Anda di halaman 1dari 11

PROSES MENGONSTRUKSI KONEKSI MATEMATIKA SISWA SMP

DALAM PEMECAHAN MASALAH GEOMETRI


SUDARSONO
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya
Program Studi Magister Pendidikan Matematika
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses mengonstruksi koneksi matematika dalam
pemecahan masalah geometri. Untuk tujuan tersebut, peneliti memilih 3 subjek penelitian, terdiri atas 1 siswa
berkemampuan matemtaika tinggi, 1 siswa berkemampuan matematika sedang dan 1 siswa berkemampuan
matematiika rendah. Pengelompokan kemampuan siswa menggunakan tes kemampuan matematika yang
diambil dari soal UN matematika SMP/MTs tahun ajaran 2010/2011 yang materinya telah dipelajari oleh
siswa kelas VIII SMP. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan
kualitatif.
Peneliti melakukan wawancara berbasis tugas terhadap ketiga subjek penelitian. Wawancara yang
dilakukan direkam, kemudian ditranskrip dan dikodekan. Untuk memperoleh data yang valid, peneliti
melakukan dua kali pemberian tugas dan wawancara untuk setiap subjek penelitian. Data yang diperoleh,
selanjutnya, ditriangulasi. Kemudian, data yang valid dianalisis untuk menarik kesimpulan. Hasilnya adalah
proses mengonstruksi koneksi matematika dalam pemecahan masalah geometri.
Proses mengonstruksi koneksi matematika dalam pemecahan masalah geometri untuk subjek
berkemampuan matematika tinggi memahami masalah dengan membaca masalah kemudian menuliskan
apa yang dipahami dalam masalah. Subjek juga dapat menceritakan kembali apa yang diketahui dan apa
yang ditanyakan dalam masalah. Dalam membuat rencana penyelesaian, subjek berkemampuan
matematika tinggi dengan cara mencoba membuat gambar. Gambar ynag dimaksud adalah gambar ketiga
lingkaran seperti pada jawaban tertulis untuk memahami masalah. Setelah mencermati gambar subjek
menemukan unsur-unsur yang digunakan untuk menentukan panjang kawat, misalnya garis singgung
persekutuan sejajar dengan sisi-sisi segitiga yang titik sudutnya adalah pusat lingkaran, kemudian subjek
menyimpulkan bahwa panjang kawat adalah menjumlahkan panjang keliling lingkaran dengan keliling
segitiga sama sisi. Dalam melaksanakan rencana penyelesaian subjek berkemampuan matematika tinggi
langsung menggunakan rencana yang dibuat. Subjek menghitung panjang keliling lingkaran dan panjang
keliling segitiga sama sisi lalu dijumlahkan. Subjek merasa yakin dengan jawaban yang dihasilkannya.
Dalam memeriksa kembali jawaban subjek berkemampuan matematika tinggi dengan cara memeriksa
kembali kebenaran hasil penyelesaian dengan cara melakukan perhitungan (coret-coretan) ulang pada
kebenaran hasil yang diperoleh. Subjek merasa yakin akan jawaban yang diperolehnya sudah benar.
Subjek berkemampuan matematika tinggi. Mengenali hubungan antarkonsep yang dikenali subjek
dimulai dari penggunaan konsep lingkaran, keliling lingkaran, panjang busur lingkaran, sudut pusat
lingkaran, garis singgung lingkaran, garis tegak lurus jari-jari, dua lingkaran bersinggung, besar sudut
pusat lingkaran, segitiga sama sisi dan persegipanjang. Subjek menggunakan hubungan antarkonsep
matematika untuk menyelesaikan masalah, yaitu mencari besar sudut segitiga yang dihubungkan dengan
konsep sudut pusat lingkaran, besar sudut pusat lingkaran, keliling segitiga, segitiga sama sisi dan garis
singgung tegak lurus jari-jari. kemudian mencari panjang busur lingkaran yang dihubungkan dengan
konsep besar sudut pusat lingkaran, sudut pusat lingkaran dan keliling lingkaran. dan mencari panjang sisi
segitiga yang dihubungkan dengan konsep segitiga sama sisi, persegi panjang, lingkaran bersinggung dan
keliling segitiga. Dalam menyelesaikan masalah geometri, subjek menggunakan operasi hitung perkalian,
penjumlahan, pengurangan dan pembagian.
Proses mengonstruksi koneksi matematika dalam pemecahan masalah geometri untuk subjek
berkemampuan matematika sedang memahami masalah dengan membaca masalah, kemudian menulis
apa yang dipahami dalam masalah. Subjek juga dapat menceritakan kembali apa yang diketahui dan yang
ditanyakan dalam masalah. Dalam membuat rencana penyelesaian subjek berkemampuan matematika
sedang dengan cara membuat gambar, gambar yang dimaksudkan adalah gambar ketiga lingkaran seperti
pada jawaban tertulis untuk memahami masalah. Subjek juga mencermati gambar. Subjek menemukan
unsur-unsur yang digunakan untuk menetukan panjang kawat. Akhirnya subjek menyimpulkan bahwa
panjang kawat adalah menjumlahkan panjang keliling lingkaran dengan keliling segitiga sama sisi.
Subjek menentukan operasi hitung yaitu perkalian, penjumlahan, pengurangan dan pembagian. Dalam
melaksakan rencana penyelesaian subjek berkemampuan matematika sedang dengan cara langsung
mengerjakan dari apa yang telah direncakan.
Kata Kunci: Koneksi Matematika, Pemecahan Masalah, Masalah Geometri

