Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Busana adalah salah satu kebutuhan pokok manusia sejak jaman
dahulu. Sementara ilmuan berpendapat bahwa manusia baru mengenal
busana sekitar 72.000 tahun yang lalu. Pada jaman itu pakaian berfungsi
sebagai pelindung diri dari cuaca. Sejak saat itu mereka berpakaian yang
bermula dari kulit hewan, baru pada 25.000 ditemukan teknik menjahit
pakaian kulit dan dari sana pakaian mulai berkembang.
Di sisi lain busana juga dapat dikaitkan dengan keindahan. Di dunia
banyak sekali kebudayaan yang beranggap berbeda tentang keindahan.
Seperti halnya wanita Afrika yang melubangi bibirnya, atau wanita India
yang melubangi hidungnya bahkan wanita Cina yang mempunyai budaya
footbiding yaitu budaya memperkecil ukuran kaki . Footbiding dilakukan
dengan cara kaki direndam dengan air hangat yang sudah dicampur
dengan ramuan tumbuhan dan darah binatang. Lalu kaki dibalut dan diikat
kuat dengan kain khusus. Sehingga terjadi kesakitan yang luar biasa.
Hingga yang tersisa hanya jari jempol yang utuh.
Busana adalah produk budaya, sekaligus tuntutan agama dan
moral. Dari sini terlahirlah busana tradisional, daerah, dan nasional.
Namun tuntutan agama pun lahir dari budaya masyarakat,karena agama
sangat mempertimbangkan kondisi masyarakat sehingga menjadikan adat
istiadat yang tidak bertentangan terhadap nilai nilainya. Begitu juga
1

agama Islam yang mempunyai pertimbangan pertimbangan tentang


busana dan cara berbusana, karena itulah penulis membahas tentang cara
berbusana dalam islam.

RUMUSAN MASALAH
1.
2.
3.
4.

Pengertian busana dalam Islam


Batas aurat wanita
Hukum wanita menggunakan cadar
Pandangan tentang cara berbusana wanita muslimah

TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membuka wawasan
pembaca

tentang

cara

berpakaian

wanita

mengamalkannya dalam kegiatan sehari hari.

muslimah,

dan

dapat

BAB II
AURAT

PENGERTIAN AURAT
Dalam pandangan pakar hukum Islam aurat adalah bagian dari
tubuh manusia yang pada prinsipnya tidak boleh terlihat, kecuali dalam
keadaan darurat atau kebtuhan yang mendesak. Penentuan aurat pria dan
wanita berbeda. Ini dikarenakan perbedaan dalam struktur fisik, dan cara
berfikir.
Penentuan tentang aurat sama sekali bukan untuk merendahkan
derajat wanita, tetapi justru sebaliknya. Penetapan batas batas aurat
bukan juga untuk menghalangi wanita ikut berpartisipasi dalam aneka
kegiatan masyarakat, karena apa yang diperintahkan dalam Islam untuk
ditutupi sama sekali tidak menghalangi aktivitas mereka.
Al-Quran tidak menentukan secara jelas dan terperinci mengenai
batas batas aurat. Ada 2 pendapat mengenai aurat. Yang pertama
menyatakan bahwa seluruh tubuh wanita tanpa terkecuali adalah aurat,
sedangkan kelompok kedua mengecualikan wajah dan telapak tangan.
Ada juga penambahan pengecualian, hal ini berdasarkan pertimbangan
logika dan adat istiadat serta prinsip umum agama.

Pendapat Ulama Tentang Aurat


Para ulama telah sepakat bahwa seorang wanita wajib menutup
seluruh auratnya. Hanya saja, seberapa jauh batasan aurat wanita itu?
Para ulama dalam hal ini berbeda pendapat. Sebagian ulama berpendapat
bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat. Oleh karena itu, wanita wajib
menutup seluruh tubuhnya termasuk wajib menutup muka dan kedua
telapak tangannya. Bagi yang berpendapat seluruh tubuh wanita adalah
aurat, mereka kemudian mewajibkan wanita untuk bercadar dan memakai
sarung tangan.
Sedangkan menurut pendapat lainnya, bahwa seluruh tubuh wanita
aurat kecuali muka dan telapak tangan. Oleh karenanya, kelompok ini
berpendapat, bahwa wanita harus menutup seluruh tubuhnya, kecuali
menutup muka dan telapak tangan. Artinya, untuk muka dan telapak
tangan boleh tidak ditutup karena kaduanya, menurut kelompok ini, tidak
termasuk aurat. Hanya saja, kalaupun wanita tersebut hendak menutup
muka dan kedua telapak tangannya, maka hukumnya hanyalah sunnah
saja, bukan wajib.

