Anda di halaman 1dari 59

BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1

Museum

2.1.1 Pengertian Museum


Secara etimologis, kata Museum diambil dari bahasa Yunani Klasik,
yaitu: Muze kumpulan sembilan dewi yang berarti lambang ilmu dan kesenian.
Berdasarkan uraian di atas1, maka pengertian museum adalah sebagai tempat
menyimpan benda-benda kuno yang dapat digunakan untuk menambah wawasan
dan juga sebagai tempat rekreasi. Seiring dengn berkembangnya zaman, museum
memiliki makna yang sangat luas sesuai dengan pemikiran setiap individu
maupun institusi.
Adapun

beberapa

pengertian

kata

Museum

oleh

sejumlah

ahli

permuseuman mengemukakan bahwa2 :


1. Advanced Dictionary
Museum ialah sebuah gedung dimana didalamnya dipamerkan bendabenda yang menggambarkan tentang seni, sejarah, ilmu pengetahuan, dan
sebagainya.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24066/4/Chapter%20II.pdf

2http://hayunirasasadara.multiply.com/journal/item/18/Pengertian_Museum_dan_Museol

ogi?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

2. Douglas A.Allan
Museum dalam pengertian yang sederhana terdiri dari sebuah gedung
yang menyimpan kumpulan benda-benda untuk penelitian studi dan
kesenangan.
3. A. C. Parker (Ahli Permuseuman Amerika)
Sebuah Museum dalam pengertian modern adalah sebuah lembaga yang
secara aktif melakukan tugas menjelaskan dunia, manusia dan alam.

Dari beberapa pengertian yang sudah dijelaskan diatas, pengertian yang


lebih mendalam dan lebih bersifat internasional dikemukakan oleh Internasional
Council of Museum (ICOM), yakni3 :
A museum is a non-profit, permanent institution in the service of society
and its development, open to the public, which acquires, conserves,
researches, communicates and exhibits the tangible and intangible
heritage of humanity and its environment for the purpose of education,
study and enjoyment.
Museum adalah lembaga non-profit yang bersifat permanen yang melayani
masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang bertugas
untuk mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, dan
memamerkan warisan sejarah kemanusiaan yang berwujud benda dan takbenda beserta lingkungannya, untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan
hiburan.
3

Ali Akbar, Museum di Indonesia Kendala dan Harapan, Jakarta, 2010.

2.1.2 Sejarah
2.1.2.1 Sejarah Perkembangan Museum di Indonesia4
Cikal bakal museum di Indonesia tampaknya diawali oleh sepak terjang
George Edward Rumphius (1628-1702), seorang naturalis yang mengoleksi
benda-benda yang dikumpukannya selama proses penenlitian. Kabarnya
Rumphius mendirikan sebuah museum pada tahun 1662 di Ambon, yakni De
Amboinsch Raritenkaimer. Namun disayangkan, museum tersebut tidak dapat
dilacak lagi sisa peninggalannya sekarang.
Sejarah perkembangan museum di Indonesia secara kelembagaan dapat
ditarik mundur sampai ke tahun 1778. Pada 24 April 1778 di Batavia ( kemudian
disebut

Jakarta)

didirikan

Bataviaasch

Genootschap

van

Kunstenen

Wetenschaapen oleh Pemerintah Belanda. Lembaga ini memiliki slogan Ten


Nuttle van het Algemeen (Untuk Kepentingan Masyarakat Umum). Slogan itu
mendorong lembaga tersebut tidak hanya menghimpun benda-benda sebagai
sarana penelitian tetapi di tahun-tahun berikutnya juga dapat berkembang menjadi
museum. Museum secara resmi dibuka pada tahun 1868. Pada tahun 1923
perkumpulan ini memperoleh gelar Koninklijk karena jasanya di dalam bidang
ilmiah.
Setelah Republik Indonesia Merdeka, pada tanggal 26 Januari 1950,
Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschaapen5 berganti
nama menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Semboyan lembaga tersebut

Ali Akbar, Museum di Indonesia Kendala dan Harapan, Jakarta, 2010.

Ali Akbar, Museum di Indonesia Kendala dan Harapan, Jakarta, 2010.

10

berubah menjadi: Memajukan Ilmu-ilmu Kebudayaan yang Berfaedah untuk


Meningkatkan Pengetahuan tentang Kepulauan Indonesia dan Negeri-negeri
sekitarnya. Pada tanggal 17 September 1962, Lembaga Kebudayaan Indonesia
menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia yang kemudian
menjadi Museum Pusat. Sejak tahun 1979, berdasarkan Surat Keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan, museum ini menggunakan nama Museum Nasional
atau yang lebih banyak dikenal dengan Museum Gajah.
Peran pemerintah Republik Indonesia dalam pendirian dan pengembangan
museum di Indonesia sejak kemerdekaan sampai masa Orde Baru sangatlah besar.
Pada tahun 1948 pemerintah membentuk Jawatan Kebudayaan yang berada
dibawah Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Pada tahun 1957
jawatan tersebut memiliki unit kerja yang disebut Urusan Museum. Pada
perkembangan selanjutnya terus mengalami peningkatan dan penyesuaian yakni
tahun 1965 Urusan Museum menjadi Lembaga Museum-museum Nasional.
Pemerintah Republik Indonesia terus mengembangkan museum sejak
Pembangunan Lima Tahun (PELITA) I sampai V atau dalam waktu 25 tahun.
Dengan berbagai proyek semisal Proyek Pembinaan Permuseuman, dilakukan
pemugaran dan perluasana museum lama dan pembangunan museum baru di
setiap propinsi. Selama kurun waktu tersebut terdapat tidak kurang dari 262
museum di Indonesia. Museum-museum tersebut berada di lingkungan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pemerintah daerah, dan swasta.
Setelah tahun 1998 terjadi perubahan yang cukup berarti dalam
pengelolaan organisasi atau lembaga di Indonesia termasuk museum. Perubahan
11

terjadi seiring semangat reformasi yang bermakna perbaikan diri dan salah satu
amanat reformasi yakni desentralisasi. Organisasi atau lembaga museum terutama
yang berada di bawah pengelolaan pemerintah pusat juga diarahkan menuju
desentralisasi, salah satunya dengan cara menyerahkan pengelolaan museum
tertentu ke pemerintah daerah. Otonomi daerah mendorong pemerintah derah
berlomba-lomba mendirikan dan membenahi museum di daerah masing-masing,
walaupun tidak seluruhnya berhasil.
Sejak tahun 2005, berdasarkan tata kelola pemerintahan, terdapat
Direktorat Museum yang berada di bawah Direktorat Jenderal Sejarah dan
Purbakala dan merupakan bagian dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
Republik Indonesia. Perubahan dari departemen terkait pendidikan ke departemen
pariwisata turut mengubah warna museum yang awalnya terkait dengan edukasi
menuju rekreasi.
Pada tahun 2009 terdapat sedikitnya 275 museum di Indonesia. Museummuseum tersebut ada yang berada di bawah naungan Direktorat Museum,
kementerian atau departemen atau lembaga pemerintahan, pemerintah daerah,
badan-badan usaha milik Negara, perusahaan swasta, yayasan dan badan-badan
lainnya, serta perorangan atau pribadi.

2.1.3 Fungsi Museum


Museum dewasa ini adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak
mencari keuntungan, melayani masyarakat dan mengembangkannya, terbuka
untuk umum, merawat, menghubungkan dan memamerkan untuk tujuan studi,
12

pendidikan dan kesengangan, barang pembuktian manusia dan lingkungannya.


Museum merupakan suatu badan yang mempunyai tugas dan kegiatan
untuk memamerkan dan menerbitkan hasil penelitan dan pengetahuan tentang
benda yang penting bagi Kebudayaan dan Ilmu pengetahuan. Untuk memperjelas
kegunaan dari museum tersebut, kita harus mengetahui fungsi dari museum itu
sendiri. Bila mengacu kepada hasil musyawarah umum ke-11 (11th General
Assembley) International Council of Museum (ICOM) pada tanggal 14 Juni 1974
di Denmark, dapat dikemukakan 9 fungsi museum sebagai berikut6:
1. Pengumpulan dan pengamanan warisan alam dan budaya.
2. Dokumentasi dan penelitian ilmiah.
3. Konservasi dan preservasi.
4. Penyebaran dan perataan ilmu untuk umum.
5. Pengenalan dan penghayatan kesenian.
6. Pengenalan kebudayaan antar-daerah dan antar-bangsa.
7. Visualisai warisan alam dan budaya.
8. Cermin pertumbuhan peradaban umat manusia.
9. Pembangkit rasa bertakwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa.

2.1.4 Tugas Museum


Tugas yang dijalanan oleh sebuah museum, yakni7:

Ali Akbar, Museum di Indonesia Kendala dan Harapan, Jakarta, 2010.

http://etd.eprints.ums.ac.id/6643/1/D300040009.pdf

13

a.

Pengumpulan atau penggandaan


Tidak semua benda dapat dimasukan ke dalam koleksi museum,
hanyalah benda-benda yang memenuhi syarat-syarat tertentu, yakni:
-

Harus mempunyai nilai budaya, ilmiah dan nilai estetika.

Harus dapat diidentifikasi mengenai wujud, asal, tipe, gaya dan


sebagainya.

Harus dapat dianggap sebagai dokumen.

b. Pemeliharaan
Tugas pemeliharaan ada 2 aspek, yakni:
-

Aspek Teknis
Benda-benda materi koleksi harus dipelihara dan diawetkan
serta dipertahankan tetap awet dan tercegah dari kemungkinan
kerusakan.

Aspek Administrasi
Benda-benda materi koleksi harus mempunyai keterangan
tertulis yang menjadikan benda-benda koleksi tersebut bersifat
monumental.

c.

Konservasi
Merupakan usaha pemeliharaan, perawatan, perbaikan, pencegahan
dan penjagaan benda-benda koleksi dari penyebab kerusakan.

d. Penelitian
Bentuk penelitian ada 2 macam, yakni:
-

Penelitian Intern
14

Penelitian yang dilakukan oleh kurator untuk kepentingan


pengembangan ilmu pengetahuan museum yang bersangkutan.
-

Penelitian Ekstern
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari luar, seperti
mahasiswa, pelajar, umum dan laian-lain untuk kepentingan
karya ilmiah, skripsi, dan lain-lain.

e.

