Anda di halaman 1dari 31

PRESENTASI KASUS THT

ANOSMIA

Disusun Oleh :
Adji Indra Pramono
0301008
Senida Ayu Rahmadika 03009230
Febriena Amalia
03011097
Oryza Ajani
03010216

Pembimbing :
dr.Satria, Sp.THT-KL

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BEKASI


KEPANITRAAN KLINIK ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG
TENGGOROKAN
PERIODE 14 SEPTEMBER - 16 OKTOBER 2015

Lembar Pengesahan

Adji Indra Pramono


Senida Ayu Rahmadika
Febriena Amalia
Oryza Ajani

03010008
03009230
03011097
03010216

Telah menyerahkan PRESENTASI KASUS yang berjudul :

ANOSMIA

Pada Oktober 2015


Dan telah disetujui oleh :

dr. Satria Nugraha, Sp. THT-KL

________________________________

BAB 1
PENDAHULUAN
Indra penghidu yang merupakan fungsi nervus olfaktorius, sangat erat
hubungannya dengan indra pengecap yang dilakukan oleh nervus trigeminus,
karena seringkali kedua sensoris ini bekerja bersama-sama. Stimulusnya juga
sama-sama berupa rangsangan kimiawi, bukan rangasangan fisika seperti pada
penglihatan dan pendengaran. Reseptor organ penghidu terdapat region
olfaktorius berjalan melalui lubang-lubang pada lamina kribrosa os etmoid
menuju bulbus olfaktorius didasar fossa kranii anterior.1-5
Partikel bau dapat mencapai reseptor penghidu bila menarik nafas dengan
kuat atau partikel tersebut larut dalam lendir yang selalu ada dipermukaan mukosa
daerah olfaktorius. Gangguan penghidu akan terjadi bila ada yang menghalangi
sampainya partikel bau ke reseptor saraf atau ada kelainan pada n.olfaktorius,
mulai dari reseptor sampai pusat olfaktorius. 1-5
Kelainan penghidu meliputi berbagai macam jenis penyakit yaitu hiposmia,
anosmia, parosmia dan kakosmia 1-5
Anosmia merupakan suatu tidak adanya/hilangnya sensasi penciuman,
dalam hal ini berarti hilangnya kemampuan mencium atau membau dari indera
penciuman. Hilangnya sensasi ini bisa parsial ataupun total.

BAB 2
STATUS PASIEN
I.

Identitas pasien
Nama

: Tn. M

Umur

: 53th

Jenis kelamin : laki-laki

II.

Agama

: islam

Alamat

:Jl. Masjid Rawa Bacang no. 109, Jatirahayu Bekasi

Pekerjaan

: pegawai elektronik

No RM

Anamnesis

Diambil secara autoanamnesis dari pasien, tanggal 7 Oktober di Poli THT RSUD
Kota Bekasi.
a. Keluhan Utama
Hidung tidak bisa mencium bau sejak +/- 2 tahun yang lalu
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien laki-laki berusia 53 tahun datang ke poliklinik RSUD Kota Bekasi dengan
keluhan tidak dapat mencium bau. Keluhan ini timbul sejak +/- 2 tahun yang lalu.
Awalnya penciuman berkurang, namun lama kelamaan semakin memberat hingga
sekarang tidak dapat memcium bau sama sekali. Terdapat hidung tersumbat, dan
terdapat ingus berwarna putih kental kekuningan. Pasien juga mengeluh sering
keluar darah dari lubang hidung. Perdarahan jumlah sedikit, menetes dari kedua
lubang hidung, kurang dari 5 menit, dan berhenti secara spontan. Demam dan
batuk disangkal oleh pasien.
Pasien mengeluh sering mengalami bersin-bersin pada pagi hari , sering pilek, dan
merasa mata berair dan merah. Pasien menyangkal sering merasa nyeri pada
wajah, terutama pada bagian dahi dan kedua pipi dan memberat saat pasien sujud

atau rukuk namun sering merasa terdapat lendir yang tertelan ke tenggorokan.
Nyeri tenggorokan dan gigi berlubang disangkal.
Keluhan nyeri pada telinga, keluar cairan dari telinga, dan pendengaran menurun
disangkal.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi
Penyakit Diabetes Melitus, alergi, jantung, dan trauma disangkal oleh pasien.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga pasien yang menderita hal serupa.
Riwayat hipertensi, Diabetes Melitus, alergi dan jantung disangkal
e. Riwayat Kebiasaan
Pasien merokok sejak 20tahun yang lalu.
Pasien menyangkal sedang mengkonsumsi obat-obatan.