Pendapat Kelompok Pertama


Para ulama yang mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah
aurat dan karenanya muka serta kedua telapak tangan juga wajib ditutup,
di antaranya beralasan pada Firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 53
yang artinya, "Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada
mereka (istri- istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang
demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka" (QS. Al-Ahzab: 53).
4

Ayat ini turun ketika Rasulullah saw menikahi Zainab bint Jahsy.
Rasulullah saw lalu mengadakan walimah dan mengundang para sahabat
untuk menghadirinya. Setelah hampir seluruh sahabat pulang, ada
beberapa orang yang tetap saja diam tidak segera pulang. Padahal
Rasulullah saw saat itu, sudah lelah dan sudah berharap agar para
sahabat segera meninggalkannya. Rasulullah saw saat itu ditemani oleh
Zainab terus keluar masuk dengan maksud agar para sahabat memahami
dan segera pulang. Tidak lama kemudian, turunlah ayat ini yang
memerintahkan agar Rasulullah saw memberikan tabir (hijab, penghalang)
antara para sahabat dengan isterinya itu dengan maksud agar para
sahabat tidak dapat melihat isterinya, Zainab bint Jahsy.
Oleh mereka yang berpendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh
tubuhnya berpendapat bahwa ayat ini merupakan dalil bahwa wanita
harus menutup seluruh tubuhnya termasuk muka dan kedua telapak
tangannya. Buktinya, dalam ayat di atas, Zainab binti Jahsy pun disuruh
untuk

melakukan

hal

itu;

membatasinya

dengan

memakai

hijab,

penghalang. Kalau seandainya muka dan kedua telapak tangan boleh


dibuka dan tidak ditutup, tentu Allah tidak akan memerintahkan Rasulullah
saw untuk memasang hijab.Meskipun ayat ini turun untuk konteks isteri
Rasulullah saw, lanjut kelompok ini, namun hukumnya berlaku juga untuk
seluruh wanita, termasuk wanita-wanita saat ini.
Ayat lainnya yang dijadikan dalil oleh kelompok pertama ini adalah;
QS. Al-Ahzab: 59. Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu

dan

istri-istri

orang

mukmin:

"Hendaklah

mereka

mengulurkan jilbabnya (jilbab adalah sejenis baju kurung yang lapang


yang dapat menutup kepala, muka dan dada).ke seluruh tubuh mereka".

Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu
mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang."
Menurut kelompok pertama, ayat ini juga menjadi dalil wajibnya
menutup seluruh tubuh wanita termasuk muka dan kedua telapak tangan.
Karena kata yudniina (mengulurkan) ditafsirkan oleh kelompok ini dengan
menutup seluruh muka juga, sehingga yang nampak hanyalah kedua mata
saja untuk melihat.
Dalil lainnya adalah hadits Rasulullah saw berikut ini: Rasulullah saw
bersabda: "Wanita itu adalah aurat. Apabila ia keluar rumah, maka ia akan
dihias oleh syaithan (sehingga laki-laki akan senang melihatnya)" (HR.
Turmudzi dan Thabari dan haditsnya Shahih).
Asma binti Abu Bakar berkata: "Kami biasa menutup muka kami
dari tatapan kaum laki-laki. Padahal sebelumnya, ketika kami sedang
Ihram, kami bias bersisir (merapihkan rambut)" (HR. Hakim dan sanad
hadits tersebut Shahih).

Pendapat Kelompok Kedua


Sedangkan alasan kelompok kedua yang mengatakan bahwa aurat
wanita

seluruh

karenanya,

tubuhnya

menutup

kecuali

muka

dan

muka

dan

telapak

telapak

tangan

tangan,

bukanlah

oleh

sebuah

kewajiban akan tetapi sunnah saja, sebagaimana Firman Allah : QS. AnNur: 31. Artinya: "Kecuali yang (biasa) nampak dari padanya." (QS. AnNur: 31). Menurut kelompok ini, bahwa dalam ayat di atas Allah
mewajibkan wanita untuk menutup seluruh tubuhnya karena aurat, hanya
6

saja, Allah mengecualikan dua hal yang biasa nampak. Dan dua hal yang
biasa nampak yang dikecualikan dalam ayat di atas, menurut kelompok
ini, adalah muka dan telapak tangan. Hal ini didasarkan kepada haditshadits berikut ini:

"Dari Aisyah, bahwasannya adik perempuannya, Asma binti


Abi Bakar masuk menemui Rasulullah saw sambil memakai
pakaian tipis transparan. Rasulullah saw lalu berpaling dan
bersabda: "Wahai Asma, sesungguhnya wanita itu, apabila ia
telah haid, maka tidak boleh menampakkan tubuhnya kecuali
ini dan ini", Rasulullah saw sambil berisyarat kepada muka
dan

kedua

haditsnya

telapak

Dhaif).

tangannya"

Hanya

saja,

(HR.
hadits

Abu
ini

Dawud,
dhaif.

dan

Namun

demikian, masih banyak hadits lainnya yang menguatkan


bahwa muka dan kedua telapak tangan itu bukanlah aurat,
sehingga hadits-hadits tersebut menguatkan satu sama lain.

Dari

Jabir

bin

Abdillah

bahwa

Rasulullah

saw

pernah

memberikan ceramah khusus untuk para wanita pada waktu


hari raya. Lalu, berdirilah seorang wanita dari tengah-tangah
yang kedua pipinya nampak seraya berkata: 'Mengapa ya
Rasulullah?" (HR. Muslim).
Dari hadits ini makin nampak bahwa muka boleh nampak dan
tidak ditutup, karena dalam hadits di atas, lanjut kelompok ini,
bahwa wanita yang bertanya tidak menutup mukanya. Kalau
seandainya muka wajib ditutup, tentu wanita tersebut akan
menutupnya.

Artinya: "Dari Ibnu Abbas, menceritakan kisah ceramah


Rasulullah saw untuk para wanita pada hari raya, kemudian
beliau menyuruh mereka para wanita untuk sedekah. Ibnu
Abbas berkata: "Rasulullah saw lalu memerintahkan mereka
kaum wanita untuk bersedekah, dan saya melihat tangantangan mereka melemparkan cincin gelang pada baju Bilal
yang dihamparkan." (HR. Bukhari).
Menurut kelompok ini, dalam hadits di atas juga dikatakan
bahwa Ibnu Abbas melihat tangan-tangan para wanita yang
melemparkan perhiasan-perhiasannya. Ini juga membuktikan
bahwa telapak tangan bukanlah aurat dan karenanya tidak
wajib ditutup. Karena, apabila telapak tangan juga aurat,
tentu para wanita itu akan menutupnya dan tidak akan

menampakkannya.
Ibnu Abbas berkata: "Suatu hari Fadhl bin Abbas membonceng
Rasulullah saw. Tiba-tiba datang seorang wanita dari bani
Khats'am, meminta fatwa kepada Rasulullah saw. Fadhl lalu
melihat wanita tersebut dan wanita itupun menatapnya
(terjadi adu pandang). Rasulullah saw lalu memalingkan muka
Fadhl ke arah yang lain." (HR. Bukhari Muslim).

Menurut kelompok ini, hadits ini juga menjadi dalil bahwa muka
bukanlah aurat dan karenanya tidak wajib ditutup. Buktinya, dalam
hadits di atas, si wanita dari Bani Khats'am tidak menutup mukanya
sehingga dapat dilihat oleh Fadhl bin Abbas. Kalau seandainya muka itu
adalah aurat, tentu wanita itu akan menutupnya.

Bagaimanapun, dari perdebatan dan perbedaan para ulama di atas


dapat ditarik beberapa hal penting bahwa; Para ulama telah sepakat
bahwa wanita wajib menutup seluruh tubuhnya selain muka dan kedua
telapak tangannya, tentu termasuk di dalamnya rambut dan yang
lainnya.Mengenai apakah muka dan talapak tangan adalah aurat atau
tidak sehingga apakah wajib untuk di tutup atau tidak, terjadi perbedaan
pendapat. Meski demikian, mereka yang beranggapan bahwa muka dan
kedua telapak tangan bukanlah aurat, menganjurkan (sunnah saja), atau
membolehkan wanita untuk menutup juga muka dan kedua telapak
tangannya terlebih apabila dikhawatirkan akan menimbulkan banyak
fitnah.

BAB III
BUSANA

PENGERTIAN BUSANA
9

Busana merupakan kebutuhan pokok menusia yang harus dipenuhi,


karena fungsi dasarnya yang melindungi tubuh dan terpenuhinya unsur
kesusilaan. Pengertian busana secara umum adalah segala sesuatu yang
dikenakan oleh seseorang dari ujung rambut sampai ujung kaki, termasuk
pelengkap busana, tatrias wajah dan tatarias rambutnya.

