Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Dunia sekarang ini terasa semakin sempit saja, hal ini disebabkan dengan
adanya berbagai kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan transportasi,
bahkan istilah buku adalah jendela dunia rasa-rasanya sudah tidak tepat untuk
dipakai di masa sekarang ini, karena buku bukanlah satu-satunya lagi sumber
pengetahuan kita untuk mengetahui isi dunia ini. 1
Kriminalitas adalah tindakan melawan hukum yang nampaknya di
masyarakat kita sekarang ini sudah menjadi suatu hal yang tidak ditabukan lagi
dan biasa, hal ini dapat kita lihat dengan makin banyaknya berita-berita tentang
kriminalitas di berbagai media, bahkan sampai membuat media-media tersebut
memberikan tempat tersendiri terhadap berita-berita tentang kriminalitas. Ini
merupakan suatu hal yang sangat meresahkan, bahkan sekarang ini kriminalitas
seolah-olah telah menjadi sebuah subculture atau salah satu bagian tersendiri dari
budaya dalam masayarakat moderen (bukan lagi hanya sebuah penyimpangan
pranata sosial belaka). 1
Karena kriminalitas di dalam masyarakat sekarang ini bukan lagi
merupakan sesuatu yang dirahasiakan lagi, melainkan sudah menjadi bagian yang
tak terpisahkan dari masyarakat moderen, bahkan para pelaku kriminalitas
sekarang ini tidak lagi malu akan perbuatan yang telah mereka lakukan, tetapi
malah bangga dengan apa yang telah mereka lakukan, dengan anggapan sebagian
dari mereka bahwa ini adalah lahan pekerjaan baru di tengah persaingan
pencarian pekerjaan yang sangat ketat di jaman moderen ini. Hal ini juga yang
akhirnya mendasari para pelaku kriminal menjadikan perbuatan mereka lebih
profesional dengan berbagai cara, bahkan merekapun mendirikan organisasiorganisasi untuk mewadahi atau memperlancar aktifitas mereka, walaupun tidak

semua tindakan kriminal bertendensi atau bermotif ekonomi atau mencari untung,
ada juga yang bermotif dendam, nafsu, dan bahkan ada pula yang hanya bermotif
iseng belaka. 1
Tindak kriminal di jaman moderen ini sudah sangat bervariasi, berbeda
dengan jaman dahulu yang hanya mengenal tindak kriminal hanya sebatas
pencurian, pembunuhan, pemerkosaan dan tindakan-tindakan lain yang sejenis,
tetapi di jaman moderen ini tindak kriminal juga menjadi sangat beragam, mulai
dari tindak-tindak kriminal umum semacam contoh di atas, hingga muncul juga
tindak-tindak kriminal jenis baru seperti pemalsuan uang, pemalsuan surat-surat
penting, kejahatan-kejahatan dalam dunia maya atau lebih dikenal dengan istilah
cyber crime, dan masih banyak lagi. Hal ini berakibat semakin sulitnya kasuskasus tentang kriminal yang ada untuk dipecahkan karena selain kasus yang ada
semakin banyak, kasus-kasus tersebut juga berkaitan dengan kemajuan teknologi
yang ada. 1,2
Untuk itulah diperlukan adanya penanggulangan terhadap kejahatan atau
kriminalitas, sehingga hal-hal seperti yang telah disebutkan diatas tidak perlu
terjadi. Tentu saja untuk melakukan penanggulangan diperlukan berbagai sarana
dan

prasarana

ditambah

dengan

ilmu

pengetahuan

yang

menunjang

penanggulangan terjadinya tindak kejahatan. Dalam bidang sarana dan prasarana


penanggulangan kejahatan dapat disebutkan antara lain pihak kepolisian, adanya
siskamling (sistem keamanan lingkungan), pembentukan hansip (pertahanan sipil)
atau linmas (perlindungan masyarakat), adanya pos ronda, serta sarana dan
prasarana yang lain. Sedangkan dari segi ilmu pengetahuan terdapat beberapa
ilmu penunjang untuk menanggulangi adanya tindak kejahatan, antara lain
kriminologi

(mempelajari

proses

terjadinya

kejahatan

di

masyarakat),

kriminalistik (mempelajari berbagai macam tindak kejahatan), ilmu pengetahuan


agama (untuk mencegah manusia berbuat jahat), pendidikan moral, dan lain
sebagainya. 1,3

Pencegahan ataupun penanggulangan saja tidaklah cukup, dibutuhkan juga


hal-hal untuk menghadapi kejahatan yang telah terjadi, karena jika telah terjadi
kita tidak bisa mencegah lagi, melainkan harus mengusutnya hingga tuntas, untuk
itu diperlukan ilmu pengetahuan seperti ilmu hukum pidana (untuk menghadapi
atau menentukan hukuman tindak kejahatan yang telah terjadi) ilmu hukum acara
pidana (mengatur tata cara penyelesaian kasus pidana), dan ilmu forensik (untuk
membantu mempermudah pengungkapan suatu kasus kejahatan). 3
Jika dilihat secara sekilas, nampaknya ilmu forensik memiliki peranan
yang penting dalam pengungkapan sebuah tindak kejahatan yang telah terjadi,
terutama terhadap kasus-kasus yang sulit dipecahkan atau membutuhkan teknik
khusus dalam pengungkapannya. Hal ini karena ilmu forensik memang diciptakan
untuk mempermudah proses peradilan terutama dalam hal pembuktian, yang mana
ilmu forensik sendiri terdiri dari berbagai macam ilmu pengetahuan seperti
pathologi dan biologi, toksikologi, kriminalistik, kedokteran forensik, antropologi,
jurisprudensi, psikologi dan masih banyak lagi, sehingga orang sering menyebut
ilmu forensik sebagai ilmu dewa, karena dengan ilmu forensik kita dapat
mengetahui berbagai macam hal yang sebelumnya tidak kita ketahui. 3
Dilihat dari hal-hal yang telah dibahas di atas sebenarnya seberapa
pentingkah arti dari ilmu forensik hingga kita terutama pihak peradilan sangat
membutuhkannya? Ilmu forensik amatlah penting bagi peradilan, terutama pihak
kepolisian karena untuk membantu memecahkan kasus atau tindak kejahatan yang
terjadi, terutama kasus-kasus yang sulit untuk menentukan tersangkanya ataupun
pembuktiannya. Dari hal-hal di atas dapat kita lihat bahwa sebenarnya ilmu
forensik adalah ilmu pengetahuan yang amat vital dan penting terutama dalam hal
penegakan hukum, karena tanpa adanya ilmu pengetahuan forensik maka
penegakan hukum akan berjalan lambat sebagai akibat dari banyaknya kasus
kejahatan yang tak terpecahkan. Tetapi sepertinya hal ini kurang disadari oleh
masyarakat di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari sedikitnya bahan-bahan
pengetahuan tentang ilmu pengetahuan forensik berbahasa Indonesia yang khusus

diterbitkan untuk khalayak umum, buku-buku yang ada masih dikhususkan untuk
para akademisi dan para praktisi di bidang ini, selain itu masih ditambah
pengetahuan masyarakat yang masih sempit terhadap arti dari ilmu pengetahuan
forensik itu sendiri, mereka menganggap ilmu pengetahuan forensik hanya sebatas
pemeriksaan mayat untuk mengetahui sebab-sebab kematiannya.
Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah
tidak dikenal, jenazah yang rusak, membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan
masal, bencana alam, huru hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal,
serta potongan tubuh manusia atau kerangka.Selain itu identifikasi forensik juga
berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayi tertukar, atau
diragukan orangtua nya.Identitas seseorang yang dipastikan bila paling sedikit dua
metode yang digunakan memberikan hasil positif.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Identifikasi
2.1.1 Definisi Identifikasi
Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup
maupun mati, berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut.
Identifikasi juga diartikan sebagai suatu usaha untuk mengetahui identitas
seseorang melalui sejumlah ciri yang ada pada orang tak dikenal, sedemikian rupa
sehingga dapat ditentukan bahwa orang itu apakah sama dengan orang yang
hilang yang diperkirakan sebelumnya juga dikenal dengan ciri-ciri itu. Identifikasi
forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan
untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses peradilan.1,2
Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah
tidak dikenal, jenazah yang rusak, membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan
masal, bencana alam, huru hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal,
serta potongan tubuh manusia atau kerangka.Selain itu identifikasi forensik juga
berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayi tertukar, atau
diragukan orangtua nya.Identitas seseorang yang dipastikan bila paling sedikit dua
metode yang digunakan memberikan hasil positif.1
2.1.2. Metode Identifikasi Secara Medis
Identifikasi medis, yaitu berbagai macam pemeriksaan identifikasi yang
diselenggarakan penanganannya oleh pihak medis, yaitu apabila pihak polisi
penyidik tidak dapat menggunakan sarana identidikasi konvensional atau kurang
memperoleh hasil identifikasi yang meyakinkan, antara lain:
a. Pemeriksaan ciri-ciri tubuh yang spesifik maupun yang non-spesifik secara medis
melalui pemeriksaan luar dan dalam pada waktu otopsi. Beberapa ciri yang
spesifik, misalnya cacat bibir sumbing atau celah palatum, bekas luka ata operasi
luar (sikatrik atau keloid), hiperpigmentasi daerah kulit tertentu, tahi lalat, tato,
bekas fraktur atau adanya pin pada bekas operasi tulang atau juga hilangnya
5