PENDAHULUAN
Dalam NCTM (2000), yang
menyatakan bahwa standar matematika
sekolah meliputi standar isi dan standar
proses. Standar proses meliputi
pemecahan masalah, penalaran dan
pembuktian, koneksi, komunikasi, dan
representasi. Adapun Soedjadi (2004)
menyatakan bahwa ada dua tujuan
pokok pembelajaran matematika di
setiap jenjang pendidikan, yaitu tujuan
formal dan tujuan material. Tujuan
formal
pembelajaran
matematika
berkaitan dengan penataan nalar dan
pembentukan sikap peserta didik,
sedangkan tujuan material pembelajaran
matematika adalah tujuan yang
berkaitan dengan penggunaan dan
penerapan matematika, baik dalam
matematika itu sendiri maupun dalam
bidang-bidang lainnya.
Matematika sebagai salah satu
mata pelajaran di sekolah dinilai sangat
memegang peranan penting karena
matematika
dapat
meningkatkan
pengetahuan siswa dalam berpikir
secara logis, rasional, kritis, cermat,
efektif,
dan
efisien,
sehingga
diharapkan peserta didik dapat memiliki
kemampuan memperoleh, menganalisis,
menyimpulkan dan memanfaatkan
informasi untuk bertahan hidup pada
keadaan
yang
selalu
berubah,
berkembang pesat dan kompetitif.
Dalam
Kurikulum
Berbasis
Kompetensi (2006), dideskripsikan
bahwa tujuan pembelajaran matematika
dalam KTSP (Depdiknas, 2006: 346)
yaitu agar peserta didik memiliki
kemampuan sebagai berikut :
1) Memahami konsep matematika,
menjelaskan
hubungan
antarkonsep atau logaritma
secara luwes, akurat, efisien,
dan tepat dalam pemecahan
masalah.

Berkaitan
dengan
tujuan
pembelajaran matematika di atas,
National Council of Teachers of
Mathematics (NCTM) juga menyatakan
bahwa problem solving should be the
central focus of the mathematics. As
such, it is primary goal of all
mathematics instructional and an
integral part of all mathematical
activity
yang
artinya
bahwa
pemecahan masalah harus menjadi
pusat
perhatian
dari
kurikulum
matematika.
Dengan
demikian,
pemecahan masalah menjadi tujuan
utama dari semua instruksi matematika
dan sebagai bagian integral dari semua
aktivitas matematika (Practical Inquiry,
2000).
Dari beberapa pendapat di atas
nampak bahwa salah satu tujuan
pengajaran matematika adalah agar
siswa dapat menghubungkan antar
konsep matematika dengan mata
pelajaran
lain
yang
diperoleh
sebelumnya
untuk
memecahkan
persoalan-persoalan dalam dunia nyata.
Oleh karena itu diperlukan adanya
peningkatan
kemampuan
koneksi
matematika
dalam
pembelajaran
matematika karena topik-topik dalam
matematika banyak memiliki relevansi
dan manfaat dengan bidang lain, baik di
sekolah maupun diluar sekolah. Tanpa
koneksi-koneksi para siswa harus
mempelajari dan mengingat dan terlalu
banyak
konsep-konsep
dan
keterampilan-keterampilan yang berdiri
sendiri. Dengan koneksi para siswa
dapat
membangun
pemahamanpemahaman
baru
berdasarkan
pengetahuan sebelumnya. Hal ini
memerlukan upaya yang optimal bagi
guru
dan
pihak
lain
untuk
memikirkannya.
NCTM
(1989:223)
juga
menyebutkan
pentingnya
koneksi
matematika bagi siswa, yaitu ... to help
students broaden their perspective, to

