Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas
anugerah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah tentang
Pancasila Sebagai Ideologi Negara.
Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan Makalah ini selain untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Dosen pengajar, juga untuk lebih
memperluas pengetahuan para mahasiswa khususnya bagi penulis.
Penulis telah berusaha untuk dapat menyusun Makalah ini dengan baik,
namun penulis pun menyadari bahwa kami memiliki akan adanya keterbatasan
kami sebagai manusia biasa. Oleh karena itu jika didapati adanya kesalahankesalahan baik dari segi teknik penulisan, maupun dari isi, maka kami memohon
maaf dan kritik serta saran dari dosen pengajar bahkan semua pembaca sangat
diharapkan oleh kami untuk dapat menyempurnakan makalah ini terlebih juga
dalam pengetahuan kita bersama. Harapan ini dapat bermanfaat bagi kita
sekalian.

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR-------------------------------------------------------------------------------- i
DAFTAR ISI----------------------------------------------------------------------------------------- ii
BAB I------------------------------------------------------------------------------------------------- 1
PENDAHULUAN----------------------------------------------------------------------------------- 1
1.1.

Latar Belakang--------------------------------------------------------------------------- 1

1.2.

Tujuan------------------------------------------------------------------------------------- 3

1.3.

Rumusan Masalah----------------------------------------------------------------------- 3

BAB II------------------------------------------------------------------------------------------------ 4
PEMBAHASAN------------------------------------------------------------------------------------- 4
2.1

Landasan Pengobatan dalam Al-Quran dan Hadits----------------------------------4

2.2

Obat dalam Al-Quran dan Hadits------------------------------------------------------6

2.3

Produk Farmasi dalam Pandangan Islam---------------------------------------------8

2.4

Riset dan Teknologi Farmasi----------------------------------------------------------10

2.5

Pelayanan Kefarmasian----------------------------------------------------------------11

2.6

Sertifikat Halal Produk Farmasi------------------------------------------------------12

BAB III---------------------------------------------------------------------------------------------- 16
PENUTUP------------------------------------------------------------------------------------------ 16
3.1

Simpulan-------------------------------------------------------------------------------- 16

DAFTAR PUSTAKA------------------------------------------------------------------------------ 17

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi bagian yang penting bagi umat
Islam sebagai pengembangan Al-Quran yang memerlukan pengkajian dan
pembuktian ilmiah. Dengan mengkaji secara mendalam dan membuktikan secara
ilmiah maka kita akan menemukan misteri yang luar biasa dari Al-Quran.
Seseorang yang mendalami, meneliti dan mengembangkan Al-Quran dengan
sarana ilmu pengetahuan dan teknologi akan mengakui kebesaran Allah SWT.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih
bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imran:
190-191).
Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia didalamnya memuat banyak
hal dalam kehidupan ini, mulai dari urusan yang kecil hingga dalam pengaturan
suatu negara termasuk didalamnya adalah mengenai ilmu pengobatan dan
kefarmasian. Menurut Al Biruni, farmasi merupakan suatu seni untuk mengenali
jenis, bentuk dan sifat-sifat fisika dari suatu bahan, serta seni mengetahui
bagaimana mengolahnya untuk dijadikan sebagai obat sesuai dengan resep dokter.
Kedokteran Islam yang didalamnya termasuk farmasi Islam merupakan ilmu
kedokteran dan farmasi yang berdasarkan Islam dan didalam praktiknya tidak
bertentangan dengan koridor ajaran Islam. Farmasi Islam diharapkan dapat
mengedepankan

kemampuan

untuk

menggali

dan

menjaga

lingkungan,

kemampuan untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi farmasi secara

