Anda di halaman 1dari 83

TERJEMAH KITAB

RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
As-Syeikh Al-Imam Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi
An Naisaburi

T AU B A T
Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orangorang yang beriman, supaya kamu beruntung. (Qs. An-Nuur :
31).
Diriwayatkan dari Anas bin Malik (10 H-93 H/612 M 712 M)
dari suku Khazraj golongan Anshar. Meriwayatkan 2286 hadis.
Lahir di Madinah dan kemudian pergi ke Damaskus dan
meninggal di Bashrah), bahwa Rasulullah saw. bersabda :
Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang tidak
berdosa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya dosa
tidak melekat pada dirinya. (H.r. Ibnu Majah, Tirmidzi dan
Hakim).
Selanjutnya, membacakan ayat : Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orangorang yang menyucikan diri. (Qs. Al-Baqarah : 222).
Ketika belaiau ditanya : Waha Rasulullah, apa pertanda
bertaubat.?, beliau menjawab : Menyesali kesalahan.
Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw.
bersabda : Tiada sesuatu yang dicintai oleh Allah selain
pemuda yang bertaubat. (as-Syuyuti dalam kisah ash-Jamiah
as-Shaghir, Jilid II, hlm. 8050, mengatakan bahwa hadis ini
diriwayatkan Abul Mudzaffar as-Samany, dari Salman. Menurut
as-Suyuthy, hadis tersebut hadis dhaif).
Oleh karena itu, taubat merupakan tingkat pertama di
antara tingkat-tingkat yang dialami oleh para Sufi dan tahapan
pertama di antara tahapan-tahapan yang dicapai oleh
penempuh jalan Allah (salik).
Makna taubat dalama Bahasa Arab adalah Kembali. Ia
bertaubat beraarti Ia kembali. Jadi taubat adalah kembali
dari sesuatu yang dicela oleh syara menuju sesuatu yang

dipuji olehnya. Rasulullah saw. bersabda Menyesali kesalahan


merupakan sutu taubat. (H.r. Bukhari dan Ahmad).
Para Ahli Ushul di kalangan Ahli Sunnah mengatakan :
Terdapat tiga syarat taubat yang musti dipenuhi agar taubat
itu sah : Menyesali pelanggaran yang telah dilakukan;
meninggalkan secara langsung penyelewengan; dan dengan
mantap
seseorang
memutuskan
tidak
kembali
pada
kemaksiatan yang sama.
Hadis di atas menunjukkan betapa agungnya taubat itu,
sebagaimana ketika Rasulullah saw. bersabda : Haji adalah
Arafah, maksudnya, adalah menyampaikan pesan bahwa
bukannya tidak ada unsur-unsur haji yang yang lain selain
wukuf di Arafah, melainkan bahwa bagian terbesar unsurnya
adalah wukuf di Arafah. Demikian pulalah maksud dari pesan
yang disampaikan Rasulullah saw. bahwa, Menyesali
kesalahan merupakan suatu taubat. bahwa bagian utama
taubat adalah menyesali keselahan.
Menyesali kesalahan adalah cukup untuk memenuhi
persyaratan taubat. Demikian kata mereka yang telah
melaksanakannya, karena tindakan tersebut mempunyai akibat
berupa dua persyaratan yang lain. Artinya, orang tidak
mungkin bertaubat dari suatu tindakan yang tetap dilakukan
atau yang ia mungkin bermaksud melakukannya. Inilah makna
taubat secara global.
Sebagai penjelasan lebih lanjut, kami katakan bahwa
taubat mempunyai sebab-sebab, urutan, aturan dan bagianbagian. Sebab langsung taubat yang pertama ialah
kebangunan hati dari kealpaan, menyadari bahwa hamba
tersebut berada dalam perilaku buruk. Ia mencapai ini dengan
batuan Allah swt. terhadap pikirannya. Ini berlangsung dengan
cara mendengarkan kata hati, lantaran sebuah hadis
menyatakan : Allah mengingatkan pada kalbu Muslim. Hadis
yang menyatakan : Ada segumpal daging di dalam jasad, yang
apabila ia bagus, maka keseluruhan jasad akan bagus, dan
apabila ia rusak, maka keseluruhan jasad akan rusak.
Ketahuilah, itu adalah hati. (H.r. Bukhari-Muslim).

Apabila
seseorang
merenungi
perbuatan-perbuatan
jahatnya, niscaya ia akan memahami tindakan-tindakan tercela
yang dilakukannya, dan keinginan untuk bertaubat akan datang
ke lubuk hatinya, bersamaan dengan tindakan menahan diri
dari tindakan-tindakan tercela tersebut. Kemudan Allah swt.
akan membantunya dalam melaksanakan niatnya yang kukuh
ini, dalam menempuh jalan kembali menuju kebaikan.
Cara bertaubat pertama adalah, memisahkan diri dari
orang-orang yang berbuat jahat, karena mereka akan
mendorong untuk mengingkari tujuan ini, dan keraguan atas
kelurusan niat yang telah teguh. Dan hal ini tidak akan lengkap
kecuali dibarengi keteguhan dalam bersyahadat, secara terus
menerus, dan dibarengi motif-motif yang mendorong
pelaksanaan ketetapan dalam hati, yang darinya dapat
memperkuat rasa khauf dan raja. Selanjutnya, tindakantindakan tercela, yang membentuk simpul kebandelan dalam
hati akan mengendor, ia akan menghentikan perbuatanperbuatan yang terlarang, dan kendali diri akan terjaga dari
memperturutkan hawa nafsu. Kemudian, ia harus segera
meninggalkan dosanya dan berketetapan hati untuk tidak
kembali ke dosa-dosa serupa di masa mendatang. Apabila terus
bertindak sesuai dengan tujuan yang selaras dengan
kehendaknya ini, berarti bahwa ia telah dianugerahi rasa aman
yang sebenarnya.
Apabila sekali waktu meredup dan hasratnya mendorong
untuk melakukan penyelewengan kembali, suatu hal yang
mungkin seringkali terjadi, kita harus tetap berharap orang
seperti itu akan bertaubat lagi karena : Bagi tiap-tiap masa
ada ketentuannya. (Qs. Ar.Raad : 38).
Abu Sulaiman ad-Darany mengtakan : Aku seringkali
mengunjungi majelis seorang ahli kisah, kemudia kata-katanya
membekas di kalbu. Tetapi, ketika aku pulang, kata-katanya itu
pun lenyap. Aku menghadiri majelis untuk kedua kalinay,
mendengar uacapnnay dan membekas di kalbu, lalu hingga di
jalan aku lupa kembali. Bahkan aku pun hadir di majelisnya
untuk yang ketiga kalinya, berulah kata-katanya membekas
hingga di rumah. Selnjutnya kuhancurkan segala peralatan

yang mengarah pada dosa dan aku meneguhi Jalan. Setelah itu,
kisah ini kusampaikan kepada Yahya bin Muadz, sembari
memberi komentar atas kisah ini. :Seekor burung pipit
mengkap seekor burung gbangau : Dengan burung pipit yang
dimaksudkannya adalah si pengisah itu dan burung bangau
adalah Abu Sulaiman ad-Darany sendiri.
Abu Hafs al Haddad mengatakan : Aku meninggalkan
suatu perbuatan tercela, lalu kembali padanya. Kemudain
perbuatan itu meninggalkanku, dan sesudah itu aku tidak
kembali lagi padanya.
Abu Amr bin Nujayd pada awal perjalanan spiritualnya,
seringkali mengunjungi majelis Abu Utsman. Kata-kata Abu
Utsmman amat berkesan di dalam hatinya, hingga
membuatnya bertaubat. Selanjutnya ia mendapat cobaan. Ia
meninggalkan Abu Utsman, dengan mengundurkan diri dari
majelisnya. Pada suatu hari ketika Abu Utsman berpapasan
dengannya, Abu Amr segera berpaling dan mengambil jalan
lain. Abu Utsman mengikutinya, berjalan di belakangnya,
seraya berkata : Wahai anakku, jangan menjadi sahabat orang
yang tidak mencintaimu, kecuali ia seorang yang bersih dari
dosa! Hanya Abu Utsman yang mau membantumu dalam
keadaanmu seperti sekarang ini. Selanjutnya Abu Amr
bertaubat dan kembali sebagai murid setia.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. mengatakan : Salah seorang
murid bertaubat, kemudian menerima cobaan. Ia bertanya
dalam hati, Jika aku bertaubat, bagaimana hukuman atas diriku
nanti? Maka terdengarlah bisikan dalam jiwanya, Hai Fulan,
engkau taat kepada kami, lalu Kami terima syukurmu,
kemudian engkau tinggalkan Kami, maka Kami biarkan saja
dirimu. Bila engkau kembali kepada Kami, pasti Kami terima.
Akhirnya si pemuda itu pun bertaubat, kembali ke cita-cita
semula.
Apabila ia meninggalkan kemaksiatan dan melepaskan diri
dari ikatan kebandelan dalam hati, lalu bertekad untuk tidak
kembali pada perbuatan odsa, maka pada saat itulah taubat
sejati menyeleusup ke lubuk hati. Ia menyesali terhadap segala
sesuatu seperti telah dilakukannya, menjauhi tindakan-tindakan

tercela, sehingga taubatnya sempurna, mujahadahnya haq,


dan diganti dengan upaya uzlah. Ia menghindari sekawanan
orang-orang yang jahat lewat kahlwat, ia bekerja sepanjag
siang dan malam dalam keadaan sengsara, dan bertaubat
dalam situasi bagaimanapun, menghapus jejak-jejak dosanya
dengan linangan air mata, dan mengobati hati dengan
taubatnya.
Ia dikenal di antara sejawatnya karena
kesintingannya, namun kurus-kering tubuhnya memberikan
kesaksian kengenai kewarasannya.
Tahap Tahap pertama pertaubatana seseorang adalah
menghadapi iri hati para musuhnya sebisa mungkin, dengan
harapan nahwa yang dimilikinya cukup untuk memenuhi hakhak mereka atau bahwa mereka sepakat untuk meninggalkan
klaim yang bekenaan dengan dirinya dan bersedia
menerimanya. Dan apabila harapannya tidak terpenuhi, ia
harus menerima klaim-klaim mereka, dan kembali kepada Allah
swt. dengan penuh kejujuran, disamping itu juga mendoakan
mereka.
Saya
mendengar
Ustadz
Abu
Ali
ad-Daqqaq
berkata : Taubat dibagi menjadi tiga tahap, tahap awal adalah
taubat (tawbah), tahap tengah adalah kembali (inabah) dan
ketiga awbah. Ia menempatkan tawabh di awal, awbah di
akhir, dan inabah di antara keduanya.
Barangsiapa bertaubat karena takut siksa, maka ia
tergolong orang yang taubat. Siapa pun yang bertaubat karena
ingin mendapatkan pahala Ilahi, berada dalam keadaan inabah.
Siapa pun yang bertaubat lantaran mematuhi printah Ilahi,
bukan karena ingin mendapatkan pahala maupun takut akan
hukuman, berada dalam keadaan awbah.
Juga dikatakan, taubat adalah sifat kaum Mukminin. Allah
swt. berfirman : Ia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya
ia amat taat (kepada Tuhannya). (Qs. Shaad:30).
Inabah adalah sifat para Auliya dan Muqarrabun. Allah swt.
berfirman : Ia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya ia
amatlah taat (kepada-Nya). (Qs. Shaad : 44).
Al-Junayd berkata : Taubat itu mempunyai tiga makna.
Pertama, menyesali kesalahan; kedua, berketatapan hati untuk

tidak kembali pada apa yang telah dilarang Allah swt.; dan
ketiga adalah menyelesaikan/membela orang yang teraniaya.
Sahl bin Abdullah berkata : Taubat adalah menghentikan
sikap suka menunda-nunda.
Al-Junayd berkunjung kepada as=Sary pada suatu hari, dan
mendapatinya sedang kebingungan. Ia bertanya : Apa yang
telah terjadi atas dirimu? As-Sary menjawab : Aku bertemu
dengan seorang pemuda, dan ia bertanya tentang taubat
kepadaku. Kukatakan kepadanya. Taubat adalah bahwa
engkau
tidak
melupakan
dosa-dosamu.
Lantas
ia
menyanggahnya dengan mengatakan, Taubat adalah justru
engkau benar-benar melupakan dosa-dosamu. Al-Junayd
menjawab, Karena apabila aku berada dalam kondisi kering,
lantas aku dipindahkan ke kondisi dingin, maka menyebut masa
kering di masa dingin, adalah kekeringan itu sendiri. Dan
akhirnya as-Sary pun terdiam.
Abu Nashr as-Sarraj dilaporkan mengatakan : Sahl sedang
memberitahukan kondisi ruhani murid-murid dan pendatang
baru, yang terus menerus berubah. Al-Junayd merujuk
taubatnya orang-orang yang telah mencapai kebenaran, yang
tidak ingat akan dosa-dosa mereka lagi karena keagungan Allah
Swt. yang telah meluapi hati mereka, dan senantiasa
mengingat (dzikr) kepada-Nya.
Dzun Nuun al-Mishry memberi komentar : Taubat kalangan
awam adalah taubat dari dosa, dan taubat kaum kahwash
adalah taubat dari kealpaan.
Abul Husain an-Nury mengatakan : Taubat adalah bahwa
engkau berpaling dari segala sesuatu selain Allah swt.
Abdullah bin Ali bin Muhammad al-Tamimi mengatakan :
Betapa besar perbedaan antara orang yang bertaubat dari
dosa, orang yang bertaubat dari kealpaan, dan orang yang
bertaubat dari kesadaran akan perbuatan baiknya sendiri.
Al-Wasithy berkata : Taubat sejati adalah taubat yang tidak
menisakan pengaruh maksiat, baik secara batin maupun lahir.
Yahya bin Muadz berdoa, ahai Tuhanku, aku tidak akan
mengatakan, Aku telah bertaubat dan aku tidak kembali
kepada-Mu hanya karena sesuatu yang menurutku adalah

kecenderunganku, aku tidak bersumpah bahwa aku tidak aka


berbuat dosa lagi, karena aku mengetahui kelemahanku
sendiri.
Dzun Nuun berkata : Permohonan ampun yang diajukan
dengan tidak disertai pencabutan dosa adalah taubat para
pendusta.
Ketika al-Busyanjy ditanya soal taubat, ia menjawab :
Ketika dirimu ingat dosa, lantas tidak engkau temui manisnya
ketika mengingatnya, itulah taubat.
Dzun Nuun mengatakan : Esensi taubat adalah bahwa
bumi ini terlalu sempit bagimu meskipun ia luas sehinngga
engkau tidak menjumpai tempat untuk beristirahat. Lalu
engkau merasakan jiwamu terhimpit, karena Allah swt. telah
menyatakan di dalam Kitab-Nya, Dan jiwa mereka pun telah
sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah
mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah,
melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat
mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. (Qs. At-Taubah :
118).
Ibnu Atha berkata: Terdapat dua jenis taubat : Inabah
(kembali) dan istijabah (menjawab atau memenuhi). Dalam
inabah sang hamba bertaubat karena takut akan hukuman;
dalam istijabah ia bertaubat karena malu akan kemurahanNya.
Abu Hafs ditanya : Mengapa orang yang bertaubat
membenci dunia? Ia menjawab : Karena ia merupakan
tempat di mana dosa-dosa dikejar. Dan dikatakan kepadanya :
Ia juga tempat tinggal yang dijunjung tinggi oleh Allah karena
taubat. Dikatakannya pula, Sungguh dunia termasuk bagian
dosa dengan amat yakin, tetapi mendapatkan bahaya dari
penerimaan atas taubatnya.
Sebagian kalangan Sufi mengatakan : Taubat para
pendusta berada di bibirnya, karena mereka hanya membatasi
ucapannya pada Astaghfirullah.
Diriwayatkan bahwa Allah swt. berfirman kepada Adam :
Wahai Adam, Aku telah mewariskan kepada anak cucumu
beban dan penderitaan. Aku menjawab salah seorang di antara

mereka, yang berdoa dengan sungguh-sungguh kepada-Ku,


persis sebagaimana Aku menjawabmu. Wahai Adam, Aku akan
membangkitkan orang-orang yang bertaubat dari kubur-kubur
mereka dalam keadaan gembira; doa mereka akan Kujawab.
Seseorang bertanya kepada Rabiah Adawiyah : Aku telah
sering berbuat dosa dan menjadi semakin tidak taat. Tetapi,
apabila aku bertaubat, akankah Dia mengampuninya? Dijawab
oleh Rabiah, Tidak. Tetapi apabila Dia mengampunimu, maka
engkau akan bertaubat.
Ketahuilah bahwa Allah swt. berfirman : Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai
orang-orang yang menyucikan diri. (Qs. Al-Baqarah :222).
Orang yang membiarkan dirinya larut dalam kesalahan, benarbenar identik dengan menggelincirkan diri sendiri. Tetapi
apabila ia bertaubat, niscaya penerimaan taubatnya oleh Tuhan
diragukan, terutama karena kecintaan Tuhan kepadanya adalah
satu syarat bagi penerimaan itu. Dan itu bakal terjadi pada
suatu waktu sebelum si pendosa sampai pada satu titik dimana
ia menjumpai tanda-tanda kecintaan Allah kepada dirinya
dalam sifatnya. Tugas hamba tersebut, ketika mengetahui
bahwa dirinya telah melakukan suatu tindakan yang
mengharuskan taubat, ialah bertaubat secara sungguhsungguh, dengan menolak secara gigih perbuatan odsa dan
memohon ampunan, sebagaimana tertuang dalam ucapan
mereka, Seperti kesadaran akan rasa takut menjelang ajal.
Firman Allah swt. Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosadosamu. (Qs. Ali Imran : 31).
Di antara Sunnah Nabi saw. adalah beristighfar terus
menerus.
Beliau bersabda :
Hatiku terasa dahaga, oleh karena itu aku memohon
ampunan Allah tujuhpuluh kali dalam sehari. (Hr. Muslim dan
Abu Dawud).
Yahya bin Muadz mengatakan : Satu penyelewengan saja
sesudah bertaubat lebih buruk ketimbang tujuhpuluh
penyelewengan sebelum bertaubat.

Abu Utsman berkata : Akan halnya firman-Nya : KepadaNya-lah mereka dikembalikan. (Qs. Al-Anam :36), maknanya
jika mereka bebas berkeliaran melakukan perbuatan dosa.
Abu Amr al-Anmathy berkata : Ali bin Isa, seorang perdana
Menteri, mengendari sebuah kendaraan pada suatu prosesi,
dan orang-orang yang tidak mengenalnya bertanya : Siapakah
ia? Siapakah ia? Seorang wanita yang berdiri di sisi jalan
menyahut, Sampai kapan Anda akan mengatakan , Siapakah
ia? Siapakah Ia? Dialah seorang hamba yang terlepas dari
perlindungan Allah swt. Dan Allah telah memberikan cobaan
sebagaimana Anda lihat. Katika Ali bin Isa mendengar jawaban
wanita tersebut, ia kembali ke rumahnya, seketika itu pula
mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri, lalu pergi ke
Mekkah, dan menetaplah ia dikota suci itu.

MUJAHADAH
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari) keridhaan
Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalanjalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta
orang-orang yang berbuat baik. (Qs. Al-Ankabut : 69).
Diriwayatkan dari Abu Said al-Khurdry, (Said bin Malik bin
Sanan al-Nashari al-Kahzrajy (10.sH 74 H/613 -693 M),
seorang sahabat Rasulullah saw. Ikut berperang duabelas kali,
dan meriwayatkan 1170 hadis. Meninggal di Madinah). Bhawa
ketika Rasulullah saw. ditanya mengenai jihad terbaik, beliau
menjawab, Adalah perkataan yang adil yang disampaikan
kepada seorang pengausa yang zalim. (Qs. Hr. Tirmidzi, Abu
Dawud dan Ibnu Majah). Mka air mata berlinang dari kedua
mata Abu Said ketika mendengar hal ini.
Syeikh Abu Ali ad.-Daqqaq r.a. berkata : Barangsiapa
menghiasai lahiriahnya dengan mujahadah, Allah akan
memperindah rahasia batinnya melalui musyahadah. Siapa
yang permulaannya tidak memiliki mujahadah dalam tharikat
ini, ia tidak akan menemui cahaya yang mencar darinya.
Abu Utsman al-Maghriby mengatakan : Adalah kesalahan
besar bagi seseorang membayangkan bahwa dirinya akan

mencapai sesuatu di jalan-Nya atau bahwa sesuatu di jalan-Nya


akan tersingkap baginya, tanpa bermujahadah.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. menegaskan : Orang yang
tidak berdiri dengan mantap di awal perjalanan spiritualnya
tidak akan diizinkan beristirahat pada akhir perjalanannya.
Dikatakannnya pula, Gerak adalah suatu berkat. Dan katanya
kemudian, Gerakan-gerakan dzahir akan melahirkan barakahbarakah batin.
As- Sary berkata : Wahai kaum muda, tekunlah kalian,
sebelum kamu sekalian menginjak usia seperti diriku, sehingga
kalian lemah dan lengah seperti diriku. Padahal pada saat itu
tidak seorang pun di antara para pemuda yang mampu
menyejajari langkah as-Sary dalam bidang ibadat.
Saya mendengar al-Hasan al-Qazzaz berkata : Jangan
makan kecuali amat lapar, jangan tidur kecuali amat kantuk,
jangan bicara kecuali dalam keadaan darurat.
Ibrahim bin Adham mengatakan : Seseorang akan baru
mencapai derajat kesalehan, sesudah melakukan enam hal : (1)
Menutup pintu bersenang-senang dan membuka pintu
penderitaan; (2) Menutup pintu keangkuhan dan membuka
pintu kerendahan hati; (3) Menutup pintu istirahat dan
membuka pintu perjuangan; (4) Menutup pintu tidur dan
membuka pintu jaga; (5) Menutup pintu kemewahan dan
membuka pintu kemiskinan; (6). Menutup pintu harapan
duniawi dan membuka pintu persiapan menghadapi kematian.
Abu Amr bin Nujayd berkata : Barangsiapa menghargai
hawa
nafsunya
berarti
meremehkan
agamanya
dan
pendengarannya.
Abu Ali ar-Rudzbary mengatakan : Apabila seorang Sufi
sesudah lima hari kelaparan berkata : Aku lapar. Kirimlah ia
ke pasar untuk mencari nafkah. Prinsip mujahadah pada
dasarnya adalah mencegah jiwa dari kebaisaan-kebiasaannya
dan memaksanya menentang hawa nafsunya sepanjag waktu.
Jiwa; mempunyai dua sifat yang menghalangi dalam
mencapai kebaikan; keberlarutan dalam memuja hawa nafsu
dan penolakan pada tindak kepatuhan. Manakala jiwa
menunggang nafsu, maka Anda harus mengendalikannya

