Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada zaman krisis global saat ini tentu bukanlah hal yang mudah bagi
semua orang. Bisa saja orang-orang yang termasuk ke dalam golongan
menengah atas masih bisa menyunggingkan senyum, tapi tidak demikian
dengan orang-orang yang perekonomiannya menengah kebawah. Mereka
berada dalam sebuah dilema antara tuntutan hidup dan kebutuhan dengan hasil
kerja yang di dapat setiap hari.
Pengangguran di mana-mana, perusahaan bangkrut tak terhitung
banyaknya dan harga sembako yang terus melambung tinggi agaknya menjadi
suatu beban dalam pikiran setiap individu terutama bagi kepala keluarga.
Hal-hal semacam ini bisa saja memicu sesorang mengalami stress yang di
sebabkan ketidakmampuannya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari
keluarganya, apalagi jika ditambah dengan biaya besar yang harus
dikeluarkannya untuk sekolah anak-anak mereka.
Lain hal pula dengan pelajar yang dapat mengalami stress kerena factor
lingkungan sekolah maupun lingkungan keluarga. Di lingkungan sekolah si
anak terus berlomba dengan teman-temannya untuk mendapat nilai tertinggi
agar tetap jadi juara kelas, jika hal itu tidak terwujud maka otomatis hal
tersebut akan dapat mengganggu pikiran anak tersebut. Belum lagi masalah
yang menyangkut pihak sekolah seperti guru dan kepala sekolah., administrasi
sekolah( iuran bulanan), atau tinggal kelas maupun tidak lulus saat ujian
naasional. Kemudian hal lain yang dapat memicu stress pelajar saat di rumah,
orang tua sibuk, atau suka bertengkar, orang tua tidak punya cukup biaya
untuk melanjutkan sekolah si anak dan lain-lain.
Sebenarnya banyak sekali pemicu stress ini dan tidak selalu penyebab
stress tersebut sama antara satu individu dengan individu lain, semua ini
tergantung pada individu sendiri bagaimana dia menyikapi dan sejauh apa
pandangannya mengenai masalah yang sedang dihadapinya, beratkah atau di
bawa enjoy saja.
Namun perlu ditekankan disini, stress tidak selamanya membuat orang
menjadi tidak waras sehingga terpaksa harus berada di rumah sakit jiwa.
karena stress mempunyai beberapa tingkatan. Jadi selama individu tersebut
masih mengalami stress yang ringan, maka individu tersebut hanya akan
sering memikirkannya dan berusaha untuk memecahkan masalah yang
menjadi penyebab stress. Tapi tidak juga menutup kemungkinan bahwa semua
orang mungkin saja sekarang dalam keadaan stress.
Tentunya jika kita mengetahui bahwa semua orang bisa dan rentan terkena
stress, maka akan timbul pertanyaan, “ jadi bagaimana cara menghilangkan
atau mencegah stress tersebut? “. Cara untuk mengatasi pemicu stress inilah
yang dinamakan koping. Koping yang ada pada diri individu berguna untuk
mengarahkan individu tersebut agar tidak ambil pusing terhadap masalah
tersebut atau bisa juga membuat mereka dapat menemukan solusi dari
masalahnya. Secara umum cara menemukan pemecahan masalah tersebut bisa
dari pengalamn sebelumnya tentang masalah tersebut atau curhat dengan
sesorang yang dianggap dapat memberikan jalan keluar untuk masalah yang
dihadapinya.
Dengan koping masalah yang dihadapi bisa teratasi atau hilang untuk
sementara dan akan muncul jika ada pencetusnya. Namun individu yang sudah
melakukan koping adapula yang tidak hilang masalahnya sehingga mereka
akan tidak dapat berbuat apapun selain memikirkan maslahnya.hal ini dapat
membahayakan individu tersebut karena artinya individu ini pikirannya bisa
terganggu dan mengalami gangguan jiwa.
Lain pula dengan adaptasi. Yang dimaksud dengan adapatasi adalah cara
pandang individu terhadap masalahnya. Individu yang dapat selalu mengambil
hikmah dan tidak terlalu memikirkan masalahnya dapat menghilangkan
masalah tersebut dari pikirannya. Hidupnya akan dibawa happy terus. Orang
semacam ini bisa dikatakan sehat secara psikologi. Namun adapatasi juga bisa
tidak berpengaruh terhadap alam pikirnya jika masalah yang dating lebih dan
semakin berat dari sebelumnya dan individu ini selalu menghaadapinya
dengan cara pandang yang sama dilakukannya pada masalah sebelumnya yang
lebih ringan.
Pada makalah ini kami akan membahas tentang stress, koping, adaptasi
dan manajemen stress.
B. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk menjelaskan:
a. Apa yang dimaksud dengan stress, stressor, koping, dan adaptasi.
b. Apa saja yang tergolong dalam stressor
c. Cara koping dan adapatasi
d. Asuhan keperawatan untuk stress
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Teori
Menurut beberapa ahli stress dapat diartikan sebagai berikut:
• Stress didefinisikan sebagai respon fisik dan emosional terhadap
tuntutan yang dialami individu yang diiterpretasikan sebagai sesuatu
yang mengancam keseimbangan (Emanuelsen & Rosenlicht, 1986).
• Stres adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam, yang
menimbulkan suatu ketegangan dalam diri seseorang” (Soeharto
Heerdjan, 1987).
• Secara umum, yang dimaksud “Stres adalah reaksi tubuh terhadap
situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi,
dan lain-lain”. “Stres adalah segala masalah atau tuntutan
penyesuaian diri, dan karena itu, sesuatu yang mengganggu
keseimbangan kita” (Maramis, 1999).
• Menurut Vincent Cornelli, sebagaimana dikutip oleh Grant Brecht
(2000) bahwa yang dimaksud “Stres adalah gangguan pada tubuh
dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan,
yang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan individu
di dalam lingkungan tersebut”
• Stress adalah realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapat
dihindari. Stres disebabkan oleh perubahan yang memerlukan
penyesuaian (Keliat, B.A., 1999).
Pengertian Stressor
Menurut Emanualsen & Rosenlicht, stressor merupakan faktor internal
maupun eksternal yang dapat mengubah individu dan berakibat pada
terjadinya fenomena stress.
Jadi dapat disimpulkan stress adalah dampak dari stressor( penyebab
stress) yang dianggap sebagai tekanan oleh individu sehingga membuatnya
terpaksa untuk terus memikirkan hal tersebut dan akhirnya akan mengganggu
kesehatan psikologinya.
B. Pembahasan
I. Stress dan Stressor
1. Faktor yang Mempengaruhi Stress
Sesuatu yang merupakan akibat pasti memiliki penyebab atau yang disebut
stressor, begitupula dengan stress, seseorang bisa terkena stress karena
menemui banyak masalah dalam kehidupannya. Menurut Grant Brecht (2000),
penyebab dari stress dibedakan menjadi dua macam:
• Penyebab makro, yaitu menyangkut peristiwa besar dalam kehidupan,
seperti kematian, perceraian, pension, luka batin, dan kebangkrutan.
• Penyebab mikro, yaitu menyangkut peristiwa kecil sehari-hari, seperti
pertengkaran rumah tangga, beban pekerjaan, masalah apa yang akan
dimakan, dan antri.
Seperti yang telah diungkapkan di atas, stress dipicu oleh stressor.
Tentunya stressor tersebut berasal dari berbagai sumber, yaitu :
1. Lingkungan
Yang termasuk dalam stressor lingkungan di sini yaitu :
• Sikap lingkungan, seperti yang kita ketahui bahwa
lingkungan itu memiliki nilai negatif dan positif terhadap prilaku
