Anda di halaman 1dari 26

Makalah

APLIKASI GEOLOGI TEKNIK PADA BIDANG PERTAMBANGAN,


PERMINYAKAN, LINGKUNGAN, DAN TEKNIK SIPIL

OLEH :
DJAMAL ADI NUGROHO UNO
471 413 024
Dosen Pengampu:
RONAL HUTAGALUNG S.T, M.T

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
PROGRAM STUDI S1 TEKNIK GEOLOGI
2015

KATA PENGANTAR

Marilah sejenak kita pusatkan seluruh energy kehidupan untuk memuja


Tuhan Yang Maha Esa yang menguasai dan menggenggam alam semesta. Puji
syukur ke hadirat ALLAH SWT karena hanya dengan qudrat dan iradat-Nyalah
kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktumya.Shalawat beserta
salam tak hentinya tercurah kepada nabi Muhammad S.A.W yang telah membawa
kita menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.
Makalah ini dibuat sebagai bentuk apresiasi kegiatan perkuliahan berupa tugas
pada mata kuliah GEOLOGI TEKNIK. Makalah ini dibuat berdasarkan
materi pokok yang telah disepakati dalam perkuliahan dan kami (penulis)
mendapatkan kehormatan untuk menguraikan materi ini.
Sebagai penyusun, kami merasa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Maka kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari
pembaca untuk dijadikan acuan dalam penyusunan makalah dimasa yang akan
datang.
Akhir kata kesalahan ada untuk disadari, dan kesalahan terjadi sebagai
syarat menuju kebenaran hakiki.

Gorontalo, Oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................... ................................ 1
I.1. Latar Belakang ................................................ ................................ 1
I.2. Rumusan Masalah ........................................... ................................ 3
I.3. Tujuan Masalah ............................................... ................................ 3
I.4. Manfaat ........................................................... ................................ 3
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 4
2.1 Geologi Teknik Pada Bidang Pertambangan .................................. 4
2.2 Geologi Teknik Pada Bidang Lingkungan ... .................................. 8
2.3 Geologi Teknik Pada Bidang Teknik Sipil... .................................. 16
BAB III PENUTUP ........................................................ ................................ 22

DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Geologi Teknik adalah aplikasi geologi untuk kepentingan keteknikan, yang
menjamin pengaruh faktor-faktor geologi terhadap lokasi, desain, konstruksi,
pelaksanaan

pembangunan

(operation)

dan

pemeliharaan

hasil

kerja

keteknikanatau engineering works (American Geological Institute dalam Attewell


& Farmer, 1976).
Didalamnya mempelajari antara lain:

Mekanika Tanah dan Batuan

Teknik Pondasi

Struktur Bawah Tanah


Sebenarnya pengetahuan ini sudah dimengerti dan dipergunakan beberapa

abad yang lalu baik di indonesia maupun di negeri-negeri lain. Di indonesia


misalnya pada pembuatan candi-candi pada waktu itu sudah dapat memilih batubatu berkualitas. Pemakaian ilmu geologi untuk bidang teknik sipi dilakukan oleh
ahli teknik sipil inggris bernama William Smith (1839) dikenal sebagai bapak
geologi inggris. Dengan pembuatan terowongan kereta api swiss, bendungan di
california, (1928). Di indonesia kira-kira 50 tahun yang lalu baru mulai ada
kesadaran pentingnya geologi dalam pekerjaan-pekerjaan sipil.

Gambar1.1 Ruang Lingkup Geologi Teknik


Peristilahan material bangunan sering terjadi masalah, oleh karena itu
sebagai konsultan bidang geologi teknik harus memahami istilah-istilah atau
batasan-batasan yang benar menurut teknik sipil. Ada perbedaan pengertian dalam
bidang geologi maupun bidang teknik sipil tentang tanah dan batuan.

Gambar1.2 Tabel Istilah


Peran Ahli geologi dan teknik sipil digambarkan sebagai berikut:

Gambar1.3 Korelasi Geoteknik

1.2 RUMUSAN MASALAH


A. Apa Peran Geologi Teknik Terhadap Bidang Pertambangan ?
B. Apa Peran Geologi Teknik Terhadap Bidang Lingkungan ?
C. Apa Peran Geologi Teknik Terhadap Bidang Perminyakan ?
D. Apa Peran Geologi Teknik Terhadap Bidang Teknik Sipil ?