dengan kendali takwa. Manakala jiwa bersikukuh menolak


untuk selaras dengan kehendak Tuhan, maka Anda harus
mengendalikannya agar menolak hawa nafsunya. Manakala
Jiwa bangkit memberontak, maka Anda harus mengendalikan
keadaan ini. Tiada satu hal pun yang berakibat lebih utama
selain sesuatu yang muncul menggantikan kemarahan yang
kekuatannya telah dihancurkan dan yang nyalanya telah
ddipadamkan oleh akhlak mulia. Manakala jiwa menemukan
kemanisan dalam anggur kecongkakan, niscaya ia akan
merana bila tidak sanggup menunjukkan kemampuannya dan
menghiasai perbuatan-perbuatannya kepada siapapun yang
melihatnya. Orang harus memutuskannya dari kecenderungan
seperti ini dan menyerahkannya pada hukuman kehinaan yang
akan datang tatkala diingatkan akan hargadirinya yang rendah,
asal-usulnya yang hina dan amal-amalnya yang emnijikan.
Perjuangan kaum awam berupa pelaksanaan tindakantindakan; tujuan kaum khawash adalah menyucikan keadaan
spiritual mereka. Bertahan dalam lapar dan jaga, adalah
sesuatu yang mudah. Sedangkan membina akhlak dan
membersihkan semua hal negatif yang melekat padanya,
sangatlah sulit.
Satu dari sekian sifat jiwa yang merugikan dan paling sulit
dilihat adalah ketergantungannya pada pujian manusia. Orang
yang bermental seperti ini berarti menyangga beban langit dan
bumi dengan satu alisnya. Satu pertanda yang mengisyaratkan
mental seperti ini adalah apabila pujian orang tidak diberikan
kepadanya, niscaya ia menjadi pasif dan pengecut.
Dikabarkan bahwa Abu Muhammad al-Murtaisy berkata :
Aku berangkat haji berkali-kali seorang diri. Pada suatu ketika
aku menyadari bahwa segenap upayaku terkotori oleh
kegembiraanku dalam melakukannya. Hal ini kusadari saat ibu
memintaku menarikan sguci air untuknya. Jiwaku merasakan
hal ini sebagai beban yang berat. Saat itulah aku mengetahui
bahwa apa yang kusangka merupakan kepatuhan kepada Allah
swt. dalam hajiku selama ini tidak lain hanyalah kesenanganku
semata, yang datang dari kelemahan dalam jiwa, karena
apabila nafsuku sirna, niscaya tidak akan mendapati tugas

kewajibanku sebagai suatu yang memberatkan dalam hukum


syaritat.
Pada suatu ketika seorang wanita lanjut usia ditanya
mengenai keadaan ruhaninya. Ia menjawab : Semasa Muda,
aku berpikir bahwa keadaan-keadaan ruhani itu berasal dari
kekuatan dan semangat yang tak kujumpai saat ini, ketika
sudah tua, semua itu sirna sudah.
Dzun Nuun al-Mishry berkata : Penghormatan yang Allah
berkenan memberikannya kepada seorang hamba, maka Allah
menunjukkan kehinaan dirinya, penghinaan yang Allah
berkenan menimpakannya kepada seorang hamba, maka Allah
menyembunyikan kehinaan dirinya dari pengetahuan akan
kehinaan itu sendiri.
Ibrahim bin Khawwas menegaskan : Aku tidak menghadapi
seluruh ketakutanku, kecuali secara langsung menghadapinya
dengan menungganginya.
Muhammad bin Fadhl mengatakan : Istirahat total adalah
kebebasan dari keinginan hawa nafsu.
Saya mendengar Abu Ali ar.Rudzbary berkata : Bahaya
yang menimpa manusia datang dari tiga hal : Kelemahan
watak, keterpakuan pada kebiasaan, dan mempertahankan
teman yang merusak. Saya bertanya kepadanya, Apakah
kelemahan watak itu? Ia menjawab. Mengkonsumsi hal-halyang haram. Lalu saya tanyakan : Apakah keterpakuan pada
kebiasaan itu? Ia berkata : Memandang dan mendengarkan
segala sesuatu yang haram dan melibatkan diri dalam firnah.
Saya
bertanya
:
Apakah
mempertahankan
teman
yang merusak itu? Dijawabnya : Itu terjadi ketika Anda
menuruti hasrat nafsu dalam diri, lalu diri Anda mengikutinya.
An-Nashr Abadzy mengatakan : Penjara adalah jiwa Anda.
Apabila Anda melepaskan diri darinya, niscaya akan sampai
pada kedamaian. Ia juga berkata : Aku mendengar
Muhammad al-Farra berkisah bahwa Abul Husain al-Warraq
mengatakan : Ketika kami memulai menempuh jalan-Nya
lewat Tasawuf di Masjid Abu Utsman al-Hiry, praktek terbaik
yang kami lakukan adalah bahwa kami mempriorotaskan
kemudahan bagi orang lain; kami tidak pernah tidur dengan

menyimpan sesuatu tanpa disedekahkan; kami tidak pernah


menuntut balas kepada seseorang yang menyinggung hati
kami, bahkan kami selalu memaffkan tindakannya dan bersikap
rendah hati kepadanya; dan jika kami memandang hina
seseorang dalam hati kami, maka kami akan mewajibkan diri
kami untuk melayaninya sampai perasaan memandang hina itu
lenyap.
Abu Jafar berkata : Nafsu, seluruhnya gelap gulita,
peliatanya adalah batinnya. Cahaya pelita ini adalah taufiq.
Orang yang tidak disertai taufik dari Tuhannya, maka kegelapan
akan menyelimutinya. Ketika mengatakan, Pelita adalah
batinnya. Dimaksudkan adalah rahasia antara dirinya dan
Allah swt. yakni tempat keikhlasannya. Dengannya si hamba
tersebut mengetahui bahwa semua peristiwa adalah karya
Tuhan; peristiwa-peristiwa bukanlah ciptaan dirinya, tidak pula
berasal darinya. Bila mengetahui hal ini, ia akan bebas dalam
setiap keadaannya, dari kekuatan dan kekuasaannya sendiri
dalam melestarikan manfaat waktunya. Orang yang tidak
disertai taufik tidak akan memperoleh manfaat dari
pengetahuan tentang jiwanya atau tentang Tuhannya. Itulah
sebabnya mengapa para syeikh mengatakan Orang yang tidak
mempunyai sirr akan terus bersikeras menuruti hawa
nafsunya.
Abu Utsman berkata : Selama orang melihat setiap
sesuatu baik dalam jiwanya, ia tidak akan mampu melihat
kelemahan-kelemahannya.
Hanya
orang
yang
berani
mendakwa dirinya terus menerus selalu berbuat salahlah yang
akan sanggup melihat kesalahannya itu.
Abu Hafs mengatakan : Tidak ada jalan yang lebih cepat
ke arah kerusakan, kecuali jalan orang yang tidak mengetahui
kekurangan dirinya, karena kemaksiatan kepada Tuhan adalah
jalan cepat menuju kekafiran.
Abu Sulaiman berkata : Aku tahu bahwa tidak sedikit pun
kebaikan dapat ditemukan dalam suatu perbuatan yang
kulakukan sendiri, aku berharap diberi pahala karenanya.
As-Sary berkomentar : Waspadalah terhadap orang yang
suka bertetangga dengan orang kaya, pembaca-pembaca Al-

Quran yang sering mengunjungi pasar, dan ulama-ulama yang


mendekati penguasa.
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan : Kerusakan merasuki diri
manusia dikarenakan enam hal (1) Mereka memiliki niat yang
lemah dalam melaksanakan amal untuk akhirat; (2) Tubuh
mereka diperbudak oleh nafsu; (3) Mereka tidak henti-hentinya
mengharapkan perolehan duniawi, bahkan menjelang ajal; (4)
Mereka lebih suka menyenangkan makhluk, mengalahkan ridha
Sang Pencipta; (5) Mereka memperturutkan hawa nafsunya,
dan tidak menaruh perhatian yang cukup kepada Sunnah Nabi
saw. (6) Mereka membela diri dengan menyebutkan beberapa
kesalahan orang lain, dan mengubur prestasi pendahulunya.

KHALWAT DAN UZLAH


Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. (Abdurrahman bin Shakhr
ad-Dausy (21s.H 59H/602-679 M), seorang sahabat sejak ia
yatim. Masuk Islam tahun 7 H. Dan senantiasa mendampingi
Nabi saw. serta meriwayatkan 5.374 hadits), Bahwa Nabi saw.
besabda :
Di antara cara-cara terbaik bagi manusia dalam mencari
penghidupan adalah seseorang mengendarai kuda di jalan
Allah, dan apa bila ia mendengar suara manusia-manusia yang
panik atau ketakutan dalam peperangan, ia memacu kudanya
mencari mati syahid atau kemenangan di medan jihad; atau
seseorang menggembalakan biri-biri dan kambing-kambingnya
di puncak gunung atau di kedalamanan lembah, namum tetap
mendirikan shalat, membayarkan zakat, dan beribadat kepada
Tuhan sampai datang suatu keyakinan. Tidak ada urusan
dengan sesama manusia kecuali didasarkan pada kebaikan.
(H.r. Muslim).
Menyendiri dari pengaruh duniawi (khalwat) adalah sifat
orang-orang suci. Sedangkan mengasingkan diri (uzla) adalah
lambang orang yang ber-wushul kepada-Nya. Memisahkan diri
dari manusia sangat diperlukan bagi murid pada awal kondisi
ruhaninya, dan selnjutnya mengasingkan diri pada akhir kondisi
ruhani, karena telah mencapai keakraban sukacita ruhani.

Sikap seorang yang layak ketika memutuskan untuk


memisahkan diri dari manusia adalah meyakini bahwa
masyarakat akan terhindar dari kejahatannya (dengan
tindakannya memisahkan diri dari mereka), bukan bahwa ia
akan terhindar dari kejahatan mereka. Sikap pertama adalah
hasil dari seseorang yang memandang rendah dirinya sendiri;
sikap kedua adalah akibat seseorang merasa bahwa dirinya
lebih baik dari masyarakat. Orang yang mengganggap dirinya
tiak berharga adalah rendah hati, dan orang yang menganggap
dirinya lebih bergarga ketimbang orang lain adalah takabur.
Seseorang melihat seorang rahib dan berkata kepadanya :
Anda seorang rahib. Ia menjawab : Bukan, aku adalah anjing
penjaga. Jiwaku adalah seekor anjing yang menyerang ummat
manusia. Aku telah menjauhkannya dari mereka supaya
mereka aman.
Seseorang lewat di hadapan syeikh yang shaleh.
Sementara syeikh itu bergegas merapatkan jubahnya supaya
tidak bersentuhan dengan pakaian orang tersebut. Orang
tersebut bertanya : Mengapa Anda menarik jubah Anda?
Pakaian saya tidak kotor. Sang Syeikh menjawab : Dugaan
Anda salah. Saya menarik jubah supaya tidak menyentuh
pakaian Anda karena jubah saya kotor, kalau tidak, jubah saya
pasti mengotori pakaian Anda. Jadi bukan karena saya
bermaksud menjaga jubah saya supaya tidak kotor.
Untuk dapat ber-Uzlah dengan tepat, seseorang harus
mempunyai
pengetahuan
agama
untuk
memantapkan
tauhidnya, agar setan tidak menggodanya dengan bisikanbisikannya. Ia juga harus mempunyai pengetahuan yang dapat
diperolehnya dari syariat tentang kewajibannya, sgar segala
urusannya berada di atas dasar yang kokoh. Sesungguhnya,
uzlah adalah menjauhi sifat-sifat hina, mengubah sifat-sifat
hina tersebut, bukannya amenjauhkan diri lewat jarak tempat.
Itulah sebabnya mengapa lahir pertanyaan : Siapakah orang
arif itu? Mereka menjawab : Orang yang ada dan yang jelas,
yakni ada bersama makhluk, jelas namun jauh dari mereka lewt
rahasianya.

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata : Aku memakai


pakaian sebagaimana orang banyak memakaianya, makan
makanan yang seperti mereka makan. Namun aku menyendiri
dari mereka dalam rahasia. Saya mendengar ia berkata : Ada
orang yang datang kepadaku dan bertanya, engkau datang
dari jarak yang jauh? saya menjawabnya, Pembicaraan ini
bukannya peristiwa bepergian dengan jarak dan ukuran
perjalanan.Berpisahlah dari diri Anda sendiri dalam satu
langkah saja, dan Anda pasti mencapai tujuan Anda.
Abu Yazid mengatakan : Aku melihat Tuhan dalam mimpi,
lalu aku bertanya : Bagaimana aku musti menjumpai-Mu?
Tuhan menjawab : Tinggalkan dirimu dan kemarilah.
Abu Utsman al-Maghriby berkomentar : Adalah wajar bagi
seseorang yang memutuskan memisahkan diri dari kesertaan
bersama sesamanya supaya bebas dari segala jenis
pengingatan, kecuali pengingatan kepada Tuhan, terbebas dari
semua hawa nafsu kecuali keinginan mencari ridha Tuhan, dan
terbebas dari tuntutan diri akan segala sebab duniawi. Apabila
tidak demikian, maka tindakannya berkhalwat hanya akan
melemparkannya ke dalam cobaan atau petaka.
Dikatakan bahwa sendiri dalam khalwat sangat dekat pada
ketenangan jiwa.
Seseoarng mengunjungi Abu Bakr al-Warraq, dan sewaktu
akan pulang, ia berkata : Saya telah menemukan yang terbaik
dari dunia dan akhirat dalam khalwat dan kemiskinan, dan saya
telah menemukan yang terjelek dari keduanya (dunia dan
akhirat) dalam pergaulan dengan manusia dan kemewahan.
Ditanya tentang uzlah, Abu Muhammad al-Jurairy
menjawab : Uzlah adalah Anda masuk ke dalam kumpulan
orang banyak sambil menjaga batin Anda supaya tidak diharubiru oleh mereka. Anda menjauhkan diri dari dosa-dossa, dan
batin Anda berhubungan dengan al-Haq.
Ada yagn mengatakan : Siapa pun memlih Uzlah akan
mencapai kemuliannya.
Sahl mengatakan : Khalwat tidak sah, kecuali dengan
memakan makanan haalal, dan memakan makanan halal tidak
sempurna kecuali menunaikan Hak Allah swt.

Dzun Nuun al-Mishry mengatakan : Aku tidak menemukan


sesuatu hal pun yang lebih baik yang dapat melahirkan
keikhlasan selain kahlwat.
Abu Abdullah ar-Ramly bekata : Gantilah sahabat Anda
dengan khalwat, makanan Anda adalah lapar, dan ucapan Anda
menjadi munajat. Maka Anda akan mati atau mencapai Allah
swt.
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan : Orang yang
menyembunyikan dirinya dari sesama manusia melalui khalwat
tidaklah seperti orang yang menyembunyikan dirinya dari
sesamanya melalui Tuhan.
Al-Junayd berkata : Kesulitan dalam uzlah lebih mudah
diatasi ketimbang kesenangan berada bersama orang lain.
Makhul asy-Syaami mengatakan : Memang bergaul dengan
sesama manusia ada baiknya, tetapi ada rasa aman dalam
uzlah.
Yahya bin Muadz berkata : Keheningan adalah sahabat
orang jujur.
Abu Bakr asy-Syibly selalu mengatakan : Rusak ... rusak,
wahai sahabt! Seseorang bertanya kepadanya : Wahai Abu
Bakr, apa pertanda kerusakan? Ia menjawab : Satu dari
sekian kerusakan adalah berakrab-akrab dengan orang
banyak.
Yahya bin Abu Katsir berkata : Barangsiapa bergaul
dengan orang banyak haruslah menyenangkan hati mereka,
dan barangsiapa menyenangkan hati mereka, berarti telah
bertindak munafik.
Said bin Harb mengatakan : Aku berangkat menemui
Malik Bin Masud di Kufah, dan ia sendirian di dalam rumahnya.
Aku bertanya, Apakah Anda tidak merasa takut sendirian? Ia
menjawab : Aku tidak menganggap bahwa seseorang yang
bersama Allah swt. adalah ketakutan.
Al-Junayd berkata : Barangsiapa menginginkan agamanya
sehat dan raga serta jiwanya tenteram, lebih baik ia
memisahkan diri dari orang banyak. Sesungguhnya zaman
yang penuh ketakutan, dan orang yang bijak adalah yang
memiliki kesendiriannya.

Abu Yaqub as-Susy mengatakan : Hanya orang-orang


yang sangat kuat sajalah yang harus menyendiri. Akan halnya
orang-orang seperti kita, bergaul dengan orang banyak lebih
menguntungkan.
Asy-Syibly
memerintah
Abu
Abbas
ad-Dimaghani
demikian : Praktikkan kesendirian dan hapuslah nama Anda
dari khalayak, hadapkan muka Anda ke dinding sampai Anda
meninggal dunia.
Seseorang menemui Syuaib bin Harb, yang bertanya :
Mengapa Anda ke sini? Orang tersebut menjawab : Wahai
sahabatku! Sesungguhnya ibadat tidaklah lestari lewat
bergabung dengan yang lain. Seseorang yang belum menjalin
kemesraan dengan Allah swt. tidak akan menjadi mesra dengan
apa-pun.
Seseorang ditanya : Hal mengagumkan apakah yang telah
Anda temukan dalam perjalanan Anda? Ia menjawab :
AlKhidhr menjumpaiku dan ia ingin menyertaiku. Aku khawatir
ia mengacaukan tawakalku kepada Allah swt.
Salah seorang Sufi ditanya : Adakah seseorang atau
sesuatu di tempat ini yang dengannya Anda merasa akrab? Ia
menjawab : Ada. Dengan meletakkan Al-Quran di atas
pangkuannya, ia menjawab : Ini, Berkenaan makna
ucapannya itu, para Sufi membacakan baris-baris berikut :
Buku-bukumu di sekitarku
Tidak meningglakan tempat tidurku
Di dalamnya terdapat obat pelipur
Bagi sakit yang kusembunyikan.
Salah seorang Sufi ditanya Dzun Nuun al-Mishry : Kapan
uzlah yang tepat bagi diriku? Ia menjawab : Ketika Anda
sanggup memisahkan diri Anda dari diri Anda sndiri.
Ditanyakan kepada Ibnul Mubarak : Apakah obat bagi hati
yang sakit? Ia menjawab : Berjumpa dengan sesama manusia
sejarang mungkin.
Dikatakan : Apabila Tuhan hendak memindahkan hambaNya dari kehinaan kekafiran menuju kemuliaan ketaatan, Dia
menjadikannya intim dengan kesendirian, kaya dalam
kesederhanaan, dan mampu melihat kekurangan dirinya.

Barangsiapa telah dianugerahi semua ini berarti


mendapatkan yang terbaik dari dunia dan akhirat.

telah

TAQWA
Allah berfirman :
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di
sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.
(Qs. Al-Hujarat :13).
Diriwayatkan oleh Abu Said ak-Khudry, bahwa seseorang
menghadap Nabi saw. dan berkata : Wahai Rasulullah,
nsehatilah saya!. Beliau menjawab :
Engkau harus mempunyai ketakwaan kepada Allah, karena
ketakwaan adalah kumpulan seluruh kebaikan. Engkau harus
melaksanakan jihad, karena jihad adalah kerahiban kaum
Muslimin. Dan engkau harus dzikir kepada Allah, karena dzikir
adalah cahaya bagimu. (H.r. Ibnu Dharies, dari Abu Said).
Anas r.a. meriwayatkan, seseorang bertanya kepada
rasulullah saw. Siaakah keluarga Muhammad? Beliau
menjawab Setiap orang yang takwa.
Takwa merupakan kumpulan seluruh kebaikan, dan
hakikatnya adalah seseorang melindungi dirinya dari hukum
Tuhan dengan ketundukan kepada-Nya. Asal-Usul taqwa adalah
menjaga dari syirik, dosa dan kejahatan, dan hal-hal yang
meragukan (syubhat), serta kemudian meninggalkan hal-hal
utama (yang menyenangkan).
Menurut Syeikh Abu Ali ad.-Daqqaq r.a. masing-masing
bagian tersebut memiliki bab tersendiri. Dan dinyatakan di
dalam tafsir menganei firman Allah swt. Bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya. (Qs. Ali
Imran : 102), ayat ini mempunyai makna bahwa Dia harus
dipatuhi dan tidak ditentang, diingat dan tidak dilupakan, dan
bahwa kita harus bersyukur kepada-Nya, dan tidak mengufuriNya.
Sahl bin Abdullah menegaskan : Tiada penolong sejati
selain Allah; tidak satu pun pembimbing yang sebenarnya
selain Utusan Allah; tak satu pun perbekalan yang mencukupi

selain takwa, dan tidak satu pun amal yang langgeng


keteguhannya selain bersabar.
Al-Jurairy mengatakan : Dunia dibagi secara adil sesuai
dengan cobaan, dan akhirat dibagi secara adil sesuai dengan
takwa.
AL-Jurairy mengatakan : Orang yang belum menjadikan
taqwa dan muraqabah sebagai hakim, antara dirinya dan Tuhan
tidak akan memperoleh musyafah dan musyahadah.
An-Nashr Abadzy menjelaskan : Taqwa adalah bahwa
hamba waspada terhadap segala sesuatu selain Allah swt.
Barangsiapa menginginkan takwa yang sempurna, hendaknya
menghindari setiap dosa. Siapa pun yang teguh dalam taqwa
akan merindukan pepisahan dengan dunia, karena Allah swt
berfirman : Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi
orang-orang yang
bertakwa.
Maka
tidakkah
kamu
memahaminya. (Qs. Al-Anam :32).
Sebagian Sufi berkata : Tuhan menjadikan berpaling dari
dunia dengan mudah bagi orang yang benar-benar bertaqwa.
Abu Abdullah ar-Rudzbary mengatakan : Takwa adalah
menghindarkan diri dari segala sesuatu yang menjadikan diri
jauh dari Allah swt.
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan : Orang yang bertakwa
kepada Allah adalah orang yang tidak menodai aspek lahirian
dirinya dengan sikap keras kepala, tidak pula aspek batiniahnya
dengan alamat-alamat keruhanian. Ia berdiri di sisi Allah dalam
keadaan selaras.
Abul Hasan al-Farisy berkata : Takwa mempunyai dimensi
lahir dan batin. Dimensi lahir adalah pelaksanaan syariah, dan
aspek batinnya adalah niat dan mujahadah.
Dzun Nuun membacakan baris-baris sejak berikut :
Tak ada kehiduan
Selain bersama mereka
Yang hatinya mendambakan takwa
Dan yang istirahat dalam dzikir
Tentram dalam ruh keyakinan
Seperti anak menyusu di pangkuan ibunya.

