Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu penyebab tingginya kematian ibu dan bayi adalah distosia bahu
saat proses persalinan. Distosia bahu adalah suatu keadaan diperlukannya
manuver obstetrik oleh karena dengan tarikan ke arah belakang kepala bayi tidak
berhasil untuk melahirkan kepala bayi. Pada persalinan dengan presentasi kepala,
setelah kepala lahir bahu tidak dapat dilahirkan dengan cara pertolongan biasa
dan tidak didapatkan sebab lain dari kesulitan tersebut. Insidensi distosia bahu
sebesar

0,2-0,3%

dari

seluruh

persalinan

vaginal

presentasi

kepala

(Prawirohardjo, 2009).
Menurut WHO (World Health Organization), sebanyak 99% kematian ibu
akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di Negara-negara berkembang.
Rasio kematian ibu di Negara-negara berkembang merupakan yang tertinggi
dengan 450 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup jika dibandingkan dengan
rasio kematian ibu di Sembilan Negara maju dan 51 negara persemakmuran.
Menurut WHO, 81% AKI akibat komplikasi selama hamil dan bersalin dan 25%
selama masa postpartum (Bahiyatun, 2012).
Angka kematian ibu bersalin dan angka kematian perinatal umumya dapat
digunakan sebagai petunjuk untuk menilai kemampuan penyelenggaraan
pelayanan kesehatan suatu bangsa. Selain itu, angka kematian ibu dan bayi di
suatu negara mencerminkan tingginya resiko kehamilan dan persalinan.
Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007,
1

AKI di Indonesia mencapai 228/100.000 kelahiran hidup dan angka kematian


bayi sebesar 34/1000 kelahiran hidup umumnya kematian terjadi pada saat
melahirkan. Namun hasil SDKI 2012 tercatat, angka kematian ibu melahirkan
sudah mulai turun perlahan bahwa tercatat sebesar 102 per seratus ribu kelahiran
hidup dan angka kematian bayi sebesar 23 per seribu kelahiran hidup.
Komplikasi yang bisa terjadi, yaitu tingginya angka kematian ibu dan
besarnnya resiko akibat distosia bahu pada saat persalinan maka fokus utama
asuhan persalinan normal adalah mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini
merupakan suatu pergeseran paradigma dari sikap menunggu dan menangani
komplikasi, menjadi mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. Pencegahan
komplikasi selama persalinan dan setelah bayi lahir akan mengurangi kesakitan
dan kematian ibu serta bayi baru lahir (Depkes, 2010).
Sebagai tenaga kesehatan khususnya bidan yang dapat dilakukan adalah
mengupayakan agar setiap persalinan ditolong atau minimal didampingi oleh
bidan dan pelayanan obstetrik sedekat mungkin pada ibu hamil, sehingga
komplikasi dapat terdeteksi lebih dini dan dapat ditangani sesegera mungkin.
Berdasarkan prasurvey yang dilakukan pada bulan Februari 2015, dari
total bidan yakni 24 orang yang bertugas pada ruang Kebidanan Rumah Sakit
Santa Anna menunjukan dari 6 orang bidan yang melakukan asuhan kebidanan
tujuh langkah varney tentang penanganan distosia bahu yaitu analisis data (75%),
masalah aktual (64,5%), masalah potensial (86,5%), kebutuhan segera/ kolaborasi
(70%), rencana asuhan (64,5%), pelaksanaan (64,5%), dan evaluasi (64,5%).

Berdasarkan angka kejadian dan besarnya peran bidan dalam penanganan


komplikasi distosia bahu, maka penulis mengambil judul Penatalaksanan
Asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan distosia bahu di RSU Santa Anna
Kendari tahun 2015. Diharapkan dengan pelaksanan asuhan kebidanan
komprehensif dapat meningkatkan peran fungsi bidan dalam menurunkan angka
kematian ibu dan bayi yang disebabkan oleh distosia bahu dengan upaya
mencegah (preventif), mendeteksi dini komplikasi hingga menangani komplikasi
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
B. Perumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang di atas maka identifikasi rumusan
study kasus ini adalah :
2.1 Bagaimana gambaran asuhan kebidanan tahap pengkajian dan analisa data pada
ibu bersalin dengan distosia bahu di RSU Santa Anna Kendari tahun 2015 ?
2.2 Bagaimana gambaran asuhan kebidanan tahap menginterpretasikan data pada ibu
bersalin dengan distosia bahu di RSU Santa Anna Kendari tahun 2015 ?
2.3 Bagaimana gambaran asuhan kebidanan tahap menemukan diagnosa potensial
yang dapat terjadi pada ibu bersalin dengan distosia bahu di RSU Santa Anna
Kendari tahun 2015 ?
2.4 Bagaimana gambaran asuhan kebidanan tahap melakukan tindakan segera pada
ibu bersalin dengan distosia bahu di RSU Santa Anna Kendari tahun 2015 ?

2.5 Bagaimana

gambaran

asuhan

kebidanan

tahap

merencanakan

tindakan

menyeluruh sesuai dengan kondisi pada ibu bersalin dengan distosia bahu di RSU
Santa Anna Kendari tahun 2015 ?
2.6 Bagaimana gambaran asuhan kebidanan tahap melaksanakan tindakan pada ibu
bersalin dengan distosia bahu di RSU Santa Anna Kendari tahun 2015 ?
2.7 Bagaimana gambaran asuhan kebidanan tahap melakukan evaluasi terhadap
tindakan kebidanan pada ibu bersalin dengan distosia bahu di RSU Santa Anna
Kendari tahun 2015 ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahu gambaran Penatalaksanan Asuhan kebidanan pada ibu
bersalin dengan distosia bahu di RSU Santa Anna Kendari tahun 2015
2. Tujuan Khusus
2.1 Untuk mengetahui gambaran asuhan kebidanan tahap pengkajian dan analisa data
pada ibu bersalin dengan distosia bahu di RSU Santa Anna Kendari tahun 2015
2.2 Untuk mengetahui gambaran asuhan kebidanan tahap menginterpretasikan data
pada ibu bersalin dengan distosia bahu di RSU Santa Anna Kendari tahun 2015
2.3 Untuk mengetahui gambaran asuhan kebidanan tahap menemukan diagnosa
potensial yang dapat terjadi pada ibu bersalin dengan distosia bahu di RSU Santa
Anna Kendari tahun 2015
2.4 Untuk mengetahui gambaran asuhan kebidanan tahap melakukan tindakan segera
pada ibu bersalin dengan distosia bahu di RSU Santa Anna Kendari tahun 2015
4

2.5 Untuk mengetahui gambaran asuhan kebidanan tahap merencanakan tindakan


menyeluruh sesuai dengan kondisi pada ibu bersalin dengan distosia bahu di RSU
Santa Anna Kendari tahun 2015
2.6 Untuk mengetahui gambaran asuhan kebidanan tahap melaksanakan tindakan pada
ibu bersalin dengan distosia bahu di RSU Santa Anna Kendari tahun 2015
2.7 Untuk mengetahui gambaran asuhan kebidanan tahap melakukan evaluasi
terhadap tindakan kebidanan pada ibu bersalin dengan distosia bahu di RSU Santa
Anna Kendari tahun 2015
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis
Proposal ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan yang didapat
selama perkuliahan serta dapat mengaplikasikan dalam penanganan kasus
persalinan dengan distosia bahu.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Proposal ini diharapkan mampu menjadikan acuan dan berguna untuk
memberikan informasi, pengetahuan dan ilmu baru bagi kemajuan di bidang
kesehatan sebagai bahan referensi guna pengembangan ilmu pengetahuan.
3. Bagi Lahan Praktek
Proposal ini diharapkan dapat dijadikan gambaran informasi serta bahan
untuk meningkatkan manajemen kebidanan yang diterapkan oleh lahan praktek.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori Medis


1. Tinjauan Tentang Persalinan
1.1 Pengertian persalinan
Persalinan adalah proses pergerakan keluar janin, plasenta dan membran
dari dalam rahim melalui jalan lahir. Berbagai perubahan terjadi pada sistem
reproduksi wanita dalam hitungan hari dan minggu sebelum persalinan dimulai
(Bobak, Lowdermild, Jensen 2011).
Persalinan merupakan suatu proses alami yang ditandai oleh terbukanya
serviks, diikuti dengan lahirnya bayi dan plasenta melalui jalan lahir. Penolong
persalinan perlu memantau keadaan ibu dan janin untuk mewaspadai secara dini
terjadinya komplikasi. Disamping itu, penolong persalinan juga berkewajiban
untuk memberikan dukungan moril dan rasa nyaman kepada ibu yang sedang
bersalin (DepKes RI, 2011).
1.2 Tanda-tanda persalinan normal
1.2.1

Perut mules secara teratur

1.2.2

Mulesnya sering dan lama

1.2.3

Keluarnya lendir bercampur darah dari jalan lahir

1.2.4

Keluarnya air ketuban dari jalan lahir

1.3 Tanda-tanda persalinan patologi


1.3.1

Perdarahan lewat jalan lahir

1.3.2

Tali pusat atau tangan bayi keluar dari jalan lahir

1.3.3

Ibu tidak kuat untuk mengejan

1.3.4

Ibu mengalami kejang

1.3.5

Air ketuban keluar dan berbau

1.3.6

Ibu gelisah

1.3.7

Ibu merasakan sakit yang hebat

1.4 Mekanisme persalinan


Proses persalinan, menurut (Varney et al, 2011) terdiri dari 3 tingkatan
atau 3 kala sebagai berikut yaitu :
1.4.1

Kala I
Kala I persalinan merupakan permulaan kontraksi persalinan sejati
yang ditandai oleh perubahan serviks yang progresif dan diakhiri dengan
pembukaan lengkap (10 cm) pada primigravida kala I berlangsung kira-kira 13
jam, sedangkan pada multigravida kira-kira 7 jam. Kala satu dibagi menjadi
dua fase yaitu laten dan aktif.

