Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Endokarditis pertama kali ditemukan oleh Rivera tahun 1946. Endokarditis adalah
infeksi permukaan endokardial yang biasanya meliputi dinding ventrikel, katup-katup
jantung, dinding arteri besar, septum, yang ditandai dengan mudah terjadinya aggregasi
dari trombin dan platelet yang disebut vegetasi, ini berisi makroorganisme (Japardi,
tanpa tahun).
Endokarditis merupakan penyakit yang disebabkan infeksi mikroba pada lapisan
endotel jantung, ditandai oleh vegetasi yang biasanya terdapat pada katup jantung,
namun dapat terjadi pada endokardium di tempat lain (Mansjoer, 2000).
Sejauh ini belum ada data epidemiologis penduduk tentang prevalensi atau
insidensi penyakit endokarditis di Indonesia. Prevalensi yang ada hanya tentang jumlah
perkiraan prevalensi endokarditis di masyarakat adalah sekitar 5/100.000 penduduk
pertahun, dan meningkat menjadi 150-200/100.000 penduduk pertahun pada
penyalahgunaan obatintravena.Endokarditis lebih sering terjadi pada orang dewasa.
Sekitar 50% kasus yang ada terjadi pada pasien dengan umur diatas 50 tahun.
Endokarditis lebih sering terjadi pada laki-laki disbanding dengan perempuan.
Sedangkan pada anak-anak, endokarditis terjadi pada anak-anak dengan kelainan
kongenital.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah tentang asuhan keperawatan pada
klien dengan Endokarditis.
C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang asuhan
keperawatan pada klien dengan Endokarditis.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Definisi
Endokarditis merupakan infeksi katup dan permukaan endotel jantung yang
disebabkan oleh invasi langsung bakteri atau organisme lain dan menyebabkan
deformitas bilah katup (Muttaqin, 2009).
Endokarditis pada dasarnya dibagi menjadi dua yaitu endokarditis rematik dan
endokarditis infeksi. Endokarditis rematik merupakan endokarditis yang terjadi akibat
demam rematik, yaitu suatu penyakit sistemik yang disebabkan oleh infeksi
streptokokus grup A. endokarditis rematik secara anatomis dimanifestasikan dengan
adanya tumbuhan kecil yang transparan, yang menyerupai manic dan ukurannya
sebesar kepala jarum pentul, tersusun dalam deretan sepanjang tepi bilah katup, namun
yang lebih sering mereka menimbulkan efek serius. Mereka menjadi awal terjadinya
suatu proses yang bertahap menebalkan bilah-bilah katup, menyebabkannya menjadi
memendek dan menebal dibanding yang normal, (Suzanne, 2002).
Sedangkan endokarditis infeksi adalah infeksi katup dan permukaan endotel
jantung yang disebabkan infeksi langsung dari bakteri atau organisme yang
menyebabkan deformitas bilah katup, (Suzanne, 2002).
B. Etiologi
Endokarditis disebabkan oleh beberapa bakteri maupun mikroorganisme yang
merupakan agen ifeksius yang menyerang lapisan jantung. Bakteri yang menyebabkan
endokarditis antara lain:
1. streptococcus viridans alpha hemolytic, sumber berasal dari gigi
2. staphylococcus coagulase positiv
3. streptococcus faecalis, sumber bakteri berasal dari aborsi dan kateterisasi
genitourinarius
4. enterococcus
5. group A beta Streptococcus hemolitikus
Organisme lain yang menyebabkan endokarditis adalah jamur atau fungi. Jamur
atau fungi yang paling sering menginvasi adalah candida, aspergillus, dan histoplasma.
Penyebab lainnya adalah coxiella burnetii yang menyebabkan demam Q.
C. Patofisiologi
1. Endokarditis Rematik

