Anda di halaman 1dari 33

BAHAN BACAAN

AVROM. BENDAVID-VAL, 1991. REGIONAL AND LOCAL ECONOMIC ANALYSIS,


FOR PRACTIOAN ERS, PRAEGER PUBLISHING, NEW YORK, U S. A
TARIGAN ,ROBINSON, EKONOMI REIONAL, TEORI DAN APLIKASI. 2006, PT BUMI
AKSARA, JAKARTA
TARIGAN, ROBINSON, PERENCANAAN PEMBANGUNAN WILAYAH, 2008, PT BUMI
AKSARA, JAKARTA
KUNCORO MUDRAJAT, 2002. ANALISIS SPASIAL DAN REGIONAL STUDI
AGLOMERASI DAN KLUSTER INDONESIA, UNIT PENERBITAN DAN PERCETAKAN
AMP YKPN, YOGYAKARTA.
EDWRD J, BLAKELY. 1994 PLANNING LOCAL ECONOMIC DEVELOPMENT,
THEORY AND PRACTICE, SEOND EDITION, SAGE PUBLICATION, LONDON
RICARDSON .W.HARRY, 1977 ELEMENT OF REGIONAL ECONIMICS, PENGIN,
BOOKS, LTD
GLASSON, JOHN, 1974. AN INTRODUCTION TO REGIONAL PLANNING,
HUTCHINSON OF LONDON

ILMU EKONOMI REGIONAL


ILMU EKONOMI DALAM KONTEK PRODUKSI TELAH BERHASIL
MENJELASKAN APA, BERAPA, BAGAIMANA, SIAPA DAN BILA MANA
TAPI TIDAK MENJELASKAN DIMANA AKTIVITAS ITU DISELENGGARAKAN
DIMANA ILMU EKONOMI BERADA DALAM KERANGKA ALAM TANPA
RUANG
PENGEMBANGAN EKONOMI WILAYAH
1. MENYEMPURNAKAN ILMU EKONOMI KHUSUSNYA
MEMPERHITUNGKAN RUANG LOKASI
AWAL PERKEMBANGAN ILMU EKONOMI REGIONAL PENGARUH DAN
PERANAN TEORI LOKASI SANGAT KUAT

DENGAN MEMANFAATKAN INFORMASI


- TENTANG LOKASI ALTERNATIF
- BIAYA TRANFPOR LOKASI OUTPUT, PASAR, BIAYA INPUT LAINNYA
SEPERTI TENAGA KERJA, BIAYA ENERJI, BAHAN DLL
DIMANA LOKASI OPTIMUM DAPAT DITENTUKAN OLEH JARAK
- PERLU MEMPERTEMUKAN KEDUANYA YAITU ANTARA RUANG
(WILAYAH) DAN JARAK. GUNA MENYEMPURNAKAN ILMU EKONOMI
RUANG LINGKUP (DOMEN) EKONOMI REGIONAL (WILAYAH) ADALAH
ANALISIS WILAYAH DAN TATA RUANG (LOKASI) . DIMANA
PENDEKATANNYA SANGAT INTERFACE (MULTI DISIPLINER)
MERUPAKAN CABANG ILMU YANG SANGAT INTERFACE KARENA
BERKAIT DENGAN CABANG ILMU LAIN YANG TUJUAN AKHIR ADALAH
ANALISIS WILAYAH

REGION SCIENCE RELATIF BARU TERUTAMA DIKAITKAN DENGAN


1. TRAUMA GREAT DEPRESION TAHUN 30 AN
2. DIKAITKAN DENGAN NEGARA2 BARU BERKEMBANG YANG BARU MERDEKA
TAHUN 40 AN
SEBELUM DEPRESI AKBAR PARA PAKAR EKONIMI (NEO KLASIK) PERCAYA
MEKANISME PASAR DIMANA PERSAINGAN AKAN DAPAT MENGALOKASIKAN
SUMBER DAYA SECARA EFISIEN DAN MENDISTRIBUSIKANNYA SECARA MERATA

PERENCANAAN WILAYAH DIANGGAP TAK PENTING. KENYATAANNYA DENGAN


ADANYA DEPERESI AKBAR MUNCUL CACAT DALAM MEKANISME PASAR . DIMANA
PASAR TIDAK DAPAT MENGALOKASIKAN SUMBER DAYA DAN MENGEEFISIENKAN
ALOKASI . DIMANA PERTUMBUHAN EKONOMI TERJADI, TAPI PERTUMBUHAN
EKONOMI ANTAR WILAYAH TIDAK MERATA
SEJAUH INI AROMA EKONOMI MASIH SANGAT KUAT MENDOMINASI ILMU
WILAYAH. DIMANA ANALISIS EKONOMI TIDAK MEMPERTIMBANGKAN RUANG
(SPACE COST)

