Anda di halaman 1dari 237

PEDOMAN

PENYELENGGARAAN
SURVEILANS DAN SISTEM
INFORMASI MALARIA
DAERAH PEMBERANTASAN dan
DAERAH ELIMINASI MALARIA
DI INDONESIA

DIREKTORAT PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER


BINATANG
DIREKTORAT JENDERAL PP&PL
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
2013

KATA PENGANTAR
Malaria merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah
kesehatan masyarakat di Indonesia dan menjadi ancaman di daerah tropis
dan subtropics yang mempengaruhi angka kematian bayi, anak umur di
bawah lima tahun dan ibu melahirkan serta menurunkan produktifitas
kerja.
Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria masih sering terjadi, pada tahun 2012
terdapat dua kejadian KLB malaria yaitu di Provinsi Sumatera Utara
dengan 57 kasus dan di Provinsi Yogyakarta dengan 85 kasus. Hal ini
disebabkan antara lain adanya perubahan lingkungan, tingginya mobilisasi
penduduk dan kewaspadaan yang belum optimal. Untuk itu diperlukan
surveilans yang baik agar KLB dapat di deteksi dini dan ditanggulangi
dengan cepat.
Program Pengendalian malaria difokuskan untuk mencapai eliminasi
malaria yang dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oleh pemerintah,
pemerintah daerah bersama mitra kerja pembangunan dan masyarakat.
Eliminasi malaria tersebut dilakukan secara bertahap dari kabupaten/kota,
provinsi dari satu pulau ke pulau yang lain sampai seluruh wilayah
Indonesia pada tahun 2030. Pentahapan eliminasi terdiri dari tahap
pemberantasan, pre-eliminasi, eliminasi dan pemeliharaan.
Masing-masing tahapan mempunyai tujuan dan sasaran yang berbeda
sesuai Permenkes No. 293 tahun 2009. Kegiatan surveilans pun
disesuaikan berdasarkan tahapan eliminasi tersebut, dan surveilans
merupakan hal yang sangat penting untuk ditingkatkan dalam pencapaian
eliminasi karena salah satu syarat eliminasi adalah adanya surveilans
yang baik.
Dalam rangka peningkatan surveilans malaria tersebut, maka disusunlah
buku pedoman.
Semoga buku pedoman ini bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat
dalam pelayanan kesehatan masyarakat khususnya dalam pelaksanaan
pengendalian malaria.
Jakarta, Juli 2013
Direktur PPBB
Dr.Andi Muhadir, MPH
NIP 195504251982031005

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PP DAN PL


Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan
karuniaNya buku Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem
Informasi Malaria ini dapat diselesaikan.
Malaria merupakan salah satu penyakit yang menjadi prioritas baik global
maupun nasional. Hal ini tercantum dalam target 6c MDGs (Millenium
Development Goals) dan RPJMN serta Renstra Kemenkes. Annual
Parasite Incidens (API) Indonesia mengalami penurunan yaitu 3.620/00
pada tahun 2000 menjadi 1.69 0/00 pada tahun 2012. Kabupaten/Kota
yang API nya sudah dibawah 1 per 1000 penduduk pada tahun 2012
adalah 68%. Dan ditargetkan bahwa pada tahun 2030 Indonesia dapat
mencapai eliminasi malaria.
Upaya untuk percepatan pencapaian eliminasi malaria dilakukan melalui
kegiatan diagnosis dini, pengobatan cepat dan tepat, surveilans,
pengendalian vector, peningkatan peran serta masyarakat dan kemitraan.
Salah satu komponen penting dalam pengendalian malaria adalah
tersedianya data yang valid tentang perencanaan, monitoring dan
evaluasi serta respon dan tindakan terhadap peningkatan kasus yang
mengarah kepada Kejadian Luar Biasa (KLB). Ini dapat diperoleh melalui
penyelenggaraan surveilans terpadu.
Buku pedoman ini merupakan acuan teknis bagi tenaga kesehatan yang
terlibat dalam pelaksanaan pengendalian malaria khususnya pelaksana
surveilans malaria.
Kepada semua pihak yang telah berkontribusi diterbitkannya buku
pedoman ini, kami ucapkan terima kasih.
Jakarta, Juli 2013
Direktur Jenderal PP dan PL

Prof.dr.Tjandra Yoga Aditama

DAFTAR ISI
I.

PENDAHULUAN ...................................................................................................... 5
A. Latar Belakang..................................................................................................... 5
B. Pengertian............................................................................................................ 7
II. TUJUAN ................................................................................................................. 13
1. Tujuan Umum :................................................................................................... 13
2. Tujuan Khusus : ................................................................................................. 13
III. DASAR HUKUM..................................................................................................... 14
IV. RUANG LINGKUP.................................................................................................. 15
V. KEBIJAKAN TEKNIS.............................................................................................. 16
VI. STRATEGI ............................................................................................................. 17
VII. PENGORGANISASIAN .......................................................................................... 18
VIII. TEKNIS OPERASIONAL PENYELENGGARAAN SURVEILANS.......................... 19
A. Penyelenggaraan Surveilans Dan Sistem Informasi Malaria Pada
Tahap Pemberantasan .................................................................................... 20
B. Penyelenggaraan Surveilans Dan Sistem Informasi Malaria Di
Daerah Pada Tahap Pre-Eliminasi, Eliminasi Dan Pemeliharaan.................... 37
IX. POKOK-POKOK KEGIATAN PENGUATAN KINERJA SURVEILANS
DAN SISTEM INFORMASI MALARIA .................................................................... 58
X. PERAN ................................................................................................................... 62
XI. INDIKATOR KINERJA............................................................................................ 68
LAMPIRAN.................................................................................................................... 69
TIM PENYUSUN ........................................................................................................... 71

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi
masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan angka kesakitan dan
kematian yang tinggi, serta sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa.
Sampai tahun 2011 65 % dari 497 Kabupaten/Kota di Indonesia termasuk
wilayah endemis malaria.
Sampai akhir tahun 2011 terdapat 106 negara endemis malaria di seluruh
dunia,sementara itu pada tahun 2010 jumlah penderita mencapai 216 juta
orang dan 665.000 penderita diantaranya meninggal, terutama anak-anak
berumur
kurang
dari
lima
tahun
(86%).
(http://www.who.int/malaria/world_malaria_report_2011/WMR2011_factsheet.pdf)

Selama tahun 2005 2011, kejadian malaria di seluruh Indonesia


cenderung menurun, yaitu 4,10 kasus per 1000 penduduk pada tahun
2005 menjadi 1,75 kasus per 1000 penduduk pada tahun 2011. Jumlah
pemeriksaan sediaan darah dengan uji diagnosis malaria meningkat, dari
47% (982.828 pemeriksaan sediaan darah dari 2.113.265 penderita klinis)
pada tahun 2005, menjadi 63 % (1.164.405 pemeriksaan sediaan darah
dari 1.849.062 penderita klinis) pada tahun 2011. Walaupun demikian
selama tahun 2011 masih sering tejadi KLB malaria di 9 kabupaten/kota
dari 7 Provinsi dengan penderita mencapai 1.139 kasus dengan 14 kasus
diantaranya meninggal ( CFR= 1,22 % ) (Subdit Malaria, 2011)

B. Program Pengendalian Malaria


Program pengendalian malaria difokuskan untuk mencapai eliminasi
malaria sebagai upaya mewujudkan masyarakat yang hidup sehat, yang
terbebas dari penularan malaria secara bertahap sampai tahun 2030.
Eliminasi malaria tersebut dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oelh
Pemerintah, pemerintah daerah, bersama mitra kerja pembangunan,
termasuk LSM, dunia usaha, lembaga donor, organisasi profesi,
organisasi
kemasyarakatan
dan
masyarakat.
Eliminasi malaria dilakukan secara bertahap dari kabupaten/kota, provinsi,
dan dari satu pulau ke pulau yang lebih luas sampai seluruh wilayah
Indonesia, sesuai dengan situasi malaria dan ketersediaan sumber daya
yang tersedia.
Untuk mencapai tujuan pengendalian malaria diterapkan strategi
pengendalian malaria sebagai berikut :
1. penemuan dini dan pengobatan yang tepat, dengan akses
pelayanan kesehatan berkualitas,
5

2. penurunan risiko penularan dengan memanfaatkan forum gebrak


malaria,
3. memperkuat sistem surveilans, monitoring dan evaluasi,
4. memperkuat SDM dan pengembangan teknologi,
5. advokasi dan sosialiasi,
6. penggalangan kemitraan,
7. pemberdayaan dan penggerakan masyarakat
Kondisi endemisitas malaria di berbagai wilayah di Indonesia bervariasi
dan ini mengharuskan perbedaan strategi pengendalian yang lebih sesuai
antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Oleh karena itu,
kabupaten/kota di Indonesia perlu ditetapkan status endemisitasnya atau
tahapan eliminasi malaria yang telah dicapainya. Daerah Jawa-Bali yang
sebagian besar telah berada pada tahapan pra-eliminasi, tentu berbeda
strategi pengendaliannya dengan daerah-daerah lain yang masih berada
pada tahapan pemberantasan. Kriteria umum tahapan eliminasi daerah
kabupaten/kota dan karakteristik epidemiologinya dapat dilihat pada tabel
berikut :

Tabel. 1
Kriteria Umum Daerah Kabupaten/Kota Sesuai Tahapan Eliminasi
Tahapan Eliminasi Kabupaten/Kota
Kriteria

Pemberantasan

SPR (%)
5% - lebih
API
--(/1000)
Kasus
--indigenous

PreEliminasi

Eliminasi

Pemeliharaan

<5%
---

--<1/1000
pddk
Kasus
masih
ditemukan
sampai dg
3 th
pertama
tidak ada
kasus
indigenous

Tidak ada
kasus
indigenous
> 3 tahun

---

Tabel 2
Karakteristik Epidemiologi Daerah Kabupaten/Kota Sesuai Tahapan
6

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Eliminasi
Tahapan Eliminasi Kabupaten/Kota
Kriteria
Penularan
setempat
Kejadian
malaria

Pemberantasan
Tinggi

PreEliminasi
rendah

Menyebar rata,
terutama balita

% kasus
malaria/kasus
demam di
Puskesmas
Pemeriksaan
mikroskopis

Tinggi

Terkonsentra
si di daerah
reseptif
malaria
kecil

Belum semua
Puskesmas

Semua
Puskesmas,
belum semua
kasus suspek

Perekaman
dan pelaporan Data
Kriteria KLB
dan
investigasi

Agregat

Agregat
sebagian
individual
Berdasarkan
peningkatan
jumlah kasus

Berdasarkan
peningkatan
jumlah kasus

Eliminasi
sangat
rendah
terbatas,
jarang,
sporadis

Pemeliharaan
tidak ada

Sangat kecil

Tidak ada

Semua
Puskesmas,
semua
kasus
suspek
individual

Semua
Puskesmas,
semua kasus
suspek

Hanya kasus
impor

individual

Satu kasus Satu


kasus
indigenous
indigenous

Informasi tentang besarnya jumlah dan kematian kejadian malaria,


beserta distribusi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dapat
menentukan kondisi endemisitas wilayah-wilayah di Indonesia dan sangat
diperlukan dalam merumuskan perencanaan, pelaksanaaan dan
monitoring evaluasi program pengendalian malaria. Oleh karena itu, perlu
diselenggarakan sistem pencatatan dan pelaporan yang didukung oleh
suatu sistem yang handal dalam penyelenggaraan sistem surveilans dan
sistem informasi malaria (sismal) berdasarkan tahapan eliminasi malaria
di indonesia

C. Pengertian
1.

Surveilans adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus


menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan
kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan
penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat
melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien
melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran
informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan 1

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Pedoman


Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan

2.

Surveilans malaria adalah kegiatan analisis secara sistematis dan


terus menerus terhadap penyakit malaria dan faktor-faktor yang
mempengaruhi, termasuk pola perubahan dan distribusinya, agar
dapat melakukan tindakan pengendalian malaria secara efektif dan
efisien melalui proses penemuan penderita, pengumpulan data,
pengolahan dan penyebaran informasi kepada lintas program dan
lintas sektor terkait dalam pengendalian malaria

3.

Sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa malaria (SKD-KLB


Malaria) merupakan sistem kewaspadaan dini terhadap KLB malaria
beserta faktor faktor yang mempengaruhinya dengan menerapkan
teknologi surveilans epidemiologi dan dimanfaatkan untuk
meningkatkan sikap tanggap kesiapsiagaan, upaya-upaya dan
tindakan penanggulangan KLB malaria yang cepat dan tepat 2.

4.

Kasus tersangka malaria (malaria suspek) seseorang yang tinggal


di daerah endemis malaria atau adanya riwayat bepergian ke daerah
endemis malaria dalam empat minggu terakhir sebelum menderita
sakit, menderita sakit dengan gejala demam atau riwayat demam
dalam 48 jam terakhir

5.

Kasus malaria konfirmasi atau disebut kasus malaria positif


adalah seseorang dengan hasil pemeriksaan sediaan darah positif
malaria berdasarkan pengujian mikroskopis ataupun rapid diagnostic
test/RDT. Kasus malaria konfirmasi terbagi menjadi kasus malaria
indigenous, kasus malaria impor dan kasus malaria konfirmasi
asimtomatis

6.

Kasus malaria indigenous adalah kasus malaria positif yang


penularannya terjadi di wilayah setempat dan tidak ada bukti langsung
berhubungan dengan kasus impor. Secara teknis, kasus malaria
indigenous adalah kasus tersangka malaria yang tidak memiliki
riwayat bepergian ke daerah endemis malaria dalam empat minggu
sebelum sakit dan hasil pemeriksaan sediaan darah adalah positif
malaria

7.

Kasus malaria impor adalah kasus malaria positif yang


penularannya terjadi di luar wilayah. Secara teknis kasus malaria
impor adalah kasus tersangka malaria dengan riwayat bepergian ke
daerah endemis malaria dalam 4 minggu terakhir sebelum menderita
sakit dan hasil pemeriksaan sediaan darah adalah positif malaria

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 042/MENKES/SK/I/2007 tentang Pedoman


Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) dan Penanggulangan Kejadian Luar
Biasa (KLB) Penyakit Malaria

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

8.

Kasus Introduce adalah kasus indigenous yang tertular langsung


oleh kasus impor. Secara teknis, kasus introduce adalah seseorang
yang :

9.

Yang tinggal di daerah tahap eliminasi atau pemeiliharaan,


yang
Menderita sakit demam dan positif malaria, dan
dengan riwayat tinggal dalam radius 100 meter dari kasus
impor, pada 2-8 minggu sebelum mulai demam, dan
tidak ada riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria 4
minggu terakhir sebelum demam

Kejadian luar biasa (KLB) malaria adalah timbulnya atau


meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian penyakit malaria
yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun
waktu tertentu.
Secara teknis KLB malaria berbeda setiap daerah berdasarkan
tahapan eliminasi malaria :
a. Pada daerah tahap pemberantasan dan pre-eliminasi, terjadi KLB
malaria jika :
Pada suatu desa atau kelurahan
(1) terjadi peningkatan jumlah penderita dalam sebulan sebanyak
2 kali atau lebih dibandingkan dengan salah satu keadaan
dibawah ini :
Jumlah penderita dalam sebulan pada bulan sebelumnya
Jumlah penderita dalam sebulan, pada bulan yang sama
tahun sebelumnya
Jumlah penderita maksimum pada pola maksimum dan
minimum
dan slide positivity rate pada Kegiatan Penemuan Penderita
Demam Massal (MFS) lebih dari 20% dan parasit Plasmodium
falsiparum dominan
atau
(2) terjadi peningkatan jumlah penderita malaria meninggal dalam
periode tertentu (satu bulan) lebih dari 50 % dibanding
keadaan sebelumnya dalam periode yang sama
b. Pada daerah tahap eliminasi, terjadi KLB malaria jika :
Pada suatu desa atau kelurahan :

(1) Terjadi peningkatan jumlah penderita indigenous dalam


sebulan sebanyak 2 kali atau lebih dibandingkan dengan salah
satu keadaan dibawah ini :
Jumlah penderita indigenous dalam sebulan pada bulan
sebelumnya
Jumlah penderita indigenous dalam sebulan, pada bulan
yang sama tahun sebelumnya
Jumlah penderita indigenous maksimum pada pola grafik
maksimum-minimum,
dan slide positivity rate pada Kegiatan Penemuan Penderita
Demam Massal (MFS) atau pada Penemuan Kasus Malaria
Secara Aktif (ACD) lebih dari 20% dan parasit Plasmodium
falsiparum dominan
atau
(2) terjadi peningkatan jumlah penderita malaria (indigenous,
impor) meninggal dalam periode tertentu lebih dari 50 %
dibanding keadaan sebelumnya dengan periode yang sama
c. Pada daerah tahap pemeliharaan, terjadi KLB malaria jika
ditemukan satu atau lebih penderita malaria indigenous

10. Jejaring Surveilans dan Sistem Informasi Malaria adalah jejaring


dalam satu kesatuan sistem yang melakukan pertukaran data,
informasi, teknologi dan keahlian terkait dengan kegiatan
pengendalian malaria di Indonesia yang meliputi:
a. Jaringan kerjasama antara unit-unit pelaksana surveilans dan
sistem informasi malaria dengan unit-unit pelaksana pelayanan
kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, laboratorium dan unit
penunjang lainnya.
b. Jaringan kerjasama antara unit-unit pelaksana surveilans dan
sistem informasi malaria dengan pusat-pusat penelitian dan kajian
c. Jaringan kerjasama antara unit-unit pelaksana surveilans dan
sistem informasi malaria yang ada di kabupaten/Kota, provinsi dan
pusat
d. Jaringan kerjasama unit pelaksana surveilans dan sistem informasi
malaria dengan berbagai lintas sektor terkait nasional, bilateral
negara, regional dan internasional
11. Eliminasi Malaria adalah suatu upaya untuk menghentikan penularan
malaria setempat (indigenous) dalam satu wilayah geografis tertentu,
dan bukan berarti tidak ada kasus malaria impor serta sudah tidak ada

10

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

vektor malaria di wilayah tersebut sehingga tetap dibutuhkan kegiatan


kewaspadaan untuk mencegah penularan kembali 3
12. API (Annual Parasite Incidence) adalah jumlah penderita positif
malaria dalam satu tahun per 1000 penduduk (tengah tahun) di suatu
wilayah
tertentu.
Wilayah
API
adalah
desa/kelurahan,
kecamatan/wilayah puskesmas, kabupaten/kota.
13. ABER (Annual Blood Examination Rate) adalah prosentase jumlah
sediaan darah yang diperiksa untuk pengujian malaria (mikroskopis
dan RDT) dalam satu tahun terhadap jumlah penduduk (tengah tahun)
dalam suatu wilayah tertentu.
14. SPR (Slide Positivity Rate) adalah prosentase jumlah sediaan darah
positif terhadap jumlah sediaan darah yang diperiksa.
15. Fokus malaria aktif adalah wilayah masih terjadi penularan malaria.
Secara teknis fokus malaria aktif adalah wilayah (desa/kelurahan)
yang mempunyai riwayat adanya kasus malaria indigenous dalam 3
tahun terakhir.
16. Wilayah reseptif malaria adalah wilayah yang memiliki vektor
malaria dengan kepadatan tinggi dan terdapat faktor lingkungan serta
iklim yang menunjang terjadinya penularan malaria
17. Wilayah vulnerabel malaria adalah wilayah yang rawan terjadinya
penularan malaria karena berdekatan dengan wilayah yang masih
terjadi penularan malaria, atau masih tingginya kasus impor dan/atau
masih tingginya vektor infektif yang masuk ke wilayah ini
18. Daerah berdasarkan tahapan pengendalian
eliminasi adalah daerah yang menerapkan
sesuai dengan salah satu dari 4 tahapan
pemberantasan, tahap preeliminasi, tahap
pemeliharaan.

malaria atau tahapan


pengendalian malaria
eliminasi, yaitu tahap
eliminasi dan tahap

19. Daerah endemis malaria adalah wilayah puskesmas, atau


kabupaten/kota yang masih terjadi penularan malaria. Secara teknis
daerah endemis malaria diartikan sebagai wilayah seluas
Puskesmas/Kecamatan,
kabupaten/kota atau
provinsi yang
mempunyai fokus malaria aktif

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 293/SK/IV/2009 tentang Eliminasi Malaria


Indonesia

11

20. Unit pelaksana surveilans adalah kelompok kerja teknis struktural


atau fungsional, dengan dukungan sarana dan sistem kerja tertentu
yang bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan sistem surveilans,
baik berlangsungnya mekanisme kerja surveilans, maupun upaya
penguatan kinerja surveilans.
21. Unit sumber data surveilans adalah kelompok kerja teknis struktural
atau fungsional, dengan dukungan sarana dan sistem kerja tertentu
yang bertugas menyediakan data surveilans sesuai ketentuan dalam
penyelanggaraan sistem surveilans
22. Surveilans rutin adalah surveilans yang seluruh proses kegiatan
surveilans dilaksanakan sepanjang tahun
23. Surveilans khusus adalah surveilans yang seluruh proses kegiatan
surveilans dilaksanakan dalam periode waktu terbatas.
24. Deteksi dini KLB merupakan kewaspadaan terhadap kemungkinan
terjadinya KLB dengan cara melakukan intensifikasi pemantauan
secara terus menerus dan sistematis terhadap perkembangan
penyakit berpotensi KLB agar dapat mengetahui secara dini dan
respon terjadinya KLB
25. Deteksi dini kondisi rentan KLB merupakan kewaspadaan terhadap
kemungkinan terjadinya KLB dengan cara melakukan intensifikasi
pemantauan secara terus menerus dan sistematis terhadap perubahan
kondisi rentan KLB agar dapat mengetahui secara dini kondisi yang
rentan terjadinya KLB, tindakan pencegahan dan atau antisipasi yang
sesuai.
26. Kondisi rentan KLB adalah kondisi masyarakat, lingkungan-perilaku
dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang merupakan faktor
risiko terjadinya KLB
27. Penanggulangan KLB adalah kegiatan yang dilaksanakan pada saat
terjadi KLB malaria untuk menangani penderita, mencegah perluasan
kejadian dan timbulnya penderita atau kematian baru
28. Peringatan Kewaspadaan Dini KLB merupakan pemberian informasi
adanya ancaman terjadinya KLB malaria pada suatu daerah dalam
periode waktu tertentu
29. Program penanggulangan KLB adalah suatu proses manajemen
yang bertujuan agar daerah yang KLB malaria tidak lagi menjadi
masalah kesehatan masyarakat.
12

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

II. TUJUAN
1. Tujuan Umum :
Terselenggaranya sistem surveilans, sistem informasi dan SKD-KLB
berdasarkan tahapan eliminasi malaria di indonesia

2. Tujuan Khusus :
a. Meningkatnya pemahaman petugas terhadap pelaksanaan
surveilans dan sistem informasi malaria berdasarkan tahapan
eliminasi
b. Tersedianya data penyakit dan faktor risiko malaria serta data
terkait lainnya dalam pengendalian malaria
c. Terlaksananya kegiatan pengolahan dan analisis data secara rutin
d. Diperolehnya peta stratifikasi malaria menurut desa, kecamatan
dan kabupaten/kota
e. Meningkatnya Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa
(SKD-KLB) malaria
f. Terlaksananya diseminasi informasi data dan informasi serta
rekomendasi kepada pelaksana program pengendalian malaria,
lintas program dan lintas sektor terkait dalam pengendalian malaria

13

III. DASAR HUKUM


Dalam pelaksanaan surveilans dan sistem informasi malaria mengacu
kepada dasar hukum sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
3. PP No 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit
Menular
4. Keputusan
Menteri
Kesehatan
RI
Nomor
1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan
Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan
5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
293/Menkes/SK/IV/2009 tentang Eliminasi Malaria Di Indonesia
6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/MENKES/PER/X/2010
tentang jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan
wabah dan upaya penanggulangannya
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 275/MENKES/III/2007 tentang
surveilans malaria
8. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 443.41/465/SJ Tahun
2010 tentang Pelaksanaan Program Eliminasi Malaria Di Indonesia

14

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

IV. RUANG LINGKUP


Ruang lingkup penyelenggaraan surveilans dan sistem informasi malaria
meliputi
kebijakan
teknis,
strategi,
pengorganisasian,
jenis
penyelenggaraan, pokok kegiatan penguatan kinerja, dan indikator kinerja

15

V.KEBIJAKAN TEKNIS
1. Surveilans dan sistem informasi malaria merupakan bagian integral
dari sistem surveilans epidemiologi nasional untuk mendukung
tersedianya data dan informasi yang cepat dan akurat, sebagai
dasar pengambilan keputusan dalam rangka perencanaan,
pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program pengendalian
malaria, termasuk SKD-KLB
2. Penyelenggaraan surveilans dan sistem informasi malaria sesuai
dengan tahapan eliminasi masing-masing wilayah

16

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

VI. STRATEGI
1. Advokasi, sosialisasi, dan dukungan peraturan perundangundangan dalam penyelenggaran surveilans dan sistem informasi
malaria
2. Pengembangan surveilans dan sistem informasi malaria sesuai
dengan kebutuhan program
3. Peningkatan mutu data dan informasi
4. Peningkatan kompentensi tenaga pelaksana surveilans dan sistem
informasi malaria
5. Pengembangan tim pelaksana surveilans dan sistem informasi
malaria
6. Penguatan jejaring surveilans dan informasi malaria
7. Peningkatan pemanfaatan teknologi informasi bagi pelaksanaan
surveilans dan sistem informasi malaria

17

VII. PENGORGANISASIAN
Sesuai dengan peran dan fungsinya, setiap fasilitas pelayanan
kesehatan pemerintah dan swasta, unit pelaksana teknis daerah dan
pusat, dinas kesehatan kabupaten/kota, dinas kesehatan provinsi, dan
kementerian kesehatan melaksanakan surveilans dan sistem
informasi malaria.

18

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

VIII. TEKNIS OPERASIONAL PENYELENGGARAAN


SURVEILANS
Berdasarkan tahapan eliminasi malaria pada masing-masing daerah,
penyelenggaraan surveilans dan sistem informasi malaria terdiri atas :
a. Surveilans malaria di daerah pada tahap pemberantasan
b. Surveilans malaria di daerah pada tahap preeliminasi, eliminasi dan
pemeliharaan
Masing-masing penyelenggaraan surveilans tersebut memiliki sumbersumber data dan pemanfaatan data dengan teknis analisis yang berbeda.
Data yang berasal dari berbagai sumber data surveilans dihimpun, diolah
dan dilaporkan dalam 2 kelompok kegiatan surveilans, yaitu surveilans
rutin, dan surveilans khusus. Sementara pemanfatan data surveilans
tersebut dibagi dalam 2 bagian, yaitu pemanfaatan data untuk mendukung
kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan monitoring evaluasi program
pengendalian malaria (informasi kinerja program), dan pemanfaatan data
surveilans untuk mendukung pelaksanaaan sistem kewaspadaan dini
kejadian luar biasa (SKD-KLB) malaria

Gambar
Penyelenggaraan Surveilans Malaria
A. Surveilans Tahap Pemberantasan
Sumber Data
Pemanfaatan Data
1.Surveilans Rutin
1.Diseminasi Informasi
2.Surveilans Khusus
2.Informasi Kinerja Program
3.SKD-KLB Malaria
B. Surveilans Tahap PreEliminasi, Eliminasi dan Pemeliharaan
Sumber Data
Pemanfaatan Data
1.Surveilans Rutin
1.Diseminasi Informasi
2.Surveilans Khusus
2.Informasi Kinerja Program
3.SKD-KLB Malaria
Keterangan :
Sumber Data : Perekaman, pengumpulan, pengolahan dan pelaporan
Pemanfaatan Data : penyajian dan analisis

19

A.

Penyelenggaraan Surveilans Dan Sistem Informasi


Malaria Pada Tahap Pemberantasan

Penyelenggaraan surveilans dan sistem informasi malaria di daerah


program pengendalian malaria tahap pemberantasan malaria terdiri dari
surveilans rutin, surveilans khusus, data dan informasi kinerja program
dan SKD KLB malaria.
1. Surveilans Rutin
Surveilans rutin terdiri dari jenis surveilans rutin (sumber data, variabel,
perekaman dan pengolahan data) , pelaporan data, dan
penyebarluasan informasi
a. Jenis Surveilans
(1) Surveilans dan Sistem Informasi Malaria Bersumber Data
Penemuan Penderita Malaria Di Puskesmas Dan Rumah
Sakit Serta Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya
(a) Sumber Data
Sumber data surveilans rutin ini adalah penderita yang
berobat ke Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan
lainnya yang didiagnosis sebagai penderita malaria.
Penderita malaria terdiri dari kasus malaria suspek, kasus
malaria suspek dengan pengujian mikroskopis/ pemeriksaan
cepat dan kasus malaria positif
(b) Variabel
Variabel data kasus malaria suspek terdiri atas identitas
penderita, alamat desa/dusun, umur, jenis kelamin, tanggal
berobat, gejala, serta diagnosis kasus malaria suspek.
Variabel data kasus malaria dengan pengujian mikroskopis/
pemeriksaan cepat dan kasus malaria positif terdiri atas
identitas penderita, alamat desa/dusun, umur, jenis kelamin,
tanggal berobat, tanggal mulai sakit, gejala, hasil
pemeriksaan mikroskopis (jenis parasit) dan atau
pemeriksaan cepat, obat yang diterima penderita serta
variabel lain yang diperlukan, sesuai Kartu Penderita Malaria
Positif (contoh lampiran 10.1)

(c) Perekaman dan Pengolahan Data


Kasus malaria suspek berobat ke Puskesmas/fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya direkam pada Register
Penderita Berobat Di Puskesmas/Fasilitas Pelayanan
20

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Kesehatan dengan keterangan diagnosis kasus malaria


suspek
Kasus malaria suspek berobat ke Puskesmas/fasilitas
pelayanan
kesehatan
dengan
pengujian
mikroskopis/pemeriksaan cepat, direkam dalam Register
Pemeriksaan Mikroskopis Malaria Puskesmas (PCD).
Data kasus malaria suspek pada Register Penderita Berobat
di Puskesmas/fasilitas pelayanan kesehatan lainnya (PCD)
dan data kasus malaria positif pada Kartu Penderita Malaria
Positif (contoh lampiran 10.1) atau Register Pemeriksaan
Mikroskopis Malaria Puskesmas (PCD), kemudian
direkapitulasi dalam formulir Rekapitulasi Penderita Malaria
Puskesmas/fasilitas pelayanan kesehatan (PCD) setiap akhir
minggu dan setiap akhir bulan (lampiran 10.4)
Gambar
Alur Perekaman dan Pengolah Data Malaria
Berdasarkan Penemuan Penderita di Puskesmas
Daerah Tahap Pemberantasan
Kasus Malaria Suspek
di Puskesmas

Rekam dalam Register


Penderita Berobat
Puskesmas (PCD)

Rujuk Pemeriksaan
Mikroskopis

Rekam dalam Register


Pemeriksaan Mikroskopis
Puskesmas (PCD)

Kasus malaria positif

Rekam dalam Kartu


Penderita Malaria Positif
Rekapitulasi Penderita Malaria
Puskesmas (PCD)

(2) Surveilans dan Sistem Informasi Malaria Bersumber Data


Penemuan Penderita Malaria Secara Aktif di Lapangan
(Active Case Detection)
Kegiatan Penemuan Penderita Malaria Secara Aktif di
Lapangan menjadi alternatif pengendalian malaria pada tahap
pemberantasan, antara lain karena sangat tingginya risiko sakit
berat atau meninggal, dan kegiatan penemuan penderita
malaria secara pasif tidak efektif menurunkan risiko penularan
malaria di daerah tersebut
(a) Sumber Data
Sumber data surveilans rutin ini adalah penderita malaria
yang ditemukan saat melaksanakan kunjungan dari rumah
21

ke rumah atau yang berkunjung ke pos-pos pelayanan


kesehatan yang dilaksanakan dalam rangka kegiatan
Penemuan Penderita Malaria Secara Aktif di Lapangan
Penderita malaria terdiri dari kasus malaria suspek, kasus
malaria dengan pengujian mikroskopis/pemeriksaan cepat
dan kasus malaria positif
(b) Variabel
Variabel data kasus malaria suspek terdiri atas identitas
penderita, alamat desa/dusun, umur, jenis kelamin, tanggal
berobat, gejala, serta diagnosis kasus malaria suspek.
Variabel
data
kasus
malaria
dengan
pengujian
mikroskopis/pemeriksaan cepat dan kasus malaria positif
terdiri atas identitas penderita, alamat desa/dusun, umur,
jenis kelamin, tanggal berobat, tanggal mulai sakit, gejala,
hasil pemeriksaan mikroskopis (jenis parasit) dan atau
pemeriksaan cepat, obat yang diterima penderita serta
variabel lain yang diperlukan
(c) Perekaman dan Pengolahan Data
Kasus malaria suspek yang ditemukan saat melaksanakan
kegiatan penemuan penderita malaria secara aktif di
lapangan direkam pada Register Penderita Malaria Pada
Penemuan Penderita Secara Aktif di Lapangan (ACD).
Kasus
malaria
suspek
dengan
pengujian
mikroskopis/pemeriksaan cepat direkam dalam Register
Pemeriksaan Mikroskopis Malaria Pada Penemuan
Penderita Malaria Secara Aktif di Lapangan (ACD).
Data kasus malaria suspek yang telah direkam pada
Register Penderita Malaria Pada Penemuan Penderita
Secara Aktif di Lapangan (ACD) dan data kasus malaria
positif pada Register Pemeriksaan Mikroskopis Malaria Pada
Penemuan Penderita Malaria Secara Aktif di Lapangan
direkapitulasi dalam formulir Rekapitulasi Penderita Malaria
Pada Penemuan Penderita Malaria Secara Aktif di Lapangan
(ACD) setiap akhir minggu dan setiap akhir bulan (lampiran
10.4)
(3) Surveilans Dan Sistem Informasi Malaria Bersumber Data
Program Pengendalian Malaria
(a) Sumber Data
Sumber data surveilans rutin ini terdiri atas :
Distribusi kelambu pada kegiatan ante natal care,
bersumber dari laporan Cohort Ibu pada Program
Kesehatan Ibu Hamil
22

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Distribusi kelambu pada kegiatan imunisasi, bersumber


dari laporan Rekapitulasi Bayi Puskesmas Program
Imunisasi
Distribusi kelambu pada penderita malaria berobat,
bersumber dari catatan Kartu Penderita Malaria
Distribusi kelambu melalui kegiatan lainnya, bersumber
dari laporan hasil kegiatan, seperti : kampanye kelambu
masal, penanggulangan KLB.

(b) Variabel
Variabel perekaman data program pengendalian malaria
terdiri atas distribusi kelambu masing-masing wilayah (desa)
dari berbagai program terkait (ante natal care, Imunisasi, KIA
dan lain sebagainya)
(c) Perekaman dan Pengolahan Data
Data jumlah kelambu yang didistribusikan pada pelaksaaan
kegiatan pengendalian malaria direkam dan dikompilasi
kedalam formulir Rekapitulasi Data Program Malaria
Puskesmas (Fasilitas Pelayanan Kesehatan) (contoh
lampiran 10.5)
(d) Analisis
Cakupan penduduk yang menggunakan kelambu
menurut desa/kelurahan pertahun.
Cakupan penduduk yang menggunakan kelambu dalam
kerangka menurunkan risiko penularan malaria, dianalisis
bersama dengan cakupan penyemprotan insektisida,
cakupan pengobatan massal dan perbaikan kegiatan
masyarakat yang berisiko penularan malaria.
(4) Surveilans dan Sistem Informasi Malaria Bersumber Data
Logistik Obat
(a) Sumber Data
Sumber data surveilans rutin ini adalah Laporan
Penggunaan Obat Malaria di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(b) Variabel
Variabel perekaman Data Logistik Obat Malaria terdiri atas
penerimaan, pemanfaatan dan sisa
(c) Perekaman dan Pengolahan Data

23

Data logistik obat malaria direkam dan dikompilasi kedalam


formulir Rekapitulasi Data Program Malaria Puskesmas
(Fasilitas Pelayanan Kesehatan) (contoh lampiran 10.5)
(d) Analisis
Monitoring penerimaan, pemanfaatan dan sisa obat berkala
bulanan dan tahunan pada masing-masing fasilitas
pelayanan kesehatan
Jumlah obat yang dimanfaatkan dibandingkan dengan
cakupan pengobatan

(5) Surveilans Dan Sistem Informasi Malaria Berdasarkan Hasil


Pengamatan Vektor Malaria
Daerah
pada
tahap
pemberantasan,
melaksanakan
pengamatan vektor di seluruh wilayah dengan menetapkan titiktitik pengamatan (sentinel) yang ditetapkan oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota
(a) Sumber Data
Sumber data pengamatan vektor adalah pengukuran vektor
yang dilaksanakan pada lokasi-lokasi pengamatan yang
telah ditentukan berdasarkan riwayat kejadian KLB atau
tingginya kejadian malaria.
(b) Variabel
Variabel perekaman data pengamatan vektor adalah ratarata kepadatan vektor (nyamuk dan jentik) per bulan pada
wilayah dusun/desa (kelurahan) atau atas dasar lokasi
pengamatan vektor yang telah ditentukan
(c) Perekaman dan Pengolahan Data
Data pengamatan vektor direkam dan dikompilasi kedalam
formulir Rekapitulasi Pengamatan Vektor Puskesmas
(contoh lampiran 10.7)
(d) Analisis
Perkembangan kepadatan vektor menurut bulan dan
lokasi pengamatan vektor
Perkembangan kepadatan vektor menurut bulan dan
wilayah Puskesmas
Peta kepadatan vektor menurut wilayah pengamatan
vektor

24

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

(6) Surveilans Migrasi


Tidak dilaksanakan di daerah pada tahap pemberantasan
b. Analisis
Data yang diperoleh dari pelaksanaan surveilans rutin
dimanfaatkan untuk menyediakan data-informasi indikator kinerja
program dan untuk keperluan SKD-KLB malaria
c. Pelaporan
(1) Puskesmas, RS dan fasilitas pelayanan kesehatan yang telah
merekam dan merekapitulasi Data Surveilans Rutin, segera
mengirimkannya ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya. Beberapa
daerah, Fasilitas Pelayanan Kesehatan bukan Rumah Sakit
mengirimkan laporan ke Puskesmas dimana Fasilitas
Pelayanan Kesehatan berada.
(2) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengkompilasi data
Rekapitulasi Data Surveilans Rutin, dan segera mengirimkannya
ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Pusat (Ditjen PP&PL,
Kementerian Kesehatan), selambat-lambatnya tanggal 10 bulan
berikutnya. Pengiriman laporan dilakukan melalui e-mail dalam
bentuk file excel dan file scanning laporan resmi yang sudah
ditandatangani oleh pejabat berwenang.
(3) Dinas Kesehatan Provinsi mengkompilasi data Rekapitulasi
Data Surveilans Rutin, dan segera mengirimkannya ke Pusat
(Ditjen PP&PL, Kementerian Kesehatan), selambat-lambatnya
tanggal 15 bulan berikutnya. Pengiriman laporan dilakukan
melalui e-mail dalam bentuk file excel dan file scanning laporan
resmi yang sudah ditandatangani oleh pejabat berwenang.

25

Gambar
Alur Pelaporan Bulanan Data Penderita Malaria
Ditjen PP&PL,
Kementerian Kesehatan
Dinas Kesehatan
Provinsi

Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota

Rumah Sakit

Puskesmas

Fasilitas
Pelayanan
Kesehatan
lain

d. Penyebarluasan Informasi
Data dan analisis data surveilans rutin diinformasikan pada
berbagai pihak yang memerlukan agar dapat digunakan dalam
perencanaan, pengendalian dan monitoring evaluasi program
pengendalian malaria, SKD-KLB, penelitian dan pengembangan
Minimal, Puskesmas/RS, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas
Kesehatan Provinsi dan Ditjen PP&PL, Kementerian Kesehatan
menerbitkan :
(1) Tabel Analisis Indikator Malaria Bulanan dan informasi lain
yang diperlukan secara periodik bulanan, antara lain meliputi
(a) % jumlah kasus malaria suspek yang diperiksa RDT atau
mikroskopis per jumlah kasus malaria suspek (% sediaan
darah per bulan)
(b) jumlah kasus malaria positif per 1.000 kasus suspek
diperiksa dengan RDT atau mikroskopis (slide positivity rate
per bulan)
(c) % kasus malaria dg Plasmodium falsiparum per jumlah
kasus malaria positif (% Pfalsiparum per bulan)
(d) % kasus malaria positif <5 tahun per total kasus malaria
positif
(e) % kasus malaria positif ibu hamil per total kasus malaria
positif
(f) % kasus malaria positif perempuan per total kasus malaria
positif
(g) % jml kasus malaria positif rawat inap per total penderita
rawat inap
(h) % jml kasus malaria positif rawat inap meninggal per total
penderita rawat inap meninggal,
26

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

(i) curah hujan perbulan


(j) data kepadatan vektor perbulan
(contoh pada lampiran 1. Tabel Analisis, III.1. Tabel Analisis
Indikator Malaria Bulanan)
(2) Tabel Analisis Indikator Malaria Tahunan, Profil Malaria dan
informasi lain yang diperlukan secara periodik tahunan, antara
lain meliputi
(a) data jumlah penduduk,
(b) data jumlah penduduk di wilayah reseptif,
(c) jumlah kasus malaria suspek,
(d) jumlah kasus malaria suspek dengan RDT dan mikroskopis
(% sediaan darah tahunan),
(e) jumlah kasus malaria positif,
(f) jumlah kasus malaria positif ibu hamil,
(g) jumlah kasus malaria positif berumur <5 tahun,
(i) % jumlah kasus malaria positif per total jumlah kasus
malaria suspek diperiksa (dengan RDT+mikroskopis) (slide
positivity rate per tahun)
(j) % jumlah kasus malaria positif Plasmodium falsiparum per
jumlah kasus malaria positif (% Pfalsiparum per tahun),
(k) Annual parasit incidence (API) per total penduduk dan desa,
puskesmas, atau kabupaten/kota
(l) jumlah kasus malaria positif yang dirawat inap,
(m) jumlah kasus malaria positif yang dirawat inap meninggal
per 100.000 penduduk,
(n) jumlah laporan unit sumber data bulanan yang diterima
(kelengkapan laporan),
(o) jumlah laporan unit sumber data bulanan diterima tepat
waktu (ketepatan laporan)
(contoh pada lampiran 1. Tabel Analisis, III.2. Tabel Analisis
Indikator Malaria Tahunan)

2. Surveilans Khusus
Surveilans khusus terdiri dari jenis surveilans khusus (metode dan
format laporan), pelaporan data, dan penyebarluasan informasi
a. Jenis Surveilans, Metode dan Format Pelaporan
Daerah pada tahap pemberantasan, melaksanakan kegiatan
Surveilans Khusus, antara lain : Surveilans Pada Saat KLB, Survei
Vektor, Pemeriksaan Darah Massal (Mass Blood Survey),
Penemuan Penderita Demam Massal (Mass Fever Survey), Survei
27

Dinamika Penularan Malaria, Survei Pengetahuan, Sikap dan


Perilaku Masyarakat, Monitoring Efikasi Obat dan Resistensi Obat,
Monitoring Resisten Insektisida dan Kelambu Berinsektisida, serta
penelitian-penelitian
Tujuan, metode, sumber data dan variabel serta pelaporannya
adalah spesifik masing-masing jenis Surveilans Khusus, dan
dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah
dan permasalahannya

(1) Surveilans Pada Situasi KLB Malaria


Merupakan bagian dari penyelidikan dan penanggulangan KLB,
dan wajib dilaksanakan selama periode KLB. Setelah KLB
dinyatakan selesai, kegiatan surveilans kembali pada sistem
surveilans dalam keadaan normal
Kegiatan penyelidikan-penanggulangan dan surveilans selama
periode KLB adalah sebagai berikut :
(a) Puskesmas yang mengetahui adanya indikasi KLB malaria,
segera membuat laporan adanya KLB malaria kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota (laporan KLB 24 jam/W1)
Pada daerah tahap pemberantasan, indikasi KLB malaria
adalah terdapat peningkatan jumlah kasus malaria positif
pada wilayah dan periode waktu tertentu, atau adanya
peningkatan jumlah kematian karena malaria.
(b) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas
melaksanakan penyelidikan epidemiologi segera setelah
Laporan KLB 24 Jam/W1 diterima Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
Survei Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat dapat
dilaksanakan bersama dengan kegiatan penyelidikan
epidemiologi
(c) Melaksanakan berbagai upaya pengobatan penderita dan
pengendalian penularan malaria, disesuaikan dengan situasi
dan kebutuhan penanggulangan KLB, antara lain :
Mendirikan pos-pos pelayanan kesehatan dekat
dengan pemukiman penduduk (metode Penemuan
Penderita Demam Massal/MFS), terutama pada lokasi
yang diduga terjadi penularan yang tinggi
Pemeriksaan Darah Massal (MBS), terutama pada
wilayah-wilayah KLB dengan attack rate dan atau
case fatality rate yang tinggi
28

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Mendistribusikan kelambu berinsektisida,


Melaksanakan Penyemprotan Insektisida (IRS)

(d) Melaksanakan surveilans


Secara umum, surveilans selama periode KLB malaria
adalah memanfaatkan data yang diperoleh saat
melaksanakan kegiatan penanggulangan KLB malaria,
antara lain,
data penderita berdasarkan kegiatan Penemuan
Penderita Malaria di Pos-pos Kesehatan dan atau
Fasilitas Kesehatan Lain;
data penderita berdasarkan kegiatan Pemeriksaan
Darah Massal (MBS),
jumlah
rumah/keluarga
terlindungi
menurut
dusun/desa
KLB
sebagai
hasil
kegiatan
penyemprotan rumah (IRS), distribusi kelambu,
perbaikan kegiatan masyarakat dan sebagainya
(e) Sesuai dengan kebutuhan penyelidikan dapat dilakukan
berbagai penyelidikan lebih luas :

Melakukan kajian jangkauan dan kualitas pelayanan


kesehatan dan pengaruhnya terhadap menculnya
KLB malaria
Melaksanakan Survei
Pengetahuan, Sikap dan
Perilaku Masyarakat, dan pengaruhnya terhadap
munculnya KLB malaria
Melaksanakan kajian kondisi lingkungan pemukiman,
curah hujan dan migrasi penduduk, dan pengaruhnya
terhadap munculnya KLB malaria, terutama untuk
mengetahui adanya lingkungan sebagai sumbersumber penularan
Melakukan survei dinamika penularan
Melaksanakan pengamatan dan survei vektor
Melaksanakan verbal otopsi

Kriteria KLB malaria pada daerah tahap pemberantasan, serta


tatacara pelaksanaan surveilans selama periode KLB malaria
disesuaikan dengan kondisi dan keperluan analisis KLB yang
terjadi. Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3
(2) Survei Vektor Penular Malaria
Merupakan kajian dan penelitian vektor penular malaria pada
suatu wilayah tertentu yang diduga telah terjadi penularan
malaria.
29

Daerah pada tahap pemberantasan melaksanakan survei vektor


sesuai kebutuhan berdasarkan analisis situasi malaria dan
pengamatan vektor, terutama pada daerah yang terjadi
peningkatan kasus malaria sangat tinggi atau terjadi KLB
malaria, daerah-daerah yang sering terjadi KLB, daerah dengan
angka kejadian malaria cukup tinggi dan tidak menunjukkan
adanya perbaikan dari waktu ke waktu.