optimal, serta memiliki kepekaan terhadap berbagai proses perubahan yang terjadi
didalamnya.
Karakter perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi farmasi di
negara-negara Islam memiliki karakter yang menarik untuk dipelajari karena
keunikan ajaran Islam sebagai agama yang sempurna mengatur setiap sisi
kehidupan manusia. Teks-teks Al-Quran dan Hadist memiliki batasan yang tegas
untuk beberapa bahan yang diharamkan penggunaannya. Seorang farmasis
muslim akan berusaha menyelaraskan keyakinan beragamanya dengan prinsipprinsip ilmiah farmasi. Hasilnya adalah satu bidang kajian farmasi Islam, yaitu
bidang keilmuan dan pelayanan farmasi yang kajiannya berada dalam koridor
agama Islam.
Bumi dan isinya adalah sumber dari bahan-bahan berkhasiat yang dapat
menjadi obat (Q.S. Al-Araf: 10). Allah SWT telah mengkaruniakan kepada kita
kekayaan alam untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kebaikan umat di muka
bumi ini. Akan tetapi Allah tetap memberikan batasan-batasan dalam
pemanfaatannya. Salah satunya adalah adanya batasan halal dan haram untuk
makanan yang dikonsumsi. Hal ini berlaku juga untuk obat-obatan.
Tingkat kehalalah dan keharaman dalam dunia farmasi belum terpetakan
dengan jelas. Hal ini sangat disayangkan karena Indonesia adalah negara dengan
mayoritas penduduknya beragama Islam. Oleh karena itu, konsumen obat yang
beragama Islam memerlukan suatu perlindungan kehalalan obat yang mereka
konsumsi. Dalam hal ini maka keilmuan farmasi memegang peranan penting.
Maka obat yang akan dimakan untuk pengobatan harus benar-benar yang baik dan
bermanfaat untuk dikonsumsi dalam pengobatan dan dijamin oleh seorang
apoteker/ahli farmasis sebagai penjaga jalur distribusi obat.

1.2. Tujuan
a) Mengetahui landasan pengobatan dalam Al-Quran dan Hadits
b) Mengetahui obat menurut Al-Quran dan Hadits
c) Mengetahui cara pelayanan kefarmasian

1.3. Rumusan Masalah


a) Apa landasan pengobatan dalam kehidupan manusia menurut Al-Quran dan
Hadits ?
b) Apa saja yang termasuk obat yang baik menurut Al-Quran dan Hadits ?
c) Bagaimana pandangan islam tentang produk farmasi ?
d) Bagaimana pandangan islam tentang riset dan teknologi dalam bidang
farmasi ?
e) Bagaimana cara pelayanan kefarmasian yang baik ?
f) Perlukah suatu produk farmasi mendapatkan sertifikat kehalalan ?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1Landasan Pengobatan dalam Al-Quran dan Hadits


Kesehatan merupakan nikmat yang harus disyukuri sebagai anugerah
kehidupan. Namun kondisi lingkungan, kesalahan pola hidup ataupun serangan
wabah dari lingkungan sekitar membuat manusia dapat mengalami sakit. Manusia
diberikan akal dan potensi alam sekitar untuk mengatasi penyakitnya. Oleh karena
itu, Islam mewajibkan umatnya untuk berusahan/berikhtiar dan mengobati
penyakitnya bukan sekedar pasrah dan tidak berusaha mengatasinya.
Islam mengajarkan dalam mencapai kesembuhan diperlukan usaha
seoptimal .mungkin dengan menegaskan bahwa untuk setiap penyakit telah
disediakan obatnya.

Diriwayatkan dari Usamah, ia berkata: Seorang Badui

berkata: Ya Rasulullah! Tidakkah kita berobat? Rasulullah SAW menjawab: Ya,


wahai hamba-hamba Allah, berobatlah. Sesungguhnya Allah tidak membuat
penyakit tanpa membuat kesembuhan baginya kecuali satu penyakit. Mereka
bertanya: Apakah satu penyakit itu Ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Tua
(H.R. Usamah).
Ketentuan halal dan haram merupakan salah satu hak Allah yang harus
ditaati oleh manusia. Sebagai landasan dalam penentuan halal dan haram umat
Islam berpedoman kepada Al-Quran dan Sunnah. Sumber utama yang harus
dijadikan patokan pertama adalah Al-Quran, kemudian sumber kedua adalah
hadist. Apabila tidak ada dalil yang menjelaskan secara rinci dan tegas dalam AlQuran dan Hadist maka diperbolehkan ijtihad.
Bagaimana

status

darurat

dalam

pengobatan?

Rasulullah

saw.