Pendidikan
Kegiatan disini lebih ditekankan pada pengenalan benda-benda materi
koleksi yang dipamerkan:
-

Pendidikan Formal
Berupa seminar-seminar, diskusi, ceramah dan sebagainya.

Pendidikan Non formal


Berupa kegiatan pameran, pemutaran film, slide, dan lain-lain.

f.

Rekreasi
Sifat pameran yang mengandung arti untuk dinikmati dan dihayati,
yang mana merupakan kegiatan rekreasi segar, tidak diperlukan
konsentrasi yang akan menimbulkan keletihan dan kebosanan.

2.1.5 Struktur Organisasi Museum


Pada dasarnya museum terbagi atas 2 kepemilikan, yakni pemeritah dan
swasta. Dari setiap itu masing-masing mempunyai struktur dan cara kerjanya
masing-masing. Biasanya pada museum swasta, struktur organisasi tidak serumit
museum milik pemerintah. Tetapi memang untuk struktur organisasi pemeritah
15

sudah memiliki job desk masing-masing setiap divisi, sehingga ruang lingkup
pekerjaannya sudah sangat jelas.
Adapun beberapa contoh struktur bagisan sebuah museum, yakni8 :
1. Bagan A
Walaupun museum ini dikelola dan dimiliki oleh swasta tetapi
penyelenggaraan museum ini harus berstatus badan hukum, agar museum
ini dapat penanganan atau pengelolaan yang mantab dan tidak terombangambing. Dalam akte pendiriannya perlu dicantumkan satu pasal peralihan,
yang menyebutkan suatu tindakan hukum akan diambil dalam hal
berakhirnya masa berdirinya yayasan atau perkumpulan tersebut, kepada
siapa miliknya (museum) itu akan diserahkan demi kesinambungan
penyelenggaraan, pengelolaan dan pemanfaatan.

BADAN SENDIRI

BADAN PENASEHAT

BADAN PENGAWAS

BADAN PENGURUS

MUSEUM
(Bagan 2.1. Struktur Bagan A)

Sutaarga, M. Amir. Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum. Jakarta,


1989.

16

2. Bagan B
Untuk museum-museum resmi, bagan B memperlihatkan bagaimana
kaitannya penyelenggaraan dan pengelolaan museum-museum tersebut.
Badan pemerintah (Departemen atau Lembaga non-Departemen) disebut
penyelenggara museum, yang bertanggung jawab atas tersedianya dana,
sarana dan tenaga museum-museum resmi tersebut. Yang mengelola
museum adalah kepala museum yang diangkat dan diberhentikan oleh
pemerintah, Menteri atau Ketua Lembaga non-Departemen yang
bersangkutan. Unit Pembina teknis bertanggung jawab atas perencanaan,
pengaturan,

pengawasan,

pengendalian

program-program

kegiatan

pelaksanaan dan museum-museum itu sebagai obyek pembinaan


merupakan unit-unit pelaksanaan teknis di bidang kegiatan museum
sebagai saran ilmiah, pusat studi dan kegiatan edukatif-kultural.
BADAN PEMERINTAH

UNIT PEMBINA TEKNIS


PERMUSEUMAN

MUSEUM

MUSEUM

MUSEUM

MUSEUM

(Bagan 2.2. Struktur Bagan B)

17

3. Bagan C
Untuk museum yang lebih besar atau yang lebih kecil tentu
diperlukan struktur organisasi yang disesuaikan dengan kenyataan
yang diperlukan. Untuk museum yang lebih kecil, biasanya kepala
museum merangkap tugas kurator yang bertanggung jawab atas
penangan koleksi. Ia dapat dibantu oleh petugas ketata-usahaan.
Demikian, seorang kurator museum kecil, diperlukan manager yang
berpendidikan ilmiah dan pandai mengelola museum, oleh karena itu
sebenarnya museum kecil diperlukan kurator-kurator paripurna.

KEPALA MUSEUM

TATA USAHA &


PERPUSTAKAAN

KONSERVATOR
LABORATORIUM

PREPARATO
R STUDIO

KURATOR
KOLEKSI

EDUKATOR
BIMBINGAN
EDUKATIF

(Bagan 2.3. Struktur Bagan C)

18

Bagan C menggambarkan suatu struktur organisasi medium. Semua unit


yang merupakan :

Unsur pimpinan

Unsur penunjang ketata-usahaan

Unsur penunjang perpustakaan

Unsur kegiatan pokok pengadaan dan penelitian koleksi

Unsur kegiatan pokok perawatan dan pemeliharaan

Unsur kegiatan pokok pameran koleksi

Unsur kegiatan pokok bimbingan kegiatan edukatif-kultural sudah


termasuk dalam bagan struktur organisasi museum madya tersebut.

2.1.6 Jenis Museum


Jenis museum diklasifikasi menurut :
1.

Berdasarkan Status Hukum9


a. Museum Pemerintah
Dikatakan museum pemerintah karena dibiayai oleh pemerintah
setempat, dan untuk semua keperluannya disediakan anggarananggaran tahunan di departemen atau pemerintahan lokal yang
menyelenggarakannya.
b. Museum Swasta
Sebuah museum yang didirikan oleh pihak swasta, dikelola
langsung oleh pihak swasta itu sendiri. Biasanya swasta itu berupa

Sutaarga, M. Amir. Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum. Jakarta,


1989.

19

yayasan atau perseorangan tetapi tetap dalam pengawasan


Direktorat Permuseuman atas nama pemerintah.
2. Ruang Lingkup Wilayah10
a. Museum Nasional
Adalah sebuah museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan
benda yang berasal, mewakili dan berkaitan dengan bukti material
manusia dan atau lingkungannya dari seluruh wilayah Indonesia
yang bernilai nasional.
b. Museum Lokal
Adalah sebuah museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan
benda yang berasal, mewakili dan berkaitan dengan bukti material
manusia dan atau lingkungannya dari wilayah kabupaten atau
kotamadya dimana museum tersebut berada.
c. Museum Propinsi
Adalah sebuah museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan
benda yang berasal, mewakili dan berkaitan dengan bukti material
manusia dan atau lingkungannya dari wilayah propinsi dimana
museum berada.
3. Disiplin Ilmu11
a. Museum Umum adalah museum yang koleksi terdiri dari
kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya yang
10

ibid

11

Sutaarga, M. Amir. Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum. Jakarta,


1989.

20

berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu dan


teknologi.
b. Museum Khusus adalah museum yang koleksinya terdiri dari
kumpulan bukti material manusia atau lingkungannya berkaitan
dengan satu cabang seni, satu cabang ilmu atau satu cabang
teknologi.

2.1.7 Pengguna Museum12


Terdapat dua kategori pengguna dalam sebuah museum, yakni:
1.

Pengelola
Pengelola museum adalah petugas yang berada dan melaksanakan
tugas museum dan dipimpin oleh seorang kepala museum. Kepala
museum membawahi dua bagian yaitu bagian administrasi dan bagian
teknis.
a. Bagian Administrasi
Bagian administrasi mengelola ketenagaan, keuangan, suratmenyurat, kerumah-tanggaan, pengamanan dan registrasi koleksi.
b. Bagian Teknis
Bagian teknis terdiri dari tenaga pengelola koleksi, tenaga
konservasi, tenaga preparasi, tenaga bimbingan dan humas.

12

http://belajaritutiadaakhir.blogspot.com/2011/08/pengguna-dan-kegiatan-dalammuseum.html

21

2.

Pengunjung
Berdasarkan intesitas kunjungannya dapat dibedakan menjadi dua
kelompok, yakni:
a. Kelompok orang yang secara rutin berhubungan dengan museum
seperti kolektor, seniman, desainer, ilmuwan, pelajar.
b. Kelompokorang yang baru mengunjungi museum.

2.1.8 Persyaratan Berdirinya Museum13


1.

Lokasi yang Strategis


a. Lokasi yang dipilih bukan untuk kepentingan pendirinya, tetapi
untuk masyarakat umu, pelajar, mahasiswa, ilmuwan, wisatawan
dan masyarakat umu lainnya.
b. Lokasi harus sehat
Lokasi yang tidak terletak di daerah industri yang banyak
pengotoran udara, bukan daerah yang berawa atau tanah pasi,
elemen iklim yang berpengaruh pada lokasi itu antara lain :
kelembaban udara setidakna harus terkontrol mencapai netral,
yaitu 55-65 %.

2.

Persyaratan Bangunan
a. Persyaratan umum yang mengatur bentuk ruang museum yang bisa
dijabarkan sebagai berikut :

13

Sutaarga, M. Amir. Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum. Jakarta,


1989.

22

1) Bangunan dikelompokan dan dipisahkan sesuai :


- Fungsi dan aktivitasnya
- Ketenangan dan keramaian
- Keamanan
2) Pintu masuk (main entrance) utama diperuntukan bagi
pengunjung.
3) Pintu masuk khusus (service utama) untuk bagian pelayanan,
perkantoran, rumah jaga serta ruang-ruang pada bangunan
khusus.
4) Area semi publik terdiri dari bangunan administrasi termasuk
perpustakaan dan ruang rapat.
5) Area privat terdiri dari :
- Laboratorium Konservasi
- Studio Preparasi
- Storage
6) Area publik/umum terdiri dari :
- Bangunan

utama,

meliputi

pameran

tetap,

pameran

temporer dan peragaan.


- Auditorium, keamanan, gift shop, cafetaria, ticket box,
penitipan barang, lobby/ruang istirahat, dan tempat parkir.
b. Persyaratan Khusus
1) Bangunan utama, yang mewadahi kegiatan pameran tetap dan
temporer harus dapat :
23

- Memuat benda-benda koleksi yang akan dipamerkan.


- Mudah dalam pencapaiannya baik dari luar atau dalam.
- Merupakan bangunan penerima yang harus memiliki daya
tarik sebagai bangunan utama yang dikunjungi oleh
pengunjung museum.
- Memiliki sistem keamanan yang, baik dari segi konstruksi,
spesifikasi ruang untuk mencegah rusaknya benda-benda
secara alami ataupun karena pencurian.
2) Bangunan auditorium, harus dapat :
- Dengan mudah dicapai oleh umum.
- Dapat dipakai untuk ruang pertemuan, diskusi dan ceramah
3) Bangunan Khusus, harus :
- Terletak pada tempat yang kering.
- Mempunyai pintu masuk yang khusus.
- Memiliki sistem keamanan yang baik (terhadap kerusakan,
kebakaran, dan pencurian).
4) Bangunan Administrasi, harus :
- Terletak di lokasi yang strategis baik dari pencapaian umum
maupun terhadap bangunan lainnya.
3.

