Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam
dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan
baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia
sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007).
Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya
yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya
bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, serta kegiatan
rehabilitasi dan rekonstruksi (Undang-undang Republik Indonesia Nomor
24 Tahun 2007).
Di dalam alinea ke-IV Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
diamanatkan bahwa Negara Republik Indonesia berkewajiban melindungi
segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan

umum,

mencerdaskan

kehidupan

bangsa

dan

ikut

melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian


abadi dan keadilan sosial. Amanat tersebut dilaksanakan oleh Pemerintah
dan pemerintah daerah bersama semua komponen bangsa melalui
pembangunan nasional (Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan
Bencana Nomor 3 Tahun 2008).
Bahwa amanat Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana tersebut
diatas, khususnya untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah
darah Indonesia, dalam hal perlindungan terhadap kehidupan dan
penghidupan

termasuk

perlindungan

atas

bencana,

dalam

rangka

mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan Pancasila, telah


dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana. Pemerintah dan pemerintah daerah menjadi

penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Tugas


penyelenggaraan penanggulangan bencana tersebut ditangani oleh Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di tingkat Pusat dan Badan
Penanggulangan Bencanan Daerah (BPBD) di tingkat Daerah, yang di
dalam ketentuan Pasal 18 dan 19 disebutkan bahwa untuk melaksanakan
tugas dan fungsi penanggulangan bencana di daerah dibentuk Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) (Peraturan Kepala Badan
Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 Tahun 2008).
1.2. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi permasalahan dalam penulisan laporan Tugas
Pengenalan Profesi ini adalah mengenai hal-hal berikut:
1. Bagaimana peran dan fungsi Badan Penanggulangan Bencana Daerah
dalam penanggulangan bencana?
2. Bagaimana penyelenggaraan penanggulangan bencana di Sumatera
Selatan?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1.

Tujuan Umum
Untuk mengetahui manajemen penanggulangan bencana yang
diselanggerakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD).

1.3.2.

Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui peran dan fungsi Badan Penanggulangan
Bencana Daerah dalam penanggulangan bencana.
2. Untuk mengetahui penyelenggaraan penanggulangan bencana di
Sumatera Selatan.

1.4. Manfaat Penelitian


Observasi ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai
manajemen penanggulangan bencana, serta dapat memahami peran dan
serta tenaga kesehatan di dalam manajemen penanggulangan bencana.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Bencana
2.1.1.

Pengertian Bencana
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan
masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor
nonalam

maupun

faktor

manusia

sehingga

mengakibatkan

timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian


harta benda, dan dampak psikologis (Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 24 Tahun 2007).
2.1.2.

Macam-macam bencana
1. Bencana Alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara
lain berupa ; Gempa Bumi, Tsunami, Gunung Meletus, Banjir,
Kekeringan, Angin Topan, dan Tanah Longsor.
2. Bencana Non Alam adalah bencana yang diakibatkan oleh
peristiwa atau rangkaian peristiwa Non Alam yang antara lain
berupa ; gagal teknologi, gagal modrenisasi, epidemi, dan wabah
penyakit
3. Bencana Sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang
meliputi konflik sosial antar kelompok atau antarkomunitas
masyarakat dan teror. (UU No: 24 2007 Bab I pasal 1)

2.2. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)


2.2.1.

Pengertian BPBD
Badan Penanggulangan Bencana Daerah, selanjutnya disebut
BPBD adalah perangkat daerah yang dibentuk untuk melaksanakan
tugas dan fungsi penanggulangan bencana di daerah (Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 46 Tahun 2008).
Sedangkan pada tingkat nasional disebut Badan Nasional
Penanggulangan bencana, selanjutnya disebut BNPB adalah
Lembaga Pemerintah Non Departemen, berada di bawah dan
bertanggungjawab langsung kepada Presiden yang dibentuk dalam
rangka

menjalankan

tugas

dan

fungsi

penyelenggaraan

penanggulangan bencana (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor


46 Tahun 2008).
2.2.2.

Dasar Hukum
1. UU Dasar 45 Pembukaan Alinea IV
2. UU 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana
3. Peraturan Pemerintah 21 2008 Tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana.
4. Peraturan Mendagri 46 Tahun 08 Tentang Tata Kerja BPBD
5. Perda Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Organisasi Dan Tata
Kerja Badan Penang Gulangan Bencana Daerah Prov. Sum-Sel
Menurut UU NO. 24/2007 mengamanatkan:
a. Penanggung jawab dlm Penyelenggaraan PB adalah Pemerintah
dan Pemerintah Daerah;
b. Tanggung jawab tsb meliputi :
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Pengurangan Resiko Bencana,