Memerintahkan umatnya untuk berobat dengan menggunakan obat yang halal dan
melarang menggunakan obat yang haram. Diriwayatkan dari Abu Ad Darda, ia
berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah taala tidak membuat
penyakit (melainkan) dengan obatnya, dan Allah taala membuat obat untuk

setiap penyakit. Karena itu hendaklah kamu berobat dan jangan berobat dengan
yang haram (H.R. Abu Ad Darda).
Dalam Al-Quran juga diperintahkan untuk memakan makanan yang Halal
dan Thoyyib (baik). Beberapa rambu-rambu yang membatasi adalah makanan
yang diharamkan yaitu bangkai, babi, darah, khamr, hewan yang mati tidak wajar
dan binatang yang disembelih tanpa nama Allah. Meskipun penggunaan produk
halal hukumnya wajib bagi setiap muslim, namun para ulama memperbolehkan
obat yang haram dalam keadaan darurat. Imam Nawawi menjelaskan bahwa para
ulama fiqih pendukung madzhab Syafii menegaskan standar darurat ialah
timbulnya kekhawatiran akan kematian jika tidak dilakukan. Demikian pula Imam
Suyuthi mendefinisikannya sebagai kondisi yang jika tidak dilakukan akan mati
atau dekat kematian.
Kenyataan dalam dunia farmasi saat ini terdapat beberapa sediaan farmasi
yang dipertanyakan halal dan haramnya, di antaranya:
1. Sediaan topikal berbahan najis seperti sediaan losio, krim, atau plester. Para
ulama sepakat bahwa benda yang haram hukumnya adalah najis ketika
digunakan.
2. Penggunaan bahan dari babi dalam kefarmasian. Sesuai dengan nash AlQuran, pada tahun 1994 komisi Fatwa MUI telah menfatwakan bahwa babi
dan komponen-komponennya haram untuk dikonsumsi baik sebagai pangan
maupun obat dan kosmetika. Bahan obat dan kosmetik yang berpotensi
haram karena umumnya dibuat dari bagian organ babi adalah: kolagen
sebagai pelembab dan bahan dasar gelatin yang biasa digunakan dalam
pembuatan cangkang kapsul, gelatin, cerebroside; serta beberapa golongan
hormon seperti insulin, heparin dan enzim tripsin yang biasa digunakan
dalam pembuatan vaksin polio sebagai enzim proteolitik berasal dari
pancreas babi. Salah satu tantangan bagi kalangan ilmuwan muslim adalah
masalah kemiripan hormon insulin manusia dengan insulin babi sehingga
dari sudut pandang medis lebih menguntungkan daripada menggunakan
hormon insulin sapi yang tidak mirip insulin manusia.
3. Penggunaan alkohol dalam kefarmasian. Sebagian ulama mengqiyaskan
alkohol dengan khamr dan sama sekali menolak penggunaan alkohol dalam

berbagai produk baik obat, kosmetik, maupun antiseptik. Tetapi dengan


logika bahwa alkohol tidak selalu dihasilkan dari produksi khamr dan tidak
memabukkan, maka Dewan Fatwa MUI menfatwakan bahwa alkohol boleh
ada dalam produk akhir dengan kadar tidak lebih dari 1%. Penggunaan
alkohol dalam beberapa produk farmasi tidak dapat terhindarkan sehingga
perlu kearifan untuk membedakan antara alkohol dan khamr. Bahkan dalam
setiap sari buah alami yang diekstrak secara sederhana tanpa proses
fermentasi tetap terkandung alkohol dalam jumlah rendah. Kandungan
alkohol secara alami ada dalam mayoritas produk pangan misalnya roti yang
dibuat dengan bantuan yeast (gist/ragi) biasanya mengandung alkohol antara
0,3-0,4%. Asam cuka yang biasa digunakan dimasyarakat juga mengandung
alkohol kurang dari 1%.
4. Bahan memabukkan lainnya seperti morfin, opium dan obat psikotropika.
5. Penggunaan plasenta dan cairan amniotik dalam kefarmasian. Plasenta
sebagai kosmetik mengagumkan dalam meningkatkan pembaharuan sel
(regenerasi sel). Amniotik liquid terbatas pada penggunaan pelembab, lotion
rambut dan perawatan kulit kepala serta sampo.