masing-masing individu sesuai pemahaman kelompok dalam
masyarakat tersebut. Tuntutan inilah yang dapat membuat
individu tersebut harus selalu berlaku positif sesuai dengan
pandangan masyarakat di lingkungan tersebut.
• Tuntutan dan sikap keluarga, contohnya seperti tuntutan yang
sesuai dengan keinginan orang tua untuk memilih jurusan saat
akan kuliah, perjodohan dan lain-lain yang bertolak belakang
dengan keinginannya dan menimbulkan tekanan pada individu
tersebut.
• Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK),
tuntutan untuk selalu update terhadap perkembangan zaman
membuat sebagian individu berlomba untuk menjadi yang
pertama tahu tentang hal-hal yang baru, tuntutan tersebut juga
terjadi karena rasa malu yang tinggi jika disebut gaptek.
2. Diri sendiri, terdiri dari
• Kebutuhan psikologis yaitu tuntutan terhadap keinginan yang
ingin dicapai
• Proses internalisasi diri adalah tuntutan individu untuk terus-
menerus menyerap sesuatu yang diinginkan sesuai dengan
perkembangan.
3. Pikiran
• Berkaitan dengan penilaian individu terhadap
lingkungan dan pengaruhnya pada diri dan
persepsinya terhadap lingkungan.
• Berkaitan dengan cara penilaian diri tentang
cara penyesuaian yang biasa dilakukan oleh
individu yang bersangkutan.
Penyebab-penyebab stress di atas tentu tidak akan langsung membuat
sesorang menjadi stress. Hal tersebut dikarenakan setiap orang berbeda
dalam menyikapi setiap masalah yang dihadapi, selain itu stressor yang
menjadi penyebab juga dapat mempengaruhi stress. Menurut Kozier &
Erb, 1983 dikutip Keliat B.A., 1999, dampak stressor dipengaruhi oleh
berbagai faktor yaitu:
• Sifat stressor . Pengetahuan individu tentang
bagaimana cara mengatasi dan darimana sumber
stressor tersebut serta besarnya pengaruh stressor
pada individu tersebut, membuat dampak stress yang
terjadi pada setiap individu berbeda-beda.
• Jumlah stressor yaitu banyaknya stressor yang
diterima individu dalam waktu bersamaan. Jika
individu tersebut tidak siap menerima akan
menimbulkan perilaku yang tidak baik. Misalnya marah
pada hal-hal yang kecil.
• Lama stressor, maksudnya seberapa sering
individu menerima stressor yang sama. Semakin
sering individu mengalami hal yang sama maka akan
timbul kelelahan dalam mengatasi masalah tersebut.
• Pengalaman masa lalu, yaitu pengalaman
individu yang terdahulu mempengaruhi cara individu
menghadapi masalahnya.
• Tingkat perkembangan, artimya tiap individu
memiliki tingkat perkembangan yang berbeda.
Selain itu adapula beberapa faktor yang juga ikut mempengaruhi stress,
yaitu :
• Faktor biologis-herediter, kondisi fisik, neurofisiologik dan
neurohormonal.
• Faktor psikoedukatif/ sosio cultural, perkembangan kepribadian,
pengalaman dan kondisi lain yang memengaruhinya.
2. Jenis-Jenis Stress
Seperti yang sudah disebutkan bahwa stressor dan sumbernya
memiliki banyak keragaman, sehingga dapat disimpulkan stress yang
dihasilkan beragam pula. Menurut Sri Kusmiati dan Desminiarti (1990),
berdasarkan penyebabnya stress dapat digolongkan menjadi :
• Stres fisik, disebabkan oleh suhu atau temperatur yang terlalu
tinggi atau rendah, suara amat bising, sinar yang terlalu terang, atau
tersengat arus listrik.
• Stres kimiawi, disebabkan oleh asam-basa kuat, obat-obatan, zat
beracun, hormone, atau gas.Stres mikrobiologik, disebabkan oleh
virus, bakteri, atau parasit yang menimbulkan penyakit.
• Stres fisiologik, disebabkan oleh gangguan struktur, fungsi
jaringan, organ, atau sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh
tidak normal.Stres proses pertumbuhan dan perkembangan,
disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada
masa bayi hingga tua. Menurut Maramis (1999), ada empat sumber
atau penyebab stres Psikologis, yaitu :
a. Frustasi
Timbul akibat kegagalan dalam mencapai tujuan karena ada
rintangan, frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat badan dan
kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam,
kematian orang yang dicintai, kegoncangan ekonomi,
pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain).
b. Konflik
Timbul karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam-
macam keinginan, kebutuhan, atau tujuan. Bentuknya approach-
approach conflict, approach-avoidance conflict, avoidance
-avoidance conflict.
c. Tekanan
Timbul sebagai akibat tekanan hidup sehari-hari. Tekanan dapat
berasal dari dalam diri individu, misalnya cita-cita atau norma yang
terlalu tinggi. Tekanan yang berasal dari luar individu, misalnya
orang tua menuntut anaknya agar disekolahkan selalu rangking satu
atau istri menuntut uang belanja yang berlebihan kepada suami.
d. Krisis
Krisis yaitu keadaan yang mendadak, yang menimbulkan stres pada
individu, misalnya kematian orang yang disayangi, kecelakaan dan
penyakit yang harus segera operasi.
Namun keadaan stres yang dialami oleh individu dapat terjadi
beberapa sebab sekaligus, misalnya kombinasi antara frustasi,
konflik dan tekanan.
• Stres psikis/ emosional, disebabkan oleh gangguan hubungan
interpersonal, sosial, budaya, atau keagamaan
3. Tahap-Tahap Terjadinya Stress dan Tingkatannya
Suatu stimulus(stressor) yang datang tidak akan langsung membuat
individu tersebut mengalami stress, tentunya setiap individu dibekali cara,
teman atau tempat untuk menhgilangkan stress sejenak atau untuk selamanya.
Tahapan-tahapan tersebut oleh Dr. Robert J. Van amberg (1979) dibagi
menjadi enam tahapan, yaitu :
• Stres Tahap I
Tahapan ini merupakan tahapan stres paling ringan, dan biasanya
disertai dengan perasaan-perasaan seperti :
1) Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting)
2) Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya.
3) Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari
biasanya; Namun tanpa disadari cadangan energi dihabiskan (all
out) disertai rasa gugup yang berlebihan pula.
4) Merasa senang dengan pekerjaannya itu dan semakin
bertambah semangat, Namun tanpa disadari cadangan energi
semakin menipis.
• Stres Tahap II
Dalam tahapan ini dampak stres yang semula “menyenangkan”
sebagaimana diuraikan pada tahap I mulai menghilang, dan timbul
keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi tidak lagi
cukup sepanjang hari karena tidak cukup waktu untuk beristirahat.
Istirahat yang dimaksud seperti tidur yang cukup bermanfaat untuk
mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami
pengurangan. Analoginya seperti handphone (HP) yang sudah lemah
harus kembali diisi ulang (di-charge) agar dapat digunakan lagi dengan
baik.
Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang
berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut :
1) Merasa letih sewaktu bangun pagi, yang seharusnya merasa segar.
2) Merasa mudah lelah sesudah makan siang.
3) Lekas merasa capai menjelang sore hari.
4) Sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman (bowel
discomfort).
5) Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar)
6) Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang.
7) Tidak bisa santai.