(3) Penemuan Penderita Demam Massal (Mass Fever Survey)


Penemuan penderita demam massal adalah menemukan kasus
malaria positif diantara penduduk pada suatu wilayah tertentu
dengan cara memeriksa semua penderita demam suspek
malaria (kasus malaria suspek) pada suatu wilayah tertentu, dan
memastikan diagnosis malaria (jenis parasit) melalui
pemeriksaan mikroskopis atau pemeriksaan cepat (RDT).
Semua kasus malaria positif mendapat pengobatan standar.
Tujuan kegiatan Penemuan Penderita Demam Massal adalah
mengukur besarnya risiko penularan malaria di wilayah tertentu.
Kegiatan Penemuan Penderita Demam Massal pada daerah
tahap pemberantasan dilaksanakan pada wilayah yang diduga
terjadi
KLB
malaria,
terutama
sebagai
metode
pembuktian/konfirmasi terjadinya KLB malaria
(4) Pemeriksaan Darah Massal (Mass Blood Survey)
Pemeriksaan darah massal adalah menemukan dan mengobati
kasus malaria positif (simtomatis dan asimtomatis) diantara
penduduk pada wilayah tertentu dengan cara melakukan
pemeriksaan sediaan darah semua anggota masyarakat yang
berada pada wilayah tertentu dan dalam periode waktu terbatas.
Seseorang yang ditemukan parasit pada sediaan darahnya
adalah kasus malaria positif, dan setiap kasus malaria positif
mendapat pengobatan standar. Tujuan kegiatan Pemeriksaan
Darah Massal adalah menurunkan risiko penularan dengan
cepat pada suatu wilayah tertentu.
Daerah pada tahap pemberantasan, melaksanakan kegiatan
Pemeriksaan Darah Massal (MBS) pada :
(a) Wilayah desa/dusun endemis tinggi malaria, tetapi sebagian
besar penderita tidak menunjukkan gejala.
(b) Daerah yang sedang terjadi peningkatan jumlah penderita
malaria atau berjangkit KLB malaria
30

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

(c) Daerah yang sulit terjangkau pelayanan (remote area) di


wilayah endemis tinggi malaria.
(5) Survei Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat
Setiap wilayah mempunyai spesifikasi budaya dan perilaku
penduduk berisiko penularan malaria, dan oleh karena itu, perlu
melaksanakan survei Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
Masyarakat untuk mengetahui strategi pengendalian malaria
yang lebih tepat
Prioritas melaksanakan survei Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
Masyarakat didaerah pada tahap pemberantasan antara lain :
(a) Wilayah-wilayah tertentu dimana upaya pengendalian
malaria tidak menunjukkan perbaikan
(b) Wilayah-wilayah yang akan melaksanakan pengendalian
malaria

(6) Survei Dinamika Penularan Malaria


Survei Dinamika Penularan Malaria adalah kajian menyeluruh
dan sistematis terhadap perubahan tingkat dampak penularan
malaria di suatu wilayah agar dapat diperoleh cara-cara
pengendalian malaria yang tepat.
Di daerah tahap pemberantasan, prioritas Survei Dinamika
Penularan Malaria adalah pada wilayah-wilayah dengan
penularan malaria tinggi dan tidak menunjukkan perbaikan
setelah dilaksanakan berbagai upaya pengendalian malaria,
atau daerah yang akan menerapkan upaya pengendalian
malaria dimana informasi epidemiologi dan atau cara-cara
pengendalian yang tepat belum diketahui dengan baik.

31

(7)
a.

Surveillans Obat dan Insektisida


Efikasi Obat
Daerah tahap pemberantasan melaksanakan Monitoring
Efikasi Obat sesuai dengan penetapan daerah Sentinel
Monitoring Efikasi Obat yang yang ditentukan secara nasional
oleh Kementerian Kesehatan
Daerah dan atau lembaga tertentu dapat melaksanakan
Monitoring Efikasi Obat yang tetap menjadi bagian integral
dari kegiatan Monitoring Efikasi Obat Nasional

b.

Resistensi Obat

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

(8)

Penelitian
Hasil penelitian malaria wajib dilaporkan dan dimanfaatkan
dalam analisis surveilans malaria, baik lokal, regional maupun
nasional

b. Analisis
Data surveilans khusus dikompilasi, dilaporkan dan dimanfaatkan
dalam analisis surveilans malaria, baik lokal, regional maupun
nasional, sesuai dengan metode surveilans dan desain analisis
pada masing-masing surveilans khusus, baik menurut waktu,
tempat dan kelompok masyarakat
Sasaran. metode dan desain analisis data Surveilans Khusus lihat
pada lampiran masing-masing Surveilans Khusus
c. Pelaporan
(1) Pelaksana surveilans khusus membuat laporan hasil
pelaksanaan kegiatan Surveilans Khusus, dan
segera
mengirimkannya ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
selambat-lambatnya 1 bulan sejak pelaksanaan Surveilans
Khusus tersebut selesai.
(2) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengkompilasi Data
Surveilans Khusus dan segera mengirimkannya ke Dinas
Kesehatan Provinsi dan Pusat (Ditjen PP&PL, Kementerian
Kesehatan
(3) Dinas Kesehatan Provinsi mengkompilasi Data Surveilans
Khusus tersebut dan segera mengirimkannya ke Pusat (Ditjen
PP&PL, Kementerian Kesehatan)
d. Penyebarluasan Informasi
Data dan analisis data surveilans khusus diinformasikan pada
berbagai pihak yang memerlukan agar dapat digunakan dalam
perencanaan, pengendalian dan monitoring evaluasi program
pengendalian malaria, SKD-KLB, penelitian dan pengembangan

3. Data dan Informasi Indikator Kinerja Program


Surveilans untuk perencanaan, pelaksanaan dan monitoring evaluasi
program pengendalian malaria, atau disebut surveilans untuk
33

manajemen adalah surveilans dan sistem informasi malaria terhadap


indikator kinerja program pengendalian malaria
Indikator kinerja utama program pengendalian malaria yang wajib
dilaksanakan pemantauan di daerah tahap pemberantasan adalah:
a.API
berdasarkan
analisis
menurut
kabupaten,
Puskesmas/kecamatan dan desa/kelurahan
b. SPR (slide positivity rate) berdasarkan analisis menurut
kabupaten/kota sebagai bahan untuk menentukan status tahapan
eliminasi
c. Cakupan pengobatan menurut desa/kelurahan, menurut Puskesmas
dan kabupaten/kota
d. Cakupan konfirmasi mikroskopis/RDT/PCR menurut Puskesmas
dan kabupaten/kota
e. Error rate pemeriksaan mikroskopis, berdasarkan pemeriksaan
ulang terhadap hasil pemeriksaan mikroskopis malaria positif
(100%) dan hasil pemeriksaan mikroskopis malaria negatif (5%).
f. Cakupan pencegahan (IRS atau kelambu/LLINs) menurut
desa/dusun, Puskesmas dan kabupaten/kota

4. SKD KLB
Sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa malaria (SKD-KLB
Malaria) merupakan sistem kewaspadaan dini terhadap KLB malaria
beserta faktor faktor yang mempengaruhinya dengan menerapkan
teknologi surveilans epidemiologi dan dimanfaatkan untuk
meningkatkan sikap tanggap kesiapsiagaan, upaya-upaya dan
tindakan penanggulangan KLB malaria yang cepat dan tepat 4. SKDKLB malaria merupakan salah satu pilar penting program
penanggulangan KLB malaria.
Pada daerah tahap pemberantasan, SKD-KLB malaria dilaksanakan
pada semua wilayah, terutama wilayah yang sering terjadi peningkatan
kasus malaria atau KLB malaria, fokus malaria aktif, wilayah reseptif
malaria dan wilayah vulnerabel malaria.
Secara umum, metode SKD-KLB malaria di daerah pada tahap
pemberantasan, tidak berbeda dengan tahap lain.
(1) Kajian epidemiologi secara terus menerus dan sistematis terhadap
perkembangan penyakit malaria, riwayat KLB malaria dan kondisi
4

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 042/MENKES/SK/I/2007 tentang Pedoman


Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) dan Penanggulangan Kejadian Luar
Biasa (KLB) Penyakit Malaria

34

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

lingkungan dan masyarakat yang merupakan faktor risiko


terjadinya KLB agar dapat menentukan adanya daerah atau
kelompok masyarakat yang rentan terjadinya KLB malaria, yaitu
wilayah yang sering terjadi peningkatan kasus malaria, fokus-fokus
malaria aktif, wilayah reseptif malaria dan wilayah vulnerabel
malaria.
(2) Memberikan peringatan pada pengelola program malaria, program
terkait lainnya, sektor terkait dan masyarakat tentang adanya
daerah atau kelompok masyarakat yang rentan terjadinya KLB
malaria agar meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan
terhadap munculnya KLB malaria
(3) Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap
munculnya KLB malaria, terutama di Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, Puskesmas, rumah sakit dan fasilitas kesehatan
lainnya serta masyarakat di daerah rentan KLB malaria, yaitu :
(a) Melaksanakan berbagai upaya pencegahan terjadinya KLB
malaria (merupakan bagian dari program penanggulangan
KLB)
(b) Memperkuat
kesiapsiagaan
terhadap
kemungkinan
terjadinya KLB (merupakan bagian dari program
penanggulangan KLB)
(c) Melaksanakan sistem deteksi dini timbulnya kondisi rentan
terjadinya KLB dan respon, terutama dengan melaksanakan
pemantauan wilayah setempat rentan terjadinya KLB
malaria, terutama terhadap muncul atau berkembangnya
fokus malaria aktif, wilayah reseptif malaria, wilayah
vulnerabel malaria, curah hujan dan perubahan kegiatan
masyarakat yang berpotensi terjadinya KLB malaria
(d) Melaksanakan sistem deteksi dini adanya KLB dan respon,
terutama melaksanakan pemantauan wilayah setempat
kasus malaria di Puskesmas dan fasilitas pelayanan
kesehatan lain, serta mengembangkan sistem informasi
dugaan adanya KLB malaria dari masyarakat
(e) Melaksanakan penyelidikan dugaan KLB malaria, terutama
pada kejadian peningkatan kasus malaria, dan atau
peningkatan kasus malaria meninggal dengan faktor risiko
terjadinya KLB malaria. Dugaan adanya KLB malaria juga
bisa terjadi dengan ditemukannya satu kasus malaria pada
wilayah yang tidak pernah terdapat kasus malaria di wilayah
tersebut, tetapi memiliki faktor risiko terjadinya KLB malaria

35

SKD-KLB
Malaria
Kajian Epid
menentukan daerah/
masyarakat
rentan
terjadi KLB
malaria
1

Upaya
Pencegah
an KLB
Peringatan
kewaspadaan
pada daerah
yg rentan
KLB malaria
2

Sistem
Deteksi
Dini
Kondisi
Rentan
KLB
Sistem
Deteksi
Dini KLB
6

Kesiapsiagaan
menghadapi
KLB

Indentifikasi
rentan KLB di
masyarakat
PWS rentan
malaria
Penyelidikan
rentan KLB
Indentifikasi
KLB di
masyarakat
PWS kasus
malaria
Penyelidikan
- dugaan KLB

Secara lengkap, metode dan pelaksanaan SKD-KLB dapat dipelajari


pada lampiran 3a. SKD-KLB Malaria

36

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

B. Penyelenggaraan Surveilans Dan Sistem Informasi


Malaria Di Daerah Pada Tahap Pre-Eliminasi, Eliminasi
Dan Pemeliharaan
Penyelenggaraan surveilans dan sistem informasi malaria di daerah pada
tahap preeliminasi, eliminasi dan pemeliharaan malaria terdiri dari
surveilans rutin, surveilans khusus, data dan informasi indikator kinerja
program serta SKD KLB Malaria.

1. Surveilans Rutin
a. Jenis Surveilans
(1) Surveilans Dan Sistem Informasi Malaria Bersumber Data
Malaria Di Puskesmas Dan Rumah Sakit Serta Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Lainnya
(a) Sumber Data
Sumber data surveilans rutin ini adalah penderita yang
berobat ke Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan
yang didiagnosis sebagai penderita malaria. Penderita
malaria terdiri atas kasus malaria suspek, kasus malaria
suspek dengan pengujian mikroskopis/pemeriksaan cepat
dan kasus malaria positif
(b) Variabel
Variabel data kasus malaria suspek terdiri atas identitas
penderita, alamat desa/dusun, umur, jenis kelamin, tanggal
berobat, gejala, serta diagnosis kasus malaria suspek.
Variabel
data
kasus
malaria
dengan
pengujian
mikroskopis/pemeriksaan cepat terdiri atas identitas
penderita, alamat desa/dusun, umur, jenis kelamin, tanggal
berobat, tanggal mulai sakit, gejala, hasil pemeriksaan
mikroskopis (jenis parasit) dan atau pemeriksaan cepat, obat
yang diterima penderita serta variabel lain yang diperlukan
Variabel data kasus malaria positif terdiri atas identitas
penderita, tanggal mulai sakit, gejala, faktor risiko dan obat
yang diterima penderita serta variabel lain yang diperlukan
sesuai Kartu Penderita Malaria Positif (contoh lampiran 10.1)

(c) Perekaman dan Format Pelaporan


Kasus malaria suspek berobat ke Puskesmas/fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya direkam pada Register
37

Penderita Berobat di
Puskemas/fasilitas pelayanan
kesehatan lainnya dengan keterangan diagnosis kasus
malaria suspek
Kasus malaria suspek berobat ke Puskesmas atau fasilitas
pelayanan
kesehatan
dengan
pengujian
mikroskopis/pemeriksaan cepat direkam dalam Register
Pemeriksaan Mikroskopis Malaria di Puskesmas (PCD).
Kasus malaria positif berobat ke Puskesmas/fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya diwawancara dan direkam
datanya dalam Kartu Penderita Malaria Positif di
Puskesmas/fasilitas pelayanan kesehatan lainnya (PCD)
Data kasus malaria suspek pada Register Penderita Berobat
di Puskesmas/fasilitas pelayanan kesehatan lainnya (PCD)
dan data kasus malaria positif pada Register Pemeriksaan
Mikroskopis Malaria Puskesmas direkapitulasi dalam formulir
Rekapitulasi Penderita Malaria Klinik Puskesmas/fasilitas
pelayanan kesehatan (PCD) setiap akhir minggu dan setiap
akhir bulan (lampiran 10.4)
Data penderita malaria positif yang direkam pada Kartu
Penderita Malaria Positif (lampiran 10.1), kemudian dihimpun
dalam
Register Harian Penderita Malaria di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan (contoh lampiran 10.3) dan kemudian
direkapitulasi dalam formulir Rekapitulasi Penderita Malaria
(lampiran 10.4)

Alur Perekaman dan Pengolah Data Malaria


Berdasarkan Penemuan Penderita di Puskesmas
Tahap Preeliminasi, Eliminasi dan Pemeliharaan
Kasus Malaria Suspek
di Puskesmas
Rujuk Pemeriksaan
Mikroskopis
Kasus Malaria Positif

Rekam dalam Register


Penderita Berobat
Puskesmas (PCD)
Rekam dalam Register
Pemeriksaan Mikroskopis
Puskesmas (PCD)
Rekam dengan Kartu Penderita Malaria Positif (PCD)
Rekam Pada Register Harian
penderita Malaria (PCD)
Rekapitulasi Penderita
Malaria Puskesmas (PCD)

38

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

(2) Surveilans Dan Sistem Informasi Malaria Bersumber Data


Penemuan Penderita Malaria Secara Aktif di Lapangan
(Active Case Detection)
Penemuan Penderita Malaria Secara Aktif di Lapangan (ACD)
adalah kunjungan secara aktif dan berkala 2-4 minggu sekali ke
setiap rumah penduduk untuk menemukan dan mengobati
penderita demam dengan malaria positif (kasus malaria positif).
Kegiatan Penemuan Kasus Malaria Secara Aktif di Lapangan
(ACD) menjadi salah satu cara pengendalian malaria pada
tahap preeliminasi, dan eliminasi, terutama di fokus malaria
aktif, dimana upaya pengendalian dengan penemuan penderita
malaria pasif di Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan
lain tidak efektif menurunkan risiko penularan malaria

(a) Sumber Data


Sumber data surveilans ini adalah penderita malaria yang
ditemukan pada saat kunjungan dari rumah ke rumah atau
yang berkunjung ke pos-pos pelayanan kesehatan yang
dilaksanakan dalam rangka kegiatan Penemuan Penderita
Malaria Secara Aktif di Lapangan. Penderita malaria adalah
seseorang yang didiagnosis oleh petugas sebagai penderita
malaria. Penderita malaria terdiri dari kasus malaria suspek,
kasus
malaria
suspek
dengan
pemeriksaan
mikroskopis/pemeriksaan cepat, dan kasus malaria positif
(b) Variabel
Variabel data kasus malaria suspek terdiri atas identitas
penderita, alamat desa/dusun, umur, jenis kelamin, tanggal
berobat, gejala, serta diagnosis kasus malaria suspek serta
status penemuan penderita secara aktif (ACD).
Variabel
data
kasus
malaria
dengan
pengujian
mikroskopis/pemeriksaan cepat terdiri atas identitas
penderita, alamat desa/dusun, umur, jenis kelamin, tanggal
berobat, tanggal mulai sakit, gejala, hasil pemeriksaan
mikroskopis (jenis parasit) dan atau pemeriksaan cepat, obat
yang diterima penderita serta variabel lain yang diperlukan,
serta status penemuan penderita secara aktif (ACD). (contoh
lampiran 10.1)
Variabel data kasus malaria positif terdiri atas identitas
penderita, tanggal mulai sakit, gejala, faktor risiko dan obat
yang diterima penderita serta variabel lain yang diperlukan,
serta status penemuan penderita secara aktif (ACD). sesuai
Kartu Penderita Malaria Positif (contoh lampiran 10.1)
39

(c) Perekaman dan Pengolahan Data


Kasus malaria suspek yang ditemukan pada saat kunjungan
rumah direkam pada Register Penderita Malaria Penemuan
Penderita Malaria Secara Aktif (ACD) dengan keterangan
diagnosis kasus malaria suspek
Kasus malaria suspek tersebut yang dirujuk dan diperiksa
dengan pengujian mikroskopis/pemeriksaan cepat direkam
dalam Register Pemeriksaan Mikroskopis Malaria Pada
Penemuan Penderita Malaria Secara Aktif di Lapangan
(ACD).
Kasus malaria positif yang ditemukan diwawancara dan
direkam datanya dalam Kartu Penderita Malaria Positif Pada
Penemuan Penderita Secara Aktif di Lapangan (ACD)
Data kasus malaria suspek pada Register Penderita Malaria
Pada Penemuan Penderita Malaria Secara Aktif di Lapangan
(ACD) dan data kasus malaria positif pada Register
Pemeriksaan Mikroskopis Malaria Pada Penemuan
Penderita malaria Secara Aktif di Lapangan (ACD)
direkapitulasi dalam formulir Rekapitulasi Penderita Malaria
Pada Penemuan Penderita Malaria Secara Aktif di Lapangan
(ACD) setiap akhir minggu dan setiap akhir bulan (lampiran
10.4)
Data penderita malaria positif yang direkam pada Kartu
Penderita Malaria Positif (lampiran 10.1), dihimpun dalam
Register Harian Penderita Malaria Pada Penemuan
Penderita Secara Aktif di Lapangan (contoh lampiran 10.3)
dan kemudian direkapitulasi dalam formulir Rekapitulasi
Penderita Malaria dengan kode ACD (lampiran 10.4)

40

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Alur Perekaman dan Pengolah Data Malaria


Berdasarkan Penemuan Penderita di Lapangan
Tahap Preeliminasi, Eliminasi dan Pemeliharaan
Kasus Malaria Suspek
di Lapangan
Rujuk Pemeriksaan
Mikroskopis
Kasus Malaria Positif

Rekam dalam Register


Penderita Malaria ACD
Rekam dalam Register
Pemeriksaan Mikroskopis
di Lapangan (ACD)
Rekam dengan Kartu Penderita Malaria Positif (ACD)
Rekam Pada Register Harian
penderita Malaria (ACD)
Rekapitulasi Penderita
Malaria Puskesmas (ACD)

(d) Analisis
Secara umum, analisis data Penemuan Penderita Secara
Aktif di Lapangan sama dengan analisis data bersumber
data Penemuan Penderita Malaria Di Puskesmas Dan
Rumah Sakit Serta Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya

(3) Surveilans dan Sistem Informasi Malaria Bersumber Data


Program Pengendalian Malaria
(a) Sumber Data
Sumber data surveilans rutin ini terdiri atas :
Distribusi kelambu pada kegiatan ante natal care,
bersumber dari laporan Cohort Ibu pada program
Kesehatan Ibu Hamil
Distribusi kelambu pada kegiatan imunisasi, bersumber
dari laporan Rekapitulasi Bayi Puskesmas Program
Imunisasi
Distribusi kelambu pada penderita malaria berobat,
bersumber dari catatan pada Kartu Penderita Malaria
Distribusi kelambu melalui kegiatan lainnya, bersumber
dari laporan hasil kegiatan, seperti : kampanye kelambu
masal, penanggulangan KLB.
(b) Variabel
Variabel perekaman data program pengendalian malaria
terdiri atas distribusi kelambu masing-masing wilayah (desa)
41

dari berbagai program terkait (ante natal care, Imunisasi, KIA


dan lain sebagainya)
(c) Perekaman dan Pengolahan Data
Data jumlah kelambu yang didistribusikan dalam
pelaksanaan program pengendalian malaria, direkam dan
dikompilasi kedalam formulir Rekapitulasi Data Program
Malaria Puskesmas (Fasilitas Pelayanan Kesehatan) (contoh
lampiran 10.5)
(d) Analisis
Cakupan penduduk yang menggunakan kelambu
menurut karakteristik wilayah berdasarkan dusun (API),
fokus malaria aktif, wilayah-wilayah reseptif dan wilayah
berisiko lainnya pertahun
Cakupan penduduk yang menggunakan kelambu dalam
kerangka menurunkan risiko penularan malaria, dianalisis
bersama dengan cakupan penyemprotan insektisida,
cakupan pengobatan massal dan perbaikan kegiatan
masyarakat yang berisiko penularan malaria.

(4) Surveilans Dan Sistem Informasi Malaria Bersumber Data


Logistik Obat
(a) Sumber Data
Sumber data surveilans rutin ini adalah Laporan
Penggunaan Obat di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
(b) Variabel
Variabel perekaman Data Logistik Obat Malaria terdiri atas
penerimaan, pemanfaatan dan sisa
(c) Perekaman dan Format Pelaporan
Data logistik obat malaria direkam dan dikompilasi kedalam
formulir Rekapitulasi Data Program Malaria Puskesmas
(Fasilitas Pelayanan Kesehatan) (contoh lampiran 10.5)

(d) Analisis
Analisis data untuk memonitor penerimaan, pemanfaatan
dan sisa obat malaria secara berkala bulanan dan tahunan
pada
masing-masing
Puskesmas/fasilitas
pelayanan
kesehatan

42

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Analisis juga dilakukan pada jumlah obat yang dimanfaatkan


dibandingkan dengan cakupan pengobatan menurut
Puskesmas dan kabupaten/kota

(5) Surveilans dan Sistem Informasi Malaria Berdasarkan Hasil


Pengamatan Vektor Malaria
Daerah pada tahap preeliminasi, eliminasi dan pemeiliharaan
melaksanakan pengamatan vektor, terutama di fokus malaria
aktif dan atau sering terjadi KLB malaria, wilayah reseptif dan
wilayah vulnerabel malaria karena banyaknya kasus impor dan
migrasi, dengan menetapkan titik-titik pengamatan (sentinel)
yang ditetapkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota
(a) Sumber Data
Sumber data pengamatan vektor adalah pengukuran
kepadatan vektor yang dilaksanakan pada lokasi-lokasi
pengamatan yang telah ditentukan dinas kesehatan
kabupaten/kota.
(b) Variabel
Variabel perekaman data pengamatan vektor adalah ratarata kepadatan vektor (nyamuk dan jentik) per bulan dan
wilayah dusun/desa (kelurahan) atau atas dasar lokasi
pengamatan vektor yang telah ditentukan
(c) Perekaman dan Pengolahan Data
Data pengamatan vektor direkam dan dikompilasi kedalam
formulir Rekapitulasi Pengamatan Vektor Puskesmas
(contoh lampiran 10.7)
(d) Analisis
Perkembangan kepadatan vektor menurut bulan dan
lokasi pengamatan vektor
Perkembangan kepadatan vektor menurut bulan dan
wilayah Puskesmas
Peta kepadatan vektor menurut wilayah pengamatan
vektor

(6) Surveilans Migrasi


Surveilans migrasi adalah memantau besarnya ancaman atau
risiko terjadinya penularan malaria yang disebabkan karena
tingginya jumlah penduduk migrasi dari daerah endemis malaria
ke wilayah-wilayah reseptif malaria, mendeteksi adanya
43

penularan malaria dan melakukan tindakan penanggulangan


yang cepat, rasional, efektif dan efisien.
Surveilans migrasi dilaksanakan pada daerah pada tahap
preeliminasi, eliminasi malaria dan tahap pemeliharaan
(a) Sumber Data
Sumber data surveilans migrasi adalah :
Data wilayah reseptif yang memungkinkan menjadi tujuan
penduduk migrasi
Data jumlah penduduk migrasi dari daerah endemis
malaria ke wilayah-wilayah reseptif malaria, antara lain
tempat usaha, pertambangan, dan sebagainya,
berdasarkan informasi dari berbagai pihak
Data penapisan penduduk migrasi dari daerah endemis
malaria yang positif malaria (kasus malaria positif),
terutama di wilayah-wilayah reseptif yang menjadi tujuan
penduduk migrasi. Penapisan penduduk migrasi dapat
dilakukan dengan Pemeriksaan Darah Massal (MBS),
Penemuan Penderita Demam Massal (MFS) atau
melaksanakan pelayanan pengobatan pada lokasi ini.
Surveilans berbasis masyarakat di wilayah-wilayah
reseptif terhadap kemungkinan adanya penduduk migrasi
dari daerah endemis malaria, termasuk dengan hotel,
tempat penginapan, tempat kost dan sebagainya.
Penduduk migrasi dari daerah endemis malaria di
wilayah reseptif dilakukan pemeriksaan mikroskopis.
Data Penemuan Penderita Malaria di Puskesmas/fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya. Penderita malaria terdiri
dari kasus malaria indigenous dan kasus malaria impor,
dan perlu dilakukan penyelidikan lebih luas untuk
memastikan tidak adanya penularan setempat dan
mengurangi sumber-sumber penularan malaria.
(b) Variabel
Variabel perekaman data jumlah penduduk migrasi terdiri
atas jumlah penduduk migrasi berdasarkan daerahdaerah yang dikunjungi dan bulan kunjungan
Variabel penapisan malaria pada penduduk migrasi terdiri
atas jumlah penduduk migrasi diperiksa, kasus malaria
indigenous dan kasus malaria impor menurut wilayah
penularan dan bulan kejadian
Variabel data Penemuan Penderita Malaria di
Puskesmas/fasilitas pelayanan kesehatan lainnya sesuai
dengan variabel pada surveilans rutin bersumber data
Penemuan Penderita Malaria di Puskesmas/fasilitas
44

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

pelayanan kesehatan lainnya, dan variabel jumlah kasus


malaria impor dan kasus malaria indigenous
Variabel data Penemuan Penderita Malaria Secara Aktif
di Lapangan, Penemuan Penderita Demam Massal dan
Pemeriksaan Darah Massal, sesuai dengan masingmasing surveilans khusus tersebut dan variabel jumlah
kasus malaria impor dan kasus malaria indigenous .

(c) Perekaman dan Pengolahan Data


Data
penapisan
penduduk
migrasi
direkam
sebagaimana Pemeriksaan Darah Massal (MBS),
Pemeriksaan Demam Massal (MFS) dan laporan
kegiatan pelayanan pengobatan Puskesmas
Data Penemuan Penderita Malaria di Puskesmas
sesuai dengan surveilans rutin bersumber data
Penemuan Penderita Malaria di Puskesmas. Setiap
kasus malaria positif dilakukan wawancara dan
direkam dalam Kartu Penderita Malaria.
Data Penemuan Penderita Maria Secara Aktif di
Lapangan, Penemuan Penderita Demam massal dan
Pemeriksaan Darah Malaria direkam dan diolah
sesuai dengan masing-masing metode surveilans
khusus tersebut.
(d) Analisis
Perkembangan penduduk migrasi menurut bulan, asal
penularan (daerah endemik yang dikunjungi sebelum
sakit) dan lokasi kunjungan (daerah di daerah tahap pre
eliminasi, eliminasi dan pemeliharaan)
Perkembangan jumlah kasus impor menurut bulan
kejadian, umur, jenis kelamin dan lain sebagainya
Deteksi kasus malaria positif indigenous. Satu kasus
indigenous
perlu
perhatian
dan
penyelidikan
epidemiologi.
b. Analisis
Data yang diperoleh dari pelaksanaan surveilans rutin
dimanfaatkan untuk menyediakan data-informasi indikator kinerja
program dan untuk keperluan SKD-KLB malaria
c. Pelaporan
(1) Fasiltas Pelayanan Kesehatan yang mengetahui adanya
kejadian malaria atau dugaan adanya kejadian malaria di
tempat kerjanya, segera menginformasikannya kepada
Puskesmas dan atau Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dimana
penderita itu bertempat tinggal saat sakit.
45

(2) Puskesmas yang mengetahui adanya kejadian malaria positif


indigenous di wilayah kerjanya, segera melakukan penyelidikan
epidemiologi awal dan mengirimkan laporan adanya kejadian
malaria dengan menggunakan formulir laporan KLB 24 jam
(W1) ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
(3) Puskesmas, RS dan fasilitas pelayanan kesehatan yang telah
merekam dan merekapitulasi Data Surveilans Rutin, segera
mengirimkannya ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya, dengan
melampirkan hasil perekaman dalam formulir Register
Harian Malaria di Puskesmas/RS
(2) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengkompilasi data
Rekapitulasi Data Surveilans Rutin, dan segera mengirimkannya
ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Pusat (Ditjen PP&PL,
Kementerian Kesehatan), selambat-lambatnya tanggal 10 bulan
berikutnya. Pengiriman laporan dilakukan melalui e-mail dalam
bentuk excel dan scanning laporan resmi yang sudah
ditandatangani oleh pejabat berwenang, dengan melampirkan
daftar penderita pada
Register Harian Malaria Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota
(3) Dinas Kesehatan Provinsi mengkompilasi data Rekapitulasi
Data Surveilans Rutin, dan segera mengirimkannya ke Pusat
(Ditjen PP&PL, Kementerian Kesehatan), selambat-lambatnya
tanggal 15 bulan berikutnya. Pengiriman laporan dilakukan
melalui e-mail dalam bentuk excel dan scanning laporan resmi
yang sudah ditandatangani oleh pejabat berwenang, dengan
melampirkan daftar penderita pada Register Harian Malaria
Dinas Kesehatan Provinsi

46

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Gambar
Alur Pelaporan Bulanan Data Penderita Malaria
Ditjen PP&PL,
Kementerian Kesehatan
Dinas Kesehatan
Provinsi

Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota

Rumah Sakit

Puskesmas

Fasilitas
Pelayanan
Kesehatan
lain

c. Penyebarluasan Informasi
Data dan analisis data surveilans rutin diinformasikan pada
berbagai pihak yang memerlukan agar dapat digunakan dalam
perencanaan, pengendalian dan monitoring evaluasi program
pengendalian malaria, SKD-KLB, penelitian dan pengembangan
Minimal, Puskesmas/RS, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas
Kesehatan Provinsi dan Ditjen PP&PL, Kementerian Kesehatan
menerbitkan :
(1) Tabel Analisis Indikator Malaria Bulanan dan informasi lain
yang diperlukan secara periodik bulanan, antara lain meliputi
(a) % jumlah kasus malaria suspek yang diperiksa RDT atau
mikroskopis per jumlah kasus malaria suspek (% sediaan
darah per bulan)
(b) kasus malaria positif per jumlah kasus suspek diperiksa
dengan RDT atau mikroskopis (slide positivity rate per
bulan)
(c) % kasus malaria dg Plasmodium falsiparum per jumlah
kasus malaria positif (% Pfalsiparum per bulan)
(d) % kasus malaria positif <5 tahun per total kasus malaria
positif
(e) % kasus malaria positif ibu hamil per total kasus malaria
positif
(f) % kasus malaria positif perempuan per total kasus malaria
positif
(g) % jml kasus malaria positif rawat inap per total penderita
rawat inap
47

(h) % jml kasus malaria positif rawat inap meninggal per total
penderita rawat inap meninggal,
(i) curah hujan
(j) data kepadatan vektor
(contoh pada lampiran 1. Tabel Analisis, III.1. Tabel Analisis
Indikator Malaria Bulanan)
(2) Tabel Analisis Indikator Malaria Tahunan, Profil Malaria dan
informasi lain yang diperlukan secara periodik tahunan, antara
lain meliputi
(a) data jumlah penduduk,
(b) data jumlah penduduk di wilayah reseptif,
(c) jumlah kasus malaria suspek,
(d) jumlah kasus malaria suspek dengan RDT dan mikroskopis
(% sediaan darah tahunan),
(e) jumlah kasus malaria positif,
(f) jumlah kasus malaria positif ibu hamil,
(g) jumlah kasus malaria positif berumur <5 tahun,
(i) % jumlah kasus malaria positif per total jumlah kasus
malaria suspek diperiksa (dengan RDT+mikroskopis) (slide
positivity rate per tahun)
(j) % jumlah kasus malaria positif Plasmodium falsiparum per
jumlah kasus malaria positif (% Pfalsiparum per tahun),
(k) Annual parasit incidence (API) per total penduduk dan desa,
puskesmas, atau kabupaten/kota
(l) jumlah kasus malaria positif yang dirawat inap,
(m) jumlah kasus malaria positif yang dirawat inap meninggal
per 100.000 penduduk,
(n) jumlah laporan unit sumber data bulanan yang diterima
(kelengkapan laporan),
(o) jumlah laporan unit sumber data bulanan diterima tepat
waktu (ketepatan laporan)
(contoh pada lampiran 1. Tabel Analisis, III.2. Tabel Analisis
Indikator Malaria Tahunan)

2. Surveilans Khusus
a. Jenis Surveilans, Metode dan Format Laporan
Daerah pada tahap preeliminasi, eliminasi dan pemeliharaan,
melaksanakan kegiatan Surveilans Khusus, antara lain : Surveilans
Pada Saat KLB, Survei Vektor, Penemuan Penderita Malaria
Secara Aktif (ACD), Pemeriksaan Darah Massal (Mass Blood
Survey), Penemuan Penderita Demam Massal (Mass Fever
48

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Survey), Survei Dinamika Penularan Malaria, Survei KAP,


Monitoring Efikasi Obat, Monitoring Resistensi Insektisida dan
penelitian-penelitian survei untuk
Tujuan, metode, sumber data dan variabel serta pelaporannya
adalah spesifik masing-masing jenis Surveilans Khusus, dan
dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah
dan permasalahannya
(1) Surveilans Pada Situasi KLB malaria
Merupakan bagian dari penyelidikan dan penanggulangan KLB,
dan wajib dilaksanakan selama periode KLB. Setelah KLB
dinyatakan selesai, kegiatan surveilans kembali pada sistem
surveilans dalam keadaan normal
Kegiatan penyelidikan-penanggulangan dan surveilans selama
periode KLB adalah sebagai berikut :
(a) Puskesmas yang mengetahui adanya indikasi KLB malaria,
segera membuat laporan adanya KLB malaria kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota (laporan KLB 24 jam/W1) diikuti
dengan penyelidikan epidemiologi
Pada daerah pada tahap pre eliminasi dan tahap
eliminasi, indikasi KLB malaria adalah jika ditemukan
adanya peningkatan jumlah kasus malaria positif
indigenous,
Pada daerah pada tahap pemeliharaan, indikasi KLB
malaria jika ditemukan satu atau lebih penderita
malaria positif indigenous
(b) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas
melaksanakan penyelidikan epidemiologi segera setelah
Laporan KLB 24 Jam/W1 diterima Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
Survei Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Masyarakat dapat
dilaksanakan bersama dengan kegiatan penyelidikan
epidemiologi
(c) Melaksanakan berbagai upaya pengobatan penderita dan
pengendalian penularan malaria, disesuaikan dengan situasi
dan kebutuhan penanggulangan KLB, antara lain :
Mendirikan pos-pos pelayanan kesehatan dekat
dengan pemukiman penduduk (metode Penemuan
Penderita Demam Massal/MFS), terutama pada lokasi
yang diduga terjadi penularan yang tinggi
49

Pemeriksaan Darah Massal (MBS), terutama pada


wilayah-wilayah KLB dengan attack rate dan atau
case fatality rate yang tinggi
Mendistribusikan kelambu berinsektisida,
Melaksanakan Penyemprotan Insektisida (IRS)

(d) Melaksanakan surveilans


Secara umum, surveilans selama periode KLB malaria
adalah memanfaatkan data yang diperoleh saat
melaksanakan kegiatan penanggulangan KLB malaria,
antara lain,
data penderita berdasarkan kegiatan Penemuan
Penderita Malaria di Pos-pos Kesehatan dan atau
Fasilitas Kesehatan Lain;
data penderita berdasarkan kegiatan Pemeriksaan
Darah Massal (MBS),
jumlah
rumah/keluarga
terlindungi
menurut
dusun/desa
KLB
sebagai
hasil
kegiatan
penyemprotan rumah (IRS), distribusi kelambu,
perbaikan kegiatan masyarakat dan sebagainya
(e) Sesuai dengan kebutuhan penyelidikan dapat dilakukan
berbagai penyelidikan lebih luas :

Melakukan kajian jangkauan dan kualitas pelayanan


kesehatan dan pengaruhnya terhadap KLB malaria
Melaksanakan Survei Pengetahuan, Sikap Dan
Perilaku Masyarakat, dan pengaruhnya terhadap
penularan malaria dan KLB malaria
Melaksanakan kajian kondisi lingkungan pemukiman,
curah hujan dan migrasi penduduk, dan pengaruhnya
terhadap KLB malaria, terutama untuk mengetahui
adanya
lingkungan
sebagai
sumber-sumber
penularan
Melakukan survei dinamika penularan
Melaksanakan pengamatan dan survei vektor
Melaksanakan verbal otopsi

Kriteria KLB malaria pada daerah tahap preeliminasi, eliminasi


dan pemeliharaan, serta tatacara
pelaksanaan surveilans
selama periode KLB malaria disesuaikan dengan kondisi dan
keperluan analisis KLB yang terjadi. Selengkapnya dapat dilihat
pada lampiran 3

50

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

(2) Survei Vektor Penular Malaria


Merupakan kajian dan penelitian vektor penular malaria pada
suatu wilayah tertentu yang diduga telah terjadi penularan
malaria.
Daerah pada tahap preeliminasi, eliminasi dan pemeliharaan
melaksanakan survei vektor sesuai kebutuhan berdasarkan
analisis situasi malaria dan pengamatan vektor, terutama pada
wilayah reseptif malaria, fokus malaria aktif, terutama jika upaya
pengendalian malaria tidak menunjukkan perbaikan dari waktu
ke waktu

(3) Penemuan Penderita Demam Massal (Mass Fever Survey)


Penemuan Penderita Demam Massal adalah menemukan kasus
malaria positif diantara penduduk pada suatu wilayah tertentu
dengan cara memeriksa semua penderita demam suspek
malaria (kasus malaria suspek) pada suatu wilayah tertentu, dan
memastikan diagnosis malaria (jenis parasit) melalui
pemeriksaan mikroskopis atau pemeriksaan cepat (RDT).
Semua kasus malaria positif mendapat pengobatan standar.
Tujuan kegiatan Penemuan Penderita Demam Massal adalah
mengukur besarnya risiko penularan malaria di wilayah tertentu.
Daerah tahap preeliminasi, eliminasi dan pemeliharaan,
melaksanakan kegiatan Penemuan Penderita Demam Massal
(MFS) untuk :
(a) memastikan tidak terjadinya penularan setempat malaria
pada suatu wilayah reseptif malaria
(b) membuktikan bahwa desa/dusun tertentu yang telah
mencapai kondisi penularan rendah adalah benar
menunjukkan penularan malaria rendah
(c) membuktikan adanya KLB malaria

(4) Pemeriksaan Darah Massal (Mass Blood Survey)


Pemeriksaan darah massal adalah menemukan dan mengobati
kasus malaria positif (simtomatis dan asimtomatis) diantara
penduduk pada wilayah tertentu dengan cara melakukan
pemeriksaan sediaan darah semua anggota masyarakat yang
berada pada wilayah tertentu dan dalam periode waktu terbatas.
Seseorang yang ditemukan parasit pada sediaan darahnya
adalah kasus malaria positif, dan setiap kasus malaria positif
51

mendapat pengobatan standar. Tujuan kegiatan Pemeriksaan


Darah Massal adalah menurunkan risiko penularan dengan
cepat pada suatu wilayah tertentu.
Daerah pada tahap preeliminasi, eliminasi dan pemeliharaan
melaksanakan kegiatan Pemeriksaan Darah Massal (MBS)
untuk :
(a) Penanggulangan KLB malaria
(b) Menemukan dan mengobati penderita malaria positif
(simtomatis dan asimtomatis) pada fokus malaria aktif untuk
menurunkan besarnya risiko penularan
(c) Menemukan dan mengobati penderita malaria positif
(simtomatis dan asimtomatis) pada wilayah reseptif dengan
dugaan terjadi penularan setempat yang disebabkan karena
tingginya migrasi penduduk dari daerah endemis malaria,
agar penularan malaria dapat dihentikan

(5) Survei Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat


Setiap wilayah mempunyai spesifikasi budaya dan perilaku
penduduk berisiko penularan malaria, dan oleh karena itu, perlu
melaksanakan survei Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
Masyarakat untuk mengetahui strategi pengendalian malaria
yang lebih tepat
Prioritas melaksanakan survei Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
Masyarakat di daerah pada tahap preeliminasi, eliminasi dan
pemeliharaan, antara lain :
(a) Wilayah-wilayah tertentu dimana upaya pengendalian
malaria tidak menunjukkan perbaikan
(b) Wilayah-wilayah
yang
akan
melaksanakan
upaya
pengendalian malaria
(c) Wilayah-wilayah dengan risiko penularan tinggi karena
merupakan wilayah reseptif malaria dan tingginya migrasi
penduduk dari daerah endemis malaria

(6) Survei Dinamika Penularan Malaria


Survei Dinamika Penularan Malaria adalah kajian menyeluruh
dan sistematis terhadap dinamika penularan malaria di suatu
wilayah agar dapat diperoleh cara-cara pengendalian malaria
yang tepat.

