Anda di halaman 1dari 41

4.

TIPE DAN PEMILIHAN BAHAN KEMAS

4.1

PENDAHULUAN
Kemasan adalah salah satu komponen penting dari bentuk sediaan farmasi.

Menurut ketentuan yang berlaku di seluruh dunia, pengujian stabilitas sediaan


farmasi harus dilakukan dalam kemasan akhir yang akan dipasarkan. Kemasan
terdiri dari bermacam material (gelas, logam, plastik, material multi lapis, karet
dan elstomer sintetik) yang tidak selalu inert terhadap obat yang dikemas, karena
secara sederhana dapat menyebabkan terjadinya adsorpsi dan desorpsi dari
pengemas

menuju

obat

disamping

kemungkinan

terjadinya

interaksi.

(Tsffaunsoed. 2012)
Pengemasan merupakan sistem yang terkoordinasi untuk menyiapkan
barang menjadi siap untuk ditransportasikan, didistribusikan, disimpan, dijual, dan
dipakai. Adanya wadah atau pembungkus dapat membantu mencegah atau
mengurangi kerusakan, melindungi produk yang ada di dalamnya, melindungi
dari bahaya pencemaran serta gangguan fisik (gesekan, benturan, getaran). Di
samping itu pengemasan berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan
atau produk industriagar mempunyai bentuk-bentuk yang memudahkan dalam
penyimpanan, pengangkutan dan distribusi termasuk produk sediaan farmasi.
(Tsffaunsoed. 2012)
Tahap pengemasan adalah tahapan yang penting untuk produk sediaan
farmasi agar produk tersebut terlihat bagus dan menarik. Menurut Peraturan
perundang-undangan nomor 72 tahun 1998 tentang pengamanan sediaan farmasi
dan alat kesehatan Bab. VI yang mengatur tentang kemasan sediaan farmasi dan
alat kesehatan, pasal 1 ayat 6 yang berbunyi kemasan sediaan farmasi dan alat
kesehatan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi atau membungkus
sediaan farmasi dan alat kesehatan baik yang bersentuhan langsung ataupun tidak.
Dan pasal 24 ayat 1 yang berbunyi pengemasan sediaan farmasi dan alat
kesehatan dilaksanakan dengan menggunakan bahan kemasan yang tidak
membahayakan kesehatan manusia dan/atau dapat mempengaruhi berubahnya

persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan sediaan farmasi dan alat kesehatan.
(Tsffaunsoed. 2012)

4.2

PENGEMASAN TRADISIONAL
Ragam kemasan makanan tradisional yang sering dijumpai seperti kemasan

dengan menggunakan daun pisang, kelobot jagung (pelepah daun jagung), daun
kelapa/enau (aren), daun jambu air dan daun jati. Cara pengemasannyapun
dilakukan dengan berbagai macam cara seperti dapat dilihat dalam Tabel berikut:
Cara mengemas
Menggulung

Bahan kemasan
Daun

pisang

Daun

bambu

Daun/kelobot jagung
Merobek
Membalut dengan pembalut

Daun

pisang

Daun jambu
Daun

pisang

Daun kelapa

Menganyam
Daun kelapa
Pengemasan, diatas bertujuan untuk melindungi makanan dari kerusakan,
juga merupakan daya pikat-bagi orang agar terpesona untuk menikmatinya.
(Imatetani. 2010)
4.3

PERSYARATAN BAHAN KEMAS


Dalam menentukan fungsi perlindungan dari pengemasan, maka perlu

dipertimbangkan aspek-aspek mutu produk yang akan dilindungi. Mutu produk


ketika mencapai konsumen tergantung pada kondisi bahan mentah, metode
pengolahan dan kondisi penyimpanan. Dengan demikian fungsi kemasan harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Kemampuan/daya membungkus yang baik untuk memudahkan dalam


penanganan,

pengangkutan,

distribusi,

penyimpanan

dan

penyusunan/

penumpukan.
Kemampuan melindungi isinya dari berbagai risiko dari luar, misalnya
perlindungan dari udara panas/dingin, sinar/cahaya matahari, bau asing,
benturan/tekanan mekanis, kontaminasi mikroorganisme.
Kemampuan sebagai daya tarik terhadap konsumen. Dalam hal ini
identifikasi, informasi dan penampilan seperti bentuk, warna dan keindahan bahan
kemasan harus mendapatkan perhatian.
Persyaratan ekonomi, artinya kemampuan dalam memenuhi keinginan
pasar, sasaran masyarakat dan tempat tujuan pemesan.
Mempunyai ukuran, bentuk dan bobot yang sesuai dengan norma atau
standar yang ada, mudah dibuang, dan mudah dibentuk atau dicetak.
Dengan adanya persyaratan yang harus dipenuhi kemasan tersebut maka
kesalahan dalam hal memilih bahan baku kemasan, kesalahan memilih desain
kemasan dan kesalahan dalam memilih jenis kemasan, dapat diminimalisasi.
Untuk memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut maka kemasan harus memiliki
sifat-sifat :
-

Permeabel terhadap udara (oksigen dan gas lainnya).


Bersifat non-toksik dan inert (tidak bereaksi dan menyebabkan reaksi kimia)
sehingga dapat mempertahankan warna, aroma, dan cita rasa produk yang

dikemas.
Kedap air (mampu menahan air atau kelembaban udara sekitarnya).
Kuat dan tidak mudah bocor.
Relatif tahan terhadap panas.
Mudah dikerjakan secara massal dan harganya relatif murah. (Aswin M. 2008)

4.4

PERSYARATAN DARI SUATU PENGEMASAN

1.

Kemasan harus bisa mewadahi produk


Bentuk fisik dari suatu bahan kemasan, harus didesain sedemikian rupa agar

mudah diisi, dan memenuhi persyaratan hokum dan ekonomi serta dapat ditutup
secara efektif. Kemasan yang dikapalkan dalam fungsi sebagai pengemasan luar

agar dimensinya konsisten sesudah diwadahi dan dikemas agar selama pengapalan
tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Penambahan bahan promosi ataupun bahan suplemen lainnya perlu
diwaspadai agar tidak terjadi bentuk yang kurang menarik. Pengisian kedalam
wadah harus diperhatikan jangan sampai terjadi terlalu penuh ataupun kurang.
Bahan kemasan harus didesain, mampu menahan tekanan maupun vibrasi selama
dalam perjalanan.
Pengisian bahan yang agak berdebu, seringkali membuat masalah pada
pengisian dan penutupan wadah, sehingga bahan ataupun media adhesive,
haruslah dipilih secara selektif. Melalui bahan pengemasan dan produk tertentu
bisa terjadi muatan elektrastatik dalam melengkapi static elimination pada mesin
pengemasan.
Produk cair yang dikemas, umumnya memiliki berat jenis yang bervariasi,
viscositas, penguapan, serta pembentukan gelombang udara dan sebagainya.
Akibat dari adanya fenomena tersebut perlu diwaspadai agar diperoleh hasil yang
optimal dalam proses pengemasan, baik wadah kemasan maupun mesin
pengemasan didesain spesifik. Sifat stretching dari material tertentu, agar
diperhatikan dalam perencanaan, misalnya dalam proses produk barang dari
polyethilen film. Untuk pekerjaan shrink film diperlukan alat khusus untuk
pengaplikasiannya. (Direktorat Jenderal Industri Dan Dagang Kecil Menengah
Departemen Perindustrian Dan Perdagangan. 2003)
2.

Kemasan harus bisa melindungi produk


Keadaan lingkungan seperti suhu yang tinggi dan rendah, maupun humidity

yang tinggi rendah, bisa menyebabkan kegagalan terhadap fungsi kemasan secara
efektif. Humidity yang tinggi bisa melemahkan kekuatan dari corrugated box dan
bisa juga menyebabkan lepasnya ikatan/kelengketan dari beberapa adhesive.
Stabilitas dimensi dari film pada umumnya sangat terbatas pada suhu yang
maximal.
Dibidang industri, kemasan harus diseal rapat dengan produk didalamnya,
dapat bertahan terhadap panas, goncangan serta tekanan yang diberlakukan. Seal
harus tetap efektif selama berlakunya produk yang mewadahi. Bahan kemasan
harus mampu menahan tekanan proses distribusi, transparansi dan handling.

Penggunaan bahan yang tepat dan didesain yang sesuai akan memperkecil
kemungkinan kerusakan.
Daya tahan tehadap thermal shock, untuk industri tertentu harus
diperhitungkan sebagai contoh dalam pasteurisasi produk retort serta pendinginan
cepat pada produk can. Kemasan harus didesain untuk bisa menghindari
terjadinya pengrusakan ataupun pencurian, selama proses distribusi. Disainnya
sedemikian rupa dapat memenuhi fungsinya dan tidak berbahaya bagi konsumen.
Dapat disimpulkan bahwa proteksi tersebut meliputi proses produk yang
bersangkutan selama transit, pergudangan, retail sale, dan yang terpenting selama
digunakan oleh konsumen.
Proteksi diperlukan juga terhadap kondisi udara, pencurian, cahaya, panas,
serta akibat kerusakan mekanis.
Dalam keadaan tertentu diperlukan pula proteksi terhadap serangga, dan
micro organics lainnya. Efek dari fabrikasi, menyebabkan kelemahan pada bagian
tertentu dari bahan kemasan, seperti creasing dari bag, kelemahan bagain film
yang berdekatan dengan seal line, perforasi pada karton, tear strips pada kemas
corrugated box, bahu dari blown bottle dan sebagainya. Kemasan perlu ditest pada
bagian yang lemah. Kerusakan oleh lingkungan, umumnya disebabkan karena
sempurna barrier propertisi dari kemasan.
Material yang digunakan harus mampu menahan keluarnya uap air
kedalam kemasan. Untuk material tertentu, penetrasi dari uap air masih ditoleransi
pada keadaan tertentu, tetapi menghambat penetrasi gas ataupun bahan yang
mudah menguap. Glass dan logam praktis tak dapat dipenetrasi oleh gas maupun
uap air, tetapi dalam praktek seringkali sifat tersebut bisa diperoleh melalui
kombinasi material fleksible (kemasan fleksibel). (Direktorat Jenderal Industri
Dan Dagang Kecil Menengah Departemen Perindustrian Dan Perdagangan. 2003)
3.

