur-unsur yang terkandung
dalam tanah, konsentrasi ion H+ dan ion OH-, mineral tanah, air hujan dan bahan
induk, bahwa bahan induk tanah mempunyai pH yang bervariasi sesuai dengan
mineral penyusunnya dan asam nitrit yang secara alami merupakan komponen
renik dari air hujan juga merupakan faktor yang mempengaruhi pH tanah (Kemas,
2005), selain itu bahan organik dan tekstur. Bahan organik mempengaruhi besar
kecilnya daya serap tanah akan air. Semakin banyak air dalam tanah maka semakin
banyak reaksi pelepasan ion H+ sehingga tanah menjadi masam. Tekstur tanah liat
mempunyai koloid tanah yang dapat yang dapat melakukan kapasitas tukar kation
yang tinggi. tanah yang banyak mengandung kation dapat berdisiosiasi
menimbulkan reaksi masam.
Tanah masam dan penyebarannya
Tanah mineral masam banyak dijumpai di wilayah beriklim tropika basah, termasuk
Indonesia. Luas areal tanah bereaksi asam seperti podsolik, ultisol, oxisols dan
spodosol, masing-masing sekitar 47,5, 18,4, 5,0 dan 56,4 juta ha atau seluruhnya
sekitar 67% dari luas total tanah di Indonesia (Nursyamsi et al, 1996). Luasnya
tanah masam tersebut sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk
pengembangan usaha pertanian, tetapi sampai sekarang masih belum dapat
dimanfaatkan secara maksimal mengingat beberapa kendala yang terdapat pada
tanah masam.Tanah ordo lain yang bersifat masam adalah inseptisol dan entisol.
Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalarn tanah
tersebut. Bila kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan

bereaksi asam. Sebaliknya, bila kepekatan ion hidrogen terIalu rendah maka tanah
akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+.
Tanah masam adalah tanah dengan pH rendah karena kandungan H+ yang tinggi.
Pada tanah masam lahan kering banyak ditemukan ion Al3+ yang bersifat masam
karena dengan air ion tersebut dapat menghasilkan H+. Dalarn keadaan tertentu,
yaitu apabila tercapai kcjenuhan ion Al3+ tertentu, terdapat juga ion Alhidroksida ,dengan demikian dapat menimbulkan variasi kemasaman tanah
(Yulianti, 2007).
Di daerah rawa-tawa, tanah masam umumnya disebabkan oleh kandungan asam
sulfat yang tinggi. Di daerah ini sering ditemukan tanah sulfat masam karena
mengandung, lapisan cat clay yang menjadi sangat masarn bila rawa dikeringkan
akibat sulfida menjadi sulfat.
Kebanyakan partikel lempung berinteraksi dengan ion H+. Lempung jenuh hidrogen
mengalami dekomposisi spontan. Ion hidrogen menerobos lapisan oktahedral dan
menggantikan atom Al. Aluminium yang dilepaskan kemudian dijerap oleh kompleks
lempung dan suatu kompleks lempung-Al-H terbentuk dengan cepat ion. Al3+ dapat
terhidrolisis dan menghasilkan ion H.
Reaksi tersebut menyumbang pada peningkatan konsentrasi ion H+ dalam tanah.
Sumber keasaman atau yang berperan dalam menentukan keasaman pada tanah
gambut adalah pirit (senyawa sulfur) dan asam-asam organik. Tingkat keasaman
gambut mempunyai kisaran yang sangat lebar. Keasaman tanah gambut cendrung
semakin tinggi jika gambut semakin tebal. Asam-asam organik yang tanah gambut
terdiri dari atas asam humat, asam fulvat, dan asam humin. Pengaruh pirit yaitu
pada oksida pirit yang akan menimbulkan keasaman tanah hingga mencapai pH 2 3. Pada keadaan ini hampir tidak ada tanaman budidaya yang dapat tumbuh baik.
Selain menjadi penghambat pertumbuhan tanaman, pirit menyebabkan terjadinya
karatan (corrosion) sehingga mempercepat kerusakan alat-alat pertanian yang
terbuat dari logam.
Terdapat dua jenis reaksi tanah atau kemasaman tanah, yakni kemasaman (reaksi
tanah) aktif dan potensial. Reaksi tanah aktif ialah yang diukurnya konsentrasi
hidrogen yang terdapat bebas dalam larutan tanah. Reaksi tanah inilah yang diukur
pada pemakaiannya sehari-hari. Reaksi tanah potensial ialah banyaknya kadar
hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh kompleks koloid tanah maupun yang
terdapat dalam larutan (Hanafiah, 2007).