Endokarditis rematik disebabkan oleh demam rematik yang ditimbulkan


oleh reaksi sensitivitas terhadap bakteri streptokokus hemolitikus grup A. Reaksi
sensitivitas terhadap bakteri ini menyebabkan inflamasi pada lapisan jantung yaitu
miokardium, perikardium, dan endokardium. Leukosit darah yang berperan sebagai
pertahanan tubuh akan tertimbun pada jaringan yang terkena dan membentuk
nodul. Pada endokardium, inflamasi yang terjadi mengenai bagian bilah jantung
sehingga menyebabkan penebalan dan pemendekan pada katup jantung yang
menyebabkan jantung tidak dapat menutup dengan sempurna. Katup jantung yang
menutup tidak sempurna ini menyebabkan kebocoran yang disebut regurgitasi
katup jantung. Namun apabila katup yang mengalami perlengketan satu sama lain
maka hal ini akan menyebabkan stenosis katup sehingga mengakibatkan pasien
dengan kasus seperti ini akan mengalami gagal jantung, disritmia, dan pneumonia
rematik.
2. Endokarditis Infeksi
Endokarditis ini disebabkan oleh infeksi katup dan permukaan endotel jantung
sebagai akibat dari invasi langsung bakteri, fungi, riketsia, dan streptokokus
viridans sehingga menyebabkan deformitas bilah katup. Endokarditis ini juga bisa
disebabkan oleh riwayat penyakit katup jantung pasien maupun riwayat melakukan
tindakan invasif pada jantung. Selain itu endokarditis ini juga banyak menyerang
manula akibat dari penurunan respon imunologis terhadap infeksi.
Kuman paling sering masuk melalui saluran napas bagian atas selain itu juga
melalui alat genital dan saluran pencernaan, serta pembuluh darah dan kulit.
Endokard yang rusak dengan permukaannya tidak rata mudah sekali terinfeksi dan
menimbulakan vegetasi yang terdiri atas trombosis dan fibrin. Vaskularisasi
jaringan tersebut biasanya tidak baik, sehingga memudahkan mikroorganisme
berkembang biak dan akibatnya akan menambah kerusakan katub dan endokard,
kuman yang sangat patogen dapat menyebabkan robeknya katub hingga terjadi
kebocoran. Infeksi dengan mudah meluas ke jaringan sekitarnya, menimbulkan
abses miokard atau aneurisme nekrotik. Bila infeksi mengenai korda tendinae maka
dapat terjadi ruptur yang mengakibatkan terjadinya kebocoran katup.
D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis atau tanda dan gejala yang muncul akibat endokarditis adalah:
1. Embolisasi pertumbuhan vegetatif jantung yang disebabkan oleh toksisitas infeksi
akibat bakteri maupun organisme yang menyerang jantung

2. keluhan umum yang dirasakan adalah malaise, anoreksia, penurunan berat badan,
nyeri punggung dan persendian
3. demam intermiten
4. hemoragi splinter dibawah kuku jari dan jari kaki, peteki pada konjungtiva dan
membran mukus
5. munculnya bintik roth
6. manifestasi pada jantung yang dialami adalah kardiomegali, gagal jantung
kongestif, dan bising jantung yang menginikasikan kerusakan pada katup
7. manifestasi pada sistem saraf yaitu, sakit kepala, iskemia serebal transien, lesi
neurologis fokal, dan stroke
8. emboli yang dapat menyebabkan pneumoni kambuhan, dan abses paru yang
selanjutnya mengakbatkan sesak napas, krekels, dan mengi. sedangkan pada ginjal
hematuria dan gagal ginjal.
E. Penatalaksanaan Medis
Penderita dirawat di rumah sakit dan mendapatkan antibiotika intravena dosistinggi.
Pemberian antibiotika saja tidak cukup pada infeksi katup buatan. Mungkin perlu
dilakukan pembedahan jantung untuk memperbaiki atau mengganti katupyang rusak
dan membuang vegetasi. Endokarditis infektif dengan vegetasi ukurankurang dari 1 cm
biasanya akan sembuh dengan pemberian antibiotika selama 4-6minggu. Sedangkan
untuk vegetasi yang berukuran lebih dari 1 cm dan tidak respon terhadap pemberian
antibiotika selama 3 minggu biasanya memerlukanterapi pembedahan. Terapi dan
prognosis pada endokarditis bergantung padakeadaan yang mendasari terjadinya
endokarditis dan sensitifitas organismeterhadap jenis antibiotika tertentu
Selain beberapa hal diatas terdapat pula penatalaksanaan lainnya seperti:
1. pemberian antibiotik sesuai dengan bakteri yang menyerang pada endokarditis
(contoh : penisilin G pada streptococus)
2. pemberian obat-obatan apabila terjadi gagal jantung seperti digitalis, diuretic, dan
vasodilator
3. Pembedahan
4. Tindakan pembedahan dilakukan apabila:
a) Terjadi komplikasi gagal jantung kongestif
b) Terdapat tanda-tanda disfungsi katup prostetik dari penilaianekokardiografi
c)
d)
e)
f)
g)

trans-esofageal
Vegetasi yang besar
Emboli sistemik yang berulang
Aneurisma katup mitral
Abses pada katup atau endokard jantung.
Sepsis yang sulit diatasi

h) Terjadi relaps setelah pemberian terapi yang adekuat


F. Komplikasi

Komplikasi Endokarditis:
Diantara berbagai manifestasi klinik dari endokarditis komplikasi neurologi
merupakan hal yang penting karena sering terjadi, merupakan komplikasi neurologik.
Dapat melalui 3 cara:
1) Penyumbatan dari pembuluh darah oleh emboli yang berasal dari vegetasi
endokardial.
2) Infeksi meningen, jaringan otak, dinding pembuluh darah karena septik emboli atau
bakterimia.
3) Reaksi immunologis