Kemasan harus bisa menjual produk


Yang terutama, kemasan harus bisa menunjukkan identitas dari produk.

Sistim distribusi serta teknik perdagangan yang modern mempersayratkan agar


produk bisa diidentifikasikan dalam sekilas pandang. Informasi yang diharapkan
bisa ditampilkan kemasan adlah sebagai berikut :
-

Deskripsi singkat dari produk

Indentitas brand name


Nama dagang
Perusahaan, logo dan nama produsen
Isi, berat atau volume
Petunjuk pemakaian
Ilustrasi yang menggambarkan produk
Harga
Ukuran atau unit kuantitas per package adalah hal yang perlu diperhatikan.

Hasil riset pemasaran merupakan hal yang menentukan tentang ukuran yang dapat
memenuhi keinginan pelanggan. Ukuran pengemasan untuk transparansi harus
disesuaikan dengan pola distribusi.
Ukuran untuk kepentingan transportasi jangan terlalu berat, untuk keamanan
dan kemudahan dalam handling. Disamping indentifikasi dasar, kemasan harus
bisa menarik perhatian konsumen untuk membeli. Kemasan harus merupakan
rantai terakhir dalam kegiatan iklan dan display dan harus bisa bermakna pesan
promosi.
Merupakan hal yang penting juga adalah hasil pemotretan kemasa, yang
bisa digunakan menjadi media iklan yang efektif. Bentuk dan dimensi harus
dirancang secara teliti untuk bisa di display dengan baik, penempatan dalam
shopping bag serta penyimpanan ditempat konsumen. Kemasan agar bisa
mewakili produk secara keseluruhan. Barang yang murah supaya diwadahi
kemasan yang ekonomis, sedang barang yang berkualitas tinggi, menggunakan
kemasan prestige.
Transparansi material, dapat digunakan untuk produk yang menarik, agar
mudah diidentifikasikan oleh konsumen. Sales appeal, menjadi hal yang penting,
bahkan menjadi lebih penting karena dengan meningkatnya supermarket dan toko
swalayan. (Direktorat Jenderal Industri Dan Dagang Kecil Menengah Departemen
Perindustrian Dan Perdagangan. 2003)
4.

Biaya yang minimal secara keseluruhan


Biaya kemasan yang minimal secara keseluruhan tidak hanya mencakup

biaya kemasan saja. Waktu, biaya kerja, biaya material, dan biaya transportasi
adalah keseluruhan yang mencakup over all cost.
Disamping itu termasuk biaya dari produk yang gagal mencapai tujuan
dalam kondisi memuaskan akibat kemasan yang tidak efektif. Sebagai contoh

dalam pengepakan dan pengangkutan dari barang keramik. Bisa saja nilai
kerusakan yan terjadi, bisa melampaui biaya yang dihemat karena tidak
menggunakan kemasan yang tidak semestinya.
Penggunaan bahan kemasan yang berlebihan tidak juga disarankan, karena
akan meningkatkan biaya. Tetapi selanjutnya penggunaan bahan kemasan yang
tidak memadai akan merugikan, karena produk yang diwadahi bisa rusak dalam
pengangkutan dan penyimpanan.
Bila produk tersebut sudah sampai ke tangan konsumen dan terjadi hal
tersebut,

akan

merusak

citra

dari

produk

dan

perusahaan

yang

bersangkutan. (Direktorat Jenderal Industri Dan Dagang Kecil Menengah


Departemen Perindustrian Dan Perdagangan. 2003)
4.5

PRINSIP PENGEMASAN
Banyak prinsip yang diterapkan terhadap pengemasan, yang kemudian dapat

diartikan pada beberapa fungsi dan aplikasi. Prinsip atau yang dapat kita garis
bawahi adalah :
Pengemasan dapat dianggap sebagai suatu bagian dari proses produktif dan
aspek ekonomi dari produksi dan tidak bisa hanya dianggap hanyalah sebagai
suatu kegiatan produksi saja, tapi harus memperhatikan juga kegiatan operasi
lainnya yang diperlukan sebelum produk sampai kepada pelanggan. Hanya
dengan cara ini keseimbangan antara beberapa factor yang diperlukan yang
terkadang saling berlawanan dapat dicapai.
Prinsip ini harus diselesaikan dan dicapai untuk bisa mendapatkan nilai
tambah, yang diharapkan. Pengemasan untuk produk baru, harus dipikirkan dan
dianalisa sedini mungkin adalah terbaik pada tahap mendesain produk yang akan
dipasarkan.
Bahkan seringkali, proses pemikiran tentang pengemasan, termasuk kreasi
atau type baru bahan kemasan, dianggap sebagai masalah yang terpisah dari
proses produksi. Hal ini merupakan anggapan yang tidak tepat, dan seharusnya
masalah pengemasan tersebut, harus diintegrasikan dalam proses produksi dan

kegiatan lainnya termasuk pemasaran, untuk mendapatkan hasil yang optimal


dalam kegiatan bisnis.
Banyak contoh terjadinya hal yang tidak diinginkan akibat cara berpikir
yang demikian tersebut. Salah satu contoh dapat kami kemukakan dalam
penempatan salah satu cairan pestisida untuk pertanian untuk keperluan pertanian.
Kebetulan bahan utama dari produk tersebut bisa dilarutkan pada beberapa solven.
Dan tentunya pilihan utama jatuh pada pelarut yang termurah.
Dalam hal ini kemudian bahan kemasannya dipilih, dan pilihannya jatuh
pada kemas kaleng, karena kemasan ini cukup kuat, dan dapat diangkut pada jarak
jauh, dan tidak kuatir rusak. Kemudian ditemukan banyak komplain, bahwa
produk tersebut menyebabkan karatan pada kaleng, dan menimbulkan masalah
pada pelanggan.
Oleh karena produk tersebut juga bersifat racun, sedangkan jalan yang
dilalui produk tersebut dalam pengangkutan agak jelek, penggunaan wadah dari
gelas cukup punya resiko, dan disarankan untuk menggunakan kemasan dari
plastik.
Kemudian ditemukan bahwa beberapa plastik tertentu tidak kompatibel
dengan solven yang digunakan, karena akan terjadi peresapan dari solven terhadap
plastik, hingga terjadi kebocoran. Perlu dicari plastik yang tahan terhadap
peresapan solven tentunya dengan harga yang optimal.
Terlihat disini bahwa untuk mendapatkan hasil yang optimal, persoalan
pengemasan harus direncanakan sejak awal kegiatan. Dalam konteks yang
berbeda, bisa diambil contoh tentang alat listrik dan mekanik, yang seringkali
memberikan kesulitan pada packaging disainer, untuk merancang bahan
kemasannya.
Tetapi bila perencanaan pengemasan, sudah dipikirkan sejak awal, pada
saat rancang bangun, dengan demikian penempatan produk bisa disesuaikan dan
bahan kemasan yang diperlukan menjadi sederhana, murah dan memuaskan. Bila
merencanakan untuk merubah kemasan yang ada dan mengembangkan kearah
kemasan yang baru, semua aspek dari produksi harus ditinjau. Dan diadaptasikan
semua kebtuhan pada kemasan baru tersebut.

Proses produksi harus dipelajari secara keseluruhan, dari semua hal yang
kritis perlu diperhatikan, agar tidak terjadi hambatan. Termasuk yang perlu
mendapat perhatian adalah jalur pekerjaan layout, work flow dan metoda
pekerjaan.
Informasi yang diperoleh, dibandingkan dengan keperluan. Hasil dari
analisa yang dikoordinasikan, adalah esensial untuk menyederhanakan proses
produksi, pemilihan bahan kemasan dan over wrap ataupun merubah type bahan
baku yang digunakan dalam kemasan.
Meskipun masalah kemasan harus dianggap sebagai hal yang penting tetapi
jangan terlalu dibesar-besarkan. Harus diingat bahwa produsen bukanlah untuk
menjual kemasan. Meskipun sector pengemasan tersebut adalah penting, tetapi
akan menambah biaya pada produksi dan sebaiknya semurah mungkin dan
sesederhana mungkin. Pengemasan yang berlebihan agar dihindari dan sebaliknya
pengemasan yang tidak memenuhi syarat, tidak juga diharapkan. Semua data dan
fakta yang penting dan tersedia, harus diperhatikan sebelum kemasan yang efektif
didisain. Dapat disimpulkan bahwa hal yang perlu dimasukkan dalam
perhitungan, terutama :

1. Fakta tentang produk


2. Fakta tentang cara distribusi
3. Pemikiran tentang pemasaran
Fakta mengenai produk, termasuk hal yang berpengaruh terhadap kestabilan
produk dan cara proteksi yang diperlukan, agar tidak terjadi kerusakan produk.
Dalam konteks kerusakan produk, termasuk didalamnya kerusakan yang
diakibatkan uap air, gas oksigen, karena sifatnya yang merusak akan menentukan
proteksi yang diperlukan.
Selanjutnya yang juga berpengaruh adalah bentuk fisik dari produk gas,
liquid, padat, pasta dan lain-lain, dan sifat yang korosif, mudah menguap atau
secara kimia aktif dalam kondisi tertentu akan bersenyawa dengan produk lain.
Aspek pemasaran perlu diperhatikan juga, bagaimana unit dari sale, sedang untuk
consumer goods dan engineering item, berat dari produk mendapat perhatian.
Factor tentang metode distribusi harus dikaitkan tentang hambatan yang

kemungkinan akan ditemukan pada setiap tahap dari perjalanan produk dari
pabrik sampai kepada konsumen terakhir.
Sebagai tambahan perlu diperhatikan hambatan dalam distribusi dan agar
perhatian harus ditekankan pada keperluan pada setiap tahap, misalnya apakah
produk tersebut diatur dalam palet atau akan diatur secara bertumpuk baik dalam
gudang maupun dalam transportasi.
Factor pemasaran, termasuk didalamnya citra yang bisa diberikan oleh produk,
type dari penjualan eceran, harga dari produk secara keseluruhan yang diharapkan
bisa dijual.
Factor lainnya adalah, identifikasi produk, cara pemakaian dan pack disain. Dari
uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Kemasan harus dapat menjual apa yang diproteksinya, dan selanjutnya


harus memproteksi apa yang akan dijual.