CONTOH KASUS DI INDONESIA


KURVA SUPPLY DAN DEMAND UNTUK SUMBER DAYA ALAM (SEPERTI
TAMBANG, KAYU) DIBERLAKUKAN SAMA UNTUK SELURUH INDONESIA.
PADAHAL SECARA IMPLISIT ADA PERBEDAAN KHUSUSNYA PADA BIAYA
TRANSPORTASI YANG AKAN MENYEBABKAN KURVA SUPLLY BERBEDA
ANTARA WILAYAH ( MISALNYA SUMATERA, KALIMANTAN) KARENA
DALAM ANALISI WILAYAH TERSEBUT DIASUMSIKAN
1. SUMBER DAYA BERGERAK DI DALAM RUANG TANPA BIAYA. HAL INI
TIDAK BENAR KARENA PERGERAKAN SUMBER DAYA MEMERLUKAN
BIAYA
2. TIDAK MEMPERHATIKAN EKSTERNALIZE (PENCEMARAN, DAMPAK
SOSIAL DLL)
ADA BEBERAPA AHLI YANG KELUAR DARI FORUM PENDAPAT2 EKONOMI
DIANTARANYA WALTER ISARD, DARI AWAL DIDIRIKANNYA REGIONAL
SCIENTIST ASSOCIATI AWAL PERMUKAANNYA ADALAH EKONOMI
DENGAN FENOMENA UTAMA REGIONAL SCIENT ADLAH RUANG. OLEH
KARENA REGIONAL SCIENT TIDAK BOLEH HANYA MENYANGKUT
EKONOMI SAJA TAPI JUGA PERLU DIKAITKAN DENGA DISIPLIN ILMU
EKONOMI LAINNYA (PERTANIAN, SOSIA ANTROPOLOGI, MATEMATIK,
TANAH, GEOGRAFI DLL)

KONSEP WILAYAH (DAERAH)


DAPAT DIKLASIFIKASIKAN MENURUT TIPOLOGI
1. TIPOLOGI WILAYAH NODAL (INTI/ PUSAT)
ADALAH SUATU UNIT GEOGRAFI DENGAN BATAS2 TERTENTU DIMANA
BAGIAN-BAGIANNYA (SUB BAGIAN ) SATU SAMA LAIN SALING
TERGANTUNG SECARA FUNGSIONAL (FUNCTION INTERDEPENDENSI)
WILAYAH NODAL DILIHAT SEBAGAI SUATU SEL HIDUP DIMANA ADA
WILAYAH INTI ATAU PUSAT ATAU WILAYAH TERBELAKANG ATAU
HINTERLAND SEBAGAI PLASMA MASING-MASING MEMPUNYAI FUNGSI
SALAING TERGANTUNG ( INTERDEPENDENSI)
FUNGSI PUSAT (URBAN AREA)
1. KONSENTRASI PEMUKIMAN PENDUDUK
2. PASAR BAHAN BAKU
3. KONSENTRASI LOKASI INDUSTRI
4. LOKASI PUSAT PELAYANAN

FUNGSI HINTERLAND (RURAL AREA)


1. PRODUSEN BAHAN MENTAH
2. PEMASOK TENAGA KERJA
3. TEMPAT PEMASARAN HASIL INDUSTRI
KELEMAHAN TIPOLOGI WILAYAH NODAL BILA DIPERGUNAKAN SEBAGAI
DASAR PERENCANAAN WILAYAH
1. PADA DASARNYA BATAS WILAYAH NODAL TIDAK BERHIMPIT DENGAN
WILAYAH ADMINISTRASI DARI SEGI PENDATAAN)
2. BATAS WILAYAH NODAL SANGAT DIPENGARUHI OLEH JARINGAN
TRANSPORTASI
2. TIPOLOGI WILAYAH HOMOGEN
DIBATASI PADA KENYATAAN BAHWA WILAYAH TERSEBUT MEMPUNYAI
SIFAT DOMINAN YANG HOMOGEN. UNTUK SIFAT2 YANG TIDAK
DOMINAN WILAYAH TERSEBUT TIDAK HOMOGEN. HOMOGENITAS BISA
KARENA SUMBER DAYA ALAM, IKLIM DLL