52

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Di daerah tahap preeliminasi, eliminasi dan pemiliharaan


melaksanakan Survei Dinamika Penularan Malaria dengan
prioritas pada wilayah-wilayah dengan penularan setempat
malaria tinggi, terutama adanya kasus-kasus malaria indigenous
dan tidak menunjukkan perbaikan setelah dilaksanakan
berbagai upaya pengendalian malaria.
Survei Dinamika Penularan Malaria dapat diterapkan sebelum
menerapkan suatu upaya pengendalian malaria, dimana
informasi epidemiologi dan atau cara-cara pengendalian yang
tepat belum diketahui dengan baik.

53

(7)

Surveillans Obat dan Insektisida

a.

Efikasi Obat
Daerah tahap preeliminasi, eliminasi dan pemeliharaan
melaksanakan Monitoring Efikasi Obat
sesuai dengan
penetapan daerah Sentinel Monitoring Efikasi Obat yang yang
ditentukan secara nasional oleh Kementerian Kesehatan
Daerah dan atau lembaga tertentu dapat melaksanakan
Monitoring Efikasi Obat, yang tetap menjadi bagian integral
dari kegiatan Monitoring Efikasi Obat Nasional

b.

Resistensi Insektisida
Daerah tahap preeliminasi, eliminasi dan pemeliharaan
melaksanakan Monitoring Resistensi Obat sesuai dengan
penetapan daerah Sentinel Monitoring Resistensi Obat yang
ditentukan secara nasional oleh Kementerian Kesehatan
Daerah dan atau lembaga tertentu dapat melaksanakan
Monitoring Resistensi Obat secara mandiri, yang tetap
menjadi bagian integral dari kegiatan Monitoring Resistensi
Obat Nasional

c.

Efek Samping Obat


Daerah tahap preeliminasi, eliminasi dan pemeliharaan
melaksanakan melaksanakan monitoring efek samping obat.
Monitoring tersebut dilakukan terhadap obat malaria yang
digunakan oleh program Pengendalian Malaria. Hal ini
dilakukan dengan pemantauan terus menerus, untuk
menjaring kemungkinan adanya risiko efek samping obat
malaria yang belum pernah teridentifikasi sebelumnya.

d.

Kualitas Obat
Salah satu aspek penting dalam keberhasilan pengobatan
malaria adalah mutu obat yang digunakan selain ketepatan

diagnosis dan ketepatan pemilihan dan penggunaan obat.


Saat ini beredar beberapa jenis obat malaria baik yang
digunakan sendiri oleh masyarakat maupun yang digunakan
melalui resep dokter. Obat-obat malaria yang beredar tersebut
pada kenyataannya dapat diakses oleh masyarakat secara
langsung baik melalui sarana sarana pelayanan kesehatan
maupun melalui toko atau kios.
Pemerintah wajib menjamin bahwa mutu obat malaria yang
beredar tersebut bermutu baik sehingga dapat memberikan
efek yang diharapkan.
Saat ini pengawasan mutu melalui sampling dan pengujian
mutu obat dilakukan oleh Badan POM
e.

Resistensi Insektisida
Daerah tahap preeliminasi, eliminasi dan pemeliharaan
melaksanakan Monitoring Resistensi Insektisida
sesuai
dengan penetapan daerah Sentinel Monitoring Resistensi
Insektisida yang ditentukan secara nasional oleh Kementerian
Kesehatan
Daerah dan atau lembaga tertentu dapat melaksanakan
Monitoring Resistensi Insektisida secara mandiri, yang tetap
menjadi bagian integral dari kegiatan Monitoring Resistensi
Insektisida Nasional

(8) Penelitian
Hasil penelitian malaria wajib dilaporkan dan dimanfaatkan
dalam analisis surveilans malaria, baik lokal, regional maupun
nasional
b. Analisis
Data surveilans khusus dikompilasi, dilaporkan dan dimanfaatkan
dalam analisis surveilans malaria, baik lokal, regional maupun
nasional, sesuai dengan metode surveilans dan desain analisis
pada masing-masing surveilans khusus, baik menurut waktu,
tempat dan kelompok masyarakat
Sasaran. metode dan desain analisis data Surveilans Khusus lihat
pada lampiran masing-masing Surveilans Khusus
c. Pelaporan
(1) Pelaksana surveilans khusus membuat laporan hasil
pelaksanaan kegiatan Surveilans Khusus, dan
segera
mengirimkannya ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
54

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

selambat-lambatnya 1 bulan sejak pelaksanaan Surveilans


Khusus tersebut selesai.
(2) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengkompilasi Data
Surveilans Khusus dan segera mengirimkannya ke Dinas
Kesehatan Provinsi dan Pusat (Ditjen PP&PL, Kementerian
Kesehatan
(3) Dinas Kesehatan Provinsi mengkompilasi Data Surveilans
Khusus tersebut dan segera mengirimkannya ke Pusat (Ditjen
PP&PL, Kementerian Kesehatan)
d. Penyebarluasan Informasi
Data dan analisis data surveilans khusus diinformasikan pada
berbagai pihak yang memerlukan agar dapat digunakan dalam
perencanaan, pengendalian dan monitoring evaluasi program
pengendalian malaria, SKD-KLB, penelitian dan pengembangan

3. Data dan Informasi Indikator Kinerja Program


Surveilans untuk perencanaan, pelaksanaan dan monitoring evaluasi
program pengendalian malaria, atau disebut surveilans untuk
manajemen adalah surveilans dan sistem informasi malaria terhadap
indikator kinerja program pengendalian malaria
Indikator kinerja utama program pengendalian malaria yang wajib
dilaksanakan pemantauan di daerah tahap preeliminasi, eliminasi dan
pemeliharaan adalah:
a. API
berdasarkan
analisis
menurut
kabupaten,
Puskesmas/kecamatan dan desa/kelurahan
b. SPR (slide positivity rate) berdasarkan analisis menurut
kabupaten/kota sebagai bahan untuk menentukan status tahapan
eliminasi
c. Cakupan pengobatan menurut desa/kelurahan, terutama di fokus
malaria aktif, menurut Puskesmas dan kabupaten/kota
d. Cakupan konfirmasi mikroskopis/RDT/PCR menurut Puskesmas
dan kabupaten/kota
e. Error rate pemeriksaan mikroskopis, berdasarkan pemeriksaan
ulang terhadap hasil pemeriksaan mikroskopis malaria positif
(100%) dan hasil pemeriksaan mikroskopis malaria negatif (5%).
f. Cakupan pencegahan (IRS atau kelambu/LLINs) menurut
desa/dusun, Puskesmas, teruatama daerah endemis malaria, dan
kabupaten/kota

55

4. SKD KLB
Sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa malaria (SKD-KLB
Malaria) merupakan sistem kewaspadaan dini terhadap KLB malaria
beserta faktor faktor yang mempengaruhinya dengan menerapkan
teknologi surveilans epidemiologi dan dimanfaatkan untuk
meningkatkan sikap tanggap kesiapsiagaan, upaya-upaya dan
tindakan penanggulangan KLB malaria yang cepat dan tepat 5.
Pada daerah tahap preeliminasi, eliminasi dan pemeliharaan, SKDKLB malaria dilaksanakan pada semua wilayah, terutama fokus
malaria aktif, wilayah reseptif malaria dan wilayah vulnerabel malaria.
Secara umum, metode SKD-KLB malaria di daerah pada tahap
preeliminasi, eliminasi dan pemeliharaan, tidak berbeda dengan tahap
lain.
(1) Kajian epidemiologi secara terus menerus dan sistematis terhadap
perkembangan penyakit malaria, riwayat KLB malaria dan kondisi
lingkungan dan masyarakat yang merupakan faktor risiko terjadinya
KLB agar dapat menentukan adanya daerah atau kelompok
masyarakat yang rentan terjadinya KLB malaria, yaitu wilayah yang
sering terjadi peningkatan kasus malaria, fokus-fokus malaria aktif,
wilayah reseptif malaria dan wilayah vulnerabel malaria.
(2) Memberikan peringatan pada pengelola program malaria, program
terkait lainnya, sektor terkait dan masyarakat tentang adanya
daerah atau kelompok masyarakat yang rentan terjadinya KLB
malaria agar meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan
terhadap munculnya KLB malaria
(3) Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap
munculnya KLB malaria, terutama di Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, Puskesmas, rumah sakit dan fasilitas kesehatan
lainnya serta masyarakat di daerah rentan KLB malaria, yaitu :
(a) Melaksanakan berbagai upaya pencegahan terjadinya KLB
malaria (merupakan bagian dari program penanggulangan
KLB)
(b) Memperkuat
kesiapsiagaan
terhadap
kemungkinan
terjadinya KLB (merupakan bagian dari program
penanggulangan KLB)
(c) Melaksanakan sistem deteksi dini timbulnya kondisi rentan
terjadinya KLB dan respon, terutama melaksanakan
kegiatan pemantauan wilayah setempat rentan KLB malaria,
terutama muncul atau berkembangnya fokus malaria aktif,
wilayah reseptif malaria, wilayah vulnerabel malaria, curah
5

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 042/MENKES/SK/I/2007 tentang Pedoman


Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) dan Penanggulangan Kejadian Luar
Biasa (KLB) Penyakit Malaria

56

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

hujan dan perubahan kegiatan masyarakat yang berpotensi


terjadinya KLB malaria
(d) Melaksanakan sistem deteksi dini adanya KLB dan respon,
terutama melaksanakan kegiatan pemantauan wilayah
setempat kasus malaria di Puskesmas dan fasilitas
pelayanan kesehatan lain, serta mengembangkan sistem
informasi dugaan adanya KLB malaria dari masyarakat
(e) Melaksanakan penyelidikan dugaan KLB malaria, terutama
pada kejadian peningkatan kasus malaria indigenous, dan
atau peningkatan kasus malaria meninggal dengan faktor
risiko terjadinya KLB malaria. Dugaan adanya KLB malaria
juga bisa terjadi dengan ditemukannya satu kasus malaria
indigenous pada wilayah yang tidak pernah terdapat kasus
malaria di wilayah tersebut, tetapi memiliki faktor risiko
terjadinya KLB malaria

SKD-KLB
Malaria
Kajian Epid
menentukan daerah/
masyarakat
rentan
terjadi KLB
malaria
1

Upaya
Pencegah
an KLB
Peringatan
kewaspadaan
pada daerah
yg rentan
KLB malaria
2

Sistem
Deteksi
Dini
Kondisi
Rentan
KLB
Sistem
Deteksi
Dini KLB
6

Kesiapsiagaan
menghadapi
KLB

Indentifikasi
rentan KLB di
masyarakat
PWS rentan
malaria
Penyelidikan
rentan KLB
Indentifikasi
KLB di
masyarakat
PWS kasus
malaria
Penyelidikan
- dugaan KLB

Secara lengkap, metode dan pelaksanaan SKD-KLB dapat dipelajari


pada lampiran 3a. SKD-KLB Malaria

57

IX. POKOK-POKOK KEGIATAN PENGUATAN KINERJA


SURVEILANS DAN SISTEM INFORMASI MALARIA
1.

Advokasi dan sosialisasi,


perundang-undangan

serta

dukungan

peraturan

Pokok kegiatan ini bertujuan untuk :


a. Adanya pemahaman dan komitmen pimpinan di pusat dan
daerah, tentang pentingnya penyelenggaraan surveilans dan
sistem informasi malaria berdasarkan tahapan eliminasi
dalam upaya pengendalian malaria
b. Adanya peraturan perundangan di pusat dan daerah dalam
upaya penguatan kinerja surveilans dan sistem informasi
malaria sehingga dapat berperan nyata dalam upaya
pengendalian malaria
c. Adanya pemahaman, komitmen dan dukungan pelaksana
program pengendalian malaria dalam pelaksanaan
surveilans dan sistem informasi malaria
d. Adanya dukungan pembiayaan dan ketersediaan sumber
daya
Pokok kegiatan advokasi, sosialisasi serta dukungan peraturan
perundangan di pusat dan daerah terdiri :
a. advokasi dan sosialisasi penyelenggaraan surveilans dan
sistem informasi malaria melalui berbagai berbagai media
sesuai dengan kondisi setempat
b. merumuskan rencana kerja strategis dan rencana kerja
tahunan surveilans dan sistem informasi malaria yang jelas,
obyektif, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan beserta
kebutuhan anggaran biaya yang diperlukan disetiap unit
pelaksana dan sumber data surveilans dan sistem informasi
malaria
c. laporan kinerja surveilans dan sistem informasi malaria
tahunan di setiap unit pelaksana surveilans dan sistem
informasi malaria dilengkapi dengan laporan profil malaria
daerah dan hasil kerja lainnya
d. Desiminasi informasi ke pemangku kepentingan dan institusi
terkait.
2. Pengembangan surveilans dan sistem informasi malaria
sesuai dengan kebutuhan program pengendalian malaria dan
kondisi daerah

58

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Pokok kegiatan pengembangan surveilans dan sistem informasi


malaria antara lain :
a. Melaksanakan evaluasi dan penyempurnaan berkala
pedoman penyelengggaraan surveilans dan sistem informasi
malaria, minimal 5 tahun sekali
b. Mendorong pengembangan surveilans dan sistem informasi
malaria inovatif sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan
kemampuan daerah dengan tetap mengacu pada pedoman
penyelenggaraan surveilans dan sistem informasi malaria ini
3. Peningkatan mutu data dan informasi yang bertujuan untuk
menjamin validitas data (pengelolaan program, lingkungan,
pengamatan vektor, KIA dan Imunisasi) dengan melaksanakan
kegiatan sebagai berikut :
a. Memperkuat kemampuan pengumpulan dan pengolahan
serta pelaporan data disetiap unit sumber data dan unit
pelaksana surveilans, baik perbaikan sistem, mekanisme
kerja, dukungan kelengkapan sarana, penerapan teknologi
tepat guna informasi dan komunikasi serta sumberdaya
manusia
b. Pertemuan berkala petugas teknis unit sumber data dan unit
pelaksana surveilans dalam rangka validasi data,
peningkatan kemampuan dan keterampilan, pertukaran data
dan informasi
c. Pengendalian kelengkapan dan mutu data-informasi melalui
sistem umpan balik, supervisi dan konsultasi
d. Kajian kinerja penyelenggaraan surveilans dan sistem
informasi di unit penyelenggara surveilans dan sistem
informasi, unit sumber data dan penyelenggara program
pengendalian malaria, baik di pusat maupun di daerah,
secara berkala dan atau sesuai kebutuhan

4. Peningkatan kompetensi tenaga pelaksana surveilans dan


sistem informasi malaria bertujuan untuk membentuk tenaga
pelaksana yang profesional, memiliki kemampuan dan
keterampilan dalam pelaksanaan surveilans malaria
Pokok kegiatan peningkatan kompetensi tenaga pelaksana
surveilans
a. Menjamin tersedianya jumlah dan jenis tenaga surveilans
dan sistem informasi malaria di setiap unit pelaksana dan
unit sumber data di pusat dan daerah serta unit pelaksana
teknisnya sesuai standar
59

b. Mendorong dan memfasilitasi sumber daya manusia


surveilans dan sistem informasi agar mendapat pendidikan,
pelatihan dasar dan pelatihan berkelanjutan yang diperlukan.
c. Menyelenggarakan pertemuan teknis surveilans dan sistem
informasi malaria berkala minimal 3 bulanan untuk evaluasi
kinerja, peningkatan kapasitas dan pertukaran informasi
tehnik pelaksanaan surveilans dan sistem informasi malaria
d. Menyediakan referensi malaria dan informasi terkait lainnya
dengan penguatan kepustakaan, konsultasi dan akses
internet untuk mengetahui perkembangan situasi malaria
terkini di berbagai Negara, lintas batas daerah dan informasi
lainnya
e. Melaksanakan supervisi dan bimbingan kinerja surveilans
dan sistem informasi malaria
f. Monitoring dan evaluasi ketenagaan yang mendukung
pelaksanaan surveilans dan sistem informasi malaria

5. Pengembangan unit pelaksana surveilans malaria bertujuan


membentuk unit pelaksana surveilans malaria yang mampu
berkontribusi dalam upaya pengendalian malaria dengan
didukung ketersediaan tenaga, alat dan bahan, dan perangkat
sistem.
Pokok kegiatan antara lain :
a. membentuk unit pelaksana surveilans dan sistem informasi
malaria di kementerian kesehatan, dinas kesehatan provinsi,
dinas kesehatan kabupaten/kota dan fasilitas pelayanan
kesehatan, termasuk unit pelaksana teknis pusat dan
daerah, dengan jumlah dan jenis ketenagaan serta
sumberdaya lain yang diperlukan (standar)
b. membangun, monitoring dan evaluasi kerjasama internal tim
pelaksana surveilans dan sistem informasi malaria dan
kerjasama
eksternal
tim
penyelenggara
program
pengendalian malaria, lintas program dan lintas sektor terkait

6. Penguatan jejaring surveilans dan sistem informasi malaria


bertujuan meningkatkan kerjasama unit pelaksana surveilans
dengan rumah sakit, puskesmas, laboratorium, klinik dan
praktek swasta, perguruan tinggi, organisasi profesi, lembaga
penelitian dan lembaga terkait lainnya
Pokok kegiatan antara lain :
a. Menyelenggarakan kegiatan pencatatan, perekaman,
pengolahan data di unit-unit sumber data surveilans dan
60

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

pelaporan kepada unit-unit pelaksana surveilans dan sistem


informasi malaria
b. Menyelenggarakan pertukaran data dan informasi malaria
antar negara, daerah, antar program dan antar sektor terkait,
terutama pusat-pusat kajian, dan pusat pusat penelitian
c. Pertemuan kajian situasi malaria dan rekomendasi secara
teratur dengan semua anggota jejaring surveilans malaria

7. Peningkatan pemanfaatan teknologi informasi


a. Mengembangkan sistem aplikasi pencatatan dan pelaporan
berbasis elektronik (e-sismal)
b. Mengembangkan sistem pemetaan dan analisis spasial
dengan GIS (Geographic Information System)
c. Inovasi pemanfaatan teknologi informasi di pusat dan daerah

61

X. PERAN
Peran masing-masing unit kerja adalah sebagai berikut :
1. Puskesmas
a. Merupakan unit pelaksana surveilans terdepan.
b. Melaksanakan perekaman, pencatatan dan pengolahan data sebagai
sumber data surveilans rutin, surveilans khusus dan SKD-KLB,
meliputi antara lain kejadian malaria, vektor, perilaku penduduk,
lingkungan, dan lain sebagainya, dan melaporkan bulanan dan
tahunan serta laporan khusus kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota
c. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan penerimaan dan
pemanfaatan logistik program pengendalian malaria kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota
d. Melaksanakan analisis kejadian malaria di wilayahnya, membuat
peta endemisitas wilayah kerja menurut desa (stratifikasi) tahunan
dan melaksanakan sistem deteksi dini KLB dengan pemantauan
wilayah setempat kejadian malaria harian, mingguan atau bulanan
dan informasi silang kejadian malaria dengan puskesmas berbatasan
sesuai situasi malaria di daerahnya
e. Membuat peta lokasi tempat perindukan nyamuk penular malaria
tahunan dan melaksanakan sistem deteksi dini kondisi rentan
terjadinya KLB melalui pemantauan wilayah setempat terhadap faktor
risiko malaria, baik berdasarkan kelompok masyarakat maupun
berdasarkan wilayah dusun/Rt/RW dan desa/kelurahan
f. Pembinaan kader dan masyarakat di wilayah kerjanya untuk
berperan secara aktif melaksanakan surveilans malaria (surveilans
berdasarkan partisipasi masyarakat)

2. Rumah Sakit
a. Merupakan unit pelaksana surveilans terdepan.
b. Melaksanakan perekaman, pencatatan dan pengolahan data sebagai
sumber data surveilans rutin, surveilans khusus dan SKD-KLB,
meliputi antara lain kejadian malaria, dan melaporkan bulanan dan
tahunan serta laporan khusus kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi, serta Pusat (Ditjen
PP&PL, Kementerian Kesehatan)
c. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan penerimaan dan
pemanfaatan logistik program pengendalian malaria secara berkala
bulanan dan tahunan
d. Melaksanakan analisis kejadian malaria berdasarkan data malaria
rumah sakit, terutama melaksanakan sistem deteksi dini KLB malaria
62

hasil penyelidikan epidemiologi KLB dan kajian lainnya, dan


melaporkan setiap bulan dan setiap tahun serta laporan khusus
kepada dinas kesehatan kabupaten/kota, dinas kesehatan provinsi,
serta pusat (Ditjen PP&PL, Kementerian Kesehatan)
b. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan penerimaan dan
pemanfaatan logistik program pengendalian malaria secara berkala
bulanan dan tahunan
c. Melaksanakan analisis kejadian malaria di wilayahnya, terutama
melaksanakan sistem deteksi dini KLB malaria dengan
melaksanakan pemantauan wilayah setempat kejadian malaria
berdasarkan uji laboratorium, hasil penyelidikan epidemiologi dan
kajian lainnya secara harian, mingguan atau bulanan dan
memberikan informasi silang pada dinas kesehatan kabupaten/kota
atau puskesmas setempat
d. Membuat laporan monitoring resistensi dan efikasi obat, resistensi
insektisida dan efikasi kelambu berinsektisida (LLINs) ke pusat
(Ditjen PP&PL, Kementerian Kesehatan)

6. Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan


a. Melaksanakan penelitian, kajian dan pengembangan yang berkaitan
dengan upaya pengendalian malaria, dan membuat laporan khusus
disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas
Kesehatan Provinsi, serta Pusat (Ditjen PP&PL, Kementerian
Kesehatan).

7. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota


a. Melaksanakan pengendalian kegiatan surveilans dan sistem
informasi malaria di wilayah kerjanya, termasuk upaya penguatan
kinerja surveilans dan sistem informasi puskesmas dan rumah sakit
serta fasilitas pelayanan kesehatan lainnya
b. Melaksanakan perekaman, pencatatan dan pengolahan data sebagai
sumber data surveilans rutin, surveilans khusus, indikator kinerja
program dan SKD-KLB, dan melaporkan data tersebut berkala setiap
bulan dan tahun serta laporan khusus kepada dinas kesehatan
provinsi dan pusat (Ditjen PP&PL, Kementerian Kesehatan)
c. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan berkala setiap bulan dan
tahun terhadap penerimaan dan pemanfaatan logistik program
pengendalian malaria
d. Melaksanakan analisis terhadap indikator utama pengendalian
malaria, antara lain, data kejadian malaria dan peta stratifikasi
wilayah kerja menurut desa dan puskesmas/kecamatan berdasarkan
tingkat endemisitasnya (API); slide positifity rate (SPR)
64

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

kabupaten/kota;
cakupan
pengobatan;
cakupan
konfirmasi
mikroskopis/RDT/PCR; error rate pemeriksaan mikroskopis dan
cakupan pencegahan (IRS atau kelambu)
e. Melaksanakan evaluasi dan menetapkan pencapaian indikator
tahapan eliminasi malaria (pemberantasan, pre eliminasi, eliminasi,
dan pemeliharaan) kabupaten/kota berkala tahunan
f. Melaksanakan SKD KLB malaria, terutama melakukan analisis
potensi terjadinya KLB malaria secara berkala setiap bulan,
melaksanakan sistem deteksi dini KLB malaria, dan kondisi rentan
(faktor risiko) malaria, baik berdasarkan kelompok masyarakat
maupun berdasarkan wilayah dusun/Rt/RW, desa/kelurahan dan
wilayah puskesmas/kecamatan serta informasi silang kejadian
malaria antar dinas kesehatan kabupaten/kota sesuai situasi malaria
didaerahnya
g. Melaksanakan penyelidikan dan penanggulangan KLB malaria di
wilayah kerjanya
h. Mendistribusikan informasi malaria kepada lintas program dan lintas
sektor, terutama kepada puskesmas dan rumah sakit secara berkala
setiap bulan dan tahun dalam kerangka peningkatan kewaspadaan
dini KLB malaria
i. Membina jejaring kerja surveilans di wilayah kerjanya, baik lintas
program, lintas sektor dan media masa/masyarakat
j. Membina kader dan masyarakat perorangan dan kelompok untuk
berperan secara aktif melaksanakan surveilans malaria (surveilans
berdasarkan partisipasi masyarakat)
l. Pemantauan mutu laboratorium dan laboratorum rujukan di wilayah
kerja kabupaten/kota

8. Dinas Kesehatan Provinsi


a. Melaksanakan pengendalian kegiatan surveilans dan sistem
informasi malaria di wilayah kerjanya
b. Melaksanakan perekaman, pencatatan dan pengolahan data sebagai
sumber data surveilans rutin, surveilans khusus, indikator kinerja
program dan SKD-KLB, dan melaporkan data tersebut berkala setiap
bulan dan tahun serta laporan khusus kepada pusat (Ditjen PP&PL,
Kementerian Kesehatan)
c. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan berkala bulanan dan
tahunan terhadap penerimaan dan pemanfaatan logistik program
pengendalian malaria
d. Melaksanakan analisis terhadap indikator utama pengendalian
malaria, antara lain, data kejadian malaria dan peta stratifikasi
wilayah kerja menurut puskesmas/kecamatan dan kabupaten/kota
berdasarkan tingkat endemisitasnya (API); slide positifity rate (SPR)
65

provinsi;
cakupan
pengobatan;
cakupan
konfirmasi
mikroskopis/RDT/PCR; error rate pemeriksaan mikroskopis dan
cakupan pencegahan (IRS atau kelambu) berkoordinasi dengan
dinas kesehatan kabupaten/kota
e. Melaksanakan evaluasi dan menetapkan pencapaian indikator
tahapan eliminasi malaria (pemberantasan, pre eliminasi, eliminasi,
dan pemeliharaan) kabupaten/kota berkala tahunan berkoordinasi
dengan dinas kesehatan kabupaten/kota setempat
f. Melaksanakan SKD-KLB, terutama melaksanakan analisis potensi
terjadinya KLB malaria di wilayah kerjanya secara berkala setiap
bulan serta informasi silang kejadian malaria antar dinas kesehatan
kabupaten/kota dan provinsi sesuai situasi malaria didaerahnya
g. Melaksanakan penyelidikan dan penanggulangan KLB malaria
berkoordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota di wilayah
kerjanya.
h. Mendistribusikan informasi malaria di wilayah kerja dinas kesehatan
provinsi kepada lintas program dan lintas sektor, terutama dinas
kesehatan kabupaten/kota, UPT pusat dan daerah di wilayah
kerjanya, secara berkala setiap bulan dan tahun dalam kerangka
peningkatan kewaspadaan dini KLB malaria
i. Membina jejaring kerja surveilans di wilayah kerjanya, baik lintas
program, lintas sektor dan media masa/masyarakat
j. Membina masyarakat perorangan dan kelompok untuk berperan
secara aktif melaksanakan surveilans malaria (surveilans
berdasarkan partisipasi masyarakat) di tingkat provinsi.
l. Pemantauan mutu laboratorium dan laboratorum rujukan di wilayah
kerja provinsi

9. Pusat
a. Pengendalian kegiatan surveilans dan sistem informasi malaria
secara nasional
b. Melaksanakan perekaman, pencatatan dan pengolahan data sebagai
sumber data surveilans rutin, surveilans khusus, indikator kinerja
program dan SKD-KLB, berkala setiap bulan dan tahun
c. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan berkala bulanan dan
tahunan terhadap penerimaan dan pemanfaatan logistik program
pengendalian malaria
d. Melaksanakan analisis terhadap indikator utama pengendalian
malaria, antara lain, data kejadian malaria dan peta stratifikasi
wilayah kerja menurut kabupaten/kota dan provinsi berdasarkan
tingkat endemisitasnya (API); slide positifity rate (SPR) provinsi;
cakupan pengobatan; cakupan konfirmasi mikroskopis/RDT/PCR;
error rate pemeriksaan mikroskopis dan cakupan pencegahan (IRS
66

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

atau kelambu) berkoordinasi dengan dinas kesehatan provinsi dan


dinas kesehatan kabupaten
e. Melaksanakan evaluasi dan menetapkan tahapan eliminasi malaria
(pemberantasan, pre eliminasi, eliminasi, dan pemeliharaan)
kabupaten/kota berkala setiap tahun berkoordinasi dengan dinas
kesehatan provinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota
f. Melaksanakan SKD-KLB, terutama melaksanakan analisis potensi
terjadinya KLB malaria nasional secara berkala bulanan
g. Melaksanakan penyelidikan dan penanggulangan KLB malaria
berkoordinasi dengan dinas kesehatan provinsi dan dinas kesehatan
kabupaten/kota.
h. Mendistribusikan informasi perkembangan malaria nasional dan
negara-negara lain yang berisiko penularan malaria ke wilayah
Indonesia kepada lintas program dan lintas sektor, terutama kepada
dinas kesehatan provinsi, dinas kesehatan kabupaten/kota, UPT
pusat dan daerah terkait, secara berkala setiap bulan dan tahun
dalam kerangka peningkatan kewaspadaan dini KLB malaria
i. Membina jejaring kerja surveilans secara nasional, baik lintas
program, lintas sektor dan media masa/masyarakat
j. Membina masyarakat perorangan dan kelompok untuk berperan
secara aktif melaksanakan surveilans malaria (surveilans
berdasarkan partisipasi masyarakat) secara nasional
k. Kajian, penelitian dan pengembangan dalam rangka pengendalian
malaria, termasuk pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan
berbasis teknologi informasi dan komunikasi (e-sismal)
l. Pemantauan mutu laboratorium dan laboratorum rujukan secara
nasional

67

XI. INDIKATOR KINERJA


1. Masukan (Input)
a. Ketersediaan petugas pada unit pelaksana surveilans dan sistem
informasi malaria, minimal terdiri atas :
Pusat tediri atas 6 orang (2 dokter, 2 epidemiolog, 2
entomolog)
Provinsi terdiri atas 3 orang (1 dokter, 1 epidemiolog, 1
entomolog)
Kabupaten/Kota terdiri atas 2 orang (1 epidemiolog, 1
entomolog)
Puskesmas 1 orang (epidemiolog/entomolog)
UPT BLK/BTKLPP terdiri atas 4 orang (1 dokter, 1
epidemiolog, 1 entomolog, 1 pranata laboratorium)
b. Ketersediaan pedoman surveilans dan sistem informasi malaria di
semua unit pelaksana surveilans dan sistem informasi malaria
c. Ketersediaan sarana pengolahan data & komunikasi (komputerprinter-software program, telepon dan internet) pada setiap unit
pelaksana surveilans dan sistem informasi malaria
2. Proses
a. Setiap petugas di unit pelaksana surveilans dan sistem informasi
malaria telah mengikuti pelatihan standar
b. Terlaksananya kegiatan surveilans dan sistem informasi sesuai
standar
c. Terselenggaranya pertemuan teknis surveilans dan sistem
informasi malaria di setiap kabupaten/kota dalam rangka
penguatan kinerja surveilans, validasi data dan pertukaran
informasi minimal enam bulan sekali
3. Keluaran (Output)
a. Kelengkapan laporan :
(1) Jumlah puskesmas/rumah sakit/fasilitas pelayanan kesehatan
dengan laporan bulanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
secara lengkap pertahun sebesar minimal 80%
Jumlah Puskesmas/RS/Fasyankes dg laporan lengkap pertahun =
Jumlah Puskesmas/RS/Fasyankes dg laporan lengkap (12 bl)
----------------------------------------------------------------------------------- x 100 %
Jumlah Puskesmas/RS/Fasyankes yang ada pada awal tahun

68

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

(2) Jumlah Dinas Kesehatan Kab/Kota dg laporan bulanan ke Dinas


Kesehatan Provinsi secara lengkap pertahun sebesar 100%
Jumlah Dinas Kesehatan Kab/Kota dg laporan lengkap pertahun =
Jumlah Dinas Kesehatan Kab/Kota dg laporan lengkap (12 bl)
-------------------------------------------------------------------------------- x 100%
Jumlah Dinas Kesehatan Kab/Kota yang ada pada awal tahun

b. Ketepatan laporan
(1) Jumlah Puskesmas/RS/Fasilitas dengan laporan tepat waktu
laporan ke Dinas Kesehatan Kab/Kota minimal sebesar 80%
Jumlah Puskesmas/RS/Fasyankes dg laporan tepat waktu pertahun =
Jumlah Puskesmas/RS/Fasyankes dg laporan tepat waktu
---------------------------------------------------------------------------------- x 100 %
Jumlah Puskesmas/RS/Fasyankes yang ada pada awal tahun

c. Laporan KLB/dugaan KLB dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan


Kab/kota kurang dari 24 jam sejak diketahui minimal 80%
(1) Jumlah laporan KLB malaria dilaporkan <24 jam sejak
diketahui oleh Puskesmas =
Jml lap KLB malaria dilaporkan <24 jam sejak diketahui Puskesmas
------------------------------------------------------------------------------------------x100%
Jml KLB malaria yang ada (dilaporkan)
d. Distribusi informasi malaria dari unit pelaksana surveilans
(Pusat/Dinas
Kesehatan
Provinsi/Dinas
Kesehatan
Kabupaten/Kota) bulanan lengkap sebesar 100 %
(1) Jumlah distribusi informasi malaria per tahun =
Jumlah unit pelaksana surveilans dengan distribusi
informasi malaria lengkap (12 bl)
--------------------------------------------------------------------- x 100 %
Jml unit pelaksana surveilans

LAMPIRAN
Lampiran 1. Tehnik Analisis (Lp_Tehnik Analisis)
Lampiran 2. Pengamatan dan Survei Vektor (Lp_Survei Vektor)
69

Lampiran 3. Penyelidikan & Penanggulangan KLB serta Surveilans


(Lp_KLB)
Lampiran 3a. SKD-KLB malaria
Lampiran 4. Penemuan Penderita Secara Aktif (Lp_ACD)
Lampiran 5. Penemuan Penderita Demam Massal (Lp_Survei Demam
Massal)
Lampiran 6. Pemeriksaan Darah Massal (Lp_Survei Darah Massal)
Lampiran 7. Survei KAP Malaria (Lp_Survei KAP Malaria)
Lampiran 8. Surveilans Migrasi (Lp_Surv Migrasi)
Lampiran 9. Survei Dinamika Penularan (Lp_Survei Dinamika Penularan)
Lampiran 10. Formulir Pencatatan dan Pelaporan Surveilans Rutin
(Lp_formulir)

70

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

TIM PENYUSUN
Pengarah
Penanggung jawab
Koordinator

: dr. Andi Muhadir, MPH (Direktur PPBB)


: dr. Asik, MPPM (Kasubdit Malaria)
: dr. Elvieda Sariwati, M.Epid (Kasie Bimbingan dan
Evaluasi)

Editor

: 1. Dr. Asik Surya, MPPM, Kepala Subdit. Pengendalian


Malaria
2. Dr. Sholah Imari, MSc, PAEI

Kontributor
1. Dr. Niken Wastu Palupi, MKM, Subdit. Pengendalian
Malaria
2. Dr. Elvieda Sariwati, MEpid, Subdit. Pengendalian
Malaria
3. Adhi Sambodo, SKM, MKes, Subdit. Pengendalian
Malaria
4. Drs. Budi Pramono, MKes, Subdit. Pengendalian
Malaria
5. Dr.Marti Kusumaningsih, MSc, Subdit. Pengendalian
Malaria
6. Yetty Intarti, MKes, Subdit. Pengendalian Malaria
7. Dewa Made Angga Wisnawa, BSc,MScPH, Subdit.
Pengendalian Malaria
8. Dr.Pranti Sri Mulyani, MSc, Subdit. Pengendalian
Malaria
9. Dr.Worowijat, MKM, Subdit. Pengendalian Malaria
10. Dr.Minerva Theodora PS, Subdit. Pengendalian
Malaria
11. Hanifah Rogayah, SKM, Subdit. Pengendalian
Malaria
12. Hermawan Susanto,SSi, Subdit. Pengendalian
Malaria
13. Nur Asni, AMAK, Subdit. Pengendalian Malaria
14. Abdurrahman, Subdit Surveilans dan Respon KLB
15. Aris Munanto, Subdit Pengendalian Vektor
16. Budi Santoso, SKM, MKes, Subdit Pengendalian
Vektor
17. Dr.Iqbal Djakaria, Bagian PI
18. Dr. Ferdinand Laihad, UNICEF
19. Dr. Erfandi, PAEI

71

Lampiran 1. Tehnik Analisis


Lampiran 1. Tehnik Analisis .............................................................. 72
I. Indikator Analisis Malaria................................................................ 73
A. Indikator Analisis Malaria Berdasarkan Periode Pelaksanaan...... 73
B.Pengukuran Indikator Analisis Malaria........................................... 74
C.Pelaksana Analisis Berdasarkan Indikator Analisis Malaria .......... 79
II. Tehnik Analisis dan Penerapannya di Lapangan .......................... 81
A. Prinsip Analisis Epidemiologi Malaria ........................................... 81
B. Sumber Data Malaria.................................................................... 82
III. Tabel Analisis Indikator Bulanan dan Tahunan ............................ 84
A. Tabel Analisis Indikator Malaria Bulanan...................................... 84
B.Tabel Analisis Indikator Malaria Tahunan...................................... 87

72

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

LAMPIRAN 1. Tehnik Analisis


I. Indikator Analisis Malaria
Pada daerah dengan pengendalian tahap pemberantasan, memiliki
endemisitas yang masih sangat tinggi, sehingga tidak memungkinkan
dilakukan pemeriksaan dan tindakan perorangan. Analisis data biasanya
dalam bentuk data agregat (jumlah) kasus dan kematian, dan upaya
penanggulangan dilakukan pada sekelompok populasi, misalnya tindakan
indoor residual spraying pada semua rumah di daerah rentan penularan
malaria.
Pada daerah endemis rendah atau sudah memasuki daerah dengan
program pengendalian malaria sesuai dengan tahap pre eliminasi,
eliminasi dan pemeliharaan akan semakin memerlukan analisis individual,
walaupun analisis data agregat masih dipertahankan

A. Indikator Analisis Malaria Berdasarkan Periode


Pelaksanaan
Pada daerah dengan endemisitas sangat tinggi ini, berbagai bentuk
analisis perlu dilakukan :
Mingguan dan Bulanan
1. Kecenderungan jumlah kasus malaria (+) mingguan dan atau bulanan
serta deteksi dini adanya KLB malaria pada masing-masing fasilitas
pelayanan kesehatan dan masyarakat serta proporsinya terhadap total
jumlah kunjungan ke fasilitas pelayanan
2. Kecenderungan kejadian malaria menurut jenis parasit bulanan dan
deteksi dini peningkatan P.falciparum, masing-masing fasilitas
pelayanan dan masyarakat
3. Kecenderungan kejadian malaria (+) ibu hamil dan proporsinya
terhadap total kasus malaria (+)
4. Kecenderungan kejadian malaria menurut usia dan proporsinya
terhadap total kasus malaria (+)
5. Kecenderungan kejadian malaria (+) menurut jenis kelamin dan
proporsinya terhadap total kasus malaria (+)
6. Kecenderungan kejadian malaria meninggal mingguan, bulanan dan
deteksi dini adanya KLB malaria, masing-masing fasilitas pelayanan
dan masyarakat serta proporsinya terhadap total jumlah meninggal di
fasilitas pelayanan kesehatan
7. Kecenderungan kejadian malaria menurut wilayah (peta) secara
berkala bulanan dan atau tahunan

73

8. Kecenderungan kasus malaria (+) rawat inap (RI) dan kasus malaria
(+) meninggal serta proporsinya terhadap kunjungan ke fasilitas
pelayanan kesehatan per bulan
9. Perkembangan curah hujan bulanan
10. Perkembangan vektor bulanan
11. Kelengkapan laporan bulanan (Absensi)
Tahunan
1. Identifikasi dusun, desa dan Puskesmas reseptif malaria dan
jumlah penduduknya
2. Jumlah kasus suspek yang diuji (Pemeriksaan) dengan RDT +
mikroskopis
3. Jumlah kasus malaria (+) dan proporsinya terhadap suspek malaria
4. Jumlah kasus malaria (+) berdasarkan tipe parasit serta
proporsinya terhadap total jumlah kasus malaria (+)
5. Jumlah kasus malaria (+) menurut jenis kelamin dan proporsinya
terhadap total jumlah kasus malaria (+)
6. Jumlah kasus malaria (+) menurut golongan umur dan prorsinya
terhadap total jumlah kasus malaria (+)
7. Jumlah kasus malaria (+) ibu hamil dan proporsinya terhadap total
jumlah kasus malaria (+)
8. Annual Parasite Incidence (API) (Jumlah kasus malaria (+) per
10.000 penduduk pertahun (5 tahun terakhir)
9. Peta
stratifikasi
endemisitas
malaria,
tingkat
Desa,
Puskesmas/Kecamatan dan kabupaten/kota
a. Endemis tinggi API >5/1,000 penduduk berisiko
b. Endemis sedang API 1 5/1,000 penduduk berisiko
c. Endemis rendah API <1/1,000 penduduk berisiko
d. Non-endemis (tidak ditemukan penderita indegeneus)
10. Proporsi sediaan darah positif / Slide Positive Rate (SPR)
11. Jumlah kasus malaria (+) Rawat Inap (RI) dan jumlah kasus
malaria (+) Rawat Inap per 10.000 penduduk pertahun
12. Jumlah kasus malaria (+) meninggal dan jumlah kasus malaria (+)
Rawat Inap meninggal, dan jumlah kasus (+) meninggal per-total
jumlah kasus malaria (+)
13. Kelengkapan laporan tahunan
14. Cakupan pengobatan malaria sesuai standard
15. Cakupan penggunaan kelambu berinsektisida
16. Kelengkapan dan ketepatan laporan
17. Kelengkapan laporan
18. Absensi mingguan dan bulanan
19. Indikator kinerja surveilans malaria

B.

