Anda di halaman 1dari 67

BAB 1

OVERVIEW MANAJEMEN KEUANGAN

Manajemen keuangan bisa didefinisikan sebagai


manajemen fungsi-fungsi keuangan perusahaan.
Tugas manajer keuangan mengalami transformasi
dari fokus mencari pendanaan (financing) menjadi
tugas yang lebih kompleks mencakup perencanaan
dan alokasi sumberdaya dalam perusahaan.

TUJUAN PERUSAHAAN
1. Mencapai atau memperoleh laba maksimal atau
kemakmuran pemilik perusahaan;
2. Menjaga kelangsungan hidup perusahaan (going
concern)
3. Mencapai perusahaan masyarakat sebagai tanggung
jawab sosial perusahaan
Manajemen keuangan menyangkut aktivitas yang dilakukan untuk
memperoleh (mendapatkan) dana dan menggunakan (mengalokasikan)
dana untuk mencapai tujuan perusahaan.
Manajemen keuangan merupakan bagian aktivitas menajamen perusahaan
yang bertanggung jawab terhadap seluruh aktivitas perolehan dan
pengalokasian dana yang dibutuhkan oleh perusahaan, sesuai tujuan
perusahaan yang telah ditetapkan.

Manajemen Keuangan dan Aktivitas


1. Merencanakan dan meramalkan keuangan, Manajer Keuangan
berhubungan dengan eksekutif dan bertanggung jawab dalam
perencanakaan aktivitas perusahaan keseluruhan
2. Manajer Keuangan memperhatikan dan bertanggung jawab dengan
keputusan investasi dan pembiayaan serta interaksinya
3. Manajer Keuangan berinteraksi dengan manajer lainnya dalam
organisasi dalam menbdukung kegiatan operasional yang paling
efisien.
4. Manajer Keuangan berhubungan dengan sumber perolehan dana
perusahaan melalui pasar uang (money market) dan pasar modal
(capital market).

Kaitan Manajemen Keuangan


dengan Disiplin Ilmu Lainnya
1. Ilmu akuntansi, akuntansi menghasilkan laporan keuangan yang
bermanfaat bagi manajemen dala evaluai jinerja perusahaan dan
pembuatan keputusan masa datanag;
2. Manajemen keuangan berkaitan dengan aspek perpajakan;
3. Manajemen keuangan berkaitan dengan topik ekonomi makro seperti
perbankan, mekanisme pasar barang dan modal
4. Manajemen keuangan berkaitan dengan topik ekonomi mikro seperti
manajemen pemasaran, manajemen produksi, manajemen personalia,
dan manajemen kuantitatif.

Secara garis besar, fungsi-fungsi perusahaan bisa


dikelompokkan ke dalam empat fungsi, yaitu:
(1) Fungsi Pemasaran
(2) Fungsi Keuangan
(3) Fungsi Produksi
(4) Fungsi Personalia
Keempat fungsi tersebut merupakan fungsi pokok
suatu perusahaan.

Fungsi-fungsi manajemen bisa dipecah ke dalam


beberapa hal:
(1) Perencanaan (Planning)
(2) Pengorganisasian (Organizing)
(3) Staffing
(4) Pelaksanaan
(5) Pengendalian
Manajemen keuangan dengan demikian bisa
diartikan sebagai kegiatan perencanaan,
pengorganisasian, staffing, pelaksanaan, dan
pengendalian fungsi-fungsi keuangan.

1. Model Neraca Keuangan Untuk Memahami


Manajemen Keuangan
Neraca keuangan suatu perusahaan terdiri dari dua sisi: sisi
kiri yang meringkaskan aset yang dimiliki oleh
perusahaan, dan sisi kanan yang meringkaskan sumber
dana yang dipakai untuk membiayai sisi kiri perusahaan
tersebut.
Tugas manajer keuangan adalah mengambil keputusan
investasi, pendanaan, dan operasional dengan tujuan
memaksimumkan kemakmuran pemegang saham (nilai
saham).
Sisi kiri tersebut (aktiva) dengan demikian bisa dipandang
sebagai ringkasan kekayaan yang dimiliki oleh
perusahaan., sisi kanan neraca merupakan tugas manajer
keuangan, dalam hal ini mencari dana yang kemudian
diinvestasikan pada sisi kiri neraca.

Komponen jangka pendek (lancar) dari aktiva dan pasiva


membentuk modal kerja. Modal kerja bersih bisa
diartikan sebagai aktiva lancar dikurangi hutang lancar.
Modal kerja merupakan hasil dari keputusan operasional
(sehari-hari).
Nilai perusahaan terdiri dari nilai hutang dan nilai saham
tujuan tersebut sering disingkat sebagai
memaksimumkan kemakmuran pemegang saham.
Kemakmuran pemegang saham sering diterjemahkan ke
dalam kenaikan harga pasar saham. Dengan demikian
tujuan manajemen keuangan bisa diterjemahkan menjadi
memaksimumkan harga pasar saham.

2. Menciptakan Nilai : Meningkatkan Aliran Kas Masuk


Nilai bisa ditingkatkan dengan menciptakan aliran kas yang
positif, Sebagai contoh, Perusahaan bisa menerbitkan
surat berharga dengan biaya yang sedikit dan
mendatangkan aliran kas masuk yang positif.
Aliran kas yang menjadi fokus manajer keuangan berbeda
dengan keuntungan akuntansi (accounting profit)
Keuntungan akuntansi dihasilkan dengan
mempertemukan antara pendapatan dengan biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut
(prinsip matching).
Tiga dimensi aliran kas yang perlu diperhatikan: besarnya
(magnitude), timing, dan risiko. Aliran kas yang besar,
diterima lebih awal, dan mempunyai risiko yang rendah,
mempunyai nilai yang lebih tinggi.

3.

Maksimimasi Keuntungan Versus Maksimisasi Nilai Saham

Tujuan manajemen keuangan seringkali dinyatakan sebagai


maksimisasi keuntungan. Hal tersebut tidak tepat.
Pertama, keuntungan yang besar melalui jumlah saham yang beredar
yang besar tidaklah sebaik yang kita inginkan.
Kedua, keuntungan perlembar saham juga bukan merupakan tujuan
yang tepat. Keuntungan perlembar saham tidak memperhatikan
nilai waktu uang dan risiko.
Disamping itu, seperti ditunjukkan dalam contoh di atas, keuntungan
akuntansi lain dengan aliran kas. Aliran kaslah yang harus
diperhatikan oleh manajer keuangan.

