Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

ANEMIA

A. PENGERTIAN
Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit (sel darah merah) dan kadar
hemoglobin (Hb) dalam setiap millimeter kubik darah. Hampir semua gangguan pada
system peredaran darah di sertai dengan anemi yang di tandai warna kepucatan pada
tubuh, terutama ekstrimitas. (DR.Nursalam, M.Nurs(Hons), dkk ; 2005; 124).
Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah hemoglobin dalam 1
3
mm darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red cell volume)
dalam 100 ml darah. (Ngastyah, 2005 : 328)
Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan
komponen darah, elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk
pembentukan sel darah merah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut
oksigen darah (Doenges, 2000).
Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah,
kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml
darah. (Price, 2006 : 256).
Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah
dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935).
Anemia, adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin atau sel darah merah
dalam darah sangatlah rendah.
B. ANATOMI FISIOLOGI
1. Sel Darah Merah
Sel darah merah atau eritrosit adalah merupakan cairan bikonkaf, yang
berarti bagian tengahnya lebih tipis dari pada bagian tepinya. Jumlah sel darah
merah berkisar antara 4,5 - 6 juta per mm 3 darah (millimeter kubik sekitar satu
tetesan yang sangat kecil). Hitungan sel darah merah pada laki-laki sering kali
berada di ujung atas kisaran ini, sedangkan pada wanita sering kali beraa di ujung
bawah kisaran. Cara lain untuk menentukan jumlah sel darah merah adalah
dengan hematokrit. Pengujian ini dilakukan dengan cara memasukkan darah ke
dalam tabung kapiler kemudian mensenterifungsikannya sehingga sel darah
terkumpul pada satu ujung. Setelah itu persentase sel darah dan plasma dapat di
temukan. Karena sel darah merah adalah sel darah yang paling banyak, total sel
darah pada hematokrit normal sekitar 38%-48%. Hitung sel darah merah dan
hematokrit adalah bagian pemeriksaan darah lengkap.
Sel darah merah mengandung protein hemoglobin (Hb), yang memberi
kemampuan kepada sel darah merah untuk mengangkut oksigen. Setiap sel darah
merah mengandung sekitar 300 juta molekul hemoglobin, yang masing-masing
mengikat oksigen dan membentuk oksihemoglobin. Pada kapiler sistemik ,
hemoglobin akan memberikan sebagian besar oksigennya dan hemoglobin
menjadi berkurang . penentuan kadar hemoglobin juga termasuk bagian

pemeriksaan hitung darah total, kisaran normalny sekitar 12-18 gram per 100 ml
darah. Sangat diperlukan pada pembentukan hemoglobin adalah mineral besi,
terdapat empat atom besi pada setiap molekul hgemoglobin . sebenarnya atom
besilah yang mengikat oksigen dan membuat sel darah merah berwarna merah.
(Valerie C. Scanlon, 2006 : 230).

Gambar sel darah merah


Gambar Sel darah pada anemia
2. Zat Besi
Zat besi bersama dengan protein (globin) dan protoporifirin mempunyai
peranan yang penting dalam pembentukan hemoglobin. Selain itu juga besi
terdapat dalam beberapa enzim yang berperan dalam metabolisme oksidatif,
sintesis DNA, neurotransmiter, dan proses katabolisme. Kekurangan besi akan
di memberikan dampak yang merugikan terhadap system pencernaan, susunan
saraf pusat, kardiovaskular, imunitas dan perubahan tingkat seluler.
Jumlah zat besi yang diserap oleh tubuh di pengaruhi oleh jumlah besi
dalam makanan, bioavailabilitas besi dalam makanan dan penyerapan oleh
mukos usus. Di dalam tubuh orang dewasa mengandung zat besi sekitar
55mg/kgBB atau sekitar 4 gram, lebih kurang 67% zat besi tersebut dalam
bentuk hemoglobin, 30% sebagai cadangan dalam bentuk feritin atau
hemosiderin dan 3% dalam bentuk mioglobin. Hanya sekitar 0,07% sebagai
transferin dan 0,2% sebagai enzim. Bayi baru lahir (BBL) daklam tubuhnya
mengandung besi sekitar 0,5 gram.
Ada 2 cara penyerapan besi dalam usus, yang pertama adalah penyerapan
dalam bentuk non heme (sekitar 90% berasal dari makanan), yaitu besinya
harus diubah dahulu menjadi bentuk yang di serap, sedangkan bentuk yang ke
duua adalah bentuk heme (sekitar 10% berasal dari makanan) besinya dapat
langsung di serap tanpa memperhatikan cadangan besi dalam tubuh, asam
lambung ataupun zat makanan yang dikonsumsi (H. Bmbang Permono. 2006 :
31).
Secara normal , tubuh hanya memerlukan Fe dalam jumlah yang sedikit.
Oleh karena itu, eksresi besi juga sangat sedikit. Pemberian Fe yang berlebihan
dalam makanan dapat mengakibatkan hemosiderosit (pigmen Fe yang
berlebihan akibat penguraian Hb) dan hemokromatosis ( timbunan Fe yang
berlebihan dalam jaringan). Pada masa bayi dan pubertas, kebutuhan Fe
meningkat karena pertumbuhan. Demikian juga dalam keadaan infeksi.
Kekurangan Fe mengakibatkan kekurangan Hb, sehingga pembentukan
eritrosit mengalami penurunan. Disamping itu, tiap eritrosit akan mengandung
Hb dalam jumlah yang lebih sedikt. Akibatnya, bentuk selnya menjadi