view mathematics as an integral whole


rather than as an isolated set of topics
and to acknowledge its relevance and
usefulness both in and out of school.
Koneksi matematika digunakan untuk
membantu siswa memperluas perspektif
mereka, untuk melihat matematika
sebagai suatu keseluruhan yang utuh
bukan sebagai serangkain topik yang
terpisah dan mengakui relevansi dan
kegunaan baik salam dan luar sekolah.
apabila siswa dapat menghubungkan
konsep-konsep
matematika,
maka
pemahaman merelka akan lebih
mendalam dan lebih bertahan lama.
Pemahaman siswa akan lebih mendalam
jika siswa dapat mengaitkan antara
konsep yang telah diketahui siswa
dengan konsep baru yang akan
dipelajari oleh siswa.
Dari beberapa pendapat di atas
nampak bahwa salah satu tujuan
pengajaran matematika adalah agar
siswa dapat menerapkan konsep
matematika yang diperoleh untuk
memecahkan
persoalan-persoalan
dalam mata pelajaran matematika dan
menghubngkan
antar
konsep
matematika. Oleh karena itu diperlukan
adanya
peningkatan
kemampuan
koneksi matematika dan pembelajaran
matematika karena topik-topik dalam
matematika banyak memiliki relevansi
dan
manfaatnya
antara
konsep
matematika yang satu dengan konsep
matematika yang lainnya. Tanpa
koneksi-koneksi para siswa harus
mempelajari dan mengingat terlalu
banyak
konsep-konsep
dan
keterampilan-keterampilan
berdiri
sendiri. Dengan koneksi para siswa
dapat
membangun
pemahamanpemahaman
baru
berdasarkan
pengetahuan sebelumnya. Hal ini
memerlukan upaya yang optimal bagi
guru
dan
pihak
lain
untuk
memikirkannya. Dalam hal ini, siswa
diberi banyak peluang untuk lebih
memahami suatu konsep matematika
dan keterkaitannya untuk berbagi ide

antara siswa itu sendiri. Sedangkan guru


dapat
mengajukan
pertanyaanpertanyan yang dapat memancing siswa
berpikir kritis untuk memecahkan
permasalahan.
Selain kemampuan koneksi, hal
lain yang penting dalam matematika
adalah apresiasi siswa terhadap
matematika. Sebagaimana tercantum
dalam Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional (Permendiknas) Nomor 23
tahun 2006 tentang Standar Kompotensi
Lulusan
(SKL)
mata
pelajaran
matematika untuk siswa SMP/MTs,
salah
satu
tujuan
pembelajaran
matematika adalah memiliki sikap
menghargai
matematika
dan
kegunaannya
dalam
kehidupan.
Apresiasi
terhadap
matematika
merupakan
sikap
menghargai
kegunaannya dalam matematika dan
dalam kehidupan, yaitu sikap memiliki
rasa ingin tahu, perhatian dan minat
dalam mempelajari matematika serta
sikap ulet dan percaya diri dalam
pemecahan masalah.
Pemecahan masalah matematika
merupakan hal yang sangat penting
dalam pembelajaran matematika karena
dapat membangkitkan keterampilan
siswa untuk merespon pertanyaanpertanyaan yang diajukan, siswa
menjadi terampil dalam memilih dan
mengidentifikasi kondisi dan konsep
yang relevan, mencari generalisasi,
merumuskan rencana penyelesaian dan
mengorganisasikan keterampilan yang
telah dimiliki sebelumnya. Margaret

Wu (2006:97), berpendapat By
studying common errors students
made, we identified the cognitive
process that were important in
solving mathematical problem, with
the belief that, if students were
taught how to avoid common errors,
they would be better problem
solvers
(dengan
mempelajari
kesalahan umum yang dilakukan
oleh
siswa,
kami

mengidentifikasikan
masalahmasalah
matematika,
dengan
keyakinan bahwa jika siswa diajari
bagaimana menghindari kesalahan
umum yang mereka lakukan, maka
akan
menjadikan
mereka
menyelesaikan masalah yang lebih
baik). Lebih lanjut, Margaret Wu
mengidentifikasikan empat dimensi
pemecahan masalah yaitu:
1. Reading/Extracting
all
information from the question
(membaca semua informasi
dari pertanyaan).
2. Real life and Common Sense
Approach to Solving Problem
(pendekatan dunia nyata dan
akal
sehat
untuk
menyelesaikan masalah).
3. Mathematics
concept,
mathematisation
and
reasoning
(konsep
matematika, matematisasi dan
pemberian alasan).
4. Standard computational skill
and carefulness in carrying
out computations (standar
keterampilan dan ketelitian
berhitung).
Berkaitan dengan pemecahan
masalah matematika, setidaknya bagi
seorang
siswa
harus
memiliki
pengalaman
berupa
pengetahuanpengatuhuan
serta
keterampilanketerampilan yang cukup. Tanpa
pengetahuan atau ketermpilan yang
cukup siswa akan kesulitan dalam
memecahkan masalah tersebut. Shadiq
(2004)
mengemukakan
bahwa
pemecahan masalah merupakan hal
yang sangat penting dilakukan dalam
pembelajaran matematika di kelas
karena diyakini bahwa keterampilan
dan kemampuan berpikir yang didapat
di kelas dapat ditransfer atau digunakan
dalam menghadapi masalah didalam
kehidupan sehari-hari. Salah satu aspek
penting yang perlu diperhatikn guru