Pengukuran Indikator Analisis Malaria

Secara umum indikator analisis malaria dan periode pengukuran analisis


malaria dapat dilihat pada tabel berikut :
74

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Tabel
Indikator Analisis Malaria
No

Indikator
Analisis

Pengukuran Indikator

Tampilan
Analisis

Periode
Analisis

Kasus
malaria positif
bulanan per
1.000
penduduk
(MoPI)

Jumlah penderita
malaria positif
selama satu bulan
------------------------ x 1000 x 12
Jumlah penduduk
berisiko dalam
wilayah kerja

Grafik
Bulanan
kecenderungan
MoPI

Proporsi
Sediaan
Darah Positif

Jumlah sediaan darah


diperiksa positif
----------------------------- x 100
Jumlah sediaan darah
Diperiksa

Grafik
Bulanan
kecenderungan
proporsi
sediaan darah
positif

Proporsi
Malaria
Positif
menurut
golongan
umur

Jumlah kasus malaria


positif pada golongan
umur tertentu
----------------------------- x 100
Jumlah kasus malaria
positif pada semua
golongan umur

Grafik
Bulanan
kecenderungan
proporsi malaria
positif menurut
golongan umur

golongan umur : <1 tahun, 1-4


tahun, 5-14 tahun, 15-24 tahun,
25-44 tahun, 45 th atau lebih
4

75

Proporsi
Malaria positif
menurut
jenis kelamin

Jumlah kasus malaria


positif pada jenis kelamin
tertentu
----------------------------- x 100
Jumlah kasus malaria
positif pada semua
jenis kelamin

Grafik
Bulanan
kecenderungan
proporsi malaria
positif menurut
jenis kelamin

No

Indikator
Analisis

Pengukuran Indikator

Tampilan
Analisis

Periode
Analisis

Angka
kejadian
(incidence
rate) malaria
menurut
golongan
umur (API
per golongan
umur)

Jumlah kasus malaria


positifpada golongan
umur tertentu
------------------------------- x 1000
Jumlah penduduk
Berisiko pada golongan
umur yang sama

Grafik Bar pada Tahunan


tahun tertentu
dan
Grafik
kecenderungan
API selama 5
tahun terakhir

Angka
kejadian
(incidence
rate) malaria
menurut jenis
kelamin

Jumlah kasus malaria


positif pada jenis kelamin
tertentu
------------------------------- x 1000
Jumlah penduduk berisiko pada jenis kelamin
yang sama

Grafik Bar pada Tahunan


tahun tertentu
dan
Grafik
kecenderungan
API selama 5
tahun terakhir

Angka
kejadian
(incidence
rate) malaria
(API)

Jumlah kasus malaria


Positif selama setahun
------------------------------ x 1000
Jumlah penduduk
berisiko

Peta stratifikasi Tahunan


Puskesmas/
Kecamatan,
Dinkes Kab/
Kota
Grafik
kecenderungan
API selama 5
tahun terakhir

Proporsi
Malaria
Positif
menurut
pekerjaan

Jumlah kasus malaria


positif pada pekerjaan
tertentu
--------------------------------- x 100
Jumlah kasus malaria
positif pada semua
pekerjaan

Grafik
Bulanan
kecenderungan
proporsi malaria
menurut
pekerjaan

Kasus
meninggal
diantara
malaria positif
(case fatality
rate)

Jumlah kasus malaria


positif meninggal dalam
setahun
--------------------------------- x 100
Jumlah kasus malaria
positif dalam satu tahun
yang sama

Tahunan

76

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

No

Indikator
Analisis

Pengukuran Indikator

Tampilan
Analisis

Periode
Analisis

10

Proporsi
cakupan
anak < 1
tahun yang di
lindungi
kelambu

11

Hasil
Pengobatan
Penderita

grafik

12

Rujukan Dari

Grafik

13

Di Rujuk Ke

grafik

14

Proporsi
Jenis Parasit

Jumlah sediaan darah


Grafik
Bulanan
positif jenis parasit
kecenderungan
tertentu
--------------------------------- x 100
Jumlah sediaan darah
diperiksa

15

ABER

Jumlah sediaan darah


positif + negatif
--------------------------------- x 100
Jumlah penduduk

Tahunan

16

Proporsi
Cakupan Ibu
Hamil yang di
lindungi
kelambu

Kelambu yang dibagikan


dalam kegiatan ANC
-------------------------------- x 100
Jumlah Ibu Hamil

Tahunan

17

Proporsi
penggunaan
RDT

Jumlah penggunaan RDT


--------------------------------- x 100
Jumlah pemeriksaan
mikroskopis+RDT

Bulanan

18

Proporsi ibu Jumlah ibu hamil positif malaria


hamil dengan --------------------------------- x 100
malaria
Jumlah ibu hamil
diperiksa

Tahunan

77

Jumlah kelambu yang


dibagikan dalam kegiatan
Imunisasi selama satu
tahun
--------------------------------- x 100
Jumlah anak < 1 tahun
dalam tahun yang sama

No

Indikator
Analisis

Pengukuran Indikator

Tampilan
Analisis

Periode
Analisis

19

Proporsi
skrining ibu
hamil

Jumlah ibu hamil


diskrining
----------------------- x 100
Jumlah sasaran
ibu hamil

20

Kelengkapan Jumlah laporan yang


Laporan
diterima pada bulan
Bulanan
tertentu
------------------------------- x 100
Jumlah laporan yang
seharusnya pada bulan
yang sama

Tabel absensi
Bulanan
dan grafik
kecenderungan

21

Kelengkapan Jumlah fasilitas pelayanan


Laporan
dengan laporan lengkap
Tahunan
12 bulan pada tahun
tertentu
--------------------------------- x 100
Jumlah fasilitas pelayanan
kesehatan pada awal
tahun yang sama

Tabel Daftar
Tahunan
dan peta
kelengkapan
laporan fasilitas
pelayanan dan
grafik
kecenderungan

Dengan menggunakan software e-sismal, keluaran dari analisis tersebut


dapat langsung terhitung secara otomatis.

78

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

C.

No

Pelaksana Analisis Berdasarkan Indikator Analisis Malaria


Tabel
Daftar Pelaksana Indikator Analisis Malaria
Pelaksana
Indikator
Periode
Dinkes Pusat
Analisis
Analisis Puskes RS Dinkes
mas
Kab/Kota Provinsi

Kasus malaria
positif bulanan
per 1.000
penduduk (MoPI)

Bulanan

Proporsi Sediaan
Darah Positif

Bulanan

Proporsi Malaria
positif menurut
golongan umur

Bulanan

Proporsi Malaria
positif menurut
jenis kelamin

Bulanan

Angka kejadian
Tahunan
(incidence rate)
malaria menurut
golongan umur
(API per golongan
umur)

Angka kejadian
Tahunan
(incidence rate)
malaria menurut
jenis kelamin (API
per jenis kelamin)

Angka kejadian
(incidence rate)
malaria (API)

Tahunan

Proporsi Malaria
Positif menurut
pekerjaan

Bulanan

Kasus meninggal
diantara malaria
positif (case
fatality rate)

Tahunan

79

No

Indikator
Analisis

Periode
Analisis

Pelaksana
Puskes
Dinkes
Dinkes Pusat
RS
mas
Kab/Kota Provinsi

10

Proporsi cakupan Tahunan


anak < 1 tahun
yang di lindungi
kelambu

11

Hasil Pengobatan Bulanan


Penderita

12

Rujukan Dari

Tahunan

13

Di Rujuk Ke

Tahunan

14

Proporsi Jenis
Parasit

Bulanan

15

ABER

Tahunan

16

Proporsi Cakupan Tahunan


Ibu Hamil yang di
lindungi kelambu

17

Proporsi
Bulanan
penggunaan RDT

18

Proporsi ibu hamil Tahunan


dengan malaria

19

Proporsi skrining
ibu hamil

20

Kelengkapan
laporan bulanan

21

80

Kelengkapan
laporan tahunan

Bulanan
Tahunan

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

II. Tehnik Analisis dan Penerapannya di Lapangan


A. Prinsip Analisis Epidemiologi Malaria
Surveilans Epidemiologi Malaria adalah :
a. analisis terus menerus secara sistematis terhadap penyakit malaria
dan kondisi yang mempengaruhinya
b. agar dapat melaksanakan upaya pengendalian malaria, termasuk
SKD-KLB malaria, dengan efektif dan efisien
c. dengan melaksanakan pengumpulan dan pengolahan data dan
penyebarluasan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan
dalam penyelenggaraan pengendalian malaria.
Pengertian penyakit malaria meliputi parasit, penderita dan distribusi
parasit serta distribusi penderita.
Parasit malaria meliputi tipe, subtype, potensi mutasi genetic,
perkembangbiakan, siklus hidup didalam dan diluar tubuh manusia, caracara penularan, resistensi terhadap obat dan lain sebagainya.
Penderita penyakit malaria adalah karakteristik seseorang ketika
menderita penyakit, daya tahan, imunitas, masa inkubasi parasit ketika
menginfeksi seseorang, pola gejala dan patofisiologi tubuh, perubahan
beratnya sakit dan risiko meninggal, masa infektif dan lain sebagainya.
Distribusi penyakit malaria adalah mencakup distibusi parasit malaria
dan distribusi penderita malaria yang digambarkan dalam bentuk
epidemiologi deskriptif menurut ciri-ciri waktu, tempat dan orang, baik
dalam angka absolut atau dalam bentuk rate (angka kesakitan/insidence
rate, angka kematian/mortality rate, case fatality rate, dan sebagainya).
Kondisi yang mempengaruhi pada definisi surveilans tersebut adalah
berpengaruh
terhadap
munculnya
atau
terjadinya
perubahan
karakateristik parasit malaria, perubahan karakteristik penderita dan
distribusinya (parasit dan penderita).
Surveilans adalah melakukan analisis dengan cermat, kritis dan obyektif
terhadap penyakit malaria dan kondisi yang mempengaruhinya pada
suatu populasi atau wilayah tertentu. Analisis menjadi bagian sangat
penting dari proses kegiatan surveilans malaria. Analisis mencakup aspek
cukup luas dan komplek diantara ketersediaan data dan informasi yang
tersedia tepat waktu, kemampuan individu atau suatu unit surveilans
malaria menguasai dan memanfaatkan metode analisis surveilans
malaria, penguasaan terhadap ilmu penyakit malaria dan faktor-faktor
yang berpengaruh penyakit tersebut, penguasaan terhadap kondisi
81

masyarakat yang berhubungan dengan malaria, disamping faktor


keterampilan dan pengalamannya.
Kompleksitas proses analisis tersebut dapat digambarkan dalam skema
berikut :

Gambar
Analisis Malaria
Data yg akan
dianalisis

Strategi
analisis
Keterampilan
& pengalaman

Tampilan
Analisis

Interpretasi

Informasi

Data terkait
lainnya
Hasil
penelitian
Penduduk &
lingkungan

Surveilans malaria sebagaimana dimaksud tersebut diatas, bukan saja


memerlukan data yang dapat diperoleh dalam Sistem Informasi dan
Surveilans Malaria (SISMAL), tetapi juga sangat diperlukan
pengembangan model-model analisis malaria, meningkatkan jangkauan
informasi untuk memperoleh berbagai referensi yang diperlukan, perlunya
pelatihan, standarisasi pengalaman petugas (jam terbang) dan jejaring
informasi untuk melengkapi data dan informasi kondisi yang dapat
mempengaruhi kejadian malaria.

B. Sumber Data Malaria


Pengumpulan dan Pengolah Data Malaria dalam Sistem Informasi dan
Surveilans Malaria (SISMAL)
Data yang dapat dianalisis dalam surveilans malaria, perlu dihimpun dan
diolah sedemikian rupa, sehingga dapat tersedia pada petugas atau tim
analisis surveilans tepat waktu di Puskesmas, Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi, Pusat dan unit terkait lainnya
dalam pengendalian malaria.
82

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Secara umum, sumber data surveilans malaria dapat digambarkan dalam


skema dibawah ini :

Gambar
Sumber Data Malaria
Pelaksanaan
Surveilans

Program
Pengendalian
Malaria

Pengamatan
Vektor
Program
Penyehatan
Lingkungan

KIAImunisasi

Perekaman
Pengolahan
Data Dasar SISMAL
Analisis Malaria
SISMAL: Sistem Informasi dan Surveilans Malaria

Data Dasar SISMAL didistribusikan kepada berbagai unit terkait dalam


pengendalian malaria di Puskesmas, Dinas Kesehatan Kab/Kota, Dinas
Kesehatan Provinsi, dan lain sebagainya.
Analisis malaria dapat menghasilkan informasi penting dalam rangka
perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian program serta dalam
rangka monitoring evaluasi. Informasi ini juga sangat penting dalam
rangka pelaksanaan kewaspadaan dini KLB malaria.

83

III. Tabel Analisis Indikator Bulanan dan Tahunan


A. Tabel Analisis Indikator Malaria Bulanan
a. Analisis Indikator Malaria Bulanan di Dinas Kesehatan Kab/Kota
Setiap Dinas Kesehatan Kab/Kota membuat tabel analisis malaria bulanan
berdasarkan situasi masing-masing wilayah Puskesmas dan Rumah Sakit.
Analisis ini diikuti dengan tampilan grafik dan peta yang sesuai, sehingga
dapat membantu interpretasi adanya masalah malaria dan mengukur
kinerja pengendalian malaria di masing-masing Puskesmas dan Dinas
Kesehatan Kab/Kota.
Tabel analisis ini dikirim setiap bulan kepada Dinas Kesehatan Provinsi
dan semua Puskesmas serta Rumah Sakit di wilayah kerja Dinas
Kesehatan Kab/Kota

1
2
3
..

84

A
B
C
..
Total

Kepadatan vektor malaria

Tingginya curah hujan

% Jml ks malaria (+) meninggal per total RI meninggal

Jml ks malaria (+) RI meninggal

% jml ks malaria (+) RI per total penderita rawat inap

Jumlah kasus malaria (+) rawat ianp (RI)

Jumlah penderita rawat inap meninggal

Jumlah penderita rawat inap

% ks malaria (+) perempuan per total ks malaria (+)

Kasus malaria (+) perempuan

% ks malaria (+) ibu hamil per total ks malaria (+)

Kasus malaria (+) ibu hamil

th

% ks malaria (+) <5 per total kasus malaria (+)

Kasus malaria (+) berumur <5 th

% kasus malaria dg Pfalsiparum per jml ks malaria (+)

Kasus malaria dg pfalsiparum (+)

% kasus malaria (+) per jumlah ks suspek diperiksa

Kasus malaria (+)

No

Nama
Puskesmas
dan
Rumah
Sakit

Kasus suspek diperiksa RDT + mikroskopis

Tabel
Analisis Bulanan Indikator Malaria Kabupaten/Kota

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

b. Analisis Indikator Malaria Bulanan di Dinas Kesehatan Provinsi


Setiap Dinas Kesehatan Provinsi membuat tabel analisis malaria bulanan
berdasarkan situasi masing-masing wilayah Dinas Kesehatan Kab/Kota,
Puskesmas dan Rumah Sakit. Analisis ini diikuti dengan tampilan grafik
dan peta yang sesuai, sehingga dapat membantu interpretasi adanya
masalah malaria dan mengukur kinerja pengendalian malaria di masingmasing Dinas Puskesmas, Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan Kab/Kota.
Tabel analisis ini dikirim setiap bulan kepada Dirjen PP&PL Kementerian
Kesehatan dan tembusan BTKLPP setempat dan Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota di wilayah kerja Dinas Kesehatan Provinsi.

..
2

Kab I
1. Pkm A
2. RS B
..
Kota II
1. RS UD
2. Pkm X
..
Total

c. Analisis Indikator Malaria Bulanan di Nasional


85

Kepadatan vektor malaria

Tingginya curah hujan

% Jml ks malaria (+) meninggal per total RI meninggal

Jml ks malaria (+) RI meninggal

% jml ks malaria (+) RI per total penderita rawat inap

Jumlah kasus malaria (+) rawat ianp (RI)

Jumlah penderita rawat inap meninggal

Jumlah penderita rawat inap

% ks malaria (+) perempuan per total ks malaria (+)

Kasus malaria (+) perempuan

% ks malaria (+) ibu hamil per total ks malaria (+)

Kasus malaria (+) ibu hamil

th

% ks malaria (+) <5 per total kasus malaria (+)

Kasus malaria (+) berumur <5 th

% kasus malaria dg Pfalsiparum per jml ks malaria (+)

Kasus malaria dg pfalsiparum (+)

% kasus malaria (+) per jumlah ks suspek diperiksa

Kasus malaria (+)

No

Nama
Dinas
Kesehatan
Kab/Kota,
Puskesmas
dan
Rumah
Sakit

Kasus suspek diperiksa RDT + mikroskopis

Tabel
Analisis Bulanan Indikator Malaria Provinsi

No

..
2

86
Nama
Dinas
Kesehatan
Provinsi dan
Dinas
Kesehatan
Kab/Kota

Provinsi I
1. Kab A
2. Kota B
..
Provinsi II
1. Kab X
2. Kab Y
..

Total
Jumlah laporan Puskesmas dan RS yang diterima

Kepadatan vektor malaria

Tingginya curah hujan

% Jml ks malaria (+) meninggal per total RI meninggal

Jml ks malaria (+) RI meninggal

% jml ks malaria (+) RI per total penderita rawat inap

Jumlah kasus malaria (+) rawat ianp (RI)

Jumlah penderita rawat inap meninggal

Jumlah penderita rawat inap

% ks malaria (+) perempuan per total ks malaria (+)

Kasus malaria (+) perempuan

% ks malaria (+) ibu hamil per total ks malaria (+)

Kasus malaria (+) ibu hamil

% ks malaria (+) <5 per total kasus malaria (+)

th

Kasus malaria (+) berumur <5 th

% kasus malaria dg Pfalsiparum per jml ks malaria (+)

Kasus malaria dg pfalsiparum (+)

% kasus malaria (+) per jumlah ks suspek diperiksa

Kasus malaria (+)

Kasus suspek diperiksa RDT + mikroskopis

Pusat membuat tabel analisis malaria bulanan berdasarkan situasi


masing-masing wilayah Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan
Kab/Kota. Analisis ini diikuti dengan tampilan grafik dan peta yang sesuai,
sehingga dapat membantu interpretasi adanya masalah malaria dan
mengukur kinerja pengendalian malaria di masing-masing Dinas
Kesehatan Provinsi dan nasional.
Tabel analisis ini dikirim setiap bulan kepada Dinas Kesehatan Provinsi
dan BTKLPP.

Tabel
Analisis Bulanan Indikator Malaria Nasional

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

B.
Tabel Analisis Indikator Malaria Tahunan
a. Analisis Indikator Malaria Tahunan Dinas Kesehatan Kab/Kota
Setiap Dinas Kesehatan Kab/Kota membuat tabel analisis malaria
tahunan berdasarkan situasi masing-masing wilayah Puskesmas. Analisis
ini diikuti dengan tampilan grafik dan peta yang sesuai, sehingga dapat
membantu interpretasi adanya masalah malaria dan mengukur kinerja
pengendalian malaria di masing-masing Puskesmas dan Dinas Kesehatan
Kab/Kota.

1
2
3
..

Jumlah laporan bulanan diterima tepat waktu

Jumlah laporan bulanan diterima

Jml ks mal (+) rawat inap meninggal per 100.000 pdd

Jml Ks mal (+) rawat inap per 10.000 pdd

Jml ks mal (+) rawat inap meninggal

Jml Ks mal (+) rawat inap

API per pdd daerah reseptif

API per total penduduk

% Ks Ibu Hamil per jml ks mal ria (+)

% Ks dg Pfalsiparum per Jml Ks Mal (+)

% Ks Malaria (+) per Total Uji RDT+mikroskopis

Jml Ks <5 th

Jml Ks Ibu.Hamil

Jml Ks dg P.Falsiparum (+)

Jml Kasus Malaria (+)

Jml Pdd Reseptif

Nama
Puskesmas

Jml Pdd

No

Jml Uji RDT+Mikroskopis

Tabel
Analisis Indikator Malaria Kabupaten/Kota

A
B
C
..
Total

b. Analisis Indikator Malaria Tahunan di Dinas Kesehatan Provinsi


Setiap Dinas Kesehatan Provinsi membuat tabel analisis malaria tahunan
berdasarkan situasi masing-masing wilayah Kabupaten/Kota dan
Puskesmas. Analisis ini diikuti dengan tampilan grafik dan peta yang
sesuai, sehingga dapat membantu interpretasi adanya masalah malaria
dan mengukur kinerja pengendalian malaria di masing-masing Dinas
Kesehatan Kab/Kota dan Dinas Kesehatan Provinsi.
87

..
II

Jml laporan bulanan tepat waktu

Jml laporan bulanan diterima

Jml ks mal (+) rawat inap meninggal per 100.000 pdd

Jml Ks mal (+) rawat inap per 10.000 pdd

Jml ks mal (+) rawat inap meninggal

Jml Ks mal (+) rawat inap

API per pdd daerah reseptif

API per total penduduk

% Ks Ibu Hamil per jml ks mal ria (+)

% Ks dg Pfalsiparum per Jml Ks Mal (+)

% Ks Malaria (+) per Total Uji RDT+mikroskopis

Jml Ks <5 th

Jml Ks Ibu.Hamil

Jml Ks dg P.Falsiparum (+)

Jml Kasus Malaria (+)

Jml Pdd Reseptif

Jml Pdd

No

Nama
Kab/Kota
dan
Puskesmas

Jml Uji RDT+Mikroskopis

Tabel
Analisis Indikator Malaria Provinsi

Kab. I
1. Pkm A
2. Pkm B
..
Kab II
1. Pkm X
2. Pkm Y
..
TOTAL

c. Analisis Indikator Malaria Tahunan Nasional dan Regional


Pusat (Ditjen PP&PL, Kementerian Kesehatan) membuat tabel analisis
malaria tahunan berdasarkan situasi masing-masing wilayah Provinsi dan
Kabupaten/Kota. Analisis ini diikuti dengan tampilan grafik dan peta yang
sesuai, sehingga dapat membantu interpretasi adanya masalah malaria
dan mengukur kinerja pengendalian malaria di masing-masing Dinas
Kesehatan Provinsi dan Nasional. Hal yang sama dilaksanakan oleh
BBTKLPP dalam wilayah regionalnya masing-masing.

88

No

..
II

89
Nama
Provinsi
dan
Kab/Kota

Provinsi I
1. Kab A
2. Kab B
..
Provinsi II
1. Kota X
2. Kab Y
..

TOTAL
Jml Puskesmas dengan l12 aporan bulanan

Jml laporan bulanan Puskesmas yang diterima

Jml laporan bulanan diterima tepat waktu

Jml laporan bulanan diterima

Jml ks mal (+) rawat inap meninggal per 100.000 pdd

Jml Ks mal (+) rawat inap per 10.000 pdd

Jml ks mal (+) rawat inap meninggal

Jml Ks mal (+) rawat inap

API per pdd daerah reseptif

API per total penduduk

% Ks Ibu Hamil per jml ks mal ria (+)

% Ks dg Pfalsiparum per Jml Ks Mal (+)

% Ks Malaria (+) per Total Uji RDT+mikroskopis

Jml Ks <5 th

Jml Ks Ibu.Hamil

Jml Ks dg P.Falsiparum (+)

Jml Kasus Malaria (+)

Jml Uji RDT+Mikroskopis

Jml Penduduk Daerah Reseptif

Jml Penduduk

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Tabel
Analisis Indikator Malaria Nasional

Lampiran 2 : Pengamatan dan Survei Vektor Malaria

A. Pengamatan Vektor
1. Pengertian dan Tujuan
Walaupun secara umum, malaria ditularkan oleh nyamuk, terutama
nyamuk anopheles, tetapi jenis nyamuk penular malaria tersebut adalah
spesifik pada masing-masing daerah, kepadatan bervariasi, dan sangat
besar pengaruh kondisi lingkungan yang mendukung perkembang
biakan nyamuk.
Mencermati keberadaan nyamuk tersebut, sangat diperlukan
pengamatan vektor sebagai bagian dari penyelenggaraan surveilans
malaria
Tujuan
Memantau secara terus menerus dan sistematis terhadap kepadatan
nyamuk menurut wilayah dan perkembangannya dari waktu ke waktu
dan hubungannya dengan perkembangan kejadian malaria
2. Pelaksana
Puskesmas, Dinas Kesehatan Kab/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi,
BTKLPP dan Pusat
3. Sumber Data, Variabel, Perekaman dan Pengolahan Data
a. Sumber Data
Pengukuran kepadatan vektor pada titik/lokasi pengamatan vektor
rata-rata perhari dan perbulan. Pemilihan lokasi pengamatan vektor
adalah sebagai berikut :
(1) Pada daerah pada tahap pemberantasan, lokasi pengamatan
ditentukan berdasarkan riwayat terjadinya KLB malaria atau
tingginya kejadian malaria (fokus malaria aktif)
(2) Pada daerah pada tahap pre eliminasi, eliminasi dan
pemeilharaan, lokasi pengamatan vektor juga berdasarkan
riwayat terjadinya KLB malaria, tingginya kejadian malaria, tetapi
juga diprioritaskan pada wilayah (dusun/desa) reseptif malaria
atau wilayah vulnerabel
(3) Lokasi pengamatan vektor dapat merupakan sentinel
pengamatan vektor pada wilayah lebih luas, terutama untuk
90

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

memantau perkembangan vektor musiman dan hubungannya


dengan penentuan kegiatan penemuan dan pengobatan kasus
malaria melalui Penemuan Penderita Demam Massal atau
Pemeriksaan Darah Massal
Hasil Pengamatan Vektor (Lihat Pedoman Pemberantasan Vektor,
Dit. P2B2, Ditjen PP&PL, Departemen Kesehatan, 2006)
b. Variabel
Variabel perekaman data pengamatan vektor adalah rata-rata
kepadatan vektor (nyamuk dan jentik) per bulan pada wilayah
dusun/desa (kelurahan) atau atas dasar lokasi pengamatan vektor
yang telah ditentukan
c.

91

Perekaman dan Pengolahan Data


Data hasil pengukuran kepadatan vektor pada masing-masing lokasi
direkam dalam formulir Pengamatan Kepadatan Vektor Harian (tabel
2.1)
Rata-rata hasil pengukuran kepadatan vektor masing-masing lokasi
dikompilasi kedalam formulir Kepadatan Vektor Bulanan (tabel 2.2)

Tabel 2.1
Formulir Pengamatan Kepadatan Vektor Harian
Provinsi
Kab/Kota
Kecamatan/Puskesmas
Puskesmas
Tahun/Bulan

:
:
:
:
:

..
...
../..
../..
../.

Kepadatan Vektor Per Lokasi Pengamatan


Tanggal
Lokasi 1

Lokasi-2

Lokasi-3

Lokasi-4

RataRata

1
2
3
4
..
31
Rata-rata
per bulan
Tabel 2.2
Formulir Pengamatan Kepadatan Vektor Bulanan
Provinsi
Kab/Kota
Kecamatan/Puskesmas
Puskesmas
Tahun
Tanggal

:
:
:
:
:

Kepadatan Vektor Per Lokasi Pengamatan


Lokasi-1

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
..
Desember
Rata-rata per hari
dalam sebulan

92

..
...
../..
../..
.
Lokasi-2

Lokasi-3

Lokasi-4

Rata-Rata

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

4. Tampilan Analisis
Bentuk tampilan analisis sebagai berikut :
a. Perkembangan kepadatan vektor menurut bulan dan lokasi
pengamatan vektor
b. Perkembangan kepadatan vektor menurut bulan dan wilayah
Puskesmas
d. Perkembangan kepadatan vektor, perkembangan kasus malaria
bulanan dan curah hujan bulanan
c. Peta kepadatan vektor menurut wilayah pengamatan vektor dan
penetapan wilayah reseptif malaria

5. Langkah-langkah
a. Menentukan lokasi pengukuran vektor sesuai dengan kebutuhan dan
kriteria
b. Pengukuran kepadatan vektor dilakukan pada malam hari, diamati
jenis vektor dewasa dan kepadatannya, sekaligus dengan
pengukuran kelembapan, curah hujan dan kondisi lingkungan yang
berpengaruh terhadap perkembangan vektor (lihat Pedoman
Pemberantasan Vektor)
b. Setiap hari pengukuran, dihitung kepadatan rata-rata dari semua
lokasi pengamatan vektor.
c. Setiap akhir bulan pengukuran, dihitung kepadatan rata-rata per hari
per lokasi pengamatan dalam sebulan, juga rata-rata perhari semua
lokasi pengamatan dalam waktu sebulan
c. Pindahkan data pengukuran pengamatan vektor rata-rata perhari
semua lokasi dalam setahun kedalam tabel Pengamatan Kepadatan
Vektor Bulanan (Tabel 2.2)
d. Buat grafik fluktuasi kepadatan vektor
e. Hasil pengamatan vektor digunakan untuk menentukan dusun, desa
dan Puskesmas reseptif malaria
Contoh Analisis :
a. Grafik Fluktuasi Kepadatan Vektor perhari
Kepadatan nyamuk Anopheles diperoleh dengan pengamatan pada
beberapa titik pengamatan di wilayah reseptif dengan umpan manusia,
kemudian diambil rata dalam sehari (semalam) dan kemudian dirataratakan perhari dalam sebulan pengamatan.

93

b. Wilayah reseptif adalah wilayah yang memiliki vektor malaria dengan


kepadatan tinggi dan terdapat faktor lingkungan serta iklim yang
menunjang terjadinya penularan malaria.
Data wilayah reseptif, sebaiknya setingkat desa, walaupun sebenarnya
hanya sebagian dari desa. Desa ditetapkan sebagai wilayah reseptif,
karena di desa tersebut yang pernah berjangkit penularan malaria,
94

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

yang kemudian diteliti dengan cermat pada kondisi lingkungan dan


perkembangan vector nyamuk malaria yang berpotensi terjadinya
penularan malaria

Contoh Daftar Wilayah Desa Reseptif malaria di Puskesmas Jaya


Tabel
Wilayah Reseptif Malaria, Puskesmas Jaya, 2010-2011

No

1
2
3
4
5
6
7
8
9

95

Desa

Jml
Pdd

Total
AMAN
BIDAI
CHARL
DENAH
ELOK
ERNAN
GALUH
HANNA
INTAN

36700
2000
6000
500
700
2000
4500
7000
9000
5000

Jml
Du
sun

2011
Jml
Dusun
Reseptif

47
4
4
3
4
4
6
8
7
7

13
4
3
2
2
2
0
0
0
0

Jml Pdd
Reseptif
6100
2000
3000
400
200
500
0
0
0
0

Jml
Pdd
36700
2000
6000
500
700
2000
4500
7000
9000
5000

Jml
Du
sun
47
4
4
3
4
4
6
8
7
7

2012
Jml
Dusun
Reseptif
10
4
3
2
1
0
0
0
0
0

Jml Pdd
Reseptif
5600
2000
3000
400
100
0
0
0
0
0

Peta Wilayah Reseptif Malaria

Gambar
Peta Desa Reseptif dan Insidens Malaria
Puskesmas Jaya, 2012
Incidance rate
per 1000 pop
>4
1-4
<1

Desa Reseptif
Reseptif
Non
Reseptif

Gambar
Wilayah Reseptif Menurut Puskesmas
Kabupaten Jaya, 2012

Reseptif
Non
Reseptif

Puskesmas reseptif adalah Puskesmas yang terdapat wilayah reseptif,


baik desa reseptif maupun dusun reseptif

96

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

B. Survei Vektor
Merupakan kajian dan penelitian vektor penular malaria pada suatu
wilayah tertentu yang diduga telah terjadi penularan malaria. Survei vektor
dapat dilaksanakan survei vektor spot dan survei vektor berkala.
1. Tujuan Survei
Survei Vektor diharapkan dapat mengidentifikasi bionomik vektor
(nyamuk anopheles) yang terdiri atas :
(1) Tempat berkembang biak nyamuk
(2) Jenis nyamuk
(3) Siklus hidup nyamuk
(4) Kepadatan nyamuk malam hari di dalam dan di luar rumah
serta tempat-tempat berisiko penularan (lihat hasil survei
perilaku penduduk)
(5) Kebiasaan nyamuk istirahat di dalam dan di luar rumah
(6) Kebiasaan nyamuk menggigit di dalam dan di luar rumah
(7) Kebiasaan menggigit manusia (antopofilik) dan hewan
(zoofilik)

2. Sasaran Survei
Daerah pada tahap pemberantasan melaksanakan survei vektor sesuai
kebutuhan berdasarkan analisis situasi malaria dan pengamatan vektor,
terutama pada daerah yang terjadi peningkatan luar biasa, daerahdaerah yang sering terjadi KLB, daerah dengan angka kejadian malaria
cukup tinggi dan tidak menunjukkan adanya perbaikan dari waktu ke
waktu.
Daerah pada tahap eliminasi melaksanakan survei vektor, sesuai
kebutuhan berdasarkan analisis situasi malaria dan pengamatan vektor,
terutama di wilayah reseptif malaria, atau fokus malaria aktif
Waktu survei sebelum puncak jumlah kasus malaria (pemantauan
mingguan/bulanan wabah malaria) atau puncak kepadatan vektor
(pengamatan vektor).

3. Metode dan Desain Analisis


Metode dan desain analisis Survei Vektor lihat pada pedoman terkait.
Petugas surveilans malaria, perlu memahami siklus hidup nyamuk, dan
metode serta desain analisis survei vektor ini agar hasil survei vektor
dapat dimanfaatkan untuk melakukan analisis situasi malaria sehari-hari
(surveilans rutin) maupun surveilans khusus
97

Referensi
Siklus Hidup Nyamuk
Nyamuk sejak telur hingga menjadi nyamuk dewasa, mengalami 4 stadia
dengan 3 stadium berkembang di dalam air dari satu stadium hidup
dialam bebas :
1. Nyamuk dewasa :
Proporsi keberadaan nyamuk jantan dan betina dewasa adalah sama,
nyamuk jantan keluar terlebih dahulu dari kepompong, baru disusul
nyamuk betina, dan nyamuk jantan tersebut akan tetap tinggal di dekat
sarang, sampai nyakum betina keluar dari kepompong. Setelah jenis
betina keluar, maka nyamuk jantan akan langsung mengawini betina
sebelum mencari darah. Selama hidupnya nyamuk betina hanya sekali
kawin.
Perkembangan telur menjadi nyamuk dewasa tergantung kepada
beberapa faktor antara lain temperatur dan kelembaban serta species
dari nyamuk.
2. Telur nyamuk.
Stadium telur ini memakan waktu 1 2 hari.
Nyamuk biasanya meletakkan telur di tempat yang berair, pada tempat
kering telur akan rusak dan mati. Kebiasaan meletakkan telur ini
berbeda beda tergantung dari jenisnya.
- Nyamuk anopeles meletakkan telurnya dipermukaan air satu persatu
atau bergerombolan tetapi saling lepas, telur anopeles mempunyai
alat pengapung.
- Nyamuk culex akan meletakkan telur diatas permukaan air secara
bergerombolan dan bersatu berbentuk rakit sehingga mampu untuk
mengapung.
- Nyamuk Aedes meletakkan telur dan menempel pada benda-benda
yang terapung dipermukaan air atau pada dinding penampungan air
sedikit diatas permukaan air.
- Sedangkan nyamuk mansonia meletakkkan telurnya menempel pada
tumbuhan tumbuhan air, secara bergerombol berbentuk karangan
bungan.

3. Jentik nyamuk
Stadium jentik memerlukan waktu 1 minggu. Pertumbuhan jentik
dipengaruhi faktor temperatur, nutrien, ada tidaknya binatang predator.
98

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

4. Kepompong
Stadium kepompong lebih kurang 1 2 hari. Merupakan stadium
terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air. Pada stadum ini
terbentuk sayap hingga dapat terbang,.
Tempat Berkembang Biak (Breeding Places)
Dalam siklus hidup nyamuk memerlukan tiga tempat hidup, yaitu tempat
berkembang biak (breeding places), tempat untuk mendapatkan
umpan/darah (feeding places) dan tempat untuk beristirahat (reesting
palces).
Nyamuk mempunyai tipe breeding places yang berlainan, culex dapat
berkembang di sembarangan tempat air, Aedes hanya dapat berkembang
biak di air yang cukup bersih dan tidak beralaskan tanah langsung,
mansonia senang berkembang biak di kolam kolam, rawa rawa, danau
yang banyak tanaman airnya dan Anopeheles memiliki bermacam
breeding places, sesuai dengan jenis anophelesnya sebagai berikut :
1. Air payau adalah tempat berkembang biak yang disukai Anopheles
sundaicus, Anopheles subpictus dan Anopheles vagus
2. Tempat yang langsung mendapat sinar matahari disukai Anopheles
sundaicus dan Anopheles maculatus
3. Tempat yang terlindung dari sinar matahari disenangi Anopheles
vagus, Anopheles umbrosus untuk berkembang biak.
4. Air yang tidak mengalir sangat disenangi oleh nyamuk Anopheles
vagus, indefinitus, letifer untuk tempat berkembang biak.
5. Air yang tenang atau sedikit mengalir seperti sawah sangat
disenangi Anopheles aconitus, vagus, barbirostris, dan anullaris
untuk berkembang biak.
Kebiasaan menggigit
Waktu aktif mencari darah dari masing masing nyamuk berbeda beda,
anopheles dan colex merupakan nyamuk yang aktif pada malam hari,
adalah sedangkan Aedes merupakan nyamuk yang aktif pada siang hari,
dan pada umumnya nyamuk yang menghisap darah adalah nyamuk
betina.

99

Tempat beristirahat (resting places)


Setelah nyamuk betina menggigit orang/hewan, nyamuk tersebut akan
beristirahat selama 2 3 hari. Tempat beristirahat bisa bagian dalam
rumah atau diluar rumah, seperti gua, lubang lembab, tempat yang
berwarna gelap dan lain lain
Bionomik Nyamuk (kebiasaan hidup)
Pemahaman bionomik ini merupakan informasi penting dalam upaya
pengendalian vektor, misalnya dalam pemberantasan nyamuk dengan
insektisida. Nyamuk mempunyai bermacam-macam kebiasaan yang perlu
diketahui untuk pengendalian malaria, misalnya :
a. Kebiasaan yang berhubungan dengan perkawinan/mencari makan,
dan lamanya hidup.
b. Kebiasaan kegiatan diwaktu malam, dan perputaran menggigitnya.
c. Kebiasaan berlindung diluar rumah dan di dalam rumah.
d. Kebiasaan memilih mangsa.
e. Kebiasaan yang berhubungan dengan iklim, suhu, kelembaban dll.
f. Kebiasaan di dalam rumah atau di luar rumah.
Metode Pengendalian Vektor
Pengendalian vektor sampai tuntas (pembasmian) adalah sangat sulit
dilakukan, yang dapat dilakukan adalah usaha mengurangi dan
menurunkan populasi vektor sampai tingkat yang tidak membahayakan
kehidupan manusia.
Prinsip dasar dalam pengendalian vektor :
1. Pengendalian vektor dilakukan dengan berbagai macam cara agar
vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak membahayakan
kehidupan manusia
2. Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan lingkungan hidup.

