Anda di halaman 1dari 57

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Fisiologi Alat Kelamin Pria
A. Alat kelamin dalam
Organ reproduksi dalam pria terdiri atas testis, saluran pengeluaran dan
kelenjar asesoris.
a. Testis
Testis adalah kelenjar kelamin jantan pada hewan dan manusia. Testis
berjumlah sepasang (testes = jamak). Testis dibungkus oleh skrotum,
kantong kulit di bawah perut. Pada manusia, testis terletak di luar tubuh,
dihubungkan dengan tubulus spermatikus dan terletak di dalam skrotum.
Ini sesuai dengan fakta bahwa prosesspermatogenesis pada mamalia akan
lebih efisien dengan suhu lebih rendah darisuhu tubuh (< 37C).
Pada tubulus spermatikus terdapat otot kremaster yang apabila
berkontraksi akan mengangkat testis mendekat ke tubuh. Bila suhu testis
akan diturunkan, otot kremaster akan berelaksasi dan testis akan menjauhi
tubuh. Fenomena ini dikenal dengan refleks kremaster.
Selama masa pubertas, testis berkembang untuk memulai
spermatogenesis. Ukuran testis bergantung pada produksi sperma
(banyaknya spermatogenesis), cairan intersisial, dan produksi cairan
dari sel Sertoli.
Pada umumnya, kedua testis tidak sama besar. Dapat saja salah satu
terletak lebih rendah dari yang lainnya. Hal ini diakibatkan perbedaan
struktur anatomis pembuluh darah pada testis kiri dan kanan. Testis
berperan pada sistem reproduksi dan sistem endokrin. Fungsi testis:
memproduksi sperma (spermatozoa), memproduksi hormon seks pria
seperti testosteron.
Kerja testis di bawah pengawasan hormon gonadotropik dari kelenjar
pituitari bagian anterior luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating
hormone (FSH). Testis dibungkus oleh lapisan fibrosa yang disebut tunika
albuginea. Di dalam testis terdapat banyak saluran yang disebut tubulus
seminiferus. Tubulus ini dipenuhi oleh lapisan sel sperma yang sudah atau
tengah berkembang.
Spermatozoa (sel benih yang sudah siap untuk diejakulasikan), akan
bergerak dari tubulus menuju rete testis, duktus efferen, dan epididimis.
Bila mendapat rangsangan seksual, spermatozoa dan cairannya (semua
disebut air mani) akan dikeluarkan ke luar tubuh melalui vas deferen dan
akhirnya, penis. Di antara tubulus seminiferus terdapat sel khusus yang
disebut sel intersisial Leydig. Sel Leydig memproduksi hormon
testosteron. Pengangkatan testis disebut orchidektomi atau kastrasi.
b. Saluran reproduksi

Nurseairlangga.org

43

Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari


epididimis, vas deferens, saluran ejakulasi dan uretra.
1) Epididimis (tempat pematangan sperma)
Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang
keluar dari testis. Epididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan
kiri. Epididimis berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sperma
sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens
2) Vas deferens (saluran sperma dari testis ke kantong sperma)
Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran
lurus yang mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis. Vas
deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di
dalam kelenjar prostat. Vas deferens berfungsi sebagai saluran tempat
jalannya sperma dari epididimis menuju kantung semen atau kantung mani
(vesikula seminalis).
3) Saluran ejakulasi
Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan
kantung semen dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan
sperma agar masuk ke dalam uretra
4) Uretra
Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis.
Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen
dan saluran untuk membuang urin dari kantung kemih.
c. Kelenjar kelamin
Kumpulan kelenjar aksesoris terdiri dari vesikula seminalis, prostate,
dan kelenjar bulbouretralis. Sebelum ejakulasi, kelenjar tersebut
mensekresikan mucus bening yang menetralkan setiap urine asam yang
masih tersisa dalam uretra.
Sel-sel sperma dapat bergerak dan mungkin aktif mengadakan
metabolisme setelah mengadakan kontak dengan plasma semen. Plasma
semen mempunyai dua fungsi utama yaitu: berfungsi sebagai media
pelarut dan sebagai pengaktif bagi sperma yang mula-mula tidak dapat
bergerak serta melengkapi sel-sel dengan substrat yang kaya akan
elektrolit (natrium dan kalium klorida), nitrogen, asam sitrat, fruktosa,
asam askorbat, inositol, fosfatase sera ergonin, dan sedikit vitamin-vitamin
serta enzim-enzim. Kelenjar aksesoris terdiri dari:
1) Vesikula seminalis (tempat penampungan sperma)
Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan
kelenjar berlekuk-lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Dinding
vesikula seminalis menghasilkan zat makanan yang merupakan sumber
makanan bagi sperma.
Vesikula seminalis menyumbangkan sekitar 60 % total volume semen.
Cairan tersebut mengandung mukus, gula fruktosa (yang menyediakan

Nurseairlangga.org

43

sebagian besar energi yang digunakan oleh sperma), enzim pengkoagulasi,


asam askorbat, dan prostaglandin.

Gambar 1. Vesikula seminalis


2) Kelenjar prostat (penghasil cairan basa untuk melindungi sperma)
Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian
bawah kantung kemih. Kelenjar prostat adalah kelenjar pensekresi
terbesar. Cairan prostat bersifat encer dan seperti susu, mengandung enzim
antikoagulan, sitrat (nutrient bagi sperma), sedikit asam, kolesterol, garam
dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma.

Gambar 2. Kelenjar prostat


3) Kelenjar bulbouretra / cowper (penghasil lendir untuk melumasi
saluran sperma)
Kelenjar bulbouretralis adalah sepasang kelenjar kecil yang
terletak disepanjang uretra, dibawah prostat. Kelenjar Cowper
(kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya langsung

Nurseairlangga.org

43

menuju uretra. Kelenjar Cowper menghasilkan getah yang bersifat


alkali (basa).

Gambar 3. Kelenjar bulbouretra


1. Alat kelamin luar
a. Penis
Penis (dari bahasa Latin yang artinya ekor, akar katanya
sama dengan phallus, yang berarti sama) adalah alat kelamin jantan.
Penis merupakan organ eksternal, karena berada di luar ruang tubuh.
Pada manusia, penis terdiri atas tiga bangunan silinder berisi jaringan
spons. Dua rongga yang terletak di bagian atas berupa jaringan
spons korpus kavernosa. Satu rongga lagi berada di bagian bawah yang
berupa jaringan spons korpus spongiosum yang membungkus uretra.
Ujung penis disebut dengan glan penis. Uretra pada penis dikelilingi
oleh jaringan erektil yang rongga-rongganya banyak mengandung
pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa. Bila ada suatu
rangsangan, rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah sehingga
penis menjadi tegang dan mengembang (ereksi).
Fungsi penis secara biologi adalah sebagai alat pembuangan
sisa metabolisme berwujud cairan (urinasi) dan sebagai alat
bantu reproduksi. Penis sejati dimiliki oleh mamalia. Reptilia tidak
memiliki penis sejati karena hanya berupa tonjolan kecil serta tidak
tampak dari luar, sehingga disebut sebagai hemipenis (setengah penis).

Gambar 4. Struktur penis


b. Skrotum

Nurseairlangga.org

43

Skrotum adalah kantung (terdiri dari kulit dan otot) yang


membungkus testis atau buah zakar. Skrotum terletak di
antara penis dan anus serta di depan perineum. Pada wanita, bagian ini
serupa dengan labia mayora. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum
kanan dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi
oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot dartos). Otot
dartos berfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut
dan mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot yang
berasal dari penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot
kremaster. Pada skrotum manusia dan beberapa mamalia bisa
terdapat rambut pubis. Rambut pubis mulai tumbuh sejak masa pubertas.
Fungsi utama skrotum adalah untuk memberikan kepada testis
suatu lingkungan yang memiliki suhu 1-8 oC lebih dingin dibandingkan
temperature rongga tubuh. Fungsi ini dapat terlaksana disebabkan adanya
pengaturan oleh sistem otot rangkap yang menarik testis mendekati
dinding tubuh untuk memanasi testis atau membiarkan testis menjauhi
dinding tubuh agar lebih dingin. Pada manusia, suhu testis sekitar 34C.
Pengaturan suhu dilakukan dengan mengeratkan atau
melonggarkan skrotum, sehingga testis dapat bergerak mendekat atau
menjauhi tubuh. Testis akan diangkat mendekati tubuh pada suhu dingin
dan bergerak menjauh pada suhu panas.

Gambar 5. Anatomi reproduksi pria


2. Hormon Pada Pria
Proses spermatogenesis distimulasi oleh sejumlah hormon, yaitu
testoteron, LH (Luteinizing Hormone), FSH (Follicle Stimulating
Hormone), estrogen dan hormon pertumbuhan.
a. Testoteron
Testoteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat di antara tubulus
seminiferus. Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel
germinal untuk membentuk sperma, terutama pembelahan meiosis
untuk membentuk spermatosit sekunder.
b. LH (Luteinizing Hormone)

Nurseairlangga.org

43

LH disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. LH berfungsi


menstimulasi sel-sel Leydig untuk mensekresi testoteron.
c. FSH (Follicle Stimulating Hormone)
FSH juga disekresi oleh sel-sel kelenjar hipofisis anterior dan berfungsi
menstimulasi sel-sel sertoli. Tanpa stimulasi ini, pengubahan spermatid
menjadi sperma (spermiasi) tidak akan terjadi.
d. Estrogen
Estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Selsel sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang
mengikat testoteron dan estrogen serta membawa keduanya ke dalam
cairan pada tubulus seminiferus. Kedua hormon ini tersedia untuk
pematangan sperma.
e. Hormon Pertumbuhan
Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur fungsi metabolisme
testis. Hormon pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan
awal pada spermatogenesis.
2.1 Penyakit Menular Seksual
2.1.1
Definisi
Penyakit menular seksual dikenal dengan nama venereal
diseases, berarti penyakit Dewi Cinta menurut versi Yunani. Dalam
penelitian lebih lanjut dijumpai bahwa makin bertambah penyakit yang
timbul akibat hubungan seksual sehingga nama penyakit kelamin (veneral
disease) berubah menjadi Sexually Transmitted Disease (STD) yang dalam
bahasa Indonesia menjadi penyakit menular seksual. Penyakit menular
seksual (PMS) adalah infeksi yang menyebar dari orang ke orang melalui
kontak seksual, termasuk seks oral, seks anal dan berbagi mainan seks.
Penyakit ini dapat ditularkan melalui kontak antara alat kelamin dari satu
orang dan alat kelamin, anus, mulut atau mata orang lain.
Menurut Katrina Smith (2005), Penyakit Menular Seksual adalah
sekelompok infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual.
Kebanyakan PMS dapat ditularkan melalui hubungan seksual antara penis,
vagina, anus dan/atau mulut.
PMS adalah salah satu penyakit menular yang paling umum di
Amerika Serikat. Lebih dari 15 juta orang Amerika didiagnosis dengan
STD setiap tahun.Ada banyak PMS yang berbeda, tetapi yang paling
umum di Amerika Serikat adalah virus herpes simpleks tipe II (herpes
kelamin), klamidia, gonore, sifilis, HIV dan kutil kelamin. Beberapa
infeksi yang dapat ditularkan melalui hubungan seks, seperti virus
hepatitis B.
Meskipun dapat dicegah dan diobati, penyakit menular seksual
merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang sangat besar. Pada
tahun 1997 menurut Institute of Medicine menyatakan bahwa penyakit
menular seksual (PMS) menjadi epidemi dari luar biasa bagi kesehatan
dan mempengaruhi konsekuensi ekonomi di Amerika Serikat. Sementara
itu, pada umumnya PMS sulit untuk dilacak untuk didata karena sebagian
besar orang dengan infeksi ini melakukan tidak memiliki gejala dan tidak

Nurseairlangga.org

43

terdiagnosis. Epidemi semakin besar dengan setiap infeksi baru yang


terjadi, daripada yang telah diketahui dan diobati. Jika tidak segera diobati
maka penyakit menular seksual dapat semakin berbahaya akibatnya. Akan
terjadi komplikasi klinis yang sering ireversibel dan mahal pengobatannya,
seperti masalah kesehatan reproduksi, masalah kesehatan janin dan
perinatal, dan kanker.
2.1.2
Etiologi
2.1.2.1 Jenis - Jenis PMS
A. Penyakit Menular Seksual Yang Disebabkan Oleh Organisme dan
Bakteri
a. Gonorea
Gonorea merupakan penyakit menular yang paling sering di
jumpai di berbagai Negara yang lebih maju. Rerata di Negaranegara ini adalah 5-10 kali lebih tinggi dibandingkan dengan
Negara yang kurang maju. (Linda, 2008)
Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual. Sebutan
lain penyakit ini adalah kencing nanah. Penyakit ini menyerang
organ seks dan organ kemih. Selain itu akan menyerang selaput
lendir mulut, mata, anus, dan beberapa bagian organ tubuh
lainnya. Bakteri yang membawa penyakit ini dinamakan
gonococcus. Kokus gram negative yang menyebabkan penyakit
ini yaitu Neisseria Gonorrhoeae.
Manifestasi klinis yang sering terjadi pada pria adalah
uretritis. Gejala-gejalanya meliputi disuria dan/atau keluarnya
cairan purulen dari uretra. Komplikasi local akibat gonorea
jarang terjadi pada pria, walaupun dapat terjadi striktur uretra,
epididimitis, dan prostratitis. (Linda, 2008)
Pada wanita, konsekwensi kesehatan yang paling penting
akibat infeksi gonorrhea adalah kerusakan tuba fallopi yang
berkaitan dengan predisposisi terjadinya kehamilan ektopik
(tuba) dan infertilitas. (Linda, 2008)
b. Sifilis
Sifilis dikenal juga dengan sebutan raja singa. Penyakit
ini sangat berbahaya. Penyakit ini ditularkan melalui hubungan
seksual atau penggunaan barang-barang dari seseorang yang
tertular (seperti baju, handuk, dan jarum suntik). Penyebab
timbulnya penyakit ini adalah kuman treponema pallidum.
Kuman ini menyerang organ-organ penting tubuh lainnya
seperti selaput lendir, anus, bibir, lidah dan mulut. (Ajen
Dianawati, 2003). Sifilis congenital terjadi melalui penularan
vertical dari ibu kepada janinnya. Bayi yang terkena mungkin
menunjukkan gambaran khas, yang mencakup ruam
generalisata, limfadenopati, dan hepatitis. (Ensiklopedia
Keperawatan, 2008)
Gejala umum yang timbul pada sifilis yaitu adanya luka
atau koreng, jumlah biasanya satu, bulat atau, lonjong, dasar
bersih, teraba kenyal sampai keras, tidak ada rasa nyeri pada

Nurseairlangga.org

43

penekanan. Kelenjar getah bening di lipat paha bagian dalam


membesar, kenyal, juga tidak nyeri pada penekanan. (Depkes
RI, 2008)
Sifilis memiliki dua stadium, dini dan lanjut. Tahap dini
ditandai oleh syanker (lesi primer) di tempat kuman masuk ke
dalam tubuh, yang sembuh dalam waktu sekitar 1 bulan, dan
mungkin diikuti oleh penyakit generalisata (sifilis sekunder)
yang ditandai oleh ruam kulit, demam, pembesaran kelenjar
limfe generalisata, dan ulkus mukosa (snail track). Tahap lanjut
(terjadi bertahun-tahun kemudian setelah tahap dini)
menunjukkan lesi kulit dan organ dalam (guma), neurosifilis
(tabes dorsalis dan paralisis generalisata pada gangguan jiwa),
atau sifilis kardiovaskuler (mis. Aneurisma aorta). (Ensilopedia
Keperawatan, 2008)
c. Klamidia
Klamidia berasal dari kata Chlamydia, sejenis organisme
mikroskopik yang dapat menyebabkan infeksi pada leher
rahim, saluran indung telur, dan dan saluran kencing. Gejala
yang banyak dijumpai pada penderita penyakit ini adalah
keluarnya cairan dari vagina yang berwarna kuning, disertai
rasa panas seperti terbakar ketika kencing. Karena organisme
ini dapat menetap selama bertahun-tahun dalam tubuh
seseorang. Ia juga akan merusak organ reproduksi penderita
dengan atau tanpa merasakan gejala apa pun.
d. Chancroid
Penyakit ini diawali dengan benjolan-benjolan kecil yang
muncul disekitar genetalia atau anus, 4-5 hari setelah kontak
dengan penderita. Benjolan itu akhirnya akan terbuka dan
mengeluarkan cairan yang berbau tidak sedap. Borok chancroid
pada pria biasanya sangat menyakitkan, sedangkan pada wanita
tidak menimbulkan rasa sakit (Rosari, 2006)
Chancroid adalah sejenis bakteri yang menyerang kulit
kelamin dan menyebabkan luka kecil bernanah. Jika luka ini
pecah, bakteri akan menjalar kearah pubik dan kelamin.
e. Granula inguinale
Penyakit ini sama dengan chancroid, yaitu disebabkan oleh
bakteri. Bagian yang terserang biasanya permukaan kulit penis,
bibir vagina, klitoris, dan anus, akan berubah membentuk
jaringan berisi cairan yang mengeluarkan bau tidak sedap
selanjutnya akan terjadi pembesaran yang bersifat permanen
atau terlihat sesekali pada penis, klitoris, dan kandung pelir.
Penderita bisa kehilangan berat badan, kemudian meninggal
dunia. Penyakit ini tidak memperlihatkan gejala-gejala awal,
Memasuki masa 3 bulan, barulah terlihat adanya infeksi yang
sangat berbahaya dan dapat ditularkan kepada orang lain.
B. Penyakit Menular Seksual Yang Disebabkan Oleh Virus
a. Herpes