Dikatakan : Takwa seseorang ditandai oleh tiga sikap yang


baik : Tawakal terhadap apa yang belum dianugerahkan,
berpuasa diri dengan apa yang telah dianugerahkan, dan
bersabar dalam menghadapi milik yang hilang.
Thalq bin Habib menjelaskan : Takwa adalah bertindak
sesuai dengan ketundukan kepada Allah sesuai dengan cahaya
Allah swt.
Abu Hafs mengatakan : Takwa adalah sikap seseorang
membatasi dirinya terhdap hal-hal yang jelas diperbolehkan,
hanya itu.
Abu Husyn az-Zanjany mengatakan : Barangsiapa yang
modal hartanya adalah takwa, ia akan lelah menghitung
labanya.
Al-Wasithy menegaskan : Takwa adalah sikap seseorang
menjauhi ketakwaannya; artinya menghindari kesadaran akan
taqwa. Contoh orang yang bertakwa adalah Ibnu Sirin. Suatu
saat Ibnu Sirin membeli empat puluh kaleng mentega. Ketika
salah seorang membantunya menyingkirkan seekor tikus dari
salah satu gucinya, Ibnu Sirin bertanya kepadanya, Guci mana
yang darinya tikus itu kamu singkirkan? Ia menjawab : Saya
tidak tau! Selanjutnya Ibnu Sirin memutuskan mengosongkan
semua guci dengan menuang seluruh mentega ke atas tanah.
Contoh orang saleh adalah Abu Yazid al-Bisthamy. Pada suatu
hari ia membeli kunyit jingga di Hamadhan. Ia menjumpai
hanya sedikit kunyit-jingga, dan ketika kembali ke Bistham,
ditemukannya dua ekor semut di kunyit tersebut. Maka, ia
kembali ke Hamadhan dan melepaskan kedua semut itu.
Abu hanifah tidak pernah mau berteduh di bawah
kerindangan pohon milik orang yang gberhutang kepadanya. Ia
menjelaskan, sebuah hadits menyatakan :
Setia hutang yang pengembaliannya disertai kelebihan
adalah riba (Riwayat al-Ajluni, namun as-Suyuti menganggap
hadits ini dhaif).
Abu Yazid sedang mencuci jubah di luar kota bersama
seorang sahabat, ketika sahabatnya berkata : Kita jemur jubah
di dinding pagar kebun buah itu. Abu Yazid menjawab :
Jangan menancapkan paku di dinding orang.! Sahabatnya

menyarankan : Jemur saja di atas pohon. Abu Yazid menjawab


: Aku khawatir ia akan menyebabkan cabang-cabangnya
patah. Ia berkata : Bentangkanlah ia di atas rerumputan!
Abu Yazid menjawab : Rerumputan itu makanan hewan ternak.
Jangan kita menutupi dengan jubah ini!> Selanjutnya, ia
menghadapkan punggungnya hingga satu sisi jubahnya
mengering, lantas membalik sisi yang lain hingga mengering
pula.
Dikisahkan, pada suatu hari Abu Yazid memasuki masjid
dan menancapkan tongkatnya ke tanah. Tongkat itu roboh dan
menimpa tongkat seseorang yang berusisa lanjut, yang juga
menancapkannya di tanah, dan menyebabkan tongkat orang
tersebut roboh. Orang tua itu membungkuk, lalu mengambil
tongkatnya. Abu Yazid pergi ke rumah orang tua tersebut dan
minta maaf kepadanya, dengan mengatakan : Anda tentu
merasa terganggu disebebkan oleh kelalaian saya, ketika Anda
terpaksa membungkuk.
Utbah al-Ghulam tampak bercucuran keringat di musim
dingin. Ketika orang-orang di sekitarnya menanyakan hal itu
kepadanya, ia memberikan penjelasan. Ini adalah tempat di
mana aku telah bermaksiat kepada Allah swt. Ketika diminta
memberikan penjelasan lebih lanjut, ia mengatakan : Aku
mengambil sebongkah lempung dari dinding ini, supaya
tamuku dapat membersihkan tangan dengannya, tetapi aku
tidak meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik dinding ini.
Ibrahim bin Adham berkaa : Pada suatu malam aku
menggisi waktu di bawah kubah Masjid Kubah Batu Karang di
Baitul Maqdis. Di tengah malam sepi turun dua malaikat.
Malaikat pertama bertanya kepada sahabatnya : Siapakah
orang yang berdiam di sini? Sahabatnya menjawab : Ibrahim
bin Adham. Malaikat pertama itu berkata : Inilah orang yang
derajatnya telah diturunkan Allah swt. satu tingkat! Maka,
Malaikat ke dua bertanya : Mengapa? Ia menjawab : Karena
ketika ia membeli sedikit kurma di Nashrah, sebutir kurma
bercampur menjadi satu dengan kurma yang dibelinya, ia tidak
mengembalikan kepada pemiliknya.

Kemudia Ibrahim melaporkan : Aku berangkat ke Bashrah,


membeli kurma dari orang tersebut, dan menjatuhkan se butir
kurma ke dalam kurma-kurma miliknya. Aku kembali ke
Yerusalem dan dan mengisi malam hariku di Masjid Kubah Batu
Karang. Ketika sebagian malam berlalu, aku melihat dua
malaikat turun dari langit, dan malaikat yang satu bertanya
kepada sahabatnya : Siapakah orang yang berdiam di sini?
Sahabatnya menjawab : Ibrahim bin Adham. Malaikat yang
bertanya berkata lagi : Ini adalah orang yang telah
dikembalikan dan dinaikan derajatnya oleh Allah swt.
Dikatakan bahwa takwa mempunyai bermacam-macam
aspek; bagi kaum awam taqwa adalah menghindari syirik, bagi
kaum terpilih (khawash) adalah menghindari dosa-dosa, bagi
para auliya adalah menghindari ketergantungan pada amal,
dan bagi para Nabi menghindari menisbatkan amal kepada
selain Allah swt. Sebab taqwa mereka datang dari-Nya dan
kembali kepada-Nya.
Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib r.a. berkata : Kaum
termulia di dalam dunia adalah kaum dermawan dan yang
paling mulia di akhirat adalah kaum yang taqwa.
Diriwayatkan oleh Abu Umamah, bahwa Nabi. Saw.
menegaskan :
Apabila seseorang menatap kecantikan seorang wanita
dan kemudian menundukkan matanya setelah tatapan
pertama, maka Allah menjadikan tindakannya itu suatu ibadat
yang rasa manisnya dirasakan oleh hati orang yang
melakukannya. (Hr. Ahmad dalam Musnad-nya).
Al-Junayd sedang duduk-duduk bersama Ruwaym, Al-Jurairy
dan Ibnu Atha. Al-Junayd berkata : Seseorrang tidak akan
selamat kecuali bila berlindung secara ikhlas kepada Allah.
Allah swt. berfirman : Dan terhadap tiga orang yang tidak ikut
serta (berjihad), hingga ketika bumi telah menjadi sempit bagi
mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah
sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah
mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah,
melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat
mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya

Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Qs. AtTaubah :118).
Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa
kaena kemenagan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab
(neraka dan tidak pula) mereka berduka cita. (Qs. Az-Zumar :
61).
Al-Jurairy berkata : Seseorang akan selamat hanya dengan
tekun beribadat. Allah swt. berfirman : .... (yaitu) orang-orang
yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. (Qs.
Ar-Raad :20).
Ibnu Atha menegaskan : Seseorang akan tidak selamat
kecuali dengan sikap malunya di hadapan Allah swt. Allah swt.
berfirman : Tidakkah ia mengetahui bahwa sesungguhnya
Allah melihat segala perbuatannya. (Qs. AlAlaq :14). Bahwa
sanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan
yang baik dari kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.: (Qs. AlAnbiya :101).
Dikatakan, seseorang tidak akan selamat kecuali dengan
pilihan yang telah ditetapkan atas dirinya. Allah swt.
berfirman : Dan kami telah memilih mereka (untuk menjadi
Nabi-nabi dan Rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan
yang lurus. (Qs. Al-Anam :87).

W A R A
Diriwayatkan oleh Abu Dzar al-Ghiffary, (Abu Dzar adalah
Jundub bin Junadah al-Ghiffary (wafat 23 H/652 M.) dari bani
Ghiffar, seorang sahabat yang telah dulu masuk Islam. Beliau
sangat jujur dan memiliki keteladanan. Tinggal di Damaskus),
bahwa Rasulullah saw. bersabda : Sebagian dari kebaikan
tindakan keIslaman seseorang adalah bahwa ia menjauhi
segala sesuatu yang tidak berarti. (H.r. Malik Bin Anas, Tirmidzi
dan Ibnu Majah).
Syeikh Abu Ali ad.daqqaq mengatakan : Wara adalah
meninggalkan apa pun yang syubhat. Dmeikian pula, Ibrahim
bin Adham memberika penjelasan : Wara adalah

meninggalkan segala sesuatu yang meragukan, segala sesuatu


yang tidak berarti, dan apa pun yang berlebihan.
Abu Bakr ash.Shiddiq r.a. berkaa : Kami dahulu selalu
meninggalkan tujuhpuluh perkara yang termasuk ke dalam halhal yang dihalalkan, karena khawatir terjerumus ke dalam satu
hal yang haram.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw.
bersabda :
Bersikaplah wara, dan kamu akam nejadi orang yang
paling taat beribadat di antara ummat manusia. (H.r. Ibnu
Majah, Thabrani dan Baihaqi).
As. Saru berkata : Terdapat empat orang yang wara di
zaman mereka : Hudzaifah al-Murtaisy, Yusuf bin Asbat,
Ibrahim bin Adham dan Sulaiman al-Khawwas. Mereka bersikap
wara. Dan apabia usaha untuk mendapatkan sesuatu yang
halal begitu sulit bagi mereka, mereka mencarinya seminimal
mungkin.
Asy-Syibli berkomentar : Wara adalah sikap menjauhi
segala sesuatu selain Allah swt.
Ishaq bin Khalaf mengatakan : Wara dalam bicara lebih
sulit ketimbang menjauhi emas dan perak, dan zuhud dari
kekuasaan lebih sulit ketimbang menyerahkan emas dan perak,
karena Anda siap mengorbankan emas dan perak demi
kekuasaan.
Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan : Wara adalah titik
tolak zuhud, sebagaimana sikap puas terhadap apa yang ada
adalah bagian utama dari ridha.
Abu Utsman mengatakan : Pahala bagi wara adalah
kemudahan penghitungan amal di akhirat.
Yahya bin Muadz berkata : Wara adalah berpangku pada
batas ilmu tanpa menakwilkannya.
Dikatakan : Sekeping uang loga kecil milik Abdullah bin
Marwan jatuh ke dalam sebuah sumur yang berisi kotoran, lalu
ia meminta bantuan seseorang untuk mengambilnya dengan
membayarnya tiga belas dinar. Ketika seseorang bertanya
kepadanya, ia memberikan penjelasan : Nama Allah swt.
tertera pada uang itu.

Yahya bin Muadz menegaskan : Ada dua jenis wara :


Wara
dalam
pengertian
dzahir,
yaitu
sikap
yang
mengisyaratkan bahwa tidak ada satu tindakan pun selain
karena Allah swt. dan wara dalam pengertian batin, yaitu sikap
yang mengisyaratkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang
memasuki hati Anda kecuali Allah swt.
Ia juga berkata : Orang yang tidak memeriksa dan
meahami seluk beluk wara tidak akan mendapatkan
anugerah.
Dikatakan : Orang yang pandangan atas agama jeli, akan
memperoleh peringkat yang tinggi di Hari Kebangkitan
Yunus bin Ubaid mengatakan : Wara berarti keluar dari
segala syubhat, dan merefleksikan diri dalam setiap
pandangan.
Sufyan ats-tsaury berkomentar : Aku belum pernah melihat
sesuatu yang mudah selain wara. Apap pun yang diinginkan
oleh hawa nafsu Anda, tinggalkanlah!.
Maruf al-Karkhy mengajarkan : Jagalah lidah Anda dari
pujian, sebagaimana Anda menjaganya dari cacian.
Bisyr ibnul Harits berkata : Hal-hal paling sulit untuk
dilaksanakan, ada tiga : Dermawan di masa-masa sulit, wara
adalah khalwat, dan menyampaikan kebenaran kepada
seseorang yang Anda takuti dan Anda jadikan harapan.
Saudara wanita Bisyr al-Hafi mengunjungi Ahmad bin
Hanbal dan memberitahukan kepadanya : Kami sedang
memintal di atas atap rumah, ketika obor kaum Dzahiriyah
berlalu dan cahayanya menyinari kami. Apakah diperbolehkan
bagi kami memintal di dekat cahaya mereka? Ahmad bertanya
: Siapakah Anda, (semoga Allah menjaga kesehatan Anda)? Ia
menjawab : Saya adalah saudara wanita Bisyr al-Hafi. Ahmad
menangis, lau berkata, Wara yang jujur muncul dari keluarga
Anda. Jangan memintal di dekat cahaya itu!.
Ali al-Atthar berkata : Suatu ketika aku sedang berjalan
melewati Bashrah melintasi sebuah jalan, dan aku melihat
beberapa orang Syeikh sedang duduk, sementara beberapa
pemuda bermain di dekatnya. Oleh karena itu aku bertanya
kepada mereka, Apakah Anda sekalian tidak malu bermain di

depan Syeikh-Syeikh ini? Salah seorang pemuda tersebut


menjawab, Wara para syeikh ini demikian kecil sehingga kami
memandang kecil mereka.
Dikatakan bahwa Malik Bin Dinar tinggal di Bashrah selama
empatpuluh tahun, ia tidak pernah memakan kurma kering
maupun yang masih segar dari kota tersebut. Sampai saat
musim berlalu, ia berkata, Wahai penduduk Bashrah, inilah
perutku, tidak kurang juga tidak pernah bertambah!.
Seseorang bertanya kepada Ibrahim bin Adham, Mengapa
Anda tidak minum Zam-zam? Ia menjawab : Apabila aku
mempunyai timba, aku akan meminumnya.
Apabila al-Harits al-Muhasiby mengambil makanan yang
syubhat, maka urat di ujung jarinya berdenyut, dan ia
menganggap bahwa makanan tersebut syubhat.
Suatu ketika Bisyr al-Hafi diundang ke jamuan makan, dan
dihidangkan makanan di depannya. Ia hendak menyantap
makanan itu, tetapi tangannya tidak dapat digerakkan, Ia
berusaha menggerakkannya hingga tiga kali. Seseorang yang
akrab dengan situasi ini mengatakan : Tangannya tidak pernah
mengambil makanan yang syubhat. Percuma saja tuan
mengundang Syeikh ini.
Ketika Sahl bin Abdullah ditanya tentang halal yang murni,
ia menjawab : Yaitu yang di dalamnya tidak pernah dicampuri
maksiat kepada Allah swt. Dan Halal yang murni adalah yang
Allah tidak dilupakan di dalamnya.
Hasan al-Bashry memasuki Mekkah, ia melihat salah
seorang keturunan Ali bin Abi Thalib r.a. bersandar ke Kabah
dan berceramah di hadapan sekumpulan orang. Hasan
bergegas menghampirinya, lalu bertanya : Siapakah yang
menguasai agama-agama? Ia menjawab : Orang wara.
Hasan bertanya lagi : Apakah yang merusak agama? Ia
menjawab : Kesereakahan. Maka Hasan mengaguminya,
seraya berkata : Bobot sebutir wara yang cacat adalah lebih
baik ketimbang bobot seribu hari berpuasa dan shalat,
Abu Hurairah mengatakan : Sahabat-sahabt dalam majelis
Allah swt, di akhirat adalah orang-orang yang wara dan
zuhud.

Sahl bin Abdullah berkata : Apabila wara tidak menyertai


seseorang, ia tidak akan pernah merasa kenyang, sekalipun
diwajibkan baginya makan kepala gajah.
Sedikit minyak kasturi yang berasal dari rampasan perang
dibawa ke hadapan Umar bin Abdul Aziz. Katanya : Manfaat
satu-satunya adalah aroma keharumannya, dan aku tiak ingin
hanya diriku sendiri yang mencium aromanya, sementara
seluruh kaum Muslim tidak berbagi mambauinya.
Ketika ditanya tentang wara Abu Utsman al-Hiry berkata :
Abu Shalih Hamdunal al-Washshar berada bersama salah
seorang sahabatnya yang sedang menjelang maut. Orang
tersebut meninggal, dan Abu Shalih memadamkan lampu.
Seseorang bertanya kepadanya tentang hal ini, lalu ia
mengatakan. Sampai sekarang minyak yang di dalam lampu
ini menjadi milik para ahli warisnya. Carilah minyak yang bukan
miliknya!.
Hamisan berkata : Aku meratapi dosaku selama
empatpuluh tahun. Salah seorang sauddara mengunjungiku,
dan kubelikan sepotong ikan rebus untuknya. Ketika ia selessai
memakannya, aku mengambil sebongkah lempung dinding
milik tetanggaku, sampai ia dapat membersihkan tangannya,
dan aku belum meminta haalnya.
Seseorang sedang menulis suatu catatan saat ia tinggal di
sebuah rumah swa dan ingin mengeringkan tulisannya dengan
debu yang dapat diperoleh dari dinign rumah tersebut. Ia
teringat bahwa rumah yang ditempatinya adalah ruamh sewa,
akan tetapi ia bependapat bahwa hal itu tidaklah penting.
Karenanya, ia pun menegeringkan tulisan tersebut dengan
debu. Kemudian ia mendengar sebuah suara mengatakan :
Orang meremehkan debu akan melihat betapa lama
perhitungan amalnya kelak.
Ahmad bin Hanbal semoga Allah melimpahkan kasih
sayang kepadanya menggadaikan sebuah ember kepada
seorang penjual bahan makanan di Mekkah. Ketika ingin
menebusnya, penjual bahan makanan tersebut mengeluarkan
dua ember, sembari mengatakan Ambillah, yang mana ember
milik Anda.? Ahmad menjawab : Saya ragu. Oleh karena itu,

simpan saja, baik kedua meber maupun uang itu untuk Anda!
Penjual makanan tersebut memberri tahu, Inilah ember Anda.
Saya hanya ingin menguji Anda. Ahmad menyahut : Saya
tidak akan mengambilnya. Lalu pergi, dengan meninggalkan
ember kepunyaannya kepada si penjual bahan makanan.
Sayyab Ibnul Mubarak membiarkan kudanya yang mahal
berkeliaran dengan bebas ketika ia sedang melkukan shalat
dzuhur. Kuda tersebut merumput di ladang milik Kepala Desa.
Akhirnya, Ibnul Mubarak meninggalkan kuda tersebut dengan
tidak mengandarainya. Dikatakan bahwa Ibnul Mubarak sutu
ketika pergi pulang dari Marw ke Syria, gara-gara telah
meminjam sebuah pena dan lupa mengembalikannya.
An-Nakhay menyewa seekor kuda. Ketika cambuknya
terlepas dari tangan dan jatuh, ia pun turun seraya mengikat
kudanya, dan berjalan untuk memungut cambuk tersebut.
Seseoang berkomentar, Akan lebih mudah sandainya Anda
mengendalikan kuda Anda menuju tempat di mana cambuk itu
jatuh dan kemudain mengambilnya. An-Nakhay menyahut :
Aku menyewa kuda itu untuk pergi ke arah sana, bukan ke
arah sini.
Abu Bakr ad-Daqqaq berkata : Aku berkelana di padang
belantara bani Israil selama limabelas hari, dan ketika tiba di
sebuah jalan, seorang prajurit menemuiku dan memberi
seteguk air minum. Air itu menumbuhkan penderitaan dalam
hatiku, dan aku menderita selama tigapuluh tahun.
Rabiah Adawiyah menjahit bajunya yang sobek di dekat
lampu sultan, tiba-tiba ia tersentak den kemudian sadar. Maka,
Rabiah pun menyobek pakaiannya, dan menemukan hatinya.
Sufyan ats-tsaury suatu ketika bermimpi mempunyai
sepasang sayap yang dapat digunakan untk terbang ke surga.
Kemudian ia ditanya : Dengan apa hingga Anda dianugerahi
ini? Dijawabnya : Wara.
Ketika Hissan bin Abi Sinan menghampiri murid-murid alHasan, ia bertanya : Hal apakah yang paling sulit bagi Anda?
Mereka menjawab : Wara, Ia berkata : Tiada sesuatu yag
paling mudah bagiku selain ini (wara). Mereka bertanya :
Mengapa demikina? Hissan bin Abi Sinan menanggapi : Aku

belum pernah minum air dari mata air milik Anda semua
selama empatpuluh tahun.
Hissan bin Abi Sinan tidak tidur terlentang atau makanmakanan berlemak atau minum air dingin selama empat puluh
tahun. Seseorang bermimpi bertemu dengan Hissan bin Abi
Sinan, lalu bertanya kepadanya tentang apa yang telah Allah
lakukan atas dirinya. Dijelaskan oleh Hissan bin Abi Sinan :
Baik, kecuali bahwa pintu surga tertutup bagiku, karena jarum
yang pernah kupinjam belum ku kembalikan.
Abdul Wahid bin Zaid mempunyai seorang pembantu
rumah tangga yang bekerja kepadanya selama bertahun-tahun
dan beribadah secara khusyu selama empat puluh tahun.
Sebelumnya ia adalah seorang penimbang gandum. Dan ketika
ia meninggal, seseorang bermimpi bertemu dengannya.
Ditanya tentang apa yang telah Allah lakukan atas dirinya?
Dijawabnya : Baik, kecuali bahwa aku dihalangi memasuki
pintu surga, disebabkan oleh debu pada timbangan gandum
yang dengannya aku menimbang empatpuluh porsi gandum.
Ketika Isa putra Maryam a.s. melewati sebuah makam,
seseorang berteriak dari dalam kuburnya. Allah swt.
menghidupkannya kembali dan Isa bertanya kepadanya :
Siapakah Anda? Ia menjawab : Aku adalah seorang kuli, dan
pada suatu hari, saat aku mengantarkan kayu bakar untuk
seseorang, aku mematahkan sepotong kayu kecil. Sejak aku
meninggal, aku dianggap bertanggung jawab atas hal itu.
Abu Said al-Kharraz berbicara tentang wara, ketika Abbas
bin la-Muhtadi berlalu dihadapannya. Ia bertanya : Wahai Abu
Said, apakah anda tidak mempunyai rasa malu? Anda duduk di
bawah atap Abu ad-Dawaniq, minum dari penampungan air
Zubaydah, berniaga dengan riba, tetapi berbicara tentang
wara.

ZUHUD
Nabi saw. bersabda :

Apabila kamu sekalian melihat seseorang yang telah


dianugerahi zuhud berkenaan dengan dunia dan ucapan, maka
dekatilah ia, karena ia dibimbing oleh hikmah. (H.r. Abu
Khallad dan di-Takhrij oleh Abu Nuim dan Baihaqi).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan : Pada umumnya
banyak orang berbeda pendapat berkenaan dengan zuhud.
Sementara orang ada yang mengatakan, Zuhud bersangkutan
dengan perkara yang haram saja, sebab perkara yang halal
diterima Allah swt. Apabila Allah swt. memberikan berkat
kepada hamba-Nya berupa harta yang halal dan hamba itu
bersyukur kepada-Nya atas berkat itu, maka ia meninggalkan
menurut upayanya, tanpa harus mengajukan hak izin untuk
mengekangnya.
Sebagian yang lain mengatakan : Zuhud terhadap perkara
yang haram adalah suatu kewajiban, sementara zuhud
terhadap perkara yang halal adalah suatu keutamaan. Apabila
hamba yang berzuhud miskin, tetapi sabar terhadap
keadaannya, bersyukur serta merasa puas atas segala sesuatu
yang telah dianugerahkan Allah swt. kepadanya maka hal itu
lebih baik ketimbang berusaha menimbun kekayaan berlimpah
di dunia.
Allah swt. telah menghimbau ummat manusia untuk
bersikap zuhud berkenaan dengan pemerolehan kekayaan,
melalui firmannya :
Katakanlah, Kesenangandi dunia ini hanya sebentar dan
akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa. (Qs.
An-Nisa:77).
Banyak ayat lainnya yang dapat dijumpai berkenaan
dengan tidak berharganya dunia dan seruan untuk bersikap
zuhud terhadapnya.
Sebagian orang yang mengatakan : Apabila seorang
hamba membelanjakan harta dalam ketaatan kepada Allah swt.
bersabar, dan tiak mengajukan keberatan terhadap laranganlarangan syariat untuk dilakukannya dalam menghadapi
kesulitan hidup, maka adalah lebih baik baginya bersikap zuhud
terhadap harta yang dihalalkan.

Sebagian yang lain berkomentar : Seyogyanya bagi


seorang
hamba
memutuskan
untuk
tidak
memilih
meninggalkan yang halal dengan bebannya, dan tidak pula
berusaha memenuhi keperluan-keperluannya harta yang halal,
ia harus bersyukur kepada-Nya. Apabila Allah swt menentukan
dirinya berada pada batas kecukupan hidup, maka hendaknya
tidak memaksakan diri mencari kemewahan, karena kesabaran
merupakan suatu yang paling utama bagi pemilik harta yang
halal.
Sofyan ats-Tsauri berkata : Zuhud terhadap dunia adalah
membatasi keinginan untuk memperoleh dunia, bukannya
memakan makanan kasar atau mengenakan jubah dari kain
kasar.
Sari as-Saqathy menegaskan : Allah SWT. menjauhkan
dunia dari para auliya-Nya, menjauhkan dari makhlukmakhluk-Nya yang berhati suci, dan menjauhkannya dari hati
mereka
yang
dicintai-Nya
lantaran
Dia
tidak
memperuntukkannya bagi meraka.
Zuhud disinggung secara tidak langsung di dalam firmanNya, (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan
berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya
kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya
kepadamu. (Qs. Al-Hadid :23). Sebab sang hamba tidak
gembira atas apa yang dimilikinya di dunia, dan tidak pula
bersedih atas apa yang tiada dimilikinya.
Abu Utsman berkata : Zuhud alah hendaknya Anda
meninggalkan dunia dan kemudian tidak peduli dengan mereka
yang mengambilnya.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan : Zuhud adaah
hendaknya Anda meninggalkan dunia sebagaimana adanya. ia
bukan berkata Aku akan membangun pondok Sufi (ribath) atau
mendirikan masjid.
Yahya bin Muadz mengatakan : Zuhud menyebabkan
kedermawwanan berkenaan dengan hak milik, dan cinta yang
mengantarkan pada semangat kedermawanan.

