Anda di halaman 1dari 17

Program Pengendalian Penyakit Menular di

Puskesmas

Disusun Oleh:
Haryo Ganeca W
030.09.108
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
PERIODE 29 JULI-12 SEPTEMBER 2015
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA

BAB I
PENDAHULUAN

Untuk menciptakan bangsa yang memiliki kesadaran, kemauan, dan


kemampuan hidup sehat dibutuhkan kerjasama masyarakat dalam menciptakan
pembangunan kesehatan. Pembangunan kesehatan di Indonesia berfungsi untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat untuk hidup
sehat sehingga setiap orang dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
Pembangunan

kesehatan

di

Indonesia

masih

perlu

pembenahan

yang

terkonsentrasi guna mewujudkan pembangunan kesehatan yang memiliki


pengaruh signifikan terhadap tingkat kesehatan masyarakat Indonesia yang
optimal. Di sini, peran masyarakat dan perangkat-perangkat kesehatan memiliki
peran yang sangat penting, salah satu perangkat kesehatan tersebut adalah
Puskesmas.1
Puskesmas

merupakan

sebuah

institusi

pelayanan

kesehatan

yang

berbasiskan masyarakat yang ikut berperan sebagai perangkat pembangunan


kesehatan milik pemerintah. Upaya kesehatan puskesmas meliputi upaya
kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Di sini, puskesmas
difungsikan sebagai ujung tombak penentu kinerja Kabupaten atau kota untuk
mewujudkan masyarakat yang sehat di wilayah kerjanya karena Puskermas
merupakan sarana pelayanan kesehatan dasar yang paling dekat dengan
masyarakat. Puskesmas juga merupakan ujung tombak penyelenggaraan UKM
maupun UKP di srata pertama pelayanan kesehatan, dan merupakan Unit
Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota yang bertanggungjawab
menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan di Kabupaten atau
Kota.1
Di dalam pembangunan kesehatan, Indonesia memiliki masalah kesehatan
yang cukup kompleks, dibuktikan dengan meningkatnya kasus penyakit menular,
banyaknya jumlah kematian yang terjadi, serta meningkatnya penyakit yang dapat
2

dicegah dengan imunisasi, didukung dengan perolehan Indonesia dengan


peringkat 4 sedunia untuk kasus tuberculosis, selain itu Indonesia juga
memperoleh peringkat 1 untuk penularan HIV tercepat. Hal ini merupakan
masalah kesehatan yang sangat membutuhkan perhatian dan pembenahan. Namun
dalam pembenahan dan pembangunan kesehatan tidaklah mudah karena dipersulit
dengan adanya keterbatasan sumber daya manusia baik dalam aspek kualitas
maupun kuantitas. Dengan adanya Puskesmas sebagai upaya keperawatan
kesehatan masyarakat yang terdiri dari upaya wajib dan upaya pengembangan,
diharapkan pemberian pelayanan kesehatannya dapat mencegah dan memberantas
penyakit menular melalui upaya wajibnya yaitu P2M.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular merupakan program


pelayanan kesehatan Puskesmas untuk mencegah dan mengendalikan penular
penyakit menular/infeksi (misalnya TB, DBD, Kusta dll).1-3
Tujuan dari program P2M ini yaitu untuk menurunkan angka kesakitan,
kematian, dan kecacatan akibat penyakit menular. Prioritas penyakit menular yang
akan ditanggulangi adalah Malaria, demam berdarah dengue, diare, polio, filaria,
kusta tuberkulosis paru, HIV/AIDS, pneumonia, dan penyakit-penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi. Uraian tugas umum untuk koordinator unit
pencegahan dan pemberantasan penyakit menular yaitu menyusun perencanaan
dan evaluasi kegiatan di unit p2m, mengkoordinir dan berperan aktif terhadap
kegiatan di unitnya, dan kut serta aktif mencegah dan mengawasi terjadinya
peningkatan kasus penyakit menular serta menindaklanjuti terjadinya KLB. 1-3
Banyak sekali upaya yang dilakukan oleh puskesmas untuk memberantas
penyakit menular, setelah puskemas bekerja, kinerja p2m puskesmas langsung
dilaporkan kepada kepala dinas kesehatan daerah tingkat II.1-3
A. Ruang Lingkup Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular 1-3

Surveilans epidemiologi
Imunisasi
TBC
Malaria
Kusta
DBD
Penanggulangan KLB
ISPA/Pnemonia
Filariasis
AFP
Diare
Rabies/Gigitan Hewan Penular Rabies (HPR)
4

Kesehatan Matra (Haji dan P. Bencana)


Frambusia
Leptospirosis
HIV/AIDS
Penyakit tidak menular (DM, hipertensi, dll).