dalam pemecahan masalah matematika


adalah proses berpikir. Proses berpikir
perlu diketahui guru dalam upaya
mengidentifiksi jenis kesalahan dan
bentuk kesulitan yang dihadapi siswa
dalam memecahkan masalah.
Hal ini sesuai dengan tuntutan di
era modern ini yanng mengharapkan
penambahan kompetensi dari liberasi
matematika di era lampau. Kompetensi
yang ditambahkan dalam liberasi
matematika modern yaitu kemampuan
bernalar
dan
bekerja
dengan
matematika. Kemampuan bernalar dan
kemampuan berpikir tingkat
tinggi
sangat menentukan kesuksesan di era
global ini, oleh karena itu pembelajaran
matematika setidaknya harus melatih
dan
mengembangkan
kemampuan
peserta didik untuk bernalar.
Bahkan, Multiyasa pada salah satu
makalahnya menuliskan pada
hakikatnya matematika adalah metode
berpikir, metode untuk memecahkan
masalah
terkait dengan proses
pembelajaran, Sawyer (Shadiq, 2004)
menyatakan bahwa pengetahuan yang
diberikan
atau
ditransformasikan
langsung kepada para siswa akan
kurang meningkat kemampuan bernalar
mereka. Sehingga, pengintegrasian
pemecahan masalah (Problem Solving)
menjadi
keharusan
selama
pembelajaran berlangsung (Shadiq,
2004). Pemecahan masalah secara
umum disetujui sebagai cara untuk
mempercepat keterampilan berpikir.
Pehkonen (2007) menyatakan bahwa
problem solving has generally been
accepted as means for advancing
thinking skills., artinya bahwa
pemecahan masalah telah diterima
secara umum sebagai cara untuk
meningkatkan keahlian berpikir.
Pemecahan masalah merupakan
aspek penting dalam proses belajar
secara umum dan lebih khusus dalam
pengembangan matematika sekolah
sehingga pembelajaran matematika di
sekolah seharusnya difokuskan pada

peningkatan kemampuan siswa dalam


memecahkan masalah matematika.
Menurut Polya (Hasbulah, 2000:11),
pemecahan masalah adalah suatu usaha
mencari jalan keluar dari suatu
kesulitan, mencapai suatu tujuan yang
tidak dengan segera dapat dicapai.
Kemudian
Polya
lebih
lanjut
mengemukakan bahwa di dalam
matematika terdapat dua macam
masalah,
yaitu
masalah
untuk
menemukan dan masalah untuk
membuktikan.
Kemampuan koneksi matematika
siswa kelas VIII SMP Negeri 2

Madapangga, Kabupaten Bima yang


masih belum optimal yang tidak sesuai
dengan pendapat NCTM (2000:29)
dalam Principles and Standart for
School Mathematics, yang menyatakan
bahwa
standart
proses
dalam
pembelajaran
matematika
yaitu
kemampuan
pemecahan
masalah
(problem
solving),
kemampuan
penalaran (reasoning), kemampuan
komunikasi
(communication),
kemampuan koneksi (connection), dan
kemampuan
representasi
(representation).

METODE PENELITIAN

data yang berupa angka-angka tetapi


hanya bersifat melengkapi dan akan
dipaparkan sesuai dengan kejadian yang
terjadi dalam penelitian, analisis data
dilakukan secara induktif. Sesuai
dengan karakteristik yang dikemukakan
di atas maka jenis penelitian ini adalah
penelitian
eksploratif
dengan
pendekatan kualitatif.

Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis ingin
memperoleh data secara alami tentang
proses
mengonstruksi
koneksi
matematika dalam pemecahan masalah
geometri.
Data
hasil
penelitian
merupakan data verbal meskipun ada
Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah
siswa kelas VIII SMP dipilih siswa
yang sudah mempelajari Luas Bangun
Datar untuk tingkat SLTP. Penetapan
kategori kemampuan matematika siswa
didasarkan kemampuan tinggi, sedang,

Instrument dan Teknik Pengumpulan


Data
Instrumen
untuk
mengetahui
proses
mengonstruksi
koneksi
matematika siswa dalam pemecahan
masalah geometri merupakan pedoman
wawancara berbasis tugas yang
digunakan
untuk
mendapatkan

dan
rendah.
Tes
kemampuan
matematika dalam penelitian ini
merupakan tes matematika yang
terstandarisasi sebab soal-soal diambil
dari soal UN SMP dengan kurang
waktu 5 tahun terakhir.

informasi
lebih
dalam
tentang
kemampuan
siswa
dalam
mengonstruksi koneksi matematika
dalam pemecahan masalah geometri,
mengacu pada tahap-tahap pemecahan
masalah menurut Polya, proses ini
meliputi 4 (empat) langkah: 1).
Memahami masalah, 2) merencanakan
cara penyelesaian, 3) melaksanakan
rencana, dan 4) melakukan pengecekan
kembali.

Teknik Analisis Data


Teknik
analisis
data
yang
dilakukan dengan tahapan sebagai
berikut Analisis data dilakukan apabila
semua data sudah terkumpul, yang
berupa data hasil pemecahan masalah
geometri dan data hasil wawancara
teknik analisis data yang digunakan
oleh penelitian adalah model alir (flow
model) yang dikemukan oleh Miles dan
Huberman (1998:18) dengan tahaptahap sebagai berikut ; (a) mereduksi,
(b) menyajikan data, dan (c) menarik
kesimpulan.
a. Mereduksi data.
Mereduksi data adalah kegiatan
yang dilakukan dalam hal ini
yakni melakukan proses yang
meliputi menyeleksi, memfokus
data, menyederhanakan semua
data yang diperoleh mulai dari
awal pengumpulan data sampai
penyusunan laporan penelitian.
Data hasil pekerjaan soal
pemecahan masalah matematika
dan data hasil wawancara, dapat

Prosedur Penelitian
Secara garis besar prosedur penelitian
ini adalah sebagai beriikut:
1. Merancang instrumen penelitian,
yaitu tes kemampuan matematika,
soal pemecahan masalah geometri
dan pedoman wawancara.
2. Melaksanakan validasi instrumen
penelitian oleh pembimbing I
dan pembimbing II.
3. Penentuan
subjek
penelitian
berdasarkan
tes
kemampuan
matematika yang dimiliki
anak
dalam
pemecahan
masalah
matematika.
4. Pengumpulan
data
dengan
memberikan soal pemecahan masalah
geometri -1 kepada subjek penelitian

dilakukan reduksi data sehingga


penelitian
dapat
membuat
kesimpulan yang akurat dan
dapat dipertanggung jawabkan.
b. Menyajikan data
Penyajian data penelitian ini
meliputi
pengorganisasian
informasi hasil reduksi yang
disusun secara naratif, sehingga
memungkinkan penelitian untuk
menarik kesimpulan.
c. Menarik simpulan
Menyimpulkan semua data yang
diperoleh dari langkah-langkah
di atas yang berupa data alamiah
sebagaimana dikatakan oleh
Patton
(dalam
Rulam
Ahmadi,2005:3) bahwa data
alamiah ini utamanya diperoleh
dari hasil ungkapan langsung
dari subjek penelitian karena
apa yang dikatakan siswa
merupakan sumber utama dari
data
kualitatif.
Penarikan
kesimpulan ini, dimaksudkan
untuk memberikan penjelasan
makna data yang telah disajikan.
kemudian
dilanjutkan
dengan
wawancara.
5. Pengumpulan
data
dengan
memberikan soal pemecahan masalah
geometri -2 kepada subjek penelitian
kemudian
dilanjutkan
dengan
wawancara
6. Analisis data, meliputi:
a. Menganalisis hasil pekerjaan
soal
pemecahan
masalah
geometri
yang
diberikan
peneliti.
b. Menganalisis hasil wawancara-1
c. Menganalisa hasil wawancara-2
(setara dengan lembar tugas
pemecahan masalah-1)
d. Melakukan perbandingan hasil
paparan
data
wawancara
pertama dan kedua.
7. Menyusun laporan akhir (tesis).