• Stres tahap III


Bila seseorang itu tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa
menghiraukan keluhan-keluhan sebagaimana diuraikan pada stres tahap
II, maka individu tersebut akan menunjukkan keluhan-keluhan yang
semakin nyata dan mengganggu, yaitu :
1). Gangguan lambung dan usus semakin nyata; misalnya keluhan
“maag” (gastritis), buang air besar tidak teratur (diare)
2). Ketegangan otot semakin terasa.
3). Perasaan ketidak-tenangan dan ketegangan emosional semakin
meningkat.
4). Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk
tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar
kembali tidur (middle insomnia), atau bangun terlalu pagi/ dini hari
dan tidak dapat kembali tidur (late insomnia).
5). Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa sempoyongan dan serasa
mau pingsan). Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi
pada dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres
hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk
beristirahat guna menambah suplai energi yang berkurang.
• Stres Tahap IV
Tidak jarang seseorang pada waktu memeriksakan diri karena keluhan-
keluhan stres tahap III , oleh dokter individu tersebut dinyatakan tidak
sakit karena tidak ditemukan kelainan-kelainan fisik pada organ
tubuhnya. Bila hal ini terjadi dan yang bersangkutan terus memaksakan
diri untuk bekerja tanpa mengenal istirahat, maka gejala stres tahap IV
akan muncul :
1) Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit.
2) Aktivitas menjadi membosankan dan terasa lebih sulit.
3) Kehilangan kemampuan untuk merespon secara memadai (adequate)
4) Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari.
5) Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang
menegangkan.
6) Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiidak ada semangat
dan kegairahan.
7) Daya konsentrasi dan daya ingat menurun.
8) Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat
dijelaskan apa penyebabnya
• Stres Tahap V
Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap
V yang ditandai dengan hal-hal berikut :
1) Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical and
psychological exhaustion)
2) Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang
ringan dan sederhana.
3) Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastro-intestinal
disorder).
4) Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang semakin
meningkat, mudah bingung dan panik
• Stres Tahap VI
Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan
panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang
mengalami stres tahap VI ini berulang-kali dibawa ke Unit Gawat
Darurat bahkan ke ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena
tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap VI ini
adalah sebagai berikut :
1) Debaran jantung teramat keras
2) Susah bernafas (sesak dan mengap-mengap)
3) Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran
4) Tidak ada tenaga untuk hal-hal yang ringan
5) Pingsan atau kolaps (collapse)
Bila dikaji maka keluhan atau gejala-gejala sebagaimana digambarkan di
atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh
gangguan faal (fungsional) organ tubuh sebagai akibat stresor
psikososial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.
Selain tahapan, stress juga memiliki tingkatan-tingkatan. Manfaaat
yang dapat diambil dari menetahui tingkatan stress sama manfaatnya dengan
mengetahui tahapan-tahapan dari stress, sebab dengan hal tersebut setiap
individu dapat segera mengetahui apakah mereka memiliki stress dan dalam
tahap atau tingkatan apa stress yang sedang dialami. Tentunya tujuan yang
pasti ingin dicapai adalah supaya stress tersebut tidak berlanjut. Stuart dan
Sundeen (1998) mengklasifikasikan tingkat stres, sebagai berikut :
a. Stres Ringan
Stress pada tingkat ini sering terjadi pada kehidupan sehari-hari
dan kondisi ini dapat membantu individu menjadi waspada dan
bagaimana mencegah berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