bagian tubuh tertentu dan lain-lain. Beberapa contoh ciri non-spesifik antara lain
misalnya tinggi badan, jenis kelamin, warna kulit, warna serta bentuk rambut dan
mata, bentuk-bentuk hidung, bibir dan sebagainya.
b. Pemeriksaan ciri-ciri gigi melalui pemeriksaan odontologis.
c. Pemeriksaan ciri-ciri badan atau rangka melalui pemeriksaan antropologis,
antroposkopi dan antropometri.
d. Pemeriksaan golongan darah berbagai sistem: ABO, Rhesus, MN, Keel, Duffy,
HLA dan sebagainya.
e. Pemeriksaan ciri-ciri biologi molekuler sidik DNA dan lain-lain
2.1. 3. Dasar-Dasar Identifikasi Forensik
Dasar hukum dan undang-undang bidang kesehatan yang mengatur
identifikasi jenasah adalah : 3
a) Berkaitan dengan kewajiban dokter dalam membantu peradilan diatur dalam
KUHAP pasal 133 :
1. Dalam hal penyidik untuk membantu kepentingan peradilan menangani seorang
korban baik luka, keracunan ataupun mati yang di duga karena peristiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli
kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3. Mayat yang dikirimkan kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada
rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap
mayat tersebut dan diberi label yang memuatkan identitas mayat, dilak dengan
diberi cap jabatan yang diilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan
mayat.
b) Undang-Undang Kesehatan Pasal 79

1. Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia juga kepada pejabat
pegawai negeri sipil tertentu di Departemen Kesehatan diberi wewenang khusus
sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam UU No 8 tahun 1981 tentang
Hukum Acara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana sebagaimana
diatur dalam undang-undang ini.
2. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang :
a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan.
b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan.
c. Meminta keteragan dan bahan bukti dari orang atau badan usaha.
d. Melakukan pemeriksaan atas surat atau dokumen lain.
e. Melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti.
f. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan.
g. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti sehubungan
dengan tindak pidana di bidang kesehatan.
3. Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan
menurut UU No 8 tahun 1981 tentang HAP.
2.1.4. Objek Identifikasi
Seperti yang sudah diseutkan di muka bahwa objek identifikasi dapat berupa
orang yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Identifikasi terhadap
orang tak dikenal yang masih hidup meliputi: 8
1. Penampilan umum (general appearance), yaitu tinggi badan, berat badan, jenis
kelamin, umur, warna kulit, rambut dan mata. Melalui metode ini diperoleh data
tentang jenis kelamin, ras, perkiraan umur dan tingi badan, kelainan pada tulang
dan sebagainya.

Tabel 1. Perbedaan Anatomis Jenis Kelamin Pria Dan Wanita

Pria

Panggul

Lebih

Wanita
kecil

dari

bahu

Lebih lebar dari bahu

Posture

Besar

Kecil

Payudara

Jarang berkembang

Berkembang

Jakun

Menonjol

Tidak menonjol

Striae

Tidak ada

Ada, payudara dan bokong

Rambut

Tebal,

pubis

tumbuh

melebar - pusar

Lurus,

hanya

Ada di wajah, dada

Tidak ada

Kelamin

Testis,

Ovarium,tuba

Tengkorak

Proporsi
perut
Paha

mons

veneris

Rambut

dalam

di

prostate,

vesikula seminalis
Lebih besar, berat
dan tebal

fallopi,

vagina
Lebih kecil, ringan dan
tipis

Lebih kecil

Lebih besar

Bentuk silinder

Bentuk kerucut

2. Pakaian
3. Sidik jari
4. Jaringan parut
5. Tato
6. Kondisi mental
7. Antropometri
Tugas melakukan identifikasi pada orang hidup tersebut menjadi tugas pihak
kepolisian. Dalam hal-hal tertentu dapat dimintakan bantuan dokter, misalnya
pada kasus pemalsuan identitas di bidang keimigrasian atau kasus penyamaran
oleh pelaku kejahatan.8
Sedangkan identifikasi terhadap orang yang sudah meninggal dunia dapat
dilakukan terhadap:8
1. Jenazah yang masih baru dan utuh
2. Jenazah yang sudah membusuk dan utuh
3. Bagian-bagian dari tubuh jenazah
Cara melakukan identifikasi pada jenazah yang masih baru dan utuh oleh
pihak kepolisian seperti yang dilakukan terhadap orang hidup. Adapun hal-hal
yang ditemukan di dalam otopsi oleh dokter (misalnya penyakit, cacat tubuh,
bekas operasi atau bekas trauma) dapat digabungkan dengan hasil pemeriksaan
pihak kepolisian.8
Pada jenazah utuh yang sudah membusuk mungkin dapat diketahui jenis
kelamin, tinggi badan dan umurnya. Tetapi jika tingkat pembusukannya sudah
sangat lanjut mungkin sisa pakaian, perhiasan, jaringan parut, tatto atau kecacatan
fisik akan bermanfaat bagi kepentingan identifikasi. Sedangkan identifikasi yang
lebih akurat dapat dilakukan dengan memanfaatkan gigi geliginya. Sebagaimana
diketahui bahwa gigi merupakan bagian tubuh manusia yang paling tahan
terhadap pembusukan, kebakaran dan reaksi kimia.8
Sebagai suatu metode identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan
sebagai berikut : 5,8

1.

Gigi merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan dan


pengaruh lingkungan yang ekstrim.

2.

Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan
restorasi gigi menyebabkan identifikasi dengan ketepatan yang tinggi.

3.

Kemungkinan tersedianya data antemortem gigi dalam bentuk catatan


medis gigi (dental record) dan data radiologis.

4.

Gigi

geligi

merupakan

lengkungan

anatomis,

antropologis,

dan

morfologis, yang mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi,
sehingga apabila terjadi trauma akan mengenai otot-otot tersebut terlebih dahulu.
5.

Bentuk gigi geligi di dunia ini tidak sama, karena berdasarkan penelitian
bahwa gigi manusia kemungkinan sama satu banding dua miliar.

6.

Gigi geligi tahan panas sampai suhu kira-kira 400C.

7.

Gigi geligi tahan terhadap asam keras, terbukti pada peristiwa Haigh yang
terbunuh dan direndam dalam asam pekat, jaringan ikatnya hancur, sedangkan
giginya masih utuh.

Gambar 2 : Identifikasi Gigi pada Jenazah

10

Pada gambar diatas menunjukkan bahwa gigi tetap dalam keadaan utuh pada
suhu yang tinggi, walaupun tubuh telah rusak, tetapi gigi masih dapat
diidentifikasi. Batasan dari forensik odontologi terdiri dari identifikasi dari mayat
yang tidak dikenal melalui gigi, rahang dan kraniofasial. 5,8
1.

Penentuan umur dari gigi.

2.

Pemeriksaan jejas gigit (bite-mark).

3.

Penentuan ras dari gigi.

4.

Analisis dari trauma oro-fasial yang berhubungan dengan tindakan


kekerasan.

5.

Dental jurisprudence berupa keterangan saksi ahli.

6.

Peranan pemeriksaan DNA dari bahan gigi dalam identifikasi personal.


