Anda di halaman 1dari 4

Nama : SUMINO

NPM : 0310060911
UTS

: REKAYASA AKUAKULTUR

1.

JELASKAN TENTANG AQUACULTURE ENGINEERING?


Rekayasa akuakultur adalah cabang ilmu yang mempelajari kegiatan budidaya

spesies air bernilai ekonomis penting dan sistem produksi yang digunakan. Aspek rekayasa
teknik budidaya bertujuan untuk menerapkan teori matematis dan konsep rekayasa untuk
pengembangan

sistem

produksi

yang

efektif

dengan

penekanan

pada

penggunaan simulasi untuk kontrol kualitas air dan kegiatan produksi. Kondisi lingkungan,
pakan dan pemupukan merupakan komponen penting dari produksi. Sistem rekayasa pada
umumnya menggunakan operasi pengolahan air untuk menjamin kualitas lingkungan yang
baik bagi kultivan. Sistem resirkulasi air juga merupakan aspek penting dari usaha ini,
dengan penekanan pada kualitas air, kadar oksigen, dan jumlah pakan (Anonim, 2011).
Keberhasilan usaha budidaya ikan sangat ditentukan oleh ketepatan pemilihan lokasi.
Lokasi tambak/ kolam harus menjanjikan masa depan yang baik untuk budidaya secara
berkelanjutan dan lestari. Lokasi budidaya erat kaitannya dengan kualitas lingkungan yang
secara langsung berpengaruh terhadap proses produksi. Di dalam memilih lokasi yang akan
digunakan dalam usaha budidaya yang perlu diperhatikan adalah faktor teknis dan faktor non
teknis.
Ikan Belut (Monopterus albus) merupakan salah satu ikan asli perairan
Indonesia. Ikan ini dapat juga ditemukan di wilayah Asia lainnya, diantaranya:
India, Cina, Jepang dan Malaysia (Froese dan Pauly, 2009). Bentuk tubuh ikan
ini anguilliform dan dapat mencapai panjang maksimal 100 cm, sirip punggung,
sirip anus dan sirip ekor berkurang dan membentuk lipatan daging dan tidak
memiliki sisik dan sirip dada (Rainboth, 1996). Ikan ini memiliki kemampuan
memanfaatkan

oksigen

dari

atmosfer

sehingga

mampu

bertahan

lama

pada

kondisi air yang terbatas (Tay, dkk., 2003), memiliki toleransi yang lebar terhadap
temperatur (Nico dan Fuller, 2009) dan salinitas (Schofield dan Nico, 2009) dan
mampu melewati tanah basah untuk melakukan perpindahan tempat (Hill dan
Watson,

2007).

Pada

lingkungan

alami,

belut

tinggal

membentuk lubang di pematang kolam/ sawah atau pinggir sungai.

di

dalam

lumpur

dan

2.

MENGAPA

DALAM

KEGIATAN

BUDIDAYA

PERAIRAN

PERLU

DILAKUKAN REKAYASA?
Kegiatan budidaya terus tumbuh dengan cepat seiring perkembangan konsep rekayasa
akuakultur. Rekayasa akuakultur membutuhkan pengetahuan tentang aspek umum seperti
sumber dan treatment air, pengetahuan mengenai unit produksi, sistem pemberian pakan,
kebutuhan nutrisi kultivan, instrumentasi, monitoring, transportasi ikan dan penanganan
limbah (Anonim, 2011).
Bagi pengusaha budidaya perikanan/ petani ikan, pengetahuan tentang luas kolam
yang digarap sangatlah penting untuk diketahui. Dengan mengetahui beberapa luas kolam
yang diusahakan serta bagaimana morfologi kolamnya, maka sudah tentu cara
pengelolaannya juga akan lebih mudah. Hal ini sangat dimungkinkan karena dengan
mengetahui luas kolam ataupun volume air kolam, maka pemberian jumlah kapur, pupuk,
padat tebar, pakan dan sebagainya mudah diatur (Mulyadi dan Niken, 2012).
Ilmu ukur adalah ilmu pengetahuan dan teknik mengenai penentuan titik secara akurat
titik dan lokasi pada permukaan bumi dan jarak serta sudut diantaranya (Wongsotjitro,1980).
Oleh karenanya, pengetahuan tentang bagaimana menentukan luas kolam baik yang
bentuknya teratur maupun yang tidak beraturan perlu diketahui atau dipelajari (Mulyadi dan
Niken, 2012). Pengetahuan mengenai perancangan dan pembuatan kolam bagi ahli
pemeliharaan ikan atau petani ikan sangatlah penting untuk kesuksesan dan keberhasilan
suatu usaha pemeliharaan ikan. Kegagalan usaha budidaya perikanan sering kali disebabkan
karena pemilihan lokasi serta design kolam kurang tepat.
Di
banyak

Indonesia,

dilakukan

pengembangan

meskipun

secara

budidaya
global

belut

belut

secara

dapat

intensif

diterima

belum

baik

sebagai

komoditas konsumsi maupun ikan hias. Di Cina, belut merupakan salah satu
ikan ekonomis penting dengan nilai yang sangat besar (Yin dan Liu, 2008).
Lungren,

dkk.