1.4.1.1.Fase laten yaitu adalah periode waktu dari awal persalinan hingga ke titik
ketika pembukaan mulai berjalan secara progresif yang umumnya dimulai
sejak kontraksi mulai muncul hingga pembukaan 3-4 cm atau permulaan fase
aktif berlangsung dalam 7-8 jam. Selama fase laten berlangsung bagian
presentasi mengalami penurunan sedikit hingga tidak sama sekali. Kontraksi
7

terjadi lebih stabil selama fase laten seiring dengan peningkatan frekuensi,
durasi dan intensitas dari setiap 10 menit sampai 20 menit, berlangsung 15
detik sampai 20 detik, dengan intensitas ringan.
1.4.1.2.Fase aktif adalah periode waktu dari awal kemajuan aktif pembukaan hingga
pembukaan menjadi komplit dan mencakup fase transisi. Pembukaan
umumnya dimulai dari 3-4 cm (atau pada akhir fase laten) hingga 10 cm dan
berlangsung selama 6 jam. Penurunan bagian presentasi janin yang progresif
terjadi selama akhir fase aktif dan selama dua persalinan.
a. Fase akselerasi, yaitu dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.
b. Fase dilatasi, yaitu dalam waktu 2 jam pembukaan sangat cepat dari 4 cm menjadi 9
cm.
c. Fase deselerasi, yaitu pembukaan menjadi lambat kembali dalam waktu 2 jam
pembukaan 9 cm menjadi lengkap.
d. Fase transisi selama terjadi, wanita mengakhiri kala satu persalinan pada saat hampir
memasuki dan sedang mempersiapkan diri untuk kala dua persalinan. Sejumlah
besar tanda dan gejala, termasuk perubahan perilaku, telah diidentifikasi sebagai
petunjuk transisi ini. Tanda dan gejala fase transisi diantaranya adalah adanya
tekanan pada rektum, berulang kali pergi ke kamar mandi, tidak mampu
mengendalikan keinginan untuk mengejan, ketuban pecah, penonjolan dan
pendataran rektum dan perinium, bunyi dengkuran pada saat mengeluarkan napas.

1.5 Kala II
8

Kala II persalinan dimulai dengan dilatasi lengkap serviks dan diakhiri


dengan kelahiran bayi. Menurut Depkes RI (2010), beberapa tanda dan gejala
persalinan kala II adalah:
1.5.1

Ibu merasakan ingin meneran bersamaan terjadinya kontraksi

1.5.2

Ibu merasakan peningkatan tekanan pada rectum atau vaginanya

1.5.3

Perineum terlihat menonjol

1.5.4

Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka

1.5.5

Peningkatan pengeluaran lendir darah


Pada kala II his terkoordinir, kuat, cepat dan lama, kira-kira 2-3 menit
sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang panggul sehingga terjadi tekanan
pada otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris timbul rasa mengedan.
Karena tekanan pada rectum, ibu seperti ingin buang air besar dengan tanda
anus terbuka. Pada waktu his kepala janin mulai terlihat, vulva membuka dan
perineum meregang. Dengan his mengedan yang terpimpin akan lahirlah
kepala dengan diikuti seluruh badan janin. Kala II pada primi : 1 -2 jam,
pada multi - 1 jam (Mochtar, 2010).

1.6 Kala III (kala pengeluaran uri)


Kala III persalinan dimulai dengan saat proses kelahiran bayi selesai dan
berakhir dengan lahirnya plasenta. Proses ini dikenal sebagai kala persalinan
plasenta. Kala tiga persalinan berlangsung rata-rata antara 5-10 menit. Adapun
kala tiga terbagi dalam dua fase yaitu :

1.6.1

Pelepasan plasenta adalah hasil penurunan mendadak ukuran kavum uterus


selama dan setelah kelahiran bayi, sewaktu uterus berkontraksi mengurangi isi
uterus. Pengurangan ukuran uterus secara bersamaan berarti penurunan area
pelekatan plasenta.

1.6.2

Pengeluaran plasenta adalah dimulai dengan penurunan plasenta ke dalam


segmen bawah uterus. Plasenta kemudian keluar melewati serviks ke ruang
vagina atas, dari arah plasenta keluar.
Menurut Depkes RI (2010) tanda-tanda lepasnya plasenta mencakup
beberapa atau semua hal dibawah ini :

1.6.1

Perubahan Bentuk Dan Tinggi Fundus.


Sebelum bayi lahir dan miometrium mulai berkontraksi, uterus
berbentuk bulat penuh (diskoit) dan tinggi fundus biasanya turun sampai di
bawah pusat. Setelah uterus berkontraksi dan uterus terdorong ke bawah,
uterus menjadi bulat dan fundus berada diatas pusat (sering kali mengarah
kesisi kanan).

1.6.2

Tali Pusat Memanjang


Tali pusat terlihat keluar memanjang atau terjulur melalui vulva dan
vagina (tanda Ahfeld).

1.6.3

Semburan Darah Tiba-Tiba


Darah yang terkumpul di belakang plasenta akan membantu
mendorong plasenta keluar dan dibantu oleh gaya gravitasi. Semburan darah
yang secara tiba-tiba menandakan darah yang terkumpul di antara melekatnya
10

plasenta dan permukaan maternal plasenta (darah retroplasenter) keluar


melalui tepi plasenta yang terlepas. Setelah bayi lahir kontraksi rahim istirahat
sebentar. Uterus teraba keras dengan fundus uterus setinggi pusat, dan berisi
plasenta yang menjadi tebal 2x sebelumnya. Beberapa saat kemudian timbul
his pelepasan dan pengeluaran uri. Dalam waktu 5-10 menit plasenta terlepas,
terdorong ke dalam vagina akan lahir spontan atau sedikit dorongan dari atas
simfisis atau fundus uteri. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit
setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah
kira-kira 100-200 cc (Mochtar, 2010).
Menurut Depkes RI (2010), manajemen aktif kala III yaitu :
1.6.1

Beri oksitosin 10 unit IM waktu dua menit setelah bayi lahir.


Oksitosin 10 IU secara IM dapat diberikan dalam 1 menit setelah bayi
lahir dan dapat diulangi setelah 15 menit jika plasenta belum lahir. Berikan
oksitosin 10 IU secara IM pada 1/3 bawah paha kanan bagian luar.

1.6.1.1 Letakkan bayi baru lahir diatas kain bersih yang telah disiapkan di perut bawah
ibu dan minta ibu atau pendampingnya untuk membantu memegang bayi
tersebut.
1.6.1.2 Pastikan tidak ada bayi lain di dalam uterus (undiagnose twin)
1.6.1.3 Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik
1.6.1.4 Segera dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir suntikan oksitosin 10 unit IM
pada 1/3 bagian atas paha bagian luar (aspektus lateralis)

11

1.6.2

Melakukan tindakan penjepitan dan pemotongan tali pusat.

1.6.2.1 Mempersiapkan bayi untuk Inisiasi Menyusui Dini.


1.6.2.2 Tutup kembali bagian bawah ibu dengan kain bersih.
1.6.3

Lakukan penegangan tali pusat terkendali.

1.6.4

Berdiri disamping ibu.