Cara-cara pengendalian vektor malaria, antara lain :


1. manipulasi lingkungan terhadap jentik dan nyamuk. Baik cara
sederhana dengan pengaturan tanam, menjaga irigasi, pengeringan
sawah, atau yang canggih dengan pengaturan irigasi, pembangunan
dan sebagainya
2. penyemprotan insektisida pada nyamuk dan larvasida terhadap jentik
(IRS-indoor residual spraying)

100

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

3. umpan binatang ternak, sehingga nyamuk menggigit hewan dan tidak


pada manusia
4. rumah terproteksi dari masuknya nyamuk anopheles
5. menghindar dari tempat dengan kepadatan nyamuk tinggi atau dengan
obat pelindung diri
Untuk mengetahui strategi pengendalian vektor yang tepat, perlu
dilakukan pengamatan dan survei vektor

101

Lampiran 3 : Penyelidikan, Penanggulangan KLB


Malaria dan Surveilans

I. Pendahuluan
Pada saat terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria, maka segera
dilakukan upaya penanggulangan KLB yang secara umum terdiri dari :
1. Penyelidikan epidemiologi
2.Upaya penemuan dan pengobatan penderita
3.Upaya pengendalian agar KLB tidak
(pencegahan)
4.Surveilans

berkembang

luas

Keempat kegiatan tersebut dilaksanakan serentak dan saling


mendukung satu dengan yang lainnya. Biasanya penyelidikan
epidemiologi dilaksanakan sesegera mungkin, dan informasi awal hasil
penyelidikan disampaikan pada tim penanggulangan. Misalnya
kepastian tentang diagnosis etiologi KLB, ditetapkannnya luas darah
berjangkit dan kelompok populasi yang mendapat serangan paling
parah.
Adanya informasi awal, segera diikuti dengan menyelenggarakan
surveilans epidemiologi, terutama data penderita berobat dan mendapat
perawatan intensif
Hubungan keempat kegiatan
digambarkan sebagai berikut :

102

tersebut,

secara

skematis

dapat

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Gambar
Penanggulangan KLB Malaria
Penyelidikan
Epidemiologi
Pengobatan dan
Perawatan
Pengendalian dan
Pencegahan
Surveilans
Epidemiologi

Surveilans epidemiologi yang baik, akan membantu upaya


penanggulangan dan penyelidikan epidemiologi lebih focus, efektif dan
efisien. Kegiatan penyelidikan epidemiologi dan surveilans epidemiologi
saling memberi informasi, dan pada upaya penanggulangan KLB malaria
dilaksanakan dalam satu paket kegiatan

II. Pengertian KLB Malaria


Kasus Malaria Suspek pada KLB adalah : Seseorang bertempat
tinggal di daerah KLB (ditetapkan) dan dalam periode KLB (ditetapkan)
yang menunjukkan gejala demam (37,5-400C) atau riwayat demam
dalam 48 jam terakhir, disertai menggigil dan berkeringat. Gejala lain
yang bisa muncul adalah sakit kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot,
pegel-pegel 6 .
Kasus malaria positif (simtomatis) pada KLB malaria adalah kasus
suspek malaria yang pada pengujian sediaan darah (mikroskopis) atau
pengujian cepat RDT, ditemukan adanya parasit malaria atau jejak
parasit malaria (Plasmodium falsiparum)
Kasus malaria indigenous pada KLB malaria adalah kasus malaria
positif yang penularannya terjadi di wilayah setempat dan tidak ada
bukti langsung berhubungan dengan kasus impor. Secara teknis,
kasus malaria indigenous pada KLB malaria adalah kasus malaria
positif (simtomatis) yang tidak memiliki riwayat bepergian ke daerah
endemis malaria dalam empat minggu terakhir sebelum sakit (demam)
6

Depkes RI. Pedoman SKD-KLB Malaria, tahun 2007

103

Kriteria teknis KLB malaria dibedakan antara daerah tahap


pemberantasan, pre eliminasi, eliminasi dan pemeliharaan

1. Kriteria KLB Malaria Pada Daerah Tahap Pemberantasan Dan


Preeliminasi
Pada Desa atau Kelurahan
a. Terjadi peningkatan jumlah penderita dalam sebulan sebanyak 2
kali atau lebih dibandingkan dengan salah satu keadaan dibawah
ini:
Jumlah penderita dalam sebulan pada bulan sebelumnya
Jumlah penderita dalam sebulan, pada bulan yang sama
tahun sebelumnya
Jumlah maksimum penderita pada pola maksimum dan
minimum dan
slide positivity rate pada Kegiatan Penemuan Penderita
Demam Massal (MFS) lebih dari 20%; dan
parasit Plasmodium falsiparum dominan
atau
b. terjadi peningkatan jumlah penderita malaria meninggal dalam
periode tertentu lebih dari 50 % dibanding keadaan sebelumnya
dalam periode yang sama;
dan
slide positivity rate pada Kegiatan Penemuan Penderita
Demam Massal (MFS) lebih dari 20% ;
dan
parasit Plasmodium falsiparum dominan
Secara skematis penentuan adanya KLB malaria dapat dilihat pada
gambar Alur Penetapan KLB Malaria Pada Daerah Tahap
Pemberantasan, dibawah ini :

104

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria


Gambar
Alur Penetapan KLB Malaria
Pada Daerah Tahap pemberantasan, Pre Eliminasi dan Eliminasi
Laporan
masyarakat

Laporan
dokter/petugas

Perkembangan
mingguan/bulanan malaria

Peningkatan Kasus Malaria Positif


Ya

Tidak

Jumlah kasus >2 kali dibanding bulan sebelumnya/


bulan sama tahun sebelumnya/maksimum kurva
pada periode waktu yang sama/

Tidak

atau

Kematian > 50%


dibanding bulan
sebelumnya

Ya

MFS : PR>20%
Pf dominan
Kewaspada
an tinggi
*)

Tidak

Ya

KLB
Malaria

pada daerah tahap eliminasi : peningkatan kasus malaria poitif indigenous

2. Kriteria KLB Malaria Pada Daerah Tahap Eliminasi


Pada Desa atau Kelurahan :
a. Terjadi peningkatan jumlah penderita malaria indigenous di suatu
wilayah tertentu dalam sebulan sebanyak 2 kali atau lebih
dibandingkan dengan salah satu keadaan dibawah ini:

Jumlah penderita malaria indigenous di wilayah yang sama


dalam sebulan pada bulan sebelumnya
Jumlah penderita malaria indigenous di wilayah yang sama
dalam sebulan, pada bulan yang sama tahun sebelumnya
Jumlah maksimum penderita malaria indigenous di wilayah
yang sama pada pola maksimum dan minimum
dan slide positivity rate pada kegiatan Penemuan Penderita
Demam Massal (MFS) lebih dari 20%; dan parasit Plasmodium
falsiparum dominan
atau
b. terjadi peningkatan jumlah penderita malaria (indigenous dan atau
impor) meninggal dalam periode tertentu
lebih dari 50 %
dibanding keadaan sebelumnya dalam periode yang sama;
dan
slide positivity rate pada kegiatan Penemuan Penderita Demam
Massal (MFS) lebih dari 20% ; dan parasit Plasmodium
falsiparum dominan
105

Secara skematis penentuan adanya KLB malaria tahap Eliminasi


dapat dilihat pada gambar Alur Penetapan KLB Malaria Pada Daerah
Tahap Pemberantasan, Pre-eliminasi, dan Eliminasi

3. Pada Daerah Pengendalian Malaria Tahap Pemeliharaan


Terjadi KLB malaria jika : ditemukan satu atau lebih penderita malaria
indigenous (termasuk penderita malaria introduce)

III. Tujuan Penyelidikan Epidemiologi Dan Surveilans


1.
2.
3.
4.

Memastikan adanya KLB malaria


Menetapkan etiologi KLB malaria (jenis parasit)
Penemuan penderita
Mengetahui gambaran epidemiologi KLB berdasarkan karakteristik
waktu (kurva), tempat (dusun/desa) dan orang (umur, jenis kelamin)
dan faktor risikonya
5. Mengidentifikasi kelompok rentan KLB malaria
6. Mengetahui pola musiman dan bionomik vektor
7. Mengetahui pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap
malaria
8. Mengetahui musim dan curah hujan dan pengaruhnya terhadap
perkembangan malaria
9. Identifikasi penduduk migrasi dan hubungannya dengan
perkembangan malaria
10. Mengetahui sumber-sumber dan cara penularan malaria
(identifikasi penularan setempat)
11. Rekomendasi upaya penanggulangan yang lebih baik

IV. Metode
A. Sumber Informasi Adanya KLB Malaria
1. Sistem deteksi dini KLB malaria di Puskesmas, rumah sakit dan
fasilitas pelayanan kesehatan (SKD-KLB malaria) melalui
kegiatan pemantauan adanya KLB di masyarakat, Pemantauan
Wilayah Setempat Kasus Malaria dan penyelidikan dugaan
adanya KLB malaria
2. Laporan masyarakat

106

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

B. Pelaksanaan Kegiatan Penanggulangan KLB Malaria


1. Puskesmas segera membuat laporan adanya KLB malaria
kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (laporan KLB 24
jam/W1)
2. Melaksanakan penyelidikan epidemiologi segera setelah
Laporan KLB 24 Jam/W1 dikirim ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
Survei pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat dapat
dilaksanakan
bersama
dengan
kegiatan
penyelidikan
epidemiologi
3. Mendirikan pos-pos pelayanan kesehatan dekat dengan
pemukiman penduduk (metode Penemuan Penderita Demam
Massal/MFS), terutama pada lokasi yang diduga terjadi
penularan yang tinggi
a. Tujuan
(1) memastikan adanya KLB malaria
(2) mencari, menemukan dan mengobati penderita malaria,
sehingga dapat menurunkan risiko penularan setempat
(menghilangkan sumber-sumber penularan)
b. Pelaksanaan
(1) Penderita berobat ke pos-pos kesehatan direkam dalam
Register Berobat Pos Kesehatan. Penderita demam
(kasus malaria suspek) diberi tanda sebagai kasus
malaria suspek
(2) Setiap penderita demam (kasus malaria suspek)
diwawancarai dengan menggunakan formulir wawancara
Form Penyelidikan Epidemiologi KLB Malaria (lampiran
lpklb-01)
(3) Setiap penderita demam (kasus malaria suspek) diambil
spesimen darah dan diuji secara mikroskopis atau RDT
yang sesuai
(4) Setiap kasus malaria positif mendapat pengobatan
standar
(5) Penderita demam yang tidak datang ke pelayanan
kesehatan didatangi ke rumah penderita.
(6) Setiap kasus malaria positif diikuti dengan pemeriksaan
kontak dengan menguji sediaan darah penghuni rumah
(3-5 rumah) yang berdekatan dengan rumah kasus
malaria positif. Kasus malaria positif (simtomatis dan
asimtomatis) harus mendapat pengobatan standar.
107

(7) Rangkaian kegiatan Penemuan Penderita Demam Massal


(MFS) diselesaikan dalam waktu secepatnya tidak lebih
dari 7 hari sejak kegiatan ini dilaksanakan, termasuk
pemberian obat kepada penderita malaria positif untuk
menghilangkan parasit malaria dari penderita. Cara ini
diharapkan dapat menurunkan risiko penularan dan
mencegah terjadinya reinfeksi.
(8) Melakukan analisis untuk memastikan adanya KLB
Malaria
dan
atau
evaluasi
dampak
terhadap
perkembangan dan perluasan KLB malaria (lihat analisis
pada kegiatan Penemuan Penderita Demam Massal/MFS)
(9) Jika diperlukan, mengintensifkan kegiatan Penemuan
Penderita Demam Massal (MFS) di seluruh wilayah KLB
malaria, sehingga seluruh penderita malaria dapat ditemukan
dan diobati dalam waktu kurang dari 7 hari sejak mulai
melaksanakan Penemuan Penderita Demam Massal, sehingga
dampak pengobatan dapat menurunkan risiko penularan
malaria dan mencegah reinfeksi di seluruh wilayah KLB
7. Melaksanakan upaya penanggulangan KLB malaria dengan
menerapkan Pemeriksaan Darah Massal (MBS), sesuai hasil
analisis dan keputusan tim penanggulangan KLB, terutama
pada wilayah-wilayah KLB dengan attack rate dan atau case
fatality rate yang tinggi
8. Melaksanakan upaya penanggulangan KLB malaria dengan
mendistribusikan kelambu berinsektisida, sesuai analisis dan
keputusan tim penanggulangan KLB
9. Melaksanakan upaya penanggulangan KLB Malaria dengan
melaksanakan Penyemprotan Insektisida (IRS), sesuai analisis
dan keputusan tim penanggulangan KLB
10. Sesuai dengan kebutuhan penyelidikan dapat dilakukan
berbagai penyelidikan lebih luas :
a. Melakukan kajian pengaruh jangkauan dan kualitas
pelayanan kesehatan terhadap KLB malaria
b. Melaksanakan survei pengaruh pengetahuan, sikap dan
perilaku masyarakat terhadap malaria dan KLB malaria
c. Melaksanakan
kajian
pengaruh
kondisi
lingkungan
pemukiman, curah hujan dan migrasi penduduk terhadap
KLB malaria, terutama untuk mengetahui adanya lingkungan
sebagai sumber-sumber penularan
108

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

d. Melakukan survei dinamika penularan


e. Melaksanakan pengamatan dan survei vektor
Data vektor yang dikumpulkan adalah meliputi spesies vektor,
bionomik dan tempat perkembangbiakan. Data tersebut
dikumpulkan dari hasil kegiatan survey vektor pada saat
konfirmasi KLB dan akhir KLB. (Lihat pada Pengamatan dan
Survei Vektor)
f. Melaksanakan verbal otopsi
11. Melaksanakan surveilans
Secara umum, surveilans selama periode KLB malaria adalah
memanfaatkan data yang diperoleh saat melaksanakan
kegiatan penanggulangan KLB malaria, antara lain, kegiatan
Penemuan Penderita Malaria Secara Aktif di Pos-pos
Kesehatan dan atau Fasilitas Kesehatan Lain; Pemeriksaan
Darah Massal (MBS), kegiatan penyemprotan rumah (IRS),
penyelidikan epidemiologi, pengamatan vektor dan sebagainya
Gambar
Surveilans Pada Saat KLB Malaria Di Daerah Tahap Pemberantasan
KLB Malaria
Pelaksanaan Surveilans

Data Penemuan
Kasus Secara Aktif
(Pos Kesehatan)

Intervensi MBS
Analisis

Survei kontak

Intervensi IRS

Pengamatan dan
survey Vektor
Penyelidikan
epidemiologi
Pengamatan dan
observasi lapangan
petugas

Intervensi Kelambu

Intervensi
Lingkungan
Penanggula
ngan KLB

Sumber Data Epid.


Laporan Png.KLB

C. Analisis Hasil Penemuan Penderita Demam Massal


Pada penemuan kasus malaria secara pasif di Puskesmas, Rumah
Sakit dan Fasilitas lainnya mempunyai register pasien rawat jalan/inap
harian standar. Demikian juga, pada pelayanan kesehatan di pos-pos
109

pelayanan kesehatan dalam rangka Penemuan Penderita Demam


Massal, menggunakan register pasien rawat jalan/inap harian standar
Setiap penderita demam pada register pasien rawat jalan/inap harian
yang diyakini sebagai kasus malaria suspek, diwawancara lebih jauh
dengan menggunakan formulir wawancara Kasus Malaria Suspek Pada
KLB malaria (lihat pada Lampiran 3.1)
Data
terekam
dalam
register
rawat
jalan/inap
harian,
dipindahkan/direkam ulang dalam Daftar Penderita Demam Massal
Pada KLB Malaria sebagai master data penyelidikan KLB malaria ini.
Data dalam Daftar Penderita Demam Massal diolah sedemikian rupa
sesuai dengan kebutuhan analisis yang dibahas pada pokok bahasan
analisis dibawah ini :

1. Penetapan Etiologi KLB Malaria


Etiologi KLB malaria dapat ditegakkan jika distribusi gejala kasuskasus yang dicurigai menunjukkan gejala demam adalah dominan,
dan gejala lain yang menonjol adalah menggigil, dan berkeringat,
tetapi beberapa daerah bisa mempunyai gejala dan tanda lebih
spesifik .
Sumber data analisis etiologi KLB malaria dapat berdasarkan data
Penemuan Kasus Malaria Secara Pasif di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan, atau Penemuan Penderita Demam Massal.
Setiap penderita yang dicurigai dilakukan uji diagnostic dengan
pemeriksaan mikroskopis sediaan darah, RDT atau pengujian lain
yang sesuai
Gejala klinis penderita malaria bisa rancu dengan gejala klinis DBD,
oleh karena itu, distribusi gejala dan hasil pengujian laboratorium
menjadi sangat penting untuk menentukan etiologi KLB malaria.
Gejala dan tanda penyakit lain yang dicurigai atau mirip dengan
gambaran klinis malaria juga perlu ditanyakan pada saat
mewawacarai penderita yang dicurigai, sehingga pada waktu analisis
distribusi gejala dapat dimanfaatkan untuk menyingkirkan
kemungkinan penyakit lain sebagai etiologi KLB ini. Misalnya, jika
juga curiga dengan DBD, maka wajib ditanyakan bercak kemerahan,
tanda-tanda perdarahan, dan perlunya pemeriksaan trombosit dan
hematokrit.
Gejala dan tanda klinis tersebut ditanyakan pada setiap penderita
yang dicurigai (suspek malaria). Gejala dan tanda klinis ini sebaiknya
ditanyakan pada semua penderita, tetapi apabila jumlah kasus
110

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

malaria pada KLB ini cukup besar, gejala dan tanda klinis ini bisa
ditanyakan pada sebagian penderita sampai jumlah cukup memadai
untuk analisis etiologi KLB malaria (minimal 25 suspek malaria),
tetapi gejala dan tanda klinis yang merupakan kriteria kasus malaria,
wajin ditanyakan pada semua penderita, misalnya gejala demam
dalam 48 jam terakhir, menggigil, sakit kepala dan ikterik
Gambaran distribusi gejala malaria pada KLB malaria dapat
dimanfaatkan untuk menentukan etiologi KLB malaria. Contoh dapat
dilihat pada tabel dibawah ini :
Distribusi Gejala Pada KLB Malaria
No
1
2.
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Jumlah Kasus
Dicurigai

Gejala
Demam (37,5-400C)
Menggigil
Berkeringat
Sakit kepala
Mual
Muntah
Diare
Nyeri otot
Anemi (pucat)
Mata/Kulit kuning (ikterus)
Air kencing seperti air teh
/hitam
Gangguan kesadaran
Meninggal
Jumlah kasus yang diperiksa

100%

Hasil Pengujian Laboratorium


Hasil Pengujian Laboratorium
No

Metode Pemeriksaan
RDT
Mikroskopis :
P falsiparum
P. vivak

111

Jumlah Kasus
Diperiksa

Jumlah Hasil
Pemeriksaan

2. Memastikan adanya KLB Malaria


Penetapan KLB Malaria dilaksanakan secara bertahap sejak adanya
dugaan adanya KLB Malaria, sampai KLB dinyatakan berakhir. Adanya
dugaan KLB Malaria sudah memerlukan penyelidikan dan
penanggulangan KLB sesuai dengan kondisinya
a. Memantau perkembangan jumlah absolut kasus malaria suspek dan
kasus malaria positif dari waktu ke waktu (harian, mingguan dan
bulanan) berdasarkan Penemuan Kasus Malaria di Fasiltas
Kesehatan atau informasi lain.
b. Apabila terdapat indikasi KLB malaria, maka
(1) Memeriksa penderita dicurigai, rumah tempat tinggalnya dan
lingkungan sekitarnya untuk mengidentifikasi adanya tempattempat perindukan nyamuk.
(2) Memeriksa warga dari rumah ke rumah di sekitar rumah
penderita dicurigai untuk menemukan penderita suspek malaria
(demam), setiap penderita suspek dilakukan pemeriksaan RDT
atau mikroskopis. Setidak-tidaknya harus menemukan 5 kasus
suspek malaria yang diperiksa RDT/mikroskopis.
(3) Jika terdapat kasus malaria positip lainnya, maka investigasi
diperluas untuk menentukan besar masalah KLB malaria
(epidemiologi deskriptif menurut waktu, tempat, orang), luas
wilayah yang berjangkit KLB malaria dan risiko beratnya penyakit
dan kematian.
c. Menentukan waktu mulai KLB malaria, memantau perkembangan
luas daerah berjangkit KLB dan memantau perkembangan besarnya
attack rate kasus malaria suspek dan kasus malaria positif selama
periode KLB (harian. mingguan dan bulanan)
d. Memantau perkembangan slide positivity rate (SPR) dan proporsi
Plasmodium falsiparum dari waktu ke waktu (harian, mingguan dan
bulanan)
e. Jika diperlukan, melakukan penyelidikan lebih luas untuk mengetahui
pengaruh faktor risiko tertentu dan identifikasi sumber-sumber
penularan

3. Menetapkan luasnya KLB berdasarkan waktu, tempat dan orang


(epidemiologi deskriptif)
Secara umum, data penderita malaria berdasarkan kegiatan Penemuan
Penderita Demam Massal dapat diolah dan disajikan dalam berbagai
bentuk tampilan analisis yang memberikan gambaran luasnya KLB
malaria :
-------------------------------------------------------------------------------------112

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

a. Kurva epidemi atau grafik fluktuasi kasus mingguan, atau


bulanan
b. Distribusi Kasus KLB malaria menurut hasil pengujian
laboratorium
c. Distribusi Kasus KLB malaria menurut umur dan jenis kelamin
d. Distribusi Kasus KLB malaria menurut Desa/Dusun dan waktu
e. Distribusi Kasus KLB malaria menurut karakteristik khusus
lainnya
--------------------------------------------------------------------------------------a. Kurva epidemi atau grafik fluktuasi kasus mingguan, atau bulanan

Grafik
Kurva Epidemi Kasus Malaria Positif
KLB Malaria, Puskesmas Jaya, 2012
140

Penemuan
Demam Massal

Laporan mingguan Puskesmas

JUMLAH KASUS

120
100
80
60
40
20
0
12

13

Kasus Suspek

14

15

16

MINGGU

Kasus Positif

17

18

19

Kasus Meninggal

Analisis pada contoh grafik Kurva Epidemi Kasus Malaria


Pada KLB Malaria Puskesmas Jaya, 2012 :
(1) KLB Malaria dimulai pada minggu ke 16, 2012, dan
masih berlangsung tinggi saat penyelidikan (minggu ke
19, 2012)
(2) Jumlah kasus malaria suspek adalah jumlah kasus
malaria suspek antara minggu ke 16-19, 2012. Kasus
malaria suspek pada minggu 12-15, 2012, bukan kasus
KLB (tidak masuk dalam periode KLB). Satuannya
adalah kasus
(3) Jumlah kasus malaria positif adalah jumlah kasus
malaria positif antara minggu ke 16-19, 2012, dan attack
rate adalah per 1000 penduduk di daerah (dusun/desa)
yang berjangkit KLB malaria
113

b. Distribusi Kasus KLB malaria menurut hasil pengujian laboratorium


Tabel
Distribusi Kasus Malaria Menurut Minggu Mulai Sakit
KLB Malaria di Puskesmas Jaya, 2012
Kasus
Malaria
Kasus
Suspek
Kasus
Positif
Pf
% Pf

Minggu Mulai Sakit


12

13

14

15

16

17

18

19

20

22

20

18

25

40

100

120

16

20

60

50

10

18

50

40

33

33

17

50

63

90

84

80

20

Analisis pada contoh tabel Distribusi Kasus Malaria Menurut Minggu


Mulai Sakit Pada KLB Malaria Puskesmas Jaya, 2012 :
(1) Periode KLB 16-19, 2012
(2) Jumlah kasus malaria positif pada periode KLB (minggu 16-19,
2012) adalah 146 kasus. Ini menunjukkan attack rate .. per
1.000 penduduk wilayah KLB
(3) Jumlah kasus malaria positif Plasmodium falsiparum selama
periode KLB adalah 118 kasus, % Pf terhadap kasus malaria
positif adalah 80,8 % (118 ks /146 ks %)

c. Distribusi Kasus KLB malaria menurut umur dan jenis kelamin


Tabel
Distribusi Kasus Menurut Jenis Kelamin
KLB Malaria Puskesmas Jaya, 2012
Attack
Populasi Kasus
Case
Jenis
Meninggal Rate per
Berisiko
positif
Fatality
Kelamin
**)
1.000
*)
**)
Rate (%)
pdd
Laki-laki
1400
80
1
57,1
1,2
Perempuan
1600
28
3
17,5
10,7
Total
3000
118
4
39,3
3,4
*) dusun-dusun berjangkit KLB (terjadi peningkatan kasus)
**) kasus selama periode KLB
Analisis : Sampai minggu ke 19, 2012, jumlah kasus seluruhnya 118
kasus, attack rate total sebesar 39,3 per 1000 populasi berisiko.
114

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Risiko sakit pada laki-laki lebih besar dibanding perempuan, tetapi


risiko meninggal diantara kasus malaria lebih besar pada
perempuan.

Tabel
Distribusi Kasus Menurut Umur
KLB Malaria Puskesmas Jaya, 2012
Gol.
Populasi Kasus
Attack
Case
Meninggal
Umur
Berisiko
positif
Rate per
Fatality
**)
(tahun)
*)
**)
1.000 pdd Rate (%)
<1
60
0
0
0
1-4
240
0
0
0
5-9
200
10
2
50
20
10-14
180
8
2
44
25
15-24
350
40
114
0
25-44
1000
40
40
0
45 +
1970
20
10
0
Total
3000
118
4
39,3
3,4
*) dusun-dusun berjangkit KLB (terjadi peningkatan kasus)
**) kasus selama periode KLB
Analisis : Sampai minggu ke 19, 2012, jumlah kasus seluruhnya 118
kasus, attack rate total sebesar 39,3 per 1000 populasi berisiko.
Risiko sakit terberat adalah pada usia 15-24 tahun, risiko sakit cukup
tinggi pada usia <10 tahun.
d. Distribusi Kasus KLB malaria menurut Desa/Dusun dan waktu
Tabel
Distribusi Kasus Menurut Dusun/Desa
KLB Malaria Puskesmas Jaya, 2012
Attack
Populasi Kasus
Case
Meninggal Rate per
Desa/Dusun Berisiko
positif
Fatality
**)
1.000
*)
**)
Rate (%)
pdd
Labu/Meriah
500
80
4
160
5
Labu/DsTuo
800
20
0
25
0
Damai/Kwt1
1700
18
10,6
0
Total
3000
118
4
39,3
3,4
*) dusun-dusun berjangkit KLB (terjadi peningkatan kasus)
**) kasus selama periode KLB

115

Analisis : Sampai minggu ke 19, 2012, jumlah kasus seluruhnya 118


kasus, attack rate total sebesar 39,3 per 1000 populasi berisiko.
Risiko sakit terberat adalah pada dusun Merah Desa Labu

Grafik
Kurva Epidemi Kasus Malaria Positif
KLB Malaria, Puskesmas Jaya, 2012
70

Penemuan
Demam Massal

Laporan mingguan Puskesmas

JUMLAH KASUS

60
50

Total Kasus
Mirah
Tuo
KW1

40
30
20
10
0
12

13

14

15

16

17

18

19

MINGGU

Analisis : Sampai minggu ke 19, 2012, jumlah kasus seluruhnya 118


kasus. Risiko sakit terberat adalah pada dusun Merah Desa Labu,
peningkatan kasus sudah dimulai sejak minggu 15, sementara Dusun
Tuo dan KW1 baru terjadi peningkatan kasus pada minggu 17
e. Distribusi Kasus KLB malaria menurut karakteristik khusus lainnya
Terutama analisis untuk mengidentifikasi dugaan sumber-sumber
penularan malaria.
Berdasarkan analisis terhadap data epidemiologi deskriptif dapat
ditentukan :
1. kapan terjadi KLB, kapan KLB dimulai dan KLB berakhir
2. bagaimana kecenderungan KLB saat ini (meningkat, tetap,
menurun atau sudah berakhir)
3. bagaimana perluasan KLB saat ini (menyebar, tetap, semakin
menyempit daerah berjangkitnya atau sudah berakhir)
4. berapa besar Attack Rate, Case Fatality Rate, Mortality Rate,
termasuk kesimpulan analisis spesifik menurut umur, jenis
kelamin, desa/dusun dan khusus lainnya

116

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

D. Analisis Lain
1. Analisis karakteristik penularan
a. Penularan setempat
Indikasi penularan setempat antara lain :
(1) ditemukan sejumlah kasus malaria positif, terutama bayi dan
anak < 9 tahun positif malaria
(2) ditemukan vektor atau tersangka vektor
(3) ditemukan tempat perindukan potensial
(4) banyak kasus pada kelompok wanita
b. Penularan di luar wilayah KLB
tidak ada indikasi penularan setempat
(1) tidak terdapat vektor penular
(2) kasus malaria pada umumnya laki-laki
(3) kasus malaria pada umumnya dewasa

2. Analisis Sumber dan Cara Penularan


Dimaksudkan sumber penularan adalah lokasi dimana penularan dari
orang (penderita) nyamuk - orang lain (penderita baru) terjadi. Artinya
lokasi tersebut banyak terdapat kasus malaria ditempat tersebut atau
banyak kasus malaria yang berhubungan dengan tempat tersebut, ada
tempat dimana nyamuk berkembang biak (tempat perindukan nyamuk),
dan terjadi hubungan antara kasus yang digigit nyamuk, dan nyamuk
infected tersebut mengigit calon kasus baru
Informasi adanya sumber dan cara penularan, sangat penting dalam
upaya memutus rantai penularan malaria.

Langkah analisis sumber dan cara penularan :


a. Mengembangkan hipotesis sumber dan cara penularan bersasarkan
analisis terpadu terhadap perkembangan kasus, distribusi kasus
berdasarkan lokasi (dusun/desa), distribusi kasus menurut
karakteristik penduduk (jenis kelamin, umur, tempat bekerja dan
faktor lain yang dicurigai), hasil survei bionomic vektor, hasil
pengamatan kebiasaan penduduk, perubahan lingkungan dan
sebagainya
b. Membuktikan hipotesis yang telah disusun dengan survei dinamika
penularan, baik berdasarkan data yang telah diperoleh, maupun
mengembangkan survei baru untuk melengkapi hasil pendataan
sebelumnya
117

V. Pelaporan
Contoh Format pelaporan
Judul : Laporan KLB Malaria Di ., tahun ..
Daftar Tim : Nama, gelar, satuan tugas, jabatan dan kedudukan dalam
tim penyelidikan, handphone dan email
Laporan Ringkas
(Untuk Pimpinan)
Dibuat secara ringkas memuat bagian-bagian penting hasil penyelidikan
yang perlu disampaikan pada pimpinan dengan bahasa umum

Laporan
Tanggal
Puskesmas
Kecamatan
Kab/Kota
Provinsi
I.
II.
III.
IV.
V.
VI.
VII.
VIII.
IX.
X.
XI.

: ....
: ....
:
:
:

Abstrak
Kepastian adanya KLB malaria
Penetapan etiologi KLB malaria
Kurva epidemi
Gambaran epidemiologi secara umum (jumlah kasus dan
meninggal, periode KLB, wilayah penularan KLB malaria)
Gambaran epidemiologi menurut umur, jenis kelamin serta menurut
variabel penting lainnya
Gambaran epidemiologi menurut daerah (peta) atau lokasi khusus
lainnya
Keadaan KLB saat penyelidikan dilakukan (kecenderungan,
perluasan)
Sumber (asal) dan cara penularan
Rekomendasi cara-cara penanggulangan
Rekomendasi penyelidikan lebih luas atau lebih teliti

Masing pembahasan tersebut sesuai dengan kaidah pelaporan penelitian


epidemiologi sesuai dengan hasil penyelidikan epidemiologi. Pokok
bahasan dapat dilihat pada lampiran lampiran lpklb-03

118

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Lampiran lpklb-01
------------------------------------------------------------------------------------------------FORM PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI
KEJADIAN LUAR BIASA MALARIA
Puskesmas
Kabupaten/Kota
Tanggal Penyelidikan

: .
:
:

A. IDENTITAS PENDERITA
1. Nama
:
2. Umur (tahun + bulan)
:
3. Status dalam keluarga
:
4. Alamat
RT/RW
: . Kelurahan-Desa
.
Kecamatan : .. Kab/Kota
:..
Provinsi
: ..
5. Pekerjaan Utama
Alamat tempat kerja

:.
:.

6. Pekerjaan Sampingan
Alamat Tempat Kerja

:
:.

7. Hubungan dengan penderita


:
(diisi apabila responden adalah orang-orang kontak)
a. Hubungan sedarah serumah (orang tua, anak, saudara, bukan
saudara)
b. Hubungan tidak serumah (tetangga, teman kantor, teman
sekolah, lainnya sebutkan : .

B. RIWAYAT PENYAKIT
1. Sakit yang sekarang sudah berapa lama ? hari
2. Antara 2-4 minggu sebelum sakit yang sekarang, apakah pergi
bermalam ke luar daerah/desa ? Ya/Tidak
3. Jika Ya, sebutkan alamatnya !
RT/RW/Dusun
119

: .

Desa/Kelurahan
Kecamatan
Kabupaten
Provinsi

: .
: .
: ....
:... ..

4. Apa gejala yang timbul pada sakit yang sekarang ?


a. Demam
b. Pusing
c. Mual
d. Muntah
e. menggigil
f. Pegal-pegal
g. Diare
5. Pernahkan sakit dengan gejala seperti sakit yang sekarang ? Ya/Tidak
6. Jika Ya, kapan/tanggal berapa sakit yang terakhir ?
7. Tempat tinggal saat sakit tersebut dimana ?
RT/RW/Dusun
Desa/Kelurahan
Kecamatan
Kabupaten
Provinsi

: .
: .
: .
: ....
:... ..

8. Diagnosis yang dibuat Puskesmas

: Pf/Pv/Mx

9. Tanggal Sediaan Darah dibuat


Nomor slide Sediaan darah

:
:

10. Tanggal pemeriksaan Sediaan Darah


Laboratorium Pemeriksa

: .
:

11. Klasifikasi penderita

: a. indigenous
b. relaps
c.Impor

12. Daftar Spesimen Sediaan Darah semua penghuni rumah penderita :


No.
1
2
3
4
5

120

No.
SD

Nama

Umur

Jenis
Kelamin

Klinis

Diagnosis

Obat

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

13. Aktivitas rutin di luar rumah pada malam hari


Jam
18.00-20.00
20.00-22.00
22.00-24.00
00.00-02.00
02.00-04.00
04.00-06.00

Kegiatan

Tempat Kegiatan

10. Kondisi sekitar rumah :


a. ada genangan air berjentik
b. ada tambak tidak terurus dan berjentik
c. banyak semak bernyamuk
d. dekat dengan hutan : . Km
e. lainnya : ..
11. Kegiatan kumpul-kumpul (kegiatan sosial) yang selalu dihadiri :
a.
b.
c.

Pewawancara : ..

121

Lampiran lpklb-02
-------------------------------------------------------------------------------------------------Pada KLB malaria dimana jumlah kasus cukup banyak, sehingga
kemampuan wawancara dan perekaman data menjadi kendala,
maka dapat menggunakan formulir dalam bentuk daftar. Misalnya
pada daerah tahap pemberantasan,
Perekaman data dibuat pada 2 tabel terpisah :
1. Register Keluarga,
Ini digunakan jika kegiatan dilaksanakan dengan melakukan
kunjungan dari rumah ke rumah. Penderita dengan riwayat
demam 48 jam terakhir dilakukan wawancara dan
pemeriksaan khusus dengan Form Penyelidikan KLB Malaria
2. Register Kunjungan Penderita Berobat.
Ini digunakan jika kegiatan penemuan kasus malaria dengan
melaksanakan kegiatan pos pengobatan di pemukiman yang
terjadi KLB malaria. Penderita demam (kasus malaria
suspek) diberi tanda sebagai kasus malaria suspek untuk
diwawancara
3. Form Penyelidikan KLB Malaria
(Register Penderita Malaria Pada Penyelidikan KLB Malaria)

Register Keluarga
KLB Malaria di Puskesmas Jaya, 2012
Nama Desa :
Tanggal PE :
No Nama KK

122

Dusun

Anggota
Keluarga

Jenis
Umur
Kelamin

Riwayat
Demam 48
jam terakhir

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Register Penderita Malaria


KLB Malaria di , tahun
Nama Desa : ..
Tanggal PE :

123

diare

Kode
Slide
pegal

menggigil

muntah

mual

pusing

Demam

Dusun

Tgl mulai sakit

Nama KK

Jenis kelamin

N
o

Nama
Kasus
Demam

Umur

Gejala
klasifi
kasi

Hasil
Pf,
Pv,
Po,
Pm

Obat

Lampiran LpKLB-03
-------------------------------------------------------------------------------------------------Panduan Pokok Bahasan dan Ruang Lingkup Pelaporan
Pokok Bahasan Pelaporan
Sumber Informasi adanya
KLB
Lokasii KLB dan jumlah
penduduk berisiko

Faktor yang berpotensi


menimbulkan KLB

Situasi Penyakit

Upaya penanggulangan yang


telah dilakukan
Pihak-pihak yang member
bantuan
Bantuan yang diharapkan
(bila ada)
124

Ruang Lingkup Pelaporan


Informasi melalui :
a. Petugas Puskesmas .
b. Kunjungan ke lokasi KLB
a. KLB malaria terjadi di Dusun . Dusun
., Dusun .., Desa , Kecamatan
. Kab/Kota .
b. Jumlah penduduk masing-masing
Dusun :
Dusun : .. Orang
Dusun ..: . Orang
Dusun ..: . Orang
c. Kondisi geografi : ..
a. Status sosial ekonomi penduduk
b. Distribusi penduduk menurut jenis
pekerjaannya
c. Perilaku, kebiasaan, atau pekerjaan
masyarakat yang menunjang atau
berkaitan dengan penularan penyakit
malaria, misalnya perilakudan
kebiasaan pada malam hari, adanya
pekerja musiman, bekerja ke hutan, dsb
d. Sarana kesehatan, cara minum obat
e. Faktor cuaca, musim, curah hujan saat
terjadi KLB
f. Faktor lingkungan, tempat perindukan
nyamuk potensial
a. Data kasus penyakit minimal dalam 3
bulan terakhir
b. data kasus kematian sejak mulai KLB
hingga situasi terakhir
a. Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan
oleh Puskesmas, Dinkes Kab, Dinkes
Provinsi
a. Bantuan pusat
b. Bantuan Dinkes
c. Bantuan lain
a. Pengadaan kelambu
b. Insektisida

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Pokok Bahasan Pelaporan

Kesimpulan

Saran-Rekomendasi

125

Ruang Lingkup Pelaporan


c. Tambahan alat/perlengkapan
penyemprotan
d. Obat artemeter injeksi, artesdiaquine
dsb
e. RDT/alat laboratoium lainnya
f. Dana operasional
g. Bimbingan teknis
h. Bahan penyuluhan-promosi
i. dsb
Faktor-faktor yang menyebabkan KLB
bertambah buruk, atau dapat
ditanggulangi
a. Perilaku dan kebiasaan masyarakat
b. Tempat perindukan nyamuk
c. Penanggulangan KLB oleh Pemda
setempat sudah atau belum optimal
karena keterbatasan tenaga, sarana,
dan lain-lain nyang menjadi kendala
dalam penanggulangan KLB
a. Usulan kepada program terkait di
Kab/Kota, Provinsi dan Pusat
b. Usulan kepada lintas program
c. Usulan kepada lintas sektor

Lampiran 3a. SKD-KLB Malaria

I. Pendahuluan
Pada bahasan SKD-KLB perlu dibahas terlebih dahulu konsep dasar
program penanggulangan KLB malaria. Program penanggulangan KLB
malaria, berbeda dengan kegiatan penyelidikan dan penanggulangan
malaria. Kegiatan penyelidikan dan penanggulangan KLB adalah tindakan
yang diambil ketika terjadi KLB malaria, sementara program
penanggulangan KLB malaria adalah merencanakan dan melaksanakan
kegiatan (pengorganisasian) yang terarah, terpadu dan sistematis dalam
periode waktu tertentu (proses manajemen) agar KLB-KLB malaria pada
suatu daerah dapat dikurangi dampaknya, atau bahkan dapat dicegah
jangan sampai terjadi lagi (tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat).
Program penanggulangan KLB malaria bisa berjangka waktu rencana
kerja tahunan atau lima tahunan, termasuk bagaimana melaksanakan
penyelidikan dan penanggulangan suatu KLB malaria dengan rasional,
cepat, efektif dan efisien.
Pokok program penanggulangan KLB malaria mencakup 5 pilar
kegiatan utama :
1. Melakukan kajian atau analisis epidemiologi untuk mengetahui dan
menentukan daerah-daerah yang sering terjadi KLB malaria,
termasuk masalah dan cara-cara penanggulangannya
2. Memprogramkan upaya-upaya pencegahan (pengendalian faktor
risiko malaria) agar dimasa yang akan datang tidak terjadi KLB
malaria, terutama di daerah-daerah yang sering terjadi KLB malaria
3. Melaksanakan sistem kewaspadaan dini (SKD) KLB malaria dan
respon, sehingga munculnya KLB malaria dapat segera diketahui
dini dan dilakukan tindakan penanggulangan KLB tersebut
4. Memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan munculnya
KLB malaria
5. Melaksanakan penyelidikan dan penanggulangan KLB malaria
secara rasional, cepat, efektif dan efisien (jika terjadi)
Secara skematis program penanggulangan KLB malaria tersebut dapat
dilihat pada skema :

126

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Upaya Pencegahan KLB Malaria *)

SKD KLB
Malaria

Kesiapsiagaan
menghadapi KLB
malaria

Penanggulangan
KLB
malaria

Tidak Menjadi
Masaslah KesMas

Kajian Epidemiologi

Gambar 1
Program Penanggulangan KLB Malaria

*) pengobatan massal, kelambu berinsektisida, penyemprotan rumah,


perbaikan lingkungan dan kegiatan masyarakat, dan lain-lain

Mencermati konsep program penanggulangan KLB malaria


tersebut, maka sistem kewaspadaan dini (SKD) malaria
merupakan bagian dari program penanggulangan KLB.

II. Pengertian
Deteksi dini KLB merupakan kewaspadaan terhadap kemungkinan
terjadinya KLB dengan cara melakukan intensifikasi pemantauan secara
terus menerus dan sistematis terhadap perkembangan penyakit
berpotensi KLB agar dapat mengetahui secara dini dan respon terjadinya
KLB
Deteksi dini kondisi rentan KLB merupakan kewaspadaan terhadap
kemungkinan terjadinya KLB dengan cara melakukan intensifikasi
pemantauan secara terus menerus dan sistematis terhadap perubahan
kondisi rentan KLB agar dapat mengetahui secara dini kondisi yang rentan
terjadinya KLB, tindakan pencegahan dan atau antisipasi yang sesuai.
Kejadian luar biasa (KLB) malaria adalah muncul atau meningkatnya
jumlah kasus malaria dan atau kematian pada periode waktu dan wilayah
tertentu yang bermakna secara epidemiologi sesuai dengan tahapan
pengendalian malaria suatu daerah.

127

Kondisi rentan KLB adalah kondisi masyarakat, lingkungan-perilaku dan


penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang merupakan faktor risiko
terjadinya KLB
Penanggulangan KLB adalah kegiatan yang dilaksanakan pada saat
terjadi KLB malaria untuk menangani penderita, mencegah perluasan
kejadian dan timbulnya penderita atau kematian baru
Peringatan Kewaspadaan Dini KLB merupakan pemberian informasi
adanya ancaman terjadinya KLB malaria pada suatu daerah dalam
periode waktu tertentu
Program penanggulangan KLB adalah suatu proses manajemen yang
bertujuan agar daerah yang KLB malaria tidak lagi menjadi masalah
kesehatan masyarakat.
Sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa malaria (SKD-KLB
Malaria) merupakan sistem kewaspadaan dini terhadap KLB malaria
beserta faktor faktor yang mempengaruhinya dengan menerapkan
teknologi surveilans epidemiologi dan dimanfaatkan untuk meningkatkan
sikap tanggap kesiapsiagaan, upaya-upaya dan tindakan penanggulangan
KLB malaria yang cepat dan tepat 7.