hipokromik mikrositik (bentuk sel darah kecil), karena tiap eritrosit


mengandung Hb dalam jumlah yang lebih sedikit. (DR.Nursalam,
M.Nurs(Hons), dkk ; 2005; 125).
3. Asam Folat
Asam folat adalah zat yang berhubungan dengan unsur makanan
yang sangat penting bagi tubuh . Peran utama asam folat ialah dalam
metabolisme intra seluler . Asam folat merupakan bahan esensial untuk sitesis
DNA dan RNA, yang penting sekali yntuk metabolisme inti sel.DNA
digunakan untuk mitosis sedangkan RNA digunakan untuk pematangan sel.
Jadi bila terdapat kekurangan asam folat, banyak sel yang akan antri untuk
memperoleh DNA agar dapat membelah. Tampak eritropoesis meningkat
sampai 3 kali normal..
Defisiensi folat merupakan komplikasi yang sering terjadi pada
penyakit usus halus karena penyakit tersebut dapat mengganggu absorbsi
folat dari makanan dan resirkulasi folat lewat siklus entrohepatik. Pada
alkoholisme akut atau kronik, asufan folat dalam makanann akan terhambat ,
dan siklus entrohepatik akan terganggu oleh efek toksik dari alkohol pada
sel-sel parenkim hati , hal ini menjadi penyebab utama dari defisiensi folat
yang menimbulkan eritropoiesis megaloblastik. (Aru w. Sudoyo, dkk,2006,
643)
C. PENYEBAB
a. Gangguan produksi eritrosit yang dapat terjadi karena:
1) Perubahan sintesis Hb yang dapat menimbulkan anemi deefisiensi Fe,
Thalasemia, dan anemia infeksi kronik.
2) Perubahan sintesis DNA akibat kekurangan nutrient yang dapat
menimbulkan anemi pernisiosa dan anemi asam folat.
3) Fungsi sel induk (stem sel ) terganggu, sseehingga dapat menimbulkan
anemia aplastik dan leukemia
4) Infiltrasi susum tulang, misalnya karena karsinoma
b. Kehilangan darah.
1) Akut karena perdarahan atau trauma/kecelakaan yang terjadi secara
mendadak.
2) Kronis karena perdarahan pada saluran cerna atau menorhagia.
c. Meningkatnya pemecahan eritrosit(hemolisis). Hemolisis dapat tterjadi karena:
1) Faktor bawaan, misalnya kekurangan enzim G6PD (untuk mencegah
kerusakan eritrosit).
2) Faktor yang didapat, yaitu adanya bahan yang dapat merusak eritrosit,
misalnya, ureum pada darah karena ganggguan ginjal atau pengguanaan obat
acetosal.
3) Bahan baku untuk pembentuk eritrosit tidak ada. Bahan baku yang di
maksud adalah protein, asam folat, vitamin B12, dan mineral Fe.
(DR.Nursalam, M.Nurs(Hons), dkk ; 2005; 124).

D. PATOFISIOLOGI
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan susm-sum atau kehilangan
sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum-sum (misalnya,
berkurangnya eritropoesis) dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik,
invasi tumor, atau kebanyakan akibat penyebab-penyebab yang tidak diketahui. Sel
darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi). Pada kasus
yang disebut terakhir, masalahnya dapat akibat defek sel darah merah yang tidak
dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa factor di luar sel
darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam
retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil samping proses ini,
bilirubin,yang terbentuk dalam fagosit, akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan
destruksi sel darah merah (hemolisis) segera di refleksikan dengan peningkatan
bilirubin plasma. (konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau kurang :kadar di atas 1,5
mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera ).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran Dallam sirkulasi, seperti yang
terjadi pada berbagai sirkulasi, seperti yang terjadi pada berbagai kelainan hemolitik,
maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglonemia). Apabila konsentrasi
plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk
hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya ( misalnya, apabila lebih dari sekitar
100 mg/dl), hemoglobin akan terdisfusi dalam gromerulus ginjal dan ke dalam urin
(hemoglobinuria). Jadi ada atau tidaknya hemolobinemia dan hemoglobinuria dapat
memberikan informasi mengenai lokasi penghancuran sel darah merah abnormal
pada paasien dengan hemolisis dan dapat merupakan petunjuk untuk mengetahui
sifat proses hemolitik tersebut. (Brunner & Suddarthat,2002, 935).
E. KLASIFIKASI
a. Klasifikasi anemia menurut faktor morfologi :
1. Anemia hipokromik mikrositer : MCV < 80 fl dan MCH < 27 pg
Sel darah merah memiliki ukuran sel yang kecil dan pewarnaan yang
berkurang atau kadar hemoglobin yang kurang (penurunan MCV dan
penurunan MCH)
a) Anemia defisiensi besi
Untuk membuat sel darah merah diperlukan zat besi (Fe). Kebutuhan
Fe sekitar 20 mg/hari, dan hanya kira-kira 2 mg yang diserap. Jumlah
total Fe dalam tubuh berkisar 2-4 mg, kira-kira 50 mg/kg BB pada pria
dan 35 mg/kg BB pada wanita. Anemia ini umumnya disebabkan oleh
perdarahan kronik. Di Indonesia banyak disebabkan oleh infestasi
cacing tambang (ankilostomiasis), inipun tidak akan menyebabkan
anemia bila tidak disertai malnutrisi. Anemia jenis ini dapat pula
disebabkan karena :
- Diet yang tidak mencukupi
- Absorpsi yang menurun
- Kebutuhan yang meningkat pada wanita hamil dan menyusui