Linmas,
Menjamin Pemenuhan Hak Masy Dan Pengungsi,
Pemulihan Dampak Bencana,
Alokasi Anggaran Dlm Apbn Dan Apbd,
Alokasi Dana Siap Pakai.

c. Pengelolaan Bantuan Bencana;

d. Pusat dikelola oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana &


Daerah Dikelola Oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(Prov, Kab/Kota)
2.2.3

Tugas dan Fungsi BPBD


BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten/Kota mempunyai
tugas dan fungsi yaitu menurut UU NO. 24/2007:
A. Tugas BPBD
a. menetapkan pedoman dan pengarahan terhadap usaha
penanggulangan

bencana

yang

mencakup

pencegahan

bencana, penanganan darurat, rehabilitasi, serta rekonstruksi


secara adil dan setara;
b. menetapkan standarisasi serta kebutuhan penyelenggaraan
penanggulangan bencana berdasarkan peraturan perundangundangan;
c. menyusun, menetapkan, dan menginformasikan peta rawan
bencana;
d. menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan
bencana;
e. melaporkan

penyelenggaraan

penanggulangan

bencana

kepada Kepala Daerah setiap bulan sekali dalam kondisi


f.

normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana;


mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan

barang;
g. mempertanggungjawabkan

penggunaan

anggaran

yang

diterima dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah; dan


h. melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan
perundang- undangan.
B. Fungsi BPBD menurut UU NO. 24/2007:
BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten/Kota dalam
menyelenggarakan tugasnya mempunyai fungsi yaitu:

a. perumusan

dan

penetapan

kebijakan

penanggulangan

bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat


dan tepat, efektif dan efisien; dan
b. pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan
bencana secara terencana, terpadu dan menyeluruh.
2.2.3.

Unsur Pelaksana
Unsur Pelaksana BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten/Kota
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 9 mempunyai
tugas melaksanakan penanggulangan bencana secara terintegrasi
meliputi:
a. Prabencana;
b. Saat tanggap darurat; dan
c. Pascabencana.
(Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Nomor 3 Tahun 2008)
Unsur Pelaksana BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten/Kota
menyelenggarakan fungsi:

a.

Pengoordinasian
Pelaksana

BPBD

merupakan
Provinsi

dan

fungsi

koordinasi

BPBD

Unsur

Kabupaten/Kota

dilaksanakan melalui koordinasi dengan satuan kerja perangkat


daerah lainnya di daerah, instansi vertikal yang ada di daerah,
lembaga usaha, dan/atau pihak lain yang diperlukan pada tahap
b.

pra bencana dan pasca bencana.


Pengkomandoan : merupakan fungsi Komando Unsur Pelaksana
BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten/Kota dilaksanakan
melalui pengerahan sumber daya manusia, peralatan, logistik
dari satuan kerja perangkat daerah lainnya, instansi vertikal yang
ada di daerah serta langkah-langkah lain yang diperlukan dalam

c.

rangka penanganan darurat bencana.


Pelaksana : merupakan fungsi pelaksana Unsur Pelaksana BPBD
Provinsi dan BPBD Kabupaten/Kota dilaksanakan secara
terkordinasi dan terintegrasi dengan satuan kerja perangkat

daerah lainnya di daerah, instansi vertikal yang ada di daerah


dengan

memperhatikan

kebijakan

penyelenggaraan

penanggulangan bencana dan ketentuan peraturan perundangundangan.


(Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Nomor 3 Tahun 2008)

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi Pelaksanaan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan
3.2

Waktu Pelaksanaan
Adapun waktu pelaksanaan kegiatan tugas pengenalan profesi ini adalah:

3.3

Hari, tanggal

: 30 Desember 2013

Waktu

: 09.00 12.00 WIB

Subjek Tugas Mandiri


Manajemen penanggulangan bencana di Badan Penanggulangan
Bencana Daerah.

3.4

Langkah Kerja
1. Membuat proposal
2. Melakukan konsultasi kepada pembimbing Tugas Pengenalan Profesi
3. Meminta izin kepada pihak PT. Pusri untuk melakukan Tugas
Pengenalan Profesi
4. Melakukan wawancara dengan pegawai/ tenaga kerja.
5. Membuat laporan Tugas Pengenalan Profesi dari data yang sudah
didapatkan.