1.3 TUJUAN
A. Mahasiswa Mampu mengetahui Peran Geologi Teknik Terhadap Bidang
Pertambangan
B. Mahasiswa Mampu mengetahui Peran Geologi Teknik Terhadap Bidang
Lingkungan
C. Mahasiswa Mampu mengetahui Peran Geologi Teknik Terhadap Bidang
Perminyakan
D. Mahasiswa Mampu mengetahui Peran Geologi Teknik Terhadap Bidang
Teknik Sipil
1.4 MANFAAT
Makalah ini dibuat agar mahasiswa dan pembaca khususnya mahasiswa teknik
geologi bisa mengambil ilmu yang bermanfaat dan nantinya bisa berguna
untuk masyarakat dengan cara mengaplikasikan antar Geologi teknik degan
Bidang-bidang antara lain Perminyakan, Lingkungan, Pertambangan dan
Teknik Sipil.

BAB II
PENDAHULUAN
2.1 Geologi Teknik Dalam Bidan Pertambangan
Geoteknik adalah salah satu dari banyak alat dalam perencanaan atau
design tambang, data geoteknik harus digunakan secara benar dengan
kewaspadaan dan dengan asumsi-asumsi serta batasan-batasan yang ada untuk
dapat mencapai hasil seperti yang diinginkan.
Dalam penambangan secara tambang terbuka (open pit), sudut kemiringan adalah
satu faktor utama yang mempengaruhi bentuk dari final pit dan lokasi dari
dinding-dindingnya. Dikarenakan dari perbedaan dari keadaan geologinya, maka
kemiringan optimum dapat beragam diantara berbagai pit dan bahkan dapat
beragam pula dalam satu pit yang sama. Sudut pit pada umumnya dapat dikatakan
sebagai sejumlah waste yang harus dipindahkan untuk menambang biji.
A. Peran Geoteknik di Pertambangan
Peranan Geotek sebenarnya tidak hanya melakukan perhitungan saja tetapi lebih
mengarah kepada memberikan panduan kepada pihak terkait mengenai potensi
bahaya geoteknik yang akan terjadi kepada pihak terkait (manajemen perusahaan,
institusi, mineplanner, dll). Berikut beberapa contoh aplikasi geoteknik dalam
pertambangan :
1. Eksplorasi dan mine development.
Geoteknik diperlukan untuk memandu kepada arah pembuatan desain pit yang
optimal dan aman (single slope degree, overall slope degree, tinggi bench,potensi
bahaya longsor yang ada ex: longsoran bidang, baji, topling busur,dll) sesuai
dengan kriteria SFnya. Disini ahli geotek tidak hanya melakukan analisis namun
juga ikut turun memetakan kondisi geologi (patahan/lipatan/rekahan, dll) dilokasi
yang akan dibuka tambang. Selain itu juga geoteknik diperlukan dalam
pembangunan infrastruktur tambang seperti stockpile, port, jalan hauling diareal