BUSANA DALAM ISLAM


Dalam Islam busana wanita beridentik dengan pakaian yang
tertutup. Di maksud tertutup disini adalah menutupi seluruh tubuh.
Sebenarnya memakai pakaian tertutup bukanlah budaya masyarakat
Arab. Pakaian tertutup ( seluruh badan wanita ) telah dikenal di kalangan
bangsa bangsa kuno. Ada pakar yang beranggapan bahwa orang orang
Arab meniru orang Persia yang mengikuti agama Zardasyt yang menilai
wanita sebagai makhluk tidak suci, karena itulah mereka diharuskan
menutup mulut dan hidungnya agar napas mereka tidak mengotori api
suci yang merupakan sesembahan agama Persia lama.
Sementara pakar yang lain menyebutkan beberapa alasan wanita
harus memakai pakaian tertutup.

1) Alasan

filosofis

yang

berpusat

pada

kecenderungan

kearah

kerahiban dan perjuangan melawan nafsu manusiawi

2) Alasan keamanan, karena pada jaman dahulu orang yang kuat


sering kali merampas harta benda orang lain tidak hanya harta
benda tetapi istri yang cantik juga dirampas.

3) Alasan ekonomi pada jaman dahulu lelaki mengeksploitasi wanita


dengan menugaskan mereka melakukan aneka aktivitas untuk
kepentingan lelaki saja.
10

Beberapa alasan di atas bukalah alasan Islam menetapkan busana


tertentu atau menganjurkan pembagian kerja yaitu laki laki di luar
rumah dan wanita di dalam rumah.

Uraian Busana Pada Al-Quran


Dari berbagai pendapat telah diperoleh beberapa alasan berbusana
ataupun busana tetutup wanita. Tetapi tentu saja Islam mempunyai
anggapan lain tentang fungsi busana yang dikehendaki oleh Allah. Berikut
ini adalah ayat ayat yang menegaskan fungsi busana menurut Islam :

1) QS. Al-araf [7]: 26


wahai putra putrid Adam! Kami telah menurunkan kepada kamu
pakaian yang berfungsi menutupi aurat kamu dan bulu (sebagai pakaian
indah untuk perhiasan).
Ayat ini mengandung 2 fungsi busana yaitu menutup aurat yakni hal
hal yang tidak wajar dilihat orang lain, dan busana sebagai hiasan bagi
pemakainya.

2) QS. An-Nahl [16]: 81


dan Dia ( Allah ) menjadikan bagi kamu pakaian yang memelihara kamu
dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam
peperangan.
Ayat ini mengandung fungsi pakaian sebagai pelindung tubuh
manusia dari panas dan dingin serta melindungi manusia dari hal hal
yang menggangu ketentramannya.

3) QS. Al-ahzab [33]: 39


11

hai Nabi ! katakanlah kepada istri istrimu, anak anak perempuanmu


dan istri istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan atas diri
mereka jilbab mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih (mudah
untuk) dikenal, sehingga mereka tidak diganggu.
Ayat ini mengandung fungsi busana sebagai pembeda antar
individu individu dalam sifat atau profesinya.
Agama Islam menghendaki para pemeluknya agar berpakaian
sesuai dengan fungsi fngsi tersebut atau setidaknya memenuhi fungsi
yang terpenting yaitu menutup aurat. Al-Quran sendiri tidak menetapkan
mode atau warna pakaian tertentu, baik saat ibadah maupun melakukan
aktifitas selain ibadah. Memang warna putih merupakan warna yang
sangta disenangi dan paling sering menjadi sering menjadi pilihan Nabi
Muhammad saw. Warna putih dipilih karena tidak menyerap panas, dan
karena warna putih mencerminkan kebersihan.walaupun Al-Quran dan
hadist Nabi tidak menentukan mode dan warna tertentu, tetapi hanya
menetapkan kewajiban menutup aurat. Disamping itu Nabi Muhammad
saw menghendaki umatnya untuk tampil dengan kepribadian muslim.
Karena saat ini era globalisasi sangat pesat dan mempengaruhi kehidupan
umat Islam, sampai sampai wanita yang berjilbab pun ada yang
melakukan berbagai kegiatan yang tidak dibenarkan oleh agama Islam.
Di antara kewajiban orang Islam adalah berpakaian sebagaimana
diperintahkan oleh Alloh dan RosulNya. Alloh Yang Maha Kuasa telah
memerintahkan wanita beriman untuk mengulurkan jilbab mereka pada
tubuhnya. Dia berfirman:

12






Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang mumin:Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:59)
Dari ayat ini kita mengetahui bahwa wanita wajib mengenakan jilbab.
Jilbab sendiri memiliki arti pakaian luar wanita semacam mukena/rukuh,
yang dikenakan dari atas menutupi sebagian besar tubuhnya dari atas
sampai bawah. Adapun sifat-sifat jilbab/pakaian wanita adalah sebagai
berikut:
1. Menutup seluruh badan, kecuali bagian yang boleh dibuka.
Allah berfirman:


Dan janganlah mereka (wanita-wanita beriman) menampakkan perhiasan
mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kudung ke dada mereka.(QS. 24:31)
Alloh melarang wanita menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa
nampak. Tentang perhiasan yang biasa nampak, maka ada dua penafsiran
ulama:
a) Pakaian yang dikenakan. Ini pendapat Ibnu Masud.
13

b) Wajah dan dua telapak tangan. Ini merupakan pendapat sahabat:


Aisyah, Ibnu Umar, dan Ibnu Abbas. Juga merupakan pendapat Ibnu Jarir,
Al-Baihaqi, Adz-Dzahabi, Al-Qurthubi, Ibnul Qoththon, Al-Albani. Dan ini
pendapat yang lebih kuat, karena merupakan amal yang berlaku pada
banyak wanita di zaman Nabi dan setelahnya. (Jilbab Maratil Muslimah,
hal: 41, 51, 52, 59).
Dengan

demikian

wanita

muslimah

wajib

menutupi

seluruh

tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan. Menutup wajah wanita


tidaklah wajib, namun bukanlah perbuatan yang berlebihan, bahkan hal
itu merupakan keutamaan, karena dilakukan oleh istri-istri Nabi dan
sebagian sahabat wanita di zaman itu dan setelahnya

2. Bukan merupakan perhiasan.


Tujuan perintah berjilbab adalah untuk menutupi perhiasan. Kalau
jilbab/pakaian itu sendiri dihias-hiasi, dengan renda, bros, aksesoris,
warna-warni

yang

menarik

pandangan

orang,

maka

ini

termasuk

tabarruj yang terlarang. Alloh berfirman:


Dan janganlah para wanita mukminat itu menampakkan perhiasan
mereka. (QS. 24:31)
Alloh juga berfirman:




Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu tabarruj.
(QS. 33:33)
14

Tabarruj artinya: perbuatan wanita yang menampakkan perhiasannya,


keindahan-keindahannya, dan segala yang wajib ditutupi, yang berupa
perkara-perkara yang mendorong syahwat laki-laki. (Jilbab Maratil
Muslimah, hal:120)
Oleh karena itulah jika keluar rumah, hendaklah wanita memakai pakaian
yang berwarna gelap, tidak menyala dan berwarna-warni sehingga akan
menarik pandangan orang.
3. Tebal, tidak menampakkan warna kulit.
Karena jika kainnya tipis, maka berarti tidak menutup aurot.
Nabi Muhammad bersabda:





Dua jenis (manusia) di antara penduduk neraka, sekarang aku belum
melihat mereka: Sekelompok laki-laki yang membawa cemeti-cemeti,
seperti ekor-ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya. Wanitawanita yang berpakaian, (tetapi) mereka telanjang. Mereka menjauhkan
orang lain (dari kebenaran), mereka (sendiri juga) menjauhi (kebenaran).
Kepala mereka seperti punuk onta yang miring. Para wanita ini tidak akan
masuk sorga dan tidak akan mendapatkan bau sorga. Padahal baunya
akan didapati dari jarak yang sangat jauh. (HR. Muslim, no: 2128)
Di antara penafsiran ulama terhadap sabda Nabi: wanita-wanita
yang berpakaian, (tetapi) telanjang, yaitu: mereka menutupi sebagian
15

tubuhnya, tetapi menampakkan sebagian lainnya untuk memamerkan


kecantikan.

Atau

mereka

mengenakan

pakaian

yang

tipis

yang

memperlihatkan warna kulitnya. Sehingga mereka itu berpakaian seperti


lahiriyahnya, namun mereka telanjang karena tidak menutupi auro. Oleh
karena itulah Ibnu Hajar Al-Haitami menghitung perbuatan wanita yang
memakai pakaian yang tipis yang menampakkan warna kulitnya termasuk
dosa besar. (Az-Zawajir 1/127, 129)
Para ulama mengatakan: Wajib menutupi aurot dengan apa yang
tidak menampakkan warna kulit (Majmu Syarh Al-Muhadzdzab 3/170.
Dinukil dari hal: (Jilbab Maratil Muslimah, hal:129, karya Syeikh Al-Albani)

4. Longgar, tidak ketat yang membentuk anggota tubuh.


Usamah bin Zaid berkata: Rasulullah memberiku pakaian tebal
buatan Qibthi (Mesir) di antara yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi
kepada beliau. Maka aku pakaikan kepada istriku. Kemudian beliau
bertanya: Kenapa engkau tidak memakai pakaian buatan Qibthi itu? Aku
menjawab:

Aku

pakaikan

kepada

istriku.