B. Kegiatan Pokok P2M1-3


Secara umum, untuk pemberantasan penyakit menular, puskesmas memiliki
tugas-tugas yang terbagi dalam lima hal. Terdapat banyak sekali macam penyakit
menular, berikut ini jenis penyakit menular yang bersumber data dari puskesmas
berdasarkan KEPMENKES RI NOMOR 1479/MENKES/SK/X/2003 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan
Penyakit Tidak Menular Terpadu:
Tabel 1. Daftar Penyakit Menular
NO.

Penyakit

NO.

Penyakit

1.

Kolera

14.

Malaria Klinis

2.

Diare

15.

Malaria Vivax

3.

Diare berdarah

16.

Malaria falsifarum

4.

Tifus perut klinis

17.

Malaria mix

5.

TBC paru BTA (+)

18.

Demam berdarah dengue

6.

Tersangka TBC paru

19.

Demam dengue

7.

Kusta PB

20.

Pneumonia

8.

Kusta MB

21.

Sifilis

9.

Campak

22.

Gonrrhea

10.

Difteri

23.

Frambusia

11.

Batuk rejan

24.

Filariasis

12.

Tetanus

25.

Influensa

13.

Hepatitis klinis

Kegiatan pokok pemberantasan penyakit menular oleh puskesmas terdiri


dari pencegahan dan penanggulangan faktor risiko, peningkatan imunisasi,
penemuan dan tatalaksana penderita, Peningkatan surveilens epidemiologi dan
penanggulangan wabah, serta Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi
(KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit.
a. Pencegahan dan Penanggulangan Faktor Risiko
Selain pasien yang telah terinfeksi penyakit menular, masyarakat yang
memiliki risiko tinggi juga perlu diperhatikan, karena masyarakat yang
memiliki risiko tinggi bisa memiliki risiko kapan saja terkena penyakit
menular. Pencegahan dan penanggulangan faktor risiko terdiri atas:
o Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan
perundang-undangan,

dan

kebijakan

pencegahan

dan

penanggulangan faktor risiko dan diseminasinya.


o Menyiapkan materi dan menyusun rencana kebutuhan untuk
pencegahan dan penanggulangan faktor resiko.
o Menyediakan kebutuhan pencegahan dan penanggulangan faktor
risiko sebagai stimulan.
o Menyiapkan
materi

dan

menyusun

rancangan

juklak/juknis/pedoman pencegahan dan penanggulangan faktor


risiko.
o Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk
melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko.
o Melakukan bimbingan, pemantauan dan evaluasi kegiatan
pencegahan dan penanggulangan faktor risiko.
o Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja
informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan
faktor risiko.
o Melakukan kajian program pencegahan dan penanggulangan faktor
risiko.
o Membina dan mengembangkan UPT dalam pencegahn dan
penanggulangan faktor risiko.
o Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan
pencegahan

dan pemberantasan penyakit.

b. Peningkatan imunisasi
Imunisasi sangat penting untuk mencegah dan melindungi seseorang
terjangkit penyakit menular, ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh
puskesmas dalam hal peningkatan imunisasi yaitu:
o Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan
perundang-undangan, dan kebijakan peningkatan imunisasi, dan
diseminasinya.
o Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan
peningkatan imunisasi.
o Menyediakan kebutuhan peningkatan imunisasi sebagai stimulan
yang ditujukan terutama untuk masyarakat miskin dan kawasan
khusus sesuai dengan skala prioritas.
o Menyiapkan
materi
dan
menyusun

rancagan

juklak

juklak/juknis/protap program imunisasi.


o Menyiapkan dan mendistribusikan
sarana dan prasarana imunisasi.
8
o Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk
melaksanakan program imunisasi.
o Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan
imunisasi.
o Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja
informasi dan konsultasi teknis peningkatan imunisasi
o Melakukan kajian upaya peningkatan imunisasi.
o Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan
imunisasi.
o Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan
imunisasi.
c. Penemuan dan Tatalaksana Penderita