III.

Pemeriksaan Fisik

TANDA VITAL
Keadaan umum : tampak sakit ringan
Kesadaran

: compos mentis

Tekanan Darah

: 180/130

Nadi

: 90x/menit

Pernafasan

: 19x/menit

Suhu

: 36,8oC

PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
Kepala
Mata

: normocephali
: isokor, konjungtiva anemis -/- sklera ikterik -/-, RCL +/+ RCTL +/
+

Leher

: pembesaran KGB (-)

Thorax

:simetris, suara napas vesikuler, rhonki -/- wheezing -/-

Abdomen

: datar, defans muskular (-), BU (+) normal, nyeri tekan (-), timpani

Ekstremitas

:akral hangat

B. Status Lokalis THT


Telinga
Dextra
Aurikula
Bentuk
Nyeri tekan tragus
Nyeri tarik
Lain-lain

Pre-aurikula
Nyeri tekan tragus
Lain-lain

Retro-aurikula
Nyeri tekan
Lain-lain

Normotia
Fistel (-), sikatrik (-),

Normotia
Fistel (-), sikatrik (-),

edema(-), hiperremis (-),

edema(-), hiperremis (-),

abses (-)

abses (-)

Fistel (-), sikatrik (-),

Fistel (-), sikatrik (-),

edema(-), hiperremis (-),

edema(-), hiperremis (-),

abses (-)

abses (-)

Fistel (-), sikatrik (-),

Fistel (-), sikatrik (-),

edema(-), hiperremis (-),

edema(-), hiperremis (-),

abses (-)
Canalis acusticus eksternus
Lapang/sempit
Lapang
Mukosa
Hiperremis (-)
Sekret
Serumen
Lain-lain
Edema (-), jar granulasi
Membran timpani
Bentuk
Refleks cahaya
Warna
Kelainan lain
Tes Pendengaran
Rinne
Weber
Schwabach

Sinistra

abses(-)
Lapang
Hiperremis (-)
Edema (-), jar granulasi

(-), benda asing (-)

(-), benda asing (-)

Intak
(+) jam 5
Hiperremis (-)
Retraksi (-), buldging (-)

Intak
(+) jam 7
Hiperremis (-)
Retraksi(-), buldging(-)

(+)
Lateralisasi ke kanan
Sesuai pemeriksa

(+)
Memendek

Tes berbisik

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Gambar 1
Hidung
Dextra
Hidung luar
Bentuk
Deformitas
Krepitasi
Nyeri tekan dahi
Nyeri tekan pipi
Allergic Crease
Rhinoskopi anterior
Kavum nasi
Vestibulum
Konka inferior
Sekret
Deviasi septum
Pasase udara
Lain-lain
Rhinoskopi posterior
Koana
Mukosa konka
Sekret

Sinistra

Normal
(-)
(-)
(+)

(-)
(+)

(+)
(-)

(+)
(-)

Sempit
Lapang
Hiperremis (-), edema (-). Hiperremis (-), edema (-),
Livide (+)
Hipertrofi
(+)
Ke kanan
Baik
Massa(-), perdarahan (-),

livide (+)
Atrofi
(+)

benda asing (-)

benda asing (-)

Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi

Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi

baik
Massa(-), perdarahan (-),

Orificium tuba eustachius


adenoid
Fossa rossenmuller
Atap nasofaring

Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi

Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi

Gambar 2
Transluminasi
Dextra
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Sinus frontalis
Sinus maxilaris

Sinistra
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Rongga Mulut
Kebersihan mulut

:baik

Mukosa bucoginggiva: hiperremis (-)


Gigi
Karang gigi

: (-)

Karies gigi

: (-)

Palatum

: licin, hiperremis (-)

Lidah

: dalam batas normal

Tenggorokan
Dextra
Tonsil
Ukuran
Hiperremis

Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi

Sinistra
Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi

Kripta
Detritus
Uvula
Arkus faring
Orofaring
Dinding faring posterior
Jar. Granulasi
Post nasal drip

Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi
Ditengah
Terletak sangat rendah
Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi

Gambar 3
Laringoskopi indirek : sulit dievaluasi

IV.