Nurseairlangga.org

43

Herpes termasuk jenis penyakit biasa, disebabkan oleh


virus herpes simpleks. Virus herpes terbagi 2 macam, yaitu
herpes 1 dan herpes 2. Perbedaan diantaranya adalah kebagian
mana virus tersebut menyerang. Herpes 1 menyerang dan
menginfeksi bagian mulut dan bibir, sedangkar herpes 2 atau
disebut genital herpes menyerang dan menginfeksi bagian
seksual (penis atau vagina).
Gejala klinis herpes ini yaitu :
1. Herpes Genital Pertama.
Diawali dengan bintil lentingan luka / erosi berkelompok,
di atas dasar kemerahan, sangat nyeri, pembesaran kelenjar
lipat paha, kenyal, dan disertai gejala sistemik.
2. Herpes Genital Kambuhan
Timbul bila ada factor pencetus (daya tahan menurun, faktor
stress pikiran, senggama berlebihan, kelelahan dan lain-lain).
Umumnya lesi tidak sebanyak dan seberat pada lesi primer.
(Depkes, 2008)
Virus herpes ini tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat
diobati. Obat yang biasa diberikan untuk genital herpes
adalah Acyclovir. Karena cara kerjanya menetap dalam system
saraf tubuh, virus tersebut tidak dapat disembuhkan atau
dihilangkan selama-lamanya.
b. Viral Hepatitis
Terdapat sejumlah jenis radang hati atau hepatitis.
Penyebabnya adalah virus dan sering ditularkan secara seksual.
Jenis yang terutama adalah hepatitis A, B, C dan D. (Hutapea,
2003).
c. Lymphogranuloma venereum
Penyakit ini biasa disingkat LGV, disebabkan oleh virus
dan dapat mempengaruhi seluruh organ tubuh. Penyakit ini
sangat
berbahaya
karena
antibiotic
tidak
dapat
menanggulanginya. Gejala awalnya berupa luka kecil yang
tidak biasa terjadi di sekitar organ seksual selama 3 minggu.
Dua minggu kemudian, luka tersebut membengkak sebesar
telur yang menyebar di bagian pangkal paha. Perubahan lain
yang timbul akan semakin bertambah parah seperti penderita
akan mengalami kelumpuhan jika infeksi mulai menyebar
melalui kelenjar getah bening (pangkal paha) menuju anus.
C. Penyakit Menular Seksual Yang Disebabkan Oleh Parasit
a. Trichomoniasis
Trichomoniasis atau trich adalah suatu infeksi vagina yang
disebabkan oleh suatu parasit atau suatu protozoa (hewan
bersel tunggal) yang disebut trichomonas vaginalis. Gejalanya
meliputi perasaan gatal dan terbakar di daerah kemaluan,
disertai dengan keluarnya cairan berwarna putih seperti busa
atau juga kuning kehijauan yang berbau busuk. Sewaktu
bersetubuh atau kencing sering terasa agak nyeri di vagina.

Nurseairlangga.org

43

Namun sekitar 50% dari wanita yang mengidapnya tidak


menunjukkan gejala apa-apa.
b. Pediculosis
Pediculosis adalah terdapatnya kutu pada bulu-bulu di
daerah kemaluan. Kutu pubis ini diberi julukan crabs karena
bentuknya yang mirip kepiting seperti di bawah mikroskop.
Parasit ini juga dapat dilihat dengan mata telanjang. Parasit ini
menempel pada rambut dan dapat hidup dengan cara mengisap
darah, sehingga menimbulkan gatal-gatal. Masa hidupnya
singkat, hanya sekitar satu bulan. Tetapi kutu ini dapat tumbuh
subur dan bertelur berkali-kali sebelum mati (Hutapea, 2003).
2.1.3

Patofisiologi
Penyakit menular seksual (PMS) adalah infeksi yang didapat melalui
kontak seksual. Organisme penyebabnya yang tinggal dalam darah atau
cairan tubuh, meliputi virus, mikoplasma, bakteri, jamur, spirokaeta dan
parasit-parasit kecil (misalnya Phthirus pubis, scabies). Sebagian
organisme yang terlibat hanya ditemukan di saluran genital (reproduksi)
saja tetapi yang lainnya juga ditemukan di dalam organ tubuh lain. Di
samping itu, seringkali berbagai PMS timbul secara bersama-sama dan
jika salah satu ditemukan, adanya PMS lainnnya harus dicurigai.
Terdapat rentang keintiman kontak tubuh yang dapat menularkan PMS
termasuk berciuman, hubungan seksual, hubungan seksual melalui anus,
kuninglingus, anilingus, felasio, dan kontak mulut atau genital dengan
payudara. Menurut Somelus (2008), Cara lain seseorang dapat tertular
PMS juga melalui :
a. Darah
Dari tansfusi darah yang terinfeksi, menggunakan jarum suntik
bersama, atau benda tajam lainnya ke bagian tubuh untuk
menggunakan obat atau membuat tato.
b. Ibu hamil kepada bayinya
Penularan selama kehamilan, selama proses kelahiran. Setelah
lahir, HIV bisa menular melalui menyusui.
c. Sentuhan
Herpes dapat menular melalui sentuhan karena penyakit herpes ini
biasanya terdapat luka-luka yang dapat menular bila kita
tersentuh, memakai handuk yang lembab yang dipakai oleh orang
penderita herpes.
d. Tato dan tindik
Pembuatan tato di badan, tindik, atau penggunaan narkoba
memberi sumbangan besar dalam penularan HIV/AIDS. Sejak
2001, pemakaian jarum suntik yang tidak aman menduduki angka
lebih dari 51 % cara penularan HIV/AIDS.

2.1.4 WOC (Web Of Causation)


Terlampir
2.1.5

Pemeriksaan Diagnostik

Nurseairlangga.org

43

2.1.5.1 Tes Laboratium


Jika terdapat tanda-tanda dan gejala saat ini yang menunjukkan
bahwa seorang laki-laki memiliki PMS, tes laboratorium dapat
mengidentifikasi penyebabnya dan mendeteksi infeksi mungkin terjadi
setelah ada kontak dengan seorang yang memiliki penyakit ini.
a. Tes darah
Tes darah dapat mengkonfirmasi diagnosis terjangkitnya HIV
atau stadium sifilis.
b. Sampel urin
Beberapa PMS dapat dikonfirmasikan dengan sampel urin.
c. Sampel cairan
d. Jika seorang laki-laki memiliki luka genital aktif, pengujian
cairan dan sampel dari luka dapat dilakukan untuk
mendiagnosa jenis dari infeksi. Tes laboratorium material dari
luka genital atau debit yang paling umum digunakan untuk
mendiagnosa bakteri dan beberapa virus PMS pada tahap awal.
2.1.5.2 Skrining
Pengujian untuk suatu penyakit pada seseorang laki-laki yang tidak
memiliki gejala disebut skrining. Terdapat beberapa pengecualian untuk
dilakukan tes ini, skrining kebanyakan bukan merupakan bagian rutin
dari perawatan kesehatan.
a. Setiap orang
Tes skrining yang disarankan untuk semua orang berusia 13
sampai 64 tahun adalah tes darah atau air liur untuk Human
Immunodeficiency Virus (HIV), virus yang menyebabkan
AIDS. Di Amerika Serikat sebagian besar menawarkan tes HIV
yang cepat dengan hasil yang dapat langsung diketahui pada
hari itu juga.
b. Pria yang berhubungan seks dengan laki-laki
Dibandingkan dengan kelompok lain, lelaki yang berhubungan
seks dengan laki-laki memiliki risiko lebih tinggi tertular
PMS. Banyak praktisi kesehatan masyarakat di Amerika
merekomendasikan skrining PMS tahunan atau lebih sering
bagi laki-laki. Tes rutin untuk HIV, sifilis, klamidia dan gonore
sangat penting. Evaluasi untuk herpes dan hepatitis B juga
mungkin dianjurkan agar mengetahui sejauh mana PMS
menjangkit dan menyebar.
c. Orang dengan HIV
Jika seorang laki-laki memiliki HIV, secara signifikan dapat
meningkatkan
risiko
terkena
PMS. Para
ahli
merekomendasikan untuk orang dengan HIV melakukan tes
sifilis, gonore, klamidia dan herpes. Perempuan yang ditularkan
laki-laki dengan HIV dapat memicu kanker serviks yang ganas,
sehingga mereka harus melakukan tes dua kali setahun untuk
melihat adanya HPV. Beberapa ahli juga merekomendasikan
skrining HPV rutin kepada laki-laki yang terinfeksi HIV karena
dapat berisiko kanker dubur jika terjadi kontak secara anal.

Nurseairlangga.org

43

2.1.6

Penatalaksaan
Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri, umumnya
lebih mudah untuk diobati. Infeksi virus dapat dirawat, namun tidak selalu
dapat disembuhkan. Pada wanita hamil dan memiliki penyakit menular
seksual akibat ditularkan oleh suaminya, pengobatan yang tepat dapat
mencegah atau mengurangi risiko penularan infeksi pada bayi. Pengobatan
biasanya diberikan tergantung pada infeksinya, yang diantaranya meliputi
antibiotik dan antivirus.
Menurut WHO (2003), penanganan pasien infeksi menular seksual
terdiri dari dua cara, bisa dengan penaganan berdasarkan kasus (case
management) ataupun penanganan berdasarkan sindrom (syndrome
management). Penanganan berdasarkan kasus yang efektif tidak hanya
berupa pemberian terapi antimikroba untuk menyembuhkan dan
mengurangi infektifitas mikroba, tetapi juga diberikan perawatan
kesehatan reproduksi yang komprehensif. Sedangkan penanganan
berdasarkan sindrom didasarkan pada identifikasi dari sekelompok tanda
dan gejala yang konsisten, dan penyediaan pengobatan untuk mikroba
tertentu yangmenimbulkan sindrom. Penanganan infeksi menular seksual
yang ideal adalah penanganan berdasarkan mikrooganisme penyebnya.
Namun, dalam kenyataannya penderita infeksi menular seksual selalu
diberi pengobatan secara empiris (Murtiastutik, 2008).
Antibiotika untuk pengobatan IMS adalah:
a. Pengobatan gonore: penisilin, ampisilin, amoksisilin, seftriakson,
spektinomisin, kuinolon, tiamfenikol, dan kanamisin (Daili, 2007).
b. Pengobatan sifilis: penisilin, sefalosporin, termasuk sefaloridin,
tetrasiklin, eritromisin, dan kloramfenikol (Hutapea, 2001).
c. Pengobatan herpes genital: asiklovir, famsiklovir, valasiklovir (Wells
et al, 2003).
d. Pengobatan klamidia: azithromisin, doksisiklin, eritromisin (Wells et
al., 2003).
e. Pengobatan trikomoniasis: metronidazole (Wells et al., 2003).
Resisten adalah suatu fenomena kompleks yang terjadi dengan
pengaruh dari mikroba, obat antimikroba, lingkungan dan penderita.
Menurut Warsa (2004), resisten antibiotika menyebabkan penyakit makin
berat, makin lama menderita, lebih lama di rumah sakit, dan biaya akan
lebih mahal.

2.1.7

Komplikasi

Pengobatan yang tepat dapat membantu mencegah komplikasi beberapa


PMS. Karena menurut pengalaman bahwa banyak orang di tahap awal PMS

Nurseairlangga.org

43

tanpa gejala, skrining untuk PMS sangat penting dalam mencegah komplikasi.
Komplikasi yang mungkin antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Luka atau benjolan di manapun pada tubuh


Luka pada alat kelamin
Bintil merah pada kulit
Nyeri selama hubungan seksual
Nyeri skrotum, kemerahan dan bengkak
Nyeri panggul
Abses pada selakangan
Radang mata
Radang sendi
Penyakit radang panggul
Infertilitas
Kanker lain, termasuk limfoma terkait HIV dan HPV terkait kanker
dubur
m. Infeksi oportunistik yang terjadi dalam lanjutan HIV
Suatu studi epidemiologi menggambarkan bahwa pasien dengan infeksi
menular seksual lebih rentan terhadan HIV. Infeksi menular seksual juga
diimplikasikan sebagai faktor yang memfasilitasi penyebaran HIV
(WHO,2004).
2.1.8

Prognosis

Kebanyakan PMS merespon dengan baik terhadap pengobatan. Namun,


banyak pasien mengembangkan episode berulang dari PMS karena pasangan
seks mereka tidak diobati atau karena mereka terus terkena PMS melalui
hubungan seks tanpa kondom. Untuk membantu menghindari penyakit yang
sama lagi, semua pasangan seks juga harus diobati baik laki-laki ataupun
wanita.
Herpes kelamin tidak dapat disembuhkan, karena virus tetap aktif dalam
saraf untuk sepanjang hidup pasien. Namun, banyak orang tidak melihat ada
masalah setelah infeksi awal, dan banyak orang bahkan tidak menyadari ketika
mereka pertama kali terinfeksi. Pada pasien dengan virus herpes simpleks tipe
II, terapi antiviral dapat berhasil menekan episode berulang dari ulkus di alat
kelamin, tetapi tidak akan menyingkirkan virus.
HIV tidak dapat disembuhkan, tetapi dengan hati-hati perawatan medis,
pemantauan dan pengobatan, kebanyakan orang dengan HIV hidup selama
bertahun-tahun dengan gejala minimal atau bahkan tidak ada gejala.

2.1.9

Asuhan Keperawatan Penyakit Menular Seksual

Nurseairlangga.org

43

2.1.9.1 Pengkajian
Pria yang menderita Penyakit Menular Seksual mungkin tidak
menampakkan gejala pada stadium awal infeksi. Meski demikian,
pemeriksaan fisik dapat memperlihatkan tanda-tanda infeksi, seperti
peningkatan suhu tubuh dan frekuensi denyut jantung. Kulit diperiksa
untuk mengetahui adanya kemerahan, lesi, dan tanda bekas penggunaan
obat per IV (periksa adanya bekas tusukan jarum pada kedua lengan
bawah, tungkai, dan kaki). Pemeriksaan abdomen dan panggul dapat
mengungkapkan adanya nyeri tekan pada palpasi, eritema dan edema
Resiko tertular PMS meningkat jika pria mempunyai banyak
pasangan seksual, pasanagn yang menggunakan obat-obatan terlarang atau
pasangan biseksual dan jika pria adalah seorang pengguna obat-obatan
intravena. Riwayat PMS juga meningkatkan resiko tertular. Jenis dan lama
penatalaksanaan sanagt penting dalam mengatasi keluhan atau mengkaji
kekambuhan atau ketidakmanjuran terapi.
2.1.9.2 Diagnosa Keperawatan
1. Resiko Penularan Infeksi yang berhubungan dengan kurang
pengetahuan tenatang sifat menular penyakit dan laporan tentang
perilaku beresiko tinggi
2. Ketakutan yang berhubungan dengan karakteristik kondisi dan
implikasinya pada gaya hidup
3. Nyeri akut yang berhubungan dengan proses inflamasi
4. Isolasi Sosial yang berhubungan dengan rasa takut akan menularkan
penyakit pada orang lain
5. Resiko ketidakefektifan penatalakasananaan program terapeutik yang
berhubungan dengan kurang pengetahuan tenatang kondisi, bentuk
penularan, konsekuensi infeksi berulang, dan pencegahan kekambuhan
6. Hipertermi yang berhubungan dengan proses inflamasi
7. Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan proses inflamasi
2.1.9.3 Intervensi
1. Resiko Penularan Infeksi yang berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang
sifat menular penyakit dan laporan tentang
perilaku beresiko tinggi
Tujuan: Pasien akan menjelaskan cara penularan penyakit pada waktu
pulang
Kriteria hasil: 1. Pasien mengungkapkan perlunya diisolasi sampai tidak
menularkan
infeksi
2. Pasien dapat memperagakan cuci tangan yang cermat
selama
perawatan di rumah sakit
Intervensi
Rasional
1. Identifikasi penjamu yang rentan
a. Untuk mengetahui karakteristik
berdasarkan fokus pengkajian
agen penjamu
tentang faktor resiko dan riwayat
pemanjanan
2. Identifikasi
cara
penularan
b. Mengetahui
bagaimana
cara

Nurseairlangga.org

43

berdasarkan agen infeksi


3. Lakukan tindak kewaspadaan
isolasi yang sesuai
4. Amankan ruangan yang digunakan
5. Ajarkan klien mengenai rantai
infeksi dan tanggung jawab baik
di rumah sakit maupun di rumah

penularan agen infeksi


c. Untuk mempersiapkan terjadinya
isolasi sosial yang mungkin terjadi
d. Mencegah terjadinya penyebaran
baru bibit penyakit
e. Mengajari klien agar mengerti
proses infeksi dan dapat mencegah
penyebaran penyakit