Maksimisasi keuntungan dengan maksimisasi nilai saham


dengan demikian merupakan dua hal yang berbeda.
Nilai saham akan ditentukan oleh banyak faktor:
keuntungan perusahaan, risiko, dan faktor lain.
Harga saham yang terjadi merupakan konsensus yang
terjadi di pasar keuangan terhadap prospek dan risiko
perusahaan di masa mendatang.
Harga tersebut mencerminkan informasi besarnya aliran
kas, timing, risiko, dan lainnya yang dianggap relevan
oleh investor.

Lingkup Manajemen Keuangan


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Keputusan investasi
Sumber dana untuk jangka pendek (modal kerja);
Investasi Jangka Panjang (barang modal);
Keputusan pembiayaan untuk sumber pembiayaan (hutang dan modal);
Kebijakan deviden yaitu distribusi laba (laba ditahan atau deviden);
Tujuan memaksimal nilai perusahaan atau kemakmuran pememgang saham.

Lebih Spesifik Manajemen Keuangan membahas:


1. Perolehan aktiva yang dibutuhkan perusahaan untuk menjamin kelangsungan hidup
perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan.
2. Membiayai aktivitas yang dibutuhkan berhubungan dengan penyediaan kebutuhan dana
serta berbagai biaya yang timbul akibat perolehan dana tersebut;
3. Mempertahankan kombinasi sumber pembiayaan tepat dalam membiayai kebutuhan
dana perusahaan yang berhubungan dengan struktur modal;
4. Pendistribusian laba yang diperoleh dari kegiatan operasional, berhubungan dengan
pembiayaan sebagai deviden serta menahan dalam bentuk laba ditahan;
5. Memperhatikan trde off antara risiko dan keuantungan yang diharapkan dalam membuat
keputusan keuangan.

4. Manajer dan Pasar Keuangan


5. Manajer keuangan mencari dana dari pasar keuangan
dengan jalan menerbitkan sekuritas atau memperoleh
pinjaman dari lembaga keuangan. Pada dasarnya ada
dua jenis sekuritas/instrumen dasar, yaitu: saham dan
hutang. Saham merupakan bentuk kepemilikan
sedangkan hutang merupakan pinjaman. Sisi kanan
neraca keuangan meringkaskan sumber dana yang
diperoleh oleh manajer keuangan
6. Dana tersebut kemudian diinvestasikan oleh manajer
keuangan, membeli aset yang bisa menghasilkan
kembalian. Sisi kiri neraca keuangan meringkaskan
aset yang diperoleh manajer keuangan, dengan
menggunakan dana yang diperoleh pada langkah 1 di
atas

3. Aset tersebut menghasilkan kembalian (keuntungan)


4a. Sebagian dana tersebut dikembalikan ke pasar
keuangan melalui medium yang berbeda-beda. Untuk
pemegang saham, perusahaan membagikan dividen,
sementara untuk pemegang hutang perusahaan
membagikan bunga dan mengembalikan pinjaman pokok
hutang
4b. Sebagian kembalian (tingkat keuntungan) ditanamkan
kembali oleh manajer keuangan ke dalam perusahaan.
Kebijakan dividen akan membicarakan seberapa besar
keuntungan dibagikan ke pemegang saham.
Dengan demikian manajer keuangan perlu memahami
bagaimana kerja pasar keuangan, bagaimana pasar
keuangan menilai suatu aset.

MANAJER KEUANGAN SEBAGAI


JEMBATAN ANTARA
PASAR KEUANGAN DENGAN
PERUSAHAAN
2
OPERASI
PERUSAHAAN
3

1
MANAJER
KEUANGAN

4a

PASAR
KEUANGAN

4b
1: MENGUMPULKAN DANA
2: INVESTASI DANA
3: INVESTASI MENGHASILKAN
4: DISTRIBUSI KEUNTUNGAN ATAU REINVEST

5. Perusahaan sebagai Serangkaian Kontrak


Perusahaan bisa dilihat sebagai satu rangkain kontrak
antara pihak-pihak yang berkaitan. Misal, karyawan
menandatangani kontrak untuk bekerja di perusahaan.
Bank memberi pinjaman berdasarkan kontrak yang
tertentu dengan perusahaan. Manajer dikontrak oleh
pemegang saham untuk mengelola perusahaan agar
perusahaan tersebut menghasilkan aliran kas yang bisa
meningkatkan nilai perusahaan, yang dengan demikian
meningkatkan kemakmuran pemegang saham.
Pemegang saham itu sendiri tidaklah homogen, ada
pemegang saham mayoritas, pemegang saham
minoritas. Keduanya tidak harus mempunyai tujuan
yang konsisten satu sama lain, yang berarti mempunyai
potensi konflik.

Biasanya ada tiga jenis konflik keagenan yang sering


dibicarakan di literatur keuangan, yaitu:
(1) Konflik antara pemegang saham dengan manajer,
(2) Konflik antara pemegang saham dengan pemegang
hutang, dan
(3) Konflik antara pemegang saham mayoritas dengan
minoritas.

5.1. Konflik antara Pemegang Saham dengan


Manajer
Manajer disewa oleh pemegang saham untuk
menjalankan perusahaan, agar perusahaan mencapai
tujuan pemegang saham, yaitu memaksimumkan nilai
perusahaan (kemakmuran pemegang saham). Menjadi
pertanyaan apakah manajer akan bertindak konsisten
dengan tujuan memakmurkan pemegang saham, tujuan
yang dibebankan oleh pemegang saham kepada manajer?
Jawab: Tidak Selalu. Karena itu ada potensi konflik
antara Manajer dengan Pemegang Saham. Manajer bisa
mempunyai agenda sendiri yang tidak konsusten dengan
agenda memaksimumkan kemakmuran pemegang saham

Donaldson, seorang peneliti di Amerika


menyebutkan dua motivasi dasar manajer:

Serikat,

1.Survival manajer berusaha menguasai sumberdaya


agar perusahaan terhindar dari kebangkrutan
2.Independensi atau Kecukupan diri Manajer ingin
mengambil keputusan yang bebas dari tekanan pihak
luar, termasuk dari pasar keuangan. Manajer tidak suka
mengeluarkan saham, karena akan mengundang campur
tangan pihak luar. Sebaliknya manajer akan lebih suka
menggunakan dana yang dihasilkan secara internal.
Dengan dua motivasi tersebut, manajer cenderung
mempunyai tujuan memaksimumkan kemakmuran
perusahaan (bukannya kemakmuran pemegang saham).

