Anda di halaman 1dari 28

A.

TEORI IKATAN VALENSI


Teori ikatan valensi merupakan teori mekanika kuantum pertama yang
muncul pada masa awal penelitian ikatan kimia yang didasarkan pada percobaan
W. Heitler dan F. London pada tahun 1927 mengenai pembentukkan ikatan pada
molekul hidrogen. Selanjutnya, teori ini kembali diteliti dan dikembangkan oleh
Linus Pauling pada tahun 1931 sehingga dipublikasikan dalam jurnal ilmiahnya
yang berjudul On the Nature of the Chemical Bond. Dalam jurnal ini dikupas
hasil kerja Lewis dan teori ikatan valensi oleh Heitler dan London sehingga
menghasilkan teori ikatan valensi yang lebih sempurna dengan beberapa postulat
dasarnya, sebagai berikut:
1. Ikatan valensi terjadi karena adanya gaya tarik pada elektron-elektron yang
tidak berpasangan pada atom-atom.
2. Elektron - elektron yang berpasangan memiliki arah spin yang berlawanan.
3. Elektron-elektron yang telah berpasangan tidak dapat membentuk ikatan lagi
dengan elektron-elektron yang lain.
4. Kombinasi elektron dalam ikatan hanya dapat diwakili oleh satu persamaan
gelombang untuk setiap atomnya.
5. Elektron-elektron yang berada pada tingkat energi paling rendah akan
membuat pasangan ikatan-ikatan yang paling kuat.
6. Pada dua orbital dari sebuah atom, orbital dengan kemampuan bertumpang
tindih paling banyaklah yang akan membentuk ikatan paling kuat dan
cenderung berada pada orbital yang terkonsentrasi itu.

Dalam kimia, teori


sifat ikatan

ikatan

kimia dalam

valensi atau teori

suatu molekul dari

ikatan

valens menjelaskan

sudut valensi atom.

Teori

ini

menyimpulkan suatu aturan bahwa atom pusat dalam suatu molekul cenderung
untuk membentuk ikatan elektron ganda sesuai dengan batasan geometris seperti
kurang lebih ditentukan oleh aturan oktet
B. TEORI VSEPR
Teori VSEPR (Valence Shell Electron Pair Repulsion: "tolakan pasangan kulit
elektron valensi") adalah suatu model kimia yang digunakan untuk menjelaskan
bentuk-bentukmolekul kimiawi berdasarkan gaya tolakan elektrostatik antar pasangan
elektron. Teori ini juga dinamakan teori Gillespie-Nyholm, dinamai atas dua orang
pengembang teori ini. Akronim "VSEPR" diucapkan sebagai "vesper" untuk
kemudahan pengucapan.
Premis utama teori VSEPR adalah bahwa pasangan elektron valensi disekitar
atom akan saling tolak menolak, sehingga susunan pasangan elektron tersebut akan
mengadopsi susunan yang meminimalisasi gaya tolak menolak. Minimalisasi gaya
tolakan antar pasangan elektron ini akan menentukan geometri molekul. Jumlah
pasangan elektron di sekitar atom disebut sebagai bilangan sterik.
Teori VSEPR biasanya akan dibandingkan dengan teori ikatan valensi yang
mengalamatkan bentuk molekul melalui orbital yang secara energetika dapat
melakukan ikatan. Teori ikatan valensi berkutat pada pembentukan ikatan sigma dan
pi. Teori orbital molekul adalah model lainnya yang digunakan untuk menjelaskan
bagaimana atom dan elektron tersusun menjadi molekul dan ion poliatomik.
Teori VSEPR telah lama dikritik oleh karena teori ini tidak memiliki
perumusan yang kuantitatif, sehingga teori ini hanya dapat digunakan untuk
memprediksi bentuk molekul secara "kasar", walaupun cukup akurat.
Sejarah

Gagasan bahwa terdapat suatu korelasi antara geometri molekul dengan


jumlah elektron valensi pertama kali dicetuskan oleh Sidgwick dan Powell pada
tahun 1940. Pada tahun 1957, Gillespie dan Nyholm menyempurnakan konsep ini
untuk membangun suatu teori yang mampu memprediksi geometri molekul.

