Anda di halaman 1dari 5

RESENSI BUKU

Judul Buku

: Prophetic Medicine (Rahasia Kesehatan Nabi)

Pengarang

: Ibn Qoyyim al-Jauziyyah

Alih Bahasa

: Ahmad Asnawi

Penerbit

: DIGLOSSIA, Yogyakarta

Cetakan

: Pertama, 2006.

Tebal

: 450 halaman

Hidup Sehat Alami Dengan Cara Nabi

Islam adalah agama yang memiliki kitab suci, yaitu Al-Qur'an. Umat Islam
meyakini bahwa Al-Qur'an adalah wahyu allah kepada Nabi Muhammad saw untuk
membimbing umat manusia. Karena bersumber dari Allah, Al-Qur'an memiliki
otoritas tertinggi. Ia memuat seluruh kebenaran yang mengatur seluruh aspek hidup
manusia.
Karena itu, teladan Nabi (Sunnah) selama berabad-abad telah menjadi
panduan bagi kehidupan sehari-hari dan benteng bagi umat terhadap kebudayaan di
luar Islam.
Nabi saw bukan hanya pendiri dan pengatur masyarakat. Beliau adalah model
bagi umat Islam. Sudah menjadi aksioma dalam agama bahwa setiap tindakan Beliau
sejak turunnya wahyu pertama dijaga oleh Allah dari kesalahan. Jika tidak demikian,
maka wahyu itu sendiri akan diragukan, sesuatu yang tidak pernah Allah ijinkan.
Karena itu tindakan terkecil Nabi adalah hasil bimbingan wahyu yang sarat dengan
nilai moral. Segala sesuatu yang dilakukan dan diucapkan Nabi adalah bagian dari

Sunnah Beliau: perlakuan Beliau terhadap anak-anak, cara Beliau berbuka puasa,
menggosok gigi, dan memelihara janggut, semua patut dipelajari dan diteladani.
Melestarikan Sunnah berarti menjaga kelangsungan agama Islam itu sendiri.
Salah satu cara terpenting untuk melakukan ini ialah dengan mempelajari hadits.
Buku ini berusaha membuka wawasan tentang bagaimana praktek pengobatan
yang dilakukan pada jaman Nabi Muhammad saw. Yang ditekankan tentu saja polapola pengobatannya, bukan kajian ilmiah tentang pengobatan.
Tuhan telah mati!, kata Nietzsche. Siapa Nietzsche?, Nietzsche adalah salah
seorang filusuf Jerman. Dia hidup antara 1844-1900 dan termasyhur dengan
pernyataannya Tuhan telah mati dan mempunyai keyakinan bahwa karena itulah
kita harus menciptakan seorang manusia baru, seorang Adimanusia. Nietzsche
adalah filusuf yang karya-karyanya paling banyak dibaca pada masa modern,
sekaligus juga paling sering disalahpahami. Tulisan-tulisannya sama sekali tak
dihiraukan pada zamannya. Sampai pertengahan abad kedua puluh, filsafatnya
dilecehkan dan, khususnya dalam bahasa Inggris, diterjemahkan dengan buruk.
Pengaruhnya sebelum ini sama besarnya seperti anarkisme, Naziisme, kultus
keagamaan.
Nietzsche adalah filusuf pertama yang dengan tegas menentang hilangnya
keyakinan agama yang tengah merebak di Eropa Barat dengan pernyataannya bahwa
Tuhan telah mati. Yang dimaksud Nietzsche dengan pernyataan ini bahwa
masyarakat tidak lagi membutuhkan Tuhan, karena Dia telah melampaui
kebermanfaatannya. Nietzsche menyerukan agar manusia berdiri di atas kakinya
sendiri tanpa bantuan ketaatan atau segala bentuk dogma. Oleh karena itu, Nietzsche
tidak hanya menyerang ketaatan pada agama, tapi juga keyakinan pada nilai-nilai atau
kebenaran adalah karena kegamangan mereka dalam menghadapi realitas situasi;

suatu bentuk penipuan diri sendiri. Akan lebih baik jika menghadapi, dan benar-benar
menghayati, sifat kesementaraan eksistensi dan ketakbermaknaan hidup yang nyata
(hlm. 2).
Dalam buku ini disebutkan pula bahwa Nietzsche pertama kali menyatakan
bahwa Tuhan telah mati dalam salah satu karyanya The Gay Science. Maksud
Nietzsche dengan pernyataan ini adalah bahwa masyarakat tidak lagi membutuhkan
Tuhan. Keyakinan tidak serta-merta membantu melestarikan kelangsungan hidup
sebuah species, malahan menghambat species itu. Implikasi-implikasinya penting
dalam etika. Dengan matinya Tuhan, maka mati pula moralitas agama, khususnya
moralitas Kristen-sebuah moralitas yang telah menopang kebudayaan Barat sejak
abad keempat (hlm. 99). Sayang, Nietzsche kurang memperbandingkannya dengan
agama lain.
Menurut Nietzsche, kita adalah makhluk yang memiliki hasrat dan nafsu.
Kesemuanya itu diekspresikan dalam bentuk kehendak untuk berkuasa. Dan pada
hakekatnya kita mempunyai kehendak untuk berkuasa. Begitulah hal yang ingin
diungkapkan Nietzsche dalam filsafatnya yang lain. Tak lupa ia menghantam sendisendi teologi barat yang didominasi oleh Nasrani. Bagi Nietzsche (menurut buku ini),
agama tak lain hanyalah bentuk aplikasi moralitas Tuan-Budak. Maksudnya disini
adalah munculnya pemikiran dasar Nietzsche terhadap agama Kristen yang
merupakan akibat dari kebutuhan manusia terhadap sesuatu bentuk kekuatan adidaya
yang dianggap itu dapat menjadi penolong yaitu Tuhan. Dalam pertimbangannya
mengenai mengapa Kristianitas memiliki asal-usul dari para budak zaman kekaiasaran
Romawi, Nietzsche berpendapat bahwa para budak memandang hal ini (Kristianitas)
sebagai salah satu cara untuk lepas dari cengkeraman para tuan. Karena para budak
tersebut tidak memiliki cukup kekuatan untuk membebaskan diri dari para tuan