b. Stres Sedang
Pada tingkat ini individu lebih memfokuskan hal penting saat
ini dan mengesampingkan yang lain sehingga mempersempit lahan
persepsinya.
c. Stres Berat
Pada tingkat ini lahan persepsi individu sangat menurun dan
cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal lain, semua perilaku
ditujukan untuk mengurangi stres, individu tersebut mencoba
memusatkan perhatian pada lahan lain dan memerlukan banyak
pengarahan.
4. Respon Individu Terhadap Stress
RESPON FISIOLOGI TERHADAP STRESS
Hans Selye (1956) Mengidentifikasi dua respon fisiologis terhadap Stress,
yaitu :
1. Local Adaptation Syndrom (LAS)Tubuh menghasilkan
banyak respons setempat terhadap stress. Respon setempat ini termasuk
pembekuan darah dan penyembuhan luka, akomodasi mata terhadap
cahaya, dll. Responnya berjangka pendek.
2. General Adaptation Syndrom (GAS)
a. Fase Alarm ( Waspada) Melibatkan pengerahan
mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk menghadapi
stressor. Reaksi psikologis “fight or flight” dan reaksi fisiologis. Tanda
fisik : curah jantung meningkat, peredaran darah cepat, darah di perifer
dan gastrointestinal mengalir ke kepala dan ekstremitas. Banyak organ
tubuh terpengaruh, gejala stress memengaruhi denyut nadi, ketegangan
otot dan daya tahan tubuh menurun.
b. Fase Resistance (Melawan) Individu mencoba
berbagai macam mekanisme penanggulangan psikologis dan
pemecahan masalah serta mengatur strategi. Tubuh berusaha
menyeimbangkan kondisi fisiologis sebelumnya kepada keadaan
normal dan tubuh mencoba mengatasi faktor-faktor penyebab stress.
Bila teratasi gejala stress menurun atau normal
c. Fase Exhaustion (Kelelahan) Merupakan fase
perpanjangan stress yang belum dapat tertanggulangi pada fase
sebelumnya. Energi penyesuaian terkuras. Timbul gejala penyesuaian
diri terhadap lingkungan seperti sakit kepala, gangguan mental,
penyakit arteri koroner, dll. Bila usaha melawan tidak dapat lagi
diusahakan, maka kelelahan dapat mengakibatkan kematian
Sedangkan menurut Dadang Hawari (2001) respon tehadap stress dapat
mengenai hampir seluruh sistem tubuh, seperti :
a. Perubahan warna rambut dari hitam menjadi kecoklat-coklatan, ubanan
atau kerontokan.
b. Gangguan ketajaman penglihatan.
c. Thinitus (pendengaran berdenging)
d. Daya mengingat, konsentrasi, dan berpikir menurun.
e. Wajah tegang, serius, tidak santai, sulit tersenyum, dan kedutan pada kulit
wajah (tic facialis).
f. Bibir dan mulut terasa kering, tenggorokan terasa tercekik.
g. Kulit dingin atau panas, banyak berkeringat, kulit kering timbul eksim,
biduran (urtikaria), gatal-gatal, tumbuh jerawat (acne), telapak tangan dan
kaki berkeringat dan kesemutan.
h. Napas terasa berat dan sesak.
i. Jantung berdebar-debar, muka merah atau pucat.
j. Lambung mual, kembung dan pedih, mulas, sulit defekasi, atau diare.
k. Sering berkemih
l. Otot sakit, seperti ditusuk-tusuk, pegal, dan tegang.
m. Kadar gula meninggi, pada wanita terjadi gangguan menstruasi.
n. Libido menurun atau bisa juga meningkat

Kemudian reaksi psikologis individu terhadap stress, adalah


a. Kecemasan adalah respon yang paling umum. Merupakan tanda bahaya yang
menyatakan diri dengan suatu penghayatan yang khas, yang sukar
digambarkan Adalah emosi yang tidak menyenangkan seperti jantung
berdebar, keluar keringat dingin, mulut kering, tekanan darah tinggi dan susah
tidur.
b. Kemarahan dan agresi. Adalah perasaan jengkel sebagai respon terhadap
kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman.Merupakan reaksi umum lain
terhadap situasi stress yang mungkin dapat menyebabkan agresi, agresi ialah
kemarahan yang meluap-luap, dan orang melakukan serangan secara kasar
dengan jalan yang tidak wajar.Kadang-kadang disertai perilaku kegilaan,
tindak sadis dan usaha membunuh orang.
c. Depresi Keadaan yang ditandai dengan hilangnya gairah dan semangat.
Terkadang disertai rasa sedih
II. Mekanisme Koping
Individu dari semua umur mengalami stress dan mencoba untuk
mengatasinya. Karena ketegangan fisik dan emosional yang menyertai stress
menimbulkan ketidaknyamanan, seseorang menjadi termotivasi untuk
melakukan sesuatu untuk mengurangi stress.
Koping adalah cara yang dilakukan individu, dalam menyelesaikan
masalah, menyesuaikan diri dengan keinginan yang akan dicapai, dan respons
terhadap situasi yang menjadi ancaman bagi diri individu.
Mekanisme koping merupakan skumpulan strategi mental baik disadari
maupun tidak disadari yg digunakan untuk menstabilkan situasi yang
berpotensi mengancam dan membuat kembali ke dalam keseimbangan
(Emanuelsen & Rosenlicht, 1986).
Setiap individu mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam
menahan stres. Hal tersebut bergantung pada :
a. Sifat dan hakikat stres, yaitu intensitas, lamanya, lokal, dan
umum (general).
b. Sifat individu yang terkait dengan proses adaptasi.
Strategi koping klien merupakan upaya untuk menimbulkan stabilitas
emosional, menguasai lingkungan, mendefinisikan kembali tugas/tujuan
hidup, dan memecahkan masalah yang ditimbulkan oleh karena sakit/penyakit.
Beberapa contoh perilaku koping adalah humor, distraksi, bertanya untuk
suatu informasiberbicara dengan yang lain tentang keluhan/perasaan-
perasaannya, mendefinisikan kembali masalah kedalam istilah yang lebih
disukai, menghadapi masalah dengan dengan melakukan beberapa tindakan,
negosiasi kemungkinan pilihan/alternatif, menurunkan ketegangan dengan
minum, makan atau menggunakan obat, menarik diri, menyalahkan seseorang
atau sesuatu, menyalahkan diri sendirimenghindar dan berkonsultasi dengan
ahli agama

