Anda di halaman 1dari 13

ANATOMI SERANGGA

Oleh :
Nama

: Moch Iqbal Sufyan A

NIM

: B1J013025

Rombongan `

: II

Kelompok

:4

Asisten

: Rahmah Puji Astuti

LAPORAN PRAKTIKUM ENTOMOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Serangga merupakan golongan hewan yang dominan di muka bumi
sekarang ini. Kelompok insekta disebut juga heksapoda (kakinya berjumlah enam)
merupakan kelas yang terbesar di dalam filum artropoda. Memiliki anggota
mencapai kurang lebih 80% atau 675.000 spesis dari kehidupan hewan yang
terbesar di seluruh penjuru dunia, yang penyebarannya sangat meluas dengan
jumlah anggota paling besar di alam. Habitatnya di darat, air tawar, tanah/lumpur
dan di dalam tumbuh- tumbuhan. Ilmu yang khusus mempelajari tentang serangga
disebut dengan entomologi (Djarubito, 1993).
Pengetahuan tentang anatomi serangga penting untuk mengetahui
bagaimana serangga hidup dan dibedakan antara serangga yang satu dengan yang
lainnya dan dengan hewan yang lainnya. Untuk mempelajari anatomi serangga
sering digunakan anatomi belalang (Orthoptera)

karena anatomi belalang

merupakan anatomi dasar. Secara umum anatomi belalang memiliki karakter yang
dapat mewakili anatomi umum seekor serangga. Tubuh belalang dapat dibedakan
menjadi kepala, dada, dan abdomen. Belalang memiliki dua pasang sayap, tiga
pasang kaki, dan sepasang antena. Cici- ciri tersebut merupakan anatomi umum
yang membedakan seekor serangga dengan hewan lainnya (Ibrahim, 2012).
Serangga hampir makan segala macam makanan dan mereka makan dalam
banyak cara yang berbeda-beda. Beberapa jenis serangga makan tumbuhan, secara
praktis tiap-tiap macam-macam tumbuhan (di darat atau dalam air tawar) dimakan
oleh berbagai jenis serangga. Serangga pemakan tumbuhan makan hampir setiap
bagian tumbuhan seperti ulat, kumbang daun, dan kutu lon cat makan daun, aphid
makan batang, lundi- lundi putih makan akar, kumbang moncong panjang tertentu
dan larva ngengat makan buah- buahan, dan sebagainya. Serangga-serangga ini
dapat makan bagian luar tumbuh- tumbuhan, atau mereka dapat menggali lubang
masuk dalam tumbuhan. Selain pemakan tumbuhan ada juga serangga yang
bersifat karnivor, makan hewan- hewan lain, beberapa adalah pemangsa, dan
sejumlah serangga adalah parasit (Aderisandi, 2012).

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah dapat menjelaskan sistem-sistem
yang menyusun anatomi serangga dan menunjukan organ-organ yang
menyusun sistem pencernaan makanan serangga.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Anatomi internal serangga terdiri beberapa sistem organ
yang kompleks, yaitu sistem pencernaan, sistem pernapasan,
sistem sirkulasi, sistem pengeluaran zat, dan sistem saraf (Jumar,
2000).
a. Sistem pernapasan
Insekta bernapas dengan sistem trakea yang berupa
tabung bercabang yang dilapisi kitin. Oksigen masuk secara
langsung dari trakea ke sel-sel tubuh. Sistem trakea membuka ke
bagian luar tubuh melalui spirakel, yaitu pori-pori yang dapat
membuka dan menutup untuk mengatur aliran udara dan
membatasi hilangnya air.
Gas pernapasan masuk dan keluar tubuh melalui katup
spiracular, gas diangkut melalui tabung trakea berisi udara yang
bercabang-cabang ke seluruh tubuh, dan difusi terjadi secara
langsung ke dan dari jaringan. Meskipun pola dasar ini ada
hampir disemua serangga, namun terdapat variasi yang luar
biasa ada di trakea morfologi dan dinamika pernapasan. Secara
anatomis, variasi terwujud dalam fitur seperti jumlah ventilator
dan lokasi; ukuran trakea, bentuk, ketebalan dinding, dan pola
percabangan; kepadatan tracheoles; dan ada atau tidak adanya
kantung udara (Socha et al., 2010).
b. Sistem sirkulasi
Sistem sirkulasi insekta berupa sistem sirkulasi terbuka
dengan

organ

mempompa

sebuah

jantung

pembuluh

yang

berfungsi

hemolimfa

melalui

sinus

homesoel

kemudian

menyuplai organ-organ dan jaringan-jaringan. Fungsi darah yang


utama pada serangga adalah

menghantarkan nutrien, sisa

merabolisme dan hormon.