Jika yang ditemukan bukan jenazah yang utuh, melainkan sisa-sisa tubuh
manusia maka pertama-tama yang perlu dilakukan adalah menentukan apakah
sisa-sisa itu benar-benar berasal dari tubuh manusia. Jika benar maka tindakan
selanjutnya adalah menentukan jenis kelamin, umur, tinggi badan dan sebagainya.
Seringkali bagian-bagian dari tubuh manusia ditemukan di berbagai tempat yang
terpisah sehingga timbul pertanyaan apakah bagian-bagian itu berasal dari
individu yang sama. Guna memastikannya diperlukan pemeriksaan DNA atau
precipitin test.8
2.1.5. Bantuan Dokter Pada Proses Identifikasi
Bantuan yang dapat diberikan oleh dokter pada proses identifikasi meliputi:8

1. Menentukan manusia atau bukan


Jika ditemukan tulang-tulang maka kadang-kadang tulang dari beberapa
binatang tertentu mirip tulang manusia. Cakar dari beruang misalnya, hampir
mirip bentuknya dengan tangan manusia. Dengan pemeriksaan yang teliti akan
dapat dibedakan apakah tulang yang ditemukan berasal dari manusia atau
binatang.
Yang agak sulit adalah jka ditemukan itu berupa tulang yang tak khas
(undentifiable bones) atau jaringan lunak. Dalam hal ini pemeriksaan yang

11

diperlukan untuk dapat menentukan manusia atau binatang adalah pemeriksaan


imunologik (precipitin test).
2. Menentukan jenis kelamin
Pada korban atau pada mayat yang sudah membusuk dimana penentuan jenis
kelamin tidak mungkin dilakukan dengan pemeriksaan luar maka penentuan jenis
kelamin dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan pada:
a. Jaringan lunak tertentu:
Uterus dan prostat merupakan jaringan lunak yang lebih tahan terhadap
pembusukan dan dapat digunaan untuk menentukan jenis kelamin. Dari jaringan
lunak juga dapat dilakukan pemeriksaan sex chromatin untuk menetukan jenis
kelamin, terutama jaringan kulit dan tulang rawan. Metode ini juga berguna bagi
penentuan jenis kelamin pada mayat yang terpotong-potong.

b. Tulang-tulang tertentu
Pada orang dewasa, beberapa tulang tertentu bentuknya berbeda antara lakilaki dan wanita. Tulang-tulang itu antara lain tengkorak, pelvis, tulang panjang,
rahang dan gigi.

Tabel 2 Perbandingan Tengkorak laki-laki dan wanita


Tengkorak
Dahi
Tepi orbita
Orbital
Tonjolan mastoid
Rigi
(muscle-

Laki-laki
Rendah
Lebih menonjol
Persegi empat
Besar
Kasar(nyata)

Wanita
Tinggi
Kurang menonjol
Bulat
Kecil
Halus

ridges)

12

Tabel 3 Perbandingan Pelvis Laki-laki dan Wanita


Pelvis
Bentuk
Arcus pubis
Foramen ischiadica
Incisura ischiadica
Os sacrum

Laki-laki
Sempit dan panjang
< 90 derajat
Oval
Lebih dalam
Kurang lebar

Wanita
Lebar dan pendek
>90 derajat
Segitiga
Lebih dangkal
Lebih lebar

Tulang panjang pada laki-laki lebih masive (terutama disekitar sendi) dan rigi
perlekatan otot lebih nyata. Bentuk rahang dan gigi antara laki-laki dan wanita
juga berbeda sehingga dapat dimanfaatan untuk kepentingan identifikasi jenis
kelamin. Rahang pada laki-laki umumnya seperti huruf V sdangkan pada wanita
seperti huruf U. Gigi dan akar gigi permanen pada laki-laki lebih besar dari pada
wanita.
3. Menentukan umur
Tulang manusia dan gigi juga dapat memberikan informasi penting bagi
perkiraan umur manusia. Namun signifikan dari pemeriksaan tulang bergantung
pada besarnya penyebaran kelompok umur sehingga perlu dikelompokan secra
terpisah menjadi kelompok fetus, neonatus, anak-anak, adolescen dan dewasa.
Pada fetus dan neonatus, perkiran didasarkan pada inti penulangan yang dapat
dilihat melalui pemeriksaan ronsenologik atau otopsi. Oleh para ahli telah disusun
tabel pembentuan inti penulangan dari berbagai tulang, mulai dari kehidupan
intrauterin sampai pada kehidupan di luar kandungan. Pada anak-anak dan
adolesen sampai umur 20 tahun, yang paling berguna bagi penentuan umur adalah
penutupan epifise. Seperti diketahui bahwa penutupan epifise juga mengikuti
uruta kronologi. Memang tingkat ketelitiannya rendah sehingga perlu dikombinasi
dengan pemeriksaan lain.
Pada kelompok dewasa (yaitu sesudah berumur 20 tahun), perkiraan umur
dengan menggunakan tulang menjadi lebih sulit. Beberapa petunjuk yang dapat
dipakai antara lain, penutupan sutura, perubahan sudut rahang dan adanya proses
penyakit.
Penentuan umur dengan menganalisis jaringan yang akan tumbuh menjadi gigi
pada bayi di dalam kandungan mempunyai derajat kecermatan yang tinggi.
13

Sesudah dilahirkan penentuan umur dapat dilakukan dengan mendasarkan pad


mineralisasi, pembentukan mahkota gigi, erupsi gigi dan resobsi apicalis. Dengan
menggunakan formula matematik, Gustafson telah menyusun rumus yang dapat
digunakan untuk membantu menentukan umur melalui pemeriksaan gigi.
4. Menentukan tinggi badan
Salah satu informasi penting yang dapat digunakan untuk melacak identitas
seseorang adalah informasi tentang tinggi badan. Oleh sebab itu pada pemeriksaan
jenazah yang tak diketahui identitasnya perlu diperiksa tinggi badannya. Memang
tidak mudah mendapatkan tinggi badan yang tepat dari pemeriksaan yang
dilakukan sesudah mati, meskipun yang diperiksa itu jenazah yang utuh. Perlu
diketahui bahwa ukuran orang yang sudah mati biasanya sedikit lebih panjang
(sekitar 2,5 cm) dari pada tinggi badan waktu hidup.
Jika yang diperiksa jenazah yang tidak utuh maka penentuan tinggi badan
dapat dilakukan dengan menggunakan tulng-tulang panjang. Hanya dengan
sepotong tulang panjang yang utuh umur pemiliknya dapat diperkirakan, tetapi
hasil yang lebih akurat dapat diperoleh jika tersedia beberapa jenis dari tulang
panjang. Untuk kepentingan perhitungan tersebut ada banyak rumus yang dapat
dipakai dan salah satunya adalah rumus Karl Pearson.

2.2. Analisis DNA pada Kasus Paternitas


Sejak ditemukannya penerapan teknologi DNA dalam bidang kedokteran
forensik, pemakaian analisis DNA untuk penyelesaian kasus-kasus forensic juga
semakin meningkat. Penerimaan bukti DNA dalam persidangan di berbagai
belahan dunia semakin memperkokoh peranan analisis DNA dalam sistem
peradilan.9
Secara umum teknologi DNA dimanfaatkan untuk identifikasi personal,
pelacakan hubungan genetic (disrupted parentage atau kasus ragu orang tua) dan
pelacakan sumber bahan biologis. Peranantes DNA tersebut dalam proses
penegakan hokum dapat dilihat dari pemanfaatan teknologi DNA tersebut untuk
identifikasi personal dilakukan pada kasus penemuan korban tidak dikenal, seperti

14

pada kasus kecelakaan, pembunuhan, bencana massal, kecelakaan pesawat


terbang, dsb. Pelacakan hubungan anak-orang tuadilakukan pada kasus dugaan
perselingkuhan, kasus ragu ayah, kasus ragu ibu, kasus bayi tertukar, kasus
imigrasi,dsb.
2.2.1. Pelacakan sumber bahan biologis
Pelacakan sumber bahan biologis adalah pemeriksaan barang bukti renik
(trace evidence) dalam rangka pencarian pelaku delik susila (pemeriksaan bercak
mani usapan vagina,kerokan kuku),pencarian korban (bercakdarah pada pakaian
tersangka, di TKP,serta analisis sel pada bullet cytology), serta analisis potongan
tubuh pada kasus mutilasi.9,11
Pengetahuan mengenai siapa ayah dan ibu kandung dari seorang anak
mempunyai banyak pengaruh bagi para pihak yang terkait. Pertama, informas
imengenai siapa orangtua biologis dari seorang anak akan menunjukkan pasangan
tersebut sebagai orang pertama yang (seharusnya) merupakan lingkaranterdalam
lingkungan anak tersebut. Kedua, pengetahuan itu memberikan hak tertentu
kepada anak tersebut berupa hak pengasuhan, hak mendapatkan santunan biaya
hidup dan hak waris dari orangtuanya. Ketiga, adanya hubungan tersebut
memberikan kewajiban tertentu kepada orangtuanya, diantaranya kewajiban
memberikan asuhan, warisan, dan memberikan nafkah serta hak untuk membawa
anak tersebut ke negara tempat orangtuanya berasal.11
Kasus paternitas sesungguhnya merupakan sebagian saja dari kasus sengketa
asal-usul.