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Pengkajian awal
Data-data yang dikumpulkan atau dikaji meliputi:
a. Identitas Pasien
Nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, pekerjaan, pendidikan, agama, alamat.
b. Keluhan Utama
Keluhan yang dirasakan klien saat pengkajian yaitu nyeri,demam tinggi, sesak
nafas.
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat penyakit yang diketahui dari pasien endokarditis adalah adanya nafas
pendek, kelemahan, demam tinggi, nyeri pada dada dan tidak khas, adanya tanda
kemerahan di kulit tangan dan kaki
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit dahulu yang sering dialami pasien adalah mempunyai riwayat
penyakit demam rematik
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga mempunyai penyakit yang menurun atau menular.
B. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan terdiri atas pengkajian B1-B6.
1. B1 (Breathing)
Apabila gangguan sudah mengenai katup jantung, biasanya klien terlihat sesak dan
frekuensi nafas melebihi normal.sesak nafas ini terjadi akibat pengerahan tenaga
dan kenaikan tekanan akhir diastolik pada ventrikel kiri yang meningkatkan
tekanan vena pulmonalis. Hal ini terjadi karena terdapat ke gagalan eningkatan
curah darah ventrikel kiri pada waktu melakukan kegiatan fisik. Bila sudah parah,
dispnea kardiak dapat timbul pada waktu beristirahat. Klien biasanya di dapat kan
batuk.
2. B2 (Bleeding)
- Inspeksi
Inspeksi adanya parut. Keluhan lokasi nyeri di daerah substernal atau nyeri di
atas perikardium. Penyebaran dapat meluas di dada, terjadi nyeri, serta
-

ketidakmampuan bahu dan tangan.


Palpasi
Denyut nadi perifer melemah, panas tinggi (38,9o - 40oC), dan menggigil.
Auskultasi

Tekanan darah biasanya menurun akibat penurunan volume sekuncup. Gejala


sistemik yang terjadi sesuai dengan virulensi organisme yang menyerang. Bila
di temukan mur-mur pada seseorang yang menderita infeksi sistemik maka
harus di curigai adanya infeksi endokarditis. Perkembangan murmur yang
progresif sesuai perkembangan waktu dapat terjadi dan menunjukan adanya
kerusakan katup akibat vegetasi atau perforasi katup atau chordae tendineae.
Pembesaran jantung atau adanya bukti gagal jantung kongestif juga bisa terjadi.
Perkusi
Pada batas jantung terjadi pergeseran untuk kasus lanjut pembesaran jantung.
3. B3 (Brain)
Kesadaran biasanya CM, sakit tenggorokan, dan kemerahan pada tenggorokan di
-

sertai eksudat (awitannya mendadak) serta nyeri sendi dan punggung. Sinusitis akut
dan otitis media akut terjadi mungkin karena streptokokus. Manifestasi sistem saraf
pusat mencakup sakit kepala, iskemia serebral transien atau sementara, dan stroke
yang mungkin di akibatkan oleh emboli pada arteri serebral.
4. B4 (Bladder)
Pengukuran volume keluaran urine yang berhubungan dengan adanya penurunan
suplai darah ke ginjal yang merupakan manifestasi dari penurunan perfusi perifer.
5. B5 (Bowel)
Klien biasanya di dapatkan mual dan muntah, tidak nafsu makan dan berat badan
turun. Pembesaran dan nyeri tekan pada kelenjar limfe, nyeri abdomen (lebih
sering pada anak).
6. B6 (Bone)
Aktivitas. Gejala : kelemahan, kelelahan, tidak dapat tidur, pola hidup menetap, dan
jadwal olahraga tidak teratur. Tanda : takikardia, dispnea, pada istirahat / aktivitas.
Higiene : kesulitan melakukan tugas perawatan diri.
C. Diagnosa keperawatan
1. Aktual/risiko nyeri yang berhubungan dengan penurunan suplai ke miokardium
sekunder karena penurunan perfusi.
2. Aktual/risiko tinggi gangguan perfusi perifer yang berhubungan dengan
tromboemboli atau kerusakan sekunder katup-katup pada endokarditis.
3. Cemas yang berhubungan dengan rasa takut akan kematian, penurunan status
kesehatan, situasi krisis, dan ancaman atau perubahan kesehatan.
D. Rencana keperawatan

