Anda di halaman 1dari 32

Kriteria Malpraktek dalam Tatalaksana Tugas dan Kewajiban Seorang Dokter kepada

Pasien
I Gede Karyasa
102012437
Fakultas Kedokteran UKRIDA
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta 11510
Igede_karyasa@yahoo.com

Pendahuluan
Kesehatan memiliki arti yang sangat penting bagi setiap orang. Dengan kesehatan orang dapat
berpikir dengan baik dan dapat melakukan aktivitas secara optimal, sehingga dapat pula menghasilkan
karya-karya yang diinginkan. Oleh karena itu setiap orang akan selalu berusaha dalam kondisi yang
sehat. Ketika kesehatan seseorang terganggu, mereka akan melakukan berbagai cara untuk sesegera
mungkin dapat sehat kembali. Salah satunya adalah dengan cara berobat pada sarana-sarana
pelayanan kesehatan yang tersedia. Tetapi, upaya penyembuhan tersebut tidak akan terwujud jika
tidak didukung dengan pelayanan yang baik pula dari suatu sarana pelayanan kesehatan, dan kriteria
pelayanan kesehatan yang baik, tidak cukup ditandai dengan terlibatnya banyak tenaga ahli atau yang
hanya memungut biaya murah, melainkan harus didasari dengan suatu sistem pelayanan medis yang
baik pula dari sarana pelayanan kesehatan tersebut. Salah satunya adalah dengan mencatat segala hal
tentang riwayat penyakit pasien, dimulai ketika pasien datang, hingga akhir tahap pengobatan di suatu
sarana pelayanan kesehatan. Dalam dunia kesehatan, catatan-catatan tersebut dikenal dengan istilah
rekam medis. Malpraktek tidak hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan saja, melainkan kaum
profesional dalam bidang lainnya yang menjalankan prakteknya secara buruk, misalnya profesi
pengacara, profesi notaris. Hanya saja istilah malpraktek pada umumnya lebih sering digunakan di
kalangan profesi di bidang kesehatan/ kedokteran. Begitu pula dengan istilah malpraktek yang
digunakan dalam skripsi ini juga dititikberatkan pada malpraktek bidang kedokteran, karena inti yang
akan dibahas dalam skripsi ini adalah mengenai kedudukan rekam medis dalam pembuktian perkara
pidana. Agar lebih terfokus serta tetap memiliki keterkaitan dengan rekam medis, maka dilakukan
pengkhususan terhadap jenis perbuatan pidana yang dimaksud dalam tema skripsi ini, yaitu
malpraktek di dalam bidang kedokteran.

Anafilaksis
Reaksi anafilaksis merupakan sindrom klinis akibat reaksi imunologis (reaksi alergi)
yang bersifat sistemik, cepat dan hebat yang dapat menyebabkan gangguan respirasi, sirkulasi, pencer
naan dan kulit1,2. Jika reaksi tersebut cukup hebat sehingga menimbulkan syok disebut sebagai syok
anafilaktik yang dapat berakibat fatal. Oleh karena itu syok anafilaktik adalah satu tragedi dalam
dunia kedokteran, yang membutuhkan pertolongan cepat dan tepat. 3
Tanpa pertolongan yang cepat dan tepat, keadaan ini dapat menimbulkan malapetaka
yang berakibat ganda. Disatu pihak penderita dapat meninggal seketika, dilain pihak dokternya dapat
dikenai sanksi hukum yang digolongkan sebagai kelalaian atau malpratice. Test kulit yang merupakan
salah satu upaya guna menghindari kejadian ini tidak dapat diandalkan,sebab ternyata dengan test
kulit yang negatif tidak menjamin 100 % untuk tidak timbulnya reaksi anafilaktik dengan pemberian
dosis penuh. Selain itu, test kulit sendiri dapatmenimbulkan syok anafilaktik pada penderita yang
amat sensitif.1,2,3,4 Olehnya itu upaya menghindari timbulnya syok anafilaktik ini hampir tertutup bagi
profesi dokter yang selalu berhadapan dengan suntikan.
Satu-satunya jalan yang dapat menolong kita dari malapetaka

ini

bukan

menghindari

penyuntikan, karena itu merupakan senjata ampuh buat kita, tapi bagaimana kita memberi pertolongan
secara lege-artis bila kejadian itu menimpa kita. Untuk itu diperlukan pengetahuan serta keterampilan
dalam pengelolaan syok anafilaktik.
Insidens
Insidens syok anafilaktik 40 60 persen adalah akibat gigitan serangga, 20-40 persen
akibatzat kontras radiografi, dan 10 20 persen akibat pemberian obat penicillin. Sangat kurang data
yang akurat dalam insiden dan prevalensi terjadinya syok anafilaktik. Anafilaksis yang fatal hanya
kira-kira 4 kasus kematian dari 10 juta masyarakat pertahun. Di Amerika Serikat insisidens reaksi
alergi dan anafilaksis yang dicatat dari bagian gawat darurat rumah sakit didapatkan bahwa 0,5persen
(5 per 1000) dan 0,02 persen (2 per 10.000) kejadian. Sebagian besar kasus yang serius anafilaktik
adalah akibat pemberian antibiotik seperti penicillin dan bahan zat radiologis. Penicillin merupakan
penyebab kematian 100 dari 500 kematian akibat reaksi anafilaksis. Secara umum insidens reaksi
anafilakis 0,01 % eksposue di Amerika. Gigitan serangga hymenoptera merupakan penyebab yang
terbanyakdari syok anafilaktik.
Patofisiologi
Reaksi anafilaksis timbul bila sebelumnya telah terbentuk IgE spesifik terhadap alergen
tertentu. Alergen yang masuk kedalam tubuh lewat kulit, mukosa, sistem pernafasan maupun

makanan, terpapar pada sel plasma dan menyebabkan pembentukan IgE spesifik terhadap alergen
tertentu. IgE spesifik ini kemudian terikat pada reseptor permukaan mastosit dan basofil.1,2
Pada paparan berikutnya, alergen akan terikat pada Ige spesifik dan memicu terjadinya reaksi
antigen antibodi yang menyebabkan terlepasnya mediator yakni antara lainhistamin dari granula yang
terdapat dalam sel. Ikatan antigen antibodi ini juga memicusintesis SRS-A ( Slow reacting substance
of Anaphylaxis ) dan degradasi dari asamarachidonik pada membrane sel, yang menghasilkan
leukotrine dan prostaglandin.
Reaksi ini segera mencapai puncaknya setelah 15 menit. Efek histamin, leukotrine (SRS-A)
dan prostaglandin pada pembuluh darah maupun otot polos bronkus menyebabkan timbulnyagejala
pernafasan dan syok. (2) Efek biologis histamin terutama melalui reseptor H1 dan H2 yang berada
pada

permukaansaluran

sirkulasi

dan

respirasi.

Stimulasi

reseptor

H1

menyebabkan

peningkatan permeabilitas pembuluh darah, spasme bronkus dan spasme pembuluh darah koronerseda
ngkan stimulasi reseptor H2 menyebabkan dilatasi bronkus dan peningkatan mukusdijalan nafas.
Rasio H1 H2 pada jaringan menentukan efek akhirnya. Aktivasi mastosit dan basofil menyebabkan
juga respon bifasik dari cAMP intraselluler.Terjadi kenaikan cAMP kemudian penurunan drastis
sejalan dengan pelepasan mediator dangranula kedalam cairan ekstraselluler. Sebaliknya penurunan
cGMP justru menghambat pelepasan mediator.2,3
Obat-obatan yang mencegah penurunan cAMP intraselluler ternyatadapat

menghilangkan

gejala anafilaksis. Obat-obatan ini antara lain adalah katekolamin(meningktakan sintesis cAMP) dan
methyl xanthine misalnya aminofilin (menghambat degradasi cAMP). Pada tahap selanjutnya
mediator-mediator ini menyebabkan pularangkaian reaksi maupun sekresi mediator sekunder dari
netrofil,eosinofil dantrombosit,mediator primer dan sekunder menimbulkan berbagai perubahan
patologis padavaskuler dan hemostasis, sebaliknya obat-obat yang dapat meningkatkan cGMP
(misalnyaobat cholinergik) dapat memperburuk keadaan karena dapat merangsang terlepasnya
mediator.
Reaksi Anafilaktoid
Reaksi anafilaktoid adalah reaksi yang menyebabkan timbulnya gejala dan keluhan yang
sama dengan reaksi anafilaksis tetapi tanpa adanya mekanisme ikatan antigen antibodi.Pelepasan
mediator biokimiawi dari mastosit melewati mekanisme nonimunologik ini belumseluruhnya dapat
diterangkan. Zat-zat yang sering menimbulkan reaksi anafilaktoid adalahkontras radiografi
(idionated), opiate, tubocurarine, dextran maupun mannitol. Selain ituaspirin maupun NSAID lainnya
juga sering menimbulkan reaksi anafilaktoid yang didugasebagai akibat terhambatnya enzim
siklooksgenase.