Maka

beliau

bersabda:

Perintahlah dia agar memakai pakaian rangkap di dalamnya, karena aku


khawatir pakaian itu membentuk ukuran tulangnya. (HR. Dhiya AlMaqdisi; Ahmad; Al-Baihaqi; dihasankan oleh Al-Albani di dalam131)Yaitu
menampakkan bentuk anggota tubuhnya, sebagaimana banyak dilakukan
oleh wanita-wanita jahiliyah di zaman ini. Kaos ketat, celana jins ketat,
berpakaian tetapi telanjang.

16

5. Tidak diberi wewangian.


Nabi Muhammad bersabda:



Setiap mata pasti berzina. Dan jika wanita memakai minyak wangi lalu
dia melewati majlis (laki-laki) maka dia ini dan itu, yakni pezina. (HR.
Tirmidzi, no: 2786; Abu Dawud, no: 4173; dll)

6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.


Abu Huroiroh berkata:






Rosululloh melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita
yang memakai pakaian laki-laki. (HR. Abu Dawud, no: 4098; Ibnu Majah;
Ahmad; dll
Imam Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar Al-Haitami memasukkan ini
dalam dosa-dosa besar. Dengan ini jelas bahwa wanita tidak boleh
memakai pakaian yang khusus bagi laki-laki, seperti jaket, celana panjang,
sorban, peci, topi, dsb. ((Jilbab Maratil Muslimah, hal:150)
Dan kaedah yang membedakan antara pakaian laki-laki dan wanita
adalah apa yang pantas dan diperintahkan agama kepada laki-laki dan

17

wanita. Wanita diperintahkan dengan menutupi diri, dan tidak pamer


keindahan. (Lihat: (Jilbab Maratil Muslimah, hal:153)

7. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir atau fasik.


Secara umum agama Islam melarang umatnya menyerupai orangorang kafir dalam segala perkara yang merupakan ciri khusus mereka.
Termasuk dalam masalah pakaian. Maka wanita beriman terlarang meniru
dan menyerupai pakaian wanita-wanita kafir atau fasik. Nabi Muhammad
bersabda:


Barangsiapa menyerupai satu kaum, maka dia termasuk mereka. (HR.
Abu Dawud, no: 4031; dll)

8. Bukan pakaian syuhroh (yang menjadikan terkenal).


Nabi Muhammad bersabda:




Barangsiapa memakai pakaian syuhroh, Alloh akan memakaikan padanya
pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian dia dibakar padanya di
dalam neraka. (HR. Abu Dawud, no: 4030; Ibnu Majah)
Ibnul Atsir berkata: Yang dimaksudkan adalah bahwa pakaiannya
menjadi terkenal di kalangan orang banyak, karena warnamya berbeda
18

dengan warna-warna pakaian mereka, sehingga orang-orang mengangkat


pandangan mereka kepadanya, dan dia berlagak dengan kebanggaan dan
kesombongan. (Dinukil dari Jilbab Maratil Muslimah, hal:213)
Syeikh Al-Albani berkata: Pakaian syuhroh adalah setiap pakaian
yang

diniatkan

agar

terkenal

mahal/berharga,

yang

membanggakan

dengan

pada

manusia.

pemakainya
dunia

dan

Baik

pakaian

mengenakannya
perhiasannya,

atau

itu

untuk
pakaian

buruk/rendah yang pemakainya mengenakannya untuk menampakkan


zuhud (menjauhi dunia) dan riya. (Jilbab Maratil Muslimah, hal:213). Alhamdulillah Roobil Alamiin

Hukum Memakai Cadar


Berikut

adalah

pendapat-pendapat

para

ulama madzhab, mengenai hukum memakai cadar.