Ibnul Jalla berkomentar : Zuhud adalah sikap Anda


memandang dunia ini hina di mata Anda, maka berpaling
darinya akan menjadi mudah bagi diri Anda.
Ibu Khafif berkata : Pertanda zuhud adalah adanya sikap
tenang ketika berpisah dari harta milik. Dikatakannya pula :
Zuhud adalah ketidak senangan jiwa pada dunia, dan
melepaskan urusan hak milik itu.
An-Nashr Abadzy berkata : Orang zuhud selalu asing di
dunia dan seorang ahli marifat )arif) adalah orang asing di
akhirat.
Dikatakan : Bagi orang yang benar-benar bersikap zuhud,
dunia akan menyerahkan diri kepadanya dengan penuh
kerendahan dan kehinaan. Oleh sebab itu, dikatakan : Apabila
sebuah topi jatuh dari langit, ia akan jatuh di atas kepala
seseorang yang tidak menghendakinya.
Al-Junayd mengajarkan : Zuhud adalah kekosongan hati
dari sesuatu yang tangan tidak memilikinya.
Ulama salaf berbeda pendapat soal zuhud. Sufyan atsTsaury; Ahmad bin Hanbal; Isa bin Yunus dan lain-lainnya
menegaskan bahwa zuhud di dunia berarti membatasi anganangan dan keinginan. Ungkapan sebagaimana mereka
tegaskan, cenderung dipahami sebagai faktor-faktor penyebab
zuhud, sekaligus sebgai faktor pembangkit zuhud dan makna
esensial yang mencakup disiplin zuhud itu sendiri.
Abdullah ibnul Mubarak berkomentar : Zuhud adalah
tawakkal kepada Alalh swt. dipadu dengan kecintaan kepada
kefakiran.
Syaqiq al-Balkhy dan Yusuf bin Asbat juga mengatakan
demikian. Jadi, ini juga merupakan satu dari tanda-tandan
zuhud, lantaran si hamba tidak mampu merelakan kecuali
dengan tawakkal kepada Allah swt.
Abdul Wahid bin Zaid memberikan penjelasan : Zuhud,
adalah menjauhkan diri dari apa pun yang memalingkan Anda
dari Allah swt.
Ketika AL-Junayd bertanya soal zuhud, Ruwaym menjawab,
Zuhud adalah meremehkan dunia dan menghapus bekasbekasnya dari hati.

As-Sary berkata : Kehidupan seorang zahid tidak akan baik


apabila dirinya terpalingkan dari kepedulian terhadap jiwanya,
dan kehidupan seorang arif tidak akan baik apabila terlalu
mementingkan jiwanya.
Al-Junayd berkata : Zuhud adalah mengosongkan tangan
dari harta dan mengosongkan hati dari kelatahan.
Ditanya tentagn zuhud, asy-Syibli menjawab : Zuhud
adalah hendaknya Anda menjauhkan diri dari segala sessuatu
selain Allah swt.
Yahya bin Muadz berkata : Tidak akan sempurna zuhud
seseorang, kecuali memiliki tiga karakter ini : Berbuat tanpa
diserta keterikatan, berbicara tanpa disetai ambisi, dan
kemudian tanpa adanya kekuasaan atas orang lain.
Abu Hafs mengatakan : Tidak ada zuhud kecuali dalam
perkara yang halal, dan di dunia ini tiada yang halal, karena
tiada pula zuhud.
Abu Utsman berkata : Allah swt. memberi seorang zahid
sesuatu lebih daripada sekedar yang diinginkannya, dan Dia
memberikan sesuatu kepada hamba yang dicintai-Nya kurang
dari yang ia inginkan, Dia memberi hamba yang mustqim
sesuai yang diinginkannya.
Yahya bin Muadz berkata : Orang zuhud adalah yang
mengusik hidung Anda dengan bau cuka, tetapi kaum arif
menyebarkan keharuman minyak kasturi.
Hasan al-Bashry berkata : Zuhud di dunia, hendaknya
Anda membenci muatan dan pendukungnya.
Seseorang bertanya kepada Dzun Nuun al-Mishry : Kapan
aya dapat menjauhkan diri dari dunia? Daun Nuun menjawab :
Ketika Anda menjauhkan diri dari Nafsu.
Muhammad
ibnul
Fadhl
mengatakan
:
Sikap
memprioritaskan orang lain bagi kaum zuhud adalah pada
waktu mereka berkecukupan, sedangkan kaum ksatria adalah
pada waktu sangat membutuhkan.
Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas
diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. (Qs.
Al-Hasyr : 9).

Al-Kattany mengatakan : Sesuatu yang tidak ditentang


oleh orang Kufah, tidak oleh orang Madinah, orang Irak, juga
tidak oleh orang Syria, adalah zuhud terhadap dunia,
kedermawanan
dan
berdoa
supaya
ummat
manusia
mendapatkan kebaikan. Artinya, tidak seorang pun yang
mengatakan bahwa hal-hal ini tidak terpuji.
Seseorang bertanya kepada Yahya bin Muadz : Bilakah
saya akan memasuki kedai tawakal, mengenakan jubah zuhud
dan duduk dalam majelis bersama kaum zuhud? Yahya
menjawab : Ketika Anda tiba pada suatu keadaan dalam olah
ruhani (riyadhah) dalam diri Anda secara rahasia, sehingga
sampai pada batas ketika Allah memutuskan rezeki kepada
Anda sebelum tiga hari tidak merasakan lemah. Tetapi apabila
tujuan ini tidak tercapai, maka duduk di atas karpet kaum
zuhud hanyalah kebodohan, dan saya tidak dapat menjamin
bahwa diri Anda tidak akan terhinakan di tengah-tengah
mereka.
Bisyr al-Hafi menegaskan : Zuhud adalah seorang raja
yang tidak menempati suatu tempat selain hati yang kosong.
Muhammad
ibnul
Asyats
al-Bikandy
berkata
:
Barangssiapa berbicara tentang zuhud dan menyeru manusia
kepada zuhud disamping juga menginginkan sesuatu yang
mereka miliki, maka Allah swt. akan melepaskan kecintaan
pada akhirat dari hatinya.
Dikatakan : Manakala seoarang hamba menjauhkan diri
dari dunia, maka Allah swt. mempercayakan dirinya kepada
malaikat yang menanamkan kebijaksanaan di dalam hatinya.
Seorang Sufi ditanya : Mengapa Anda menolak dunia> Ia
menjawab : Karena ia telah menolakku.
Ahmad bin Hanbal memberikan penjelasan : Ada tiga
macam zuhud : Bersumpah menjauhi perkara yang haram
adalah zuhud kaum awam; Bersumpah menjauhi sikap
berlebih-lebihan dalam perkara yang halal adalah zuhud kaum
terpilih (Khawash), dan bersumpah menjauhi apa pun yang
memalingkan sang hamba dari Allah swt. adalah zuhud kaum
Arifin.

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan : Salah seorang


Sufi ditanya : Mengapa Anda menolak dunia ? Dijawab sang
Sufi : Karena aku menarik diri dari kemewahan dan menolak
menginginkannya barang sedikit pun.
Yahya bin Muadz berkata : Dunia ini bagaikan pengantin
wanita. Orang yang menerimanya akan membelai rambutnya
penuh kelembutan. Sedang bagi si zahid, di dalamnya akan
tampak kusam, mengacak-acak rambutnya, dan membakar
gaunnya. Kaum Arifin, senantiasa sibuk dengan Allah swt. tidak
sedikit pun menoleh pada sang pengantin wanita.
As-Sary berkata : Aku melaksanakan seluruh aturan zuhud
dan dianugerahi segala sesuatu yang kuminta dalam doa,
keculai zuhud terhadap masyarakat. Aku belum mencapai ini,
dan aku pun belum sanggup menanggungnya.
Dikatakan : Kaum zuhud teleh mengucilkan diri dan
berkumpul hanya dengan sesama mereka saja, sebab mereka
menjauhi nikmat-nikmat sementara, demi nikmat-nikmat yang
abadi.
An-Nashr Abadzy berkomentar : Zuhud adalah memelihara
darah kaum zahidin dan menumpahkan darah kaum Arifin.
Hatim al-Asham mengatakan : Kaum zuhud menghabiskan
isi dompetnya sebelum dirinya, dan orang yang berperilaku
zuhud menghabiskan dirinya sebelum dompetnya.
Al-Fudhailbin Iyadh berkata : Allah swt. menempatkan
seluruh kejahatan dalam satu rumah dan menjadikan kecintaan
kepada dunia sebagai kuncinya. Dia amenempatkan seluruh
kebaikan di rumah yang lain dan menjadikan zuhud sebagai
kuncinya.

DIAM
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. Bahwa Rasulullah saw.
bersabda
:
Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah
ia tidak mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman
kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah menghomati tamunya.
Dan barangsiapa beriman Kepada Allah dan Hari Akhir,

hendaklah berkata baik atau diam. (H.r. Bukhari-Muslim dan


Abu Dawud).
Dari Abu Umamah, bahwasanya Uqbah bin Amir
bertanya : Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?
Beliau menjawab : Jagalah lidahmu, berpuaslah dengan
rumahmu, dan menangislah untuk dosa-dosamu. (Hr.Tirmidzi).
Syeikh ad.Daqqaq berkata : Diam mencerminkan rasa
aman dan merupakan aturan yang mesti dilaksanakan;
penyesalan akan mengikutinya apabila orang terpaksa
mencegahnya. Seharusnya dalam diam, mempertimbangkan di
dalamnya hukum syara, perintah-perintah dan laranganlarangan harus dipatuhi di dalam sikap diam. Dalam waktu
yang tepat adalah termasuk siffat para tokoh. Begitu pun bicara
pada tempatnya merupakan karakter yang mulia.
Selanjutnya Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan :
Barangsiapa menahan diri untuk mengucapkan kebenaran
dalah setan yang bisu.
Diam adalah salah satu sikap yang layak dalam menghadiri
majelis Sufi, karena Allah swt. berfirman : Dan apabila
dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan
perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rakhmat.
(Qs. Al-Araf :204). Dan Allah swt. menjelaskan pertemuan jin
dan Rasul saw. Firman-Nya, ..... maka tatkala mereka
menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, Diamlah
kamu (untuk mendengarkannya) (Qs. Al-Ahqaf :29). Allah swt.
berfirman : ...... dan merendahlah semua suara kepada Tuhan
Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali
bisikan saja. (Qs. Thaaha :108).
Betapa besar perbedaan antara seorang hamba yang diam,
menjaga dirinya dari kebohongan dan fitnah, dengan hamba
yang diam karena takut kepada raja yang menakutkan.
Mengenai makna pernyataan ini, dibacakan baris-baris syair
berikut ini :
Aku merenung, apa yang akan kukatakan saat kita
berpisah,
Dan terus menerus kusempurnakan ucapan hiba,
Tiba-tiba kulupakan ketika kita berjumpa,

Dan, kalau toh aku bicara, kuucapkan kata-kata hampa.


Para Sufi juga mendendangkan nada-nada ini :
Betapa banyak kata-kata yang inginn kucurahkan padamu,
Hingga ketika kesempatan bertemu denganmu,
Segalanya jadi kelu.
Juga baris berikut ini :
Kulihat bicara menghiasi orang muda,
Sedang diam adalah paling baik bagi yang tenang,
Karenanya, betapa banyak huruf yang membawa maut,
Dan betapa banyak pembicara yang berangan
Seandainya ia bisa DIAM.
Ada dua jenis diam : Diam lahir dan diam batin. Hati orang
yang tawakal adalah diam pada ketentuan rezeki yang
diberikan. Sedang orang arif, hatinya diam untuk berhadapan
dengan ketentuan melalui sifat keselarasan. Yang pertama
adalah dengan senantiasa memperbagus pebuatannya secara
kokoh, dan yang kedua, adalah merasa puas terhadap semua
yang ditetapkan oleh-Nya.
Alasan untuk diam boleh jadi merupakan ketakjuban yang
disebabkan oleh pemahaman secara mendadak, lantaran
apabila masalah tertentu tiba-tiba tampak jelas, maka katakata menjadi bisu dan tidak ada kefasihan maupun ucapan.
Dalam situasi seperti ini, kesaksian terhapuskan dan tidak
dijumpai baik pengetahuan maupun penginderaan.
Allah saw. berfirman :
(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan pra Rasul,
lalu Allah bertanya (kepada mereka), Apa jawaban kamu
terhadap (seruan)mu? Para Rasul menjawab, Tidak ada
pengetahuan kami (tentang itu) (Qs. Al-Maidah :109).
Prioritas dalam mujahadah adalah diam, sebab mereka
mengetahui bahaya yang terkandung dalam kata-kata. Mereka
juga menyadari bahaya nafsu bicara, memamerkan sifat-sifat
mengundang pujian manusia dan ambisi untuk meraih
popularitas di kalangan sejawatnya karena keindahan tutur
katanya. Mereka menyadari bahwa ini semua termasuk dalam
kelemahan-kelemahan manusia. Ini merupakan gambaran

orang yang terlibat dalam olah ruhani. Diam sebagai salah satu
prinsip bagi aturan tahapan dan penyempurnaan akhlak.
Ketika Dawud ath-Thay berkeinginan tetap tinggal di
rumah, ia memutukan untuk menghadiri majelis Abu Hanifah,
sebab ia adalah salah seorang muridnya. Ia duduk bersama
ulama yang lain, dan tidak memberikan komentar berkenan
dengan masalah-masalah yang didiskusikan. Ketika jiwanya
menjadi kuat dengan diam dan praktik diam yang dilakukan
selama setahun, ia lalu tinggal di rumah dan memutuskan
beruzlah.
Bisyr ibnu Harits mengajarkan : Apabila berbicara
menyenangkan Anda, diamlah. Apabila diam menyenangkan
Anda , berbicaralah.
Sahl bin Abdullah menegaskan : Diam seorang hamba
tidak akan sempurna, kecuali sesudah ia memaksakan diam
atas dirinya.
Abu Bakr al-Farisy mengatakan : Apabila tanah kelahiran
seorang hamba bukanlah diam, maka hamba tersebut akan
berbicara berlebihan, meskipun tidak mempergunakan
lidahnya. Diam tidak terbatas pada lidah, tetapi meliputi hati
dan semua anggota badan.
Salah seorang Sufi berkata : Orang yag tidak
menggunakan diam ketika berbicara, adalah tolol.
Mumsyad ad-Dinawary berkata : Orang-orang bijak
mewarisi kebijaksanaan dengan diam dan kontemplasi.
Ketika Abu Bakr al-Farisy ditanya tentang diam sirri,
dijawabnya : Diam sirri adalah menjauhkan diri dari kepedihan
terhadap masa lampau dan masa depan. Dikatakannya pula :
Apabila seorang hamba berbicara hanya mengenai sesuatu
yang menyangkut kepentingannya, dan keharusan-keharusan
bicaranya, maka ia termasuk diam.
Muaz bin Jabal r.a. berkata : Kurangilah berbicara
berlebihan dengan sesama manusia dan perbanyaklah
berbicara dengan Tuhanmu, mudah-mudahan hatimu akan
(dapat) melihat-Nya.

Dzun Nuun al-Mishry ditanya : Di antara manusia,


siapakah pelindung terbaik bagi hatinya? Dijawab Dzun Nuun :
Yaitu orang yang paling mampu menguasai lidahnya.
Ibnu maud berkata : Tidak ada sesuatu pun yang patut
diikat berlama-lama lebih dari lidah.
Ali bin Bukkar mencatat : Allah menjadikan dua pintu bagi
segala sesuatu, tetapi Dia menjadikan empat pintu bagi lidah,
yaitu dua bibir dan dua baris gigi.
Konon Abu Bakr ash-Shiddiq r.a. (Abu Bakr ash-Shiddiq r.a.
adalah Abdullah bin Abi Quhaah (51 s.H 13 H/ 573 634 M)
Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin. Orang pertama yang
masuk Islam. Lahir di Mekkah, merupakan tokoh Quraisy. Beliau
memerangi orang murtad dan membuka syria dan Irak), biasa
engulum sebutir batu selama beberapa tahun dengan tujuan
agar lebih sedikit berbicara.
Abu Hamzah al-Baghdady adalah seorang pembicara ulung.
Pada suatu ketika sebuah suara menyeru kepadanya : Engkau
berbicara, dan bicaranya sangat bagus. Sekarang tinggalah
bagimu untuk berdiam, sehingga engkau menjadi bagus!
Akhirnya ia tidak pernah lagi berbicara sampai wafat
menjemputnya.
Manakalah asy-Syibly sedang duduk di tengah lingkaran
murid-muridnya dan mereka tidak mengajukan pertanyaan,
maka ia bermaksud akan mengatakan : Dan jatuhlah
perkataan (azab) atas mereka disebabkan kezaliman mereka,
maka mereka tidak dapat berkata (apa-apa). (Qs.An-Naml:85).
Terkadang seseorang yang terbiasa berbicara menjadi diam,
karena ada kaum Sufi yang lebih layak dari dirinya untuk
berbicara.
Ibnu Sammak menuturkan, bahwa Syah al-Kirmany dan
Yahya bin Muadz berteman, dan mereka tinggal di kota yang
sama, tetapi Syah tidak menghadiri majelisnya. Ketika ditanya
alasannya, ia menjawab : Sudah sepatutnya begini. Orangorang pun lantas mendesaknya terus hingga suatu hari alKirmany datang ke majelis Yahya dan duduk di pojok di mana
Yahya tidak akan dapat melihatnya. Yahya pun mulai berbicara,
naum secara tiba-tiba ia diam. Kemudian Yahya mengumumkan

: Ada seseorang yang dapat berbicara lebih baik dariku. Dan


ia tidak mampu melanjutkan perkataannya itu. Maka alKirmany berkata : Sudah kukatakan kepada Anda semua
bahwa, adalah lebih baik jika aku tidak datang ke majelis ini.
Terkadang seoarng pembicara memaksakan diri untuk diam
karena keadaan tertentu yang ada pada salah seorang yang
hadir. Barangkali seseorang gyang hadir tidak layak mendengar
pembicaraan terkait, hingga Allah swt. mencegah lidah si
pembicara
demi
ketentraman
dan
perlindungan
dari
mendengar pembicaraan itu. Shingga Allah swt. menjaganya
terhadap pendengar yang bukan kompetennya.
Para Syeikh yang ahli mengenai tharikat ini telah
menjelaskan, Terkadang alasan diamnya seseoang adalah
karena ada jin yang hadir, yang bukan kompetennya. Karena
majelis para Sufi tidak pernah sepi dari kehadiran sekelompok
jin.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan : Suatu ketika aku
jatuh sakit di Marw, dan ingin kembali ke Naisabur. Aku
bermimpi bahwa sebuah suara menyeru kepadaku : Engkau
tidak dapat meninggalkan kota ini. Ada sekelompok jin yang
menghadiri majelis-majelis dan mereka memperoleh manfaat
dari ceramah-ceramah yang engkau berikan. Demi mereka,
tinggallah di tempatmu!.
Salah seorang ahli hikmah berkata : Manusia diciptakan
hanya dengan satu lidah, namun dianugerahi dua mata dan
dua telinga, agar ia mendengar dan mau melihat lebih banyak
dari berbicara.
Ibrahim bin Adham diundang ke sebuah pesta. Ketia ia
duduk, orang-orang mulai bergunjing dan memfitnah satu sama
lain. Ia lalu berkata : Kebiasaan kami adalah makan daging
sesudah makan roti. Anda ini malah makan daging lebih
dahulu. Ucapannya ini merujuk kepada firman Allah swt. :
Maukah salah seorang di antaramu memakan daging
saudaranya yang mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepada perbuatan itu. (Qs. Al-Hujurat :12).
Salah seorang Sufi berkata : Diam adalah bahasa
ketabahan.

Sebagian mereka mengatakan : Belajarlah diam


sebagaimana kamu belajar berbicara. Jika bicara menjadi
pembimbingmu, maka diam menguatkanmu.
Dikatakan : Menjaga lisan adalah lewat diamnya. Ada
yang mengatakan : Lisan ibarat binatang buas, jika tidak kamu
ikat, akan menyerangmu.
Abu Hafs ditanya : Keadaan manakah yang lebih baik bagi
seorang wali, diam atau berbicara? Ia menjawab : Jika si
pembicara mengetahui ada efek negatif dari pembicaraannya,
hendaklah ia tinggal diam, bila mungkin selama usia Nabi Nuh
as. Tetapi jika orang yang diam mengetahui efek negatif dari
diamnya, hendaklah berdoa kepada Allah swt. agar diberi
waktu dua kali usia Nabi Nuh as. Agar dapat berbicara (agar
bisa menunjukkan kebaikan).
Dikatakan : Diam bagi kaum awam dengan lidahnya; diam
bagi kaum yang marifat kepada Allah swt, dengan hatinya, dan
diam bagi para pecinta (muhibbin) adalah menahan pikiran
menyimpang yang menyelusup pada hati sanubari meraka.
Sebagian Sufi mengisahkan : Aku mengekang lidahku
selama tigapuluh tahun, sehingga aku tidak mendengar ucapan
kecuali dari kalbuku. Kemudian aku mengekang kalbuku tiga
puluh tahun, sehingga tidak mendengar kalbuku kecuali
ucapanku.
Salah seorang Sufi mengatakan : Jika lidah Anda
didiamkan, maka belum tentu Anda telah diselamatkan dari
kata hati Anda. Jika Anda telah menjadi batang tubuh yang
kering kerontang, Anda masih belum terbebas dari kata-kata
hawa nafsu Anda. Dan bahkan jika Anada berjuang dengan
susah payah, jiwa Anda masih belum akan berbicara dengan
Anda, sebab ia adalah tempat tersimpannya batin.
Dikatakan : Lidah seorang tolol adalah kunci menuju
kematiannya. Dikatakan juga : Jika seorang pecinta berdiam
diri, maka ia akan binasa, dan jika seorang arif berdiam diri, ia
akan berkuasa.
Al-Fudhail
bin
Iyadh
berkata
:
Barangsiapa
memperhitungkan kata-katanya dibanding amalnya, maka

kata-katanya akan menjadi sedikit, kecuali apa yang berarti


(menurut kebutuhannya).

KHAUF
Allah swt. berfirman :
Mereka menyeru kepada Tuhan mereka dengan penuh
rasa takut (khauf) dan harap. (Qs. As-Sajdah :16).
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw.
telah bersabda :
Tidak akan masuk neraka, orang yang menangis karena
takut kepada Allah swt, selama air susu masih mengalir dari
susu seorang Ibu. Dan debu dari jalan Allah tidak akan pernah
bercampur dengan asap api neraka pada batang hidung
seorang hamba selamanya. (H.r. Ar-Rafuy).
Anas r.a. meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda :
Seandainya kamu semua tahu apa yang kuketahui, niscaya
kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis. (H.r. Bukhari
dan Tirmidzi).
Saya katakan bahwa takut (al-khauf) adalah masalah yang
berkaitan dengan kejadian yang akan datang, sebab seseorang
hanya merasa takut jika apa yang dibenci tiba dan yang dicintai
sirna. Dan realita demikian hanya terjadi di masa depan.
Apabila dalam seketika timbul rasa takut, maka ketakutan itu
tidak ada kaitannya. Takut kepada Allah swt. berarti takut pada
hukum-Nya, Maka takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang
yang beriman. (Qs. Ali Imran :175). Dia juga berfirman : Maka
hendaklah kepada-Ku saja kamu menyembah> (Qs. An-Nahl :
51). Juga firman-Nya : ereka takut kepada Tuhan mereka yang
berkuasa atas mereka. (Qs. An-Nahl:50).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menjelaskan : Takut memliki
berbagai tahapan. Yaitu, Khauf, khasyyah dan haibah.
Khauf merupakan salah satu syarat iman dan hukumhukumnya. Allah swt. berfirman : Takutlah kepada-Ku, jika
kamu orang-orang yang beriman. (Qs. Ali Imran :75).