Pemeriksaan Penunjang
-

audiometri

Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi

Gambar 4
Kesan : Tuli campur ADS derajat ringan

V.

Diagnosis kerja
Anosmia
Rhinitis Alergi
Suspek sinusitis

VI.

Diagnosis banding

VII. Rencana pengobatan


Medika Mentosa
Pemberian Decongestan nasal
(Tramenza , Neurodex, Metil Prednisolon)
Non MedikaMentosa
-Edukasi hindari alergen
-Berhenti atau kurangi merokok

VIII. Rencana pemeriksaan lanjutan


-

Tes penghidu

Pemeriksaan laboratorium

IX.

Foto sinus paranasal

CT-Scan

MRI

Prognosis

Dubia ad vitam

: Bonam

Dubia ad functionam : Dubia ad Bonam


Dubia ad sanationam : Dubia ad Bonam

BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 ANATOMI HIDUNG
A. ANATOMI HIDUNG BAGIAN LUAR
Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Hidung bagian
luar menonjol pada garis tengah diantara pipi dan bibir atas. Struktur hidung luar
dibedakan atas tiga bagian, yaitu yang paling atas adalah sebuah kubah yang tidak
dapat digerakkan, dibawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat
digerakkan, dan yang paling bawah adalah lobulus hidung yang mudah
digerakkan.1,2,3,4

Gambar 5
Hidung luar berbentuk pyramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah:1
1. Pangkal hidung (bridge)
2. Dorsum nasi

3. Puncak hidung (apeks)


4. Ala nasi
5. Kolumela
6. Lubang hidung (nares anterior)

Gambar 6

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang rawan yang dilapisi oleh kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi melebarkan dan
menyempitkan lubang hidung.1,2,4,6
Kerangka tulang terdiri dari :1,2,4,6
1. Sepasang os nasalis (tulang hidung)
2. Prosesus frontalis os maksila
3. Prosesus nasalis os frontalis
Kerangka tulang rawan terdiri dari :1,2,4,6
1. Sepasang kartilago nasalis lateralis superior
2. Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago ala mayor)
3. Beberapa pasang kartilago ala minor

4. Tepi anterior kartilago septum nasi1,2,4,6

Gambar 7 2

Gambar 8
B. ANATOMI HIDUNG BAGIAN DALAM

Rongga hidung atau kavum nasi terbentuk terowongan dari depan ke


belakang, dipisahkan oleh septum nasi bagian tengahnya. Kavum nasi bagian
anterior disebut nares anterior dan bagian posterior disebut nares posterior (koana
yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring). Dengan adanya septum
nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang membentang dari nares
sampai koma (apertura posterior). Kavum nasi ini berhubungan dengan sinus
frontal, sinus sfenoid, fossa kranial anterior dan fossa kranial media. Batas-batas
kavum nasi : 1-6

Posterior

Atap

: berhubungan dengan nasofaring

: os nasal, os frontal, lamina kribriformis etmoidale, korpus

sfenoidale dan sebagian os fomer.

Lantai : merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampIr


horizontal, bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar dari pada
bagian atap. Bagian ini dipisahkan dengan kavum oris oleh palatum
durum.

Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan
(dekstra dan sinistra), pada bagian bawah apeks nasi, septum nasi
dilapisi oleh kulit, jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor.
Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai
septum pars membranosa = kolumna

Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os lakrima,


os etmoid, konka nasalis inferior, palatum dan os sphenoid. Konka
nasalis suprema, superior, dan media merupakan tonjolan dari tulang
etmoid. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang
terpisah. Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah
resesus sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinus sphenoid.
Kadang-kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi suprema
terletak di bagian ini. 1-6

Gambar 9
1. Vestibulum
Terletak tepat dibelakang nares anterior, dilapisi oleh kulit yang mempunyai
banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrisae.
2. Septum nasi
Septum nasi dibentuk oleh bagian tulang dan tulang rawan. 1,3,6
Bagian tulang terdiri dari :

