Anda di halaman 1dari 4

LEMBAGA SOSIAL/KEMASYARAKATAN

A. Pengertian Lembaga Sosial


Horton : Lembaga Sosial adalah suatu sistem hubungan-hubungan sosial yang
terorganisasi, meliputi nilai-nilai dan tatacara yang dihayati bersama dalam rangka
memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat.
Fitcher : Lembaga Sosial adalah suatu struktur pola-pola hubungan sosial dan perananperanan yang relatif mantap dimana orang-orang mengenakan sanksi-sanksi dan cara-cara
tertentu untuk tujuan memuaskan kebutuhan-kebutuhan pokok mereka.
Landis : LS adalah strukur kebudayaan formal yang dibina untuk memenuhi kebutuhankebutuhan sosial yangg pokok.
Kontjaraningrat : Pranata Sosial adalah sistem tata keluhan dan hubungan yang berpusat
pada serangkaian aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan
khusus dalam kehidupan masyarakat.
Soerjono Soekanto : Lembaga kemasyarakatan merupakan himpunan dari norma-norma
dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan
masyarakat.
Tekanannya pada kebutuhan pokok manusia dan sistem perilaku yang terorganisasi.
Tekanan pada hal tersebut menunjukkan ciri yang membedakannya dari konsepsi-konsepsi
lain seperti grup dn organisasi.
Alvin L Bertrand : Lembaga Sosial adalah tata abstraksi yang lebih tinggi dari grup,
organisasi, maupun sistem-sisteem sosial yang lain.
Ada yang berpendapat wujud konkrit dari lembaga sosial adalah asosiasi. Jika Universitas
adalah lembaga sosial maka UNS, UNDIP, adalah contoh asosiasi.
Ada dua golongan pendapat dalam memahami lembaga sosial dan asosiasi :
1. Yang memandang baik lembaga maupun asosiasi sebagai bentuk-bentuk organisasi
sosial yakni sebagai kelompok-kelompok, hanya bersifat lebih universal dan penting,
sedangkan asosiasi bersifat kurangg penting dan bertujuan lebih spesifik. Misal: negara
dan keluarga adalah lembaga sedangkan perkumpulan sepakbola dan sarekat buruh
adalah asosiasi.
2. Yang memandang lembaga sebagai kompleks peraturan dan peranan-peranan sosial
secara abstrak dan memandang asosiasi-asosiasi sebagai bentuk-bentuk organisasi
secara konkrit.
J.B. Chitambar, menunjukkan ciri utama lembaga sosial, yaitu:
1. Lembaga sosial adalah seperangkat pola-pola perilaku yang diterima dalam pola ajar, termasuk
peranan-peranan dan tatacara (prosedur) yang diwajibkan. LS punya struktur masing-masing
dan berfungsi sebagai satuan-satuan yang dapat dibedakan satu sama lain meskipun tidak
jelas. Tiap Lembaga Sosial sarat engan nilai-nilai, peranan-peranan tertentu, aturan-aturan
tertulis, tetapi umumnya tidak disadari, nyata memberi dorongan sosial pada warga
masyarakat.

2. Pola perilaku itu berpusat pada kebutuhan manusia dan karena terorganisasi bisa
mengarahkan perilaku orang di dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
3. Pola-pola perilaku itu telah berlangsung cukup lama dan secara menyeluruh dapat dipandang
relatif mantap.
B. PROSES PERTUMBUHAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN
1. Norma-norma masyarakat
Berdasar kekuatan mengikat dan tekanannya, norma dibagi menjadi:
a. cara (usage) : menunjuk pada suatu bentuk perbuatan, mis: cara minum.
b. kebiasaan (folkways) : perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama, mis:
kebiasaan memberi hormat pada yang lebih tua.
c. tata kelakuan (mores) : sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia yang dilaksanakan
sebagai alat pengawas, secara sadar ataupun tidak, oleh masyarakat terhadap
anggota2nya. Di satu sisi memaksa masyarakat melakukan perbuatan disisi lain
melarang.
d. adat-istiadat (custom) : tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya dengan polapola masyarakat. Yang melanggar akan mendapat sanksi yang keras. Mis: Larangan
perceraian di Lampung.
Norma-norma

-->

proses

pelembagaan

(institutionalization)

-->

bagian

lembaga

kemasyarakatan --> internalized (mendarah daging).