3. TIPOLOGI WILAYAH PERENCANAAN


DIBATASI PADA KENYATAN ADANYA SIFAT2 TERTENTU YANG
MENYEBABKAN HARUS DIRENCANAKAN SECARA BERSAMA-SAMA
(SATUAN HIDROLOGIS)
4. TIPOLOGI WILAYAH ADMINISTRASI
BATAS WILAYAH BERDASARKAN KENYATAAN BERADA DALAM WILAYAH
SATUSATUAN ADMINISTRASI TERTENTU
TEORI LOKASI
TEORI LOKASI DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PENGEMBANGAN
WILAYAH
BAHWA SEKURANG-KURANGNYA SUATU RUANG WILAYAH MEMPUNYAI
TIGA RENT (NILAI EKONOMIS RUANG)
1. RICARDIANT RENT
DICETUSKAN OLEH RICARDO TERUTAMA MENYANGKUT KUALITAS DARI
RUANG YANG BERKAIT DENGA SUMBER DAYA ALAM

RENT YANG DIPUNYAI SUATU RUANG LAHAN KARENA KUALITAS YANG


LEBIH BAIK. DALAM ARTI YANG SANGAT LUAS BISA MENYANGKUT
ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI. RICARDIANT RENT DAPAT MENJADI
DASAR KEUNGGULAN KOMPARATIF DARI SUATU DAERAH (UNTUK
EFISIENSI DAN DAYA SAING)
2. LOCATION RENT (LOKASI YANG STRATEGIS)
YAITU SUATU POTENSI EKONOMI RUANG YANG BERKAIT DENGAN
TERDAPATNYA KEMUNGKINAN PENURUNAN BIAYA PRODUKSI SEBAGAI
AKIBAT LOKASI RUANG TERSEBUT RELATIF TERHADAP LOKASI2
LAINNYA. PADA UMUMNYA SEMAKIN DEKAT ENGAN PUSAT KEGIATAN
BIAYA PRODUKSI AKAN SEMAKIN RENDAH SEHINGGA TERDAPAT
POTENSI PENGHEMATAN BIAYA
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LOKASIAN RENT
1. SISTEM TRANSPORTASI
- BIAYA TRANSPORTASI SEMAKIN RENDAH
- PENGHEMATAN OPPORTUNITY COST ADANYA POTENSI
PENGHEMATAN
-PELUANG UNTUK MENDAPAT RESIKO SEMAKIN KECIL

2. AGLOMERASI (PENGELOMPOKAN KEGIATAN)


- TERDAPAT ASPEK PEMASARAN (MEMPERLUAS JARINGAN
PEMASARAN)
- PENURUNAN OVER HEAD COST ,BAHAN BAKU, INFORMASI,
DAN KEGIATAN JASA LAINNYA)
3. ENVIROMENTAL RENT
NILAI EKONOMI YANG DIBERIKAN OLEH JASA LINGKUNGAN
BERSIFAT PUBLIC GOODS
PILAR PENGEMBANGAN WILAYAH
1. EVALUASI DAN INVENTARISASI SUMBER DAYA ALAM

1.

EVALUASI DAN INVENTARISASI SUMBER DAYA


KHUSUSNYA SUMBER DAYA ALAM
SUMBER DAYA ALAM MERUPAKAN PENGGERAK UTAMA
DARI PENGEMBANGAN WILAYAH . DIMANA SDA
MENYEBAR TIDAK MERATA SECARA KUALITATIF DAN
KUANTITATIF
LAHAN FAKTOR UTAMA DARI SISTEM RUANG (WILAYAH)
DIMANA TIDAK ADA RUANG YANG TIDAK BERDIMENSI
LAHAN
JADI SDA PENTING DALAM AKTIVITAS ANALISIS WILAYAH.
SDA UNTUK MANUSIA DAN KEMANFAATANNYA HARUS
SEBESAR BESARNYA UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA. SDA
TIDAK DAPAT BERDIRI SENDIRI UNTUK
MEMANFAATKANNYA HARUS DIDUKUNG OLEH
SUPPORTING FACILITY (TRANSPORTASI DLL)
2. ASPEK TATA RUANG
TATA RUANG DALAM PENGERTIAN YANG LUAS TIDAK
SAMA DENGAN TATA GUNA TANAH