Lamina perpendikularis os etmoid

Vomer

Krista nasalis maksilla

Krista nasalis palatine. 1,3,6


Bagian tulang rawan terdiri dari :

Kartilago septum (lamina kuadrangularis)

Kolumela. 1,3,6

3. Kavum nasi

Dasar hidung
Dasar hidung dibentuk oleh prosesus palatine os maksilla dan prosesus
horizontal os palatum.
Atap hidung
Terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior, os nasal,
prosesus frontalis os maksilla, korpus eitmoid dan korpus sphenoid.
Sebagian besar atap hidung dibentuk oleh lamina kribrosa yang dilalui
filamen - filamen olfaktorius yang berasal dari permukaan cranial
konka superior.
Dinding lateral
Dinding lateral dibentuk oleh permukaan dalam prosesus
frontalis os maksilla, os lakrimalis, konka superior, konka media,
konka inferior lamina perpendikularis os palatum dan lamina
pterigoideus medial.

Konka
Pada dinding lateral hidung terdapat 4 buah konka. Yaitu terbesar dan
letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah
konka media dan konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka
suprema. Konka suprema ini biasanya rudimenter. Konka inferior merupakan
tulang tersendiri yang melekat pada os maksilla dan labirin etmoid.

Meatus nasi
Diantara konka konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga
sempit yang disebut meatus. Meatus inferior terletak diantara konka inferior
dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Disini terdapat muara
sinus maksilla, sinus frontal dan sinus etmoid anterior. Pada meatus superior
yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat
muara sinus etmoid posterior dan sinus sphenoid.

Dinding medial

Dinding medial adalah septum nasi.


C. VASKULARISASI HIDUNG
Bagian superior rongga hidung mendapat perdarahan dari a.etmoid anterior dan
posterior yang merupakan cabang dari a.oftalmikus berasal dari a.karotis interna.
Bagian inferior hidung mendapat perdarahan dari cabang a.maksilaris interna,
diantaranya adalah ujung a.palatina mayor dan a.sfenopaltina yang keluar dari
foramen sfenopalatina bersama n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di
belakang ujung posterior konka media.1,2,4,5,6
Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a.fasialis. pada
bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina,
a.etmoid anterior, a.labialis superior dan a.palatina mayor, yang disebut pleksus
Kiesselbach (Littles area) yang letaknya superficial dan mudah cedera oleh
trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis pada anak-anak dan dewasa
muda.1,2,4,5,6

Gambar 10
Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalanan
berdampingan dengan arterinya. Vena-vena di vestibulum dan struktur luar hidung
bermuara ke vena oftalmika superior yang berhubungan dengan sinus
kavernosus.1,2,4,5,6

Gambar 11
D. PERSARAFAN HIDUNG4
a. Nervus olfaktorius
Sebagai saraf sensible (sataf pembau) masuk melalui lubang-lubang di
lamina cribrosa etmoidalis.
b. Nervus trigeminus
Mempunyai cabang n.oftalmikus dengan cabang kecil n.nasalis posterior
superior dan n.nasalis anterior superior untuk mempersarafi dinding lateralis
cavum nasi superior dan concha nasalis media.
c. Nervus etmoidalis anterior
Merupakan cabang dari n.oftalmikus masuk ke dalam cavum nasi melalui
lubang frontal di lamina cribrosa ossis etmoidalis.
d. Nervus palatines anterior
Nervus ini masuk ke dalam cavum nasi melalui lubang dalam pars
perpendikularis ossis palatini.