Persyaratan Ruang
Persyaratan ruang pada ruang pamer sebagai fungsi utama dari
museum. Beberapa persyaratan teknis ruang pamer sebagai berikut :
a. Pencahayaan dan Penghawaan
24

Pencahayaan dan penhawaan merupakan aspek teknis utama yang


perlu diperhatikan untuk membantu memperlambat proses
pelapukan dari koleksi. Untuk museum dengan koleksi utama
kelembaban yang disarankan adalah 50% dengan suhu 21C-26C.
Intensitas cahaya yang disarankan sebesar 50 lux dengan
meminimalisir radiasi ultra violet. Beberapa ketentuan dan contoh
penggunaan cahaya alami pada museum sebagai berikut

(Gambar 2.1. Penggunaan Cahaya Alami pada Museum)

b. Ergonomi dan Tata Letak


Untuk memudahkan pengunjung dalam melihat, menikmati, dan
mengapresiasi koleksi, maka perletakan peraga atau koleksi turut
berperan. Berikut standar-standar perletakan koleksi di ruang
pamer museum.

25

(Gambar 2.2. Perletakan Panel Koleksi)

c. Jalur Sirkulasi di Dalam Ruang Pamer


Jalur sirkulasi di dalam ruang pamer harus dapat menyampaikan
informasi, membantu pengunjung memahami koleksi yang
dipamerkan. Penentuan jalur sirkulasi bergantung juga pada alur
cerita yang ingin disampaikan dalam pameran.

(Gambar 2.3. Sirkulasi Ruang Pamer)

26

2.1.9 Koleksi Museum


Pengertian koleksi adalah segala sesuatu yang sedang atau akan
dipamerkan di museum. Koleksi tersebut dapat disajikan di ruang pameran,
disimpan di gudang, dilestarikan di ruang konservasi atau dikaji di ruang peneliti.
1. Prinsip dan persyaratan sebuah benda koleksi, antara lain :
a. Memiliki nilai sejarah dan nilai ilmiah (temasuk nilai estetika).
b. Dapat diidentifikasi mengenai bentuk, tipe, gaya, fungsi, makna,
asal secara historis dan geografis, genus (untuk biologis) atau
periodenya (dalam geologi, khususnya benda alam).
c. Harus dapat dijadikan dokumen, dalam arti sebagai kenyataan dan
eksitensinya bagi penelitian ilmiah.
2. Jenis Benda Koleksi
a. Benda Asli, yakni benda koleksi yang memenuhi persyaratan :
-

Harus mempunyai nilai budaya, ilmiah dan nilai estetika.

Harus dapat dianggap sebagai dokumen.

Harus dapat diidentifikasi mengenai wujud, asal,tipe, gaya dan


sebagainya.

b. Benda Reproduksi, yakni benda buatan baru dengan cara meniru


benda asli menurut cara tertentu. Macam benda reproduksi :

Replika: Benda

yang

tiruan

yang

diproduksi

dengan

memiliki sifat-sifat benda yang ditiru.

27

Miniatur: benda tiruan yang diproduksi dengan memiliki


bentu, warna dan cara pembuatan yang sama dengan benda
asli.

Referensi: Diperoleh dari rekaman atau fotocopy suatu buku


mengenai etnografi, sejarah dan lainnya.

Benda-benda berupa foto yang dipotret dari dokumen/mikro


film yang sukar dimiliki.

c. Benda Penunjang, yakni benda yang dapat dijadikan pelengkap


pameran

untuk

memperjelas

informasi/pesan

yang

akan

disampaikan, misalnya : lukisan, foto dan contoh bahan.


3. Penataan Koleksi Museum
Penataan koleksi dalam suatu pameran dapat disajikan dengan
beberapa cara, yakni:
a. Tematik
Yaitu dengan menata materi pameran dengan tema dan sub tema.
b. Taksonomik
Yaitu menyajikan koleksi dalam kelompok atau sistem klasifikasi.
c. Kronologis
Yaitu menyajikan koleksi yang disusun menurut usianya, dari yang
tertua hingga sekarang.
4. Metode Penyajian Museum
Metode penyajian disesuaikan dengan motivasi masyarakat
lingkungan atau pengunjung museum, yakni:
28

a. Metode Intelektual
Adalah cara penyajian benda-benda koleksi museum yang
mengungkapkan informasi tentang guna, arti dan fungsi benda
koleksi museum.
b. Metode Romantik (Evokatif)
Adalah cara penyajian benda-benda koleksi museum yang
mengungkapkan susasan tertentu yang berhubungan dengan bendabenda yang dipamerkan.
c. Metode Estetik
Adalah cara penyajian benda-benda koleksi museum yang
mengungkapkan nilai artistik yang ada pada benda koleksi
museum.
d. Metode Simbolik
Adalah cara penyajian benda-benda koleksi museum dengan
menggunakan simbol-simbol tertentu sebagai media interpretasi
pengunjung.
e. Metode Kontemplatif
Adalah cara penyajian koleksi di museum untuk membangun
imajinasi pengunjung terhadap koleksi yang dipamerkan.
f. Metode Interaktif
Adalah cara penyajian koleksi di museum dimana pengunjung
dapat berinteraksi langsung dengan koleksi yang dipamerkan.
Penyajian interaktif dapat menggunakan teknologi informasi.
29

5. Penyimpanan dan Perawatan Koleksi Museum14


Beberapa faktor yang dapat merubah kondisi atau yang dapat
merupakan gangguan pada koleksi museum, adalah :
a. Iklim dan lingkungan
Iklim di Indonesia pada umumnya adalah lembab dan dengan
curah hujan yang cukup banyak. Temperatur udara di antara 25
sampai 37 derajat celcius, dengan kadar kelembaban relatif
(RH=Relative Humadity) antara 50 sampai 100 %. Iklim yang
terlampau lembab ditambah faktor naik-turunnya temperatur
menimbulkan suasana klimatologis yang menyuburkan tumbuh
kembangnya jamur (fungi) dan bakteri tetapi iklim yang terlampau
kering juga menimbulkan berbagai kerusakan.
Faktor lingkungan terbagi atas dua macam, yaitu: pertama macro ,
meliputi wilayah yang luas, dan yang kedua micro , yakni udara
dan iklim di kota dan di dalam gedung museum. Umumnya udara
di kota sudah tercemar dengan polusi. Cara yang dapat dilakukan
untuk mengurangi dampak polusi tersebut adalah dengan
memanfaatkan fungsi taman lindung.
b. Cahaya
Cahaya mempengaruhi benda koleksi yang ditampilkan pada
museum. Untuk jenis koleksi seperti batu, logam, dan keramik

14

Sutaarga, M. Amir. Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum. Jakarta,


1989.

30

pada umumnya tidak peka terhadap cahaya tetapi untuk bahan


organik seperti tekstil, kertas, peka terhadap pengaruh cahaya.
Cahaya merupakan bentuk energi elektro-magnetik, memiliki dua
jenis radiasi yang terlihat maupun tak terlihat. Ultra violet sangat
membahayakan benda koleksi dan dapat menimbulkan perubahan
bahan maupun warna. Lampu pijar dinyatakan paling banyak
mengeluarkan

ultra

violet,

sedangkan

lampu

fluorescent

dinyatakan paling rendah kadar radiasinya.


c. Serangga dan Mikro-organisme
Cara mencegah untuk perusakan benda koleksi yang disebabkan
oleh serangga ataupun mikro-organisme, yakni:

Fumigasi
Beberapa jenis zat kimia bisa menguapa pada suhu biasa
dan akan menjadi gas yang mematikan bagi serangga,
misalnya paradichlro benzene, carbon disulphine, carbon
tetrachloride. Fumigasi dapat dilakukan dalam ruangan
yang suhunya normal yang kedap udara.

Penyemprotan
Penyemprotan insektisida yang berupa larutan yang
mengandung DDT, gammexane, mercuric chloride, dan
lain-lain.

Merupakan

bahan-bahan

insektisida

yang

memadai.

31

2.1.10 Jenis Pameran


Penyajian koleksi museum yang paling tepat adalah dengan cara
melakukan pameran. Teknik pameran adalah suatu pengetahuan yang meminta
fantasi, imaginasi, daya improvisasi dan ketrampilan teknis dan artistik sendiri.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan pada saat melakukan pameran, yakni:
a.

Persediaan koleksi dan dokumentasi foro serta koleksi yang tersedia.


Apabila jumlah koleksi belum memadai, sedangkan tema pameran
sudah jelas maka museum itu dapat meminjam koleksi dari museum
lainnya atau meminjam koleksi perorangan.

b.

Persediaan peralatan dan bahan serta tenaga yang akan mendukung


pelaksanaan penataan dan penyebaran informasi.

c.

Biaya persiapan dan pelaksanaan untuk kegiatan pameran.

d.

Penyebaran publisitas tentang rencana kegiatan pemeran tersebut,


dalam rangka mengumpulkan pengunjung bila pameran itu sudah
dibuka untuk umum.

Berdasarkan pengertian dan jangka waktu pelaksanaan serta jenis dan


sifatnya, pemeran museum dibedakan menjadi tiga jenis:
1. Pameran Tetap
Adalah pameran yang diadakan dalam jangka waktu 2 sampai
dengan 4 tahun. Tema pameran sesuai dengan jenis, visi dan misi
museum. Idealnya, koleksi pameran disajikan adalah 25% hingga 40%

32

dari koleksi yang dimiliki museum dan dilakukan penggantian koleksi


yang dipamerkan dalam jangka waktu tertentu.
2. Pameran Khusus atau Temporer
Adalah pameran koleksi museum yang diselenggarakan dalam
waktu relatif singkat. Fungsi utamanya adalah untuk menunjang
pameran tetap, agar dapat lebih banyak mengundang pengunjung
datang

ke

museum.