III. Tujuan
Terselenggaranya
kewaspadaan
dan
kesiapsiagaan
terhadap
kemungkinan terjadinya KLB malaria, sehingga dapat dilaksanakan
upaya-upaya pencegahan dan antisipasi, serta penanggulangan KLB
malaria secara dini, rasional, efektif dan efisien
Khusus
1. Teridentifikasi daerah retan terjadinya KLB malaria
2. Terselenggaranya peringatan kewaspadaan terjadinya KLB di
daerah rentan KLB malaria
3. Terselenggaranya kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan
terjadinya KLB malaria
4. Terdeteksi secara dini adanya kondisi faktor risiko yang rentan
terjadi KLB malaria
5. Terdeteksi secara dini adanya KLB malaria
6. Terselenggaranya penyelidikan dugaan KLB malaria
7. Terselenggaranya upaya-upaya pencegahan dan antisipasi
kemungkinan terjadinya KLB malaria
7

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 042/MENKES/SK/I/2007 tentang Pedoman


Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) dan Penanggulangan Kejadian Luar
Biasa (KLB) Penyakit Malaria

128

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

8. Terselenggaranya upaya penanggulangan KLB malaria secara dini,


rasional, efektif, efisien

IV. Metode
Secara operasional kegiatan SKD-KLB dibagi dalam 2 periode :
periode pelaksanaan SKD-KLB Malaria dan periode penyelidikan
epidemiologi KLB malaria.
SKD-KLB pada periode penyelidikan epidemiologi KLB dibahas dalam
pembahasan tentang Penyelidikan, Penanggulangan KLB malaria dan
Surveilans (lampiran 3). Pada pembahasan ini, hanya dibahas SKDKLB malaria periode pelaksanaan SKD-KLB malaria
A. Pelaksanaan SKD-KLB Malaria
Secara umum pelaksanaan SKD-KLB malaria terdiri dari kegiatan :
1. Kajian epidemiologi secara terus menerus dan sistematis terhadap
penyakit berpotensi KLB dan kondisi rentan KLB agar dapat
menentukan adanya daerah atau kelompok masyarakat yang
rentan terjadinya KLB malaria
2. Memberikan peringatan pada pengelola program dan sektor serta
masyarakat adanya daerah atau kelompok rentan KLB malaria agar
meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap KLB
malaria
3. Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan di Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, Puskesmas, rumah sakit dan fasilitas
kesehatan lainnya serta masyarakat di daerah rentan KLB malaria
terhadap kemungkinan terjadinya KLB malaria, yaitu :
3a. Melaksanakan berbagai upaya pencegahan terjadinya KLB
(merupakan bagian dari program penanggulangan KLB)
3b. Memperkuat kesiapsiagaan terhadap kemungkinan terjadinya
KLB (merupakan bagian dari program penanggulangan KLB)
3c. Melaksanakan sistem deteksi dini timbulnya kondisi rentan
terjadinya KLB dan respon
3d. Melaksanakan sistem deteksi dini adanya KLB dan respon
3e. Melaksanakan penyelidikan dugaan KLB malaria

129

SKD-KLB
Malaria
Kajian Epid
menentukan daerah/
masyarakat
rentan
terjadi KLB
malaria
1

Upaya
Pencegah
an KLB
Peringatan
kewaspadaan
pada daerah
yg rentan
KLB malaria
2

Sistem
Deteksi
Dini
Kondisi
Rentan
KLB
Sistem
Deteksi
Dini KLB
6

Kesiapsiagaan
menghadapi
KLB

Indentifikasi
rentan KLB di
masyarakat
PWS rentan
malaria
Penyelidikan
rentan KLB
Indentifikasi
KLB di
masyarakat
PWS kasus
malaria
Penyelidikan
- dugaan KLB

B. Teknis Pelaksanaan SKD-KLB Malaria


1. Teknis Pelaksanaan Kajian Epidemiologi
a. Tujuan Kajian Epidemiologi
Tujuan melaksanakan kajian epidemiologi adalah mengidentifikasi
dan menentukan adanya daerah atau kelompok masyarakat tertentu
yang rentan terjadi KLB malaria.
Daerah atau kelompok masyarakat rentan terjadi KLB malaria :
Daerah rentan KLB malaria dapat seluas regional, provinsi, atau
kabupaten/kota, tetapi juga dapat seluas kecamatan, desa atau
bahkan dusun-dusun, sesuai dengan wilayah analisisnya
Penentuan daerah atau masyarakat rentan KLB malaria sangat
penting untuk mendorong semua pihak agar meningkatkan
upaya-upaya pencegahan dan antisipasi kemungkinan
terjadinya KLB sebagai prioritas program, dan memperkuat
kemampuan mendeteksi dini munculnya kondisi rentan KLB dan
kemampuan mendeteksi dini munculnya KLB serta memperkuat
kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terjadinya KLB
Daerah dan atau kelompok masyarakat rentan terjadinya KLB
malaria dapat ditentukan untuk perkembangan situasi 5 tahun
ke depan, 1 tahun ke depan dan 3-6 bulan ke depan.
130

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Penentuan daerah rentan KLB malaria dalam masa 5 tahun dan


1 tahun ke depan dapat memberi waktu yang cukup untuk
menghadapi kemungkinan terjadinya KLB malaria dimasa yang
akan datang, terutama untuk menyiapkan sumber daya
manusia, infrastruktur, pedoman dan perencanaan anggaran
yang lebih baik. Disamping itu, upaya pencegahan terjadinya
KLB malaria di daerah dan atau kelompok masyarakat rentan
KLB tersebut dapat dilaksanakan dan dimasukkan dalam
rencana strategis dan rencana tahunan program pengendalian
malaria
Penentuan daerah rentan KLB malaria 3-6 bulan kedepan dapat
mendorong program lebih fokus atau memprioritaskan daerah
ini dalam pelaksanaan sistem deteksi dini terjadinya KLB
malaria dan responnya serta menempatkan logistik dan sumber
daya penanggulangan KLB malaria

b. Sumber Data Kajian Epidemiologi


Untuk melakukan kajian epidemiologi dalam menentukan daerah
atau kelompok masyarakat rentan KLB dapat bersumber dari data
dan informasi sebagai berikut :
(1) Laporan data Penemuan Penderita Malaria Di Puskesmas Dan
Rumah Sakit Serta Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya
selama 5 tahun terakhir
(2) Laporan Hasil Penemuan Penderita Malaria melalui bergai
kegiatan Penemuan Penderita Secara Aktif (ACD), kegiatan
Penemuan Penderita Demam Massal (MFS), dan kegiatan
pemeriksaan Darah Massal (MBS)
(3) Laporan hasil penyelidikan dan penanggulangan KLB malaria
selama 5 tahun terakhir
(4) Laporan data KLB malaria Kabupaten/Kota selama 5 tahun
terakhir
(5) Pengamatan dan survei vektor
(6) Kajian terhadap perubahan lingkungan, curah hujan,
pemukiman
(7) Demografi dan perubahan adat istiadat serta perilaku penduduk
berisiko terhadap penularan malaria, termasuk migrasi
penduduk antar wilayah
(8) Cakupan program malaria dan pembangunan daerah yang
berhubungan dengan ancaman penularan malaria
(9) Data dan informasi lain yang diperlukan

131

c. Analisis Kajian Epidemiologi


Melaksanakan analisis terhadap data yang diperoleh dari berbagai
sumber data.
(1) Annual Parasite Incidence (API) (Jumlah kasus malaria (+) per
1000 penduduk pertahun (5 tahun terakhir)
(2) Peta stratifikasi endemisitas malaria, tingkat desa, Puskesmas/
kecamatan dan kabupaten/kota (5 tahun terakhir)
Endemis tinggi API 5/1,000 penduduk
Endemis sedang API 1 5/1,000 penduduk
Endemis rendah API <1/1,000 penduduk
Non-endemis (tidak ditemukan penderita indegenous)
(3) Jumlah kasus malaria (+) berdasarkan tipe parasit serta
proporsinya terhadap total jumlah kasus malaria (+) (proporsi
Falciparum)
(4) Jika diperlukan, dapat dilakukan analisis tambahan pada
berbagai indikator :
(a) Identifikasi desa dan Puskesmas reseptif malaria, daerah
fokus malaria aktif dan jumlah penduduknya
(b) Jumlah kasus suspek yang diuji (Pemeriksaan) dengan RDT
+ mikroskopis dibanding jumlah suspek malaria (% SD
Konfirmasi)
(c) Jumlah kasus malaria (+) dan proporsinya terhadap suspek
malaria yang diperiksa sediaan darahnya (SPR)
(d) Jumlah kasus malaria (+) menurut jenis kelamin dan
proporsinya terhadap total jumlah kasus malaria (+)
(e) Jumlah kasus malaria (+) menurut golongan umur dan
proporsinya terhadap total jumlah kasus malaria (+)
(f) Jumlah kasus malaria (+) ibu hamil dan proporsinya
terhadap total jumlah kasus malaria (+)
(g) Jumlah kasus malaria (+) Rawat Inap (RI) per 10.000
penduduk pertahun
(h) Jumlah kasus malaria (+) meninggal karena malaria dibagi
jumlah seluruh kasus rawat inap yang meninggal
(5) Jika diperlukan, dapat dilakukan analisis kinerja program
tahunan, antara lain :
(a) Cakupan pengobatan malaria sesuai standard
(b) Cakupan penggunaan kelambu berinsektisida
(c) Cakupan IRS = jumlah rumah yang disemprot dibanding
jumlah total seluruh rumah di desa
(6) Analisis Data KLB Malaria Tahunan
(a) Peta daerah berjangkit KLB malaria selama 5 tahun terakhir,
menurut daerah kabupaten/kota dan atau Puskesmas,
132

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

termasuk luas wilayah kejadian, populasi berisiko, frekuensi


kejadian, jumlah kasus dan kematian serta jenis parasitnya.
(b) Data KLB dapat dipisah untuk analisis terhadap semua KLB
dan analisis terhadap KLB dengan jumlah kasus besar saja
(7) Analisis perkembangan malaria bulanan selama 3-5 tahun
terakhir, untuk mengetahui pola kecenderungan dan periode
waktu yang tepat melaksanakan upaya pencegahan penularan,
baik kabupaten/kota dan puskesmas
(8) Jika diperlukan, dapat melakukan analisis Data Surveilans
Khusus
(9) Jika diperlukan, dapat melakukan analisis curah hujan, suhu
udara dan kelembapan serta kondisi lain yang berhubungan
dengan perkembangbiakan nyamuk/vektor penular malaria
Berdasarkan kajian epidemiologi, dapat disusun klasifikasi daerah
kabupaten/kota, puskesmas dan atau desa/dusun berdasarkan
tingkat kerentanan daerah atau kelompok masyarakat terhadap
kemungkinan terjadinya KLB malaria
Pelaksana
(1) Program Pengendalian Malaria Pusat (Ditjen PP&PL)
melaksanakan kajian epidemiologi daerah berisiko terjadinya KLB
malaria secara nasional setiap bulan
(2) Program Pengendalian Malaria Provinsi (Dinas Kesehatan
Provinsi) melaksanakan kajian epidemiologi daerah berisiko
terjadinya KLB malaria di wilayah kerjanya setiap bulan menurut
kabupaten/kota dan Puskesmas
(3) Program Pengendalian Malaria Kabupaten (Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota) melaksanakan kajian epidemiologi daerah
berisiko terjadinya KLB malaria di wilayah kerjanya setiap bulan
menurut Puskesmas, desa dan dusun

2. Tehnik Pelaksanaan Peringatan Kewaspadaan Daerah Rentan KLB


Malaria
Informasi adanya daerah atau kelompok masyarakat rentan KLB
malaria, sebagai hasil kajian epidemiologi, disampaikan pada berbagai
pihak, terutama kepada penanggungjawab program pengendalian
malaria setempat, agar dapat melaksanakan upaya-upaya pencegahan
terjadinya KLB malaria, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi
kemungkinan adanya KLB malaria dan memperkuat sistem deteksi dini
munculnya KLB malaria serta sistem deteksi munculnya kondisi rentan
terjadinya KLB malaria
133

Secara teknis penyampaian informasi adanya daerah atau kelompok


masyarakat rentan KLB malaria adalah dengan secara teratur
mendistribusikan hasil analisis indikator malaria yang dilaksanakan
secara teratur setiap bulan dan setiap tahun beserta profil tahunan
malaria dari masing-masing wilayah

3. Tehnik Pelaksanaan Upaya Pencegahan Terjadinya KLB Malaria


Dalam kerangka pelaksanaan program penanggulangan KLB malaria,
penyelenggara program pengendalian malaria memproritaskan upayaupaya pencegahan malaria pada daerah-daerah atau kelompok
masyarakat rentan terjadi KLB malaria.
Upaya pencegahan dimaksud antara lain, penemuan dan pengobatan
penderita malaria melalui kegiatan Pemeriksaan Darah Massal (MBS),
kegiatan Penemuan Penderita Malaria Secara Aktif untuk menurunkan
risiko penularan malaria (ACD), program pengendalian vektor malaria,
baik melalui distribusi kelambu berinsektisida, penyemprotan insektisida
(IRS), perbaikan lingkungan yang berisiko penularan malaria,
perubahan perilaku penduduk dan lain sebagainya.
Surveilans atau analisis epidemiologi dapat membantu menentukan
bagaimana, kapan dan pada daerah mana upaya pencegahan malaria
dapat dilaksanakan. Hasil analisis penting antara lain :
a. Menentukan daerah fokus malaria aktif
b. Menentukan daerah reseptif malaria
c. Menentukan luas daerah atau kelompok masyarakat yang sering
terjadi KLB malaria
d. Menentukan masa penularan berdasarkan pola musiman kasus
malaria bulanan, maupun pola musiman vektor malaria berdasarkan
pengamatan vektor. MBS akan efektif jika dilaksanakan sebelum
puncak masa penularan
e. Melakukan monitoring dan evaluasi dampak upaya pencegahan
terjadinya KLB malaria

4. Tehnik Pelaksanaan Kesiapsiagaan Menghadapi Kemungkinan


Terjadinya KLB Malaria
Upaya pencegahan terjadinya KLB malaria seringkali tidak berjalan
sepenuhnya, sehingga risiko terjadinya KLB malaria masih cukup
besar. Mencermati kondisi tersebut, maka dalam kerangka pelaksanaan
program penanggulangan KLB malaria, penyelenggara program
pengendalian malaria yang memiliki daerah-daerah rentan terjadinya
134

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

KLB malaria perlu memperkuat


kemungkinan terjadinya KLB malaria.

kesiapsiagaan

menghadapi

Maksud kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terjadnya KLB


malaria adalah apabila terjadi KLB malaria, maka upaya
penanggulangan KLB malaria dapat dilakukan dengan segera, rasional,
efektif, efisien, sehingga KLB malaria yang terjadi dapat segera
dihentikan, jumlah kasus dan jumlah kasus meninggal dapat diturunkan
hanya sedikit, tidak menyebar terlalu luas, dan periode KLB lebih
singkat.
Kesiapsiagaan menghadapi KLB malaria terdiri atas :
a. Kesiapsiagaan Sumber Daya Manusia
Tenaga yang harus disiapkan dalam penanggulangan KLB malaria
adalah tenaga dokter, perawat, surveilans epidemiologi, sanitarian
dan entomologi serta tenaga lain sesuai dengan kebutuhan. Tenaga
ini menguasai pengendalian malaria dan terampil melaksanakan
penyelidikan-penanggulangan KLB malaria.
Keterampilan melaksanakan penyelidikan-penanggulangan KLB
malaria harus selalu terjaga dengan :
(1) melaksanakan
pelatihan
teknis
penyelidikan

penanggulangan KLB malaria secara berkala


(2) peningkatan keahlian dengan memperoleh informasi terkini
mengenai malaria, ketersediaan kepustakaan dan sumbersumber referensi, ketersediaan daftar tenaga ahli yang dapat
menjadi tempat berkonsultasi dan rujukan
(3) pemutakhiran
pengalaman
dengan
melaksanakan
penyelidikan-penanggulangan KLB malaria minimal sekali
setahun.
Pada daerah pada tahap pemberantasan dan pre-eliminasi harus
memperkuat sumber daya manusia sampai Puskesmas, rumah
sakit, bahkan di masyarakat. Sementara pada daerah tahap
eliminasi dan pemeiliharaan, SDM perlu diperkuat sampai
kabupaten/kota atau provinsi, dan daerah-daerah yang rentan
terjadinya KLB malaria, tergantung besarnya risiko terjadinya KLB
malaria pada masing-masing wilayah.

135

b. Kesiapsiagaan Sistem Konsultasi dan Referensi


Setiap daerah memiliki pola KLB malaria yang berbeda-beda. Oleh
karena itu, tim penyelidikan-penanggulangan KLB malaria memiliki
daftar para ahli terkait yang dapat menjadi tempat berkonsultasi
menghadapi suatu KLB malaria, baik ahli setempat, regional,
nasional dan internasional, termasuk rujukan laboratorium.
Disamping itu, tim penyelidikan penanggulangan KLB malaria
mempersiapkan kepustakaan dengan referensi yang sesuai,
termasuk ketersediaan sarana yang memungkinkan tim yang berada
di lapangan dapat memperoleh konsultasi dan referensi melalui
komunikasi internet (media maya)

c. Kesiapsiagaan Sarana Penunjang dan Anggaran Biaya


Sarana penunjang penting yang harus dimiliki adalah peralatan
komunikasi, transportasi, obat-obatan malaria, alat dan media
diagnostik, laboratoium penunjang mikroskopis malaria, bahan dan
peralatan lainnya, termasuk pengadaan anggaran dalam jumlah
yang memadai apabila terjadi suatu KLB malaria.

d. Kesiapsiagaan Strategi dan Tim Penanggulangan KLB


Setiap daerah memiliki pola KLB malaria yang berbeda-beda, juga
terdapat kekhususan tatahubungan kerja dalam tim, inter dan antar
program dan dengan sektor lain. Oleh karena itu, setiap daerah
menyiapkan
pedoman
operasional
baku
penyelidikanpenanggulangan KLB malaria dan membentuk tim penyelidikanpenanggulangan KLB malaria yang melibatkan lintas program dan
fasilitas pelayanan kesehatan (Puskesmas, rumah sakit, dsb)
e. Kesiapsiagaan
Kerjasama
Penanggulangan
Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat

KLB

Malaria sering menimbulkan KLB yang terjadi pada daerah


perbatasan, baik karena perpindahan penduduk (migrasi
perbatasan) maupun distribusi vektor penular malaria yang dapat
menjangkau wilayah yang luas. Kasus-kasus KLB malaria dari suatu
daerah endemis tinggi, bisa ditemukan di daerah lain sebagai kasus
impor dan berpotensi terjadinya penularan dan KLB malaria baru.
Menghadapi situasi KLB malaria tersebut diperlukan kerjasama
penyelidikan penanggulangan kedua daerah, baik antar
kabupaten/kota, antar provinsi dan bahkan antar negara berbatasan
Indonesia.
136

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

5. Tehnik Pelaksanaan Kewaspadaan Terhadap KLB Malaria


Upaya pencegahan terjadinya KLB malaria, misalnya cakupan kelambu,
dan penyemprotan rumah secara massal, seringkali tidak berjalan
sepenuhnya, sehingga risiko terjadinya KLB malaria masih cukup
besar. Mencermati kondisi tersebut, maka dalam kerangka pelaksanaan
program penanggulangan KLB malaria, penyelenggara program malaria
yang memiliki daerah-daerah rentan KLB malaria perlu memperkuat
kewaspadaan terhadap KLB malaria.
Kewaspadaan terhadap KLB malaria meliputi peningkatan kegiatan
surveilans (pemantauan) untuk mendeteksi dini munculnya kondisi
rentan KLB malaria dan respon, dan peningkatan kegiatan surveilans
untuk mendeteksi dini munculnya KLB malaria dan respon.
Kewaspadaan terhadap munculnya KLB malaria, terutama
dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan semua fasilitas
pelayanan kesehatan, terutama Puskesmas di daerah yang rentan
terjadinya KLB malaria

a. Deteksi Dini Kondisi Rentan KLB Malaria


Deteksi dini kondisi rentan KLB malaria merupakan kewaspadaan
terhadap timbulnya perubahan kegiatan masyarakat, perubahan
konisi lingkungan, perubahan perilaku masyarakat dan penurunan
jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan yang dapat
menimbulkan terjadinya KLB malaria. Deteksi di ni kondisi rentan
KLB malaria tersebut dapat dilaksanakan dengan menerapkan caracara surveilans epidemiologi atau sering disebut Pemantauan
Wilayah Setempat (PWS) kondisi rentan KLB
Dengan diketahuinya daerah yang mengalami kondisi rentan KLB
malaria tersebut, maka manajer program malaria mendorong upayaupaya pencegahan terjadinya KLB malaria dan meningkatkan
kewaspadaan berbagai pihak terhadap KLB malaria :
(1) Memantau Munculnya Daerah/Lokasi Yang Mengalami Kondisi
Rentan KLB Malaria
Mencermati secara terus menerus perubahan kondisi lingkungan
yang berpotensi menimbulkan KLB malaria antara lain :
(a) memantau munculnya daerah-daerah reseptif malaria,
kondisi perumahan dan perilaku penduduk yang rentan atau
berpotensi terjadinya penularan malaria,
137

(b) melakukan analisis pola curah hujan, dan menganalisis


pengaruhnya terhadap penularan malaria
(c) memantau penurunan kualitas dan kwantitas pelayanan
kesehatan
(keterjangkauan
pelayanan,
cakupan
pengobatan, jumlah dan jenis ketenagaan, ketersediaan
obat dan sarana), dan menganalisis pengaruhnya terhadap
timbulnya KLB malaria
(d) memantau penurunan kondisi status kesehatan masyarakat
(kemiskinan), dan menganalisis pengaruhnya terhadap
timbulnya KLB malaria

(2) Pemantauan Wilayah Setempat Kondisi Rentan KLB Malaria


Merupakan bagian dari kegiatan memantau munculnya kondisi
rentan KLB malaria, tetapi lebih intensif pada beberapa indikator
utama munculnya kondisi rentan KLB malaria
Setiap Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya
secara terus menerus dan sistematis merekam dan melakukan
analisis data perubahan kondisi rentan KLB malaria menurut
desa/kelurahan atau lokasi tertentu lainnya, terutama di daeran
rentan KLB malaria, dengan cara menyusun tabel dan grafik PWS
kondisi rentan KLB. Setiap kondisi rentan KLB dianalisis terus
menerus dan sistematis untuk mengetahui secara dini adanya
ancaman KLB
Contoh PWS kondisi rentan KLB malaria :
Pengamatan kepadatan vektor bulanan
Pengamatan tingginya curah hujan bulanan
Pengamatan migrasi penduduk
Pengamatan terhadap kegiatan masyarakat berisiko penularan
malaria

138

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

700

Kepadatan Vektor
Kasus malaria

150

600

125
500

99

100

90

75

86

88

60

50

400
60

65

40

300
40
30

25

20

200

35

20

Jumlah Kasus Malaria

Kepadatan nyamuk (rata-rata)

Grafik
Fluktuasi Kepadatan Anopheles Perhari dan Kasus Malaria
Puskesmas Jaya, 2012

100

0
Des

Nov

Okt

Sep

Ags

Jul

Jun

Mei

Apr

Mar

Feb

Jan

Des

Nov

Nov

Okt

Sep

Ags

Jul

Jun

Mei

Apr

Mar

Feb

Jan

Des

Nov

Data Kepadatan Vektor di Puskesmas Jaya, 2011-2012


Kepadatan Vektor Menurun Bulan
Desa
Renta
n KLB
A
1 1 4 9 9 8 9 9 8 9 4 4 4
5 5 0 5 9 5 1 6 0 0 0 0 0
C
2 1 5 7 9 9 8 9 9 8 5 4 3
0 5 0 0 9 5 1 6 0 0 0 0 0
G
2 2 4 8 9 8 9 8 9 9 4 5 3
5 5 0 0 9 5 2 0 0 0 0 0 5
H
2 2 3 9 9 9 8 8 6 7 3 3 3
0 5 0 5 9 5 0 0 0 5 0 0 5
Puskes
2 2 4 8 9 9 8 8 8 8 4 3 3
mas
0 0 0 0 9 0 6 8 0 5 0 0 5

Des

Bulan Pengamatan

Sumber : Puskesmas Jaya, 2012 (contoh)

(3) Penyelidikan Dugaan Kondisi Rentan KLB


Apabila mengetahui adanya dugaan kondisi rentan KLB malaria,
maka Dinas Kesehatan dan Puskesmas melakukan penyelidikan
:
(a) Secara aktif mengumpulkan informasi tentang dugaan daerah
atau lokasi terjadi kondisi rentan KLB malaria dari berbagai
sumber, termasuk laporan masyarakat tentang kegiatan
139

masyarakat yang berpotensi timbulnya KLB malaria, naik oleh


masyarakat perorangan atau kelompok
(b) Mempelajari data PWS kondisi rentan KLB malaria yang
dimilikinya, terutama data perkembangan daerah reseptif
malaria, lokasi-lokasi fokus malaria aktif, cakupan pengobatan
dan distribusi kelambu serta upaya pencegahan lainnya, serta
status pelayanan kesehatan di daerah-daerah rentan KLB
malaria tersebut
(c) Mewawancarai pihak-pihak terkait yang patut diduga
mengetahui adanya perubahan kondisi rentan KLB malaria
tersebut
(c) Mengunjungi dan melakukan penyelidikan di daerah yang
diduga terdapat perubahan kondisi rentan KLB malaria

b. Deteksi Dini Munculnya KLB Malaria


Deteksi dini munculnya KLB merupakan kewaspadaan terhadap
munculnya KLB malaria dengan memantau muncul dan
meningkatnya jumlah kasus malaria atau terjadinya KLB malaria di
masyarakat, melaksanakan pemantauan wilayah setempat terhadap
kasus malaria dan penyelidikan dugaan KLB :
(1) Memantau Munculnya KLB Malaria di Masyarakat
Petugas kesehatan di Puskesmas dan fasilitas pelayanan
kesehatan mewawancarai setiap kasus malaria yang datang
berobat, guru, dan atau sumber informasi lain, tentang
kemungkinan adanya penderita penyakit dengan gejala yang
sama di tempat tinggalnya dan didiagnosis sebagai kasus malaria
suspek, misalnya demam, mengigil, dan sebagainya, terutama
munculnya kasus-kasus tersebut pada kelompok anak-anak,
kelompok wanita hamil atau kasus-kasus yang meninggal, yang
kemudian dapat disimpulkan adanya dugaan KLB. Adanya
dugaan KLB malaria pada suatu lokasi tertentu diikuti dengan
penyelidikan
(2) Pemantauan Wilayah Setempat Kasus Malaria
Merupakan bagian dari memantau munculnya KLB malaria, tetapi
dilaksanakan lebih intensif pada beberapa indikator utama deteksi
dini adanya KLB malaria
(a) Pemantauan wilayah setempat mingguan/bulanan terhadap
perkembangan kasus malaria, bersumber pada laporan data
Penemuan Penderita Malaria di Puskesmas, rumah sakit dan
fasilitas kesehatan lainnya :
Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya
merekam data penderita malaria mingguan/bulanan
140

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

menurut desa /kelurahan. Data yang direkam fasilitas


pelayanan
kesehatan
dikirim
secara
teratur
mingguan/bulanan kepada Puskesmas setempat
Data penderita malaria yang telah direkam, disusun dalam
tabel dan grafik Pemantauan Wilayah Setempat KLB
malaria (W2)
Secara teknis PWS KLB malaria adalah melakukan
Analisis Kecenderungan Kejadian Malaria Mingguan,
atau Bulanan
Puskesmas melakukan analisis terus menerus dan
sistematis terhadap perkembangan penyakit malaria di
wilayahnya untuk mengetahui secara dini adanya KLB
malaria
Adanya dugaan peningkatan penyakit malaria atau
dugaan KLB malaria diikuti dengan penyelidikan
Grafik
Kasus Malaria Menurut Bulan, Puskesmas Jaya, 2012

Jumlah Kasus Malaria

700
600

600
500

500

450

400
300

300
200

200
100

200

150
80

100
50

100

100

30

Des

Nov

Okt

Sep

Ags

Jul

Jun

Mei

Apr

Mar

Feb

Jan

Des

Nov

Bulan Pengamatan
Sumber : Puskesmas Jaya, 2012 (contoh)

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

150

200

300

600

600

800

350

300

100

100

75

250

400

700

600

600

300

200

150

150

150

150

200

750

450

500

400

400

100

100

100

200

300

600

500

700

400

200

150

100

100

150

200

500

450

600

300

200

100

100

Sumber : Puskesmas Jaya, 2012 (contoh)

141

Des

Apr

60
50
40
60
30

Mar

30
70
80
50
50

Feb

Jan

90
70
80
80
80

Des

Puskes
mas

Nov

Desa
Rentan
KLB
A
C
G
H

Tabel
Data Kasus Malaria di Puskesmas Jaya, 2011-2012
Jumlah Kasus Menurun Bulan

(b) Pemantauan perkembangan kasus malaria positif menurut


jenis parasit secara periodik bulanan, diikuti dengan analisis %
kasus malaria positif Plasmodium falsiparum per jumlah kasus
malaria positif per bulan, pada masing-masing fasilitas
pelayanan dan kelompok masyarakat tertentu
(c) Pemantauan perkembangan kasus malaria positif ibu hamil
secara periodik bulanan, diikuti dengan analisis proporsi kasus
malaria positif ibu hamil terhadap total kasus malaria poditif
(d) Pemantauan perkembangan kasus malaria positif menurut
usia secara periodik bulanan, diikuti dengan analisis proporsi
kasus malaria positif bayi/balita terhadap total kasus malaria
positif
(e) Pemantauan perkembangan kasus malaria positif menurut
jenis kelamin secara periodik bulanan dan proporsinya
terhadap total kasus malaria positif
(f) Pemantauan perkembangan kasus malaria positif meninggal
di fasilitas pelayanan setiap bulan, diikuti dengan proporsi
kasus malaria positif meninggal terhadap total kasus
meninggal di fasilitas pelayanan kesehatan yang sama
(g) Pemantauan perkembangan kasus malaria positif menurut
wilayah (peta) secara periodik bulanan dan atau tahunan
(h) Pemantauan perkembangan kasus malaria positif rawat inap
(RI), diikuti analisis kasus malaria positif rawat inap terhadap
total kasus rawat inap di fasilitas pelayanan kesehatan yang
sama per bulan

(3) Penyelidikan Dugaan KLB


Apabila diketahui adanya dugaan KLB malaria, maka Dinas
Kesehatan dan Puskesmas melakukan penyelidikan :
(a) Secara aktif mengumpulkan informasi tentang dugaan KLB
malaria dari berbagai sumber, termasuk dari masyarakat
perorangan dan kelompok
(b) Mewawancarai setiap pengunjung Puskesmas dan fasilitas
kesehatan
lainnya
tentang
kemungkinan
adanya
peningkatan sejumlah penderita penyakit malaria pada
lokasi tertentu yang dicurigai terdapat dugaan adanya KLB
malaria
(c) Mempelajari register rawat inap dan rawat jalan terhadap
kemungkinan adanya peningkatan kasus malaria pada lokasi
tertentu yang dicurigai terjadi dugaan KLB malaria
berdasarkan alamat penderita, umur dan jenis kelamin atau
karakteristik lainnya
(d) Mewawancarai kepala desa, guru sekolah dan setiap orang
yang mengetahui keadaan masyarakat tentang adanya
peningkatan penderita malaria
142

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

(e) Membuka pos pelayanan di lokasi yang diduga terjadi KLB


malaria dan menganalisis data penderita berobat untuk
mengetahui kemungkinan adanya peningkatan penyakit
malaria (Penemuan Penderita Demam Massal)
(f) Mengunjungi rumah-rumah penderita demam yang dicurigai
(Penemuan Penderita Demam Massal) atau kunjungan dari
rumah ke rumah terhadap semua penduduk (Pemeriksaan
Darah Massal) tergantung pilihan tim penyelidikan

(4) Deteksi Dini KLB Malaria Melalui Pelaporan Kewaspadaan


oleh Masyarakat
Masyarakat yang mengetahui adanya seseorang atau
sekelompok orang yang menderitas sakit malaria (kasus malaria
suspek) memberitahu Puskesmas atau Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota sebagai laporan kewaspadaan oleh masyarakat.
Isi laporan kewaspadaan terdiri dari penyakit (dugaan penderita
malaria), gejala, alamat/desa/kelurahan, kecamatan, dan
kabupaten/kota tempat kejadian, waktu kejadian, jumlah penderita
dan jumlah meninggal.
Masyarakat yang berperan memberikan laporan adanya
seseorang atau sekelompok orang menderita malaria antara lain :
(a) Kepala keluarga, kepala RT/RW dan kepala desa/lurah yang
mengetahui adanya penderita malaria
(b) Kader malaria desa/kelurahan
(c) Petugas kesehatan yang memeriksa penderita malaria
(d) Kepala fasilitas pelayanan kesehatan
Secara umum pelaksanaan Sistem Deteksi Dini KLB Malaria pada
berbagai tahap pengendalian adalah sebagai berikut :
Tahapan Pengendalian Malaria
Kegiatan
Surveilans

Pemberan
tasan

Kajian Epidemiologi :
Sasaran
Semua
wilayah

Pre
Eliminasi
(penderita
indigenous
dan impor)

Eliminasi
(penderita
indigenous
dan impor)

Pemeliha
raan
(penderita
impor dan
introduce)

Semua
wilayah

Semua
wilayah

Semua
wilayah

Deteksi Dini Munculnya Kondisi Rentan KLB Malaria :


a. Pemantauan
Semua
Semua
Semua
Kondisi
wilayah
wilayah
wilayah
Rentan KLB

143

Semua
wilayah

Tahapan Pengendalian Malaria


Kegiatan
Surveilans

Pemberan
tasan

b. PWS kondisi
rentan KLB
malaria

Semua
wilayah

c. Penyelidikan
dugaan
kondisi
rentan KLB

Semua
wilayah

Pre
Eliminasi
(penderita
indigenous
dan impor)
Semua
wilayah,
terutama
daerah
reseptif dan
fokus
malaria aktif
kasus
indigenous
Semua
wilayah

Deteksi Dini Munculnya KLB Malaria :


a. Pemantauan
Semua
Semua
munculnya
wilayah
wilayah
KLB malaria
b. PWS KLB
Semua
Semua
(analisis
wilayah
wilayah,
mingguan
terutama
dan bulanan
desa rentan
kasus
KLB, fokus
malaria)
malaria aktif
dan daerah
reseptif
malaria
c. Penyelidikan Apabila
Apabila
dugaan KLB
terdapat
terdapat
malaria
peningkat
peningkat
an kasus
an kasus
malaria,
malaria
terutama
indigenous,
Plasmo
terutama
dium
Plasmo
falsiparum dium
falsiparum

144

Eliminasi
(penderita
indigenous
dan impor)
Daerah
reseptif
dan fokus
malaria
aktif kasus
indigenous

Pemeliha
raan
(penderita
impor dan
introduce)
(-)

Semua
wilayah

(-)

Semua
wilayah

Semua
wilayah

desa
rentan
KLB, fokus
malaria
aktif dan
daerah
reseptif
malaria

(-)

Apabila
terdapat
peningkat
an kasus
malaria
indigenous,
terutama
Plasmo
dium
falsiparum

Apabila
terdapat
satu kasus
introduce/
indigenous

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Lampiran 3a/SKD-KLB 1. Berbagai Bentuk Kajian Epidemiologi

A. Annual Parasite Incidence

1. Pengertian dan Tujuan


Annual Parasite Incidense (API) adalah jumlah penderita malaria
(konfirmasi) per 1.000 penduduk pertahun
Jumlah penderita malaria (konfirmasi) dalam satu tahun
API = -------------------------------------------------------------------------- x 1.000
Jumlah penduduk (tengah tahun)

Tujuan
a. Mengetahu besarnya masalah malaria di setiap wilayah tertentu
(desa, puskesmas/kecamatan, kabupaten/kota)
b. Mengetahui perkembangan kasus malaria dari tahun ke tahun
dalam satuan wilayah tertentu
2. Pelaksana
Puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan
Provinsi dan Pusat serta UPT yang bertugas melakukan surveilans
malaria
3. Sumber Data
Laporan Rekapitulasi Penderita Malaria Puskesmas dan Rumah Sakit
4.Tampilan Analisis
a. Bentuk Tabel Analisis API
Tabel
Annual Parasite Incidence Kabupaten Jaya, 2007-2011
2007
2008
2009
2010
Puskes
No
Pdd
mas
Ks API Ks API Ks API Ks API
1 Andika
20000 10 0,5
5
0,3 2 0,1 0
0
2 Budijaya 15000 10 0,7 10 0,7 10 0,7 10 0,7
3 Laweyan 60000 10 0,2 10 0,2 0
0
5 0,1
4 Senen
10000 20
2
20
2 20
2 10 1
5 Teluk
5000
50 10 70 14 60 12 40 8
Total
110000 100 0,9 115 1,0 92 0,8 65 0,5
145

2011
Ks API
0
0
10 0,7
2 0,0
5 0,5
20 4
37 0,3

b. Bentuk Grafik Analisis Perkembangan Daerah Berdasarkan API

146

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

c. Bentuk Peta Analisis Perkembangan Malaria Berdasarkan API


Peta Annual Parasite Incidence
Kab. Jaya 2007-2011
2007

2010

2011
API per 100.000
5 /lebih
1-4
<1

5. Langkah-langkah Analisis Perkembangan Malaria Berdasarkan API


a. Laporan Rekapitulasi Bulanan Malaria di Unit Pelayanan
(Puskesmas)
b. Buat tabel analisis perkembangan malaria menurut API yang terdiri
dari kolom No, nama daerah, data penduduk, tahun dan jumlah
kasus serta API masing-masing tahun (setidaknya dibuat selama 5
tahun terakhir). API dihitung kemudian setelah data jumlah kasus
dan data penduduk tersedia
c. Buat grafik analisis perkembangan malaria berdasarkan API
selama beberapa tahun.
Dibuat untuk satu wilayah secara keseluruhan, misalnya
perkembangan malaria satu wilayah Kabupaten.
Kemudian dibuat juga grafik analisis perkembangan malaria
berdasarkan API untuk masing-masing sub-wilayah dari wilayah
tersebut.
Seringkali dua grafik analisis tersebut diatas dijadikan dalam
satu grafik
d. Buat peta perkembangan malaria berdarkan API selama beberapa
tahun. Ini hampir sama dengan grafik analisis sub-wilayah dalam
bentuk peta. Peta API dibuat dalam model area map.

147

Lampiran 3a/SKD-KLB 2. Berbagai Bentuk Pemantauan


Wilayah Setempat Kasus Malaria
A.

Pemantauan perkembangan jumlah kasus malaria positif


mingguan/bulanan dan proporsinya terhadap total jumlah
kunjungan ke fasilitas pelayanan

1. Tujuan
a. Mengetahui pola musiman kejadian malaria
b. Deteksi adanya peningkatan malaria atau KLB malaria
c. Analisis kecenderungan jangka panjang dalam rangka SKD-KLB

2. Pelaksana
a. Puskesmas, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan Kab/Kota, terutama
dalam rangka pola musiman dan deteksi dini peningkatan malaria
dan KLB malaria
b. BTKLPP, Dinas Kesehatan Provinsi dan Pusat (Ditjen PP&PL),
terutama dalam rangka identifikasi kecenderungan jangka panjang
dalam rangka SKD-KLB dan informasi untuk merumuskan rencana
program pengendalian malaria

3. Sumber Data
a. Laporan Mingguan Malaria
b. Laporan Bulanan Penderita Malaria Puskesmas dan Fasilitas
Pelayanan Kesehatan lain Secara Bulanan
4. Tampilan Analisis
a. Pemantauan perkembangan kasus malaria positif dan kasus
malaria meninggal (mingguan atau bulanan) serta deteksi dini
adanya KLB malaria
(1) Tabel Analisis Perkembangan Malaria Menurut Bulan dan
Wilayah (Desa/Kelurahan, Puskesmas/Kecamatan/Kab-Kota)
Tabel dibuat untuk data Kasus (Tabel Analisis Perkembangan
Kasus Malaria Menurut Bulan dan Desa) dan data Kasus
Meninggal (Tabel Analisis Perkembangan Kasus Malaria
Meninggal Menurut Bulan dan Desa), dan berdasarkan tabel
ini dibuat grafik
148

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

(2) Grafik/Kurva Perkembangan Malaria Menurut Bulan pada suatu


wilayah tertentu (Desa/Kelurahan, Puskesmas/Kecamatan,
Kabupaten-Kota)
Tabel Analisis Perkembangan Kasus Malaria Menurut Bulan dan Desa
Puskesmas : Puskesmas Jaya
Tahun : 2012 (Januari- November)
Sumber : Rekapitulasi Penderita Malaria di Puskesmas - 1
Jumlah Penderita Per Bulan
Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Total

20

20

25

39

37

26

11

10

Total
207

AMAN
BIDAI
CHARLI
DENAH
ELOK
ERNAN
GALUH
HANNA
INTAN

12
6
2
0
0
0
0
0
0

16
3
1
0
0
0
0
0
0

20
4
1
0
0
0
0
0
0

30
6
3
0
0
0
0
0
0

27
6
4
0
0
0
0
0
0

20
4
2
0
0
0
0
0
0

10
0
1
0
0
0
0
0
0

3
0
0
0
0
0
0
0
0

6
1
0
0
0
0
0
0
0

9
0
0
0
0
0
0
0
0

10
0
0
0
0
0
0
0
0

163
30
14
0
0
0
0
0
0

Des

Feb

Pdd

Jan

No

Nama
Desa

IR /
1000

36700

5,6

2000
6000
500
700
2000
4500
7000
9000
5000

81
5
28
0
0
0
0
0
0

Tabel Analisis Perkembangan Kasus Malaria Meninggal Menurut Bulan dan Desa
Puskesmas : Puskesmas Jaya
Tahun : 2012 (Januari-November)
Sumber : Rekapitulasi Penderita Malaria di Puskesmas - 1

149

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

2
2
0
0
0
0
0
0
0
0

1
1
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

1
0
1
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

2
2
0
0
0
0
0
0
0
0

2
1
0
1
0
0
0
0
0
0

2
2
0
0
0
0
0
0
0
0

1
0
1
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Des

Feb

Total
AMAN
BIDAI
CHARLI
DENAH
ELOK
ERNAN
GALUH
HANNA
INTAN

Jumlah Penderita Meninggal Per Bulan


Jan

No

Nama
Desa

Total Kasus
11
207
8
163
2
30
1
14
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

CFR
/100
5.3
4.9
6.7
7.1
0
0
0
0
0
0

Kurva malaria menurut bulan dibuat setiap tahun berjalan, dan


dibuat selambat-lambatnya satu minggu setelah data direkam
dan diolah. Sebaiknya juga disertakan kurva yang sama
selama 3-5 tahun terakhir.
Kurva yang sama juga dibuat di Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi, BTKLPP dan Pusat
sesuai keperluannya masing-masing.

150

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Pada kurva ini, juga ditampilkan kurva kunjungan Puskesmas


non malaria. Kurva jumlah kunjungan Puskesmas non malaria
relatif tetap setiap bulan, sehingga dapat digunakan untuk
memperkirakan kelengkapan laporan Puskesmas, dan
memperkirakan pengaruh kelengkapan laporan tersebut
terhadap kurva malaria. Jika kelengkapan laporan turun, artinya
jumlah Puskesmas yang melapor berkurang, maka jumlah
kunjungan turun, dan jumlah kasus malaria juga mengalami
penurunan. Penurunan jumlah kasus malaria terakhir ini, lebih
disebabkan karena jumlah Puskesmas yang melapor turun

b. Perkembangan kasus malaria menurut wilayah (peta) secara


berkala bulanan dan atau tahunan
(1) Tabel Analisis Perkembangan Malaria Menurut Bulan dan
Wilayah (Desa/Kelurahan, Puskesmas/Kecamatan/Kab-Kota)
Tabel dibuat untuk analisis terhadap kasus dan kasus
meninggal, dan berdasarkan tabel ini dibuat peta
(2) Peta (Spot Map) Perkembangan Malaria Menurut Bulan pada
suatu wilayah tertentu (Desa/Kelurahan, Puskesmas/Kecamatan,
Kabupaten-Kota)

Peta Sebaran Malaria


Puskesmas Jaya, 2012

151

= 1 kasus
= 1 ks meninggal

September

Oktober

November

Desember

Perkembangan kasus malaria dari bulan ke bulan dan wilayah


(Desa) dapat dibuat dalam seri beberapa peta spot map.
Tampilan seri peta tersebut, dapat dimanfaatkan untuk
menganalisis perkembangan sekaligus sebaran kasus-kasus
malaria dalam suatu wilayah tertentu secara cepat

5. Langkah-langkah Analisis
a. Kasus malaria direkam dalam Register Harian Penderita Malaria 12
b. Data pada register tersebut dihimpun dalam Laporan Rekapitulasi
Penderita Malaria di Puskesmas 1-4
c. Berdasarkan laporan rekapitulasi tersebut dibuat Tabel Analisis
Perkembangan Malaria Menurut Bulan dan Wilayah (Desa), seperti
pada contoh Tabel Analisis
d. Berdasarkan tabel analisis tersebut dapat dibuat Grafik/Kurva
Perkembangan Malaria Menurut Bulan pada suatu wilayah tertentu
(Desa/Kelurahan, Puskesmas/Kecamatan, Kabupaten-Kota). Lihat
pada contoh tabel
e. Pada analisis tingkat Kabupaten, Provinsi dan Pusat, seringkali
pada kurva juga dicantumkan kurva kunjungan Puskesmas. Kurva
kunjungan Puskesmas biasanya dalam jumlah yang selalu sama
setiap bulannya, jika terjadi peningkatan atau penurunan tajam,
kemungkinan besar kelengkapan laporan Puskesmas berbeda
sangat tajam, bisa semakin lengkap atau semakin banyak yang
tidak melapor.
f. Berdasarkan tabel analisis perkembangan malaria tersebut (point
3) dapat juga dibuat Peta (Spot Map) Perkembangan Malaria
Menurut Bulan. Lihat pada contoh Peta dibawah ini

Tampilan tabel, kurva dan peta ini dimanfaatkan untuk menentukan


pola musiman malaria, dan perkiraan kemungkinan telah terjadi KLB
malaria, sehingga program bisa menentukan langkah penanggulangan
lebih tepat dan kapan kesiapsiagaan operasional menghadapi KLB
perlu diperketat.

