Anda di halaman 1dari 21

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN

LAPORAN KASUS
OKTOBER 2015

UNIVERSITAS PATTIMURA

OD HORDEOLUM INTERNUM

Oleh :
Wahyuni Noor Rizky Renfaan
2010-83-027

Pembimbing :
dr. Carmila L. Tamtelahitu, Sp.M

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN


KLINIK
PADA BAGIAN ILMI KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2015

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI PALPEBRA
Palpebra terletak di depan mata, yang melindungi mata dari cedera dan cahaya
berlebihan. Palpebra superior lebih besar dan lebih mudah bergerak daripada
palpebra inferior. Kedua palpebra saling bertemu di sudut medial dan lateral. Bila
mata di tutup palpebra superior akan menutup kornea dengan sempurna. Bila
mata di buka dan menatap lurus ke depan, palpebra superior hanya menutupi
pinggir atas kornea. Palpebra inferior terletak tepat di bawah kornea bila mata di
buka dan hanya naik sedikit bila mata di tutup.1
Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat
menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip melindungi kornea
dan konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata dan
palpebra inferior menyatu dengan pipi.1
Palpebra terdiri atas lima bidang jaringan utama. Dari superfisial ke dalam
terdapat lapis kulit, lapis otot rangka (orbicularis oculi), jaringan areolar, jaringan
fibrosa (tarsus) dan lapis membran mukosa (konjungtiva palpebrae).1,2
1. Kulit
Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian tubuh lain karena tipis,
longgar dan elastis dengan sedikit folikel rambut, tanpa lemak subkutan.

2. Musculus Orbicularis Oculi


Fungsi otot yang dipersarafi oleh nervus facialis ini adalah untuk menutup
palpebra. Serat ototnya mengelilingi fissura palpebra secara konsentris dan
meluas sedikit melewati tepian segmen luar palpebra, yaitu orbita.
Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. Bagian otot yang terdapat di
dalam palpebra dikenal sebagai bagian pratarsal dan bagian di atas septum
orbita dikenal sebagai praseptal.
3. Jaringan Areolar
Terdapat di bawah musculus orbicularis oculi, berhubungan dengan lapis
subaponeurotik dari kulit kepala.
4. Tarsus
Struktur penyokong utama palpebra adalah lapis jaringan fibrosa padat
yang disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas jaringan
penyokong kelopak mata dengan kelenjar Meibom.
5. Konjungtiva Palpebra
Bagian posterior palpebra dilapisi selapis membrane mukosa dan
konjungtiva palpebra yang melekat pada tarsus.
Tepian palpebra dipisahkan dan dibagi menjadi tepian anterior dan posterior.
Tepian anterior terdiri dari bulu mata, glandula Zeis dan Moll. Glandula Zeis
adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara dalam folikel rambut
pada dasar bulu mata. Glandula Moll adalah modifikasi kelenjar keringat yang
bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata. Tepian posterior berkontak

dengan bola mata dan disepanjang tepiannya terdapat muara-muara kecil dari
kelenjar sebasea yang telah dimodifikasi (glandula Meibom atatu tarsal).1,2

Gambar 1. Anatomi kelopak mata atas dan bawah3

B. DEFINISI
Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata.
Peradangan pada kelenjar Zeis dan Moll disebut sebagai hordeolum eksternum
dan peradangan pada kelenjar Meibom disebut sebagai hordeolum internum.4
Hordeolum eksternum adalah infeksi kelnjar sebaceous dari Zeis di dasar bulu
mata, atau infeksi pada kelenjar keringat apokrin dari Moll. Hoerdeolum
eksternum terbentuk pada pada bagian luar palpebra dan dapat dilihat sebagai
benjolan merah kecil.4,5

Hordeolum internum adaah infeksi kelenjar sebaceous Meibom yang melapisi


bagian dalam kelopak mata. Penyakit ini juga menyebabkan benjolan merah di
bawah palpebra (pada konjungtiva tarsalis) dan tampak dari luar sebagai bengkak
dan kemerahan. Hordeolum internum ditandai dengan onset akut dan biasanya
durasinya yaitu, antara 7-10 hari pada fase infiltrate. Fase supuratif adalah fase
dimana sudah timbul abses pada hordeolum dan pengobatan dengan kompres
hangat serta medikamentosa tidak cukup untuk mengobati hordeolum. Fase
supuratif memerlukan tindakan pembedahan.4,5,6