Suatu norma dikatakan sudah melembaga, jika :
1. diketahui
2. dipahami atau dimengerti
3. ditaati
4. dihargai
Contoh: norma antara pasien dengan dokter.
2. Sistem pengendalian sosial
Arti sempit : Pengawasan yang dilakukan masyarakat terhadap jalannya pemerintahan.
Dalam arti luas: pengawasan atau segala proses yang dilakukan secara terencana atau tidak,
yang bersifat mendidik, mengajak atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi
kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku, dilakukan individu kepada kelompok, kelompok pada
kelompok, atau kelompok terhadap individu.
Dari Sifatnya dibedakan menjadi:
a. preventif : pencegahan terhadap terjadinya gangguan-gangguan pada keserasian antara
kepastian dengan keadilan. Biasanya melalui sosialisasi, pendidikan formal/informal.
b. Represif : mengembalikan keserasian yang pernah mengalami gangguan. Biasanya berwujud
penjatuhan sanksi terhadap warga yang melanggar kaidah yg berlaku.

Proses Pengadilan sosial :


1. Persuasive: cara-cara tanpa kekerasan
2. coersif : dengan paksaan
3. compulsion : menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga seseorang terpaksa taat
atau mengubah sikapnya yang menghasilkan kepatuhan tidak langsung.
4. pervasion: norma atau nilai yang ada diulang-ulang penyampaiannya, sampai masuk dalam
aspek bawah sadar seseorang.
Wujud Pengendalian Sosial :
1. Pemidanaan, Suatu larangan apabila dilanggar akan mengakibatkan penderitaan (sanksi
negatif) bagi pelanggarnya.
2. kompensasi, berpatokan pada kewajiban, dimana inisiatif untuk memprosesnya ada pada
pihak yang dirugikan.
3. terapi dan konsiliasi : bersifat remidial, mengembalikan situasi pada keadaan semula
sebelum terjadi perkara atau sengketa.
C. TIPE-TIPE LEMBAGA KEMASYARAKATAN
1. dari sudut perkembangannya dibedakan menjadi crescive institutions / lembaga primer,
yakni lembaga2 yg scr tak sengaja tumbuh dr adat istiadat masyarakat. Cth: hak miik,
perkawinan, agama dst. Dan enacted instiutions: sengaja dibentuk utk memenuhi tujuan
tertentu, mis:lembaga utang piutang, perdagangan, pendidikan.
2. Dari sudut sistem nilai yang diterima masyarakat, dibagi menjadi Basic instiutions yakni
lembaga kemasyarakatan yang penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib
dlm masyarakat, mis: keluarga, sekolah, negara dsb. Dan Subsidiary Instiutions yakni
lembaga kemasyarakatan yang dianggap kurang penting, mis: kegiatan rekreasi.
3. Dari sudut penerimaan masyarakat, dibedakan menjadi approved atau social sanctionedinstitutions, yakni lembaga yang diterima oleh masyarakat seperti sekolah, perusahaan
dagang, dsb. Dengan unsanctioned-institutions yakni lembaga yang ditolak masyarakat,
mis:kelompok penjahat, pemeras, pencoleng.
4. Dari sudut penyebarannya: general dan restricted instiutions. GI adalah lembaga yang
dikenal hampir semua masyarakat dunia misalnya agama, sedang RI adalah lembaga yang
dianut masyarakat tertentu di dunia ini, mis: islam, kristen, khatolik, dsb.
5. Dari sudut Fungsinya : Operative Institutions dan regulative institutions. OI adlh lembaga
yang menghimpun pola-pola atau tata cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan
lembaga yg bersangkutan, mis:lembaga industrialisasi. RI bertujuan utk mengawasi adatistiadat atau tata kelakuan yang tidak menjadi bagian mutlak lembaga itu sendiri, mis:
kejaksaan, pengadilan, dsb.
D. Conformity dan Deviation
Conformity adl proses penyesuaian diri dengan masyarakat dengan cara mengindahkan
kaidh dan nilai-nilai masyarakat. Deviation adl penyimpangan terhadap kaidah dan nilai-nilai
dalam masyarakat.