Anda di halaman 1dari 3

Temuan BPK 2015, Negara Berpotensi Kehilangan

Rp33,46 Triliun
Sabir Laluhu
Selasa, 6 Oktober 2015 03:06 WIB
JAKARTA - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan ada potensi
kehilangan keuangan negara Rp33,46 triliun di semester I 2015. Temuan
tersebut dituangkan BPK dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I dan
Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester I 2015 yang disampaikan ke
pemimpin DPR dalam rapat paripurna, Senin (5/10/2015).
Ketua BPK Harry Azhar Azis menuturkan, pada semester I 2015 BPK melakukan
pemeriksaan terhadap 666 objek. 666 objek ini terdiri atas 117 pada pemerintah
pusat, 518 pada pemda dan BUMD, dan 31 objek BUMN dan lainnya. Pada
pemeriksaan semester I ini BPK lebih fokus pada laporan keuangan pusat dan
daerah.
Dari hasil pemeriksaan IHPS, BPK menemukan 10.154 temuan yang memuat
15.434 permasalahan, yang meliputi 7.890 (51,12%) permasalahan
ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
"Senilai Rp33,46 triliun. Dari masalah ketidakpatuhan tersebut sebanyak 4.609
permasalahan yang berdampak pada pemulihan kekurangan
negara/daerah/perusahaan atau berdampak finansial senilai Rp21,62 triliun,"
kata Harry di ruang paripurna DPR, Jakarta, Senin (5/10/2015).
Permasalahan berdampak finansial terbagi tiga bagian. Pertama, mengakibatkan
kerugian negara Rp2,26 triliun. Kedua, potensi kerugian negara Rp11,51 triliun.
Ketiga, kekurangan penerimaan Rp7,85 triliun.
Yang baru ditindaklanjuti oleh entitas berkaitan dengan permasalahan
ketidakpatuhan yang mengakibatkan kerugian negara, potensi kerugian, dan
kekurangan penerimaan dengan penyerahan aset atau penyetoran aset ke kas
negara, daerah, dan perusahanya hanya senilai Rp396,67 miliar.
"Selain itu ada 3.137 permasalahan administrasi sertaa 144 permasalahan
ketidakpatuhan yang mengakibatkan ketidakekonomisan, ketidakefisienan, dan
ketidakefektifan Rp11,84 triliun," bebernya.
Di samping melakukan pemeriksaan keuangan, BPK juga melakukan
pemeriksaan dengan tujuan tertentu pada kementerian/lembaga negara. Ada
empat bagian yang disampaikan Ketua BPK.
Pertama, realisasi dana Bantuan Siswa Miskin Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan per 31 Desember 2014 senilai Rp2,9 triliun belum sampai ke siswa
penerima dan belum dikembalikan ke kas negara. "Dana BSM 2013 dan 2014
dicairkan ganda oleh siswa jenjang pendidikan dasar dan menengah Rp9,28
miliar," tegas Harry.
Kedua, pengendalian kelebihan muatan beban pada jalur Pantura Jawa Barat dan
Jawa Tengah belum optimal. Ketiga, permasalahan pengelolaan dan
pertanggungjawaban bagian anggaran Bendahara Umum Negara (BUN) terjadi

perbedaan konversi transaksi pembayaran luar negeri.