Dikatakan

pameran

khusus

karena

diselenggarakan secara khusus untuk memperingati sesuatu, seperti


tokoh atau peristiwa. Sedangkan dikatakan pameran temporer karena
sifatnya yang temporer atau sementara, diselenggarakan dalam waktu
singkat, antara mingguan hingga bulanan.
3. Pameran Keliling
Adalah pameran yang diselenggarakan diluar museum pemilik
koleksi, dalam jangka waktu tertentu, dalam variasi waktu yang
singkat dengan tema khusus mengenai aspek-aspek tertentu dalam
bidang sejarah alam dan budaya serta wawasan nusantara dimana
benda-benda koleksi tersebut dipamerkan dan dikelilingkan dari suatu
tempat ketempat lainnya.

2.2

Gedung Pertunjukan

2.2.1 Pengertian
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, gedung adalah sebuah bangunan
tembok yang berukuran besar sebagai tempat kegiatan seperti perkantoran,
33

pertemuan, perniagaan, pertunjukan, olahraga dan sebagainya. Selain itu juga bisa
diartikan sebagai rumah tembok yang berukuran besar. Sedangkan dalam kamus
bahasa Inggris pengertian dari gedung adalah pembangunan permanen yang
tertutup di atas sebidang tanah, memiliki atap serta jendela dan biasanya lebih dari
1 tingkat, digunakan untuk berbagai kegiatan, sebagai tempat tinggal, sarana
hiburan atau manufaktur.
Gedung pertunjukan yang akan dibahas disini adalah gedung pertunjukan
yang digunakan untuk sebuah pagelaran musik atau biasa disebut dengan
Konser. Pengertian konser itu sendiri dalam kamus bahasa Indonesia adalah
pertunjukan musik di depan umum, dan yang kedua adalah pertunjukan oleh
sekelompok pemain musik yang terjadi di beberapa komposisi perseorangan. Jadi
pengertian dari Concert Hall adalah sebuah bangunan berukuran besar yang
khusus dibangun untuk digunakan dalam pertunjukan musik.

2.2.2 Perkembangan15
Gedung konser atau lebih dikenal dengan sebutan concert hall atau
gedung pagelaran musik yang kita kenal sekarang adalah hasil perkembangan dari
bentuk-bentuk teater Yunani Kuno dan teater terbuka dari Romawi. Mula-mula
teater digunakan sebagai tempat untuk melihat (visual), sesuai dengan namanya
yang diambil dari bahasa Yunani. Teater berarti tempat untuk melihat dimana
penonton berdiri di lereng bukit dan menonton gerakan-gerakan yang biasanya
berupa tarian yang mengambil tempat datar dan terbuka berupa sebuah panggung,
15

http://www.scribd.com/doc/70531625/11/II-3-5-Bentuk-Bentuk-Konser

34

jadi bukan tempat untuk mendengarkan musik. Kemudian pelataran itu


berkembang menjadi daerah yang melingkar (orchestra), yang dikelilingi hampir
2/3 bagian dengan kursi penonton yang dimaksudkan untuk memberikan jarak
pandang yang merata, dan bangunan longitudinal yang digunakan untuk berganti
pakaian, gudang dan sebagai latar belakang. Teater Romawi berbeda dengan
teater Yunani yang terletak yang terletak pada cekungan. Tetapi dibangun sebagai
unit tunggal auditorium disuatu tempat datar diluar kota. Bangku-bangku ditata
sedikit melingkar mengelilingi panggung dan dibangung langsung dengan struktur
dari panggung.
Pada perkembangan selanjutnya, orang Romawi mengubah tata orchestra
menjadi setengah lingkaran, bertujuan agar penonton lebih dekat dengan
panggung, serta membangun atap miring yang besar di sekitar panggung dan
dinding di kedua sisinya. Tindakan ini bertujuan untuk memberikan pemantulan
bunyi yang berdaya guna dan menghasilkan suara yang jelas sehingga tidak
mengecewakan penonton yang berada jauh dari panggung.
Ini merupakan bentuk awal yang melahirkan bentuk teater tertutup, seperti
teater Olympia Academy di Vicerna, Italia (abad XVI). Setelah disadari bahwa
refleksi suara dari panggung dapat menghasilkan kondisi suara yang baik, maka
dinding dan kemiringan dilengkapi denga refleksi suara kearah penonton, tempat
duduk diperpanjang sehingga membentuk huruf U yang sangat sesuai untuk
meletakan balkon-balkon, membentuk baris-baris penonton di dinding yang
sangat berguna dalam mengaborsi suara. Pada abad XVIII, pengenalan bentuk
kubah, pengurangan balkon yang bertumpuk dan pemakaian beton serta dinding
35

yang keras menimbulkan kerugian akustik teater. Akan tetapi pada masa itu
kenyaman pandangan lebih diutamakan sehingga persyaratan akustik diabaikan.
Kamar musik Holy Well di Oxford, Inggris, merupakan gedung konser
pertama yang sudah memenuhi persyaratan visual maupun akustik. Didirikan
pada pertengahan abad XVIII, dengan kapasitas pengunjung 300 orang. Bangunan
ini relatif sempit tetapi mempunyai waktu dengung yang pendek, antara 1,3-1,4
detik. Pada abad XIX, para cendikiawan mulai menyelidiki sifat-sifat dan masalah
akustik dari sebuah auditorium. Tetapi baru awal abad XX inilah para ahli fisika
dan yang lain mengadakan riset ilmiah secara sistematis dalam akustik ruang.

2.2.3 Tujuan Gedung Pertunjukan16


Adapun tujuan diadakannya gedung konser ini adalah:
1.

Komunikatif
Suatu gedung konser musik dikatakan komunikatif apabila ruang
pertunjukan gedung konser musik di dalamnya dapat menciptakan suatu
jalinan komunikasi dua arah antara musik dan penonton, dalam arti
penonton dapat memahami pesan yang ingin disampaikan oleh pemusik
melalui lagu yang dibawakannya dan sebaliknya pemusik dapat dengan
mudah menciptakan nuansa dan suasana yang dapat mempengaruhi emosi
penonton seperti yang dimaksudkan di dalam lagu yang dibawakannya.
Semua itu berpusat pada akustik ruang yang dapat menciptakan kualitas
suara yang baik.

16

http://www.scribd.com/doc/70531625/11/II-3-5-Bentuk-Bentuk-Konser

36

2.

Edukatif
Aspek edukatif merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan
dalam bermain bagi para pemusik, yang diwujudkan dengan penyediaan
fasilitas berupa ruang studio latihan musik. Disamping itu juga memiliki
tujuan untuk mengenalkan pada masyarakat luas tentang perkembangan
musik, jenis-jenis musik, juga memberikan referensi khususnya pada
kalangan pemusik mengenai cara memainkan suatu jenis musik.

3.

Rekreatif
Sebagai bangunan komersial, gedung konser musik juga memiliki aspek
rekreatif karena hal ini sesuai dengan fungsi musik yang menyenangkan
hati pendengarnya, disamping maksud lain untuk menciptakan fasilitasfasilitas yang saling mendukung dalam hal pembiayaan perawatan
bangunan.

2.2.4 Pembagian Gedung Konser Musik17


Dalam mendesain sebuah gedung pertunjukan, dihadapkan pada banyak
masalah yang luas dan kompleks dan untuk itu pertunjukan yang akan dibuat
batasannya berupa ukuran dan tipe. Secara kapasitas sebuah gedung pertunjukan
dibagi menjadi empat jenis :

Sangat Besar, dengan kapasitas 1500 kursi atau lebih

17 http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/453/jbptunikompp-gdl-nurulnurha-22643-4-babiips.pdf

37

1.

Besar, dengan kapasitas 900-1500 kursi

Medium, dengan kapasitas 500-900 kursi

Kecil, dengan kapasitas dibawah 500 kursi

Area Lobby
Lobby merupakan salah satu ruangan paling penting dari public space
dalam sebuah gedung pertunjukan atau ruang utama, yang harus diatur
supaya dapat dengan mudah di akses dari luar. Ruangan atraktif, penuh
antisipasi dan hiburan, harus dapat membantu penonton untuk menikmati
suasana dari pertunjukan yang akan ditampilkan di panggung nantinya.
Pintu masuk menuju menuju gedung pertunjukan dari lobby harus
direncanakan dengan benar agar tercipta light proof dan sound proof.
Biasanya menggunakan dua pasang pintu dengan penyerap gelap.
Pengunjung juga harus dapat mencapai ruang-ruang lain tanpa terbentuk
dan terjebak dalam banyaknya cross sirculation.

2.

Area Penonton
Sudut pandang penglihatan penonton terhadap area panggung adalah
hal yang sangat penting untuk diperhatikan supaya penonton dapat melihat
keseluruhan area panggung secara jelas tanpa ada gangguan. Tingkatan
pada lantai concert hall juga harus diperhatikan untuk dapat memberikan
sudut pandang yang memadai ke arah panggung. Seating and performance
semua gedung pertunjukan memberikan tempat dimana para penonton
menikmati tontonan yang disajikan. Antara pemain dan penonton biasanya
dipisahkan oleh lengkung procenium kosong yang biasanya dipergunakan
38

untuk keperluan teknis.


Bentuk lantai dari gedung pertunjukan terbagi atas empat bagian, yakni:
a.

Persegi Empat
Kelebihan :

Pemantulan

silang

antar

dinding-dinding

sejajar

menyebabkan bertambahnya kepenuhan nada, suatu segi akustik


ruang yang sangat diinginkan pada ruang musik.
Kekurangan : Bentuk bangunan yang flat dan monoton.
b. Kipas
Kelebihan : penonton lebih dekat ke sumber bunyi, sehingga
memungkinkan konstruksi balkon yang dilengkungkan,
Kekurangan : apabila dinding belakang ikut dilengkungkan akan
menyebabkan terjadinya gema atau pemusatan bunyi, kecuali memang
diatur secara akustik atau dibuat difuse.
c.

Tapal Kuda
Kelebihan : kotak-kotak yang berhubungan yang satu diatas yang
lain, walaupun tanpa lapisan penyerapan interior, kotak-kotak ini
berperan sebagai penyerap bunyi.
Kekurangan : apabila dinding belakang ikut dilengkungkan akan
menyebabkan terjadinya gema atau pemusatan bunyi, kecuali memang
diatur secara akustik atau dibuat difus.

d. Tidak teratur
Kelebihan : dapat membawa penonton sangat dekat dengan sumber
bunyi. Bentuk ini dapat menyebabkan keakraban bunyi antara pemain
39

dan penonton.

(Gambar 2.4. Lantai persegi dan kipas)

(Gambar 2.5. Lantai Tapal Kuda dan Tak Teratur)

3.