Manifestasi klinik
Walaupun gambaran atau gejala klinik suatu reaksi anafilakis berbeda-beda gradasinya
sesuai berat ringannya reaksi antigen-antibodi atau tingkat sensitivitas seseorang, namun padatingkat
yang berat barupa syok anafilaktik gejala yang menonjol adalah gangguan sirkulasidan gangguan
respirasi. Kedua gangguan tersebut dapat timbul bersamaan atau berurutanyang kronologisnya sangat
bervariasi dari beberapa detik sampai beberapa jam. Padadasarnya makin cepat reaksi timbul makin
berat keadaan penderita.1,2,3
Sistem pernafasan
Gangguan respirasi dapat dimulai berupa bersin, hidung tersumbat atau batuk saja
yangkemudian segera diikuti dengan udema laring dan bronkospasme.
Kedua gejala terakhir inimenyebabkan penderita nampak dispnue sampai hipoksia yang pada
gilirannya menimbulkangangguan sirkulasi, demikian pula sebaliknya, tiap gangguan sirkulasi pada
gilirannyamenimbulkan gangguan respirasi. Umumnya gangguan respirasi berupa udema laring
dan bronkospasme merupakan pembunuh utama pada syok anafilaktik.4
Sistem sirkulasi
Biasanya gangguan sirkulasi merupakan efek sekunder dari gangguan respirasi, tapi bisa
juga berdiri sendiri, artinya terjadi gangguan sirkulasi tanpa didahului oleh gangguan respirasi.Gejala
hipotensi merupakan gejala yang menonjol pada syok anafilaktik.
Hipotensi terjadisebagai akibat dari dua faktor, pertama akibat terjadinya vasodilatasi
pembuluh darah periferdan kedua akibat meningkatnya permeabilitas dinding kapiler sehingga selain
resistensi pembuluh darah menurun, juga banyak cairan
intravaskuler yang keluar keruang interstitiel(terjadi hipovolume relatif). Gejala hipotensi ini dapat
terjadi dengan drastis sehingga tanpa pertolongan yang cepat segera dapat berkembang menjadi
gagal sirkulasi atau henti jantung.
Gangguan kulit
Merupakan gejala klinik yang paling sering ditemukan pada reaksi anafilaktik.
Walaupungejala ini tidak mematikan namun gejala ini amat penting untuk diperhatikan sebab
inimungkin merupakan gejala prodromal untuk timbulnya gejala yang lebih berat berupagangguan
nafas dan gangguan sirkulasi.1,2 Oleh karena itu setiap gangguan kulit berupaurtikaria, eritema, atau
pruritus harus diwaspadai untuk kemungkinan timbulnya gejala yanglebih berat. Dengan kata lain
setiap keluhan kecil yang timbul sesaat sesudah penyuntikanobat,harus diantisipasi untuk dapat
berkembang kearah yang lebih berat.
4

Gangguan gastrointestinal
Perut

kram,mual,muntah

sampai

diare

merupakan

manifestasi

dari

gangguan

gastrointestinalyang juga dapat merupakan gejala prodromal untuk timbulnya gejala gangguan nafas
dansirkulasi.
Pengelolaan Anafilaksis dan syok Anafilaksis
Secara umum terapi anafilaksis bertujuan :
1. Mencegah efek mediator
2. Menghambat sintesis dan pelepasan mediator
Blokade reseptor2. Mengembalikan fungsi organ dari perubahan patofisiologik akibat efek mediator.
Penanganan syok anafilaktik
Terapi medikamentosa
Prognosis

suatu

syok

anafilaktik

amat

tergantung

dari

kecepatan

diagnose

dan pengelolaannya. 1.Adrenalin merupakan drug of choice dari syok anafilaktik. Hal ini disebabkan
3 faktor yaitu:

Adrenalin
merupakan bronkodilator yang kuat , sehingga penderita dengan cepatterhindar dari hipoksia
yang merupakan pembunuh utama. Adrenalin merupakan vasokonstriktor pembuluh darah
dan inotropik yang kuatsehingga tekanan darah dengan cepat naik kembali. Adrenalin
merupakan histamin bloker, melalui peningkatan produksi cyclic AMP sehingga produksi dan
pelepasan chemical mediator dapat berkurang atau berhenti. 1
Dosis dan cara pemberiannya.
0,3 0,5 ml adrenalin dari larutan 1 : 1000 diberikan secara intramuskuler yang
dapatdiulangi 5 10 menit. Dosis ulangan umumnya diperlukan, mengingat lama kerja
adrenalincukup singkat. Jika respon pemberian secara intramuskuler kurang efektif, dapat
diberi secaraintravenous setelah 0,1 0,2 ml adrenalin dilarutkan dalam spoit 10 ml dengan
NaClfisiologis, diberikan perlahan-lahan. Pemberian subkutan, sebaiknya dihindari pada
syokanafilaktik karena efeknya lambat bahkan mungkin tidak ada akibat vasokonstriksi pada
kulit,sehingga absorbsi obat tidak terjadi.

Aminofilin

Dapat

diberikan

dengan

sangat

hati-hati

apabila

bronkospasme

belum

hilang

dengan pemberian adrenalin. 250 mg aminofilin diberikan perlahan-lahan selama 10 menit


intravena.Dapat dilanjutkan 250 mg lagi melalui drips infus bila dianggap perlu.3.
Antihistamin dan kortikosteroid.Merupakan pilihan kedua setelah adrenalin. Kedua obat
tersebut kurang manfaatnya padatingkat syok anafilaktik, sebab keduanya hanya mampu
menetralkan chemical mediatorsyang lepas dan tidak menghentikan produksinya. Dapat
diberikan setelah gejala klinik mulaimembaik guna mencegah komplikasi selanjutnya berupa
serum sickness atau prolongedeffect. Antihistamin yang biasa digunakan adalah
difenhidramin HCl 5 20 mg IV dan untukgolongan kortikosteroid dapat digunakan
deksametason 5 10 mg IV atau hidrocortison 100 250 mg IV.
Terapi supportif

Terapi atau tindakan supportif sama pentingnya dengan terapi medikamentosa dan
sebaiknyadilakukan secara bersamaan. (10,11,12)1. Pemberian OksigenJika laring atau
bronkospasme menyebabkan hipoksi, pemberian O2 3 5 ltr / menit harusdilakukan. Pada
keadaan

yang

amat

ekstrim

tindakan

trakeostomi

atau

krikotiroidektomi perlu

dipertimbangkan.
Posisi Trendelenburg Posisi trendeleburg atau berbaring dengan kedua tungkai diangkat
(diganjal dengan kursi )akan membantu menaikan venous return sehingga tekanan darah ikut

meningkat.
Pemasangan infus.
Jika semua usaha-usaha diatas telah dilakukan

tapi tekanan darah masih tetap rendah

maka pemasangan infus sebaiknya dilakukan. Cairan plasma expander (Dextran) merupakan
pilihan utama guna dapat mengisi volume intravaskuler secepatnya. Jika cairan tersebut takte
rsedia, Ringer Laktat atau NaCl fisiologis dapat dipakai sebagai cairan pengganti.Pemberian

cairan infus sebaiknya dipertahankan sampai tekanan darah kembali optimal danstabil.
Resusitasi Kardio Pulmoner (RKP)
Seandainya

terjadi

henti

jantung

(cardiac

arrest)

maka

prosedur

resusitasi

kardiopulmonersegera harus dilakukan sesuai dengan falsafah ABC dan seterusnya.


Mengingat kemungkinanterjadinya henti jantung pada suatu syok anafilaktik selalu ada,
maka

sewajarnya

ditiap

ruang praktek seorang dokter tersedia selain obat

obat emergency, perangkat infus dan cairannya juga perangkat resusitasi(Resucitation kit )
untuk memudahkan tindakan secepatnya.

Informasi dalam Rekam Medis


Rekam medis berisi antara lain tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan serta
tindakan dan pelayanan lain yang diberikan oleh dokter kepada seorang pasien selama menjalani
perawatan di suatu sarana pelayanan kesehatan.
Di setiap sarana pelayanan kesehatan, rekam medis harus ada untuk mempertahankan kualitas
pelayanan profesional yang tinggi, untuk melengkapi kebutuhan informasi sebagai pendahuluan
mengenai informed concent locum tenens, untuk kepentingan dokter pengganti yang meneruskan
perawatan pasien, untuk referensi masa datang, serta diperlukan karena adanya hak untuk melihat dari
pasien.
Dalam pelaksanaan pelayanan medis kepada pasien, informasi memegang peranan yang
sangat penting. Informasi tidak hanya penting bagi pasien, tetapi juga bagi dokter agar dapat
menyusun dan menyampaikan informasi kedokteran yang benar kepada pasien demi kepentingan
pasien itu sendiri. Peranan informasi dalam hubungan pelayanan kesehatan mengandung arti bahwa
pentingnya peranan informasi harus dilihat dalamhubungannya dengan kewajiban pasien selaku
individu yang membutuhkan pertolongan untuk mengatasi keluhan mengenai kesehatannya, di
samping dalam hubungannya dengan kewajiban dokter selaku profesional di bidang kesehatan. Agar
pelayanan medis dapat diberikan secara optimal, maka diperlukan informasi yang benar dari pasien
tersebut agar dapat memudahkan bagi dokter dalam diagnosis, terapi, dan tahapan lain yang
diperlukan oleh pasien. Dengan kata lain, penyampaian informasi dari pasien tentang penyakitnya
dapat mempengaruhi perawatan pasien.
Berkenaan dengan kerugian yang sering diderita pasien akibat kesalahan (kesengajaan/
kealpaan) para tenaga kesehatan karena tidak menjalankan praktek sesuai dengan standar profesinya,
saat ini masyarakat telah memenuhi pengetahuan serta kesadaran yang cukup terhadap hukum yang
berlaku, sehingga ketika pelayanan kesehatan yang mereka terima dirasa kurang optimal bahkan
menimbulkan kondisi yang tidak diinginkan atau dianggap telah terjadi malpraktek kedokteran,
masyarakat akan melakukan gugatan baik kepada sarana pelayanan kesehatan maupun kepada tenaga
kesehatan yang bekerja di dalamnya atas kerugian yang mereka derita.
Demi mewujudkan keadilan, memberikan perlindungan, serta kepastian hukum bagi semua
pihak, dugaan kasus malpraktek kedokteran ini harus diproses secara hukum. Tentunya proses ini
tidak mutlak menjamin akan mengabulkan tuntutan dari pihak pasien atau keluarganya secara penuh,
atau sebaliknya membebaskan pihak tenaga kesehatan maupun sarana pelayanan kesehatan yang
dalam hal ini sebagai pihak tergugat, dari segala tuntutan hukum. Pemeriksaan terhadap dugaan kasus
malpraktek kedokteran ini harus dilakukan melalui tahapan-tahapan penyelidikan, penyidikan,
penuntutan, serta pemeriksaan di sidang pengadilan untuk membuktikan ada/ tidaknya kesalahan
7

(kesengajaan/ kealpaan) tenaga kesehatan maupun sarana pelayanan kesehatan tempat mereka
bekerja.
Sorotan masyarakat yang cukup tajam atas jasa pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan,
khususnya dengan terjadinya berbagai kasus yang menyebabkan ketidakpuasan masyarakat
memunculkan isu adanya dugaan malpraktek medis yang secara tidak langsung dikaji dari aspek
hukum dalam pelayanan kesehatan, karena penyebab dugaan malpraktek belum tentu disebabkan oleh
adanya kesalahan/kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, khususnya dokter.
Bentuk dan prosedur perlindungan terhadap kasus malpraktek yang ditinjau dari UndangUndang Perlindungan Konsunmen No.8 tahun 1999.