Selain kunjungan penderita ke puskesmas, puskesmas harus berperan


aktif dalam penemuan dan kunjungan terhadap penderita. Penemuan dan
tatalaksana penderita terdiri atas upaya bimbingan, pemantauan, dan evaluasi
kegiatan

penemuan

dan

tatalaksana

penderita,

serta

meningkatkan

kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakan program


penemuan dan tatalaksana penderita.
Di dalam upaya penemuan dan tatalaksana penderita dibutuhkan
kerjasama antara masyarakat dan puskesmas untuk saling bekerjasama
7

sehingga dapat memabangun status kesehatan pada masyarakat yang optimal


dengan pemberantasan penyakit menular, sebagai contoh seperti kasus TBC
yang membutuhkan peran penting puskesmas. Apabila pasien berhenti dalam
masa pengobatan akibat halangan tertentu atau lalainya pasien dalam
kunjungan ke puskesmas untuk kontrol, maka puskesmas harus aktif
mengunjungi rumah penderita, sebab apabila pasien tersebut berhenti minum
obat, maka upaya pemberantasan TBC dikatakan gagal dan pasien harus
mengulang tahap pengobatan mulai dari awal.
Serta apabila pasien terus-terusan memberhentikan pengobatan di
tengah-tangah masa pengobatan, maka akan terjadi resistensi dan hal ini dapat
menyebabkan kemungkinan penyebaran penyakit semakin besar. Itulah
sebabnya, puskesmas terdekat harus mengunjungi rumah pasien agar dapat
menjangkau pasien dan menyukseskan upaya p2m. Kegiatan pokok dalam
upaya ini yaitu:
o Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan
perundangundangan, dan kebijakan penemuan dan tatalaksana
penderita dan diseminasinya.
o Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan
penemuan dan tatalaksana penderita.
o Menyediakan kebutuhan penemuan dan tatalaksana penderita
sebagai stimulan.
o Menyiapkan
materi
juklak/juknis/pedoman

dan
program

menyusun
penemuan

dan

rancangan
tatalaksana

penderita.
o Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk
melaksanakan program penemuan dan tatalaksana penderita.
o Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan
penemuan dan tatalaksana penderita.
o Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja
informasi dan konsultasi teknis penemuan dan tatalaksana
penderita.
o Melakukan kajian upaya penemuan dan tatalaksana penderita.
o Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya penemuan dan
tatalaksana penderita.
8

10

o Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan


penemuan dan tatalaksana penderita.
d. Peningkatan Surveilans Epidemiologi dan Penanggulangan Wabah

Surveilans epidemilogi penyakit menular juga merupakan salah satu


upaya pemberantasan penyakit menular yang penting, karena dengan
surveilans epidemiologi penyakit menular, puskesmas dapat mengetahui
penyebaran dan hubungannya dengan faktor risiko, surveilans epidemiologi
ini dapat mendukung pemberantasan penyakit menular dari data yang didapat
oleh puskesmas itu sendiri. Kegiatan pokok:
o Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan
perundang-undangan,

dan

kebijakan

peningkatan

surveilans

epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah dan diseminasinya.


o Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan
peningkatan

surveilans

epidemiologi

dan

penanggulangan

KLB/wabah.
o Menyediakan kebutuhan peningkatan surveilans epidemiologi dan
penanggulangan KLB/wabah sebagai stimulan.
o Menyiapkan
materi
dan
menyusun
juklak/juknis/pedoman

program

surveilans

rancangan

epidemiologi

dan

penanggulangan KLB/wabah.
o Meningkatkan sistem kewaspadaan dini dan menanggulangi
KLB/Wabah, termasuk dampak bencana.
o Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk
melaksanakan

program

surveilans

penanggulangan KLB/wabah.
o Melakukan bimbingan, pemantauan,

epidemiologi
dan

evaluasi

dan

kegiatan

surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah.


o Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja
informasi

dan

konsultasi

teknis

peningkatan

surveilans

epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah.


o Melakukan kajian upaya peningkatan surveilans epidemiologi dan
penanggulangan KLB/wabah.
o Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan
surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah.
9

o Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan


surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah.
Surveilans merupakan kegiatan analisis secara sistematis dan terus
menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang
mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalahmasalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan
secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan
penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program.
Surveilans epidemiologi penyakit menular merupakan kegiatan analisis
secara sistematis dan terus-menerus terhadao penyakit menular yang terjadi di
suatu wilayah tertentu agar dapat melakukan tindakan penanggulangaan
penyakit menular secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data,
pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara
program kesehatan.
Tujuan surveilans epidemiologi penyakit menular yaitu:
o Terkumpulnya data kesakitan, data laboratorium dan data KLB
penyakit menular di Puskesmas sebagai sumber data Surveilans
Terpadu Penyakit Menular.
o Terdistribusikannya data kesakitan, data laboratorium serta data
KLB penyakit menular kepada unit surveilans Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, unit surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dan
unit surveilans Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit
Menular.
o Terlaksananya pengolahan dan penyajian data penyakit menular
dalam bentuk tabel, grafik, peta dan analisis epidemiologi lebih
lanjut oleh Unit surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
Dinas Kesehatan Propinsi dan Ditjen PPM &PL Depkes.
o Terdistribusinya hasil pengolahan dan penyajian data penyakit
menular beserta hasil analisis epidemiologi lebih lanjut dan
rekomendasi

kepada

program

terkait

di

Puskesmas,

Kabupaten/Kota, Propinsi, Nasional, pusat-pusat riset, pusatpusat kajian dan perguruan tinggi serta sektor terkait lainnya

10

Di dalam KEPMENKES RI NOMOR 1479/MENKES/SK/X/2003


tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit
Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu, dinyatakan bahwa prioritas
surveilans penyakit yang perlu dikembangkan adalah penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi, penyakit yang potensial menimbulkan wabah atau
kejadian luar biasa, penyakit menular dan keracunan, demam berdarah dan
demam berdarah dengue, malaria, penyakit-penyakit zoonosis antara lain
antraks, rabies, leptospirosis, filariasis serta tuberkulosis, diare, tipus perut,
kecacingan dan penyakit perut lainnya, kusta, frambusia, penyakit HIV/AIDS,
penyakit menular seksual, pneumonia, termasuk penyakit pneumonia akut
berat (severe acute respiratory syndrome), hipertensi, stroke dan penyakit
jantung koroner, diabetes mellitus, neoplasma, penyakit paru obstuksi
menahun, gangguan mental dan gangguan kesehatan akibat kecelakaan.
Salah satu ruang lingkup penyelenggaran surveilans terpadu penyakit
yaitu surveilans terpadu penyakit bersumber data Puskesmas, jenis penyakit
menular yang termasuk di dalam surveilans terpadu penyakit berbasis
puskesmas meliputi kolera, tifus perut klinis, TBC paru BTA (+), tersangka
TBC paru, kusta PB, Kusta MB, campak, difteri, batuk rejan, tetanus, hepatitis
klinis, malaria klinis, malaria vivax, malaria falsifarum, malaria mix, demam
berdarah dengue, pneumonia, sifilis, gonorrhoe, frambusia, filariasis, dan
influenza. Data-data surveilans terpadu penyakit didapatkan dari data harian
pelayanan yang disusun dalam sistem perekaman data puskesmas.
Masing-masing unit surveilans di Puskemas memiliki peran khusus
dalam penyelenggaraan Surveilans Terpadu Penyakit

Peran tersebut

diformulasikan sebagai kegiatan teknis surveilans yang saling mempengaruhi


kinerja antara yang satu dengan unit surveilans yang lain dalam jejaring
surveilans.
Peran puskesmas dalam STP penyakit menular yaitu:
o Pengumpulan dan pengolahan data
Unit surveilans puskesmas Unit surveilans

Puskesmas

mengumpulkan dan mengolah data STP Puskesmas harian bersumber


dari register rawat jalan & register rawat inap di Puskesmas dan

11

13

Puskesmas Pembantu, tidak termasuk data dari unit pelayanan bukan


puskesmas dan kader kesehatan.
Pengumpulan dan pengolahan data tersebut dimanfaatkan untuk
bahan analisis dan rekomendasi tindak lanjut serta distribusi data.
o Analisis serta Rekomendasi Tindak Lanjut
Unit surveilans Puskesmas melaksanakan analisis bulanan
terhadap penyakit potensial KLB di daerahnya dalam bentuk tabel
menurut desa/kelurahan dan grafik kecenderungan penyakit mingguan,
kemudian menginformasikan hasilnya kepada Kepala Puskesmas,
sebagai pelaksanaan pemantauan wilayah setempat (PWS) atau sistem
kewaspadaan dini penyakit potensial KLB di Puskesmas.
Apabila ditemukan adanya kecenderungan peningkatan jumlah
penderita penyakit potensial KLB tertentu. maka Kepala Puskesmas
melakukan penyelidikan epidemiologi dan menginformasikan ke Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.
Unit surveilans Puskesmas melaksanakan analisis tahunan
perkembangan penyakit dan menghubungkannya dengan faktor risiko,
perubahan lingkungan, serta perencanaan dan keberhasilan program.
Puskesmas memanfaatkan hasilnya sebagai bahan profil tahunan, bahan
perencanaan Puskesmas, informasi program dan sektor terkait serta
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
o Umpan Balik
Unit surveilans Puskesmas mengirim umpan balik bulanan
absensi laporan

dan permintaan perbaikan data ke Puskesmas

Pembantu di daerah kerjanya.