Pemegang saham bisa melakukan sejumlah tindakan untuk


memastikan bahwa manajer akan bertindak konsisten
dengan tujuan pemegang saham. Tindakan semacam itu
membutuhkan biaya yang disebut sebagai biaya
keagenan (agency cost). Biaya keagenan tersebut terdiri
dari biaya untuk memonitor manajer dan biaya untuk
mengimplementasikan alat kontrol terhadap manajer.
Meskipun demikian, masalah perbedaan tujuan tersebut
tidak akan bisa diselesaikan secara sempurna. Pemegang
saham dengan demikian mempuyai kerugian dalam
situasi tersebut. Kerugian tersebut sering disebut sebagai
kerugian sisa (residual loss).

Pemegang saham bisa membentuk dewan komisaris (board


of directors) untuk mengawasi perilaku manajer.
Beberapa cara lain bisa dilakukan, antara lain:
1.Sistem penggajian yang dikaitkan dengan prestasi
perusahaan (keuntungan) dan dengan opsi saham. Jika
keuntungan perusahaan naik, manajer akan memperoleh
bonus. Jika harga saham naik, manajer akan memperoleh
bonus tambahan melalui opsi saham
2.Pasar tenaga kerja manajer akan mengontrol manajer.
Manajer yang mempunyai kemampuan yang jelek tidak
akan laku, sebaliknya manajer yang sukses akan diburu
oleh banyak perusahaan. Dengan demikian manajer akan
berusaha meningkatkan prestasinya, dengan jalan
meningkatkan nilai atau harga saham, agar masa depan
mereka selalu terjaga.

3.Jika perusahaan mempunyai prestasi yang jelek, harga


saham akan mengalami penurunan. Pada situasi
semacam itu, nilai perusahaan akan terlihat terlalu
murah, dan akibatnya perusahaan lain bisa membeli
(mengakuisisi) perusahaan tersebut. Dalam kasus
semacam itu, seringkali manajer perusahaan yang
diakuisisi tidak akan dipakai lagi. Aktivitias takeover
(pengambilalihan) perusahaan semacam itu akan
mendisiplinkan manajer. Manajer dengan demikian akan
berusaha agar harga saham selalu tinggi.
Apakah pendisiplinan tersebut sudah efektif? Perlu
jawaban empiris, tetapi secara umum nampaknya
bukti empiris menunjukkan sudah efektif.

5.2. Agency Free Cash Flow


Variasi lain dari konflik keagenan antara manajer dengan
pemegang saham adalah agency free cash flow. Menurut
teori ini, manajer akan berusaha memegang sumberdaya
perusahaan agar tetap dalam kendali manajer. Jika
perusahaan memperoleh keuntungan atau kas masuk
tinggi, maka manajer akan berusaha agar keuntungan/kas
masuk tersebut tetap berada di tangan manajer. Meskipun
sebenarnya, pemegang saham mungkin akan diuntungkan
jika kas tersebut dibagikan (misal dalam bentuk dividen),
kemudian pemegang saham dibiarkan menginvestasikan
kas tersebut ke alternatif investasi lain yang lebih
menguntungkan. Manajer berusaha menahan kas tersebut
dengan berbagai cara, misal tidak membayar dividen,
melakukan akuisisi (membeli) perusahaan lain. Dengan
akuisisi, sumber daya masih berada di tangan manajer.

Jensen (1986) mendefinisikan aliran kas bebas (free cash


flow) sebagai aliran kas yang tersisa setelah semua
proyek dengan NPV positif didanai. Free cash flow lebih
baik dibagikan ke pemegang saham, bukannya ditahan,
karena perusahaan sudah tidak mempunyai kesempatan
investasi yang menguntungkan. Kemudian pemegang
saham dibiarkan memanfaatkan kas yang diterima
tersebut. Dengan cara semacam itu pemegang saham bisa
memaksimumkan kemakmurannya.

5.3. Konflik antara Pemegang Saham dengan


Pemegang Hutang
Pemegang saham, melalui manajer, bisa mengambil
keuntungan atas pemegang hutang. Konflik tersebut bisa
terjadi karena pemegang saham dengan pemegang
hutang mempunyai struktur penerimaan (pay off) yang
berbeda. Pemegang hutang memperoleh pendapatan
yang tetap (yaitu bunga) dan kembalian pinjamannya,
sedangkan pemegang saham memperoleh pendapatan
diatas kelebihan atas kewajiban yang perlu dibayarkan
ke pemegang hutang. Jika nilai perusahaan berada
dibawah nilai kewajiban hutang, pemegang hutang
berhak atas semua nilai perusahaan. Jika nilai
perusahaan naik di atas nilai hutang, pemegang saham
berhak atas kelebihan tersebut. Perbedaan struktur payoff tersebut bisa menyebabkan perbedaan perilaku.

Lebih spesifik lagi, Pemegang saham (bekerjasama


dengan manajer) akan tergoda untuk investasi pada aset
dengan risiko yang tinggi. Tingkat keuntungan yang
diharapkan akan meningkat (pemegang saham
memperoleh keuntungan). Tetapi kualitas aset akan
turun, sehingga merugikan pemegang hutang. Kenaikan
tingkat keuntungan tidak akan memperbaiki kondisi
pemegang hutang karena pemegang hutang akan
memperoleh keuntungan yang tetap (bunga yang tetap
sifatnya)

Misalkan Bank X memberikan pinjaman kepada PT Y yang


bergerak di bidang makanan (consumer goods- risiko
rendah). Tiba-tiba PT Y memutuskan untuk
menginvestasikan pinjaman tersebut ke sektor (anak
perusahaan baru) komputer yang risikonya tinggi, dengan
harapan memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi.
Apakah bank X akan senang?

5.4. Konflik antara Pemegang Saham Mayoritas dengan


Pemegang Saham Minoritas
Pemegang saham tidak bersifat homogen. Karena
pemegang saham tersebut berlainan, maka akan ada
potensi konflik antar pemegang saham.
Sebagai contoh, perusahaan yang sebelumnya dikendalikan
oleh pendiri, kemudian menjual sebagian kecil saham ke
publik. Dalam situasi tersebut ada dua jenis pemegang
saham: mayoritas (pendiri) dan minoritas (publik).
Publik dikatakan minoritas karena, meskipun jumlah
mereka barangkali banyak, jumlah suara atau saham
mereka lebih kecil dibandingkan dengan jumlah saham
pendiri.

Pemegang
Saham
Minoritas
(30%)

PT X

PT Y (100%
dimiliki oleh MrX

Pemegang Saham
Mayoritas (70%)
Mr.X

PT X tbk membeli aset PT Y dengan harga Rp200 juta.


Harga pasar aset tersebut adalah Rp100juta. Siapa
yang diuntungkan?