Penjelasan
Teori VSEPR utamanya melibatkan prediksi susunan pasangan elektron di
sekitar satu atau lebih atom pusat pada suatu molekul. Jumlah pasangan elektron pada
kelopak

valensi

atom

pusat

ditentukan

dengan

menggambarkan struktur

Lewis molekul tersebut. Ketika terdapat dua atau lebih struktur resonansi yang dapat
mewakili suatu molekul, model VSEPR dapat diterapkan pada semua struktur
resonansi tersebut. Pada teori VSEPR, pasangan elektron berganda pada ikatan
berganda diperlakukan sebagai "satu pasang" elektron.
Pasangan elektron diasumsikan berada pada permukaan bola yang berpusat
pada atom pusat. Oleh karena pasangan elektron tersebut bermuatan negatif,
kesemuaan pasangan elektron akan menduduki posisi yang meminimalisasi gaya
tolak menolak antar sesamanya dengan memaksimalkan jarak antar pasangan
elektron. Jumlah pasangan elektron oleh karenanya akan menentukan keseluruhan
geometri molekul.
Sebagai contoh, ketika terdapat dua pasang elektron di sekitar atom pusat,
gaya tolak-menolak di antara keduanya akan menjadi minimal ketika keduanya
berada pada posisi saling berseberangan. Oleh karena itu, atom pusat diprediksikan
mengadopsi geometri linear. Jika terdapat tiga pasang elektron, maka gaya tolakmenolak diminimalkan dengan mengadopsi bentuk trigonal. Dengan cara yang sama,
untuk empat pasang elektron, susunan geometri yang optimal adalah tetrahedral.

Prediksi keseluruhan geometri ini disempurnakan lebih jauh dengan


membedakan pasangan elektron ikatan dan non-ikatan. Pasangan elektron ikatan
terlibat dalam ikatan sigma dengan atom bersebelahan, sehingga kedua elektron
tersebut dikongsi oleh dua atom yang berikatan, menyebabkan pasangan elektron
tersebut berada lebih jauh dari atom pusat daripada pasangan elektron non-ikatan
(pasangan elektron menyendiri) yang akan berada lebih dekat dengan atom pusat.
Oleh karena itu, tolakan yang diakibatkan oleh pasangan elektron menyendiri akan
lebih besar daripada tolakan yang diakibatkan oleh pasangan elektron yang berikatan.
Dengan demikian, ketika geometri molekul memiliki dua set posisi yang menerima
gaya tolak-menolak dengan derajat yang berbeda, pasangan elektron menyendiri akan
cenderung menduduki posisi yang menerima gaya tolakan lebih kecil. Dengan kata
lain, gaya tolak menolak antara pasangan elektron menyendiri dengan pasangan
elektron menyendiri (lone pair - lone pair) akan lebih kuat daripada gaya tolak
menolak antara pasangan elektron menyendiri dengan pasangan elektron berikatan
(lone pair - bonding pair), yang juga sendiri lebih kuat daripada gaya tolak-menolak
antara pasangan elektron berikatan dengan pasangan elektron berikatan (bonding
pair - bonding pair). Secara ringkas dapat ditulis: lp-lp > lp-bp > bp-bp.
Pembedaan ini sangat penting utamanya ketika dalam suatu geometri molekul
terdapat dua atau lebih posisi yang memungkinkan.
Metode AXE
Metode perhitungan elektron AXE umumnya digunakan ketika kita
menerapkan teori VSEPR. A mewakili atom pusat. X mewakili jumlah ikatan
sigma antara atom pusat dengan atom luar. Ikatan ganda kovalen dihitung sebagai
satu X. E mewakili jumlah pasangan elektron menyendiri yang ada disekitar atom
pusat. Jumlah X dan E, disebut sebagaibilangan sterik juga diasosiasikan dengan
jumlah orbital hibridisasi yang digunakan dalam teori ikatan valensi.

Berdasarkan jumlah bilangan sterik dan distribusi X serta E, teori VSEPR akan
memberikan prediksi sebagai berikut:

Bil.

Geometri

steri

menyendiri

dasar

pasangan

pasangan 2

menyendiri

menyendiri

2
Linear

3
datar trigonal

tekuk

tetrahedral

piramida trigonal

pasangan 3

Tekuk

pasangan

menyendiri

bipiramida

jungkat jungkit

bentuk T

Oktahedral

piramida persegi

datar persegi

bipiramida

piramida

pentagonal

pentagonal

trigonal

datar pentagonal

linear

Jenis
moleku

Bentuk

Susunan
elektron

Geometri

Contoh

AX1En

Diatomik

HF, O2

AX2E0

Linear

BeCl2, HgCl2, CO2

AX2E1

Tekuk

NO2, SO2, O3

AX2E2

Tekuk

H2O, OF2

AX2E3

Linear

XeF2, I3

AX3E0

Datar
trigonal

BF3, CO32, NO3, SO3

AX3E1

Piramida
trigonal

NH3, PCl3

AX3E2

Bentuk T

ClF3, BrF3

AX4E0

Tetrahedral

CH4, PO43, SO42, ClO4

AX4E1

AX4E2

AX5E0

Jungkatjungkit

Datar
persegi

Bipiramida
trigonal

SF4

XeF4

PCl5

AX5E1

AX5E2

AX6E0

AX6E1

AX7E0

Piramida
persegi

Datar
pentagonal

Oktahedral

Piramida
pentagonal

Bipiramida
pentagonal

ClF5, BrF5

XeF5

SF6

XeOF5, IOF52 [5]