c. Sistem pengeluaran zat (ekskresi)

Sistem pengeluaran insekta berupa tubulus malphigi yang


melekat pada bagian posterior saluran pencernaan.
d. Sistem saraf
Berfungsi untuk menghasilkan dan mengalirkan implus
elektrik,

mengintegrasikan

informasi

yang

diterima

dan

menstimulasi otot untuk pergerakan. Sistem ini dibagi menjadi


dua yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf visceral atau
sistem saraf stomodial.
e. Organ Indera
Organ

indera

serangga

meliputi

organ

fotoreseptor,

kemoreseptor dan mekanoreseptor.


f. Sistem pencernaan serangga
Sistem

pencernaan

serangga

sesuai

dengan

cara

berasal

dari

hidupnya, dibagi dalam 3 daerah utama yaitu :


1. Usus

depan

(foregut)

ektodermal. Daerah

atau

stomodaeum

ini dibagi menjadi pharing, oesophagus,

crop, dan proventrikulus.


2. Usus tengah (midgut)

atau

mesenteron

berasal

dari

endodermal. Derah ini hanya meliputi ventrikulus.


3. Usus belakang (hingut) berasal dari ektodermal. Daerah ini
terdiri dari ileum, rektum dan anus.
g. Sistem reproduksi
Sebagian besar serangga bersifat dioesious yaitu memiliki
individu

jantan

dan

betina

yang

mampu

kawin

untuk

menghasikan zigot. Namun dalam kasus yang tidak umum


terdapat juga beberapa jenis serangga yang bereproduksi tanpa
gamet jantan. Bentuk reproduksi aseksual dikenal sebagai
partenogenesis (Jumar, 2000).

III. MATERI DAN METODE


A. Materi
1.1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum anatomi serangga antara lain
pinset, gunting, jarum pentul, kapas, botol dan sterofoam.
1.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum anatomi serangga yaitu lalat
belalang kayu (Valanga nigricornis), kloroform dan alkohol 70%.
B. Metode
Alat dan bahan dipersiapkan

Serangga dimatikan dengan cara


memasukkan serangga ke dalam botol
yang berisi kloroform

Serangga yang telah mati dicelupkan


alkohol 70% lalu diangkat

Serangga diletakkan di atas papan


bedah/sterofom, kemudian dibedah
pada bagian ventral dan diamati
saluran pencernaannya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Gambar 4.1. Saluran Pencernaan Makanan Pada Belalang Kayu (Valanga


nigricornis)

B. Pembahasan
Sistem yang menyusun anatomi internal serangga diantaranya sistem
respirasi, sirkulasi, saraf dan pencernaan, tapi hanya sedikit kemiripan dengan
sistem yang ada pada mamalia. Sistem peredaran darah terdiri dari jantung pusat,
vena dan arteri yang mengsirkulasikan darah dan transpor oksigen. Sistem
Sirkulasi mempunyai sistem peredaran terbuka yang tidak dilengkapi dengan
kapiler. Serangga hanya memiliki sedikit sistem saraf pusat dibanding manusia.
Sumbu saraf ada sepanjang bagian ventral serangga. Otak dibagi menjadi dua
bagian lobus besar area kontrol utama seperti mata, antena dan bagian mulut.
Bagian yang lain terkonsentrasi pada ganglion yang terdapat sepanjang sumbu
saraf dan biasanya mengatur fungsi organ tubuh yang lain. Sistem respiratori
terdiri atas kantung udara dan saluran yang disebut trachea. Sistem ekskresi terdiri
atas tubulus malpighi. Sistem pencernaaan dibagi menjadi 3 bagian disebut
foregut, midgut, and hind gut pada beberapa serangga seperti lebah madu, foregut
bekerja seperti pemotong untuk membawa atau memegang liquid yang dihasilkan
(Hadi, 2009).
Sistem-sistem pencernaan serangga menunjukkan variasi yang besar.
Saluran pencernaan adalah suatu buluh, biasanya berkelok, yang memanjang dari
mulut sampai anus. Sistem percernaan ini sangat beragam tergantung macammacam makanan yang dimakan. Kebiasaan-kebiasaan makan bahkan mungkin
sangat beragam pada satu jenis tunggal. Larva dan serangga dewasa biasanya
mempunyai kebiasaan makan yang sama sekali berbeda dan hal ini tentu akan
menyebabkan perbedaan dalam sistem-sistem pencernaan. Saluran pencernaan
pada serangga dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu saluran pencernaan depan
(Stomodeum), saluran pencernaan tengah (Mesenteron), dan saluran pencernaan
belakang (Proktodeum). Saluran-saluran pencernaan tersebut berasal dari turunan
yang berbeda, saluran pencernaan depan dan belakang berasal dari jaringan
ektodermal dan saluran pencernaan tengah berasal dari jaringan endodermal
(Sugir, 1973).
Pada banyak serangga bagian-bagian utama ini terbagi menjadi bagian lain
dengan berbagai fungsi yaitu faring, esofagus, krop dan proventrikulus pada
saluran pencernaan bagian depan, ventrikulus pada bagian pencernaan tengah, dan