5.5. Konflik-konflik Lainnya


masih ada banyak kontrak-kontrak lain di
perusahaan, yang berarti ada potensi konflik antar
pihak-pihak lain dalam perusahaan. Sebagai
contoh, ada potensi konflik antara karyawan
dengan manajer, antara satu departemen (misal
pemasaran) dengan departemen lain (misal
produksi).
.

Siapa Penyumbang Teori Keuangan


yang Paling Berpengaruh?
Sumbangan penting bisa dilihat dari hadiah
Nobel bidang keuangan. Hadiah Nobel
diberikan kepada tokoh yang dianggap
memberikan kontribusi penting terhadap
perkembangan ilmu

Merton Miller bersama dengan Franco Modigliani


barangkali bisa dikatakan sebagai bapak manajemen
keuangan modern. Mereka mendiskusikan pengaruh
dividen dan pendanaan (financing) terhadap nilai
perusahaan melalui serangkaian artikel yang dimulai dari
artikel mereka The Cost of Capital, Corporation
Finance, and The Theory of Investment yang muncul di
American Economic Review pada tahun 1958. Mereka
berargumen bahwa pada kondisi pasar modal sempurna,
tidak ada pengaruh struktur modal atau kebijakan
dividen terhadap nilai perusahaan. Kebijakan pendanaan
(struktur modal) maupun kebijakan dividen tidak
mempengaruhi nilai perusahaan. Artikel tersebut
menimbulkan kontroversi dan diskusi berkepanjangan
dalam teori keuangan perusahaan (coroporate finance).

Harry Markowitz barangkali bisa disebut sebagai bapak teori


investasi. Markowitz, melalui artikelnya pada tahun 1952
di Journal of Finance (Portfolio Selection), menunjukkan
secara matematis bahwa diversifikasi bisa mengurangi
risiko. Dua paremeter yang dia gunakan untuk
mengevaluasi investasi yaitu standar deviasi dan tingkat
keuntungan
(return)
memungkinkan
perhitungan
kuantitatif analisis investasi bisa dilakukan. Teori investasi
berubah dari teori yang deskriptif menjadi teori yang
keuantitatif. William Sharpe mengembangkan lebih lanjut
kerja Markowitz menjadi teori keseimbangan Capital
Asset Pricing Model (Capital Asset Prices: A Theory of
Market Equilibrium under Conditions of Risk Journal of
Finance, 1964). Menurut CAPM, ada hubungan positif
antara risiko sistematis (risiko yang tidak bisa dihilangkan
melalui diversifikasi) dengan tingkat keuntungan.

Pada tahun 1997 dua orang ahli keuangan Myron Scholes


dan Robert Merton memperoleh hadiah Nobel untuk
sumbangan mereka dalam teori penilaian opsi.
Myron Scholes dengan Fischer Black menerbitkan artikel
mengenai penilaian instrumen keuangan opsi di Journal
of Political Economy. Opsi adalah hak untuk membeli
atau menjual aset pada harga tertentu.
Sayangnya Fischer Black sudah meninggal dunia pada
tahun tersebut. Hadiah Nobel diberikan hanya kepada
orang yang masih hidup.
Robert Merton juga menerbitkan model penilaian opsi,
yang merupakan penyederhanaan dari model Black dan
Scholes. Teori opsi mempunyai potensi bisa menjelaskan
fenomena keuangan lebih banyak lagi.

Pada tahun 2002, ahli perilaku Daniel Kahneman


memperoleh Nobel di bidang ekonomi. Dia bersama
Amos Tversky mengembangkan teori perilaku, yang
kemudian mengilhami munculnya behavioral finance
(Teori Keuangan berdasarkan perilaku).
Teori behavioral finance merupakan alternatif (penentang)
teori efisiensi keuangan. Teori efisiensi keuangan
mengatakan bahwa harga mencerminkan semua informasi
yang relevan. Pasar digambarkan mempunyai proses yang
rasional.
Sebaliknya, teori behavioral finance mengatakan bahwa
pasar tidak serasional yang dibayangkan. Contoh populer,
adalah harga jatuh (investor panik) pada black Monday
1987 dan 1997, meskipun tidak ada informasi lain pada
hari itu. Dengan kata lain, investor panik hanya karena
tidak rasional.

10 AKSIOMA
Manajemen Keuangan
Aksioma 1: Keseimbangan Risiko dan Pengembalian (The Risk Return Off)
Jangan menambahrisiko kecuali mendapatkan kompensasi tambahan pendapatan
Tingkat pengembalian minimum atas suatui investasi harus lebih besar dari tingkat unflasi
yangdiperkirakan.
Aksioma 2: Nilai Waktu Uang (Time Value of Money)
Uang yang diterima sekarang lebih berharga dari uang yang diterima kemudian. Konsep
nilai waktuuang ini sangat berguna untuk meniai kelayakan suatu investasi yaitu untuk
menghitung nilai sekarang( present value ) dari pendapatan dan pengeluaran yang akan
datang ( future benefit and cost ). Apabilapenerimaan melebihi pendapatan maka investasi
diterima dan ditolak jika sebaliknya.
Aksioma 3: Uang Kas ----- Bukan Besarnya Laba ----- adalah yang Utama Untuk
mengukur kesejahteraan digunakan arus kas (cash flow ) dan bukan keuntungan
akuntansi(accounting profit ). Uang kas adalah sesuatu yang secara nyata diterima dan dapat
iinvestasikankembali oleh perusahaan. Sedangkan keuntungan akuntansi, lebih banyak
menggambarkan besarnyakeuntungan perusahaan, daripada besarnya uang kas yang benarbenar ada.

10 AKSIOMA
Manajemen Keuangan
Aksioma 4: Tambahan Arus Kas (incremental Cash Flow) ----- Satu-satunya
Pertambahan Nilai yang Dihitung Proses evaluasi untuk mengukur manfaat suatu proyek
baru Menggunakan arus kas yangdititikberatkan pada arus kas masuk yang sifatnya
inkrimental (incremental cash in flow ). Pedomandalam menentukan apakah arus kas itu
inkrimental dalah dengan membandingkan arus kasperusahaan apabila mengambil dan
tidak mengambil suatu proyek
.Aksioma 5: Kondisi Persaingan Pasar ---- Alasan Mengapa Sangat Sulit Mendapatkan
Proyek dengan Laba yang Luar Biasa. Pada pasar yang sangat kompetitif, laba yang besar
tidak dapat secara terus menerus didapat. Karena jika suatu industri menghasilkan, maka
akan banyak pendatang baru yang akan berusaha masuk kedalam industri. Persaingan yang
semakin ketat dan penigkatan kapasitas produksi dalam industri dapat memperkecil
keuntungan, dan akhirnya akan mendorong semakin kecilnya tingkat pengembalianinvestasi
Aksioma 6: Pasar Modal yang Efisien ---- Pasar yang Bergerak Cepat dan Harga yang
Tepat Pasar Modal adalah pasar yang efisien dimana informasi baru tercermin pada surat
berharga secaracepat dan tidak ada satu investor pun yang memiliki kesempatan untuk
mendapatkan keuntungan yangbesar. Para investor akan bereaksi terhadap informasi baru
yang diterima dengan jalan menjualataupun membeli surat berharga yang ada sampai
mereka merasa bahwa harga pasar yang terjadibenar-benar telah mencerminkan informasi
baru tersebut
.