152

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

B.
Perkembangan Kejadian Malaria Menurut Jenis Parasit Berkala
Bulanan, Terutama Plasmodium Falsiparum

1. Tujuan :
a. Mengetahui pola musiman kejadian malaria berdasarkan jenis
parasit
b. Deteksi adanya peningkatan malaria atau KLB malaria P.
falsiparum
c. Analisis kecenderungan jangka panjang dalam rangka SKD-KLB

2. Pelaksana
a. Puskesmas, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan Kab/Kota, terutama
dalam rangka pola musiman dan deteksi dini peningkatan malaria
dan KLB malaria
b. BTKLPP, Dinas Kesehatan Provinsi dan Pusat (Ditjen PP&PL),
terutama dalam rangka identifikasi kecenderungan jangka panjang
dalam rangka SKD-KLB dan informasi untuk merumuskan rencana
program pengendalian malaria

3. Sumber Data
Laporan Bulanan Penderita Malaria Puskesmas dan fasilitas pelayanan
kesehatan
4. Tampilan Analisis
a. Tabel Analisis Perkembangan Malaria Menurut Bulan dan Jenis
Parasit
b. Grafik/Kurva Perkembangan Malaria Menurut Bulan dan Jenis
Parasit

153

Tabel
Analisis Perkembangan Malaria Plasmodium falsifarum
Menurut Bulan dan Desa
Puskesmas : Jaya
Tahun : 2011
Sumber Data : Rekapitulasi Penderita Malaria di Puskesmas - 4

154

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

22
6
8
8
0
0
0
0

20
10
5
5
0
0
0
0

22
18
2
2
0
0
0
0

41
25
8
8
0
0
0
0

42
22
10
10
0
0
0
0

28
18
5
5
0
0
0
0

18
12
3
3
0
0
0
0

15
5
5
5
0
0
0
0

4
4
0
0
0
0
0
0

8
8
0
0
0
0
0
0

Total

Mar

17
5
12
4
8
0
0
0

Des

Feb

1 Total
2 Pf
3 Non Pf
Pv
Pm
Po
Pk
Mix

Jan

Jumlah Penderita Per Bulan


Jenis
No
Parasit

% Pf

7 256 100.00
7 140 54.69
0 58
0 50 19.53
0
8
3.13
0
0
0.00
0
0
0.00
0
0
0.00

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

5. Langkah-langkah Analisis
a. Kasus malaria direkam dalam Register Harian Penderita Malaria 12
b. Data pada register tersebut dihimpun dalam Laporan Rekapitulasi
Penderita Malaria di Puskesmas 1-4
c. Berdasarkan laporan rekapitulasi tersebut dibuat Tabel Analisis
Perkembangan Malaria Menurut Bulan dan Jenis Parasit . Lihat
contoh tabel analisis dibawah
d. Berdasarkan tabel analisis tersebut dapat dibuat Grafik/Kurva
Perkembangan Malaria Menurut Bulan dan Jenis Parasit
(P.falsiparum, Non P.falsiparum dan Jenis Parasit Tidak Jelas.
e. Tampilan tabel, kurva dan peta ini dimanfaatkan untuk menentukan
pola musiman malaria, dan perkiraan kemungkinan telah terjadi
KLB malaria, sehingga program bisa menentukan langkah
penanggulangan lebih tepat dan kapan kesiapsiagaan operasional
menghadapi KLB perlu diperketat.

155

C.
Perkembangan Kasus Malaria Positif Ibu Hamil Dan
Proporsinya Terhadap Total Kasus Malaria Positif

1. Pengertian dan Tujuan


Ibu hamil menderita malaria berisiko anemi, gangguan kelahiran, dan
keguguran. Oleh karena itu, ibu hamil menderita malaria perlu
mendapat perawatan yang memadai. Adanya peningkatan ibu hamil
menderita sakit malaria, dapat menjadi indikasi awal adanya KLB
malaria
Tujuan
a. Mendeteksi kecenderungan jumlah dan proporsi ibu hamil
menderita malaria
b. Deteksi adanya peningkatan malaria atau KLB malaria
c. Analisis kecenderungan jangka panjang dalam rangka SKD-KLB

2. Sumber Data
Rekapitulasi laporan bulanan penderita malaria di fasilitas pelayanan
kesehatan
3. Pelaksana
Puskesmas, RS, Dinkes Kab/Kota dan Dinkes Provinsi
4.Tampilan Analisis
a. Tabel analisis kejadian malaria di fasilitas pelayanan kesehatan
b. Grafik kecenderungan proporsi kejadian malaria berdasarkan
proporsi status kehamilannya

156

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Kecenderungan Malaria
Puskesmas Jaya, tahun 2012
Proporsi Ibu Hamil

Jumlah Kasus Malaria


40

80%

JUMLAH KSUS

PROPORSIi (%)

100%

60%
40%
20%

30

20

10

0%
Sep

Okt

Nov

Des

BULAN

Hamil

0
Sep

Okt

Nov

Des

BULAN

Tidak Hamil

Kejadian malaria meningkat, tetapi proporsi ibu hamil yang berobat


karena malaria positif malah turun. Ini mengindikasikan ibu hamil
yang sedang sakit malaria banyak yang tidak mendapat pelayanan
Sebaliknya, jika jumlah kasus malaria ibu hami meningkat, terutama
proporsinya terhadap total ibu hamil meningkat, ini dapat menjadi
inidkasi awal dugaan KLB malaria. Adanya dugaan KLB perlu
dilakukan penyelidikan.

5. Langkah-langkah
Rekapitulasi Laporan Bulanan Penderita Malaria
Tabel analisis distribusi malaria berdasarkan status kehamilan dan
total (setahun sekali)
Tabel analisis jumlah kasus malaria menurut status kehamilan dan
bulan
Grafik kecenderungan proporsi ibu hamil menderita malaria

157

E.
Perkembangan Kejadian Malaria Positif Menurut Usia Dan
Proporsinya Terhadap Total Kasus Malaria Positif

1. Pengertian dan Tujuan


Umur dan jenis kelamin merupakan karakteristik epidemiologi malaria
yang sangat penting. Adanya sejumlah anak-anak yang menderita sakit
malaria, terutama pada anak balita, menunjukkan adanya penularan
setempat, karena anak-anak biasanya belum bepergian jauh dari
rumah. Adanya banyak anak-anak yang menderita sakit malaria, dapat
menjadi indikasi awal adanya KLB malaria
Analisis epidemiologi berdasarkan jenis kelamin dan umur juga bisa
menunjukkan pencarian pengobatan pada kelompok-kelompok tertentu
dalam masyarakat. Pada kelompok masyarakat tertentu, perempuan
akan datang berobat jika sudah menunjukkan sakit yang berat
dibanding laki-laki yang segera berobat ketika menderita sakit belum
terlalu berat.
Tujuan
a. Mendeteksi kecenderungan jumlah dan proporsi kasus malaria
menurut umur dan jenis kelamin
b. Deteksi adanya peningkatan malaria atau KLB malaria
c. Analisis kecenderungan jangka panjang dalam rangka SKD-KLB
2. Sumber Data
Rekapitulasi Laporan Penderita Malaria Bulanan atau Surveilans
Khusus (Survei Darah Massal, Survei Demam Massal, dsb)
Data demografi (BPS)
3. Pelaksana
Dilaksanakan di semua tingkat
Setahun sekali sebagai profil tahunan malaria
Mingguan atau Bulanan sesuai kebutuhan setempat
4. Tampilan Analisis
a. Tabel analisis Menurut Jenis Kelamin
b. Tabel analisis menurut umur, grafik proporsi dan insidens malaria
menurut umur
c. Tabel perkembangan jumlah dan proporsi kasus malaria menurut
umur dan bulan kejadian, grafik perkembangan jumlah dan proporsi
kasus malaria menurut umur

158

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Tabel
Distribusi Malaria Menurut Jenis Kelamin
Puskesmas Jaya, Tahun 2012
Jenis
Jumlah
Jumlah
Jumlah
Insidens CFR
No
Proporsi
Kelamin
Penduduk Kasus Meninggal
/1000
/100
Laki-laki
16700
100
3
48,3%
6,0
3,0
Perempuan 20000
107
8
51,7%
5,4
7,5
Total
36700
207
11
100%
3,0
5,3
Jumlah penduduk diperoleh dari BPS, merupakan total penduduk. Seringkali
sebagai populasi berisiko digunakan penduduk di desa atau dusun-dusun
reseptif saja atau yang terdapat kasus malaria

Tabel
Distribusi Malaria Menurut Golongan Umur
Puskesmas Jaya, Tahun 2012
Golongan
Jumlah
Jumlah
Jumlah
Insidens CFR
No
Proporsi
Umur (th) Penduduk Kasus Meninggal
/1000
/100
1
<1
1000
2
0
0,9%
2
0
2
1-4
3000
15
7
7,2%
5
46,7
3
5-14
8000
40
2
19,3%
5
5
4
15-24
7000
50
0
24,2%
7,1
0
5
25-44
13000
80
0
38,7%
6,2
0
6
45/lebih
4700
20
2
9,7%
4,3
10
Total
36700
207
11
100%
3,0
5,3
Jumlah penduduk diperoleh dari BPS, merupakan total penduduk. Seringkali
sebagai populasi berisiko digunakan penduduk di desa atau dusun-dusun
reseptif saja atau yang terdapat kasus malaria

159

Grafik Proporsi dan Insiden Malaria Menurut Umur tersebut berasal


dari sumber data yang sama. Untuk menunjukkan risiko terjadinya
malaria pada populasi di Puskesmas Jaya, lebih baik digunakan
analisis insidens, sedangkan pengerahan sumber daya, obat-obatan,
lebih banyak memanfaatkan analisis proporsi.
Analisis proporsi dapat juga dimanfaatkan dalam menentukan
besarnya masalah malaria pada suatu wilayah, misalnya proporsi
yang tinggi pada anak-anak balita menunjukkan adanya penularan
setempat yang serius.
Berdasarkan pemikiran tersebut terakhir ini, analisis kecenderungan
perkembangan malaria bulanan berdasarkan proporsi menurut umur,
dapat dimanfaatkan sebagai deteksi dini adanya masalah malaria
yang serius

160

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Kecenderungan Malaria
Puskesmas Jaya, tahun 2012
Proporsi Golongan Umur

Jumlah Kasus Malaria


40

80%

JUMLAHKSUS

PROPORSIi (%)

100%

60%
40%
20%

30

20

10

0%
Sep

Okt

Nov

Des

BULAN

<1

1-4

5-14

0
Sep

Okt

Nov

Des

BULAN

15/lebih

Berdasarkan analisis kecenderungan proporsi malaria menurut umur,


dapat diketahui pada bulan November 2012 terjadi peningkatan
nyata proporsi anak balita yang menderita sakit malaria. Apabila
analisisnya berdasarkan analisis kecenderungan jumlah kasus
(absolut), seringkali terjadi keraguan apakah terjadi peningkatan
orang sakit atau hanya karena minat berobat meningkat

161

Peningkatan proporsi anak menderita sakit malaria dapat menjadi


indikasi penularan setempat yang serius, dan dapat menjadi indikasi
awal adanya KLB malaria, yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut

Kecenderungan Jml Kasus Malaria Menurut Umur

Puskesmas Jaya, tahun 2012


16
14

JUMLAH KASUS

12
10

<1
1-4
5-14
15/lebih

8
6
4
2
0
Sep

Okt

Nov

Des

BULAN

5. Langkah-langkah
a. Merekam data kasus malaria
b. Rekapitulasi laporan bulanan penderita malaria
c. Tabel analsisis
d. Grafik kecenderungan proporsi malaria menurut umur dan jenis
kelamin
e. Grafik kecenderungan jumlah kasus menurut umur dan jenis
kelamin

162

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

F. Perkembangan Kasus Malaria Positif Rawat Inap/Meninggal dan


Proporsinya Terhadap Total Kasus Rawat Inap/Meninggal di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Per Bulan

1. Pengertian dan Tujuan


Seperti halnya pada analisis kejadian malaria pada anak balita, analisis
terhadap proporsi sakit berat (rawat inap) dan meninggal karena
malaria sangat penting untuk mendeteksi adanya masalah malaria pada
suatu wilayah.
Analisis kejadian malaria pada kelompok khusus ini dilaksanakan
dengan ketat, setidak-tidaknya dalam periode waktu bulanan atau
bahkan mingguan jika terdapat indikasi meningkatnya kejadian malaria.
Tujuan
a. Mendeteksi kecenderungan jumlah dan proporsi kasus malaria
sakit berat (rawat inap) dan meninggal di fasilitas pelayanan
kesehatan
b. Deteksi adanya peningkatan malaria atau KLB malaria
c. Analisis kecenderungan jangka panjang dalam rangka SKD-KLB

2. Sumber Data
Rekapitulasi laporan bulanan penderita malaria di Puskesmas,
Rumah Sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan
Surveilans khusus
(Penemuan Penderita Demam Massal,
Pemeriksaan Darah Massal, Penemuan Penderita Secara Aktif)
3. Pelaksana
Puskesmas, RS, Dinkes Kab/Kota dan Dinkes Provinsi
4.Tampilan Analisis

163

Tabel
Distribusi Kasus Malaria Rawat Inap Menurut Bulan
Puskesmas : Jaya
Tahun : 2011

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

10

16

12

41

42

28

18

15

96

95

85

98

95

65

75

12

10.4 16.8 14.1 8.2

5.3

1.5

0.0

8.3

0.0

0.0

0.0

164

0.0

0.0

0.0

Des

Jun

2
4
4
12
Kasus
malaria
Rawat Inap
0
0
0
2
Kasus
malaria
Rawat Inap
Meninggal
17 22 20 22
Total
Kasus
Malaria
95 68 90 80
Total
penderita
Rawat Inap
(semua
penyakit)
6
7
9
10
Total
Penderita
Rawat Inap
Meninggal
(semua
penyakit)
2.1 5.9 4.4 15.0
% Kasus
Rawat Inap
per Total
penderita
rawat inap
0.0 0.0 0.0 20.0
% Kasus
Meninggal
per total
penderita
meninggal

Mar

Mei

Feb

Apr

Rawat
Jan

No

Total

Jumlah Penderita Malaria Per Bulan

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Kecenderungan Malaria Rawat Inap dan Total


Puskesmas Jaya, tahun 2012

JUMLAH KASUS

40

30
R. INAP

20

Meninggal
TOTAL

10

Des

Nov

Okt

Sep

Ags

Jul

Jun

Mei

Apr

Mar

Feb

Jan

BULAN

Grafik kecenderungan rawat inap di fasilitas pelayanan kesehatan cukup


sensitif menggambarkan timbulnya masalah malaria di masyarakat.
Surveilans terhadap kasus malaria rawat inap juga lebih sederhana,
karena penderita secara pasif datang berobat, sehingga tidak memerlukan
survei ke lapangan dengan biaya dan tenaga yang cukup besar.

165

Kecenderungan % Malaria Rawat Inap dan Meninggal


Puskesmas Jaya, tahun 2012

PROSENTASE(%)

20.0

% R. Inap

10.0

% Meninggal

Des

Nov

Okt

Sep

Ags

Jul

Jun

Mei

Apr

Mar

Feb

Jan

0.0

BULAN

Kecenderungan proporsi Jumlah Kasus Malaria Rawat Inapterhadap


Jumlah Semua Kasus Rawat Inap ini dapat digunakan mendeteksi adanya
masalah malaria di masyarakat lebih tepat dibanding kecenderungan
absolut jumlah kasus rawat inap. Hal ini disebabkan karena
kecenderungan absolut jumlah kasus rawat inap terpengaruh oleh
fluktuasi kunjungan ke pelayanan kesehatan bukan karena terjadinya
peningkatan masalah malaria di masyarakat. Sementara pada
kecenderungan proporsi jumlah kasus malaria rawat inap terhadap jumlah
semua kasus rawat inap, sama-sama terpengaruh fluktuasi kunjungan,
sehingga fluktuasi kunjungan tersebut dapat terkontrol cukup baik.
Demikian juga dengan kecenderungan proporsi jumlah kasus malaria
rawat inap meninggal terhadap jumlah semua kasus rawat inap meninggal
dalam periode yang sama.
5. Langkah-langkah
Rekapitulasi laporan bulanan penderita malaria
Tabel distribusi kasus malaria rawat ianp dan total menurut bulan
Grafik kecenderungan malaria rawat inap dan total
Grafik kecenderungan proporsi jumlah kasus malaria rawat inap
dan jumlah kasus malaria rawat inap meninggal

166

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Lampiran 3a/SKD-KLB 3. Berbagai bentuk Pemantauan


Wilayah Setempat Faktor Risiko KLB Malaria
A. Perkembangan Curah Hujan

1. Pendahuluan
Indonesia memiliki variasi musim, mesim penghujan dan musim
kemarau serta pancaroba atau pergantian musim. Salah satu indikasi
perubahan musim dapat diukur dengan besarnya curah hujan masingmasing wilayah dalam periode waktu bulanan.
Perubahan musim dari waktu ke waktu berpengaruh terhadap
perkembangan malaria pada suatu wilayah, baik pengaruhnya terhadap
sifat-sifat parasit, nyamuk penular dan daya tahan penduduk
Curah hujan pada suatu wilayah, misalnya kabupaten/kota, dapat
dibuat dalam beberapa metode : rata, poligon atau cara isoheat. Untuk
keperluan ini, yang digunakan umumnya cara rata-rata yang dapat
diperoleh dari BMKG atau Dinas Pertanian masing-masing daerah
Mencermati hubungan curah hujan dan perkembangan malaria, maka
pemantauan curah hujan dapat digunakan untuk antisipasi
kecenderungan malaria dan upaya-upaya penanggulangannya

Tujuan
1. Mendapatkan perkembangan curah hujan kabupaten/Kota
2. Tingginya curah hujan berhubungan dengan peningkatan terjadinya
KLB malaria
3. Mengetahui pola musiman curah hujan yang berperan penting
dalam analisis SKD-KLB malaria

2. Pelaksana
Dinas Kesehatan kabupaten/Kota
3. Sumber Data
Dinas Pertanian Kab/kota
BMKG
Dibawah ini terdapat contoh Informasi curah hujan yang dapat diunduh
dari BMKG

167

Informasi Curah Hujan Wilayah-wilayah Indonesia

http://www.bmkg.go.id/bmkg_pusat/Klimatologi/Informasi_Hujan_Bulanan.bmkg

168

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Contoh Informasi Curah Hujan Dari Dinas Pertanian kab/Kota

Des

Nov

Okt

Agt
Sep

Jul

Jun

Mei

Apr

Mar

Feb

No. Kecamatan

Jan

Banyaknya Curah Hujan Menurut Bulan dan Kecamatan


Di Kabupaten Klaten Tahun 2004 (mm)

01 Prambanan
- - - - - - - - - - - 02 Gantiwarno
378 258 248 31 37 0 14 - - - 118 328
03 Wedi
- - - - - - - - - - - 04 Bayat
- - - - - - - - - - - 05 Cawas
192 238 128 58 - - 13 - 28 25 143 460
06 Trucuk
158 178 100 28 - - 19 - - - 144 330
07 Kalikotes
- - - - - - - - - - - 08 Kebonarum 418 458 234 49 290 12 11 - - 49 152 481
09 Jogonalan
- - - - - - - - - - - 10 Manisrenggo
- - - - - - - - - - - 11 Karangnongko 191 - - - 46 - - - - 87 287 330
12 Ngawen
- - - - - - - - - - - 13 Ceper
- - - - - - - - - - - 14 Pedan
258 138 306 134 125 7 33 - 1 68 263 490
15 Karangdowo 346 221 361 94 85 5 17 - - 28 307 446
16 Juwiring
221 225 232 154 118 7 104 - - 92 351 548
17 Wonosari
215 230 258 170 149 6 114 - - 74 360 555
18 Delanggu
245 236 229 164 121 6 102 - - 95 370 561
19 Polanharjo
- - - - - - - - - - - 20 Karanganom 308 226 295 70 123 0 55 - - 65 232 339
21 Tulung
285 457 302 252 166 0 78 - 5 40 225 482
22 Jatinom
343 281 318 135 136 0 50 - 11 91 236 483
23 Kemalang
- - - - - - - - - - - 24 Klaten Selatan - - - - - - - - - - - 25 Klaten Tengah - - - - - - - - - - - 26 Klaten Utara
- - - - - - 6 - - - - Rata Rata 2004 276 262 251 111 135 7 51 - 13 65 245 449
2003
241 506 227 50 65 13 - - - 34 193 293
2002
204 216 138 101 34 3 - - - 6 65 135
2001
352 155 224 165 83 57 29 - - 145 250 42
2000
250 375 378 327 35 22 - 1 39 204
Sumber : Klaten Dalam Angka

169

Rata2
118
107
80
179
74
154
159
171
177
177
143
190
174
146
137
75
105
125

4. Tampilan Analiis
a. Tabel Analisis Curah Hujan
b. b. Grafik Analisis

17
104
114
102

5. Langkah-langkah
a. Merekam data curah hujan dari sumber resmi (misalnya
Pertanian Kab/kota, BMKG). Perekaman dilakukan setiap
karena biasanya beberapa sumber data curah hujan
menerbitkan data curah hujan dalam beberapa bulan saja)
b. Memindahkan data curah hujan kedalam tabel curah hujan
bulan berjalan
c. Membuat grafik Curah Hujan Kab/Kota atau Provinsi.
170

Des

5
7
6
6

Nov

85
118
149
121

Okt

94
154
170
164

Sep

361
232
258
229

Ags

221
225
230
236

Jul

Mei

346
221
215
245

Jun

Apr

Krdowo
Juwiring
Wonosari
Delanggu

Mar

1
2
3
4

Kab/Kota

Feb

No

Jan

Bulan

28
92
74
95

307
351
360
370

446
548
555
561

Dinas
bulan,
hanya
setiap

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

d. Menghubungkan atau melakukan analisis perkembangan curah


hujan dengan perkembangan malaria dari bulan ke bulan. Grafik
curah hujan dan grafik perkembangan malaria dapat dibuat dalam
satu grafik.

171

B. Pengamatan Vektor Malaria

1. Pengertian dan Tujuan


Walaupun secara umum, malaria ditularkan oleh nyamuk, terutama
nyamuk anopheles, tetapi jenis nyamuk penular malaria tersebut adalah
spesifik pada masing-masing daerah, kepadatan bervariasi, dan sangat
besar pengaruh kondisi lingkungan yang mendukung perkembang
biakan nyamuk.
Mencermati keberadaan nyamuk tersebut, sangat diperlukan
pengamatan vector sebagai bagian dari penyelenggaraan surveilans
malaria
Tujuan
a. Memantau secara terus menerus dan sistematis terhadap
nyamuk, distribusi dan perkembangannya serta kondisi
lingkungan yang berpenmgaruh terhadap keberadaan nyamuk,
distribusi dan perkembangannya tersebut.
b. Kepadatan nyamuk yang tinggi berpengaruh terhadap risiko
penularan malaria dan terjadinya KLB malaria
c. Kecenderungan pola hujan yang sangat penting melakukan kajian
epidemiologi
2. Pelaksana
Puskesmas, Dinas Kesehatan Kab/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi,
BTKLPP dan Pusat
3. Sumber Data
Daerah reseptif malaria
Pengamatan Vektor
Hasil Pengamatan Vektor (Lihat Pedoman Pemberantasan Vektor, Dit.
P2B2, Ditjen PP&PL, Departemen Kesehatan, 2006)
4. Tampilan Analiis
Wilayah reseptif adalah wilayah yang memiliki vektor malaria dengan
kepadatan tinggi dan terdapat faktor lingkungan serta iklim yang
menunjang terjadinya penularan malaria.
Data wilayah reseptif, sebaiknya setingkat desa, walaupun sebenarnya
hanya sebagian dari desa. Desa ditetapkan sebagai wilayah reseptif,
karena di desa tersebut yang pernah berjangkit penularan malaria, yang
kemudian diteliti dengan cermat pada kondisi lingkungan dan
172

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

perkembangan vector nyamuk malaria yang berpotensi terjadinya


penularan malaria
a. Daftar Wilayah Desa Reseptif malaria di Puskesmas Jaya
b. Peta Wilayah Reseptif Malaria
c. Grafik Fluktuasi kepadatan nyamuk perhari
Kepadatan nyamuk Anopheles diperoleh dengan pengamatan pada
beberapa titik pengamatan di wilayah reseptif dengan umpan manusia,
kemudian diambil rata dalam sehari (semalam) dan kemudian diratakan
perhari dalam sebulan pengamatan
Tabel
Wilayah Reseptif Malaria, Puskesmas Jaya, 2010-2011

No

Desa
Total

1
2
3
4
5
6
7
8
9

173

AMAN
BIDAI
CHARL
DENAH
ELOK
ERNAN
GALUH
HANNA
INTAN

Jml
Pdd

2011
Jml
Jml
Dusun
Dusun
Reseptif

Jml Pdd
Reseptif

Jml
Pdd

2012
Jml
Jml
Dusun
Dusun
Reseptif

Jml Pdd
Reseptif

36700

47

13

6100

36700

47

10

5600

2000
6000
500
700
2000
4500
7000
9000
5000

4
4
3
4
4
6
8
7
7

4
3
2
2
2
0
0
0
0

2000
3000
400
200
500
0
0
0
0

2000
6000
500
700
2000
4500
7000
9000
5000

4
4
3
4
4
6
8
7
7

4
3
2
1
0
0
0
0
0

2000
3000
400
100
0
0
0
0
0

Gambar
Peta Desa Reseptif dan Insidens Malaria
Puskesmas Jaya, 2012
Incidance rate
per 1000 pop
>4
1-4
<1

Desa Reseptif
Reseptif
Non
Reseptif

Gambar
Wilayah Reseptif Menurut Puskesmas
Kabupaten Jaya, 2012

Reseptif
Non
Reseptif

Puskesmas reseptif adalah Puskesmas yang terdapat wilayah reseptif,


baik desa reseptif maupun dusun reseptif

174

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

5. Langkah-langkah
a. Pengamatan vektor dilakukan pada malam hari, diamati jenis dan
kepadatannya, sekaligus dengan pengamatan kelembapan, curah
hujan dan kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap
perkembangan vektor (lihat Pedoman Pemberantasan Vektor)
b. Setiap hari pengamatan, hasil pengamatan vektor dibuat rata-rata
perhari, kemudian setiap bulan, hasil pengamatan vektor dirataratakan dalam sebulan (per-malam per-bulan)
c. Pindahkan data pengamatan vektor kedalam tabel Fluktuasi
Kepadatan Vektor
d. Buat grafik fluktuasi kepadatan vektor
e. Hasil pengamatan vektor digunakan untuk menentukan dusun, desa
dan Puskesmas reseptif malaria

175

Lampiran 4. Penemuan Penderita Secara Aktif di


Lapangan (Active Case Detection/ACD)
I. Pendahuluan
Deteksi Aktif Kasus Malaria adalah upaya mencari dan menemukan
penderita demam (suspek malaria) dengan aktif mengunjungi penduduk
dari rumah-ke rumah yang dilaksanakan secara berkala. Penduduk yang
menderita demam dan hasil pengujian darah menyatakan bahwa malaria
positif, maka penderita ini wajib segera mendapat pengobatan yang
sesuai
II. Tujuan
1. Menemukan semua penderita malaria
2. Memberikan obat yang sesuai
3. Menurunkan risiko terjadinya peningkatan penularan malaria dengan
tatalaksana kasu malaria dengan tepat

III. Sasaran
Kegiatan penemuan kasus malaria dengan ACD dilaksanakan di daerah
pengendalian malaria tahap pre eliminasi, eliminasi dan pemeliharaan
Sasaran ACD adalah semua penduduk pada wilayah rawan penularan
malaria. Wilayah rawan penularan malaria antara lain : wilayah reseptif
atau vulnerabel, wilayah fokus yaitu wilayah yang diduga terjadi penularan
setempat baru, atau wilayah yang terjadi peningkatan kejadian malaria.

IV. Metode
Penentuan wilayah rawan penularan malaria berdasarkan pada analisis
surveilans rutin, surveilans migrasi, survei vektor (spot dan longitudinal),
riwayat terjadinya KLB malaria dan kondisi lingkungan serta perilaku
penduduk yang berpotensi terjadinya penularan malaria (lihat survei
dinamika penularan)
Pada dasarnya kegiatan ACD adalah :
a. mengunjungi penduduk secara berkala untuk menemukan penderita
demam (suspek malaria). Kunjungan ke penduduk dapat berbentuk
kunjungan dari rumah ke rumah, atau mendirikan pos pelayanan
kesehatan sedekat mungkin dengan pemukiman penduduk.
b. Setiap penduduk yang menderita demam diambil sediaan darahnya
untuk pemeriksaan mikroskopis malaria dan atau pengujian dengan
RDT
c. Setiap penduduk yang menderita demam dan positif malaria mendapat
pengobatan standar
176

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Berdasarkan status wilayahnya, kegiatan penemuan kasus malaria dibagi


menjadi dua cara atau langkah-langkah kegiatan :
A. Langkah-langkah kegiatan ACD pada wilayah fokus yang diduga
terjadi penularan setempat (baru) atau wilayah yang terjadi
peningkatan malaria adalah :
1. Persiapan lapangan
a. Menetapkan wilayah-wilayah sasaran kegiatan ACD, dapat satu
desa fokus atau beberapa dusun fokus dalam satu desa.
b. Satu dusun fokus dilaksanakan oleh satu tim ACD untuk
melaksanakan kunjungan rumah ke rumah, dengan perkiraan
jumlah petugas pelaksana ACD adalah :
jumlah rumah x jumlah siklus per bulan
= -----------------------------------------------------40 rumah x 25 hari
c. Mendata penduduk perdusun menurut Rumah/Kepala Keluarga
dan membuat peta rumah (berikan kode rumah untuk setiap
Kepala Keluarga) (lihat formulir ACD-1)
d. Berdasarkan data bulanan penderita malaria Puskesmas
(surveilans rutin) yang berasal dari fokus atau representasi
fokus dibuat kurva mingguan/bulanan selama 3-5 tahun terakhir
e. Berdasarkan data pengamatan vektor (survei vektor
longitudinal) juga dibuat fluktuasi nyamuk menurut rata-rata
bulanan untuk 3-5 tahun terakhir
f. Tentukan periode penularan tinggi dan periode penularan
rendah. Periode penularan tinggi dilaksanakan ACD dengan
kunjungan rumah siklus 2 mingguan, sementara periode
penularan rendah dilaksanakan ACD dengan kunjungan rumah
siklus 4 mingguan (1 bulan)
g. Siapkan sarana pemeriksaan dalam ACD, formulir Kunjungan
Rumah ACD (formulir ACD-2)
dan formulir Pemeriksaan
Demam (formulir ACD-3) serta brosur atau buku saku sosialisasi
pengendalian malaria
h. Buatlah jadwal kunjungan rumah, sehingga setiap Kepala
Keluarga akan dikunjungi kembali sesuai dengan siklus
kunjungan. Sesuaikan jadwal kunjungan dengan letak rumah
pada peta dusun
i. Buatlah perencanaan kegiatan ACD bersama kepala dusun dan
kader setempat
j. Sampaikan jadwal kunjungan rumah dalam rangka ACD ini
kepada masyarakat yang akan dikunjungi

177

2. Pelaksanaan lapangan

a. Pastikan bahwa warga yang akan dikunjungi mengetahui jadwal


kunjungan rumah dalam rangka ACD
b. Sosialisasi pengendalian malaria dan kegiatan pemeriksaan dan
pengobatan penderita demam (suspek malaria)
c. Lakukan kunjungan rumah ke rumah sesuai jadwal pada
masing-masing anggota tim ACD
d. Setiap rumah yang dikunjungi, lakukan wawancara dan
pemeriksaan serta pengambilan sediaan darah per-kepala
keluarga
(1) Pada kunjungan pertama, catat data keluarga dalam formulir
kunjungan rumah ACD (formulir ACD-2). Anggota keluarga
yang sedang bepergian, tetap harus dicatat.
(2) Tanyakan kembali, apakah ada anggota keluarga yang
menderita sakit demam dalam 48 jam terakhir. Sebutkan
nama setiap anggota keluarga, dan tandai anggota keluarga
yang menderita demam.
(3) Setiap anggota keluarga yang menderita sakit demam :
(a) Isi formulir Pemeriksaan Sakit Demam (formulir ACD-3)
(b) Ambil sediaan darah sesuai pedoman yang berlaku
untuk pemeriksaan mikroskopis. Pastikan label pada
slide sediaan darah telah tercatat sesuai dengan nama,
KK dan dusun pada formulir Pemeriksaan Sakit Demam
(formulir ACD-3)
(c) Lakukan pemeriksaan dengan RDT (jika dilakukan)
(d) Berikan obat penurun demam, atau berikan obat
malaria standar jika telah diketahui ada tidaknya parasit
dalam darah penderita.
(e) Semua Sediaan Darah disimpan dalam tempat slide
dan segera dibawa ke Puskesmas untuk dilakukan
pemeriksaan mikroskopis.
(f) Pada setiap penderita malaria positif (konfirmasi),
Wawancara penderita dan Isi Kartu Penderita Malaria
(terlampir) dan Otopsi Verbal pada kasus meninggal
Berikan pengobatan standar
Laksanakan pemeriksaan kontak (5 orang kontak)
untuk memastikan ada tidaknya penularan
setempat, sumber penularan (indigenous/impor) dan
pengobatan kontak yang positip malaria
Lakukan crossnotificasion (jika diperlukan)
Penderita yang mendapat pengobatan standar, harus
di follow up :
o Penderita Plasmodium falsiparum (+) difollow up
pada hari ke 7 dan ke 28 setelah pengobatan
178

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Penderita Plasmodium vivak (+) difollow up pada


hari ke 7, 28 dan 3 bulan setelah pengobatan

B. Langkah-langkah kegiatan ACD pada wilayah reseptif atau vulnerabel


1. Persiapan lapangan
a. Menetapkan wilayah-wilayah sasaran kegiatan ACD, dapat satu
desa merupakan satu wilayah reseptif/vulnerabel atau beberapa
dusun reseptif/vulnerabel dalam satu desa.
b. Satu dusun reseptif/vulnerabel dilaksanakan oleh satu tim ACD
untuk melaksanakan pelayanan kesehatan pasif (Pos
Pelayanan Kesehatan) agar penderita demam dapat datang
berobat
c. Mendata penduduk perdusun menurut Rumah/Kepala Keluarga
dan membuat peta rumah (berikan kode rumah untuk setiap
Kepala Keluarga) (lihat formulir ACD-1)
d. Berdasarkan data bulanan penderita suspek dan malaria
(positif) Puskesmas (surveilans rutin) yang berasal dari wilayah
reseptif/vulnerabel atau representasi wilayah reseptif/vulnerabel,
dibuat kurva mingguan/bulanan selama 3-5 tahun terakhir
e. Berdasarkan data pengamatan vektor (survei vektor
longitudinal) juga dibuat fluktuasi nyamuk menurut rata-rata
bulanan untuk 3-5 tahun terakhir
f. Tentukan periode potensi penularan tinggi dan periode potensi
penularan rendah. Periode potensi penularan tinggi
dilaksanakan ACD dengan mendirikan
Pos Pelayanan
Kesehatan dengan siklus 1 bulan sekali
g. Siapkan sarana pemeriksaan dalam ACD, formulir Pemeriksaan
Demam (formulir ACD-3) serta brosur atau buku saku sosialisasi
pengendalian malaria
h. Tetapkan jumlah, lokasi dan jadwal kegiatan Pos Pelayanan
Kesehatan,
sehingga semua penduduk akses terhadap
pelayanan kesehatan
i. Buatlah perencanaan kegiatan Pos Pelayanan Kesehatan
bersama kepala dusun dan kader setempat dan masyarakat,
sehingga Pos Pelayanan Kesehatan dapat dikunjungi semua
penderita demam.
j. Sampaikan jadwal kegiatan Pos Pelayanan Kesehatan dalam
rangka ACD ini kepada masyarakat yang akan dikunjungi. Pos
Pelayanan Kesehatan juga akan melayani penderita sakit
lainnya.

179

2. Pelaksanaan lapangan
a. Pastikan bahwa warga diwilayah yang akan dilaksanakan
kegiatan ACD telah mengetahui lokasi dan jadwal kegiatan Pos
Pelayanan Kesehatan
b. Sosialisasikan Program Pengendalian Malaria dan pelaksanaan
kegiatan Pos Pelayanan Kesehatan agar penduduk yang
menderita demam (suspek malaria) datang berobat. Sosialisasi
dapat melalui berbagai pertemuan warga (masjid, pertemuan
warga, dsb) dan publikasi lain
c. Laksanakan kegiatan di Pos Pelayanan Kesehatan. Pastikan
papan nama Pos Pelayanan Kesehatan terpampang dengan
jelas.
d. Setiap anggota keluarga yang menderita sakit demam :
(1) Isi formulir Pemeriksaan Sakit Demam (formulir ACD-3)
(2) Ambil sediaan darah sesuai pedoman yang berlaku untuk
pemeriksaan mikroskopis. Pastikan label pada slide sediaan
darah telah tercatat sesuai dengan nama, KK dan dusun
pada formulir Pemeriksaan Sakit Demam (formulir ACD-3)
(3) Lakukan pemeriksaan dengan RDT (jika dilakukan)
(4) Berikan obat penurun demam, atau berikan obat malaria
standar jika telah diketahui ada tidaknya parasit dalam darah
penderita.
(5) Kunjungi penduduk yang menderita demam (suspek malaria)
yang tidak bisa datang ke Pos Pelayanan Kesehatan, dan
lakukan kegiatan (1) s/d (4) diatas
(6) Semua Sediaan Darah disimpan dalam tempat slide dan
segera dibawa ke Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan
mikroskopis.
(7) Pada setiap penderita malaria positif (konfirmasi),
Wawancara penderita dan Isi Kartu Penderita Malaria
(terlampir) dan Otopsi Verbal pada kasus meninggal
Berikan pengobatan standar
Laksanakan PE KLB atau pemeriksaan kontak (5 orang
kontak) untuk memastikan ada tidaknya penularan
setempat, sumber penularan (indigenous/impor), dan
pengobatan kontak yang positip malaria
Laksanakan crossnotificasion (jika diperlukan)
Penderita yang mendapat pengobatan standar, harus di
follow up :
o Penderita Plasmodium falsiparum (+) difollow up pada
hari ke 7 dan ke 28 setelah pengobatan
o Penderita Plasmodium vivax (+) difollow up pada hari
ke 7, 28 dan 3 bulan setelah pengobatan

180

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

C. Analisis Hasil ACD pada wilayah kegiatan


1. Proporsi Keluarga diperiksa
Jumlah keluarga diperiksa
= ----------------------------------------- x 100%
Jumlah keluarga seluruhnya
** Dimanfaatkan untuk mengkur kinerja ACD per bulan
2. Proporsi kasus malaria konfirmasi
Jumlah kasus demam positif malaria
= ---------------------------------------------------- x 100%
Jumlah penduduk sakit demam
3. Rate Prevalensi kasus malaria
(Parasit Rate) per bulan
Jumlah kasus malaria (+) dalam sebulan
= ------------------------------------------------------------------------ x 1000
Jumlah penduduk diperiksa dalam bulan yang sama
Dibuat kurva prevalence rate untuk menentukan kecenderungan
penularan malaria, sebagai bahan evaluasi kegiatan ACD dalam
upaya menurunkan tingginya risiko penularan
4. Proporsi Plamodium falsiparum
Jumlah kasus malaria P. falsiparum (+)
+ jumlah kasus malaria campuran per bulan
= ------------------------------------------------------------- x 100%
Jumlah kasus malaria semua parasit
pada bulan yang sama
Dibuat kurva proporsi Plasmodium falsiparum menurut bulan, untuk
menentukan besarnya risiko penularan dan tindakan yang
diperlukan
5. Proporsi kasus malaria konfirmasi umur < 5tahun
Jumlah kasus malaria konfirmasi berumur <5 th
per bulan
= ----------------------------------------------------------------- x 100%
Jumlah kasus malaria konfirmasi semua
golongan umur pada bulan yang sama
181

Dibuat kurva proporsi kasus malaria menurut umur, untuk


menentukan besarnya risiko penularan dan tindakan yang
diperlukan
6. Prevalence Rate (Parasit Rate) per tahun menurut umur/jenis
kelamin/faktor risiko lain
Prevalence Rate Kasus Malaria (Konfirmasi)
Puskesmas :
Desa :
Tahun :

Dusun :
Jumlah
Jml Kasus Jml Kasus
Umur
Populasi Malaria
Malaria
(Konfirmasi)
berisiko
Meninggal
< 1th
1-4 th
5-14
15-24
25-44
45 +
Total

Prevalence Case
Rate
fatality
per 1000
Rate (%)

V. Pencatatan dan Pelaporan


1. Penderita malaria sebagai hasil kegiatan ACD direkam dalam
Kartu Penderita Malaria di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan
kemudian direkam dalam E-sismal sebagai register harian
penderita malaria dengan kode ACD. Oleh karena itu, data
penderita malaria dilaporkan ke Puskesmas setiap hari,
termasuk hasil pemeriksaan mikroskopis.
2. Disamping itu, setiap bulan, hasil kegiatan ACD direkapitulasi
terpisah dan dibuat laporan bulanan pelaksanaan ACD
VI. Petugas Pelaksana
1. Petugas kesehatan terlatih ACD dan petugas terlatih
mikroskopis
2. Masyarakat terlatih (kader, JMD) untuk wilayah yang sulit
terjangkau oleh petugas kesehatan dibawah pengawasan
petugas kesehatan terlatih

182

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Lampiran

Formulir ACD-1
Daftar Kepala Keluarga dan Kode Rumah
Daftar Kepala Keluarga, Jumlah Anggota dan Kode Rumah
Kab/Kota :
.
Desa :
Puskesmas :
.
Dusun/RTTgl. Pendataan .
RW :
:
Jumlah
Nama
Kepala
Kode
No
Anggota
Keluarga
Rumah
Keluarga

183

..

Keterangan

ACD-2
Deteksi Penderita Malaria Aktif (ACD)
Daftar Kepala Keluarga, Anggota dan Pemantauan Demam
Pada Siklus Pertama ACD
Puskesmas :

..

Kab/Kota :

..

No

Nama
Kepala
Keluarga

Desa/Dusun:
Tgl Pendataan:

Nama
Anggota
Umur Sex
Keluarga *)

..
..
Pemeriksaan Siklus 1

Pekerjaan **)
Tgl

Demam

*) termasuk kepala keluarga


**) terkait dengan risiko penularan
***) sebagai kolom control, tandai jika demam dan telah diambil sediaan darah dan atau RDT

Lampiran : Penemuan Penderita Demam Masssal

184

SD/RD
T ***)

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Lampiran 5.