selanjutnya
disebut
siswa
berkemampuan matematika tinggi,
siswa
berkemampuan
matematika
sedang, dan siswa berkemampuan
matematika rendah. Subjek yang
termasuk dalam siswa berkemampuan
matematika tinggi adalah Subjek 1 (S1).
Subjek yang termasuk dalam siswa
berkemampuan matematika sedang
adalah subjek 2 (S2). Subjek yang
termasuk dalam siswa berkemampuan
matematikarendah adalah Subjek 3
(S3).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada penelitian ini data yang
dianalisis terdiri dari hasil wawancara
berbasis tugas terkait dengan koneksi
matematika siswa dalam pemecahan
masalah geometri yang dilakukan di
rumah subjek. Selanjutnya dikaji dan
dideskripsikan secara kualitatif proses
mengonstruksi koneksi matematika
SMP kelas VIII dalam pemecahan
masalah geometri. Untuk itu dipaparkan
tiga kelompok subjek penelitian yang
memiliki tiga karateristik yang berbeda,
Pengambilan data dilakukan masingmasing dua kali untuk setiap subjek.
Penjelasan lebih rinci dapat dilihat pada
tabel berikut

Tabel 4.2. Jadwal Wawancara dengan Subjek Penelitian


1

Minggu, 16 September 2012

15.00-16-30

Wawancara
I
S1

2
3
4
5
6

Senin, 17September 2012


Selasa, 18September 2012
Selasa, 25September 2012
Rabu, 26 September 2012
Kamis, 27 September 2012

11.00- 12-30
15.30- 16-30
11.30- 13.00
12.00-13.00
16.00- 17.00

S2
S3
-

No

Hari/Tanggal

Waktu

Kegiatan wawancara dilakukan


untuk setiap subjek penelitian yang
direkam, kemudian ditranskripsi. Untuk
memudahkan penulisan paparan data
maka dibuat kode menggunakan hurus
kapital sebagai inisial subjek penelitian,
dengan menambahkan huruf kapital P
atau S di depaninisial subjek dan angka
dibelakang inisial subjek. P dan S

Wawancara
II
S1
S2
S3

menunjukkan pewawancara dan subjek,


diikuti dua huruf capital inisial subjek,
angka pertama menunjukkan kode tugas
pemecahan masalah geometri 1 dan
tugas pemecahan masalah geometri 2,
sedangkan
dua
angka
terakhir
menunjukkan
urutan
kegiatan
wawancara.

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN


Setiap
konsep
dalam
matematika saling berkaitan dengan
konsep yang lainnya. selanjutnya Bruner
(Ruseffendi, 1991:132), menyatakan
bahwa tidak ada konsep atau operasi
yang tidak terkait dengan konsep atau
operasi lain yang sama sistem, Knut
(2002:25) menyatakan bahwa dengan

koneksi matematika dapat membangun


pemahaman siswa tentang adanya
hubungan internal dalam matematika.
Hubungan internal matematika meliputi
hubungan
antara
topik
dalam
matematika itu sendiri. Selanjutnya
dalam penelitian ini mendeskripsikan
proses
koneksi
matematik
yang

penjelasannya dikaitkan dengan empat


langkah proses pemecahan masalah
menurut
Polya
(1973)
perlu
dikembangkan
keterampilan:
(1)
memahami masalah, (2) membuat
rencana penyelasaian, (3) melaksanakan
rencana, dan (4) melakukan pengecekan
kembali.
Proses mengonstruksi koneksi
matematik dalam pemecahan masalah
geometri,
subjek
berkemampuan
matematika tinggi memahami masalah
dengan membaca masalah kemudian
menuliskan apa yang dipahami dalam
masalah.
Subjek
juga
dapat
menceritakan kembali apa yang
diketahui dan apa yang ditanyakan
dalam masalah. Dalam membuat
rencana
penyelesaian,
subjek
berkemampuan
matematika
tinggi
dengan cara mencoba membuat gambar.
Gambar ynag dimaksud adalah gambar
ketiga lingkaran seperti pada jawaban
tertulis untuk memahami masalah.
Setelah mencermati gambar subjek
SIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa:
1. Hubungan antarkonsep matematika
untuk
subjek
berkemampuan
matematika tinggi.
Hubungan
antarkonsep
yang
dikenali subjek dimulai dari
penggunaan
konsep
lingkaran,
keliling lingkaran, panjang busur
lingkaran, sudut pusat lingkaran,
garis singgung lingkaran, garis tegak
lurus jari-jari, dua lingkaran
bersinggung, besar sudut pusat
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka
beberapa saran perlu disampaikan
sebagai berikut:
1. Kajian dalam penelitian ini masih
terbatas pada proses mengonstruksi
koneksi
matematika
dalam