1.6.4.1 Tempatkan klem pada ujung tali pusat 5 10 cm dari vulva, memegang tali
pusat dari jarak dekat untuk mencegah avulasi pada tali pusat.
1.6.4.2 Letakan tangan pada dinding abdomen ibu (beralaskan kain) tepat diatas
simfisis pubis. Gunakan tangan ini untuk meraba kontraksi uterus dan menahan
uterus pada saat melakukan penegangan pada tali pusat. Setelah terjadi
kontraksi yang kuat, tegangkan tali pusat dengan satu tangan yang lain pada
dinding abdomen menekan uterus kearah lumbal dan kepala ibu (dorso
kranial). Lakukan secara hati-hati untuk mencegah terjadinya inversio uteri.
1.6.4.3 Bila plasenta belum lepas, tunggu hingga uterus berkontraksi kembali (sekitar
2 atau 3 menit berselang) untuk mengulangi lagi penegangan tali pusat
terkendali.
1.6.4.4 Lahirkan plasenta dengan penegangan yang lembut dan keluarkan plasenta
dengan gerakan kebawah dan keatas mengikuti jalan lahir. Ketika plasenta
muncul dan keluarkan dari dalam vulva, kedua tangan dapat memegang
plasenta searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput ketuban.

12

1.6.5

Segera lakukan massase pada fundus uteri setelah plasenta lahir.

1.6.5.1 Segera setelah plasenta dan selaput dilahirkan, dengan perlahan tetapi kukuh
lakukan masase uterus dengan cara menggosok uterus pada abdomen dengan
gerakan melingkar untuk menjaga agar uterus tetap keras dan berkontraksi
dengan baik serta untuk mendorong setiap gumpalan darah agar keluar.
1.6.5.2 Sementara tangan kiri melakukan masase uterus, periksalah plasenta dengan
tangan kanan untuk memastikan bahwa cotyledons dan membran sudah
lengkap. Tempatkan plasenta yang sudah diperiksa tersebut ke dalam kantung
plastik atau pot tanah.
1.6.5.3 Periksalah vagina dan perineum untuk memastikan tidak ada laserasi yang
masih mengeluarkan darah.
1.6.5.4 Bersihkan tangan penolong dalam larutan chlorin dengan sarung tangan masih
dipakai, lalu buka dan tanggalkan di dalam larutan cholrin 0,5% rendam
selama 10 menit.
1.6.5.5 Periksa kembali uterus untuk memastikan bahwa uterus tersebut masih
berkontraksi dengan baik.
1.6.5.6 Pastikan bahwa bayi sudah menyusu ke ibunya dan bahwa tekanan darah serta
denyut nadi ibunya sudah stabil
1.6.5.7 Cucilah tangan dengan sabun dan air lalu keringkan.

13

1.7 Kala IV
Selama kala IV harus memantau setiap 15 menit pada jam pertama setelah
kelahiran plasenta dan setiap 30 menit pada jam kedua setelah persalinan.
Pemantauan kala IV (Wiknjosastro, 2010):
1.7.1

Melakukan masase fundus uteri, untuk memastikan uterus menjadi keras/


berkontraksi dengan baik

1.7.2

Mengajarkan ibu/ keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai


kontraksi

1.7.3

Mengevaluasi tinggi fundus uteri dengan meletakkan jari tangan secara


melintang antara pusat dan fundus uteri. Fundus uteri harus sejajar pusat atau
lebih bawah.

1.7.4

Memperkirakan kehilangan darah secara keseluruhan.

1.7.5

Memeriksa perdarahan aktif.

1.7.6

Mengevaluasi kondisi ibu secara umum.

1.7.7

Mendokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala IV persalinan


dihalaman belakang partograf
Ada 2 metode untuk pelepasan plasenta yang sebagai berikut:

1.7.1

Metode Schulze
Metode yang lebih umum terjadi, plasenta terlepas dari satu titik dan
merosot ke vagina melalui lubang dalam kantong amnion, permukaan fetal
plasenta muncul pada vulva dengan selaput ketuban yang mengikuti di
belakang seperti payung terbalik saat terkelupas dari dinding uterus.
14

Permukaaan maternal plasenta tidak terlihat dan bekuan darah berada dalam
kantong yang terbalik, kontraksi dan retraksi otot uterus yang menimbulkan
pemisahan plasenta juga menekan pembuluh darah dengan kuat dan
mengontrol perdarahan. Hal tersebut mungkin terjadi karena ada serat otot
oblik dibagian atas segmen uterus.
1.7.2

Metode Matthews Ducan


Plasenta turun melalui bagian samping dan masuk vulva dengan
pembatas lateral terlebih dahulu seperti kancing yang memasuki lubang baju,
bagian plasenta tidak berada dalam kantong. Pada metode ini, kemungkinan
terjadinya bagian selaput ketuban yang tertinggal lebih besar karena selaput
ketuban tersebut tidak terkelupas semua selengkap metode schultze. Metode
ini adalah metode yang berkaitan dengan plasenta letak rendah di dalam
uterus. Proses pelepasan berlangsung lebih lama dan darah yang hilang sangat
banyak (karena hanya ada sedikit serat oblik dibagian bawah segmen).
Fase pengeluaran plasenta adalah sebagai berikut:

1.7.3

Kustner
Dengan meletakkan tangan disertai tekanan pada atau diatas simpisis,
tali pusat ditegangkan, maka bila tali pusat masuk berarti plasenta sudah lepas,
tetapi bila diam atau maju berarti plasenta sudah lepas.

15

1.7.4

Klein
Sewaktu ada his, rahim didorong sedikit, bila tali pusat kembali berarti
plasenta belum lepas, tetapi bila diam turun berarti plasenta sudah lepas.

1.7.5

Strassman
Tegangkan tali pusat dan ketok pada fundus, bila tali pusat bergetar
berarti plasenta belum lepas, tetapi bila tidak bergetar plasenta sudah lepas.

2. Tinjauan Tentang Distosia Bahu


2.1 Pengertian
Distosia bahu adalah suatu keadaan diperlukannya tambahan manuver
obstetrik oleh karena dengan tarikan biasa kearah belakang pada kepala bayi
tidak berhasil untuk melahirkan bayi. Pada persalinan persentasi kepala, setelah
kepala lahir bahu tidak dapat dilahirkan dengan cara pertolongan biasa dan tidak
didapatkan sebab lain dari kesulitan tersebut.
insidensi distosia bahu sebesar 0,2-0,3 % dari seluruh persalinan vaginal
persentasi kepala. apabila distosia bahu didefinisikan sebagai jarak waktu antara
lahirnya kepala dengan lahirnya badan bayi lebih dari 60 detik, maka
insidensinya menjadi 11%.
Pada mekanisme persalinan normal, ketika kepala dilahirkan, maka bahu
memasuki panggul dalam posisi oblig. bahu posterior memasuki panggul lebih
dahulu sebelum bahu anterior. ketika kepala melakukan putaran paksi luar bahu
posterior berada dicekungan tulang sakrum atau disekitar spina ischiadika dan
memberikan ruang yang cukup bagi bahu anterior untuk memasuka panggul
16

melalui belakang tulang pubis atau berotasi dari foramen obturator. Apabila bahu
berada dalam posisi antero-posterior ketika hendak memasuki pintu atas panggul,
maka bahu posterior dapat tertahan promontorium dan bahu anterior tertahan
tulang pubis. Dalam keadaan demikian kepala yang sudah dilahirkan akan tidak
dapat melakukan puter fraksi luar dan tertahan akibat adanya tarikan yang terjadi
antara bahu posterior dengan kepala (disebut dengan turtle sign).
2.2 Patofisiologi
Setelah kelahiran kepala, akan terjadi putaran paksi luar yang
menyebabkankepala berada pada sumbu normal dengan tulang belakang bahu
pada umumnya akanberada pada sumbu miring (oblique) di bawah ramus pubis.
Dorongan pada saat ibumeneran akan menyebabkan bahu depan (anterior) berada
di bawah pubis, bila bahu gagal untuk mengadakan putaran menyesuaikan dengan
sumbu miring dan tetapberada pada posisi anteroposterior, pada bayi yang besar
akan terjadi benturan bahu depan terhadap simfisis sehingga bahu tidak bisa lahir
mengikuti kepala.
2.3 Etiologi
Distosia bahu terutama disebabkan oleh deformitas panggul, kegagalan
bahuuntuk melipat ke dalam panggul (misal : pada makrosomia) disebabkan
oleh faseaktif dan persalinan kala II yang pendek pada multipara sehingga
penurunan kepala yang terlalu cepat menyebabkan bahu tidak melipat pada saat
melalui jalan lahir atau kepala telah melalui pintu tengah panggul setelah

17

mengalami pemanjangan kala IIsebelah bahu berhasil melipat masuk ke dalam


panggul.
2.4 Faktor Penyebab Distosia
2.4.1 Distosia Karena Kelainan His
Kelainan his dapat berupa inersia uteri hipotonik atau inersia uteri
hipertonik.
2.4.1.1 Inersia Uteri Hipotonik.
Adalah kelainan his dengan kekuatan yang lemah / tidak adekuat untuk
melakukan pembukaan serviks atau mendorong anak keluar. Di sini kekuatan
his lemah dan frekuensinya jarang. Sering dijumpai pada penderita dengan
keadaan umum kurang baik seperti anemia, uterus

yang terlalu teregang

misalnya akibat hidramnion atau kehamilan kembar atau makrosomia,


grandemultipara atau primipara, serta pada penderita dengan keadaan emosi
kurang baik. Dapat terjadi pada kala pembukaan serviks, fase laten atau fase
aktif, maupun pada kala pengeluaran. Inersia uteri hipotonik terbagi dua,
yaitu:
a.