2. Kemasan mencakup :

Proteksi terhadap produk

Biaya minimum secara menyeluruh

Sales appeal

3. Kemasan yang efektif harus mencakup :

Produk

Distribusi

Aspek pemasaran
Dari uraian diatas terlihat adanya tekanan dari beberapa aspek dan

kepentingan terhadap kemasan. Hal tersebut merupakan prinsip umum yang perlu
ditaati. Selanjutnya perlu didalami lagi apa yang dapat dicapai melalui
pengemasan yang efektif. (Direktorat Jenderal Industri Dan Dagang Kecil
Menengah Departemen Perindustrian Dan Perdagangan. 2003)
4.6 KLASIFIKASI KEMASAN
A. KEMASAN PRIMER

Kemasan yang langsung mewadahi atau membungkus bahan yang


dikemas.

Misalnya kaleng susu, botol minuman, strip/blister, ampul, vial dan lainlain.

B. KEMASAN SEKUNDER

Kemasan yang fungsi utamanya melindungi kelompok-kelompok kemasan


lain.

Misalnya kotak karton untuk wadah susu dalam kaleng, kotak karton
untuk wadah strip obat dan sebagainya.

C. KEMASAN TERSIER

Kemasan untuk mengemas setelah kemasan primer, sekunder. Kemasan ini


digunakan untuk pelindung selama pengangkutan.

Misalnya botol yang sudah dibungkus, dimasukkan ke dalam kardus


kemudian dimasukkan ke dalam kotak dan setelah itu ke dalam peti
kemas. (Tsffaunsoed. 2012)

4.7

PENGGOLONGAN BAHAN KEMAS


Kemasan dapat digolongkan berdasarkan berbagai hal antara lain : frekuensi

pemakaian, struktur sistem kemasan,sifat kekakuan bahan kemas, sifat


perlindungan terhadap lingkungan, dan tingkat kesiapan pakai (Iskandar,1987)
1. Frekuensi pemakaian ;
a.

Kemasan sekali pakai (disposable),yaitu kemasan yang langsung dibuang


setelah dipakai (bungkus permen,bungkus daun)

b.

Kemasan yang dapat dipakai berulang kali (multi trip),yaitu kemasan yang
dikembalikan pada penjual setelah dipakai (beberapa jenis botol minuman)

c.

Kemasan

yang

tidak

dibuang

atau

dikembalikan

(semi

disposible),kemasan tersebut biasanya digunakan untuk keperluan lain


setelah dipakai (kaleng susu). (Ceppi Kersani. 2011)
2. Struktur sistem kemas;

a.

Kemasan primer,yaitu kemasan yang langsung mewadahi bahan (kaleng


susu, botol minuman,bungkus tempe)

b.

Kemasan sekunder ,yaitu kemasan yang fungsi utamanya melindungi


kemsan primer (kotak karton,keranjang tempe)

c.

Kemasan tersier,kuarter,dst,yaitu apabila diperlukan lagi pengemasan


setelah kemasan primer dan sekunder. (Ceppi Kersani. 2011)

3. Sifat kekakuan bahan kemas ;


a.

Kemasan fleksibel,yaitu bila bahan kemas mudah dilenturkan tanpa


adanya retak atau patah plastik,kertas,foil)

b.

Kemasan kaku,yaitu bila bahan kemas bersifat keras,kaku,tidak tahan


lenturan(kayu,gelas,logam)

c.

Kemasan semi kaku atau semi fleksibel,yaitu bahan kemas yang memiliki
sifat-sifat antara kemasan fleksibel dan kemasan kaku (botol plastik).
(Ceppi Kersani. 2011)

4. Sifat perlindungan terhadap lingkungan;


a.

Kemasan hermitis (tahan uap dan gas),yaitu kemasan yang secara


sempurna tidak dapat dilalui oleh gas,udara dan uap air (kaleng dan botol
gelas).

b.

Kemasan tahan cahaya,yaitu kemasan yang tidak bersifat transparan


(logam,kertas,foil)

c.

Kemasan

tahan

suhu

tinggi,kemasan

yang

tahan

terhadapproses

pemanasan (logam dan gelas). (Ceppi Kersani. 2011)


5. Tingkat kesiapan pakai;
a.

Kemasan siap pakai, yaitu bahan kemas yang siap untuk diisi dengan
bentuk yang telah sempurna sejak keluar dari pabrik (botol, kaleng)

b.

Kemasan siap dirakit atau disebut juga kemasan, yaitu kemasan yang
masih memerlukan tahap perakitan sebelum pengisian (lempengan
logam,kertas,foil atau plastik). (Ceppi Kersani. 2011)

4.8 INFORMASI PENTING PADA KEMASAN

1.

Nama Dagang
Nama

dagang

adalah

nama

obat

yang

biasanya

dituliskan

paling menyolok di kemasan obat. Nama obat ini adalah nama yang diberikan
oleh industri farmasi sebagai salah satu identitas produknya atau dengan
istilah lain merupakan merk dagang produk. (Dwiput. 2011)
2.

Nama Generik
Nama generik adalah suatu nama resmi zat obat yang telah ditetapkan
dalam farmakope dan dalam Permenkes No. 524 tahun 2005. Nama generik
ini harus tercantum dengan ukuran huruf 80% dari nama dagang dan
dicantumkan tepat dibawah nama dagang.
Contoh dari nama generik antara lain: paracetamol, chlorpheniramine
maleat (CTM), asam mefenamat, amoksisilin, guafenesin, dexamethason, dan
cefadroxil. (Dwiput. 2011)

3.

Bentuk sediaan
Bentuk sediaan adalah bentuk obat itu sendiri, ada tablet, kapsul, kaplet,
sirop, eliksir, suspensi, krim, gel, dan suppositoria. Biasanya informasi
tentang bentuk sediaan ini tertulis sebagai berikut:

4 tablet

4 kaplet salut gula

Untuk bentuk sediaan larutan (sirop, suspensi, atau eliksir) biasanya


tertulis di bawah nama dagang obat (tapi tidak semua). (Dwiput. 2011)

4.

Tanda khusus untuk obat


Tanda khusus ini harus tercantum dan telah diatur sejak lama dengan SK
Menkes No.2380 tahun 1983. Tanda ini berupa lingkaran berwarna sesuai
dengan golongan obatnya.

Obat Bebas

5.

Obat Bebas Terbatas

Obat Keras

Psikotropi
ka

Komposisi
Komposisi yang tercantum pada kemasan obat adalah komposisi zat zat
yang berkhasiat. Karena itu komposisi yang tercantum pada kemasan obat
lebih sedikit daripada komposisi pada kemasan produk makanan yang juga
mencantumkan zat zat tambahan yang digunakan. Ada juga pengecualian
untuk beberapa bahan yang harus tampil pada komposisi obat, contohnya
adalah alkohol dan lagi lagi pencantuman ini sudah diatur, yaitu dalam SK
KBPOM No.131 tahun 2003. (Dwiput. 2011)

6.

Indikasi
Istilah indikasi diartikan sebagai tanda atau keadaan yang menunjukkan
atau menggambarkan penyebab, patologi, pengobatan, atau serangan
penyakit. Dengan kata lain, indikasi pada kemasan obat dapat diartikan
sebagai petunjuk kondisi kondisi dimana tubuh membutuhkan terapi
menggunakan obat tersebut. (Dwiput. 2011)

7.

Kontraindikasi
Dari kata kontra tentu saja dapat ditangkap makna yang berkebalikan
dengan indikasi. Kontraindikasi yang dituliskan pada kemasan obat

merupakan petunjuk kondisi kondisi dimana penggunaan obat tersebut tidak


tepat atau tidak dikehendaki. (Dwiput. 2011)
8.

Efek Samping
Efek samping yang dituliskan pada kemasan obat adalah suatu keadaan
yang bisa saja terjadi pada saat penggunaan obat dalam rentang dosis terapi.
Namun jangan salah paham dulu ketika membaca efek samping obat yang
akan dikonsumsi. Efek efek yang disebutkan pada kemasan bisa saja
muncul ketika kita mengkonsumsi obat tersebut. Ada efek samping yang
umum dialami ketika mengonsumsi obat tertentu, ada juga yang jarang terjadi
atau hanya terjadi pada beberapa orang saja. (Dwiput. 2011)

9.