UNTUK KLAS KESESUAIAAN LAHAN DIMANA SEMAKIN TINGGI


SEMAKIN BANYAK KEGIATAN YANG DILAKUKAN PADA BIDANG LAHAN
TERSEBUT
SAAT INI YANG MENETUNKAN KONVIGURASI TATA RUANG YANG
MENENTUKAN BUKAN KONDISI PISIK LAHAN TAPI ASPEK SOSIAL,
EKONOMI
3. KELEMBAGAAN
AROMA EKONOMI MUNCUL DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH
MENGKRITIK TEORI EKONOMI . EKONOMI BUKAN PENENTU SATU
SATUNYA TAPI DIPAKAI SEPANJANG JERANGKA PEMIKIRAN DAPAT
DIMANFAATKAN UNTUK ANALISIS PENGENBANGAN WILAYAH

LAND RENT
PENDAPATAN BERSIH YANG KEMBALI PADA FAKTOR PRODUKSI LAHAN
KARENA PENGGUNAAN LAHAN PADA SISTEM PRODUKSI
STRUKTUR RUANG
BERDASARKAN MEKANISME PASAR KEGIATAN YANG AKAN MENANG
DALAM KOMPETISI ADALAH KEGIATAN YANG LAND RENTNYA TINGGI
BERDASARKAN NILAI LAND RENT STRUKTUR RUANG WILAYAH
SEBAGAI BERIKUT
1. INDUSTRI
2. PERDAGANGAN DAN JASA
3. PEMUKIMAN
4. PERTANIAN INTENSIF
5. PERTANIAN EKSTENSIF
6. KEHUTANAN
3 LAPISAN TERDALAM DISEBUT KOTA/URBAN AREA
3 LAPISAN BERIKUTNYA DISEBUT DESA/RURAL AREA

TEORI KUTUB DAN PUSAT PERTUMBUHAN


MENURUT PERREOUX (1955) MENGARTIKAN KUTUB SEBAGAI VEKTOR
DALAM RUANG EKONOMI YANG MERUPAKAN MEDAN KEKUATAN,
RUANG EKOMONI MENGANDUNG PUSAT-PUSAT DAN KUTUB-KUTUB
YANG MENPUNYAI KEKUATAN SENTRIFUGAL YANG MEMENCAR
KESEKELILING DAN MEMPUNYAI KEKUATAN SENTRIPETAL YANG
MENARIK SEKITARNYA KE PUSAT-PUSAT TERSEBUT. UNIT EKONOMI
DOMINAN AKAN TAMPIL MEMAINKAN PERANAN UTAMA DALAM RUANG
EKONOMI. PERANAN UNIT-UNIT EKONOMI DISEBUT SEBAGAI
PERUSAHAAN PENDORONG (LEADING INDUSTRI)
CIRI-CIRI DARI PERUSAHAAN PROPULSIVE
1. MERUPAKAN PERUSAHAAN BESAR DENGAN MODAL BESAR DAN
TEHNOLOGI MAJU
2. TERMASUK KELOMPOK INDUSTRI MAJU DAN TUMBUH PESAT
3. MEMPUNYAI PRODUKTIVITAS TINGGI DAN MEMPUNYAI KEMAMPUAN
BESAR DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI
4. MEMPUNYAI POSISI PENAWARAN YANG KUAT DAN MEM[UNYAI
HUBUNGAN YANG KUAT DENGAN KEGIATAN LAIN DI WILAYAH
TERSEBUT

PERUSAHAAN UTAMA (PROPULISIVE FIRM)


BILA MENINGKATKAN PRODUKSI PADA PERUSAHAAN TULARAN
PERUSAHAAN PENDORONG LEBIH BESAR DARI PENINGKATAN
PRODUKSI PERUSAHAAN PENDORONG
BOUDEVILLE ( 1966)
MEMPERLUAS PENGERTIAN DALAM DEMENSI GEOGRAFIS ADALAH
LEBIH BAIK MENGGAMBARKAN KUTUB-KUTUB SEBAGAI AGLOMERASI
KEGIATAN-KEGIATAN YANG SECARA GEOGRAFIS DARI SUATU KOMPLEK
SISTEM DARI PADA BERBAGAI SEKTOR YANG BERBEDA DARI MATRIK
NASIONAL. SEHINGGA KUTUB PERTUMBUHAN DAN PUSAT
PERTUMBUHAN AKAN TAMPIL DEBAGAI KOTA2 YANG MEMILIKI SUATU
KOMPLEKS INDUATRI PENDORONG
KONSEP DASAR DARI KUTUP PERTUMBUHAN
1. KONSEP INDUSTRI UTAMA DAN PERUSAHAAN PENDORONG
SEBAGAI PERUSAHAAN YANG MENDOMINASI UNIT-UNTI EKONOMI LAIN
SEHINGGA MENIMBULKAN GUGUS PERUSAHAAN DAN INDUSTRI PADA
KP