IF7

Susunan elektron meliputi pasangan menyendiri yang ditunjukkan oleh bola kuning
Geometri yang terpantau (tidak termasuk pasangan menyendiri)

C. ATURAN OKTET DAN STRUKTUR LEWIS

Kaidah oktet (aturan oktet) adalah suatu kaidah sederhana dalam kimia yang
menyatakan bahwa atom-atom cenderung bergabung bersama sedemikiannya tiaptiap atom memiliki delapan elektron dalam kelopak valensinya, membuat konfigurasi
elektron atom tersebut sama dengan konfigurasi elektron pada gas mulia. Kaidah ini
dapat

diterapkan

pada

unsur-unsur

golongan

utama,

utamanya karbon, nitrogen, oksigen, dan halogen. Kaidah ini juga dapat diterapkan
pada unsur logam seperti natrium danmagnesium. Secara sederhana, molekul ataupun
ion cenderung menjadi stabil apabila kelopak elektron terluarnya mengandung
delapan elektron. Kaidah ini pertama kali dikemukakan oleh W. Kossel dan G.N.
Lewis.
1. Cara Mencapai Kestabilan Konfigurasi Elektron
Kecenderungan unsur-unsur lain mencapai konfigurasi stabil gas mulia
(elektron valensi 8) disebut dengan hukum oktet, sedangkan kecenderungan mencapai
konfigurasi stabil gas mulia (elektron valensi 2) disebut hukum duplet. Suatu atom
dapat mencapai kestabilan konfigurasi elektron atom gas mulia dengan cara
melepaskan elektron, menerima/menangkap elektron, dan menggunakan pasangan
elektron secara bersama-sama.

a. Pelepasan Elektron
Atom-atom yang memiliki kelebihan konfigurasi elektron (1, 2, atau 3
elektron) dibandingkan dengan konfigurasi elektron gas mulia yang terdekat maka
cenderung untuk melepaskan elektronnya.

b. Penerimaan Elektron
Penerimaan elektron dapat terjadi pada atom yang memiliki kekurangan
konfigurasi (1, 2, atau 3 elektron) dibandingkan dengan konfigurasi elektron gas
mulia yang terdekat.

c. Penggunaan Elektron Bersama


Penggunaan elektron secara bersama-sama dapat terjadi pada atom yang
mempunyai keelektronegatifan tinggi atau atom yang sukar melepakan elektronnya.
Cara ini merupakan proses yang terjadi pada pembentukan ikatan kovalen. Ikatan ini
dapat terjadi pada unsur-unsur sesama nonlogam karena unsur-unsur yang sama
cenderung untuk menarik elektron. Konfigurasi elektron yang lebih stabil dicapai
dengan cara memasangkan elektron valensinya. Jumlah elektron yang dipasangkan
sesuai dengan keadaan paling stabil yang mungkin dicapai.

d. Menerima Pasangan Elektron


Elektron-elektron dilepas, ditambah, atau dipasangkan dalam mencapai
konfigurasi elektron yang paling stabil. Berbagai unsur mencapai konfigurasi elektron
yang lebih stabil dengan menerima pasangan elektron dari atom unsur lain.
Kemudian, pasangan elektron tersebut menjadi milik bersama membentuk ikatan
kovalen koordinasi.
2. Pengecualian Aturan Oktet
Walaupun semua ikatan kovalen mematuhi aturan oktet, ternyata masih ada
beberapa senyawa yang menyimpang dari aturan oktet, misalnya senyawa PCl 5, BH3,
NO2, BCl3, dan SF6. Hal ini disebut penyimpangan aturan atau pengecualian aturan
oktet.
Pengecualian aturan oktet dapat dibagi ke dalam tiga kategori, yang ditandai oleh
oktet tak lengkap, jumlah elektron ganjil, dan terdapat lebih dari delapan elektron
disekitar atom pusat.

a. Oktet Tak Lengkap

Pada beberapa senyawa, jumlah elektron disekitar atom pusat dalam suatu
molekul stabil bisa kurang dari delapan. Misalanya, berilium unsur periode kedua dan
Golongan 2A, memiliki konfigurasi elektron 1s22s2. Be mempunyai dua elektron
valensi pada orbital 2s.