2. Ketakutan yang berhubungan dengan karakteristik kondisi dan


implikasinya pada gaya hidup
Tujuan: meningkatkan kenyamanan psikologis dan kenyamanan fisiologis
Kriteria Hasil: a. Klien menunjukkan adanya penurunan viseral (denyut
nadi,
pernapasan)
b. Klien dapat membedakan anatar situasi yang nyata dan
khayalan
c. Klien dapat menjelaskan pola koping yang efekytif dan
tidak efektif
d. Klien dapat menidentifikasi respon kiping yang
dimilkinya
Intervensi
Rasional
1. Kaji
kemungkinan
faktor
a. Faktor
penunjang
dapat
penunjang
memperburuk keadaan psikologi
klien
2. Kurangi atau hilangkan faktor
b. Mengurangi faktor penunjang
penunjang
mempercepat kesembuhan klien
3. Bantu
klien
memperoleh
c. Klien akan menerima keadaan
pemahaman
dan
mengontrol
yang sebenarnya terjadi
respon
4. Ajarkan cara memecahkan masalah
d. Membantu
klien
mengatasi
masalahnya
5. Ajarakan
klien
untuk
e. Membantu klien untuk lebih
meningkatakan keamanan dan
tenang menghadapi masalahnya
relaksasi
3. Nyeri akut yang berhubungan dengan proses inflamasi
Tujuan: Nyeri yang dirasakan pasien berkurang
Kriteria Hasil: 1. Klien melaporkan nyeri berkurang atau terkontrol
2. Klien tidak tampak meringis
3. Klien tidak tampak gelisah
4. Klien melaporkan skala nyeri berkurang (skala nyeri 13), hilang (skala nyeri 0), atau dapat dikontrol
5. Nadi klien dalam rentang normal (60-100 x/menit)
Intervensi
Rasional
Mandiri :
1. Kaji karakteristik nyeri meliputi lokasi, Untuk mengetahui tingkat

Nurseairlangga.org

43

rasa

nyer

waktu,
frekuensi,
kualitas,
pencetus, dan intensitas nyeri
2. Kaji
faktor-faktor
yang
memperburuk nyeri klien

faktor sehingga
dapat
menentukan
jeni
tindakannya.
dapat Dengan mengetahui faktor-faktor yang dapa
memperburuk nyeri klien, dapat mencegah
terjadinya faktor pencetus dan menentukan
intervensi apabila nyeri terjadi.
3. Eliminasi faktor-faktor pencetus nyeri
Dengan
mengeliminasi
faktor-fakto
pencetus nyeri, dapat mengurangi risiko
munculnya nyeri (mengurangi awitan
terjadinya nyeri)
4. Ajarkan
teknik
non
farmakologi Dengan teknik manajemen nyeri, klien bisa
(misalnya teknik relaksasi, guided mengalihkan nyeri sehingga rasa nyeri yang
imagery, terapi music, dan distraksi) yang dirasakan berkurang
dapat digunakan saat nyeri datang.
Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian analgetik
Pemberian analgetik dapat memblok
reseptor nyeri

4. Isolasi Sosial yang berhubungan dengan rasa takut akan menularkan


penyakit pada orang lain
Tujuan: klien mengungkapkan perasaan kesepian yang dirasakan
Kriteria Hasil: 1. Klien dapat mengidentifikasi penyebab dari perasaan
terisolasi yang
ia rasakan
2. Klien dapat mendiskusikan cara-cara untuk
meningkatkan hubungan
yang berarti
Intervensi
Rasional
1. Bantu pasien untuk membedakan
a. Membedakan mana benar dan nya
antara persepsi dengan kenyataan
adanya
2. Identifikasi dengan pasien faktorb. Mengatasi faktor-faktor resiko yang
faktor yang berpengaruh pada
menyebabkan klien merasa terisolasi
perasaan isolasi sosial
3. Kurangi stigma isolasi dengan
c. Mengahargai keberadaan klien mesk
menghormati martabat pasien
dalam kekurangan
4. Kurangi
ansietas
pengunjung
d. Ansietas
pengunjung
semakin
dengan menjelaskan alasan untuk
memperburuk masalah yang ada
kewaspadaan
5. Dukung usaha yang dilakukan
e. Menghargai usaha yang dilakukan
pasien, keluarga dan teman-teman
dalam rangka proses penyembuhan
untuk berinteraksi
6. Peningkatan sosialisasi

Nurseairlangga.org

f. Memasyarakatkan
lingkungan sekitar

43

klien

dengan

5. Resiko ketidakefektifan penatalakasananaan program terapeutik yang


berhubungan dengan kurang pengetahuan tenatang kondisi, bentuk
penularan, konsekuensi infeksi berulang, dan pencegahan kekambuhan
Tujuan:
Kriteria Hasil: 1. Pasien mengatakan berkurangnya kecemasan yang
berkaitan dengan rasa takut terhadap sesuatu yang tidak
jelas, takut lepas kontrol atau miskonsepsi
2. Pasien dapat menjelaskan proses penyakit, oenyebab,
dan faktor penunjang munculnya gejala dan program
untuk mengontrol penyakit serta gejala
Intervensi
Rasional
1. Identifikasi faktor penyebab atau
a. Memeprcepat tindakan penyembuhan
faktor penunjang yang menghambat
yang akan dilakukan ke klien
penatalasanaan yang efektif
2. Bangun rasa percaya dan kekuatan
b. Meningkatkan haraga diri klien
3. Tingkatkan keyakinan dan keefektifan
c. Mengeksplorasi kemapuan yang
diri yang positif
dimilki
klien
untuk
proses
penyembuhan
4. Kurangi atau hilangkan hambatan
d. Mempermudah
jalannya
proses
dalam belajar
penyembuhan
5. Kurangi kecemasan
e. Cemas
dapat
memperlambat
intervensi
6. Tingkatkan proses pembelajaran
f. Melibatkan orang di sekitar klien agar
personal/ keluarga
intervensi lebih maksimal
6. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi.
Tujuan : suhu badan klien dalam keadaan normal 36,5 C 37,5 C
Kriteria Hasil: 1. Suhu dalam rentang normal
2. Nadi dan RR dalam rentang normal
3. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
Intervensi
Rasional
1. Monitor vital sign
a. mengetahui kondisi tubuh klien secar
umum
2. Monitor suhu minimal 2 jam
b. melihat perubahan yang terjadi
3. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
c. meningkatkan energi tubuh klien untuk
proses penyembuhan
4. Selimuti klien untuk mencegah hilangnya d. panas dalam tubuh hilang secara perlahanpanas tubuh
lahan
e. Bagian tubuh yang berhubungan langsung
5. Kompres klien pada lipat paha dan aksila
dengan suhu tubuh
6. Kolaborasi pemberian antipiretik bila f.Mengurangi panas
perlu
farmakologi

tubuh

menggunakan

7. Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan proses inflamasi


Tujuan : pola eliminasi tidak terganggu lagi

Nurseairlangga.org

43

Kriteria Hasil: a. Urin akan menjadi kontinens


b. Eliminasi urin tidak akan terganggu: bau, jumlah, warna
urin dalam rentang yang diharapkan dan pengeluaran urin
tanpa disertai nyeri
Intervensi
Rasional
1. Pantau eliminasi urin meliputi:
a. Memantau keadaan klien untuk
frekuensi, konsistensi, bau, volume,
intervensi yang tepat
dan warna dengan tepat.
2. Pantau spesimen urine pancar tengah
b. Identifikasi kelainan pada urine
untuk urinalisis.
3. Ajarkan pasien dan keluarga tentang
c. Mengetahui adanya infeksi pada
tanda dan gejala infeksi saluran
saluran kemih
kemih.
4. Sarankan pasien untuk minum
d. Meningkatkan daya tahan tubuh
sebanyak 3000 cc per hari.
5. Rujuk pada ahli urologi bila
e. Memperoleh intervensi medis yang
penyebab akut ditemukan.
lebih lanjut
2.1.9.4 Evaluasi
1. Klien mampu mengenali faktor penyebab
2. Klien melaporkan nyeri berkurang atau hilang
3.TTV dalam rentang normal
a. Tekanan darah : 110/70-120/80 mmHg
b. Denyut nadi
: 70-80 x/meni
c. Pernafasan
: 20 24 x/menit
d. Suhu
: 36 37 C
4. Urin akan menjadi kontinens
5. Eliminasi urin tidak akan terganggu: bau, jumlah, warna urin dalam
rentang yang diharapkan dan pengeluaran urin tanpa disertai nyeri
6. Dapat meminimalkan terjadinya penularan penyakit pada orang lain
7. Mengekspresikan pandangan positif untuk masa depan dan memulai
kembali tingkatan fungsi sebelumnya
8. Mengindentifikasi aspek-aspek positif diri
9. Menganalisis perilaku sendiri dan konsekuensinya
10. Mengidentifikasi cara-cara menggunakan kontrol koping
2.1.10. Askep Kasus
Kasus:
Tn. A (45 tahun) seorang pengusaha dibawa ke RS. Airlangga oleh istrinya
dengan keluhan nyeri ketika berkemih serta keluarnya nanah dari penis. Pada
lubang penis terlihat merah dan membengkak. Awalnya Tn.A tidak
menunjukkan gejala-gejala yang serius, ia hanya merasa tidak enak pada
uretranya yang semakin lama makin sakit. Menurut pengakuan Tn. A istri nya
pernah menderita sakit dengan gejala yang hampir sama dengannya. Dari hasil

Nurseairlangga.org

43

pemeriksaan mikroskopik ditemukan adanya bakteri Neisseria gonorrhoeae.


Suhu tubuh Tn.A 40 C, nadi 80 kali/menit dan TD 110/70.
1. Pengkajian
(1) Identitas Pasien
Nama
: Tn. A
Usia
: 45 thn
Suku/ Bangsa
: Jawa/ Indonesia
Agama
: Islam
Pendidikan
: S1
(2) Keluhan Utama :
Nyeri ketika berkemih serta keluarnya nanah dari penis
(3) Riwayat penyakit sekarang: Tn.A merasa nyeri ketika berkemih serta
keluarnya nanah dari penis. Pada lubang penis terlihat merah dan
membengkak. Awalnya Tn.A tidak menunjukkan gejala-gejala yang
serius, dia hanya merasa tidak enak pada uretranya yang semakin lama
makin sakit.Suhu tubuh tinggi dan nadi kuranga dari normal
(4) Riwayat Kesehatan dahulu: Istrinya pernah menderita penyakit yang
sama dengan Tn.A
(5) Riwayat Kesehatan Keluarga: (6) Pemeriksaan fisik:
Suhu tubuh
: 40 C
Nadi
: 80 kali/ menit
TD
: 110/70 mmHg
Genitalia
: penis terlihat merah dan membengkak
(7) Pemeriksaan Diagnostik:
Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan adanya bakteri Neisseria
gonorrhoeae
2. Analisa Data
No Data
Etiologi
1. DO: penis klien nampak
Bakteri Neisseria
kemerahan dan bengkak
gonorrheae menginfeksi
DS:
klien
mengaku
tubuh
merasakan nyeri ketika
berkemih
Inflamasi pada saluran
kencing

2.

DO: suhu tubuh = 40 C


nadi = 80 kali/menit
DS:
klien
mengaku
badannya panas

Nyeri Akut
Inflamasi pada tubuh akibat
bakteri Neisseria
gonorrheae

Masalah Keperawatan
Nyeri akut

Hipertermi

daya tahan tubuh terganggu

3.

DO:

penis

Nurseairlangga.org

tampak

Hipertermi
bakteri Neisseria

43

Perubahan Eliminasi Urin

kemerahan
dan
membengkak
DS:
klien
mengaku
kesulitan ketika BAK

4.

DO: klien mempunyai istri


alat reproduksi mengalami
penyakit
DS:
klien
mengaku
istrinya pernah menderita
gejala yang sama

gonorrheae menginfeksi
merusak alat reproduksi
yaitu penis
Perubahan Eliminasi Urin
penyakit pada alat
reproduksi Tn.A

Resiko penularan infeksi

hubungan intim suami istri


Resiko penularan infeksi

3. Diagnosa dan Intervensi


1. Nyeri akut yang berhubungan dengan proses inflamasi
Tujuan: Nyeri yang dirasakan pasien berkurang
Kriteria Hasil:
1. Klien melaporkan nyeri berkurang atau terkontrol
2. Klien tidak tampak meringis
3. Klien tidak tampak gelisah
4. Klien melaporkan skala nyeri berkurang (skala nyeri 1-3), hilang
(skala nyeri 0), atau dapat dikontrol
5. Nadi klien dalam rentang normal (60-100 x/menit)
Intervensi
Rasional
Mandiri :
5. Kaji karakteristik nyeri meliputi lokasi, Untuk mengetahui tingkat rasa nyer
waktu, frekuensi, kualitas, faktor sehingga
dapat
menentukan
jeni
pencetus, dan intensitas nyeri
tindakannya.
6. Kaji
faktor-faktor
yang
dapat Dengan mengetahui faktor-faktor yang
memperburuk nyeri klien
dapat memperburuk nyeri klien, dapa
mencegah terjadinya faktor pencetus dan
menentukan intervensi apabila nyeri terjadi
7. Eliminasi faktor-faktor pencetus nyeri
Dengan
mengeliminasi
faktor-fakto
pencetus nyeri, dapat mengurangi risiko
munculnya nyeri (mengurangi awitan
terjadinya nyeri)
8. Ajarkan teknik non farmakologi Dengan teknik manajemen nyeri, klien bis
(misalnya teknik relaksasi, guided mengalihkan nyeri sehingga rasa nyeri yang
imagery, terapi music, dan distraksi) dirasakan berkurang
yang dapat digunakan saat nyeri
datang.
Kolaborasi :
3. Kolaborasi pemberian analgetik
Pemberian analgetik dapat memblok
reseptor nyeri

Nurseairlangga.org

43

2. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi.


Tujuan : suhu badan klien dalam keadaan normal 36,5 C 37,5 C
Kriteria Hasil: 1. Suhu dalam rentang normal
2. Nadi dan RR dalam rentang normal
3. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
Intervensi
Rasional
1. Monitor vital sign
a. mengetahui kondisi tubuh klien secar
umum
1. Monitor suhu minimal 2 jam
b. melihat perubahan yang terjadi
3. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
c. meningkatkan energi tubuh klien untuk
proses penyembuhan
4. Selimuti klien untuk mencegah hilangnya d. panas dalam tubuh hilang secara perlahanpanas tubuh
lahan
5. Kompres klien pada lipat paha dan aksila
e. Bagian tubuh yang berhubungan langsung
dengan suhu tubuh
6. Kolaborasi pemberian antipiretik bila f. Mengurangi panas tubuh menggunakan
perlu
farmakologi
3. Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan proses inflamasi
Tujuan : pola eliminasi tidak terganggu lagi
Kriteria Hasil: a. Urin akan menjadi kontinens
b. Eliminasi urin tidak akan terganggu: bau, jumlah, warna
urin dalam
rentang yang diharapkan dan pengeluaran urin
tanpa disertai nyeri
Intervensi
Rasional
1. Pantau eliminasi urin meliputi:
a. Memantau keadaan klien untuk
frekuensi,
konsistensi,
bau,
intervensi yang tepat
volume, dan warna dengan tepat.
2. Pantau spesimen urine pancar
b. Identifikasi kelainan pada urine
tengah untuk urinalisis.
3. Ajarkan pasien dan keluarga
c. Mengetahui adanya infeksi pada
tentang tanda dan gejala infeksi
saluran kemih
saluran kemih.
4. Sarankan pasien untuk minum
d. Meningkatkan daya tahan tubuh
sebanyak 3000 cc per hari.
5. Rujuk pada ahli urologi bila
e. Memperoleh intervensi medis yang
penyebab akut ditemukan.
lebih lanjut
1. Resiko Penularan Infeksi yang berhubungan dengan kurang pengetahuan
tentang sifat menular penyakit dan laporan tentang perilaku beresiko
tinggi
Tujuan: Pasien akan menjelaskan cara penularan penyakit pada waktu
pulang
Kriteria hasil: 1. Pasien mengungkapkan perlunya diisolasi sampai tidak
menularkan
infeksi

Nurseairlangga.org

43

selama
1.

2.
3.
4.
5.