Sedangkan Khasyyah adalah salah satu syarat pengetahuan,


karena Allah swt. berfirman : Sesungguhnya yagn takut
kepada Allahdi antara hamba-hamba-Nya hanyalah para
Ulama. (Qs. Fathir :28). Sedangkan Haibah adalah salah satu
syarat pengetahuan marifat, sebab Allah swt. berfirman : Dan
Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)Nya. (Qs. Ali
Imran : 28).
Abu Hafs menegaskan : Takut adalah cambuk Allah swt.
yang digunakan-Nya untuk menghukum manusia yang
berontak ke luar dari ambang pintu-Nya.
Abul Qasim al-Hakim mencatat : Ada dua jenis takut, yaitu
gentar (Rahbah) dan takut (Khasyyah). Orang yang merasa
gentar mencari perlindungan dengan cara lari ketika takut,
Tetapi orang yang merasa takut (khasyyah) akan berlindung
kepada Allah swt.
Memang benar kata-kata rahaba dan lari (haraba) memliki
arti yang sama, sebagaimana halnya kata menarik (jadzaba)
dan jabadza. Jika seseorang melarikan diri (rahaba), maka ia
ditarik kepada hasratnya sendiri, seperti halnya para rahib
(ruhban) yang mengikuti hasrat nafsu mereka sendiri. Tetapi
jika kendali mereka adalah pengetahuan yang didasarkan pada
kebenaran hukum, maka itu adalah takut (khasyyah).
Abu Hafs berkata : Takut adalah pelita hati, dengan takut
akan tampak baik dan buruk hati seseorang.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkomentar : Takut adalah
bahwa Anda berhenti mengemukakan dalih dengan kata-kata
seandainya (asaa) dan mungkin sekali akan (saufa).
Abu Umar ad-Dimasqi menegaskan : Orang yang takut
aalah yang takut akan dirinya sendiri. Lebih takut dari rasa
takutnya kepada setan.
Ibnul Jalla berkata : Manusia yang takut (kepada Allah
swt) adalah yang dirinya merasa aman dari hal-hal yang
membuatnya takut.
Ditanyakan kepada Ibnu Iyadh. Mengapa kita tidak pernah
melihat orang-orang yang takut? Ia menjawab : Jika Anda
termasuk orang-orang yang takut, niscaya Anda akan melihat
mereka, sebab hanya orang-orang yang takut saja yang

melihat orang yang takut. Hanya Ibu yang kehilangan anaknya


saja yang mau memandang kepada ibu-ibu yang berkabung.
Yahya bin Muadz mengatakan : Alangkah malangnya anak
Adam. Seandainya ia takut pada neraka sebesar rasa takutnya
pada kemiskinan, niscaya ia akan masuk surga/.
Syah al-Kiramny berkata Tanda takut adalah sedih yang
terus menerus.
Abul Qaim al-Hakim berkata : Orang yang takut kepada
sesuatu akan lari darinya, tapi orang yang takut kepada Allah
swt. akan lari kepada-Nya.
Dzun Nuun al-Mishry semoga Allah merahmatinya
ditanya, Bilakah jalan takut menjadi mudah bagi seorang
hamba? Ia menjawab : Apabila ia mengibaratkan dirinya
dalam keadaan sakit dan menghindari dari segala sesuatu yang
dikhaatirkan
justru
akan
menjadikan
penyakit
berkepanjangan.
Muadz bin Jabal r.a. menuturkan : Seoang beriman tidak
akan merasa tenteram, dan rasa takutnya tidak dapat
ditenangkan sampai ia melewati jembatan sirathal mustaqim di
atas neraka.
Bisyr al-Hafi berkomentar : Takut kepada Allah swt. adalah
raja yang hanya bersemayam di dalam hati seorang yang
saleh.
Abu Utsman al-Hiry mengatakan : Kekurangan yang
dihadapi oleh seorang yang takut adalah justru dalam rasa
takutnya.
Al-Wasithy mengatakan : Takut adalah tabir antara Allah
swt. dan hamba. Pernyataan ini mengandung kemusykilan,
tetapi maknanya ialah bahwa seorang yang takut menunggununggu saat yang akan datang, sementara anak-anak waktu
kini tidak punya harapan akan masa depan. Sedag keutamaan
orang saleh adalah dosa bagi kaum yang dekat dengan Allah
swt. (Muqarrabun).
Ahmad an-Nury menegaskan : Seorang yang takut adalah
orang yang lari dari Tuhannya kepada Tuhannya.

Salah seorang Sufi berkata : Tanda rasa takut adalah


kebingungan dan menunggu-nunggu di pintu gerbang
kegaiban.
Ketika al-Junayd ditanya mengenai takut, ia menjawab :
Takut adalah datangnya deraan dalam setiap hembusan
nafas.
Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan : Manakala takut
telah meninggalkan hati, maka binasalah ia.
Abu Utsman berkata : Ketulusan dalam takut adalah wara
lahir maupun batin.
Dzun Nuun berkata : Manusia akan tetap berada di jalan
selama tiakut tidak tercabut dari hati, sebab jika takut telah
hilang dari hati mereka, maka mereka akan tersesat.
Hatim al-Asham menjelaskan : Setiap sesuatu ada
perhiasannya, dan perhiasan ibadat adalah takut. Tanda takut
adalah membatasi keinginan.
Seseorang mengatakan kepada Bisyr al-Hafi : Saya lihat
Anda takut mati. Bisyr al-Hafi menjawab : Datang ke hadirat
Allah swt. adalah suatu perkara yang sangat dahsyat.
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq bertutur : Aku
pergi mengunjungi Abu Bakr furak ketika ia sakit. Ketika
melihatku, air matanya amengalir bercucuran. Lalu aku pun
berkata kepadanya : Semoga Allah mengembalikan
kesehatanmu dan menyembuhkanmu dari sakit. Ia memprotes
: Anda pikir aku takut mati? Sebaliknya aku takut akan apa
yang ada di balik kematina.
Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. (Aisyah putri Abu Bakr ashShiddiq r.a. (wafat 58 H/678 M.) merupakan salah seorang
wanita paling pandai di bidang agama. Beliau Istri Rasulullah
saw. dan paling dicintainya. Disamping itu beliau terbanyak
meriwayatkan hadits, dibanding istri-istri Rusalullah yang lain).
Yang bertanya : Wahai Rasulullah, (sambil membaca ayat)
dan orang-orang yang memberikan hartanaya dengan hati
penuh rasa takut (karena mereka akan kembali kepada
Tuhannya) (Qs. Al-Muminun : 60-1), apakah mereka itu orangorang yang pernah mencuri dan berzina serta minum-minuman
keras? Beliau menjawab : Bukan, mereka adalah orang-orang

yang berpuasa dan shalat dan membayar zakat, namun takut


kalau-kalau semua amal mereka itu tidak diterima. Mereka
adalah orang-orang yang bergegas pada kebajikan dan sangat
berpacu (menuju kebajikan itu (Qs. Al-Muminun :60-1).
Abdullah ibnul Mubarak berkata : Sesuatu yang
menimbulkan rasa takut hingga bersemayam dalam hati adalah
mengabadikan muraqabah secara terus menerus, baik secara
lahir maupun batin.
Ibrahim bin Syaiban berkomentar : Manakala takut
menetap dalam hati, maka obyek nafsu akan terbakar habis
darinya dan hasrat atas dunia akan terusir, Dikatakan : Takut
adalah supramasi ilmu sesuai dengan hukum-hukum.
Dikatakan : Takut adalah gerak kalbu dari keagungan Allah
swt.
Abu Sulaiman ad-Darany menegaskan : Seyogyanya kalbu
tidak dikalahkan, kecuali oleh rasa takut. Sesungguhnya
apabila harapan telah melimpah dalam kalbu, musnahlah
kalbu. Kemudian ia katakan : Wahai Ahmad (muridnya),
mereka naik melalui takut, dan jika mereka mengabaikan,
mereka akan jatuh.
Al-Wasithy menegaskan : Takut (khauf) dan harap (raja)
adalah kendali bagi diri agar ia tidak dibiarkan dengan kesiasiaan. Ia pun berkata : Jika Tuhan menguasai wujud manusia
yang paling dalam (sirr), maka harapan dan ketakutan tidak
akan tersisa lagi. Sebab takut dan harap itu sendiri merupakan
akibat-akibat belaka dari rasa indera hukum kemanusiaan.
Al-Husain bin Manshur berkata : Barangsiapa takut akan
sesuatu selain Allah swt. atau berharap akan sesuatu selain
Dia, maka semua pintu akan tertutup baginya dan rasa takut
akan mendominasinya, menabiri hatinya dengan tujuhpuluh
tabir, yang paling tipis diantaranya adalah keragguan. Yang
membuatnya takut adalah perenungannya atas akibat-akibat
nanti dan ketakutannya jika perilakunya berubah.
Firman-Nya :
Dan jelaslah bagi mereka azan dari Allah yang belum
pernah mereka perrkirakan. (Qs. Az-Zumar :47).

Alalh swt. berfiman : Katakanlah, Apakah akan Kami


beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling
merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia
perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka
menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (Q.s. AlKahfi :103-4).
Maka, betapa banyak orang yang akan merasa senang
dengan keadaan mereka dan mereka diuji, sehingga
perilakunya berbalik secara antagonis. Ketika itulah muqarabah
dengan perbuatan keji, dan hudhur menjadi ghaib.
Saya sering mendengar Syeikh Abu Ali ad.-Daqqaq r.a.
mendendangkan syair :
Engkau duga hari-hari penuh kebaikan jika engkau baik
Tapi engkau tak pernah takut tentang takdir buruk yang
bakal tiba
Malam-malam hari memberikan ketentraman kepadamu
Hingga engkau tertipu olehnya,
Sesudah malam yang cerah datanglah kesedihan.
Saya mendengar Manshur bin Khalaf al-Maghriby,
membacakan sebuah kisah :
Ada dua orang yang saling menemani dalam menempuh
cita-cita spiritual. Kemudian salah seorang diantaranya pergi
meninggalkan sahabatnya. Seiring perjalanan waktu yang
cukup lama, tidak terdengar lagi kabar berita mengenainya.
Sahabat yang ditinggal pergi itu kemudian ikut berperang
bersama tentara Muslim memerangi balatentara Romawi.
Dalam pertempuran itu, seorang tentara musuh yang memakai
baju besi menyerang tentara Muslim dan menantang duel.
Seorang ksatria Muslim maju ke depan dan tentara musuh itu
membunuhnya. Kemudian maju lagi seorang ksatria Muslim,
dan ia pun terbunuh. Kasatria Muslim yang ketiga maju ke
depan, juga terbunuh. Kemudian majulah Sang Sufi ke depana
dan keduanya lalu terlibat dalam pertempuran. Topeng yang
menutupi wajah tentara Romawi itu terlepas, dan ternyata aia
adalah sahabat sang Sufi yang dulu telah menemaninya
beribadah selama bertahun-tahun! Maka berserulah san Sufi :
Model apa ini?

Musuhnya menjawab : Aku telah murtad dan menikah


dengan sorang wanita dari kaum ini. Aku sudah memiliki anakanak dan harta kekayaan.
Sang Sufi berteriak : Dan engkau adalah orang yang
dahulu bisa membaca Al-Quran dengan berbagai gaya
bacaannya!.
Ia menjawab : Satu huruf pun aku tidak ingat lagi dari
padanya.
Maka, sang Sufi lalu berkata kepadanya : Berhentilah dari
sikap perilakumu itu, bertobatlah!>
Ia menjawab dengan ketus : Aku tidak mau, sebab aku
telah memperoleh kemasyhuran dan kekayaan. Tinggalkan saja
diriku, atau aku akan melakukan atas dirimu sebagaimana yang
telah kulakukan terhadap ketiga orang temanmu!.
Sang Sufi berkata : Ketahuilah, bahwa engkau telah
membunuh tiga orang Muslim. Tidak ada malu yang akan
menimpamu jika kamu pergi saja dari sini. Karena itu, pergilah
dan aku akan memberimu tenggang waktu!.
Maka, orang itu pun mundur ke belakang dan berbalik.
Sang Sufi mengikutinya dan membunuh dengan pedangnya.
Sungguh ironis, setelah menempuh perjuangan dan disiplin
spiritual yang cukup lama dan berat, orang itu akhirnya mati
sebagai orang Nasrani!.
Dikatakan : Ketika iblis tampail sebagaimana dirinya, Jibril
dan Mikail semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada mereka
tiba-tiba menangis cukup lama hinggal Allah swt berfirman
kepada mereka : Wahai kalian berdua, mengapa menangis
sedemikian itu? Mereka menjawab : Wahai Tuhan kami, kami
tidak merasa aman dari cobaan-Mu. Allah swt. berfirman :
Nah, kalian berdua ternyata tidak bisa aman dari cobaan-Ku.
Riwayat dari Sary as-Saqathy yang menjelaskan : Aku
melihat hidungku beberapa kali dalam sehari dengan cara
seperti ini, karena takut hidungku menghitam karena hukuman
yang kutakuti.
Abu Hafs menuturkan : Selama empat puluh tahun aku
benar-benar yakin bahwa Allah swt. memandangku dengan
murkan dan semua amal perbuatanku membuktikan hal itu.

Hatim al-Asham menegaskan : Janganlah kamu tertipu


oleh tempat-tempat yang saleh, sebab tidak ada tempat yang
lebih saleh daripada surga, dan pikirkanlah apa yang telah
menimpa Adam as. Di tempat yang begitu saleh! Jangan Jangan
pula kamu tertipu oleh banyaknya amal ibadat. Sebab, setelah
iblis melakukan ibadat begitu lama, ternyata ia harus
mengalami nasibnya seperti itu. Juga, janganlah kamu tertipu
oleh banyaknya ilmu, sebab Balam pun mengetahui Nama
Allah Yang Teragung (Al-Ismul Adzham), tapi lihatlah apa yag
terjadi padanya? Jangan pula kamu tertipu karena bertemu
dengan seorang yang saleh, sebab tidak ada orang yang
takdirnya lebih agung daripada al-Musthafa Muhammad saw,
sebab para kerabat dan musuh-musuhnya tidak mengambil
manfaat atas perjumpaan dengannya.
Ketika bertemu dengan sahabt-sahabtnya pada suatu hari,
Ibnul Mubarak melaporkan : Aku begitu memberanikan diri
kepada Allah swt. kemarin. Dan aku benar-benar meminta
surga.
Dikatakan bahwa Isa as. Sedang bepergian, dan
bersamanya ada seorang saleh dari bani Israil. Seorang yang
terkenal karena kebobrokan akhlaknya, mengikuti mereka.
Duduk agar jauh dari mereka berdua, ia beseru kepada Allah
swt. dengan penuh kerendahan hati : Wahai Tuhanku,
ampunilah aku! Sedang si orang saleh berdoa : Ya Allah,
bebaskan aku dari orang berdosa yang mengikuti aku ini, mulai
besok pagi. Maka Allah swt. pun mewahyukan kepada Isa as. :
Aku telah menjawab doa keda orang yang berdoa ini; telah Ku
tolak doa orang yang saleh ini, dan telah Kuampuni sipendosa
ini.
Dzun Nuun al-Mishry menuturkan : Aku bertanya kepada
seorang yang alim : Mengapa orang-orang mengatakan Anda
gila? Ia menjawab : Ketika Dia mengusirku dari sisi-Nya untuk
waktu yang lama, aku menjadi gila karena takut terpisahkan
dari-Nya di akhirat.
Mengenai makna ucapan ini, para Sufi membacakan baitbait berikut ini :
Bahkan kalaupun aku terbuat dari batu,

Niscaya aku akan meleleh


Maka, bagaimana satu makhluk
Yang terbuat dari tanah
Akan menahannya?
Salah seorang Sufi berkomentar : Aku tidak pernah melihat
seorang yang lebih besar harapannya di tengah-tengah ummat
ini, dan lebih takut berkenaan dengan dirinya sendiri daripada
Ibnu Sirin.
Sufyan ats-Tsauri jatuh sakit. Ketika alasan sakitnya
diberitahukan kepada tabib, tabib itu berkata : Ini adalah
orang yang hatinya telah tersobek karena rasa takut. Tabib itu
datang dan memeriksa denyut nadinya, lalu berkata : Aku
tidak tahu bahwa di kalangan orang beragama ada manusia
yang seperti ini.
Syibly ditanya : Mengapa matahari warnanya pucat ketika
akan terbenam? Ia menjawab : Sebab matahari telah
tergelincir dari tempat kesempurnaan. Ia menjadi kekuningkuningan karena ketakutannya terhadap tahapannya sendiri.
Bagi orang yang beriman, saat menjelang keberangkatannya
dari dunia ini telah dekat, warna kulitnya akan menjadi pucat
karena ia takut akan berdiri di hadapan Tuhannya. Dan ketika
matahari terbit, ia bersinar cemerlang. Sama halnya dengan
seorang beriman, ketika dibangkitkan dari kubur, ia muncul
dengan wajah yang bersinar.
Ahmad bin Hanbal r.a. berkata : Aku memohon kepada
Tuhanku
swt.
agar
membukakan
pintu
takut.
Dia
membukakannya, dan aku pun lalu mengkhawatirkan
kewarasan pikiranku. Karena itu aku beroda : Ya Allah,
anugerahkan kepadaku rasa takut sebatas yang bisa
kumampui.
Kemudian
ketenangan
menghapus
kekhawatiranku.

ROJA
Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka
sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang.
(Qs. Al-Ankabut :5).

Al-Ala bin Zaid menuturkan : Amu menemui Malik bin


Dinar dan menemukan Syahr bin Hausyab bersamanya. Ketika
Syahr dan aku pergi meninggalkan Malik, aku berkata kepada
Syahr : Semoga Allah merahmatimu, berilah aku nasihat dan
perkayalah jiwaku. Semoga Allah memberimu kekayaan!. Ia
menjawab. Dengan senang hati bibiku Ummu Darda
menceritakan kepadaku melalui Abu Darda, bahwa Rasulullah
saw. mengabarkan bahwa sanya malaikat Jibril as.
Mengatakan : Allah swt. berfirman : Wahai hambaKu, selama
engkau menyembahKu, berharap akan bertemu denganKu, dan
tidak menyekutukan Aku, niscaya Aku akan mengampuni apa
pun dosa yang tenegah engkau lakukan. Bahkan sekalipun
engkau datang dengan membawa keburukan dan dosa sebesar
bumi, Aku akan mengampunimu, dan tidak mempedulikan
(berapa banyak dosa yang telah engkau lakukan). (Hr.
Thabrani).
Anas bin Malik mengabarkan bahwa Rasulullah saw.
bersabda, bahwasanya Allah swt. berfirman (dalam hadits
Qudsi) :
Keluralah dari neraka, wahai kalian yang dalam hatinya
masih terdapat iman walaupun sebesar biji gandum.
Kemudian Dia akan memerintahkan : Aku bersumpah demi
keagungan-Ku, bahwa perlakuan-Ku terhadap manusia yang
beriman kepada-Ku walaupun sesaat saja di siang hari ataupun
malam, tidak akan sama perlakuan-Ku terhadap orang yang
tidak pernah beriman kepada-Ku. (H.r. Bukhari Muslim).
Harapan (Raja) adalah keterpautan hati kepada sesuatu
yang diinginkannya terjadi di masa yang akan datang,
sebagaimana halnya takut berkaitan dengan apa yang akan
terjadi di masa datang. Karena itu, harapan berlaku bagi
sesuatu yang diharapkan oleh seseorang akan terjadi. Hati
menjadi hidup oleh harapan-harapan melenyapkan beban hati.
Perbedaan antara harapan dan angan-angan (tamany) adalah
bahwa angan-angan membuat seseorang menjadi malas.
Orang yang hanya berangan-angan sesuatu tidak akan pernah
berusaha untuk membulatkan tekad (untuk mencapai apa yang
diangankannya). Hal yang sebalikya juga berlaku atas diri

seseorang yang memiliki harapan. Harapan adalah sifat yang


terpuji, tetapi angan-angan adalah sifat tercela.
Para Sufi telah berbicara banyak tentang harapan. Syah alKirmany berkata : Tanda-tanda harapan adalah tat yang baik.
Ibnu Khubaiq menjelaskan : Ada tiga macam harapan : Ada
manusia yang melakukan amal baik; dengan harapan amal
perbuatannya itu akan diterima oleh Allah swt. Ada lagi orang
yang melakukan amal buruk, kemudian bertobat; harapannya
adalah memperoleh pengampunan. Akhirnya ada orang yang
tertipu diri sendiri, yang terus melakukan dosa, sambil berkata :
Aku berharap untuk memperoleh pengampunan. Bagi orang
yang tahu bahwa dirinya melakukan amal buruk, takut
selayaknya lebih berkusa atas dirinya daripada harap.
Dikatakan : Harapan adalah mengandalkan kemurahan
dari Yang Maha Pemurah dan Maha mencintai.
Dikatakan pula : Harapan adalah melihat kegemilangan
Ilahi dengan mata keindahan.
Juga dikatakan : Harapan adalah kedekatan hati kepada
kemurahan Tuhan.
Dikaakan pula : Harap adalah kesenangan hati terhadap
keutamaan tobat seseorang.
Dikatakan juga : Harapan berarti melihat pada kasih
sayang Allah swt. Yang Maha Meliputi.
Abu Ali ar-Rudzbary berkomentar : Takut dan harap adalah
seperti sepasang sayap burung. Manakala kedua belah sayap
itu seimbang, si burung pun akan terbang dengan sempurna
dan seimbang. Tetapi manakala salah satunya kurang berfunsi,
maka hal ini akan menjadikan si burung kehilangan
kemampuannya untuk terbang. Apabila takut dan harap
keduanya tidak ada, maka si burung akan terlemepar ke jurang
kematiannya.
Ahmad bin Ashim al-Anthaky ditanya : Apakah tanda
adanya harapan pada seorang hamba? Ia menjawab :
Tandanya adalah manakala ia menerima nikmat anugerah
(ihasan), ia terilhami untuk bersyukur, penuh harap akan
menuhnya rahmat Allah swt. di dunia ini dan penuhnya
pengampunan-Nya di akhirat.

Abu
Utsman
al-Maghriby
berkata
:
Barangsiapa
mendorong dirinya untuk berharap saja, maka ia akan
terjerumus ke dalam kemalasan, dan barangsiapa mendorong
dirinya kepada takut saja, maka ia akan terjerumus pada
keputusasaan. Yang patut adalah, ada waktu untuk berharap
dan ada waktu untuk takut; keduanya mempunyai tempatnya
sendiri.
Bakr bin Salim as-Sawwaf menuturkan : Kami pergi
mengunjungi Malik bin Anas pada petang hari menjelang
kematiannya, kami bertanya : Wahai Abu Abdullah, bagaimana
keadaanmu? Ia menjawab : Aku tidak tahu apa yang harus ku
katakan kepadamu selain ini : Kamu akan melihat dengan
mata kepalamu sendiri ampunan dari Allah swt. dalam ukuran
yang melampaui khayalanmu. Kami menungguinya sesudah
itu sampai kami menutupkan matanya setelah ia meninggal
dunia.
Yahya bin Muadz menegaskan : Harapan yang kutaruh
kepada-Mu karena berbuat dosa nyaris lebih mengalahkan
daripada harapanku kepada-Mu disertai amal. Ini disebebkan,
manakala aku melakukan amal baik, aku mendapat diriku
mengandalkan pada ketulusanku dalam melakukannya. Tapi
bagaimana aku bisa menjaga amalku dari kekurangan,
sedangkan aku adalah makhluk yang bersifat penuh
kekuarangan? Sebaliknya, manakala aku melakukan dosa, aku
mendapati diriku mengandalkan ampunan-Mu. Bagaimana
Engkau tidak akan mengampuni dosa-dosaku, sedangkan
Engkau adalah Dzat Yanga Maha Pemurah?
Beberapa orang sedang berbicara kepada Dzun Nuun alMishry saat menjelang ajalnya. Dzun Nuun mengajarkan
kepada mereka : Janganlah kalian memperdulikan aku, sebab
aku telah terpesona oleh kelembutan Allah swt. kepada diriku.
Yahya
bin
Muadz
berkata
:
Wahai
Tuhanku,
anugerahkanlah untukku yang termanis dalam hati berupa
harapan kepada-Mu. Kata-kata paling sedap yang keluar dari
lidahku berupa pujian kepada-Mu. Saat yang kuangap paling
berharga adalah saat aku akan berjumpa dengan-Mu.