b. Molekul Berelektron Ganjil


Beberapa molekul mempunyai jumlah elektron yang ganjil, misalnya nitrogen
oksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2):

Aturan oktet tidak mungkin dipenuhi pada molekul dengan jumlah


elektron valensi ganjil, karena untuk memenuhi aturan oktet diperlukan pasangan
elektron yang lengkap (delapan elektron) yang merupakan bilangan genap.

c. Oktet yang Diperluas


Jumlah elektron valensi yang lebih besar dari delapan di sekitar satu atom bisa
ditemui dalam beberapa senyawa. Oktet yang diperluas hanya diperlukan untuk atomatom dari unsur-unsur dalam periode ketiga ke atas. Disamping orbital 3s dan 3p,
unsur-unsur dalam periode ketiga juga mempunyai orbital 3d yang dapat digunakan
untuk membentuk ikatan. Salah satu contoh senyawa dengan oktet yang diperluas
adalah sulfur heksafluorida (SF6) yang merupakan senyawa yang sangat stabil.

Konfigurasi elektron pada sulfur adalah [Ne]3s23p4. Keenam elektron valensi dari S
dalam molekul SF6 masing-masing digunakan untuk membentuk satu ikatan kovalen
dengan atom fluorin, sehingga terdapat duabelas elektron disekitar atom pusat S:

D. FENOMENA PADA ELEKTRON IKATAN


1. Resonansi
Resonansi secara

singkat dapat dikatakan dengan

suatu senyawa kimia

yang strukturnya sama tetapi

konfigurasi elektronnya

berbeda.

Aturan Struktur Resonansi


- Struktur resonansi, menggambarkan molekul, ion, radikal dan ion yang tidak cukup
digambarkan hanya dengan sebuah struktur Lewis, melainkan harus dengan dua atau
lebih struktur Lewis. Sehingga dapat mewakili struktur molekul, radikal atau ion
dalam bentuk hibridisasinya. Tanda panah untuk resonansi
- Dalam menulis struktur resonansi, kita hanya boleh memindahkan elektron,
sedangkan posisi inti atom tetap seperti dalam molekulnya.

- Semua struktur harus memenuhi struktur Lewis. Tidak boleh menulis struktur
( atom karbon mempunyai lima ikatan).

- Semua struktur resonansi harus mempunyai, jumlah electron tak berpasangan yang
sama.

- Semua atom yang terlibat dalam sistem delokalisasi harus terletak pada bidang datar
atau mendekati datar.

Senyawa 2,3-di-ters-butil-1,3-butadiena, bukan merupakan sistim konjugasi, karena


gugus tersier butil (besar) sehingga keluar dari bidang datar. Karena tidak satu bidang
maka orbital p pada C-2 dan C-3 tidak dapat mengalami overlapping dan delokalisasi
elektron menjadi terhalang.

- Struktur resonansi atau hibridisasi atau sistem yang menggambarkan mempunyai


kestabilan yang besar.
- Struktur yang lebih stabil, adalah yang lebih besar memberikan kontribusi terhadap
sistem hibridisasi. Contoh:

Struktur A mempunyai kontribusi lebih besar dari B, karena struktur A merupakan


karbonium tersier, sedangkan B adalah karbonium sekunder.
2. Konjugasi
Pengaturan kembali electron melalui orbital , terutama dalam system konjugasi
atau senyawa organic yang atom-atomnya secara kovalen berikatan tunggal dan
ganda secara bergantian (C=C-C=C-C) dan mempengaruhi satu sama lainnya
membentuk daerah delokalisasi electron disebut dengan konjugasi. Elektron-elektron
pada daerah delokalisasi ini bukanlah milik salah satu atom, melainkan milik
keseluruhan system konjugasi ini.
Contoh:
Fenol (C6H5OH) memiliki sistem 6 elektron di atas dan di bawah cincin planarnya
sekaligus di sekitas gugus hidroksil. Sistem konjugasi secara umumnya akan
menyebabkan delokalisasi electron disepanjang orbital p yang parallel satu dengan
lainnya. Hal ini akan meningkatkan stabilitas dan menurunkan energi molekul secara
keseluruhan. Konjugasi dapat terjadi dengan keberadaan gugus pendonor orbital p
yang berbeda. Selain ikatan tunggal dan ganda yang bergantian, sisten konjugasi
dapat juga terbentuk oleh keberadaan atom yang memiliki orbital p secara parallel.
Contoh, furan.