2. Pasien dapat memperagakan cuci tangan yang cermat


perawatan di rumah sakit
Intervensi
Rasional
Identifikasi penjamu yang rentan a.Untuk mengetahui karakteristik agen
berdasarkan fokus pengkajian
penjamu
tentang faktor resiko dan riwayat
pemanjanan
Identifikasi
cara
penularan b. Mengetahui bagaimana cara penularan
berdasarkan agen infeksi
agen infeksi
Lakukan tindak kewaspadaan c.Untuk mempersiapkan terjadinya isolasi
isolasi yang sesuai
sosial yang mungkin terjadi
Amankan ruangan yang digunakan d. Mencegah terjadinya penyebaran baru
bibit penyakit
Ajarkan klien mengenai rantai e.Mengajari klien agar mengerti proses
infeksi dan tanggung jawab baik di
infeksi
dan
dapat
mencegah
rumah sakit maupun di rumah
penyebaran penyakit

4. Evaluasi
1.Klien melaporkan nyeri berkurang atau hilang
2.TTV dalam rentang normal
a. Tekanan darah
: 110/70-120/80 mmHg
b. Denyut nadi
: 60-100 x/menit
c. Pernafasan
: 20 24 x/menit
d. Suhu
: 36 37 C
4. Eliminasi urin tidak akan terganggu: bau, jumlah, warna urin dalam
rentang yang diharapkan dan pengeluaran urin tanpa disertai nyeri
5. Dapat meminimalkan terjadinya penularan penyakit pada orang lain
2.2 Disfungsi Seksual
2.2.1. Definisi
Istilah disfungsi seksual menunjukkan adanya gangguan pada salah
satu atau lebih aspek fungsi seksual (Pangkahila, 2006). Bila
didefinisikan secara luas, disfungsi seksual adalah ketidakmampuan
untuk menikmati secara penuh hubungan seks. Secara khusus, disfungsi
seksual adalah gangguan yang terjadi pada salah satu atau lebih dari
keseluruhan siklus respons seksual yang normal (Elvira, 2006).
Sehingga disfungsi seksual dapat terjadi apabila ada gangguan dari
salah satu siklus respon seksual.
Siklus respon seksual (Kolodny, Master, Johnson, 1979)
a. Fase Perangsangan (Excitement Phase)
Perangsangan terjadi sebagai hasil dari pacuan yang dapat
berbentuk fisik atau psikis. Kadang fase perangsangan ini
berlangsung singkat, segera masuk ke fase plateau. pada saat yang
lain terjadi lambat dan berlangsung bertahap memerlukan waktu
yang lebih lama. Pemacu dapat berasal dari rangsangan erotik

Nurseairlangga.org

43

maupun non erotik, seperti pandangan, suara, bau, lamunan,


pikiran, dan mimpi.
b. Fase Plateau
Pada fase ini, bangkitan seksual mencapai derajat tertinggi yaitu
sebelum mencapai ambang batas yang diperlukan untuk terjadinya
orgasme.
c. Fase Orgasme
Orgasme adalah perasaan kepuasan seks yang bersifat fisik dan
psikologik dalam aktivitas seks sebagai akibat pelepasan
memuncaknya ketegangan seksual (sexual tension) setelah terjadi
fase rangsangan yang memuncak pada fase plateau.
d. Fase Resolusi
Pada fase ini perubahan anatomik dan faal alat kelamin dan luar
alat kelamin yang telah terjadi akan kembali ke keadaan asal.
Sehingga adanya hambatan atau gangguan pada salah satu siklus
respon seksual diatas dapat menyebabkan terjadinya disfungsi
seksual.
Macam-Macam Disfungsi Seksual
1) Gangguan Dorongan Seksual (GDS)
Dorongan seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
hormon testosteron, kesehatan tubuh, faktor psikis dan
pengalaman seksual sebelumnya. Jika di antara faktor tersebut
ada yang menghambat atau faktor tersebut terganggu, maka
akan terjadi GDS (Pangkahila, 2007), berupa:
a) Dorongan seksual hipoaktif
The Diagnostic and Statistical Manual-IV memberi
definisi dorongan seksual hipoaktif ialah berkurangnya
atau hilangnya fantasi seksual dan dorongan secara
persisten atau berulang yang menyebabkan gangguan
yang nyata atau kesulitan interpersonal.
b) Gangguan eversi seksual
Timbul perasaaan takut pada semua bentuk aktivitas
seksual sehingga menimbulkan gangguan.
Diduga lebih dari 15 persen pria dewasa mengalami
dorongan seksual hipoaktif. Pada usia 40-60 tahun, dorongan
seksual hipoaktif merupakan keluhan terbanyak. Pada dasarnya
GDS disebabkan oleh faktor fisik dan psikis, antara lain adalah
kejemuan, perasaan bersalah, stres yang berkepanjangan, dan
pengalaman seksual yang tidak menyenangkan (Pangkahila,
2006).
2) Gangguan Ereksi - Disfungsi ereksi
Disfungsi ereksi (DE) berarti ketidakmampuan mencapai
atau mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk
melakukan hubungan seksual dengan baik (Pangkahila, 2007).
Disfungsi ereksi disebut primer bila sejak semula ereksi
yang cukup unutuk melakukan hubungan seksual tidak pernah
tercapai. Sedang disfungsi ereksi sekunder berarti sebelumnya
pernah berhasil melakukan hubungan seksual, tetapi kemudian

Nurseairlangga.org

43

gagal karena sesuatu sebab yang mengganggu ereksinya


(Pangkahila, 2006). Disfungsi ereksi ini diderita oleh separuh
pria yang berusia 40 tahun dan sepertiga dari populasi ini
merasa terganggu karena penyakit ini.
Pada dasarnya DE dapat disebabkan oleh faktor fisik dan
faktor psikis. Penyebab fisik dapat dikelompokkan menjadi
faktor hormonal, faktor vaskulogenik, faktor neurogenik, dan
faktor iatrogenik (Pangkahila, 2007). Faktor psikis meliputi
semua faktor yang menghambat reaksi seksual terhadap
rangsangan seksual yang diterima. Walaupun penyebab
dasarnya adalah faktor fisik, faktor psikis hampir selalu
muncul dan menyertainya (Pangkahila, 2007).
3) Gangguan Ejakulasi (Pangkahila, 2007)
a. Ejakulasi Dini
Ada beberapa pengertian mengenai ejakulsi dini
(ED). ED merupakan ketidakmampuan mengontrol
ejakulasi sampai pasangannnya mencapai orgasme, paling
sedikit 50 persen dari kesempatan melakukan hubungan
seksual. Berdasarkan waktu, ada yang mengatakan penis
yang mengalami ED bila ejakulasi terjadi dalam waktu
kurang dari 1-10 menit.
Untuk menentukan seorang pria mengalami ED
harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : ejakulasi
terjadi dalam waktu cepat, tidak dapat dikontrol, tidak
dikehendaki oleh yang bersangkutan, serta mengganggu
yang bersangkutan dan atau pasangannya (Pangkahila,
2007).
ED merupakan disfungsi seksual terbanyak yang dijumpai
di klinik, melampaui DE. Survei epidemiologi di AS
menunjukkan sekitar 30 persen pria mengalami ED.
Ada beberapa teori penyebab ED, yang dapat dibagi
menjadi dua bagian, yaitu penyebab psikis dan penyebab
fisik. Penyebab fisik berkaitan dengan serotonin. Pria
dengan
5-HT
rendah
mempunyaiejaculatory
threshold yang rendah sehingga cepat mengalami
ejakulasi. Penyebab psikis ialah kebiasaan ingin mencapai
orgasme dan ejakulasi secara tergesa-gesa sehingga
terjadinya ED (Pangkahila, 2006).
b. Ejakulasi terhambat
Berlawanan dengan ED, maka pria yang mengalami
ejakulasi terhambat (ET) justru tidak dapat mengalami
ejakulasi di dalam vagina. Tetapi pada umumnya pria
dengan ET dapat mengalami ejakulasi dengan cara lain,
misalnya masturbasi dan oral seks, tetapi sebagian tetap
tidak dapat mencapai ejakulasi dengan cara apapun.
Dalam 10 tahun terakhir ini hanya 4 pasien datang
dengan keluhan ET. Sebagian besar ET disebabkan oleh
faktor psikis, misalnya fanatisme agama sejak masa kecil

Nurseairlangga.org

43

yang menganggap kelamin wanita adalah sesuatu yang


kotor, takut terjadi kehamilan, dan trauma psikoseksual
yang pernah dialami.
4) Disfungsi Orgasme (Pangkahila, 2007)
Disfungsi orgasme adalah terhambatnya atau tidak
tercapainya orgasme yang bersifat persisten atau berulang
setelah memasuki fase rangsangan (excitement phase) selama
melakukan aktivitas seksual.
Hambatan orgasme dapat disebabkan oleh penyebab fisik
yaitu penyakit SSP seperti multiple sklerosis, parkinson, dan
lumbal sympathectomy. Penyebab psikis yaitu kecemasan,
perasaan takut menghamili, dan kejemuan terhadap pasangan.
Pria yang mengalami hambatan orgasme tetap dapat ereksi dan
ejakulasi, tapi sensasi erotiknya tidak dirasakan.
5) Dispareunia (Pangkahila, 2007)
Dispareunia berarti hubungan seksual yang menimbulkan
rasa sakit pada kelamin atau sekitar kelamin. Salah satu
penyebab dispareunia ini adalah infeksi pada kelamin. Ini
berarti terjadi penularan infeksi melalui hubungan seksual
yang terasa sakit itu. Pada pria, dispareunia hampir pasti
disebabkan oleh penyakit atau gangguan fisik berupa
peradangan atau infeksi pada penis, buah pelir, saluran
kencing, atau kelenjar prostat dan kelenjar kelamin lainnya.
6) Peyroni
Penyakit peyroni adalah didapatkannya plaque atau
indurasi pada tunika albuginea korpus kavernosum penis
sihingga menyebabkan terjadinya angulasi (pembengkokan)
batang penis pada saat ereksi.
Penyebab yang pasti dari penyakit ini belum diketahui,
tetapi secara hispatologi plak itu mirip dengan vaskulitis pada
kontraktur dupuytren yang disebabkan oleh reaksi imunologik.
Hasil anamnesis pada pasien penyakit peyroni menyebutkan
bahwa sebelumnya mereka mengalami trauma pada penis yang
berulang pada saat senggama.
2.2.2 Etiologi Disfungsi Seksual
Pada dasarnya disfungsi seksual dapat terjadi baik pada pria ataupun
wanita, etiologi disfungsi seksual dapat dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu:
a. Faktor fisik
Gangguan organik atau fisik dapat terjadi pada organ, bagianbagian badan tertentu atau fisik secara umum. Bagian tubuh yang
sedang terganggu dapat menyebabkan disfungsi seksual dalam
berbagai tingkat (Tobing, 2006).
Faktor fisik yang sering mengganggu seks pada usia tua sebagian
karena penyakit-penyakit kronis yang tidak jelas terasa atau tidak
diketahui gejalanya dari luar. Makin tua usia makin banyak orang
yang gagal melakukan koitus atau senggama (Tobing, 2006).

Nurseairlangga.org

43

Kadang-kadang penderita merasakannya sebagai gangguan ringan


yang tidak perlu diperiksakan dan sering tidak disadari (Raymond
Rosen., et al, 1998).
Dalam Product Monograph Levitra (2003) menyebutkan berbagai
faktor resiko untuk menderita disfungsi seksual sebagai berikut:
a) Gangguan vaskuler pembuluh darah, misalnya gangguan
arteri koronaria.
b) Penyakit sistemik, antara lain diabetes melitus, hipertensi
(HTN), hiperlipidemia (kelebihan lemak darah).
c) Gangguan neurologis seperti pada penyakit stroke, multiple
sklerosis.
d) Faktor neurogen yakni kerusakan sumsum belakang dan
kerusakan saraf.
e) Gangguan hormonal, menurunnya testosteron dalam darah
(hipogonadisme) dan hiperprolaktinemia.
f) Gangguan anatomi penis seperti penyakit peyronie (penis
bengkok).
g) Faktor lain seperti prostatektomi, merokok, alkohol, dan
obesitas.
Beberapa obat-obatan anti depresan dan psikotropika menurut
penelitian juaga dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi seksual,
antara lain: barbiturat, benzodiazepin, selective serotonin seuptake
inhibitors (SSRI), lithium, tricyclic antidepressant (Tobing, 2006).
b. Faktor psikis
Faktor psikoseksual ialah semua faktor kejiwaan yang terganggu
dalam diri penderita. Gangguan ini mencakup gangguan jiwa
misalnya depresi, anxietas(kecemasan) yang menyebabkan
disfungsi seksual. Pada orang yang masih muda, sebagian besar
disfungsi seksual disebabkan faktor psikoseksual. Kondisi fisik
terutama organ-organnya masih kuat dan normal sehingga jarang
sekali menyebabkan terjadinya disfungsi seksual (Tobing, 2006).
Tetapi apapun etiologinya, penderita akan mengalami problema
psikis, yang selanjutnya akan memperburuk fungsi seksualnya.
Disfungsi seksual pria yang dapat menimbulkan disfungsi seksual
pada wanita juga ( Abdelmassih, 1992, Basson, R, et al., 2000).
Masalah psikis meliputi perasaan bersalah, trauma hubungan
seksual, kurangnya pengetahuan tentang seks, dan keluarga tidak
harmonis (Susilo, 1994, Pangkahila, 2001, 2006, Richard, 1992).
2.2.3

Patofisologi Disfungsi Seksual


Yang termasuk ke dalam faktor fisik adalah semua gangguan atau
penyakit yang berkaitan dengan gangguan hormon, pembuluh darah, dan
saraf. Salah satu penyebab fisik utama disfungsi ereksi adalah
aterosklerosis arteri-arteri penis. Pada arterosklerosis, aliran darah ke penis
berkurang dan terjadi penurunan kemampuan arteri-arteri penis untuk
berdilatasi sewaktu perangsangan seksual, yang menyebabkan terbatasnya
pembengkakan.

Nurseairlangga.org

43

Penyebab fisik lainnya adalah penyakit-penyakit sistemik misalnya


hipotiroidisme, akromegali dan yang tersering diabetes mellitus. Diabetes
terutama dihubungkan dengan aterosklerosis serta neuropati (kerusakan
saraf). Pada tingkat sel, gangguan patofisiologi yang berperan pada
disfungsi ereksi adalah hipersensitifitas otonom, penurunan pembentukan
nirtat oksida oleh prostat dan otot-otot popos pembuluh darah penis dan
disfungsi sel-sel endotel. Serta penyakit gangguan fungsi hati, gangguan
kelenjar gondok, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, tekanan darah
rendah, penyakit jantung dan penyakit ginjal yang dapat menyebabkan
disfungsi ereksi.
Selain karena penyakit, disfungsi seksual karena penyebab fisik dapat
juga karena gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok berlebihan,
alkohol berlebihan, penyalahgunaan obat dan kurang tidur.
Di samping faktor-faktor fisik, banyak obat diketahui mengganggu
kemampuan pria untuk mencapau ereksi dan atau orgasme, seperti obat
antihipertensi (metildopa, alfa blocker, beta blocker, reserpine), diuretika
(thiazide, sprinolactone, furosemid), antidepresan (amitryptilin,
imipramin), antipsikotik (chlorpromazine, haloperidol, fluphenazine,
trifluoperazine), antiandrogem (esterogen, flutamid), H2-blocker
(cimetidine), simpatomimetik yang sering digunakan untuk pengobatan
asma, flu, obesitas. ED juga dapat timbul setelah pembedahan di daerah
genital, misalnya setelah kanker prostat. Keletihan kronis atau akut dapat
menyebabkan ED. Usia merupakan faktor risiko utama untuk disfungsi
seksual. Proses penuaan sangat mempengaruhi kemampuan seksualitas
seseorang laki-laki.
2.2.4 Manifestasi Klinis Disfungsi Seksual
a. Penurunan libido (gaitah seksual), masalah dengan ejakulasi termasuk
ejakulasi yang tidak terkendali sebelum atau segera setelah penetrasi
vagina (ejakulasi premature)
b. Masalah dengan berat badan (obesitas) dikarenakan pola makan yang
tidak baik, disertai kurangnya konsumsi vitamin dan buah-buahan
secara teratur.
c. Pengaruh usia, biasanya untuk pria yang berusia lanjut atau dikenal
dengan andropause, produksi hormon testosteron berkurang, setelah
orgasme, ereksi tidak bisa diperoleh untuk suatu jangka waktu
(periode refractory), sering selama 20 menit atau kurang pada pria
muda tetapi lebih lama pada pria yang lebih tua. Waktu diantara ereksi
biasanya meningkatsesuai usia pria.
d. Penyakit diabetes mellitus juga dapat menyebabkan penurunan gairah
seksual atau disfungsi ereksi yang disebabkan oleh kadar gula darah
yang tinggi maka terjadi penyempitan pada pembuluh darah termasyk
pada pembuluh darah pada daerah sekitar reproduksi.
e. Impotensi (tekanan darah tinggi), yang menyebabkan pembuluh darah
menjadi beku tidak hanya terjadi di bagian pembuluh jantung ataupun
otak tapi disekitar alat vital (genital).