CIRI-CIRI PERUSAHAAN PENDORONG (LEADING INDUSTRI)


1. RELATIF BARU , TINGKAT TEKNOLOGI MAJU, DAN
MENGINJEKSI TINGKAT PERTUMBUHAN KE DALAM SUATU
DAERAH
2. PERMINTAAN TERHADAP PRODUKNYA MEMILIKI ELASTISITAS
PENDAPATAN YANG TINGGI, DAN BISA DIJUAL KE PASAR-PASAR
NASIONAL
3. MEMPUNYAI KAITAN YANG KUAT KE DEPAN (FORWARD
LINKADES) DAN KAITAN KE BELAKANG (BACKWARD LINKADES)

LOKASI GEOGRAFI DAPAT TERJADI BERDASARKAN MANFAAT DAN


KEUNTUNGAN YANG DIPEROLEH DAR LOKASI SUMBER DAYA ALAM,
TENGA KERJA, ATAU FASILITAS SARANA
2. KONSEP POLARISASI
PERTUMBUHAN INDUSTRI MENINBULAKAN POLARISASI UNIT2
EKONOMI KE KP
TERJADI AGLOMERASI EKONOMI DITANDAI DENGAN
1. ECONOMIC INTERNAL TO FIRM DICIRIKAN OLEH BIAYA PRODUKSI
RATA2 YANG RENDAH KARENA SKALA USAHA BESAR, SPESIALISAI, DAN
EFISIENSI
2. ECONOMIC EXTERNAL TO THE FIRM BUT INTERNAL TO INDUSTRI
YANG DITANDAI DENGAN PENURUNAN BIAYA TIAP UIT PRODUKSI
KARENA LOKASI TERTENTU DARI INDUSTRI TERSEBUT MISAL. DEKAT
DENGAN BAHAN BAKU, TENAGA KERJA
3. ECONOMIC EXTERNAL TO INDUSTRY BUT INTERNAL TO URBAN AREA
DICIRIKAN OLEH ADANYA PERUBAHAN PENURUNAN BIAYA PRODUKSI
RATA2 PERUSAHAAN KARENA BANYAKNYA INDUSTRI YANG TUMBUH
DISUATU TEMPAT ATAU KOTA

3. KONSEP SPREEAD BACCWASH EFFECT


DIPERKENALKAN OLEH MYRDAL (1957) DAN KONSEP TRICKLING-DOWN
AND POLARIZATION OLEH HIRSCHMAN (1958). MENGANDUNG
PENGERTIAN PEMENCARAN ATAU PENYEBARAN ATAU PENETESAN DAN
PENGERTIAN PENARIKAN ATAN PENGUMPULAN ATAUPOLARISASI YANG
TERJADI ANTARA KUTUB2 DAN WILAYAH PENGARUHNYA ATAU
HINTERLAND
SOAL
JELASKAN BAGAIMANA APABILA TEORI KUTUB PERTUMBUHAN DIPAKAI
SEBAGAI SALAH SATU STRATEGI PENGEMBANGAN WLAYAH DI
INDONESIA ? APAKAH BISA BERHASIL ? APABILA TIDAK BERHASIL
JELASKAN ALASANNYA ?

TEORI AGROPOLITAN
MERUPAKAN AGRICULTURE YANG DIINTAGRASIKAN DALAM SISTEM
METROPOLITAN
TIMBUL KARENA ADANYA KELEMAHAN DARI BACKWASH SUMBER DAYA
DARI RURAL AREA KE URBAN AREA
DALAM BANYAK HAL INVESTASI BRESIFAT URBAN BIAS, DIMANA
SARANA DAN PRASARANA INTENSITAS INVESTASINYA LEBIH BESAR DI
DAERAH PERKOTAAN. HAL INI DISEBABKAN KARENA PENGARUH
AGLOMERASI.
URBAN BIAS MENYEBABKAN TERJADI PENYINGKIRAN STRUKTURAL
ARTINYA KESEMPATAN SESEORANG UNTUK MEMANFAATKAN FASILITAS
SANGAT DIBATASI OLEH PENDAPATAN DAN STATUS SOSIAL
BERTATA RUANG
DASARKAN TEORI AGROPOLITAN
1. PELETAKAN PEMUKIMAN DAN LOKASI INDUSTRI BERDASARKAN ATAS
RUANG LAHAN YANG RELATIF TIDAK SESUAI UNTUK PERTANIAN
2. ATAS DASAR KESESUAIAN LAHAN PEMUKIMAN MENJADI CLUSTERING
( BERGEROMBOL)