lemah, dll. Disini, peran ahli geotek adalah memberikan analisis mengenai daya
dukung tanah yang aman, cut fill volume, serta langkah-langkah yang diperlukan
untuk memenuhi safety factor sehingga ketika dilakukan kontruksi dan digunakan
tidak terjadi kegagalan (failure)
2. Operasional Tambang pada kondisi ini ahli geotek berperan dalam pengawasan
kondisi pit dan infrastructur yang ada, sebagai contoh pengawasan pergerakan
lereng tambang, zona-zona potensi longsor di areal tambang (pit dan waste dump)
akibat proses penambangan, prediksi kapan longsor akan terjadi, apakah
berbahaya untuk operasional di pit atau tidak, langkah apa saja yang harus
dilakukan untuk mengantisipasi longsor seperti mengevakuasi alat, melakukan
push back untuk menurunkan derajat kemiringan lereng, melakukan penguatan,
melakukan pengeboran horizontal untuk mengeluarkan air tanah,dll. Disini peran
ahli geotek memandu tim safety dalam pengawasn operasional tambang dan ahli
geotek bisa melakukan penyetopan operasional pit jika membahayakan
keselamatan manusia dan alat. Diinfrastruktur juga berlaku hal yang sama.
3. Post mining Setelah kegiatan penambangan selesai, geotek bekerja sama
dengan safety juga berperan untuk memastikan bahwa kondisi waste dump dan pit
dalam kondisi aman dan tidak terjadi longsor dalam jangka waktu lama, karena
setelah tambang selesai lahan tersebut akan dikembalikan kepada pemerintah dan
masyarakat dan menyangkut masalah citra perusahaan, bagi perusahaan yang
berstatus green company hal ini merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar.
B. Tujuan Geoteknik di Pertambangan
1. Pit slope diusahakan harus dibuat setajam mungkin dengan tanpa menimbulkan
kerugian ekonomi secara keseluruhan yang disebabkan karena ketidak setabilan
kemiringan dan tanpa membahayakan keamanan dari pekerja maupun peralatan
2. Menetapkan besarnya sudut kemiringan pit yang dianggap aman pada suatu
pertambangan. Analisa harus mengidentifikasi daerah yang mempunyai potensi
longsor atau daerah berbahaya lainnya.

Data utama yang dibutuhkan sebagai dasar analisis kemantapan suatu lereng
batuan adalah:
geometri lereng, struktur batuan, serta sifat fisik dan mekanik batuan.
C. Geometri Lereng
Geometri lereng yang perlu diketahui adalah:
1. Orientasi (jurus dan kemiringan) lereng
2. Tinggi dan kemiringan lereng (tiap jenjang ataupun total)
3.

Lebar Jenjang (berm)

D. Struktur Batuan
Struktur batuan yang mempengaruhi kemantapan suatu lereng adalah adanya
bidang-bidang lemah, yaitu: bidang patahan (sesar), perlapisan dan rekahan.
E. Sifat Fisik dan Sifat Mekanik Batuan
Sifat fisik dan sifat mekanik batuan yang diperlukan sebagai dasar analisis
kemantapan lereng adalah:
1. Bobot isi batuan.
2. Porositas batuan
3. Kandungan air dalam batuan.
4. Kuat tekan, kuat tarik dan kuat geser batuan.
5. sudut geser dalam
Data utama tersebut diatas dapat diperoleh dengan penyelidikan-penyelidikan di
lapangan dan dilaboratorium.
a. Penyelidikan di Lapangan
Penyelidikan dilapangan dapat dilakukan dengan:
1. Pengukuran untuk mendapatkan data geometri lereng.
2. Seismik refraksi untuk mendapatkan data litologi.
3. Pemboran inti dan pembuatan terowongan (adit) untuk mendapatkan data
litologi, struktur batuan dan contoh batuan untuk dianalisis di laboratorium.
4. Piezometer untuk mengetahui tinggi muka air tanah.
5. Uji batuan di lapangan (insitu test) untuk mendapatkan data tentang sifat
mekanik batuan. (misalnya dengan block shear test).
b. Penyelidikan dilaboratorium
7

Sifat fisik dan sifat mekanik batuan diperoleh dari hasil uji coba (test) di
laboratorium terhadap sample batuan yang diambil dari lapangan. Penyelidikan
dilaboratorium dilakukan dengan:
1. Uniaxial compresive test
2. Triaxial test
3. Direct shear test
4. Penentuan bobot isi batuan, kandungan air dan porositas batuan.

2.2 Geologi Teknik Dalam Bidang Lingkungan


A. Definisi
Geologi Lingkungan adalah interaksi antara manusia dengan
lingkungan geologis. Lingkungan geologis terdiri dari unsur-unsur fisik
bumi (batuan, sedimen, tanah dan fluida) dan unsur permukaan bumi,
bentang alam dan proses- proses yang mempengaruhinya. Bagi kehidupan
manusia, lingkungan geologis tidak hanya memberikan unsur-unsur yang
menguntungkan/bermanfaat seperti ketersediaan air bersih, mineral
ekonomis, bahan bangunan, bahan bakar dan lain- lain, tetapi juga memiliki
potensi bagi terjadinya bencana seperti gempa bumi, letusan gunung api
dan banjir.
Geologi Lingkungan bisa dikategorikan sebagai bagian dari ilmu
lingkungan, karena ilmu lingkungan adalah dasar pemahaman kita
mengenai bumi dan membahas interaksi manusia dengan seluruh aspek
yang ada disekelilingnya, termasuk aspek geologis serta dampaknya bagi
kehidupan manusia. Karena itu filosofi utama dari geologi lingkungan
adalah konsep manajemen lingkungan yang didasarkan pada sistem
geologi