2.2Obat dalam Al-Quran dan Hadits


Agama Islam adalah agama yang kaffah atau sempurna dan lengkap. Semua
permasalahan hidup termasuk mengenai pengobatan terhadap penyakit yang
diderita oleh manusia. Ajaran Islam mendorong kita untuk tetap mengobati
penyakit yang kita derita dengan cara yang Islami, tentunya dengan obat dan
terapi yang ditawarkan oleh Al-Quran dan Nabi saw.
Sesungguhnya apa yang diciptakan oleh Allah swt. mempunyai hikmah
yang amat besar dan apa yang dilarang atau diharamkan sesungguhnya demi
manusia itu sendiri.
Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit beserta obatnya dan Dia telah
menjadikan setiap penyakit ada abatnya, maka berobatlah kalian dan jangan
berobat dengan barang yang haram (H.R. Abu Dawud).

Sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan kesembuhan dengan sesuatu yang ia


haramkan atasmu (H.R. Bukhari).
Islam tidak mengajarkan kita untuk melakukan pengobatan yang
mengandung nilai kemusyrikan dan penggunaan bahan-bahan yang diharamkan.
Semua tuntunan tersebut telah disampaikan oleh Rasulullah saw ribuan tahun
yang lalu ketika ilmu pengetahuan pengobatan belum berkembang pesat. Nash AlQuran dan hadist dapat menjadi panduan untuk mencari solusi dalam
permasalahan kehidupan di dunia, terutama mengenai dunia pengobatan.
Berikut contoh pengobatan yang dicontohkan Al-Quran dan Nabi saw.:
1. Kurma
Rasulullah saw berbuka puasa dengan beberapa biji buah kurma sebelum salat.
Sekiranya tidak terdapat kurma, maka Rasulullah saw akan berbuka dengan
beberapa biji anggur. Sekiranya tiada anggur, maka Baginda meminum beberapa
teguk air (H.R. Ahmad).
2. Habbatus saudah
Rasulullah saw bersabda: Hendaklah kamu menggunakan habatussaudah karena
sesungguhnya padanya terdapat penyembuhan bagi segala penyakit kecuali
mati (H.R. Abi Salamah dari Abu Hurairah).
3. Madu
Allah berfirman: Dari perut lebah ini keluar minuman (madu) yang bermacammacam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran
Allah) bagi orang-orang yang berfikir (Q.S. An Nahl: 69).

4. Zaitun
Rasulullah bersabda: Makanlah minyak zaitun dan lumurlah minyaknya karena
ia berasal dari pohon yang penuh berkah (H.R. At Tirmizi dan Ibnu Majah).

2.3Produk Farmasi dalam Pandangan Islam


Masalah halal dan haram dari obat dan kosmetik merupakan bagian
pokok dari tinjauan kritis produk farmasi bagi seorang muslim, karena hal ini
menyangkut keamanan dari segi ruhaniah bagi seorang yang mengkonsumsinya
seperti mempengaruhi terkabulnya doa di sisi Allah swt.
Perbaikilah makananmu, maka Allah akan mengabulkan doa-doamu
(H.R. Ath-Thabrani).
1. Obat
Titik kritis untuk obat yang diisolasi dari hewan adalah ketika hewan
bisa berasal dari sapi, babi atau hewan lain yang diharamkan. Selain itu cara
penyembelihan hewanpun harus benar-benar dipertimbangkan. Sementara untuk
produk metabolit mikroba titik kritis kehalalan medium serta enzim pertumbuhan
yang digunakan untuk pertumbuhan bakteri. Bahan untuk ekstraksi metabolit aktif
pun harus dipertimbangkan apakah menggunakan alkohol murni atau produk
sampingan dari industri khamr.
Beberapa zat aktif obat yang harus dicermati adalah kelompok hormon,
enzim, dan vitamin. Produk hasil bioteknologi ini bisa berasal dari produk
mikrobil yang haram, media penyegaran dan perbanyakan dari bahan yang haram,
atau bahan penolong yang haram. Pada tingkat teknologi yang lebih tinggi harus
dipertimbangkan juga apakah mikroba rekombinan gennya berasal dari hewan
yang haram atau tidak.
Bahan pembantu atau eksipien titik kritis perhatikan pada penggunaan
laktosa, etanol, adeps lanae serta magnesium stearat. Sebagian bahan baku laktosa
ditemukan sebagai produk samping pembuatan keju dan susu yang ditambahkan
enzim dari babi. Etanol perhatikan batas kadar 1% dan sumber produksinya
apakah bersinggungan dengan kamr atau tidak. Adeps lanae sebagia bahan untuk
meningkatkan viskositas juga beresiko diisolasi dari hewan yang diharamkan.
2. Obat Bahan Alam