Peraturan

tersebut

mengatur tentang

pembinaan dan pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah melalui lembaga-lembaga yang dibentuk
oleh pemerintah yang membidangi perlindungan konsumen, selain peran serta pemerintah, peran serta
masyarakat sangat perlu dibutuhkan dalam perlindungan konsumen dalam kasus malpraktek serta
penerapan hukum terhadap kasus malpraktek yang meliputi tanggung jawab hukum dan sanksinya
menurut Hukum Perdata, pidana dan administrasi.
Untuk membuktikan kesalahan (kesengajaan/ kealpaan) tenaga kesehatan ataupun sarana
pelayanan kesehatan tempat mereka bekerja dalam dugaan kasus malpraktek kedokteran ini, hakim di
pengadilan dapat menjadikan rekam medis pasien sebagai salah satu sumber atau bukti yang dapat
diteliti.
Rumusan Masalah.
Berdasarkan dari uraian dalam

latar belakang di atas, dirumuskan permasalahan-permasalahan

sebagai berikut :

Apakah hukum kesehatan dan malpraktek ?


Bagaimanakah jenis-jenis malpraktek ?
Bagaimanakah malpraktek kedokteran ?
Bagaimanakah kekuatan hukum rekam medis dalam pembuktian perkara malpraktek di

bidang kedokteran berdasarkan KUHAP ?


Bagaimanakah cara menghindari malpraktek ?

Tujuan Penulisan.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menjelaskan pengertian hukum kesehatan .


Menjelaskan pengertian malpraktek.
Menjelaskan jenis-jenis malpraktek dibidang pelayanan kesehatan.
Menjelaskan pengertian malpraktek kedokteran.
Memahami aturan hukum positif di indonesia yang berkaitan dengan malpraktek.
Memahami upaya pencegahan malpraktek

Pengertian Hukum Kesehatan Menurut para Ahli


Perkembangan hukum disuatu Negara tidak dapat dilepaskan dari sistem hukum yang dianut di
Negara tersebut.
Menurut H.J.J. Leenen : Hukum kesehatan meliputi semua ketentuan yang langsung berhubungan
dengan pemeliharaan kesehatan dan penerapan hukum perdata, hukum pidana dan hukum
administrasi dalam hubungan tersebut. Demikian pula dengan penerapan pedoman internasional,
hukum kebiasaan dan juris prudensi yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan, hukum otonom,
ilmu, literature menjadi sumber hukum kesehatan.
Sedangkan Anggaran Dasar PERHUKI (Perhimpunan Hukum Kesehatan Indonesia)
menyebutkan kesehatan adalah : Semua ketentuan hukum yang berhubungan langsung dengan
pemeliharaan dan pelayanan kesehatan dan penerapan hak dan kewajiban baik perseorangan dan
segenap lapisan masyarakat sebagai penerima pelayanan kesehatan maupun dari pihak
penyelenggaraan pelayanan kesehatan salam segala aspek organisasi, sarana, pedoman-pedoman
medik, ilmu pengetahuan kesehatan dan hukum serta sumber-sumber hukum lainnya, sedangkan
yang dimaksud dengan hukum kedokteran adalah bagian dari hukum kesehatan yang menyangkut
pelayanan medis.
Pengertian Malpraktek
Secara harfiah mal mempunyai arti salah sedangkan praktik mempunyai arti
pelaksanaan atau tindakan, sehingga malpraktik berarti pelaksanaan atau tindakan yang salah.
Definisi malpraktek profesi kesehatan adalah kelalaian dari seseorang dokter atau perawat
untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat
pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran
dilingkungan yang sama (Valentin v. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos, California,
1956).
Menurut M.Jusuf Hanafiah & Amri Amir (1999: 87), malpraktek adalah:
kelalaian seorang dokter untuk mempergunakan tingkat keterampilan dan ilmu yang lazim
dipergunakan dalam mengobati pasien atau orang yang terluka menurut ukuran di lingkungan yang
sama. Yang dimaksud kelalaian disini adalah sikap kurang hati-hati, yaitu tidak melakukan apa yang
seseorang dengan sikap hati-hati melakukannya dengan wajar, tapi sebaliknya melakukan apa yang
seseorang dengan sikap hati-hati tidak akan melakukannya dalam situasi tersebut. Kelalaian diartikan
pula dengan melakukan tindakan kedokteran di bawah standar pelayanan medis (standar profesi dan
standar prosedur operasional).5

Menurut M.Jusuf Hanafiah & Amri Amir, yaitu:


1.

adanya unsur kesalahan/kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan

dalam menjalankan

profesinya;
2. adanya perbuatan yang tidak sesuai dengan standar prosedur operasional;
3. adanya luka berat atau mati, yang mengakibatkan pasien cacat atau meninggal dunia;
4. adanya hubungan kausal, dimana luka berat yang dialami pasien merupakan akibat dari perbuatan
dokter yang tidak sesuai dengan standar pelayanan medis.
Contoh-contoh malpraktek adalah ketika seorang dokter atau tenaga kesehatan:
a. meninggalkan kain kasa di dalam rahim pasien;
b. melupakan keteter di dalam perut pasien;
c. menunda persalinan sehingga janin meninggal di dalam kandungan ibunya;
d. menjahit luka operasi dengan asal-asalan sehingga pasien terkena infeksi berat;
e. tidak mengikuti standar profesi dan standar prosedur operasional.
Adapun pemikiran tentang malpraktek itu sendiri antara lain dikemukakan oleh Kartono Mohamad
(Mantan ketua IDI):
Para dokter jangan sok kuasa dan menganggap pasien cuma perlu dicecoki obat. Pasien
jangan lagi mau diam, seharusnya pasien mempertanyakan resep, dosis dan jenis terapi kepada dokter
dengan kritis. Cari pendapat kedua dari dokter lain sebagai pembanding. Ini memang agak susah
karena sebagian masyarakat masih menilai posisi dokter begitu tinggi. Sedikit saja dokter melotot,
mulut pasien seolah beku terkunci. Padahal dokter juga manusia yang bisa keliru dan karena itu butuh
dicereweti.
Sedangkan menurut Marius Widajarta, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan
Indonesia (Majalah Tempo, 28 Maret 2004;97), setiap minggu ada korban malpraktek dalam
berbagai tingkatan di seluruh Indonesia, dikarenakan pengawasan praktek kedokteran di negeri ini
begitu longgar dan hanya bagus sebagai teori diatas kertas.
Untuk membawa kasus malpraktek ke pengadilan banyak menemui kendala. Pertama, karena
pengadilan kita sedang jatuh wibawa, karena pengadilan itu sendiri seakan-akan bisa dibeli. Kedua
rumah sakit dan dokter dianggap mewakili pihak yang sanggup membeli pengadilan. Ketiga, para
penegak hukum belum tentu memahami teknis dan prosedur dalam mengajukan perkara malpraktek
10

ke depan pengadilan. Tak aneh bila pasien berpikir dua kali jika harus berhadapan dengan rumah sakit
yang bermodal raksasa.
Berdamai memang pilihan mudah bagi korban atau dokter, korban mendapatkan ganti rugi
berupa materi, sementara dokter dan rumah sakit tak perlu risau dengan publikasi bernada miring di
media massa. Tapi jalan damai inilah yang membuat malpraktek sulit untuk dibawa ke pengadilan,
karena selama korban cenderung memilih jalan damai, kita tidak akan pernah belajar menangani
persoalan malpraktek sampai tuntas.
Akan tetapi jalan damai tidak cukup membuat para dokter jera dalam melakukan kesalahan,
karena cukup dengan uang puluhan atau ratusan juta rupiah, urusan bisa selesai. Uang sejumlah itu
bukanlah masalah besar bagi dokter atau rumah sakit, lain halnya bila kasusnya dibawa ke pengadilan,
dokter dan rumah sakit akan menanggung dampak serius bila divonis bersalah.
Dampaknya antara lain, dokter dan rumah sakit akan kehilangan kepercayaan dari
masyarakat, yang menyebabkan dokter dan pengelola rumah sakit akan mengalami penurunan
pendapatan yang sangat drastis. Hal itu dikarenakan masyarakat jarang atau bahkan tidak mau lagi
berobat ke tempat praktik dokter dan rumah sakit yang mempunyai kasus malpraktek. Hasilnya,
mereka tentu bakal berhitung panjang sebelum melakukan kesalahan.
Henry campell black memberikan definisi malpraktek sebagai berikut: Malpractice is
professional misconduct on the part of a professional person such as physician, dentist, vetenarian,
malpractice may be the result of skill or fidelity in the performance of professional duties,
intentionally wrong doing or illegal or unethical practice. (Malpraktek adalah kesalahan dalam
menjalankan profesi sebagai dokter, dokter gigi, dokter hewan. Malpraktek adalah akibat dari sikap
tidak peduli, kelalaian, atau kurang keterampilan, kurang hati-hati dalam melaksanakan tugas profesi,
berupa pelanggaran yang disengaja, pelanggaran hukum atau pelanggaran etika).
Sedangkan veronica komalawati menyebutkan malpraktek pada hakekatnya adalah kesalahan
dalam menjalankan profesi yang timbul akibat adanya kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan
dokter. Selanjutnya herman hediati koeswadji menjelaskan bahwa malpraktek secara hafiah diartikan
sebagai bad practice atau praktik buruk yang berkaitan dengan penerapan ilmu dan teknologi medik
dalam menjalankan profesi medik yang mengandung ciri-ciri khusus.
Pasal 11 UU 6 /1963 tentang kesehatan menyatakan: dengan tidak mengurangi ketentuan
dalam KUHP dan UU lain terhadap tenaga kesehatan dapat dilakukan tindakan administrative dalam
hal sebagai berikut:
a. Melalaikan kewajiban

11

b. Melakukan suatu hal yang tidak boleh diperbuat oleh seorang tenaga kerja kesehatan mengingat
sumpah jabatan maupun mengingat sumpah sebagai tenaga kesehatan.
c. Melanggar ketentuan menurut undang-undang ini.
Pengertian malpraktik medik menurut WMA (World Medical Associations) adalah Involves
the physicians failure to conform to the standard of care for treatment of the patients condition, or a
lack of skill, or negligence in providing care to the patient, which is the direct cause of an injury to the
patient (adanya kegagalan dokter untuk menerapkan standar pelayanan terapi terhadap pasien, atau
kurangnya keahlian, atau mengabaikan perawatan pasien, yang menjadi penyebab langsung terhadap
terjadinya cedera pada pasien). Di dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga kesehatan berlaku
norma etika dan norma hukum. Oleh sebab itu apabila timbul dugaan adanya kesalahan praktek sudah
seharusnyalah diukur atau dilihat dari sudut pandang kedua norma tersebut. Kesalahan dari sudut
pandang etika disebut ethical malpractice dan dari sudut pandang hukum disebut yuridical
malpractice. Hal ini perlu dipahami mengingat dalam profesi tenaga perawatan berlaku norma etika
dan norma hukum, sehingga apabila ada kesalahan praktek perlu dilihat domain apa yang dilanggar.
Karena antara etika dan hukum ada perbedaan-perbedaan yang mendasar menyangkut substansi,
otoritas, tujuan dan sangsi, maka ukuran normatif yang dipakai untuk menentukan adanya ethical
malpractice atau yuridical malpractice dengan sendirinya juga berbeda. 5,6
Yang jelas tidak setiap ethical malpractice merupakan yuridical malpractice akan tetapi semua
bentuk yuridical malpractice pasti merupakan ethical malpractice (Lord Chief Justice, 1893).
Pembahasan
Malpraktek Dibidang Hukum
Untuk malpraktek hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori sesuai bidang
hukum yang dilanggar, yakni Criminal malpractice, Civil malpractice dan Administrative malpractice.
Criminal malpractice
Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice manakala perbuatan
tersebut memenuhi rumusan delik pidana yakni :
a. Perbuatan tersebut (positive act maupun negative act) merupakan perbuatan tercela.
b. Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa kesengajaan (intensional),
kecerobohan (reklessness) atau kealpaan (negligence).