3. Hiperkonjugasi
Merupakan delokalisasi yang melibatkan elektron . Hiperkonjugasi di atas dapat
dipandang sebagai overlap antara orbital ikatan C-H dengan orbital ikatan C=C,
analog dengan overlap -. Hiperkonjugasi disebut juga resonansi tanpa ikatan.
Secara singkat efek hiperkonjugasi merupakan perubahan dari suatu ikatan C-H
menjadi ikatan C=C atau CC oleh H. Hiperkonjugasi dapat meningkatakan
kestabilan molekul dengan semakin banyaknya H maka suatu molekul tersebut akan
semakin stabil.
Contoh:

Jika suatu karbon yang mengikat atom hydrogen dan terikat pada atom tak jenuh atau
pada satu atom yang mempunyai orbital bukan ikatan maka untuknya dapat dituliskan
bentuk kanonik seperti diatas. Di dalam bentuk kanonik seperti itu sama sekali tidak
ada ikatan antara karbon dengan ion hidrogen, dan resonansi seperti itu
disebut resonansi tanpa ikatan. Hidrogen tidak pergi (karena resonansi tersebut
bukanlah suatu hal yang nyata melainkan hanya bentuk kanonik yang berkontribusi
ke struktur molekul nyata). Efek struktur diatas pada molekul nyata adalah elektron
dalam C-H lebih dekat ke karbon daripada jika struktur diatas tidak berkontribusi.

E. STRUKTUR LEWIS DAN MUATAN FORMAL


1. STRUKTUR LEWIS

Struktur Lewis adalah diagram yang menunjukkan ikatan-ikatan antar atom dalam
suatu molekul.

Struktur

Lewis

digunakan

untuk

menggambarkan ikatan

kovalen dan ikatan kovalen koordinasi.


Struktur Lewis dikembangkan oleh Gilbert N. Lewis, yang menyatakan
bahwa atom-atom bergabung untuk mencapaikonfigurasi elektron yang lebih stabil.
Untuk menyusun struktur Lewis dari suatu atom atau unsur, dapat dengan cara
menuliskan simbol titik pada sekeliling atom. Setiap titik mewakili satu elektron yang
terdapat pada kulit valensi atom tersebut. Elektron yang terlibat dalam ikatan ini
hanya elektron-elektron yang terdapat pada kulit terluar dan jumlah total elektron
yang terlibat dalam pembentukan ikatan ini tidak mengalami perubahan (merupakan
jumlah total elektron valensi dari atom-atom yang berikatan).
Pada

umumnya,

jumlah elektron pada

kulit

valensi

sama

dengan golongan dari suatu atom. Oleh karena itu, jumlah titik pada simbol Lewis
sama dengan golongan dari atom tersebut. Namun untuk logam transisi, lantanida,
dan aktinida yang mempunyai kulit dalam yang tidak terisi penuh, titik Lewis dari
unsur-unsur tersebut tidak dapat dituliskan secara sederhana.
Penulisan Struktur Lewis :
Walaupun aturan oktet dan struktur lewis tidak dapat menggambarkan ikatan
kovalen secara lengkap, keduanya sangat membantu untuk menjelaskan bentuk ikatan
dalam

beberapa

senyawa

dan

menjelaskan

sifat-sifatnya

dan

reaksi

molekulnya. Rumus lewis untuk beberapa molekul kovalen dan ion sangat berguna,
antara lain untuk mempelajari geometri suatu molekul.
Penulisan struktur lewis mengikuti tahap-tahap sebagai berikut:
1. Tulislah kerangka struktur dari senyawa bersangkutan, yang teridiri dari
lambang kimia atom-atom yang terlibat dan menempatkan atom-atom yang

berikatan secara berdekatan satu sama lain. Tahap ini cukup mudah dikerjakan
untuk senyawa yang sederhana, tetapi untuk senyawa yang lebih rumit harus
ada informasi yang sudah diketahui atau dengan membuat kerangka yang
paling mungkin. Secara umum, atom dengan keelektronegatifan terkecil
menempati posisi di tengah (pusat). Hidrogen dan fluorin biasanya menempati
posisi ujung pada struktur lewis.
2. Hitunglah jumlah total elektron valensi dari semua atom yang terlibat. Untuk
anion poliatomik, tambahkan juga perlu muatan negatifnya ke dalam jumlah
elektron valensi. (misalnya, untuk ion CO 32- kita tambahkan 2 elektron karena
muatan 2- menunjukan bahwa terdapat dua elektron tambahan daripada yang
diberikan oleh atom netral). Untuk kation poliatomik jumlah elektron valensi
dikurangi jumlah muatan positifnya. (misalnya, untuk kation NH 4+ jumlah
elektron valensi dikurangi satu karena muatan 1+ menandakan lepasnya satu
elektron dari atom netral).
3. Gambarlah ikatan kovalen tunggal antara atom pusat dengan semua atom di
sekitarnya. Lengkapi oktet dari semua atom yang terikat pada atom pusat.
(ingat bahwa kulit valensi atom hidrogen maksimum ditempati hany oleh dua
elektron.) elektron dari atom pusat atau atom sekitar harus dituliskan sebagai
pasangan elektron bebas jika elektron tersebut tidak terlibat dalam
pembentukaan ikatan. Jumlah total elektron yang digunakan untuk ikatan
adalah jumlah yang telah dihitung pada tahap 2 di atas.
4. Jika aturan oktet belum tercapai pada atom pusat, gunakan pasangan elektron
bebas dari atom-atom di sekitarnya untuk menambahkan ikatan rangkap dua
atau rangkap tiga di antara atom pusat dan atom di sekitarnya sampai aturan
terpenuhi.
Penggunaan untuk atom-atom yang berikatan
a. Pada ikatan kovalen tunggal