Ditemukan dalam salah sati kitab tafsir bahwa Rasulullah


saw. datag menemui para sahabat melalui pintu bani Syaibah.
Beliau mendapati mereka sedang tertawa-tawa. Beliau lalu
bersabda : Apkah kalian tertawa-tawa? Seandainya kalian
mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian akan sedikit
tertawa dan banyak menangis. Beliau lalu meninggalkan
mereka, kemudian kembali lagi, seraya menyampaikan wahyu.
Sabdanya : Jibril turun membawa firman Allah swt.
Beritahukanlah
kepada
hamba-hamba-Ku,
bahwa
sesungguhnya Aku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
(Qs. Al-Hijr :49).
Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah
bersabda : Allah swt. tertawa ketika hambahamba-Nya ditimpa
keputus-asaan, sedangkan rahmatnya dekat dengan mereka.
Aisyah bertanya : Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah,
apakah Tuhan kita swt. benar-benar tertawa? Beliau menjawab :
Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, Dia benar-benar
tertawa. Aisyah mengatakan : Apakah Dia tidak akan
menjauhkan kita dari kebaikan jika Dia tertawa.?
Ketahuilah, bahwa tertawa adaah sifat yang berkaitan
dengan perbuatan-perbuatan-Nya. Ia adalah ungkapan
kemurahn-Nya. Hal ini adalah sebagaimana perkataan : Bumi
menertawakan
tanaman,
(yang
berarti
bumi
mengeluarkannya). Tertawanya Allah pada keputus asaan
manusia adalah tanda anugerah-Nya, sebagai tanda kelemahan
penantian para makhluk kepada-Nya.
Dikatakan, ada seorang Majusi yang meminta kepada
Ibrahim as. Agar diizinkan menginap di rumahnya. Ibrahim
berkata kepadanya : Kalau kamu masuk Islam, aku mau
menjadikanmu sebagai tamuku. Orang Majusi menjawab : Jika
aku memeluk Islam, bagaimana mungkin engkau akan berbuat
kebajikan kepadaku? Kemudian sang Majusi itu berlalu, lantas
Allah swt. berfirman kepada Ibrahim : Wahai Ibrahim, engkau
tidak mau memberinya makan kecuali jika ia mau mengubah
agamanya? Padahal Aku memberi makanan kepadanya selama
tujuhpuluh tahun, sedang ia dalam kekafirannya. Jika engkau
menerimanya satu malam saja, bagaimana dengan dirimu?

Mendengar itu Ibrahim lalu mengejar si orang Majusi itu dan


mengundangnya menjadi tamunya. Ketika si orang Majusi itu
bertanya kepada Nabi Ibrahim as. Mengapa berubah pikiran,
beliau pun mengatakan kepada si Majusi apa yang didengarnya
dari Allah swt. Si orang Majusi itu bertanya : Beginikah cara
Dia memperlakukan aku? Berikanlah Islam kepadaku!. Lalu ia
masuk Islam.
Saya mendengar Abu Bakr bin Aykib berkata : Suatu
malam aku bermimpi bertemu Abu Sahl as-Shaluky, dengan
keadaannya yang indah sekali. Aku bertanya : Bagaimana
Anda mendapatkan semuai ini? Ia menjawab : Dengan
husnudzan-ku kepada Allah swt.
Malik bin Dinar meriwayatkan sial mimpinya, bertemu
dengan ash-Shaluky : Apa yang telah Allah beikan kepada
Anda hingga seperti ini? Ia menjawab : Aku datag kepada
Tuhanku swt. dengan dosa yang sangat banyak, namun Allah
swt. menghapusnya lewat sangkaan baikku kepada-Nya.
Diriwaytakan oleh Abu Huraitah r.a. bahwa Rasulullah saw.
bersabda :
Allah swt. berfirman : Aku adalah sebagaimana yang
disangka oleh hamba-Ku, dan Aku ada bersamanya manakala ia
mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku
akan mengingatnya dalam Diri-Ku, Jika ia mengingat-Ku di
tengah kumpulan orang banyak, maka Aku akan mengingatnya
di tengah kumpulan yang lebih baik dari itu. Jika ia datang
kepada-Ku sejarak satu jengkal, Aku akan mendatanginya
sejarak satu hasta. Jika ia melangkah kepada-Ku satu hasta,
Aku akan melangkah kepadanaya dua hasta. Jika ia datang
kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya
dengan berlari. (H.r. Bukhari).
Diceritakan bahwa pada suatu ketika Ibnul Mubarak sedang
bertempur melawan salah seorang tentara kafir (non Arab).
Ketika tiba waktunya bagi si orang kafir itu untuk sembahyang,
ia meminta waktu kepada Ibnul Mubarak. Ibnul Mubarak pun
membiarkannya mengerjakan ibadatnya. Ketika tentara kafir itu
sedang bersujud ke matahari, Ibnu Mubarak merasakan
keinginan untuk menikamnya dengan pedangnya. Namun tiba-

tiba Ibnul Mubarak mendengar sebuah suara di angkasa yang


berseru : Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti
akan diminta pertanggung jawabannya. (Qs. Al-Isra :34).
Maka Ibnul Mubarak pun menyarungkan kembali pedangnya.
Ketika si penyembah berhala selesai bersembahyang, ia
bertanya
kepada
Ibnul
Mubarak
:
Mengapa
Anda
mengurungkan niat Anda? Ibnul Mubarak mengatakan
kepadanya tentang suara yang didengarnya. Si penyembah
berhala berseru : Betapa sempurnanya Tuhan Yang memarahi
wali-Nya demi membela musuh-Nya!. Lalu ia pun masuk Islam
dan menjadi seorang Muslim yang sangat baik.
Dikatakan : Allah menjadikan manusia melakukan dosa
ketika Dia menamakan Diri-Nya Yang Maha Pengampun.
Dikatakan : Seandainya Allah berfirman : Aku tidak akan
mengampuni dosa; niscaya tidak seorang Muslim pun yang
akan pernah berbuat dosa. Sebab ketika Dia berfirman : Allah
tidak akan mengampuni (manusia yang ) menyekutukannya.
(Qs. An-Nisa : 48). Kaum Muslimin lalu ingin sekali
mendapatkan ampunan-Nya.
Ibrahim bin Adham semoga Allah merahmatinya berkata
: Pada suatu ketika aku menunggu waktu luag dan tenangnya
orang di sekitar Kabah. Saat itu adalah malam yang gelap
gulita dan hujan turun dengan derasnya. Akhirnya tempat itu
pun sepi, aku lalu mulai melakukan thawaf, sambil bedoa : Ya
Allah, lindungilah aku dari dosa, lindungilah aku dari dosa!.
Lalu aku mendengar suara yang mengatakan : Wahai Ibnu
Adham, engkau meminta kepada-Ku untuk melindungimu dari
dosa, sebagaimana doa orang orang yang lain. Tapi jika Aku
jadikan kamu semua tanpa dosa, lantas kepada siapa aku harus
bersikap Maha Pengasih?
Ketika Abul Abbas bin Suraij menderita sakit yang
akhirnya membawanya pada kematian bermimpi bahwa hari
Kebangkitan telah tiba. Allah Yang Maha Kuasa bertanyi mana
para ulama itu? Semua ulama, termasuk diriku, maju ke
depan. Allah swt. bertanya : Apakah yang telah kalian lakukan
dengan ilmu yang telah kalian amalkan? Kami semua
menjawab : Wahai Tuhan, kami telah ebrbuat llai dan kami

telah berbuat jahat. Maka Allah swt. pun mengulangi lagi


pertanyaan-Nya seolah-olah Dia tidak menyukai jawaban yang
telah kami berikan dan menghendaki jawaban yang lain. Maka
aku pun maju dan menjawab : Mengenai diriku, maka catatan
dalam halaman lembaranku tidaklah mengandudng dosa
menyekutukan sesuatu dengan-Mu dan Engkau telah berjanji
bahwa Engkau akan mengampuni semua Dosa selain itu. Lalu
Allah swt. berfirman : Pergilah kamu semua. Aku telah
mengampunimu! Abul Abbas pun meninggal dunia tiga malam
setelah mimpinya ini.
Pada suatu ketika ada seorang pemabuk yang
mengumpulkan sekelompok para pemabuk temannya. Ia
memberikan uang empat dirham kepada salah seorang
budaknya dan menyuruhnya pergi membeli buah-buahan. Si
budak pergi, dan ditengah jalan ia melewati majelis Manshur
bin Ammar, saat dimana yang disebut belakangan ii sedang
meminta kepada orang banyak untuk memberikan sedekah
kepada beberapa orang pengemis, dengan mengaakan :
Barangsiapa
memberikan
empat
dirham,
aku
akan
memanjatkan empat doa untuknya.
Si Budak memberikan uang empat dirham yang dibawanya
kepada Mansur, dan kemudian ia pun ditanya : Doa apa yang
engkau inginkan dariku.
Si Budak menjawab : Aku ingin bebas dari tuanku.
Manshur menodakan hal itu, lalu bertanya lagi : Apa lagi?
Si budak menjawab : Aku ingin agar Allah memberiku ganti
uang empat dirham itu. Manshur mendoakan hal itu, dan
bertanya kembali : Apa lagi?
Si Budak menjawab : Aku ingin agar Allah mengampuni
dosaku, dosa tuanku, dosamu dan dosa semua orang yang ada
di rumah tuanku itu. Manshur mendoakan hal itu. Si budak lalu
pulang ke rumah tuannya.
Ketika tuannya bertanya kepadanya mengapa ia pulang
terlambat, si budak menceritakan apa yang telah dilakukannya.
Tuannya bertanya : Dan doa apa saja yang kamu mintakan?

Si budak menjawab : Saya minta didoakan supaya bebas


dari perbudakan. Tuannya berrkata : Kamu telah kubebaskan.
Dan apa permintaanmu yang kedua?
Si budak menjawab : Agar Allah memberi saya ganti uang
empat dirham itu. Tuannay berkata : Ini, kuberi engkau uang
empatribu dirham. Lalu, apa permintaanmu yang keteiga?
Si budak menjawab : Agar Allah menyadarkan tuan untuk
segera bertobat. Tuannya mengatakan : Aku bertobat kepada
Allah swt. Apa permintaanmu yang ketiga ?
Si budak mengatakan : Agar Allah mengampuni Anda,
saya, orang-orang yang ada di rumah ini, dan juga Manshur. Si
tuan berkata. Ini adalah permintaan yang berada di luar
kemampuanku untuk memenuhinya.
Malam itu, ketika si tuan tidur, ia bermimpi mendengar
sebuah suara yang mengatakan : Engkau telah melakukan apa
yang berada dalam batas kemampuanmu. Apakah engkau
mengira bahwa Aku tidak akan melakukan apa yang berada
dalam kemampuan-Ku? Kuampuni dosamu, dosa budakmu itu,
dosa Manshur bin Ammar dan dosa semua orang yang
berkumpul di rumahmu.
Dikatakan bahwa Rabah al-Qaysi mengerjakan Haji
beberapa kali. Suatu ketika ia berdiri (dekat Kabah) di bawah
talang air dan berdoa : Wahai Tuhanku, aku menghadiahkan
sejumlah sekian dan sekian dari ibadat Hajiku kepada
Rasulullah saw. sepuluh ibadat Haji bagi sepuluh orang sahabt
beliau, dua iabdat haji untuk kedua oarng tuaku, dan sisanya
untuk semua kaum Muslimin. Dihadiahkannya semua ibadat
hajinya tanpa menyisakan satu pun bagi dirinya sendiri.
Kemudian ia mendengar suara bisikan yang mengatakan :
Inilah orang yang menunjukkan kemurahan hatinya kepada
Kami! Aku ampuni dosamu, dosa kedua orang tuamu, dan dosa
semua orang yang memeluk Islam.
Muhammad bin Abdul Wahhab ats-Tsaqafy menuturkan :
Pada suatu hari aku melihat iringan keranda yang dipikul oleh
tiga orang laki-laki dan seorang wanita. Aku maju dan
menggantikan si wanita. Kami terus berjalan menuju ke
kuburan. Kami melaksanakan shalat untuk simayit, lalu

menguburkannya. Setelah itu aku bertanya kepada si wanita :


Apa hubungan Anda dengan orang yang meninggal ini? Ia
menjawab : Ia anakku. Aku bertanya : Apakah Anda tidak
punya tetangga? Ia menjawab : Ya, tetapi mereka semua
memandang hina anakku yang meninggal itu. Aku bertanya :
Mengapa? Ia menjawab : Karena ia seorang banci> Aku
merasa kasihan kepada wanita itu. Kuajak ia ke rumahku dan
kuberi sedikit uang, gandum dan pakaian. Dalam tidurku
malam itu, aku bermimpi melihat seseorang datang kepadaku.
Wajahnya berseri bagaikan bulan purnama. Ia berpakaian putih
dan mengucapkan terima kasih kepadaku. Ketika aku bertanya
siapa dirinya, ia menjelaskan : Aku adalah si orang banci yang
anda kuburkan tadi siang. Tuhanku telah melimpahkan rahmatNya kepadaku disebabkan hinaan orang-orang kepadaku.
Saya mendengar Syeikh Abi Ali ad.-Daqqaq berkata : Abu
Amr al-Bikandy sedang melewati sebuah jalan pada suatu hari,
bersamaan itu pula menjumpai sekelompok orang beramairamai menyerukan pengusiran terhadap seorang pemuda dari
lingkungan mereka karena perbuatan-perbuatannya yang tidak
bermoral. Sementara tampak seorang wanita di tempat itu
sedang menangis, konon adalah ibu sang pemuda. Abu Amr
merasa kasihan kepadanya, lalu meminta kepada orang banyak
itu agar mengampuni si pemuda. Bebakanlah pemuda ini demi
aku. Jika ia mengulang perbuatannya sekali lagi, maka
lakukanlah apa yang kalian kehendaki terhadapnya!. Mereka
lalu melepaskan pemuda itu, dan Amr pun pergi.
Beberapa hari kemudian, Au Amr al-Bikandy melalui jalan
itu lagi dan mendengar suara tangis wanita dari balik sebuah
pintu. Abu Amr berkata dalam hati : Barangkali si pemuda
mengulangi lagi perbuatan odsanya, dan mereka telah
mengusirnya dari lingkungan ini. Abu Amr lalu mengetuk pintu
rumah si wanita dan bertanya apa yang telah terjadi pada si
pemuda. Ia meninggal! jawabnya. Ketika Abu Amr bertanya
kepadanya bagaimana keadaannya menjelang akhir hayatnya,
si ibu menjawab : Menjelang sakaratul maut ia sempat
mengatakan padaku. Janganlah ibu memberi tahukan kepada
pra tetangga kita tentang kematianku. Sebab, settelah mereka

menderita
karena
aku,
mereka
akan
senang
atas
kemalanganku dan tidak mau menghadiri pemakamanku. Jika
Ibu menguburkanku, inilah cincinku yang tertulis Bismillah,
pendamlah bersamaku. Jika selesai menguburkan diriku,
pintalah syafaat dari Tuhanku buat diriku! Aku melakukan
seperti
yang
diwasiatkannya.
Dan
sepulang
dari
penguburannya, aku mendengar suaranya : Pergilah Ibu! Aku
telah datang ke hadirat Tuhan Yang Maha Pemurah.
Dikatakan bahwa Allah mewahyukan kepada Daud
as. Katakanlah kepada manusia bahwa Aku menciptakan
mereka bukan dengan tujuan agar Aku memperoleh manfaat
dari mereka, tapi Kuciptakan mereka supaya mereka
memperoleh keuntungan dari-Ku.
Ibrahim al-Atrusy berkata : Kami sedang duduk-duduk di
tepi Sungai Tigris berssama Maruf al-Karkhy ketika
segerombolan pemuda melewati kami dengan sebuah perahu.
Mereka memukul-mukul rebana, minum anggur dan bermainmain dengan penuh hura-hura. Kami bertanya kepda Maruf,
Tidakkah engkau lihat bagaimana mereka secara terrangterangan bermaksiat kepada Allah swt? Berdoalah kepada Allah
agar Dia menghukum mereka! Maruf lalu mengangkat
tangannya dan berdoa : Ya Allah, sebagaimana Engkau telah
menjadikan mereka bersenang-senang di dunia ini, jadikanlah
mereka bersenang-senang di akhirat nanti! Kami bertanya
penasaran. Tapi kami memintamu untuk berdoa memohonkan
hukuman bagi mereka! Ia menjawab : Jika Dia menjadidkan
mereka bersenang-senang di akhirat, berarti Dia telah
mengampuni mereka.
Abu Abdullah al-Husain bin Said mengabarkan : Bahwa
Yahya bin Aktsam al-Qadhi adalah seorang sahabtku. Ia
mencintaiku dan aku pun mencintainya. Setelah ia meninggal,
aku ingin bertemu dengannya dalam mimpi agar aku bisa
bertanya kepadanya apa yag telah diperbuat Allah swt.
terhadap dirinya. Suatu malam aku pun bermimpi bertemu
dengannya, dan aku bertanya kepadanya. Ia menjawab : Allah
telah mengampuni dosaku. Tetapi Dia memarahiku dengan
kata-kata-Nya : Wahai Yahya! Kau telah berbuat kejahatan

kepada-Ku di dunia. Aku menjawab : Itu memang benar,


wahai Tuhanku. Aku mengandalkan sebuah hadits yang
disampaikan kepadaku dengan riwayat Abu Hurairah
bahwasanya Rasulullah saw. telah bersabda : Engkau telah
berfirman : Aku malu menghukum seseorang yang telah
berambut putih di neraka. Lalu Allah pun berfirman : Aku
mengampunimu wahai Yahya, dan benar Nabi-Ku itu. Tetapi
engkau telah berlaku dosa kepada-Ku ketika di dunia.

SEDIH
Allah swt. berfirman :
Dan mereka akan mengatakan (ketika berada di surga),
Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan
dari kita. (Qs. Fathir :34).
Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudry bahwa Rasulullah
saw. bersabda :
Tidak sesuatu pun keburukan menimpa seorang hamba
yang beriman, apakah itu penderitaan, penyakit, kesedihan,
atau rasa sakit yang merisaukan, kecuali Allah swt. akan
mengampuni dosa-dosanya. (H.r. Ahmad, Bukhari Muslim).
Sedih (huzn) adalah keadaan yang menyelamatkan hati
tersesat di lembah kealpaan. Dan kesedihan adalah salah satu
sifat para ahli penempuh jalan ruhani (suluk).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata : Orang yag
dipenuhi kesedihan mampu menempuh jalan Allah dalam
waktu satu bulan, sepanjang jarak yang tidak bisa ditempuh
dalam waktu satu tahun oleh orang yang tidak memiliki
kesedihan.
Dalam Hadits dikatakan : Sesungguhnya Allah mencintai
setiap hati yang sedih.
Dalam Kitab Taurat disebutkan : Jika Allah mencintai
seorang hamba, maka Dia akan menempatkan suatu PENYEDIH
dalam hatinya, dan jika Dia membenci seorang hamba, maka
ditempatkan-Nya sebuah SERULING dalam hatinya.

Dikatakan bahwa Rasulullah saw. selalu berada dalam


keadaan sedih dan merenung sepanjang masa.
Bisyr bin Haris mengatakan : Sedih adalah raja, manakala
bertahta dalam sebuah tempat, tidak akan sudi menerima
orang lain tinggal bersamanya.
Dikatakan : Jika tidak ada kesedihan dalam hati, maka ia
akan menjadi rusak, sebagaimana sebuah rumah akan menjadi
roboh manakala tidak ada orang yang tinggal di dalamnya.
Abu Said al-Qurasyi berkomentar : Air mata kesedihan
membuat orang buta, tetapi air mata kerinduan meredupkan
pandangan, namun tidak membutakannya. Allah swt.
berfirman : Dan kedua matanya menjadi putih karena
kesedihan dan ia adalah seorang yang menahan amarahnya
(terhadap anak-anaknya). (Qs. Yunus :84).
Ibnu Khafif menjelaskan : Sedih adalah mencegah diri dari
bangkit mencari kesenangan.
Rabiah Adawiyah mendengar seorang laki-laki meratap :
Aduhai kesedihan! Rabiah menyela : Katakanlah; Aduhai
kecilnya kesedihan kita! Jika engkau benar-benar bersedih,
niscaya engkau tidak akan bisa bernafas.
Sufyan bin Uyainah mengatakan : Apabila ada seorang
tertimpa kesedihan dan menangis di kalangan suatu kaum,
maka Allah swt. akan mengasihani mereka semua karena air
matanya.
Dawud ath-Thay ketika tertimpa kesedihan, dan di malam
hari ia akan berdoa : Ilahi, kerinduanku terhadap-Mu membuat
diriku gelisah dan menghalangi antaraku dengan tidurku. Dan
Allah pun menjawab : Bagaimana mungkin bagi seorang yang
penderitaanya
diperbarui
setiap
saat,
akan
mencari
penghiburan dari kesedihan?
Dikatakan : Sedih menahan orang dari makan, sedangkan
takut, menahannya dari dosa.
Salah seorang Sufi ditanya : Dengan apa kesedihan
manusia dinilai? Ia menjawab : Dengan banyaknya ratapan.
As-Sary as-Saqathy berkata : Aku ingin seandainya
kesedihan seluruh manusia di muka bumi ini ditumpahkan
kepadaku. Banyak oang telah berbicara tentang kesedihan,

dan mereka semua mengatakan bahwa hanya kesedihan yang


diilhami oleh kepedulian pada akhiratlah yang patut dipuji,
sedang kesedihan karena dunia ini, patut dicela. Tetapi Abu
Utsman al-Hiry menjelaskan : Kesedihan dalam semua seginya
adalah suatu keutamaan dan peningkatan bagi seorang
beriman, selama kesedihan itu bukan karena dosa. Sekalipun
kesedihan itu tidak menghasilkan satu derajat khusus, ia akan
membawakan pengampunan.
Seorang Syeikh tertentu, apabila murid-muridnya akan
pergi melakukan perjalanan, ia akan berpesan : Jika engkau
melihat seorang yang sedang bersedih, sampaikan salamku
padanya.
Syeikh Abu ali ad-Daqqaq berkata : Salah seorang Sufi
bertanya kepada matahari selagi terbenam, Apakah hari inni
engkau telah menyinari sorang yang tertimpa kesedihan?
Orang tidak pernha melihat Hasan al-Bashry tanpa mengira
bahwa ia baru saja mengalami bencana.
Ketika Fudhail bin Iyadh meninggal dunia, Waki
mengatakan, Hari ini kesedihan telah lenyap dari muka bumi.
Salah seorang dari kaum Muslimin geberasi salaf berkata :
Sebagian besar dari apa yang ditemukan oleh seorang
beriman dalam catatan amal perbuatan baiknya adalah
penderitaan dan kesedihan.
Fudhail bin Iyadh berkomentar : Kaum salaf mengatakan :
Setiap sesuatu ada zakatnya, dan zakat hati adalah kesedihan
yang panjang.
Ketika Abu Utsman al-Hiry ditanya tentang kesedihan, ia
menjawab : Orang yang sedih adalah yang tidak punya waktu
untuk menyibukkan diri dengan pertanyaan tentang kesedihan.
Maka berjuanglah untuk mencari kesedihan, lalu bertanyalah.