- Perdarahan pada saluran cerna, menstruasi, donor darah


- Hemoglobinuria
- Penyimpanan besi yang berkurang, seperti pada hemosiderosis paru.
b) Thalasemia major
c) Anemia akibat penyakit kronik
Anemia ini dikenal pula dengan nama sideropenic anemia with
reticuloendothelial siderosis. Penyakit ini banyak dihubungkan dengan
berbagai penyakit infeksi seperti infeksi ginjal, paru (abses, empiema,
dll).
d) Anemia sideroblastik
2. Anemia normokromik normositer : MCV 80-95 fl dan MCH 27-34 pg
Sel darah merah memiliki ukuran dan bentuk normal serta mengandung
jumlah hemoglobin dalam batas normal.
a) Anemia pasca perdarahan akut
b) Anemia aplastik
c) Anemia hemolitik didapat
d) Anemia akibat penyakit kronik
e) Anemia pada gagal ginjal kronik
f) Anemia pada sindrom mielodisplastik
g) Anemia leukemia akut
3. Anemia normokromik makrositer : MCV > 95 fl
Sel darah merah memiliki ukuran yang ukuran yang lebih besar dari pada
normal tetapi tetapi kandungan hemoglobin dalam batas normal (MCH
meningkat dan MCV normal).
a)
Bentuk megaloblastik
1) Anemia defisiensi asam folat
Anemia ini umumnya berhubungan dengan malnutrisi, namun
penurunan absorpsi asam folat jarang ditemukan karena absorpsi terjadi
di seluruh saluran cerna. Asam folat terdapat dalam daging, susu, dan
daun daun yang hijau.
2) Anemia defisiensi B12, termasuk anemia pernisiosa
Anemia ini dikenal pula dengan nama sideropenic anemia with
reticuloendothelial siderosis. Penyakit ini banyak dihubungkan dengan
berbagai penyakit infeksi seperti infeksi ginjal, paru (abses, empiema,
dll).
b)
Bentuk non-megaloblastik
1) Anemia pada penyakit hati kronik
2) Anemia pada hipotiroidisme
3) Anemia pada sindrom mielodisplastik
b. Klasifikasi anemia menurut faktor etiologi :
a. Anemia karena produksi eritrosit menurun
a) kekurangan bahan unuk eritrosit (anemia defisiensi besi, dan anemia
deisiensi asam folat/ anemia megaloblastik)
b) gangguan utilisasi besi (anemia akibat penyakit kronik, anemia
sideroblastik)

c) kerusakan jaringan sumsum tulang (atrofi dengan penggantian oleh


jaringan lemak:anemia aplastik/hiplastik, penggantian oleh jaringan
fibrotic/tumor:anemia leukoeritoblastik/mielopstik)
d) Fungsi sumsum tulang kurang baik karena tidak diketahui. (anemia
diserotropoetik, anemia pada sindrom mielodiplastik)
b. Kehilangan eritrosit dari tubuh.
a) Anemia pasca perdarahan akut.
b) Anemia pasca perdarahan kronik
c. Peningkatan penghancuran eritrosit dalam tubuh (hemolisis)
a) Faktor ekstrakorpuskuler
Antibody terhadap eritrosit: (Autoantibodi-AIHA, isoantibodiHDN)
Hipersplenisme
Pemaparan terhadap bahan kimia
Akibat infeksi
Kerusakan mekanik
b) Factor intrakorpuskuler
Gangguan membrane (hereditary spherocytosis, hereditary
elliptocytosis)
Gangguan enzim (defisiensi piruvat kinase, defisiensi G6PD)
Gangguan hemoglobin (hemoglobinopati structural, thalasemia)
(Bakta, 2003:15,16)
F. MANIFESTASI KLINIS
Gejala-gejala umum yang sering dijumpai pada pasien anemia antara lain : pucat,
lemah, cepat lelah, keringat dingin,hypotensi, palpitasi. (Barbara C. Long, 1996).
Takipnea (saat latihan fisik), perubahan kulit dan mukosa (pada anemia defisiensi
Fe). Anorexia, diare, ikterik sering dijumpai pada pasien anemia pernisiosa (Arif
Mansjoer, 2001).
Gejala klinis yang muncul merefleksikan gangguan fungsi dari berbagai system
dalam tubuh antara lain penurunan kinerja fisik, gangguan neurologik (syaraf) yang
di manefestasikan dalam perubahan prilaku, anorexia (badan kurus, kerempeng),
pica, serta perkembangan kognitif yang abnormal pada anak. Sering terjadi juga
abnormalitas pertumbuhan, gangguan fungsi efitel, dan berkurangnya keasaman
lambung. Cara mudah mengenal anemia dengan 5L, yakni lemah, letih, lesu, lelah,
lunglai. Kalau muncul 5 gejala ini, bias dipastikan seseorang terkena anemia. Gejala
lain adalah munculnya sclera (warna pucat pada bagian kelopak mata bawah).
Anemia biasanya menyebabkan kelelahaan, kelemahan, kurang tenaga dan kepala
terasa melayang. Jika anemia bertambah berat bisa menyebabkan stroke atau
serangan jantung. ( Sjaifoellah, 1998 ).
Adapun manifestasi khusus pada anemia :