pirolus, illeum serta rektum pada pencernaan bagian belakang. Beberapa sistem
yang mendukung fungsi sistem pencernaan adalah sistem syaraf pusat, sistem
syaraf stomatogastik, sistem endokrin dan sistem pernapasan (Jumar, 2000).
a. Saluran Pencernaan Depan
Saluran pencernaan depan berasal dari jaringan ektodermal maka saluran
pencernaan bagian depan dilapisi kutikula yang disebut intima, yang
dilepaskansetiap pergantian kulit. Saluran pencernaan depan lebih berfungsi
sebagai penyimpan makanan dan sedikit melakukan pencernaan.

Pencernaan

pada tempat ini disebabkan masih adanya enzim-enzim yang terbawa dari mulut.
Saluran pencernaan depan tersusun dari (Jumar, 2000):
1. Otot-otot yang memanjang (longitudinal)
2. Otot-otot melingkar (circular)
3. Sel-sel ephitelium yang pipih
4. Sel-sel yang bersifat impermiable
Akibat pergerakan otot-otot melingkar dan longitudinal menyebabkan
makanan dapat bergerak ke saluran tengah. Saluran pencernaan depan terdiri dari
beberapa bagian dan fungsi masing-masing. Rongga mulut sebagai masuknya
makanan. Faring (kerongkongan) merupakan bagian pertama sesudah rongga
mulut yang berfungsi sebagai penerus makanan ke oesophagus. Otot-otot yang
menempel pada faring berkembang dengan baik, hal ini sesuai dengan perannya
yang mendorong makanan dari mulut ke oesophagus. Pada serangga dengan tipe
menusuk dan mengisap pada faring terdapat pompa faringeal yang dipakai untuk
mengambil cairan. Oesophagus adalah bagian usus depan yang tidak
berdiferensiasi yang berfungsi mendorong makanan dari faring ke tembolok.
Tembolok merupakan pembesaran usus bagian depan yang berfungsi sebagai
penyimpan makanan, bila tembolok kosong akan melipat secara longitudinal dan
tranversal tetapi pada Periplanata (Dictyoptera) tembolok hanya mengalami
perubahan kecil pada volumenya karena apabila tembolok tidak berisi makanan,
tembolok tersebut diisi oleh udara (Hadi, 2009).
Proventrikulus, bagian ini mengalami modifikasi yang beraneka ragam
pada berbagai serangga. Pada serangga pemakan bahan padat, proventrikulus
berfungsi sebagai pemecah makanan, sedangkan pada serangga pemakan cairan
proventrikulus termodifikasi menjadi katup. Pada lipas dan jangkrik, intima di

dalam proventrikulus berkembang menjadi enam keping otot yang keras atau
geligi yang berfungsi untuk memecah makanan. Proventrikulus secara
keseluruhan mengontrol jalannya makanan dari stomadeum ke mesenteron (Hadi,
2009).
b.

Saluran Pencernaan Tengah


Saluran pencernaan bagian tengah berfungsi sebagai pencerna dan

penyerap makanan. Saluran ini berasal dari mesodermal sehingga saluran ini
tidak memiliki kutikula dan sebagai gantinya adalah lapisan peritropik yang halus.
Otot-otot pada saluran ini berkembang.

Menurut chapman (1982) saluran

pencernaan ini disususn oleh otot longitudinal, otot melingkar, sel-sel epityelium
yang berbentuk kolumnar, sel-sel regeneratif (penghasil enzim), dan membran
peritropik
Pergerakan makanan ke saluran belakang pada saluran ini lebih
disebabkan oleh membran peritropik. Membran peritropik adalah suatu lapisan
yang meliputi lumen untuk melindungi sel-sel kolumnar yang berada di bawahnya
dari makanan dan mikroba. Membran peritropik terdiri atas khitin dan protein.
Ada dua pendapat mengenai terjadinya membran tersebut, pendapat pertama
mengatakan bahwa lapisan dihasilkan oleh bagian depan saluran pencernaan
tengah, sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa lapisan dihasilkan oleh selsel kolumnar sendiri. Lumen memiliki mikropili yang merupakan tonjolantonjolan pada sel yang dapat membentuk started border (Chapman, 1982).
Mikropili ini juga berfungsi memperbesar luas permukaan penyerapan.
Pada sel-sel ini terdapat banyak mitokondria sebagai penghasil energi (ATP)
untuk pergerakan makanan.