10 AKSIOMA
Manajemen Keuangan
Aksioma 7: Masalah Keagenan ----- Manajer tidak akan Bekerja Bagi Pemilik Peruisahaan
jikatidak Selaras dengan Kepentingan Mereka Masalah keagenan terjadi karena adanya
pemisahan tugas antara pemegang manajemen perusahaandengan pemegang saham. Para
menajer akan mengambil keputusan yang memberikan keuntunganbagi mereka. Masalah
keagenan ini akan tetap terjadi kecuali struktur insentif yang dibuat mencakupkeselarasan
kepentingan antara p-ara manajer dan pemegang saham. Dengan kata lain, apa yangterbaik
bagi penegang saham merupakan yang terbaik bagi para manajer.
Aksioma 8: Perpajakan yang Berdampak pada Keputusan Bisnis
Masalah perpajakan dapat membiaskan keputusan bisnis. Untuk itu tambahan arus kas
yangdigunakan untuk mengevaluasi suatu proyek adalah tambahan arus kas sesudah pajak
bersih yangditerima perusahaan denagn kata lain pengembalian investasi dihitung
berdasarkan nilai bersihsesudah pajak (after tax basis ). Selain itu perpajakan juga
mempunyai peranan untuk menentukanstruktur modal perusahaan yaitu peraturan pajak
menjadikan utang sebagai pembiayaan yangmemberikan keunggulan beban dibandingkan
saham karena beban bunga merupakan pengurangpajak seadang dividen tidak dapat sebagai
pengurang pajak.

10 AKSIOMA
Manajemen Keuangan
Aksioma 9: Tidak Semua Risiko Sama ---- Ada Sebagian Risiko yang dapat
Didiversifikasi Diversifikasi dapat mengurangi risiko, sehingga mengukur besarnya risiko
dari satu proyek ataupuninvestasi menjadi sangat sulit. Perubahan risiko dari suatu proyek
tergantung pada (1) risiko proyektersebut secara individu, (2) besarnya kontribusi risiko
proyek bagi perusahaan, atau (3) besarnyakontribusi risiko proyek terhadap portofolio surat
berharga milik para pemegang saham.

Aksioma 10: Melakukan Sesuatu yang Benar adalah Perilaku Etis, dan banyak Dilema
Etika dalamManajemen Keuangan
Perilaku yang sesuai dengan etika berarti melakukan sesuatu yang benar . Tiap kelompok
mempunyainilai yang berbeda yang digunakanakan sebagai dasar untuk merumuskan
tentang apa yang dimaksudmelakukan sesuatu yang benar . Sesuatu yang sesuai dengan
hukum yang berlaku belum tentu etis.Hal inilah yang menyebabkan timbulnya dilema etika
dalam manajemen keuangan
.

PASAR KEUANGAN
1. Pasar Keuangan
Pasar keuangan bisa didefinisikan sebagai bertemunya
pihak yang mempunyai kelebihan dana (surplus dana)
dengan pihak yang kekurangan dana (defisit dana).
Sehingga di pasar keuangan tersebut akan terjadi
transaksi, Dengan kata lain, terjadi mobilisasi dana.
Untuk memfasilitasi aliran dana tersebut, banyak pihak
yang terlibat, khususnya lembaga perantara (lembaga
perantara keuangan). Dalam pasar keuangan tersebut,
aliran dana diperlancar dengan munculnya instrumen
keuangan (sekuritas atau surat berharga). Instrumen
keuangan pada dasarnya merupakan surat perjanjian
yang melibatkan pihak surplus dengan defisit dana,
dalam kaitannya dengan aliran dana.

Ada tiga konsep yang terlibat dalam pasar keuangan: (1)


Pasar keuangan itu sendiri, (2) Perantara (lembaga)
keuangan, dan (3) Instrumen keuangan.
1.1. Jenis-jenis Pasar Keuangan
1.1.1. Pasar Modal Versus Pasar Uang
Pasar modal adalah pasar keuangan dimana diperdagangkan
instrumen keuangan jangka panjang, contoh obligasi,
karena obligasi jatuh tempo lebih dari satu tahun. Pasar
uang adalah pasar keuangan dimana diperdagangkan
instrumen keuangan jangka pendek, contoh Commercial
Paper (CP), karena CP jatuh tempo dalam waktu kurang
dari satu tahun. Dalam kenyataannya, tidak ada pemisahan
yang jelas antara pasar uang dan pasar modal, karena
keduanya bisa saja terjadi pada waktu dan tempat yang
bersamaan.

1.1.2. Pasar Spot dan Pasar Forward


Pasar spot adalah pasar dimana penyelesaian (settlement)
terjadi saat ini, misalkan saya ingin membeli dolar
Amerika Serikat ($) sebanyak $1.000, kurs tersebut
adalah Rp8.500-Rp8.750/$, yang berarti saya harus
membayar Rp8.750 jika ingin membeli dolar (kurs
penawaran/ask), dan saya akan menerima Rp8.500 jika
saya menjual dolar. Karena saya ingin membeli dolar,
maka saya menyerahkan Rp8.750.000 (Rp8.750
$1.000), dan saya memperoleh $1.000 saat itu juga.
Pasar semacam itu dinamakan sebagai pasar spot.

Pasar forward adalah pasar dimana penyelesaian


(settlement) terjadi beberapa saat mendatang, sedangkan
kontrak ditetapkan saat ini. Misal kurs 3-bulan forward
Rp/$ adalah Rp9.000-Rp9.200/$. Kurs tersebut
ditentukan di pasar. Misalkan saya ingin membeli 3bulan dolar forward, saya datang ke bank. Saat ini, saya
hanya praktis menandatangani kontrak tersebut. Tidak
ada penyelesaian atau penyerahan barang saat ini.
Kontrak tersebut mengatakan bahwa tiga bulan
mendatang, saya akan membeli $1dengan menyerahkan
Rp9.200. Tiga bulan mendatang, saya akan menyerahkan
Rp9.200 dan saya akan menerima $1. Pasar forward
mempunyai banyak manfaat seperti untuk manajemen
risiko.