Ikatan kovalen pada H2

Ikatan kovalen pada F2

b. Pada ikatan kovalen rangkap dua


Pada ikatan kovalen rangkap dua, ditunjukkan oleh garis rangkap dua (=), yang
artinya terdapat dua pasangan elektron ikatan, contohnya pada ikatan rangkap dua
pada molekulCO2.

c. Pada ikatan ion


Ikatan ion pada NaCl
Atom Na memberikan 1 elektronnya pada atom Cl, sehingga Na bermuatan positif
dan Cl bermuatan negatif. Keduanya telah memenuhi kaidah oktet.

Ikatan ion pada MgO


Atom Mg memberikan 2 elektronnya pada atom O, sehingga Mg bermuatan positif 2
dan O bermuatan negatif 2. Keduanya telah memenuhi kaidah oktet.

Penggambaran
Langkah-langkah dalam menggambarkan struktur Lewis:
1. Menghitung valensi atom yang akan dibuat struktur Lewisnya, contoh NH3.

2. Membuat kerangka strukturnya, di mana atom pusatnya biasanya adalah atom


pertama dalam rumus kimia molekul tersebut.

3. Menempatkan satu elektron pada sisi di mana terdapat atom lain. Jika terdapat
sisa elektron, letakkan elektron-elektron tersebut secara berpasangan.

4. Menulis semua elektron valensi dari atom-atom yang terlibat dengan


menggunakan lambang titik ().

5. Melengkapi bentuk duplet atau oktet dari ikatan atom ke atom pusat.

6. Bila atom pusat masih belum memenuhi kaidah oktet maka dapat digunakan
ikatan rangkap agar setiap atom dapat memenuhi octet.
7. Jika sudah sesuai, ganti setiap pasangan elektron tersebut dengan garis tunggal
(ikatan tunggal). Apabila terdapat dua pasangan elektron, maka ganti dengan
garis rangkap dua (ikatan rangkap dua). Jika terdapat 3 pasangan elektron,
ganti dengan garis rangkap tiga (ikatan rangkap tiga).

2. MUATAN FORMAL
Muatan Formal adalah suatu perhitungan yang dapat digunakan pada struktur
Lewis untuk menentukan muatan dari atomatom yang membentuk suatu ikatan
ionik maupun ikatan kovalen. Muatan formal merupakan jumlah elektron valensi
dalam atom bebasnya dikurangi dengan jumlah elektron yang dimiliki oleh atom
tersebut dalam sruktur Lewisnya.
Untuk menentukan jumlah elektron atom dalam struktur Lewisnya dapat digunakan
aturan sebagai berikut:

Semua elektron non-ikatan dalam atom dinyatakan sebagai milik atom


tersebut

Membagi ikatan antara atom tersebut dengan atom lain dan menyatakan
bahwa separuh elektron ikatannya sebagai milik atom tersebut

Muatan formal dapat digunakan dalam menentukan struktur yang stabil dari suatu
ikatan. Bila ada beberapa kemungkinan struktur Lewis yang dapat dibuat, maka
struktur dengan muatan formal terkecil dan paling stabil yang dipilih.
Kadang-kadang terdapat lebih dari satu struktur Lewis yang mungkin untuk spesi
tertentu. Pada kasus seperti ini, muatan formal dapat membantu untuk memilih
struktur Lewis yang lebih disukai. Petunjuk penggunaannya adalah sebagai berikut:

Pada molekul netral, strukutur Lewis tanpa muatan formal lebih disukai
daripada struktur yang memiliki muatan formal

Struktur Lewis dengan muatan formal yang besar (2+, 3+, dan/atau 2-, 3-, dst)
kurang disukai daripada struktur dengan muatan formal yang kecil

Untuk struktur Lewis dengan distribusi muatan formal yang serupa, struktur
yang muatan negatifnya berada pada atom yang lebih elektronegatif lebih disukai.