Interaksi Obat
Interaksi obat merupakan suatu keadaan dimana efek obat berubah dengan
adanya penggunaan obat lain, makanan, minuman, atau zat kimia di
lingkungan. Informasi tentang interaksi obat di kemasan obat biasanya
menuliskan apa apa saja yang mempengaruhi efek obat tersebut. (Dwiput.
2011)

10. Cara Kerja Obat


Cara kerja obat yang dituliskan berkaitan dengan efek farmakologi obat,
yaitu suatu kerja obat dalam tubuh. Istilah istilah yang tertulis pada bagian
ini bermacam macam, ada yang mudah dimengerti, adapula yang
menggunakan istilah medis, seperti analgesik, antasida, dekongestan, laksatif
dan masih banyak lagi. (Dwiput. 2011)

11. Aturan Pakai

Aturan pakai menginformasikan tentang penggunaan obat. Aturan pakai


ini tidak sama dengan dosis. Dosis adalah sejumlah (dalam satuan bobot) obat
yang harus digunakan untuk suatu keadaan sakit tertentu.
Aturan pakai biasanya dituliskan sebagai berikut: (Dwiput. 2011)
1 kapsul 3 kali sehari atau ada pula yang menuliskannya 3 kali sehari 1
kapsul.
12. Peringatan
Untuk obat obat tanda biru pada kemasannya juga harus dilengkapi
dengan tanda peringatan obat, sesuai yang diatur dalam SK Menkes Nomor
6355 tahun 1969. Ada 6 jenis tanda peringatan sebagai berikut:

image by: http://phi1ipbl0g.wordpress.com/2010/05/19/


13. Nomor Batch/Lot
Nomor ini merupakan suatu identitas produksi yang diberikan oleh industri
farmasi terhadap suatu obat dalam satu satuan produksi. (Dwiput. 2011)

14. Nomor Registrasi


Nomor registrasi adalah nomor yang diberikan sebagai tanda obat telah
terdaftar di BPOM dan mendapat izin edar. (Dwiput. 2011)

15. Nama dan Alamat Industri Farmasi


Nama dan Alamat Industri Farmasi dituliskan sebagai identitas industri
yang memproduksi obat. (Dwiput. 2011)
16. Tanggal Kadaluwarsa
Tanggal kadaluwarsa merupakan istilah yang umum digunakan untuk
menunjukkan suatu waktu dimana produk sudah selayaknya tidak digunakan
lagi. Biasanya pada kemasan obat akan tertulis sebagai Exp. Date. Jangan
tertukar dengan Mfg. Date Karena Mfg. Date adalahmanufacturing date,
yaitu tanggal dimana obat tersebut diproduksi. (Dwiput. 2011)

4.9

FUNGSI DAN PERANAN KEMASAN


Fungsi paling mendasar dari kemasan adalah untuk mewadahi dan

melindungi produk dari kerusakan-kerusakan, sehingga lebih mudah disimpan,


diangkut dan dipasarkan. Secara umum fungsi pengemasan pada bahan pangan
adalah :
1. Mewadahi produk selama distribusi dari produsen hingga kekonsumen,
agar produk tidak tercecer, terutama untuk cairan, pasta atau butiran
2. Melindungi dan mengawetkan produk, seperti melindungi dari sinar
ultraviolet, panas, kelembaban udara, oksigen, benturan, kontaminasi dari
kotoran dan mikroba yang dapat merusak dan menurunkan mutu produk.

3. Sebagai identitas produk, dalam hal ini kemasan dapat digunakan sebagai
alat komunikasi dan informasi kepada konsumen melalui label yang terdapat
pada kemasan.
4. Meningkatkan efisiensi, misalnya : memudahkan penghitungan (satu kemasan
berisi 10, 1 lusin, 1 gross dan sebagainya), memudahkan pengiriman dan
penyimpanan. Hal ini penting dalam dunia perdagangan..
5. Melindungi pengaruh buruk dari luar, Melindungi pengaruh buruk dari
produk di dalamnya, misalnya jika produk yang dikemas berupa produk yang
berbau tajam, atau produk berbahaya seperti air keras, gas beracun dan produk
yang dapat menularkan warna, maka dengan mengemas produk ini dapat
melindungi produk-produk lain di sekitarnya (Tritama Kalista. 2015)
4.10 HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PROSES
PENGEMASAN:
1. Harus selalu mengikuti dan mematuhi prosedur tertulis yang sudah dibuat.
2. Harus selalu mengikuti dan menjalankan in process control.
3. Pra penandaan pada bahan pengemas harus selalu dilakukan.
4. Sebelum melakukan pengemasan, kesiapan jalur pengemasan harus selalu
diperiksa.
5. Hanya obat yang berasal dari satu batch saja yang boleh ditempatkan dalam
satu palet.
6. Produk yang rupa dan bentuknya sama tidak boleh dikemas pada jalur yang
berdampingan.
7. Pada jalur pengemasan, nama dan nomer batch harus terlihat jelas.
8. Produk antara dan produk jadi yang masih dalam proses pengemasan harus
selalu diberi label identitas dan jumlah.
9. Produk yang telah diisikan kedalam wadah akhir tapi belum diberi label,
harus dipisah dan diberi tanda.
10. Peralatan pengemasan tidak boleh bersentuhan langsung dengan produk.
11. Bahan untuk pengemasan seperti: pelincir, perekat, tinta, cairan pembersih,
ditempatkan dalam wadah berbeda dari wadah untuk produk (Kurniawan,
2012). (Kurniawan.2012)

4.11 JENIS-JENIS BAHAN PENGEMAS


1. Untuk wadah utama (pengemas yang berhubungan langsung dengan bahan
pangan) :

Kaleng/logam

Botol/gelas

Plastik

Kertas

Kain

Kulit, daun, gerabah, bambu, dll

2. Untuk wadah luar (pelindung wadah utama selama distribusi, penjualan, atau
penyimpanan) :

1.

Kayu

Karton

Gelas
Sebagai bahan kemas gelas mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan

seperti inert (tidak bereaksi) kuat, tahan terhadap kerusakan,sangat baik


sebagaibarier terhadap benda padat,cair dan gas. Sifat gelas yang transparan
menguntungkan

dari

segi

promosi

disamping

itu

beberapajenis

gelas

seperti pyrextahan terhadap suhu yang tinggi. Kelemahan kemasan gelas yaitu
mudah pecah dankurang baik bagi produk-produk yang peka terhadap penyinaran
(ultra violet).

Terbuat dari campuran pasir C2O, soda abu, dan alumina.

Bersifat inert (tidak bereaksi dengan bahan pangan)

Kuat (tahan terhadap kerusakan akibat pengaruh waktu)

Transparan (bentuk dan warna bahan pangan dapat dilihat).

Kelemahannya adalah mudah pecah, tidak dapat digunakan untuk bahan


pangan yang peka terhadap sinar.

Agar tidak mudah pecah sebaiknya bagian permukaan gelas dilapisi


dengan lilin (wax) dan silika yang halus.

Kemasan gelas berkembang terus, mulai dari bejana sederhana hingga


berbagai bentuk kemasan yang sangat menarik walaupun kemasan gelas terus
bersaing dengan bahan kemasan lainnya.
Menurut Hanlon (1971),gelas bukan merupakan bahan kristal,sehingga lebih
tepat disebut cairan beku. Dalam proses pembuatannya bahan gelas mengalami
proses annelling pada suhu 540 - 570 C. Penggunaan bahan gelas untuk bahan
pangan yang memerlukan pasteurisasi dan sterilisasi sangat tepat.
Dalam proses pengemasan dengan menggunakan kemasan gelas dalam bentuk
botol, kegiatan menutup atau menyumbat botol merupakan satu bagian yang
penting dan perlu mendapat perhatian. Bagian penutup atau tutup botol
merupakan bagian yang terlemah dari sistem perlindungan terhadap gangguan
atau pencemaran dari luar,karena cara penutupan dan jenis/bahan penutup yang
kurang tepat dapat menyebabkan pencemaran dan kerusakan bahan yang dikemas.
Bahan bahan yang umum digunakan untuk menutup adalah logam (kaleng ),
aluminium, gabus dan berbagai jenis plastik. (Ceppi Kersani. 2011)
2.

Kertas
Selain untuk media komunikasi atau media cetak, kertas digunakan menjadi

bahan pengemas.Pada abad ke 19 kertas menggantikan peranan kemasan dari


tanah liat, gelas dan kaleng. Pada abad ke 19 itu pula karton mulai berkembang
dalam bentuk kantong kertas dan kardus.Kotak kertas yang dibuat pada sekitar
tahun 1840 membutuhkan banyak lem karena banyak potongan yang perlu
direkat. Penggunaannya terbatas untuk barang-barang mewah.
Jenis-jenis kertas kemudian lebih beragam mulai dari kertas karton, kertas
tulis, kraft,kertas label,kertas tahan minyak (lemak),hingga berbagai jenis karton.
Secara berangsur-angsur sebagai bahan kemas, kemasan kertas mendapat saingan
dari bahan kemas lain terutama plastik.Kertas dan karton dapat dibuat lembaran
lembaran dan gulungan, karena itu memungkinkan untuk dilakukan proses
laminasi sehingga kertas banyak dikombinasikan dengan bahan lain yang kedap
udara dan tahan air.

Kertas greaseproof : dapat digunakan sebagai pengemas utama mentega,


margarin, daging, kopi, dan gula-gula. Mirip kertas karton namun
memiliki kekedapan terhadap perembesan lemak.

Kertas glassine : dibuat 80% dari kertas greaseproof namun memiliki


ketahanan terhadap udara dan lemak yang kuat, permukaanya halus, serta
mengkilat. Sering digunakan untuk mengemas roti yang berkadar lemak
tinggi.

Kertas kraft : kertas yang dibuat dari bubur sulfat dan kayu kraft (yang
berasal dari Swedia dan Jerman). Memiliki sifat yang lebih kuat dari kertas
Glassine, sehingga bahan pangan yang dibungkus dengan kertas ini akan
tetap kering lebih-lebih bila permukaannya dilem dengan resin. Kertas ini
biasanya digunakan untuk mengemas keju di Negara-negara eropa.