12

Criminal malpractice yang bersifat sengaja (intensional) misalnya melakukan euthanasia (pasal 344
KUHP), membuka rahasia jabatan (pasal 332 KUHP), membuat surat keterangan palsu (pasal 263
KUHP), melakukan aborsi tanpa indikasi medis pasal 299 KUHP).
Criminal malpractice yang bersifat ceroboh (recklessness) misalnya melakukan tindakan medis
tanpa persetujuan pasien informed consent.
Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai) misalnya kurang hati-hati mengakibatkan
luka, cacat atau meninggalnya pasien, ketinggalan klem dalam perut pasien saat melakukan operasi.
Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat
individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada rumah
sakit/sarana kesehatan.
Civil malpractice
Seorang tenaga kesehatan akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak
melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah disepakati
(ingkar janji). Tindakan tenaga kesehatan yang dapat dikategorikan civil malpractice antara lain:
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.
b. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat melakukannya.
c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak sempurna.
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.
Pertanggung jawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi dan dapat pula
dialihkan pihak lain berdasarkan principle of vicarius liability. Dengan prinsip ini maka rumah
sakit/sarana kesehatan dapat bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan karyawannya (tenaga
kesehatan) selama tenaga kesehatan tersebut dalam rangka melaksanakan tugas kewajibannya. 5
Administrative malpractice
Dokter dikatakan telah melakukan administrative malpractice manakala tenaga perawatan
tersebut telah melanggar hukum administrasi. Perlu diketahui bahwa dalam melakukan police power,
pemerintah mempunyai kewenangan menerbitkan berbagai ketentuan di bidang kesehatan, misalnya
tentang persyaratan bagi tenaga perawatan untuk menjalankan profesinya (Surat Ijin Kerja, Surat Ijin
Praktek), batas kewenangan serta kewajiban tenaga perawatan. Apabila aturan tersebut dilanggar
maka tenaga kesehatan yang bersangkutan dapat dipersalahkan melanggar hukum administrasi.
Pembuktian Malpraktek Dibidang Pelayanan Kesehatan
13

Dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktianya dapat dilakukan dengan dua
cara yakni :
1.

Cara langsung

Oleh Taylor membuktikan adanya kelalaian memakai tolok ukur adanya 4 D yakni :
a. Duty (kewajiban)
Dalam hubungan perjanjian tenaga dokter dengan pasien, dokter haruslah bertindak berdasarkan:

Adanya indikasi medis


Bertindak secara hati-hati dan teliti
Bekerja sesuai standar profesi
Sudah ada informed consent.

b. Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban)


Jika seorang dokter melakukan tindakan menyimpang dari apa yang seharusnya atau tidak melakukan
apa yang seharusnya dilakukan menurut standard profesinya, maka dokter dapat dipersalahkan.
c. Direct Cause (penyebab langsung)
d. Damage (kerugian)
Dokter untuk dapat dipersalahkan haruslah ada hubungan kausal (langsung) antara penyebab (causal)
dan kerugian (damage) yang diderita oleh karenanya dan tidak ada peristiwa atau tindakan sela
diantaranya., dan hal ini haruslah dibuktikan dengan jelas. Hasil (outcome) negatif tidak dapat
sebagai dasar menyalahkan dokter. Sebagai adagium dalam ilmu pengetahuan hukum, maka
pembuktiannya adanya kesalahan dibebankan/harus diberikan oleh si penggugat (pasien).
2.

Cara tidak langsung


Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi pasien, yakni dengan

mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya sebagai hasil layanan perawatan (doktrin res ipsa
loquitur). Doktrin res ipsa loquitur dapat diterapkan apabila fakta-fakta yang ada memenuhi kriteria:
a.

Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila dokter tidak lalai

b.

Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab dokter

c.

Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak ada contributory

negligence.
Di dalam transaksi terapuetik ada beberapa macam tanggung gugat, antara lain:
14

1. Contractual liability
Tanggung gugat ini timbul sebagai akibat tidak dipenuhinya kewajiban dari hubungan kontraktual
yang sudah disepakati. Di lapangan pengobatan, kewajiban yang harus dilaksanakan adalah daya
upaya maksimal, bukan keberhasilan, karena health care provider baik tenaga kesehatan maupun
rumah sakit hanya bertanggung jawab atas pelayanan kesehatan yang tidak sesuai standar
profesi/standar pelayanan.
2. Vicarius liability
Vicarius liability atau respondeat superior ialah tanggung gugat yang timbul atas kesalahan yang
dibuat oleh tenaga kesehatan yang ada dalam tanggung jawabnya (sub ordinate), misalnya rumah sakit
akan bertanggung gugat atas kerugian pasien yang diakibatkan kelalaian perawat sebagai
karyawannya.
3. Liability in tort
Liability in tort adalah tanggung gugat atas perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad).
Perbuatan melawan hukum tidak terbatas haya perbuatan yang melawan hukum, kewajiban hukum
baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, akan tetapi termasuk juga yang berlawanan
dengan kesusilaan atau berlawanan dengan ketelitian yang patut dilakukan dalam pergaulan hidup
terhadap orang lain atau benda orang lain (Hogeraad 31 Januari 1919).
Malpraktek Ditinjau Dari Segi Etika dan Hukum
Masalah dugaan malpraktik medik, akhir-akhir ini, sering diberitakan di media masa.
Namun, sampai kini, belum ada yang tuntas penyelesaiannya. Tadinya masyarakat berharap bahwa
UU Praktik Kedokteran itu akan juga mengatur masalah malpraktek medik. Namun, materinya
ternyata hanya mengatur masalah disiplin, bersifat intern. Walaupun setiap orang dapat mengajukan
ke Majelis Disiplin Kedokteran, tetapi hanya yang menyangkut segi disiplin saja. Untuk segi
hukumnya, undang-undang merujuk ke KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) bila terjadi
tindak pidana.6 Namun, kalau sampai diajukan ke Pengadilan

tetap terkatung-katung tidak ada

kunjung penyelesaiannya, lantas apa gunanya?


Di negara yang menganut sistem hukum Anglo-Saxon, masalah dugaan malpraktik medik ini
sudah ada ketentuan di dalam common law dan menjadi yurisprudensi. Walaupun Indonesia
berdasarkan hukum tertulis, seharusnya tetap terbuka putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap menjadi yurisprudensi.

15

Dan karena masyarakat semakin sadar terhadap masalah pelayanan kesehatan, DPR yang baru
harus dapat menangkap kondisi tersebut dengan berinisiatif membentuk Undang-Undang (UU)
tentang Malpraktik Medik, sebagai pelengkap UU Praktik Kedokteran.
Bagaimana materinya, kita bisa belajar dari negara-negara yang telah memiliki peraturan
tentang hal tersebut. Harapan masyarakat, ketika mereka merasa dirugikan akibat tindakan medis,
landasan hukumnya jelas. Sedangkan di pihak para medis, setiap tindakannya tidak perlu lagi
dipolemikan sepanjang sesuai undang-undang.
Etika punya arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang pengguna yang berbeda
dari istilah itu. Bagi ahli falsafah, etika adalah ilmu atau kajian formal tentang moralitas. Moralitas
adalah ha-hal yang menyangkut moral, dan moral adalah sistem tentang motivasi, perilaku dan
perbuatan manusia yang dianggap baik atau buruk. Franz Magnis Suseno menyebut etika sebagai ilmu
yang mencari orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang amat fundamental :
bagaimana saya harus hidup dan bertindak ? Peter Singer, filusf kontemporer dari Australia menilai
kata etika dan moralitas sama artinya, karena itu dalam buku-bukunya ia menggunakan keduanya
secara tertukar-tukar.
Bagi sosiolog, etika adalah adat, kebiasaan dan perilaku orang-orang dari lingkungan budaya
tertentu. Bagi praktisi profesional termasuk dokter dan tenaga kesehatan lainnya etika berarti
kewajiban dan tanggung jawab memenuhi harapan (ekspekatasi) profesi dan amsyarakat, serta
bertindak dengan cara-cara yang profesional, etika adalah salah satu kaidah yang menjaga terjalinnya
interaksi antara pemberi dan penerima jasa profesi secara wajar, jujur, adil, profesional dan terhormat.
Bagi eksekutif puncak rumah sakit, etika seharusnya berarti kewajiban dan tanggung jawab
khusus terhadap pasien dan klien lain, terhadap organisasi dan staff, terhadap diri sendiri dan profesi,
terhadap pemrintah dan pada tingkat akhir walaupun tidak langsung terhadap masyarakat. Kriteria
wajar, jujur, adil, profesional dan terhormat tentu berlaku juga untuk eksekutif lain di rumah sakit.
Bagi asosiasi profesi, etika adalah kesepakatan bersamadan pedoman untuk diterapkan dan
dipatuhi semua anggota asosiasi tentang apa yang dinilai baik dan buruk dalam pelaksanaan dan
pelayanan profesi itu.
Malpraktek meliputi pelanggaran kontrak ( breach of contract), perbuatan yang disengaja
(intentional tort), dan kelalaian (negligence). Kelalaian lebih mengarah pada ketidaksengajaan (culpa),
sembrono dan kurang teliti. Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, selama
tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat menerimanya. Ini
berdasarkan prinsip hukum de minimis noncurat lex, hukum tidak mencampuri hal-hal yang
dianggap sepele (hukumonliine.com, 17 April 2004).