Cara yang dapat dilakukan adalah:


1. Individu
a. Kenal diri sendiri
Merupakan tahap awal yang harus dilakukan. Karena individu yang
sudah kenal akan dirinya, akan siap untuk menghadapi stressor
yang ada. Cara yang dapat dilakukan adalah:
- Identifikasi diri
- Tanyakan pada orang lain siapa anda
- Mintalah umpan balik jika anda sudah kenal diri anda
b. Turunkan kecemasan
- Identifikasi penyebab cemas
- Cari tindakan yang menurut anda dapat menurunkan
kecemasan
- Lakukan teknik relaksasi
c. Tingkatkan harga diri
- Identifikasi aspek positif yang dimiliki
- Mulai gali kemampuan positif yang dimiliki
- Pertahankan aspek positif yang dimiliki
d. Persiapan diri
- Tingkatkan kemampuan kognitif atau pengetahuan diri
(belajar)
- Berdoa
- Mencari informasi
- Diskusi dengan orang yang sudah punya pengalaman
bekerja
- Identifikasi kebutuhan yang perlu dipersiapkan
e. Pertahankan dan tingkatkan cara yang sudah baik

2. Dukungan sosial (keluarga, teman dan masyarakat)


a. Pemberian dukungan terhadap peningkatan kemampuan kognitif
b. Ciptakan lingkungan keluarga yang sehat, misalnya waktu
berdikusi
dengan anggota keluarganya
c. Berikan bimbingan mental dan spiritual untuk individu tersebut dari
keluarga
d. Berikan bimbingan khusus untuk individu, misalnya konseling
Metode koping menurut Folkman & Lazarus (Folkman & Lazarus, 1988;
Folkman et al., 1986), skill dan strategi coping diuraikan sebagai berikut :
1. Planful problem-solving
2. Confrontive coping
3. Seeking social support
4. Distancing (emotion-focused)
5. Escape-avoidance
6. Self-control
7. Accepting responsibility
8. Positive reappraisal
III. Konsep Adaptasi
1. Pengertian Adaptasi
Adaptasi adalah proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial
berubah dalam berespon terhadap stress. Karena banyak stressor tidak dapat
dihindari, promosi kesehatan sering difokuskan pada adaptasi individu,
keluarga atau komunitas terhadap stress.
Ada banyak bentuk adaptasi. Adaptasi fisiologis memungkinkan
homeostasis fisiologis. Namun demikian mungkin terjadi proses yang serupa
dalam dimensi psikososial dan dimensi lainnya.
Suatu proses adaptif terjadi ketika stimulus dari lingkungan internal dan
eksternal menyebabkan penyimpangan keseimbangan organisme. Dengan
demikian adaptasi adalah suatu upaya untuk mempertahankan fungsi yang
optimal. Adaptasi melibatkan refleks, mekanisme otomatis untuk
perlindungan, mekanisme koping dan idealnya dapat mengarah pada
penyesuaian atau penguasaan situasi (Selye, 1976, ; Monsen, Floyd dan
Brookman, 1992). Stresor yang menstimulasi adaptasi mungkin berjangka
pendek, seperti demam atau berjangka panjang seperti paralysis dari anggota
gerak tubuh. Agar dapat berfungsi optimal, seseorang harus mampu berespons
terhadap stressor dan beradaptasi terhadap tuntutan atau perubahan yang
dibutuhkan. Adaptasi membutuhkan respons aktif dari seluruh individu.