Diagnosa I : Aktual/risiko nyeri b/d penurunan suplai ke miokardium sekunder karena


penurunan perfusi.
Tujuan : Dalam waktu dalam 3 x 24 jam terdapat pnurunan nyeri dada.
Kriteria : Secara subjektif klien menyatakan penurunan rasa nyeri dada, secara objektif
di dapat kan TTV dalam batas normal, wajah rileks, tidak terjadi penurunan perfusi
perifer, urine output > 600ml/hari.
Intervensi

Rasional

Catat
karakteristik
nyeri,
lokasi, Variasi penampilan dan perilaku klien karena
intensitas, lama dan penyebarannya.
nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian.
Lakukan menejemen nyeri keperawatan.
-

Istirahatkan klien

Istirahat akan menurunkan O2 jaringan perifer


sehingga
akan
menurunkan
kebutuhan
miokardium serta akan meningkatkan suplai
darah dan oksigen ke jaringan nyeri.
Menejemen lingkungan : Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus
lingkungan tenang dan batasi nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung
pengunjung.
akan membantu meningkatkan kondisi O2yang
akan berkurang apabila banyak pengunjung
yang berada di ruangan.
Ajarkan
tehnik
pernafasan dalam

relaksasi Meningkatkan asupan O2 sehingga akan


menurunkan nyeri sekunder dari iskemia
jaringan otak
- Ajarkan teknik distraksi pada Distraksi
(pengalihan
perhatian)
dapat
saat nyeri
menurunkan
stimulus
internal
dengan
mekanisme peningkatan produksi endorfin dan
enkefalin yang dapat mem Blok reseptor nyeri
untuk tidak di kirimkan ke korteks serebri,
sehingga menurunkan persepsi nyeri.
- Lakukan menejemen sentuhan Menejemen sentuhan pada saat nyeri berupa
sentuhan dukungan psikologis dapat membantu
menurunkan nyeri. Mesase ringan dapat
meningkatkan aliran darah sehingga secara
otomatis membantu suplai darah dan oksigen
ke area nyeri serta menurunkan sensasi nyeri.
Kolaborasi :
Obat-obat anti nyeri akan memblok stimulus
pemberian terapi farmakologis antiangina nyeri supaya tidak di persepsikan oleh korteks
serebri.
Diagnosa II :
Aktual/risiko tinggi gangguan perfusi perifer b/d tromboemboli atau kerusakan
sekunder katup-katup pada endokarditis.

Tujuan :
Dalam waktu 3 x 24 jam tidak terjadi perfusi perifer.
Kriteria :
Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat sesuai dengan kebiasaan individu
seperti kebiasaan makan, tanda-tanda vital yang pasti, kehangatan, tekanan nadi
perifer, serta keseimbangan intake dan output.
Intervensi
Mandiri :
Evaluasi status mental. Catat adanya
hemipiralisis tersembunyi, muntah,
peningkatan tekanan darah.
Kaji nyeri dada, dispnea yang tiba-tiba
di tandai dengan takipnea, nyeri
pleuritis, dan sianosis.

Rasional
Indikasi adanya emboli sistemik ke otak.

Emboli arterial pada jantung atau organ


penting lain dapat terjadi sebagai akibat
penyakit jantung atau disritmia kronis,
kongesti vena dapat menunjukan tempat
trombus pada vena-vena yang dalam dan
emboli paru.
Observasi edema pada ekstremitas, catat Inaktivitas/ bedrest yang lama dapat
kecenderungan/ lokasi nyeri, tanda- menimbulkan terjadinya kongesti vena
tanda homan (homan sigh) positif.
dan trombosis vena.
Observasi adanya hematuria yang di
tandai oleh nyeri pinggang dan oliguria.
Catat keluhan nyeri perut kiri atas
menjalar ke bahu, kelemahan lokal, dan
abdominalngiditas.
Meningkatkan/
mempertahankan
bedrest sesuai dengan anjuran.

Indikasi adanya emboli ginjal.

Indikasi emboli kandung empedu.