Kantung kertas merupakan salah satu kemasan tertua yang masih tetap
popular.Sedangkan amplop adalah kantung kertas yang mempunyai bentuk
khusus,sangat umum digunakan untuk pembungkus surat. Kedua jenis
pembungkus ini dinilai cukup murah, baik harganya maupun ongkos untuk
pengangkutannya. Mempunyai rasio bobot (perbandingan antara berat kemasan
dengan berat produk yang dikemas) yang rendah. Seperti juga amplop, kantung
kertas dapat dibedakan atas beberapa jenis rempah dan berbagai jenis tepung.
Karton lipat merupakan jenis pengemas yang popular karena mempunyai sifat
praktis, murah dan mudah dilipat sehingga hanya memerlukan sedikit ruang
dalam pengangkutan dan penyimpanan. Demikian pula dalam pencetakan dan
penggrafiran dapat dilakukan untuk meningkatkan penampilan produk.Pemakaian
yang luas dari jenis kemasan ini disebabkan oleh banyaknya variasi dalam hal
model, bentuk dan ukuran dengan karakteristik yang khusus. Dalam perdagangan
karton lipat dikenal dengan nama FC (Folding Carton). (Ceppi Kersani. 2011)
3.

Logam
Beberapa keuntungan dari kemasan logam (kaleng) untuk makanan dan

minuman yaitu mempunyai kekuatan mekanik yang tinggi,mempunyai sifat


sebagai barrier yang baik khususnya terhadap gas,uap air,jasad renik,debu dan
kotoran sehingga cocok untuk kemasan hermitis. Disamping itu walaupun
mempunyai resiko adanya pengikisan atau migrasi unsur-unsur logam,akan tetapi
tosisitasnya relatif rendah,tahan terhadap perubahan atau keadaan suhu yang
ekstrim dam mempunyai permukaan yang ideal untuk pemberian dekorasi dalam
labeling.

Bahan yang sering dipakai : Kaleng (tin plate) dan almunium.

Tin plate adalah wadah yang terbuat dari baja yang dilapisi timah putih
yang tipis, bagian dalamnya juga dilapisi dengan lapisan email.

Lapisan email tersusun atas senyawa oleoresin, fenolik, vinil, dan lilin.
Fungsi email adalah untuk mencegah korosi dan mencegah kontak antara
metal dengan bahan pangan. Misal email fenolik digunakan untuk melapisi
kaleng pengemas bahan ikan dan daging.

Kemasan kaleng,umumnya digunakan untuk berbagai produk yang mengalami


proses sterilisasi termal. Pada mulanya kemasan kaleng dibuat dari plat timah (tin
plate) yang terdiri dari lembaran dasar baja dilapisi timah putih dengan cara
encelupan dalam timah cair panas (hot dipping) atau dengan proses elektrolisa
yaitu menggunakan listrik galvanis sehingga menghasilkan lapisan timah yang
lebih tipis standar,seperti misalnya kaleng baja bebas timah (tin free steel),kaleng
tiga lapis (three piece cans), dan kaleng lapis ganda (two piece cans) (Ceppi
Kersani. 2011).
Aluminium adalah logam yang lebih ringan dari baja, mempunyai daya
korosif oleh atmosfir yang rendah,mudah dilekuk-lekukkan sehingga lebihmudah
berubah bentuknya,tidak berbau,tidak berasa,tidak beracun dan dapat menahan
masuknya

gas. Aluminium

lebih

sukar

disolder

sehingga

sambungan-

sambungannya tidak dapat rapat. Kemasan yang dibuat dari alumiun dapat
menyebabkan patahan patahan jika terlipat,sehingga dapat menimbulkan
lubang-lubang.

Aluminium memiliki keuntungan sebagai bahan pengemas, yaitu memiliki


berat yang lebih ringan dibanding baja.

Aluminium juga mudah dibentuk sesuai keinginan.

Aluminium lebih tahan korosi karena bisa membentuk aluminium oksida.

Kelemahan aluminium adalah mudah berlubang dibanding baja dan lebih


sukar disolder sehingga sambungan kemasan tidak benar-benar rapat.

Pada umumnya penggunaan alumium secara komersial memerlukan sifat-sifat


khusus yang mungkin tidak menguntungkan bila digunakan aluminium yang
murni.Penambahan komponen campuran dapat memperbaiki sifat-sifatnya dan

daya tahan korosi. Bahan bahan yang umum digunakan sebagai campuran
diantaranya adalah tembaga,magnesium,mangan khronium,seng,besi dan titanium.
Sifat-sifat yang spesifik dari aluminium memungkinkan penmggunaan logam
terbebut sebagai tutup kaleng kemasan berbagai jenis makanan dan minuman atau
untuk tube logam lunak / collapsible tube. (Ceppi Kersani. 2011)
Foil adalah bahan kemasan dari logam , berupa lembaran aluminium ayng
padat dan tipis dengan ketebalan kurang dari 0,15 mm. Mempunyai kekerasan
yang berbeda-beda,yaitu dari mulai yang sangat lunak sampai yang keras. Foil
mempunyai sifat yang hermetis,fleksibel,tidak tembus cahaya (cocok untuk
kemasan margarin dan yoghurt).Pada umumnya digunakan sebagai bahan pelapis
(laminan) yang dapat ditepatkan pada bagian dalam (lapisan dalam) atau lapisan
tengah sebagai penguat yang dapat melindungi kemasan. (Ceppi Kersani. 2011)

4.

Plastik
Penggunaan plastik dalam pengemasan sebenarnya sangat terbatas tergantung

dari jenis makanannya. elemahan plastik adalah tidak tahan panas, tidak hermetis
(plastik masih bisa ditembus udara melalui pori-pori plastik), dan mudah terjadi
pengembunan uap air didalam kemasan ketika suhu turun. Penggunaan plastik
sebagai kemasan dapat berupa kemas bentuk (flexible) atau sebagai kemas kaku.
Makanan padat yang umumnya memiliki umur simpan pendek atau makanan yang
tidak memerlukan perlindungan yang hebat dikemas

dengan kemasan

bentuk. Akan tetapi makan cair dan maka padat yang memerlukan perlindungan
yang kuat perlu dikemas dengan kemasan kaku dalam bentuk botol,jerigen,kotak
atau bentuk lainnya.
Berbagai

jenis

kemasan

bentuk

muncul

dengan

pesat

seperti

polietilen,polipropilen,polyester nilon dan film vinil. Sebagai bahan pengemas


,plastik dapat digunakan dalam bentuk tunggal,komposit atau berupa lapisan
lapisan (multi lapis)dengan bahan lain (kertas,aluminium foil ). Kombinasi
tersebut dinamakan laminasi yang diproses baik dengan cara laminasi akstrusi
maupun laminasi adhesif. Dengan demikian kombinasi dari berbagai ragam
plastik dapat menghasilkan ratusan jenis kemasan.

Berdasarkan sifat-sifatnya terhadap perubahan suhu maka plastik dapat dibagi


dua,yaitu :
1.

Termoplastik: meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan

suhu,dan mempunyai sifat dapat balik (reversible) kepada sifat aslinya,yaitu


kembali mengeras bila didinginkan.
2.

Termoset atau Termodursinable : tidak dapat mengikuti perubahan suhu, bila

sekali pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali (non
reversible).Pemanasan yang tinggi tidak akan melunakkan termoset melainkan
akan membentuk arang dan terurai,karena sifatnya yang demikian sering
digunakan sebagai tutup ketel,eperti jenis-jenis melamin.
Penggunaan plastik untuk kemasan makanan cukup menarik karena sifatsifatnya yang menguntungkan,seperti luwes (mudah dibentuk),mempunyai
adaptasi yang tinggi terhadap produk,tidak korosif seperti kemasan logam , serta
mudah dalam penanganannya. Di dalam perdagangan dikenal plastik untuk
kemasan pangan (food grade) dankemasan untuk bukan pangan (non food grade).
Kemasan kaku yang terbuat dari plastik paling banyak digunakan untuk
mengemas produk susu. Dua jenis bahan dari plastik yang terbaik yaitu LDPE
(Low Density Polyethylene ) dan HDPE (High Density Polyethylene). Bentukbentuk kemasan plastik kaku dapat dijumpai dengan mudah di pasaran dalam
bentuk yang siap pakai seperti botol.jerigen,drum ,gelas ,mangkuk, ember, dan
lain-lain.
Penggunaan plastik dalam pengemasan sebenarnya sangat terbatas tergantung
dari jenis makanannya. elemahan plastik adalah tidak tahan panas, tidak hermetis
(plastik masih bisa ditembus udara melalui pori-pori plastik), dan mudah terjadi
pengembunan uap air didalam kemasan ketika suhu turun.
Jenis plastik yang digunakan dalam pengemasan antara lain : polietilen, cellophan,
polivinilklorida (PVC), polivinil dienaklorida (PVDC), polipropilen, poliester,
poliamida, dan polietilentereptalat (PET).

Polietilen : adalah jenis plastik yang harganya paling murah dan memiliki
beberapa varian antara lain : Low Density Polyetilene (LDPE), High
Density Polyetilene (HDPE), dan Polietelentereptalat (PET). Polietilen

memiliki sifat kuat bergantung variannya, transparan, dan dapat direkatkan


dengan panas sehingga mudah dibuat kantong plastik.

Cellophan : sebenarnya terbuat dari serat selulosa yang disulfatasi.


Cellophan dapat dipergunakan untuk membungkus sayuran, daging, dan
beberapa jenis roti. Cellophan yang dilapisi nitroselulosa mempunyai sifat
yang tahan terhadap uap air, fleksibel, dan mudah direkatkan dengan
pemanasan. Cellophan yang dilapisi PVDC tahan terhadap uap air dan
kedap oksigen sehingga baik untuk mengemas makanan yang mengandung
minyak atau lemak.

Polivinilklorida (PVC) : jenis plastik yang kuat, namun memiliki


kelemahan yaitu dapat berkerut (Shrinkable) dan sering digunakan untuk
mengemas daging atau keju.