Pada sel ini juga terdapat banyak retikulum

endoplasma sebagai tempat sintesis protein untuk menghasilkan enzim-enzim


pencernaan. Pada sel epitelium yang kolumnar ditemukan sel Goblet.

Pada

selaput dasar memiliki banayak lekukan-lekukan dan disana banyak terdapat


mitokondria yang panjang-panjang sehingga hal tersebut menjadi pembeda
dengan sel-sel lain. Saluran pencernaan tengah terdiri dari grastrik kaekum dan
ventrikulus, tempat terjadinya pencernaan secara enzimatis dan absorbsi nutrisi
(Ibrahim, 2012).
c. Saluran Pencernaan Belakang

Saluran pencernaan belakang berfungsi sebagai tempat pengeluaran sisasisa makanan yang tidak terserap dan memaksimalisasi penyerapan sisa makanan
yang tidak terserap pada saat di mesenteron. Saluran pencernaan belakang ini
berasal dari jaringan ektodermal sehingga saluran ini memiliki kutikula yang
disebut intima. Pada saluran inilah sifat hemoestasis serangga terdapat. Saluran
pencernaan belakang tersusun atas otot melingkar, otot longitudinal, sel-sel epitel
tipis yang berbentuk kubus, intima yang bersifat permiabel (Jumar, 2000).
Otot-otot pada saluran ini lebih berkembang sehingga dapat menyebabkan
sisa makanan dapat bergerak ke belakang dan keluar melalui anus.

Saluran

pencernaan belakang ini terdiri dari (Chapman, 1982):


1.
2.

Pilorus, bagian depan dari saluran ini tempat berpangkalnya tabung malphigi.
Illeum, berfungsi sebagai penyerapan air dari hemolimf atau juga penyerapan
amonia pada serangga. Pada rayap di illeum ini terdapat kantung-kantung

3.

tempat organisme lain bersimbiosis.


Rektum, berfungsi sebagai reabsorbsi air, asam amino dan pada serangga tertentu
memiliki insang trakea. Pada rektum ini terjadi diferensiasi sel-sel, ada yang

4.

memanjang dan ada yang membentuk bantalan.


Anus, bagian ujung saluran sebagai tempat keluarnya feses.
Terdapat beberapa jenis kelenjer yang dapat beradsosiasi dengan sistem
pencernaan diantaranya adalah kelenjer mandibel, kelenjar maksila, kelenjar
faring dan kelenjar labium. Siste penceranaan serangga untuk lebih mudah dapat
diamati secara langsung pada preparat yang digunakan saat praktikum yaitu
belalang kayu (Valangan nigricornis). Klasifikasi Belalang kayu adalah sebagai
berikut (Jumar, 2000):
Pylum

: Arthopoda

Sub Filum : Mandibulata


Klas

: Insect

Ordo

: Ortytoptera

Family

: Acridiae

Genus

: Valanga

Spesies

: Valangga nigricornis

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat ditari kesimpulan sebagai
berikut:
1. Anatomi internal serangga terdiri beberapa sistem organ
yaitu

sistem

pencernaan,

sistem

pernapasan,

sistem

sirkulasi, sistem pengeluaran zat, dan sistem saraf.


2. Saluran pencernaan serangga tersusun atas beberapa organ yaitu faring,
esofagus, krop dan proventrikulus pada saluran pencernaan bagian depan,
ventrikulus pada bagian pencernaan tengah, dan pirolus,

illeum serta

rektum pada pencernaan bagian belakang.


B. Saran
Sebaiknya dilakukan pengamatan atau identifikasi secara langsung
terhadap preparat uji yang telah dibeedah, agar praktikan lebih paham saluran
penceranaan belalang.

DAFTAR REFERENSI
Aderisandi, 2012. Metamorfosis Belalang. Jakarta: Depkes RI.
Chapman, R. F. 1982. The Insects Structure and Function. Ed Ke-3.
Cambrige: Harvard Univ Pr.
Djarubito, M. B. 1993. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Hadi, M. 2009. Biologi Isecta Entomologi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Ibrahim, G. 2012. Anatomi belalang. Medan: USU Press.
Jumar, 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta: Rineka Cipta.
Socha, J. J., Frsterb, T. D., & Greenleec, K. J. 2010. Issues of convection in insect
respiration: Insights from synchrotron X-ray imaging and beyond. J.J. Socha
et al./ Respiratory Physiology & Neurobiology, 173S: 65-73.
Sugir, N. 1973. Zoologi Umum. Erlangga: Jakarta.