menemukan
unsur-unsur
yang
digunakan untuk menentukan panjang
kawat,
misalnya
garis
singgung
persekutuan sejajar dengan sisi-sisi
segitiga yang titik sudutnya adalah pusat
lingkaran,
kemudian
subjek
menyimpulkan bahwa panjang kawat
adalah menjumlahkan panjang keliling
lingkaran dengan keliling segitiga sama
sisi. Dalam melaksanakan rencana
penyelesaian subjek berkemampuan
matematika
tinggi
langsung
menggunakan rencana yang dibuat.
Subjek menghitung panjang keliling
lingkaran dan panjang keliling segitiga
sama sisi lalu dijumlahkan. Subjek
merasa yakin dengan jawaban yang
dihasilkannya.
Dalam
memeriksa
kembali jawaban subjek berkemampuan
matematika tinggi
dengan cara
memeriksa kembali kebenaran hasil
penyelesaian dengan cara melakukan
perhitungan (coret-coretan) ulang pada
kebenaran hasil yang diperoleh. Subjek
merasa yakin akan jawaban yang
diperolehnya sudah benar.
lingkaran, segitiga sama sisi dan
persegipanjang.
Subjek
menggunakan
hubungan
antarkonsep
matematika
untuk
menyelesaikan
masalah
yaitu
mencari besar sudut segitiga,
panjang busur lingkaran dan panjang
sisi segitiga yang dihubungkan
dengan keliling segitiga dan keliling
lingkaran. Subjek menggunakan
operasi
hitung
perkalian,
penjumlahan, pengurangan dan
pembagian dapat disajikan dalam
Diagram 5.1 sebagai berikut:
pemecahan
masalah
geometri,
karena itu masih dapat dilakukan
penelitian lanjutan. Oleh sebab itu
disarankan untuk peneliti lanjutan
untuk mencermati kembali metode
pengumpulan data dan instrumen
bantu
penelitian,
sehingga

memungkinkan koneksi matematika


tersebut lebih banyak muncul.
2. Pada penelitian ini pemberian tes
kemampuan matematika hanya
dilakukan satu kali sehingga kurang
menunjukkan
konsistensi
kemampuan matematika siswa yang
sebenarnya,
sehingga
perlu

dilakukan
pemberian
tes
kemampuan matematika lebih dari
sekali untuk melihat konsistensi
kemampuan matematikanya, agar
subjek yang diperoleh benar-benar
berada
ditingkat
kemampuan
matematika yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA
Asep Jihad. 2008. Pengembangan Kurikulum Matematika (Tinjauan Teoritis dan
Historis). Bandung: Multipressindo
Bell, F. H. 1978. Teaching and Learning Mathematics, (In Secondary School),
Lowa City: Wim C. Brown.
Depdiknas.(2006). Peraturan Menteri No 23 Tahun 2006 Tentang Standar
Kompotensi Kelulusan. Jakarta: Depdiknas
Gie, T.L., 2003. Teknik Berpikir Kreatif: Petunjuk Bagi Mahasiswa untuk
Menjadi Sarjana Unggul. Yogyakarta: PUBIB dan Sabda Persada.
Glass, A, L. and Holyoak, K,J. 1986. Cognition. 2nd ed. Singapura. McGraw-Hill
Book Company.
Hudojo, Herman, 1988, Mengajar Belajar Matematika, Departemen, Pendidikan
dan Kebudayaan, Jakarta
Hudojo, H. 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika Hudojo, Malang: Ikip
Malang
Hudoyo, H. 1979. Pengembangan Kurikulum Matematika dan Pelaksanaannya di
depan Kelas. Surabaya: Usaha Nasional
Hudoyo, H. 2001. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika
Universitas Negeri Malang.
Krulik, S, Rudnick, J, dan Milou, E 2003 Teaching Mathematics in Middle School
A Practical Guide. Boston.
Lia Budi Tristanti (2012). Profil kemampuan koneksi matematika siswa dalam
memecahkan masalah ditinjau dari kecenderungan kepribadian
extrovert dan introvert.
Margaret wu. 2006. Modeling Mathematics Problem Solving Item Responses
Using a Multidimensional IRT Model. University of Melbourne.
Mathematics Education Research Journal.
Moleong J. Lexy. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya
National Council of Teachers of Mathematics.
137 (1989), Curriculum and Evaluation
Standards for School Mathematics, Reston, Virginia: NCTM.
National Council of Teachers of Mathematics (NCTM). 2000. Principles and
Standards for School Mathematics. Washington, D.C: National
Academy Press.