3. HARUS DILENGKAPI SARANA PENUNJANG PEMUKIMAN


4. SUASANA RURAL PERLU DIPERTAHANKAN
5. UNTUK PEMUKIMAN PERLU PERTIMBANGAN EKOSISTEM, ESTETIKA,
TIDAK BERGUNUNG-GUNUNG ATAU MEMPUNYAI FUNGSI LINDUNG
6. CENTAL PLACE ADALAH PUSAT PERDAGANGAN DAN JASA DAN
DIBELAKANGNYA ADA KAWASAN PENYANGGANG DAN KAWASAN
LINDUNG
PARADIGMA DASAR
1. PERTIMBANGAN LINGKUNGAN, TERUTAMA KELESTARIAN
LINGKUNGAN
2. KEADILAN MASYARAKAT RENDAH DAPAT MENIKMATI FASILITAS

TEORI LOKASI INDUSTRI


TEORI INI BERUSAHA MENJABARKAN LOKASI OPTIMUM BAGI
PERUSAHAAN SECARA INDIVIDUAL
TERDAPAT PENDEKATAN LOKASI INDUSTRI
1. PENDEKATAN BIAYA TERKECIL
BERUSAHA MENJELASKAN LOKASI INDUSTRI BERDASARKAN
MINIMISASI BIAYA FAKTOR
TEORI INI PERTAMA KALI DICETUSKAN OLEH WEBER (1909)
MODEL INI MENGASUMSIKAN
1. UNIT YANG DIJADIKAN OBYEK STUDI ADALAH SUATU DAERAH YANG
TERISOLIR, MEMPUNYAI IKLIM HOMOGEN, DIMANA KONSUMEN
TERPUSAT PADA PUSAT2 TERTENTU DAN SEMUA UNIT USAHA BISA
MEMASUKI PASAR YANG TIDAK TERBATAS (KEADAAN PASAR
PERSAINGAN SEMPURNA)

2. BEBERAPA SUMBER DAYA ALAM TERDAPAT SECARA LUAS


3. TENAGA KERJA TIDAK TERSEDIA SECARA LUAS DAN ADA DI
LOKASI YANG TETAP, MOBILISASINYA JUGA TETAP
BERDASARKAN ASUMSI TERSEBUT ADA FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI LOKASI INDUSTRI
1. FAKTOR REGIONAL UMUM DAN KERANGKA GEOGRAFIK,
KEKUATAN-KEKUATAN AGLOMERASI ATAU DEGLORASI
2. FAKTOR-FAKTOR LOKAL
MENURUT WEBER FAKTOR PENENTU LOKASI ADALAH
A. BIAYA PENGANKUTAN DAN TENAGA KERJA
1. BIAYA PENGANGKUTAN
DIMANA BIAYA PENGANKUTAN LANGSUNG PROPORSIONAL
DENGAN JARAK TEMPUH DAN BERAT YANG DIANGKUT

TITIK BIAYA PENGAKUTAN YANG TERKECIL (LEAST COST


TRANSPORTATION) ADALAH DIMANA BERAT TOTAL DARI INPUT YANG
DIKUMPULKAN DAN OUTPUT YANG DIDISTRIBUSIKAN BERADA PADA
TITIK MINIMUM
BERAT INPUT BAHAN LOKAL
____________________________
BERAT PRODUK AKHIR
JIKA INDEK LEBIH BESAR DARI SATU MAKA PERUSAHAAN YANG
BERSANGKUTAN BERORIENTASI KEPADA HABAN (MATERIAL ORIENTED)
JIKA INDEK LEBIH KECIL DARI SATU MAKA PERUSAHAAN BERORIENTASI
KE PASAR (MARKET ORIENTED)
2. TENAGA KERJA
BILA BIAYA PENGHEMATAN TENAGA KERJA TIAP SATUAN OUTPUT LEBIH
BESAR DARI BIAYA PENGANKUTAN EKSTRA TIAP SATUAN OUTPUT .
AKAN TERJADI SUBTITUSI ANTARA BIAYA PENGANKUTAN DAN BIAYA
TENAGA KERJA