Sengketa

asal

usul

berdasarkan

objek

sengketanya

dapatdigolongkanmenjadibeb rapajeniskasus, yaitu:9-11


1. Kasus ragu orang tua (disrupted parentage): yaitu kasus yang mencari pembuktian
siapa orangtua dari seorang anak. Yang termasuk dalam kategori ini adalah kasus
imigrasi, kasus pencarian orang tua pada kasus penculikan, bayi tertukar, kasus
terpisahnya keluarga pada masa perang atau bencana dan kasus identifikasi
korban tidak dikenal.
2. Kasus ragu ayah (disrupted paternity): yaitu kasus yang mencari pembuktian
siapa ayah kandung dari seorang anak. Yang termasuk dalam kategori ini adalah

15

kasus imigrasi, kasus klaim keayahan oleh seorang wanita, kasus perselingkuhan
dan kasus incest.
3. Kasus ragu ibu (disrupted maternity): kasus yang mencari pembuktian siapa ibu
kandung dari seorang anak. Yang termasuk dalam kategori ini adalah kasus bayi
tertukar, kasus pembunuhan anak sendiri dan kasus aborsi.
4. Kasus ragu kerabat: yaitu kasus yang mencari pembuktian apakah dua orang atau
lebih punya hubungan darah (kekerabatan) tertentu. Yang termasuk dalam
kategori ini adalah pelacakan silsilah keluarga, kasus pencarian keluarga setelah
bencanaalam, dsb.
Kasus sengketa asal usul merupakan kasus medis. Setiap manusia dilahirkan
dengan membawa sifat gabungan dari ayah dan ibunya yang diturunkan melalui
materi keturunan atau DNA.
2.2.2. Prosedur Pemeriksaan DNA
Pertama kali seorang pasien (nasabah atau klien) datang ke dokter dapat
berupa konsultasi biasa, berdasarkan permintaan polisi atau pengadilan jika
kasusnya telah memasuki ranah hukum. Pemeriksaan hanya akan dilakukan bila
nasabah sudah siap mental untuk menghadapi kenyataan. Pada kunjungan
berikutnya, semua pihak yang akan di periksa datang menemui dokter dengan
sebisanya disertai saksi dari kedua belah pihak. Kemudian dokter akan
menjelaskan prosedur pemeriksaan sejelas-jelasnya hingga tidak ada lagi yang
ingin ditanyakan. Untuk selanjutnya pihak-pihak yang akan diambil sampelnya
menandatangani persetujuan (inform consent).1,3
Sampel yang diambil adalah darah vena sebanyak 1-3 cc, namumpadanasabah
yang sulit diambil darahnya seperti bayi dan anak-anak maka dapat diambil
sampel usapan selaput lendir mulut bagian dalam 2 sampai 4 kali dengan lidi
steril. Selanjutnya sampel tersebut di beri label.Untuk mencegah terjadinya
penyangkalan di kemudian hari hari, inform consent ditandatangani juga oleh dua
saksi dan proses pengambilan sampel didokumentasikan dengan kamera digital.1,3
Namun saat ini, pengambilan sampel lain yang lebih praktis dapat
menggunakan kartu FTA. Yaitu suatu kertas saring Whatman yang telah dibubuhi
oleh sejenis senyawa tertentu sehingga sampel yang ditaruh di atas nyaakan

16

diserap dan dipreservasi DNAnya, selama sekurangnya 20 tahun. Dengan caraini


sampel DNA cukup diambil dari beberapa tetes darah yang dibercakkan pada
kertas tersebut, lalu dikeringkan. Bentuknya yang berupa kertas memungkinkan
pengumpalan dan penanganan sampel menjadi praktis dan mudah.9,11
Sampel yang telah diambil lalu dibawa ke laboratorium DNA forensic untuk
diproses lebih lanjut. Sampel diekstraksi DNAnya, dihitungkadarnya, dan
diperbanyak dengan proses PCR. Kemudan hasil penggandaan akan dipisahkan
fragmennya dengan proses elektroforesis gel poli-akrilamid (PAGE) atau
dielektroforesis kapiler.9,11
Hasil pemeriksaan DNA pada setiap lokus DNA adalah 2 buah fragmen DNA
pada setiap lokus DNA, dengan dianjurkan memeriksa 13 lokus DNA STR (Short
Tandem Repeats) atau yang lebih dikenal denganCombined DNA Index System 13
(CODIS 13). Dimana pada satu fragmen berasal dari ibudan satunya lagi berasal
dari ayah. Setiap fragmen DNA tersebut dapat dilihat berupa pita pada PAGE atau
berupaduri (peak) pada elektroforesis kapiler. Notasi fragmen DNA tersebut
dinyatakan berupa angka, yang menyatakan panjang fragmen DNA.9,11
Contoh: pada lokus FGA didapatkan notasi
Tersangka ayah

: 16, 19

Anak

: 14, 16

Ibu

: 14, 21

2.2.3.Analisis dan Penyimpulan


Setelah dilakukan pemeriksaan DNA, maka ketiga hasil pemeriksaan DNA
tersebut dimasukkan dalam table FCM (Father Child Mother). Pada setiap
lokusnya, dicari fragmen DNA maternal (fragmen DNA anak yang samadengan
salah satu fragmen ibunya). Kemudian fragmen DNA satunya (fragmen DNA
paternal, dari ayah) dibandingkan dengan kedua fragmen DNA tersangka
ayah.Jika ditemukan ada fragmen DNA tersangka ayah yang sama dengan
fragmen DNA paternal anak, maka pria tersebut dinyatakan mungkin
merupakan anak dari pria tersebut. Jika DNA paternal anakt idak sama dengan
salah satu DNA tersangka ayah, maka komposisi tersebut dapat dinyatakan

17

sebagai eksklusi. Ditemukannya dua eksklusi atau lebihpada panel 10 atau 15


lokus memastikan bahwa anak tersebut bukan anak dari pria tersebut.10
Laporan hasil pemeriksaan DNA pada kasus sengketa asal usul diberikan
dalam bentuk tertulis, dalam suatu format yang baku, sebagai suatu surat
keterangan medis, hasil pemeriksaan ini dapat dijadikan alat bukti di pengadilan.10
2.3. Disaster Victim Identification (DVI)
2.3.1. Definisi DVI
DVI atau Disaster Victim Identification adalah satu definisi yang diberikan
sebagai sebuah prosedur untuk mengidentifikasi korban mati akibat bencana
massal secara ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dan mengacu kepada
standar baku interpol. 12
Yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan DVI adalah polisi didukung oleh
para ahli seperti patologi forensik, odontologi forensik, ahli sidik jari, ahli DNA,
fotografer, dan tim bantuan lain. Prosedur DVI diperlukan dalam menegakkan
HAM, merupakan bagian dari proses penyidikan, jika identifikasi visual
diragukan, serta untuk kepentingan hukum (asuransi, warisan, dan status
perkawinan). 12
Prinsip dari proses identifikasi ini adalah dengan membandingkan data antemortem dan post-mortem, semakin banyak yang cocok maka akan semakin baik.
Tujuan penerapan DVI adalah dalam rangka mencapai identifikasi yang dapat
dipertanggungjawabkan secara hukum, sempurna dan paripurna dengan
semaksimal

mungkin

sebagai

wujud

dari

kebutuhan

dasar

hak

asasi

manusia,dimana seorang mayat pempunyai hak untuk dikenali. 12


DVI diterapkan pada bencana yang menyebabkan korban massal, seperti
kecelakaan bus dan pesawat, gedung yang runtuh atau terbakar, kecelakaan kapal
laut dan aksi terorisme. Selain itu juga dapat diterapkan pada bencana alam,
seperti gempa bumi, tsunami, dan gunung meletus. 12
Rujukan Hukum :13
a.

UU No.24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana

b.

UU No.2 tahun 2002 tentang Polri

18

c.

UU No.23 tentang kesehatan

d.

PP No.21 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana


e. Resolusi Interpol No.AGN/65/RES/13 year 1996 on Disaster
Victim Identification

f.

MOU Depkes RI-Polri tahun 2004

g.