1.1.3. Pasar Perdana dan Pasar Sekunder


Pada pasar perdana, perusahaan (emiten) berurusan dengan
perusahaan investasi. Emiten tidak secara langsung
menjual sahamnya ke investor publik. Perusahaan bisa
menjual sahamnya ke perusahaan sekuritas pada pasar
perdana (bisa juga perusahaan sekuritas membantu
menjualkan saham ke publik). Setelah melewati tahap
tersebut, perusahaan biasanya ingin mencatatkan (listing)
saham di Bursa Keuangan, Perusahaan akan meminta
ijin kepada Bursa Efek Jakarta. Setelah memperoleh ijin,
investor yang membeli di pasar perdana bisa menjual
sahamnya kepada investor lain. Kemudian transaksi jual
beli akan terjadi di pasar tersebut. Pasar tersebut
dinamakan sebagai pasar sekunder.

1.1.4. Pasar OTC dan Pasar dengan Lokasi Tertentu


Bursa Efek Jakarta (tempat saham diperjualbelikan)
mempunyai lokasi tertentu, yaitu di Jakarta, di Jalan
Sudirman, dengan bangunan tertentu. Pasar keuangan
lain tidak mempunyai lokasi tertentu. Sebagai contoh,
pasar valuta asing mempunyai lokasi yang tersebar di
dunia. Pedagang valas dihubungkan satu sama lain
dengan menggunakan terminal komputer. Order beli atau
jual akan dilakukan melalui komputer, yang kemudian
akan diteruskan kepada pedagang lainnya. Praktis tidak
ada lokasi yang terpusat untuk pasar semacam itu. Pasar
semacam itu sering dinamakan sebagai Over The
Counter market.

1.1.5. Pasar Valuta Asing (Valas)


Pasar valas memperdagangkan mata uang asing. Kenapa
ada pasar valuta asing? Jawabannya adalah karena di
dunia ini banyak mata uang yang berbeda. Kemudian
seseorang dari negara tertentu ingin mempunyai daya
beli di negara lain (yang menggunakan mata uang
yang berbeda dengan mata uang di negara i tinggal).
Pasar valuta asing memfasilitasi pertukaran mata uang
yang berbeda tersebut.
2. Perantara Keuangan
Perantara keuangan adalah lembaga atau pihak yang
menjembatani pihak surplus dengan pihak defisit
dana. Pihak perantara akan membantu mengefektifkan
aliran dana di pasar keuangan.

2.1. Tipe Perantara Keuangan


Secara umum ada dua tipe perantara keuangan, yaitu:
1.Perantara keuangan yang tidak merubah klaim/sekuritas
2.Perantara keuangan yang merubah klaim.
2.1.1. Perantara Keuangan yang Tidak Merubah Klaim
Adalah perantara keuangan yang menjembatani pihak
defisit dengan surplus tanpa merubah klaim. Contoh,
perusahaan sekuritas yang bertindak sebagai penjamin
emisi membantu menjualkan saham yang dikeluarkan
oleh perusahaan, yang dijual kepada investor.
Perusahaan tersebut tidak merubah saham yang
dijualnya.

2.1.2. Perantara Keuangan yang Merubah Klaim


Perantara keuangan yang merubah klaim sekuritas primer
menjadi sekuritas sekunder. Contoh, bank menerbitkan
deposito atau tabungan yang ditawarkan kepada
penabung (investor). Tabungan mempunyai karakteristik
bisa diambil sewaktu-waktu, sehingga likuiditasnya
tinggi. Denominasi tabungan relatif kecil; dengan uang
Rp100.000 kita bisa membuka tabungan. Tabungan
tersebut merupakan sekruitas primer karena ditawarkan
untuk pihak surplus dana langsung. Kemudian bank
mengumpulkan dana tersebut dan memberikan pinjaman
kepada perusahaan dengan jangka waktu misal 20 tahun,
senilai (misal) Rp1 milyar. Pinjaman tersebut merupakan
instrumen sekunder, karena bank mengeluarkan sekuritas
tersebut dan diberikan kepada perusahaan. Bank
merubah klaim dari tabungan menjadi pinjaman.

2.2. Manfaat Perantara Keuangan


2.2.1. Denominasi
Instrumen keuangan bisa diciptakan dengan denominasi
yang berbeda-beda, mulai dari yang paling kecil sampai
dengan yang sangat besar. Tabungan merupakan contoh
produk keuangan dengan denominasi kecil.
2.2.2. Jangka Waktu (Likuiditas)
Investor kecil menginginkan tabungan yang bisa ditarik
sewaktu-waktu. Sebaliknya, perusahaan menginginkan
pinjaman dengan jangka waktu panjang, misal 30 tahun.
Bank bisa bertindak menjembatani ketimpangan jangka
waktu tersebut. Bank menerbitkan tabungan yang bisa
diambil sewaktu-waktu, kemudian memberikan
pinjaman ke perusahaan dengan jangka waktu panjang.

2.2.3. Monitor (Pengawasan)


Investor individual yang mempunyai dana kecil, tidak akan
mempunyai kemampuan dan kemauan (insentif) untuk
memonitor perusahaan yang meminjam dananya. Jika
dana yang kecil-kecil tersebut dikumpulkan menjadi
besar oleh lembaga keuangan, maka lembaga keuangan
mempunyai insentif yang lebih besar (karena jumlahnya
besar) dan kemampuan yang lebih baik untuk melakukan
pengawasan (karena bisa menyewa profesional
keuangan).

2.2.4. Biaya Transaksi


Disamping insentif yang lebih besar, lembaga keuangan
bisa memperkecil biaya transaksi per-unit. Dengan kata
lain, terjadi economies of scale untuk pemrosesan biaya
transaksi dan biaya lainnya. Sebagai contoh, pengeluaran
uang sebesar Rp1 juta akan nampak besar untuk investor
kecil. Tetapi jumlah tersebut tidak akan menjadi masalah
untuk perusahaan besar dengan aset, misal, Rp10 trilyun.
Dengan economies of scale semacam itu, maka akan
lebih menguntungkan jika dana dikumpulkan (pool) ke
dalam satu lembaga keuangan.