16

Ketidaktercantuman istilah dan definisi menyeluruh tentang malpraktek dalam hukum positif
di Indonesia, ambiguitas kelalaian medik dan malpraktek yang berlarut-larut, hingga referensireferensi tentang malpraktek yang masih dominan diadopsi dari luar negeri yang relevansinya dengan
kondisi di Indonesia masih dipertanyakan, semuanya merupakan PR besar bagi pemerintah.
Barangkali inovasi cerdas pemerintah guna menangani kasus malpraktek dan sengketa medik adalah
lahirnya RUU Praktek Kedokteran. Akan tetapi, benarkah demikian? Dalam beberapa pasal, RUU
Praktik Kedokteran memang memberikan kepastian hukum bagi dokter sekaligus perlindungan bagi
pasien.
Secara substansial, RUU yang terdiri dari 182 pasal ini memuat pasal-pasal yang implisit
dengan teori-teori pembelaan dokter yang umumnya digunakan dalam peradilan. RUU Praktek
Kedokteran memungkinkan sebuah sistem untuk meregulasi pelayanan medis yang terstandardisasi
dan terkualifikasi sehingga probabilitas terjadinya malpratek dapat dieliminasi seminimal mungkin.
Dengan dicantumkannya peraturan pidana dan perdata serta peradilan profesi tenaga medis, harapan
perlindungan terhadap pasien dapat terealisasi.
Aspek Hukum Malpraktek
Hukum itu mempunyai 3 pengertian, sebagai sarana mencapai keadilan, yang kedua sebagai
pengaturan dari penguasa yang mengatur perbuatan apa yang boleh dilakukan, dilarang, siapa yang
melakukan dan sanksi apa yang akan dijatuhkan (hukum objektif). Dan yang ketiga hukum itu juga
merupakan hak. Oleh karenanya penegakan hukum bukan hanya untuk medapatkan keadilan tapi
juga hak bagi masyarakat (korban).6
Sehubungan dengan hal ini, Adami Chazawi juga menilai tidak semua malpraktik medik
masuk dalam ranah hukum pidana. Ada 3 syarat yang harus terpenuhi, yaitu pertama sikap bathin
dokter (dalam hal ini ada kesengajaan/dolus atau culpa), yang kedua syarat dalam perlakuan medis
yang meliputi perlakuan medis yang menyimpang dari standar tenaga medis, standar prosedur
operasional, atau mengandung sifat melawan hukum oleh berbagai sebab antara lain tanpa STR atau
SIP, tidak sesuai kebutuhan medis pasien. Sedangkan syarat ketiga untuk dapat menempatkan
malpraktek medik dengan hukum pidana adalah syarat akibat, yang berupa timbulnya kerugian bagi
kesehatan tubuh yaitu luka-luka (pasal 90 KUHP) atau kehilangan nyawa pasien sehingga menjadi
unsure tindak pidana.
Selama ini dalam praktek tindak pidana yang dikaitkan dengan dugaan malpraktek medik
sangat terbatas. Untuk malpraktek medik yang dilakukan dengan sikap bathin culpa hanya 2 pasal
yang biasa diterapkan yaitu Pasal 359 (jika mengakibatkan kematian korban) dan Pasal 360 (jika
korban luka berat).

17

Pada tindak pidana aborsi criminalis (Pasal 347 dan 348 KUHP). Hampir tidak pernah jaksa
menerapkan pasal penganiyaan (pasal 351-355 KUHP) untuk malpraktek medik.
Dalam setiap tindak pidana pasti terdapat unsure sifat melawan hukum baik yang
dicantumkan dengan tegas ataupun tidak. Secara umum sifat melawan hukum malpraktek medik
terletak pada dilanggarnya kepercayaan pasien dalam kontrak teurapetik tadi.
Dari sudut hukum perdata, perlakuan medis oleh dokter didasari oleh suatu ikatan atau
hubungan inspanings verbintenis (perikatan usaha), berupa usaha untuk melakukan pengobatan
sebaik-baiknya sesuai dengan standar profesi, standar prosedur operasional, kebiasaan umum yang
wajar dalam dunia kedokteran tapi juga memperhatikan kesusilaan dan kepatutan.Perlakuan yang
tidak benar akan menjadikan suatu pelanggaran kewajiban.
Ada perbedaan akibat kerugian oleh malpraktek perdata dengan malpraktek pidana. Kerugian
dalam malpraktik perdata lebih luas dari akibat malpraktik pidana. Akibat malpraktik perdata
termasuk perbuatan melawan hukum terdiri atas kerugian materil dan idiil, bentuk kerugian ini tidak
dicantumkan secara khusus dalam UU. Berbeda dengan akibat malpraktik pidana, akibat yang
dimaksud harus sesuai dengan akibat yang menjadi unsure pasal tersebut. Malpraktik kedokteran
hanya terjadi pada tindak pidana materil (yang melarang akibat yang timbul,dimana akibat menjadi
syarat selesainya tindak pidana). Dalam hubungannya dengan malpraktik medik pidana,
kematian,luka berat, rasa sakit atau luka yang mendatangkan penyakit atau yang menghambat tugas
dan matapencaharian merupakan unsure tindak pidana.
Jika dokter hanya melakukan tindakan yang bertentangan dengan etik kedokteran maka ia
hanya telah melakukan malpraktik etik. Untuk dapat menuntut penggantian kerugian karena kelalaian
maka penggugat harus dapat membuktikan adanya suatu kewajiban bagi dokter terhadap pasien,
dokter telah melanggar standar pelayananan medik yang lazim dipergunakan, penggugat telah
menderita kerugian yang dapat dimintakan ganti ruginya.
Terkadang penggugat tidak perlu membuktikan adanya kelalaian tergugat. Dalam hukum
dikenal istilah Res Ipsa Loquitur (the things speaks for itself), misalnya dalam hal terdapatnya kain
kasa yang tertinggal di rongga perut pasien sehingga menimbulkan komplikasi pasca bedah. Dalam
hal ini dokterlah yang harus membuktikan tidak adanya kelalain pada dirinya.

Asumsi masyarakat terhadap malpraktek


Maraknya malpraktek di Indonesia membuat masyarakat tidak percaya lagi pada pelayanan
kesehatan di Indonesia. Ironisnya lagi, pihak kesehatan pun khawatir kalau para tenaga medis

18

Indonesia tidak berani lagi melakukan tindakan medis karena takut berhadapan dengan hukum. Lagilagi hal ini disebabkan karena kurangnya komunikasi yang baik antara tenaga medis dan pasien. Tidak
jarang seorang tenaga medis tidak memberitahukan sebab dan akibat suatu tindakan medis. Pasien
pun enggan berkomunikasi dengan tenaga medis mengenai penyakitnya. Oleh karena itu, Departemen
Kesehatan perlu mengadakan penyuluhan atau sosialisasi kepada masyarakat tentang bagaimana
kinerja seorang tenaga medis.
Sekarang ini tuntutan professional terhadap profesi ini makin tinggi. Berita yang menyudutkan
serta tudingan bahwa dokter telah melakukan kesalahan dibidang medis bermunculan. Di Negaranegara maju yang lebih dulu mengenal istilah makpraktek medis ini ternyata tuntutan terhadap tenaga
medis yang melakukan ketidaklayakan dalam praktek juga tidak surut. Biasanya yang menjadi sasaran
terbesar adalah dokter spesialis bedah (ortopedi, plastic dan syaraf), spesialis anestesi serta spesialis
kebidanan dan penyakit kandungan.
Di Indonesia, fenomena ketidakpuasan pasien pada kinerja tenaga medis juga berkembang.
Pada awal januari tahun 2007 publik dikejutkan oleh demontrasi yang dilakukan oleh para korban
dugaan malpraktik medis ke Polda Metro Jaya dengan tuntutan agar polisi dapat mengusut terus
sampai tuntas setiap kasus dugaan malpraktek yang pernah dilaporkan masyarakat.
Tuntutan yang demikian dari masyarakat dapat dipahami mengingat sangat sedikit jumlah
kasus malpraktik medik yang diselesaikan di pengadilan. Apakah secara hukum perdata, hukum
pidana atau dengan hukum administrasi. Padahal media massa nasional juga daerah berkali-kali
melaporkan adanya dugaan malpraktik medik yang dilakukan dokter tapi sering tidak berujung pada
peyelesaian melalui sistem peradilan.
Salah satu dampak adanya malpraktek pada zaman sekarang ini (globalisasi)
Saat ini kita hidup di jaman globalisasi, jaman yang penuh tantangan, jaman yang penuh
persaingan dimana terbukanya pintu bagi produk-produk asing maupun tenaga kerja asing ke
Indonesia. Kalau kita kaitkan dengan dunia medis, ada manfaat yang didapat, tetapi banyak pula
kerugian yang ditimbulkan. Manfaatnya adalah seiring mesuknya jaman globalisasi, maka tidak
menutup kemungkinan akan kehadiran peralatan pelayanan kesehatan yang canggih. Hal ini
memberikan peluang keberhasilan yang lebih besar dalam kesembuhan pasien. Akan tetapi, banyak
juga kerugian yang ditimbulkan. Masuknya peralatan canggih tersebut memerlukan sumber daya
manusia yang dapat mengoperasikannya serta memperbaikinya kalau rusak. Yang menjadi sorotan
disini adalah dalam hal pengoperasiannya. Coba kita analogikan terlebih dahulu, dengan masuknya
peralatan-peralatan canggih tersebut, maka mutu pelayanan kesehatan harus ditingkatkan. Namun,
yang terjadi saat ini adalah banyak tenaga medis yang melakukan kesalahan dalam pengoperasian
peralatan canggih tersebut sehingga menimbulkan malpraktek. Jelas sekali bahwa ketergantungan
19