Lebih

lagi,

ulama

madzhab

semuanya

menganjurkan wanita muslimah untuk memakai


cadar, bahkan sebagiannya sampai kepada anjuran
wajib.
Madzhab Hanafi
Pendapat madzhab Hanafi, wajah wanita bukanlah
aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah

19

(dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan


menimbulkan fitnah.
* Asy Syaranbalali berkata:



Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah
dan telapak tangan dalam serta telapak tangan
luar, ini pendapat yang lebih shahih dan merupakan
pilihan madzhab kami. (Matan Nuurul Iidhah)
* Al Imam Muhammad Alaa-uddin berkata:




Seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah
dan telapak tangan dalam. Dalam suatu riwayat,
juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya.
Namun bukan aurat jika dihadapan sesama wanita.
Jika

cenderung

menimbulkan

fitnah,

dilarang

menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki


(Ad Durr Al Muntaqa, 81)
* Al Allamah Al Hashkafi berkata:
20



Aurat wanita dalam shalat itu seperti aurat lelaki.
Namun

wajah

wanita

itu

dibuka

sedangkan

kepalanya tidak. Andai seorang wanita memakai


sesuatu di wajahnya atau menutupnya, boleh,
bahkan dianjurkan (Ad Durr Al Mukhtar, 2/189)
* Al Allamah Ibnu Abidin berkata:



Terlarang bagi wanita

menampakan wajahnya

karena khawatir akan dilihat oleh para lelaki,


kemudian

timbullah

fitnah.

Karena

jika

wajah

dinampakkan, terkadang lelaki melihatnya dengan


syahwat (Hasyiah Alad Durr Al Mukhtaar, 3/188189)
* Al Allamah Ibnu Najiim berkata:

21

Para

ulama

madzhab

kami

berkata

bahwa

terlarang bagi wanita muda untuk menampakkan


wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini,
karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah (Al Bahr
Ar Raaiq, 284)
Beliau berkata demikian di zaman beliau, yaitu
beliau wafat pada tahun 970 H, bagaimana dengan
zaman kita sekarang?
Madzhab Maliki
Mazhab Maliki berpendapat bahwa wajah
wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar
hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib
jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan
sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh
wanita adalah aurat.
* Az Zarqaani berkata:


.


22

Aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi adalah


seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan.
Bahkan suara indahnya juga aurat. Sedangkan
wajah, telapak tangan luar dan dalam, boleh
dinampakkan dan dilihat oleh laki-laki walaupun
wanita tersebut masih muda baik sekedar melihat
ataupun untuk tujuan pengobatan. Kecuali jika
khawatir timbul fitnah atau lelaki melihat wanita
untuk

berlezat-lezat,

maka

hukumnya

haram,

sebagaimana haramnya melihat amraad. Hal ini


juga

diungkapkan

oleh

Al

Faakihaani

dan

Al

Qalsyaani (Syarh Mukhtashar Khalil, 176)


* Ibnul Arabi berkata:




Wanita itu seluruhnya adalah aurat. Baik badannya
maupun

suaranya.

Tidak

boleh

menampakkan

wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan


mendesak

seperti

persaksian atau pengobatan

pada badannya, atau kita dipertanyakan apakah ia


adalah

orang

yang

dimaksud

(dalam

persoalan) (Ahkaamul Quran, 3/1579)


23

sebuah

* Al Qurthubi berkata:

:


Ibnu Juwaiz Mandad ia adalah ulama besar Maliki
berkata: Jika seorang wanita itu cantik dan
khawatir

wajahnya

menimbulkan

fitnah,

dan

telapak

hendaknya

tangannya
ia

menutup

wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek,


boleh baginya menampakkan wajahnya (Tafsir Al
Qurthubi, 12/229)
* Al Hathab berkata:

.


Ketahuilah, jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka
wanita

wajib

menutup

wajah

dan

telapak

tangannya. Ini dikatakan oleh Al Qadhi Abdul


Wahhab, juga dinukil oleh Syaikh Ahmad Zarruq
dalam Syarhur Risaalah. Dan inilah pendapat yang
lebih tepat (Mawahib Jaliil, 499)

24

* Al Allamah Al Banaani, menjelaskan pendapat Az


Zarqani di atas:

:




.