Nurseairlangga.org

43

f. Penyakit akibat infeksi, dari penyakit TBC, HIV, dan hepatitis


menyebabkan penurunan kadar esterogen dan neurotransmitter
sehingga mengekibatkan kurangnya rangsangan.
g. Rokok, dan narkoba. Rokok selain menyebabkan kanker paru-paru,
rokok juga dapat mempengaruhi disfungsi seksual dan penurunan
hormon. Narkoba menyebabkan timbulnya penyakit dalam tubuh dan
perusakan saraf.
h. Pada persistent dispareunia, beberapa lokasi paling nyeri seperti: di
daerah uretra, kandung kemih, pelvis, atau tersebar dan tak dapat
ditentukan pasti lokasinya. Penderita dispareunia bisa memiliki
pendapat negatif tentang interaksi seksual. Bila berlangsung lama
pada pria bisa menyebabkan ejakulasi dini atau disfungsi ereksi.
2.2.5 WOC (Web Of Causation)
Terlampir
2.2.6 Pemeriksaan DiagnostikDisfungsi Ereksi
2.2.6.1
Diagnosis DE dapat ditegakkan melalui pemeriksaan
berikut ini:
a. Anamnesis
Dalam anamnesis perlu ditanyakan tentang penyakitpenyakit
seperti
diabetes
melitus,hiperkolesterlemia,
hiperlipidemia, penyakit jantung, merokok, alkohol, obat-obatan,
operasi yang pernah dilakukan, penyakit tulang punggung, dan
penyakit neurologik dan psikiatrik (Baziad, 2003)
Pada diagnosis pasien disf ngsi ereksi harus digali riwayat
seksual, penyakit yang pernah diderita dan psikoseksual. Pada pria
yang mengalami DE ditanyakan hal hal di bawah ini :
1. Ejakulasi, orgasme dan nyeri kelamin
2. Fungsi seksual pasangan
3. Faktor gaya hidup : merokok, alkohol yang berlebihan dan
penyalahgunaan narkotika
4. Penyakit kronis
5. Trauma dan operasi daerah pelvis / perineum / penis
6. Radioterapi daerah penis
7. Penggunaan obat obatan
8. Penyakit saraf dan hormonal
9. Penyakit psikiatrik dan status psikologik
10. Gangguan ereksi dan gangguan dorongan seksual
Disfungsi ereksi dapat dibedakan dengan jelas dari masalah
seksual lainnya seperti ejakulasi, libido dan orgasme. Pada
penelusuran riwayat penyakit harus ditanya tentang hipertensi,
hiperlipidemia, depresi, penyakit neurologis, diabetes melitus,
gagal ginjal, penyakit adrenal dan tiroid. Riwayat trauma panggul
pembedahan pemmbuluh darah tepi juga harus ditanyakan karena
hal tersebut merupakan f aktor resiko impotensi.
Pencatatan daf tar obat yang dikonsumsi juga harus
diperhatikan , karena sekitar 25% dari semua kasus disfungsi

Nurseairlangga.org

43

seksual terkait dengan obat obatan. Pengguanaan alkohol yang


berlebihan dan pemakaiannarkotik juga ditanyakan karena terkait
dengan peningkatan resiko disf ungsi seksual . Pasien juga ditanya
adakah riwayat depresi karena merupakan f aktor resiko disf ungsi
ereksi.
Untuk mengetahui apakah seseorang telah mengalami disf
ungsi ereksi diperlukan suatu evaluasi fungsi seksual pria. Evaluasi
tersebut disusun dalam bentuk beberapa pernyataan yang dikenal
sebagai IIEF-5 (Internatonal Index of Erectile Function). Pada
setiap pertanyaan telah disediakan pilihan jawaban. Orang yang
sedang dievaluasi diminta memilih yang paling sesuai dengan
kondisi orang tersebut 6 bulan terakhir. Pilihan hanya satu jawaban
untuk setiap pertanyaan.
1) Bagaimanakah tingkat keyakinan anda bahwa anda dapat ereksi
dan bertahan terus selama hubungan intim ?
1 = Sangat rendah
2 = Rendah
3 = Cukup
4 = Tinggi
5 = Sangat tinggi
2) Pada saat anda ereksi setelah mengalami perangsangan seksual,
seberapa sering penis anda cukup keras untuk dapat mamsuk ke
vagina pasangan anda?
1= Tidak pernah / hampir tidak pernah
2= Sesekali (<59%)
3= Kadang kadang (50%)
4= Seringkali >50%
5= Selalu / hampir selalu
3) Setelah penis masuk ke vagina pasangan anda, seberapa sering
anda mampu mempertahankan penis tetap keras?
1= Tidak pernah / hampir tidak pernah
2= Sesekali (<50%)
3= Kadang kadang (50%)
4= Seringkali >50%
5= Selalu / hampir selalu
4) Ketika melakukan hubungan intim,seberapa sulitkah
mempertahankan ereksi sampai selesai melakukan hubungan
intim?
1= Teramat sangat sulit
2= Sangat sulit
3= Sulit
4= Sulit sekali
5= Tidak sulit
5) Ketika anda melakukan hubungan intim, seberapa sering anda
merasa puas?
1= Tidak pernah / hampir tidak pernah
2= Sesekali (<50%)
3= Kadang kadang (50%)

Nurseairlangga.org

43

4= Seringkali >50%
5= Selalu / hampir selalu
Skor : ________
Kemudian lima pertanyaan tersebut dijumlah skornya. Jika
skor tersebut kurang atau sama dengan 21, maka orang tersebut
menunjukkan adanya gejala gejala disf ungsi ereksi.(Vary, 2007).
b. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan f isik, tanda-tanda hipogonadisme
(termasuk testis kecil, dan berkurangnya pertumbuhan rambut
tubuh dan janggut) memerlukan perhatian khusus (Bhasin, 2006).
Pemeriksaan penis dan testis dikerjakan untuk mengetahui ada
tidaknya kelainan bawaaanatau induratio penis. Bila perlu
dilakukan palpasi transrektal dan USG transrektal. Tidak jarang DE
disebabkan oleh penyakit prostat jinak ataupun prostat ganas atau
prostatitis (Baziad, 2003).
Pemeriksaan rektum dengan jari (digital rectal
examination), penilaian tonus sf ingter ani, dan bulbo cavernosus
ref lek (kontraksi muskulus bulbokavernous pada perineum setelah
penekanan glands penis) untuk menlai keutuhan dari sacral neural
outf low. Nadi perif er dipalpasi untuk melihat adanya tanda-tanda
penyakit vaskuler (Montague, 2005). Dan untuk melihat
komplikasi penyakit diabetes ( termasuk tekanan darah, ankle
bracial index, dan nadi perif er ) ( Feldman, 1994 ).
c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang dapat menunjang diagnosis
DE antara lain: kadar serum testosterone pagi hari (perlu diketahui,
kadar ini sangat dipengaruhi oleh kadar luteinizing hormone).
Pengukuran kadar glukosa dan lipid, hitung darah lengkap
(complete blood count), dan tes fungsi ginjal.
Sedangkan pengukuran vaskuler berdasarkan injeksi
prostaglandin E1 pada corpora penis, duplexultrasonography,
biothesiometry, atau nocturnal penile tumescence tidak
direkomendasikan pada praktek rutin/sehari-hari namun dapat
sangat bermanf aat bila inf ormasi tentang vascular supply
diperlukan, misalnya, untuk menentukan tindakan bedah yang tepat
(implantation of a prosthesis vs. penilereconstruction) (Guay,
2003).
2.2.7

Penatalaksanaan Disfungsi Ereksi


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen disf ungsi
ereksi menyangkut terapi psikologi, terapi medis dan terapi hormonal
yaitu (Feldman, 1994) :
1. Terapi psikologi yaitu terapi seks atau konsultasi psikiatrik, percobaan
terapi ( edukasi, medikamentosaoral / intrauretral, vacum contricsi
device).
2. Terapi medis yaitu terapi yang disesuaikan dengan indikasi medisnya
3. Terapi hormonal yaitu jika tes laboratoriumnya abnormal seperti kadar
testoteron rendah , kadar LH dan FSH tinggi maka diterapi dengan

Nurseairlangga.org

43

pengganti testoteron. Jika Prolaktin tinggi, maka perlu dipertimbangkan


pemeriksaan pituitary imaging dan dikonsulkan.
Manajemen disfungsi ereksi ada 2 macam, yaitu manajemen umum
dam manajemen khusus (Wibowo, 2007).
A. Manajemen Umum
Pengendalian kadar gula ketat merupakan usaha paling baik.
Subyek dengan neuropati diabetik, setelah pemberian tolrestat atau
aldose reductase inhibitor (ARI) jangka panjang, hanya didapatkan
kerusakan saraf ringan serta didapatkan regenerasi serabut saraf ,
normalisasi hubungan akson glial dan demielinasi segmental (Ward,
1997).
Usaha lain yang dapat dilakukan ialah upaya meningkatkan proses
regenerasi dengan pemberian nerve growth f actor (NGF), brain derived
neurotrophic f actor (BDNF). NGF merupakan f aktor neurotropik
penting yang mendorong kehidupan neuron sensoris erabut kecil dan
neuron simpatis sistem saraf perif er. BDNF mendorong hidupnya
serabut saraf sensoris ukuran sedang yang menjadi perantara sensasi
tekanan dan saraf motoris (Apf el, 1999).
Terapi nutrisi akhir akhir ini banyak dikembangkan meskipun
belum ada uji klinis memadai. Oleh Bersvendsen (1999) diajukan
beberapa alternatif pengobatan neuropati diabetik secara umum yakni :
1) gamma linoleic acid
2) anti oksidan (termasuk alpha linoleic acid 600 800 mg, thiocthic acid
600 mg,
vitamin E 1200 iu atau selenium 100 mcg)
3) vitamin E
4) acetyl L carnitine (ALC)
5) kromium
6) biotin ( 9 mg per hari )
7) niacin
8) Inositol dan taurin
9) magnesium
B. Manajemen Khusus
Pada manajemen khusus meliputi terapi nonbedah dan terapi bedah
/ operatif yaitu :
Terapi non bedah /medis :
a) Farmakoterapi oral, misalnya yohimbin, sildenaf il citrate, vardenaf il,
alprostadil, papaverin HCL, phenoxybenzamine HCL, Aqueous
testosterone injection, transdermal testosteron, bromocriptiine mesylate,
apomorf in, f entolamin, ganglioid, linoleat gamma, aminoguanidine,
methylcobalamine.
b) Injeksi intrakavernosa
c) Pengobatan kerusakan vena
d) Pengobatan hormonal
e) Terapi intraurethral pellet (MUSE)
f) Terapi external vacuum
Terapi Bedah

Nurseairlangga.org

43

1. Prostesis penis
Termasuk terapi yang sangat sukses walaupun pasien dapat memilih atau
mempertimbangkan terapi yang lain. Pembedahan penis kemudian
dilanjutkan dengan pemasangan implant /protesa ini sangat rendah tingkat
morbiditas dan mortalitasnya.
1.1
Semirigid or malleable implant rod implants
Kelebihannya:
a) Teknik bedah sederhana
b) Komplikasi relatif sedikit
c) Tidak ada bagian yang dipindah
d) Implant yang sedikit atau tidak mahal
e) Tingkat keberhasilannya 70-80%
f) Ef ektivitasnya tinggi
Kekurangannya:
a) Ereksi terus sepanjang waktu
b) Tidak meningkatkan lebar (ukuran) penis
c) Risiko inf eksi
d) Dapat melukai atau merubah erection bodies
e) Dapat menyebabkan nyeri/meng-erosi kulit
f) Jika tidak sukses, dapat memengaruhi terapi lainnya.
1.2. Fully inf latable implants
Kelebihannya:
a) Rigiditas-f laksiditasnya menyerupai proses alamiah
b) Pasien dapat mengontrol keadaan ereksi
c) Tampak alamiah
d) Dapat meningkatkan lebar (ukuran) penis saat digunakan
e) Tingkat keberhasilannya 70-80%
f) Ef ektivitasnya tinggi
Kekurangannya:
a) Risiko inf eksi
b) Implant yang paling mahal
c) Jika tidak sukses, dapat memengaruhi terapi lainnya.
1.3 Self -contained inf latable unitary implants
Kelebihannya:
a) Rigiditas-f laksiditasnya menyerupai proses alamiah
b) Pasien dapat mengontrol keadaan ereksi
c) Tampak alamiah
d) Teknik bedahnya lebih mudah daripada prostesis inf latable
Kekurangannya:
a) Terkadang sulit mengaktif kan peralatan inf latable
b) Risiko inf eksi
c) Dapat melukai atau merubah erection bodies
d) Relatif mahal
2. Vascular reconstructive surgery
Kelebihannya:
a) Tampak alamiah
b) Rata-rata tingkat kesuksesannya 40-50%
c) Jika tidak berhasil tidak memengaruhi terapi lainnya

Nurseairlangga.org

43

d) Tidak perlu implant


e) Ef ektivitasnya sedang
Kekurangannya:
a) Teknik pembedahannya paling sulit secara teknis
b) Perlu tes yang extensive
c) Dapat menyebabkan pemendekan penis
d) Hasil jangka panjang tidak tersedia
e) Sangat mahal
f) Risiko inf eksi, pembentukan jaringan parut (scar), dengan
distortion penis dan nyeri saat ereksi
C. Manajemen lainya

2.2.8

Prognosa Disfungsi Ereksi


Studi elektrof isiologi dan patologi menunjukkan bahwa degenerasi dan
regenerasi saraf terjadi bersamasama pada penderita neuropati diabetika.
Dengan perkembangan penyakit, keseimbangan bergeser ke arah dominasi
degenerasi sementara proses regenerasi berkurang. Perbaikan dalam
pengendalian kadar gula dapat menyebabkan pergeseran ke arah dominasi
regenerasi dan akibatnya terjadi perbaikan dalam gejala neuropati (Apf el,
1999).
Romeo et al (2000) mengevaluasi kaitan antara pengendalian kadar gula
dengan disf ungsi ereksi pada pria penderita DM tipe 2 dan disimpulkan
bahwa disf ungsi ereksi berhubungan dengan kadar gula darah. Neuropati
perif er dan HBA1c merupakan prediktor bebas disf ungsi ereksi. Fedele et al (
1998 ) dapat menunjukkan kaitan antara merokok dengan disf ungsi ereksi
yakni sebagai berikut :
1. Kemungkinan menderita disf ungsi ereksi perokok ialah sebesar 1,5 kali
lipat dibandingkan dengan orang yang tidak pernah merokok
2. Dibandingkan orang yang merokok < 12 batang sehari, orang yang
merokok >30 batang sehari mempunyai kemungkinan menderita disf ungsi
ereksi 1,5 kali.

Nurseairlangga.org

43

Jeremy dan Mikhailidis ( 1998 ) juga mengemukakan kaitan antara merokok


dengan disf ungsi ereksi. Dengan demikian, berhenti merokok dapat
meningkatkan fungsi ereksi.
2.2.9

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan disfungsi ereksi

Kasus :
Tn. A berusia 48 tahun, sudah mengidap diabetes sejak 5 tahun yang
lalu. Hal itu menyebabkan dia harus bolak-balik ke rumah sakit untuk
menjalani perawatan dan harus mengkonsumsi obat-obatan terus
menerus. 3 tahun yang lalu dia diberhentikan dari pekerjaannya karena
alasan kesehatan. Istrinya, Ny. W (35 tahun) bekerja sebagai pramusaji.
Mereka sudah menikah selama 16 tahun dan telah mempunyai seorang
anak.
2.2.9.1
Pengkajian
A. Anamnesa
1. Identitas pasien :
Nama Klien
: Tn. A
Umur
: 48 tahun
Agama
: islam
Suku
: jawa
Pendidikan
: diploma
Alamat
: Surabaya
Pekerjaan
: Tidak bekerja
Status social ekonomi keluarga
: Menengah
2. Riwayat Sakit dan Kesehatan
a. Keluhan utama
Klien menyatakan tidak mampu mencapai ereksi yang
konsisten saat berhubungan dengan pasangannya
sehingga menimbulkan ketidakharmonisan dalam rumah
tangga klien
b. Riwayat penyakit saat ini
Klien mengidap diabetes sejak 5 tahun
c. Riwayat penyakit dahulu
d. Riwayat penyakit keluarga
Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga
yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien
sekarang, yaitu riwayat keluarga dengan tumor kepala.
e. Pengkajian psiko-sosio-spiritual
Klien merasa stress dengan penyakit diabetes yang
dialamainya sehingga menurunkan hasrat seksualnya,
klien juga merasa tidak ampu lagi menjadi tulang
punggung keluarga karena sudah tidak mempunyai
pekerjaan
2.2.9.2

Nurseairlangga.org

Pemeriksaan Fisik

43

Pada pemeriksaan fisik, tanda-tanda hipogonadisme (termasuk


testis kecil, ginekomasti dan berkurangnya pertumbuhan rambut
tubuh dan janggut) memerlukan perhatian khusus. Pemeriksaan penis
dan testis dikerjakan untuk mengetahui ada tidaknya kelainan
bawaaan atau induratio penis. Bila perlu dilakukan palpasi transrektal
dan USG transrektal. Tidak jarang ED disebabkan oleh penyakit
prostat jinak ataupun prostat ganas atau prostatitis.
Pemeriksaan rektum dengan jari (digital rectal examination),
penilaian tonus sfingter ani, dan bulbo cavernosus reflek (kontraksi
muskulus bulbokavernous pada perineum setelah penekanan glands
penis) untuk menilai keutuhan dari sacral neural outflow. Nadi perifer
dipalpasi untuk melihat adanya tanda-tanda penyakit vaskuler. Dan
untuk melihat komplikasi penyakit diabetes ( termasuk tekanan darah,
ankle bracial index, dan nadi perifer ).
2.2.9.3
Pemeriksaan Diagnostik
a. Kadar serum testosterone pagi hari
b. Kadar gula dan lipid
c. Hitung darah lengkap
2.2.9.4
Analisa Data
Data
Etiologi
Masalah Keperawatan
DS :
Diadetes militus
Disfungsi seksual
Klien menyatakan tidak
dapar mempertahankan
Aterosklerosis arteri penis
ereksi yang menetap
Terganggunya suplay darah
Menurunnya kemampuan
dilatasi sewaktu perangsangan
Gangguan pembekakan
DO : klien tampak murung
dan sering menyendiri
DS : klien mengeluhkan rasa
ketidakmampuannya dalam
memenuhi kebutuhan
seksualitas pasangan

Perubahan bentuk
DM, stress, konsumsi obat

Harga diri rendah

Gangguan fungsi hormonal


tubuh
disfungsi ereksi
gangguan fungsional organ
sex

DS: klien menyatakan setelah


mengidap DM dan
mengkonsumsi obat, hasrat
seksualitasnya berkurang
DO:

Nurseairlangga.org

DM
gangguan arteri
Perubahan suplai darah

43

Ketidak efektifan pola


seksualitas

Penurunan fungsi
penurunan pola sex
2.2.9.5

No
1.

2.