Ada 3 alasan utama nilai pH tanah sangat penting untuk diketahui :


1. Menentukan mudah tidaknya ion-ion unsur hara diserap oleh tanaman, pada
umumnya unsur hara mudah diserap oleh akar tanaman pada pH tanah netral 6-7,
karena pada pH tersebut sebagian besar unsur hara mudah larut dalam air.
2. pH tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi
tanaman. pada tanah asam banyak ditemukan unsur alumanium yang selain
bersifat racun juga mengikat phosphor, sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman.
Pada tanah asam unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga ditemukan
unsur mikro seperti Fe, Zn, Mn dan Cu dalam jumlah yang terlalu besar, akibatnya
juga menjadi racun bagi tanaman.
3. pH tanah sangat mempengaruhi perkembangan mikroorganisme di dalam tanah.
Pada pH 5.5 7 bakteri jamur pengurai organik dapat berkembang dengan baik
Tindakan pemupukan tidak akan efektif apabila pH tanah diluar batas optimal.
Pupuk yang telah ditebarkan tidak akan mampu diserap tanaman dalam jumlah
yang diharapkan, karenanya pH tanah sangat penting untuk diketahui jika efisiensi
pemupukan ingin dicapai. Pemilihan jenis pupuk tanpa mempertimbangkan pH
tanah juga dapat memperburuk pH tanah.

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi optimal dari tanaman adalah
pH tanah. Reaksi tanah yang dinyatakan dengan pH menunjukkan sifat kemasaman atau
konsentrasi ion H+ dan ion OH- dalam tanah. pH yang dibutuhkan oleh tanaman adalah pH yang
sesuai dengan keadaan anatomi dan fisiologis daripada tanaman tersebut, oleh sebab itu pH perlu
diubah agar sesuai kebutuhan tanaman. Namun usaha ini tidak mudah sebab ada penghambat
yang disebut Buffer (sanggahan), yang merupakan suatu sifat umum dari campuran asam-basa
dan garamnya.
pH tanah sangat penting bagi tanaman dalam menentukan mudah tidaknya unsur-unsur
hara diserap oleh tanaman, hal ini menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun yang
dapat mempengaruhi aktivitas organisme. Tanah-tanah masam umumnya dijumpai pada daerah
beriklim basah. Dalam tanah tersebut konsentrasi ion H+ melebihi konsentrasi ion OH-. Tanah ini
mengandung Al, Fe, dan Mn terlarut dalam jumlah besar. Akibatnya, reaksi basa dengan
tanahnya hanya mengandung sedikit Al, Fe, dan Mn yang terlarut.
Penentuan pH dapat ditentukan baik dilapangan atau di Laboratorium. Hal ini perlu
diketahui karena pH tanah merupakan gambaran diagnosis dari nilai yang khusus. Reaksi tanah
yang penting karena dengan mengetahui pH maka dapat pula diketahui apa yang akan diberikan
pada atanaman, baik pupuk maupun bahan organik lainnya serta jumlah kadar air untuk
pertumbuhan tanaman.
Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukan praktikum reaksi tanah untuk mengetahui
tingkat kemasaman tanah yang berkaitan erat dengan pH tanah yang sangat penting bagi
pertumbuhan tanaman.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum pH tanah adalah untuk mengetahui nilai pH dan tingkat kemasaman tanah
disetiap lapisan pada tanah Ultisol dengan menggunakan kertas pH.
Kegunaan praktikum pH tanah adalah sebagai bahan informasi untuk mengetahui nilai
pH pada setiap lapisan tanah dan juga bagaimana mengatasi tanah yang memiliki pH rendah dan
pH tinggi.
II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Reaksi Tanah


Reaksi tanah adalah salah satu sifat kimia tanah yang melingkupi berbagai unsur-unsur dan
senyawa-senyawa kimia yang lengkap. Reaksi tanah menunjukkan tentang status atau keadaan

kimia yang terkandung di dalam tanah dan merupakan faktor yang mempengaruhi proses-proses
biologis pada pertumbuhan tanaman. Bila keadaan kimia tanah dalam proses biologis yang
terganggu maka biasanya ditunjukkan dengan reaksi atau pH yang ekstrim (Pairunan dkk, 1985).
Sumber kemasaman tanah dalam kandungan bahan-bahan organik dan anorganik.
Ionisasi asam menghasilkan ion H+yang bebas dalam larutan tanah. Sumber lain dari kemasaman
tanah adalah H+dan Al3+ yang dapat ditukar dengan koloid tanah. Kemampuan suatu tanah dalam
mempertahankan pH dari perubahan karena terjadinya penambahan Alkalisatau masam biasa
dinamakan sebagai daya sanggah pada tanah (Hadjowigeno, 1987).
Kemasaman suatu tanah ditentukan oleh dinamika ion H+ yang terdapat di dalam tanah
dan berada pada kesetimbangan dengan ion H+yang terjerap. Kemasaman tanah merupakan
suatu sifat yang penting sebab terdapat hubungan antara pH dengan ketersediaan unsur hara dan
juga terdapatnya hubungan antara pH tanah dengan proses pertumbuhan (Foth, 1989).
Kisaran suatu pH yang terdapat dalam tanah dapat dibatasi dengan dua elekstin. Kisaran
pH untuk tanah mineral biasanya terdapat diantara 3,5 10,0. kebanyakan toleransi tanah pada
pH yang ekstrim atau tinggi, asalkan dalam tanah tersebut tersedia banyak unsur-unsur hara yang
cukup untuk kesuburan tanah sehingga kadar untuk kemasaman tadi dapat seimbang (Hakim,
1985).
Kemasaman atau pH tanah yang tinggi biasanya mengakibatkan terjadinya kerusakan
atau terhambatnya pertumbuhan akar pada tanaman. Pengaruh tidak langsung ketidakstabilan
pada pH tanah, mengakibatkan keracunan pada tanaman (Hakim, 1985).
Tanah yang terlalu masam, dapat dinaikkan pH-nya dengan menambahkan kapur ke
dalam tanah, sedangkan pH tanah yang terlalu alkalis atau mempunyai nilai pH yang tinggi dapat
diturunkan dengan cara menambahkan belerang atau dengan cara pemupukan pada tanah
(Hadjowigeno, 1987).