Bahan dasar obat bahan alam tidak sepenuhnya berasal dari bahan
tumbuh-tumbuhan. Kenyataannya produk-produk hewan pun juga masuk dalam
ramuan obat bahan alam. Ramuan tradisional itu juga mengenal bahan-bahan
hewani, seperti kuda laut, bagian organ dari ayam, bagian organ ular (empedu,
darah, lemak, serta otaknya), buaya, kalajengking, laba-laba, dan ekstrak berbagai
bagian dari jenis binatang. Jadi, perlu kehati-hatian dalam memilihnya sebab
penggunaan hewan ini harus dilihat dari segi jenis hewannya halal atau tidak.
Pembuatan obat dari bahan alam yang halal dari hewan hendaklah dari
hewan yang halal dikonsumsi. Bagi produsen yang menggunakan hewan sebagai
bahan pembuatan obat, dapat menanyakan hukum hewan yang digunakannya
apakah halal atau haram.
3. Kosmetik
Produk kosmetik memang tidak dimakan dan masuk ke dalam tubuh.
Oleh karena itu, penggunaan kosmetik biasanya dikaitkan dengan masalah suci
dan najis. Unsur kosmetik haruslah terdiri dari zat yang halal, tidak najis atau
menjijikkan daa tidak membahayakan tubuh pemakainya serta jangan sampai
kosmetik menjadi sarana tabarruj yakni berdandan yang berlebihan dan bukan
pada tempatnya.
Sediaan kosmetik ini terdapat peluang digunakannya bahan aktif atau
bahan pembantu dari bahan yang haram atau diragukan/subhat. Status kehalalan
ini kritis terutama pada produk dengan bahan hasil isolasi dari hewan (kolagen,
dll), menggunakan alkohol, menggunakan bagian dari manusia seperti plasenta
dan cairan amniotik.

2.4Riset dan Teknologi Farmasi


Farmasi merupakan suatu bidang ilmu yang semakin berkembang.
Dengan perkembangan teknologi kefarmasian tentu mengakibatkan berbagai
konsekuensi termasuk permasalahan yang terjadi semakin lebih kompleks, mulai

dari kontrofersi dalam penggunaan hewan percobaan dalam riset kefarmasian,


teknologi transgenik, kloning, hingga mengenai dampak linngkungan hidup akibat
banyak bertumbuhnya industri farmasi yang dari tahun ke tahun terus mengalami
peningkatan.
Islam sebagai agama yang sempurna dalam ajarannya telah mengajarkan
kepada umatnya untuk tetap menyeimbangkan antara perkembangan teknologi
dengan nilai-nilai ilahiyah, sehingga kerusakan dimuka bumi dapat terhindarkan.
Contoh reiset dan teknologi yang perlu diperhatikan:
1. Penelitian-penelitian menggunakan hewan percobaan
Konsep

yang

dipegang

oleh

fikih

adalah

mempertimbangkan

kepentingan umat manusia yang terdiri atas 5 hal yang meliputi agama, jiwa,
keluarga, akal fikiran, serta harta benda. Tindakan-tindakan tertentu yang
dimotivasi oleh keterpaksaan atau darurat dalam rangka melindungi salah satu
dari lima kepentingan itu dibenarkan. Aspek kedaruratan ini juga berlaku dalam
pemanfaatan hewan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, kesehatan dan
penelitian kefarmasian yang bermanfaat untuk kehidupan manusia. Meskipun
demikian dalam pandangan Islam, kita wajib berbuat baik dalam memperlakuakan
hewan dengan tujuan yang jelas. Tantangan ahli farmasi adalah menguji khasiat
obat dengan in vitro tanpa hewan uji karena saat ini tidak semua uji dapat
dilakukan secara in vitro seperti uji toksisitas.
2. Pemanfaatan teknologi transgenik
Perkembangan dalam rekayasa genetik perlu diperhatikan mengenai
proses pembuatannya (prokursor, raw material, media pertumbuhan) agar produk
yang dihasilkan aman dan halal.