pada peralatan pelayanan kesehatan ini dapat menghambat pelayanan kesehatan. Untuk
menindaklanjuti masalah ini, agar tidak sampai terjadi malpraktek, perlu adanya penyuluhan kepada
tenaga pelayanan kesehatan mengenai masalah ini. Kemudian, perlu adanya penyesuaian kurikulum
pendidikan dengan perkembangan teknologi. Satu hal yang lebih penting lagi adalah perlu adanya
kesadaran bagi para tenaga medis untuk terus belajar dan belajar agar dapat meningkatkan
kemampuannya dalam penggunaan peralatan canggih ini demi mencegah terjadinya malpraktek.
Hal ini dapat direalisasikan dengan adanya penyuluhan yang disebutkan tadi. Selain
pembahasan dari sisi peralatan tadi, juga perlu dipikirkan masalah eksistensi dokter Indonesia dalam
menghadapi globalisasi. Seperti yang disebutkan sebelumnya, di jaman globalisasi ini memberikan
pintu terbuka bagi tenaga kesehatan asing untuk masuk ke Indonesia, begitu pula tenaga kesehatan
Indonesia dapat bekerja diluar negeri dengan mudah. Namun, apabila tidak ada tindakan untuk
mempersiapkan hal ini, dapat menimbulkan kerugian bagi tenaga kesehatan kita. Bayangkan saja,
tidak menutup kemungkinan apabila seorang tenaga medis yang kurang mempersiapkan dirinya untuk
berkiprah di negeri orang, dikarenakan ilmunya yang masih minim serta perbedaan kurikulum di
negeri yang ia tempati, terjadilah malpraktek. Hal ini tidak saja mencoreng nama baik tenaga edis
tersebut tersebut, tetapi juga nama baik dunia kesehatan Indonesia. Yang jelas, kami sangat berharap
akan peran dari Pemerintah pada umumnya dan peran dari Departemen Kesehatan pada khususnya
untuk mempersiapkan tenaga kesehatan Indonesia dalam menghadapi era globalisasi saat ini.
Upaya pencegahan malpraktik dalam pelayanan kesehatan
1.

Upaya pencegahan malpraktek dalam pelayanan kesehatan

Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga bidan karena adanya mal praktek
diharapkan para bidan dalam menjalankan tugasnya selalu bertindak hati-hati, yakni:
a. Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya, karena perjanjian berbentuk
daya upaya (inspaning verbintenis) bukan perjanjian akan berhasil (resultaat verbintenis).
b. Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent.
c. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.
d. Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter.
e. Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala kebutuhannya.
f. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat sekitarnya.
2. Upaya menghadapi tuntutan hukum

20

Apabila upaya kesehatan yang dilakukan kepada pasien tidak memuaskan sehingga bidan
menghadapi tuntutan hukum, maka tenaga bidan seharusnyalah bersifat pasif dan pasien atau
keluarganyalah yang aktif membuktikan kelalaian bidan.
Apabila tuduhan kepada bidan merupakan criminal malpractice, maka tenaga bidan dapat
melakukan :
a.

Informal defence, dengan mengajukan bukti untuk menangkis/ menyangkal bahwa tuduhan

yang diajukan tidak berdasar atau tidak menunjuk pada doktrin-doktrin yang ada, misalnya bidan
mengajukan bukti bahwa yang terjadi bukan disengaja, akan tetapi merupakan risiko medik (risk of
treatment), atau mengajukan alasan bahwa dirinya tidak mempunyai sikap batin (men rea)
sebagaimana disyaratkan dalam perumusan delik yang dituduhkan.
b.

Formal/legal defence, yakni melakukan pembelaan dengan mengajukan atau menunjuk pada

doktrin-doktrin hukum, yakni dengan menyangkal tuntutan dengan cara menolak unsur-unsur
pertanggung jawaban atau melakukan pembelaan untuk membebaskan diri dari pertanggung jawaban,
dengan mengajukan bukti bahwa yang dilakukan adalah pengaruh daya paksa.
Berbicara mengenai pembelaan, ada baiknya bidan menggunakan jasa penasehat hukum,
sehingga yang sifatnya teknis pembelaan diserahkan kepadanya.
Pada perkara perdata dalam tuduhan civil malpractice dimana bidan digugat membayar ganti
rugi sejumlah uang, yang dilakukan adalah mementahkan dalil-dalil penggugat, karena dalam
peradilan perdata, pihak yang mendalilkan harus membuktikan di pengadilan, dengan perkataan lain
pasien atau pengacaranya harus membuktikan dalil sebagai dasar gugatan bahwa tergugat (bidan)
bertanggung jawab atas derita (damage) yang dialami penggugat.
Untuk membuktikan adanya civil malpractice tidaklah mudah, utamanya tidak
diketemukannya fakta yang dapat berbicara sendiri (res ipsa loquitur), apalagi untuk membuktikan
adanya tindakan menterlantarkan kewajiban (dereliction of duty) dan adanya hubungan langsung
antara menterlantarkan kewajiban dengan adanya rusaknya kesehatan (damage), sedangkan yang
harus membuktikan adalah orang-orang awam dibidang kesehatan dan hal inilah yang
menguntungkan tenaga kebidanan.
Di Indonesia terdapat ketentuan informed consent yang diatur antara lain pada peraturan pemerintah
no 18 tahun 1981 yaitu:
1. Manusia dewasa sehat jasmani dan rohani berhak sepenuhnya menentukan apa yang hendak
dilakukan terhadap tubuhnya. Dokter tidak berhak melakukan tindakan medis yang bertentangan
dengan kemauan pasien, walaupun untuk kepentingan pasien sendiri.

21

2. Semua tindakan medis (diagnostic, terapuetik maupun paliatif) memerlukan informed consent
secara lisan maupun tertulis.
3. Setiap tindakan medis yang mempunyai resiko cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan
tertulis yang ditandatangani pasien, setelah sebelumnya pasien memperoleh informasi yang adekuat
tentang perlunya tindakan medis yang bersangkutan serta resikonya.
4. Untuk tindakan yang tidak termasuk dalam butir 3, hanya dibutuhkan persetujuan lisan atau sikap
diam.
5. Informasi tentang tindakan medis harus diberikan kepada pasien, baik diminta maupun tidak
diminta oleh pasien. Menahan informasi tidak boleh, kecuali bila dokter/bidan menilai bahwa
informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien. Dalam hal ini dokter dapat
memberikan informasi kepada keluarga terdekat pasien. Dalam memberikan informasi kepada
keluarga terdekat dengan pasien, kehadiran seorang bidan/paramedic lain sebagai saksi adalah
penting.
6. Isi informasi mencakup keuntungan dan kerugian tindakan medis yang direncanakan, baik
diagnostic, terapuetik maupun paliatif. Informasi biasanya diberikan secara lisan, tetapi dapat pula
secara tertulis (berkaitan dengan informed consent).
Jenis-Jenis Malpraktek
Berpijak pada hakekat malpraktek dalam praktik yang buruk atau tidak sesuai dengan standar
profesi yang telah ditetepkan, maka ada bermacam-macam malpraktek yang dapat dipilah dengan
mendasarkan pada ketentuan hukum yang dilanggar, walaupun kadang kala sebutan malpraktek secara
langsung bisa mencakup dua atau lebih jenis malpraktek. Secara garis besar malprakltek dibagi dalam
dua golongan besar yaitu mal praktik medik (medical malpractice) yang biasanya juga meliputi
malpraktik etik (etichal malpractice) dan malpraktek yuridik (yuridical malpractice). Sedangkan
malpraktik yurudik dibagi menjadi tiga yaitu malpraktik perdata (civil malpractice), malpraktik
pidana (criminal malpractice) dan malpraktek administrasi Negara (administrative malpractice).
1. Malpraktik Medik (medical malpractice)
John.D.Blum merumuskan: Medical malpractice is a form of professional negligence in whice
miserable injury occurs to a plaintiff patient as the direct result of an act or omission by defendant
practitioner. (malpraktik medik merupakan bentuk kelalaian professional yang menyebabkan
terjadinya luka berat pada pasien / penggugat sebagai akibat langsung dari perbuatan ataupun
pembiaran oleh dokter/terguguat).

22

Sedangkan rumusan yang berlaku di dunia kedokteran adalah Professional misconduct or lack
of ordinary skill in the performance of professional act, a practitioner is liable for demage or injuries
caused by malpractice. (Malpraktek adalah perbuatan yang tidak benar dari suatu profesi atau
kurangnya kemampuan dasar dalam melaksanakan pekerjaan. Seorang dokter bertanggung jawab atas
terjadinya kerugian atau luka yang disebabkan karena malpraktik), sedangkan junus hanafiah
merumuskan malpraktik medik adalah kelalaian seorang dokter untuk mempergunakan tingkat
keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim dipergunakan dalam mengobati pasien atau orang
yang terluka menurut lingkungan yang sama.
2. Malpraktik Etik (ethical malpractice)
Malpraktik etik adalah tindakan dokter yang bertentangan dengan etika kedokteran,
sebagaimana yang diatur dalam kode etik kedokteran Indonesia yang merupakan seperangkat standar
etika, prinsip, aturan, norma yang berlaku untuk dokter.
3. Malpraktik Yuridis (juridical malpractice)
Malpraktik yuridik adalah pelanggaran ataupun kelalaian dalam pelaksanaan profesi
kedokteran yang melanggar ketentuan hukum positif yang berlaku.
Malpraktik Yuridik meliputi:
Malpraktik Perdata (civil malpractice)
Malpraktik perdata terjadi jika dokter tidak melakukan kewajiban (ingkar janji) yaitu tidak
memberikan prestasinya sebagaimana yang telah disepakati. Tindakan dokter yang dapat
dikatagorikan sebagai melpraktik perdata antara lain :
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan
b. Melakukan apa yang disepakati dilakukan tapi tidak sempurna
c. Melakukan apa yang disepakati tetapi terlambat
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatan tidak seharusnya dilakukan
Malpraktik Pidana (criminal malpractice)
Malpraktik pidana terjadi, jika perbuatan yang dilakukan maupun tidak dilakukan memenuhi
rumusan undang-undang hukum pidana. Perbuatan tersebut dapat berupa perbuatan positif
(melakukan sesuatu) maupun negative (tidak melakukan sesuatu) yang merupakan perbuatan tercela
(actus reus), dilakukan dengan sikap batin yang slah (mens rea) berupa kesengajaan atau kelalauian.
Contoh malpraktik pidana dengan sengaja adalah :
23