untuk

pembangunan

berkelanjutan

dan bukan pada beban

lingkungan yang tidak bisa diterima. Berdasarkan hal tersebut, Geologi


Lingkungan memiliki empat komponen kajian utama sebagai berikut:
8

1. Mengelola sumber daya geologis, yaitu pengawasan dan mitigasi


kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas eksplorasi dan
eksploitasi
2. Memahami dan menyesuaikan batasan-batasan pada rekayasa dan
konstruksi yang dipengaruhi oleh lingkungan geologis suatu daerah.
3. Penerapan lingkungan geologis yang tepat untuk pembuangan limbah
sehingga bisa mengurangi masalah kontaminasi dan polusi.
4. Pemahaman tentang bencana alam dan mengurangi dampaknya pada
manusia.
B. Geologi Lingkungan : Sebuah Model
Dari sudut pandang yang lain, Geologi Lingkungan bisa juga disebut
sebagai manajemen dari sistem alam yaitu konsep yang sekarang dikenal sebagai
Sustainable Development, yaitu manajemen sumber daya alam untuk mendukung
pembangunan ekonomi dan sosial berkelanjutan yang berkaitan dengan sumber
daya alam terbarukan dan upaya minimalisasi dampak dari pengambilan dan
penggunaan sumberdaya alam tak terbarukan. Kata kuncinya adalah manajemen
lingkungan yang efektif . Dalam hal ini kita tidak hanya melihat sisi konsekuensi
lingkungan yang timbul akibat interaksi manusia dengan lingkungan geologis,
tetapi juga sisi manajemen yang efektif untuk menjamin ketersediaan sumber daya
alam di masa depan, strategi pembentukan lingkungan yang aman, dan
pembuangan limbah yang tepat, serta mitigasi dampak dari bencana alam.
Kondisi yang paling ideal untuk membahas Geologi Lingkungan dan
hubungannya dengan pembangunan adalah pada lingkungan permukiman di
perkotaan karena intensitas interaksi antara manusia dengan lingkungan geologis
sangat tinggi dan juga menimbulkan banyak permasalahan yang memerlukan
solusi tepat dalam pengelolaannya.

Gambar 1.1. Proses yang terjadi pada lingkungan permukiman di perkotaan (Bennett, Matthew
R. dan Peter Doyle, 1997)

Gambar 1.1. memperlihatkan tentang lingkungan perkotaan (urban


environment), dapat dianalogikan dengan sebuah mesin yang membutuhkan input
dan mengeluarkan output pada proses kerjanya.
Input terdiri dari: Air, berasal dari reservoir dan sungai disekitarnya.
Bahan Mentah/Baku, berbentuk sumber daya mineral untuk industri
dan konstruksi.
Makanan.
Energi, sebagai produk akhir dari sumber daya alam seperti batubara,
gas dan uranium.
Sedangkan output yang dihasilkan adalah

Produk-produk

dari

industri

dan

perdagangan.

Limbah/Sampah, berbagai bentuk/jenis bahan-bahan sisa/buangan dan


limbah rumah tangga dan industri.

Polusi, disebabkan oleh strategi manajemen pembuangan limbah yang


buruk sehingga sistem air, tanah dan atmosfir alam tidak lagi mampu
untuk mendaur ulang limbah cair, padat maupun gas yang dihasilkan oleh
aktifitas lingkungan perkotaan.

Sistem mesin ini membutuhkan perawatan yang konstan dalam rangka


peningkatan dan pembangunan infrastruktur yang fondasinya bergantung pada
stabilitas kondisi geologi, dimana keamanan sistemnya terancam oleh
adanya bencana alam baik dari dalam bumi maupun dari proses yang terjadi
dipermukaan.