3.2. FISIOLOGI HIDUNG1-5


a. Sebagai jalan nafas
Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik setinggi konka
media dankemudian turun ke bawah kea rah nasofaring, sehingga aliran udara ini
berbentuk lengkungan atau arkus.
Pada ekspirasi, udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang
sama seperti udara inspirasi. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah,
sebagian lagi kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan
aliran dari nasofaring.
b. Pengantur kondisi udara (air conditioning)
Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara
yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara mengatur
kelembaban udara dan mengatur suhu. Mengatur kelembabab udara dilakukan
oleh palut lendir.
Pada musim panas, udara hamper jenuh dengan uap air, penguapan dari lapisan
ini sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya. Fungsi
mengatur suhu dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di bawah epitel
dan adanya permukaan konka dan septum yang luas sehinga radiasi dapat
berlangsung secara optimal. Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung
kurang lebuh 370C.
c. Sebagai penyaring dan pelindung
Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri
yang dilakukan oleh : Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi; Silia dan Palut
lender (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan
partikel-partikel yang besar akan dilekuarkan cdengan reflex bersin. Palut lender
ini akan dialirkan dengan nasofaring oleh gerakan silia. Enzim yang dapat
menghancurkan beberapa jenis bakteri disebut lysozime.
d. Indra penghidu
Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius
pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum.

Gambar 12
e. Resonasi suara
Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan bernyanyi. Sumbatan hidung
akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara
sengau.
f. Proses bicara

Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng) dimana


rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle turun untuk
aliran udara.
g. Refleks nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran
cerna,

kardiovaskuler

dan

pernafasan.

Contoh:

iritasi

mukosa

hidung

menyebabkan refleks bersin dan nafas berhenti. Rangsang bau tertentu


menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.

3.3 ANOSMIA
2.3.1 Definisi
Anosmia adalah tidak adanya/hilangnya sensasi penciuman, dalam hal ini
berarti hilangnya kemampuan mencium atau membau dari indera penciuman.
Hilangnya sensasi ini bisa parsial ataupun total.1-4,7-10
2.3.2 Etiologi 4-10
Anosmia disebabkan oleh berbagai macam penyebab antara lain yaitu :
1. Defek konduktif
a. Proses inflamasi / peradangan dapat mengakibatkan gangguan pembauan.
b. Adanya massa / tumor dapat menyumbat rongga hidung sehinga
menghalangi aliran adorant / ke epitel olfaktorius.
c. Abnormalitas development (misalnya ensefalokel, kista dermoid) juga
dapat menyebabkan obstruksi.
d. Pasien pasca laringektomi atau trakheotomi dapat menderita hisposmia
karena berkurang atau tidak adanya aliran udara yang melalui hidung.
2. Defek sentral / sensorineural

a. Proses infeksi / inflamasi menyebabkan defek sentral gangguan pada


transmisi sinyal.
b. Penyebab kongenital menyebabkan hilangnya struktur syaraf.
c. Gangguan

endokrin

(hipotiroidisme,

hipoadrenalisme,

DM)

berpengaruh pada fungsi pembauan.


d. Trauma kepala, operasi otak atau perdarahan subarachnoid dapat
menyebabkan regangan, kerusakan atau terpotongnya fila olfaktoria
yang halus dan mengakibatkan anosmia.
e. Toksitisitas dari obat obatan sistemik dan inhalasi
f. Defisiensi gizi (vit A, thiamin, zink) terbukti dapat mempengarui
pembauan.

Gambar 13
2.3.3 Faktor resiko1-4,7-10
Faktor resiko dari anosmia adalah:
a. Proses degenerative patologi (penyakit Parkinson, Alzheimer)
b. Proses degenaratife normal (penuaan)
c. Lingkungan
d. Perokok
e. Pencemaran bahan kimia

f. Cuaca
g. Virus bakteri pathogen
h. Usia: Dengan bertambahnya usia seseorang jumlah neuron olfaktorius
lambat laun akan berkurang sehingga mengurangi daya penciuman
i. Jenis kelamin: Perempuan lebih beresiko menderita anosmia karena
jumlah bulu hidung relative lebih sedikit daripada pria dan imunitas
yang kurang sehingga beresiko terhadap infeksi pada hidung.

2.3.4 Tanda dan gejala anosmia1-4,7-10


a. Berkurangnya kemampuan dan bahkan sampai tidak bisa mendeteksi bau.
b. Gangguan pembau yang timbul bisa bersifat total / tidak bisa mendeteksi
seluruh bau.
c. Dapat bersifat parsial / hanya sejumlah bau yang dapat dideteksi.
d. Dapat juga bersifat spesifik (hanya satu / sejumlah kecil yang dapat
dideteksi)
e. Kehilangan kemampuan merasa / mendeteksi rasa dalam makanan yang di
makan.
f. Berkurangnya nafsu makan.