3. Kontroversi teknologi kloning


Proses kloning dalam penciptaan manusia jelas bertentangan dengan
ajaran Al-Quran. Allah berfirman: Sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Q.S. At Tin: 4).

4. Penanganan lingkungan hidup


Setiap orang yang mengeksploitasi dan menggunakan alam adalah demi
kepentingan ibadah, melestarikan alam juga ibadah. Penanganan limbah harus
sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan. Dalam memanfaatkan alam harus
memperhatikan estetika dan keindahan. Pengembangan teknologi dan industri
perlu diimbangi dengan perilaku memelihara lingkungan sekitar secara arif
misalnya, dengan memanfaatkan SDA sesuai dengan kebutuhan, penyiapan
analisis pengembangan mengenai dampak lingkungan (AMDAL), penanganan
limbah industri yang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, serta bentuk
perilaku ramah lingkungan lainnya.

2.5Pelayanan Kefarmasian
Perubahan paradigma pelayanan farmasi dari drug oriented menjadi
patient oriented sehingga menjadikan profesi farmasi menjadi peluang sekaligus
tantangan. Farmasis berperan dalam membantu pengobatan mandiri pasien untuk
memilihkan obat yang baik dan halal. Fungsi utama dari dari pelaksanaan asuhan
kefarmasian (Pharmaceutical care) antara lain untuk mengidentifikasi baik yang
aktual maupun potensial masalah yang berhubungan dengan obat, menyelesaikan
masalah yang berhubungan dengan obat, serta mencegah terjadinya masalah yang
berhubungan dengan obat.
Dalam etika farmasi, para farmasis memiliki kewajiban untuk
melindungi pasien dari kerugian akibat kesalahan pemakaian obat yang
merugikan. Diawal Farmasi memeriksa kebutuhan pasien, ditengah memeriksa
kembali semua informasi dan memilih solusi bagi DRP (Drug Related Problem),
diakhir menilai hasil intervensi (evaluasi) sehingga didapat hasil yang optimal
sehingga pada akhirnya diharapkan kualitas hidup pasien meningkat serta hasilnya
memuaskan. Dengan mengutamakan keselamatan dan melindungi pasien dari
penggunaan obat yang membahayakan diri pasien, berarti farmasis turut
memelihara kehidupan pasien tersebut sesuai dengan anjuran ajaran Islam.

2.6Sertifikat Halal Produk Farmasi


Mencari yang halal merupakan suatu kewajiban setiap muslim sehingga
kita wajib selektif dalam memilih makanan dan minuman termasuk obat-obatan
dan kosmetika.
Menuntut yang halal itu wajib atas setiap muslim (H.R. Ibnu
Masud).
Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka nerakalah tempat
yang pantas baginya (H.R. At-Tirmidzi).
Masyarakat sulit menentukan suatu produk itu halal atau haram namun
dengan adanya label sertifikat halal pada produk yang diberikan oleh LPPOM
MUI dan nomor registrasi yang diberikan BPOM berarti produk tersebut telah
dianggap halal dan aman (thoyyib). Perusahaan yang produknya telah mendapat
Sertifikat Halal dari MUI, harus mengangkat Auditor Halal Internal sebagai
bagian dari Sistem Jaminan Halal di perusahaannya.
Sertifikat halal merupakan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang
menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syariat Islam. Tujuan
pelaksanaan sertifikat halal pada produk pangan, produk farmasi seperti obatobatan dan kosmetik adalah untuk memberikan kepastian kehalalan suatu produk
sehingga dapat menentramkan batin konsumen.
Permasalahan regulasi halal di Indonesia adalah produsen memasang
label halal sendiri dan UU No. 7 tahun 1996 tentang Pangan, dalam Bab Label
dan Iklan Pangan Pasal 30 ayat 1 mampu memaksa produsen untuk mensertifikasi
produknya.
Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan ke dalam wilayah
Indonesia pangan yang dikemas untuk diperdagangkan wajib mencantumkan
label pada, di dalam, dan atau di kemasan pangan.
Namun penjelasan lanjutan dari UU ini mengandung keanehan yang
mementahkan konsep pemaksaan tadi yaitu pada pasal 30 ayat 2 (e) yang
berbunyi:
Namun, pencantumannya pada label pangan baru merupakan
kewajiban apabila setiap orang yang memproduksi pangan dan atau memasukkan
pangan ke wilayah Indonesia untuk diperdagangkan menyatakan bahwa pangan
yang bersangkutan adalah halal bagi umat Islam