2.3. Tipe Lembaga Perantara Keuangan


Ada bebepara lembaga perantara keuangan, yang paling
dikenal adalah bank. Disamping bank, ada asuransi,
perusahaan sekuritas, reksadana, dan lainnya.
2.3.1. Bank
Adalah perantara keuangan yang ditandai dengan aktivitas
menerbitkan deposito dan tabungan sebagai sumber dana
utama mereka, kemudian memberikan pinjaman (loan).
Pendapatan bank terutama diperoleh dari selisih (spread)
antara tingkat bunga yang dibebankan kepada debitur
(peminjam) dengan tingkat bunga yang dibayarkan
kepada penabung (deposan).

Disamping pendapatan dari selisih bunga tersebut (interest


based income), bank memperoleh pendapatan dari
sumber lain, yaitu dari jasa-jasa yang dilakukan oleh
perbankan. Sebagai contoh, bank memperoleh fee untuk
jasa pengiriman uang dengan kawat (wire transfer) atau
pembukaan fasilitas L/C (Letter of Credit). Pendapatan
tersebut disebut sebagai pendapatan fee (fee based
income). Sumber dana perbankan bisa berasal dari dana
yang diserahkan oleh masyarakat, dalam bentuk giro,
deposito, dan tabungan. Dana tersebut biasanya
merupakan tulang punggung dana lembaga keuangan
bank, khususnya bank kecil atau konvensional. Bagi
beberapa bank yang mempunyai akses ke pasar
keuangan, dana yanag diperoleh dari pasar keuangan
merupakan tulang punggung pendanaan bank. Bank
semacam ini disebut sebagai money center bank (MCB).

Giro merupakan simpanan pihak ketiga kepada bank yang


penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan
menggunakan cek, surat perintah pembayaran lainnya
atau dengan cara pemindahbukuan. Bank biasanya
memberi jasa giro untuk pemegang rekening giro ini.
Nama lain yang digunakan untuk giro ini adalah
rekening koran.
Deposito merupakan simpanan dari pihak ketiga yang
penarikannya hanya bisa dilakukan dalam jangka waktu
tertentu menurut perjanjian antara pihak ketiga dengan
pihak bank. Juga tersedia sertifikat deposito didasarkan
atas tunjuk, Dengan demikian sertifikat deposito relatif
mudah dipindahtangankan (atau diperjualbelikan)
kepada pihak lain. Bunga dibayar dalam bentuk
diskonto, yaitu dipotong dari harga nominalnya.

Tabungan merupakan simpanan dari pihak ketiga kepada


bank yang penarikannya dapat dilakukan menurut syaratsyarat tertentu.
Bank bisa memperoleh dana dari pasar keuangan melalui
pinjaman antar bank. Beberapa bank barangkali
mengalami kelebihan likuiditas, sedangkan beberapa
bank lainnya mengalami kesulitan likuiditas. Bank yang
pertama bisa memberikan pinjaman ke bank kedua (bank
yang membutuhkan kas). Untuk dana pinjaman yang
diberikan dalan jangka waktu pendek, paling lama tujuh
hari, dan bisa diambil setiap waktu tanpa dikenai
pembebanan sering disebut sebagai call money. Deposit
on Call merupakan pinjaman antar bank yang bisa
diambil setiap waktu tanpa pemberitahuan. bank juga
bisa memperoleh pinjaman jangka pendek dari Bank
Indonesia (sebagai bank sentral).

Dana yang diperoleh bank tersebut kemudian dialokasikan


ke aset yang akan nampak di sebelah kiri neraca bank.
Aset yang dipunyai bank bisa dibagi ke dalam dua
kelompok:
(1)Aset yang menghasilkan pendapatan (Earning Assets)
Contoh, pinjaman yang memberikan tingkat bunga bagi
bank, dan merupakan salah satu sumber pendapatan
bank.
(2)Aset yang tidak menghasilkan pendapatan (Non
Earning Assets)
Contoh, kas, atau bangunan yang tidak secara langsung
memberikan pendapatan bunga bagi bank.

2.3.2. Asuransi
Perusahaan asuransi ditandai dengan ciri mereka menarik
premi dari nasabahnya. Premi tersebut merupakan
kompensasi atas perlindungan terhadap risiko yang
mereka berikan kepada nasabahnya.
Ada beberapa jenis asuransi, seperti asuransi jiwa, asuransi
kecelakaan, asuransi kerugian, dan asuransi lainnya.
Premi asuransi yang dikumpulkan tersebut merupakan
sumber dana utama perusahaan asuransi. Sumber dana
tersebut bisa mencapai sekitar 70% dari total sumber
dana asuransi. Dana yang dikumpulkan oleh perusahaan
asuransi tersebut kemudian diinvestasikan ke aset yang
menghasilkan return.

2.3.3. Perusahaan Sekuritas


Perusahaan sekuritas ditandai dengan ciri membantu
perolehan dana melalui penerbitan sekuritas seperti
saham atau obligasi untuk perusahaan atau pemerintah.
Jasa tersebut meliputi underwrite (penjaminan) sekuritas,
pendistribusian sekuritas, konsultasi keuangan. Bahkan
pelayanan mereka bisa memasuki restrukturisasi atau
penggabungan (merjer) usaha, karena kegiatan tersebut
seringkali berkaitan dengan penerbitan sekuritas (misal
untuk mendanai merjer, perusahaan menerbitkan
obligasi). Pelayanan mereka juga bisa mencakup bisnis
broker sekuritas dan dealer (pedagang) sekuritas.
Perusahaan sekuritas yang memberikan pelayanan
menyeluruh sering disebut (secara umum) sebagai bank
investasi (investment banks).

Beberapa perusahaan sekuritas hanya memfokuskan pada


pelayanan tertentu, misal broker atau dealer (berarti
memfokuskan pada sektor ritel), sering disebut sebagai
perusahaan sekuritas. Perusahaan yang fokus pada usaha
memulai,
menjamin
emisi
(underwrite),
dan
mendistribusikan emisi sekuritas baru (sektor komersial).
disebut sebagai penjamin emisi atau bank investasi.
Broker dan Dealer Sekuritas. Broker hanya memfasilitasi
pertemuan dua pihak (misal pembeli dengan penjual
sekuritas). Pendapatan broker diperoleh dari komisi.
Dealer memperjualbelikan sekuritas. Mereka disebut juga
sebagai market maker (menciptakan pasar, atau
menciptakan likuiditas). Pendapatan mereka diperoleh dari
selisih antara harga jual dengan harga beli, yang sering
disebut juga sebagai spread.

2.3.4. Perusahaan Investasi (Reksadana)


Perusahaan investasi pada dasarnya adalah lembaga
keuangan yang mengumpulkan dana dari masyarakat
dengan menjual saham dan kemudian menginvestasikan
dana tersebut pada instrumen keuangan seperti saham
atau obligasi. Perusahaan investasi yang melakukan
investasi hanya pada instrumen keuangan jangka pendek
disebut Money-Market Fund. Perusahaan investasi juga
bisa dibedakan berdasarkan strategi investasi.
Perusahaan investasi yang mengkonsentrasikan pada
saham yang sedang tumbuh disebut Growth Fund, pada
saham internasional disebut sebagai Internasional Fund.