10

11

Gambar 1.2. Model skematis hubungan antara lingkungan perkotaan dengan daerah di
sekitarnya
(Bennett, Matthew R. dan Peter Doyle, 1997)

Gambar 1.2 memperlihatkan tentang model skematis tentang hubungan


antara pusat permukiman di perkotaan dengan kebutuhan akan sumber daya alam
dari daerah di sekitarnya. Agar hubungan ini tidak membawa dampak
negatif maka dalam pengelolaannya dibutuhkan manajemen lingkungan yang
tepat, dimana Geologi Lingkungan memegang peranan sangat penting begitu
pula dengan geologi teknik, manajemen limbah dan mitigasi bencana alam.
Pada gambar tersebut dijelaskan tentang tingkat kebutuhan akan Geologi
Lingkungan untuk daerah perkotaan dan daerah sekitar perkotaan yang menjadi
sumber dari sumber daya alam yang dibutuhkan oleh daerah perkotaan tersebut.
C.

Sejarah

Geologi

Lingkungan
Geologi lingkungan lahir dari kebutuhan akan interaksi antara tiga ilmu
bumi terapan yaitu Geomorfologi Terapan, Geologi Ekonomi dan Geologi

12

Teknik. Perkembangan dari interaksi ketiga ilmu terapan ini dan fokusnya pada
penataan lingkungan menghasilkan tiga kecenderungan utama, yaitu:

1.

Sustainable

Development
Konsep

untuk

mempertemukan

antara

kepentingan

pembangunan/eksploitasi dan konservasi lingkungan dan sistem pengawasannya.


Yaitu menciptakan sebuah konsep manajemen yang mampu mengurangi dampak
negatif dari eksplotasi sumber daya alam dan pembuangan limbah.
2. Pertentangan dalam pengelolaan proses-proses yang terjadi di alam
Dalam mitigasi bencana alam muncul dua tipe konsep pengelolaan, yaitu:

The

Structural

Response
Menekankan pada aspek-aspek teknik sipil untuk mengatasi masalah yang
timbul dari bencana alam, misalnya dibuatnya konstruksi sea wall untuk
mengatasi erosi pantai.

The

Process-based

Response
Menekankan pada sistem yang telah terbentuk di alam dimanfaatkan dan
dipelihara oleh kita agar tidak menimbulkan bencana bagi manusia. Misalnya
dalam pengelolaan kondisi pantai, kita berusaha memahami proses dasar yang
terjadi secara alamiah di alam dan berusaha agar kondisi pantai tetap terjaga dan
terpelihara seperti aslinya.
3. Adanya pergeseran dari keterlibatan reaktif menjadi
proaktif
13

Perkembangan ilnu pengetahuan dan pemahaman tentang proses-proses


alam telah menimbulkan konsep yang baik dalam pengelolaan lingkungan
terhadap bencana alam yaitu mencegah (proaktif) adalah lebih baik dari pada
memperbaiki (reaktif). Akan tetapi untuk dapat proaktif dibutuhkan data dan
informasi yang akurat tentang penyebaran sumber daya, bencana alam dan
kondisi tanah maka berarti dibutuhkan integrasi yang efektif antara tiga cabang
ilmu kebumian yaitu Geomorfologi Terapan, Geologi Teknik dan Geologi
Ekonomi.
D.

Geologi

Lingkungan

dan

Operasi

Pertambangan
Komponen-komponen dalam lingkungan secara langsung maupun tidak
langsung akan terpengaruh dan atau mempengaruhi aktivitas pertambangan.
Komponen-komponen tersebut diantaranya adalah karakteristik fisik dan
kimiawi, karakteristik biologi, dan respon manusia terhadap lingkungan
pertambangan (karakteristik sosial).
Geologi Lingkungan sebagai ilmu yang mempelajari bumi, mempunyai
peranan penting di dalam penataan lingkungan daerah pertambangan, yang kajian
utamanya adalah membahas karakteristik fisik dan kimiawi lingkungan
pertambangan tersebut. Beberapa aspek dalam geologi tatalingkungan akan selalu
terkait dan berhubungan timbal balik dengan komponen-komponen lingkungan
lainnya. Aspek-aspek yang dimaksud adalah:
1.