Area Panggung
Stage merupakan bagian terpenting dari sebuah gedung pertunjukan,
yaitu tempat di mana para artis (performer) akan tampil untuk
mempertunjukan acting dan keahliannya. Tidak ada ukuran secara pasti
untuk stage yang benar. Namun stage biasanya berukuran antara 9-12
meter dengan kedalaman yang lebih panjang dan lebarnya kira-kira 10-14
meter.
Bentuk panggung dalam sebuah gedung seni pertunjukan ada dua

40

macam, yaitu teater procenium yang hakekat pementasannya terletak pada


adanya bingkai pentas dan teater non-procenium yang memindai bingkai
pentas ini. Stage atau panggung adalah ruang yang umumnya menjadi
orientasi dalam sebuah auditorium. menurut bentuk dan tingkat
komunikasinya dengan penonton, panggung dapat dibedakan menjadi :
a.

Panggung Proscenium
Panggung Proscenium yaitu bentuknya konvensional, penonton hanya
melihat pengisi acara dan tidak ada kontak komunikasi. Seperti
contohnya, panggung-panggung untuk musik klasik, tarian klasik dan
sebagainya.

b. Panggung Terbuka,
Yaitu panggung yang menunjukkan terjadinya komunikasi dan kontak
fisik antara pengisi acara dan penonton, seperti contohnya panggung
konser band rock, pop dan sebagainya (menarik-turunkan backdrop
ketika pertunjukan berlangsung).
c.

Panggung Area,
Yaitu panggung yang posisinya berada di tengah.

d.

Panggung Extended
Panggung

yang

merupakan

pengembangan

dari

panggung

proscenium, entah itu bentuknya yang bisa menjalar juga ke area


tengah atau penyesuaian bentuk yang tetap konvensional namun
memungkinkan adanya sedikit komunikasi antara penyaji dengan
penonton.
41

(Gambar 2.6. Bentuk-bentuk Panggung)

4.

Area Backstage
a.

Make-up Rooms
Ruangan lain yang perlu ada di dalam gedung pertunjukan ini adalah
ruang rias. Ruangan ini harus dapat menampung semua performer
yang tampil. Masing-masing artis hendaknya harus mendapat sebuah
meja rias. Lighting dalam ruang rias haruslah menggunakan bohlam
bukan lampu TL, karena lampu TL akan menyebabkan warna makeup yang dihasilkan akan tidak sesuai dengan yang diinginkan ketika
tampil di stage dengan lighting stage (lampu PAR, freshnel dan
profil). Lampu bohlam tersebue meiliki kesamaan spesifikasi dengan
lampu-lampu panggung.

b. Dressing Rooms
Ruangan

ini

biasanya

digunakan

untuk

ruangan

ganti

dan

pemerikasaan kostum yang akan digunakan. Letaknya biasa

42

ditempatkan dekat koridor atau tangga. Kamar ganti yang berkapasitas


dua puluh orang, biasanya memiliki luasan minimum seluas 5m2 per
orang. Ruangan ini sudah termasuk dengan kamar kecil, kamar ganti,
dan shower. Kamar ganti untuk empat orang memiliki luasan sekitar
20 m, sedangkan untuk kamar ganti artis luasannya sampai 10 m.
c.

Costume shop
Ruang dibagi dua jenis untuk costume shop yang profesional biasanya
ruangan ini dugunakan untuk menerima, menyimpan, mengubah dan
menyetrika kostum. Sedangkan untuk non-profesional, ruangan ini
hanya digunakan untuk menjahit, menyetrika, memperbaiki kostum
yang ada.

d.

Loading dock
Ruangan ini harus dapat dimasuki oleh minimal dua truk yang
biasanya digunakan untuk menurunkan barang-barang kebutuhan
pementasan. Pintu muatan bagian depan harus sedikitnya 8-0 lebar
dan 12-0 tinggi. Ini berlaku bagi pintu manapun yang dapat
memindahkan barang-barang material, seperti backdrop, dan lain
sebagainya. Area bagian dalam minimal harus memiliki luasan 50m.

e.

Scene Dock
Ruangan ini berfungsi untuk menyimpan barang-barang kebutuhan
panggung, seperti back drop. Area minimal yang dibutuhkan adalah
hingga 50 hingga 100m (ukuran ini tergantung kebijakan pihak
teater). Tingginya tergantung dari metode penyimpan back drop
43

tersebut. Cara penyimpanan back drop itu sendiri dapat digulung, atau
ditumpuk secara vertikal atau horizontal.
5.

Area Servis
a.

Control Rooms
Stage manager biasanya berada di samping stage, dengan meja
kontrol untuk berkomunikasi dengan seluruh bagian ruangan concert
hall. Ruang kontrol cahaya harus mempunyai jendela yang cukup
besar untuk memberikan pandangan yang jelas dan tak terhalang
stage, bahkan ketika performance berdiri.
Biasanya ukuran ruangan bergantung pada perlengkapan yang dipilih,
tapi normalnya berukuran 3 meter X 2,4 meter. Ruang kontrol suara
mempunyai kebutuhan yang sama dengan ruang kontrol cahaya,
namun keduanya perlu dipisahkan.pintu dan jendela yang terhubung
dapat menyediakan komunikasi diantera kedua operasi. Akses kedua
ruangan sebaiknya berada di luar auditorium dan lebih baik jika jauh
dari sirkulasi publik.

b. Ticket Box
Tiket box harus nyaman untuk penjual tiket dapat menjual ke publik.
Ruangan yang diperlukan kurang lebih lima meter persegi untuk tiap
penjual tiket.
6.

Area Pertunjukan
Akomodasi khusus diperlukan untuk pihak performance dan para
performer. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
44

a.

Ruang kontrol cahaya dan suara berada di belakang auditorium diatas


kepala performance.

b. Ruang dimmer sebaiknya diletakkan jauh dari stage dan harus dijaga
suaraa yang dihasilkan agar jangan sampai ke performance.
c.

Ruang elektrik (penyimpan) dan barang-barang pertunjukan harus


sedekat mungkin dengan stage.

d. Ruang manager pertunjukan harus langsung berhubungan dengan


stage.
e.

Scenery dock harus ditempatkan pada stage level dan harus dapat di
akses langsung dari stage dan loading door. Dalam hal ini, scenery
sebesar apapun harus dapat masuk lewat pintu ke dalam scenery dock.

f.

Ruang rehearsal idealnya harus berukuran sama dengan stage dan


harus dapat di akses dari scenery dock.

g. Beberapa kontrol untuk stage door diperlukan agar orang-orang yang


tidak berkepentingan tidak dapat masuk ke dalam. Ruang ini harus
dijaga oleh pekerja full time.
7.

Aksen Hubungan Ruang Pertunjukan


Akses publik ke dalam gedung pertunjukan (main entrance) harus berada

di lokasi sekitar parking area, mudah dilihat, mudah dikenali oleh pengunjung.
Harus didesain agar mobil dapat menjemput (menaikkan) dan mengantar
(menurunkan) penumpang, khususnya untuk orang cacat dan orang tua.
Akses main service normalnya berada di sisi baliknya dari bangunan.
Akses ini digunakan untuk memasukan furniture, scenery backdrop, dan barang45

barang stage lainnya. Dibutuhkan pintu yang cukup besar untuk akses barangbarang diatas. Akses ini harus jauh dari penonton atau publik dan harus ada area
parkir untuk 1-3 van besar di dekatnya.
Akses lainnya adalah performer entrance, akses ini untuk akses masuk
para artis dan staff performers agar jauh dari publik. Selain itu juga diperlukan
akses untuk kasus kebakaran.

2.2.5 Tinjauan Akustik18


Prinsip utama desain akustik ruang dalam adalah memperkuat atau
mengarahkan bunyi yang berguna serta menghilangkan atau memperlemah bunyi
yang tidak berguna bagi pendengaran manusia. Dalam merancang interior gedung
auditorium yang menyajikan pertunjukan seni teater, drama, atau musik, desain
akustiknya diarahkan untuk dapat memberi kepuasan kepada setiap penonton
yang berada dalam ruang. Penonton dapat mendengar dengan jelas setiap
artikulasi percakapan aktor sehingga nuansa dan efek dramatis yang berusaha
ditampilkan dapat ditangkap dan dicerna. Tetapi dalam gedung auditorium yang
menyajikan pertunjukan musik, artikulasi musiknya dan mimik aktor bukan
merupakan hal yang utama, karena yang terpenting adalah setiap penonton yang
berada dalam ruang dapat mendengar dan menikmati harmoni irama musik
tersebut dengan baik.
Kata akustik berasal dari bahasa Yunani akuostikos yang berarti, segala

18 http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/453/jbptunikompp-gdl-nurulnurha-22643-4-babiips.pdf

46

sesuatu yang bersangkutan dengan pendengaran pada suatu kondisi ruang yang
dapat mempengaruhi mutu bunyi. Akustik mempunyai tujuan untuk mencapai
kondisi pendengaran suara yang sempurna yaitu murni, merata, jelas dan tidak
berdengung sehingga sama seperti aslinya, bebas dari cacat dan kebisingan.
Akustik Ruang terdefinisi sebagai bentuk dan bahan dalam suatu ruangan
yang terkait dengan perubahan bunyi atau suara yang terjadi. Akustik sendiri
berarti gejala perubahan suara karena sifat pantul benda atau objek pasif dari
alam. Akustik ruang sangat berpengaruh dalam reproduksi suara, misalnya dalam
gedung rapat akan sangat mempengaruhi artikulasi dan kejelasan pembicara.
Akustik ruang banyak dikaitkan dengan dua hal mendasar, yaitu :

Perubahan suara karena pemantulan dan

Gangguan suara ketembusan suara dari ruang lain.

Faktor faktor yang mendasari masalah akustik adalah:

Sumber suara

Perambatan suara

Penerimaan suara

Intensitas suara

Frekuensi suara

2.2.6 Persyaratan Akustik19


Berikut ini adalah persyaratan umum kondisi mendengar yang baik :

19 http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/453/jbptunikompp-gdl-nurulnurha-22643-4-babiips.pdf

47

Harus ada kekerasan (loudness) yang cukup dalam tiap bagian


ruanngan terutama di tempat duduk terjauh.

Energi bunyi harus didistribusikan secara merata (difusi) dalam ruang.