Untuk membantu mencegah penyebaran


atau perpindahanemboli pada pasien
dengan endokarditis. Pada bedrest yang
lama (sering di lakukan oleh pasien
dengan endokarditis dan mokarditis)
berisiko
untuk
mengalami
troemboemboli.
Kolaborasi :
Menggunakan sirkulasi perifer dan arus
Gunakan stoking antiemboli sesuai balik vena serta mengurangi risiko
indikasi
trombus pada vena supervisial/vena yang
lebih dalam.
Berikan antikoagulan seperti heparin Heparin dapat di gunakan secara
atau warfarin (coumadin).
propilaksis pada pasien dengan bedrest
yang lama seperti sepsis atau CHF dan
sebelum
atau
sesudah
operasi

penggantian katup. Catatan heparin


merupakan
kontraindikasi
pada
perikarditis dan kardiak tamponade.
Diagnosa III :
Cemas yang berhubungan dengan rasa takut akan kematian, penurunan status kesehatan,
situasi krisis, dan ancaman atau perubahan kesehatan.
Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam kecemasan klien berkurang.
Kriteria : klien mengatakan kecemasan berkurang, mengenal perasaannya, dapat
mengidentifikasi penyebab atau faktor yang mempengaruhinya, kooperatif terhadap
tindakan, dan wajah rileks.
Intervensi
Bantu klien mengekspresikan perasaan
marah, kehilangan, dan takut.
Kaji tanda verbal dan non verbal
kecemasan, dampingi klien, dan lakukan
tindakan bila menunjukan perilaku
merusak.
Mulai
melakukan
tindakan
untuk
mengurangi kecemasan. Beri lingkungan
yang tenang dan suasana penuh istirahat.
Orientasikan klien terhadap prosedur rutin
dan aktivitas yang di harapkan.
Beri kesempatan pada klien untuk
mengungkapkan ansietasnya.

Rasional
Cemas
berkelanjutan
memberikan
dampak serangan jantung selanjutnya.
Reaksi
verbalnon
verbal
dapat
menunjukan rasa agitasi, marah, dan
gelisah.
Mengurangi rangsangan eksternal yang
tidak perlu.
Orientasi dapat menurunkan kecemasan.

Dapat
menghilangkan
ketegangan
terhadap ke khawatiran yang tidak di
ekspresikan.
Berikan privasi untuk klien dan orang Memberi waktu untuk mengekspresikan
terdekat.
perasaan, menghilangkan cemas, dan
perilaku adaptasi.
Adanya keluarga dan teman-teman yang
di pilih klien mengalami aktivitas dan
pengalihan (misalnya membaca) akan
menurunkan perasaan terisolasi.
Kolaborasi : berikan anti cemas sesuai Menghilangkan
relaksasi
dan
indikasi, contohnya diazepam
menurunkan kecemasan.

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Dari penulisan makalah di atas, maka kami selaku penulis menarik kesimpulan
bahwa Endokarditis merupakan peradangan pada katub dan permukaan endotel
jantung. Disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung. Infeksi
endokarditis biasanya terjadi pada jantung yang telah mengalami kerusakan. Penyakit
ini didahului dengan endokarditis, biasanya berupa penyakit jantung bawaan, maupun
penyakit jantung yang didapat. Dahulu Infeksi pada endokard banyak disebabkan oleh
bakteri sehingga disebut endokariditis bakterial. Sekarang infeksi bukan disebabkan
oleh bakteri saja, tetapi bisa disebabkan oleh mikroorganisme lain, seperti jamur,
virus, dan lain-lain.
Pada endokarditis penatalaksanaan medisnya yaitu penicilin, stretomycin,
vancomysin, gentamicin. Diagnosa yang muncul pada pasien endokarditis adalah
Aktual/risiko nyeri yang berhubungan dengan penurunan suplai ke miokardium
sekunder karena penurunan perfusi, Aktual/risiko tinggi gangguan perfusi perifer yang
berhubungan dengan tromboemboli atau kerusakan sekunder katup-katup pada
endokarditis, Aktual/risiko tinggi intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai oksigen miokardium dengan kebutuhan, Cemas yang
berhubungan dengan rasa takut akan kematian, penurunan status kesehatan, situasi
krisis, dan ancaman atau perubahan kesehatan, dan Kurangnya pengetahuan
(mengenai kondisi dan tindakan) yang berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang proses penyakit, cara pencegahan, dan terjadinya komplikasi.

B.

Saran
Agar meningkatkan kualitas dalam pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada klien
dengan endokarditis dan meningkatkan pengetahuan dengan membaca buku-buku dan
mengikuti seminar serta menindak lanjuti masalah yang belum teratasi.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & suddarth. 2002.buku ajar keperawatan medikal bedah edisi 8.jakarta: EGC
Corwin elizabeth j.2001.buku patofisiologi.jakarta : EGC
Doengoes marilynn E.1999. rencana asuhan keperawatan edisi 3. jakarta : EGC
Muttaqin

arif.2009.

kardiovaskular

asuhan

keperawatan

klien

dengan

dan hematologi.Jakarta : salemba medika.

gangguan

sistem