mereka (hlm. 102). Untuk itulah, kemudian muncul apa yang Nietzsche katakan
sebagai Resentiment, yaitu permusuhan yang dirasakan oleh budak terhadap tuannya.
Sang budak merasa relatif tidak berdaya dibandingkan dengan tuannya dan dia tidak
sanggup mengarah pada permusuhan, pada kemarahan, sekalipun dia tidak mampu
melancarkan permusuhan ini dikarenakan keterbudakannya (hlm. 103).
Kemudian kita tinjau kembali kepada filsafatnya yang lain, yaitu filsafat
adimanusia. Filsafat ini dimunculkan dalam karyanya Thus Spoke Zarathustra.
Disini penulis mengutarakan perbandingan antara filsafat keinginan berkuasa yang
dimiliki Nietzsche dengan filusuf lain yaitu Schopenhauer. Dimana filsafat Nietzsche
lebih materialistis, sedangkan pandangan-pandangan Schopenhauer nyaris bersifat
mistis, sehingga menurut penulis disinilah letak pemikiran Schopenhauer yang
pesimistis. Bagi masyarakat yang ingin sedikit diantar dalam gerbang yang memang
cukup susah apabila kita mengkajinya sendiri, buku ini layak dikonsumsi dan akan
menjadi santapan yang lumayan ketika kita akan membandingkan pemikiranpemikiran Nietzsche dengan para filusuf lainnya, karena memang terdapat dalam
buku, seperti Schopenhauer, Plato, dan banyak lagi lainnya.
Filsafat Nietzsche tentang adimanusia ini ada benarnya, bahkan menurut
Roy Jackson, penulis buku ini, teori adanya sifat ingin berkuasa pada diri manusia
dianggap wajar. Hal ini pernah terjadi dimana Jerman berada di bawah kekuasaan
Fasisme yang dipimpin oleh Hitler. Hitler menganggap orang-orang dari ras Arya-lah
yang diharuskan menjadi pemimpin dunia, dan ras-ras lain haruslah tunduk dengan
ras Arya. Kemudian muncullah disini keterkaitan adimanusia Nietzsche dengan
sifat Hitler yang bercita-cita menegakkan kuasa Jerman atas semua bangsa di bumi
ini, dimana konsep adimanusia menekankan kepada hancurnya manusia-manusia
lemah, manusia yang tidak dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, manusia

yang tidak bisa bertahan hidup. Dan manusia yang seperti itu harus menyerahkan
semua kekuasaan kepada manusia yang kuat, manusia yang lebih, manusia yang
super, manusia yang mempunyai kekuatan adimanusia. Terlihat sekali keterkaitan
lagi dengan teori Origin of Species-nya Darwin, dimana survive-lah yang harus
dilakukan manusia, namun survive versi Nietzsche adalah survive dengan
kepentingan untuk terus berkuasa. Dan bagi yang tidak bisa bertahan hidup, silahkan
pergi dari dunia ini.
Teori-teori Nietzsche memang sudah lama sekali dikumandangkan, namun
aromanya masih terus terasa sampai sekarang, bahkan di Indonesia sendiri telah
mengalami apa yang dikatakan Nietzsche sebagai nafsu ingin berkuasa, terbukti
berdirinya rezim orde baru yang dimotori oleh mantan presiden Soeharto, kemudian
di AS muncul juga sosok Hitler kedua di tahun ini yang diwakili oleh Bush junior,
dengan invasinya atas Irak. Tentu saja sekali lagi warga sipil diharuskan untuk
menjadi korban, dan (kelihatannya) akan selalu menjadi korban, apakah ini yang
dianggap Nietzsche sebagai manusia lemah?, kemudian mengapa begitu banyak
manusia lemah di dunia?, dan apakah hanyalah rakyat kecil yang mempunyai
Tuhan?, sedang manusia kuat atau adimanusia tersebut tidak mempunyai Tuhan?.
Sayang umur Nietzsche belum cukup panjang untuk (paling tidak) melihat kekejaman
Hitler plus kekejaman-kekejaman lainnya, sehingga dia bisa lebih menjabarkan
filsafatnya lebih lanjut.
Danang Putra G
Mahasiswa Ilmu Sejarah FIS UNY