Karakteristik dengung optimum harus disediakan dalam ruang untuk


memungkinkan penerimaan acara yang paling disukai oleh penonton
dan penampil.

Ruang harus bebas dari cacat-cacat akustik seperti gema, pemantulan


yang berkepanjangan, gaung, pemutusan bunyi, distorsi, bayangan
bunyi, dan resonansi ruang.

Bising dan getaran yang akan mengganggu pendengaran atau


pementasan harus dihindari dan di kurangi dengan cukup banyak
dalam tiap bagian ruangan.

Persyaratan khusus mendengar sebuah concert hall :

Karena tidak ada gedung concert yang di bangun untuk satu jenis
musik, waktu dengung harus selalu merupakan kompromi yang
ditetapkan dengan teliti.

Ketegasan akan memuasakan bila perbedaan waktu awal tidak


melampaui 20m/sekon.

Mengadakan persediaan dan distribusi nada-nada rendah yang cukup


untuk daerah pendengar yang luas (diatas 2500 tempat duduk).

Untuk memperoleh kualitas bunyi yang merata, balkon tidak boleh


terlalu menjulur ke udara.

Gema akan sangat jelas bila waktu dengung sangat pendek dan difusi.
48

2.3

Musik Rock

2.3.1 Pengertian
Musik bila ditinjau dari kamus bahasa Indonesia ada 2, yaitu: ilmu atau
seni menyusun nada atau suara dengan urutan, kombinasi, dan hubungan temporal
untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan
kesinambungan. Dan yang kedua, nada atau suara yang disusun demikian rupa
sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan (terutama yg menggunakan
alat-alat yg dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu).
Pengertian lain mengenai musik adalah bunyi yang diterima oleh individu
dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang.
Definisi sejati tentang musik juga bermacam-macam:
- Bunyi/kesan terhadap sesuatu yang ditangkap oleh indera pendengar.
- Suatu karya seni dengan segenap unsur pokok dan pendukungnya.
- Segala bunyi yang dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau
kumpulan dan disajikan sebagai musik.
Beberapa orang menganggap musik tidak berwujud sama sekali. Musik
menurut Aristoteles mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah,
mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme.
Sedangkan pengertian rock itu sendiri adalah musik pop yg dimainkan
dengan peralatan amplielektronik dan dicirikan dengan nada berat terus-menerus.
Musik Rock adalah genre musik populer yang mulai diketahui secara umum pada
pertengahan tahun 50-an. Akarnya berasal dari rhythm and blues, musik country
dari tahun 40 dan 50-an serta berbagai pengaruh lainnya. Selanjutnya, musik rock
49

juga mengambil gaya dari berbagai musik lainnya, termasuk musik rakyat (folk
music), jazz dan musik klasik.

2.3.2 Sejarah
2.3.2.1 Sejarah Musik Rock di Dunia
Musik rock adalah genre musik populer yang mulai diketahui secara
umum pada pertengahan tahun 50-an. Akarnya berasal dari Rhythm and Blues,
musik country dari tahun 40 hingga 50-an serta berbagai pengaruh lainnya.
Selanjutnya, musik rock juga mengambil gaya dari berbagai musik lainnya,
termasuk musik rakyat (folk music), jazz dan musik klasik.
Bunyi khas dari musik rock sering berkisar sekitar gitar listrik atau gitar
akustik, dan penggunaan backbeat yang sangat kentara pada rhythm section
dengan gitar bass dan drum, dan kibor seperti organ, piano atau sejak 70-an,
synthesizer. Disamping gitar atau keyboard, saxophone dan harmonika bergaya
blues kadang digunakan sebagai instrumen musik solo. Dalam bentuk murninya,
musik rock mempunyai tiga chords, backbeat yang konsisten dan mencolok dan
melody yang menarik.
Pada akhir tahun 60-an dan awal 70-an, musk rock berkembang menjadi
beberapa jenis. Yang bercampur dengan musik folk (musik daerah di Amerika)
menjadi folk rock, dengan blues menjadi blues rock dan dengan jazz, menjadi
jazz-rock fusion. Pada tahun 70an, rock menggabungkan pengaruh dari soul, funk,
dan musik latin. Juga di tahun 70an, rock berkembang menjadi berbagai subgenre
(sub kategori) seperti soft rock, glam rock, heavy metal, hard rock, progressive
50

rock, dan punk rock. Sub kategori rock yang mencuat ditahun 80-an termasuk
new wave, hardcore punk dan alternative rock. Pada tahun 90an terdapat grunge,
Britpop, indie rock dan nu metal.
Sebuah kelompuk pemusik yang mengkhususkan diri memainkan musik
rock dijuluki rock band atau rock group (grup musik rock). Rock group banyak
yang terdiri dari pemain gitar, penyanyi utama (lead singer), pemain gitar bass,
dan drummer (pemain drum), membentuk sebuah quartet. Beberapa group
menanggalkan satu atau dua posisi diatas dan/atau menggunakan penyanyi utama
sebagai pemain alat musik disamping menyanyi, membentuk duo atau trio. Group
lainnya memiliki pemusik tambahan seperti dua rhythm gitar dan atau seorang
keyboardist (pemain kibor). Agak lebih jarang, penggunaan alat musik bersenar
seperti biola, cello atau alat tiup seperti saksofon, trompet atau trombon.
Rock, dalam pengertian yang paling luas, meliputi hampir semua musik
pop sejak awal 1950-an. Bentuk yang paling awal, Rock and Roll, adalah
perpaduan dari berbagai genre di akhir 1940-an, dengan musisi-musisi seperti
Chuck Berry, Bill Haley, Buddy Holly, dan Elvis Presley. Hal ini kemudian
didengar oleh orang di seluruh dunia, dan pada pertengahan 1960-an beberapa
grup musik Inggris, misalnya The Beatles, mulai meniru dan menjadi populer.
Musik rock kemudian berkembang menjadi psychedelic rock, kemudian
menjadi progressive rock. Beberapa band Inggris seperti The Yardbirds dan The
Who kemudian berkembang menjadi hard rock, dan kemudian menjadi heavy
metal. Akhir 1970-an musik punk rock mulai berkembang, dengan kelompokkelompok seperti The Clash, The Ramones, dan Sex Pistols. Di tahun 1980-an,
51

rock berkembang terus, terutama metal berkembang menjadi hardcore, thrash


metal, glam metal, death metal, black metal dan grindcore. Ada pula british rock
serta underground.

2.3.2.2 Sejarah Musik Rock di Indonesia


Kelahiran jenis musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari
evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagai pendahulunya. Beberapa contoh
grup band rock misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy dari Jakarta, Giant
Step, Super Kid dari Bandung, Terncem dari Solo, AKA/SAS dari Surabaya,
Bentoel dari Malang hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka inilah generasi
pertama rocker Indonesia. Istilah underground untuk mengidentifikasi band-band
yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar dan `ekstrem untuk
ukuran jamannya.
Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah dan namanya
sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El Pamas, Grass Rock
(Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock (Solo), Val Halla (Medan)
hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Log Zhelebour yang membuat lahirnya label
rekaman rock yang pertama di Indonesia, Logiss Records. Produk pertama label
ini adalah album ketiga dari God Bless, Semut Hitam yang dirilis tahun 1988
dan ludes hingga 400.000 kaset di seluruh Indonesia.
Menjelang akhir era 80-an, di seluruh dunia pada waktu itu anak-anak
muda sedang mengalami demam musik thrash metal. Sebuah perkembangan style
musik metal yang lebih ekstrim lagi dibandingkan heavy metal. Band- band yang
52

menjadi idola antara lain Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom,
Anthrax hingga Sepultura. Di kebanyakan kota- kota besar di Indonesia seperti
Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang hingga Bali, scene underground
pertama kali lahir dari genre musik ekstrim tersebut. Di Jakarta sendiri komunitas
metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Band-band yang
sering hang out di scene Pid Pub antara lain Roxx (Metallica & Anthrax), Sucker
Head (Kreator & Sepultura), Commotion Of Resources (Exodus), Painfull Death,
Rotor (Kreator), Razzle (GNR), Parau (DRI & MOD), Jenazah, Mortus hingga
Alien Scream (Obituary).
Mendapat kontrak rekaman dari label adalah obsesi yang terlalu muluk
saat itu. Saat itu stasiun radio yang rutin mengudarakan musik- musik rock/metal
adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya dan Radio SK. Dari beberapa radio
tersebut mungkin yang paling legendaris adalah Radio Mustang. Mereka
mempunyai program bernama Rock N Rhythm yang mengudara setiap Rabu
malam dari pukul 19.00 21.00 WIB. Stasiun radio ini bahkan sempat didatangi
langsung oleh pemimpin thrash metal Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke
Jakarta bulan Juni 1992. Selain medium radio, media massa yang kerap mengulas
berita- berita rock/metal pada waktu itu hanya Majalah HAI, Tabloid Citra Musik
dan Majalah Vista.