1. Anemia aplastik: ptekie, ekimosis, epistaksis, ulserasi oral, infeksi bakteri,


demam, anemis, pucat, lelah, takikardi.
2. Anemia defisiensi: konjungtiva pucat (Hb 6-10 gr/dl), telapak tangan pucat (Hb <
8 gr/dl), iritabilitas, anoreksia, takikardi, murmur sistolik, letargi, tidur
meningkat, kehilangan minat bermain atau aktivitas bermain. Anak tampak
lemas, sering berdebar-debar, lekas lelah, pucat, sakit kepala, anak tak tampak
sakit, tampak pucat pada mukosa bibir, farink,telapak tangan dan dasar kuku.
Jantung agak membesar dan terdengar bising sistolik yang fungsional. Perubahan
kulit dan mukosa yang progresif seperti lidah yang halus dan keilosis (pada
defisiensi Fe). Terjadi kelainan neurologis, biasanya dimulai dengan parestesia,
lalu gangguan keseimbangan, dan pada kasus yang berat terjadi perubahan fungsi
cerebral, demensia, dan perubahan neuropsikiatrik lainnya (pada defisiensi
vitamin B12 dan asam folat).
3. Anemia pada penyakit kronik : berkurangnya sideroblas dalam sumsum tulang,
sedangkan deposit besi dalam system retikuloendotelial (RES) normal atau
bertambah.
G. KOMPLIKASI
Anemia juga menyebabka daya tahan tubuh mengurang. Akibatnya, penderita
anemia akan mudah terkena infeksi. Gampang batuk pilek, gampang flu, atau
gampang terkena infeksi saluran nafas, jantung juga menjadi gampang lelah, karena
harus memompa darah lebih kuat. Pada kasus ibu hamil dengan anemia, jika lambat
ditanngani dan berkelanjutan dapat menyebabkan kematian, dan beresiko bagi janin.
Setelah bayi lahir dengan berat badan rendah, anemia bisa juga mengganggu
perkembangan organ-organ tubuh temasuk otak. (Sjaifollah, 1998).
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Jumlah darah lengkap (JDL) : hemoglobin dan hematokrit menurun.
2. Jumlah eritrosit menurun : menurun berat (aplastik), MCV (Volume
3. Corpuscular Merata) dan MCH ( hemoglobin Corpuscular Merata) menurun dan
mikrositik dengan eritrosit hipokronik, peningkatan pansitopenia (aplastik).
4. Jumlah retikulosit : bervariasi, misal: menurun, meningkat (respons sumsum
tulang terhadap kehilangan darah/hemolisis)
5. Pewarna sel darah merah: mendeteksi perubahan warna dan bentuk (dapat
mengindikasikan tipe khusus anemia).
6. LED : Peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, Misal: peningkatan sel
darah merah, atau penyakit malignasi.
7. Masa hidup sel darah merah : berguna dalam membedakan diagnosa anemia,
misal : pada tipe anemia tertentu, sel darah merah mempunyai waktu hidup lebih
pendek.
8. Tes kerapuhan eritrosit : menurun
9. SDP : jumlah sel total sama dengan sel darah merah (diferensial) mungkin
meningkat (hemolitik) atau menurun (aplastik).

10. Jumlah trombosit : menurun (aplastik), meningkat, normal atau tinggi


(hemolitik).
11. Hemoglobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin.
12. Bilirubin serum (tak terkonjugasi): meningkat (hemolitik).
13. Folat serum dan vitamin B12 membantu mendiagnosa anemia sehubungan
dengan defisiensi masukan/absorspsi.
14. Besi serum : tak ada, tinggi (hemolitik).
15. TBC serum : meningkat
16. Feritin serum : meningkat
17. Masa perdarahan : memanjang (aplastik)
18. LDH serum : menurun
19. Tes schilling : penurunan eksresi vitamin B12 urine.
20. Guaiak : mungkin positif untuk darah pada urine, feses, dan isi gaster,
menunjukkan pendarahan akut/kronis.
21. Analisa gaster : penurunan sekresi dengan peningkatan pH dan tak adanya asan
hidroklorik bebas.
22. Aspirasi sumsum tulang/pemeriksasaan/biopsy : sel mungkin tampak berubah
dalam jumlah, ukuran, dan bentuk, membentuk, membedakan tipe anemia, misal
peningkatan megaloblas, lemak sumsum dengan penurunan sel darah (aplastik).
Pemeriksaan andoskopik dan radiografik : memeriksa sisi perdarahan :
perdarahan GI (Doenges, 2000).

I. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
a. Aktifitas / Istirahat
Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum. Kehilangan produktivitas ;
penurunan semangat untuk bekerja. Toleransi terhadap latihan rendah.
Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.
Tanda : takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau istirahat.
Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya.
Kelemahan otot, dan penurunan kekuatan. Ataksia, tubuh tidak tegak. Bahu
menurun, postur lunglai, berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang
menunujukkan keletihan.
b. Sirkulasi
Gejala : riwayat kehilangan darah kronik, misalnya perdarahan GI kronis,
menstruasi berat (DB), angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan).
Riwayat endokarditis infektif kronis. Palpitasi (takikardia kompensasi).
Tanda : TD : peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi
melebar, hipotensi postural. Disritmia : abnormalitas EKG, depresi segmen ST
dan pendataran atau depresi gelombang T; takikardia. Bunyi jantung : murmur
sistolik (DB). Ekstremitas (warna) : pucat pada kulit dan membrane mukosa
(konjuntiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku. (catatan: pada pasien kulit
hitam, pucat dapat tampak sebagai keabu-abuan). Kulit seperti berlilin, pucat
(aplastik, AP) atau kuning lemon terang (AP). Sklera : biru atau putih seperti
mutiara (DB). Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke kapiler
dan vasokontriksi kompensasi) kuku : mudah patah, berbentuk seperti sendok
(koilonikia) (DB). Rambut : kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban
secara premature (AP).
c. Integritas ego
Gejala : keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan,
misalnya penolakan transfusi darah.
Tanda : depresi.
d. Eliminasi
Gejala : riwayat pielonefritis, gagal ginjal. Flatulen, sindrom malabsorpsi
(DB). Hematemesis, feses dengan darah segar, melena. Diare atau konstipasi.
Penurunan haluaran urine.
Tanda : distensi abdomen.
e. Makanan / cairan
Gejala : penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani
rendah/masukan produk sereal tinggi (DB). Nyeri mulut atau lidah, kesulitan
menelan (ulkus pada faring). Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia. Adanya
penurunan berat badan. Tidak pernah puas mengunyah atau peka terhadap es,
kotoran, tepung jagung, cat, tanah liat, dan sebagainya (DB).
Tanda : lidah tampak merah daging/halus (AP; defisiensi asam folat dan
vitamin B12). Membrane mukosa kering, pucat. Turgor kulit : buruk, kering,

f.

g.
h.

i.

j.

k.

tampak kisut/hilang elastisitas (DB). Stomatitis dan glositis (status defisiensi).


Bibir : selitis, misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah. (DB).
Neurosensori
Gejala : sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidak mampuan
berkonsentrasi. Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata.
Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parestesia tangan/kaki (AP) ;
klaudikasi. Sensasi manjadi dingin.
Tanda : peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental : tak
mampu berespons, lambat dan dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik,
AP). Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). Gangguan
koordinasi, ataksia, penurunan rasa getar, dan posisi, tanda Romberg positif,
paralysis (AP).
Nyeri / kenyamanan
Gejala : nyeri abdomen samar : sakit kepala (DB)
Pernapasan
Gejala : riwayat TB, abses paru. Napas pendek pada istirahat dan aktivitas.
Tanda : takipnea, ortopnea, dan dispnea.
Seksualitas
Gejala : perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore
(DB). Hilang libido (pria dan wanita). Imppoten.
Tanda : serviks dan dinding vagina pucat.
Keamanan
Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia. Riwayat terpajan
pada radiasi; baik terhadap pengobatan atau kecelekaan. Riwayat kanker,
terapi kanker. Tidak toleran terhadap dingin dan panas. Transfusi darah
sebelumnya. Gangguan penglihatan, penyembuhan luka buruk, sering infeksi.
Tanda : demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenopati umum.
Ptekie dan ekimosis (aplastik).
Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematik dan menyeluruh.
Perhatian khusus diberikan pada berikut:
1) Warna kulit: pucat, plethora, sianosis, ikterus, kulit telapak tangan kuning
seperti jerami
2) Purpura: petechie dan echymosis
3) Kuku: koilonychias (kuku sendok)
4) Mata: ikterus, konjungtiva pucat, perubahan fundus
5) Mulut: ulserasi, hipertrofi gusi, perdarahan gusi, atrofi papil lidah,
glossitis dan stomatitis angularis
6) Limfadenopati
7) Hepatomegali
8) Splenomegali
9) Nyeri tulang
10) Hemarthrosis atau ankilosis sendi
11) Pembengkakan testis
12) Pembengkakan parotis
13) Kelainan sistem saraf

2. Diagnosa Keperawatan
1) Perubahn perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler
yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrien ke sel.
2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan
/absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.
4) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya
pertahanan sekunder ((penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan
granulost (respons inflamasi tertekan))
5) Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
perubahan sirkulasi dan neurologist.
6) Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet;
perubahan proses pencernaan; efek samping terapi obat.
7) Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat ; salah
interpretasi informasi ; tidak mengenal sumber informasi.
8) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (asam laktat) ditandai
dengan perilaku distraksi (gelisah), pasien mengeluh nyeri kepala, pasien
Nampak meringis, dispneu/takipneu
3. Rencana Keperawatan
1) Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler
yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrien ke sel.
Tujuan : Peningkatan perfusi jaringan
Kriteria hasil :
Menunjukkan perfusi adekuat misalnya, tanda vital stabil; membran mukosa
berwarna merah mudah, pengisian kapiler baik, hluaran urin adekuat; mental
seperti biasa.
Intervensi :
a. Awasi tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit atau membran
mukosa, dasar kuku
Rasional : Memberikan informasi tentang drajat/keadekuatn perfusi
jaringan dan membantu menentukan kebutuhan intervensi.
b. Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi
Rasional : Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenisasi
untuk kebutuhan seluler.
c. Awasi upaya pernafasan ;auskultasi bunyi nafas perhatikan bunyi
adventisius
Rasional : Dispnea, gemericik menunjukkan GJK karena regangan
jantung lama/peningkatan kompensasi curah jantung.
d. Selidiki keluhan nyeri dada, palpitasi.