Polivinildienaklorida (PVDC) : jenis plastik yang kuat, tahan terhadap uap air dan
transmisi udara. Sering dugunakan dalam pengemasan keju dan buah-buahan yang
dikeringkan. (Ceppi Kersani. 2011)
5. Kain Blacu

Digunakan untuk mengemas bahan pangan tepung, seperti tepung terigu


atau tepung tapioka. Dibuat dalam bentuk kantung-kantung yang
berkapasitas 10 50 kg.

Kelebihannya adalah tidak mudah sobek/ kuat kainnya, flesibel, mudah


dicetak dan murah harganya.

Kelemahannya : memiliki permiabilitas udara yang jelek dan tidak kedap


air. (Ceppi Kersani. 2011)

6. Edible film
Edible film adalah bahan pengemas organik yang dapat dimakan sekaligus
dengan bahan pangan yang dikemasnya, biasa terbuat dari senyawa polisakarida
dan turunan lemak. ahan yang digunakan antara lain polisakarida yang berasal
dari rumput laut (agarose, karaginan, dan alginat), polisakarida pati, amilosa film,
gelatin, gum arabik, dan turunan monogliserida. Contoh pengemasan edible film
adalah pada sosis, permen, kapsul minyak ikan, sari buah dan lain-lain. (Ceppi
Kersani. 2011)

7. Karton
Karton sebenarnya merupakan bagian dari kertas namun lebih sering
berfungsi sebagai wadah luar atau sebagai penyokong wadah utama dalam
pengemasan bahan pangan agar lebih kuat, dan rigid. arton memiliki kelebihan
antara lain elastisitas lebih baik dibanding kayu, dapat dicetak pada
permukaannya, dapat dikerjakan secara masinal, pemakaiannya mudah, dan dapat
dilipat sehingga tidak memerlukan ruang luas. (Ceppi Kersani. 2011)
8. Bahan Pengemas Tradisional Daun
Digunakan secara luas, bersifat aman dan bio-degradable, yang biasanya
berupa daun pisang, daun jati, daun bambu, daun jagung dan daun palem. Lebih
aman digunakan dalam proses pemanasan dibanding plastik. (Ceppi Kersani.
2011)
a. Gerabah
Digunakan sejak zaman dahulu, aman bagi bahan pangan asal tidak
mengandung timbal. Gerabah yang diglasir bersifat kedap air, kedap udara,
mampu menghambat mikrobia, dan bersifat dingin sehingga cocok untuk
mengemas bahan pangan seperti saus, madu, anggur, minyak, curd/dadih dll.
Proses pengemasan bahan / produk olahan pangan yang dilakukan di industri
industri kecil dan menengah pada umumnya sangat sederhana dan mudah
melaukannya, baik cara maupun peralatannya. Perbedaan untuk masing-masing
produk hanya terletak ada proses sterilisasi, ada yang memerlukan dan ada yang
tidak, ada yang dikemas terlebih dahulu, ada yang disterilisasi terlebih dahulu.
Pengemasan mempunyai peran yang sangat penting baik dalam pengawetan
maupun dalam mempertahankan mutu produk-produk pangan atau hasil pertanian.
Dengan pengemasan dapat membantu mencegah dan melindungi produk dari
kemungkinan kerusakan fisik dan pengaruh pencemaran. Saat ini pengemasan
berkembang secara pesat seiring dengan pesatnya perkembangan industri yang
menggunakannya dan berbagai macam bahan dan bentuk kemasan sudah banyak
tersedia dan dengan mudah dapat diperoleh di pasaran sesuai dengan kebutuhan.
(Ceppi Kersani. 2011)

4.12 DESAIN DAN LABELING


Desain merupakan seluruh proses pemikiran dan perasaan yag akan
menciptakan sesuatu,dengan menggabungkan fakta,kontruksi,fungsi dan estetika
untuk memenuhi kebutuhan manusia.Dengan demikian desain adalah konsep
pemecahan masalah rupa,warna,bahan,teknik,biaya,kegunaan dan pemakaian
yang diungkapkan dalam gambar dan bentuk.
Suatu kemasan yang menarik dan sudah menjadi paten,biasanya telah
melalui penelitian yang cukup lama mengenai kemasan dengan menggunakan
teknik-teknik pewarnaan dan grafis cetakan..Desain yang berhasil sangat
tergantung pada keahliandisainer,jenis tinta,material dan pencetak.Penampilan
kemasan

menggambarkan

sikap

laku

perusahaan

dalam

mengarahkan

produknya.Kurangnya perhatian akan kualitas produk dan desain kemasan yang


tidak menarik akan menyebabkan keraguan konsumen terhadap produk tersebut.
Desain kemasan perlu diciptakan agar mempunyai nilai estetika yang tinggi.
Karena itu diperlukan perencanaan yang baik dalam hal ukuran dan bentuk
sehingga efisien dalam proses pengepakan, distribusi dan penyajian.Disain
kemasan hendaknya mampu menumbuhkan kepercayaan dan mempengaruhi
calon konsumen untuk menjatuhkan pilihan terhadap bahan yang dikemas. Setelah
berhasil menarik perhtian dari calon konsumen, kemasan harus menampilkan
produk pada suatu keadaan yang siap jual. Gambaran-gambaran yang terbaik dari
bahan yang dikemas perlu dotonjolkan. Seakan-akan produk tersebut memang
disajikan untuk memenuhi kebutuhan utanma calon konsumen secara memuaskan.
Label kadang-kadang disebut juga etiket. Dalam pengertian perdagangan
maka etiket didefinisikan sebagai label yang diletakkan,dicetak,diukir atau
dicantumkan dengan jalan apapun pada kemasan.Etiket tersebut harus cukup besar
agar dapat menampung semua keterangan yang diperlukan mengenai produk dan
tidak boleh mudah lepas,luntur atau lekang karena air,gosokan atau pengaruh sinar
matahari.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
79/Menkes/Per/III/1978 tentang Label danPeriklanan Makanan ,maka pada label

atau etiket kemasan khususnya untuk makana dan minuman sekurang-kurangnya


dicantumkan hal hal sebagai berikut :
1. Nama makanan dan / merek dagang
2. Komposisi / kandungan bahan, kecuali untk makana yang cukup diketahui
komposisinya secara umum.
3. Isi netto
4. Nama dan alamat perusahaan yang memproduksi atau mengedarkan
5. Nomor pendaftaran ( SP atau MD )
6. Kode produksi , tanggal kadaluarsa dan label halal.
Secara keseluruhan,pernyataan atau keterangan yang terdapat pada etiket
harus ditulis dengan jelas, ukuran angka dan huruf harus jelas (. 0,75 mm ) serta
warna yang cukup kontras dengan latar belakangnya. Pada makanan yang
memerlukan cara penyiapan, penggunaan atau penyimpanan secara khusus, perlu
dicantumkan petunjuk mengenai hal tersebut pada etiket..
Untuk menarik konsumen, dibutuhkan label yang menarik, mudah dilihat
ddimengerti yang dicantumkan dalam kemasan, hal ini memerlukan perencanaan,
penelitian dan pengembangan kemasan dan label secara terus menerus sesuai
dengan tuntutan dan keinginan konsumen. Dengan demikian produk dapat
dengan mudah dilihat dan dikenali, sehingga konsumen akan tertarik dan membeli
produk tersebut. (Ceppi Kersani. 2011)
4.13 Berdasarkan proses pengemasannya, kemasan dibedakan atas kemasan
aseptik dan non-aseptik.
1.

Pengemasan aseptis
Pengemasan aseptis adalah suatu cara pengemasan bahan di dalam suatu

wadah yang memenuhi empat persyaratan, yaitu : produk harus steril, wadah
pengemas harus steril, lingkungan tempat pengisian produk ke dalam wadah
harussteril, dan wadah pengepak yang digunakan harus rapat untuk mencegah
kontaminasikembali selama penyimpanan. Sistem pengemasan aseptis digunakan
untuk mengemas berbagai macam produk seperti bahan pangan dan obat-obatan.
Dalam sistem pengemasan aseptis, produk dan wadah pengemas disterilisasi
secara terpisah, kemudian dilakukan pengisian produk ke dalam wadah dalam

lingkungan steril sehingga diperoleh produk steril dalam kemasan yang tahan
disimpan dalam jangka waktu lama.
Dalam sistem pengemasan aseptis, sterlisasi yang dilakukan terhadap wadah
lebih bervariasi tergantung dari jenis wadahnya. Beberapa contoh cara sterilisasi
terhadap berbagai wadah yang digunakan dalam pengemasan aseptis dapat dilihat
pada Tabel 2. Misalnya untuk wadah yang terbuat dari metal digunakan uap panas
atau udara panas. Untuk wadah yang terbuat dari plastik dapat digunakan etilen
oksida, hidrogen peroksida atau dengan cara radiasi. Wadah gelas dapat digunakan
etilen oksida. Masing-masing cara sterilisasi tersebut mempunyai keuntungan dan
kelemahan.
Sterilisasi dengan uap panas dan udara panas akan menghasilkan suhu tinggi
pada tekanan atmosfir, tetapi mempunyai kelemahan karena mikroorganisme lebih
tahan di dalam uap/udara panas daripada di dalam uap jenuh. Sterilisasi wadah
menggunakan hidrogen peroksida mempunyai keuntungan karena prosesnya cepat
dan efisien, sedangkan radiasi dapat digunakan untuk sterilisasi wadah yang
terbuat dari plastik yang sensitif terhadap panas, tetapi mempunyai kelemahan
karena biayanya yang mahal dan lokasinya terbatas. (Tritama Kalista. 2015)

\
Tabel 1. Berbagai cara sterilisasi wadah pengemas
2. Pengemasan Non Aseptik
Pada proses pengemasan non-aseptik, kontaminasi mudah terjadi, sehingga
masa simpan produk umumnya relatif lebih rendah. Untuk memperpanjang masa
simpan, produk dapat ditambahkan gula, garam atau dikeringkan hingga kadar air
tertentu. (Tritama Kalista. 2015)
4.14 Teknik Pengemasan Produk Farmasi

Bentuk kemasan berikut ini telah disetujui FDA sebagai contoh sistem
kemasan yang mampu memenuhi ketentuan kemasan tahan gangguan
sebagaimana dijelaskan dalam peraturan FDA 21 C.F.R. Parts 211, 314, dan 700.
1.