F. INTERAKSI INTERMOLEKULAR
Gaya antarmolekul adalah gaya elektromagnetik yang terjadi antara molekul-molekul
atau antara bagian yang terpisah jauh dari suatu makromolekul. Gaya tersebut dapat
berupa kohesi antara molekul serupa, seperti contohnya pada tegangan permukaan,
atau adhesi antara molekul tak serupa, contohnya pada kapilaritas.

1. Ikatan hidrogen
Ikatan hidrogen (hydrogen bond) adalah gaya tarik menarik antara suatu pasangan
dari

sebuah atom elektronegatif dan

sebuah

atom hidrogen yang

terikat

dengan nitrogen,oksigen, atau fluorin. Ikatan hidrogen sering digambarkan sebagai


suatu interaksi dipol-dipol elektrostatik yang kuat. Namun, juga memiliki sejumlah

ciri ikatan kovalen: mempunyai arah, lebih kuat dari interaksi van der Waals,
menghasilkan jarak antaratom yang lebih pendek dari jumlah jari-jari van der Waals,
dan umumnya melibatkan pasangan dalam jumlah terbatas, yang dapat ditafsirkan
sebagai sejenis valensi.

IKatan hidrogen antarmolekul menyebabkan tingginya titik didih air (100 C)


dibanding hidrida grup 16 lain, yang tidak mempunyai ikatan hidrogen. Ikatan
hidrogen

antarmolekul

juga

turut

dan kuaterner dari protein dan asam

menyebabkan struktur

nukleat.

Juga

berperan

sekunder, tersier,
penting

pada

struktur polimer, baik sintetik maupun alamiah.


2. Gaya Van der Waals
Gaya ini dikemukakan pertama kali oleh Johannes van der Waals (1837-1923). Gaya
Van der Waals merupakan gaya tarik menarik listrik yang relatif lemah akibat
kepolaran molekul yang permanen atau terinduksi. Kepolaran permanen terjadi akibat
kepolaran didalam molekul, sedangkan kepolaran tidak permanen terjadi akibat
molekul terinduksi oleh partikel lain yang bermuatan sehingga molekul bersifat polar
sesaat secara spontan.
Berdasarkan kepolaran partikelnya gaya Van Der Waals dibagi menjadi :

a. Interaksi ion-dipol (molekul polar)


Terjadi interaksi/tarik menarik antara ion dengan molekul polar (dipol) yang
relative cukup kuat.

b. Interaksi dipol-dipol
Merupakan interaksi antara sesama molekul polar (dipol) yang terjadi antara
ekor dan kepala dari molekul itu sendiri. Gaya dipol-dipol merupakan gaya yang
bekerja antara molekul molekul polar, yaitu antara molekul yang memiliki momen
dipol. Semakin besar momen dipolnya, maka semakin kuat gayanya.

Suatu contoh interaksi dipol-dipol dapat dilihat pada asam klorida (HCl): ujung
positif suatu molekul polar akan saling menarik dengan ujung negatif molekul lain
dan mempengaruhi posisinya. Molekul polar mempunyai gaya tarik resultan. Contohcontoh molekul polar adalah asam klorida (HCl) dan kloroform (CHCl3).

c. Interaksi ion-dipol terinduksi


Merupakan interaksi ion dengan dipol terinduksi. Dipol terinduksi merupakan
molekul netral dan menjadi dipol akibat induksi partikel bermuatan yang berada di
dekatnya. Ikatan ini relatif lemah karena kepolaran molekul terinduksi relatif kecil
daripada dipol permanen.
d.

Interaksi dipol-dipol terinduksi

Molekul dipol dapat membuat molekul netral lain yang bersifat dipol terinduksi
sehingga terjadi interaksi dipol-dipol terinduksi dan ikatannya relatif lemah sehingga
prosesnya berlangsung secara lambat.Antar aksi dipol terinduksi-dipol terinduksi
(gaya london)

Gaya Van der Waals bersifat permanen sehingga lebih kuat dari gaya london. Gaya
Van Der Waals terdapat pada senyawa Hidrokarbon seperti CH 4. Perbedaan
keelektronegatifan C(2,5) dengan H(2,1) sangat kecil, yaitu 0,4. Senyawa-senyawa
yang memiliki ikatan Van Der Waals akan mempunyai titik didih yng sangat rendah,
tetapi akan semakin tinggi apabila Mr bertambah karena ikatan akan semakin kuat
(C4H10 > C3H8 > C2 H6> CH4).
3.Gaya London