2.3.5 Patofisilogi anosmia2-9


Indra penciuman dan pengecapan tergolong ke dalam system penginderaan
kimia(chemosensation). Proses yang kompleks dari mencium dan mengecap di mulai
ketika molekulmolekul dilepaskan oleh substansi di sekitar kita yang menstimulasi sel
syaraf khusus dihidung, mulut atau tenggorokan. Selsel ini menyalurkan pesan ke otak,
dimana bau dan rasa khusus di identifikasi. Sel sel olfaktori (saraf penciuman) di
stimulasi oleh bau busuk di sekitar kita. Contoh aroma dari mawar adonan pada roti. Sel

sel saraf ini ditemukan di sebuah tambahan kecil dari jaringan terletak diatas hidung
bagian dalam, dan mereka terhubung secara langsung ke otak penciuman (olfaktori)
terjadi karena adanya molekulmolekul yang menguap dan masuk kesaluran hidung dan
mengenal olfactory membrane. Manusia memiliki kirakira 10.000 sel reseptor berbentuk
rambut. Bila molekul udara masuk, maka selsel ini mengirimkan impuls saraf (Loncent,
1988). Pada mekanisme terdapat gangguan atau kerusakan dari selsel olfaktorus
menyebabkan reseptor dapat mengirimkan impuls menuju susunan saraf pusat. Ataupun
terdapat kerusakan dari sarafnya sehingga tidak dapat mendistribusikan impuls reseptor
menuju efektor, ataupun terdapat kerusakan dari saraf pusat di otak sehingga tidak dapat
menterjemahkan informasi impuls yang masuk.
2.3.6 Pemeriksaan diagnostik anosmia2-10
Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan rinoskopi anterior dan posterior untuk melihat apakah ada kelainan
anatomic yang menyebabkan sumbatan hidung, perubahan mukosa hidung, tanda-tanda
infeksi dan adanya tumor.
Pemeriksaan penunjang
CT-scan dan rentogen kepala dan MRI dibutuhkan untuk menyingkirkan
neoplasma pada fossa kranii superior, fraktur fossa kranii anterior yang tak diduga
sebelumnya, sinusitis paranasalis dan neoplasma pada rongga hidung. Sedangkan MRI
bermanfaat untuk mengevaluasi bulbus olfaktorius,ventrikel dan jaringan - jaringan lunak
. CT-scan koronal adalah potongan yang paling baik untuk memeriksa anatomi dan
penyakit pada lempeng kribiformis , fossa kranii anterior dan sinus.

Gambar 14
Pemeriksaan penghidu sederhana
Pasien dicoba untuk menghidu alkohol, kopi, minyak wangi, setelah itu pasien
dicoba untuk menghidu amoniak. Amoniak akan merangasang n.Trigeminus, bukan
n.olfaktorius.
Dilakukan Sniffing Sticks untuk menilai kemosensoris dari penghidu dengan alat
berupa pena.Dari tes ini dapat diketahui tiga komponen yaitu ambang penghidu,
diskriminasi penghidu dan identifikasi penghidu. Untuk menganalisa fungsi penghidu
sesorang digunakan skor TDI (Treshold, Discrimination/ Identification) dengan hasil
anosmia, hiposmia atau normosmua.
Pemeriksaan Laboratorium : gula darah, pemeriksaan reduksi urine dll.
2.3.7 Penatalaksanaan anosmia2-10
a. Pengobatan yang dapat digunakan untuk memperbaiki kehilangan sesuai
penciuman antara lain antihistamin bila diindikasi penderita alergi.
b. Berhenti merokok dapat meningkatkan fungsi penciuman.

c. Koreksi operasi yang memblok fisik dan mencegah kelebihan dapat digunakan
dekongostan nasal.
d. Suplemen zink kadang direkomendasikan.
e. Kerusakan neuro olfaktorius akibat infeksi virus prognosisnya buruk, karena tidak
dapat di obati.
f. Terapi vitamin sebagian besar dalam bentuk vitamin A.
2.3.8 Prognosis5
Dampak dari disfungsi olfaktorius sangat tergantung dari etiologinya. Disfungsi
olfaktorius karena sumbatan oleh polip, neoplasma, pembengkakan mukosa atau deviasi
septum dapat kembali normal. Ketika sumbatan dihilangkan, kemampuan olfaktorius
akan kembali normal. Namun jika terjadi kerusakan pada nervus olfactorius maka
pronosisnya buruk.