Diagnosa dan intervensi


Tujuan& kriteria
Diagnosa
hasil
Disfungsi seksual
Tujuan:
berhubungan dengan
Pasien dapat
perubahan struktur tubuh menerima perubahan
struktur tubuh
terutama pada fungsi
seksual yang
dialaminya

Harga diri rendah


berhubungan dengan
gangguan funsional
ditandai dengan
perubahan bentuk salah
satu anggota tubuh.

Kriteria hasil:
Mengekspresikan
kenyamanan
Mengekspresikan
kepercayaan diri
Tujuan:
Pasien dapat
menerima perubahan
bentuk salah satu
angota tubuhnya
secara positif
Kriteria hasil:
Pasien mau
berinteraksi dan
beradaptasi dengan
lingkungan tanpa
rasa malu dan rendah
diri
Pasien yakin akan
kemampuan yang
dimiliki

3.

Ketidakefektifan pola
seksualitas berhubungan
dengan penyakit dan
terapi medis.

Nurseairlangga.org

Tujuan:
Pasien dapat
menerima perubahan
pola seksualitas yang
disebabkan masalah
kesehatannya.

43

Intervensi
1. Bantu pasien untuk
mengekspresikan perubahan fungsi
tubuh termasuk organ seksual
2. Berikan pendidikan kesehatan
tentang penurunan fungsi seksual.
3. Motivasi klien untuk tetap
mengkonsumsi obat-obatan demi
kesembuhannya
4. kolaborasikan pemberian obat
dengan dokter
5. anjurkan klien untuk
berolahraga rutin demi kelancaran
sirkulasi darah
1. Kaji perasaan/persepsi pasien
tentang perubahan gambaran diri
berhubungan dengan keadaan angota
tubuhnya yang kurang berfungsi
secara normal
2. Lakukan pendekatan dan bina
hubungan saling percaya dengan
pasien
3. Tunjukkan rasa empati,
perhatian dan penerimaan pada
pasien
4. Bantu pasien untuk mengadakan
hubungan dengan orang lain
terutama pasangan
5. Beri kesempatan pada pasien
untuk mengekspresikan perasaan
kehilangan
6. libatkan anggota keluarga atau
orang terdekat untuk membantu
memotivasi pasien
1. Kaji faktor-faktor penyebab dan
penunjang, yang meliputi

Kerusakan inervasi saraf

Perubahan hormone

Depresi

Kurangnya informasi yang tepat


2. Ajarkan pentingnya mentaati

Kriteria Hasil :
Mengidentifikasi
keterbatasannya pada
aktivitas seksual
yang disebabkan
masalah kesehatan
Mengidentifikasi
modifikasi kegiatan
seksual yang pantas
dalam respon
terhadap
keterbatasannya

aturan medis yang dibuat untuk


mengontrol gejala penyakit
3. Berikan informasi yang tepat
pada pasien dan pasangannya tentang
keterbatasan fungsi seksual yang
disebabkan oleh keadaan sakit
4. Ajarkan modifikasi yang
mungkin dalam kegiatan seksual
dapat membantu penyesuaian dengan
keterbatasan akibat sakit

2.3. Kanker Prostat


2.3.1 Definisi
Karsinoma prostat merupakan suatu tumor ganas yang
tumbuh di dalam kelenjar prostat. Karsinoma prostat merupakan
keganasan saluran kemih kedua paling sering dijumpai sesudah
keganasan kandung kemih. 95% di antara kanker prostat adalah
adenokarsinoma. Kanker prostat adalah kanker yang paling umum
pada pria ( selain kanker nonmelanoma) dan merupakan penyebab
kedua kematian yang paling umum akibat kanker pada pria Amerika
yang berusia lebih dari 55 tahun. Pada pria Amerika Afrika, kanker
prostat adalah kanker yang paling prevalen secara keseluruhan:
insidensi hampir dua kali lebih tinggi. Sekitar 1 orang dari 11 orang
pria di Amerika Serikat akan mengalami kanker prostat. Kira kira
125.000 kasus baru kanker prostat didiagnosa setiap tahunnya dan
32.000 pria yang sudah mengalaminya mati akibat kanker tersebut.
Pertumbuhan kelenjar prostat bergantung pada adanya hormone
androgenic seperti testoteron. Karena hidrotestosteron adalah suatu
promoter penting daei kanker prostat, maka medikasi seperti
finasterida menjadi andalan sebagai cara dalam menghambat sel
proliferative dan membunuh sel sel kanker.
Penyebab kanker prostat tidak diketahui secara tepat,
meskipun beberapa penelitian telah menunujukan adanya hubungan
antara diat tinggi lemak dan peningkatan kadar hormone
testosterone. Pada bagian lain, Rindiastuti (2007) menyimpulkan
bahwa usia lanjut mengalami penurunan beberapa unsur esensial
tubuh seperti kalsium dan vitamin D. penurunan kandungan kalsium
tubuh mengakibatkan berbagai penyakit, diantaranya adalah
osteoporosis, sehingga timbul paradigma bahwa pada usia lanjut
untuk mengkonsumsi kalsium dalam jumlah banyak. Tetapi secara
berlebihan dapat meningkatkan risiko kanker prostat pada usia lanjut.
Insidens karsinoma prostat akhir-akhir ini mengalami
peningkatan karena meningkatnya usia harapan hidup, penegakan
diagnosis yang menjadi lebih baik, dan kewaspadaan tiap-tiap

Nurseairlangga.org

43

individu mengenai adanya keganasan prostat makin meningkat


karena informasi dari majalah, media elektronik atau internet.
2.3.2 Etiologi
Penyebabnya belum diketahui secara pasti. Namun, ada
beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab timbulnya
adenokarsinoma prostat, yaitu predisposisi genetik, pengaruh hormonal,
diet, pengaruh lingkungan dan infeksi. Kemungkinan untuk menderita
kanker prostat menjadi dua kali jika saudara laki-lakinya menderita
penyakit ini. Kemungkinannya naik menjadi lima kali jika ayah dan
saudaranya juga menderita. Hal ini menunjukkan adanya faktor genetik
yang melandasi terjadinya kanker prostat.
Dari berbagai penelitian dan survei, disimpulkan bahwa etiologi
dan faktor resiko kanker prostat adalah sebagai berikut.
a. Usia
Resiko menderita kanker prostat dimulai saat usia 50 tahun
pada pria kulit putih, dengan tidak ada riwayat keluarga
menderita kanker prostat. Sedangkan pada pria kulit hitam
pada usia 40 tahun dengan riwayat keluarga satu generasi
sebelumnya menderita kanker prostat. Data yang diperoleh
melaui autopsi di berbagai negara menunjukkan sekitar 15
30% pria berusia 50 tahun menderita kanker prostat secara
samar. Pada usia 80 tahun sebanyak 60 70% pria memiliki
gambaran histology kanker prostat. (K. OH, William et al,
2000).
b. Ras dan tempat tinggal
Penderita prostat tertinggi ditemukan pada pria dengan ras
Afrika Amerika. Pria kulit hitam memiliki resiko 1,6 kali
lebih besar untuk menderita kanker prostat dibandingkan
dengan pria kulit putih (Moul, J. W., et al, 2005).
c. Riwayat keluarga
Carter dkk menunjukkan bahwa kanker prostat didiagnosa
pada 15% pria yang memiliki ayah atau saudara lelaki yang
menderita kanker prostat, bila dibandingkan dengan 8%
populasi kontrol yang tidak memiliki kerabat yang terkena
kanker prostat (Haas, G. P dan Wael A. S., 1997). Pria yang
satu generasi sebelumnya menderita kanker prostat memiliki
resiko 2 - 3 kali lipat lebih besar menderita kanker prostat
dibandingkan dengan populasi umum. Sedangkan untuk pria
yang 2 generasi sebelumnya menderita kanker prostat
memiliki resiko 9 - 10 kali lipat lebih besar menderita kanker
prostat.
d. Faktor hormonal
Testosteron adalah hormon pada pria yang dihasilkan oleh sel
Leydig pada testis yang akan ditukar menjadi bentuk
metabolit, berupa dihidrotestosteron (DHT) di organ prostat
oleh enzim 5 - reduktase. Beberapa teori menyimpulkan
bahwa kanker prostat terjadi karena adanya peningkatan
kadar testosteron pada pria, tetapi hal ini belum dapat

Nurseairlangga.org

43

dibuktikan secara ilmiah. Beberapa penelitian menemukan


terjadinya penurunan kadar testosteron pada penderita kanker
prostat. Selain itu, juga ditemukan peningkatan kadar DHT
pada penderita prostat, tanpa diikuti dengan meningkatnya
kadar testosteron. (Haas, G. P dan Wael A. S., 1997).
e. Pola makan
Pola makan diduga memiliki pengaruh dalam perkembangan
berbagai jenis kanker atau keganasan. Pengaruh makanan
dalam terjadinya kanker prostat belum dapat dijelaskan secara
rinci karena adanya perbedaan konsumsi makanan pada rasa
atau suku yang berbeda, bangsa, tempat tinggal, status
ekonomi dan lain sebagainya.
Tahapan penggolongan Karsinoma dijelaskan, sebagai berikut :
Tahap

Tumor

Nodus

Metastasis

Tahap 1
Tahap 2
Tahap 3
Tahap 4

T1
T2
T3
T
4
atau
sembarang T

N0
N0
N0
N 0 atau M 1

M0
M0
M0
M 0 atau M 1

Tumor primer ( T )
T0 = tidak ada bukti tumor primer
T1 = tumor yang secara klinis tidak tampak dan tidak dapat diraba atau
dapat terlihat melalui pencitraan
T2 = tumor terletak di dalam prostat
T3 = tumor meluas melaluim kapsula prostat
T4 = tumor terikat atau menginvasi struktur yang berdekatan selain dari
vesikula seminalis
Nodus Limfe Regional ( N )
N0 = tidak ada metastasis nodus limfe regional.
N1 = metastasis pada satu nodus limfe <= 2 cm dalam dimensi yang
paling besar
N2 = metasatasis pada satu nodus limfe >= 2cm tetapi tidak > 5cm dalam
dimensi yang paling besar atau metastasis nodus limfe multiple, tidak 5 cm
N3 = metastasis pada nodus limfe > cm dari dimensi yang paling besar
Metastasis jauh ( M )
M0 = tidak ada metastasis jauh
M1 = metastasis jauh
Derajat Histopatologis ( G )
G1 = Terdeferensiasi baik
G2 = Terdeferensiasi secara moderat
G3 = Terdeferensiasi dengan buruk atau tidak terdeferensiasi

Nurseairlangga.org

43

Derajat
histopatologis
G 2, 3- 4
Sembarang G
Sembarang G
Sembarang G

2.3.3

Patofisiologi

Penyebab kanker prostat tidak diketahui. Sama dengan hyperplasia


prostat nodular, androgen dipercaya memainkan peranan dalam
pathogenesis. Kanker akan menyebakan penyempitan lumen uretra pars
prostatika dan akan menghambat aliran urin. Keadaan ini menybabkan
penekanan intraavesikal, untuk dapat mengeluarkan urin buli-buli harus
dapat berkontraksi kuat guna melawan tahanan itu.Kontraksi yang terusmenerus menyebabkan perubahanan atomic dari buli-buli berupa hipertrofi
detrusor, trabekulasi, terbentuknyaselula, sakula, dan divetikel buli-buli.
Fase penebalan otot detrusorini disebut fase kompensasi (Purnomo,2000).
Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai
keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary track
symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejal-gejala prostatismus,
dengan semakin meningkatnya retensi uretra, otot detrusor masuk ke
dalam fase dekompensaasi dan akhirnya tidak mampu lagi untuk
berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Tekanan intravsikal yang
semakin tinggi akan diteruskan keseluruh bagian buli-buli ke ureter atau
terjadi refluk vesico-ureter. Keadaan ini jika berlangsung terus akan
mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya akan dapat
jatuh ke dalam gagal ginjal (Price, 1995).
Dengan berkembanganya tumor dapat terjadi perluasan langsung ke
uretra, leher kandung kemih, dan vesikula seminalis. Kanker prostat dapat
juga menyebar melalui jalur limfatik atau hematogen. Bagian yang paling
sering terkena metastasis adalah kelenjar limfe pelvis dan kerangka
metastasis kerangka secara berturut adalah tulang tulang pelvis, vertebra
lumbalis, femur, vertebra torasika, dan kosta. Metasatasis organ timbul
setelahnya dan sering kali pada hati dan pada paru paru. Perjalanan
penyakit kanker prostat tidak dapat diperkirakan. Kanker dapat
berkembang sangat lamban pada beberapa laki laki lain. Oleh karena itu,
kebanyakan dokter mengobati pasien pasien dengan kanker prostat
secara agresif.
Gejala awal tidak muncul atau tidak spesifik pada awal perjalanan
penyakit, dan pria dengan penyakit yang sudah lanjut dapat juga tanpa
gejala. Gejala yang paling sering adalah dysuria, kesulitan dalam menahan
kemih, sering berkemih, retensio urine, nyeri pinggang, dan hematuria,
dengan obstruksi yang meningkat, dapat timbul uremia. Tanda tanda
keadaan patologis paling sering ditemukan dalam pemeriksaan rutin rectal
toucher.

Nurseairlangga.org

43

2.3.4

Manifestasi klinis
Kanker prostate pada tahap awalnya jarang menimbulkan gejala.
Kanker ini cenderung beragam dalam perjalanannya. Jika neoplasma cukup
besar untuk menyumbat kolum kandung kemih, maka gejala dan tanda
obstruksi urinarius terjadi, seperti kesulitan dan sering berkemih, retensi urin,
dan penurunan ukuran serta kekuatan aliran urin. Gejala-gejala yang
berhubungan dengan metastasis mencakup sakit pinggang, nyeri panggul, rasa
tidak nyaman pada perineal dan rektal, anemia, penurunan berat badan,
kelemahan, mual dan oliguria (penurunan keluaran urin). Hematuria dapat
terjadi akibat kanker yang menyerang uretra atau kandung kemih atau
keduanya. Sayangnya, hal ini mungkin menjadi indikasi pertama yang jelas
dari kanker prostate. Kanker dapat menyebar ke organ atau jaringan tubuh
lainnya dengan penyebar paling umum ke tulang. Dimana gejala umumnya
adalah nyeri tulang.
2.3.5 WOC (Web Of Causation)
Terlampir
2.3.6 Pemeriksaan Diagnosis
a. Prostate Spesific Antigen (PSA)
Kanker prostat di diagnosis ketika angka pemeriksaan PSA mengalami
kenaikan. Semakin tinggi angka PSA semakin luas pula penyebaran
penyakit, sehingga memperburuk prognosis. Namun, ada pengecualian.
Tumor yang tidak dapat dikenali baik, tergolong lemah, hanya
memproduksi sedikit PSA. Sehingga tingkat ukuran dalam darah cukup
rendah. Sedangkan ada sejumlah kasus yang tingkat PSA-nya tinggi
dapat ditemukan jaringan kanker dalam jumlah banyak di dalam prostat,
di lokasi yang sulit dilihat dalam pemeriksaan rektal digital, misalnya
zona anterior (di seberang zona periferal).
b. Pemeriksaan Rektal Digital
Pada pemeriksaan rektal digital biasanya ditemukan nodulis kecil dan
keras pada prostat, hal itu membantu mendiagnosis kanker prostat.
c. Biopsi
d. Laporan laboratorium
Dua per tiga penderita kanker prostat akan mengalami kenaikan kadar
asam fortase serum dan kadar alkalin fosfatase
e. Radiologi
2.3.7

Penatalaksanaan
Penatalaksaan yang diberikan pada penderita kanker prostat antara lain
:
2.3.7.1 Manajemen Ekspetasi
Manajemen Ekspetasi artinya adalah kanker prostat pasien dimonitor
untuk mengawasi tanda perkembangan sel tersebut, sesuai dengan jadwal
standar evaluasi medis yang telah ditentukan. Rekomendasi pengobatan
adalah dengan menjalani serangkaian tes rektal digital dan PSA dua kali
setahu, serta tes biopsi prostat sekali setahun. Jika hasil tes menunjukkan

Nurseairlangga.org

43

bahwa kanker prostat meluas maka diperlukan tindakan pengobatan aktif.