Gaya London pertama kali ditemukan oleh seorang ahli fisika dari Jerman, Fritz
London, pada tahun 1930. Gaya London adalah gaya tarikan lemah yang disebabkan
oleh dipol imbasan sekejap atau sesaat yang terjadi karena adanya pergerakan
elektron dalam suatu orbital. Pergerakan tersebut dapat mengakibatkan tidak
meratanya kepadatan elektron pada atom, sehingga atom tersebut mempunyai satu
sisi dipol dengan muatan lebih negatif dibandingkan sisi yang lain. Mudahnya suatu
atom untuk membentuk dipol sesaat disebut dengan polarisabilitas. Dipol dipol ini
dikatakan sesaat karena pergerakan elektronnya milyaran kali dalam satu detik.
Dipol sesaat pada suatu atom dapat mengimbas (menginduksi) atom yang berada di
sekitarnya sehingga terjadi dipol terimbas. Hal tersebut yang menyebabkan terjadinya
gaya tarik-menarik antara dipol sesaat dengan dipol terimbas.
Pergerakan elektron yang mengakibatkan dipol sesaat dalam suatu molekul akan
bertambah besar apabila molekul tersebut memiliki jumlah elektron yang semakin
besar pula. Jumlah elektron yang besar berkaitan dengan massa molekul relatif (Mr)
molekul tersebut, sehingga semakin besar Mr suatu molekul, maka semakin besar
polarisabilitasnya dan semakin besar pula Gaya Londonnya.Molekul dengan struktur
panjang mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mengalami dipol sesaat atau
polarisabilitas. Hal ini dikarenakan molekul dengan struktur panjang mempunyai
bidang yang lebih luas bila dibandingkan dengan molekul yang memiliki struktur
lebih rapat dan kecil.

1.

G. SIFAT FISIKA HIDROKARBON (ALKANA)


Titik didih dan Titik beku

Titik lebur (biru) dan titik didih (pink) pada 14 suku pertama n-alkana, dalam satuan C.

Senyawa alkana mengalami gaya van der Waals di antara molekul-molekulnya.


Semakin besar gaya van der Waals di antara molekul-molekulnya, maka semakin
tinggi titik didihnya.
Ada penentu lain untuk menentukan berapa kekuatan gaya van der Waals:

jumlah elektron yang mengelilingi molekul, yang jumlahnya akan meningkat


seiring dengan berat molekul alkana

luas permukaan molekul

Dengan temperatur dan tekanan standar, senyawa alkana dari CH4 sampai
C4H10 berwujud gas; C5H12 sampai C17H36berwujud cairan; dan C18H38 ke atas
berwujud padat. Karena titik didih alkana ditentukan oleh beratnya, maka bukanlah
suatu hal yang aneh kalau titik didih alkana berbanding lurus dengan massa
molekulnya. Titik didih alkana akan meningkat kira-kira 2030 C untuk setiap 1
atom karbon yang ditambahkan pada rantainya.
Alkana rantai lurus akan memiliki titik didih yang lebih tinggi daripada alkana rantai
bercabang karena luas permukaan kontaknya lebih besar, maka gaya van der Waals
antar molekul juga lebih besar. Contohnya adalah isobutana (2-metilpropana) yang
titik didihnya -12 C, dengan n-butana (butana), yang titik didihnya 0 C. Contoh

lainnya adalah 2,2-dimetilbutana yang bertitik didih 50 C dan 2,3-dimetilbutana


bertitik didih 58 C. Hal ini disebabkan karena 2 molekul 2,3-dimetilbutana dapat
saling berikatan lebih baik daripada 2,2 dimetilbutana yang berbentuk salib.
2. Konduktivitas dan kelarutan
Alkana tidak menghasilkan listrik dan tidak dapat dipolarisasi oleh medan listrik.
Untuk alasan ini mengapa alkana tidak membentuk ikatan hidrogen dan tidak dapat
bercampur dengan pelarut polar seperti air.
Kelarutan alkana pada pelarut nonpolar lumayan baik, ciri-ciri yang dikenal dengan
nama lipofilisitas.
Like dissolve like. Sebuah prinsip kelarutan di mana, suatu zat hanya akan larut pada
pelarut yang sesuai. Dengan kata lain, zat yang bersifat polar akan larut pada pelarut
polar dan suatu zat non polar pun akan larut pada pelarut yang non polar. Prinsip ini
dikenal dnegan prinsip like dissolve like. Alkana yang bersifat non polar hanya akan
larut dalam pelarut yang non-polar pula, seperti CCl4 (Carbon tetraklorida).
Massa jenis alkana akan bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah atom
karbon, tapi tetap akan lebih rendah dari massa jenis air. Maka, alkana akan berada di
lapisan atas jika dicampur dengan air.