Strip packaging (Kemasan Strip)

Gambar 2. Kemasan Strip


Strip packaging merupakan teknik pengemasan yang sudah berlangsung
lebih dari seperempat abad. Semua solid form dibidang farmasi termasuk pill,
tablet, capsul, lozenges, dikemas dengan system ini. Tetapi yang paling umum
menggunakan cara ini adalah tablet dan capsul.
Metodenya adalah mengemas dengan dua

Gambar 3. Mesin Pengemas Strip


lapisan atas/bawah, dan kemudian di seal dan di cut. Pemilihan dari material
harus tepat, agar tidak ada migrasi dari produk keluar. Produk akan jatuh kedalam
mold yang panas, kemudian dibentuk kemasan dan mewadahi produk tersebut.
Ukuran dan kedalaman dari mold tersebut harus cukup untuk menampung produk
dan membentuk kantong, dan jangan sampai produk tertekan. Perlu dicek bahwa
heat seal cukup efektif(Tritama Kalista. 2015)
2.

Blister pack (Kemasan Blister)

Gambar 4. Kemasan Blister


Bentuk kemasan ini mampu menyediaakan perlindungan yang sangat baik
terhadap

keadaan

sekitarnya,

disertai

dengan

penampilan

estetis

yang

menyenangkan dan efisien. Juga memberikan kemudahan pemakaian, aman


terhadap anak-anak dan tahan terhadap usaha pemalsuan.Kemasan blister
dibentuk dengan melunakkan suatu lembaran resin termoplastik dengan
pemanasan, dan menarik (dalam vakum) lembaran plastic yang lembek itu
kedalam suatu cetakan. Sesudah mendingin lembaran dilepas dari cetakan dan
berlanjut ke berbagai pengisian dari mesin kemasan. Blister setengah keras yang
terjadi sebelumnya diisi dengan produk dan ditutup

Gambar 5. Alat Pengemas Blister


dengan bahan untuk bagian belakang yang dapat disegel dengan pemanasan.
Bahan untuk bagian belakangnya, atau tutupnya, dapat dari jenis yang bisa
didorong atau jenis yang dapat dikelupas. Untuk jenis blister yang bisa didorong,
bahan untuk bagian belakangnya biasanya aluminium foil yang diberi lapisan
yang dapat disegel panas. Lapisan pada foil harus sesuai dengan bahan blister
untuk memperoleh segel yang memuaskan, baik untuk perlindungan produk
maupun untuk perlindungan pemalsuan. (Lachman. 1994)
3.

Pengemasan bulk produk

Gambar 6. Kemasan Bulk


Kemasan ini dapat dibuat dengan berbagai cara, tetapi biasanya dibentuk
dengan menumpuk produk seperti sandwich di antara lapisan tipis plastic yang
dapat diberi bentuk dengan panas, dapat memanjang atau dapat mengerut dengan
pemanasan dan bahan yang kaku untuk bagian belakangnya. Hal ini umumnya
dilakukan dengan memanaskan/melunakan lapisan tipis plastik dan membuat
kantung dengan menariknya dalam vakum melalui cara yang sama seperti
pembuatan blister dalam kemasan blister. Produk dijatuhkan ke dalam kantung,
yang kemudian disegel menjadi bahan yang keras seperti piring kertas yang
dipanaskan-disegel-diberi lapisan. Jika memakai bahan yang dapat mengerut
karena panas, kemasan dilewatkan ke dalam corong panas, yang mengerutkan
lapisan tipis menjadi gelembung atau member kulit pada produk, sehingga
menempel erat pada karton yang ada di bagian belakangnya.(Lachman. 1994)
Digunakan untuk mengemas barang yang cukup banyak atau bulk material
digunakan,

Gambar 7. Mesin Pengemas Bulk


multi wall paper sack. Heavy duty bag polyethylene, woven sack polipropylene
dan jute bags, tetapi sekarang ini jute bags sudah kurang popular. Multiwall paper
sack : terdiri dari beberapa lapisan kertas yang saling menunjang, dengan
demikian maka beban yang didukung oleh kantong tersebut akan merata
keseluruh lapisan. Jumlah lapisan bisa antara 2 sampai dengan 6 lapis. Dengan

menggunakan beberapa lapisan kertas yang agak tipis adalah lebih fleksibel dan
kuat daripada menggunakan satu atau dua lapisan kertas yang tebal. Multiwall
paper bag dapat digunakan untuk berbagai produk terutama yang berbentuk
bubuk. (Tritama Kalista. 2015)
4.

Pengikat (Ban) yang Mengerut


Konsep ini menggunakan sifat polimer yang dapat mengembang dan

mengerut karena pemanasan, biasanya PVC. Polimer yang dapat mengerut karena
panas diproses sebagai pipa terarah dalam diameter sedikit lebih besar dari tutup
dan lingkar leher botol yang akan disegel. Bahan yang dapat mengerut karena
panas dipasok kepada pengisi botol sebagai pipa yang ada cetakan huruf/gambar
dan dapat dilipat, baik sudah dipotong menurut panjang tertentu atau dalam
bentuk gulungan untuk pekerjaan otomatis. Panjang pipa PVC yang sesuai

Gambar 8. Pengikat yang Mengkerut


diluncurkan melalui botol yang sudah bertutup cukup longgar, sehingga dapat
menyatukan tutup dan lingkar leher botol (Gambar 24-4). Botol kemudian digeser
melalui lorong panas, yang mengerutkan pipa dengan erat di sekeliling tutup dan
botol, sehingga ban yang mengerut akan rusak bila tutup dibuka. Agar mudah
membukanya, ban yang mengerut dapat disertai dengan celah yang dapat dirobek.
(Lachman. 1994)
5.

Pembungkus Lapisan Tipis


Pembungkus dari lapisan tipis telah digunakan secara luas selama bertahun-

tahun untuk produk yang memerlukan kemasan yang utuh, atau perlindungan
terhadap keadaan sekelilingnya. Pembungkus Lapisan Tipis dikategorikan dalam
tipe-tipe berikut:

Pembungkus yang ujungnya dilipat

Pembungkus yang disegel seperti sirip ikan


6.

Pembungkus yang dapat mengerut


Kertas Timah, Kertas, atau Kantung Plastik
Kantung yang fleksibel adalah konsep kemasan yang tidak hanya mampu

menyediakan

Gambar 9. Mesin Vertikal


kemasan yang tahan gangguan, tetapi melalui seleksi bahan yang sesuai, juga
menyediakan kemasan yang dapat memberi perlindungan yang sangat ampuh
terhadap keadaan sekitarnya. Kantung yang fleksibel biasanya dibentuk selama
pekerjaan pengisian produk, baik dengan peralatan bentuk pembentukan ventrikal
maupun

horizontal,

mengisi

dan

menyegel.Pada

pelaksanaan

membentuk/mengisi/menyegel secara vertical, suatu jaringan lapis tipis ditarik


meliputi cincin logam dan mengelilingi pipa pengisi yang vertical, melalui mana
produk dijatuhkan kedalam kemasanyang terbentuk. Pipa pengisi dari metal juga
bekerja sebagai suatu mandrel yang mengontrol keliling dari kantung dan
terhadap mana dibuat segel membujur.
Pembentukan segel ini, yang dapat merupakan segel sirip maupun segel
tumpang-tindih, mengubah lapisan kemasan menjadi pipa dari lapisan yang
kotinu. Alat penyegel yang dapat bergerak, segel orthogonal sampai membujur,
mengerutkan bagian bawah tube, membentuk segel bawah dari kemasan. Produk
dijatuhkan melalui pipa, pembentuk ke dalam kemasan yang terbentuk. Alat
penyegel yang dapat bergerak mengangkat pipa lapisan tipis setinggi panjang
kemasan, dan membentuk segel paling atas dan paling akhir dari kemasan. Segel
kemasan paling atas ini menjadi segel bagian bawah dari kemasan berikutnya, dan
proses ini terulang lagi. Karena mesin vertical yang mmbentuk/mengisi/menyegel
diisi sesuai arah gravitasi, mereka terutama digunakan untuk cairan, bubuk dan
produk berbentuk granul.

Sistem

pembentuk/pengisi/penyegel

secara

horizontal

umumnya

digunakan untuk produk dengan volume lebih kecil, yang dapat lebih cocok untuk
ukuran kemasan yang lebih datar yang dihasilkan mesin jenis ini. Dalam system
ini, jaringan lapisan tipis terlipat sendiri dan tidak mengelilingi suatu pipa.
Sewaktu lipatan lapisan tipis diisi secara horizontal melalui mesin, suatu pelat
yang dapat bergerak membentuk kantung-kantung dalam lapisan itu dengan cara
membuat segel pemisah secara vertical. Produk kemudian ditempatkan ke dalam
tiap kantung, dan segel atas akhir akan terbentuk. Kemasan yang dibuat dengan
mesin pembentuk/pengisi/penyegel secara horizontal biasanya mempunyai segel
keliling bersisi tiga, tetapi ada kemungkinan terjadi variasi-variasi lain, tergantung
jenis mesin yang digunakan.