Klimatologi

(iklim/cuaca).
2. Geomorfologi (fisiografi, topografi, dan pola pengaliran
sungai).
3. Geologi (tanah/batuan/kandungan mineral dan struktur
geologi).

14

4.
Hidrogeo
logi.
Beberapa aspek tersebut di atas selain memiliki potensi pengembangan
yang dapat dipertimbangkan untuk membuka suatu kawasan pertambangan, juga
memiliki potensi bencana geologi yang harus diantisipasi oleh suatu operasi
pertambangan.

15

2.3 GEOLOGI TEKNIK DALAM BIDANG TEKNIK SIPIL


A. Pekerjaan Geoteknik Pada Pembangunan Terowongan

Terowongan adalah sebuah tembusan di bawah permukaan tanah atau


gunung. Terowongan umumnya tertutup di seluruh sisi kecuali di kedua ujungnya
yang terbuka pada lingkungan luar. Beberapa ahli teknik sipil mendefinisikan
terowongan sebagai sebuah tembusan di bawah permukaan yang memiliki
panjang minimal 0.1 mil (0,1609 km), dan yang lebih pendek dari itu lebih pantas
disebut underpass. Misalnya, underpass bawah Stasiun Yahata di Kitakyushu,
Jepang dengan panjang 0,130 km (0,081 mil) dan sehingga tidak mungkin
dianggap terowongan.
Terowongan biasa digunakan untuk lalu lintas kendaraan (umumnya mobil
atau kereta api) maupun para pejalan kaki atau pengendara sepeda. Selain itu, ada
pula terowongan yang berfungsi mengalirkan air untuk mengurangi banjir atau
untuk dikonsumsi, terowongan untuk saluran pembuangan, pembangkit listrik,
dan terowongan yang menyalurkan kabel telekomunikasi. Ada juga terowongan
yang berfungsi sebagai jalan bagi hewan, umumnya hewan langka, yang
habitatnya dilintasi jalan raya. Beberapa terowongan rahasia juga telah dibuat
sebagai metode bagi jalan masuk ke atau keluar dari suatu tempat yang aman atau

16

berbahaya, seperti terowongan di jalur Gaza, dan terowongan Cu Chi di Vietnam


yang dibangun dan dipergunakan ketika perang Vietnam.

Di Inggris, terowongan bawah tanah untuk pejalan kaki atau transportasi


umumnya disebut subway. Istilah ini digunakan di masa lalu, dan saat ini lebih
populer disebut Underground Rapid Transit System.

Berdasarkan fungsinya, terowongan dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu:


1. Terowongan Lalu Lintas (Traffic) Beberapa penggunaan terowongan
untuk lalu-lintas diantaranya:
Terowongan kereta api
Terowongan jalan raya
Terowongan navigasi
Terowongan tambang
2. Terowongan Angkutan
Terowongan Pembangkit Tenaga Listrik (Hidro Power)
Terowongan Water Supply
Terowongan Sewerage water
Terowongan untuk utilitas umum
B.Pekerjaan Penyangga Terowongan
Tahapan Pekerjaan Penyangga Terowongan ( B. Stillborg,1986 ), secara umum
dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu :
Tahapan Sebelum Penggalian
Tahapan Selama Penggalian
Tahapan Setelah Penggalian