(2006)

sebanyak

137.486

melaporkan

ton.

produksi

Keterbatasan

belut

pengembangan

di

Cina

belut

pada

di

Tahun

Indonesia

2004
diduga

akibat masih relatif mudah mendapatkan belut dari hasil tangkapan alam dan
belum

adanya

pengembangan

teknologi

budidaya

yang

dapat

diaplikasikan

di

masyarakat.
Kebanyakan
tangkapan
tangan

alam.

langsung,

menggunakan

belut

yang

tersedia

di

Berbagai

cara

tangkap

dapat

menggunakan

racun

dan

pasaran

dilakukan,

bubu/sosok/perangkap,

menggunakan

merupakan

arus

antara

belut
lain:

menggunakan

listrik.

Namun

hasil
tangkap

pancing,
demikian,

penangkapan

tersebut

ketersediaannya

dapat

belum

mempertimbangkan

terancam.

Selain

itu,

semua

stok

alami

teknik

sehingga

penangkapan

hanya

dapat dilakukan pada musim hujan sehingga suplai belut tidak dapat dilakukan
secara kontinyu.
Sejauh

ini,

menggunakan

upaya

campuran

budidaya
lumpur

belut

dengan

yang
bahan

sudah

dilakukan

organik

lainnya

masih

harus

sebagai

media

alami habitat belut (Anonim, 2005).


3.

BAGIAN-BAGAIN APA SAJA YANG BISA DILAKUKAN REKAYASA


DALAM SISTEM BUDIDAYA PERAIRAN?
Dalam kegiatan budidaya belut media budiaya biasanya menggunakan lumpur, pada

teknik budidaya seperti itu kontrol pertumbuhan dan kelangsungan hidup belut sulit
dilakukan karena hidup di dalam lumpur. Karena budidaya tidak terkontrol, upaya
intensifikasi budidaya belut sulit dilakukan sehingga produksi belut relatif sulit diprediksi.
Hal
telah

ini

berbeda

dengan

dilakukan

dengan

menggunakan

Komunikasi

Personal).

di

Informasi

Cina,

produksi

belut

apung

(Profesor

jaring

tersebut

diperkuat

oleh

secara

terkontrol

Bing

laporan

Xuwen2,
penelitian

Zhou, dkk. (2007) yang melaporkan keberhasilan melakukan proses reproduksi


(pemijahan)
Laporan

belut

dari

para

pada

media

peneliti

Cina

air
tersebut

tergenang

tanpa

menunjukkan

bahwa

lumpur.
budidaya

belut dapat dilakukan pada media air tanpa lumpur, baik pada proses produksi
pembesaran

maupun

proses

produksi

benih

(proses

reproduksi).

Namun

sayangnya, informasi tersebut belum tersedia secara detil untuk dapat diterapkan
secara

langsung.

budidaya
Mengingat
adaptasi

belut
hal
belut

Sejauh
pada

ini,

media

tersebut,
pada

belum
air

perlu

wadah

ditemukan

adanya

laporan

pengembangan

tanpa

menggunakan

lumpur

di

adanya

perekayasaan

mengenai

budidaya

tanpa

menggunakan

Indonesia.
kemampuan

media

lumpur

sehingga proses produksi belut dapat terkontrol.


Selain media lumpur, wadah budidaya juga dapat dilakukan rekayasa mulai dari
menggunakan wadah kolam terpal, beton, tong/ drum, dan jarring.

4.

WADAH BUDIDAYA BELUT


a

12 cm

2 8 2

t = 120 cm

c
9

10

20 cm

8
7

15 cm
20 cm

6
5

15 cm
10 cm

6a

10 cm

3
2
1

10 cm
5 cm
20 cm

g
Tanah

f
e
5 cm
70 cm

Gambar. Design dan Spesifikasi Kolam Budidaya Belut


Keterangan:
Kode
1.
2.
3.
4.
5.
6.
6a.
7.
8.
9.
10.

Media
Lumpur
Pupuk kandang
Lumpur
Pupuk kompos
Lumpur
Jerami padi
Urea + NPK
Lumpur
Air bersih
Cincangan batang
pisang
Kosongan/ level air

Kode
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Mat/Konst.
Ringbalk beton 8/8
Plesteran + adonan 1:4
Pasir bata
Floor 1:4
Pasir urug
Sloof beton 8/10
Pipa PVC 4
Tutup pipa dop PVC 4