Inersia uteri primer


Terjadi pada permulaan fase laten. Sejak awal telah terjadi his yang tidak
adekuat (kelemahan his yang timbul sejak dari permulaan persalinan), sehingga
sering sulit untuk memastikan apakah penderita telah memasuki keadaan inpartu
atau belum.

18

b.

Inersia uteri sekunder


Terjadi pada fase aktif kala I atau kala II. Permulaan his baik, kemudian
pada keadaan selanjutnya terdapat gangguan / kelainan. Penanganan :
(1) Keadaan umum penderita harus diperbaiki. Gizi selama kehamilan harus
diperhatikan.
(2) Penderita

dipersiapkan

menghadapi

persalinan,

dan

dijelaskan

tentang

kemungkinan-kemungkinan yang ada.


(3) Teliti keadaan serviks, presentasi dan posisi, penurunan kepala/bokong bila sudah
masuk PAP pasien disuruh jalan, bila his timbul adekuat dapat dilakukan
persalinan spontan, tetapi bila tidak berhasil maka akan dilakukan sectio cesaria.
2.4.1.2 Inersia Uteri Hipertonik
Adalah kelainan his dengan kekuatan cukup besar (kadang sampai
melebihi normal) namun tidak ada koordinasi kontraksi dari bagian

atas,

tengah dan bawah uterus, sehingga tidak efisien untuk membuka serviks dan
mendorong bayi keluar. Disebut juga sebagai incoordinate uterine action.
misalnya "tetania uteri" karena obat uterotonika yang berlebihan. Pasien
merasa kesakitan karena his yang kuat dan berlangsung hampir terus-menerus.
Pada janin dapat terjadi hipoksia janin karena gangguan sirkulasi
uteroplasenter.
Faktor yang dapat menyebabkan kelainan ini antara lain adalah
rangsangan pada uterus, misalnya pemberian oksitosin yang berlebihan,
ketuban pecah lama dengan disertai infeksi, dan sebagainya. Penanganan :
19

Dilakukan pengobatan simtomatis untuk mengurangi tonus otot, nyeri,


mengurangi ketakutan. Denyut jantung janin harus terus dievaluasi. Bila
dengan cara tersebut tidak berhasil, persalinan harus diakhiri dengan sectio
cesarea (Williams, 2010).
2.4.2

Distosia Karena Kelainan Letak

2.4.2.1 Letak Sungsang


Letak sungsang adalah janin terletak memanjang dengan kepala di
fundus uteri dan bokong dibawah bagian cavum uteri. Macam Macam Letak
Sungsang :
a. Letak bokong murni ( frank breech )
Letak bokong dengan kedua tungkai terangkat ke atas.
b. Letak sungsang sempurna (complete breech)
Kedua kaki ada disamping bokong dan letak bokong kaki sempurna.
c. Letak sungsang tidak sempurna ( incomplete breech )
Selain bokong sebagian yang terendah adalah kaki atau lutut.
2.4.2.2 Etiologi Letak Sungsang :
a. Fiksasi kepala pada PAP tidak baik atau tidak ada ; pada panggul sempit, hidrocefalus,
anencefalus, placenta previa, tumor.
b. Janin mudah bergerak ; pada hidramnion, multipara, janin kecil (prematur).
c. Gemelli
d. Kelainan uterus ; mioma uteri
e. Janin sudah lama mati
20

f. Sebab yang tidak diketahui.


2.4.2.3 Diagnosis Letak Sungsang :
Pemeriksaan luar, janin letak memanjang, kepala di daerah fundus uteri
a. Pemeriksaan dalam, teraba bokong saja, atau bokong dengan satu atau dua kaki.
Syarat Partus Pervagina Pada Letak Sungsang :
(1)Janin tidak terlalu besar
(2)Tidak ada suspek CPD
(3)Tidak ada kelainan jalan lahir
Jika berat janin 3500g atau lebih, terutama pada primigravida atau
multipara dengan riwayat melahirkan kurang dari 3500g, sectio cesarea lebih
dianjurkan.
2.4.2.4 Prolaps Tali Pusat
Yaitu tali pusat berada disamping atau melewati bagian terendah janin
setelah ketuban pecah. Bila ketuban belum pecah disebut tali pusat terdepan.
Pada keadaan prolaps tali pusat (tali pusat menumbung) timbul bahaya besar,
tali pusat terjepit pada waktu bagian janin turun dalam panggul sehingga
menyebabkan asfiksia pada janin (Taber, 2012).
Prolaps tali pusat mudah terjadi bila pada waktu ketuban pecah bagian
terdepan janin masih berada di atas PAP dan tidak seluruhnya menutup seperti
yang terjadi pada persalinan ; hidramnion, tidak ada keseimbangan antara
besar kepala dan panggul, premature, kelainan letak.

21

Diagnosa prolaps tali pusat ditegakkan bila tampak tali pusat keluar dari
liang senggama atau bila ada pemeriksaan dalam teraba tali pusat dalam liang
senggama atau teraba tali pusat di samping bagian terendah janin. Pencegahan
Prolaps Tali Pusat yakni menghindari pecahnya ketuban secara premature
akibat tindakan kita. Penanganan Prolaps Tali Pusat :
a. Apabila janin masih hidup, janin abnormal, janin sangat kecil harapan hidup
Tunggu partus spontan.
b. Pada presentasi kepala apabila pembukaan kecil, pembukaan lengkap Vacum
ekstraksi, porcef.
c. Pada Letak lintang atau letak sungsang Sectio cesaria
2.4.3

Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir


Distosia karena kelainan jalan lahir dapat disebabkan adanya kelainan
pada jaringan keras / tulang panggul, atau kelainan pada jaringan lunak
panggul.

2.4.3.1 Distosia karena kelainan panggul/bagian keras Dapat berupa :


a. Kelainan bentuk panggul yang tidak normal gynecoid, misalnya panggul jenis
Naegele, Rachitis, Scoliosis, Kyphosis, Robert dan lain-lain.
b. Kelainan ukuran panggul.
Panggul sempit (pelvic contaction) Panggul disebut sempit apabila
ukurannya 1 2 cm kurang dari ukuran yang normal. Kesempitan panggul bisa
pada (Siswono, 2010) :

22

(1) Kesempitan pintu atas panggulInlet dianggap sempit apabila cephalopelvis


kurang dari 10 cm atau diameter transversa kurang dari 12 cm. Diagonalis (CD)
maka inlet dianggap sempit bila CD kurang dari 11,5 cm.
(2) Kesempitan midpelvis
(a) Diameter interspinarum 9 cm
(b) Kalau diameter transversa ditambah dengan diameter sagitalis posterior kurang
dari 13,5 cm. Kesempitan midpelvis hanya dapat dipastikan dengan RO
pelvimetri. Midpelvis contraction dapat memberi kesulitan sewaktu persalinan
sesudah kepala melewati pintu atas panggul.
(3) Kesempitan outlet
Kalau diameter transversa dan diameter sagitalis posterior kurang dari 15
cm. Kesempitan outlet, meskipun mungkin tidak menghalangi lahirnya janin,
namun dapat menyebabkan rupture perineal yang hebat. Karena arkus pubis
sempit, kepala janin terpaksa melalui ruang belakang.
Ukuran rata-rata panggul wanita normal
(a) Pintu atas panggul (pelvic inlet) :
Diameter transversal (DT) + 13.5 cm. Conjugata vera (CV) + 12.0 cm.
Jumlah rata-rata kedua diameter minimal 22.0 cm.
(b) Pintu tengah panggul (midpelvis) :
Distansia interspinarum (DI) + 10.5 cm. Diameter anterior posterior (AP) +
11.0 cm. Jumlah rata-rata kedua diameter minimal 20.0 cm.