a. Melakukan aborsi tanpa tindakan medik


b. Mengungkapkan rahasia kedi\okteran dengan sengaja
c. Tidak memberikan pertolongan kepada seseorang yang dalam keadaan darurat
d. Membuat surat keterangan dokter yang isinya tidak benar
e. Membuat visum et repertum tidak benar
f. Memberikan keterangan yang tidak benar di pengadilan dalan kapasitasnya sebagai ahli
Contoh malpraktik pidana karena kelalaian:
a. Kurang hati-hati sehingga menyebabkan gunting tertinggal diperut
b. Kurang hati-hati sehingga menyebabkan pasien luka berat atau meninggal
c. Malpraktik Administrasi Negara (administrative malpractice)
Malpraktik administrasi terjadi jika dokter menjalankan profesinya tidak mengindahkan ketentuanketentuan hukum administrasi Negara. Misalnya:
a. Menjalankan praktik kedokteran tanpa ijin
b. Menjalankan praktik kedokteran tidak sesuai dengan kewenangannya
c. Melakukan praktik kedokteran dengan ijin yang sudah kadalwarsa.
d. Tidak membuat rekam medik.
Malpraktek Kedokteran
Praktik kedokteran bukanlah suatu pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siapa saja, melainkan
hanya boleh dilakukan oleh kelompok profesional kedokteran tertentu yang memiliki kompetensi
yang memenuhi standar tertentu, diberi kewenangan oleh institusi yang berwenang di bidang itu dan
bekerja sesuai dengan standar dan profesionalisme yang ditetapkan oleh organisasi profesinya.
Secara teoritis-konseptual, antara masyarakat profesi dengan masyarakat umum terjadi suatu
kontrak (mengacu kepada doktrin social-contract), yang memberi masyarakat profesi hak untuk
melakukan self-regulating (otonomi profesi) dengan kewajiban memberikan jaminan bahwa
profesional yang berpraktek hanyalah profesional yang kompeten dan yang melaksanakan praktek
profesinya sesuai dengan standar.

24

Sikap profesionalisme adalah sikap yang bertanggungjawab, dalam arti sikap dan perilaku
yang akuntabel kepada masyarakat, baik masyarakat profesi maupun masyarakat luas (termasuk
klien). Beberapa ciri profesionalisme tersebut merupakan ciri profesi itu sendiri, seperti kompetensi
dan kewenangan yang selalu "sesuai dengan tempat dan waktu", sikap yang etis sesuai dengan etika
profesinya, bekerja sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh profesinya, dan khusus untuk profesi
kesehatan ditambah dengan sikap altruis (rela berkorban). Uraian dari ciri-ciri tersebutlah yang
kiranya harus dapat dihayati dan diamalkan agar profesionalisme tersebut dapat terwujud.
Undang-Undang No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran diundangkan untuk mengatur
praktik kedokteran dengan tujuan agar dapat memberikan perlindungan kepada pasien,
mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis dan memberikan kepastian hukum kepada
masyarakat, dokter dan dokter gigi.
Pada bagian awal, Undang-Undang No 29/2004 mengatur tentang persyaratan dokter untuk
dapat berpraktik kedokteran, yang dimulai dengan keharusan memiliki sertifikat kompetensi
kedokteran yang diperoleh dari Kolegium selain ijasah dokter yang telah dimilikinya, keharusan
memperoleh Surat Tanda Registrasi dari Konsil Kedokteran Indonesia dan kemudian memperoleh
Surat ijin Praktik dari Dinas Kesehatan Kota / Kabupaten. Dokter tersebut juga harus telah
mengucapkan sumpah dokter, sehat fisik dan mental serta menyatakan akan mematuhi dan
melaksanakan ketentuan etika profesi.
Selain mengatur persyaratan praktik kedokteran di atas, Undang-Undang No 29/2004 juga
mengatur tentang organisasi Konsil Kedokteran, Standar Pendidikan Profesi Kedokteran serta
Pendidikan dan Pelatihannya, dan proses registrasi tenaga dokter.
Pada bagian berikutnya, Undang-Undang No 29/2004 mengatur tentang penyelenggaraan
praktik kedokteran. Dalam bagian ini diatur tentang perijinan praktik kedokteran, yang antara lain
mengatur syarat memperoleh SIP (memiliki STR, tempat praktik dan rekomendasi organisasi profesi),
batas maksimal 3 tempat praktik, dan keharusan memasang papan praktik atau mencantumkan
namanya di daftar dokter bila di rumah sakit. Dalam aturan tentang pelaksanaan praktik diatur agar
dokter memberitahu apabila berhalangan atau memperoleh pengganti yang juga memiliki SIP,
keharusan memenuhi standar pelayanan, memenuhi aturan tentang persetujuan tindakan medis,
memenuhi ketentuan tentang pembuatan rekam medis, menjaga rahasia kedokteran, serta
mengendalikan mutu dan biaya.
Pada bagian ini Undang-Undang juga mengatur tentang hak dan kewajiban dokter dan pasien.
Salah satu hak dokter yang penting adalah memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan
tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, sedangkan hak pasien yang

25

terpenting adalah hak memperoleh penjelasan tentang penyakit, tindakan medis, manfaat, risiko,
komplikasi dan prognosisnya dan serta hak untuk menyetujui atau menolak tindakan medis.
Pada bagian berikutnya Undang-Undang No 29/2004 mengatur tentang disiplin profesi.
Undang-Undang mendirikan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia yang bertugas
menerima pengaduan, memeriksa dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin dokter. Sanksi yang
diberikan oleh MKDKI adalah berupa peringatan tertulis, rekomendasi pencabutan STR dan/atau SIP,
dan kewajiban mengikuti pendidikan dan pelatihan tertentu.
Pada akhirnya Undang-Undang No 29/2004 mengancam pidana bagi mereka yang berpraktik
tanpa STR dan atau SIP, mereka yang bukan dokter tetapi bersikap atau bertindak seolah-olah dokter,
dokter yang berpraktik tanpa membuat rekam medis, tidak memasang papan praktik atau tidak
memenuhi kewajiban dokter. Pidana lebih berat diancamkan kepada mereka yang mempekerjakan
dokter yang tidak memiliki STR dan/atau SIP.
Undang-Undang No 29/2004 baru akan berlaku setelah satu tahun sejak diundangkan, bahkan
penyesuaian STR dan SIP diberi waktu hingga dua tahun sejak Konsil Kedokteran terbentuk.UU
Praktik Kedokteran belum akan bisa diterapkan secara sempurna apabila peraturan pelaksanaannya
belum dibuat. Peraturan Konsil yang harus dibuat adalah ketentuan tentang Fungsi & Tugas KKI;
Fungsi, Tugas, Wewenang KK / KKG; Pemilihan tokoh masyarakat sebagai anggota; Tata Kerja KKI;
Tata cara Registrasi; Kewenangan dokter / dokter gigi; Tata cara pemilihan Pimpinan MKDKI dan
Tata Laksana kerja MKDKI. Peraturan Menteri Kesehatan yang harus dibuat atau direvisi bila sudah
ada adalah peraturan tentang Surat Ijin Praktik, Pelaksanaan Praktik, Standar Pelayanan, Persetujuan
Tindakan Medik, Rekam Medis, dan Rahasia Kedokteran. Selain itu masih diperlukan pembuatan
berbagai standar seperti standar profesi yang di dalamnya meliputi standar kompetensi, standar
perilaku dan standar pelayanan medis, serta standar pendidikan. Bahkan beberapa peraturan
pendukung juga diperlukan untuk melengkapinya, seperti peraturan tentang penempatan dokter dalam
rangka pemerataan pelayanan kedokteran, pendidikan dokter spesialis, pelayanan medis oleh tenaga
kesehatan non medis, penataan layanan kesehatan non medis (salon, pengobatan tradisionil,
pengobatan alternatif), perumahsakitan dan sarana kesehatan lainnya, dan lain-lain.
Aturan Hukum Positif Di Indonesia Yang Berkaitan Dengan Malpraktik
1. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
2. Pasal 359 360 KUHP Pidana
Pasal 359 KUHP

26

Barang siapa karena kesalahan (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun
Pasal 360 KUHP
(1). Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun
(2). Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga
timbul penyakit atau halangan menjadikan pekerjaan jabatan atau pencarian selama waktu tertemtu,
diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau denda paling tinggi tiga ratus rupiah.
(3). Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.
Cara Menghindari Malpraktek Kedokteran
Untuk menghindari kejadian malpraktek, ada hal yang harus kita perhatikan, yakni diantaranya
adalah:

Pilih tempat pengobatan (RS atau Klinik) yang memiliki reputasi cukup baik. Jangan hanya
mempertimbangkan jarak dengan rumah sebagai dasar memilih tempat berobat. Jangan ragu
memilih di tempat yang jauh asalkan reputasinya bagus, meskipun di dekat rumah anda ada

layanan kesehatan tetapi belum jelas reputasinya.


Ketika pasien melakukan rawat inap, akan ada dokter yang ditunjuk untuk menangani pasien.
Jangan ragu untuk meminta dokter yang anda percayai kepada pihak manajemen, apalagi jika

anda merasa ragu dengan dokter yang menangani pasien yang anda bawa.
Jangan takut untuk bertanya kepada dokter mengenai tindakan medis yang dilakukan.
Menurut UU Kesehatan, keluarga pasien berhak tahu apa saja tindakan medis yang dilakukan
dokter kepada pasien. Jangan ragu untuk bertanya mengenai diagnosa, dasar tindakan medis

dan apa manfaat dari tindakan medis yang dilakukan oleh dokter tersebut.
Jangan takut untuk bertanya kepada dokter obat yang diberikan kepada pasien. Sebagai
keluarga, anda berhak tahu dan dilindungi oleh UU Kesehatan. Hal ini karena tidak jarang ada
oknum dokter hanya mengejar komisi dari perusahaan distributor obat sehingga memberikan
obat yang lebih banyak atau bahkan tidak diperlukan kepada pasien.