2. Dimensi Adaptasi
Stres dapat mempengaruhi dimensi fisik, perkembangan, emosional,
intelektual, sosial dan spiritual. Sumber adaptif terdapat dalam setiap dimensi
ini. Oleh karenanya, ketika mengkaji adaptasi klien terhadap stress, perawat
harus mempertimbangkan kondisi individu secara menyeluruh.
a. Adaptasi Fisiologis
Indikator fisiologis dari stress adalah objektif, lebih mudah
diidentifikasi dan secara umum dapat diamati atau diukur. Namun
demikian, indicator ini tidak selalu teramati sepanjang waktu pada semua
klien yang mengalami stress, dan indikator tersebut bervariasi menurut
individunya. Tanda vital biasanya meningkat dan klien mungkin tampak
gelisah dan tidak mampu untuk beristirahat aberkonsentrasi. Indikator ini
dapat timbul sepanjang tahap stress.
Durasi dan intensitas dari gejala secara langsung berkaitan dengan
durasi dan intensitas stressor yang diterima. Indikator fisiologis timbul dari
berbagai sistem. Oleh karenanya pengkajian tentang stress mencakup
pengumpulan data dari semua sistem.
Indikator fisiologis stress, yaitu kenaikan tekanan darah, peningkatan
ketegangan di leher, bahu, punggung, peningkatan denyut nadi dan
frekwensi pernapasan, telapak tangan berkeringat, tangan dan kaki dingin,
postur tubuh yang tidak tegap, keletihan, sakit kepala, gangguan lambung,
suara yang bernada tinggi, mual,muntah dan diare, perubahan nafsu
makan, perubahan berat badan perubahan frekwensi berkemih, dilatasi
pupil, gelisah, kesulitan untuk tidur atau sering terbangun saat tidur
temuan hasil laboratorium abnormal, yaitu peningkatan kadar hormon
adrenokortikotropik, kortisol dan katekolamin dan hiperglikemia.
b. Adaptasi Psikologis
Emosi kadang dikaji secara langsung atau tidak langsung dengan
mengamati perilaku klien. Stress mempengaruhi kesejahteraan emosional
dalam berbagai cara. Karena kepribadian individual mencakup hubungan
yang kompleks di antara banyak faktor, maka reaksi terhadap stress yang
berkepanjangan ditetapkan dengan memeriksa gaya hidup dan stresor klien
yang terakhir, pengalaman terdahulu dengan stressor, mekanisme koping
yang berhasil di masa lalu, fungsi peran, konsep diri dan ketabahan yang
merupakan kombinasi dari tiga karakteristik kepribadian yang di duga
menjadi media terhadap stress. Ketiga karakteristik ini adalah rasa kontrol
terhadap peristiwa kehidupan, komitmen terhadap aktivitas yang berhasil,
dan antisipasi dari tantangan sebagai suatu kesempatan untuk pertumbuhan
(Wiebe dan Williams, 1992 ; Tarstasky, 1993).
Indikator emosional / psikologi dan perilaku stress :
• Ansietas
• Depresi
• Kepenatan
• Peningkatan penggunaan bahan kimia
• Perubahan dalam kebiasaan makan, tidur, dan pola aktivitas.
• Kelelahan mental
• Perasaan tidak adekuat
• Kehilangan harga diri
• Peningkatan kepekaan
• Kehilangan motivasi.
• Ledakan emosional dan menangis.
• Penurunan produktivitas dan kualitas kinerja pekerjaan.
• Kecendrungan untuk membuat kesalahan (mis. buruknya
penilaian).
• Mudah lupa dan pikiran buntu
• Kehilangan perhatian terhadap hal-hal yang rinci.
• Preokupasi (mis. mimpi siang hari )
• Ketidakmampuan berkonsentrasi pada tugas.
• Peningkatan ketidakhadiran dan penyakit
• Letargi
• Kehilangan minat
• Rentan terhadap kecelakaan.
c. Adaptasi Perkembangan
Stres yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kemampuan untuk
menyelesaikan tugas perkembangan. Pada setiap tahap perkembangan,
seseorang biasanya menghadapi tugas perkembangan dan
menunjukkan karakteristik perilaku dari tahap perkembangan tersebut.
Stress yang berkepanjangan dapat mengganggu atau menghambat
kelancaran menyelesaikan tahap perkembangan tersebut. Dalam bentuk
yang ekstrem, stress yang berkepanjangan dapat mengarah pada krisis
pendewasaan.
Bayi atau anak kecil umumnya menghadapi stressor di rumah . Jika
diasuh dalam lingkungan yang responsive dan empati, mereka mampu
mengembangkan harga diri yang sehat dan pada akhirnya belajar
respons koping adaptif yang sehat (Haber et al, 1992).
Anak-anak usia sekolah biasanya mengembangkan rasa kecukupan.
Mereka mulai mnyadari bahwa akumulasi pengetahuan dan
penguasaan keterampilan dapat membantu mereka mencapai tujuan ,
dan harga diri berkembang melalui hubungan berteman dan saling
berbagi di antara teman. Pada tahap ini, stress ditunjukkan oleh
ketidakmampuann atau ketidakinginan untuk mengembangkan
hubungan berteman.
Remaja biasanya mengembangkan rasa identitas yang kuat tetapi
pada waktu yang bersamaan perlu diterima oleh teman sebaya. Remaja
dengan sistem pendukung sosial yang kuat menunjukkan suatu
peningkatan kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap stressor,
tetapi remaja tanpa sistem pendukung sosial sering menunjukkan
peningkatan masalah psikososial (Dubos, 1992).
Dewasa muda berada dalam transisi dari pengalaman masa remaja
ke tanggung jawab orang dewasa. Konflik dapat berkembang antara
tanggung jawab pekerjaan dan keluarga. Stresor mencakup konflik
antara harapan dan realitas.
Usia setengah baya biasanya terlibat dalam membangun keluarga,
menciptakan kasrier yang stabil dan kemungkinan merawat orang tua
mereka. Mereka biasanya dapat mengontrol keinginan dan pada
beberapa kasus menggantikan kebutuhan pasangan, anak-anak, atau
orang tua dari kebutuhan mereka. Namun demikian dapat timbul stress,
jika mereka merasa terlalu banyak tanggung jawab yang membebani
mereka.
Usia lansia biasanya menghadapi adaptasi terhadap perubahan
dalam keluarga dan kemungkinan terhadap kematian dari pasangan
atau teman hidup. Usia dewasa tua juga harus menyesuaikan terhadap
perubahan penampilan fisik dan fungsi fisiologis. Perubahan besar
dalam kehidupan seperti memasuki masa pension juga menegangkan.
d. Adaptasi Sosial Budaya
Mengkaji stressor dan sumber koping dalam dimensi sosial
mencakup penggalian bersama klien tentang besarnya, tipe, dan
kualitas dari interaksi sosial yang ada. Stresor pada keluarga dapat
menimbulkan efek disfungsi yang mempengaruhi klien atau keluarga
secara keseluruhan (Reis & Heppner, 1993).
Perawat juga harus waspada tentang perbedaan cultural dalam
respon stress atau mekanisme koping. Misalnya klien dari suku Afrika-
Amerika mungkin lebih menyukai mendapatkan dukungan sosial dari
anggota keluarga ketimbang dari bantuan professional (Murata, 1994).