Penemuan Penderita Demam Massal


(Mass Fever Survey/MFS)

Penemuan Penderita Demam Massal merupakan kegiatan pencarian dan


penemuan penderita demam positif parasit malaria diantara penduduk
Tujuan
1. Memastikan desa dengan jumlah kasus rendah adalah benar
menunjukkan tingkat transmisi rendah (konfirmasi)
2. Menemukan penderita demam positif parasit malaria pada populasi
rawan untuk mendapat pengobatan dan menghilangkan sumber
penularan malaria. Ini dilaksanakan jika pengendalian malaria
dengan PCD dan ACD dan penanggulangan KLB tidak berhasil
3. Mendapatkan prevalensi kasus malaria pada populasi rawan
Sasaran
1. MFS konfirmasi
a. Dilaksanakan pada daerah endemis yang sudah menunjukkan
transmisi rendah, dengan kriteria :
(1) Desa/dusun pernah endemis tinggi
(2) Wilayah reseptif malaria
(3) Mobilitas penduduk tinggi
(4) Surveilans dengan kinerja rendah
b. Dilaksanakan pada saat puncak penularan malaria berdasarkan
kurva bulanan penderita malaria
c. Memastikan KLB malaria
2. MFS khusus mengurangi sumber penularan dan mencegah KLB
a. Dilaksanakan pada daerah fokus yang menunjukkan
kecenderungan kenaikan jumlah penderita, dengan kriteria :
(1) Ditemukan satu kasus indigenous bayi
(2) MOPI kumulatif dua bulan berturut-turut 3% atau dua kali
MOPI bulan sebelumnya
b. Dilaksanakan sebelum puncak penularan malaria, berdasarkan
kurva bulanan penderita malaria dan atau potensi terjadinya
penularan meningkat
Metode
Pada prinsipnya, MFS adalah memeriksa adanya parasit malaria pada
sediaan darah setiap orang yang menderita demam yang ada pada
populasi tertentu.

Lampiran : Penemuan Penderita Demam Masssal

185

Langkah Persiapan
1. Tentukan batas daerah yang akan dilaksanakan MFS berdasarkan:
a. Sebaran penderita malaria berdasarkan penemuan pasif
b. Sebaran nyamuk penular malaria di daerah tersebut
c. Keadaan lingkungan dan sosial ekonomi yang berpengaruh
terhadap penularan malaria
2. Hitung jumlah penduduk berdasarkan data pemerintahan desa
setempat dan perkiraan adanya penderita demam rata-rata setiap
hari
3. Siapkan kebutuhan tenaga dan logistik :
a. Jumlah tenaga
b. Spesifikasi tenaga (beri keterangan)
c. Jumlah slide kaca sebesar jumlah penduduk + 10 % per pos
pelayanan
d. Jumlah formulir MFS
4. Pelatihan dan pembahasan dengan kader malaria
5. Penyuluhan pelaksanaan MFS (sasaran, mekanisme, pos
pelayanan dan jadwal)
6. Menjelang hari pelaksanaan MFS, kader mendata penduduk dari
rumah ke rumah warga, dan mencatat warga menderita demam
atau riwayat menderita demam dalam 48 jam terakhir
Langkah Pelaksanaan
1. Menyiapkan pos-pos pelayanan, termasuk tenaga dan logistik serta
formulir MFS
2. Warga yang menderita demam yang akan diperiksa dicatat dalam
formulir MFS dan diberikan kartu berisi nama dan kode
3. Warga yang akan diperiksa mendatangi meja pemeriksaan sediaan
darah yang telah ditentukan
4. Petugas di meja pemeriksaan sediaan darah mengambil sediaan
darah dan tulis di bagian pinggir slide : nama, kode dan tanggal
pengambilan sediaan darah (dapat sekaligus diperiksa dengan
RDT)
5. Slide disimpan pada tempatnya untuk pemeriksaan lebih lanjut
6. Mendatangi ke rumah warga yang tercatat oleh kader (menderita
demam) yang belum mengikuti pemeriksaan
7. Pemeriksaan mikroskopis Sediaan Darah sesuai pedoman terkait
8. Setelah diperoleh hasil pemeriksaan sediaan darah, warga yang
positif parasit malaria segera mendapat pengobatan standar (jika
dengan pengujian RDT, penderita positif langsung diberikan obat)

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Pelaporan
Hasil Pelaksanaan MFS segera dilaporkan kepada Dinas Kesehatan
Kab/kota dan Puskesmas dimana MFS dilaksanakan, selambat-lambatnya
1 minggu setelah pelaksanaan MFS. Laporan MFS berisi :
1.
2.
3.
4.

Daftar Nama Tim MFS


Laporan pelaksanaan
Analisis MFS
Lampiran Daftar Peserta Survei Demam Massal

Pada daerah pengendalian tahap eliminasi dan pemeliharaan, laporan


ditembuskan pada Dinas Kesehatan Provinsi dan Pusat (Ditjen PP&PL,
Kementerian Kesehatan)
Tindakan Pasca MFS
Dilaksanakan Surveilans pasif dengan melaksanakan pelayanan
pengobatan (Puskesmas Keliling) di daerah tersebut setidak-tidaknya
setiap bulan selama 3 bulan berturut-turut setelah MFS dilaksanakan
Format Analisis MFS
Prosentase Penduduk Demam Diperiksa Sediaan Darah (SD)
Jumlah SD yang diperoleh
= ------------------------------------- x 100
Jumlah penduduk
Point Prevalence Rate (Parasit Rate)
Jumlah SD+RDT positif parasit malaria
= ----------------------------------------------------- x 1000
Jumlah SD diperiksa
Proporsi parasit falsiparum
Jumlah SD positif parasit falsiparum
= -------------------------------------------------- x 100
Jumlah SD positif parasit malaria
Proporsi Pengobatan
Jumlah SD positif parasit malaria mendapat obat
= ------------------------------------------------------------------ x 100
Jumlah SD positif parasit malaria
Lampiran : Penemuan Penderita Demam Masssal

187

Referensi
Depkes RI. Pedoman Penemuan Penderita. Direktorat Pemberantasan
Penyakit Bersumber Binatang, Ditjen PP&PL, Depkes RI. Tahun 2007

Formulir Penemuan Penderita Demam Massal sebagai berikut :

Penemuan Penderita Demam Massal


Daftar Kepala Keluarga dan Anggota
Puskesmas :

..

Desa/Dusun: ..

Kab/Kota :

..

Tanggal MFS : ..

Nama Kepala
Keluarga

No

Nama Anggota
Keluarga *)

Umur

Sex

Demam
(Y/T)

Pekerjaan **)

Tgl Mulai
Demam

Diambil
SD ***)

*) termasuk kepala keluarga


**) terkait dengan risiko penularan
***) sebagai kolom control, tandai jika demam dan telah diambil sediaan darah

Penemuan Penderita Demam Massal


Daftar Pemeriksaan Sediaan Darah Penduduk Demam
Desa/Dusun :.
Tgl MFS :.

Nama
Kepala
Keluarga

Dusun/
RT/RW

Sex

No

Nama
Anggota
Keluarga

Umur

Puskesmas :..
Kab/Kota :..

Tanggal
Mulai
Demam

Gejala Tambahan

Jenis
Tanggal
Pemerik Hasil Pemeriksaan
Pemerik
saan
saan
RDT SD RDT SD
Jenis

Lampiran : Penemuan Penderita Demam Masssal

Pengobatan
Tanggal

Jenis obat

189

Penemuan Penderita Demam Massal


Data Penduduk
Kab/Kota :
Puskesmas :
Desa :
Tahun :

.
Umur (Tahun)

No

Dusun

<1

1-4

5-9

10-14

Jenis Kelamin
15+

1
2
...

Dst

Lampiran : Pemeriksaan Darah Massal

190

Formulir MBS sebagai berikut :

Pemeriksaan Darah Massal (MBS) Malaria


Daftar Kepala Keluarga, Anggota dan Pemeriksaan
Puskesmas :..

Desa /Dusun :/ ..

Nama
Anggota
*)

Sex

No

Nama
Kepala
Keluarga

Umur

Kab/Kota :..

Tgl Survei :.
Pekerjaan

Gejala Sakit dalam 48


jam terakhir
Demam

Tanggal
Pemerik
saan **)

Jenis
Pemerik
saan

RDT SD RDT SD

*) termasuk Kepala Keluarga


**) periksa semua anggota keluarga, jika tidak diperiksa, tuliskan disini alasannya

Lampiran : Pemeriksaan Darah Massal

Hasil Pemeriksaan

194

Jenis

Pengobatan
Tanggal

Jenis obat

Format Analisis Pemeriksaan Darah Massal


Prosentase Penduduk Diperiksa SD (Sediaan Darah)
Jumlah SD yang diperoleh
= ------------------------------------- x 100
Jumlah penduduk
Point Prevalence Rate (Parasit Rate)
Jumlah SD positif parasit malaria
= --------------------------------------------- x 1000
Jumlah SD diperiksa
Proporsi parasit falsiparum
Jumlah SD positif parasit falsiparum
= -------------------------------------------------- x 100
Jumlah SD positif parasit malaria
Proporsi kasus malaria konfirmasi (demam)
Jumlah penduduk demam yang positif malaria
= ---------------------------------------------------------------- x 100%
Jumlah penduduk positif malaria
Proporsi Pengobatan
Jumlah SD positif parasit malaria mendapat obat
= ------------------------------------------------------------------ x 100
Jumlah SD positif parasit malaria

Lampiran : Pemeriksaan Darah Massal

195

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Lampiran 8. Surveilans Migrasi


I. Pendahuluan
Pada wilayah dengan kasus indigenous sudah tidak pernah ditemukan atau
kejadiannya sangat rendah, tetapi kasus impor masih sering terjadi, dan kondisi
wilayah tersebut berpotensi terjadinya perkembangbiakan vektor penular malaria,
maka wilayah ini merupakan wilayah rentan terjadinya penularan malaria
Surveilans migrasi merupakan bagian dari SKD-KLB malaria, yaitu melakukan
analisis secara terus menerus dan sistematis terhadap kecenderungan migrasi
penduduk, kecenderungan kasus impor dan deteksi dini adanya penularan setempat
serta deteksi dini perubahan kondisi lingkungan, vektor dan perilaku penduduk yang
berpotensi terjadinya penularan malaria.
II. Tujuan
1. Menemukan penderita malaria yang baru datang dari daerah endemis malaria
yang datang ke daerah reseptif malaria
2. Memberikan pengobatan standar pada penderita malaria
3. Kecenderungan kasus malaria impor, introduce dan indigenous (penularan
setempat) di wilayah reseptif
4. Kecederungan (pola musiman) vektor malaria di wilayah reseptif
5. Pola musiman migrasi penduduk wilayah reseptif dari dan ke daerah endemis
malaria

III. Sasaran
Surveilans migrasi dilaksanakan pada daerah dengan pengendalian malaria tahap
pre eliminasi, eliminasi dan pemeliharaan yang memiliki wilayah reseptif dan
vulnerabel

IV. Metode
1. Melaksanakan kegiatan ACD pada wilayah reseptif malaria
2. Melaksanakan kegiatan ACD pada fokus, jika diduga terjadi penularan
setempat atau peningkatan kasus indigenous
3. Melaksanakan pengawasan dan survei vektor
4. Melaksanakan pemantauan pola musiman migrasi penduduk dari dan ke
daerah endemis malaria
V. Pencatatan dan Pelaporan
1. Data penemuan kasus malaria konfirmasi merupakan bagian dari laporan
penderita malaria di Puskesmas dengan kode ACD
2. Laporan dan analisis tersendiri perlu dilakukan setiap bulan untuk peningkatan
kewaspadaan dini dan respon kemungkinan terjadinya penularan setempat
Kementerian Kesehatan RI

196

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

VI. Pelaksana
Petugas Puskesmas terlatih atau kader kesehatan/JMD terlatih

Referensi
Pedoman Penemuan Penderita Malaria

Kementerian Kesehatan RI

197

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Lampiran 9. SURVEI DINAMIKA PENULARAN MALARIA


I. Pendahuluan
Malaria merupakan salah satu penyakit menular di Indonesia yang tersebar
sangat luas, angka kesakitan dan kematian yang masih tinggi dan faktor risiko
yang komplek.
Untuk mendapatkan alternatif strategi pengendalian malaria yang efektif dan
efisien di suatu wilayah diperlukan kajian menyeluruh dan berorientasi pada
identifikasi dan upaya pemutusan mata rantai penularan malaria yang lebih
dikenal sebagai Survei Dinamika Penularan Malaria.

II. Pengertian :
Dinamika penularan malaria adalah pola dan intensitas penularan malaria di
suatu wilayah tertentu dan pengaruh adanya penderita atau carrier malaria
sebagai sumber penularan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya penularan
tersebut. Kondisi yang mempengaruhi terjadinya penularan malaria meliputi
jumlah dan sebaran penderita/carrier, perilaku penduduk berisiko penularan,
jenis, penyebaran dan kepadatan vektor penular, lingkungan rentan penularan
dan jangkauan/mutu pelayanan kesehatan
Survei Dinamika Penularan adalah kajian menyeluruh dan sistematis terhadap
dinamika penularan malaria agar dapat diperoleh cara-cara pengendalian malaria
di suatu wilayah tertentu

III. Tujuan dan Manfaat


Tujuan
1. Mengetahui distribusi malaria menurut waktu, tempat dan ciri-ciri penduduk
(orang)
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penularan malaria
3. Mengetahui sumber (penderita/carier, vektor, lingkungan) dan cara penularan
malaria
4. Menentukan metode intervensi yang tepat
5. Menentukan mitra strategis pengendalian malaria
Manfaat
Mengetahui metode pemberantasan yang tepat guna
Membuat perencanaan yang tepat sasaran berdasarkan fakta
Mengetahui program/sektor lain yang terlibat dalam pengendalian malaria

Kementerian Kesehatan RI

198

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

IV. Kerangka Pikir


Malaria
Adalah penyakit menular yang disebabkan oleh berbagai jenis parasit malaria :
Plasmodium vivax, P. malariae, P. falciparum dan P. ovale; parasit golongan
sporozoa.
Reservoir
Hanya manusia menjadi reservoir terpenting untuk malaria. Primata secara alamiah
terinfeksi berbagai jenis malaria termasuk P. knowlesi, P. brazilianum, P. inui, P.
schwetzi dan P. simium yang dapat menginfeksi manusia di laboratorium percobaan,
akan tetapi jarang terjadi penularan/transmisi secara alamiah.
Masa inkubasi
Waktu antara gigitan nyamuk dan munculnya gejala klinis sekitar 7-14 hari untuk P.
falciparum, 8-14 hari untukP. Vivax dan P. ovale, dan 7-30 hari untuk P. malariae.
Masa inkubasi ini dapat memanjang antara 8-10 bulan terutama pada beberapa
strain P. vivax di daerah tropis
Masa Penularan
Nyamuk dapat terinfeksi apabila dalam darah penderita malaria, yang dihisap oleh
nyamuk terdapat gametosit. Keadaan ini bervariasi tergantung pada spesies dan
strain dari parasit serta respons seseorang terhadap pengobatan. Pada penderita
malaria dengan Plasmodium malariae yang tidak diobati atau tidak diobati dengan
benar dapat menjadi sumber penularan selama 3 tahun. Sedangkan untuk vivax
berlangsung selama 1-2 tahun dan untuk malaria falciparum umumnya tidak lebih
dari satu tahun.
Penularan
Melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang infektif. Sebagian besar spesies
menggigit pada senja hari dan menjelang malam.
Perkembangan Parasit Dalam Tubuh Nyamuk
Setelah nyamuk Anopheles betina menghisap darah yang mengandung parasit pada
stadium seksual (gametosit), gamet jantan (mikrogametosit) dan betina
(makrogametosit) bersatu membentuk ookinet di perut nyamuk yang kemudian
menembus dinding perut nyamuk dan membentuk kista (oocyst) yang berada pada
lapisan luar, yang nantinya akan memproduksi ribuan sporosoit. Ini membutuhkan
waktu 8-35 hari tergantung pada jenis parasit dan suhu lingkungan tempat dimana
vektor berada. Sporosoit-sporosoit yang telah diproduksi tersebut berpindah ke
seluruh organ tubuh nyamuk dan beberapa sporozoit mencapai kelenjar ludah
nyamuk, menjadi matang dan apabila nyamuk menggigit orang tersebut, maka
sporosoit siap ditularkan.

Kementerian Kesehatan RI

199

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Perkembangan Parasit Dalam Tubuh Manusia


Dalam tubuh manusia, sporozoit yang berasal dari nyamuk saat menghisap darah
manusia, akan memasuki sel-sel hati dan membentuk stadium yang disebut skison
eksoeritrositer.
Sel-sel hati akan pecah dan parasit aseksual (skison) memasuki aliran darah,
berkembang dalam sel darah (eritrosit) dari bentuk tropzoit immature menjadi
tropozoit matur (siklus eritrositik). Sel darah merah kemudian pecah, dan skison akan
menyerang sel darah merah yang lain. Umumnya perubahan dari troposoit menjadi
skison yang matang dalam darah memerlukan waktu 48-72 jam, sebelum
melepaskan 8-30 merosoit eritrositik (tergantung spesies) untuk menyerang eritrositeritrosit lain.
Gejala klinis terjadi pada tiap siklus karena pecahnya sebagian besar skison-skison
eritrositik. Didalam eritrosit-eritrosit yang terinfeksi, beberapa merosoit berkembang
menjadi bentuk seksual yaitu gamet jantan (mikrogametosit) dan gamet betina
(makrogametosit).
Siklus Hidup Parasit Malaria

Peri
ode antara gigitan nyamuk yang terinfeksi dengan ditemukannya parasit dalam
sediaan darah tebal disebut periode prepaten yang biasanya berlangsung antara 612 hari pada P. falciparum, 8-12 hari pada P. vivax dan P. ovale, 12-16 hari pada P.
malariae (mungkin lebih singkat atau lebih lama).
Gametosit biasanya muncul dalam aliran darah dalam waktu 3 hari setelah
parasitemia pada P. vivax dan P. ovale, dan setelah 10-14 hari pada P. falciparum.

Kementerian Kesehatan RI

200

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Beberapa bentuk eksoeritrositik pada P. vivax dan P. ovale mengalami bentuk tidak
aktif (hipnosoit) yang tinggal dalam sel-sel hati dan menjadi matang dalam waktu
beberapa bulan atau beberapa tahun yang menimbulkan relaps. Fenomena ini tidak
terjadi pada malaria falciparum dan malaria malariae,
Kondisi yang berpengaruh terhadap penularan malaria
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Distribusi penderita malaria menurut waktu, tempat dan orang


Distribusi penderita menurut jenis parasit malaria
Tempat perkembangbiakan nyamuk
Kebiasan nyamuk (waktu dan tempat) menggigit orang,
Kebiasaan nyamuk (waktu dan tempat) istirahat,
Perilaku penduduk sehari-hari berada pada lokasi digigit nyamuk
Kondisi rumah, tempat tinggal, tempat bekerja penduduk yang potensi digigit
nyamuk

Faktor Risiko Penularan Malaria


Jenis
Parasit

distribusi
ks Malaria
Jenis nyamuk

Tempat berkembangbiak nyamuk

Nyamuk

Tertular
Malaria

Kebiasaan waktu dan


tempat menggigit
Kondisi tempat
tinggal penduduk
Kebiasaan orang berada
pada lokasi digigit nyamuk

Curah
hujan

Malaria, reservoir, masa inkubasi, penularan dapat dipelajari pada dalam tatalaksana
malaria

Kementerian Kesehatan RI

201

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

V. Pelaksanaan Survei
Entomologi, epidemiologi, dokter yang menguasai program pengendalian malaria
dan pengelola program setempat (Puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota)
A. Persiapan
1. Menentukan
gambaran
epidemiologi
kasus
malaria
menurut
Puskesmas/Kecamatan :
a. Peta stratifikasi Puskesmas/Kecamatan dalam satu Kab/Kota
b. Tabel prevalensi rate malaria menurut golongan umur dan jenis kelamin
c. Kurva mingguan atau bulanan kasus malaria suspek dan konfirmasi,
terutama pada Puskesmas/kecamatan dengan strattifikasi tinggi,
sehingga dapat diukur kinerja program dan kecenderungan malaria
Berdasarkan
data
dan
informasi
diatas
dapat
ditentukan
Puskesmas/Kecamatan dengan masalah malaria dan memerlukan Survei
Dinamika Penularan
2. Pada Puskesmas/Kecamatan terpilih
a. Peta stratifikasi desa
b. Tabel prevalensi rate menurut golongan umur, jenis kelamin, dll
c. Buat kurva mingguan atau bulanan kasus malaria konfirmasi
d. Curah hujan (Kabupaten/Kota)
Berdasarkan informasi tersebut dapat ditentukan desa sasaran Survei
Dinamika Penularan. Kriteria desa yang akan disurvei : :
a. Menggambarkan keadaan yang sama (representative) dengan daerah
sekitarnya (optional)
b. Dimungkinkan kerjasama dengan perangkat desa, kader dan
masyarakat
c. Survei dilaksanakan pada puncak penularan malaria (berdasarkan
kurva mingguan atau kurva bulanan)
3. Persiapan survei integrasi
Menentukan jenis survei, metode, jadwal serta persiapan pelaksanaan di
lapangan, yang pada dasarnya adalah melakukan survei untuk mengukur
besarnya masing-masing faktor risiko penularan malaria
Jenis survei sesuai dengan kebutuhan analisis dinamika penularan masingmasing wilayah yang ditetapkan oleh tim survei
a. Data umum
Data demografi
Data fasilitas umum
Data rumah menurut jenis rumah
Transportasi, perdagangan, sekolah dan perpindahan penduduk lain

Kementerian Kesehatan RI

202

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

b. Peta wilayah Survei Dinamika Penularan


Peta wilayah dengan gambaran ketinggian, perbukitan, jalan, sungai, parit,
kolam, danau, pantai, kebun, sawah, semak, semua rumah, fasilitas
pelayanan kesehatan, fasilitas umum lainnya (sekolah, pasar, masjid,
tempat pertemuan).
Kondisi lokasi ini diharapkan dapat menuntun pada tempat-tempat
berkembangbiaknya nyamuk, tempat-tempat penularan, dan pencarian
pertolongan
Letak rumah diberi kode, sehingga letak kasus sesuai dengan tempat
tinggalnya dapat diketahui dengan tepat.
c. Distribusi kasus malaria
Bersumber pada data harian malaria fasilitas pelayanan kesehatan (PCD)
Berdasarkan data ini dapat ditentukan :
(1) Grafik mingguan/bulanan perkembangan kasus malaria 3-5 tahun
terakhir sesuai dengan jenis parasit
(2) Grafik kecenderungan malaria menurut % jenis parasit
(3) Grafik kecenderungan malaria menurut % umur
(4) Jumlah dan prevalens rate malaria menurut desa, umur dan jenis
kelamin selama 3-5 tahun terakhir
(5) Jumlah dan prevalens rate malaria menurut kondisi yang dicurigai
berhubungan dengan faktor risiko malaria
(6) Peta sebaran malaria (spot map) atau area map 3-5 tahun terakhir
berdasarkan kasus malaria konfirmasi, jenis parasit, kasus meninggal
d. Mendirikan pos-pos pelayanan kesehatan statis selama periode waktu
tertentu atau pos-pos pelayanan kesehatan keliling berkala
Maksud mendirikan pos adalah memberikan pelayanan kepada
masyarakat agar dapat berobat, terutama jika menderita sakit demam atau
malaria
Berdasarkan kegiatan ini juga akan diperoleh data harian malaria di pospos kesehatan, sehingga diperoleh informasi sama dengan data distribusi
kasus malaria selama periode pelayanan
e. Pengamatan vektor penular malaria
Dapat diketahui kurva kepadatan nyamuk (pola musiman) secara umum
berdasarkan pada pengamatan kepadatan vektor di beberapa titik
pengamatan selama 3-5 tahun terakhir (setidak-tidaknya data Puskesmas)
f. Active Case Detection
Menempatkan petugas khusus untuk menemukan penderita demam
(suspek malaria) berdasarkan kunjungan rumah secara berkala dan
laporan masyarakat. Setiap kasus demam dilakukan pemeriksaan RDT
dan pengujian mikroskopis serta pengobatan standar.
Adanya kegiatan ACD yang dilaksanakan dalam periode waktu tertentu,
misalnya selama 3 bulan, akan diperoleh data penderita demam, dan
Kementerian Kesehatan RI

203

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

konfirmasi malaria, sehingga dapat menjadi sumber data survei dinamika


penularan. Bentuk analisisnya sama dengan Survei Demam Massal
g. Survei Demam Massal
Survei ini lebih tepat sebagai upaya pencarian penderita malaria di tengahtengah masyarakat, tetapi bisa juga dimanfaatkan sebagai upaya
mengidentifikasi gambaran distribusi malaria berdasarkan data masyarakat
(data berbasis masyarakat).
Survei diharapkan dapat mengidentifikasi :
(1) Jumlah dan prevalens rate kasus malaria konfirmasi (positif) malaria
menurut jenis kelamin, umur, pekerjaan, dan faktor risiko penularan
lainnya yang dicurigai
(2) Case fatality rate dan mortality rate menurut umur, jenis kelamin dan
faktor risiko lainnya yang dicurigai
(3) Peta sebaran kasus malaria konfirmasi malaria (spot map tempat
tinggal) atau area map berdasarkan kasus malaria konfirmasi, jenis
parasit, kasus meninggal
Kasus konfirmasi malaria mendapat pengobatan standar
Survei Demam Massal sebaiknya sekaligus dengan survei KAP
menggunakan daftar pertanyaan, bukan fokus group discussion dan
wawancara mendalam
Metode dapat dipelajari pada lampiran Survei Demam Massal. Sasaran
survei bisa survei total penduduk atau survei sampel sesuai metode
sampling.
h. Survei Darah Massal
Survei ini lebih tepat sebagai upaya pencarian penduduk positif malaria di
tengah-tengah masyarakat, tetapi bisa juga dimanfaatkan sebagai upaya
mengidentifikasi gambaran distribusi malaria berdasarkan data masyarakat
(data berbasis masyarakat).
Survei diharapkan dapat mengidentifikasi :
(1) Jumlah dan prevalens rate penduduk positif malaria menurut jenis
kelamin, umur, pekerjaan, dan faktor risiko penularan lainnya yang
dicurigai
(2) Jumlah dan prosentase kasus malaria terhadap total penduduk positif
malaria
(3) Case fatality rate dan mortality rate menurut umur, jenis kelamin dan
faktor risiko lainnya yang dicurigai
(4) Peta sebaran penduduk positip malaria (spot map tempat tinggal) atau
area map berdasarkan kasus malaria konfirmasi, jenis parasit, kasus
meninggal
Penduduk positip malaria mendapat pengobatan standar
Survei Darah Massal sebaiknya sekaligus dengan survei KAP
menggunakan daftar pertanyaan, bukan focus group discussion dan
wawancara mendalam

Kementerian Kesehatan RI

204

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Metode dapat dipelajari pada lampiran Survei Darah Massal. Survei dapat
survei total penduduk atau survei sampel sesuai metode sampling
i.

Survei vektor penular malaria


Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pengamatan vektor (sering disebut
sebagai survei vektor longitudinal), tetapi survei vektor lebih fokus pada
satu periode waktu survei saja, sehingga lebih teliti dalam mengidentifikasi
gambaran keberadaan vektor di wilayah tersebut.
Survei diharapkan dapat mengidentifikasi :
(1) Tempat berkembang biak nyamuk
(2) Jenis nyamuk
(3) Kepadatan nyamuk malam hari di dalam dan di luar rumah serta
tempat-tempat berisiko penularan (lihat hasil survei perilaku
penduduk)
(4) Kebiasaan nyamuk istirahat di dalam dan di luar rumah
(5) Kebiasaan nyamuk menggigit di dalam dan di luar rumah

j.

Kajian perilaku penduduk (KAP)


Kajian ini diharapkan dapat mengidentifikasi :
(1) KAP malaria
(2) KAP berisiko penularan malaria
(3) KAP tatalaksana penderita dan pencarian pertolongan

k. Kajian pelayanan kesehatan


Kajian ini diharapkan dapat mengidentifikasi :
(1) Jenis dan frekuensi pelayanan kesehatan umum bagi penduduk
wilayah Survei Dinamika Penularan
(2) Jenis dan frekuensi pelayanan kesehatan khusus terkait dengan
tatalaksana kasus malaria, termasuk kemampuan penegakan
diagnosis, obat, tenaga medis, rujukan dan pencatatan dan pelaporan
l.

Kajian program pengendalian malaria


Kajian ini diharapkan dapat mengidentifikasi :
(1) Kegiatan program pengendalian malaria yang dilaksanakan dalam 3-5
tahun terakhir di daerah Survei Dinamika Penularan, antara lain :
distribusi kelambu, penyemprotan rumah, ACD, MFS, MBS, larvasidasi
dan pengendalian lingkungan lainnya, termasuk kegiatan penyuluhan
terkait
(2) Dampak program terhadap kejadian malaria

m. Penyelidikan KLB malaria


Mereview hasil penyelidikan dan penanggulangan KLB malaria yang
pernah terjadi di daerah survei atau sekitarnya
Jika pada saat Survei Dinamika Penularan Malaria terjadi KLB malaria,
maka dapat dilakukan penyelidikan KLB malaria

Kementerian Kesehatan RI

205

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

B. Pelaksanaan Lapangan
a. Koordinasi internal tim Survei Dinamika Penularan yangkemungkinan terdiri
dari beberapa tim dengan jadwal masing-masing.
b. Koordinasikan jadwal kegiatan Survei Dinamika Penularan Malaria dengan
kader dan pelaksana lapangan, pastikan kesiapan masyarakat
c. Lakukan monitoring dan evaluasi setiap hari dan minggu, agar proses
pelaksanaan survei sesuai jadwal

C. Pembahasan Survei Dinamika Penularan


a. Menetapkan besar masalah malaria berdasarkan kajian epidemiologi (waktu,
tempat dan orang), jenis parasit dan tatalaksana penderita.
b. Menentapkan peta entomologi dan identifikasi waktu, tempat dan kondisi yang
dicurigai terjadinya penularan
c. Menetapkan hubungan (deskriptif) distribusi kasus malaria menurut waktu,
tempat dan orang terhadap peta entomologi dan identifikasi waktu, tempat
dan kondisi yang dicurigai terjadinya penularan (sumber dan cara penularan)
d. Menentukan strategi penanggulangan yang tepat sesuai temuan sumber dan
cara penularan
e. Melakukan pembahasan (seminar) bersama pengelola program, kader, tokoh,
camat, lurah, guru, dan masyarakat di lokasi Survei Dinamika Penularan untuk
mendapatkan kesamaan pemahaman, tambahan informasi dan masukan
pengendalian malaria
D. Kesimpulan
a. Besar masalah malaria di wilayah Survei Dinamika Penularan Malaria
b. Faktor-faktor utama yang berpengaruh terhadap kejadian penularan malaria
c. Rekomendasi pengendalian malaria di wilayah Survei Dinamika Penularan
dan sekitarnya
E. Laporan
----

Kepustakaan
1. Adhi S. Dokumen bahan-bahan Pelatihan Survei Dinamika Penularan (tidak
dipublikasi)
2. ICDC. Final Report of Supprt for Expansion and Strengthening of Micreoscopy
and Entomology (training, workshop and supervision) on Malaria Transmision
Dynamic Survey. Subdirectorate of Malaria, Directorate VBDC, DG CDC & EH,
MOH. RI, 2006
3. Lukman Hakim, Sukmono, dkk. Dinamika Penularan malaria di desa Tafanutu
Kecamatan Moti Kota Ternate Tahun 2004. Laporan Proyek, Jakarta, 2004
4. David L, Heymann. Control of Communicable Diseases Manual. 19th Ed.
American Public Association. Washington, 2008
Kementerian Kesehatan RI

206

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Lampiran 10. Formulir Perekaman, Pencatatan dan Pelaporan Surveilans Rutin


Malaria
Lampiran 10.1 Kartu Penderita Malaria ...........................................208
Lampiran 10.2 Formulir Autopsi Verbal ...........................................212
Lampiran 10.3 Formulir Register Harian Malaria di Puskesmas......214
Lampiran 10.4 Formulir Rekapitulasi Penderita Malaria Puskesmas Bulanan...... 215
Lampiran 10.5 Formulir Rekapitulasi Data Program Puskesmas Bulanan ........... 217
Lampiran 10.5 Formulir Rekapitulasi Penderita Malaria RS/Fasyankes Bulanan. 218
Lampiran 10.6 Formulir Rekapitulasi Penderita Malaria Kab/Kota Bulanan ......... 220
Lampiran 10.7. Formulir Pengamatan Kepadatan Vektor................222
Formulir Monitoring Kelengkapan Laporan dan Publikasi Bulanan Malaria di
Kab/Kota ...................................................................................224
Formulir Monitoring Kelengkapan Laporan dan Publikasi Bulanan Malaria di
Provinsi .....................................................................................225
Formulir Monitoring Kelengkapan Laporan dan Publikasi Bulanan Malaria di
Pusat (Nasional) .......................................................................226
Laporan Cohort Ibu Program Kesehatan Ibu Hamil.........................227
Laporan Rekapitulasi Bayi Puskesmas Program Imunisasi.............228
Formulir Logistik Obat Malaria.........................................................229
ALur Pelaporan................................................................................236

Kementerian Kesehatan RI

207

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Lampiran 10.1 Kartu Penderita Malaria


KARTU PENDERITA MALARIA
Tahap pengendalian malaria *) : Pemberantasan/Preeliminasi/Eliminasi/Pemeliharaan
Nomor Register

**)

: .........................................................

Tanggal

: .

1. Puskesmas/Pustu/Poskesdes/RS/Lab *)

2. Kecamatan

3. Kabupaten/Kota

4. Provinsi

5. Nama Penderita

6. Umur

: ..... tahun ..... bulan

7. Jenis Kelamin *)

: laki-laki/perempuan

Jika penderita perempuan

*)

Jika hamil, usia kehamilan

8. Alamat lengkap
Desa/kelurahan
Dusun/RW-RT

: hamil/tidak hamil
: .. minggu

:
*)

*)

:
:

9. Titik koordinat rumah penderita ***)


Lintang derajat

Bujur derajat

*)

Lingkari yang dipilih


Diisi dengan kode puskesmas - tahun - bulan - nomor urut (contoh : P190113010-12012-02-001)
Kode Puskesmas sesuai dengan kode yang ditetapkan Kementerian Kesehatan
***)
Koordinat rumah penderita dan tempat penularan serta tempat perkembangbiakan wajib diisi pada daerah
yang berada pada tahap eliminasi dan pemeliharaan.
**)

Kementerian Kesehatan RI

208

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

10. Pekerjaan penderita *)

Nelayan

Buruh tambang

Ibu rumah tangga

Pegawai

TNI

POLRI

Berkebun

Perambah hutan

Petani

Petambak

Pedagang
11. Pemeriksa *)

dokter

bidan

12. Gejala *)
(bisa lebih dari satu)

demam

menggigil

berkeringat

diare

Sakit kepala

Nyeri sendi

mual

muntah

Tidak nafsu makan

13.

perawat

Tanggal mulai timbul gejala **) : ...

14. Riwayat bepergian dan bermalam di daerah endemis : Ya/Tidak


malaria dalam 1 bulan terakhir sebelum sakit ? **) ***)

Bila ya, sebutkan nama wilayah dan tanggal berkunjung


No

Desa

Kecamatan

Kabupten/kota

Tanggal Berkunjung

15. Riwayat pernah menderita penyakit malaria sebelumnya : Ya/Tidak


Bila Ya, sebutkan waktunya (Tgl-Bulan-Tahun)

16. Obat malaria yang pernah diterima

: ....

17. Pemeriksaan Laboratorium


a. Tanggal pemeriksaan

b. Metode Pemeriksaan

c. Hasil

RDT
pos

neg

Mikroskopis
pos

neg

PCR
pos

neg

in

imp

*)

beri tanda centang () pada kotak yang dipilih


diisi tahap pengendalian eliminasi dan pemeliharaan
***)
lingkari yang dipilih
**)

Kementerian Kesehatan RI

209

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

d.Kepadatan parasit

e. Jenis parasit

Pf

Pv

Pm

Lain : ....
18. Pengobatan

ACT

(ACT:DHP, AAQ,)

Po

Mix : ....
Primaquine

Kina

Lain (sebutkan) : ....

19. Keadaan malaria

tanpa komplikasi

dengan komplikasi

20. Follow Up Pengobatan


Hari 4 :

pos

neg

kepadatan parasit :

Hari 14 :

pos

neg

kepadatan parasit :

Hari 28 :

pos

neg

kepadatan parasit :

3 bulan :

pos

neg

Kepadatan :

21. Efek samping obat

22. Rujukan penderita

a. Dirujuk dari

b. Dirujuk ke

mual

lemas

Pusing

muntah

pingsan

Kejang

Sakit kepala

Primaquine

Kina

Pustu

Primaquine

Kina

Poskesdes

Polindes/bidan

Klinik praktek swasta

Kader/posmaldes

Rumah Sakit

Puskesmas lain

23. Hasil Akhir Pengobatan


Kondisi akhir
pengobatan
(diisi saat follow up terakhir
merujuk pertanyaan no.
19)

Sembuh
Gagal, karena :

faktor

kepatuhan

Meninggal
Follow up tidak lengkap

Kementerian Kesehatan RI

210

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

24. Kasifikasi asal penderita

indigenous

impor

tidak diketahui

(diisi pada daerah pengendalian eliminasi dan pemeliharaan)


25. Asal kegiatan penemuan penderita

Kementerian Kesehatan RI

PCD

ACD

MBS

MFS

Survei
kontak

Kina

kader

Follow up

PE KLB

211

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Lampiran 10.2 Formulir Autopsi Verbal


FORMULIR AUTOPSI VERBAL
A.

RESPONDEN
1.

Nama

: ....

2.

Alamat

: ....

3.

Umur

: ...

4.

Hubungan dengan penderita

: 1. Ayah
2. Ibu
3. Paman

4. Bibi
5. Lain-lain : ....

B. KEADAAN PENDERITA SAAT SAKIT


1.

Nama penderita meninggal

: ....

2.

Jenis kelamin

: 1. laki-laki
2. perempuan

3.

Tanggal lahir (tg/bl/th)

4.

Tanggal meningggal (tg/bl/th)

5.

Dimana tempat meninggal

: 1. Fasilitas kesehatan
Sebutkan nama, alamat : .....
2. Di rumah
3. Dalam perjalanan
4. Lain, sebutkan : .....

6.

Pekerjaan

B. KEADAAN PENDERITA SAAT SAKIT


1.

Gejala awal dan utama saat sakit


(demam, menggigil, sakit kepala,
muntah, dll)

: .....

2.

Lama menderita sakit

: ...... hari

3.

Gejala berat selama sakit

: 1. Kejang, lama : ......


2. Kencing berwarna hitam, lama : .....
3. Muntah-muntah, lama : ......

4.

Apakah dilakukan pemeriksaan


sediaan darah ?

: 1. Ya, Nama tempat : ......


Cara pemeriksaan : 1. Mikroskopis
2. Lab.
2. Tidak

Kementerian Kesehatan RI

212

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

5.

Apakah nama tempat pelayanan


(Puskesmas, RS, BP)

.....

6.

Apakah mendapat pengobatan

1. Ya, nama obat :


2. Tidak

7.

Dari mana penderita mendpat


obat ?

1. Apotik
2. Puskesmas
3. RS
4. Lain-lain, sebutkan : ........

C. KEADAAN DI SEKITAR PENDERITA


1.

Apakah ada penderita dengan


gejala yang sama tinggal
berdekatan dengan penderita ?

1. Ya, a. Serumah
b. Tetangga
2. Tidak

c. Satu desa
d. Lain

2.

Apakah penderita baru pulang


dari melancong ?

1. Ya, nama lokasi : .....................


Lama perjalanan : ...... hari
2. Tidak

3.

Apakah sebelumnya, penderita


pernah menderita penyakit
dengan gejala yang sama ?

1. Ya, kapan : .......


Apakah minum obat ?
1. Ya, nama obat : .................
2. Tidak
2. Tidak

D. RESUME RIWAYAT SAKIT


1. Gejala utama
2. Komplikasi/gejala berat
3. Penyebab kematian (dokter)
a. Penyakit penyebab kematian
langsung
b. Penyakit perantara
c. Penyakit penyebab utama
kematian
d. Penyakit yan berkontribusi
terhadap kematian, tetapi tidak
berhubungan dengan a, b dan c

Pelaksana Auto Verbal


....................................

Kementerian Kesehatan RI

213

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Lampiran 10.3 Formulir Register Harian Malaria di


Puskesmas

Kementerian Kesehatan RI

214

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Lampiran 10.4 Formulir Rekapitulasi Penderita Malaria


Puskesmas Bulanan
(Lp_rekapPu)

Kementerian Kesehatan RI

215

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Kementerian Kesehatan RI

216

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Lampiran 10.5 Formulir Rekapitulasi Data Program


Puskesmas Bulanan
(Lp_rekapPu)

Kementerian Kesehatan RI

217

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Lampiran 10.5 Formulir Rekapitulasi Penderita Malaria


RS/Fasyankes Bulanan
(Lp_rekapRS)

Kementerian Kesehatan RI

218

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Kementerian Kesehatan RI

219

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Lampiran 10.6 Formulir Rekapitulasi Penderita Malaria


Kab/Kota Bulanan
Lp_rekapKa

Kementerian Kesehatan RI

220

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Kementerian Kesehatan RI

221

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Lampiran 10.7. Formulir Pengamatan Kepadatan Vektor

Kementerian Kesehatan RI

222

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Kementerian Kesehatan RI

223

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Lampiran 3d

Formulir Monitoring Kelengkapan Laporan dan Publikasi


Bulanan Malaria di Kab/Kota
Lp_kelengkapan

Kementerian Kesehatan RI

224

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Lampiran 3e

Formulir Monitoring Kelengkapan Laporan dan Publikasi


Bulanan Malaria di Provinsi
Lp_kelengkapan

Kementerian Kesehatan RI

225

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Lampiran 3f

Formulir Monitoring Kelengkapan Laporan dan Publikasi


Bulanan Malaria di Pusat (Nasional)
Lp_kelengkapan

Kementerian Kesehatan RI

226

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Lampiran 4

Laporan Cohort Ibu Program Kesehatan Ibu Hamil

Kementerian Kesehatan RI

227

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Lampiran 5

Laporan Rekapitulasi Bayi Puskesmas Program Imunisasi

Kementerian Kesehatan RI

228

Pedoman Penyelenggaraan Surveilans dan Sistem Informasi Malaria

Lampiran 5a

Formulir Logistik Obat Malaria

Kementerian Kesehatan RI

229

Formulir Logistik Obat Malaria

Lampiran : Pemeriksaan Darah Massal

230

Formulir Logistik Obat Malaria

Lampiran : Pemeriksaan Darah Massal

231

Formulir Logistik Obat Malaria

Lampiran : Pemeriksaan Darah Massal

232

Formulir Logistik Obat Malaria

Lampiran : Pemeriksaan Darah Massal

233

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Formulir Logistik Obat Malaria

Kementerian Kesehatan RI

234

Formulir Logistik Obat Malaria

Lampiran : Pemeriksaan Darah Massal

235

Daerah Pemberantasan dan Daerah Eliminasi Malaria

Lampiran

ALur Pelaporan
Gambar
Alur Pelaporan Data Penderita Malaria
Ditjen PP&PL,
Kementerian Kesehatan
Dinas Kesehatan
Provinsi

Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota

Rumah Sakit

Kementerian Kesehatan RI

Puskesmas

Fasilitas
Pelayanan
Kesehatan
lain

236