Nurhadi, dkk, 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Pembelajarannya dalam


KBK, Malang: Universitas Negeri Malang
Orhan. 2008. Pembelajaran Perkalian Bilangan Dengan Strategi Intraksi Sebagai
Upaya Membangun Kemampuan Koneksi Matematika Siswa Kelas II
SDN 6 Panarung Palangkaraya. Tesis tidak diterbitkan malang.
Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.
Pehkonen, E. 2007. Problem Solving In Mathematics Education In Finland.
http://www.docstoc.com. Diakses 15 September 2011
Practical inquiry, Mamhematics and Science Educational Center, 2000.
Mamhematics Problem Solving, Northwest Regional Educational
Laboratory.
PPPG Matematika. 2004. Model-model Pembelajaran Matematika SMP
Disampaikan Pada Diklat Instruktur/Pengembangan Matematika
SMP Jenjang Dasar. Depdiknas Direktorat Jendral Pendidikan
Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataan Guru (PPPG)
Matematika Yogyakarta
Polya, G. 1973. How to Solve It. New York. Doubleday
Poramentier, A.S dan Stepelmen, J. 1990. Teaching Second School Mhatematics:
Techniques dan Enrichment Units Ohio Merril Publisshing
Company
Ratumanan, T.G. Laurens, T. 2006. Evaluasi Hasil Belajar Siswa yang Relevan
dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Surabaya: Yayasan
Pengkajian Pengembangan Pendidikan Indonesia Timur (YP3IT)
Kerjasama Dengan Unesa University Press.
Ruseffendi, E.T (1991). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan
Kompotensinya
dalam
Pengajaran
Matematika
Untuk
Meningkatkan CBSA. Bandung:Tarsito
Rulam Ahmad, 2005. Memahami Metodologi Penelitian Kualitatif. Malang: UM
Press
Ruspiani. 2000. Kemampuan dalam Melakukan Koneksi Matematika. Tesis pada
PPs UPI: tidak diterbitkan.
Shadiq, F. 2004. Pemecahan Masalah, Penalaran dan Komunikasi Masalah
disajikan Instruktur/Pengembangan Matematika SMA Jenjang
Dasar. PPPG Matematika , Yogyakarta 12-21 Juli
Slavin. 1991. Educational Psycologi. New jevsyy: Englewood Cliffs.
Subanji. 2007. Proses Berpikir Penalaran Kovariasional Pseudo Dalam
Mengkonstruksi Grafik Fungsi Kejadian Dinamika Berkebalikan.
Disertasi tidak diterbitkan Program Pasca Unesa
Sudjimat, D.A.1996. Pemecahan Masalah: Tinjaun Singkat Berdasar Teori
Kognitif. Jurnal Pendidikan Humaniora dan Sains Tahun ke-2 No.
1 dan 2, 24-31
Sugiyono. 2010. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. ALFABETA
Suherman, Erman dan Wimtapura, Udin S.2003. Strategi Belajar Mengajar
Matematika. Jakarta Universitas Terbuka.

Sumarmo, U. 1994. Suatu Alternatif Pengajaran Untuk Meningkatkan


Kemampuan Problem Solving Matematika Pada Guru dan Siswa
SMP. Laporan Hasil Penelitian. Bandung: Tidak Diterbitkan.
Sumarmo, U. (2002). Pembelajaran Matematika Untuk Mendukung Pelaksanaan
Kurikulum Berbasis Kompotensi. Makalah. Bandung: FMIPA UPI
Bandung.
Sumarmo, U. 2004. Kemampuan Pemahaman dan Penalaran Matematika Siswa
SMA Dikaitkan Dengan Kemampuan Penalaran Logik Siswa dan
Beberapa Unsur Proses Belajar Mengajar . Disertasi Tidak
Diterbitkan. Bandung: Program Pasca Sarjana Ikip Bandung .
Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika Di Indonesia. Konstatasi
Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan. Jakarta: Dirjen
Dikti Depdikbud.
Soedjadi, R. 2007. Masalah Konstektual Sebagai Batu Sendi Matematika Sekolah.
Pusat Sains dan Matematika Sekolah. Surabaya. Unesa Press
Setiabudi, W. (2003). Langkah Awal Menuju Olimpiade Matematika. Jakarta:
Ricardo
Stanic, G & kilpatrick, J. 1988. Historical Perspectives on Problem Solving in the
Mathematics Curriculum. In R. I. Charles & E.A Silver. Teaching
and Assessing of Mathematical Problem Solving. Reston: NCTM
Solso, R.L. 1995. Cognitive Psychology. Boston. Allyn and Bacon.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional. 2009. Bandung: Citra Umbara
Wahyudin. (2008). Pembelajaran dan Model-Model Pembelajaran (Pelengkap
Untuk Meningkatkan Kompetensi Pedagogis Para Guru dan Calon
Guru Profesional). Bandung
Yanto Permana & Utari Sumarmo (2007) Mengembangkan kemampuan
penalaran dan koneksi matematik siswa SMA melalui
pembelajaran
berbasis
masalahhttp://file.upi.edu/Direktori/jurnal/educationist/vol._i_no.
_2 Diakses tanggal 8 agustus 2012