3.5 Pengumpulan data


Melakukan observasi langsung terhadap manajemen bencana yang
dilakukan di BPBD.
3.6 Pengolahan data
Analisis deskriptif yaitu pengolahan data yang dilakukan dengan cara
membandingkan teori dan data di lapangan
4.1. Hasil dan Pembahasan
a. Fungsi dan tugas BPBD

BPBD adalah perangkat daerah yang dibentuk untuk melaksanakan


tugas dan fungsi penanggulangan bencana di daerah. BPBD Provinsi dan
BPBD Kabupaten/Kota mempunyai tugas dan fungsi yaitu:
A. Tugas BPBD
a. menetapkan

pedoman

dan

pengarahan

terhadap

usaha

penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana,


penanganan darurat, rehabilitasi, serta rekonstruksi secara adil dan
setara;
b. menetapkan

standarisasi

penanggulangan

bencana

serta

kebutuhan

berdasarkan

penyelenggaraan

peraturan

perundang-

undangan;
c. menyusun, menetapkan, dan menginformasikan peta rawan
bencana;
d. menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana;
e. melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada
Kepala Daerah setiap bulan sekali dalam kondisi normal dan setiap
saat dalam kondisi darurat bencana;
f. mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan barang;
g. mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah; dan
h. melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundangundangan.
B. Fungsi BPBD
BPBD

Provinsi

dan

BPBD

Kabupaten/Kota

dalam

menyelenggarakan tugasnya mempunyai fungsi yaitu:


a. perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan
penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat, efektif
dan efisien; dan
b. pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana
secara terencana, terpadu dan menyeluruh.
BPBD memiliki struktur organisasi menurut PERDA NO 11 TH
2009 yaitu sebagai berikut:

KEPALA
SEKRETARIS
DAERAH
PENGARAH PROVINSI
KEPALA
SUMATERA
PELAKSAN
- INSTANSI SELATAN A
PROFESION
YULIZAR
AL/AHLI
DINOTO,
SH SUB
BAG
PRO
GRA
BIDANG M
BIDANG
PENAN
PENCEGAH
GANAN
AN
SEKSI
SEKSI
DARUR
DAN
PENCEG
TANGG
AT
KESIAPSIAG
AHAN
AP
AAN
SEKSI
SEKSI
DARUR
KESIAPSI
PENAN
AT
AGAAN
GANAN
JABATANPENGU
FUNSION NGSI
AL

SEKR
ETARI
S
SUB BAG
SUB
UMUM &
BAG
KEPEGA
KEUA
WAIAN
NGA
N
BIDANG
REHABILITA
SI DAN
SEKSI
REKONSTRU
REHABILI
KSI
TASI
SESKI
REKONST
RUKSI

Dan juga memiliki kelembagaan yaitu:

BNPB
Unsur Pengarah

Unsur Pelaksana

BPBD Provinsi
Unsur Pengarah

Unsur Pelaksana

BPBD Kab./Kota
Unsur Pengarah

Unsur Pelaksana

b. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di Sumatera Selatan.


Dalam

melaksanakan

penanggulangan

bencana,

maka

penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi:


1. Tahap prabencana
Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi tidak
terjadi bencana meliputi:
a) Perencanaan penanggulangan bencana;
b) Pengurangan risiko bencana;
c) Pencegahan;
d) Pemaduan dalam perencanaan pembangunan;
e) Persyaratan analisis risiko bencana;
f) Pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang;
g) Pendidikan, pelatihan, gladi, simulasi; dan
h) Persyaratan standar teknis penanggulangan bencana.
Pada situasi terdapat potensi bencana: Pada situasi ini perlu
adanya kegiatan-kegiatan kesiap siagaan, peringatan dini dan mitigasi
bencana dalam penanggulangan bencana.

a. Kesiapsiagaan adalah dilakukan untuk memastikan upaya yang


cepat dan tepat dalam menghadapi kejadian bencana.