Sekitar 25% pria yang menjalani metode ini akan melampaui batasan low
threat untuk kanker prostat.
2.3.6.2 Prostatektomi
Tindakan bedah pengangkatan prostat atau biasa disebut dengan
prostatektomi sudah menjadi pilihan beberapa penderota kanker prostat
yang telah parah. Maksud dari tindakan ini adalah untuk mengangkat
semua prostat dan seminal vesikel dengan jaringan yang ada di
sekelilingnya untuk mencegah penyebaran penyakit. Tindakan bedah ini
juga bisa termasuk pengangkatan nodus limfa pelvis, di kiri-kanan prostat.
Peran dari tindakan bedah ini bermaksud meningkatkan kelangsungan
hidup penderita dan kemungkinan dapat menyebar.
2.3.6.3 Terapi radiasi
Ada dua macam terapi radiasi untuk pasien kanker prostat, yaitu
radioterapi pancaran eksternal (external beam radiotherapy) atau
penyinaran eksternal dan radioterapi interstitium (brakiterapi).
a. Radioterapi Pancaran Eksternal (external beam radiotherapy)
Radiasi ini ditembakkan dari sumber lain diluar tubuh dan biasanya
meliputi serangkaian sesi perawatan. Radioterapi jenis ini
menggunakan teknik konformal, yang melepaskan gelombang
radiasi lebih fokus dan mengurangi kemungkinan sinar radiasi
menyebar pada struktur lain dikelenjar prostat.
b. Penyinaran Eksternal dan Radioterapi Interstitium (brakiterapi).
Brakiterapi meliputi tindakan bedah untuk pencangkokan seed atau
sumber radio nuklida tertutup di dalam prostat.
2.3.6.4
Terapi hormon
Terapi hormon pengganti atau manipulasi hormon adalah pilhan lain
pengobatan kanker prostat yang sudah terlalu berat untuk di operasi. Oleh
karena kanker prostat dipicu oleh hormon tostesteron maka pada terapi
hormon, hormon tostesteron diturunkan. Ada dua cara terapi hormon,
yaitu; pertama, Orkiektomi adalah prosedur tindakan bedah untuk
mengangkat testis dari skrotum karena testis merupakan penghasil hormon
tostesteron. Cara lainnya adalah pengobatan dengan menggunakan obatobatan yang berfungsi menekan produksi tostesteron atau pengaruh
hormon tersebut pada seluruh tubuh. Tipe pengobatan ini dapat dilakukan
melalui berbagai cara, mulai oral sampai injeksi.

2.3.6.5

Kemoterapi
Kemoterapi dilakukan bila kanker sudah meluas dan menyebar
dalam tubuh atau pada saat kanker stadium lanjut. Pengobatan untuk
kemoterapi adalah dengan obat taxotere.

2.3.7

Komplikasi
Sama dengan pengobatan kanker lain, pembahasan cara
menanganai komplikasi harus menjadi perhatian utama dalam pengobatan
kanker prostat, khususnya pada pengobatan kanker prostat lokal. Posisi

Nurseairlangga.org

43

prostat dibagian dalam pelvis, dekat dengan struktur pelvis, berpengaruh


pada defekasi urinasi dan fungsi seksual. Sejumlah pasien kanker prostat
yang menjalani tindakan bedah atau radiasi mengalami kesulitan
mengontrol buang air kecil (ngompol) dan mengalami kehilangan
kemampuan ereksi penuh dalam aktivitas seksual. Komplikasi lain yang
terjadi yaitu komplikasi yang mengikuti terapi yang dipilih. Misalnya
terjadinya pendarahan dan resiko infeskai pada tindakan bedah.
Komplikasi setelah mendapat etrapi hormon seperti hot flash atau rasa
panas, melunaknya otot dada serta resiko gangguan metabolik hormon,
seperti diabetes atau penyakit kardiovaskuler. Pada kemoterapi biasanya
didapat anemia akibat berkurangnya sel darah merah.
2.3.8

Prognosis
Pemeriksaan klinis scan dan laporan patologi semua membantu tim
medis untuk memutuskan sejauh mana perkembangan kanker prostat
tersebut. Jenis pengobatan yang sesuai kemudian direkomendasikan.
Strategi pengobatan bervariasi dari orang ke orang. Prognosis kanker
prostat tergantung pada jangkauan penyakit, kondisi kesehatan individu
serta respon terhadap pengobatan. Dengan cara deteksi kanker prostat
yang telah maju, penderita kanker prostat dapat diselamatkan meningkat
hingga 50%.
2.3.9 Asuhan Keperawatan
Kasus
Tn. AN dibawa ke rumah sakit Universitas Airlangga oleh
keluarga pada tanggal 18 Agustus 2013. Pasien datang ke IGD tanpa surat
pengantar. Pasien merasa nyeri saat BAK, pasien tidak dapat menerangkan
nyeri akan, saat, atau setelah BAK. Pasien mengatakan BAK anyanganyangan (sering, sedikit-sedikit, seperti ada yang tersisa dan tidak puas).
Harus mengejan jika BAK. Urin pasien berwarna kemerahan, tidak pernah
keruh, tidak pernah keluar batu. Jika malam kadang terbangun untuk
BAK. Dalam semalam dapat BAK 4 kali.
Hal ini dirasakan sudah lama, pasien tidak ingat. Pasien merasa
nyeri perut sejak 1 bulan sebelum masuk RS. Nyeri perut diasakan di
semua region abdomen dan menjalar sampai kedua pinggang. Sejak 2 hari
sebelum masuk RS nyeri semakin hebat dan tidak bisa BAB. Pasien
merasa tidak bisa BAB pagi hari sebelum masuk RS. Pasien pernah
berobat ke dokter tapi keluhan hanya hilang sementara. Pasien tidak tahu
jenis obat-obatan apa saja yang didapat dari dokter. Pasien tidak merasa
mual maupun muntah. Pasien tidak merasa panas.
2.3.9.1
Pengkajian
1. Identitas Pasien
Nama
: Tn AN
Usia
: 70 tahun
Pekerjaan
: Swasta

Nurseairlangga.org

43

Alamat
: Gunung Anyar Surabaya
Agama
: Islam
Suku Bangsa
: Jawa
Tanggal Masuk RS : 18 Agustus 2013
Nomor RM
: 5625366
2. Anamnesa
a. Keluhan Utama :
Sulit buang air kecil (BAK)
b. Riwayat Penyakit Sekarang
c. Pasien datang ke IGD tanpa surat pengantar. Pasien merasa nyeri saat
BAK, pasien tidak dapat menerangkan nyeri akan, saat, atau setelah
BAK. Pasien mengatakan BAK anyang-anyangan (sering, sedikitsedikit, seperti ada yang tersisa dan tidak puas). Harus mengejan jika
BAK. Urin pasien berwarna kemerahan, tidak pernah keruh, tidak
pernah keluar batu. Jika malam kadang terbangun untuk BAK. Dalam
semalam dapat BAK 4 kali. Hal ini dirasakan sudah lama, pasien tidak
ingat.
Pasien merasa nyeri perut sejak 1 bulan sebelum masuk RS. Nyeri perut
diasakan di semua region abdomen dan menjalar sampai kedua
pinggang. Sejak 2 hari sebelum masuk RS nyeri semakin hebat dan
tidak bisa BAB. Pasien merasa tidak bisa BAB pagi hari sebelum
masuk RS. Pasien pernah berobat ke dokter tapi keluhan hanya hilang
sementara. Pasien tidak tahu jenis obat-obatan apa saja yang didapat
dari dokter. Pasien tidak merasa mual maupun muntah. Pasien tidak
merasa panas.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat trauma pada abdomen dan alat genital sebelumnya disangkal
Riwayat sesak nafas dan bengkak di muka, perut, kaki dan tangan
disangkal
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat minum jamua-jamuan disangkal
Riwayat penyakit serupa seperti ini dirasakan sejak lama (>1 tahun)
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang serupa
dengan pasien.
f. Anamnesis Sistem
Sistem serebrospinal
: Tidak pusing, tidak demam
Sistem respirasi
: Tidak batuk, tidak pilek, tidak sesak nafas
Sistem kardiovaskuler
: Tidak berdebar-debar, tidak nyeri dada
Sistem digestivus
: Tidak mual, tidak muntah, tidak kembung,
tidak kentut sejak pagi hari sebelum masuk RS, tidak bisa BAB sejak 2
hari sebelum masuk RS.
Sistem urogenital
: BAK sedikit-sedikit, kemerahan, sering,
tidak puas.
Sistem muskuloskeletal : Tidak ada hambatan dalam bergerak
Sistem integumentum
: Suhu raba hangat

Nurseairlangga.org

43

g. Ringkasan Anamnesis
Pasien RS karena merasa nyeri saat BAK. Pasien mengatakan BAK
anyang-anyangan (sering, sedikit-sedikit dan tidak puas). Urine pasien
berwarna kemerahan. Kadang harus mengejan jika BAK.
Pasien merasa nyeri perut sejak 1 bulan sebelum masuk RS. Nyeri perut
diasakan di semua region abdomen dan menjalar sampai kedua
pinggang. Sejak 2 hari sebelum masuk RS nyeri semakin hebat dan
tidak bisa BAB.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Status Generalis
Keadaan Umum
: Baik
Kesadaran
: Composmentis
Status Gizi
: Kurang
b. Vital Sign
Suhu
: 36.7 C
Nadi
: 60x/menit, teratur, kuat angkat
Pernafasan
: 20x/menit, tipe thoracoabdominal
Tekanan darah : 140/80 mmHg
c. Pemeriksaan Kepala
Bentuk Kepala : Mesochepal, tidak terdapat deformitas
Rambut
: Dominan hitam dengan sedikit uban, tidak
mudah dicabut
d. Pemeriksaan Mata
Konjungtiva : Pada mata kanan dan kiri terlihat anemis.
Sklera
: Pada mata kanan dan kiri tidak terlihat ikterik
Pupil
: Isokor kanan-kiri, diameter 2 mm, reflek cahaya
(+/+)
Palpebra
: Tidak edema
Visus
: Baik
e. Pemeriksaan Hidung
Bentuk
: normal, tidak terdapat deformitas
Nafas cuping hidung : tidak ada
Sekret
: tidak terdapat sekret hidung
f. Pemeriksaan Mulut
Bibir
: Tidak sianosis, tidak kering
Lidah
: Tidak kotor, tepi tidak hiperemi
Tonsil
: Tidak membesar
Faring
: Tidak hiperemis
Gigi
:101100
001101
g. Pemeriksaan Telinga
Bentuk
: normal, tidak terdapat deformitas
Sekret
: tidak ada
Fungsional : pendengaran kurang baik
h. Pemeriksaa Leher
JVP
: tidak meningkat (R+0 cmH2O)
Kelenjar tiroid
: tidak membesar

Nurseairlangga.org

43

Kelenjar limfonodi : tidak membesar


Trakhea
: tidak terdapat deviasi trakhea
i. Pemeriksaan Thorak
Paru-paru
Inspeksi
: simetris kanan kirii, tidak ada retraksi,
tidak ada sikatrik.
Palpasi
: vocal fremitus kanan = kiri
Perkusi
: sonor pada seluruh lapang paru, batas paru
hepar pada SIC V LMC dextra
Auskultasi
: suara dasar vesikuler, tidak ada suara
tambahan di semua lapang paru
Jantung
Inspeksi
: Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi
: Ictus cordia tidak teraba
Perkusi
: Batas jantung
Kanan atas
: SIC II LPS dextra
Kanan bawah
: SIC IV LPS dextra
Kiri atas
: SIC II LMC sinitra
Kiri bawah
: SIC IV LMC sinistra
Auskultasi
: S1 lebih keras daripada S2, reguler, tidak
ada mur-mur, tidak ada gallop
Pemeriksaan Ekstremitas
Superior
: tidak ada deformitas, tidak ada edema,
perfusi kapiler baik, tidak anemis, akral hangat, kekuatan 5/5,
sensitivitas 5/5
Inferior
: tidak ada deformitas, tidak ada edema,
perfusi kapiler baik, tidak anemis, akral hangat, kekuatan 5/5,
sensitivitas 5/5
4. Status Lokalis
a. Regio Abdomen:
Inspeksi
: datar, tidak ada sikatrik, tidak ada
gambaran darm contour dan darm steifung
Auskultasi : peristaltik normal
Perkusi
: tympani dan redup di regio kanan bawah.
NKCV kanan dan kiri.
Palpasi
: supel, terdapat nyeri tekan di semua lapang
abdomen, teraba adanya massa ukuran 10x5 cm, imobile, keras
di region kanan bawah. Hepar dan lien tidak teraba
b. Regio Genitalia Eksterna
Inspeksi
: tidak tampak massa, tidak tampak
pembesaran scrotum.
Palpasi
: tidak ada nyeri tekan, tidak teraba massa,
tidak ada pengerasan pada ventral penis
c. Rectal toucher: dilakukan setelah buli pasien dikosongkan
Tonus sfingter ani cukup
Ampula rekti tidak kolaps
Mukosa rectum licin, tidak ada massa

Nurseairlangga.org

43

Teraba prostat di anterior rektum, padat, keras, permukaan rata,


simetris, pool atas tidak dapat diraba, batas lateral tidak dapat
diraba, sulcus medianus tidak teraba, terdapat nyeri tekan.
Kesan prostat membesar.
Pada hand scoon terdapat feses, tidak terdapat darah maupun
lendir.
5. Pemeriksaan Penunjang
USG :
Prostat : Membesar, permukaan rata,
KESAN : Pembesaran kelenjar prostat
2.3.9.2
Analisa Data
DATA
ETIOLOGI
MASALAH
KEPERAWATAN
DS : klien mengatakan takut
Ca prostat
Ansietas
menjelang operasi
Tindakan operasi
DO : klien tampak cemas,
gelisah
Kurang pengetahuan
DS : Pasien merasa nyeri saat
BAK. Pasien mengatakan
BAK
anyang-anyangan
(sering, sedikit-sedikit dan
tidak puas).
DO : Urine pasien berwarna
kemerahan. Kadang harus
mengejan jika BAK
DS : DO : terjadi perdarahan,
infeksi, inkontinensia urie

DS : klien merasa tidak


nyaman
DO : ekspresi muka tidak
tenang, keluarnya
urine
melalui sekitar kateter sedikit

Ansietas
Pembesaran kelenjar prostat

Nyeri

Kencing sedikit dan tidak


puas
Mengejan saat BAK
Nyeri
Prostatektomi
Perdarahan, Infeksi,
inkontinensia urie
Resiko tinggi terhadap
komplikasi
Prostatektomi

Resiko
tinggi
komplikasi

terhadap

Nyeri

spasme kandung kemih dan


insisi sekunder pada
prostatektomi
Nyeri

DS : klien menyatakan belum


mengerti tentang

Nurseairlangga.org

Pasca prostatektomi
Kurang pengetahuan

43

Risiko
tinggi
terhadap
kerusakan penatalaksanaan

DO : Melaksanakan dengan
tepat ketrampilan perawatan
diri
yang
diperlukan,
Mengidentifikasi
bagianbagian yang memerlukan
perawatan

terhadap pemeliharaan
dirumah

pemeliharaan di rumah

Klien pulang
Risiko tinggi terhadap
kerusakan penatalaksanaan
pemeliharaan di rumah

2.3.9.3
Diagnosa Keperawatan
PERIODE PRA OPERASI
1. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang
kejadian praoperasi dan pascaoperasi, takut tentang beberapa aspek
pembedahan
2. Nyeri berhubungan dengan penyumbatan sekunder saluran kencing
sekunder terhadap pelebaran prostat
PERIODE PASCA OPERASI
1. Resiko tinggi terhadap komplikasi berhubungan dengan
prostatektomi
2. Nyeri berhubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi
sekunder pada prostatektomi
3. Risiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di
rumah berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
perawatan diri saat pasien pulang.
2.3.9.4

Intervensi

a. PERIODE PRA OPERASI


1. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang
kejadian praoperasi dan pascaopersai, takut tentang beberapa aspek
pembedahan
Tujuan
: Hilangnya ansietas
Kriteria hasil :
Mengungkapkan pemahaman tenang kejadian praoperasi dan
pascaoperasi
Melaporkan berkurangnya perasaan cemas atau gugup
Ekspresi wajah rileks
Kurang bicara

INTERVENSI
RASIONAL
Jelaskan bahwa dapat terjadi penetesan Dengan mempraktikan latihan pasca ope
setelah urine namun bersifat sementara akan membantu penyembuhan
setelah kateter dilepas dan latihan perineal
(latihan kegel) dappat membantu memperkuat

Nurseairlangga.org

43

otot sfinter untuk mengatasinya. Ajarkan agar


pasien melakukan latihan perineal :
Memperkuat otot peru dan perineal untuk
menahan kencing
Menahan kontraksi selama 10 detik
Jelaskan apa yang terjadi selama periode
praoperasi dan pascaoperasi, termasuk tes
laborattorium praoperasi, persiapan kulit,
alasanstatus puasa, obat-obatan praoperasi,
tinggal di ruang pemuluhan, dan progam
pasca operasi. Informasikan pasien bahwa
obat nyeri tersedia bila diperlukan untuk
mengontrol nyeri. Anjurkan pasien untuk
meminta obat nyeri sebelum nyeri menjadi
nyeri berat.
Ajarkan dan usahakan pasien untuk :
Napas dalam
Berbalik
Turun dari tempat tidur
Membebat bagian yang dibedah ketika
batuk
Jika ada, gunakanlah progamaudiovisual
untun pembedahan khusus
Biarkan pasien dan orang terdekat
mengungkapkan
perasaan
tentang
pengalaman pembedahan. Perbaiki jika ada
kekeliruan konsep. Rujuk pertanyaan khusus
tentang pembedahan kepada ahi bedah

Pengetahuan tentang apa yang diperkira


membantu
mengurangi
ansietas
meningkatkan kerjasama pasien sela
pemulihan. Mempertahankan kadar analg
darah konstan memberikan kontrol
terbaik.