Rasional : Iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/potensial


resiko infark.
e. Kaji untuk respon verbal melambat, mudah tersingguang, agitasi,
gangguan memori, bingung.
Rasional : Dapat mengidentifikasi gangguan fungsi serebral karena
hipoksia atau defisiensi vitamin B12.
f. Orientasi/orientasikan ulang pasien sesuai kebutuhan. Catat jadwal
aktifitas pasien untuk dirujuk. Berikan cukup waktu untuk pasien berpikir,
komunikasi dan aktifitas.
Rasional: Membantu memperbaiki proses pikir dan kemampuan
melakukan/mempertahankan kebutuhan AKS.
g. Catat keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat
sesuai indikasi.
Rasional: Vasokonstriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi perifer.
Kenyamanan pasien/kebutuhan rasa hangat harus seimbang dengan
kebutuhan untuk menghindari panas berlebihan pencetus vasodilatasi
(penurunan perfusi organ).
h. Hindari penggunaan bantalan penghangat atau botol air panas. Ukur suhu
air mandi dengan termometer.
Rasional : Termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan
oksigen.
i. Awasi pemeriksaan laboratorium, mis.. Hb/Ht dan jumlah SDM, GDA
Rasional :
Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan/respon terhadap
terapi.
j. Berikan SDM darah lengkap/packed, produk darah sesuai indikasi. Awasi
ketat untuk komplikasi transfusi.
Rasional : Meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen: memperbaiki
defisiensi untuk untuk menurunkan resiko perdarahan.
k. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.
Rasional : Memaksimalkan transpor oksigen kejaringan.
l. Siapkan intervensi pembedahan sesuai indikasi.
Rasional : Transplantasi sumsum tulang dilakukan pada kegagalan
sumsum tulang/anemia aplastik.
2) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.
Tujuan : dapat mempertahankan/ meningkatkan ambulasi/aktivitas
Kriteria Hasil :
a) Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari)
b) Menunjukkan penurunan tanda intolerasi fisiologis, misalnya nadi,
pernapasan, dan tekanan darah masih dalam rentang normal
Intervensi :
a. Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas/AKS normal, catat laporan
kelelahan, keletihan, dan kesulitan menyelesaikan tugas

Rasional : Mempengaruhi pilihan interpensi/bantuan


b. Kaji kehilangan/gangguan keseimbangan, gaya jalan dan kelemahan otot
Rasional : Menunjukkkan perubahan neurologi karena defisiensi vitamin B12
mempengaruhi keamanan pasien/resiko cedera.
c. Awasi TD, nadi, pernapasan selama dan sesudah aktifitas. Catat respon
terhadap tingkat aktifitas (mis..peningkatan denyut jantung/TD, disritmia,
pusing, dispnea, takipnea, dan sebagainya}.
Rasional : Manivestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk
membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan.
d. Berikan lingkungan tenang, pertahankan tirah baring bila diindikasikan.
Pantau dan batasi pengunjung, telepon dan gangguan berulang tindakan yang
tak trencanakan.
Rasional : Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh
dan menurunkan regangan jantung dan paru.
e. Ubah posisi pasien dengan berlahan dan pantau terhadap pusing.
Rasional : Hipotensi postural atau hipoksia serepral dapat menyebabkan
pusing, berdenyut dan peningkatan resiko cedera.
f. Perioritaskan jadwal asuhahan keperawatan untuk meningkatkan istirahat.
Pilih priode istirahat dengan priode aktifitas.
Rasional : Mempertahankan tingkat energi dan meningkatkan regangan pada
sistem jantung dan pernapasan.
g. Berikan bantuan dalam aktivitas/ambulasi bila perlu, memungkinkan pasien
untuk melakukannya sebanyak mungkin.
Rasional : Membantu bila perlu, harga diri ditingkatkan bila pasien melakukan
sesuatu sendiri.
h. Rencanakan kemajuan aktifitas dengan pasien, termasuk aktifitas yang pasien
pandang perlu. Tingkatkan tingkat aktifitas sesuai toleransi.
Rasional : Meningkatkan secara bertahap tingkat aktivitas sampai normal dan
memperbaiki tonus otot/stamina tanpa kelelahan, meningkatkan harga diri dan
rasa terkontrol.
i. Gunakan teknik penghematan energi, misalnya mandi dengan duduk, duduk
untuk melakukan tugas-tugas.
Rasional : Mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi
penyimpangan energi dan mencegah kelemahan.
j. Anjurkan pasien untuk menghentikan aktifitas bila palpitasi, nyeri dada, nafas
pendek, kelemahan atau pusing terjadi.
Rasional : Regangan/stres kardiopulmonal berlebihan/stres dapat
dekompensasi/kegagalan.
3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan
untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient
yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil :

a. Menunujukkan peningkatan/mempertahankan berat badan dengan nilai


laboratorium normal.tidak mengalami tanda malnutrisi.
b. Menununjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau
mempertahankan berat badan yang sesuai.
Intervensi :
a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai
Rasional : Mengidentifikasi defisiensi , menduga kemungkinan intervensi
b. Observasi dan catat masukkan makanan pasien.
Mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan
a. Timbang berat badan setiap hari.
Rasional : Mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi
nutrisi
c. Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara waktu
makan
Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan
pemasukan juga mencega distensi gaster.
d. Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan dan gejala lain yang
berhubungan
Rasional : Gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ
e. Kolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet.
Rasional
: membantu dalam membuat rencana diet untuk memenuhi
kebutuhan individual.
f. Kolaborasi ; berikan obat sesuai indikasi , membatu dalam membuat rencan
diet
untuk
memenuhi
kebutuhan
individual.
Kolaborasi ; pantau hasil pemeriksaan laboraturium.( Hb/Ht, BUN,albumin,
protein, transferin, besi serum, B12, asam folat,TIBC, elektrolit serum.
Rasional
: Kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia
dan/atauadanya masukan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi.
4) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan
sekunder ((penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan granulost (respons
inflamasi tertekan))
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil :
a) Mengidentifikasi perilaku untuk mencegah/menurunkan risiko infeksi
b) Meningkatkan penyembuhan luka, bebas drainase purulen atau eritema, dan
demam
Intervensi :
a. tingkatkan cuci tangan yang baik oleh pemberi perawatan dan pasien
Rasional : Mencegah kontaminasi silang/kolonisasi bakterial.
b. Pertahankan tehnik aseptik ketat pada prosedur/perawatan luka
Rasional : Menurunkan resiko kolonisasi/infeksi bakteri.
c. Berikan perawatan kulit dan oral dengan cermat
Rasional : Menurunkan resiko kerusakan kulit/jaringan dari infeksi
d. Dorong perubahanposisi/ambulasi yang sering. Latihan batuk, dan nafas dalam

Rasional : Meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan memebantu


memobilisasi sekresi untuk mencegah pneumonia.
e. Tingkatkan masukan cairan adekuat
Rasional : Membantu dalam pengenceran sekret pernafasanuntuk
mempermudah pengeluaran dan mencegah stasis cairan tybuh (misal;
pernafasan dan ginjal)
f. Pantau/batasi pengunjung. Berikan isolasi bila memungkinkan
Rasional : Membatasi pemajanan pada bakteri/infeksi .
g. Pantau suhu. Catat adanya menggigil dan takikardi dengan atau tanpa demam.
Rasional : Adanya proses inflamasi/infeksi membutuhkan evaluasi/pengobatan
h. Amati eritema/cairan luka
Rasional : Indikator infeksi lokal. Catatan : pembentukan pus mungkin tidak
ada bila granulosit terteka.
i. Kolaborasi dalam pengambilan spesimen untuk kultur/snsitifitas seuai
indikasi.
Rasional : Membedakan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen khusu dan
mempengaruhi pilihan oengobatan
j. Kolaborasi dalam pemberian antiseptik; antibiotik sistemik.
Rasional : Mungkin gunakan secar propilaktik untuk menurunkan kolonisasi
atau untuk pengobatan proses infeksi lokal.
5) Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan
sirkulasi dan neurologist.
Tujuan : dapat pertahankan integritas kulit
Kriteria hasil :
- Mempertahankan integritas kulit
- Mengidentifikasi faktor resiko/prilaku individu untuk mencegah cedera
dermal
Intervensi :
a. Kaji integritas kulit, catat perubahan pada turgor, gangguan warna, hangat
local, eritema, ekskoriasi.
Rasional : Kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi, dan imobilisasi.
Jaringan dapat menjadi rapuh dan cenderung untuk infeksi dan rusak.
b. Ubah posisi secara periodik dan pijat permukaan tulang bila pasien tidak
bergerak atau ditempat tidur .
Rasional : Meningkatkan sirkulasi kesemua area kulit membatasi iskemia
jaringan/mempngaruhi hipoksia seluler.
c. Ajarkan permukaan kulit kering dan bersih. Batasi penggunaan sabun
Rasional : Area lembab, terkontaminasi memberikan media yang sangat baik
untuk pertumbuhan organisme patogenik. Sabun dapat mengeringkan kulit
secara berlebihan dan meningkatkan iritasi.
d. Bantu untuk latihan rentang gerak
Rasional : Meningkatkan sirkulasi jaringan
6) Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet; perubahan
proses pencernaan; efek samping terapi obat.

Tujuan : Tidak terjadi konstipasi atau diare


Kriteria harsil :
a. Membuat/kembali pola normal dari fungsi usus
b. Menunjukkan perubahan perilaku/pola hidup, yang diperlukan sebagai
penyebab, faktor pemberat.
Intervensi :
a. Observasi warna feses, konsistensi, frekuensi dan jumlah.
Rasional : Membantu mengidentifikasi penyebab/faktor pemberat dan
interpensi yang tepat.
b. Auskutasi bunyi usus
Rasional : Bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada
konstipasi
c. Awasi masukan dan haluaran dengan perhatian khusus pada makanan/sayuran
Rasional : Dapat mengiidentifikasi dehidrasi, kehilangan berlebihan atau alat
dalam mengidentifikasi defisiensi diet.
d. Dorong masukan cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung
Rasional : Membantu dalam memperbaiki konsistensi feses bila konstifasi.
Akam membantu mempertahankan status dehidrasi pada diare.
e. Hindari makanan yang membentuk gas
Rasional : Menurunkan distres gastrik dan distensi abdomen
f. Kaji kondisi kulit perianal dengan sering, catat perubahan dalam kondisi kulit
atau mulai kerusakan. Lakukan perawatan perianal setiap defekasi bila terjadi
diare.
Rasional : Mencegah eskoriasi kulit dan kerusakan
g. Konsul dengan ahli gizi untuk memberikan diet seimbang dengan tinggi serat
dan bulk.
Rasional : Serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam
alirannya sepanjang traktus intestinal dan dengan demikian menghasilkan
bulk, yang bekerja untuk perangsang untuk defekasi.
h. Berikan pelembek feses, stimulan ringan, laksatif pembentuk bulk, atau enema
sesuai indikasi. Pantau keefektipan.
Rasional : Mempermudah defekasi bila konstifasi terjadi
i. Berikan obat anti diare misalnya difenoksilat hydroklorida dengan atropin
(lomotil) dan obat pengabsorbsi air misalnya metamocil.
Rasional : Menurunkan motilitas usus bila diare terjadi.
7) Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat ; salah
interpretasi informasi ; tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan : keluarga atau klien dapat mengerti tentang proses
penyakitnya/pengobatan
Kriteria hasil :
a. Menyatakan pemahaman proses penyakit, prosedur diagnostig, dan rencana
pengobatan.
b. Mengidentifikasi faktor penyebab
c. Melakukan tindakan yang perlu/perubahan pola hidup