17

C.Tahapan Sebelum Penggalian


Dalam rencana penggalian terowongan, terlebih dahulu dimulai dari
Penyelidikan lapangan, yaitu penyelidikan kondisi geologi sepanjang rencana
jalur terowongan, untuk mengetahui jenis batuan, struktur geologi, kondisi
airtanah, kemungkinan adanya gas beracun yang ada pada sepanjang rencana jalur
terowongan.
Setelah itu masuk pada tahap excavation requirement, dimana pada tahap
ini rencana penggalian yang tepat dan sesuai dengan kondisi batuan yang ada
sepanjang terowongan dapat direncanakan dari awal. Pada tahap ini sudah dapat
diprediksi pada KM berapa galian harus dilaksanakan dengan cara dan
penggunaan alat yang sesuai.
Pada pekerjaan pertambangan yang pelaksanaannya bisa mencapai ratusan
kilometer, galian dengan kondisi batuan yang sangat bervariasi, penggalian
terowongan dapat digunakan dengan beberapa metode dan alat yang berbedabeda. Dengan berbedanya cara penggalian, akan berkaitan dengan penggunaan
penyangga yang diberikan.
Tahap selanjutnya yaitu desain awal dimana setelah excavation
requirement ini, berkaitan dengan desain awal terhadap penyangga yang akan
digunakan sepanjang jalur terowongan. Tahapan ini sudah dapat diprediksi
jenis/macam penyangga yang akan digunakan, volume nya serta lokasi
penempatannya.
Setelah tahap pendesainan awal, dilakukan tahapan pemilihan system
monitoring, dimana pada tahap ini dilakukan pemilihan alat monitoring yang tepat
untuk kestabilan galian sepanjang terowongan, harus ditentukan sebelum galian
terowongan dilaksanakan. Pemilihan system monitoring ini adalah untuk selama
waktu penggalian dan setelah pelaksanaan selesai.

18

D.Tahapan Selama Penggalian


Pada tahapan ini semua tahapan sebelum penggalian memasuki tahapan
kondisi nyata (real condition). Pada tahapan ini dilakukan beberapa pekerjaan
antara lain penyelidikan detil lapangan, yaitu setiap jengkal kemajuan penggalian
terowongan, dilakukan pemetaan geologi secara detail yang dimaksudkan untuk
melakukan observasi kondisi batuan pada setiap cycle blasting untuk dilakukan
pengklasifikasian batuan yang ada guna mengetahui pengaruh kondisi massa
batuan dimana diklasiflkasikan berdasarkan nilai RMR nya dalam perencanaan
pembuatan penyangga terowongan tersebut sehingga dapat diketahui jenis
penyangga apa yang tepat dan kapan waktu pemasangannya.
Setelah diketahui kondisi geologi detil terowongan, barulah dilakukan
pemasangan penyangga yang didasarkan dari hasil penyelidikan geologi detil
tersebut. Berdasarkan pengalaman dan kondisi detil, maka akan dilakukan review
design yang nantinya diperoleh desain baru untuk penyangga terowongan yang
mengkoreksi dari desain yang dibuat sebelumnya yang dibuat berdasarkan
asumsi-asumsi awal yang sebagian besar masih berdasarkan interpretasi kondisi
batuan sepanjang batuan. Pekerjaan terakhir pada tahapan ini yaitu pemasangan
system monitoring yang berdasarkan perencanaan peralatan pada tahap sebelum
penggalian, atau jika diperlukan akan ditambahkan peralatan tambahan. System
monitoring ini untuk memantau efektifitas penyangga yang dipasang efektif atau
tidak. Bila penyangga yang digunakan tepat, maka tidak akan terjadi deformasi
batuan dan bila dari hasil monitoring masih terjadi deformasi batuan, maka
penyangga akan diperkuat lagi alat yang digunakan dalam system monitoring ini
antara lain:
Crown settlement ( Dipasang di atap terowongan ) Digunakan untuk
mengetahui penurunan atap terowongan melalui alat survey.
Convergence meter ( Dipasang pada sisi dinding terowongan ) Alat ini berfungsi
untuk mengetahui defleksi terowongan ke arah dalam atau luar.

19

Extensometer ( Dipasang pada sekeliling terowongan pada kedalaman tertentu )


Berfungsi sebagai alat untuk mengetahui deformasi batuan / tanah di sekeliling
terowongan pada kedalaman tertentu.
Ground Presure Meter ( Dipasang pada batas antara lining concrete dan batuan )
Alat ini berguna untuk mengetahui pengaruh tekanan batuan / tanah pada
terowongan.
Spring Settlement Alat ini digunakan untuk mengetahui penurunan dinding
terowongan melalui alat ukur
Shocrete / Concrete Stress Meter ( dipasang pada batas lining concrete dan
batuan) Berfungsi untuk memantau perubahan stress dari shocrete dan batuan.
Rock Bolt axial Force Yaitu alat untuk memantau perubahan gaya axial pada
rock bolt.
Steel Support Sterss Untuk memantau perubahan stress pada Steel Support
Steel Support Bending Moment Berfungsi untuk memantau perubahan moment
pada Steel Support
Crack Displacement Meter Yaitu alat yang digunakan untuk memantau rekahan
yang telah terjadi.
E.Tahapan Setelah Penggalian
Pada tahap akhir ini hanya dilakukan pekerjaan pemasangan monitoring
jangka panjang dimana tujuan pemasangan sistem monitoring ini adalah untuk
memantau deformasi pada lubang terowongan setelah dipasang penyangga
permanen secara jangka panjang, serta memantau kondisi airtanah di sekitar
terowongan.
Dalam pelaksanaan pembuatan terowongan, pastinya menemukan masalahmasalah yang berkaitan dengan kondisi massa batuan antara lain jalur terowongan
yang melewatri Zona Patahan atau sesar aktif dapat membahayakan apabila