Perusahaan investasi bisa berbentuk Close-end Fund,


Open-end Fund, dan Unit Trust. Close-end Fund tidak
memungkinkan pemegang saham menjual kembali
sahamnya ke perusahaan investsi tersebut. Sedangkan
Open-end Fund memungkinkan pemegang saham
menjual kembali sahamnya ke perusahaan investasi
tersebut. Fund ini sering disebut sebagai Mutual Fund.
Unit Trust mengkhususkan pada obligasi sebagai
investasi dan komposisi obligasi tidak akan berubah dari
awal kontark sampai jangka waktu kontrak berakhir.

3. Instrumen Keuangan
Instrumen keuangan dengan demikian bisa diartikan
sebagai klaim atas aliran kas di masa mendatang.
Instrumen keuangan juga bisa diartikan sebagai surat
perjanjian kontrak yang menyebutkan jumlah yang
dipinjam, ketentuan pelunasannya, dan hal-hal lainnya
yang akan dicakup dalam perjanjian tersebut (misal,
jaminan, dan lainnya).

3.1. Karakteristik Instrumen Keuangan


Sekuritas mempunyai beberapa karakteristik yang
membedakan satu sama lain dalam beberapa hal berikut:
1.Denominasi. Setiap sekuritas mempunyai denominasi
tertentu. Sebagai contoh, obligasi mempunyai nilai
nominal (misal) Rp1 juta, Rp10 juta, dan sebagainya.
2.Jangka Waktu. Sekuritas mempunyai jangka waktu
yang berbeda-beda. Obligasi mempunyai jangka waktu
di atas satu tahun, misal lima tahun. Saham mempunyai
jangka waktu yang praktis tidak terbatas, sepanjang
perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut masih
ada. Saham bisa berpindah tangan dari satu investor ke
investor lainnya, tetapi jatuh tempo saham tersebut tidak
terbatas.

3.Tipe Klaim. Secara umum ada dua jenis sekuritas


berdasarkan klaimnya yaitu klaim kepemilikan (saham)
dan klaim pinjaman (hutang dan obligasi). Pemilik
saham berarti memiliki perusahaan. Dia berhak
mengatur perusahaan melalui pemberian hak suara.
Dia juga berhak atas dividen yang dibagikan jika
kewajiban lainnya (misal bunga hutang) telah dilunasi.
Pemberi pinjaman (hutang atau obligasi) berhak atas
pembayaran bunga yang sifatnya tetap dengan skedul
yang tetap juga. Di lain pihak, perusahaan berjanji untuk
membayar bunga sejumlah kas tertentu dengan skedul
tertentu (bunga biasanya dibayar setiap semester). Jika
perusahaan gagal membayar bunga dan cicilannya,
perusahaan bisa dibangkrutkan oleh pemberi pinjaman
tersebut.

4. Likuiditas. Instrumen keuangan berbeda-beda dalam hal


kemudahan memperjualbelikan. Kemudahan tersebut
disebut sebagai marketability atau liquidity. Pada
umumnya saham mempunyai tingkat likuiditas yang
lebih tinggi dibandingkan obligasi.
3.2. Jenis-jenis Instrumen Keuangan
Ada beberapa cara untuk mengelompokkan sekuritas. Salah
satu cara yang bisa dipakai adalah mengelompokkan
instrumen keuangan berdasarkan jangka waktunya,
yaitu: (1) Instrumen Pasar Uang (Money Market
Instruments), dan (2) Instrumen Pasar Modal (Capital
Market Instruments).

3.2.1. Instrumen Pasar Uang


Instrumen pasar uang adalah instrumen keuangan yang
mempunyai jatuh tempo yang kurang dari satu tahun.
Beberapa contoh instrumen tersebut antara lain: (1)
Sertifikat Bank Indonesia, (2) Commercial Paper, (3)
Akseptansi Bank, (4) Certificates of Deposit, dan (5)
Repurchase Agreement.
SBI merupakan surat hutang yang dikeluarkan oleh Bank
Indonesia. Commercial Paper (CP) merupakan surat
hutang jangka pendek (kurang dari satu tahun) yang
dikeluarkan oleh perusahaan. Biasanya tidak disertai
jaminan, dan didasarkan atas kepercyaaan pada
perusahaan. Akseptansi bank adalah perintah bayar yang
di aksep (atau dicap dan diakui) oleh bank. Setelah di
aksep, bank akan bersedia menanggung pembayaran
sejumlah uang yang tertera di akseptansi bank tersebut.

Certificates of Deposits (CD) adalah deposito yang


didasarkan
atas
tunjuk
(siapa
yang
membawa/menunjukkan CD dia yang berhak
memperoleh pembayaran), bukan atas tertulis.
Karakteristik
tersebut
membuat
CD
mudah
dipindahtangankan
(diperjualbelikan).
Repurchase
agreement (Repo) merupakan perjanjian untuk membeli
kembali. Misalkan bank membutuhkan dana, dia bisa
menjual surat berharga kepada investor dengan harga
(misal) Rp950.000. Pada saat yang sama, bank berjanji
untuk membeli surat berharga tersebut dengan harga Rp1
juta tiga bulan mendatang. Transaksi tersebut secara
efektif merupakan transaksi pinjaman dengan jaminan
surat berharga. Rp50 ribu merupakan bunga yang akan
dibayarkan oleh bank tersebut.

3.2.2. Instrumen Pasar Modal


Adalah instrumen yang mempunyai jangka waktu lebih
dari satu tahun. Beberapa contoh adalah obligasi, saham
preferen, dan saham biasa. Obligasi adalah surat hutang
yang dikeluarkan oleh perusahaan atau pemerintah.
Obligasi biasanya menyebutkan nilai nominal, kupon
bunga, dan jangka waktu. Perjanjian lain bisa
disebutkan, misal adanya jaminan atau tidak. Saham
dimasukkan ke dalam instrumen pasar modal, karena
saham akan selalu ada jika perusahaan yang
mengeluarkan saham masih ada. Saham preferen
menggabungkan karakteristik saham dengan obligasi.
Saham preferen merupakan saham (yang berarti
kepemilikan), tetapi membayar dividen yang relatif tetap
(seperti bunga obligasi). Ada beberapa jenis instrumen
lain, seperti waran, konvertibel, dan lainnya.