Pendapat
Marzuuq

tersebut
dalam

juga

kitab

dikatakan

Ightimamul

oleh

Ibnu

Furshah,

ia

berkata: Inilah pendapat yang masyhur dalam


madzhab Maliki. Al Hathab juga menukil perkataan
Al Qadhi Abdul Wahhab bahwa hukumnya wajib.
Sebagian

ulama

Maliki

menyebutkan pendapat

bahwa hukumnya tidak wajib namun laki-laki wajib


menundukkan pandangannya. Pendapat ini dinukil
Mawwaq dari Iyadh. Syaikh Zarruq dalam kitab
Syarhul Waghlisiyyah merinci, jika cantik maka
wajib, jika tidak cantik maka sunnah (Hasyiyah Ala
Syarh Az Zarqaani, 176)
Madzhab Syafii
Pendapat madzhab Syafii, aurat wanita di depan
lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh.
25

Sehingga mereka mewajibkan wanita memakai


cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat
mutamad madzhab Syafii.
* Asy Syarwani berkata:

:
: .
:

Wanita memiliki tiga jenis aurat, (1) aurat dalam
shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh
badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat
terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh
tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut
pendapat yang mutamad, (3) aurat ketika berdua
bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu
antara pusar dan paha (Hasyiah Asy Syarwani Ala
Tuhfatul Muhtaaj, 2/112)
* Syaikh Sulaiman Al Jamal berkata:

. :
.

26

Maksud perkataan An Nawawi aurat wanita adalah


selain wajah dan telapak tangan, ini adalah aurat
di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah
secara
mahram

mutlak

di

adalah

hadapan
antara

lelaki

pusar

yang

masih

hingga

paha.

Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram


adalah seluruh badan (Hasyiatul Jamal Ala Syarh
Al Minhaj, 411)
* Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis
Fathul Qaarib, berkata:



Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak
tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat.
Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh
badan (Fathul Qaarib, 19)
* Ibnu Qaasim Al Abadi berkata:

.

Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain
wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis.

27

Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan,


bukan

karena

karena

keduanya

secara

umum

adalah

aurat,

keduanya

namun

cenderung

menimbulkan fitnah (Hasyiah Ibnu Qaasim Ala


Tuhfatul Muhtaaj, 3/115)
* Taqiyuddin Al Hushni, penulis Kifaayatul Akhyaar,
berkata:




Makruh

hukumnya

shalat

dengan

memakai

pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula


wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali
jika

di

masjid

pandnagan

kondisinya

lelaki

ajnabi.

sulit

Jika

terjaga

wanita

dari

khawatir

dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan


kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab
(cadar) (Kifaayatul Akhyaar, 181)

Madzhab Hambali
* Imam Ahmad bin Hambal berkata:

28


Setiap

bagian

tubuh

wanita

adalah

aurat,

termasuk pula kukunya (Dinukil dalam Zaadul


Masiir, 6/31)
* Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al Anqaari, penulis
Raudhul Murbi, berkata:

.
.

Setiap bagian tubuh wanita yang baligh adalah


aurat, termasuk pula sudut kepalanya. Pendapat ini
telah dijelaskan dalam kitab Ar Riayah kecuali
wajah, karena wajah bukanlah aurat di dalam
shalat. Adapun di luar shalat, semua bagian tubuh
adalah aurat, termasuk pula wajahnya jika di
hadapan lelaki atau di hadapan banci. Jika di
hadapan sesama wanita, auratnya antara pusar
hingga paha (Raudhul Murbi, 140)
* Ibnu Muflih berkata:

29

: :


Imam Ahmad berkata: Maksud ayat tersebut
adalah, janganlah mereka (wanita) menampakkan
perhiasan mereka kecuali kepada orang yang
disebutkan di dalam ayat. Abu Thalib menukil
penjelasan dari beliau (Imam Ahmad): Kuku wanita
termasuk aurat. Jika mereka keluar, tidak boleh
menampakkan apapun bahkan khuf (semacam kaus
kaki), karena khuf itu masih menampakkan lekuk
kaki. Dan aku lebih suka jika mereka membuat
semacam kancing tekan di bagian tangan (Al
Furu, 601-602)
* Syaikh Manshur bin Yunus bin Idris Al Bahuti,
ketika menjelaskan matan Al Iqna , ia berkata:

. :

Keduanya, yaitu dua telapak tangan dan wajah
adalah

aurat

di

luar

shalat

karena

adanya

pandangan, sama seperti anggota badan lainnya


(Kasyful Qanaa, 309)
30

* Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata:


Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah
wajib hukumnya bagi wanita untuk menutup wajah
dari pada lelaki ajnabi (Fatawa Nurun Alad Darb,

BAB IV

31

KESIMPULAN

Banyak pendapat tentang aurat dan berbusana dalam Islam. Pada


buku berjudul JILBAB PAKAIAN WANITA MUSLIMAH yang saya rujuk ini juga
mengumukakan beberapa pendapat para ulama lama dan kontemporer.
Tentu

saja

semua

pendapat

tersebut

dapat

dibenarkan

karena

berpedoman dari Firman Firman Allah dan Hadist Hadist Nabi


Muhammad saw.

Lampiran

32

33