20

elevasi terowongan dibawah muka air. Arah sesar terhadap sumbu terowongan
harus dipertimbangkan dengan seksama. Untuk menentukan efek joint pada
konstruksi terowongan, Bieniawski (1974) mengelompokan massa batuan menjadi
lima kelompok untuk mengetahui metode yang cocok digunakan untuk
pelaksanaan. Material batuan dengan banyak joint dapat digali dengan
menggunakan ripper.
Bidang permukaan joint yang lebar sering dijumpai dalam pelaksanaan
terowongan. Jika arahnya sejajar atau hampir sejajar dengan as terowongan maka
dapat menimbulkan masalah besar dalam pelaksanaannya. Jangka waktu dimana
masa batuan masih dalam kondisi stabil tanpa perlu sokongan disebut dengan
Stand-Up Time atau bridging capacity. Stand-up time ini tergantung dari lebar
bukaan, kekuatan batuan dan pola diskotinuitas. Bila Stand-up time rendah berarti
segera setelah dilakukan pembukaan/penggalian harus segera dilakukan proteksi
atau supporting terhadap massa batuan yang ada. Penciutan pada lubang
terowongan yang digali dapat terjadi sebagai akibat perubahan kondisi tegangan,
munculnya tegangan geser sesar dan adanya lapisan lempung ekspansif.
Masalah serius yang terjadi pada saat penggalian terowongan adalah adanya
aliran air yang bersifat tiba-tiba dalam jumlah besar. Kondisi air tanah adalah
factor penyebab utamanya. Untuk terowongan yang berada dibawah sungai atau
laut, maka bocoran harus sama sekali dihindarkan, karena jumlah air yang dapat
memasuki lubang terowongan akan sulit terkontrol. Pada terowongan sipil yang
biasanya

dangkal

maka

temperature

tidak

terlalu

berpengaruh

pada

pelaksanaannya namun demikian biasanya hal tersebut dapat diantisipasi


sepenuhnya dengan membuat sebuah ventilating system yang baik, hal ini juga
sangat berguna untuk mengantisipasi adanya gas- gas berbahaya yang timbul dari
massa batuan yang ada. Getaran gempa adalah faktor penting yang harus
diperhitungkan dalam perencanaan lining dan supporting system. Pengaruh gempa
biasanya relatif lebih kecil dibandingkan pada struktur yang terdapat di atas
permukaan tanah.

21

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Geologi Teknik adalah aplikasi geologi untuk kepentingan keteknikan,
yang menjamin pengaruh faktor-faktor geologi terhadap lokasi, desain,
konstruksi, pelaksanaan pembangunan (operation) dan pemeliharaan hasil kerja
keteknikanatau engineering works (American Geological Institute dalam Attewell
& Farmer, 1976).
Kita juga bisa menggunakan metode geologi teknik ini untuk berbagai
bidang dan mengaplikasikanya pada ilmu-ilmu geologi lain contohnya di bidang
Geologi lingkungn, perminyakan, pertambangan dan teknik sipil.

22

DAFTAR PUSTAKA
http://www.academia.edu/5677485/Pekerjaan_Geoteknik_Pada_Pembang
unan_Terowongan
https://teknikpertambangan.wordpress.com/2009/11/24/cabang-aplikasidan-manfaat-dari-ilmu-geologi/
242050626-Geologi-Teknik Scrib
67121827-Metode-Penyelidikan-Geologi-Teknik Scrib

23