B. AGLOMERASI
SUATU PERUSAHAAN BISA BERALIH LOKASI DIMANA BIAYA
PENGANKUTAN DAN BIAYA TENAGA KERJA YANG PALING KECIL
KRITIK TEORI WEBER
1. TENTANG ASUMSI PASAR PERSAINGAN SEMPURNA DIMANA
SETIAP PEUSAHAAN DAPAT MEMPEROLEH PERMINTAAN YANG
TIDAK TERBATAS . AKAN TETAPI PERMINTAAN PASAR DAPAT
MENGALAMI PERUBAHAN . KARENA PERUSAHAAN MEMILIH
LOKASI SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA BIAYA MEMPUNYAI
PENGARUH PENGENDALIAN
2. MENGABAIKAN ADANYA FAKTOR-FAKTOR KELEMBAGAAN
SEPERTI PERATURAN, PERILAKU MASYARAKAT, ORGANISASI

II. ANALISIS DAERAH PASAR


SALAH SATU KELEMAHAN FONDAMENTAL DARI PENDEKATAN
BIAYA TERKECIL ADALAH TERLALU MENEKANNKAN DARI SEGI
INPUT (MINIMISASI BIAYA) TIDAK MEMPERHATIKAN SEGI OUTPUT
ATAU PERMINTAAN. DENGAN MENGAMSUSIKAN BAHWA
PERUSAHAAN DAPAT MENJUAL SEMUA HASIL PRODUKSINYA
DIMANAPUN BERLOKASI. TIDAK MEMPERHATIKAN BAHWA
PASAR ADALAH VARIABEL.
BERDASARKAN PENDEKATAN DAERAH PASAR PEMBELI DI
DAERAH YANG BERBEDA ANTENSITAS PEMBELIANNYA AKAN
BERBEDA-BEDA
LOSCH DALAM BUKU YHE ECONOMIC OF LOCATION MENCOBA
MEMASUKKAN FAKTOR PERMINTAAN DALAM TEORI LOKASI.
MEMPERHITUNGKAN LOKASI OPTIMUM BERDASARKAN LUAS
PASAR

ASUMSI YANG DIKEMUKAKAN


A. TIDAK ADA PERBEDAAN SPATIAL DALAM DISTRIBUSI INPUT
B. KEPADATAN PENDUDUK DAN SELERA SERAGAM
C. TIDAK ADA INTERDEPENDENSIAL LOKASI ANTARA
PERUSAHAAN-PERUSAHAAN
ADA BEBERAPA USAHA UNTUK MEMODIFIKASI BEBERAPA
ASUMSI LOSCH. PENDAPAT RICARDSON LEBIH MENGARAH
PADA KEPADATAN PENDUDUK YANG SERAGAM MERUPAKAN
ASUMSI YANG MEMBATASI. ANTARA LOKASIKEPADATAN
PENDUDUK BISA BERBEDA BEDA. DENGAN DEMIKIAN
PERMINTAAN DAN PENERIMAAN PENJUAL BERBEDA-BEDA DARI
SATU TEMPAT DENGAN TEMPAT LAIN.
III. PENDEKATAN MAKSIMISASI LABA
BAHWA BIAYA DAN PENERIMAAN DAPAT BERUBAH MENURUT
LOKASI

LOKASI OPTIMUM ADALAH YANG MENGHASILKAN LABA PALING


BESAR (ISARD DAN GREENHUT)
PERSOALAN YANG DITIMBULKAN OLEH PENDEKATAN LABA
OPTIMUM
1. PERSOALAN INTERDEPENDENSI LOKASI PADA STRUKTUR
PASAR OLOGOPILI. PENENTU LOKASI OPTIMUM ADALAH LOKASI
DAN PASAR DARI PERUSAHAAN SEJENIS. DIMANA PERUSAHAAN
AKAN BERUSAHA MENGENDALIKAN DAN MEMPEROLEH BAGIAN
DARI PASAR PARA PESAINGNYA.
2. KESULITAN MENGEVALUASI VARIABEL-VARIABEL YANG RELEVAN
(BIAYA DALAM LOKASI YANG BERBEDA, PERBEDAAN KEADAAN
PASAR, DAN KEBIJAKAN YANG DITEMPUH PARA PESAINGNYA)
3. IMPEK DARI KORPORASI-KORPORASI BESAR KARENA
MEMPUNYAI UNIT PRODUKSI YANG BERANEKA RAGAM YANG
TIDAK SEMUA DAPAT DIHASILKAN PADA LOKASI OPTIMUM

