Anda di halaman 1dari 10

[56] Pintu-pintu Kebajikan

Dalam Islam, apa yang disebut dengan amal kebajikan


atau amal shalih sesungguhnya amatlah banyak dan
beragam. Kebajikan mencakup amal-amal wajib maupun
sunah dan perkara-perkara halal yang bisa mendatangkan
kemaslahatan. Yang wajib, misalnya, shalat lima waktu,
shaum Ramadhan, ibadah haji, menuntut ilmu,
berdakwah, jihad fi sabilillah, berbakti kepada orangtua,
memberi nafkah anak-istri, mendidik keluarga, dll. Yang
sunah, misalnya, shalat nawafil, shalat-shalat sunah
(tahajud, dhuha, shalat id, dll), shaum-shaum sunah
(Senin-Kamis, shaum Dawud, shaum hari-hari 'putih',
shaum enam hari di bulan Syawal), membaca Alquran,
berzikir, bersedekah, menolong sesama, membuang duri
di jalanan, dll).

Sekecil apapun amal kebajikan, Allah


SWT pasti mengetahuinya dan bakal
membalasnya
Allah berfirman (yang artinya):
(Dalam hal) kebajikan apa saja yang
kalian lakukan, sesungguhnya Allah
Mahatahu (TQS al-Baqarah: 215);
Siapa saja yang mengerjakan
kebajikan seberat dzarrah pun, dia
akan menyaksikan(balasan pahala)-

Selain itu, kebajikan apapun yang kita lakukan,


manfaat dan pahalanya pada hakikatnya berpulang
kepada diri kita sendiri, sebagaimana firman-Nya: Siapa
saja yang mengerjakan amal shalih maka (pahala) amal
itu untuk dirinya sendiri (QS al-Jatsiyah: 15).
Karena itu, sesungguhnya tak ada alasan bagi setiap
Muslim untuk tidak melakukan kebajikan, apalagi jika itu
berupa kewajiban.
Tak ada alasan pula ia menyepelekan perkara-perkara
sunnah, bahkan yang mubah sekalipun jika memang
mendatangkan kemaslahatan bagi dirinya ataupun
orang lain.

Di antara amal-amal kebajikan itu


memang ada amal-amal yang utama
atau yang paling utama. Baginda
Rasulullah SAW pernah ditanya,
Amal apa yang paling utama?
Jawab beliau, Iman kepada Allah,
kemudian jihad fi sabilillah.
(Mutaffaq 'alayh).

Selain amal-amal kebajikan yang utama, Baginda


Rasulullah juga menyebut ragam kebajikan lain,
termasuk yang sering kita anggap sederhana/kecil.
Beliau antara lain bersabda, sebagaimana dituturkan
Abu Dzarr ra.,
Atas setiap ruas tulang (sendi) salah seorang di antara
kalian ada sedekahnya. Karena itu, setiap ucapan tasbih
adalah sedekah, setiap ucapan tahmid adalah
sedekah, setiap ucapan tahlil adalah sedekah, setiap
ucapan takbir adalah sedekah, memerintahkan
kemakrufan adalah sedekah, mencegah kemungkaran
adalah sedekah. Yang setara dengan itu adalah
menunaikan dua rakaat shalat dhuha (HR Muslim).

Senada dengan hadits di atas, Buraidah ra berkata:


Aku pernah mendengar Baginda Rasulullah bersabda
Pada diri manusia ada 360 ruas tulang, karena
itu, hendaklah kalian bersedekah atas masingmasing ruas tulang tersebut.
Beliau ditanya, Siapa yang bisa melakukan itu,
wahai NabiAllah?
Jawab beliau, (Ingatlah)mengubur dahak/lendirdi
masjid adalah sedekah, membuang duri dari jalanan
adalah sedekah. Jika engkau tak bisa melakukannya
maka menunaikan dua rakaat shalat dhuha adalah
setara dengan itu. (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Baginda Rasulullah pun pernah


bersabda, Telah diperlihatkan
kepadaku amal-amal umatku, baik
amal-amal baik maupun amal-amal
buruk. Aku menemukan di dalam
amal-amal kebajikan mereka
aktivitas membuang duri di jalanan.
Aku pun menemukan di dalam amalamal buruk mereka tindakan
membuang dahak/lendir di masjid.

Ada orang berkata, Wahai Rasulullah, orang-orang yang banyak


melakukan amal kebajikan telah pergi. Mereka shalat sebagaimana kami
shalat. Mereka shaum sebagaimanakami shaum. Merekapun biasa
menyedekahkan kelebihan harta mereka.Jawab beliau, Tidak begitu.
Sesungguhnya Allah telah menjadikan untuk kalian apa saja yang bisa
kalian sedekahkan. Setiap tasbih adalah sedekah. Setiap takbir adalah
sedekah. Setiap tahmid adalah sedekah. Setiap tahlil adalah sedekah.
Memerintahkan kemakrufan adalah sedekah. Mencegah kemungkaran
adalah sedekah. Hubungan suami-istri adalah sedekah
Para Sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, apakah tindakan salah
seorang dari kami yang melampiaskan syahwatnya (kepada
istrinya)juga berpahala? Beliaumalahbertanya, Bagaimana
pendapatmu, jika dia melampiaskan syahwatnya di jalan yang haram
(bukan kepada istrinya), apakah dia berdosa?Jawab mereka, Tentu
saja. Rasul lalu berkata, Demikian pula jika dia melampiaskan
syahwatnya di jalan yang halal (kepada istrinya); dia mendapatkan
pahala. (HR Muslim).

Karena itu, tak layak kita menyepelekan


setiap amal kebajikan, sekecil apapun,
sebagaimana sabda Nabi SAW,
Janganlahengkau sedikitpun menganggap
sepele kebajikan walau sekadar
menampakkan wajah berseri-seri saat engkau
berjumpa dengan saudaramu. (HR Muslim).
Itulah di antara pintu-pintu kebajikan dalam
Islam. Semoga kita bisa memasuki pintu-pintu
tersebut. Amin. [] abi