23

(c) Pintu bawah panggul (pelvic outlet) :


Diameter anterior posterior (AP) + 7.5 cm. Distansia intertuberosum + 10.5
cm. Jumlah rata-rata kedua diameter minimal 16.0 cm. Bila jumlah rata-rata
ukuran pintu-pintu panggul tersebut kurang, maka panggul tersebut kurang sesuai
untuk proses persalinan pervaginam spontan.
c. Kelainan jalan lahir lunak
Adalah kelainan serviks uteri, vagina, selaput dara dan keadaan lain pada
jalan lahir yang menghalangi lancarnya persalinan.
2.4.3.2 Distosia Servisis
Adalah terhalangnya kemajuan persalinan disebabkan kelainan pada
servik uteri. Walaupun harus normal dan baik, kadang kadang permukaan
servik menjadi macet karena ada kelainan yang menyebabkan servik tidak mau
membuka. Ada 4 jenis kelainan pada servik uteri (Sarjito, 2009) :
a. Servik kaku (rigid cervix)
b. Servik gantung (hanging cervix)
c. Servik konglumer (conglumer cervix)
d. Edema servik
2.4.3.3 Kelainan selaput dara dan vagina
a. Selaput dara yang kaku, tebal
Penanganannya : dilakukan eksisi selaput dara (hymen)
b. Septa vagina
c. Sirkuler Anterisposterior
24

Penanganan :
(1) Dilakukan eksisi sedapat mungkin sehingga persalinan berjalan Lancar
(2) Kalau sulit dan terlalu lebar, dianjurkan untuk melakukan sectio Cesaria
2.4.3.4 Kelainan kelainan lainnya
a. Tumor-tumor jalan lahir lunak : kista vagina ; polip serviks, mioma
uteri, dan sebagainya.
b. Kandung kemih yang penuh atau batu kandung kemih yang besar.
c. Rectum yang penuh skibala atau tumor.
d. Kelainan

letak

serviks

yang

dijumpai

pada

multipara

dengan

perut

gantung.
e. Ginjal yang turun ke dalam rongga pelvis.
f. Kelainan-kelainan

bentuk

uterus

uterus

bikorvus,

uterus

septus,

uterus arkuatus dan sebagainya.


2.5 Komplikasi Distosia
2.5.1

Komplikasi Maternal (Saifuddin, AB, 2012)

2.5.1.1 Perdarahan pasca persalinan


2.5.1.2 Fistula Rectovaginal
2.5.1.3 Simfisiolisis atau diathesis, dengan atau tanpa transient femoral neuropathy
2.5.1.4 Robekan perineum derajat III atau IV
2.5.1.5 Rupture Uteri
2.5.2

Komplikasi Fetal

2.5.2.1 Brachial plexus palsy


25

2.5.2.2 Fraktura Clavicle


2.5.2.3 Kematian janin
2.5.2.4 Hipoksia janin, dengan atau tanpa kerusakan neurololgis permanen
2.5.2.5 Fraktura humerus
2.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Distosia Bahu:
2.6.1

Kesigapan penolong persalinan dalam mengatasi distosia bahu sangat


diperlukan.

2.6.2

Pertama kali yang harus dilakukan bila terjadi distosia bahu adalah melakukan
traksi curam bawah sambil meminta ibu untuk meneran.

2.6.3

Lakukan episiotomi.

2.6.4

Setelah membersihkan mulut dan hidung anak, lakukan usaha untuk


membebaskan bahu anterior dari simfisis pubis dengan berbagai maneuver:

2.6.5

Tekanan ringan pada suprapubic


Dilakukan tekanan ringan pada daerah suprapubik dan secara bersamaan
dilakukan traksi curam bawah pada kepala janin. Tekanan ringan dilakukan
oleh asisten pada daerah suprapubic saat traksi curam bawah pada kepala
janin.

2.6.6

Maneuver Mc Robert
Tehnik ini ditemukan pertama kali oleh Gonik dkk tahun 1983 dan
selanjutnya William A Mc Robert mempopulerkannya di University of Texas
di Houston. Maneuver ini terdiri dari melepaskan kaki dari penyangga dan
26

melakukan fleksi sehingga paha menempel pada abdomen ibu. Tindakan ini
dapat menyebabkan sacrum mendatar, rotasi simfisis pubis kearah kepala
maternal dan mengurangi sudut inklinasi. Meskipun ukuran panggul tak
berubah, rotasi cephalad panggul cenderung untuk membebaskan bahu depan
yang terhimpit. Fleksi sendi lutut dan paha serta mendekatkan paha ibu pada
abdomen sebaaimana terlihat pada (panah horisontal). Asisten melakukan
tekanan suprapubic secara bersamaan (panah vertikal)
2.6.7

Maneuver Woods
Dengan melakukan rotasi bahu posterior 1800 secara crock screw maka
bahu anterior yang terjepit pada simfisis pubis akan terbebas. Maneuver Wood.
Tangan kanan penolong dibelakang bahu posterior janin. Bahu kemudian
diputar 180 derajat sehingga bahu anterior terbebas dari tepi bawah simfisis
pubis

2.6.8

Persalinan bahu belakang

2.6.8.1 Operator memasukkan tangan kedalam vagina menyusuri humerus posterior


janin dan kemudian melakukan fleksi lengan posterior atas didepan dada
dengan mempertahankan posisi fleksi siku
2.6.8.2 Tangan janin dicekap dan lengan diluruskan melalui wajah janin
2.6.8.3 Lengan posterior dilahirkan
2.6.9

Maneuver Rubin
Terdiri dari 2 langkah :

27

2.6.9.1 Mengguncang bahu anak dari satu sisi ke sisi lain dengan melakukan tekanan
pada abdomen ibu, bila tidak berhasil maka dilakukan langkah berikutnya
yaitu:
2.6.9.2 Tangan mencari bahu anak yang paling mudah untuk dijangkau dan
kemudian ditekan kedepan kearah dada anak. Tindakan ini untuk melakukan
abduksi kedua bahu anak sehingga diameter bahu mengecil dan melepaskan
bahu depan dari simfisis pubis
2.6.10 Pematahan klavikula
Pematahan klavikula dilakukan dengan menekan klavikula anterior kearah SP.
2.6.11 Maneuver Zavanelli
Maneuver Zavanelli : mengembalikan kepala kedalam jalan lahir dan anak
dilahirkan melalui SC. Memutar kepala anak menjadi occiput anterior atau
posterior sesuai dengan PPL yang sudah terjadi. Membuat kepala anak menjadi
fleksi dan secara perlahan mendorong kepala kedalam vagina.
2.6.12 Kleidotomi
Kleidotomi : dilakukan pada janin mati yaitu dengan cara menggunting
klavikula.
2.6.13 Simfsiotomi
Hernandez dan Wendell (1990) menyarankan untuk melakukan
serangkaian tindakan emergensi berikut ini pada kasus distosia bahu:
2.6.13.1

Minta bantuan asisten, ahli anaesthesi dan ahli anaesthesi.

2.6.13.2

Kosongkan vesica urinaria bila penuh.


28

2.6.13.3

Lakukan episiotomi mediolateral luas.

2.6.13.4

Lakukan tekanan suprapubic bersamaan dengan traksi curam bawah

untuk melahirkan kepala.


2.6.13.5

Lakukan maneuver Mc Robert dengan bantuan 2 asisten.


Sebagian besar kasus distosia bahu dapat diatasi dengan serangkaian

tindakan di atas. Bila tidak, maka rangkaian tindakan lanjutan berikut ini harus
dikerjakan :
a. Wood corkscrew maneuver
b. Persalinan bahu posterior
c. Tehnik-tehnik lain yang sudah dikemukakan diatas.
Tak ada maneuver terbaik diantara maneuver-maneuver yang sudah
disebutkan di atas, namun tindakan dengan maneuver Mc Robert sebagai pilihan
utama adalah sangat beralasan.

29

2.7 Standar Operasional Prosedur (SOP) Distosia Bahu


Prosedur

Prosedur Prosedur Kebidanan Kasus-kasus patologis dengan

Tetap
Pengertian

distosia bahu
Asuhan yang diberikan tambahan manuver obstetrik oleh karena
dengan tarikan biasa kearah belakang pada kepala bayi tidak

Tujuan

berhasil untuk melahirkan bayi.