Intervensi :
a. Berikan informasi tentang anemia spesifik. Diskusikan kenyataan bahwa
terapi tergantung pada tipe dan beratnya anemia
Rasional : Memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat membuat
pilihan yang tepat. Menurunkan ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama
dalam program terapi.
b. Tinjau tujuan dan periapan untuk pemeriksaan diagnostig
Rasional : Ansietas/takut tentang ketidaktahuan meningkatkan tingkat stres,
yang selanjutnya meningkatkan beban jantung. Pengetahuan tentang apa yang
diperkirakan menurukan ansietas.
c. Jelaskan bahwa darah diambil untuk pemeriksaan laboratorium tidak akan
memperburuk anemia.
d. Tinjau perubahan diet yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan diet
khusus (ditentukan oleh tipe anemia/defisiensi).
Rasional : Daging merah hati, kuning telur sayuran berdaun hijau, biji
bersekan dan buah yang dikeringkan adalah sumber besi. Sayuran hijau, hati
dan buah asam adalah sumber asam folat dan vitamin C (meningkatkan
absorpsi besi).
e. Kaji sumber-sumber (misalnya keuangan dan memasak)
Rasional : Sumber tidak adekuat dapat mempengaruhi kemampuan unutuk
membuat/menyiapkan makanan yang tepat.
f. Diskusi pentingnya hanya meminum obat yang diresepkan
Rasional : Kelebihan obat besi dapat menjadi toksik
g. Sarankan minum obat dengan makanan atau segera setelah makan.
Rasional : Besi paling baik diapsorpsi pada lambung kosong. Namun garam
besi merupakan iritan lambung dan dapat menyebabkan dispepsia, diare, dan
distensi abdomen bila diminum saat lambung kosong.
8) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (asam laktat) ditandai
dengan perilaku distraksi (gelisah), pasien mengeluh nyeri kepala, pasien Nampak
meringis, dispneu/takipneu
Tujuan : Nyeri pasien terkontrol dengan kriteria hasil:
- klien melaporkan nyeri berkurang,
- klien tidak meringis,
- RR dalam batas normal (18-22x/menit)
Intervensi :
Mandiri :
1) Kaji keluhan nyeri, catat intensitasnya (dengan skala 0-10), karakteristiknya,
lokasi, lamanya.
R/: mempermudah melakukan intervensi dan melihat ketepatan intervensi.
2) Observasi adanya tanda-tanda nyeri non-verbal seperti ekspresi wajah, posisi
tubuh, gelisah, menangis atau meringis, perubahan frekuensi jantung,
pernapasan, tekanan darah.
R/: merupakan indicator/derajat nyeri yang tidaklangsung dialami.
3) Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam

R/: mengurangi rasa nyeri yang bersifat akut


Kolaborasi :
4) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi seperti analgetik
R/: untuk mengurangi rasa sakit/nyeri

DAFTAR PUSTAKA

Bakta, I Made. 2003. Hematologi Klinik Dasar.Jakarta:EGC


Brunner & Suddarth. 1997. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Catherino jeffrey M.2003.Emergency medicine handbook USA:Lipipincott Williams
Doenges, Marylinn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Ed. 3, EGC: Jakarta.
Harlatt, Petit. 1997. Kapita Selekta Hematologi. Edisi 2. Jakarta : EGC
Joanne McCloskey Dochterman; Gloria N. Bulecheck. 2002. Nursing Interventions
Classification (NIC), Fourth Edition. US : Mosby Elsevier
Kahsasi, Daniel. 2009. Anemia Acute. http://emedicine.medscape.com/ . Diakses pada 5
Oktober 2015 pukul 16.00 WITA
Long, Barbara C.1996. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan).
Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Bandung.
Mansjoer, Arief. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. FK UI : Media Aesculapius
Moorhead,Sue ; Johnson,Marion ; Mass,Meridean L. ; Swanson,Elizabeth. 2008. Nursing
Outcomes Classification (NOC), Fourth Edition.US : Mosby Elsevier
NANDA. 2006. Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2005-2006. Jakarta : Prima
Medika
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
NOC. Jakarta : EGC
Nanda.2005.Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda definisi dan Klasifikasi 20052006.Editor : Budi Sentosa.Jakarta:Prima Medika
Price, S.A. 2000. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC
Smeltzer, C.S.2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth. Edisi 8.
Jakarta : EGC