4. BAGI PERUSAHAAN NEGARA MEMPERHATIKAN BIAYA SOSIAL


DAN MANFAAT SOSIAL LEBIH PENTING DARI DARI KEUNTUNGAN
MAKSIMUM
5. BERKENAAN DENGAN FAKTOR BEHAVIOURAL
BEBERAPA SURVEY MENGENAI PERUSAHAAN YANG MUDAH
BERPIDAH-PINDAH, MENGINDETIFIKASIKAN FAKTOR-FAKTOR
LOKASI POKOK . HASILNYA MENUNJUKKAN BEBERAPA
KATAGORI
1. TENAGA KERJA
2. PENGANKUTAN DAN KOMUNIKASI
3. TEMPAT DAN KEDUDUKAN BANGUNAN
4. BANTUAN PEMERINTAH
5. FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN DALAM ARTI LUAS
FAKTOR 1 DAN 2 BERPENGARUH TERHADAP VARIABLE COST,
FAKTOR 3 BERHUBUNGAN DENGAN BIAYA MODAL (CAPITAL
COST). KEBIJAKAN PEMERINTAH BERPENGARUH TERHADAP
DUA KATAGORI BIAYA TERSEBUT

TEORI TEMPAT SENTRAL


TEORI TEMPAT SENTRAL (CENTRAL PLACE OF
THEORY) ADALAH TEORI YANG BERMAKSUD
MENGHUBUNGKAN TEMPAT SENTRAL DENGAN
DAERAH-DAERAH DIBELAKANGNYA.
DEFENISI TEMPAT SENTRAL ADALAH SUATU
PEMUKIMAN YANG MENYEDIAKAN JASA-JASA BAGI
PENDUDUK DIBELAKANGNYA
KEGIATAN JASA DAPAT DIKLASIFIKASIKAN MENJADI
KELOMPOK KEGATAN ATAS DASAR KUALITAS
FUNGSIONAL
1. KEGIATAN REPARASI DAN JASA-JASA LAINNYA
YANG DILAKSANAKAN SECARA LANGSUNG PADA
OBYEK FISIK

2. DISTRIBUSI DAN PENGANGKUTAN BARANGBARANG


3. PENGELOMPOKAN DAN PENYEBARAN INFORMASI,
YNAG MELIPUTI ORGANISASI, ADMINISTRASI DAN
PENDIDIKAN
4. PELAYANAN BERBAGAI KEBUTUHAN PERORANGAN
DAN KOLEKTIF (KEAMANAN DAN KESEHAHATAN)
DI DALAM KEGIATAN INI TERDAPAT BERBAGAI MACAM
SKALA KEGIATAN YAITU ADA SUATU HIRARKHI DARI
KEGIATAN-KEGIATAN JASA. BERLINGKUP MULAI DARI
PELAYANAN PADA TINGKAT RENDAH YANG
TERDAPAT PADA SETIAP PUSAT ATAU KAMPUNG
SAMPAI PELAYANAN PADA TINGKAT TERTINGGGI
YANG HANYA TERDAPAT PADA PUSAT BESAR.

MASING-MASING KEGIATAN JASA MEMPUNYAI


PENDUDUK AMBANG DAN LINGKUP PASAR
1. PENDUDUK AMBANG (THRESHOLD POPULATION)
ADALAH JUMLAH PENDUDUK MINIMUM YANG HARUS
ADA UNTUK MEOPANG KEGIATAN JASA. JIKA JUMLAH
PENDUDUK LEBIH KECIL DARI TINGKAT AMBANG,
MAKA KEGIATAN YANG BERSANGKUTAN AKAN RUGI
DAN DALAM JANGKA PANJANG AKAN GULUNG TIKAR.
JIKA PENDUDUK AMBANG BERTAMBAH DIATAS
MINIMUM, PERUSAHAAN JAASA AKAN MENDAPAT
LABA YANG LEBIH BESAR. FREKWENSI JASA JUGA
SANGAT BERPENGARUH PENTING TERHADAP
PENDUDUK AMBANG

2. LINGKUP PASAR (MARKET RANGE)


LINGKUP PASAR DARI SUATU KEGIATAN JASA ADALAH
JARAK YANG DITEMPUH OLEH PENDUDUK UNTUK
MENCAPAI TEMPAT PENJUALAN JASA TERSEBUT
DENGAN CATATAN BAHWA PENEMPUHAN JARAK
ADALAH BERDASARKAN KESEDIAAN ORANG-ORANG
YANG BERANGKUTAN.
LINGKUP INI ADALAH BATAS TERLUAR DARI DAERAH
PASAR SUATU KEGIATAN JASA. JADI MERUPAKAN
SUATU FUNGSI DARI JARAK LINIER, TETAPI
KEMUNGKINAN JUGA DIPENGARUHI OLEH FAKTOR
WAKTU DAN BIAYA.