e. Adaptasi Spritual
Orang menggunakan sumber spiritual untuk mengadaptasi stress
dalam banyak cara, tetapi stress dapat juga bermanifestasi dalam
dimensi spiritual. Stress yang berat dapat mengakibatkan kemarahan
pada Tuhan, atau individu mungkin memandang stressor sebagai
hukuman. Stresor seperti penyakit akut atau kematian dari orang yang
disayangi dapat mengganggu makna hidup seseorang dan dapat
menyebabkan depresi.
Ketika perawatan pada klien yang mengalami gangguan spiritual,
perawat tidak boleh menilai kesesuaian perasaan atau praktik
keagamaan klien tetapi harus memeriksa bagaimana keyakinan dan
nilai telah berubah.
IV. Manajemen Stress
Stress adalah suatu kondisi normal pada waktu menghadapi perubahan
dan ancaman dengan respon yang dapat adaptive. Stress management adalah
usaha seseorang untuk mencari cara yang paling sesuai dengan kondisinya
untuk mengurangi stress yang terjadi dalam dirinya. Manajemen stress
kemungkinan melihat promosi kesehatan sebagai aktivitas atau intervasi atau
mengubah pertukaran rrespon terhadap penyakit. Fokusnya tergantung pada
tujuan dari intervensi keperawatan berdasarkan keperluan pasien. Perawat
bertanggung jawab pada implemenetasi pemikiran yang dikeluarkan pada
beberapa daerah perawatan.
V. Manajemen Stress Untuk Klien
a. Reguler Exercise
Program olahraga teratur meningkatkan tonus otot dan postur otot,
mengontrol berat badan, mengurangi ketegangan dan meningkatkan relaksasi.
Selain itu , olahraga juga mengurangi risiko penyakit kardiovaskular dan
meningkatkan fungsi kardiovaskular. Klien yang mempunyai riwayat penyakit
kronis, yang berisiko untuk mengalami suatu penyakit , atau yang berusia
lebih dari 35 tahun harus mulai melakukan program latihan fisik hanya setelah
mendiskusikannya dengan dokter. Secara umum agar program kebugaran
aliran darah ke otot memberi efek fisik yang positif, seseorang harus
melakukan olahraga setidakanya tiga kali dalam satu minggu selama 30
sampai 40 menit. Setiap orang harus melakukan latihan pernapasan sebelum
melakukan latihan berat seperti jogging, gerakan aerobic atau tennis.
Latihan pernapasan menstimulasi aliran darah ke otot dan
meningkatkan kelenturan. Latihan ini mengurangi risiko kerusakan pada
sistem musculoskeletal selama latihan. Sama halnya seseorang harus
melakukan latihan pendinginan dan tidak berhenti secara mendadak. misalnya,
setelah jogging atau gerakan aerobic, orang tersebut harus bergerak dengan
gerakan sedang, secara bertahap diperlambat dan berhenti.
Latihan pendinginan memungkinkan sistem kardiovaskuler,
musculoskeletal, dan sistem metabolic secara bertahap kembali pada keadaan
istirahat.
Program latihan efektif dalam menurunkan keparahan kondisi akibat
stress seperti hipertensi, kegemukan, sakit kepala migren, keletihan mental,
peka rangsang dan sepresi. Latihan meningaktakan pelepasan opioid endogen
yang menciptakan perasaan sejahtera (McCubbin & McCubbin, 1993).