Gambar 2. Hordeolum eksternum.7

Gambar 3. Hordeolum internum.8

C. EPIDEMIOLOGI
Data epidemiologi internasional menyebutkan bahwa hordeolum merupakan
jenis penyakit kelopak mata yang paling sering ditemukan. Insidensi tidak
bergantung pada ras dan jenis kelamin. Dapat mengenai semua usia, tetapi lebih
sering menyerang dewasa muda.9
D. ETIOLOGI
Hordeolum

biasanya

merupakan

infeksi

oleh

kuman

stafilokokus

(staphylococcus aureus)) pada kelenjar dan merupakan agen infeksi pada 9095% kasus.4
E. FAKTOR RISIKO
Faktor risiko terjadinya hoedeolum adalah:4
-

Penyakit kronik

Kesehatan atau daya tahan tubuh yang buruk

Peradangan kelopak mata yang kronik, seperti blefaritis

Riwayat hordeolum sebelumnya

Higiene dan lingkungan yang tidak bersih

F. PATOFISIOLOGI
Hordeolum disebabkan oleh adanya infeksi staphylococcus yang kemudian
menyebabkan inflamasi pada kelopak mata. Hordeolum eksternum timbul dari
blokade dan infeksi dari kelenjar Zeis atau Moll. Hordeolum internum timbul
dari infeksi pada kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus. Obstruksi dari
kelenjar-kelenjar ini memberikan reaksi pada tarsus dan jaringan sekitarnya.4,5,8

Pembentukan nanah terdapat dalam lumen kelenjar, bisa mengenai kelenjar


Meibom, Zeis dan Moll. Apabila mengenai kelenjar Meibom, pembengkakan
agak besar, disebut hordeolum internum. Penonjolan pada hordeolum ini
mengarah ke kulit kelopak mata atau ke arah konjungtiva. Kalau yang terkena
kelenjar Zeis dan Moll, penonjolan ke arah kulit palpebra, disebut hordeolum
eksternum.2,4,5
G. GEJALA KLINIS
Gejala subyektif dirasakan mengganjal pada kelopak mata, bertambah kalau
menunduk dan nyeri bila ditekan. Gejala obyektif tampak suatu benjolan pada
kelopak mata atas/bawah yang berwarna merah dan sakit bila ditekan di dekat
pangkal bulu mata.4,5
Hordeolum eksternum akan menunjukkan penonjolan terutama ke daerah
kelopak. Pada hordeolum eksternum nanah dapat keluar dari pangkal rambut.
Hordeolum internum memberikan penonjolan terutama ke daerah konjungtiva
tarsal, dan biasanya berukuran lebih besar dibandingkan hordeolum eksternum.
Dapat disertai pseudoptosis atau ptosis akibat bertambah beratnya kelopak
sehingga sukar diangkat. Kadang disertai dengan pembesaran kelenjar preaurikel
dan secara umum gambaran ini sesuai dengan suatu abses kecil.2,4,5,8
Berdasarkan gejala:4,5
-

Pembengkakan

Rasa nyeri pada kelopak mata

Perasaan tidak nyaman dan sensasi terbakar pada kelopak mata

Riwayat penyakit yang sama

Berdasarkan tanda:4,5
-

Eritema

Edema

Nyeri bila di dekatt pangkal bulu mata

Seperti gambaran abses kecil

H. DIAGNOSIS
Diagnosis hordeolum ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda klinis yang
muncul pada pasien dan dengan melakukan pemeriksaan mata berupa inspeksi
dan palpasi kelopak mata. Karena kekhasan hordeolum maka pemeriksaan
penunjang tidak diperlukan dalam mendiagnosis penyakit ini.10
I. DIAGNOSIS BANDING
-

Kalazion, merupakan peradangan granulomatosa kelenjar Meibom yang


tersumbat. Pada kalazion terjadi penyumbatan kelenjar Meibom dengan
infeksi ringan yang mengakibatkan peradangan kronis kelenjar tersebut.2,10,11
Kalazion akan memberikan gejala adanya benjolan pada kelopak, tidak
hiperemi, tidak ada nyeri tekan dan adanya pseudoptosis. Kelenjar preaurikel
tidak membesar. Kadang-kadang mengakibatkan perubahan bentuk bola mata
akibat tekanan sehingga terjadi kelainan refraksi pada mata tersebut.4,10,11