LAPAR DAN MENINGGALKAN SYAHWAT


Allah berfirman :
Dan, sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu,
dengan sebagian ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta,

jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada


orang-orang yang sabar. (Qs. Al-Baqarah :155).
Berikanlah kabar gembira dengan pahala yang indah
karena kesabaran mereka dalam menanggung lapar. Allah swt.
berfirman :
Dan mereka memprioritaskan (Muhajirin) atas diri mereka
sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka
beikan itu). (Qs. Al-Hasyr :9).
Anas bin Malik menuturkan bahwa ketika Fatimah r.a.
(Fatimah az-Zahra (18 s.H 11 H/605 632 M). Putri Rasulullah
saw. keturunan Bani Hasyim, suku Quraisy. Ibundanya Khadijah
binti Khuwailid. Fatimah dinikahkan Ali bin Abu Thalib r.a.
melahirkan Hasan dan Husein, Ummu Kaltsum dan Zainab).
Fatimah r.a. memberikan sekerat roti bagi Rasulullah saw.
beliau bertanya : Apa ini, wahai Fatimah? Fatimah menjawab :
Sepotong roti yang saya masak sendiri. Hati saya tidak dapat
tenang sebelum memberikan roti ini kepadamu.
Beliau menjawab : Ini adalah sepotong makanan pertama
yang masuk ke mulut ayahmu sejak tiga hari ini. (Hadits ini
diriwayatkan oleh al-Harits bin Abu Usamah dalam Musnad-nya,
melalui sanad yang dhaif, namun memiliki bukti kebajikan
sanad dalam maknanya).
Alasan inilah yang menjadikan lapar termasuk dalam sifat
kaum Suf dan salah satu tiang mujahadah. Para penempuh
suluk selangkah demi selngkah membiasakan berlapar-lapar
menahan diri dari makan, dan mereka menemukan mata air
kebijaksanaan di dalam lapar. Cerita tentang mereka dalam hal
ini cukup banyak.
Ibnu Salim berkata : Etika berlapar diri adalah bahwa
seseorang terus menerus tidak mengurangi porsi makanannya,
kecuali sebesar telinga kucing (amat sedikit). Dikatakan
bahwa Sahl bin Abdullah tidak makan, kecuali setiap limabelas
hari. Manakala Bulan Rmadhan tiba, ia bahkan tidak makan
sampai melihat bulan baru. Dan tiap kali berbuka hanya minum
air putih saja.

Yahya bin Muadz menjelaskan : Seandainya orang dapat


membeli lapar di pasar, maka para pencari akhirat niscaya
tidak akan perlu membeli sesuatu yang lain di sana.
Sahl bin Abdullah berkomentar : Ketika Allah swt.
menciptakan dunia, Dia menempatkan dosa dan kebodohan di
dalam kepuasan nafsu makan dan minum, dan menepatkan
kebijaksanaan dalam lapar.
Yahya bin Muadz mengatakan : Lapar bagi para
penempuh jalan Allah (murid) adalah olah ruhani (riyadah),
sebuah cobaan bagi orang-orang yang berTaubat, dan siasat
bagi para zahid, tanda kemuliaan bagi para ahli marifat.
Yeikh Abu Ali ad.-Daqqaq menuturkan : Seseorang datang
menjumpai salah seorang syeikh, dan ketika melihat sang
syeikh menangis, ia bertanya, Mengapa Anda menangis? Sang
Syeikh menjawab : Aku lapar. Ia mencela, Seorang seperti
Anda, menangis karena lapar? Sang Syeikh balas mencela :
Diamlah! Engkau tidak mengetahui bahwa tujuan-Nya
menjadidkan aku lapar adalah agar aku menangis.
Dawud bin Muadz mengisahkan, bahwasanya Mukahllid
mengabarkan : Al-Hajjah bin Furafishah sedang berada
bersama kami si Syam, dan selama lima puluh malam ia tidak
minum air ataupun mengisi perut dengans esuap makanan
pun.
Abu Abdulalh Ahmad bin Yahya al-Jalla berkata : Abu Turab
an-Nakhsyaby datang mengarungi padang pasir Bashrah ke
Mekkah Semoga Allah melindungi kota ini dan kami
bertanya kepadanya tentang makanannya. Ia menjawab : Aku
meninnggalkan Bashrah, makan di Nibaj dan kemudian di Dzat
Araq. Dari Dzat Araq aku datang kepada kalian. Jadi, ia
menyebari padang itu dengan hanya makan sebanyak dua
kali.
Setiap kali Sahl bin Abdullah lapar, ia tegar, dans etiap kali
makan, ia menjadi lemah.
Abu Utsman al-Maghriby berkata : Orang yang mengabdi
kepada Tuhan (rabbany) hanya makan setiap empat puluh hari,
dan orang yang mengabdi kepada Yang Abadi (Shamadany)
hanya makan setiap delapan puluh hari.

Abu Sulaiman ad-Darany menegaskan : Kunci dunia ini


adalah mengisi perut, dan kunci akhirat aalah lapar.
Sahl bin Abdullah ditanya : Bagaimana pendpat Anda
tentang orang yang makan sekali sehari? Dijawabnya : Itulah
makan orang beriman. Bagaimana dengan yang makan tiga
kali sehari? Ia mencela : Suruh saja orang membuat gentong
makanan untukmu.
Yahya bin Muadz berkomentar : Lapar adalah pelita, dan
kenyang adalah api. Hawa nafsu adalah seperti kayu api yang
darinya muncul api yang berkobar, dan tidak akan padam
sampai ia membakar pemiliknya.
Abu Nash as-Sarraj ath-Thausy menuturkan : Seorang lakilaki dari kaum Sufi datang menemui seorang syeikh dan
menyuguhkan sedikit makanan. Lalu ia bertanya : Sudah
berapa lama Anda tidak makan? Sang Syeikh menjawab :
Lima hari. Si Sufi berkata : Lapar Anda adalah lapar orang
bakhil> Anda memakai pakaian (bagus) sementara Anda lapar.
Itu bukanlah lapar orang fakir!
Abu
Sulaiman
ad-Darany
menegaskan
:
Bahwa
meninggalkan sepotong daging di waktu makan malam lebih
kusukai daripada melakukan shalat sepanjang malam.
Berkata Abul Qasim Jafar bin Ahmad ar-Razy : Beberapa
hari Abul Khayr al-Asqalany ingin sekali mengkonsumsi ikan.
Lalu sejumlah ikan sampai ke tangannya melalui jalan yang
halal. Tetapi ketika tangannya meraih ikan itu untuk
dimakannya, lalu ia berkata : Ya Alalh, jika hal ini menimpa
orang yang mengulurkan tangannya karena ingin memakan
barang yang halal, apa pula yang akan terjadi kepada orang
yang mengulurkan tangannya untuk sesuatu yang haram?
Saya
mendengar
Rustam
asy-Syirazy
as-Shufy
menuturkan : Abu Abdullah bin Khafif sedang menghadiri
jamuan makan, tiba-tiba salah seorang muridnya bermaksud
mengambil makanan mendahului sang syeikh, karena laparnya.
Salah seorang murid syeikh, yang ingin menegus atas ketidak
sopanannya itu, meenpatkan sedikit makanan di hadapan si
fakir itu. Menyadari bahwa dirinya dicela karena kurang
beradab, si fakir itu lalu tidak mau makan selama limabelas

hari sebagai hukuman dan pendisiplinan jiwanaya, serta


sebagai tanda Taubat atas ketidak sopanannya itu. Padahal
selama ini ia telah menderita kelaparan.
Malik bin Dinar berkata : Barangsiapa telah mengalahkan
syahwat dunia, maka itulah tindakan yang dapat memisahkan
setan dari lindungannya.
Abu Ali ar-Rudzbary mengajarkan : Jika seorang Sufi
setelah lima hari tidak makan, mengatakan aku lapar maka
kirimlah ia ke pasar agar mendapatkan pekerjaan.
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan
ucapan seorang syeikh, bahwa penghuni neraka telah
dikalahkan oleh syahwatnya atas kewaspadaan mereka, hingga
mereka tercela. Beliau juga berkata : Seseorang bertanya
kepada salah seorang syeikh : Apakah Anda tidak enginginkan
sesuatu? Sang Syeikh menjawab, Aku menginginkannya, akan
tetapi aku menahan diri.
Syeikh yang lain ditanya : Adakah sesuatu yang tuan
inginkan?
Jawabnya : Aku menginginkan untuk tidak ingin lagi.
Abu Nashr at-Tammar mengatakan : Pada suatu malam
Bisyr datang kepadaku, dan aku berkata : Segala Puji Bai Allah
yang telah membawamu ke sini. Sejumlah kapas dari Khurasan
telah sampai kepada kami; budak wanita telah menenunnya,
menjualnya dan membeli sedikit daging untuk kita. Engkau bisa
berbuka puasa dengan kami. Ia menjawab : Jika aku mesti
makan dengan seseorang, aku akan memilih makan
denganmu. Lalu ia menjelaskan : Telah bertahun-tahun aku
ingin makan terung, tetapi aku belum ditakdirkan untuk
memakannya. Lalu aku menjawab : Ada terung yag halal
dalam makanan ini. Ia menjawab : Bahkan sampai bersih dari
bijinya.
Saya mendengar Abu Ahmad ash-Shagir berkata : Abu
Abdullah bin Khafi menyuruhku menyuguhinya sepuluh butir
kismis untuk buka puasa setiap malam. Suatu malam aku
merasa kasihan kepadanya, dan kusuguhkan limabelas butir
kismis. Ia memandangku dan bertanya : Siapa yang

menyuruhmu (memberi lima belas kismis?) Lalu dimakannya


sepuluh butir dan membiarkan sisanya.
Abu Turab an-nakhsyaby berkomentar : Jiwaku tidak
pernah cenderung kepada hawa nafsu kecuali sekali saja : Aku
ingin sekali makan roti dan telur ketika aku sedang berada
dalam perjalanan. Lalu aku pun memasuki sebuah kampung.
Seseorang gbangkit dan memegang tanganku sambil berkata :
Orang ini adalah salah seorang dari perampok itu! Lalu oangorang itu memukuliku tujuhpuluh kali. Seseorang laki-aki di
antara mereka mengenaliku dan menyela, Ini adalah Abu
Thurab an-Nakhsyaby! Mendengar itu, mereka cepat-cepat
meminta maaf kepadaku, dan laki-laki itu lalu membawaku ke
rumahnya karena rasa hormat dan kasihan kepadaku, dan ia
menjamu aku dengan roti dan telur. Maka aku berkata kepada
diri sendiri : Makanlah, seteelh tujuh puluh kali pukulan!.

KHUSYU DAN TAWADHU


Allag swt. berfiman :
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, mereka
yang khusyu dala shalatnya. (Qs. Al-Muminun :-1-2).
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Masud, bahwa Rasulullah saw.
bersabda :
Tidak akan masuk surga, barangsiapa yang dalam hatinya terdapat
kesombongan walau sekecil biji sawi, dan tidak akan masuk neraka
barangsiapa yang dalam hatinya terdapat iman walaupun sekecil biji
sawi. Seseorang bertanya : Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang
suka berbapakain bagus? Beliau menjawab : Allah swt. Maha Indah dan
menyukai keindahan; sombong adalah berpaling dari Al-Haq dan
mencemooh manusia. (H.r. Muslim).
Anas bin Malik mengabarkan : Rasulullah saw. suka mengunjungi
orang sakit, mengiringkan jenazah, mengendari keledai dan memenuhi
undangan budak-budak.
Dalam peperangan melawan bani Quraidhah dan bai nadhir, Rasul
mengendari seekor keledai yang diberi tali kendali dari ijuk korma dan di
atasnya diberi pelana ijuk pula.
Khsyu adalah berkaitan kepada Allah swt. dan tawadhu adalah
menyerah kepada Allah dan menjauhi sikap kontra dalam menerima
hukum.

Hudzaifah berkata : Khusyu adalah hal yang pertama-tama hilang


dari agamamu. Ketika salahs eorang Sufi ditanya tentang khusyu, ia
menjawab : Khusyu adalah tegaknya hati di hadapan Allah swt.
Sahl bin Abdullah menegaskan : Setan tidak akan mendekati orang
yang hatinya khusyu. Dikatakan : Di antara tanda-tanda kehusyuan hati
seorang hamba adalah manakala ia diprovokasi, disakiti hatinya atau
ditolak, maka ia, semua itu diterimanya.
Salah seorang Sufi berkomentar : Kekhusyuan hati adalah menahan
mata dari melirik ke sana ke mari.
Muhammad bin Ali at-Tirmidzy menjelaskan : Khusyu adalah begini :
Jika api hawa nafsu dalam diri seseorang padam, asap dalam dadanya
reda dan cahaya kecemerlangan bersinar dalam hatinya, lalu hawa
nafsunya mati, dan hatinya hidup khusyulah semua angota badannya.
Al- Hasan al-Bashry berkata : Khusyu adalah rasa takut yang terus
menerus dalam hati.
Ketika al-Juany ditanya tentang khusyu, ia menjawab : Khusyu
adalah jika hati menghinakan dirinya di hadapan Yang Maha Tahu
kegaiban. Allah swt. berfirman :
Hamba-hamba Ar-Rahman yaitu orang-orang yang bejalan di muka
bumi dengan sikap rendah hati. (Qs. Al-Furqan :63).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan : Bahwa makna ayat ini
adalah hamba-hamba Allah itu berjalan di muka bumi dengan penuh
khusyu dan tawa dhu.
Saya juga mendengar beliau mengatakan, bahwa mereka adalah
orang-orang yang tidak memperdengarkan bunyi sandal mereka ketika
berjalan.
Kaum Sufi sepakat bahwa tempat khusyu adalah di dalam hati.
Ketika salah seorang Sufi melihat seorang laki-laki yang
memperlihatkan sikap rendah hati dalam perilaku lahiriahnya, dengan
mata yang memandang ke bawah dan bahu yang rendah, ia berkata
kepadanya. Wahai sahabat, khusyu itu di sini. Sambil menunjuk ke
dadanya, bukan di sini, sambil menunjuk bagunya.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melihat seorang laki-laki sedang
mengelus-elus jenggotnya dalam shalat, dan beliau lalu bersabda :
Jika hatinya khsyu, niscaya anggota badannya juga akan khusyu.
(Hr. Tirmidzi).
Dikatakan : Khusyu dalam shalat berarti seseorang tidak menyadari
siapa yang sedang berdiri di sebelah kanan atau kirinya.
Syeikh ad-Daqqaq berkata : Khusyu mirip dengan perkataan, bahwa
hati nurani seseorang dikhidmatkan sambil musyahadah kepada Allah
swt. Dikatakan Khusyu adalah perasaan papa dan hina yang meresap
ke dalam hati manakala menyaksikan Allah swt.

Dikatakan pula : Khusyu adalah kegentaran hati di kala hati dikuasai


hakikat.
Khusyu adalah mukadimah bagi luapan anugerah.
Dikatakan : Khusyu adalah kegentaran hati secara tiba-tiba ketika
Kebenaran terungkapkan secara tba-tiba.
Fudhail bin Iyadh menegasskan, bahwa dirinya tidak senang melihat
seseorang terlihat lebih khusyu daripada batinnya.
Abu Sulaiman ad-Darany berkata : Seandainya semua manusia
bersatu padu untuk menghinakan aku, niscaya mereka tidak akan mampu
mencapai kedalaman dimana aku menghinakan diriku sendiri.
Dikatakan : Orang yang tidak merendahkan dirinya, orang lain tdak
akan menghormatinya pula.
Umar bin Abdul Aziz tidak mau bersujud kecuali hanya di tanah.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. telah
bersabda : Tidak akan masuk surga oang-orang yang di dalam hatinya
terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi. (H.r. Abu Dawud).
Mujahid berkata : Ketika Allah swt. menenggelamkan kaum Nabi
Nuh, gunung-gunung bersikap congkak dan meninggikan diri, tetapi Bukit
Judy merendahkan dirinya. Karena itu Allah swt. menjadikannya sebagai
tempat mendaratnya perahu Nabi Nuh as. (Bukit Judy berada di sebelah
timur laut Jazirah Ibnu Umar, Ketingginya dari permukaan laut 4.000
meter. Diriwayatkan bahwa perahu Nabi Nuh pernah melintasi bukit ini
kertika terjadi banjir bandang).
Umar bin Khaththab r.a. selalu berjalan cepat-cepat, tentang ini
dijelaskannya bahwa berjalan secara demikian akan membawanya lebih
cepat kepada kebutuhan dan menjaganya dari keangkuhan.
Pada suatu malam Umar bin Abdul Aziz, r.a. sedang menulis, lalu
datanglah seorang tamu. Meliaht lampu hampir padam, si tamu
menawarkan diri : Biarlah saya yang membesarkan nyalanya. Tapi Umar
menjawab : Jangan, tidaklah ramah menjadidkan tamu sebagai pelayan.
Maka si tamu lalu berkata : Kalau begitu, biarlah saya panggilkan
pelayan. Umar menolak : Jangan, ia baru saja pergi tidur. Lalu beliau
sendiri pergi ke tempat penyimpanan minyak dn mengisi lampu itu. Si
tamu berseru : Tuan lakukan pekerjaan ini sendiri, wahai Amirul
Muminin? Umar berkata kepadanya : Aku melangkah dari sini sebagai
Umar, dan kembali ke sini masih sebagai Umar pula.
Abu Said al-Khudry r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. selalu
memberi makan unta-unta, menyapu lantai rumah, memperbaiki sandal,
menambal baju, memerah susu, makan bersama pelayan dan
membantunya menggiling gandum jika pelayan lelah. Beliau tiak pernah
merasa malu membawwa barang-barang beliau sendiri dari pasar untuk
keluarganya. Beliau biasa berjabat tangan dengan orang kaya maupun
miskin, dan lebih dahulu memberi salam jika bertemu. Nabi saw. tiak

pernah mencela makanan apa yang dihidangkan kepada beliau, sekalipun


hanya berupa kurma kering. Beliau sangat sederhana dalam hal makanan,
lemah lembut dalam berperilaku, mulia dalam sikap, baik dalam
berteman, wajahnya bercahaya, tersenyum tapi tanpa terrtawa, sedih tapi
tiak cemberut, rendah hati tapi tidak lembek, murah hati tetapi tidak
boros. Rasulullah saw. juga berhati lembut dan kasih sayang kepada
setiap Muslim. Tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda telah makan
kenyang, dan juga tidak pernah mengulurkan tangan dengan rakus.
Fudhail bin Iyadh berkata : Para Umala dari Yang Maha Pengasih
memiliki sikap khusyu dan tawadhu, sedangkan para ulama penguasa
memiliki sikap takjub dan sombong. Ia juga berkomentar : Barangsiapa
menganggap dirinya masih berharga, berarti tidak memiliki sifat tawadhu
sama sekali.
Ketika Fudhail ditanya tentang tawadhu, ia mengajarkan : Pasrahlah
kepada kebenaran; patuh dan terimalah ia dari siap pun yang
mengatakannya. Ia juga mengatakan : Allah swt. mewahyukan kepada
gunung-gunung : Aku akan berbicara dengan soerang Nabi di salah satu
puncak di antaramu. Maka, gunung-gunung itu lalu berlomba-lomba
meninggikan diri dengan sobongnya, sedangkan Gunung Thursina justru
merendahkan dirinya dengan penuh kerendahan hati. Maka Allah swt. lalu
Berbicara kepada Musa as, di puncka gunung ini, dikarenakan
ketawadhuannya.
Ketika al-Junayd ditanya tentang tawadhu, ia menjawab : Tawadhu
adalah merendahkan sayap terhadap semua makhluk dan bersikap
lembut kepada mereka.
Wahb berkata : Teah tertulis dalam salah satu kitab suci,
Sesungguhnya Aku mengambil sari zat dari tulang sulbi Adam, dan Aku
tidak menemukan hati yang lebih tawadhu daripada hati Musa as. Maka
Ku pilih ia dan Aku aku berbicara langsung dengannya.
Ibnul Mubarak mengatakan : Kesombongan terhadap orang kaya
dan rendah hati terhadap yang miskin adalah bagian dari sifat tawadhu.
Au Yazid ditanya : Bilakah seseorang mencapai sifat tawadhu?
Dijawabnya : Jika ia tidak menisbatkan dirinya pada suatu maqam
dan haal, serta menganggap bahwa tidak seorang pun di antara ummat
manusia di dunia ini yang lebih buruk dari dirinya.
Dikatakan : Tawadhu adalah anugerah Allah yang tidak pernah diiri
dengki orang dan kesombongan adalah penderitaan yang tidak
membangkitkan belas kasihan. Kemudian terletak pada sikap tawadhu
dan orang yang mencari kemuliaan dalam kesombongan tidak akan
pernah mendapatkannya.
Ibrahim bin Syaiban menegaskan : Kehormatan terletak di dalam
sikap tawadhu, kemuliaan di dalam takwa, dan kemerdekaan di dalam
qnaah.

Abu Said Araby mengatakan, telah sampai kepadanya tentang


Sufyan ats-Tsaury yang berkata : Ada lima macam manusia termulia di
dunia ini : Ulama yang zuhud, seorang faqih yang Sufi, seorang kaya yag
rendah hati, seorang fakir yang bersyukur, dan seorang bangsawan yang
mengikuti sunnah.
Yahya bin Muadz menegaskan : Kerendahan hati adalah sifat yang
sangat baik bagi setiap orang, tapi ia paling baik bagi seorang yang kaya.
Kesombongan adalah sifat yang menjijikan bagi setiap orang tetapi ia
paling menjijikan jika terdapat pada orang yang miskin.
Ibnu Atha bekomentar : Tawadhu adalah menerima kebenaran dari
siapapun datangnya.
Dikisahkan, ketika Zaid bin Tsabit sedang mengendari kuda, Ibnu
Abbas datang mendekatinya agar dapat memegang kendali kudanya.
Maka Zaid lalu mencegahnya : Jangan, wahai anak paman Rasulullah!
Ibnu Abbas berkata : Itulah yang diperintahkan kepada kami terhadap
para ulama kami. Maka, Zaid bin Tsabit meraih tangan Ibnu Abbas lalu
menciuminya, sambil berkata : Ini adalah yang diperintahkan untuk kami
lakukan terhadap keluarga Rasulullah saw.
Urwah bin az-Zubair menuturkan : Ketika aku melihat Umar bin
Khaththab memikul segantang air di atas pundaknya, aku berkata
kepadanya : Wahai Amirul Mukminin, pekerjaan ini tidak patut bagi
Anda, Beliau menjawab : Ketika para delegasi datang kepadaku,
mendengarkan dan menaatiku, suatu perasan sombong merasuk ke
dalam hatiku, dan kini aku ingin menghancurkannya. Beliau terrus
memikul air an membawanya ke rumah seorang wnita Anshar dan
mengisikannya ke dalam genthong milik wanita itu.
Abu Nashr as-Sarraj at-Thausy mengabarkan : Ketika Abu Hurairah
r.a. menjabat Amir di Madinah, ia pernah terlihat sedang memikul seikat
kayu di atas punggungnya, danberteriak-teriak. Beri jalan untuk amir.
Abdullah ar-Razy menjelaskan : Tawadhu adalah tidak membedabedakan dalam memberikan pelayanan.
Abu Sulaiman ad-Darany berkata : Barangsiapa yang masih
memberikan nilai kepada dirinya sendiri tidak akan merasakan manisnya
ibadat.
Yahya bin Muadz mengatakan : Keangkuhan terhadap oang yang
bersikap sombong terhadapmu dikaernakan kekayaannya, adalah sikap
tawashu.
Seorang laki-laki datang kepada Ay-Syibly dan bertanyalah
kepadanya : Sipakah engkau? Ia menjawab : Wahai tuanku, sebuah titik
di bawah (ba). Lalu laki-laki itu berkata :Engkau adalah saksiku,
sepanjang engkau mengangap rendah kedudukan dirimu sendiri.