b. Diet Nutrisi
Nutrisi dan latihan berhubungan erat. Makanan memberi bahan bakar
untuk aktivitas dan meningkatkan latihan, yang meningkatkan sirkulasi dan
pemberian nutrient ke jaringan tubuh.
Setiap orang didorong untuk mempertahankan berat badan sesuai dengan
rentang standart usia, jenis kelamin, dan bentuk tubuh. Selain untuk
menghindari kelebihan makan atau kekurangan makan, seseorang harus
mewaspadai kualitas makanan. Terlalu banyak lemak, kafein, garam atau gula
dapat mengganggu fungsi metabolic tubuh, defisiensi vitamin, mineral, dan
nutrient juga dapat menyebabkan masalah metabolisme. Kebiasaan diet yang
buruk dapat memperburuk respond stress dan membuat individu mudah
tersinggung, hiperaktif dan gelisah. Hal ini merusak kemampuan untuk
memenuhi tanggung jawab personal, keluarga, dan peran.
c. Support Sistem
Riset keperawatan telah mendokumentasikan adanya korelasi dukungan
sosial positif dengan pengurangan gejala penyakit kronis (White, Richter, &
Fry, 1992).
Ubrich dan Bradsher (1993) menunjukkan bahwa dukungan dapat
meringankan efek stressor atau distress emosional baik pada lansia wanita
kulit putih maupun suku Afrika-Amerika terutama jika dukungan dipandang
sebagai orang yang sangat dipercaya. Perawat dapat menggunakan berbagai
metode untuk membantu klien membangun sistem pendukung, melibatkan diri
dalam aktivitas kelompok tempat ibadah dan memberi dorongan untuk
melakukan aktivitas rekreasi.
Perawat dapat menggunakan komunikasi terapeutik untuk mengajarkan
klien tentang keterampilan sosialisasi jika klien tidak mengetahui bagaimana
cara berinteraksi dengan tepat. Semua metode ini membantu klien membangun
sistem pendukung yang kuat. Jika stress merupakan akibat dari isolasi sosial,
maka strategi keperawatan ditujukan untuk membantu klien mengembangkan
jaringan sosial baru.
d. Time Management
Seseorang yang menggunakan waktu secara efisien biasanya
mengalami lebih sedikit stress karena mereka merasa lebih terkontrol dalam
hidupnya. Perawat yang bertindak dalam domain pengajaran-pelatihan dapat
membantu klien memprioritaskan tugas jika mereka merasa kewalahan atau
imobilisasi. Penstrukturan waktu yang realistic diperlukan jika klien tidak
menyisikan waktu yang cukup untuk setiap aktivitas. Fungsi peran klien harus
dianalisis secara berkaitan untuk menentukan apakah modifikasi dapat dibuat
sehingga dapat mengurangi tuntutan waktu (Peddicord,1991).
Mengendalikan tuntutan dari orang lain penting untuk penatalaksanaan
waktu yang efektif. Sedikit orang yang mampu mengikuti semua permintaan
yang diajukan oleh orang lain. penting artinya untuk belajar mengenali
permintamaan mana yang dapat dipenuhi secara realistic, kebutuhan mana
yang akan dinegosiasi, dan kebutuhan mana yang dapat ditolak secara asertif.
Menghambat periode waktu untuk menunjukkan tujuan spesifik juga
mengurangi rasa keterburuan dan meningkatkan perasaan kontrol.
e. Humor
Humor adalah terapi yang terkenal dalam literatur umum oleh Norman
Cousins (1979). Kemampuan untuk menerima hal-hal lucu dan tertawa
melenyapkan stress (Robinson, 1990; Dahl dan O’Neal, 1993).
Hipotesisfisiologis menyatakan bahwa tertawa melepaskan endorphin ke
dalam sirkulasi dan perasaan stress di lenyapkan.
f. Istirahat
Pola istirahat dan tidur yang tetap, dan kebaisaan juga penting untuk
menangani stress. Seseorang yang mengalami stress harus di dorong
meluangkan waktunya untuk istirahat dan tidur. Tidur tidak hanya
menyegarkan tubuh, Tetapi juga membantu seseorang menjadi rileks secara
mental. Klien mungkin membutuhkan bantuan specific dalam mempelajari
tehnik relaks sehingga dapat tertidur.
g. Teknik Relasasi
Relaksasi progresif dengan dan tanpa ketegangan otot dan tehnik
manipulasi pikiran mengurangi komponen fisiologis dan emodional stress.
Tehnik relaksasi adalah perilaku yang dipelajari dan membutuhkan waktu
pelatihan dan praktek. Setelah klien menjadi terampil dalam tehnik ini ,
ketegangan dikurangi dan parameter fisiologis berubah.
Ada 4 komponen utama dari tehnik relaksasi yaitu :
• Lingkungan& yang tenang, menghindarkan sebanyak mungkin
kebisingan dan gangguan –gangguan
• Posisi yang nyaman, duduk tanpa ketegangan otot.&
Sikap yang& dapat diubah, mengosongkan semua pikiran-pikiran dari
alam sadar.
• Keadaan& mental (yang baik, memusatkan perhatian pada suara,
kata-kata, ungkapan, imaginasi, objek atau pola napas untuk merubah
pikiran-pikiran secara internal menjadi pikiran yang lebih dapat
diterima).
Faktor yang penting adalah bagaimana seseorang mengosongkan
pikirannya dari semua pikiran-pikiran dan memusatkan perhatian pada
mental device. Setiap periode relaksasi ini harus membutuhkan waktu
kurang lebih 20 menit. Ada Beberapa pendekatan yang dapat
dilaksanakan melalui instruksi perawat kepadda klien , tanpa
menggunakan peralatan khusus dan juga tanpa perintah dokter yaitu
relaksasi profresif dan relaksasi respon Benson. Relaksasi progresif
terdiri atas peregangan dan relaksasi sekelompok otot dan
memfokuskannya perasaan relakasasi. Aplikasi yang sistematis dari
relaksasi progresif ini mempunyai tiga efek utama, sebagai berikut :
Kelompok otot yang telah mengalami relaksasi maka akan lebih rileks
lagi.
Tiap-tiap kelompok otot utama rileks secara bergantian. Kalau otot yang
baru ditambah, maka kelompok otot yang lama juga akan mengalami
relaksasi. Lebih banyak jumlah relaksasi yang dialmi seseorang, maka
orang itu akan bergerak menuju fase relaksasi.
• Keadaan rileks meningkat setelah periode relaksasi. Respon
relaksasi Benson menghilangkan ketegangan otot. Khususnya membantu
secara penuh relaksasi otot pada pasien yang mengalami nyeri atau
ketidaknyamanan.
Respon relaksasi Benson’s
o Yakinkan posisi duduk senyaman mungkin dalam lingkungan yang
tenang
o Tutup mata
o Relaksasi otot-otot tubuh (katakana Ayo.....)
o Memusatkan perhatian pada pernapasan, ulangi lagi kata-kata atau
suara / bunyi seperti “one” atau “um-um” setiap kali ekspirasi.
o Lakukan selama 20 menit
o Buka mata
o Berikan waktu pada pasien untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan sebelum psien bergerak atau berpindah.
h. Spiritualitas
Aktivitas spiritual dapat juga mempunyai efek yang positif dalam
menurunkan stress (Dahl dan O’ Neal , 1993). Praktik seperti berdoa,
meditasi atau membaca bahan bacaan keagamaan dapat menjadi sumber
yang bermamfaat bagi klien. Pada penelitian (Young, 1993) praktik
spiritual klien lansia dapat meningkatkan perasaan produktivitas dan
kemampuan beradaptasi yang membantu dalam menghadapi individu sakit
kronis
VI. Cara Mengendalikan Stres
Kiat untuk mengendalikan stres menurut Grant Brecht (2000) sebagai berikut :
a. Sikap, keyakinan dan pikiran harus positif, fleksibel, Rasional, dan
adaptif terhadap orang lain. Artinya, jangan menyalahkan orang lain
sebelum introspeksi diri dengan pengendalian internal.
b. mengendalikan faktor-faktor penyebab stres dengan jalan :
1). Kemampuan menyadari (awareness skills).
2). Kemampuan untuk menerima (acceptance skills)
3). Kemampuan untuk menghadapi (coping skills)
4). Kemampuan untuk bertindak (action skills).
c. Mamperhatikan diri, proses interpersonal dan interaktif, serta
lingkungan kita.
d. Mengembangkan sikap efisien.
e. Relaksasi
f. Visualisasi (angan-angan terarah).
Teknik singkat untuk menghilangkan stres, misalnya melakukan pernafasan
dalam, mandi santai dalam bak, tertawa, pijat, membaca, kecanduan positif
(melakukan yang disukai secara teratur), istirahat teratur dan ngobrol.

BAB III
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

http://askep.blogdetik.com

http://lensakomunika.blogspot.com

http://lensaprofesi.blogspot.com

http://perawatsupri.wordpress.com

http://tropicalstorm.blogsome.com