Selulitis praseptal, merupakan infeksi umum pada kelopak mata dan jaringan
lunak periorbital yang dikarakteristikkan dengan adanya eritema pada

kelopak mata yang akut dan edema. Infeksi yang umumnya terjadi berasal
dari persebaran dari infeksi lokal sekitar seperti sinusitis ataupun trauma
terhadap kelopak mata.10,12

Gambar 4. Kalazion.11

Gambar 5. Selulitis Praseptal.12

J. PENATALAKSANAAN
Umumnya hordeolum dapat sembuh sendiri dalam waktu 7-10 hari.
Hordeolum internum memberi respon terhadap antibiotik topical namun kadang
diperlukan insisi, sedangkan hordeolum eksternum terapi dengan kompres air
hangat namun kebanyakan kasus membaik dengan sendirinya, kadang diperlukan
antibiotik sistemik.4,5

1. Umum:5,8
-

Kompres air hangat 3-4 kali sehari selama 15 menit tiap kalinya untuk
membantu drainase. Lakukan dengan mata tertutup

Bersihkan kelopak mata dengan air bersih ataupun dengan sabun atau
shampo yang tidak menimbulkan iritasi, sperti sabun bayi. Hal ini dapat
mempercepat proses penyembuhan. Lakukan dengan mata tertutup

Jangan menekan atau menusuk hordeolum karena dapat menimbulkan infeksi


yang lebih serius

Hindari pemakaian make up pada mata, karena mungkin saja hal itu menjadi
penyebab infeksi

Jangan memakai lensa kontak karena dapt menyebarkan infeksi ke kornea

2. Obat:4,5
-

Antibiotik:

Topikal: Neomycin, Polimyxin B, Gentamycin, Chloramphenicol,


Ciprofloxacin, Dibekacin, Tobramycin, Fucidic acid, Bacitracin,
diberikan selama 7-10 hari, pada fase inflamasi

Sistemik: Ampicillin 250 mg per-oral/sehari4 kali, Erythromycin,


Tetracyclin dosis rendah (diberikan bila terdapat tanda-tanda
bakterimia atau terdapat pembesaran kelenjar limfe preaurikular)

Obat-obat simptomatis dapat diberikan untuk meredakan keluhan nyeri,


seperti asetaminofen, asam mefenamat, ibu profen dan sejenisnya.

3. Pembedahan:
Bila tidak terjadi resorbsi dengan pengobatan konservatif, atau sudah fase
abses, dianjurkan insisi dan drainage.5
Cara insisi:2,4,5
-

Berikan anastesi lokal dengan tetes mata pantocain

Kalau perlu diberikan anastesi umum, misal pada anak-anak atau orang-orang
yang sangat takut sebelum diberi anastesi umum

Dilakukan anastesi filtrasi dengan prokain atau lidokain di daerah hordeolum

Pada hordeolum internum insisi dilakukan pada konjungtiva, ke arah muka


dan tegak lurus pada margo palpebra (vertikal) untuk menghindari banyaknya
kelenjar-kelenjar yang terkena

Pada hordeolum eksternum arah insisi horizontal sesuai dengan lipatan kulit
atau sejajar dengan margo palpebra

Setelah dilakukan insisi dilakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi


jaringan meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberi salep antibotik

Gambar 6. Teknik pembedahan pada hordeolum.13

K. KOMPLIKASI
Suatu hordeolum yang besar dapat menimbulkan abses palpebra dan selulitis
palpebra yang merupakan radang jaringan ikat jarang palpebra di depan septum
orbita.8,11
L. PROGNOSIS
Prognosis umumnya baik, karena proses peradangan pada hordeolum bisa
mengalami penyembuhan dengan sendirinya, selama kebersihan daerah mata
dijaga dan dilakukan kompres hangat pada mata yang sakit serta terapi yang
sesuai.