PERMEABILITAS TANAH
April 7, 2011 / nabilussalam

PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Permeabilitas adalah tanah yang dapat menunjukkan kemampuan tanah meloloskan air. Tanah
dengan permeabilitas tinggi dapat menaikkan laju infiltrasi sehingga menurunkan laju air larian.
Pada ilmu tanah, permeabilitas didefenisikan secara kualitatif sebagai pengurangan gas-gas,
cairan-cairan atau penetrasi akar tanaman atau lewat. Selain itu permeabilitas juga merupakan
pengukuran hantaran hidraulik tanah.hantaran hidraulik tanah timbul adanya pori kapiler yang
saling bersambungan dengan satu dengan yang lain. Secara kuantitatif hantaran hidraulik jenuh
dapat di artikan sebagai kecepatan bergeraknya suatu cairan pada media berpori dalam keadaan
jenuh. Dalam hal ini sebagai cairan adalah air dan sebagai media pori adalah tanah. Penetapan
hantaran hidraulik didasarkan pada hukum Darcy. Dalam hukum ini tanah dianggap sebagai
kelompok tabung kapiler halus dan lurus dengan jari-jari yang seragam. Sehingga gerakan air
dalam tabung tersebut di anggap mempunyai kecepatan yang sama.

2. TUJUAN

Mempelajari tentang permeabilitas tanah

Agar kita mengerti untuk arti permeabilitas

Mengetahui hal yang mempengaruhi permeabilitas

Mengetahui hal yang dipengaruhi permeabilitas

Mengetahui penrtian dari permeabilitas.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Permeabilitas
a. Permeabilitas tanah adalah suatu kesatuan yang melipui infiltrasi tanah dan bermanfaat
sebagai permudahan dalam pengolahan tanah.
(Dede rohmat, 2009)
b. Permeabilitas tanah memiliki lapisan atas dan bawah. Lapisan atas berkisar antara lambat
sampai agak cepat (0,20 9,46 cm jam-1), sedangkan di lapisan bawah tergolong agak lambat
sampai sedang (1,10 -3,62 cm jam-1).
( N.Suharta dan B. H Prasetyo.2008)
2.2. Faktor yang mempengaruhi permeabilitas
a.
Tekstur, tekstur sangat mempengaruhi permeabilitas tanah. Hal ini dikarenakan
permeabilitas itu adalah melewati tekstur tanah. Misalnya tanah yang bertekstur pasir akan
mudah melewatkan air dalam tanah
b.

Struktur

Struktur juga mempengaruhi permebilitas. Semakin banyak ruang antar struktur, maka semakin
cepat juga permeabilitas dalam tanah tersebut. Misalnya tanah yang berstruktur lempeng akan
sulit di tembus oleh air daru pada berstruktur remah
c.

Porositas

Porositas atau ruang pori adalah rongga antar tanah yang biasanya diisi air atau udara. Pori
sangat menentukan sekali dalam permeabilitas tanah, semakin besar pori dalam tanah tersebut,
maka semakin cepat pula permeabilitas tanah tersebut
d.

Viskositas

Viskositas sama juga dengan kekentalan air, semakin kental air tersebut, maka semakin sulit juga
air untuk menembuas tanah tersebut
e.

Gravitasi

Gaya gravitasi atau gaya tarik bumi juga sangat menentukan permeabilitas tanah, karena
permeabilitas adalah gaya yang masuk ke tanah menrut gaya gravitasi
(praktikum, 2010)

2.3. Faktor yang dipengaruhi permeabilitas


a.

Drainase

Apabila permeabilitas tanah baik, maka waktu dalam pergerakan air akan semakin cepat, begitu
pula sebaliknya
b.

Infiltrasi

Penyerapan yang dilakukan tanah akan semakin cepat apabila drainase tanah itu baik
c.

Pengolahan

Apa bila drainase dalam tanah tersebut baik, maka pengolahan dalam tanah akan semakin mudah
d.

Perkolasi

Pergerakan air dalam tanah akan baik bila drainase dalam tanah juga baik
e.

Erosi

Pengikisan juga dipengaruhi oleh permebilitas, semakin baik permeabilitas dalam tanah, maka
erosi akan minimum
f.

Evaporasi

Evaporasi akan semakin maksimal jika permeabilitas tanah tersebut baik


(praktikum, 2010)