Ibnu Abbas r.a. mengatakan : Salah satu bagian tawadhu adalah


bahwa orang yang meminum sisa minuman yang ditinggalkan oleh
saudaranya.
Bisyr mengajarkan : Berilah salam kepada para pecinta dunia
dengan cara tidak memberi salam kepada mereka.
Syuaib bin Harba menuturkan : Ketika aku sedang melakukan
thawaf di Kabah, seorang buruh laki-laki menyikutku, dan aku menoleh
kepdanya. Ternyata orang itu adalah Fudhail bin Iyadh, yang berkata :
Wahai Abu Shalih, jika engkau berpikiran bahwa di antara manusia yang
melakukan ibadat haji ini ada yang lebih hina daripada dirimu atau diriku,
maka betapa buruknya pikiranmu itu.
Salah seorang Sufi mengatakan : Aku melihat seorang laki-laki ketika
sedang melakukan thawaf di Kabah. Ia sedang dikelilingi oleh orangorang yang menjunjung dan memujinya. Karena ulah mereka itu, hingga
menghalangi orang lain dari melakukan thawaf. Sedang beberapa waktu
setelah itu, kau melihat ia meminta-minta kepada orang-orang yang lewat
di sebuah jembatan di Baghdad. Aku terkejut dan heran. IA lalu berkata
kepadaku : Aku dulu membanggakan diri di tempat di mana manusiamanusia mestinya merendahkan diri, maka Alalh swt. lalu menimpakan
kehinaan kepadaku di tempat di mana manusia berbangga diri>
Ketika Umar bin Abdul Aziz mendengar bahwa salah sorang putranya
telah membeli sebuah permata yang sangat mahal seharga seribu dirham.
Beliau lalu menulis surat kepadanya : Aku telah mendengar bahwa
engkau telah membeli sebutir permata seharga seribu dirham. Jika surat
ini telah sampai kepadamu, juallah cincin itu dan berilah makan seribu
orang miskin. Selanjutlah buatlah sebuah cincin seharga dua dirham,
dengan batu dari besi Cina, dan tulislah padanya, Allah mengasihi orang
yang mengetahui harga dirinya yang sebenarnya.
Dikatakan bahwa seorang budak dijual kepada seorang penguasa
dengan seharga seribu dirham! Si penguasa bertanya : Apakah sifatsifat itu? Si budak menjawab : Sifat yang paling kecil diantaranya adalah
behwa seandainya tuan membeli saya dan kemudian menyayangi saya
melebihi semua budak tuan a g lain, saya tidak akan keliru memandang
posisi saya yang sesungguhnya; saya akan tetap sadar bahwa saya
adalah budak tuanku. Maka penguasa itu jadi membelinya.
Dikatakan bahwa Jabir bin Hayawah berkomentar : Ketika Umar bin
Abdul Aziz sedang berkhitbah, kutaksir-taksir pakaian yang dikenakannya
berharga sekitar duableas dirham saja, yang terdiri dari jubah luar,
surban, celana , sepasang sandal, dan selendang.
Dikatakan bahwa ketika Abdullah bin Muhammad bin Wasi berjalan
dengan lagak tak terpuji, ayahnya berkata kepadanya : Tahukan kamu
dengan harga berapa aku dulu membeli ibumu? Cuma tiga ratus dirham.
Dan ayahmu ini, semoga Allah tidak memperbanyak jumlah manusia yang

sepertinya di kalangan Kaum Muslimin. Lanatas, dengan orang tua yang


semacam ini, engkau berjalan dengan lagak begitu?
Hamdun al-Washshar berkata : Tawadhu adalah engkau tidak
memandang dirimu dibutuhkan oleh siapa pun, baik di dunia ini maupun
di dalam hal Agama.
Dikataka bahwa Abu Dzar dan Bilal semoga Allah meridhai mereka
berdua sedang bertengkar. Abu Dzar menghina Bilal karena kulitnya
yang hitam. Bilal mengadu kepada Rasulullah saw. yang lalu bersabda,
Wahai Abu Dzar, sungguh!. masih ada sifat Jahiliyah dalam hatimu.
Mendengar itu, Abu Dzar menjatuhkan dirinya ke tanah dan bersumpah
tidak akan mengangkat kepalanya sampai Bilal menginjakkan kakinya
pada pipinya. Ia tidak bangun-bangun sampai bilal melakukan hal itu.
Ktika al-Hasan bin Ali r.a. berjalan melewati sekelompok anak-anak
yang sedang makan roti, mereka mengajaknya pula makan. Beliau pun
turun dari atas kendaraan dan makan bersama mereka. Kemudian beliau
membawa mereka ke rumah beliau, mengajak mereka makan, memberi
mereka pakaian, dan berkata : Aku berhutang budi kepada mereka,
sebab mereka tidak memperoleh lebih dari apa yang mereka tawarkan
kepadaku, sedangkan aku memeperoleh keuntungan labih dari mereka.
Dikatakan : Umar bin Khaththab r.a. membagi-bagikan bahan
pakaian yang berasal dari pampasan perang kepada para sahabtnya.
Beliau mengirmkan sepotong mantel buatan Yaman kepada Muadz. Oleh
Muadz mantel tersebut dijual dan kemudian digunakan untuk membeli
enam orang budak dan memerdekakannya. Hal ini sampai kepada telinga
Umar. Pada pembagian bahan pakaian berikutnya, kepada Muadz
diberikannya bahan pakaian yang harganya lebih murah. Ketika Muadz
memprotesnya, Umar bertanya : Mengapa protes? Engkau telah menjual
bagianmu waktu pembagian yang lalu. Muadz tetap menuntut, Apa
urusannya dengan Anda? Berikan bagian saya, sebab saya telah
bersumpah akan mengenakannya pada kepala Anda! Umar berkata :
Inilah kepalaku di depanmu. Barang yang usang sepatutnya di pasang
pada barang yang usang. Pula.

MELAWAN HAWA NAFSU


Firman Allah swt.
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran
Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,
maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. )Qs. AnNaaziaat : 40-1).

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a. (Jabir bin Abdullah


al-Khazrajy al-Nashari as-Sulamy (16sH-78 H/607 -697) ikut
berperang sebelas kali. Ia mempunyai majelis halaqah ilmiah di
Masjid Nabawi. Meriwayatkan 1.540 Haditst). Bahwa Rasulullah
saw. telah bersabda :
Hal yang paling kutakutkan kepada ummatku adalah
mengumbar hawa nafsu dan melamun panjang. Mengumbar
hawa nafsu memalingkan manusia adari Al-Haq, sedang
melamun panjang membuat orang lupa pada akhirat. Karena
itu, ketahuilah bahwa melawan hawa nafsu adalah modal
ibadat. (H.r. Hakim dan Dailamy).
Ketika salah seorang Syeikh ditanya tentang Islam, ia
menjawab : Membabat nafsu dengan pisau perlawanan, Dan
ketahuilah bahwa bagi seseorang yang nafsunya telah bangkit,
maka pencerahan hati yang menyebabkan sukacita jiwanya di
hadalapan Allah swt. akan hilang.
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan : Kunci ibadat adalah
tafakur. Tanda terrcapainya tujuan adalah perlawanan terhadap
hawa nafsu dengan mninggalkan keinginan-keinginannya.
Ibnu Atha berkta : Nafsu itu dengan sendirinya cenderung
pada perilaku yang jahat. Pada saat yang sama, si hamba
diperintahkan agar bersabar di dalam beribadat. Jadi, hawa
nafsu berperilaku sesuai dengan wataknya dengan cara
menetang, dan si hamba menolak hawa nafsu dengan
perjuangan melawan tuntutan-tuntutannya yang jahat.
Al-Junayd berkomentar : Nafsu amarah yang terus
menerus mendorong pada kejahatan adalah penyeru kepada
kebinasaan, pembantu musuh, pengikut hawa nafsu, dan
diharu biru dengan berbagai macam kejahatan.
Abu Hafs mengajarkan : Barangsiapa tidak mencurigai diri
sendiri dalam setiap waktu, tidak menetangnya dalam setiap
keadaan ruhani, dan tidak memaksakan kepada diri sendiri apa
yang tidak sesuai dalam hari-harinya, adalah manusia yang
tertipu. Dan barangsiapa memberikan perhatiankepada nafsu
dan
menyetujui
sebagian
darinya
identik
dengan
menghancurkan diri sendiri. Bagaimana bisa membenarkan
bagi orang yang memiliki akal untuk menyenangi diri sendiri?

Sedangkan Yusuf a.s. yang mulia, putra dari keturunan yang


mulia, Yaqub dan Ishaq bin Ibrahim as. Berkata : Aku tidak
membersihkan diriku dari kesaahan; sesungguhnya nafsu itu
cenderung kepada kejahatan. (Qs. Yusuf : 53).
Al-Junayd menuturkan, : Suatu malam aku tidak dapat
tidur, lalu aku bangun untuk melakukan wirid. Tetpai aku tidak
menemukan kemanisan atau kenikmatan yang bisanya
kurasakan. Maka Aku menjadi bingung dan berharap untuk
dapat tidur saja, tetapi tetap tidak dapat. Lalu aku duduk,
namun demikian aku tidak dapat duduk nyaman. Maka kubuka
jendela dan aku pergi ke luar. Klihat seorang laki-laki
berselimutkan mantel sedang berbaring di jalan. Ketika ia
menyadari kehadiranku, ia mengangkat kepalanya dan
berkata : Wahai Abul Qasim, lihatlah waktu! Aku menjawab :
Tuanku, tidak da ketentuan waktu. Ia berkata : Bahkan aku
sudah memohon kepada si Pembangkit hati agar menggerakan
hatimu kepadaku. Aku berkata : Dia telah melakukannya.
Jadi, apa kemauan anda ? Aku menjawab : Jika nafsu
mentang hawanya, maka penyakitnya menjadi obatnya.
Kemudian laki-laki itu berpaling dan berkata kepada dirinya
sendiri, :Dengar (hai nafsu), aku telah menjawab pertanyaanmu
tujuh kali dengan jawaban seperti itu, tapi engkau menolak
menerimanya sampai engkau mendengarnya dari al-Junayd,
dan sekang engkau telah mendengarnya. Kemudian ia berlalu
meninggalkan aku. Aku tidak tau siapa dirinya dan tidak pernah
bertemu dengannya lagi.
Abu Bakr ath-Thamastany berkata : Nikmat terbesar
adalah jika engkau keluar dari dirimu sendiri, sebab ia adalah
tabir terbesar antara dirimu dengan Allah, swt.
Sahl bin Abdulllah mengatakan : Tidak ada ibadat bagi
Allah selain yang lebih utama dari menentang hawa nafsu.
Ketika ditanya tentang perkara yang paling dibenci Allah
swt. Ibnu Atha menjawab : Memberikan perhatian kepada diri
sendiri dengan segala keadaannya. Lebih buruk dari itu adalah
mengharapkan imbalan atas perbuatan-perbuatannya.
Ibrahim al-Khawwa menuturkan : Aku sedang berada di
atas gunung al-Lakam, ketika aku melihat segerombolan pohon

delima, timbul keinginanku untuk mencicipannya sebuah. Lalu


aku naik ke atas memetik sebuah dan membelahnya, akan
tetapi rasanya asam. Lalu aku melihat seorang glaki-laki
terbaring di tanah, dikerumuni lebah. Aku berkata kepadanya :
Assalamualaikum. Ia menjawab : Waalaikum salam, wahai
Ibrahim. Aku bertanya : Bagaimana engkau mengenalku? Ia
menjawab : Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari
manusia yang mengenal Allah swt. Aku berkata : Kulihat
engkau berada dalam keadaan bersama Allah swt. Mengapa
engkau tidak meminta kepada-Nya agar melindungimu dari
gangguan lebah-lebah itu? Ia berkata : Dan engkau, kulihat
juga berada dalam keadaan bersama Allah swt. Mengapa
engkau tidak meminta kepada-Nya juga agar melindungimu
dari keinginan makan delima? Manusia akan mengalamai rasa
sakit dari sengatan delima di akhirat, sementara sengatan
lebah hanya terasa sakit di dunia. Aku pun pergi berlalu
meninggalkan orang itu.
Dalam satu riwayat Ibrahim bin Syaiban mengabarkan :
Selama empat puluh tahun aku tidak pernah bermalam satu
kali pun di bawah atap rumahku atau di tempat tertutup yang
lain. Namun Terkadang aku masih menginginkan agar
bisa makan ada dengan kenyang. Sayang, keinginanku itu
tidak pernah terpenuhi. Pada suatu hari, ketika aku berada di
Syam, seseorang menghidangkan semangkok penuh adas
kepadaku. Aku makan isinya dan kemudian berangkat. Di
tengah jaan aku melihat botol-botol berisi semacam cairan,
yang kukira adalah cuka. Di antara mereka menegurku :
Bagaimana pendapatmu? Ini adalah botol-botol anggur, dan
ini guci anggur! Aku berkaa pada diri sendiri, Adalah
kewajibanku ....Kemudian aku pun masuk ke dalam warung
dan menumpahkan isi-isi botol serta guci-guci itu. Orang itu
mengira bahwa aku menumpahkan isi botol-botol itu atas
perintah Sultan. Tapi ketika mengetahui bahwa itu hanya
inisitaifku sendiri, ia lalu membawaku kepada Ibnu Thaulun
yang memerintahkan agar aku didera duaratus kali dan
dimasukan ke dalam penjara. Aku tinggal di penjara beberapa
waktu lamanya sampai Abu Abdullah al Maghriby, guruku,

datang ke negeri itu dan membebaskanku. Ketika melihatku,


beliau bertanya : Apa yang telah engkau perbuat? Aku
menjawab : Satu perut yag penuh berisi adas dan duaratus
deraan! Beliau berkata : Engkau telah diselematkan dari
segala tuduhan di akhirat.
Dalam suatu riwyat Sari as-SaqathY pernah menuturkan :
Selama tiga puluh tahun, nafsuku telah meminta kepadaku
sepotong wortel yang dicelup dalam madu kurma, tetapi aku
belum sempat memakannya! Saya dengar Abu Abbas ala
Baghdady menuturkan bahwa kakeknya pernah berkata :
Bencana seorang hamba adalah rasa pusnya terhadap
keadaan dirinya.
Isham bin Yusuf al-Balky menghadap kepada Hatim alAsham, ia pun diterima. Seseorang bertanya : Mengapa Anda
menerimanya? Hatim menjawab : Dengan menerimanya aku
merasakan rasa hinaku sekaligus merasakan kebanggaannya.
Sebaliknya, apabila aku menolaknya, aku merasa kebangganku
sekaligus merasakan rasa hinanya. Maka aku memilih
kebanggaannya daripada kebangganku dan kehinaanku
daripada kehinaannya.
Seseorang berkata kepada salah seorang Sufi : Aku ingin
melaksanakan ibadat haji dalam keadaan menyepi (tajrid).
Sang Sufi menjawab : Lebih tajridlah sifat alpa dari dalam
hatimu, kekurang-seriusan dari dirimu, dan perkataan yang siasia dari lidahmu; setelah itu tempuhlah ke mana saja engkau
mau.
Abu Sulaiman ad-Darany berkata : Orang yang melewati
malam harinya dengan cukup baik akan memperoleh balasan di
siang harinya, dan orang yang melewati siang dengan cara
yang baik akan memperoleh balsan di malam harinya.
Barangsiapa tulus dalam menjauhi hawa nafsu akan terbebas
dari beban memberi nafsu makanan. Allah swt. bersifat Maha
Pemurah hingga tidak berkehendak untuk menghukum hati
yang menjauhi hawa nafsu demi Dia.
Allah swt. mewahyukan kepada Daud as. Wahai Daud,
peringatkanlah para sahabatnya terhadap sikap menuruti

hawa nafsu, sebab hati yang terikat kepada hawa nafsu dunia
tertutup dari-Ku.
Dikatakan bahwa seseorang sedang duduk melayang di
udara, dan seseorang bertanya kepadanya, Bagaimana
engkau bisa melakukan hal ini? Ia menjelaskan : Aku
meninggalkan hawa nafsu, karenanya Allah swt. menjadikan
udara tunduk kepadaku.
Dikatakan : Jika (pemenuhan) seribu hawa nafsu
ditawarkan kepada seorang Mukmin, niscaya ia akan
meolaknya dengan rasa takut kepada Allah Swt. Tetapi jika
pemenuhan satu kehendak hawa nafsu ditawarkan kepada
seorang pndosa, pemenuhan itu akan mengusir darnya rasa
takut kepada Allah swt. Dikatakan juga, : Janganlah engkau
tempatkan kendalimu di tanag nafsu, sebab ia pasti
membawamu pada kegelapan.
Yusuf bin Asbat berkata : Hanya takut yang sangat atau
kerinduan yang bergelora sajalah yang bisa memadamkan
NAFSU.
Al-Khawwa berkata : Barangsiapa meninggalkan hawa
nafsu, tapi tidak menemukan pengganti dalam hatinya adalah
seorang pendusta dalam meninggalkan hawa nafsu itu sendiri.
Jafar bin Nashr mengabarkan : Al-Junayd memberiku uang
satu dirham dan menyuruhku membeli semacam buah kenari.
Kubeli beberapa buah, dan ketika saat berbuka puasa tiba, ia
memecah sebuah dan memakan isinya. Tapi kemudian ia
memuntahkannya dan menangis. : Singkirkan buah-buah ini.
Pintanya> Ketika aku bertanya apa yang telah terjadi, ia
menjawab : Sebuah suara berseru dalam hatiku : Tidakkah
engkau merasa malu? Engkau menjauhi satu nafsu demi untukKu, tapi kemudian mengambilnya lagi!.
Kaum Sufi bersyair :
Huruf Nun dari kehinaan (haan) dari hawa..
Telah dicuri.
Menyerah kepada hawa nafsu
Jatuh dalam kehinaan.

DENGKI
Allah set. Berfirman :
Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan yang
menguasai sebuah dari kejahatan makhluk-Nya. Kemudian dia
berfirman : Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia
dengki. (Qs. Al-Falaq : 1,2 dan 5.).
DI sini, Allah menutup Surat, yang dijadikan sebagai
perlindungan dengan menyeburkan kata Dengki.
Diriwayatkan dari Ibnu Maud bahwa Rasulullah saw.
bersabda :
Ada tiga hal yang menjadi akar semua dosa. Jagalah
dirimu dan waspadalah terhadap ketiganya. Waspadalah
terhadap kesombongan, sebab kesombongan telah menjadikan
iblis menolak bersujud kepada Adam. Waspadalah terhadap
kerakusan, sebab kerakusan telah menyebabkan Adam
memakan buah dari pohon terlarang. Dan jagalah dirimu dari
dengki, sebab dengki telah menyebabkan salah seorang anak
Adam membunuh saudaranya. (H.r. Ibnu Asakir).
Salah seorang Sufi mengatakan : Orang yang dengki
adalah orang yang tidak beriman, sebab ia tidak merasa puas
dengan takdir Allah Yang Maha Esa, Dikatakan : Orang yang
dengki tidak pernah berjaya.
Disebutkan dalam firman Allah swt. : Katakanlah, Tuhanku
hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak
maupun yang tersembunyi. (Qs. Al-Araf :33).
Dikatakan bahwa : perbuatan keji yang tersembunyi itu
adalah dengki.
Dalam beberapa kitab tertulis bahwa : Orang yang dengki
adalah
musuh
nikmat-Ku.
Dikatakan pula : Pengaruh dengki tampak padamu sebelum ia
tampak pada musuhmu.
Al-Asmui menuturkan : Aku melihat seorang Badui yang
berumur seratus dua puluh tahun, dan aku berkata : Alangkah
panjangnya umur Anda!. Ia menjawab : Aku telah
meninggalkan dengki, hingga umurku panjang.
Ibnul Mubarak mengatakan : Segala puji bagi Allah, Yang
tidak
menempatkan
dengki
dalam
hati
pemimpinku

sebagaimana yang telah ditempatkan-Nya dalam hati


pendengkiku.
Dalam satu Hadits dikatakan : Ada seorang malaikat di
langit kelima yang amal perbuatan seseorang manusia
melaluinya, dan ia bersinar kemilau seperti matahari. Malaikat
itu memerintahkan : Berhentilah karena kau adalah malaikat
dengki. Pukullah pelaku dengki pada mukanya, sebab ia adalah
seorang pendengki!.
Muawiyah bin Abu Sufyan berkata : Aku mampu
menyenangkan semua orang kecuali pendengki. Ia tidak
pernah merasa puas dengan apa pun selain berhentinya
kenikmatan bagi semua orang.
Dikatakan : Seorang pendengki adalah seorang yang
paling zalim. Ia tidak membiarkan sesuatu pun tetap tinggal di
tempatnya.
Umar bin Abdul Aziz menegaskan : Aku tidak pernah
melihat orang yang lebih zalim yang sama dengan kezaliman
pendengki. Sebab ia senantiasa berada dalam keadaa
sengssara dan nafas sesak.
Dikatakan : Di antara tanda-tanda seorng pendengki
adalah penjilat orang lain manakala orang itu berada di
dekatnya, memfitnahnya manakala tidak berada di dekatnya,
dan merasa senang apabila ada bencana yang menimpa diri
orang lain.
Muawiyah berkata : Tidak ada sifat-sifat kejahatan yang
lebih tegak daripada dengki. Orang yang dengki binasa
sebelum orang yang didengkinya.
Dikatakan bahwa Allah Swt. mewahyukan kepada Sulaiman
putra Daud, as. Kuperintahkan engkau agar melakukan tujuh
perkara, Janganlah engkau menggunjing dan mendengki salah
seorang hamba-Ku yagn ssaleh! Sulaiman menjawab :
Tuhanku, cukuplah perintah itu bagiku.
Dikatakan bahwa Musa as. Melihat seorang manusia di
dekat Arasy. Karena Musa ingin menempati kedudukan itu,
beliau bertanya, Apa amalnya? Pertanyaanya itu dijawab : Ia
tidak pernah dengki terhadap manusia karena anugerah Allah
swt. kepadanya.

Dikatakan : Seorang pendengki menjadi bingung bila


melihat adanya rahmat atas diri orang lain dan merasa senang
jika melihat adanya kekurangan pada diri orang lain.
Dikatakan : Jika engkau ingin selamat dari seorang
pendengki, sembunyikan urusanmu darinya.
Dikatakan pula : Seorang pendengki sangat marah
terhadap manusia yang tidak mempunyai dosa, dan bersikap
kikir terhadap yang tidak ia miliki.
Dikatakan juga : Waspadalah! Jangan sampai engkau
mengharapkan untuk mencintai orang yang mendengkimu,
sebab ia pasti tidak akan menerima kebaikanmu.
Kata salah seorang Sufi : Apabila Allah swt. Berkehendak
memberikan kekuasaan kepada seorang musuh yang tak
mengenal kasihan, terhadap salah seorang hamba-Nya, maka
kekuasaan itu diberikan-Nya kepada pendengkinya.
Dalam syair Sufi :
Cukuplah bagimu kisah tentang seorang
Yang dikasihani oleh para pendengkinya.
Mereka juga membacakan syair berikut :
Semua permusuhan terkadang diharapkan
Kematiannya
Keculai permusuhan dari orang
Ang melawanmu dengan rasa dengki.
Mereka juga membacakan syair :
Manakala Allah berkehendak menebar kebajikan
Digulunglah lidah pendengkinya.
Ibnul Mutazz mengatakan :
Katakan pada pendengki Ketika nafasnya terengahengah,Hai si dzalim!.
Sedang ia Seakan-akan orang yang ditindas.