o Laporan
Setiap minggu, Puskesmas mengirim data PWS penyakit potensial
KLB ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Setiap bulan, puskesmas
mengirim data STP Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
dengan jenis penyakit dan variabelnya.
e. Peningkatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Pencegahan
dan Pemberantasan Penyakit

12

Setelah upaya-upaya yang telah dijelaskan di atas tadi, Puskesmas juga


memiliki upaya untuk meningkatkan komunikasi, informasi, dan Edukasi
untuk oencegan dan pemberantasan penyakit menular di suatu wilayah
kerjanya. Upaya ini bisa dilakukan dengan pengembangan media promosi
kesehatan dan teknologi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE);
pengembangan upaya kesehatan bersumber masyarakat, (seperti pos
pelayanan terpadu, pondok bersalin desa, usaha kesehatan sekolah dan
generasi muda, Saka Bhakti Husada; serta peningkatan pendidikan kesehatan
kepada masyarakat.
Media promosi kesehatan terhadap masyarakat perlu ditingkatkan
terutama promosi tentang penyakit menular, cara penularan dan cara
pencegahan agar masyarakat bisa mengerti secara luas apa saja penyakit
menular itu, bagaimana cara mencegahnya dan bagaimana cara mengobatinya.
Selain itu puskesmas juga bertugas untuk mengajak masyarakat berperan aktif
dalam pengembangan upaya kesehatan misalnya pos pelayanan terpadu dan
usaha kesehatan lain.
Selain promosi kesehatan, komunikasi dan informasi seputar penyakit
menular untuk masyarakat juga merupakan upaya puskesmas dalam
pemberantasan penyakit menular. Informasi yang diberikan terhadap
puskesmas seperti penyuluhan harus dibuat semenarik mungkin agar
masyarakat tertarik terhadap acara yang diadakan. Semisal, penyuluhan
HIV/AIDS pada siswa SMP/SMA

untuk pencegahan penyakit menular

seksual pada kalangan muda yang sekarang sedang marak terjadi.


Banyak siswa SMP yang masih belum mengerti apa itu penyakit
HIV/AIDS dan bagaimana cara penularannya sehingga di Indonesia
penyebaran HIV/AIDS sangatlah cepat. Selain pemberian informasi,
pembentukan karakter dan moral terhadap kalangan muda juga sangat penting
untuk membentuk moral dan karakter yang baik sebagai dasar pembentukan
negara untuk berkembang. Meskipun moral merupakan faktor tidak langsung
terhadap penyebaran penyakit menular terutama penyakit menular melalui
hubungan seksual, namun pembentukan moral sangat penting diberikan

13

kepada generasi muda untuk tujuan pencegahan penularan penyakit menular


hubungan seksual.
Selain itu, pembentukan moral dan karakter bisa mendukung
pembangunan negara yang berimbas kepada tingkat dan status kesehatan
bangsa. Upaya selain promosi yaitu pemberdayaan masyarakat melalui pos
kesehatan pada puskesmas yang bersumberdayakan masyarakat.
Pos kesehatan ini tetap dikelola oleh puskesmas meskipun yang
melaksanakan orang-orang yang ingin berpartisipasi di dalamnya dengan
dibimbing oleh dokter atau bidan setempat. Dengan adanya pos kesehatan
yang bersumberdayakan masyarakat, maka secara otomatis pengetahuan
masyakarakat akan bertambah.
Kegiatan pokok dari peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi
(KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit yaitu:
o Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan
perundang-undangan, dan kebijakan peningkatan komunikasi
informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan
penyakit dan diseminasinya.
o Menyiapkan materi dan menyusun

perencanaan

kebutuhan

peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan


dan pemberantasan penyakit.
o Menyediakan kebutuhan peningkatan komunikasi informasi dan
edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit sebagai
stimulan.
o Menyiapkan

materi

dan

menyusun

rancangan

juklak/juknis/pedoman program komunikasi informasi dan edukasi


(KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit.
o Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk
melaksanakan program komunikasi informasi dan edukasi (KIE)
pencegahan dan pemberantasan penyakit.
o Melakukan bimbingan, pemantauan, dan

evaluasi

kegiatan

komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan


pemberantasan penyakit.