BAB VI
ANALISA KASUS

Pasien didiagnosis rinitis alergi berdasarkan anamnesis pasien sering


mengalami hidung tersumbat berulang. Selain itu, riwayat atopi pada keluarga
pasien yaitu ayah sakit asma juga mendukung diagnosis. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan kavum nasi sempit, kedua konka inferior atrofi dan livid, serta deviasi
septum nasi ke kanan yang merupakan tanda inflamasi kronik. Keluhan dirasakan
hampir setiap hari namun tidak menggnaggu aktivitas maupun tidur sehingga
termasuk pada rhinitis alergi tipe persisten ringan.
Pada anmnesis, awalnya pasien merasa penciumannya berkurang
(hiposmia) namun semakin lama semakin memberat hingga saat ini tidak dapat
mencium aroma sama sekali atau disebut anosmia. Dikatakan pula, pasien
memiliki riwayat merokok sejak 20 tahun yang lalu, dimana rokok adalah salah
satu faktor resiko yang dapat menyebabkan gangguan penghidu yaitu anosmia.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, didapati deviasi septum ke arah kanan yang
merupakan salah satu faktor resiko dari terganggunya sistem penghidu, akan
tetapi pada pasien ini kami tidak menemukan penyebab dari septum deviasi yang
dialami pasien. Selain itu septum deviasi juga merupakan salah satu menyebab
terjadinya perdarahan hidung atau yang disebut epistaksis.
Pasien mengatakan sering mengalami bersin-bersin tiap pagi, dan jika
terkena debu atau udara dingin sering pilek, kemudian pasien juga mengeluhkan
matanya sering merah dan berair. Ini merupakan tanda-tanda dari rhinitis alergika.
Hal ini juga didukung oleh hasil pemeriksaan fisik dimana terdapat hipertrofi pada
konka inferior dextra dan atrofi pada konka inferior sinistra, warna mukosa kedua
konka adalah livide. Rhinitis alergi merupakan salah satu faktor resiko terjadinya
hiposmia. Dimana jika terjadi terus menerus akan mengalami perburukan
sehingga terjadi anosmia.

Pasien merasa sering tertelan lendir ke tenggorokan. Hal ini merupakan


salah satu gejala sinusitis. Namun nyeri pada bagian wajah terutama di pipi dan
dahi disangkal. Dari pemeriksaan fisik, post nasal drip sulit dievaluasi
dikarenakan arkus faring yang letaknya terlalu rendah.

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi EA, Iskandar N et al. Anatomi dan Fisisologi Hidung. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorokkan Kepala Leher. Ed 6. FKUI.
Jakarta. Hal: 119-122
2. Soepardi EA, Iskandar N et al. Gangguan Penghidu. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung dan Tenggorokkan Kepala Leher. Ed 6. FKUI. Jakarta. Hal:
160-161
3. Adam GE, Boies LR. Anatomi dan Fisiologi Hidung, Buku Ajar Penyakit THT.
Edisi 6.EGC. Jakarta.1997Hal:174-188
4. Snell S Richard, Neuroanantomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran, Ed 5.
EGC, Jakarta 2006, Hal: 370-396
5. Ballenger JJ.Olfactory Disfunction in Ballengers Otolaringology Head and Neck
Surgery, Ed 16, P:561-576
6. Mardjono M, Anosmia dalam Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat, Jakarta, 2008,
Hal:115-116.
7. Anosmia

Causes,

Symptoms

and

Treatment

Available

in

www.everydayhealth.com/health-center/anosmia.aspx
8. Anosmia available in www.nhs.uk/anosmia/pages/introduction.aspx
9. Anosmia Available in en.wikipedia.org/wiki/Anosmia
10. Kepala, Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah, Leher Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas Padang, and RSUP Dr M. Djamil Padang. "Gangguan fungsi
penghidu dan pemeriksaannya."