Perlu

diperhatikan

walaupun

hordeolum

tidak

berbahaya

komplikasinya sangat jarang namun hordeolum sangat mudah kambuh.4,5,11

dan

M. PENCEGAHAN
Menjaga kebersihan wajah dan membiasakan mencuci tangan sebelum
menyentuh wajah agar hordeolum tidak mudah berulang serta menjaga
kebersihan peralatan make up mata agar tidak terkontaminasi oleh kuman.5

BAB II
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS
Nama

Nn. PF

Umur

15 Tahun

Alamat

Benteng

Agama

Kristen

Pekerjaan

Pelajar

Nomor Register

08-30-90

Waktu Pemeriksaan

12 Oktober 2015

Ruang Pemeriksaan

Poliklinik Mata RSUD Dr. M. Haulussy Ambon

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Benjolan di kelopak bawah mata kanan
2. Anamnesis Terpimpin
Pasien datang dengan benjolan di kelopak bawah mata kanan dan disertai
nyeri. Keluhan dirasakan kurang lebih sejak 3 hari yang lalu sebelum datang
ke Rumah Sakit. Nyeri semakin bertambah apabila pasien melihat ke bawah.
Penglihatan kabur (-), Mata berair (+), Silau (-), Rasa berpasir (-), Nyeri tekan
(+), Sekret (-), Sakit kepala (-), Demam (-)
3. Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat trauma pada mata (-)
4. Riwayat Pengobatan: Riwayat berobat sebelumnya tidak ada
5. Riwayat Dalam Keluarga: Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga tidak
ada
6. Riwayat Penyakit Sistemik: Riwayat penyakit sistemik tidak ada
7. Riwayat Sosial: Pasien adalah seorang pelajar

8. Riwayat Kacamata: Tidak ada

C. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum
Kesadaran

: Compos mentis

Nadi

: 80 kali/menit

Pernafasan

: 20 kali/menit

b. Status Oftalmologi
1. Visus
-

VOD : 6/6

VOS : 6/6

2. Segmen anterior ODS: dinilai menggunakan pen light

OD
Palpebra Superior:

Segmen Anterior Bola Mata


Palpebra

OS
Palpebra Superior:

Edema(-), eritema(-), benjolan(-),

Edema(-), eritema(-), benjolan(-),

ektropion(-), entropion(-), sekret(-)

ektropion(-), entropion(-), sekret(-)

Palpebra Inferior:

Palpebra Inferior:

Edema(-), eritema(+), benjolan (+),

Edema(-), eritema(-), benjolan(-),

ektropion(-), entropion(-), sekret(-)

ektropion(-), entropion(-), sekret(-)

Kemosis(-), subkonjunctival

Konjungtiva

Kemosis(-), subkonjunctival

bleeding(-), hiperemis(-), anemis(-),

bleeding(-), hiperemis(-), anemis(-),

pterigium(-), injeksi konjungtiva (-)

pterigium(-), injeksi konjungtiva (-)

Jernih, infiltrat(-), arcus sinilis(-),

Kornea

edema(-), ulkus(-)
Kesan normal, hipopion(-), hifema(-)
Radier, sinekia(-)

Jernih, infiltrat(-), arcus sinilis(-),


edema(-), ulkus(-)

Bilik mata depan


Iris

Kesan normal, hipopion (-),hifema (-)


Radier, sinekia(-)

Bulat 3 mm, refleks pupil (+)

Pupil

Bulat 3 mm, refleks pupil (+)

Jernih

Lensa

Jernih

Gambar skematik

3. Tekanan Intra Okuli ODS: Kesan normal (dengan digital palpasi)


4. Pergerakan bola mata: Pergerakan OD dan OS Normal (bisa ke segala
arah)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang
E. DIAGNOSIS
OD Hordeolum Internum

Foto pasien

F. PERENCANAAN
1. Terapi (Tata laksana)
- Kompres air hangat pada mata kanan
- Polydex mini dose 4 dd gtt 1 OD
- Cendomycetine eye ointment 3 dd OD
- Amoxicillin 3x500 mg
- Natrium diklofenak 2x50 mg
2. Monitoring
-

Keluhan utama

3. Edukasi
-

Penjelasan mengenai kondisi mata pasien

Penjelasan mengenai tindakan yang akan dilakukan jika dengan terapi (tata
laksana) kondisi mata pasien tidak membaik