2.3.3 Jenis Musik Rock


1. Rock and Roll
Rock and Roll (sering ditulis sebagai rock 'n' roll) adalah genre musik
53

yang berkembang di Amerika Serikat di akhir tahun 1940-an, dan


mencapai puncak kepopuleran di awal tahun 1950-an. Dari Amerika
Serikat, genre musik ini tersebar ke seluruh dunia. Rock and Roll
melahirkan berbagai macam subgenre yang secara keseluruhan dikenal
sebagai musik rock.
Ciri khas Rock and Roll adalah pada ketukan (beat) yang biasanya
dipadu dengan lirik. Rock and Roll menggunakan beat yang didasarkan
salah satu ritme musik blues yang disebut boogie woogie ditambah aksen
backbeat yang hampir selalu diisi pukulan snare drum. Versi klasik dari
rock and roll dimainkan dengan satu atau dua gitar listrik, gitar bas listrik,
dan drum set. Kepopuleran Rock and Roll secara massal dan mendunia
ternyata menimbulkan dampak sosial yang tidak terduga. Rock and Roll
bukan saja mempengaruhi gaya bermusik, tapi sekaligus gaya hidup, gaya
berpakaian, dan bahasa.
Sejak dilahirkan pada awal dekade 1950-an hingga awal tahun 1960an, musik rock and roll ikut melahirkan dansa gaya baru. Anak-anak muda
merasakan ritme backbeat Rock and Roll yang tidak monoton sangat
cocok untuk menghidupkan kembali dansa gaya jitterbug yang sempat
populer di era big band. Sejak pertengahan tahun 1960-an, istilah "Rock
and Roll" menjadi cukup disebut "rock". Sejak itu pula secara berturutturut muncul berbagai genre dansa, mulai dari twist, funk, disco, hingga
house dan techno.
Pada tahun 1954, Elvis Presley merekam lagu hit "That's All Right
54

(Mama)" di studio Sun milik Sam Phillips di Memphis. Elvis memadukan


unsur-unsur musik rock dan country-western yang disebut rockabilly. Ciri
khas rockabilly adalah gaya vokal seperti orang tersedak bernyanyi,
betotan bas, dan permainan gitar bagaikan sedang kejang-kejang. Elvis
adalah musisi rock pertama yang meraih status superstar.
2. Progressive Rock
Progressive rock atau sering disingkat prog adalah jenis musik yang
mulai berkembang pada akhir dekade 60-an dan mencapai masa jayanya di
tahun 70-an, menggabungkan elemen-elemen dari rock, jazz dan musik
klasik. Kadang pengaruh dari blues dan musik tradisional juga terasa.
Berawal dari eksperimentasi musisi rock saat itu, diinspirasi oleh The
Beatles dan The Beach Boys mereka mulai menggabungkan musik
tradisional, musik klasik dan jazz ke dalam komposisi mereka. Beberapa
band progressive rock terkemuka adalah Yes, King Crimson, UK, Pink
Floyd dan Genesis dari sekitar tahun 1969, Rush dari tahun 70-an dan
Marillion, Dream Theater dari 80-an.
Seperti halnya aliran-aliran musik yang lain, adalah sangat sulit untuk
mendefinisikan musik progressive rock secara tepat. Karena inilah terdapat
banyak perdebatan mengenai apakah satu kelompok ber-genre musik
progressive rock atau tidak. Namun ada beberapa ciri khas musik
progressive yang biasanya dapat ditemui dalam karya-karya musisi
progressive. Di antaranya adalah ritme yang tidak konvensional (bukan 4/4
atau sinkopasi), penguasaan alat musik yang mahir dengan permainan solo
55

yang rumit, dan lagu-lagu yang panjangnya melebihi normal (lebih dari 5
menit, biasanya sekitar 12-20 menit atau bahkan lebih panjang).
Banyak grup progressive rock yang menerbitkan satu album dengan
lagu-lagu

yang

bertemakan

sama

atau

sambung-menyambung

menceritakan satu cerita (disebut album konsep). Contoh-contoh album


konsep di antaranya adalah Metropolis 2: Scenes from a Memory dari
Dream Theater dan The Lamb Lies Down on Broadway dari Genesis.
Banyak pula group musik progressive saat ini yang mulai keluar dari
stigma musik progressive sebagai genre dan kembali ke pemikiran inti
musik progressive sebagai pandangan yang amat sangat kuat dipengaruhi
pandangan Jazz. Beberapa kelompok musik progressive rock asal
Indonesia adalah Discus dan Kekal.
3. Psychedelic Rock
Psikedelik atau Psychedelic (dalam bahasa inggris), berasal dari akar
kata bahasa Yunani psihi (psyche, soul), dan dilosi (manifest), atau secara
harfiah bisa disebut manifestasi dari jiwa-jiwa manusia. Manifestasi
psikedelik berasar dari pengalaman, pengetahuan, dan pemahaman
manusia terhadap sesuatu yang tanpa sadar tidak disadari (unconcious).
Ketidaksadaran atas sesuatu tersebut sebenarnya ada dan tertanam dalam
memori, hanya saja beragam belenggu (norma, adat, agama, logika, dsb)
yang mengikatnya. Psikedelik memberi ruang kreatif untuk membebaskan
belenggu tersebut. Psikedelik membuka seluas-luasnya persepsi manusia
melalui halusinasi, trans, ataupun sinestesia, sebagai bentuk perlawanan
56

dan penyanding akan kesadaran imajinasi yang terkekang.


Musik psikedelik digandang-gandang sebagai respon dari fenomena
budaya yang terjadi di Amerika dan Inggris, selanjutnya ditumpahkan
dalam bahasa yang lebih musikal. Musik psikedelik dikenal pada akhir
tahun 1960-an atau awal 1970-an, bahkan hingga kini. Istilah Psychedelic
Folk, Psychedelic Rock, Psychedelic Electronic Music, Trance, New
Wave, Space Rock, Glam Rock, hingga Neo-Psychedelia, dan masih
banyak lagi subgenre yang melingkupinya, akan terus dan tetap
berkembang sesuai dengan konteks budaya zamannya. Psychedelic rock
adalah salah satu jenis dari musik rock yang mencoba untuk
menggambarkan orang yang sedang kecanduan. Pada umumnya mereka
terdiri dari alat musik gitar elektrik, khususnya yang hanya memiliki 12
string yang dijadikan sebagai 'jangle'-nya; menampilkan pula efek yang
dibuat dalam suatu rumah studio.
4. Hard Rock
Hard rock adalah subgenre musik rock yang berakar dari aliran musik
psychedelic rock dan garage rock asal pertengahan tahun 1960-an. Ciri
khas musik ini adalah penambahan efek distorsi pada suara gitar listrik,
gitar bass, kibor, dan drum. Distorsi antara lain ditambahkan dengan
bantuan pedal efek, penguat awal (preamp), penguat, atau pengeras suara.
Hard rock sangat dipengaruhi oleh musik blues. Tangga nada
pentatonik yang khas blues adalah tangga nada yang paling sering dipakai
dalam hard rock. Berbeda dari rock and roll tradisional yang mengambil
57

unsur-unsur blues lama, hard rock memasukkan unsur-unsur blues Britania


yang memakai alat musik modern, seperti: gitar listrik, drum, kibor, dan
bass listrik. Hard rock tidak terbatas hanya pada memainkan akord I, IV,
dan V yang lazim pada blues dua belas birama atau blues enam belas
birama, melainkan juga memainkan akord-akord yang lain, terutama akord
mayor dari tangga nada minor.
5. Punk Rock
Punk rock adalah gerakan musik rock anti-establishment yang berasal
dari Amerika Serikat, Australia, dan Inggris sekitar tahun 1974-1975,
dipelopori oleh kelompok-kelompok seperti Ramones, Sex Pistols, The
Damned, dan The Clash.
Kelompok punk sering meniru struktur musik sederhana seperti musik
garage rock dari tahun 1960-an. Biasanya mereka terdiri dari satu drum
kit, satu atau dua electric guitar, satu electric bass, dan vocals. Drums
biasanya hanya memiliki satu snare drum, satu tom, satu floor tom, satu
bass drum, hi-hats, satu atau dua crash cymbal dan satu ride cymbal.
6. Heavy Metal
Heavy metal adalah sebuah aliran musik rock yang berkembang pada
1970-an. Aliran musik ini mengutamakan gitar yang cukup banyak. Heavy
metal ditemukan oleh Band veteran Tahun 60'an Steppenwolf, dalam lagu
klasiknya yang berjudul 'Born To Be Wild'.
Dari tahun 1960-an atau bisa disebut Blues Rock seperti Led Zeppelin,
AC/DC, Classic metal dan disekitar 60-an sampai 70-an atau disebut
58

Classic Rock seperti Black Sabbath, Blue Oyster Cult, Deep Purple, Alice
Cooper. Permainan Classic metal dimainkan kadang dengan Organ.
Musiknya dikendalikan oleh riff yang lebih sering dimainkan dalam tangga
nada minor. Vokalisnya juga terpengaruh oleh Led Zeppelin kecuali Ozzy
Osbourne (vokalis Black Sabbath) yang dipengaruhi oleh Sirene udara.
7. Hardcore Punk
Hardcore merupakan salah satu subgenre dari punk rock yang berasal
dari Amerika Utara dan UK diakhir tahun 1970an. Sound baru ini yang
merupakan ciri khas musiknya secara umum yaitu: suara gitar yang lebih
tebal, berat dan cepat dari musik punk rock awal. Tipikal lagu biasanya
sangat pendek, cepat dan keras, selalu membawakan lagu tentang politik,
kebebasan berpendapat, kekerasan, pengasingan diri dari sosial, straight
edge, perang dan tentang sub-kultur hardcore itu sendiri.
8. Alternative Rock
Alternative rock adalah aliran musik rock yang muncul pada tahun
1980-an dan menjadi sangat populer di tahun 1990. Nama "alternatif"
ditemukan pada tahun 1980 untuk mendeskripsikan band-band punk rock
yang tidak sesuai dengan aliran punk rock pada masanya. Sebagai jenis
musik yang spesifik, rock alternatif mempunyai sub-aliran yang bervariasi,
dari musik indie yang bermulai pada tahun 1980 dan menjadi populer pada
tahun 1990, seperti indie rock, grunge, gothic rock, dan college rock.
Aliran-aliran tersebut terkonsolidasi dengan ciri khasnya masing- masing.
Walaupun aliran alternatif terhitung sebagai aliran rock, tapi beberapa
59

sub-alirannya terpengaruh oleh musik rakyat, reggae, musik elektronik,


dan jazz. Dalam periode tertentu, istilah rock alternatif digunakan untuk
menyebut musik rock dari band underground pada tahun 1980an, punk
rock (termasuk punk itu sendiri), dan untuk musik rock itu sendiri pada
tahun 1990-an dan 2000-an.
Alternative rock secara esensial adalah istilah yang digunakan untuk
menyebut musik underground yang muncul pada tahun 1980-an. Band
alternatif pada tahun 1980-an umumnya dimainkan di klub-klub kecil,
direkam untuk label indie, dan popularitasnya menyebar dari mulut ke
mulut. Lirik yang digunakan dalam rock alternatif biasanya mengambil
topik-topik sosial, seperti penggunaan obat terlarang, depresi, dan yang
berhubungan dengan lingkungan. Hal ini merupakan sebuah pendekatan
yang muncul akibat refleksi sosial dan ekonomi di Amerika Serikat dan
Inggris pada tahun 1980-an dan awal 1990-an.
Dalam satu dekade pertama pada abad ke 21, aliran musik rock terus
berevolusi dari awal alternatif musik yang muncul pada tahun 1980-an.
Musik rock yang populer pada zaman sekarang, terlihat dari grup modern
rock seperti Linkin Park. Iri hati karena mengetahui kenyataan bahwa
aliran musik tersebut merupakan pengaruh dari rock alternatif, sebagian
besar fans menyatakan ini adalah bagian dari aliran nu metal.
Bagaimanapun juga, pada tahun 2004 alternatif rock mendapat popularitas
dari artis seperti Modest Mouse, Bloc Party, Enon, Liam Finn, Blood Red
Shoes dan Franz Ferdinand.
60