MOU Depkes RI-Polri tahun 2003


2.3.2. Tahap DVI
Proses DVI tersebut mempunyai lima fase, dimana setiap fasenya mempunyai
keterkaitan satu dengan yang lainnya. Fase-fase tersebut yaitu : 13

a. Fase I TKP (The Scene)


Merupakan tindakan awal yang dilakukan di tempat kejadian peristiwa (TKP)
bencana. Ketika suatu bencana terjadi, prioritas yang paling utama adalah untuk
mengetahui seberapa luas jangkauan bencana. Sebuah organisasi resmi harus
mengasumsikan komando operasi secara keseluruhan untuk memastikan
koordinasi personil dan sumber daya material yang efektif dalam penanganan
bencana. Dalam kebanyakan kasus, polisi memikul tanggung jawab komando
untuk operasi secara keseluruhan. Sebuah tim pendahulu (kepala tim DVI, ahli
patologi forensik dan petugas polisi) harus sedini mungkin dikirim ke TKP untuk
mengevaluasi situasi berikut :
1) Keluasan TKP : pemetaan jangkauan bencana dan pemberian koordinat
untuk area bencana
2) Perkiraan jumlah korban
3) Keadaan mayat
4) Evaluasi durasi yang dibutuhkan untuk melakukan DVI
5) Institusi medikolegal yang mampu merespon dan membantu proses DVI
6) Metode untuk menangani mayat
7) Transportasi mayat
8) Penyimpanan mayat
9) Kerusakan properti yang terjadi

19

Pada prinsipnya untuk fase tindakan awal yang dilakukan di situs bencana, ada
tiga langkah utama. Langkah pertama adalah to secure atau untuk mengamankan,
langkah kedua adalah to collect atau untuk mengumpulkan dan langkah ketiga
adalah documentation atau pelabelan.
Pada langkah to secure organisasi yang memimpin komando DVI harus
mengambil langkah untuk mengamankan TKP agar TKP tidak menjadi rusak.
Langkah langkah tersebut antara lain adalah :14
1) Memblokir pandangan situs bencana untuk orang yang tidak berkepentingan
(penonton yang penasaran, wakil wakil pers, dll), misalnya dengan memasang
police line.
2) Menandai gerbang untuk masuk ke lokasi bencana.
3) Menyediakan jalur akses yang terlihat dan mudah bagi yang berkepentingan.
4) Menyediakan petugas yang bertanggung jawab untuk mengontrol siapa saja yang
memiliki akses untuk masuk ke lokasi bencana.
5) Periksa semua individu yang hadir di lokasi untuk menentukan tujuan kehaditan
dan otorisasi.
6) Data terkait harus dicatat dan orang yang tidak berwenang harus meninggalkan
area bencana
Pada langkah to collect organisasi yang memimpin komando DVI harus
mengumpulkan korban korban bencana dan mengumpulkan properti yang
terkait dengan korban yang mungkin dapat digunakan untuk kepentingan
identifikasi korban.
Pada langkah documentation organisasi yang memimpin komando DVI
mendokumentasikan kejadian bencana dengan cara memfoto area bencana dan
korban kemudian memberikan nomor dan label pada korban.
Setelah ketiga langkah tersebut dilakukan maka korban yang sudah diberi
nomor dan label dimasukkan ke dalam kantung mayat untuk kemudian
dievakuasi.
b. Fase II Kamar Mayat/Post Mortem (The Mortuary)
Pengumpulan data post-mortem atau data yang diperoleh paska kematian
dilakukan oleh post-mortem unit yang diberi wewenang oleh organisasi yang

20

memimpin komando DVI. Pada fase ini dilakukan berbagai pemeriksaan yang
kesemuanya dilakukan untuk memperoleh dan mencatat data selengkap
lengkapnya mengenai korban. Pemeriksaan dan pencatatan data jenazah yang
dilakukan diantaranya meliputi :
1) Dokumentasi korban dengan mengabadikan foto kondisi jenazah korban
2) Pemeriksaan fisik, baik pemeriksaan luar maupun pemeriksaan dalam jika
diperlukan
3) Pemeriksaan sidik jari
4) Pemeriksaan rontgen
5) Pemeriksaan odontologi forensik : bentuk gigi dan rahang merupakan ciri
khusus tiap orang ; tidak ada profil gigi yang identik pada 2 orang yang
berbeda
6) Pemeriksaan DNA
7) Pemeriksaan antropologi forensik : pemeriksaan fisik secara keseluruhan, dari
bentuk tubuh, tinggi badan, berat badan, tatto hingga cacat tubuh dan bekas luka
yang ada di tubuh korban.
Data data hasil pemeriksaan tersebut kemudian digolongkan ke dalam data
primer dan data sekunder sebagai berikut :
1) Primer (sidik jari, profil gigi, DNA)
2) Sekunder (visual, fotografi, properti jenazah, antropologi medis)
Di dalam menentukan identifikasi seseorang secara positif, Badan Identifikasi
DVI Indonesia mempunyai aturan-aturan, yaitu minimal apabila salah satu
identifikasi primer dan atau didukung dengan minimal dua dari identifikasi
sekunder.
Selain mengumpulkan data pasca kematian, pada fase ini juga sekaligus
dilakukan tindakan untuk mencegah perubahanperubahan paska kematian pada
jenazah, misalnya dengan meletakkan jenazah pada lingkungan dingin untuk
memperlambat pembusukan.
c. Fase III Ante Mortem
Pada fase ini dilakukan pengumpulan data mengenai jenazah sebelum
kematian. Data ini biasanya diperoleh dari keluarga jenazah maupun orang yang

21

terdekat dengan jenazah. Data yang diperoleh dapat berupa foto korban semasa
hidup, interpretasi ciri ciri spesifik jenazah (tattoo, tindikan, bekas luka, dll),
rekaman pemeriksaan gigi korban, data sidik jari korban semasa hidup, sampel
DNA orang tua maupun kerabat korban, serta informasi informasi lain yang
relevan dan dapat digunakan untuk kepentingan identifikasi, misalnya informasi
mengenai pakaian terakhir yang dikenakan korban.
d. Fase IV Rekonsiliasi
Pada fase ini dilakukan pembandingan data post mortem dengan data ante
mortem. Ahli forensik dan profesional lain yang terkait dalam proses identifikasi
menentukan apakah temuan post mortem pada jenazah sesuai dengan data ante
mortem milik korban yang dicurigai sebagai jenazah. Apabila data yang
dibandingkan terbukti cocok maka dikatakan identifikasi positif atau telah tegak.
Apabila data yang dibandingkan ternyata tidak cocok maka identifikasi dianggap
negatif dan data post mortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan data ante
mortem yang sesuai dengan temuan post mortem jenazah.
e. Fase V Debriefing
Korban yang telah diidentifikasi direkonstruksi hingga didapatkan kondisi
kosmetik terbaik kemudian dikembalikan pada keluarganya untuk dimakamkan.
Apabila korban tidak teridentifikasi maka data post mortem jenazah tetap
disimpan sampai ditemukan data ante mortem yang sesuai dengan temuan post
mortem jenazah, dan pemakaman jenazah menjadi tanggung jawab organisasi
yang memimpin komando DVI. Sertifikasi jenazah dan kepentingan mediko-legal
serta administrative untuk penguburan menjadi tanggung jawab pihak yang
menguburkan jenazah.15,16,17
1. Metode Identifikasi15
Secara umum, identifikasi yang akurat diperoleh dari mencocokan data ante
mortem dengan post mortem yang didapatkan dari :
a. Bukti sirkumstansial (pakaian, perhiasan, dan isi kantong)
b. Bukti fisik, yang diperoleh dari :
1) Pemeriksaan eksternal, misal : deskripsi secara umum, maupun sidik
jari.

22

2) Pemeriksaan internal, misal : bukti medis, hasil pemeriksaan gigi geligi


(dental record), hasil labolatorium, dan identifikasi genetik.
2. Identifikasi Korban15
Untuk mengidentifikasi korban bencana, diperlukan dua macam data :
a. Data orang hilang (misal : orang yang berada di tempat kejadian
namun terdaftar sebagai korban selamat)
b. Data dari jenazah yang ditemukan di tempat kejadian
Dalam mengidentifikasi korban, Interpol DVI Guide membentuk beberapa
tim atau unit, diantaranya :
a.

Bagian Korban Hilang (Missing Brunch), terdiri dari :

1) Unit pengumpulan data ante-mortem (Ante-mortem record unit)


2) Unit pendataan berkas ante mortem (Ante-mortem files unit)
3) Daftar korban (Victim list)
a. Pengumpulan dan klasifikasi jenazah (Victim Recovery), terdiri
dari :
1)

Koordinator tim pemulihan (Recovery Co-ordinatory)

2)

Tim pencari (Search teams)

3)

Tim dokumentasi (Photography)

4) Tim pemulihan jenazah (Body Recovery team)


5) Tim pemulihan barang-barang pribadi (Property Recovery team)
6)

Tempat administrasi dan penyimpanan sementara jenazah (Morgue


Station)

b. Bagian Kamar Mayat (Mortuary Branch), terdiri dari :


1) Unit keamanan (Security unit)
2) Unit transportasi jenazah (Body movement unit)
3) Unit pengumpul data post-mortem (Post-mortem record unit)
4) Unit pemeriksa jenazah (Body Examination unit), terdiri dari:
a) Unit dokumentasi (Post-mortem photography unit)
b) Unit sidik jari (Post-mortem property unit)
c) Unit barang-barang pribadi (Post-mortem property unit)
d) Unit media (Post-mortem medical unit)