Akibat penjelasan di atas pelabelan halal hukumnya tidak wajib, maka


sertifikat halalpun menjadi tidak wajib pula. Oleh karena itu, peran pemerintah
perlu menganalisis kembali UU No.7 tersebut terutama pasal 2 (e) agar
memberikan jaminan dan kepastian mengenai kehalalan bagi konsumen.
Sampai saat ini di Indonesia belum ada peraturan perundang-undangan
yang mengatur kehalalan obat dan kosmetik. Padahal sangat banyak titik kritis
halal haram dari obat dan kosmetik. Hal ini belum menjadi perhatian penting bagi
praktisi kesehatan maupun konsumen dengan berlindung pada alasan status
kedaruratan. Oleh karena itu, perlunya membangun kesadaran semua pihak
tentang pentingnya regulasi halal untuk obat dan kosmetik serta selektif memilih
produk yang halal dan toyib.
Tantangan lain dalam mencanangkan regulasi halal obat dan kosmetik
selain rendahnya kesadaran praktisi kesehatan terhadap obat dan kosmetik halal di
Indonesia adalah

minimalnya bahan baku lokal sehingga pengawasan oleh

LPPOM MUI lebih sulit karena ketergantungan industri farmasi pada bahan baku
impor. Selain itu regulasi dan pola pengawasan produk halal masing-masing
Negara berbeda karena parameter penentuan kehalalan dan lembaga serta ijtihad
para ulama fiqih lokal bisa berbeda.
Keberadaan benda haram dalam suatu produk tidak dapat langsung
terdeteksi secara visual bahkan penelitian laboratorium pun tidak selalu bisa
mendeteksi keberadaan unsur alkohol maupun babi pada produk akhir. Oleh
karena itu, hal terpenting adalah secara etis adanya jaminan pihak ketiga yang
independen atas kehalalan produk pangan, obat, maupun kosmetika dalam bentuk
sertifikat halal. Sehingga produsen terawasi sejak proses pengadaan barang,
produksi hingga pengemasan. Hasil dari pengawasan dikeluarkan dalam bentuk
dokumen yang selanjutnya menjadi landasan sertifikasi kehalalan. Selanjutnya
dibutuhkan studi lebih lanjut untuk menciptakan metode yang lebih akurat, cepat
dan ekonomis.
Farmasis/apoteker memiliki tanggung jawab yang besar berkaitan
dengan penjaminan mutu produk farmasi yang dihasilkan baik obat, makanan
maupun kosmetik. Hal itu disebabkan farmasis merupakan suatu profesi yang
konsen, komitmen dan kompeten dalam bidang pengobatan. Untuk dapat

mewujudkannya, dibutuhkan tenaga farmasis muslim yang benar-benar mengerti


dibidangnya dan memiliki sikap sesuai profesi yang disandangnya.
Sebagai farmasis muslim kita juga dituntut untuk memiliki kepekaan
pada kebutuhan umat Islam. Bagi seorang muslim, mengkonsumsi makanan serta
produk farmasi lainnya termasuk obat yang berstatus halal dan thoyib, sudah
menjadi bagian keyakinan agama yang harus dijalankan. Ironisnya seringkali
konsumen tidak memiliki kebebasan untuk memilih produk yang halal akibat
minimnya informasi yang sampai. Penjaminan hak konsumen muslim dalam
mengkonsumsi produk menjadi tanggung jawab semua pihak baik pemerintah,
farmasi dan masyarakat pada umumnya.
Islam menghendaki kehati-hatian