Kerjasama Rumah Sakit dengan Organisasi Profesi untuk mengatasi Malpraktek


Penyebab dan Pencegahannya
Kecelakaan (hasil buruk) tidak terjadi sebagai akibat dari satu sebab (single cause), melainkan
merupakan hasil dari banyak sebab (multiple cause). Suatu kesalahan manusia (human error) yang
terlihat pada waktu terjadi kecelakaan sebenarnya hanyalah merupakan active error, yang mungkin
27

kita sebut sebagai faktor penyebab ataupun pencetus / presipitasi. Sementara itu terdapat faktor-faktor
penyebab lain yang merupakan latent errors atau yang biasa kita sebut sebagai predisposisi,
underlying factors, faktor kontribusi, dll.
Active errors terjadi pada tingkat operator garis depan dan dampaknya segera dirasakan,
sedangkan latent errors cenderung berada di luar kendali operator garis depan, seperti desain buruk,
instalasi yang tidak tepat, pemeliharaan yang buruk, kesalahan keputusan manajemen, dan struktur
organisasi yang buruk.
Latent error merupakan ancaman besar bagi keselamatan (safety) dalam suatu sistem yang
kompleks, oleh karena sering tidak terdeteksi dan dapat mengakibatkan berbagai jenis active errors.
Latent errors tidak terasa sebagai error, namun sebenarnya merupakan akar dari kesalahan manajemen
yang telah banyak menimbulkan unsafe conditions dalam praktek kedokteran di lapangan. Bila satu
saat unsafe conditions ini bertemu dengan suatu unsafe act (active error), maka terjadilah accident.
Dengan demikian perlu kita pahami bahwa penyebab suatu accident bukanlah single factor melainkan
multiple factors.
Dengan demikian alangkah lebih baik apabila kita mencari faktor penyebab yang tergolong ke
dalam predisposisi, yang lebih bersifat sistemik, organisatoris dan manajerial, sehingga kita dapat
melakukan langkah-langkah pencegahannya, juga secara sistemik. Dalam diskusi internal Ikatan
Dokter Indonesia pada pertengahan tahun lalu dimunculkan beberapa akar penyebab tersebut, yaitu:
1.

Pemahaman dan penerapan etika kedokteran yang rendah. Hal ini diduga merupakan akibat dari

sistem pendidikan di Fakultas Kedokteran yang tidak memberikan materi etika kedokteran sebagai
materi yang juga mencakup afektif tidak hanya kognitif.
2.

Paham materialisme yang semakin menguat di masyarakat pada umumnya dan di dalam

pelayanan kedokteran khususnya.


3.

Belum adanya peraturan perundang-undangan yang menjamin akuntabilitas profesi kedokteran

(saat ini kita sedang menunggu diundangkannya UU Praktik Kedokteran yang diharapkan dapat
mengatur praktek kedokteran yang akuntabel).
4.

Belum adanya good clinical governance di dalam pelayanan kedokteran di Indonesia, yang

terlihat dari belum ada atau kurangnya standar (kompetensi, perilaku dan pelayanan) dan pedoman
(penatalaksanaan kasus), serta tidak tegasnya penegakan standar dan pedoman tersebut.
Diduga masih banyak penyebab-penyebab lain atau derivat dari penyebab-penyebab di atas,
seperti tidak adanya standar pendidikan kedokteran, peraturan yang membolehkan para dokter bekerja
di banyak tempat praktek (sarana kesehatan) dengan risiko menipisnya mutu hubungan dokter-pasien,

28

mahalnya pendidikan kedokteran terutama PPDS, sistem pembiayaan yang membebankan sebagian
besar keputusan kepada dokter, komersialisasi rumah sakit, dan lain-lain.
Dengan melihat faktor-faktor penyebab di atas maka pencegahan terjadinya malpraktek harus
dilakukan dengan melakukan perbaikan sistem, mulai dari pendidikan hingga ke tata-laksana praktek
kedokteran. Pendidikan etik kedokteran dianjurkan dimulai lebih dini sejak tahun pertama pendidikan
kedokteran, dengan memberikan lebih ke arah tools dalam membuat keputusan etik, memberikan
banyak latihan, dan lebih banyak dipaparkan dalam berbagai situasi-kondisi etik-klinik tertentu
(clinical ethics), sehingga cara berpikir etis tersebut diharapkan menjadi bagian pertimbangan dari
pembuatan keputusan medis sehari-hari. Tentu saja kita pahami bahwa pendidikan etik belum tentu
dapat mengubah perilaku etis seseorang, terutama apabila teladan yang diberikan para seniornya
bertolak belakang dengan situasi ideal dalam pendidikan.
Nilai-nilai materialisme yang dianut masyarakat harus dapat dibendung dengan memberikan
latihan dan teladan yang menunjukkan sikap etis dan profesional dokter, seperti autonomy,
beneficence, non maleficence dan justice, serta sikap altruisme. Diyakini bahwa hal ini adalah bagian
tersulit dari upaya sistemik pencegahan malpraktek, oleh karena diperlukan kemauan politis yang
besar dan serempak dari masyarakat profesi kedokteran untuk mau bergerak ke arah tersebut.
Perubahan besar harus dilakukan.
Undang-undang Praktik Kedokteran diharapkan menjadi wahana yang dapat membawa kita ke
arah tersebut, sepanjang penerapannya dilakukan dengan benar. Standar pendidikan ditetapkan guna
mencapai standar kompetensi, kemudian dilakukan registrasi secara nasional dan pemberian lisensi
bagi mereka yang akan berpraktek. Konsil harus berani dan tegas dalam melaksanakan peraturan,
sehingga akuntabilitas progesi kedokteran benar-benar dapat ditegakkan. Standar perilaku harus
ditetapkan sebagai suatu aturan yang lebih konkrit dan dapat ditegakkan daripada sekedar kode etik.
Demikian pula standar pelayanan harus diterbitkan untuk mengatur hal-hal pokok dalam praktek,
sedangkan ketentuan rinci agar diatur dalam pedoman-pedoman. Keseluruhannya akan memberikan
rambu-rambu bagi praktek kedokteran, menjadi aturan disiplin profesi kedokteran, yang harus
diterapkan, dipantau dan ditegakkan oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia
(MKDKI). Profesional yang kotor dibersihkan dan mereka yang busuk dibuang dari masyarakat
profesi.
Ketentuan yang mendukung good clinical governance harus dibuat dan ditegakkan. Dalam
hal ini peran rmah sakit sangat diperlukan. Rumah sakit harus mampu mencegah praktek kedokteran
tanpa kewenangan atau di luar kewenangan, mampu memaksa para profesional bekerja sesuai
dengan standar profesinya, serta mampu memberikan suasana dan budaya yang kondusif bagi
suburnya praktek kedokteran yang berdasarkan bukti (EBM).

29

Penutup
Kesimpulan
Ada banyak penyebab mengapa persoalan malpraktik medik mencuat akhir-akhir ini
dimasyarakat diantaranya pergeseran hubungan antara tenaga medis dan pasien yang tadinya bersifat
paternalistic

tidak

seimbangdan

berdasarkan

kepercayaan

(trust,

fiduciary

relationship)

bergantidengan pandangan masyarakat yang makin kritis serta kesadaranhukum yang makin tinggi.
Selain itu jumlah dokter di Indonesia dianggap belum seimbang dengan jumlah pasien sehingga
seorang tenaga medis menangani banyak pasien (berpraktek di berbagai tempat) yang berakibat
diagnosa menjadi tidak teliti.
Apresiasi masyarakat pada nilai kesehatan makin tinggi sehingga dalam melakukan hubungan
dengan dokter, pasien sangat berharap agar dokter dapat memaksimalkan pelayanan medisnya untuk
harapan hidup dan kesembuhan penyakitnya. Selama ini masyarakat menilai banyak sekali kasus
dugaan malpraktik medik yang dilaporkan media massa atau korban tapi sangat sedikit jumlahnya
yang diselesaikan lewat jalur hukum.
Dari sudut penegakan hukum sulitnya membawa kasus ini ke jalur pengadilan diantaranya
karena belum ada keseragaman paham diantara para penegak hukum sendiri soal malpraktik medik
ini.Masih ada masyarakat (pasien) yang belum memahami hak-haknya untuk dapat meloprkan dugaan
malpraktik yang terjadi kepadanya baik kepada penegak hukum atau melalui MKDKI (Majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia). Oleh karenanya lembaga MKDKI sebagai suatu
peradilan profesi dapat ditingkatkan peranannya sehingga mendapat kepercayaan dari masyarakat
sebagai lembaga yang otonom, independent dan memperhatikan juga nasib korban. Bahkan berkaitan
dengan MKDKI ini SEMA RI tahun 1982 menyarankan agar untuk kasus dugaan malpraktik medik
sebaiknya diselesaikan dulu lewat peradilan profesi ini.
Dari sudut hukum acara (pembuktian) terkadang penegak hukum kesulitan mencari keterangan
ahli yang masih diliputi esprit de corps. Mungkin sudah saatnya diperlukan juga saksi yang
memahami ilmu hukum sekaligus ilmu kesehatan.
Bahaya malpraktek memang luar biasa. Tidak hanya mengakibatkan kelumpuhan atau
gangguan fatal organ tubuh, tetapi juga menyebabkan kematian. Masalah yang ditimbulkan pun bisa
sampai pada masalah nama baik, baik pribadi bahkan negara, seperti yang dipaparkan waktu
penjelasan fenomena malpraktek pada era globalisasi tadi. Benar-benar kompleks sekali permasalahan
yang timbul akibat malpraktek ini. Sehingga benar bahwa malpraktek dikatakan sebagai sebuah
malapetaka bagi dunia kesehatan di Indonesia.
Saran
30

Terhadap dugaan malpraktik medik, masyarakat dapat melaporkan kepada penegak hukum
(melalui jalur hukum pidana), atau tuntutan ganti rugi secara perdata, ataupun menempuh ketentuan
pasal 98 KUHAP memasukkan perkara pidana sekaligus tuntutan gantirugi secara perdata.

Daftar Pustaka
1. Tambayong J. Patofisiologi Keperawatan. EGC Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta: 2000; h
27-8.
2. Behrman, Arvin dan Kliegman. Nelson Ilmu Kesehatan Anak vol.2. EGC Penerbit Buku
Kedokteran. Jakarta: 2000; h 1250-1.
3. Davey P. At a Glance Medicine. Erlangga. Jakarta: 2005; h 14-20.
4. Bakta M dan Suastika K. Gawat Darurat di Bidang Penyakit Dalam. EGC Penerbit Buku
Kedokteran. Jakarta: 1999; h 153.
5. Hanafiah J dan Amri A. Etika kedokteran dan hukum kesehatan vol.4. EGC Penerbit Buku
Kedokteran. Jakarta: 2009 ; h 3-65.
6. Darwin E dan Hardisman. Etika profesi kesehatan. Deepublish Publisher. Yogyakarta: 2014 ;
h 21-24.

31

32