23

e) Unit pemeriksa gigi geligi (Post-mortem dental unit)


c. Pusat Identifikasi (Identification Centre), terdiri dari :
1) Bagian administrasi berkas identifikasi (Identification centre file
section)
2) Bagian khusus pusat identifikasi (Identification centre specialized
section), terdiri dari :
a) Bagian penyelidikan data dokumentasi (Photography section)
b) Bagian penyelidikan sidik jari (Finger print)
c) Bagian penyelidkan barang-barang pribadi (Property section)
d) Bagian penyelidikan medis (Medical section)
e) Bagian penyelidikan gigi geligi (Dental section)
f) Bagian analisis DNA (DNA analysis)
g) Badan identifikasi (Identification board)
h) Bagian pelepasan jenazah (Body realese section)

24

2.4. Silent Witness (Saksi Diam)


Cara

pembuktian

diperlukan

dalam

menegakkan

keadilan

untuk

membuktikan siapa yang bersalah dalam suatu perkara. Dalam masyarakat selalu
saja terdapat perselisihan, penganiayaan, pembunuhan, pencurian, perkosaan,
peracunan, dan perkara lainnya yang mengganggu ketenteraman dan kepentingan
pribadi. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem atau cara yang memberikan
ganjaran dan hukuman yang setimpal kepada yang bersalah sehingga perbuatan
yang serupa tidak terulang lagi dan sebaliknya yang tidak bersalah terbebas dari
tuntutan dan hukuman.18
Telah dicoba dan ditempuh berbagai cara yang sesuai dengan
perkembangan pemikiran pada zaman dahulu. Dikenal judicia aquae, judicia
ignis, judicia ovae, dan judicia Dei. Pada judicia aquae, orang yang dianggap
bersalah ditenggelamkan ke air untuk beberapa lama, bila tidak mati maka tidak
bersalah dan sebaliknya. Pada judicia ignis, terdakwa disuruh berjalan di atas bara
api, bila terjadi luka bakar pada tubuhnya maka terdakwa bersalah. Pada judicia
ovae, terdakwa disuruh meminum racun, bila terjadi gejala keracunan, maka ia
bersalah. Pada judicia Dei (keputusan Tuhan) dengan bantuan Tuhan, yang benar
akan dimenangkan dan yang bersalah akan dihukum atau dikalahkan. 18
Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana adalah keterangan ahli
dan menurut penjelasan dari pasal 133 ayat (2) keterangan ahli adalah keterangan
yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman. Dalam ilmu kedokteran
kehakiman dikenal bukti-bukti selain saksi hidup, juga bukti mati untuk
mengetahui dan mempelajari hubungan antara bukti mati dengan suatu kasus
tindak pidana diperlukan ahli dalam bidang tersebut. Untuk memeriksa,
mengetahui dan mempelajari serta mengungkap bendabenda mati diperlukan ilmu
pengetahuan kedokteran kehakiman yang dapat diperiksa dengan ilmu-ilmu
pengetahuan tersebutn. Atas benda-benda mati ini lazim disebut dengan saksi
diam (silent witness) yang terdiri dari benda atau tubuh manusia yang hidup atau
telah meninggal, alatuntuk melakukan kejahatan, jejak atau bekas-bekas si pelaku,
benda-benda yang terbawa atau yang ditinggalkan oleh si pelaku.26

25

Sebenarnya saksi diam itu berbicara banyak, hanya saja dalam bahasanya
sendiri,sehingga tidak dapat dimengerti oleh orang awam, oleh karenanya
diperlukan seorang penterjemah yaitu seorang ilmuan yang telah melakukan
pemeriksaan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dapat menangkap bahwa
saksi diam itu dan menterjemahkannya, sehingga dapat dimengerti oleh orangorang yang berkepentingan yaitu polisi, Jaksa dan Hakim serta penasehat hukum
dan terdakwa sendiri. Untuk terbuktinya suatu perkara pidana di sidang
pengadilan, maka syarat-syarat minimum alat bukti yang sah mutlak diperlukan
yang dengan alat bukti tersebut Hakim akan memperoleh keyakinan bahwa tindak
pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya,
sehingga Hakim dapat menjatuhkan pidananya.26
Silent witness (saksi diam) tidak dapat berbicara untuk membuktikan
kebenaran suatu perkara, tetapi ia dapat bercerita tentang apa yang telah terjadi
melalui pemeriksaan barang bukti (corpus delicti) secara ilmiah, yang kemudian
dapat disampaikan oleh penyidik dan dokter yang memeriksa barang bukti
tersebut. 18,19
Silent witness dapat bercerita dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Di sini diperlukan para ahli untuk memeriksa barang bukti yang dapat
berupa orang hidup, mayat, darah, semen, rambut, sidik jari, peluru, larva lalat,
nyamuk, surat, tulisan tangan, suara, dan lain-lain. 18,19
Kumpulan pengetahuan yang memeriksa barang bukti untuk kepentingan
peradilan dikenal dengan nama forensic sciences. Dalam bidang kesehatan antara
lain kedokteran forensik (forensic medicine), odontologi forensik, psikiatri
forensik, patologi forensik, dan antropologi forensik. 18
2.4.1

Barang Bukti

Barang bukti pada hakikatnya merupakan saksi diam yang selalu ada
dalam setiap tindak pidana dan merupakan saksi paling jujur. Peranan barang
bukti dalam tindak pidana dapat diketahui dengan pasti sebagai alat kejahatan,
objek kejahatan dan sebagai petunjuk setelah terjadinya suatu kejahatan. Oleh
sebab itu pengambilan dan pengawetan barang bukti yang benar akan

26

mempermudah pemeriksaan barang bukti tersebut dan tidak menimbulkan


kesulitan yang mempengaruhi penyidikan lebih lanjut 20
Barang bukti atau corpus delicti (Latin = tubuh kejahatan) adalah istilah
dari yurisprudensi barat yang mengacu pada prinsip yang harus dibuktikan bahwa
kejahatan telah terjadi sebelum seseorang dapat dihukum karena melakukan
kejahatan. Misalnya, seseorang tidak dapat dikatakan mengalami

pencurian,

kecuali dapat dibuktikan bahwa telah ada barang yang hilang. Corpus delicti juga
dapat didefinisikan sebagai fakta kejahatan yang telah terjadi.21
2.4.2

Mayat
Mayat merupakan suatu barang bukti telah terjadinya suatu kejahatan bila

diperkirakan mayat tersebut mati secara tidak wajar. Autopsi merupakan cara yang
digunakan untuk melakukan pemeriksaan terhadap barang bukti ini.22
Autopsi bila ditinjau dari kepentingannya adalah untuk membuat laporan
sebagai pengganti mayat yang mengandung kesimpulan hasil pemeriksaan. Mayat
tidak dapat bercerita lagi akan apa yang telah terjadi padanya, namun dari hasil
pemeriksaan, dokter dan penyidik akan dapat bercerita mengenai apa yang telah
terjadi pada si mayat.22
2.4.3. Darah
Pengambilan dan pengawetan barang bukti darah. Barang bukti yang
diperlukan :
1. Darah yang berasal dari korban, kemudian didapatkan pada :
a.

Pakaian/diri sikorban

b.

Pakaian/diri sipelaku

c.

Di tempat kejadian

d.

Senjata/alat yang dipergunakan


2.

Darah yang berasal dari pelaku/penjahat mungkin ditemukan


seperti pada poin pertama.

3. Keterangan/Laporan Polisi
Keadaan darah si korban di tempat kejadian dapat dipergunakan dalam
memberikan interpretasi, informasi dan rekonstruksi mengenai jalannya peristiwa.
Keterangan-keterangan itu meliputi :

27

a.

Pemancaran/mengalirnya darah.

b.

Bentuk-bentuk tetesan darah.

c.