Untuk mendorong keterlibatan pasien da


perawatan diri

Dengan menggunakan perasaan memba


pemecahan masalah dan memungkin
pemberi perawatan untuk mengidentifik
kekeliruan yang dapat menjadi sum
ketakutan. Orang terdekat adalah sis
pendukung bagi pasien. Agar efektif, sis
pendukung
harusmampu
mempun
mekanisme yang kuat.
Lengkapi daftar aktifitas pada daftar cek Daftar cek memasyikan semua aktifitas y
praoperatif (Apendiks K). Beri tahu dokter diperlukan telah lengkap. Aktifita terse
jika ada kelainan dari hasil tes labooratorium diirancang untuk memastikan pasien te
praoperasi.
siap secara fisiologis untuk pembedah
sehingga mengurangi resiko lama
penyembuhan.
Tegaskan penjelasan dari dokter
Penguulangan-penglangan
terse
mendorong untuk belajar
Jika pasien sedang menjalani pengobatan
rutin hubungi dokteruntu menentukan
pengobatan yang harus dihentikan

Nurseairlangga.org

43

2. Nyeri berhubungan dengan penyumbatan sekunder saluran kencing


sekunder terhadap pelebaran prostat
Tujuan
: Menunujukan bebas dari ketidaknyamanan
Kriteria hasil : Tidak merasa salit, ekspresi wajah rileks
INTERVENSI
Beri kateter jika diintrusikan untuk retensi
urine yang akut : sering kencing tetapi sedikit
peregangan suprapubis, mengeluh ingin
kencing setelah kencing mengeluh ingin
kencing tetapi tidak bisa
Jika mengalami kesulitan denga kateter lrus
gunakan katter caude (ujungnya lengkung).
Jika tidak dapat memasuki kandung kemih
dengan kateter Aaude beritahu dokter. Jangan
memaksakan kateter ke dalam saluran
kencing.

RASIONAL
Retensi urine menyebabkan infeksi s
kencing hidrouretr dan hidronefrosis

Urolog menggunakan kateter khusus


pasien . Pemasangan kateter secara
dapat menyebabkan kerusakan para
sobekan pada saluran kencing. Bagi p
kanker prostat yang tidak dio
membutuhkan kateter suprapubis
ppermanen

b. PERIODE PASCA OPERASI


1. Resiko tinggi terhadap komplikasi berhubungan dengan
prostatektomi
Tujuan
: Menunjukkan tidak ada keluhan
Kriiteria hasil : Sembuh dengan RLP untuk KDB, tidak ada
perdarahan, infeksi dan inkontinensia urin.

INTERVENSI
PERDARAHAN

RASIONAL

Pantau :
Tekanan darah, nadi, dan
pernapasan tiap 4 jam
Masukan dan haluaran tiap 8 jam
Warna urine
Beritahu dokter jika urne berwarna
merah terang atau gelap. Pemantauan
tanda-tanda viital dan tetap tirah baring.
Berikan asam amino kaproik (Amicar)
atau menyiapkan pengembalian ke
bagian pembedahan jika diminta
Kaetika
menarik
kateter
Foley,

Deteksi awal terhadap komplikasi


denganintervensi yang tepat dapat
mencegah kerusakan jaringan yang
permanen

Nurseairlangga.org

43

Normalnya haluaran urine selama 24


jam pertama berwarna merah ceri
terang.
Secara
bertahap
harus
berkurang menjadi merah muda dan
jernih dalam beberapa hari. Amicar
mengurangi fibrinolisis.
Penarikan dilakukan setelah TURP

intruksikan pasien unyuk menekuk kaki untuk memungkinkan hemostasis.


dimana kateter dipasang, lepaskan jika Dalam menggunakan kateter urolog
dipesankan dokter
akan menenmpatkan kateter dan
melekatkan (menempatkan) pada paha
pasien agar posisi nyaman.
Restrein pasien jika ia menjadi bingung Untuk mencegah pasien meluaki
danb berusah menarik alatalat seperti dirinya
infus IV atau kateter.
Untuk memudahkan, mengambil sampel Untuk mengukur perdarahan, pasien
urine beberapa kali setelah kateter dilibatkan dalam perawatan pasca
dilepas sesuai perasat dan prosedur. bedah
akan
membantu
dan
Ajarkan pasien bagaimana menjalankan memantapkan pasien untuk mandiri.
tugas ini.
Sediakan diet makanan tinggi serat dan Dengan peningkatan penekanan pada
memberi
obat
untuk fosa
prostatik
yang
akan
memudahkandefekasi jika ada riwayat mengendapkan perdarahan
konstipasi
Irigasi aliran kateter jika terdeteksi Gumpalan dapatmenyumbat kateter,
gumpalan dalamm saluran kateter
menyebabkan
peregangan
dan
perdarahan kandung kemih
INFEKSI
Pantau :
Deteksi awal tanda-tanda infeksi pada
Suhu tiap 4 jam
tindakan yang teppat dapat mencegah
Luka selama mengganti balutan
kerusakan jaringan yang permanen
Berkemih setelah melepas kateter
Beriakn
terapi
antibiotik
dan Antibiotik diperlukan untuk mencegah
mengevaluasi efektivitas obat
ddan mengatasi infeksi
Pastiak masukan cairan setiap hari paling Cairan membantu mendistribusikan
sedikit 2-3 liter tanpa ada kontraindikasi obat-obatan ke seluruh tubuh. Resiko
terjadi ISK dikurangi bila aliran urine
encer konstan dipertahankan melauli
ginjal
Tampung spesimen (urine atau luka) Kultur memberikan identifikasi jenis
unntuk pemerikasaan kultur dan bakteri yang menyebabkan infeksi.
sesitifitas jika terdapat tanda-tanda Pemeriksaan
sensitivitas
infeksi :
mengidentifikasi
antibiotik
yang
Urine keruh, nyeri, ingin kencing paling efektif melawan kuman patogen
sering kencing, berbau busuk
Luka adanya peningkatan rasa nyeri
ppada insisi, kemerahan, basah dan
rasa demam
Ganti verban luka prn sesuai petunjuk Dengan kateter suprapubis, urine
dengan menggunakan teknk aseptik. memenuhi pembalut, sehingga perlu

Nurseairlangga.org

43

Gunakan balutan kasa trakeostomi


yang
telah
direndam,
untuk
memudahkan
penggantian
verban
dengan kateter suprapubis.
Rawat kateter 2x sehari sesuai protokol
dan prosedur fasilitas
Jika digunakan cara perineal, sediakan
perlengkapan mandi duduk setelah
seteiap defekasi sesuai petunjuk
Laukukan kewaspadaan umum (cuci
tangan sebelum dan sesudah merawat
pasien, gunakan sarung tangn ketika
kontak dengan darah atau cairran yang
keluar dari tubuh pasien ) pada semua
prosedur tindakan.
INKONTINENSIA URINE
Intruksikan pasien untuk lapor apabila
selesai berkemihmasih ada urine
yangmenetes.
Laukan
pengukuran
dengan
jalan
menampung
urine
menggunakan cara-cara berikut, yang
lebih disukai pasien.
Gunakan pembalut dan pengikat
Kosongkan urine apabila kandung kemih
sudah penuh
Gunakan kondom kateter
Gunakan alat sekali pakai

diganti. Pembalut yang lembab


merupakan media kultur yang baik
untuk bakteri
Untuk mengurangi resiko infeksi
Mengajarkan
pasien
melakukan sendiri

bagaimana

Pemberi perawatan menjadi penyebab


terbesar
infeksi
nosokomial.
Kkewaspadaan umum melindungi
pemberi perawatan pasien

Inkontinensia menyulitkan pasien.


Biarkan
pasien
terlibat
dalam
pemilihan tindakan yang dapat
membantu mempertahankan rasa
kontrol ketiak fisik tidak mampu
mengontrol situasi

2. Nyeri berhubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi


sekunder pada prostatektomi
Tujuan
: Menunjukkan berkurangnya rasa tidak nyaman
Kriteria hasil : tidak ada nyeri, ekspresi muka tenang, keluarnya
urine melalui sekitar kateter sedikit
INTERVENSI
UNTUK NYERI INSISI
Berikan analgetik prn dan evaluasi
keeffektifannya
Ketiak diizinkan turun dari tempat tidur,
jangan biarkan ppasien duduk untuk
waktu yang lamasesudah tinddakan
prostatektomi.
Bantu pasien untuk mendapatkan posisi
yang nyaman. Atur sudut peninggian

Nurseairlangga.org

43

RASIONAL
Analgetik menghalangi timbulnya rasa
nyeri
Mengurangi tekanan pada luka insisi

Menguurangi tekanan pada luka insisi

antar kepala dan tempat tidur 30 derajat


dan lutut sefikit fleksi setelah tindakan
prostalektomi. Fiksasi daerah insisi
abdominal ketika batuk
UNTUK SPASME KANDUNG KEMIH
Berikan obat antispasmodik seperti Untuk mengontrol spasme kandung
opium dan belladona (B & O) kemih
supositoria
Hindari pengukuran suhu rektal
Pengukuran suhu rektal meninkatkan
spasme kandung kemih
Jagalah selang drainase urine tetap Sumbatan pada selang kateter oleh
aman di paha untuk mencegah bekuan dapat menyebabkan distensi
peningkatan tekanan pada kandung kandung kemih, dengan peningkatan
kemih. Irigasi kateter jika terlihat spasme
berkuan pada selang

3. Risiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di


rumah berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
perawatan diri saat pasien pulang
Tujuan
:
Mendeemonstrasikan
kemauan
untuk
melaksanakan aktivitas perawatan diri saat pasien pulang.
Kriteria hasil :
Menyatakan mengerti tentang intruksi
Melaksanakan dengan tepat ketrampilan perawatan diri yang
diperlukan
Mengidentifikasi bagian-bagian yang memerlukan perawatan
INTERVENSI
RASIONAL
Intruksikan tindakan yang seharusnya dilakukan Menjamin keamanan untuk m
:
penyembuhan pasca operasi
Hindarkan hubungan seksual sampai
diizinkan oleh dokter, biasanya selama enam
minggu.
Hindarkan mengangkat beban berat dan
latihan kegiatan fisik selama delapan
mingghu.
Lakukan
jalan-jalan
kecil
mengelilingi
rumah,
tetapi
jogging,
bersepeda atau berenang tidak diizinkan.
Kosongkan urine jika kandung kemih sudah
penuh
Lanjutkan dengan latihan perineal juka
inkontinensia urine masih berlangsung.
Kerjakan latihan ini tiap 2 jam dalam 10
hitungan. Tidak ada pendapat tentang posisi
khusus untuk melakukan latihan ooerineal.

Nurseairlangga.org

43

Minumlah paing sedikit delpana gelas cairan


per hari, terutama air putih.
Beritahu urologis, jika terjadi tanda-tanda
infeksi :
Luka : peningkatan nyeri tekan dan
merah, berarir, demam
Urinarius : panas dan nyeri pada saat
berkemih, masih ada urine yang
menetes selesai berkemih, adanya
bekuan putih padaurine, urine berbau
busuk, sering.
Kadang-kadang terjadi perdarahan pada
sistem urinarius. Jika perdarahan ringan
berbaringlah dan minum segelas air setiap
jam sampai urine berwarna jernih. Jika
perdarahan tetap terjadi atau menjadi
bertanbah banyak hubungi dokter
Hindari tekanan ketika defekasi. Gunakan
obat pencahar ringan atau pelunak feses
sesuai
kebutuhan
untuk
mencegah
konstipasi.
Gunakan intruksi tertulis untuk perawatan di
rumah dan perawatan lanjutan
Berikan resep analgetik untuk mengatasi nyeri
apabila muncul
Anjurkan pasien untuk menghubungi dokter jika
tanda-tanda obstruksi uretra terjadi

BAB III
PENUTUP

Nurseairlangga.org

43

Intruksi verbal mudah dilupakan

Menjamin berlangsungnya rasa


selama penyembuhan
Pembesaran prostat dapat terjadi
hilangnya sebagian kelenjar

3.1 Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan mengenai berbagai jenis
gangguan sistem reproduksi pada laki-laki meliputi Penyakit Menular
Seksual, Disfungsi organ reproduksi, serta Tumor pada organ reproduksi.
PMS pada laki-laki biasanya ditularkan dari satu orang kepada orang
lainnya melalui hubungan heteroseksual, homoseksual atau kontak intim
melalui genitalia, mulut atau rectum. Beberapa penyakit menular seksual
yang dibahas didalam makalah ini mencangkup Gonorhea, Syiphillis,
Herpes genital dan HIV /AIDS. Sedangkan disfungsi seksual adalah
gangguan yang terjadi pada salah satu atau lebih dari keseluruhan siklus
respons seksualyang normal (Elvira, 2006). Sehingga disfungsi seksual
dapat terjadi apabila adagangguan dari salah satu saja siklus respon
seksual. Tumor pada sistem reproduksi laki-laki dapat meliputi gangguan
pada testis, epididimis, skrotum, dll.
3.2 Saran
Melalui makalah ini diharapkan mahasiswa keperawatan dapat
memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan baik karena telah
mengetahuipenyebabnya serta cara pencegahan maupun pengobatannya
terhadap klien laki-laki dengan gangguan sistem reproduksi.

DAFTAR PUSTAKA

Nurseairlangga.org

43

Ambarwati Eni. Dkk, (2009). Asuhan Kebidanan Komunitas. Nuha Medika.


Yogjakarta
Anderson K e et al. Physiology of penil erection. Physiologcal Review vol 75.
no 1, January
1995.
Anania, Pamela C. 2011. Nursing: Memahami Berbagai Macam Penyakit.
Jakarta: Indeks
Apfel, S.1999. nerve regeneration in diabetic neuropathy. J. Diabetes obesity
and metabolism. (1): 3-11.
Back, Mary E. 2000. Nutrition and Dietetics for Nurses. Yogyakarta: Yayasan
Essentia Medica.
Barasi, Mary E. 2009. At a Glance Ilmu Gizi. Jakarta: Erlangga Medical
Series.
Barton, D. & Joubert, 2000. Psychosocial aspecs of sexual disorders. J
Aust.Fam.Phsysician. 29(6): 577-31.
Baziad A. Menopause dan Andropause. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2003. Jakata. Hlm.217-221.
Benson, Ralph C, & Martin L Pernoll. BS Obstetri dan Ginekologi. Edisi 9.
Jakarta : EGC
Bersvendsen, Y. 1999. A multidiciplinary approach diabetic neuropathy
treatment.
Bhasin S, Cunningham GR, Hayes FJ, et al. Testosterone therapy in adult men
with androgen deficiency syndromes: An Endocrine Society clinical
practice guideline. J Clin Endocrinol Metab 2006;91: 1995-2010.
[Erratum, J Clin Endocrinol Metab 2006;91:2688.].
Burnett, Arthur L. 2012. Panduanuntuk Penderita Kanker Prostat. Jakarta:
Indeks.
Brooker, Chris.2008. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta: EGC
Carpenito,Lynda Juall.2000.Diagnosa Keperawatan.EGC.Jakarta
Djuanda Adhi, dkk, (2007). Ilmu penyakit kulit dan kelamin. FKUI. Jakarta
Juall, Lynda. 2009. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis Edisi
9.Jakarta : ECG
Doengoes, Marylin E, dkk. 2000. Perencanaan Asuhan Keperawatan:
Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien
Edisi 3. Jakarta: EGC.
Herbold, Nancie, Sari Edelstein. 2007. Buku Saku Nutrisi. Jakarta: EGC.
http://prodia.co.id/penyakit-dan-diagnosa/penyakit-menular-seksualdiakses
pada 17 September 2013 pukul 20.25 WIB
http://www.sparkpeople.com/resource/health_a-z_detail.asp?
AZ=420&Page=8 : Harvard Health publications (Harvard Medical
School) diakses pada 17 September 2013 pukul 20.31 WIB
http://www.mayoclinic.com/health/sexually-transmitted-diseasesstds/DS01123diakses pada 17 September 2013 pukul 20.43 WIB
Judith M. Wilkinson. 2010. NANDA, diagnosis keperawatan:definisi dan
klasifikasi 2009-2011. Jakarta : EGC
Judith M. Wilkinson. 2010. Buku saku Diagnosis Keperawatan dengan
Intervensi NIC dan kriteria hasil NOC, Edisi 7. Jakarta : EGC

Nurseairlangga.org

43

Manuaba,Ida Ayu Chandranita. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita


edisi 2. Jakarta : EGC
Moyet, Carpenito. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10. Jakarta:
EGC
Moore, Mary Courtney. 1997. Buku Pedoman Terapi Diet dan Nutrisi Edisi 2.
Jakarta: Hipokrates.
Mutaqqin, Arif. 2010. Pengkajian Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik Klinik.
Jakarta: Salemba Medika.
Nurachmah, Elly. 2001. Nutrisi dalam Keperawatan. Jakarta: Sagung Seto.
Price.Sylvia A; Wilson.Lorraine M. 2005.Patofisiologikonsepklinis prosesproses penyakit. Jakarta: EGC
Purnomo,Basuki. 2011. Dasar-dasar Urologi. Jakarta: Sagung seto
Reeder, dkk. 2011. Keperawatan Maternitas Kesehatan Wanita, Bayi &
Keluarga Vol.1 Edisi 18. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne; Bare, Brenda.2001. Keperawatan Medical Bedah. Jakarta:
EGC
Tarwoto dan Wartonah. 2010. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Urden, Linda D.; dkk. 2006. Critical Care Nursing: Diagnosis And
Management. Missouri. USA: Elsevier Inc.
Webster, Joan Gandy. 2006. Oxford Hand Books of Nutrition and Dieteties.
New York: Oxford University Press.
Widyastuti, Yani dan Anita Rahmawati, Yuliasti, E. 2009. Kesehatan
Reproduksi. Yogyakarta. Fitramaya
Wijayanti, Daru. Sehat Dengan Pengobatan Alami. 2009. Yogyakarta: Venus.

Nurseairlangga.org

43