Gambar 10. Mesin horizontal


Untuk menyiapkan tingkat kesempurnaan kemasan yang diperlukan bagi
kemasan yang tahan gangguan pada mesin horizontal maupun vertical, maka
haruslah digunakan segel permukaan-dalam-pada permukaan-dalam. Hal ini
memungkinkan pemakaian bahan segel yang efektif seperti polietilen, etilen vinil
asetat (EVA), dari Surlyn, yang bila disegel dengan layak harus dirobek lebih dulu
untuk mendapatkan produknya. Bahan penyegel ini harus digunakan sebagai
bagian dari susunan laminasi supaya diperoleh sifat-sifat yang diperlukan bagi
penampilan bahan kemasan yang layak. Permukaan luar dari laminasi harus
merupakan permukaan yang mudah dicetak dan tahan panas, karena langsung
bersentuhan dengan batang-batang pemanas.

Bahan permukaan luar juga digunakan sebagai pembawa substrat, yang


memberikan sifat-sifat mekanis kepada laminasi yang diperlukan untuk
penanganan kemasan dan pengemasan secara maksimal. Lapisan yang paling
umum digunakan untuk pembawa substrat ialah kertas. Polyester, nilon dan
selofan juga digunakan bila diinginkan suatu keadaan tembus pandang, tahan
bocor atau mengkilap. Untuk produk yang peka terhadap lembab dan oksigen,
umumnya digunakan kertas timah (foil) sebagai bagian dari laminasi lapisan tipis,
dengan foil diapit seperti sandwich antara lapisan luar dan lapisan segel panas.
Laminasi

seperti

kertas/polietilen/foil/polietilen

dan

polyester/polietilen/foil/polietilen umum digunakan sebagai perintang yang baik.


Polyester yang diberi logam digunakan sebagai pengganti foil untuk pemakaian
beberapa kemasan perintang karena biayanya lebih rendah, penampilan yang baik
sekali dan tahan lekukan. (Lachman. 1994)
Dan masih ada banyak lagi teknik pengemasan produk farmasi seperti;
Penyegel Botol, Segel Berupa Pita, Tutup yang Mudah Dirobek, Tube yang
Disegel, Wadah Aerosol dan Kotak Karton yang Disegel. (Lachman. 1994).
4.15 PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENGEMASAN
Saat ini telah dikembangkan teknologi pengemasan bahan pangan dan
produk farmasi yang mencakup :
1.

Pengemasan atmosfir termodifikasi (Modified Atmosfer Packaging/MAP)


Merupakan pengemasan produk dengan menggunakan bahan kemasan yang

dapat menahan keluar masuknya gas sehingga konsentrasi gas di dalam kemasan
berubah dan ini menyebabkan laju respirasi produk menurun, mengurangi
pertumbuhan mikrobia, mengurangi kerusakan oleh enzim serta memperpanjang
umur simpan. Fabrikasi film kemasan dapat menghasilkan kemasan dengan
permeabilitas gas yang luas serta tersedianya adsorber untuk O2, CO2, etilen, dan
air. Keuntungan dari teknik kemasan aktif adalah tidak mahal (relatif terhadap
harga produk yang dikemas), ramah lingkungan, mempunyai nilai estetika yang
dapat diterima dan sesuai untuk sistem distribusi.
Adanya absorber oksigen dapat menyerap oksigen pada bahan-bahan pangan
sepertihamburger, pasta segar, mie, kentang goreng, daging asap (sliced ham dan

sosis), cakes,dan roti dengan umur simpan panjang, produk-produk konfeksionari,


kacang-kacangan,

kopi, herba

(dalam

farmasi)

dan

rempah-rempah.

Penggunaan kantung absorber O2 memberikan keuntungan khususnya untuk


produk-produk yang sensitif terhadap oksigen dan cahaya seperti produk bakery
dan pizza, daging yang dimasak dimana pertumbuhan jamur dan perubahan warna
merupakan masalah utamanya.
2.

Pengemasan aktif (Active Packaging) dan Smart Packaging


Merupakan teknik kemasan yang mempunyai sebuah indikator eksternal atau

internal untuk menunjukkan secara aktif perubahan produk serta menentukan


mutunya. Tujuan dari kemasan aktif atau interaktif adalah untuk mempertahankan
mutu produk dan memperpanjang masa simpannya. (Julianti dan Mimi, 2006).
4.16

BERBAGAI MACAM BAHAN PENGEMAS


Bahan kemasan secara umum dibagi menjadi 2 macam, yaitu kemasan
produk pangan dan kemasan produk non pangan.Kemasan produk pangan
umumnya menuntut jaminan keamanan lebih daripada kemasan produk non

pangan.
PET : singkatan dari Poly Ethylene Theraphalate, berfungsi untuk
mengemas produk yang membutuhkan perlindungan ekstra terhadap

udara.
Nylon : merupakan gabungan dari PET dan OPP, berfungsi untuk
mengemas produk yang membutuhkan perlindungan ekstra terhadap udara

dan kelembaban.
OPP : singkatan dari Oriented Poly Propylene, berfungsi untuk mengemas

produk yang membutuhkan perlindungan ekstra terhadap kelembaban.


PVC : singkatan dari Poly Vinyl Citrid, mengeluarkan gas beracun bila
terkena panas, sehingga penggunaannya untuk poduk pangan hanya

diijinkan untuk kemasan luar saja.


PO : singkatan dari Poly Olyvin, fungsinya hanya untuk tampilan
keindahan pada kemasan.Warnanya yang bening dan sangat transparan,

menghasilkan efek kilap pada kemasan.


PE : singkatan dari Poly Ethylene, fungsinya dalam dunia kemasan
terkenal sebagai seal layer-lapisan perekat.

PP : singkatan dari Poly Propylene, fungsinya dalam dunia kemasan sering


dipakai untuk pelapis bahan kemasan lainnya, sebagai seal layer, maupun
sebagai kemasan yang berdiri sendiri.

4.17

Kriteria pemilihan bahan pengemas:


1. Permeabilitas
Material bahan pengemas harus memungkinkan agen sterilisasi
untuk keluar masuk bahan pengemas namun tetap memberikan
perlindungan yang sangat tinggi untuk perlindungan bakteri.

2. Partikel
Bahan pengemas yang tidak menghasilkan serat atau partikel kecil
direkomendasikan.
3. Penolakan
Pengemas proses sterilisasi harus dapat menolak cairan seperti air
atau larutan normal saline.
4.

Kekuatan
Faktor yang harus diperhatikan untuk menentukan kekuatan tipe
pengemas untuk sterilisasi ada 3 yaitu:

a. Burst Resistance menunjukkan ketahanan bahan pengemas dari


robekan atau rusakan yang dibuat instrumen yang dikemas atau ujung
dari tray instrumen.
b. Tear Resistance digunakan untuk melihat kekuatan kemampuan
pengemas menjaga sobekan tidak meluas, setelah terjadi robekan.
c.

Abrasion Resistance dilihat dari dua aspek: ketahanan bahan dari


gesekan itu sendiri dan adanya partikel mikro yang dikeluarkan dari
gesekan. Jika bahan pengemas sterilisasi mengalami kerusakan
dengan adanya friksi, bahan menjadi lebih lemah dan dapat
menyebabkan lubang atau robekan.

5.

Kemampuan mempertahankan posisi

Bahan pengemas harus dapat bertahan pada posisi yang sama pada
proses pembukaan dan tetap asepsis dengan tidak memberikan lubang
yang memberikan akses pada barang yang disterilkan.
6.

Kemudahan Penanganan
Bahan pengemas harus lunak, elastis, dan mudah digunakan.
Bahan pengemas yang keras dan memiliki kelenturan yang rendah
dapat menyebabkan potongan kecil yang dapat menyebabkan
kontaminasi pada staf sterilisasi sentral dan pada pasien.

4.18 CONTOH KEMASAN KOSMETIK

(Khrisnendy. 2015)

DAFTAR PUSTAKA
Tsffaunsoed. 2012. Teknologi Pengemasan Untuk Produk Farmasi. Tersedia
online di: https://tsffarmasiunsoed2012.wordpress.com/ (diakses tanggal 15
September 2015)
Imatetani. 2010. Tersedia online di: https://Trend Pengemasan Modern
Seharusnya Tidak Menggeser Kemasan Tradisional2010.com/ (diakses tanggal 15
september 2015)
Aswin M. 2008. Packaging
Jakarta:Indonesian Packaging Federation.

Materials

and

its

Applications.

Direktorat Jenderal Industri Dan Dagang Kecil Menengah Departemen


Perindustrian
Dan
Perdagangan.
2003.
Tersedia
online
di:
http://www.google.com/search?
q=cache:piRSMhGAEMQJ:idkm.depperin.go.id/pelatihan/kemasan/modul_1.
(diakses tanggal 15 September 2015)

Ceppi Kersani. 2011. Pengemasan Produk Tersedia online di:


http://posluhdesdesacijambu.blogspot.co.id/2011/10/pengemasan-produk.html.
(diakses tanggal 15 September 2015)

Dwiput. 2011. Kemasan Obat, Dibuang Jangan. Tersedia online di:


http://apotekerbercerita.wordpress.com/2011/03/19/kemasan-obat-dibuangjangan/ (diakses tanggal 15 September 2015)
Tritama Kalista. 2015. Makalah Penetapan Pengemasan. Tersedia online di:
https://www.academia.edu/8331838/Makalah_PENETAPAN_PENGEMASAN.
(diakses pada tanggal 15 September 2015)
(Kurniawan, Dhadhang W, dan Sulaiman, Teuku NS. 2012. Teknologi
Sediaan Farmasi. Purwokerto: Laboratorium Farmasetika Unsoed)
(Lachman, L., Lieberman, Herbert A., Kanig, Joseph L. 1994. Teori dan Praktek
Farmasi Industri III. UI Press. Jakarta.)
Julianti, Elisa dan Mimi Nurminah, 2006, Buku Ajar Tekologi Pengemasan,
Universitas Sumatera Utara Press : Sumatera
Khrisnendy. 2015. Pengemasan Produk Kosmetik. Tersedia online di:
http://www.slideshare.net/KhrisnendyHaryatno/pengemasan-produk-kosmetik
(diakses tanggal 15 September 2015).