Sebagai acuan langkah-langkah penerapan proses Kebidanan
dalam

Kebijakan
Prosedur

memberikan

tambahan

manuver

obstetrik

untuk

melahirkan bayi
Adanya diagnosa Kebidanan pasien intranatal dengan distosia
bahu
1. Pengkajian;
1.1.
Objektif; bayi tidak maju
1.2.
Data Subjektif; ibu merasa lemas, pucat.
2. Diangnosa Kebidanan; partus lama
3. Tujuan; gangguan akibat distosia bahu dapat teratasi.
4. Pelaksanaan tindakan
1. Manuver MC Roberts
1) Baringkan ibu terlentang dan minta ibu untuk
menarik dan melipat kedua pahanya, sehingga kedua
lututnya berada sedekat mungkin dengan data
2) Bila minta bantuan asisten untuk melakukan
penekanan pada supra pubis
3) Lahirkan bahu depan dengan menarik kepala bayi ke
arah bawah, ke atas lalu sanggah susur, hingga bayi
lahir semua dan nilai bayi
2. Manuver untuk melahirkan bahu belakang
Masukkan tangan mengikuti lengkung sacrum sampai jari
penolong mencapai fosa antecubiti
1) Dengan tekanan jari tengah, lipat lengan ke arah
dada
2) Setelah terjadi fleksi, keluargkan lengan dari vagina
(menggunakan jari telunjuk untuk melewati dada dan
30

kepala bayi atau seperti mengusap muka bayi)


kemudian tarik hingga bahu belakang dan seluruh
lengan belakang dapat dilahirkan
3) Bahu depan dapat lahir dengan mudah setelah bahu
dan lengan belakang dilahirkan
4) Bila bahu depan sulit dilahirkan, putar bahu belakang
ke depan (jangan menarik lengan bayi tetapi
dorongan bahu posterior) dan putar bahu depan ke
belakang (mendorong anterior bahu depan dengan
jari telunjuk dan jari tengah operator) mengikuti arah
punggung bayi sehingga bahu depan dapat dilahirkan
3. Manuver corkscrew woods
1) Masukkan 2 jari tangan kanan ke arah anterior bahu
belakang janin
2) Minta asisten untuk melakukan penekanan fundus
uteri ke arah bawah, kemudian putar (se arah putaran
jarum jam ) bahu belakang bayi dengan kedua jari
tangan operator (penolong persalinan) ke arah depan
sehingga lahir bahu belakang.
3) Masih diikuti dengan dorongan pada fundus uteri
dilakukan putaran berlawanan dengan arah putaran
pertama sehingga menyebabkan bahu depan dapat
melewati simfibis
5. Evaluasi
b. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah
perdarahan

pervaginam.

Mengevaluasi

perdarahan yang terjadi dan memantau TTV


c. Dekontaminasi alat di dalam larutan klorin
d. Bersihkan ibu
e. Membersihkan sarung tangan
f. Mencuci tangan
g. Melengkapi partograf
Unit Terkait Ruang Bersalin
Sumber; RSU Santa Anna Kendari, 2014.
31

jumlah

Tabel 2.1. Standar Operasional Prosedur (SOP) Distosia Bahu

B. Tinjauan Tentang Asuhan Kebidanan


a. Pengertian asuhan kebidanan
Asuhan kebidanan adalah proses pemecahan masalah dengan metode
pengaturan pemikiran dan tindakan dalam suatu urutan yang logis baik pasien
maupun petugas kesehatan (Sudarti, 2010).
b. Tahapan asuhan kebidanan
Proses asuhan kebidanan mengacu pada 7 langkah Varney yaitu:
2.1 Langkah I : Identifikasi data dasar
2.1.1

Data Subyektif

2.1.1.1 Biodata (Abdul, dkk, 2010) :


32

a. Nama ibu : Untuk memudahkan panggilan dan menghindari kekeliruan dalam


pemberian terapi
b. Umur : Menentukan pasien termasuk resiko tinggi atau tidak, resiko tinggi usia <
20 tahun dan >35 tahun.
c. Agama : Untuk mengetahui kepercayaan klien terhadap agama dan mengenali
hal-hal yang berkaitan dengan masalah asuhan yang diberikan
d. Suku/bangsa : Untuk memudahkan proses pengkajian
e. Pendidikan : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan orang tua sebagai dasar
dalam memberikan asuhan
f. Pekerjaan : Untuk mengetahui status ekonomi dan aktifitas ibu
g. Penghasilan : Untuk mengetahui taraf ekonomi
h. Alamat : Untuk mengetahui tempat tinggal, menjaga kemungkinan bila ada ibu
yang sama namanya
2.1.1.2 Keluhan utama
Berisi keluhan yang dirasakan oleh ibu (Handerson, 2012)
2.1.1.3 Riwayat penyakit yang sedang diderita
a.

Riwayat penyakit ibu


Menguraikan tentang riwayat penyakit ibu misalnya ibu pernah atau tidak
menderita penyakit menular, menahun dan menurun yang sekarang diderita
ataupun yang telah sembuh

b.

Riwayat penyakit keluarga

33

Menguraikan tentang riwayat penyakit yang pernah dan sedang diderita oleh
suami dan keluarga lainnya. Bisa penyakit menular, menahun ataupun penyakit
menurun
2.1.1.4 Riwayat menstruasi.
HPHT : Untuk menentukan HPL/ TP
2.1.1.5 Riwayat kehamilan sekarang.
Berisi tentang uraian kehamilan sekarang mulai hamil yang ke berapa,
pernah abortus atau tidak, berapa kali periksa kehamilan, dimana dan kapan,
terapi apa saja yang telah diperoleh, imunisasi TT berapa kali selama
kehamilan, keluhan apa yang dirasakan dan kapan gerakan janin pertama kali
dirasakan.

2.1.1.6 Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu


Berisi tentang riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu apakah
ada masalah atau tidak
2.1.2

Data Obyektif

2.1.2.1 Pemeriksaan Umum


Menguraikan tentang hasil pemeriksaan petugas yang telah dilakukan,
misalnya :
a. Keadaan Umum : Baik/Cukup/Kurang
b. Kesadaran : Composmentis

34

c. TTV
Tekanan Darah : 110/90 mmHg
Nadi : 80 x/mnt
RR : 20 x/mnt
Suhu : 36,8 0C
2.1.2.2 Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Kepala : Bersih/tidak, ketombe ada/tidak, rontok/tidak, warna rambut, rambut
pendek/panjang, lurus/tidak
Muka : Tampak pucat/tidak,ada/tidak flek-flek hitam, ada/tidak luka bekas operasi
Mata : Simetris/tidak kanan/kiri, warna sklera putih/tidak, kunjungtiva merah
muda/tidak
Hidung : Terdapat sekret/tidak kanan/kiri, simetris / tidak kanan/kiri
Telinga : Simetris/tidak kanan/kiri, serumen ada/tidak kanan/kiri
Mulut : Keadaan bibir, ada stomatitis/tidak, terlihat/tidak karies, terlihat
epulis/tidak, terlihat gusi bengkak/tidak
Leher : Terlihat pembesaran kelenjar tiroid/tidak, terdapat pembesaran vena
jugularis, terlihat luka bekas operasi/tidak.
Dada : Apakah bentuk normal / tidak
Payudara : Simetris/tidak kanan/kiri, ada nyeri tekan/tidak, ada benjolan
abnormal/tidak

35

Abdomen : Terdapat luka bekas operasi/tidak, ada/tidak striae albicans, terlihat


linea/tidak
Genetalia : Ada kelainan/tidak, terlihat varises/tidak
Anus : Ada haemorroid/tidak
Ekstremitas
Atas : Apakah oedema/ tidak, simetris / tidak, varises/tidak
Bawah : Apakah oedema/ tidak, simetris / tidak, varises/tidak
b. Palpasi
Leher : Apakah ada pembesaran kelanjar tiroid, vena jugularis/tidak
Dada dan Payudara : Teraba benjolan abnormal/tidak, colostrum +/Perut : Leopod I : Untuk mengetahui bagian anak yang ada di fundus dan TFU
Leopod II : Untuk mengetahui letak punggung bayi
Leopod III : Bagian terendah kepala / bokong
Leopod IV : Berapa bagian masuk PAP, divergen/konvergen
c. Auskultasi
Mengetahui kesejahteraan janin yaitu dengan mengetahui DJJ
d. Perkusi
Mengetahui reflek patella pada ibu
2.1.2.3 Pemeriksaan Dalam
Pemeriksaan dalam bertujuan untuk meraba keadaan serviks, bagian
terendah bayi menentukan kemajuan persalinan dan untuk melakukan tindakan
yang cepat.
36

Bagian-bagian dari pemeriksaan dalam yaitu : Vulva, Vagina, Porsio,


Pembukaan, Efficement, Ketuban, Bagian terdahulu janin, Bagian terendah
janin, Penurunan Hodge.
2.2 Interpretasi data dasar
Dx : Berisi 10 diagnosa kehamilan
DS : Berisi tentang apa saja yang dikatakan ibu yang mendukung semua diagnosa
DO : Berisi tentang data yang telah kita peroleh dari pemeriksaan yang juga
mendukung semua diagnosa dan mendukung data subyektif
Masalah : Berisi tentang masalah yang ada pada ibu bersalin. Saat persalinan dan
pelaksanaan masalah ini di dukung dengan adanya data subyektif.
2.3 Langkah II : Merumuskan diagnosa / Masalah aktual
Dikembangkan dari dasar : interpretasi data ke masalah atau diagnose
khusus yang teridenifikasi. Kedua kata masalah atau diagnose dipakai karean
beberapa masalah tidak dapat didefenisikan sebagai diagnose tetapi tetap perlu
dipertimbangkan untuk membuat wacana yang menyeluruh untuk pasien. masalah
yang sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan
akan diagnosanya dan sering teridentifikasi oleh bidan yang terfokus pada apa
yang dialaminya, misalnya diagnosa wanita itu hamil dan masalah yang
berhbungan mungkin wanita itu tidak menginginkan kehamilannya.
Masalah partus lama:

Ibu cemas menghadapi persalinan

37

Dasar : Ibu mengatakan merasa cemas dengan proses persalinan yang sedang
dihadapinya
Kebutuhan :

KIE tentang proses persalinan

Motivasi ibu dalam menghadapi proses persalinan

2.4 Langkah III : Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial


Mengidentifikasi masalah atau diagnosa masalah potensial lainnya
berdasarkan masalah yang sudah ada adalah suatu bentuk antisipasi, pencegahan
apabila perlu menggangu dengan waspada dan persiapan untuk suatu pengakiran.
langkah ini sangat vital untuk asuhan yang aman.
Diagnosa potensial :

Infeksi intrapartum

Bayi asfiksia

Perdarahan
Dasar : Ketuban telah pecah
Tindakan antisipasi :

Bedrest total dengan posisi panggul lebih rendah dari badanya (trendelenburg)

Kolaborasi dengan dokter Sp.OG untuk pemberian terapi

2.5 Langkah

IV:

Mengidentifikasi

dan

memerlukan penanganan segera.

38

menetapkan

kebutuhan

yang

Setelah data subyektif dan data obyektif terkumpul, langkah selanjutnya


adalah analisa data untuk merumuskan diagnosa dan masalah dengan langkahlangkah sebagai berikut (Graham et al, 2010) :
2.5.1

Mencari hubungan data atau faktor yang satu dengan yang lainnya untuk
mencari sebab dan akibat.

2.5.2

Menentukan masalah dan apa masalah utama

2.5.3

Menentukan penyebab utamanya

2.5.4

Menentukan tingkat resiko masalah

2.6 Langkah V: Merencanakan asuhan yang komprehensif/menyeluruh


Membuat suatu rencana asuhan yang komprehensif, ditentukan oleh
langkah sebelumnya adalah suatu perkembangan dari masalah atau diagnose yang
sedang terjadi atau terantisipasi dan juga termasuk mengumpulkan informasi
tambahan yang tertinggal untuk data dasar. Suatu rencana asuhan yang
komprehensif tidak saja mencakup apa yang ditentukan oleh kondisi pasien dan
masalah yang terkait, tetapi juga menggaris bawahi bimbingna yang
terantisipasi untuk wanita seperti apa yang diharapkan terjadi berikutnya. Adapun
rencana asuhan kebidanan pada pasien dengan persalinan lama antara lain:
2.6.1

Beritahu ibu tentang kondisinya dan janinya

2.6.2

Anjurkan ibu untuk melakukan teknik relaksasi

2.6.3

Anjurkan ibu untuk baring miring ke kiri

39

2.6.4

Berikan terapi sesuai advice dokter : drip oxytoxin 5 IU dalam infus D5% (500
ml) dan lakukan peningkatan 4 tetes tiap 15 menit, tetesan dimulai dari 8 tetes/
menit

2.7 Langkah VI: Melaksanakan Rencana Asuhan


Dx : Ny.S G P Ab. Usia Kehamilan . Minggu, tunggal, hidup, intra
uterin dengan
Tujuan :
- Proses persalinan berjalan lancar dan normal
- Tidak ada komplikasi
- Ibu dan bayi selamat
Kriteria

Hasil

Ibu

dan

janin

dalam

Keadaan Umum : Baik


Kesadaran : Composmentis
Tekanan darah 110/60 120/80 mmHg
Nadi 60 100 x/ menit
Suhu 36 37 C
Pernafasan 16 20 x/ menit
DJJ 120 160 x/ menit
His ( + )
Periksa dalam :
a. Pembukaan bertambah disertai penurunan kepala
b. Partograf tidak melewati atau berada di garis bawah waspada
40

keadaan

normal

Intervensi
a. Lakukan pendekatan pada ibu dan keluarga
R/ Mempermudah proses anamnesa
b. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
R/ Mencegah infeksi silang
c. Jelaskan kondisi ibu pada ibu dan keluarga
R/ Mengetahui perkembangan kondisi ibu
d. Sarankan ibu jalan-jalan dahulu, jika capek di buat istirahat
R/ Membantu penurunan kepala supaya lebih cepat
e. Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
R/ Menyiapkan tenaga ( power ) dalam persalinan
f. Jelaskan tanda-tanda persalinan yang semakin dekat ( kala I )
R/ Mengetahui tanda-tanda proses persalinan
g. Siapkan perlengkapan persalinan
R/ Persiapan perlengkapan persalinan siap pakai
h. Anjurkan ibu untuk miring kiri
R/ Memepercepat penurunan dan sirkulasi darah ke janin
i. Lakukan observasi sesuai jadwal
R/ Mengetahui kemajuan persalinan
Masalah : Gangguan rasa nyaman sehubungan dengan perut ibu yang terasa
menegang.

41

Tujuan : Setelah di lakukan asuhan kebidanan diharapkan ibu dapat beradaptasi


dengan keadaan ini dan ibu bisa lebih tenang.
Kriteria hasil : Ibu tidak khawatir dengan rasa sakit yang sedang dirasakan
a. Jelaskan tanda-tanda kala I persalinan
R/ Mengetahui kemajuan persalinan
b. Jelaskan bahwa rasa sakit yang di alami oleh ibu adalah normal
R/ Mengurangi rasa cemas
c. Anjurkan pada ibu untuk bernafas panjang
R/ Nafas panjang mengurangi rasa sakit
d. Anjurkan suami atau keluarga untuk mendampingi ibu
R/ Memberi motivasi ibu
2.8 Langkah VII: Evaluasi
Evaluasi langkah terakhir ini sebenarnyya adalah merupakan pengecekan
apakah rencana asuhan tersebut meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan,
benar-benar yang telah terpenuhi kebuthannya akan bantuan sebagaimana telah
teridentifikasi didalam masalah dan diagnosa (Sudarti, 2010). Adapun
pelaksanaan evaluasi keberhasilan asuhan kebidanan pada pasien dengan
persalinan lama antara lain:
2.8.1

Ibu sudah mengetahui keadaanya dan janinnya

2.8.2

Ibu melakukan tekhnik relaksasi untuk mengurangi rasa nyerinya

2.8.3

Ibu melakukan baring miring kiri

2.8.4

Drip oxytocin terpantau hingga tetesan maximal 40 tetes /menit


42

C. Kerangka konsep
Variabel bebas

Variabel terikat

(Independent)

(Dependent)

Pengkajian data dasar


43

Identifikasi diagnosa/masalah
aktual
Identifikasi diagnosa/masalah
potensial

Asuhan Kebidanan pada


ibu bersalin dengan
Distosia Bahu

Tindakan segera/kolaborasi

Rencana asuhan

Implementasi

Evaluasi

Keterangan :
= variabel independent (variabel yang diteliti)
= variabel dependent (variabel terikat)
= garis hubungan yang diteliti
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian

BAB III
METODE PENELITIAN

44

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini yang digunakan adalah penelitian deskriftif dengan
pendekatan survey observasi dimana desain ini digunakan untuk mendeskripsikan
atau menguraikan suatu keadaan dimana suatu komunitas atau masyarakat dengan
tujuan untuk mendapatkan gambaran penatalaksanaan Asuhan Kebidanan pada
ibu bersalin dengan distosia bahu di RS Santa Anna Kendari Tahun 2015
(Nursalam, 2009).
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat
Penelitian ini akan dilakukan di ruang Kebidanan Santa Anna Kendari
Tahun 2015.
2. Waktu
Penelitian ini akan dilaksanakan setelah ujian proposal dan dinyatakan
layak untuk diteliti.
C. Populasi
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua bidan yang
memberi pelayanan asuhan kebidanan di Ruang Kebidanan RS Santa Anna
Kendari yang berjumlah 34 orang.

D. Sampel

45

Sampel dalam penelitian ini adalah yang memenuhi criteria yang


berpendidikan D III Kebidanan yang memberi pelayanan Asuhan pada Ibu
bersalin dengan distosia bahu yang dirawat di ruang Kebidanan Ruang Kebidanan
RS Santa Anna Kendari.
E. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif Distosia Bahu
Penatalaksanaan yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu suatu
proses/manajemen asuhan kebidanan berdasarkan 7 langkah varney, semua
asuhan kebidanan yang dilaksanakan mulai dari tahap pengkajian sampai tahap
evaluasi.
1. Pengkajian Data
Pengkajian (skala ordinal) adalah kegiatan mengumpulkan data tentang
status kesehatan klien secara akurat, menyeluruh, singkat dan berkesinambungan.
Cara pengukuran dengan format observasi terdiri dari 10 item observasi. Kriteria
penilaian adalah pernyataan positif dengan pemberian nilai satu jika dilaksanakan
dan nol jika tidak dilaksanakan, sehingga skor terendah 0 dan tertinggi 10 dengan
criteria objektif:
1.1.