Kontrol ulang setelah 2 minggu

Dianjurkan untuk menjaga kebersihan dan memperhatikan jenis makanan


yang dimakan

G. PROGNOSIS
Quo ad vitam

: Bonam

Quo ad Functionam

: Bonam

Quo ad Sanasionam

: Bonam

BAB III
DISKUSI
Pasien perempuan berusia 15 tahun datang dengan keluhan benjolan pada
mata kanan bagian bawah dan disertai nyeri yang dirasakan kurang lebih sejak 3 hari
yang lalu sebelum datang ke Rumah Sakit. Nyeri semakin bertambah apabila pasien
melihat ke bawah. Penglihatan kabur (-), Mata berair (+), Silau (-), Rasa berpasir (-),
Nyeri tekan (+), Sekret (-), Sakit kepala (-), Demam (-). Berdasarkan kepustakaan,,
gejala yang dikeluhakan oleh pasien merupakan gambaran umum yang dapat
dijumpai pada kasus hordeolum.
Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata, dimana
peradangan pada kelenjar Zeis dan Moll disebut sebagai hordeolum eksternum dan
peradangan pada kelenjar Meibom disebut sebagai hordeolum internum. Pada kasus
pemeriksaan visus didapatkan VOD 6/6 dan VOS 6/6 yang mengindikasikan tidak
adanya gangguan penglihatan. Pasien mengeluh merasakan nyeri pada benjolan di
mata kanan bawah pasien. Benjolan tersebut merupakan akibat dari peradangan
supuratif

pada

kelenjar

Meibom

yang mana

akibat

peradangan

tersebut

mengakibatkan benjolan berwarna kemerahan dan terasa nyeri.


Penatalaksanaan pada pasien ini adalah dengan menggunakan kompres air
hangat agar terjadi vasodilatasi pembuluh darah di daerah benjolan tersebut.
Diberikan pula antibiotik berupa antibiotik oral, tetes mata dan salep kepada pasein

berupa amoxicillin 500 mg yang diminum 3 kali sehari, polydex mini dose yang
diteteskan pada mata kanan 4 kali sehari dan salep cendomycetine yang dioleskan
pada mata kanan 3 kali sehari. Untuk menghilangkan rasa nyeri yang dikeluhkan
pasien diberikan pula natrium diklofenak 50 mg yang diminum 2 kali sehari. Pasien
juga diberikan edukasi mengenai kondisi mata pasien, mengenai tindakan yang akan
dilakukan jika dengan terapi (tata laksana) kondisi mata pasien tidak membaik dan
dianjurkan untuk menjaga kebersihan dan memperhatikan jenis makanan yang
dimakan. Pasien dianjurkan kembali kontrol 2 minggu setelahnya.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Edisi 6. Jakarta: EGC;
2006

2.

James B, Chew C, Bron A. Lecture notes oftalmologi. Edisi 9. Jakarta: EMS;


2006

3.

Patel B, Meyers AD. Eyelid anatomy. [online] Juni 2013. [cited 17 Oktober
2015].

[7

screens].

Available

from:

URL:

emedicine.medscape.com/article/834932-overview#a6
4.

Ilyas HS. Ilmu penyakit mata. Edisi 3. Jakarta: FKUI; 2005

5.

SMF Ilmu Penyakit Mata. Pedoman diagnosis dan terapi. Edisi 3. Surabaya:
FKUNAIR; 2006

6.

Thunstorm V. Primary eye care. Volume 78. Afr Pharm; 2011

7.

Willian CC. Eyerounds online atlas of ophthalmology. University of Rochester


School of Medicine and Dentisry; 2012

8.

Caccamise WC. Internal hordeolum-a meibomian abscess. University of Lowa


Health Care; 2012

9.

Ehrenhaus MP, Roy H. Hordeolum. [online] Februari 2014. [cited 17 Oktober


2015].

[4

screens].

Available

from:

URL:

emedicine.medscape.com/article/1213080-overview
10. Raftery AT, Lim, Eric. Churchills pocketbook of differential diagnosis.
Elseviers; 2010
11. Amula GM, Roy H. Chalazion procedures. [online] May 2015. [cited 17 Oktober
2015].

[5

screens].

Available

from:

URL:

emedicine.medscape.com/article/1844083-overview#a7
12. Akcay E, Can GD, Cagil N. Praseptal and orbital cellulitis. Turki: Journal of
microbiology and infectious disease; 2014
13. Lindsey K, Nichols JJ, Dickersin K. Interventions for acute internal hordeolum.
USA: NIH; 2012