Penyusunan

kedaruratan bencana;
Pengorganisasian, pemasangan,

peringatan dini;
Penyediaan dan penyiapan barang pasokan pemenuhan

kebutuhan dasar;
Pengorganisasian, penyuluhan, pelatihan, dan gladi tentang

mekanisme tanggap darurat;


Penyiapan lokasi evakuasi;
Penyusunan data akurat, informasi, dan pemutakhiran

prosedur tetap tanggap darurat bencana; dan


Penyediaan dan penyiapan bahan, barang, dan peralatan

dan

uji

coba

rencana
dan

penanggulangan
pengujian

sistem

untuk pemenuhan pemulihan prasarana dan sarana.


b. Peringatan Dini dilakukan untuk pengambilan tindakan cepat
dan tepat dalam rangka mengurangi risiko terkena bencana serta
mempersiapkan tindakan tanggap darurat.

Pengamatan gejala bencana;


Analisis hasil pengamatan gejala bencana;
Pengambilan keputusan oleh pihak yang berwenang;
Penyebarluasan informasi tentang peringatan bencana;

Pengambilan tindakan oleh masyarakat.

c. Mitigasi Bencana dilakukan untuk mengurangi risiko bencana


bagi masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana.

Pelaksanaan penataan ruang;


Pengaturan pembangunan, pembangunan infrastruktur, tata

bangunan; dan
Penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan baik
secara konvensional maupun modern.
Kegiatan-kegiatan pra-bencana ini dilakukan secara lintas sector

dan multi stakeholder,oleh karena itu fungsi BNPB/BPBD adalah


fungsi koordinasi.

2. Saat tanggap darurat


Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada saat tanggap
darurat meliputi:
a) Pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan, dan sumber daya;
b) Penentuan status keadaan darurat bencana;
c) Penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana;
d) Pemenuhan kebutuhan dasar;
e) Perlindungan terhadap kelompok rentan; dan
f) Pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital.
3. Pasca bencana.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap pasca
bencana meliputi:
a) Rehabilitasi.
Tahap Rehabilitasi adalah untuk mengembalikan kondisi
daerah yang terkena bencana yang serba tidak menentu kekondisi
normal yang lebih baik, agar kehidupan dan penghidupan
masyarakat dapat berjalan kembali. Kegiatan-kegiatan yang
dilakukan meliputi:
1. Perbaikan lingkungan daerah bencana;
2. Perbaikan prasarana dan sarana umum;
3. Pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat;
4. Pemulihan sosial psikologis;
5. Pelayanan kesehatan;
6. Rekonsiliasi dan resolusi konflik;
7. Pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya;
8. Pemulihan keamanan dan ketertiban;
9. Pemulihan fungsi pemerintahan; dan
10. Pemulihan fungsi pelayanan publik
b) Rekonstruksi.
Tahap rekonstruksi merupakan tahap untuk membangun
kembali sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana secara

lebih baik dan sempurna. Oleh sebab itu pembangunannya harus


dilakukan melalui suatu perencanaan yang didahului oleh
pengkajian dari berbagai ahli dan sektor terkait. Kegiatan
Rekonstruksi meliputi :
1.

Pembangunan kembali prasarana dan sarana;

2.

Pembangunan kembali sarana sosial masyarakat;

3.

Pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat

4.

Penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan


yang lebih baik dan tahan bencana;

5.

Partisipasi

dan

peran

serta

lembaga

dan

kemasyarakatan, dunia usaha dan masyarakat;


6.

Peningkatan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya;

7.

Peningkatan fungsi pelayanan publik; atau

8.

Peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat.

organisasi

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dikemukan diatas, dapat ditarik beberapa
kesimpulan yaitu:
1. BPBD adalah perangkat daerah yang dibentuk untuk melaksanakan tugas
dan fungsi penanggulangan bencana di daerah.
2. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di Sumatera Selatan meliputi
3 tahap yaitu tahap prabencana, saat tanggap darurat, dan tahap
pascabencana.
5.2. Saran
1. Bagi BPBD
Untuk lebih meningkatkan lagi menajemen penanggulangan bencana dan
menambah fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam penanggulangan
bencana sehingga lebih tangap dalam penanggulangan bencana
2. Bagi Mahasiswa
Harus memaksimalkan sarana dan alat dalam memperoleh pengetahuan
dan pengalaman khususnya segala hal yang berkaitan tentang manajemen
penangulangan bencana.

DAFTAR PUSTAKA
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 Tahun 2008
Tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 46 Tahun 2008 Tentang Pedoman
Organisasi Dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Undang-undang

Republik

Indonesia

Penanggulangan Bencana

Nomor

24

Tahun

2007

Tentang