Baik : bila responden telah melakukan semua tahapan pengkajian

sesuai

standar operasional prosedur yaitu 80 %.


1.2. Kurang
: bila responden melakukan semua tahapan pengkajian sesuai
standar operasional prosedur yaitu < 80 % (Notoatmodjo, 2010).
2. Identifikasi Diagnosa / Masalah Aktual

46

Identifikasi diagnose masalah (skala ordinal) adalah kegiatan identifikasi


terhadap masalah berdasarkan interpretasi yang akurat atas data-data yang telah
dikumpulkan. Cara pengukuran menggunakan format observasi terdiri dari 10
item observasi. Kriteria penilaian adalah pernyataan positif dengan pemberian
nilai satu jika dilaksanakan dan nol jika tidak dilaksanakan sehingga skor
terendah 0 dan tertinggi 10 dengan kriteria objektif:
2.1.

Baik : bila responden telah melakukan identifikasi masalah aktual sesuai

standar operasional prosedur yaitu 80 %.


2.2. Kurang
: bila responden melakukan identifikasi masalah actual sesuai
standar operasional prosedur yaitu < 80 % (Notoatmodjo, 2010).
3. Identifikasi diagnosa / Masalah Potensial
Antisipasi

masalah

potensial

(skala

ordinal)

adalah

kegiatan

mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan


diagnosa/masalah yang sudah diidentifikasi. Cara pengukuran merupakan format
observasi terdiri dari 10 item observasi. Kriteria penilaian adalah pernyataan
positif dengan pemberian nilai satu jika dilaksanakan dan nol jika tidak
dilaksanakan, sehingga skor terendah 0 dan tertinggi 10 dengan kriteria objektif:
3.1.

Baik : bila responden telah melakukan identifikasi masalah potensial sesuai


standar operasional prosedur yaitu 80 %.
Kurang
: bila responden melakukan identifikasi masalah potensial

3.2.

sesuai standar operasional prosedur yaitu < 80 % (Notoatmodjo, 2010).


4. Tindakan segera

47

Identifikasi tindakan segera (skala ordinal) adalah identifikasi perlunya


tindakan segera oleh responden untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama
dengan anggota tim kesehatan lain. Cara pengukuran menggunakan kuesioner
pengkajian terdiri dari 10 item observasi. Kriteria penilaian adalah pernyataan
positif dengan pemberian nilai satu jika dilaksanakan dan nol jika tidak
dilaksanakan, sehingga skor terendah 0 dan tertinggi 10 dengan kriteria objektif:
4.1.

Baik : bila responden telah melakukan tindakan segera / kolaborasi sesuai

standar operasional prosedur yaitu 80 %.


4.2. Kurang : bila responden melakukan tindakan segera / kolaborasi sesuai standar
operasional prosedur yaitu < 80 % (Notoatmodjo, 2010).
5. Rencana Asuhan
Perencanaan (skala ordinal) adalah menentukan tindakan asuhan
kebidanan pada klien sebelum pelaksanaan asuhan dilaksanakan. Cara
pengukuran menggunakan kuesioner pengkajian terdiri dari 10 item observasi.
Kriteria penilaian adalah pernyataan positif dengan pemberian nilai satu jika
dilaksanakan dan nol jika tidak dilaksanakan, sehingga skor terendah 0 dan
tertinggi 10 dengan kriteria objektif:
5.1.

Baik : bila responden telah melakukan rencana asuhan sesuai standar


operasional prosedur yaitu 80 %.
Kurang : bila responden melakukan rencana asuhan sesuai standar operasional

5.2.

prosedur yaitu < 80 % (Notoatmodjo, 2010).


6. Implementasi

48

Implementasi

atau

Pelaksanaan

(skala

ordinal)

adalah

kegiatan

merealisasikan rencana asuhan kebidanan yang telah ditetapkan. Cara pengukuran


menggunakan kuesioner pengkajian terdiri dari 10 item observasi. Kriteria
penilaian adalah pernyataan positif dengan pemberian nilai satu jika dilaksanakan
dan nol jika tidak dilaksanakan, sehingga skor terendah 0 dan tertinggi 10 dengan
kriteria objektif:
6.1.

Baik : bila responden telah melakukan rencana asuhan sesuai standar

operasional prosedur yaitu 80 %.


6.2. Kurang
: bila responden melakukan rencana asuhan sesuai standar
operasional prosedur yaitu < 80 % (Notoatmodjo, 2010).
7. Evaluasi
Evaluasi dan Penilaian (skala ordinal) adalah kegiatan menentukan nilai
atau tingkat keberhasilan pelaksanaan asuhan kebidanan. Cara pengukuran
menggunakan kuesioner pengkajian terdiri dari 10 item observasi. Kriteria
penilaian adalah pernyataan positif dengan pemberian nilai satu jika dilaksanakan
dan nol jika tidak dilaksanakan, sehingga skor terendah 0 dan tertinggi 10 dengan
kriteria objektif:
7.1.

Baik : bila responden telah melakukan evaluasi standar operasional prosedur


yaitu 80 %.
Kurang : bila responden melakukan evaluasi standar operasional prosedur

7.2.

yaitu < 80 % (Notoatmodjo, 2010).


F. Pengolahan Data
1. Pengolahan Data

49

Tehnik analisa data yang digunakan di penelitian ini menggunakan


perhitungan statistik sederhana yaitu presentasi atau proporsi (Budiarto, 2009).
Setelah data terkumpul melalui pengumpulan data, kemudian dilakukan
pengolahan data melalui tahapan antara lain:
1.1. Editing
Dimana penulis akan melakukan penelitian terhadap data yang diperoleh
dan diteliti apakah terdapat kekeliruan atau tidak dalam penelitian.
1.2. Koding
Setelah dilakukan editing, selanjutnya penulis memberikan kode tertentu
pada tiap-tiap data sehingga memudahkan dalam melakukan analisa data.
1.3. Skoring
Setelah melakukan pengkodean maka dilanjutkan dengan tahap
pemberian skor pada lembar observasi dalam bentuk angka-angka.
1.4. Tabulasi
Pada tahap ini jawaban responden yang sama dikelompokkan dengan
teliti dan teratur, dijumlahkan dan dituliskan dalam bentuk tabel (Nasir, dkk,
2011).
G. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti

memandang perlu

adanya

rekomendasi pihak institusi dan pihak lain dengan mengajukan permohonan izin
50

kepada instansi tempat penelitian dalam hal ini RSUD Abunawas setelah
mendapat persetujuan barulah dilakukan penelitian dengan menekankan masalah
etika penelitian yang meliputi:
1. Informed consent
Lembar persetujuan diberikan kepada responden yang akan diteliti yang
memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian bila
subyek menolak maka peneliti tidak akan memaksakan kehendak dan tetap
menghormati hak-hak subyek.
2. Anonymity
Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak akan mencantumkan nama
responden pada kuesioner tetapi pada kuesioner tersebut diberikan kode
responden.
3. Confidentiality
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti dan hanya
kelompok data tertentu saja yang dilaporkan.
4. Beneficence
Peneliti

melindungi

subyek

ketidaknyamanan fisik.
5. Full Disclosure

51

agar

terhindar

dari

bahaya

dan

Peneliti memberikan hak kepada responden untuk membuat keputusan


secara sukarela tentang partisipasinya dalam penelitian ini dan keputusan tersebut
tidak dapat dibuat tanpa memberikan penjelasan selengkap-lengkapnya (Nasir,
dkk, 2011).
H. Prosedur Pengumpulan Data
1. Data Primer
Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan mengambil data primer
yaitu dengan cara mengobservasi dan wawancara bidan pada ibu dengan
menggunakan lembar observasi (daftar ceklis) di Ruang Kebidanan RS Santa
Anna Kendari tahun 2015.
2. Data Sekunder
Data sekunder yang diperoleh yakni dari rekam medik (medical record)
maupun register kebidanan di Ruang Kebidanan RS Santa Anna Kendari dan
data sekunder lain termaksud profil RS Santa Anna Kendari, data yang relevan
dengan masalah, landasan teori serta bahan penelitian yang diperoleh melalui
artikel, jurnal, skripsi dan data dari RS Santa Anna Kendari tahun 2015.

52