"Keempat, ketersediaan anggaran dan SDM termasuk aspek kelembagaan atau
infrastruktur belum diyakini dapat mendukung seluruh penyelenggaraan tahapan
pilkada serentak," ungkapnya.
Harry menuturkan, untuk pemeriksaan keuangan pemerintah daerah (LKPD)
ditemukan paling besar 5.993 permasalahan ketidakpatuhan terhadap ketentuan
perundang-undangan senilai Rp3,2 triliun. Permasalahan ini paling besar karena
kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran anggaran pendapatan
dan belanja yakni 2.598 permasalahan atau 43,46%.
Rp3,2 triliun tadi terdiri atas Rp1,42 triliun kerugian negara, potensi Rp1,41
triliun, dan kekurangan penerimaan Rp373,7 miliar. Dari sisi kinerja pemda, BPK
menyoroti permasalahan pengelolaan rumah susun di DKI Jakarta.
"Belum sepenuhnya efektif dalam menunjang penataan kota. Serta pengelolaan
aset Pemkot Bogor dan Pemkot Depok belum sepenuhnya efektif," jelasnya.
Berkaitan dengan pemeriksaan dengan tujuan tertentu, BPK menemukan
manajemen aset Pemprov DKI Jakarta masih menunjukkan kelemahan dalam
pengelolaan dan Sistem Pengendalian Internal (SPI) belum sepenuhnya sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kelemahan tersebut di antaranya tanah dan bangunan milik Pemprov DKI Jakarta
seluas 2,72 juta meter persegi berada di dalam sengketa/dikuasai/dijual pihak
lain. "Hal ini mengakibatkan adanya potensi kehilagan aset tanah/bangunan
senial Rp8,11 triliun," ungkap Harry.
Mantan Wakil Ketua Komisi XI DPR ini melanjutkan, BPK juga melakukan
pemeriksaan atas perhitungan subsidi/Kewajiban Pelayanan Umum 2014
berkaitan dengan BUMN. Dari 11 BUMN, ditemukan adanya kekurangan beban
subsidi pemerintah sebesar Rp6,25 triliun.
BPK juga melakukan pemantauan penyelesaian ganti kerugian terhadap data
kerugian negara/daerah 2003-2014 dengan status 17.287 kasus senilai Rp2,62
triliun, tingkat penyelesaian kasus tersebut menunjukkan 4.457 kasus telah
diangsur senilai Rp167,92 miliar, 7.525 kasus telah dilunasi Rp137,88 miliar, dan
131 kasus dihapuskan senilai Rp7,41 miliar.
Sedangkan sisa yang belum diselesaikan sebanyak 9.904 kasus dengan nilai
Rp2,31 triliun. Harry menjelaskan, pada 2003 hingga Juni 2015, BPK sudah
menyampaikan temuan pemeriksaan yang mengandung unsur pidana kepada
instansi berwenang atau penegak hukum sebanyak 228 surat. Surat-surat itu
memuat 443 temuan senial Rp44,64 triliun.
"Dari 443 temuan tersebut, penegak hukum sudah menindaklanjuti 337 temuan
atau 85,10%," tandasnya.
source: http://nasional.sindonews.com/read/1050630/12/temuan-bpk-2015negara-berpotensi-kehilangan-rp33-46-triliun-1444053560

Dalam kasus diatas diketahui bahwa banyak entitas pemerintah masih belum bekerja
dengan efisien. Ini terlihat dari jumlah pemasalahan yang ditemukan BPK. Pemasalahan
tersebut sangat merugikan negara karena kinerja yang dihasilkan tidak sebanding dengan
anggaran yang sudah dianggarankan kepada instansi tersebut.ini menyebabkan instansi tidak
dapat mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Lemahnya kepatuhan terhadap Undangundang dan sistem pengendalian internal ini merupakan permasalahan yang sering muncul
dalam penemuan BPK.
Dari identifikasi kasus di atas maka dapat disimpulkan bahwa masalah yang muncul
adalah penyimpangan yang dilakukan oleh instansi pemerintahan pada pengelolaan anggaran
dan juga penyalahgunaan anggaran serta penyimpangan administratif lainnya yang
diakibatkan karena lemahnya sistem pengendalian intern pada instansi pemerintahan tersebut.
Hal tersebut merugikan negara serta tidak tercapainya tujuan yang telah direncanakan dan
ditetapkan sebelumnya.
Seharusnya instansi pemerintah baik itu pusat ataupun daerah meningkatkan sistem
pengendalian intern. Karena dengan kuatnya sistem pengendalian intern maka hal-hal yang
terjadi di atas bisa berkurang bahkan tidak terjadi lagi. Selain itu juga perlu adanya kontrol
dari pihak luar baik itu auditor maupun masyarakat kita untuk ikut serta dalam pengawasan
kinerja dari instansi pemerintahan supaya tidak terjadi penyimpangan, penyelewangan
maupun penyalahgunaan dalam pengelolaan agar tujuan yang direncanakan dan dihasilkan
tercapai. Hal itu untuk mengurangi terjadinya kerugian negara, potensi kerugian, dan
kekurangan penerimaan dengan penyerahan aset atau penyetoran aset ke kas negara, daerah,
dan perusahaan
Kesadaran instansi pemerintahan dalam mengelola dan menggunakan anggaran juga
penting karena anggaran tersebut berasal dari uang rakyat sehingga apabila terjadi
penyimpangan dalam pengelolaan dan penggunaan maka akan merugikan masyarakat.
Saran yang diberikan agar masalah tersebut bisa terselesaikan adalah dengan
memberikan pengarahan terhadap pegawai pemerintahan dan juga memberikan pengetahuan
agama yang mendalam sehingga pegawai akan mengurungkan niat apabila ingin melakukan
penyimpangan dan penyalahgunaan anggaran pemeintah.
Yang kedua adalah pemerintah perlu untuk bersikap transparan dan akuntanbilitas
kepada pemerintahan pusat hingga daerah karena dengan adanya transparansi dan
akuntabilitas keuangan yang jelas maka visi, misi serta tujuan yang hendak dicapai akan bisa
terwujud dengan baik sesuai dengan apa yang di inginkan. Dan yang terakhir adalah harus
adanya evaluasi secara periodik dalam rangka untuk mempertanggung jawabkan dan
melaporkan segala kegiatan yang telah dilakukan dalam pengelolaan anggaran pemerintah.