kita

dalam

membuat

serta

mengkonsumsi segala sesuatu termasuk obat. Tujuan kehati-hatian tidak untuk


memberatkan manusia dengan berbagai aturan yang telah ditetapkan, namun ingin
menghantarkan manusia dalam kemuliaan dan kebahagiaan hakiki, di dunia
maupun diakhirat. Bahkan beberapa aturan dalam Islam telah terbukti secara etis
meningkatkan kualitas hakiki kehidupan manusia.
Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang
haram itu pun jelas. Sedang diantara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat
(meragukan) yng tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Siapa-siapa yang
menghindari perkara-perkara syubhat berarti ia membebaskan diri demi agama
dan kehormatannya. Dan siapa-siapa yang terjerumus kepada yang haram
bagaikan seorang pengembala yang bergembala diperbatasan tempat yang
dilarang dan ia hamper melanggar. Ketahuilah bahwa setiap milik itu ada
batasannya, dan ketahuilah bahwa batasan Allah ialah perkara-perkara yang
diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu terdapat segumpal daging
yang jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, tetapi jika rusak maka rusaklah
keadaan seluruh tubuh. Ketahuilah, dia itu adalah hati (H.R. Muslim).
Seseorang yang sakit dapat menggunakan obat yang haram jika saat itu
tidak terdapat alternatif lain. Penggunaan obat yang haram dalam keadaan darurat
tidak boleh berlebihan, tetapi seperlunya saja. Sementara yang berhak menilai
keadaan darurat seseorang adalah tenaga ahli yang memiliki kompetensi dan
mengetahui persis kondisi pasien, pribadi bersangkutan yang merasakan

penderitaan sakitnya dan pemerintah berwenang untuk kondisi darurat yang


menangkut kepentingan umum.
Kondisi darurat adalah respon reaktif yang bisa menjadi landasan
penentuan hukum ketika manusia berada dalam kondisi terdesak. Sayangnya
status darurat ini sering menjadi tempat berlindung para praktisi kesehatan ketika
berhadapan dengan pasien. Secara filosofis kondisi kedaruratan obat tidak harus
terjadi manakala ilmuwan muslim di dunia pengobatan memiliki cara pandang
tentang pentingnya mengusahakan produk farmasi yang halal. Karena pada
dasarnya masih banyak alternatif bahan obat yang halal yang belum diusahakan
pengadaannya. Segala yang berasal dari haram semuanya dinilai haram. Tujuan
atau niat tidak menghalalkan cara atau proses. Namun perlu cerdas dan arif
dalam menilai status kedaruratan suatu kondisi, dimana dinilai oleh yang memiliki
wewenang dan keilmuan terkait itu. Jadi, diperlukan peran semua pihak untuk
mengusahakan pengadaan serta penggunaan produk yang halal dan toyib (baik).

BAB III
PENUTUP

3.1Simpulan
a) Islam mengajarkan dalam mencapai kesembuhan diperlukan usaha
seoptimal .mungkin dengan menegaskan bahwa untuk setiap penyakit telah
disediakan obatnya sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Usamah r.a
b) Contoh pengobatan yang dicontohkan dalam Al-Quran dan Nabi SAW
adalah Kurma, Habbatus saudah, Madu dan Zaitun.
c) Dalam etika farmasi, para farmasis memiliki kewajiban untuk melindungi
pasien dari kerugian akibat kesalahan pemakaian obat yang merugikan.

DAFTAR PUSTAKA
An-Nawawi, 2007, Terjemah Hadits Arbain: An-Nawawiyah, Cetakan V,
Penerjemah: Tim Sholahuddin, Jakarta: Sholahuddin Press.
Departemen Agama RI, 2005, Al Quran dan Terjemahannya, PT. Syamil Cipta
Media, Indonesia.
Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 1996, UndangUndang Republik Indonesia Nomor: 7 tahun 1996 Tentang Pangan,
DirJen Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
Wasito, H. dan D. Herawati, 2008, Etika Farmasi dalam Islam, Yogyakarta: Graha
Ilmu.