Area/luas darah yang menempel baik pada korban dan pakaiannya


ataupun pada tersangka.20
Dari bercak darah, seorang dokter forensik dapat membuat kesimpulan,
antara lain jarak jatuhnya dari sumber perdarahan. Bila jarak itu dekat, kurang dari
60 sentimeter, bercak darah biasanya berbentuk bulat; bila jaraknya cukup jauh,
60-120 sentimeter, bentuknya bulat dengan tepi terdapat tonjolan-tonjolan seperti
jarum. Selain itu, dokter dapat pula mengetahui arah jatuhnya (ke arah mana
korban bergerak). Bercak darah berbentuk seperti boling, bagian yang lebih kecil
menunjukkan arah gerak korban.24
Dokter Forensik dapat pula mengetahui sumber perdarahan dari bercak
darah yang diperiksanya. Darah yang berasal dari pembuluh balik (vena),
bercaknya akan berwarna merah gelap; sedangkan yang berasal dari pembuluh
nadi (arteri), bercak akan berwarna merah terang. Darah yang berasal dari saluran
pernapasan atau paru-paru, selain bercaknya berwarna merah terang, juga berbuih;
dan bila telah mengering, bercak tersebut akan memberi bentuk seperti sarang
tawon. Dalam kasus pembunuhan dan korban terpotong pembuluh arterinya cukup
besar akan terdapat bercak kecil-kecil, menyemprot pada daerah yang jauh dari
sumber perdarahan.24
Akan halnya yang berasal dari pembuluh balik, darah biasanya
membentuk genangan-genangan. Dalam kasus bunuh diri, darah dan bercak darah
biasanya terdapat hanya di sekitar korban. Bila ditemukan bercak dan genangan
darah

tidak

beraturan,

sering

tampak

tanda-tanda

bahwa

korban

berusaha menghindar atau korban diseret. Umur bercak darah juga dapat diketahui
oleh dokter forensik. Pada bercak darah yang masih baru, bentuknya cair dan
baunya agak amis. Dalam waktu 12-36 jam, darah akan mengering; sedangkan
warna darah akan berubah menjadi cokelat dalam waktu 10-12 hari. Dalam
prakteknya, dokter hanya mengatakan bahwa darah yang diperiksanya itu "sangat
baru" (beberapa hari), "baru", "tua", dan "sangat tua" (beberapa tahun).24

28

Dalam melakukan pemeriksaan bercak darah yang telah kering di tempat


kejadian perkara atau pada barang bukti, seperti pisau, palu, atau tongkat
pemukul, dokter harus memberi kejelasan kepada pihak penyidik dalam tiga hal
pokok: pertama, apakah bercak tersebut memang benar bercak darah; kedua, jika
betul bercak darah, apakah berasal dari manusia, dan; ketiga, golongan darahnya
apa.24
2.4.4. Semen
Semen (ejakulat laki-laki) sebagai saksi diam merupakan barang bukti
dalam kasus perkosaan ataupun pencabulan. Selain semen, diperiksa juga korban
perkosaannya untuk menentukan adanya perkosaan ataupun tanda-tanda
kekerasan.
Dalam pengambilan barang bukti semen/sperma, barang bukti yang
diperlukan, yaitu :
1. Noda-noda pada pakaian korban, sprei dan lain-lain.
2. Cairan yang dikeluarkan dari dalam vagina.3
Pengawetan barang bukti yang mengandung noda-noda air mani dibiarkan
kering di udara dan ditaruh di tempat yang bersih.22
Adanya ejakulat laki-laki dalam liang senggama perempuan yang diambil
dengan sedotan maupun kapas lidi, merupakan tanda pasti adanya persetubuhan,
tetapi ini belum tentu dari pelaku, misalnya bila korban telah bersetubuh dengan
laki-laki lain seperti suami atau pacar sebelumnya.
Sperma masih tampak bergerak 5 jam se sudah persetubuhan dan masih
bisa didapat 3 hari post coitus. Berbagai penelitian tentang angka ini memberikan
hasil berbeda. Pada orang mati, sperma masih bisa didapati sampai 14 hari (dilihat
dengan pewarnaan khusus). Akan tetapi pada setiap persetubuhan tidak selalu
timbul hal-hal seperti yang tersebut di atas dan bila tidak lengkap belum berarti
tidak terjadi persetubuhan.18

29

2.4.5.

Rambut

Rambut memiliki nilai bukti penting dalam pemeriksaan jenazah (trace


evidance). Rambut agak tahan terhadap temperatur & pembusukan. Rambut
menjadi saksi diam yang digunakan untuk identifikasi korban dan pelaku
kejahatan. Yang perlu diperiksa :
1. Struktur rambut, apakah rambut atau hanya serat.
2. Bila benar rambut, apakah rambut manusia atau binatang
3. Bila rambut manusia, tentukan suku bangsa (ras), umur, jenis kelamin, lokasi, hal
lain sesuai kejadian.
4. Adakah hubungan rambut dengan kejadian.
5. Bila rambut jenazah, tentukan lamanya sesudah kematian.25
2.4.6.

Sidik Jari

Sidik jari adalah hasil reproduksi tapak-tapak jari, baik yang sengaja
diambil atau dicapkan dengan tinta, maupun bekas yang ditinggalkan pada benda
karena pernah terpegang atau tersentuh dengan kulit telapak tangan atau kaki.25
Bila catatan sidik jari seseorang ada, maka mudah untuk diidentifikasi.
Pertama kali dactylography ini ditemukan oleh Herschel, tapi Sir Francis Balton
adalah orang pertama yang mengambil tanda-tanda ibu jari dan jari-jari lain untuk
identitas seseorang dan membuat golongan-golongannya. Cap jari adalah saluransaluran kulit dan pori-pori ini bersifat tetap dan tidak berubah seumur hidup.
Setiap jari tangan memiliki gambaran yang lain. Kemungkinan gambatan sidik
jari yang sama dari 2 orang barlainan adalah 1 : 64.000.000. Jadi tanda tersebut
dianggap tanda pasti untuk identitas seseorang.18
Menurut Sir Francis Galton (1822 1911), golongan sidik jari yaitu :
a. Arch (busur) - 5 % dari seluruh sidik jari
1.

plain arch

2.

tented arch

b.

Loop (sangkutan) 60-65 % dari seluruh sidik jari

1.

ulnar loop

2.

radial loop
30

c. Whorl (lingkaran)- 30-35 % dari seluruh sidik jari


1.

plain whorl

2.

central pocket loop whorl

3.

double loop whorl

4.

accidental25
d. Composite (twin loop) 18
Jenis sidik jari, yaitu :
1.

Visible impression (langsung terlihat)

2.

Latent impression (tidak langsung terlihat, sidik jari di TKP)

3.

Plastic impression (sidik jari pada benda lunak) 25


Pengambilan sidik jari dilakukan dengan menggunakan ransel kit
identifikasi yang berisi 24 alat, di antaranya seperti kuas, meteran, serbuk, pinset,
gunting, sarung tangan, masker, magnifier, hinger filter, kantong barang bukti,
AK-23, alat pendeteksi sidik jari Polylight.25
2.4.7. Barang Bukti pada Kasus Penembakan
Untuk menceritakan apa yang dilihat oleh peluru sebagai saksi diam, perlu
diketahui ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan peluru, yaitu Balistik.
Balistik adalah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan gerakan, perilaku,
dan efek proyektil, terutama peluru, atau disebut juga sebagai ilmu pengetahuan
atau seni merancang dan melontarkan proyektil agar sesuai dengan capaian yang
diharapkan.25
Balistik dibagi ke dalam:

1. Balistik internal, studi dari proses proyektil, sebagai contoh jalan lintasan suatu
peluru sampai melalui barrel suatu senapan.
2. Transisi balistik, studi dari perilaku proyektil ketika meninggalkan barrel dan
tekanan di belakang proyektil.
3. Balistik eksternal, studi dari jalan lintasan menyangkut proyektil sampai melalui
ruang tertentu
4. Terminal balistik, studi dari interaksi suatu proyektil dengan targetnya, apakah itu
daging, baja karena suatu anti-tank, atau lain sebagainya.

31

5. Dalam bidang ilmu pengetahuan forensik, balistik forensik merupakan ilmu


pengetahuan tentang senjata api dan pemakaiannya dalam kejahatan. Balisitik
forensik melibatkan analisa dampak peluru dan peluru untuk menentukan kaliber
dan jenis dari senjata api menembak.25
Dalam kasus pidana dengan senjata api perlu diambil barang-barang bukti
berupa : senjata api, anak peluru, selongsong peluru, mesiu, peluru, pecahan
logam yang berkaitan.20
1) Senjata Api
a. Pada senjata api mungkin ditemukan sidik jari dari orang yang menggunakan
senjata tersebut. Memungut senjata api di TKP jangan ceroboh, harus hati-hati dan
jangan sampai merusak/menghilangkan sidik jari tersebut atau menambah sidik
jari.
b. Pada ujung laras senjata api mungkin didapati sisa-sisa mesiu, darah, sobekan
kain ataupun kulit/rambut/daging, maka harus dijaga jangan sampai rusak/hilang
atau ujung larasnya kemasukan kotoran-kotoran lain.
2) Anak Peluru
Anak peluru bukti mungkin didapatkan di tubuh korban atau di sekitar TKP.
Anak peluru yang ditemukan jangan sampai mengalami perubahan. Anak peluru
diambil dengan menggunakan telunjuk dan ujung ibu jari memegang pada kedua
ujung anak peluru tersebut, jangan pada badannya.
3) Selongsong Peluru
Selongsong peluru yang ditemukan jangan sampai mengalami perubahan
terutama pada bahagian dasar (pantatnya).
4) Mesiu
Sisa mesiu yang ditemukan sangat besar artinya terutama dalam peristiwa
pembunuhan atau bunuh diri. Mesiu yang ditemukan diambil dengan cara
memberikan parafin pada tangan atau dengan menggunakan asam nitrat 5%.
5) Peluru
Peluru mungkin didapatkan karena peluru tersebut belum dipakai. Peluru yang
ditemukan di pistol tidak perlu dikeluarkan.
6) Pecahan logam