9. Speed Metal
Speed metal adalah genre musik yang muncul di akhir 1970-an dan
merupakan pendahulu thrash metal. Musik ini adalah versi lebih cepat dari
musik yang dimainkan oleh Black Sabbath, Led Zeppelin, dan Deep
Purple. Speed metal mulai terkenal lewat band-band NWOBHM. Banyak
band speed metal juga dapat disebut band thrash dan power metal.
Beberapa contoh awal adalah lagu-lagu "Highway Star" dan "Speed King"
oleh Deep Purple dan "Paranoid" oleh Black Sabbath.
10. Avant Garde
Avant-garde metal atau experimental adalah salah satu genre dari
heavy metal. Beberapa pelopor genre ini adalah Celtic Frost, Fleurety, dan
Ved Buens Ende. Berbeda dengan progressive metal di mana percobaan
dilakukan terutama dalam complex rhythms dan struktur lagu dan
mempertahankan instrumen tradisional, avant-garde metal menggunakan
suara-suara yang tidak lazim. Banyak band avant-garde metal memiliki
hubungan dengan band-band black metal.
11. Trash Metal
Thrash metal (terkadang disingkat menjadi thrash), adalah sebuah
extreme metal subgenre dari heavy metal yang berciri memiliki tempo
yang cepat dan agresif. Lagu-lagu thrash metal biasanya menggunakan
stem gitar nada rendah dan perkusi yang cepat. Lirik-lirik thrash metal
sering mengangkat tema masalah-masalah sosial menggunakan bahasa
yang kasar dan mendalam, sebuah pendekatan yang sebagian mirip dengan
61

genre hardcore. Band "Empat Besar" atau "Big Four" thrash metal adalah
Anthrax, Megadeth, Metallica, dan Slayer, yang secara bersama-sama dan
mempopulerkan genre ini diawal tahun 1980-an. Ada pula yang
mengatakan bukan lagi "Empat Besar" tetapi menjadi "Lima Besar"
Megadeth, Slayer, Exodus, Pantera, and Metallica. Di Eropa style ini
dibawa oleh tiga band asal Jerman, yaitu Kreator, Sodom, dan Destruction.
Testament dan Exodus dari San Fransisco, Overkill dari New Jersey dan
Sepultura dari Brazil.
Asal muasal thrash metal secara umum dijejaki pada akhir tahun
1970-an dan awal tahun 1980-an, ketika beberapa band mulai
menggabungkan sound dari New Wave of British Heavy Metal,
menciptakan sebuah genre baru dan mengembangkan kedalam gerakan
yang terpisah sendiri dari punk rock and hardcore. Genre ini lebih agresif
dibandingkan speed metal. Sering kali dicampurkan dari kategori metal
yang satu dengan metal yang lain, dan juga beberapa band ada yang
menggabungkan pengaruh musikal dari genre non-metal.
12. Death Metal
Death metal adalah sebuah subgenre dari musik heavy metal yang
berkembang dari thrash metal pada awal 1980-an. Beberapa ciri khasnya
adalah lirik lagu yang bertemakan kekerasan atau kematian, ritme gitar
rendah (downtuned rhythm guitars), perkusi yang cepat, dan intensitas
dinamis. Vokal biasanya dinyanyikan dengan gerutuan (death grunt) atau
geraman maut (death growl). Teknik menyanyi seperti ini juga sering
62

disebut "Cookie Monster vocals".


Beberapa pelopor genre ini adalah Venom dengan albumnya
Welcome to Hell (1981) dan Death dengan albumnya Scream Bloody
Gore (1987). Death metal kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh bandband seperti Carcass, Morbid Angel, Entombed, God Macabre, Carnage.
Di Indonesia, genre ini diawali pergerakan dan perkembangannya di
tahun 1990-an dengan band thrash metal Rotor di Jakarta dan beberapa
band pioneer death metal lainnya di daerah lain, seperti Adaptor dari
Jakarta , Insanity dan Hallucination dari Bandung, Death Vomit dari
Jogjakarta , Slow Death dari Surabaya, kemudian berkembang dengan
band-band berbahaya dan bereputasi internasional, Jasad , Disinfected,dan
Ancur dari Bandung , Siksa Kubur , Funeral Inception dari Jakarta dan
Cranial Incisored Jogjakarta dan Last Redemption dari Bandung.
13. Black Metal
Black metal diawali oleh band Venom pada tahun 1982 lewat album
berjudul Black Metal. Lalu diikuti oleh band-band seperti Bathory,
Mayhem, Mercyfull Fate, Hellhammer/Celtic Forst. Semua band ini terInfluence oleh Venom. Band Black metal masih cenderung bermain
Thrash metal. Pada awal 1980-an sampai 1990-an, Black metal sangat
berkembang di daerah Skandinavia oleh band-band tersebut. Jenis musik
metal ini juga termasuk jenis metal underground. Black metal mempunyai
Subgenre bernama NSBM , Neo Nazi Black metal dua komunitas tersebut
termasuk yang berpengaruh di komunitas Underground. Band yang
63

terkenal dari jenis musik ini adalah Dimmu Borgir, Cradle of Filth, Dark
Funeral, Emperor dan Immortal.
14. Grincore
Grindcore, sering di singkat menjadi grind, adalah gabungan dari
beberapa musik ekstrim. Inspirasinya dimulai dari beberapa genre musik
populer yang sangat cepat (seperti mengasah) industrial, extreme metal
dan hardcore punk. Walaupun gaya musiknya yang amat sangat tidak
disukai, pengaruh grindcore menyebar ke pelosok dunia musik, terutama
power violence, avant-garde jazz, musik industrial yang sangat komersil
dan genre-genre nu metal.
Grindcore di golongkan dengan distorsi berat, gitar dengan stem yang
rendah, tempo yang ekstrim, sering diiringi degan beat-beat yang meledak,
lagu sering berakhir tidak lebih dari dua menit (beberapa sering juga amat
panjang) vokal penuh dengan geraman dan teriakan nada tinggi, hampir
mirip dengan crust punk. Lirik selalu bertemakan dari sosial dan politik
(Napalm Death), kematian dan darah (Carcass) dan humor (Anal Cunt).
15. Gothic Metal
Gothic metal adalah sejenis musik metal yang biasanya (namun tidak
selalu) memakai dua orang vokalis. Pertama vokal wanita dengan suara
soprano, lalu vokal kedua adalah vokal pria dengan gaya vokal dari musik
black atau death metal (sehingga gaya vokal seperti itu banyak disebut
sebagai vokal 'Beauty and the Beast'). Lirik-liriknya kebanyakan
bernuansa pagan, kemuraman, kegelapan. Aliran musik ini paling populer
64

di Eropa, meskipun jumlah penggemar mainstream (kalangan umum) tidak


banyak. Band yang terkenal dalam jenis musik ini adalah : Theater of
Tragedy, Lacuna Coil, Trail of Tear.
16. Doom Metal
Doom metal adalah bentuk dari musik heavy metal yang sangat khas,
mempunyai tempo yang sangat lamban, stem gitar yang rendah dan suara
gitar lebih tebal atau lebih berat dari suara genre metal yang lainnya.
Musik dan lirik cenderung menimbulkan perasaan putus asa, rasa takut dan
berharap akan terjadinya ajal/malapetaka.
Genre ini sangat kuat dipengaruhi oleh karya awal Black Sabbath,
yang telah membentuk sebuah prototipe untuk doom metal dengan lagulagu yang berjudul "Black Sabbath" and "Into the Void". Selama
pertengahan awal tahun 80an, sejumlah band dari Inggris (Pagan Altar,
Witchfinder General) dan band dari Amerika (Pentagram, Saint Vitus,
Trouble) mendefinisikan doom metal sebagai sebuah genre yang berbeda.
17. Industrial Metal
Industrial metal adalah sebuah genre musik yang diciptakan dari
perpaduan musik industrial dan heavy metal. Permainannya seputar Heavy
metal, gitar listrik, riffs, sampling, synthesizer atau sequencer lines, dan
distorsi vokal. Pendiri industrial metal adalah Ministry, Godflesh, dan
KMFDM. Gaya permainan ini sukses secara komersil pada tahun 1990-an,
kemudian menjadi sangat terkenal di bermacam-macam gaya permainan.
Pengaruh yang kuat dari Industrial metal ini telah direfleksikan dalam
65

beberapa genre musik yang lain, termasuk hardcore punk, glam metal, and
hip-hop.
18.Grunge
Tahun 1990-an ketika wabah musik Grunge yang awalnya adalah
Punk dan bermunculan di Seattle dan dikembangkan oleh Kurt Cobain
walaupun sedikit cenderung ke Alternative rock. Band Grunge yang
berasal dari Seattle, seperti contohnya adalah Nirvana, Soundgarden, Pearl
Jam, dan Alice in Chains. Sebenarnya grunge sudah ada oleh band-band
seperti Malfunkshun dan Green River setelah itu ada Temple of the Dog
Mad Season, Mudhoney sampai Melvins. Setelah kematian Kurt Cobain
musik Grunge jarang datang lalu kembali di-ilhami dengan band-band
seperti Skin Yard dan PJ Harvey. Jika suatu band memainkan musik
Grunge tapi band itu bukan berasa dari Seattle. Nama yang dipakai
bukanlah Grunge, tetapi Post-Grunge seperti L7, Stone Temple Pilots,
Paw, Hole (Yang sang vokalis Courtney Love adalah istri dari Kurt
Cobain).
19. Nu Metal
Nu metal (disebut juga new metal / n metal / neo metal) adalah genre
musik yang mirip musik grunge dan alternative metal dengan musik funk,
hip-hop, dan subgenre heavy metal. Nu metal lahir pada pertengahan
1990-an, diperkenalkan oleh band Limp Bizkit dan Korn. Sekarang, band
nu metal paling populer adalah Linkin Park. Musik nu metal yang
menonjolkan banyak rap sering disebut rapcore.
66

Anda mungkin juga menyukai