14

o Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja


informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi
dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit.
o Melakukan kajian upaya peningkatan komunikasi informasi dan
edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit.
o Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan
komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan
pemberantasan penyakit.
o Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan
komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan
pemberantasan penyakit.
C. Implementasi Pemberantasan Penyakit Menular Pada Puskesmas1-3
a. Sifilis
Penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh Treponema
palillidum,penularan terutama melalui hubungan kelamin.
a. Ciri khas:
o Masa inkubasi mulai 10 hari-4bulan.
o Mula ditandai dengan permulaan biasanya di kemaluan, kedua:
ruam

menyeluruh

di

kulit

dan

selaput

lendir,masa

terpendam/laten yang lama.


o Kelainan di kulit,tulang,ssp,dan sistem peredaran darah.
b. Tujuan: menurunkan kesakitan serendah mungkin dan mencegah
terjadinya penyebaran kecacatan akibat penyakit.
c. Kegiatan:
i. Pengamatan epidemiologi dan tindakan pemberantasan.
ii. Penyuluhan kesehatan.
b. Demam berdarah(dengue haemorrhagic fever=DHF)
Suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengan dan
ditularkan melalui nyamuk aedes aegepti,terutama menyerang anak-anak dan
dapat menyebabkan kematian.
o Tanda tanda dan gejala:
Hari ke1: timbul panas mendadak(suhu badan 38-40),badan
lemah dan lesu.
Hari ke2: petechie pada kulit,muka,lengan,paha Kadang
terjadi perdarahan hidung.

15

Hari ke 4-7 Bila keadaan parah penderita gelisah,keringat


banyak,ujung ujung kaki dan tangan dingin
Trombocytopenia (100.000/mm atau kurang)
o Tujuan: mengusahakan penurunan angka kematian dan insidensi
demam berdarah serendah mungkin
o Kegiatan:
Pengamatan Epidemiologi dan tindakan pemberantasan.
Surveilance epidemilogi.
Surveilance vektor.
Pemberantasan vektor.
Pertolongan terhadap penderita.
Penyuluhan dan pengarahn masyarakat untuk PSN.
Pelaporan penderita dan pelaporan kegiatan.
c. TB paru
Penyakit menular yang bersifat menahun oleh kuman Mycobacterium
tuberkolosis,penyakit ini menyerang paru paru.
o Ciri khas:
Biasanya ditemukan melalui pemeriksaan tuberkuline test (hal
yang penting bagi anak dibawah 5 tahun).
Tingkat lanjut ditemukan mycobacterium dalam dahak,gejala
klinis: batuk, terkadang darah dalam dahak, demam, BB
menurun.
Mengganas pada bayi dan anak kecil
o Tujuan: mengurangi kesakitan tuberculosis paru serendah mungkin dan
mencegah penyebaran penyakit dengan BTA positif
o Kegiatan:
Pengamatan epidemiologi dan tindakan pemberantasan.
Penderita TB paru yang ditemukan baik pada kunjungan dalam
gedung maupun luar gedung puskesmas harus dicatat dan
dialporkan.
Penderita tersangka TB paru yang berumur 15 tahun ke atas
harus diperiksa dahaknya sebanyak tiga kali berturut- turutal.
Bila dalam dahaknya ditemukan BTA, berikan penjelasan
tentang pengobatan yang harus dijalani.
Penyuluhan kesehatan.
Vaksinasi B.C.G dengan sasaran:
o Anak anak:3-14 tahun.
17
16

18

o Anak anak:6-7 tahun(usia masuk sekolah).


o Anak anak: 13- 14 tahun (usia keluar SD).

DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian

Kesehatan.

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia Nomor 279/MENKES/SK/IV/2006: Pedoman Penyelenggaraan


Upaya Keperawatan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas. Jakarta.2006.
2. Kementerian Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 128/MENKES/SK/II/2004: Kebijakan Dasar Pusat
Kesehatan Masyarakat Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
2004
3. MENKES.Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1479/MENKES/SK/X/2003:

Pedoman

Penyelenggaraan

Surveilans

Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu.


Jakarta. 2003

17