32

Pecahan logam yang diambil, kasus yang ada hubungannya dengan senjata
api, atau peluru.20
Dalam kasus luka tembak sangat penting untuk mengetahui dari senjata
api mana peluru tersebut ditembakkan. Selongsong juga berguna untuk
identifikasi. Walaupun dokter tidak melakukan pemeriksaan terhadap peluru,
tetapi peranan dokter akan memengaruhi hasil pemeriksaan benda bukti di
laboratorium, karena dokter yang kurang hati-hati bisa membuat goresan baru
yang akan mengacaukan pemeriksaan identifikasi peluru.18
Identifikasi senjata api dapat dilakukan melalui selongsong yaitu
mencocokkan goresan-goresan akibat :
a.

alat penarik peluru

b.

alat pembuang peluru

c.

goresan-goresan akibat gerendel penutup peluru

d.

goresan pasak peluru (slagpin)1


Oleh karena itu, jangan mengambil anak peluru maupun selongsong
menggunakan alat-alat seperti tang, obeng, pinset, scapel, dan lainnya, karena
alat-alat tersebut akan menimbulkan goresan yang dapat mengacaukan
pemeriksaan.18
Pada korban hidup, anak peluru dalam tubuh tidak selalu dikeluarkan,
tergantung dari lokasi anak peluru dan resiko operasi untuk mengeluarkannya.18
2.4.8. Serangga
Aktivitas serangga, dalam hal ini yang sering digunakan adalah lalat, dapat
digunakan untuk memperkirakan saat kematian yaitu dengan menentukan umur
serangga yang biasa ditemukan pada jenazah. Sehingga lalat dapat membantu
bercerita tentang kapan kejadian perkara terjadi.18
Necrophagus species akan memakan jaringan tubuh jenazah. Sedangkan
predator dan parasit akan memakan serangga Necrophagus. Omnivorus species
akan memakan keduanya baik jaringan tubuh maupun serangga. Telur lalat
biasanya akan mulai ditemukan pada jenazah sesudah 1-2 hari postmortem. Larva
ditemukan pada 6-10 hari postmortem. Sedangkan larva dewasa yang akan
berubah menjadi pupa ditemukan pada 12-18 hari.26

33

BAB III
KESIMPULAN

1. Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak
dikenal, jenazah yang rusak, membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan
masal, bencana alam, huru hara yang mengakibatkan banyak korban
meninggal, serta potongan tubuh manusia atau kerangka
2. Penerapan teknologi DNA dalam bidang kedokteran forensik, pemakaian
analisis DNA untuk penyelesaian kasus-kasus forensic juga semakin
meningkat. Secara umum teknologi DNA dimanfaatkan untuk identifikasi
personal, pelacakan hubungan genetic (disrupted parentage atau kasus ragu
orang tua) dan pelacakan sumber bahan biologis
3. DVI atau Disaster Victim Identification adalah satu definisi yang diberikan
sebagai sebuah prosedur untuk mengidentifikasi korban mati akibat bencana
massal secara ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dan mengacu
kepada standar baku interpol. Tujuan penerapan DVI adalah dalam rangka
mencapai identifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum,
sempurna dan paripurna dengan semaksimal mungkin sebagai wujud dari
kebutuhan dasar hak asasi manusia,dimana seorang mayat pempunyai hak
untuk dikenali
4. Silent witness (saksi diam) tidak dapat berbicara untuk membuktikan kebenaran
suatu perkara, tetapi ia dapat bercerita tentang apa yang telah terjadi melalui
pemeriksaan barang bukti (corpus delicti) secara ilmiah, yang kemudian
dapat disampaikan oleh penyidik dan dokter yang memeriksa barang bukti
tersebut. saksi diam (silent witness) terdiri dari benda atau tubuh manusia
yang hidup atau telah meninggal, alat untuk melakukan kejahatan, jejak atau
bekas-bekas si pelaku, benda-benda yang terbawa atau yang ditinggalkan oleh
si pelaku.

34

DAFTAR PUSTAKA
1.

Anonymous. Identifikasi dalam Minds Forensic 1th Edition. Bagian


Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat,Banjarmasin
2012

2.

Gani, M.Husni, dr. DSF. Ilmu Kedokteran Forensik. Fakultas Kedokteran


Universitas Andalas, Padang, Indonesia 2002

3.

Idries, Abdul Munim. Identifikasi dalam Ilmu Kedokteran Forensik.


Binarupa Aksara, Jakarta. 1997.

4.

Kusuma, Soekry Erfan. Identifikasi Medikolegal dalam Buku Ajar Ilmu


Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga,Surabaya 2007

5.

Launtz, LL. Handbook For Dental Identification. JB Lippincott Company,


Philadelphia and Toronto 1973.

6.

Reichs, KJ. Forensic Osteology Advances In The Identification of Human


Remain Charles C Thomas Publisher, Springfield Illinois USA 1986.

7.

Krogman WM and Iscan MY. The Human Skeleton In Forensic


Medicine.Charles C Thomas Publisher, Springfield Illinois, USA 1985.

8.

Dahlan,Sofwan. Identifikasi dalam Ilmu Kedokteran Forensik. Badan


Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang 2000

9. Atmadja DS. Penanan Pemeriksaan DNA Finger printing dalam Pengungkapan


Kasus-Kasus Forensik. MajKedokIndon 2005: 55(12):707-13.

35

10. Atmadja DS. The double exclusion in a parentage testing: a case report of an
immigration case 8th. Inpalm meeting, Manila 2005.
11. Atmadja DS. Forensic DNA Technology in Indonesia. 8th Implams meeting.
Manila.2005.
12. Asep M. Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Penanggulangan
Bencana. Bandung: Fokus Media; 2007. h.1-62.
13.

Badan

Nasional

penanggulangan

Bencana.

Diunduh

dari:

http://

http://dibi.bnpb.go.id/DesInventar/profiletab.jsp, [26 Oktober 2015]


14. Eddy S. DVI in Indonesia an Overview.DVI Workshop, Bandung; 2006
15. Guide interpol avaliable at http://www.interpol.int/Media/Files/INTERPOL
Expertise/DVI/DVI-Guide [[26 Oktober 2015]
16. International Criminal Police Organization. Disaster Victim Identification
Guide, GB Version: 2011.
17. Slamet P, Peter S, Yosephine L, Agus M.Pedoman Penatalaksanaan
Identifikasi Korban Mati pada Bencana Massal. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia;
2004. h.1234.
18. Amir A, Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Kedua, Bagian Ilmu
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara,
Percetakan Ramadhan, Medan, 2006. Hal : 2-4; 101-2; 152-3; 228.
19. Hasil Uji Forensik, Saksi Diam yang Bisa Berbicara Banyak. Hukum Online.
2008.

Diperoleh

dari

http://hukumonline.com/detail.asp?

id=18467&cl=Berita

36

20. Sitompul E, Pengambilan dan Pengawetan Barang Bukti untuk Pemeriksaan


Secara Laboratoris Kriminalistik, Dalam : Cermin Dunia Kedokteran Edisi
Khusus

No.

80.

Jakarta.

1992.

Diperoleh

dari

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10_PengambilandanPengawetanBarang
BuktiuntukPemeriksaanLabs.pdf/10_PengambilandanPengawetanBarangBukt
iuntukPemeriksaanLabs.html
21. Corpus Delicti. Wikipedia The Free Encyclopedia. 2008. Diperoleh dari :
http://en.wikipedia.org/wiki/Corpus_delicti
22. Amir A, Autopsi Medikolegal Edisi Kedua, Percetakan Ramadhan, Medan.
2008, Hal : 5.
23. Idries, Munim A, Bercak Darah dalam Kasus Udin, D & R, 1996. Diperoleh
dari : http://www.tempo.co.id/mingguan/38/n_kolom2.htm
24. Effendi, Kriminalistik, EffendiBlogspot, 2006, Diperoleh dari : http://teeffendi-kriminologi.blogspot.com/
25. Yasin,

Ilmu

Yasinblogspot,

Kedokteran

Forensik

2008,

dan Medikolegal
Diperoleh

: Tanatologi,
dari

http://yasinfadillah.blogspot.com/2008/05/ilmu-kedokteran-forensikdan_22.html
26. Zulaidi, Kekuatan Pembuktian Visum Et Repertum dalam Perkara
Penganiayaan,

2015.

Volume

15

Nomor

1.

http://www.unihaz.ac.id/upload/all/Jurnal_Pak_H._Zulaidi%281%29.pdf

37